CITRA TOKOH UTAMA PADA LAKON BEDAH LOKAPALA Dio Dananjaya, Nanny Sri Lestari
Jurusan Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok, 16424
Email: [email protected],
Abstrak
Skripsi ini membahas tokoh utama dalam lakon Bedah Lokapala. Lakon ini dipergelarkan oleh Ki Manteb Sudarsono. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan citra tokoh utama, khususnya tokoh Rahwana dan Danapati dalam lakon Bedah Lokapala. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis. Teori struktural Levi-Strauus dan langkah kerja Panuti Sudjiman (1988) digunakan untuk menganalisis unsur-unsur drama, yaitu alur, tokoh, dan latar. Dasar pengertian dari KBBI (2011) dan dukungan pendapat Wellek & Warren (2013) digunakan penulis untuk menyorot dan membuktikan citra dari analisis alur, tokoh, dan latar.
Imagery of Main Character in Lakon Bedah Lokapala
Abstract
This Thesis discusses the main character in Lakon Bedah Lokapala. The play were staged by Ki Manteb Sudarsono. The aim of this research is to describe the main character’s image, especially Ravana and Danapati in Lakon Bedah Lokapala. This research using a descriptive analytical method. Levi-Strauus structural theory and action steps from Panuti Sudjiman (1988) was used to analyze the elements of drama; the plot, characters, and background. Basic understanding of KBBI (2011) and the support of Wellek and Warren (2013) opinion is used to highlight and prove the image from plots, characters, and background analysis.
Keywords: Image, Bedah Lokapala, Drama, Proposition
1. Pendahuluan
Perkembangan sejarah budaya suatu bangsa dari waktu ke waktu dapat dilihat dari karya tulis yang dihasilkan. Karya tulis yang dihasilkan tidak hanya berbentuk nonfiksi, namun juga karya-karya fiksi. Karya fiksi merupakan hasil olahan pengarang berdasarkan pandangan dan tafsiran terhadap peristiwa yang pernah terjadi, atau peristiwa yang hanya berlangsung dalam khayalan sang pengarang. Tidak dapat dipungkiri antara sastra dengan kehidupan, dalam hal ini masyarakat, memiliki keterikatan satu sama lain. Hal tersebut dikarenakan sastra merupakan suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai medium (Semi, 1988: 8).
Secara umum sastra dibedakan menjadi du,a yaitu sastra tradisional dan sastra modern.
Karya sastra tradisional biasanya berupa karya sastra yang menceritakan mengenai raja-raja Jawa dan di dalamnya mengandung nilai-nilai dan ajaran-ajaran. Sastra tradional dapat dibagi
menjadi sastra lisan dan sastra tulis (Ras, 1985:3). Pertunjukkan wayang kulit dianggap sebagai salah satu bentuk sastra tradisional. Wayang disebut sebagai karya sastra karena di dalam sebuah cerita wayang dibingkai oleh narasi yang didalamnya terdapat unsur-unsur pembangun karya sastra, yaitu alur, tokoh, dan latar. Unsur-unsur tersebut merupakan unsur pokok. Cerita-cerita wayang yang tertuang dalam sastra bukan hanya berfungsi sebagai hiburan namun terdapat berbagai ajaran-ajaran dan nilai filosofis di dalamnya.
Gambar 1.
Rahwana dan Danapati
Masyarakat Jawa pada umumnya sangat menggemari cerita wayang. Demikian kuatnya pemahaman masyarakat Jawa terhadap cerita wayang, mereka sangat mengenal betul tokoh-tokoh yang ada dalam cerita wayang tersebut. Salah satu tokoh yang dikenal adalah Rahwana. Rahwana adalah raja negara Alengka. Dia putra Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali raja Negara Alengka. Rahwana bersaudara kandung masing- masing bernama: Kumbakarna, Sarpakenaka dan Wibisana. Rahwana juga mempunyai saudara seayah lain ibu bernama Danapati, putra Resi Wisrawa dengan Dewi Lokawati.
Dalam lakon Bedah Lokapala yang penulis analisis, tokoh Danapati ikut berperan aktif menghidupkan penokohan Rahwana.
Lakon Lokapala merupakan rangkaian cerita dari epos besar Ramayana. Sebagai lakon pokok, lakon Lokapala ditempatkan sebagai lakon pendahulu dari cerita Ramayana. Dalam Serat Pedalangan Ringgit Purwa karangan Mangkunegara VII disebutkan setidaknya terdapat delapan lakon yang ada sebelum rangkaian cerita Ramayana. Lakon Bedah Lokapala
merupakan lakon pokok karena lakon ini memiliki alur cerita dan tokoh yang masih berasal dari lakon pokok. Lakon ini menceritakan keangkaramurkaan Prabu Rahwana raja Alengka, yang membuat prihatin Prabu Danaraja, raja Lokapala. Karena itu Danapati mengutus Gohmuka untuk mengantarkan surat peringatan sekaligus nasehat kepada Rahwana. Rahwana membaca surat Danapati, yang berisi penyerahan negara Lokapala. Rahwana menjadi sangat murka, Gohmuka dibunuhnya. Kemudian segera menyusun kekuatan menyerang Lokapala.
Peperangan antara pasukan Alengka dan Lokapala pun terjadi. Rahwana bertanding dengan Danapati, keduanya digambarkan sama-sama sakti. Namun, peperangan belum selesai, dewa telah menjemput kematian Danapati, untuk dinobatkan sebagai pelengkap dewa di kayangan.
Karena itu Rahwana naik ke kayangan, menggugat kepada dewa, minta agar Danapati dihidupkan kembali. Bathara Guru tidak mengabulkan, dan memerintahkan Bathari Widawati turun ke bumi untuk mengecoh Rahwana. Ketika tiba di kahyangan, Rahwana bertemu dengan Widawati dan terpikat oleh kecantikannya. Widawati dikejar-kejar oleh Rahwana sampai pintu karang kawidodaren, hal itu membuat Rahwana jatuh cinta dan terjepit di sana.
Lakon yang dipergelarkan oleh Ki Dalang Manteb Soedarsono ini merupakan sebuah lakon wayang kulit yang istimewa. Aturan pemanggungannya lebih fleksibel dan tidak seketat pakem wayang pada umumnya. Sehingga sama seperti drama pertunjukan yang dapat dikaji dengan teori modern. Lakon ini bercerita mengenai peperangan antara negeri Alengka dengan negeri Lokapala. Penelitian ini mengkaji tentang tokoh Rahwana dan Danapati. Tokoh Rahwana muncul di banyak adegan peristiwa bersama tokoh Danapati, yang menjadi lawan mainnya. Keduanya memiliki watak yang khas. Saling bertolak belakang, dan dipertentangkan di dalam cerita. Setiap tokoh memiliki keunikan dalam penceritaannya, sehingga tiap tokoh memiliki kesan yang berbeda-beda di hadapan pembaca. Sejalan dengan pandangan orang- orang pada umumnya, bahwa tokoh Rahwana memiliki citra yang kurang baik pada lakon ini.
Hal itu tergambar lewat peran dan dialognya yang kejam dan sombong. Tokoh Danapati sebagai lawan main Rahwana, ternyata sangat bertolak belakang sifatnya. Dia bercitra baik, Danapati diceritakan memiliki sifat sabar dan belas kasih.
2. Tinjauan Teoritis
Struktur dalam karya sastra merupakan satu sistem yang unsur-unsur di dalamnya saling berkaitan satu sama lain. Struktur merupakan satu kesatuan yang utuh, misalnya dalam karya sastra terdapat struktur teks yang terdiri dari alur, tokoh, dan latar. Semua itu saling terkait untuk membangun suatu karya sastra. Lakon sebagai sebuah karya sastra dapat dianalisis seperti halnya teks naratif. Teks drama menurut Atar Semi (1988:156) adalah cerita
atau tiruan perilaku manusia yang dipentaskan. Berarti aksi dari suatu perasaan mendasari keseluruhan drama. Drama dapat saja menggunakan bahasa yang imajinatif atau analitik, karena itu ia dapat ditulis dalam bentuk puisi atau dalam bentuk prosa. Sedangkan menurut Henry Tarigan (1985:70), teks drama adalah suatu karangan dalam prosa atau puisi yang disajikan dalam dialog atau pantomim suatu cerita yang mengandung konflik atau kontras seorang tokoh; terutama sebuah cerita yang diperuntukkan untuk dipentaskan di atas panggung yaitu suatu lakon.
Gambar 2.
Buku Teori Kesusastraan
Dari kedua pendapat tersebut dapat diketahui bahwa drama juga memiliki struktur cerita yang ditunjukkan melalui dialog para tokoh. Untuk itu perlu memahami operasional struktur dalam teks drama tersebut. Di dalam struktur tersebut ditemukan adanya alur cerita, tokoh cerita, dan latar cerita. Dengan demikian teks drama merupakan lakon yang dapat digunakan untuk dipertunjukan dan bertujuan untuk menggambarkan kehidupan suatu tokoh, atau mengisahkan suatu cerita melalui dialog.
Drama, prosa, maupun puisi merupakan karya sastra yang memiliki struktur. Letak perbedaan dari ketiganya adalah peruangan. Drama mempunyai petunjuk pemanggungan, yaitu sebuah sarana pemandu yang disediakan oleh penulis drama untuk memberikan gambaran mengenai tempat, suasana, atmosfer, status sosial tokoh, dan sebagainya, yang dapat dilihat secara langsung oleh penonton (Budianta dkk, 2002: 105). Seperti prosa, unsur- unsur dalam drama juga menunjang keutuhan sebuah cerita. Akan tetapi jika di dalam prosa, tokoh-tokoh yang muncul itu cenderung berhenti dalam imajinasi subjektif pembaca saja tidak demikian pada drama. Dalam analisis teks drama peneliti berkemungkinan untuk
menginterpretasikan tokoh-tokoh itu lebih konkret. Selain dari perilakunya, watak seorang tokoh juga bisa digambarkan melalui komentar-komentar atau ucapan-ucapan tokoh lainnya (Luxemburg, 1989: 171).
Tokoh Rahwana dan Danapati dalam Lakon Bedah Lokapala menjadi tokoh utama, karena keduanya memiliki peran penting dalam lakon tersebut. Untuk memahami tokoh dalam satu cerita ada satu cara yang harus dilakukan yaitu dengan menelisik struktur cerita tersebut.
Untuk menelisik struktur cerita dalam teks drama ini, peneliti akan melakukan penelusuran melalui alur, tokoh, dan latar. Pada penelitian ini penulis menggunakan bentuk operasional unsur-unsur teks dari Panuti Sudjiman dalam bukunya Memahami Cerita Rekaan (1988).
Melalui pemahaman unsur-unsur teks drama diharapkan dapat dijelaskan unsur-unsur pembangun karya sastra itu antara lain; alur, tokoh, dan latar.
3. Metode Penelitian
Penulis akan memakai Lakon Bedah Lokapala yang diceritakan oleh Ki Dalang Manteb Soedarsono untuk memaparkan citra tokoh Rahwana dan Danapati. Video rekaman pagelaran wayang ini didapat dari Teater Kautaman TMII, yang direkam oleh Honocoroko Video Entertain. Rekaman video sebagai sumber primer kemudian ditranskripsi menjadi 42 halaman teks drama. Lama waktu penayangan pagelaran wayang dengan cerita Bedah Lokapala ini adalah sekitar 6 jam lebih.
Gambar 3.
Pertunjukan Wayang Kulit
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Metode deskriptif adalah metode yang menggambarkan data yang telah ada di dalam
karya sastra, sedangkan metode analisis merupakan metode yang kemudian dipakai untuk menguraikan atau membahas data yang ada dalam karya sastra tersebut. Metode deskriptif analisis pada penelitian ini digunakan untuk membahas dan menggambarkan kenyataan yang ada dan disusul dengan analisis terhadap karya sastra
4. Hasil Penelitian
Dalam pembahasan yang menjadi konsentrasi penelitian adalah citra Rahwana dan Danapati dalam lakon Bedah Lokapala. Kedua tokoh ini menjadi sentral karena keduanya ada di setiap rangkaian cerita dan sebagai penggerak alur. Lewat perannya tersebut kedua tokoh ini menunjukkan sebuah keistimewaan dalam lakon Bedah Lokapala. Keistimewaan tersebut ialah munculnya proposisi dalam budaya jawa yang tersirat dalam lakon ini, yang kemudian direpresentasikan melalui sifat dan karakter yang diperankan, yang pada akhirnya mempengaruhi jalannya cerita.
Kesan yang berulang dan paling sering muncul mengenai tokoh Rahwana ialah, bahwa ia selalu merasa sombong pada rangkaian cerita dalam lakon Bedah Lokapala. Sombong adalah keadaan atau perasaan ketika kita menghargai diri secara berlebihan hingga merasa paling unggul. Sedangkan citra sombong pada Rahwana tercipta karena sifatnya yang serakah, suka mencaci maki, keras kepala, arogan, kejam, berprasangka buruk, dan pendendam.
Sedangkan kesan yang muncul setelah menganalisis tokoh Danapati adalah bahwa dia selalu bersikap sabar mengahadapi peristiwa-peristiwa yang dialami. Sabar adalah kondisi ketika tahan menghadapi cobaan, tidak lekas marah, tidak terburu nafsu, tabah, dan tenang. Citra sabar didapat dari tokoh Danapati yang memiliki sifat belas kasih dan sabar.
Citra Danapati yang mengalah ini akhirnya menjadi lawan yang tepat bagi citra Rahwana yang penuh dengan hawa nafsu. Tokoh Danapati merupakan simbol langit, yang tinggi dan bersih. Sedangkan tokoh Rahwana merupakan gambaran manusia pada umumnya yang penuh dengan hawa nafsu duniawi. Melalui dialog dan lakuannya tokoh Rahwana dan Danapati mengambil peran penting pada lakon Bedah Lokapala. Keduanya tampak berseberangan dari pemikiran masing-masing, yang ditampilkan pula lewat penokohan masing-masing. Rahwana mewakili tokoh antagonis, sedangkan Danapati mewakili tokoh protagonis. Dari analisis penokohan yang dihasilkan, penulis dapat mengatakan jika tokoh Rahwana memiliki citra yang dapat mengacu kepada proposisi Adigang Adigung Adiguna.
Tokoh Danapati melalui analisis penokohan mengacu kepada proposisi Wani ngalah dhuwur wekasane yang dapat mewakili citranya.
Dengan pembahasan mengenai citra tokoh dalam lakon bedah Lokapala, dapat dikatakan bahwa Rahwana memiliki citra sombong, dan tokoh Danapati memiliki citra sabar.
Citra keduanya dapat diketahui setelah melihat kesan berulang yang muncul pada dialog tokoh dalam lakon. Kedua proposisi yang muncul tentu tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan hasil dari penggambaran yang tercermin dari sifatnya. Hal ini menunjukan pula bahwa kedua tokoh ini Ngundhuh wohing pakarti. Keduanya menuai hasil dari apa yang mereka perbuat.
Melalui sikapnya yang sombong dan selalu mengumbar kemarahan, Rahwana mendapat balasan terjepit di pintu Kayangan Kawidodaren. Danapati, melalui sikap pasrahnya, dia diangkat menjadi dewa di kayangan. Citra tersebut merupakan bayangan visual yang sebenarnya menyiratkan simbol. Rahwana menjadi simbol hawa nafsu yang mewakili bumi sebagai latar penceritaan, sedangkan Danapati menjadi simbol mengalah yang mewakili kayangan (langit). Simbol tersebut diwujudkan menjadi sesuatu yang konkret, yaitu proposisi Adigang Adigung Adiguna dan Wani ngalah dhuwur wekasane.
Mengumbar hawa nafsu
Adigang Adigung Adiguna
Wani ngalah dhuwur wekasane Sabar dan
Pasrah
Ngundhuh wohing pakarti
Dijebak di kayangan oleh Bathari Widawati
Diangkat menjadi dewa
di kayangan
5. Pembahasan 5.1 Alur
Dalam Lakon Bedah Lokapala terdapat susunan-susunan peristiwa penting yang dialami tokoh dalam sebuah cerita. Peristiwa yang dialami tokoh cerita dapat tersusun menurut urutan waktu terjadinya. Penentuan alur kronologis dalam Lakon Bedah Lokapala didapat dengan cara memperhatikan susunan peristiwa-peristiwa penting yang membangun cerita dari awal hingga akhir. Narasi oleh dalang, pergantian tokoh, dan suara gendhing gamelan dijadikan penanda bahwa peristiwa telah berganti. Berikut susunan peristiwa- peristiwa penting yang terdapat dalam Lakon Bedah Lokapala.
Peristiwa 1: Dialog yang menggambarkan alur tokoh Semar datang ke Kayangan meminta pertanggungjawaban Bathara Guru atas perangnya Lokapala dengan Alengka. Bathara Guru dinilai turut andil dalam terjadinya perang ini.
Peristiwa 2: Danapati berniat mengirim surat kepada Rahwana. Untuk meminta konfirmasi atas kabar yang telah beredar bahwa Alengka ingin menyerang Lokapala.
Peristiwa 3: Duta Lokapala diutus mengirim surat ke Alengka.
Peristiwa 4: Pertemuan Rahwana dengan keluarganya guna membahas rencana perang.
Peristiwa 5: Pertemuan Duta Lokapala dengan Rahwana.
Peristiwa 6: Kemarahan Rahwana pada duta Lokapala.
Peristiwa 7: Penjelasan maksud Rahwana menyerang Lokapala.
Peristiwa 8: Kesediaan Kumbakarna dan Wibisana ikut Rahwana ke Lokapala.
Peristiwa 9: Gohlambo, Suragati, Simparawan datang menemui Danapati.
Peristiwa 10: Pasukan Alengka sudah memenuhi Lokapala.
Peristiwa 11: Begawan Wisnungkara maju sebagai senapati perang Lokapala.
Peristiwa 12: Rahwana maju sebagai senapati perang Alengka.
Peristiwa 13: Gohlambo, Suragati, Simparawan tewas di tangan Rahwana.
Peristiwa 14: Tewasnya Patih Danendra.
Peristiwa 15: Rahwana kewalahan bertempur dengan Begawan Wisnungkara.
Peristiwa 16: Bathara Narada datang menasihati Begawan Wisnungkara.
Peristiwa 17: Begawan Wisnungkara telah lepas dari raganya dan pergi ke Maespati.
Hal tersebut membuat Rahwana bisa lepas dari genggamannya.
Peristiwa 18: Rahwana bertemu Danapati. Mereka saling beradu mulut dan akhirnya bertempur.
Peristiwa 19: Semar menagih janji Bathara Guru.
Peristiwa 20: Bathara Guru menemui Danapati.
Peristiwa 21: Danapati diangkat menjadi dewa di Kayangan Puspita Kawedhar.
Peristiwa 22: Rahwana merasa berhasil membunuh Danapati.
Peristiwa 23: Togog memberi tahu Rahwana, jika Danapati belum mati.
Peristiwa 24: Rahwana mengejar Danapati sampai kayangan.
Peristiwa 25: Danapati ditetapkan menjadi dewa dan diberi nama Bathara Daniswara oleh Bathara Guru.
Peristiwa 26: Bathari Widawati diperintahkan turun ke bumi.
Peristiwa 27: Rahwana bertemu Bathari Widawati.
Peristiwa 28: Rahwana jatuh cinta pada Bathari Widawati dan berniat menikahinya.
Peristiwa 29: Bathari Widawati menjebak Rahwana. Setelah masuk ke perangkapnya, Bathari Widawati pergi ke Maespati.
Peristiwa 30: Bathara Guru telah menepati janjinya pada Semar.
Selain menjabarkan berdasarkan kronologisnya, alur dapat juga dijelaskan dengan cara mengungkapkan tiap-tiap lakuan dan cakapan yang ditampilkan. Sudjiman mengatakan dalam bukunya yang berjudul Memahami Cerita Rekaan (1988), sesungguhnya pengaluran adalah pengaturan urutan penampilan peristiwa untuk memenuhi beberapa tuntutan. Dengan demikian peristiwa-peristiwa dapat pula tersusun dengan memperhatikan hubungan sebab akibatnya. Menurut Sudjiman (1988:30), struktur alur secara umum dapat dijabarkan sebagai berikut:
P = Peristiwa
5.2 Analisis Tokoh
Tokoh merupakan salah satu unsur intrinsik dalam bangunan cerita rekaan. Tokoh berperan sebagai pelaku di dalam cerita. Dengan kata lain tokohlah yang menjalani cerita dengan mengalami berbagai peristiwa di dalam suatu cerita (Sudjiman, 1988:16). Jika diperhatikan dengan seksama, tokoh-tokoh dalam sebuah lakon memiliki sifat yang mengundang perhatian pembaca. Sifat itu tercermin pada kejadian-kejadian yang terjadi selama lakon berjalan. Ada kejadian yang menegangkan, mengharukan, sedih, gembira, dan sebagainya
Rumitan, P15
Tikaian, P10
Gawatan, P4
Leraian, P23
Rangsangan, P3
Paparan, P1
Selesaian, P29 Klimaks, P18
Gambar 4.
Bathari Widawati
Dalam buku Bentuk Lakon Dalam Sastra Indonesia (1971), Boen Oemaryati mengatakan bahwa seorang tokoh lakon selalu merupakan hasil dari penjelmaan fisiknya dan pengaruh-pengaruh lingkungannya. Jika seorang tokoh merupakan hasil dari penjelmaan fisik dan pengaruh-pengaruh dari lingkungannya, maka itu adalah hal yang wajar. Namun seorang tokoh tidak hanya merupakan penjelmaan fisik dan pengaruh-pengaruh dari lingkungannya, tetapi seorang tokoh harus memiliki peranan. Dari peran itu bisa melihat wataknya. Meskipun perannya sedikit, seorang tokoh tetap memiliki watak. Dengan demikian dalam membicarakan seorang tokoh yang merupakan hasil penjelmaan fisiknya dan pengaruh-pengaruh dari lingkungannya, sangat erat hubungannya dengan peranan dan watak tokoh tersebut. Untuk mempermudah menganalisis tokoh, penulis mendaftar peristiwa serta nama tokoh yang terlibat. Seperti pada tabel berikut ini:
No Peristiwa Tokoh
1. Pertemuan Semar dengan Bathara Guru membahas perangnya Lokapala dengan Alengka
Semar dan Bathara Guru
1. Penugasan duta Lokapala untuk mengirim surat kepada Rahwana oleh Danapati
Danapati, Wisnungkara 2. Pertemuan Rahwana dengan keluarganya untuk
membicarakan rencana perang
Rahwana, Kumbakarna 3. Pertemuan duta Lokapala dengan Rahwana Rahwana 4. Kemarahan Rahwana pada duta Lokapala Rahwana 5. Penjelasan maksud Rahwana menyerang Lokapala Rahwana,
Kumbakarna 6. Kesediaan Kumbakarna dan Wibisana ikut Rahwana Rahwana dan
ke Lokapala Kumbakarna 7. Kesiapan Rahwana perang dengan Lokapala Rahwana 8. Tewasnya Gohlambo, Suragati, dan Simparawan oleh
Rahwana
Rahwana 9. Tewasnya Patih Banindra oleh Rahwana Rahwana 10. Pertempuran Rahwana dengan Wisnungkara Rahwana dan
Wisnungkara 11. Kemenangan Rahwana atas Wisnungkara dengan
bantuan Bathara Narada
Rahwana dan Wisnungkara 12. Pertemuan Rahwana dengan Danapati Rahwana dan
Danapati 13. Pertempuran Rahwana dengan Danapati Rahwana dan
Danapati
14. Kemenangan Rahwana atas Danapati Rahwana, Danapati dan Bathara Guru 15. Pertemuan Rahwana dengan Togog yang memberitahu
jika Danapati belum mati
Rahwana 16. Perginya Danapati ke kayangan yang kemudian
dikejar oleh Rahwana
Danapati dan Bathara Guru
17. Pertemuan Rahwana dengan Bathari Widawati dalam perjalanan mengejar Danapati
Rahwana 18. Penjebakan Rahwana oleh Bathari Widawati Rahwana 19. Pertemuan Rahwana dengan Bathari Widawati
membuat dia jatuh
Rahwana 20. Hilangnya dendam Rahwana pada Danapati akibat
jatuh cinta dengan Bathari Widawati
Rahwana 21. Pertemuan Bathara Guru dengan Semar untuk
mewisuda Danapati sebagai dewa
Semar, Bathara Guru, dan Danapati
Berdasarkan peristiwa-peristiwa penting yang membentuk alur, tabel di atas menggambarkan peran tokoh pada tiap peristiwa dalam Lakon Bedah Lokapala. Tokoh dalam fungsinya dapat dibagi menjadi dua, tokoh utama dan tokoh bawahan. Selain fokus pada tokoh utama, yang mendapat porsi lebih dalam penceritaannya pada lakon ini. Terdapat juga tokoh bawahan yang perannya menunjang tokoh utama. Namun penulis membatasi hanya menganalisis tokoh bawahan yang intensitas lakuannya lebih banyak dari yang lain, dan juga tokoh bawahan yang perannya sebagai penggerak alur. Tokoh Wisnungkara dan Kumbakarna termasuk tokoh andalan, yaitu tokoh bawahan yang menjadi kepercayaan protagonis dan antagonis. Sedangkan tokoh Bathara Guru dan Semar ialah tokoh bawahan yang mempunyai peran sebagai penggerak alur. Kemudian tokoh Rahwana dan Danapati, sebagai tokoh sentralnya. Tokoh andalan tidak bersifat dominan dalam cerita tetapi dilukiskan sebagai tokoh yang dekat dengan tokoh utama, sebab mereka dimanfaatkan pengarang untuk memberi gambaran lebih terperinci mengenai tokoh utama (Sudjiman, 1988:20). Dalam analisis ini
Rahwana dan Danapati mendapat perhatian utama, sebab kedua tokoh ini merupakan tokoh yang banyak muncul dalam setiap rangkaian peristiwa dalam alur cerita.
Berikut adalah penokohan dalam Lakon Bedah Lokapala:
Rahwana:
• Serakah
Jeroning parepatan agung ing wektu awan iki. Pun kakang darbe sedya. Pun kakang duwe karep.
Kepingin ngelar jajahan. Karbeng tebane jajahan ing negara Alengka saya amba saya gedhe. Piye kumbakarna? Manut saka panemu-mu.
‘Pada pertemuan besar ini, kakanda punya keinginan. Ingin meluaskan jajahan. Supaya luasnya jajahan Negara Alengka semakin lebar semakin besar. Bagaimana Kumbakarna? Menurutmu.’
• Tega
Lekna mripatmu gatekna gobogmu buta penguk! Surasane layang iki mau ratumu kakang Danapati masrahake Negara Lokapala kanthi rila legawa lair batin. Ora susah dadak nganakake paprangan.
Kuwi ucape ratu Lokapala prabu Danapati. Nanging ngertia, nadyan ta kakang Danapati gulungake Negara Lokapala kanthi iklas. Nanging, yen ora jajal kaprawirane ratumu, aku ora sudi nampa.
Ngerti?!
‘Buka matamu buka telingamu raksasa bau! Isi surat itu tadi, rajamu kanda Danapati ingin menyerahkan Negara Lokapala dengan rela ikhas lahir dan batin. Tidak perlu susah mengadakan peperangan. Itu katanya raja Lokapala prabu Danapati. Tetapi mengertilah, meskipun kanda Danapati memberikan Negara Lokapala dengan iklas. Tetapi, jika aku tidak mencoba kehebatan rajamu, tidak sudi aku menerima. Mengerti!?’
• Sombong
Ra usah kowe mejang. Kaya pendhita! Mulang kaya dhalang. Ora nglakoni. Kupingku wis kebrebegen krungu swara kaya ucapmu mau. Kowe arep kepingin ngeman kekadhangan, rak ngono ta!
‘Tidak perlu kau berceramah. Seperti pendeta! Bercerita seperti dalang. Tidak melaksanakan. Telingaku sudah berdengung mendengar celotehanmu tadi. Kamu ingin menjaga persaudaraan, begitu kan! ‘
• Keras Kepala
Nadyan kowe wong Ngalengka! Ning isih luwih wenang aku timbang kowe. Ewadene pun kakang wis tumeka ing pati, kira-kira aku jrebabah eneng lemah. Lagi kowe maju tandhangane wong Lokapala!
‘Meskipun kamu orang Alengka! Tetapi masih lebih hebat aku daripada kamu. Jika kanda sudah tewas, kira-kira aku jatuh tersungkur di tanah. Baru kamu maju perang melawan orang Lokapala!’
Danapati:
• Sabar
…..Panembahan, yen ta pancen yayi Rahwana kepingin ngrenggani praja Lokapala panjenengan ingsun ora bakal kabotan, ora susah dadak ngenekake peperangan. Ingsun rila legawa lair trusing batin rereh keprabon. Lokapala bakal tak paringake kalawan yayi prabu Rahwana. Ingsun ngeman kalawan para kawula dasih Negara Lokapala bapa.
‘…..Panembahan, jika memang benar yayi Rahwana ingin merebut kerajaaan Lokapala, anda tidak akan kesulitan, tidak perlu mengadakan peperangan. Saya rela dan ikhlas lahir batin untuk lengser. Lokapala akan saya berikan kepada yayi Rahwana. Saya kasihan pada rakyat kecil Negara Lokapala.’
• Belas Kasih
Dhuh, adhiku dhi. Tak jarwani ya Rahwana. Kanjeng rama seda kuwi saka keparenge pribadi dudu saka pun kakang. Semono uga pun kakang duweni rasa pangeman. Aku rumangsa dosa, nanging panjenengan kanjeng rama sing duwe kersa kang mengkono mau.
‘Duh, adikku. Aku jelaskan ya Rahwana, kanjeng rama meninggal itu karena keinginanya sendiri bukan karena kakanda. Begitu juga kakanda punya rasa kasih sayang. Saya merasa dosa, tetapi ayah yang memiliki keinginan seperti itu tadi.’
5.3 Analisis Latar
Rangkaian peristiwa yang ada pada sebuah cerita pastilah terjadi pada tempat tertentu.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa dalam suatu karya sastra membangun latar cerita (Sudjiman, 1988: 44). Hal tersebut menunjukkan bahwa latar sangat atau terkait erat dengan sebuah peristiwa. Latar mendukung dan menguatkan tindakan tokoh-tokoh cerita. Latar memberikan pijakan cerita dan kesan realistis kepada pembaca untuk menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi (Nurgiyantoro, 2010: 216).
Dalam analisis lakon Bedah Lokapala, ditemukan adanya latar fisik dan latar suasana yang diceritakan melalui deskripsi di dalam suluk dan dialog para tokoh. Latar fisik adalah tempat dalam wujud fisiknya, yaitu bangunan, daerah, dan sebagainya. (Hudson dalam Sudjiman, 1988: 44), sedangkan latar suasana adalah penjelasan mengenai suasana atau keadaan pada saat peristiwa dalam cerita tersebut terjadi. Sebuah cerita menjadi menarik karena terjadi pada latar suasana tertentu dan tempat tertentu, misalnya suasana bahagia, haru, tegang, dan sebagainya pada suatu lokasi.
6. Kesimpulan
Berdasarkan analisis yang telah penulis lakukan, dapat disimpulkan bahwa elemen- elemen drama yaitu unsur tokoh, alur, dan latar berkait erat dan saling berhubungan. Lewat elemen-elemen drama citra tokoh Rahwana serta Danapati dapat muncul. Unsur tokoh adalah unsur yang dominan dan dapat mendukung citra tokoh Rahwana serta Danapati, yang secara tersirat menghadirkan ungkapan atau proposisi.
Dalam unsur tokoh, tokoh Rahwana dan Danapati mengambil peran penting pada lakon Bedah Lokapala. Keduanya menjadi tokoh sentral pada cerita ini. Citra tokoh Rahwana tergambar jelas dengan pembahasan mengenai sifatnya yang serakah, suka mencaci maki, keras kepala, arogan, kejam, berprasangka buruk, dan pendendam. Seluruh sifatnya tergambar
pada lakuannya, dialognya, dan narasi dalang atau suluk. Begitu juga dengan tokoh Danapati yang turut andil pada tiap peristiwa. Danapati diceritakan memiliki sifat sabar dan belas kasih.
Demikian pula pada unsur alur, yaitu tentang bagaimana tokoh Rahwana dan Danapati berlakuan pada tiap peristiwa, dan bagaimana hubungan kronologis dari semua peristiwa yang dialaminya. Sehingga unsur tokoh beserta unsur alur tersebut dapat membuktikan bagaimana citra kedua tokoh. Hal tersebut membuktikan jika unsur tokoh, alur, serta latar terjalin dengan harmonis. Ketiganya menjadi pendukung tentang bagaimana citra dari tokoh Rahwana dan Danapati.
Kesan yang dominan dari tokoh Rahwana, yakni dia sering muncul dengan pembawaannya yang sombong. Rahwana digambarkan sebagai raja yang sakti, berhak melakukan apapun karena memang dia sanggup melakukannya. Sehingga secara tersirat muncul ungkapan Adigang Adigung Adiguna yang dapat mewakili sifat-sifatnya tersebut.
Ungkapan tersebut juga menjadi sebuah simbol hawa nafsu bagi Rahwana yang sejak awal hingga akhir cerita berperan sebagai tokoh antagonis. Sedangkan tokoh Danapati merupakan raja yang sabar dan memiliki sifat belas kasih pada rakyatnya. Citra yang muncul lewat lakuannya adalah bahwa dia orang yang sabar. Sebab dia lebih mementingkan kepentingan bersama ketimbang urusan pribadinya dengan Rahwana. Lewat sifatnya itu, secara tersirat muncul ungkapan Wani ngalah dhuwur wekasane yang merupakan simbol pengalah.
Ungkapan itu cocok dengan Danapati yang diceritakan sebagai tokoh protagonis pada lakon Bedah Lokapala.
DAFTAR PUSTAKA Buku Bacaan
Achadiati Ikram. 1980. Hikayat Sri Rama. Jakarta: Universitas Indonesia Atar Semi. 1988. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya
Barry, Peter. 2010. Beginning Theory: Pengantar Komprehensif Teori Sastra dan Budaya.
Yogyakarta: Jalasutra
Boen Oemaryati. 1971. Bentuk Lakon Dalam Sastra Indonesia. Jakarta: Gramedia Dwi Susanto. 2012. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: CAPS
Franz Magnis Suseno. 1991. Etika Jawa. Jakarta: Gramedia.
FX Rahyono. 2009. Kearifan Budaya Dalam Kata. Jakarta: Wedatama Widyasastra
Iman Santosa. 2010. Nasihat Hidup Orang Jawa. Yogyakarta: DIVA Press Henry Tarigan. 1985. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.
Karsono H Saputra. 2005. Percik-percik Bahasa dan Sastra Jawa. Jakarta: Wedatama Widya Sastra
Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
Luxemburg, Jan Van, dkk. 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta : Gramedia Melani Budianta. 2002. Membaca Sastra. Magelang: Indonesia Tera
Mulder, Niels. 1978. Mysticism and Everyday Life in Contemporary Java. Singapore:
Singapore University Press
____________. 1996. Pribadi dan Masyarakat Jawa. Jakarta: Sinar Harapan Poedjosoedarmo, dkk. 1986. Ragam Panggung dalam Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Pradopo, Sri Widati, dkk. 1988. Struktur Cerita Rekaan Modern Berlatarkan Perang. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Pradopo, Rachmat Djoko, dkk. 2001. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: PT Hanindita Graha Widia
Ras, J.J. 1985. Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir. Jakarta: Grafiti Pers Panuti Sudjiman. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya Sumardjo & Saini. 1986. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Sunardi. 2000. Ramayana. Jakarta: Balai Pustaka
Sutrisno, dkk. 2009. Filsafat Wayang. Jakarta: Penerbit Senawangi Wellek & Warren. 2013. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Zaidan, dkk. 1944. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka
Zoetmulder, P.J. 1983. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta:
Djambatan.
Kamus :
Poerwadarminta, W.J.S. 1939. Baosastra Djawa. Batavia: J.B. Wolters Uitgevers- Maatschappij
Sutrisno Sastro Utomo. 2009. Kamus Lengkap Jawa-Indonesia. Yogyakarta: Kanisius
Departemen Pendidikan Nasional. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia
Ensiklopedia
Suwandono, dkk. 1991. Ensiklopedia Wayang Purwa. Jakarta: Balai Pustaka
Referensi Internet
Purwadi (2010). Jenis-jenis Lakon. 4 Juni 2014
http://purwadicitra.wordpress.com/2010/03/22/pemelajaran-2/