1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia memiliki potensi yang layak dikembangkan menjadi salah satu instrument pemerataan pendapatan masyarakat muslim melalui dana Zakat infaq dan shadaqah yang di setorkan pada setiap tahun nya. Lebih khusus daerah Bima sendiri, dari data Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat (BPS NTB) pembaruan terbaru 2017 mempunyai masayarakat yang beragama islam yaitu sekitar 99.50% dari total penduduk di daerah Bima, sehingga penelitian ini sangat penting di lakukan, secara kultural kewajiban zakat berinfaq, dan shadaqah di jalan Allah SWT telah mengakar kuat dalam tradisi kehidupan masyarakat muslim (Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat, 2017).
Zakat merupakan salah satu dari rukun Islam, tujuan utama dari zakat yaitu meningkatkan kesejahtraan rakyat dan untuk mengurangi kesenjangan sosial dalam masyarakat agar dapat tercapai secara maksimal, maka dari itu dibutuhkan suatu Organisasi Pengelola Zakat, yang dapat mengatur dan mendistribusikan zakat secara adil dan merata. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar berdirinya berbagai Organisasi Pengelola Zakat di berbagai negara, termasuk di Indonesia (Atmaja, 2017;7).
Undang-undang nomor 23 tentang Pengelolaan Zakat tahun 2011 Bab 1 Pasal 1 Poin 2 menyebutkan zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam. Kewajiban zakat merupakan sebuah kewajiban yang menghasilkan hikmah bagi pemerataan pendapatan pada suatu negara termasuk Indonesia (Pertiwi, Kholmi et al. 2017). Pengelolaan dana zakat telah diatur oleh negara mulai dari perencanaan hingga pendistribusian (Mukmin and Susilawati 2020). Pada saat ini penyaluran zakat fitrah, zakat mal ataupun infaq dan shadaqah telah terkoordinasi dengan baik (Endahwati, 2014).
Pada saat ini penyaluran zakat fitrah, zakat mal ataupun infaq dan shadaqah telah terkoordinasi dengan baik. Penyaluran zakat fitrah tidak hanya dikumpulkan oleh amil zakat untuk kemudian secara langsung disalurkan ke pihak penerima zakat, infaq, dan shadaqah (ZIS), namun dana ZIS yang diterima dikelola untuk pengembangan ekonomi guna meningkatkan kualitas hidup bagi penerima dana ZIS. Pengelolaan ZIS telah dilakukan oleh beberapa lembaga dalam keorganisasian Badan Amil Zakat atau Lembaga Amil Zakat. Kedua-duanya telah mendapat payung perlindungan dari pemerintah. Wujud perlindungan pemerintah terhadap kelembagaan pengelola ZIS tersebut adalah Undang-Undang RI Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, Keputusan Menteri Agama RI Nomor 581 Tahun 1999 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, serta Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat
Islam dan Urusan Haji Nomor D/291 Tahun 2000 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Zakat (Sucipto, 2011:1).
Keberadaan Badan Amil Zakat (BAZ) atau Lembaga Amil Zakat (LAZ) saat ini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang sedang kesusahan.
BAZ/LAZ berupaya sedemikian rupa membantu kesulitan masyarakat miskin dengan berbagai programnya. Tak terkecuali program pemberdayaan bagi orang miskin di jalanan. Beragam program dilaksanakan dengan sumber pendanaan dari zakat (Maksum 2009:7).
Semangat untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat melalui program usaha produktif, terbukti mampu melapangkan beban masyarakat akibat himpitan ekonomi. Hal itu takkan mungkin terjadi tanpa adanya kebaikan dan kesadaran hati para muzakki yang ditopang oleh amil yang profesional, amanah, dan akuntabel. Dalam pengelolaan zakat modern, amil memiliki posisi yang sangat penting dalam mengemas program-program atau produk yang berdayaguna bagi mustahiq (orang yang berhak menerima zakat) (Karim dan Syarief, 2009:4).
Tujuan zakat tidak hanya sekedar menyantuni orang miskin secara konsumtif, tetapi juga memiliki tujuan yang selalu sama dan tidak akan berubah yaitu menuntaskan kemiskinan dan dapat mengangkat derajat fakir miskin dengan membantu keluar dari kesulitan hidup. Zakat infaq dan shadaqah (ZIS) merupakan institusi resmi yang diarahkan untuk menciptakan pemerataan dan keadilan bagi masyarakat, sehingga taraf kehidupan masyarakat dapat ditingkatkan.
Akuntabilitas merupakan suatu cara pertanggungjawaban manajemen atau penerima amanah kepada pemberi amanah atas pengelolaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepadanya baik secara vertikal maupun secara horizontal.
Dalam definisi tradisional, Akuntabilitas adalah istilah umum untuk menjelaskan bahwa organisasi atau perusahaan sudah memenuhi misi yang mereka emban (Benveniste (1991) sebagaimana dikutip Arifiyadi, (2008:1)). Definisi lain menyebutkan akuntabilitas diartikan sebagai kewajiban-kewajiban dari individu- individu atau penguasa yang dipercayakan untuk mengelola sumber-sumber daya publik dan yang bersangkutan dengannya untuk dapat menjawab hal-hal yang menyangkut pertanggungjawabannya. Akuntabilitas terkait erat dengan instrumen untuk kegiatan kontrol terutama dalam hal pencapaian hasil pada pelayanan publik dan menyampaikannya secara transparan kepada masyarakat (Arifiyadi, 2008:1).
Akuntabilitas juga tersirat dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah 282, yang mewajibkan pencatatan dari setiap aktivitas transaksi. Pencatatan transaksi ini akan memberikan informasi dan akuntabilitas (kekuatan untuk dipertanggungjawabkan) terhadap kondisi riil yang ada kepada publik sebagai obyek, pihak yang juga punya hak untuk mempertanyakannya (Adlan, 2010:1).
Menurut pernyataan standar akuntansi keuangan PSAK No. 109, Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh muzakki sesuai dengan ketentuan syariah untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya (mustahiq). Ditinjau dari segi bahasa, zakat berarti tumbuh, (numuw) dan bertambah (ziyadah), jika diucapkan zaka al-zar’, artinya adalah tanaman itu tumbuh dan bertambah. Jika diucapkan
zakat al-nafaqah, artinya nafkah tumbuh dan bertambah jika diberkati. Kata ini juga sering dikemukakan untuk makna thaharah (suci). Allah SWT. Berfirman: Artinya:
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu”. (QS. As Syam :9).3.
Ditinjau dari segi bahasa, kata zakat mempunyai beberapa arti, yaitu albarakatu ‘keberkahan’, al-namaa ‘pertumbuhan dan perkembangan’, al-thaharatu
‘kesucian’ dan ash-shalahu ‘keberesan’. Sedangkan secara istilah zakat ialah nama pengambilan tertentu dari harta tertentu, menurut sifat-sifat yang tertentu, dan untuk diberikan kepada golongan tertentu. Allah berfirman dalam surat At Taubah 103: Artinya : ”Ambilah zakat dari sebagian harta mereka,dengan zakatitu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka .Dan Allah Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui.” (QS. At Taubah:103)11.
Penelitian ini menjadi penting bagi lembaga pengelola Zakat Infaq dan Shadaqah (ZIS) untuk dapat melakukan pertanggungjawaban secara baik berdasarkan ketentuan yang terdapat pada PSAK-109 dengan baik dan benar dalam mempertanggungjawabkan dana Zakat, Infak dan Shadaqah (ZIS).
Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti pertanggungjawaban yang dilakukan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) di Bima, yaitu menganalisis akuntabilitas Zakat, Infaq dan Shadaqah (ZIS) pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) di Bima dalam mengelola laporan kauangan dana penerimaan dan penyaluran berdasarkan PSAK-109.
B. Perumusan Masalah
Bagaimana pertanggungjawaban dari Zakat, infaq dan shadaqah (ZIS) pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) di Bima ?
C. Tujuan Dan Manfaat
1. Tujuan Penelitian
Menganalisis dan mengetahui pertanggungjawaban dari Zakat infaq dan shadaqah (ZIS) pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) di Bima
2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan akan memberikan pengetahuan dan dijadikan pembanding untuk penelitian selanjutnya dengan tema yang sama serta untuk memperkaya informasi dalam rangka memperluas ilmu pengetahuan dalam bidang akuntansi Syariah, dan mengetahui bagaimana setiap Badan amil zakat nasional (BAZNAS) yang ada mengelola dan mempertanggungjawabkan kegiatan penerimaan dan penyaluran zakat infaq dan shadaqah (ZIS) tersebut.
b. Manfaat praktis 1. Bagi peneliti
Penelitian ini diharapkan bisa menjawab masalah-masalah yang ada pada setiap Badan amil zakat Nasional (BAZNAS) dalam
mengelola dan pertanggugjawaban kegiatannya tersebut, selain itu diharapkan dengan penelitian ini menambah ilmu dan wawasan tentang bagaimana pengelolaan dan pertanggungjawaban zakat infaq dan shadaqah (ZIS).
2. Bagi Badan amil zakat nasiaonal (BAZNAS)
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan masukan pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang terdapat di Bima sebagai organisasi transparan yang mempublikasikan semua hasil kagiatannya untuk diketauhi oleh masyarakat luas dan sesuai dengan ketentuan yang ada.