commit to user
63 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Kota Magelang
Secara geografis Kota Magelang terletak pada posisi 70 26’18”- 70 30’9” LS dan 1100 12’30”- 1100 12’52” BT. Posisi ini terletak tepat di tengah-tengah Pulau Jawa. Secara administratif Kota Magelang juga terletak di tengah-tengah Kabupaten Magelang serta berada di persilangan lalu lintas ekonomi dan wisata antara Semarang-Magelang-Yogyakarta dan Purworejo- Temanggung, sehingga Kota Magelang merupakan salah satu wilayah strategis di tengah-tengah Provinsi Jawa Tengah dengan penetapan menurut Rencana Tata Ruang Nasional dan Rencana Tata Ruang Provinsi Jawa Tengah sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Kawasan Purwomanggung (Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Temanggung, Kota Magelang, dan Kabupaten Magelang). Kota Magelang merupakan wilayah dataran yang di kelilingi oleh Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro dan Sumbing, Pegunungan Gianti, Menoreh, Andong dan Telomoyo, sehingga Kota Magelang termasuk ke dalam wilayah pegunungan.
Luas wilayah Kota Magelang adalah 1.812 Ha (18,12 km2) atau sekitar 0.06% dari keseluruhan luas wilayah Provinsi Jawa Tengah. Secara administrasi Kota Magelang dibagi ke dalam 3 kecamatan dan 17 kelurahan.
Luas kelurahan yang terbesar adalah Kelurahan Jurangombo Selatan yaitu
commit to user
sekitar 226 Ha (atau sekitar 12,49% dari luas total) dan yang terkecil adalah Kelurahan Panjang yaitu sekitar 35 Ha (atau sekitar 1,9% dari luas total).
Kota Magelang sebagai kota terkecil di Jawa Tengah dengan luas sekitar 18.120 km2. Dengan jumlah penduduk pada perhitungan sementara tahun 2014 yang mencapai sekitar 120.373 jiwa, yang terdiri dari 59.260 jiwa laki-laki dan 61.113 perempuan. Tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 7.268 jiwa per km2. Tingkat kepadatan penduduk di Kota Magelang cenderung meningkat dari tahun ke tahun. (sumber: Statistik Daerah Kota Magelang tahun 2015)
Potensi Pengembangan wilayah di Kota Magelang, akan ditujukan untuk mencapai visi sebagai kota jasa. Kota Magelang juga dirancang dalam skala kawasan yang lebih luas yang masuk dalam kategori berpotensi dalam pengembangan pusat pelayanan perekonomian, kesehatan, dan pendidikan yang mempunyai jangkauan pelayanan skala kota dan/atau regional sesuai dengan arahan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kota Magelang Tahun 2005-2025 dan juga dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Magelang Tahun 2010-2030. Berdasar pada kedua dokumen tersebut, potensi pengembangan wilayah Kota Magelang pada masa-masa mendatang adalah sebagai berikut:
a. Kawasan Sidotopo sebagai pusat pelayanan pendidikan dan perdagangan jasa;
commit to user
b. Kawasan Sukarno Hatta sebagai pusat pelayanan kegiatan transportasi dan perdagangan jasa;
c. Kawasan Kebonpolo sebagai pusat pelayanan kegiatan transportasi dan perdagangan;
d. Kawasan Alun-alun sebagai pusat pelayanan perdagangan jasa dan perkantoran;
e. Kawasan GOR Samapta sebagai pusat pelayanan rekreasi dan olahraga;
f. Kawasan Sentra Perekonomian Lembah Tidar sebagai pusat pelayanan perdagangan jasa dan kesehatan;
g. Kawasan Objek Wisata Taman Kyai Langgeng sebagai kawasan pusat pelayanan rekreasi dan olahraga.
Kota Magelang termasuk dalam kawasan strategis Sub Regional PURWOMANGGUNG (Purworejo-Wonosobo–Magelang–Temanggung) yang merupakan kawasan andalan Provinsi Jawa Tengah. Kawasan ini memiliki potensi unggulan utama meliputi industri besar, menengah dan kecil yang menghasilkan berbagai produk pertanian, perkebunan, perikanan, perdagangan dan jasa, termasuk perguruan tinggi dan simpul pariwisata.
Tumpuan sektor pariwisata yang dijadikan pijak dalam pengembangannya adalah keunikan, kekhasan, serta daya tarik wisata alam dan budaya, sehingga kelangsungan kegiatan pariwisata perlu pengelolaan yang mengacu pada pelestarian, keberlanjutan dan keterpaduan antar potensi wisata. Pengembangan pariwisata Kota Magelang dilihat dari sisi produk wisata dan dari sisi pasar wisata. Aspek produk wisata terdiri dari obyek dan
commit to user
daya tarik wisata, fasilitas pelayanan wisata serta aksesbilitas. Sedangkan pasar wisata adalah wisatawan baik lokal, regional maupun manca negara.
Obyek dan daya tarik wisata di Kota Magelang terdiri dari,
(1) Wisata Alam
Kawasan Kota Magelang banyak memiliki potensi alam seperti Gunung Tidar dengan ketinggian 500 meter dari permukaan laut dan temperatur antara 25-27 drajat celsius membuat udara sejuk dan bersih, karena fungsinya sebagai paru-paru kota, banyaknya pohon yang rindang di sekeliling bukit mampu memberikan atmosfer segar bagi warga Kota Magelang. Sungai Elo di sebelah timur kota dan sungai Progo di sebelah barat, disamping sebagai penampung drainase kota, juga berfungsi sebagai potensi wisata alam seperti 1) Ziarah Gunung Tidar; 2) Outbond Tourism;
3) Camping/Perkemahan; 4) Arum Jeram/ Rafting (2) Wisata Budaya
Di Kota Magelang banyak peninggalan sejarah yang menggambarkan tingginya tingkat kebudayaan para leluhur di bidang seni budaya dan teknologi/arsitektur museum, serta heritage lainnya. Adapun yang merupakan obyek wisata budaya diantaranya adalah:
a. Museum Taruna Abdul Djalil, merupakan salah satu fasilitas pendidikan secara Akademi Militer yang secara visual menyediakan beragam koleksi persenjataan/peralatan militer dari sejak perjuangan sampai saat ini.
commit to user
b. Museum Kamar Pengabdian Diponegoro, di dalamnya terdapat peninggalan-peninggalan dari pangeran Diponegoro seperti buku bacaan, peralatan minum, jubah, pendopo tempat Pangeran Diponegoro tinggal dan kursi tempat perundingan Pangeran Diponegoro dengan Jendral De Kock.
c. Museum Sudirman, merupakan museum yang menyimpan kenangan- kenangan Jendral sudirman sebelum wafatnya. Adapun beberapa koleksi yang ada di dalamnya seperti, perlengkapan rumah tangga keluarga Jendral Sudirman, meja tempat penyucian jenazah dan tempat tidur.
d. Museum Bumi Putra 1912, adalah museum yang dibangun dengan tujuan untuk mengenang berdirinya Asuransi Bumi Putra pada tahun 1912.
e. Museum Badan Pemeriksa Keuangan, merupakan museum bersejarah berdirinya Badan Pemeriksa Keuangan yang dibangun pada tanggal 28 Desember 1946.
(3) Wisata Buatan
Taman Kyai Langgeng adalah salah satu objek wisata di Magelang yang memiliki luas 27 Ha berjarak 1 km ke arah selatan Kota Magelang.
Taman ini memiliki keunikan khas dengan koleksi tanaman yang langka.
Selain memiliki tanaman yang langka, obyek wisata Taman Kyai Langgeng juga memiliki beberapa atraksi kesenian seperti orkes dangdut,
commit to user
reog, kuda lumping, kuntulan dan berbagai jenis kesenian yang ada disekitar Kota Magelang.
(4) Wisata Belanja
Salah satu tempat belanja yang cukup terkenal di Kota Magelang adalah pasar Rejowinangun yang merupakan pasar terbesar sewilayah exKarisidenan Kedu. Sekalipun pasar ini pernah terbakar namun kini pasar ini kembali menjadi andalan masyarakat Kota Magelang dan sekitarnya untuk mencari berbagai kebutuhan hidup.
(5) Wisata Kuliner
Kota Magelang disebut dengan “sorga”nya Wisata Kuliner karena manyajikan beragam makanan yang unik dan khas yang selalu menggoda untuk dicoba. Apalagi sekarang ini di Magelang ada berbagai pusat kuliner yang menarik minat orang untuk menikmatinya. Adapun beberapa makanan khas Kota Magelang seperti buntil, getuk, ceriping ketela, keripik paru, keripik tahu dan roti probitas.
(6) Wisata Minat Khusus
a. Arum Jeram Progo Asri, merupakan fasilitas arum jeram yang terdapat di Sungai Progo dimana lokasi start dimulai dari Hotel Puri Asri dan diakhiri di jembatan Tempuran Kabupaten Magelang;
b. Permainan Air Softgun, merupakan salah satu permainan yang cukup menantang dengan area permainan berlatar belakang Sungai Progo;
c. Borobudur International Golf and Country Club, adalah padang Golf yang terletak di kaki Gunung Tidar, dimana letaknya tidak jauh dari
commit to user
pusat kota kurang lebih 1 km. (Sumber: Buku Statistik Pariwisata Kota Megelang 2013)
Kemudian terkait dengan keberadaan fasilitas wisata, Kota Magelang didukung dengan keberadaan jasa akomodasi pariwisata baik berupa hotel maupun rumah makan serta fasilitas pelayanan pariwisata lainnya. Sedangkan aksesibilitas, terutama berkaitan dengan ketersediaan sarana prasarana transportasi yang dapat menjangkau obyek-obyek dan fasilitas pariwisata di Kota Magelang.
Guna melihat secara menyeluruh berbagai potensi wisata di Kota Magelang maka hal tersebut dapat dilihat melalui penampakan peta berikut, Gambar 4.1 Peta Pariwisata Kota Magelang
(Sumber: Buku Statistik Pariwisata Kota Magelang 2013)
commit to user 2. Disporabudpar Kota Magelang
Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Magelang memiliki kantor yang terletak di jalan Gatot Subroto No.54 Kota Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Disporabudpar Kota Magelang merupakan dinas yang memiliki tugas pokok dan fungsi yaitu pembinaan manajemen keolahragaan, pembinaan dan pengembangan kebudayaan, pemberdayaan kesenian rakyat serta kesejarahan dan kepurbakalaan.
Kota Magelang dulu dikenal sebagai kota jasa sekarang telah berganti menjadi Kota Sejuta Bunga. Melalui Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) terdapat perwujudan dari tujuan pemerintah mengganti slogan tersebut. Hal ini terkait dengan upaya peningkatan kualitas dan pariwisata Kota Magelang yang dilambangkan dalam visi, dan misi Disporabudpar Kota Magelang yang digunakan sebagai dasar dalam pelaksanaan program-program yang dibuatnya.
Visi dari Disporabudpar Kota Magelang adalah pemuda, olahraga, kebudayaan dan pariwisata yang maju, produktif, prestatif, dan inovatif. Visi tersebut kemudian dijabarkan kedalam misinya dalam bertindak. Adapun misi dari Disporabudpar Kota Magelang adalah Mewujudkan pemuda produktif, prestatif, inovatif dan mandiri; Mewujudkan olahraga yang berkualitas, berprestasi, dan memasyarakat; dan Mewujudkan yang lestari dan pariwisata yang maju. (Sumber: http://Disporabudpar.magelangkota.go.id).
commit to user
Keberadaan Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Magelang memiliki peran penting terkait dengan upaya pemerintah dibidang pariwisata. Melalui sebuah program yang diberi nama Ayo ke Magelang 2015 Disporabudpar Kota Magelang menjadi leading sector yang banyak berperan dalam pelaksanaan kebijakan tersebut. Tujuan
dari program Ayo ke Magelang 2015 adalah meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Magelang. Terkait dengan tujuan tersebut digelarlah 100 lebih even untuk menarik kunjungan wisatawan.
3. Bappeda Kota Magelang
Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah atau yang lebih sering dikenal dengan Bappeda Kota Magelang merupakan salah satu pihak yang turut berkontribusi pada program Ayo ke Magelang 2015. Dinas yang berkantor di Jalan Sarwo Edi Wibowo ini memiliki visi terwujudnya perencanaan pembangunan daerah yang berkualitas, partisipatif, berkeadilan dan dilaksanakan secara profesional. (sumber: bappeda.magelangkota.go.id)
Menyadari besarnya pengembangan potensi wisata di Kota Magelang.
Bappeda Kota Magelang turut serta berperan dalam melakukan perencanaan program Ayo ke Magelang 2015. Bappeda Kota Magelang menfasilitasi terselenggaranya Forum Group Discuss (FGD) untuk menampung berbagai masukan dari masyarakat dan SKPD yang terlibat pada pelaksanaan program Ayo ke Magelang 2015. Disamping itu Bappeda Kota Magelang juga berkontribusi dalam penyelenggaraan salah satu even yang ada di program Ayo ke Magelang 2015. Adapun even yang dilaksanakan oleh Bappeda
commit to user
tersebut diwakili oleh bagian Fedep Bapeda salah satunya yaitu Festival Kuliner Magelang.
4. Bagian Pembangunan Setda Kota Magelang
Bagian Pembangunan Setda Kota Magelang merupakan pihak yang berkontribusi sebagai evaluator pada program Ayo ke Magelang 2015.
Bagian Pembangunan Setda Kota Magelang bertugas untuk memberikan pengawasan terhadap pelaksanaan Ayo ke Magelang 2015. Disamping itu SKPD ini juga bertugas menyelenggarakan rapat evaluasi dengan mengumpulkan berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan maupun terkena dampak dalam penyelenggaraan even. Rapat evaluasi dilakukan sebulan sekali di Kantor Walikota Magelang, hasil dari rapat evaluasi tersebut berbentuk nota dinas yang selanjutnya diserahkan kepada Walikota Magelang sebagai bentuk pertanggung jawaban.
commit to user
B. Evaluasi Efektivitas Program “Ayo Ke Magelang 2015” dalam Meningkatkan Kunjungan Wisatawan
Program Ayo ke Magelang 2015 merupakan suatu rangkaian even yang merupakan bagian dari Magelang Kota Sejuta Bunga dan diagendakan dalam RKPD Kota Magelang tahun 2015. Ayo ke Magelang sendiri adalah program unggulan yang dilaksanakan dengan pengelolaan keragaman budaya dan pengembangan destinasi wisata. Tujuan dari program ini adalah meningkatkan kunjungan wisatawan di Kota Magelang.
Dengan berakhirnya tahun 2015 hal ini menjadi tanda usainya pelaksanaan program Ayo ke Magelang 2015. Setelah pelaksanaan kebijakan, tahap selanjutnya adalah tahap evaluasi, dimana pada kebijakan ini pokok evaluasi yang dianalisis adalah efektivitas dari program Ayo ke Magelang 2015 dalam meningkatkan kunjungan wisatawan. Adapun empat aspek yang digunakan sebagai analisis yaitu sebagai berikut :
a. Pencapaian Tujuan
Sebagai suatu program Ayo ke Magelang 2015 memiliki tujuan utama yang menjadi acuan dan pengukuran keberhasilan tindakan yang dilakukan.
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa Ayo ke Magelang 2015 memiliki tujuan utama yaitu meningkatkan kunjungan wisatawan di Kota Magelang. Disamping tujuannya tersebut program Ayo ke Magelang 2015 adalah magnet tersendiri bagi berbagai pihak baik investor, wisatawan, pedagang dan pelaku seni di Kota Magelang. Hal inilah yang menjadi keingian dari pemerintah Kota Magelang selaku pembuat program. Pemerintah dalam pelaksanaan program
commit to user
Ayo ke Magelang 2015 merupakan agen perubahan yang berperan dalam menciptakan pola pikir yang berkembang di dalam masyarakat. Tujuannya adalah agar masyarakat mampu diarahkan pada penjiwaan program pemerintah sehingga dampaknya memberikan maanfaat kepada berbagai pihak.
Mewujudkan kreativitasnya dalam bentuk pengemasan even-even pada suatu program adalah bagian dari tekat pemerintah Kota Magelang untuk menciptakan daya tarik wisata disamping keberadaan daya tarik lainnya. Sebagai bagian dari tujuan pemerintah untuk meningkatkan kunjungan wisatwan, program Ayo ke Magelang 2015 telah memberikan pengaruh yang cukup besar utamanya bagi penyedia jasa di Kota Magelang. Sebelum dikenal dengan branding Magelang Kota Sejuta Bunga, Kota Magelang lebih dahulu dikenal dengan sebutan Kota Jasa. Salah satu penyebabnya adalah karena jasa menjadi salah satu sektor terbesar yang memberikan pemasukan tertinggi bagi Kota Magelang.
Adapun beberapa jasa yang ditawarkan berasal dari sarana transportasi, restoran, jasa tur dan jasa perhotelan. Salah satu jasa yang dianggap terkena dampak dari keberadaan program Ayo ke Magelang 2015 adalah jasa perhotelan. Berdasarkan pada data tahun 2014 saat ini Kota Magelang memiliki 19 hotel baik hotel bintang maupun non-bintang yang dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut,
commit to user
Tabel 4.1 Klasifikasi dan Jumlah Kamar Hotel di Kota Magelang Hotel Berbintang
No Nama Hotel Klasifikasi Jumlah kamar
1. Puri Asri Bintang 5 178 kamar
2. Atria Hotel & Conference Bintang 4 144 kamar
3. Sriti Bintang 3 31 kamar
4. Oxalis Bintang 3 53 kamar
5. Trio Bintang 2 73 kamar
6. Borobudur Indah Bintang 2 39 kamar
Hotel Non-Bintang
No Nama Hotel Klasifikasi Jumlah kamar
1. Wisata Non Bintang 37 kamar
2. Safari Non Bintang 24 kamar
3. Bharata Non Bintang 30 kamar
4. Pring Gading Non Bintang 13 kamar
5. Lokasari Non Bintang 45 kamar
6. Mutiara Non Bintang 19 kamar
7. Sumber Waras Non Bintang 34 kamar
8. Ardhiva Non Bintang 21 kamar
9. Wijaya Non Bintang 10 kamar
10. Sejahtera Non Bintang 37 kamar
11. Citra Non Bintang 5 kamar
12. Wiyasa Non Bintang 2 kamar
13. Bonang Asri Homestay Non Bintang 21 kamar
(sumber: olah data Buku pariwisata Magelang 2015) Pada tahun 2015 terjadi peningkatan yang cukup drastis dari jumlah tamu yang menginap pada hotel-hotel tersebut. Bahkan menurut Ibu Wenny dari Bagian Pembangunan Setda Kota Magelang ada hotel yang pencapaiannya sangat tinggi melebihi pencapaian tertingginya pada tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah tamu yang menginap di hotel-hotel yang ada di Kota Magelang dapat dilihat pada tabel 4.2.
commit to user
Tabel 4.2 Data Jumlah Kedatangan Tamu Hotel di Kota Magelang tahun 2014- 2015
Tahun Wisatawan
Total Mancanegara Nusantara
2014 2093 136750 138843
2015 1835 148847 150682
(Sumber: olah data Disporabudpar Kota Magelang th. 2014-2015) Tabel di atas menunjukan terjadinya peningkatan terhadap kedatangan tamu di hotel-hotel di Kota Magelang sebanyak 11839 pada tahun 2015. Sekalipun terjadi penurunan dari jumlah tamu yang merupakan wisatawan mancanegara tetapi terjadi peningkatan yang cukup besar pada jumlah wisatawan nusantara yang menginap di hotel-hotel yang ada di Kota Magelang pada tahun 2015.
Suatu kebijakan akan memberikan dampak yang beraneka ragam namun saling berkaitan. Kenaikan jumlah kunjungan wisatawan yang dibuktikan dengan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan di hotel Kota Magelang secara nyata berdampak pula pada peningatan PAD Kota Magelang tahun 2015. Kenaikan PAD dari sektor tersebut dianggap cukup tinggi dan melampaui nominal yang telah ditargetkan. Peningkatan terhadap PAD Kota Magelang ini terutama berasal dari tingginya pendapatan sektor pajak yaitu pada pajak perhotelan dan restoran.
Peningkatan pajak perhotelan dan restoran pada tahun 2015 ini disampaikan secara langsung oleh Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Daerah (DPPKD) Kota Magelang Ibu Larsita dalam sebuah surat kabar sebagai berikut,
“Hingga triwulan ketiga atau September 2015, realisasi PAD Kota Magelang mencapai Rp 141,8 miliar, sedangkan target dalam APBD 2015 sebesar Rp 131,9 milliar.” (sumber: Antarajateng.com (11/11))
commit to user
Bahkan dalam surat kabar tersebut disampaikan pula bahwa berdasarkan capaian dan sisa waktu tiga bulan hingga akhir 2015, Kepala DPPKD Kota Magelang memperkirakan realisasinya nanti bisa menembus Rp 170 miliar. Peningkatan pajak perhotelan dan restoran pada tiga bulan di penghujung tahun 2015 dianggap akan memberikan pemasukan bagi keseluruhan target pendapatan daerah dari sektor tersebut.
Pada triwulan terakhir tahun 2015 ternyata terbukti terjadi peningkatan tertinggi dari perolehan pajak yang diterima Kota Magelang. Hal ini disampaikan oleh Bu Wenny dari Bagian Pembangunan, bahwa dalam sebuah laporan terjadi peningkatan kunjungan wisatawan pada bulan November dan Desember.
Dampaknya yaitu semua kamar di hotel-hotel yang ada di Magelang habis terpesan dan pencapaian ini bahkan menjadi rekor bagi hotel-hotel tersebut.
Dengan pencapaian tersebut dapat dianalogikan bahwa kehadiran wisatawan cenderung akan mendorong terjadinya peningkatan pendapatan daerah. Hal ini berarti, semakin banyak wisatawan yang datang maka akan semakin banyak pula hotel-hotel dan restoran menerima kunjungan sehingga peningkatan pajak akan terjadi.
Sebagai program dalam sebuah kebijakan tentunya Ayo ke Magelang 2015 juga melalui berbagai proses sebelum pada akhiranya program tersebut diimplementasikan. Di awali dengan adanya konsep dari program itu sendiri.
Selanjutnya konsep dari Ayo ke Magelang 2015 dibahas dalam sebuah forum rembug diskusi di Bappeda Kota Magelang. Hasil dari forum kemudian menghasilkan siapa saja SKPD atau pihak ketiga yang ikut serta melaksanakan
commit to user
program. Selanjutnya yaitu melakukan pengalokasian anggaran beserta sumber anggaran yang telah ditetapkan. Dan langkah terakhir yang dilakukan adalah mengadakan rapat koordinasi (rakor) dengan berbagai SKPD dan pihak lainnya yang terlibat untuk selanjutnya segera mengimplementasikan even-even yang menjadi bagian dari tanggung jawabnya. Secara lebih jelas alur dari perencanaan Ayo ke Magelang 2015 dapat dilihat pada gambar 4.2 berikut,
Gambar 4.2 Alur perencanaan program Ayo ke Magelang 2015
(Sumber: olah data paparan Ayo ke Magelang 2015)
Pelaksanaan forum rembug diskusi merupakan bentuk keterbukaan pemerintah terhadap masukan-masukan yang diberikan masyarakat terkait dengan Ayo ke Magelang 2015. Penyelenggaraan forum rembug diskusi di Bappeda Kota Magelang dapat dikatakan sebagai awal dari dilakukannya penyampaian
Konsep “Ayo Ke Magelang”
Rakor Terkait Di Disporabudpar FGD (Forum Rembug Diskusi) Di Bappeda
Di Bagi Ke SKPD (Siapa Mengerjakan Apa)
Di Anggarkan Di Perubahan Th. 2014 Dan Penetpan Anggaran Th. 2015
commit to user
informasi, dimana maksud dari tujuan serta konsep Ayo ke Magelang 2015 ini akan disampaikan kepada semua SKPD terkait dan juga masyarakat.
Pada dasarnya keberadaan forum rembug diskusi menjadi hal yang sangat pokok dalam pelaksanaan program pemerintah. Pada forum tersebut pemerintah dalam hal ini Bappeda Kota Magelang menfasilitasi masyarakat untuk memberikan masukan terkait dengan program yang direncanakan. Adapun tingkat keterlibatan masyarakat dalam forum SKPD yang diselenggarakan dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut,
Tabel 4.3 Jumlah Undangan Hadir dalam Forum SKPD tahun 2015
(sumber: olah data dari Bappeda Kota Magelang th. 2015) Data tersebut menunjukan bahwa kehadiran masyarakat dalam forum SKPD cukup tinggi. Terdapat 63 orang yang hadir dari total 73 undangan yang diberikan.
Sebagian besar dari jumlah tersebut merupakan perwakilan masyarakat dari kelurahan dan kecamatan dan beberapa diantaranya adalah LSM yang terlibat. Hal
Unsur
Bidang
Ekonomi Fisik Sosial
Undangan Hadir Undangan Hadir Undangan Hadir Kelurahan/
kecamatan 20 19 20 20 20 20
DPRD 1 0 1 0 1 0
LSM 3 2 5 0 8 2
SKPD 8 8 8 7 12 12
Profesi/asosiasi 4 2 4 4 7 0
Tim Bappeda 9 9 11 11 11 11
Tim RKPD dari
SKPD lain 2 2 2 2 3 3
Jumlah 47 42 51 44 62 48
commit to user
ini menunjukkan bahwa masyarakat cenderung memiliki komitmen untuk membuat peningkatan kualitas Kota Magelang dari segi pariwisata. Kehadiran masyarakat dalam kegiatan forum SKPD tentunya memberikan kontribusi yang besar karena setiap kebijakan pada dasarnya ditujukan bagi peningkatan kemakuran masyarakat. Sehingga guna mencapai kemakmuran diperlukan kontribusi masyarakat untuk memberikan masukan akan kebutuhan mereka guna mencapai kemakmuran.
b. Pelaksanaan Kegiatan
Pada setiap kebijakan akan selalu terdapat pihak yang mempengaruhi dan dipengaruhi. Pihak yang mempengaruhi dalam pelaksanaan program Ayo ke Magelang 2015 adalah pemerintah Kota Magelang dan pihak yang dipengaruhi diantaranya adalah wisatawan, pedagang, investor, UKM beserta masyarakat Kota Magelang. Bapak Hartoko selaku kepala Disporabudpar Kota Magelang menegaskan bahwasanya pedagang merupakan salah satu pihak yang terpengaruh dengan keberadaan program Ayo ke Magelang 2015. Hal ini terjadi karena keberadaan even-even pada program tersebut akan menarik wisatawan untuk berkumpul. Manfaatnya bagi pedagang adalah mereka dapat dengan mudah menjajakan dagangannya dan memperoleh keuntungan. Jadi dapat dikatakan bahwa secara tidak langsung dengan datangnya wisatawan ke Kota Magelang berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat di lokasi even.
Adanya peningkatan pendapatan ini diakui oleh berapa pedagang yang pernah berjualan pada even-even Ayo Ke Magelang 2015. Hasil wawancara dengan Bapak Sukirman sebagai berikut,
commit to user
“Kalau ada acara-acara begini, dagangannya cepat laris mbak soalnya banyak yang datang. Kalau dihari biasa ya kadang ramai kadang biasa saja tergantung lagi banyak yang kesini (alun-alun) atau ngak”
(wawancara, 23 April 2016)
Pernyataan serupa juga dirasakan pula oleh pedagang lainnya yang berjualan disekitar penyelenggaraan even-even di Kota Magelang. Berikut merupakan wawancara dengan Bapak Suyadi,
“Sering mbak saya jualan kalau waktu ada ramai-ramai begini yang beli banyak, uangnya capat kumpul dari pada hari biasanya, bisa sampai 2 kalinya...” (wawancara, 3 April 2016)
Dari hasil wawancara tersebut dapat dibenarkan bahwa dengan keberadaan even yang mendatangkan wisatawan akan memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat dalam hal ini yaitu pedagang.
Kedatangan wisatawan dalam suatu tempat tentu akan memberikan pengaruh yang besar pada pembangunan di daerah terkait. Hal ini kemudian menjadi dasar adanya keinginan pemerintah Kota Magelang untuk menciptakan berbagai even yang akan mampu menarik wisatawan berkunjung ke Kota Magelang. Terjadinya peningkatan terhadap kunjungan wisatawan pada tahun 2015 berdampak luar biasa kepada masyarakat baik dari dari berbagai bidang khususnya dibidang ekonomi. Hal ini kemudian menyebabkan banyak pihak menginginkan adanya keberlanjutan dari program Ayo ke Magelang 2015 itu sendiri. Adanya keingan masyarakat ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Bapak Johan dari Fedep Bappeda Kota Magelang berikut,
“Hasil evaluasi yang sudah disampaikan oleh Disporabudpar memang ada peningkatan yang cukup signifikan pada putaran kunjungan Kota Magelang. Sehingga masyarakat harapannya program Ayo ke Magelang bisa dilanjutkan lagi.” (wawancara, 23 Maret 2016)
commit to user
Pernyataan yang serupa juga disampaikan oleh Kepala Dinas Disporabudpar Kota Magelang yang merasakan bahwa masyarakat Kota Magelang menginginkan program Ayo ke Magelang kembali dilaksanakan. Berikut adalah hasil wawancara dengan Bapak Hartoko selaku Kepala Dinas Disporabudpar Kota Magelang,
“...panjenengan bisa mewawancarai pedagang kuliner ketika ada Ayo ke Magelang kemarin apakah ada peningkatan pendapatan dibanding tahun 2014. Ini dapat digunakan sebagai indikator juga. Ini terbukti ketika kami evaluasi setiap bulannya mereka minta bahwa Ayo Ke Magelang ini dilakukan kembali pada tahun 2016, 2017 dan seterusnya.” (wawancara, 30 Maret 2016)
Dari beberapa keterangan di atas dapat dipahami bahwasanya masyarakat memberikan dukungannya terhadap program Ayo ke Magelang 2015. Selain itu tingginya tingkat kedatangan masyarakat pada beberapa even yang dibuat juga merupakan bentuk dukungan dan juga ketertarikan masyarakat akan program pemerintah. Adapun salah satu even yang mendapat antusiasme besar dari masyarakat adalah even Festival Kuliner Kota Magelang. Terbukti pada penyelenggaraan event tersebut selama tiga hari jumlah pengunjung atau wisatawan mencapai 31.427 orang. (sumber: olah data dokumen evaluasi Festival Kuliner Magelang 2015)
Terkait dengan tujuannya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, saat ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mencapai hal tersebut.
Termasuk diantaranya adalah dengan melaksanakan program Ayo ke Magelang 2015. Ketika suatu kebijakan yang dilaksanakan itu berhasil tentunya sebagai kelompok sasaran masyarakat merupakan pihak yang paling terkena dampaknya.
Melihat data peningkatan wisatawan ke Kota Magelang yang cukup tinggi pada
commit to user
tahun 2015 hal ini merupakan salah satu bukti kecenderungan keberhasilan program yang dibuat pemerintah Kota Magelang.
c. Faktor Pendorong
Efektivitas pelaksanaan suatu program kebijakan memiliki keterkaitan dengan hal-hal pokok yang dapat diasumsikan sebagai faktor pendorong pelaksanaan program. Seperti halnya keberadaan anggaran dalam suatu program.
Unsur tersebut menjadi salah satu komponen pokok yang wajib ada dalam pelaksanaan program. Dapat dipastikan bahwa program tanpa anggaran tentu tidak akan bisa direalisasikan.
Anggaran merupakan salah satu faktor yang mendukung jalannya program kebijakan. Program Ayo ke Magelang 2015 dikabarkan telah menggunakan anggaran dana sebesar Rp 8,3 miliar. Besaran anggaran ini bahkan disertakan pula pada leaflet yang berisikan agenda even dari program tersebut. Menurut bapak Hartoko Kepala Disporabudpar Kota Magelang besaran dana yang dialokasikan pada kebijakan ini berasal dari APBD Kota Magelang, APBD Provinsi, dan APBN. Adapun tambahan bantuan juga diperoleh dari cost sharing dengan pihak ketiga dan juga dari masyarakat yang turut serta memberikan dukungannya dalam bentuk dana pada pelaksanaan even-even Ayo ke Magelang 2015.
Selain dengan adanya dukungan masyarakat ketercukupan anggaran dari program Ayo ke Magelang 2015 juga berasal dari adanya kerjasama dengan pihak ketiga seperti Event Organizer (EO). Keberadaan EO ini dianggap sangat membantu kerja pemerintah dalam menyelenggarakan even-even Ayo ke
commit to user
Magelang 2015. Kerjasama yang dilakukan antara pemerintah yang diwakili oleh Disporabudpar Kota Magelang dengan EO biasanya dalam bentuk cost sharing.
Kesepakatan ini diambil pada saat awal penyampaian konsep even-even yang ada pada program Ayo ke Magelang 2015 untuk kemudian ditawarkan kepada pihak ke tiga.
Guna melakukan pengembangan aspek wisata di Kota Magelang pemerintah selalu berupaya meningkatkan nilai anggaran pengelolaan pada APBD Kota Magelang. Sekalipun penurunan anggaran juga terjadi akan tetapi dampak dari pengelolaan anggaran yang dilakukan pemerintah memberikan kontribusi yang diharapkan pada PDRB Kota Magelang. Pengelolaan anggaran sebagai upaya peningkatan kunjungan wisatawan dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut, Tabel 4.4 Jumlah Anggaran Pariwisata Urusan Peningkatan Kunjungan Wisatawan Tahun 2011-2015
Tahun Anggaran Anggaran
(juta rupiah)
2011 237,300,000
2012 270.439.925
2013 508.229.255
2014 493,500,000
2015 501,000,000
(sumber: RKPD 2016)
Selain keberadaan anggaran sebagai bagian dari pelaksanaan program Ayo ke Magelang 2015. Ivestasi menjadi salah satu faktor yang mendorong pencapaian tujuan program yaitu untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Adapun investasi dari sektor perdagangan, hotel dan restoran pada tahun 2015 mencapai 189.15 juta rupiah. Dimana jumlah tersebut telah mengalami kenaikan yang cukup
commit to user
tinggi jika dibandingkan pada tahun 2014 yaitu sebanya 33.34 juta rupiah.
(sumber: buku statistik Kota Magelang tahun 2015 dan pendukung)
Selain dari sisi anggaran dan investasi, infrastruktur pendukung yang dikelola pemerintah juga menjadi salah satu faktor penunjang ketercapaian tujuan.
Hal tersebut dirasakan pula oleh masyarakat seperti pendapat dari Bu Wiwik berikut,
“Selain berpengaruh terhadap masuknya wisatawan baik domestik maupun luar negeri ke Kota Magelang diantaranya juga meningkatkan sarana prasarana yang ada di Kota Magelang....” (wawancara, 19 Maret 2016)
Dampak dari datangnya wisatawan melalui program Ayo ke Magelang 2015 memang berpengaruh pada meningkatnya infrastruktur Kota Magelang. Hal ini tentunya adalah bagian dari perencanaan pemerintah Kota Magelang agar wisatawan dapat tertarik untuk berkunjung. Jika melihat perubahan wajah Kota Magelang dalam kurun waktu empat tahun, Kota Magelang telah mengalami perubahan secara bertahap dan hasil dari perubahan tersebut terlihat cukup drastis.
Hal ini seperti yang dapat dilihat dengan semakin banyaknya taman kota di jalan protokol, pembangunan pusat kuliner dan penyelesaian pembangunan pasar induk Rejowonangun. Dengan berbagai infrastruktur yang ditambah dan diperbaiki ini tentunya diharapkan akan berimbas pada timbulnya minat wisatawan untuk datang ke Kota Magelang.
Sebagai salah satu upaya untuk menyiapkan berbagai daya tarik wisata di Kota Magelang pemerintah juga berusaha memenuhi kebutuhan kuliner dari wisatawan. Pada tahun-tahun sebelum penyelenggaraan Ayo ke Magelang 2015
commit to user
pemerintah telah menyiapkan pusat-pusat kuliner di Kota Magelang yang berlokasi hampir diseluruh kelurahan di Kota Magelang. Tujuannya adalah melakukan penataan dan pemberian fasilitas kepada PKL. Hal ini tentu dianggap akan menjadi keuntungan tersendiri bagi masyarakat karena mereka lebih diperhatikan dan diberikan tempat berjualan yang lebih layak. Berikut adalah hasil wawancara dengan Bu Wiwik yang merupakan bagian dari masyarakat,
“Yang saya ketahui masyarakat yang mendukung kebijakan tersebut memperoleh surplus di antaranya dengan penataan kota, penataan pedagang kaki lima. Banyak yang merasa tenang dengan kondisi seperti itu dan mereka merasa lebih aman karena tidak perlu menghindari kejaran Satpol PP. Sehingga mereka merasa telah terbantu karena pemerintah telah menyediakan wadah khusus dan bantuan lainnya seperti gerobak.”
(wawancara, 19 Maret 2016)
Pernyataan yang hampir serupa juga dirasakan oleh Pak teguh yang melihat adanya keuntungan yang dirasakan utamanya oleh pedagang,
“Sebenarnya kalau bagi masyarakat kota Magelang sendiri banyak sekali keuntungan ya karena hal ini juga menguntungkan bagi para pedagang-pedagang. Karena setiap kali ada even atau acara dari program Ayo ke Magelang ini kan pasti banyak sekali acara yang melibatkan masyarakat banyak dan pedagang-pedagang sehingga otomatis terbantu dengan banyaknya acara yang diselenggarakan oleh pemerintah tersebut.
Dan secara ekonomi sedikit banyak telah membantu masyarakat.”
(wawancara, 16 Maret 2016)
Berdasarkan pendapat dari Bapak Teguh dan Ibu Wiwik maka dapat dikatakan bahwa masyarakat melihat ada keuntungan dari upaya pemerintah dalam mengelola pedagang. Saat ini pemerintah Kota Magelang telah membuat beberapa pusat kuliner yang masing-masing memiliki daya tampung PKL yang berbeda-beda. Adapun hal ini yang dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut,
commit to user
Tabel 4.5 Pusat Kuliner dan Jumlah PKL di Kota Magelang tahun 2015
Pusat Kuliner Jumlah PKL
PKL Sigaluh 38
PKL Armada Estate 57
PKL Sari Boga Kencana 15
PKL Sejuta Bunga 19
PKL Kartika Sari 30
PKL Jenggolo 40
PKL Daha 11
PKL Tuin Van Java 97
PKL Jendralan 17
PKL Badaan 35
Jumlah 359
(sumber: datago.magelang.go.id)
Pengembangan fasilitas PKL bertujuan untuk memberikan tempat yang memadai agar terjadi peningkatan kunjungan wisatawan. Selain pembangunan pusat kuliner peningkatan pembangunan destinasi wisata juga merupakan salah satu tindakan yang dilakukan pemerintah dalam rangka mencapai tujuannya tersebut. Adapun jumlah wisatawan yang berkunjung pada lokasi objek wisata Kota Magelang tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut,
Tabel 4.6 Jumlah Wisatawan di Objek Wisata Kota Magelang tahun 2015 Objek Wisata Jumlah Wisatawan
Jumlah Domestik Mancanegara
Taman Kyai Langgeng 731.428 3.388 734.816
Museum Sudirman 7.952 10 7962
Museum BPK 1.100 28 1.128
Museum Diponegoro 1.002 10 1.012
Museum OHD 5.451 1.604 7.055
Museum Abdul Jalil 1.382 39 1.421
Museum Bumi Putera 986 10 996
Gunung Tidar 61.676 404 62.080
Lain-lain 322.396 588 322.984
Jumlah 1.133.373 6.081 1.139.454
(sumber: datago.magelang.co.id)
commit to user
Pencapaian kedatangan wisatawan pada destinasi wisata di Kota Magelang pada tahun 2015 mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Menurut data yang diperoleh dari Disporabudpar Kota Magelang pada tahun 2014, terdapat sebanyak 817.344 wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata yang sama di Kota Magelang. Dari jumlah tersebut dapat dikatakan bahwa terjadi kenaikan jumlah kunjungan wisatawan sebanyak 322.100 wisatawan pada semester satu ditahun 2015.
d. Kendala
Keberhasilan pelaksanaan program Ayo ke Magelang dalam meningkatkan kunjungan wisatawan nyatanya tidak lepas dari munculnya suatu kendala.
Menurut Ibu Wenny dari Bagian Pembangunan Setda Kota Magelang, beberapa kendala yang tidak dikehendaki selama pelaksanaan even yaitu seperti terjadinya penumpukan sampah, adanya parkir liar dan rusaknya beberapa tanaman yang berada disekitar tempat pelaksanaan kegiatan seperti yang terjadi di alun-alun Kota Magelang. Alun-alun Kota Magelang sendiri selain merupakan pusat Kota Magelang juga merupakan lokasi yang paling sering dipergunakan dalam penyelenggaraan even-even Ayo ke Magelang 2015. Berdasarkan hasil pengamatan dalam observasi yang dilakukan pada pelaksanaan even hari jadi Kota Magelang yang ke-1010 nampak banyak sampah menumpuk dan berhamburan tidak pada tempatnya. Berikut terdapat beberapa dokumentasi dari even hari jadi Kota Magelang yang menunjukan kurangnya kesadaran masyarakat akan sampah yang menyebabkan ketidak nyamanan,
commit to user
Gambar 4.3 Dokumentasi Pelaksanaan Even Hari Jadi Kota Magelang ke-1110
(sumber: observasi 3 April 2016)
Peningkatan jumlah sampah yang tidak terbendung tersebut diperkirakan terjadi karena kurangnya jumlah tempat sampah yang disediakan pada area disekitar pelaksanaan even. Kendala serupa juga terjadi pada even lain yang juga terselenggara di alun-alun Kota Magelang yaitu Wayang Kulit Semalam Suntuk.
Pada even tersebut terjadi penumpukan sampah karena jumlah tempat sampah yang disediakan tidak cukup untuk menampung sampah yang dibuang masyarakat selama mengikuti even.
Sampah yang berserakan mengakibatkan alun-alun Kota Magelang sebagai tempat penyelenggaraan even menjadi sangat kotor dan menimbulkan kesan yang tidak nyaman bagi para pengunjung yang datang. Hal ini disampaikan dalam wawancara dengan Arif yang merupakan pengunjung salah satu even tersebut,
“Ya biasanya kalau ada acara di alun-alun sering banyak sampah, lebih banyak dari biasanya. Mungkin karena tempat sampahnya sedikit
commit to user
dan juga jauh jadi malas. Tapi kalau sampahnya banyak lumayan mengganggu pemandangan, bikin risih...” (wawancara, 23 April 2016) Hal yang serupa juga dirasakan oleh pengunjung lainnya yaitu Shiroh sebagai berikut,
“Ya gak nyaman dengan sampahnya, ya tempat sampahnya kadang sudah penuh itu jadi mau masukan juga gak bisa, jadi milih buang di sembarang tempat, karna yang lainnya juga gitu.” (wawancara, 23 April 2016)
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat diasumsikan bahwa sampah menjadi salah satu pengaruh negatif dari kedatangan wisatawan disuatu tempat dan menjadi kendala dalam pelaksanaan even. Selain pada kurangnya jumlah tempat sampah, permasalahan ini diakibatkan pula oleh kurangnya kesadaran pengunjung untuk memelihara keadaan lingkungan disekitarnya, utamanya di tempat-tempat yang sedang mereka kunjungi. Topik ini kerap kali menjadi salah satu bentuk hambatan pelaksanaan hampir disetiap even Ayo ke Magelang 2015.
Bu Wenny dari Bagian Pembangunan mengatakan bahwa petugas kebersihan sebenarnya memang dipekerjakan namun hanya pada saat pelaksanaan even usai dilaksanakan sehingga memang memungkinkan jika terjadi penumpukan sampah kembali. Hal tersebut diperkuat dengan data statistik Kota Magelang yang ada pada semester I tahun 2015 bahwa terjadi peningkatan volume sampah dari 139.3 m3 pada tahun 2014 menjadi 162,13 m3 pada tahun 2015 (sumber:
datago.magelang.go.id).
Padahal jumlah volume sampah dari tahun 2013 ke tahun 2014 mengalami penurunan yang cukup drastis. Hal ini tentunya dianggap sebagai kendala tersendiri sebagai salah satu dampak dari pelaksanaan program Ayo ke Magelang 2015. Namun sekalipun terjadi peningkatan jumlah volume sampah selama tahun
commit to user
2015 tingkat keterangkutan sampah pada tahun tersebut mengalami peningkatan dari yang sebelumnya 118,54 m3 menjadi 136,75 m3 atau terjadi peningkatan sebanyak 0,16 persen.
Selain melihat hambatan pelaksanaan even Ayo ke Magelang dengan keberadaan sampah yang dihasilkan wisatawan, masyarakat juga memiliki pandangan akan kurang optimalnya kinerja pemerintah terkait dengan upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuannya tersebut. Hal ini seperti yang disampaikan dalam wawancara dengan Bapak Teguh sebagai berikut,
“Tapi kalau pada program Ayo ke Magelang ini sudah mencapai tujuan kebijakan atau belum saya fikir kalau menurut saya pribadi belum maksimal dan belum sesuai harapan karena masih banyak peluang-peluang yang belum maksimal.” (wawancara, 16 Maret 2016)
Dari penuturan tersebut dapat dikatakan bahwa sekalipun program Ayo ke Magelang 2015 telah mencapai tujuannya namun hal ini dianggap belum maksimal. Masih terdapat celah-celah yang sesungguhnya potensial tapi belum mampu dikelola dengan baik untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Salah satu bentuk kegiatan yang di kehendaki dalam Ayo ke Magelang 2015 adalah pengembangan program destinasi wisata. Adapun salah satu hal yang dianggap masih perlu mendapatkan perhatian adalah pengelolaan objek wisata di Kota Magelang seperti Taman Kyai Langeng. Hal ini disampaikan pada wawancara dengan Bu Wiwik yang merupakan bagian dari masyarakat sebagai berikut,
“Menurut saya dengan program ini sudah banyak wisatawan yang masuk ke Kota Magelang tetapi tentunya belum sepenuhnya. Hal ini juga karena adanya objek-objek wisata di Kota Magelang sendiri seperti Taman Kyai Langgeng yang seharusnya bisa menarik wisatawan seperti anak- anak dari sekolah yang ada di daerah Magelang dan sekitarnya.”
(wawancara, 19 Maret 2016)
commit to user
Kurangnya pemanfaatan objek wisata Kyai Langgeng sebagai daya tarik Kota Magelang juga disampaikan oleh Bapak Teguh sebagai berikut,
“...kebijakan-kebijakan yang ada sudah bagus dan orang-orang yang berada pada era dua hingga tiga tahun belakangan ini sudah lebih tau kota Magelang dari program ini. Namun yang perlu diketahui bahwa peluang yang belum maksimal seperti dibidang pariwisata yang masih bisa dimaksimalkan lebih jauh. Contohnya Kyai Langgeng itu...” (wawancara, 16 Maret 2016)
Kyai Langgeng merupakan salah satu objek wisata yang terkenal di Kota Magelang. Taman ini memiliki konsep yang tidak jauh berbeda dengan beberapa taman wisata yang ada di Indonesia. Fokusnya adalah pada pelestarian hewan langka, disamping fungsinya sebagai taman rekreasi dan olahraga. Sejauh ini guna tetap menarik wisatawan, taman Kyai Langgeng menyuguhkan atraksi-atraksi kesenian seperti Orkes dangdut, Reog, Kuda Lumping, Kuntulan, Barongsai dan lain-lain. Selain itu taman ini juga didukung dengan berbagai arena bermain beserta sarana dan fasilitas yang memadai. Bahkan di taman ini terdapat kawasan Desa Buku yang merupakan satu-satunya di Indonesia dan dilengkapi dengan perpustakaan rumah baca dan gubug ide. Namun ternyata hal ini belum mampu meningkatkan kunjungan wisatawan ke taman ini. Dalam kurun waktu empat tahun terakhir jumlah kunjungan wisatawan ke taman Kyai Langgeng mengalami penurunan. Penurunan tersebut ini dapat dilihat pada gambar diagram 4.4 berikut,
commit to user
Gambar 4.4 Diagram Jumlah Kedatangan Wisatawan di Taman Kyai Langgeng
(sumber: olah data Buku Pariwisata th. 2014 dan penunjuang) Sungguh sangat disayangkan bahwa taman yang sangat potensial di Kota Magelang ini pemanfaatannya tidak optimal. Hal ini perlu untuk menjadi evaluasi tersendiri bagi Pemerintah Kota Magelang karena untuk mencapai keinginan mengembangkan program dalam destinasi wisata belum mampu tercapai dengan baik. Menciptakan suatu program pariwisata tentunya diperlukan pula upaya peningkatan potensi daerah yang sudah ada. Hal ini dikarenakan pada dasarnya pemerintah sendiri dalam program Ayo ke Magelang 2015 juga berkeinginan meningkatkan potensi objek wisata di Kota Magelang.
Disisi lainnya hambatan mengenai pelaksanaan program Ayo ke Magelang 2015 juga terjadi dari sisi internal pemerintahan terkait dengan pengelolaan anggaran. Melakukan kerjasama dengan pihak ketiga memang dianggap lebih efisien dalam melaksanakan even-even Ayo ke Magelang 2015. Akan tetapi ketika menghadapi EO yang tidak profesional hal ini menyebabkan kerugian
827.685 763.931
638.238
552.104
0 100.000 200.000 300.000 400.000 500.000 600.000 700.000 800.000 900.000
2012 2013 2014 2015
Jumlah wisatawan di Taman Kyai
Langgeng
commit to user
dalam pengelolaan anggaran Ayo ke Magelang 2015 itu sendiri. Seperti pada penyelenggaraan salah satu even Ayo ke Magelang 2015, dimana ada EO yang berkeinginan untuk menyelenggarakan lomba futsal tingkat Provinsi. Setelah memperoleh keuntungan dari uang pendaftaran dan tiket, EO tersebut tidak menyerahkan uang hadiah yang dijanjikan. Hal ini diungkapakan langsung oleh kepala Dinas Disporabudpar Kota Magelang berikut,
“...ada EO yang tidak profesional kan dia ngacung waktu FGD itu, pak saya mau mengadakan lomba futsal tingkat nasional tinggat Jateng, bagus siap biaya dari kami sendiri. Pendaftaran dari uang masuk, pendaftaran itu jalan. Juara satu nanti 5 juta, 3 juta, 2 juta tekan ngone mlayu itu mbak. Ketika kegiatan berakhir untungnya banyak, hadiahnya ngak dikekke. Akhirnya kami yang ngalah mbak, karena benderanya Ayo ke Magelang meskipun itu EO kita bantu.” (wawancara, 30 Maret 2016) Sesungguhnya melakukan kerjasama dengan pihak ketiga tentu berpotensi memenimbulkan suatu resiko. Namun tidak tapat dipungkiri bahwa pemerintah Kota Magelang membutuhkan EO atau pihak ketiga untuk melaksanakan program-program yang dibuatnya.
Hambatan lain dalam pelaksanaan program Ayo ke Magelang 2015 berkaitan dengan koordinasi yang dilakukan antar SKPD. Pada program Ayo ke Magelang 2015 koordinasi dianggap menjadi salah satu hambatan dalam pelaksanaan kebijakan tersebut. Hal ini sampaikan oleh Bapak Johan dari Fedep Bappeda sebagai berikut,
“Hal yang perlu menjadi perhatian adalah koordinasi internal karena setiap titik-titik kebijakan yang dilaksanakan tidak maksimal, sehingga penyelenggaraannya pun juga kurang maksimal. Ketika ada even yang berbenturan pasti salah satunya dikorbankan. Maksudnya even itu kunjungannya kurang bagus atau kurang sukses. (wawancara, 23 Maret 2016)
commit to user
Hal serupa juga disampaikan oleh Bu Wenny dari Bagian Pembangunan selaku evaluator dari program Ayo ke Magelang 2015,
“Yang perlu diperbaiki yang pertama itu adanya koordinasi dengan pihak terkait. Jadi harusnya ada koordinasi, jadi yang mau disambati itu tau gitu lho. Yang mau dimintai tolong itu tau lah sebenarnya itu ada kegiatan apa. (wawancara, 31 Maret 2016)
Sebagai pihak yang menjadi leading sector dari Ayo ke Magelang 2015, Bapak Hartoko selaku Kepala Disporabudpar Kota Magelang juga mengakui bahwa koordinasi menjadi salah satu hal yang menjadi hambatan kesuksesan kebijakan,
“Karena sudah dimanage dengan baik dan sudah disosialisasikan dengan baik, penyelenggaraannya sukses. Kemudian ada juga suatu kegiatan yang koordinasinya ngak bagus sehingga di dalam pelaksanaannya sama sekali tidak sukses itu juga ada.” (wawancara, 30 Maret 2016)
Koordinasi adalah bagian penting dalam implementasi kebijakan. Jika koordinasi yang dilakukan tidak tepat maka akan menimbulkan perbedaan tindakan dari pihak-pihak yang terlibat. Jika hal ini dibiarkan tentu even-even yang direncanakan tidak akan berjalan dengan maksimal sesuai apa yang diinginkan. Dari berbagai pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa koordinasi menjadi kendala internal dalam pelaksanaan program Ayo ke Magelang 2015. Apabila pemerintah tidak bertindak maka kendala tersebut akan berpengaruh besar terhadap efektivitas pelaksanaan program kebijakan. Sejauh ini dalam rangka menjalin keterlibatan antar SKPD diselenggarakanlah rapat koordinasi secara rutin.
Selain masalah sampah dan koordinasi, hambatan lainnya yang terjadi pada program Ayo ke Magelang 2015 lebih kepada upaya-upaya yang dilakukan
commit to user
pemerintah untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat. Sebagai suatu program yang besar maka akan diperlukan upaya-upaya tepat agar masyarakat dan setiap elemennya menjiwai dan memahami maksud serta tujuan dari program.
Keberadaan hambatan tersebut disampaikan oleh Bapak Agus Budiono dari Bappeda Kota Magelang sebagai berikut,
“Hambatannya adalah memberikan keyakinan kepada masyarakat untuk menjiwai sebagai suatu harapan bersama, elemen suatu Kota.
Meyakinkan masyarakat itu perlu suatu sosialisasi kemudian kampanye.
Banyak hal yang dilakukan dengan kampanye-kampanye baik secara konvensional, sosialisasi di kelurahan-kelurahan kemudian ada even-even ketemuan dengan RW maupun yang lainnya seperti adanya brosur untuk promosi.” (wawancara, 1 Agustus 2016)
Adanya upaya pemerintah meningkatkan komitmen masyarakat terhadap program dilakukan dengan sosialisasi dan kampaye Ayo ke Magelang 2015 kepada masyarakat sebagai bentuk penanggulangan hambatan yang terjadi.
Dengan melakukan promosi dan publikasi ke masyarakat baik melalui media cetak dan media elektronik, pemerintah berharap tersampaikannya informasi mengenai Ayo ke Magelang 2015 kepada masyarakat secara lebih efektif.
commit to user
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Program “Ayo Ke Magelang 2015”
Implementasi dari program Ayo ke Magelang 2015 telah usai dengan berakhirnya tahun 2015. Sekalipun terdapat kendala namun secara keseluruhan program ini dianggap sudah mampu mencapai tujuannya. Program Ayo ke Magelang 2015 merupakan program yang bersifat top down, dengan tujuan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kota Magelang. Guna mengetahui faktor- faktor apa saja yang mempengaruhi efektivitas dari pelaksanaan program Ayo ke Magelang 2015 dalam meningkatkan kunjungan wisatawan maka digunakan model implementasi dari Edwards III. Terdapat empat variabel yang menjadi aspek dalam penguraian faktor-faktor tersebut yaitu sebagai berikut,
a. Komunikasi
Salah satu variabel penting menurut Goerge C. Edward III dalam model implementasi kebijakannya adalah komunikasi. Komunikasi dianggap sebagai variabel utama yang mempengaruhi keberhasilan implementasi suatu kebijakan.
Implementasi kebijakan diasumsikan akan efektif bila implementor baik individu maupun kelompok yang berkepentingan memahami ukuran serta tujuan kebijakan. Pada tahapan implementasi kebijakan tujuan dan sasaran kebijakan menjadi hal pokok yang harus diinformasikan kepada kelompok sasaran (target group). Tujuannya adalah untuk menghindari terjadinya penolakan akibat tidak efektifnya komunikasi yang dilakukan.
commit to user
Seperti yang disampaikan Kepala Disporabudpar Kota Magelang bahwasanya Ayo ke Magelang 2015 merupakan salah satu program unggulan dari pencanangan Magelang Kota Sejuta Bunga. Ayo ke Magelang 2015 dilaksanakan pada RPJMD Kota Magelang tahun 2011-2015 yang tertuang pada RKPD tahun 2015. Penyelenggaraan program Ayo ke Magelang 2015 melibatkan berbagai SKPD guna melaksanakan 100 lebih even-even di dalamnya. Tujuan utama dari program tersebut adalah mendatangkan wisatawan ke Kota Magelang.
Pada setiap komunikasi tentu akan terjadi proses dimana suatu informasi tersalurkan dari satu pihak ke pihak lainnya. Implementasi program Ayo ke Magelang 2015 dapat dikatakan cukup sukses karena mampu mencapai tujuannya.
Namun keberhasilan dari program ini tak lepas dari adanya komitmen bersama baik itu pemerintah, masyarakat maupun pihak ketiga. Ada dua arah komunikasi yang dilakukan pada implementasi Ayo ke Magelang 2015, pertama adalah komunikasi yang dilakukan oleh SKPD yang bertanggung jawab dengan masyarakat dan komunikasi yang dilakukan antara SKPD dengan SKPD lainnya yang terlibat.
Komunikasi antara SKPD yang bertanggung jawab dengan masyarakat dilakukan dengan tujuan menyampaikan informasi bahwa terdapat suatu program yaitu Ayo ke Magelang 2015 dengan ratusan even menarik di dalamnya. Dasar dari penyampaian informasi adalah agar timbul minat masyarakat untuk ikut serta atau berpatisipasi meramaikan even-even yang digelar di Kota Magelang selama tahun 2015 serta menjalin kerjasama dengan pihak ketiga. Adapun sarana yang digunakan pemerintah untuk berkomunikasi dengan masyarakat terkait dengan
commit to user
program Ayo ke Magelang 2015 yaitu melalui media cetak seperti brosur, baleho, leaflet, buku pariwisata, kemudian dengan media online seperti facebook dan web, juga media elektronik seperti pengiklanan melalui beberapa radio swasta dan radio milik pemerintah kota. Pernyataan ini disampaikan Bu Wiwik sebagai berikut,
“Informasi-informasi yang disampaikan oleh pemerintah ini kan banyak dilakukan dengan menyebarkan pamflet dan ada juga selebaran- selebaran atau spanduk juga berita yang disebarkan melalui radio ataupun informasi-informasi tersebut diampaikan di tiap-tiap instansi.”
(wawancara, 19 Maret 2016)
Upaya penyampaian komunikasi yang disampaikan sebelumnya dibenarkan oleh Pak Johan dari Bappeda Kota Magelang. Bahwasanya dalam salah satu pelaksanaan even yaitu Festival Kuliner Magelang digunakanlah media-media tersebut,
“...media-media promosi kita gencarkan untuk promosi itu melalui radio, melalui surat kabar kemudian baliho-baliho yang tidak hanya terdapat di dalam kota tetapi juga ada di luar Kota Magelang kita pasang.
Sehingga penyebaran informasinya lebih luas.” (wawancara, 23 Maret 2016)
Selain dengan menggunakan media promosi, komunikasi pada program Ayo ke Magelang juga mengikutsertakan SKPD di dalamnya. Seperti penyelenggaraan lomba vokal grup pada even Pekan Raya Magelang. Karena pemerintah memiliki sebuah even yang melibatkan pelajar maka penyampaian informasi dilakukan melalui Dinas Pendidikan Kota Magelang. Informasi terkait penyelenggaraan lomba disampaikan dengan menggunakan selebaran ke sekolah- sekolah yang besangkutan dengan tujuan agar turut berpartisaipasi pada lomba vokal grup. Tindakan tersebut disampaikan oleh Pak Teguh yang pernah berpartisipasi dalam even tersebut sebagai berikut,
“Kalau dari program Ayo ke Magelang sendiri khususnya yang berkaitan dengan pelajar, ada dua pemberitahuan. Yang pertama
commit to user
pemerintah Kota itu memberikan pemberitahuan lewat surat-surat semacam surat pemberitahuan. Terus kalau yang even itu mencakup hal yang lebih luas pemerintah bekerjasama dengan dinas terkait, misal dilingkungan pelajar berarti Kota Magelang itu bekerjasama dengan Dinas Pendidikan.” (wawancara, 16 Maret 2016)
Penyelenggaran program Ayo ke Magelang 2015 saat ini bisa sukses dilaksanakan tak lepas dari bagaimana strategi komunikasi ini dilakukan.
Komunikasi yang dilakukan pada masing-masing SKPD juga merupakan salah satu upaya mensukseskan program Ayo ke Magelang 2015. Dengan secara langsung dipimpin oleh Bapak Walikota Magelang, Disporabudpar, Dishubkominfo, dan Humas Kota Magelang didaulat menjadi leading sector sekaligus agent of promotion dari program Ayo ke Magelang 2015. Namun sekalipun ketiga SKPD tersebut menjadi agen promosi, seluruh SKPD di Kota Magelang juga wajib untuk berkontribusi terhadap keberadaan even-even yang ada pada program Ayo ke Magelang 2015.
Adapun cara yang dapat digunakan untuk melakukan promosi adalah menggunakan website dari masing-masing SKPD atau menyebarluaskan melalui jaringan internal SKPD seperti kelompok media sosial Whatsapp. Fungsi dari SKPD lain yang berperan sebagai agen promosi adalah untuk membentuk adanya satu frekuensi mengenai keberadaan even-even yang ada di Kota Magelang.
Sekalipun bukan bertindak sebagai leading sector mereka juga merupakan bagian dari pemerintah Kota Magelang. Maka setiap SKPD diharapkan mengetahui program tersebut dengan baik agar juga mampu menyampaikan setiap informasi yang ada kepada masyarakat. Hal ini seperti yang penyampaian bapak Kepala Dinas Disporabudpar Kota Magelang berikut,
commit to user
“Ini SKPD leading sektor yang ditugasi secara langsung oleh Bapak walikota sebagai agent of promotion. Disamping itu disetiap SKPD juga memiliki fungsi itu, meskipun dengan berbagai keterbatasan disamping fungsi tadi. SKPD yang tiga tadi kan memang punya lembaga promosi. Tatapi yang SKPD lain kan bisa melalui website nya pribadi, WA nya pribadi atau ketika ditanya saudaranya ditanya siapa saja harus satu frekuensi, satu presepsi Ayo Ke Magelang apa dan seterusnya. Ini hal-hal yang berhubungan dengan siapa dan kenapa mengajak wisatawan dan investor itu ke Kota Magelang.” (wawancara, 30 Maret 2016)
Berdasarkan pada berbagai pendapat di atas maka dapat dikatakan bahwa dalam rangka menyampaikan informasi mengenai program Ayo ke Magelang 2015 pemerintah melakukan berbagai cara. Cara-cara tersebut tentunya disesuaikan dengan fungsi dan kemampuan SKPD dalam mendukung kesuksesan program.
Selain dari pada hal yang telah dijelaskan sebelumnya, guna menjaga konsistensi komunikasi pemerintah juga melakukan rapat secara rutin.
Penyelenggaraan forum diskusi di Bappeda Kota Magelang merupakan awal dari dilakukannya komunikasi, dimana maksud dari tujuan serta konsep Ayo ke Magelang 2015 ini akan disampaikan kepada semua SKPD terkait. Sedangkan fungsi dari rapat koordinasi adalah melakukan komunikasi yang berhubungan dengan persiapan even-even yang akan dilaksanakan. Pelaksanaan rapat koordinasi tentunya akan dihadiri oleh SKPD atau pun pihak ketiga yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan even, sehingga diharapkan terjalin komunikasi yang baik untuk menunjuang kelancaran even.
Pada program Ayo ke Magelang 2015 sekalipun penyelenggaraan even- evennya telah usai dilaksanakan namun komunikasi yang dilakukan tidak lantas usai. Guna melakukan evaluasi kebijakan, setiap bulan juga dilaksanakan sebuah rapat di kantor Walikota Magelang. Penyelenggara dari rapat tersebut adalah
commit to user
Bagian Pembangunan Setda Kota Magelang selaku penanggung jawab dari evaluasi program Ayo ke Magelang 2015. Adapun tujuan dari rapat tersebut adalah mengumpulkan pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan serta yang terkena dampak langsung dari program Ayo ke Magelang 2015. Setiap usulan, saran dan keluhan yang masuk akan ditulis dan dijadikan notulensi sebagai hasil rapat. Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh salah Bu Wenny dari Bagian Pembangunan Setda Kota Magelang,
“Jadi kita bentuk evaluasinya itu mendatangkan SKPD dengan melakukan rapat, kita mendatangkan semua SKPD tidak hanya SKPD Pemda seperti PKL, hotel kemudian kita undang semua, pemangku- pemangku kepentingan untuk Ayo ke Magelang 2015 kita undang semua pada saat itu.” (wawancara, 31 Maret 2016)
Rapat evaluasi Ayo ke Magelang dilaksanakan secara rutin dengan tujuan meninjau apakah setiap even yang ada sudah berjalan sesuai agenda ataukah belum. Hasil dari evaluasi tersebut kemudian akan disusun menjadi nota dinas yang kemudian disampaikan kepada Walikota Magelang. Setiap nota dinas akan diuraikan bagaimana suatu even dilaksanakan, termasuk di dalamnya kendala, bentuk antisipasi dan penggunaan anggaran dana pemerintah.
b. Sumber Daya
Sumber daya merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi keberhasilan implementasi suatu program. Dimana staf adalah satu dari indikator di dalamnya yang menjadi sumber penting dalam pelaksanaan kebijakan. Staf sendiri pada hakikatnya merupakan implementor dari suatu program. Setiap program tentu membutuhkan staf sebagai pelaksananya sama halnya pada program Ayo ke Magelang 2015. Sekalipun dalam pelaksanaan even-even Ayo ke
commit to user
Magelang 2015 pemerintah Kota Magelang banyak melakukan kerjasama dengan pihak ketiga akan tetapi staf dari pemerintah juga memiliki peranan tersendiri terhadap berjalannya suatu kegiatan.
Pada salah satu even Ayo ke Magelang 2015 yaitu Festival Kuliner Magelang kepanitiaan kegiatan dilakukan bersama-sama dengan pihak ketiga atau EO (Event Organizer). Kepanitian dari pemerintah sendiri diwakili oleh Fedep Bappeda Kota Magelang. Adapun hasil dari kerjasama yang dilakukan dianggap telah dilaksanakan dengan baik. Baik komunikasi dan koordinasi yang dibangun berjalan lancar dari dua arah sehingga tidak menimbulkan kendala. (sumber:
laporan Evaluasi Festival Kuliner Magelang th. 2015)
Kerjasama dalam melaksanakan suatu kegiatan tentunya memang bukan perkara yang mudah. Hal ini disadari betul oleh pihak-pihak yang berkontribusi di dalam program Ayo ke Magelang 2015. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa pemerintah memilik keterbatasan dari segi kemampuan untuk melaksanakan suatu kegiatan. Guna menutup kekurangan tersebut maka diperlukanlah pihak ketiga atau EO. Keberadaan event organizer sendiri dianggap sebagai pemberian kesempatan seluas-luasnya untuk membantu kerja pemerintahan. Hal ini karena pada dasarnya pemerintah memiliki tugas pokok dan fungsi masing-masing antar badan dan lembaga sehingga bantuan dari pihak ketiga akan membantu setiap instansi untuk tetap melaksanakan tupoksinya. Pernyataan ini seperti yang disampaikan oleh Pak Johan dari Fedep Bappeda Kota Magelang sebagai berikut,
“Itu mix, secara utuh SDM pemerintah itu kan tidak ada tupoksi untuk melakukan pameran. Itu murni melakukan even itu kan saya kira tidak ada ditugas fungsional sehingga kita memberikan kesempatan seluas-
commit to user
luasnya untuk dunia luar berperan aktif. Managemen even itu kan sudah umum di dunia usaha itu kan sudah tersedia lha kalau kita menghendel itu semua justru malah kontra produktif.” (wawancara, 23 Maret 2016)
Kerja sama yang dilakukan pada pelaksanaan program Ayo ke Magelang 2015 tentu tidak hanya dilakukan dengan pihak ke tiga. Setiap SKPD dalam pemerintahan memiliki fungsi sesuai dengan tupoksinya. Hal ini yang menjadi patokan bagi setiap SKPD untuk kemudian berkontribusi sesuai dengan program yang sedang dijalankannya. Penetapan besarnya proporsi tugas yang diemban SKPD dalam suatu kegiatan dinilai dari keutamaan tugas SKPD terkait. Seperti pada pelaksanaan program Ayo ke Magelang 2015, karena berfokus pada pengoptimalan wisata di Kota Magelang maka peran terbesar dipegang oleh Disporabudpar Kota Magelang. Penilaian pada pelaksanaan berbagai even di dalamnya pun sebagian besar diarahkan pada bagaimana kinerja dari Disporabudpar Kota Magelang sendiri. Bapak Johan dari fedep Bappeda berpendapat sebagai berikut,
“Secara teknis bisa dibilang nilainya B lah. Kalau dibilang sudah sesuai ya sesuai lah karena leading sektornya adalah Disporabudpar. Daya dukungnya disana sedikit banyak adalah tentang promosi wisata jadi memang pas dengan tupoksinya.” (wawancara, 23 Maret 2016)
Sejauh ini dengan dianggap suksesnya program Ayo ke Magelang 2015 kinerja dari staf pemerintah Kota Magelang dianggap sudah baik. Namun baiknya kinerja pemerintah ini layaknya perlu untuk ditingkatkan karena pengemasan even-even sebagai daya tarik wisata itu membutuhkan kreativitas yang harus terus menerus dilanjutkan. Hal ini seperti yang hasil wawancara dengan masyarakat yaitu Bapak Teguh berikut,
“Menurut saya mampu karena pemerintah kota sendiri juga sudah melakukan kerja sama dengan pihak lain. Mungkin menurut saya sendiri
commit to user
harus lebih jeli lagi dalam melihat mata acara yang lebih kreatif lagi.”
(wawancara, 16 maret 2016)
Salah satu penyebab dari tidak optimalnya sumber daya dalam hal ini staf adalah kuantitas yang tidak mencukupi, memadai, ataupun tidak kompeten dibidangnya. Sering kali kurangnya kompetensi seseorang berbeda dengan orang lain sehingga menyebabkan tidak efektifnya suatu program kebijakan tersebut diimplementasikan. Selain karena penyebab tersebut, tidak tersampaikannnya informasi yang optimal juga menjadi penyebab gagalnya pelaksanaan program dalam suatu kebijakan. Sering kali hal ini berkaitan dengan kurangnya pemahaman informasi, disebabkan oleh staf dan pejabat yang memiliki perbedaan kemampuan untuk menangkap maksud dari tujuan yang dikehendaki. Sekalipun suatu program kebijakan dibuat oleh pejabat yang bersangkutan akan tetapi ketidakmampuan staf untuk mendukung antusiasme pejabat diatasnya untuk melakukan perubahan dapat menjadi hambatan dalam pelaksanaan program.
Kemungkinan tersebut disampaikan oleh Bapak Hartoko selaku Kepala Disporabudpar Kota Magelang sebagi berikut,
“Kalau pejabatnya sudah yang belum staf pendukungnya. Saya punya 100 even itu kan gak gampang RGD menjadi satu kegiatan itu kan harus deal. Ini tidak hanya diwacana saja tetapi harus direalisasikan kalau kita bicara mengenai kebijakan publiknya itu jalan, bagus. Tetapi kalau implemenntasinya ini yang dengan terseok-seok tapi terwujud.
(wawancara, 30 Maret 2016)
Mengingat keterbatasan staf dalam menyalurkan maksud dari atasannya maka tindakan terbaik yang perlu untuk dilakukan adalah mengambil upaya peningkatan kemampuan dan komitmen dari semua pihak terkait. Tidak hanya dari staf terkait namum key person dari kebijakan itu sendiri menjadi sangat
commit to user
penting. Maksud dari key person sendiri adalah pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap kebijakan yang dijalankan seperti Kepala Dinas maupun Kepala Bagian. Adapun hal yang harus dirubah adalah bagaimana suatu tujuan disepakati bersama oleh pihak-pihak yang melaksanakan kebijakan. Ketika suatu kebijakan telah dipahami secara proporsional oleh para pemegang kekuasan maka keberlanjutan dari informasi pada tingkatan di bawahnya akan lebih efektif.
Sedangkan ketidaksamaan penangkapan informasi merupakan salah satu kendala negatif yang menghambat program itu dilaksanakan. Apabila pemegang kekuasaan tidak mampu mencapai proporsi yang seharusnya maka akan terjadi ketimpangan pada pelaksanaan kebijakan itu sendiri.
Setelah melakukan perbaikan pada pihak-pihak utama dari program tersebut maka langkah selanjutnya yang perlu untuk dilakukan adalah memberikan pengajaran bagi staf dibawahnya sebagai kepanjangan wewenang.
Jika staf yang diharapkan belum mampu untuk menerapkan berbagai pengajaran yang diberikan maka langkah terbaik adalah pengambil alihan pekerjaan. Hal tersebut dimaksudkan agar efektivitas dari pelaksanaan program Ayo ke Magelang 2015 dapat tetap tercapai. Namun ada baiknya jika penguasa dalam memberikan tanggung jawab terkait dengan kebijakan yang sedang dilaksanakannnya berusaha untuk mempertimbangkan staf yang memiliki kemampuan adaptasi yang baik. Para staf yang memliki kemampuan adaptasi yang baik akan selalu mengambangkan kemampuan yang dimilikinya agar mampu menyesuaikan diri dengan maksud dari keterlibatannya pada suatu