• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II BAHAN RUJUKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II BAHAN RUJUKAN"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

9 2.1. Akuntansi Sektor Publik

2.1.1 Pengertian Akuntansi Sektor Publik

Definisi Akuntansi Sektor Publik menurut Bastian (2006:15) adalah sebagai berikut :

“Akuntansi Sektor Publik adalah mekanisme teknik dan analisis akuntansi yang diterapkan pada pengelolaan dana masyarakat di lembaga-lembaga tinggi negara dan departemen-departemen di bawahnya, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, LSM, dan yayasan sosial pada proyek-proyek kerjasama sektor publik dan swasta.”

Sedangkan menurut Mardiasmo (2009:2) mendefinisikan akuntansi sektor publik adalah sebagai berikut:

“Akuntansi Sektor Publik merupakan alat informasi baik bagi pemerintah sebagai manajemen maupun alat informasi bagi publik.”

Sedangkan menurut Abdul Halim (2012:3) mendefinisikan Akuntansi Sektor Publik sebagai berikut:

“Akuntansi Sektor Publik adalah suatu proses pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan, dan pelaporan transaksi ekonomi (keuangan) dari suatu organisasi atau entitas publik seperti pemerintah, LSM, dan lain-lain yang dijadikan sebagai informasi dalam rangka mengambil keputusan ekonomi oleh pihak-pihak yang memerlukan,”

Sesuai dengan definisi-definisi diatas, dari sudut pandang ekonomi sektor publik dapat dipahami sebagai suatu entitas (kesatuan) yang aktivitasnya berhubungan dengan usaha untuk menghasilkan barang dan pelayanan publik dalam rangka memenuhi kebutuhan dan hak publik (Mardiasmo:2009).

(2)

2.1.2 Tujuan Akuntansi Sektor Publik

Mardiasmo (2009) menyatakan bahwa tujuan akuntansi pada organisasi sektor publik adalah untuk:

1. Memberikan informasi yang diperlukan untuk mengelola secara tepat, efisien, dan ekonomis atas suatu operasi dan alokasi sumber daya yang dipercayakan kepada organisasi.

2. Memberikan informasi yang memungkinkan bagi manajer untuk melaporkan pelaksanaan dan tanggung jawab mengelola secara tepat dan efektif.

Akuntansi sektor publik terkait dengan tiga hal pokok, yaitu penyediaan informasi, pengendalian manajemen, dan akuntabilitas. Akuntansi sektor publik merupakan alat informasi bagi pemerintah sebagai manajemen maupun alat informasi publik.

Informasi akuntansi bermanfaat untuk pengambilan keputusan,

menentukan biaya suatu program, proyek, atau aktivitas serta kelayakannya baik secara ekonomis maupun teknis. Selain itu, informasi akuntansi dapat digunakan untuk membantu dalam pemilihan program yang efektif dan ekonomis serta untuk penilaian investasi.

2.1.3 Sifat dan Karakteristik Akuntansi Sektor Publik

Mardiasmo (2009) berpendapat bahwa dalam beberapa hal, akuntansi sektor publik berbeda dengan akuntansi pada sektor swasta. Perbedaan sifat dan karakteristik disebabkan karena adanya perbedaan lingkungan yang mempengaruhi. Komponen lingkungan yang mempengaruhi organisasi sektor publik diantaranya:

1. Faktor Ekonomi 2. Faktor Politik 3. Faktor Kultural 4. Faktor Demografi

(3)

2.2. Laporan Keuangan

Menurut Harahap (2008:105) menyatakan bahwa:

“Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Adapun jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas dan laporan perubahan posisi keuangan”.

Menurut Warren, Reeve dan Fess (2005:24) menyatakan pendapatnya bahwa :

“Laporan keuangan adalah laporan akuntansi yang menghasilkan informasi demikian disebut laporan keuangan, laporan keuangan yang utama bagi peusahaan perorangan adalah laporan laba rugi, laporan ekuitas pemilik, neraca, dan laporan arus kas.”

Menurut Kieso dan Weygandt (2004), menjelaskan bahwa :

“Financial statement are the principal means throught which financial information in communicated to those outside an enterprise. These statement provide the firm is history quantified in money terms.”

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan merupakan hasil akhir dari suatu proses akuntansi yang terdiri dari pencatatan, pengelompokan, pelaporan dan penginterpretasikan yang isinya merupakan data historis dan masa kini dari perusahaan yang dalam satuan uang.

2.2.1 Tujuan Laporan Keuangan

Menurut Suhardjono (2006:9) mengemukakan tujuan utama dari diterbitkannya laporan keuangan perusahaan adalah untuk memberikan informasi yang relevan kepada pihak-pihak diluar perusahaan seperti pemegang saham atau pemilik perusahaan, pemerintah, masyarakat, investor, dan sebagainya. Secara garis besar laporan keuangan perusahaan harus memberikan informasi sebagai berikut :

(4)

1. Bermanfaat bagi investor maupun calon investor serta kreditor dalam mendukung pengambilan keputusan investasi dan keputusan kredit yang rasional.

2. Memberikan informasi yang menyeluruh kepada mereka yang mempunyai pemahaman yang memadai tentang bisnis maupun aktivitas ekonomi bagi yang menginginkan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang memadai.

3. Memberikan informasi tentang sumber daya ekonomi milik perusahaan, asal sumber daya tersebut, serta pengaruh transaksi atau kejadian yang mengubah sumber daya dan hak atas sumber daya tersebut.

4. Memberikan informasi tentang kinerja keuangan perusahaan dalam satu periode tertentu.

5. Membantu pengguna laporan keuangan dalam mengakses jumlah, waktu dan ketidakpastian, penerimaan kas dari deviden atau bunga dan penerimaan dari penjualan atau penarikan kembali surat berharga atau pinjaman.

Kelima manfaat informasi tersebut secara keseluruhan dimaksudkan agar laporan keuangan memberikan informasi tentang masa lalu perusahaan untuk membantu pengguna laporan keuangan dalam membuat prediksi dan keputusan yang berkaitan dengan status atau aliran keuangan perusahaan di masa depan.

(5)

2.2.2 Pengguna Laporan Keuangan

Menurut Kasmir (2008:19) berpendapat bahwa ada beberapa pihak yang memerlukan laporan keuangan, yaitu :

1. Pemilik

Pemilik adalah seseorang yang memiliki usaha tersebut. Hal ini tercermin dari kepemilikan saham yang dimilikinya.

2. Manajemen

Kepentingan pihak manajemen perusahaan terhadap laporan keuangan perusahaan yang mereka buat memiliki arti tertentu. Bagi pihak manajemen laporan keuangan merupakan cermin kinerja mereka dalam suatu periode tertentu.

3. Kreditor

Kreditor adalah pihak yang menyandang dana bagi perusahaan. Pihak pemberi dana seperti bank atau lembaga lainnya. Kepentingan pihak kreditor terhadap laporan keuangan perusahaan adalah dalam hal memberikan pinjaman atau pinjaman yang telah berjalan sebelumnya.

4. Pemerintah

Pemerintah juga memiliki arti penting terhadap laporan keuangan perusahaan. Bahkan pemerintah melalui Departemen Keuangan mewajibkan kepada setiap perusahaan untuk menyusun dan melaporkan keuangan pemerintah secara periodik.

5. Investor

Investor adalah seseorang yang hendak menanamkan dana di suatu perusahaan. Bagi investor yang ingin menanamkan dananya dalam suatu usaha sebelum memutuskan untuk membeli saham, perlu mempertimbangkan banyak hal secara matang. Dasar pertimbangan investor adalah dari laporan keuangan yang disajikan perusahaan yang akan ditanamnya. Bagi investor laporan keuangan dibutuhkan untuk menilai prospek usaha, apakah mampu memberikan deviden dan nilai saham seperti yang diinginkan.

(6)

2.2.3 Manfaat Laporan Keuangan

Menurut Kasmir (2008:19) berpendapat bahwa manfaat dari Laporan keuangan untuk beberapa pihak adalah :

1. Pemilik

 Untuk melihat kondisi dan posisi keuangan saat ini.

 Untuk melihat perkembangan dan kemajuan perusahaan dalam suatu periode.

 Untuk menilai kinerja manajemen atas target yang telah ditetapkan.

2. Manajemen

 Dengan laporan keuangan yang dibuat,manajemen dapat menilai dan mengevaluasi kinerja mereka dalam suatu periode, apakah telah mencapai target atau tujuan yang telah ditetapkan atau tidak.

 Manajemen dapat melihat kemampuan mereka dalam mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki perusahaan saat ini.

 Laporan keuangan dapat digunakan untuk melihat kekuatan dan kelemahan yang dimiliki perusahaan saat ini sehingga dapat menjadi dasar pengambilan keputusan dimasa yang akan datang.

 Laporan keuangan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan keuangan kedepan berdasarkan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki perusahaan, baik dalam hal perencanaan, pengawasan, dan pengendalian kedepan sehingga target-target yang diinginkan dapat tercapai.

3. Kreditor

 Pihak kreditor tidak ingin usaha yang dibiayainya mengalami kegagalan dalam hal pembayaran kembali pinjaman tersebut (macet).

Oleh karena itu, pihak kreditor sebelum mengucurkan kreditnya, terlebih dahulu melihat kemampuan perusahaan untuk membayarnya.

(7)

Salah satu ukuran kemampuan perusahaan dapat dilihat dari laporan keuangan yang telah dibuat.

 Pihak kreditor juga perlu memantau terhadap kredit yang sudah berjalan untuk melihat kepatuhan perusahaan membayar kewajibannya.

 Pihak kreditor tidak ingin kredit atau pinjaman yang diberikan justru menjadi beban nasabah dalam pengembaliannya apabila kemampuan perusahaan diluar dari yang diperkirakan.

4. Pemerintah

 Untuk menilai kejujuran perusahaan dalam melaporkan seluruh keuangan perusahaan yang sesungguhnya.

 Untuk mengetahui kewajiban perusahaan terhadap Negara dari hasil laporan keuangan yang dilaporkan. Dari laporan ini akan terlihat jumlah pajak yang harus dibayar kepada Negara secara jujur dan adil.

(8)

2.3. Laporan Keuangan Pemerintah

2.3.1 Pengertian Laporan Keuangan Pemerintah

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010, laporan keuangan adalah :

“Laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi- transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelapor”

Sedangkan menurut Mardiasmo (2009:159) mengatakan bahwa :

“Laporan keuangan sektor pubik merupakan komponen penting untuk menciptakan akuntabilitas sektor publik”.

Uraian di atas menyimpulkan bahwa adanya tuntutan yang semakin besar terhadap pelaksanaan akuntabilitas publik menimbulkan implikasi bagi menajemen sektor publik untuk memberikan informasi kepada publik, salah satunya adalah informasi akuntansi yang berupa laporan keuangan

2.3.2 Peranan dan Tujuan Pelaporan Keuangan

Tujuan umum akuntansi dan laporan keuangan menurut Mardiasmo (2009:162) adalah :

1. Untuk memberikan informasi yang digunakan dalam pembuatan keputusan ekonomi, sosial, dan politik serta sebagai bukti pertanggungjawaban (accountability) dan pengelolaan (stewardship);

2. Untuk memberikan informasi yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja manajerial dan organisasional.

(9)

2.3.3 Pengguna dan Kebutuhan Laporan Keuangan

Menurut Serikat Dagang Sektor Publik GASB (1999, p. B184) dalam Mardiasmo (2009) mengidentifikasi pemakai laporan keuangan pemerintah menjadi tiga kelompok besar yaitu:

1. Masyarakat yang kepadanya pemerintah bertanggung jawab

2. Legislatif dan Badan Pengawasan yang secara langsung mewakili rakyat 3. Investor dan kreditor yang member pinjaman dan/ atau berpartisipasi

dalam proses pemberian pinjaman

Sedangkan tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010 terdapat beberapa kelompok utama pengguna laporan keuangan pemerintah, namun tidak terbatas pada:

1. Masyarakat;

2. Wakil rakyat, lembaga pengawas, dan lembaga pemeriksa;

3. Pihak yang memberi atau berperan dalam proses donasi, investasi, dan pinjaman; dan

4. Pemerintah.

2.3.4 Dasar Hukum Pelaporan Keuangan

Menurut Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan dalam Peraturah Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010, Pelaporan keuangan pemerintah diselenggarakan berdasarkan peraturan perundang- undangan yang mengatur keuangan pemerintah, antara lain:

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya bagian yang mengatur keuangan negara;

2. Undang-Undang di bidang keuangan negara;

3. Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan peraturan daerah tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;

4. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pemerintah daerah, khususnya yang mengatur keuangan daerah;

(10)

5. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah;

6. Peraturan perundang-undangan tentang pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah; dan

7. Peraturan perundang-undangan lainnya yang mengatur tentang keuangan pusat dan daerah.

2.3.5 Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan

Menurut Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan dalam Peraturah Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010, karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah :

“Ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya.”

Keempat karakteristik berikut ini merupakan prasyarat normatif yang diperlukan agar laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki:

1. Relevan;

2. Andal;

3. Dapat dibandingkan; dan 4. Dapat dipahami.

2.3.6 Prinsip Akuntansi dan Pelaporan Keuangan

Menurut Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan dalam Peraturah Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010, prinsip akuntansi dan pelaporan keuangan dimaksudkan sebagai :

“Ketentuan yang dipahami dan ditaati oleh pembuat standar dalam menyusun standar, penyelenggara akuntansi dan pelaporan keuangan dalam melakukan kegiatannya, serta pengguna laporan keuangan dalam memahami laporan keuangan yang disajikan.”

(11)

Berikut ini adalah delapan prinsip yang digunakan dalam akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah:

1. Basis akuntansi;

2. Prinsip nilai historis;

3. Prinsip realisasi;

4. Prinsip substansi mengungguli bentuk formal;

5. Prinsip periodisitas;

6. Prinsip konsistensi;

7. Prinsip pengungkapan lengkap; dan 8. Prinsip penyajian wajar.

(12)

2.4. Komponen Laporan Keuangan Pemerintah

2.4.1 Laporan Pelaksanaan Anggaran (budgetary reports) 2.4.1.1 Laporan Realisasi Anggaran (LRA)

Dedi Nordiawan (2010:122) berpendapat bahwa Laporan realisasi anggaran adalah:

“ Laporan yang menyajikan ikhitsar sumber, alokasi dan pemakain sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah (pusat atau daerah), dalam satu periode pelaporan.”

Menurut Peraturah Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010, Laporan Realisasi Anggaran menyediakan informasi mengenai realisasi pendapatan-LRA, belanja, transfer, surplus/defisit-LRA, dan pembiayaan dari suatu entitas pelaporan yang masing-masing diperbandingkan dengan anggarannya. Informasi tersebut berguna bagi para pengguna laporan dalam mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber-sumber daya ekonomi, akuntabilitas dan ketaatan entitas pelaporan terhadap anggaran dengan:

1. Menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya ekonomi;

2. Menyediakan informasi mengenai realisasi anggaran secara menyeluruh yang berguna dalam mengevaluasi kinerja pemerintah dalam hal efisiensi dan efektivitas penggunaan anggaran.

Laporan Realisasi Anggaran sekurang-kurangnya mencakup pos-pos sebagai berikut:

a) Pendapatan-LRA adalah penerimaan oleh Bendahara Umum Negara/Bendahara Umum Daerah atau oleh entitas pemerintah lainnya yang menambah Saldo Anggaran Lebih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah.

b) Belanja adalah semua pengeluaran oleh Bendahara Umum Negara/Bendahara Umum Daerah yang mengurangi Saldo Anggaran

(13)

Lebih dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah.

c) Transfer adalah penerimaan atau pengeluaran uang oleh suatu entitas pelaporan dari/kepada entitas pelaporan lain, termasuk dana perimbangan dan dana bagi hasil.

d) Pembiayaan (financing) adalah setiap penerimaan/pengeluaran yang tidak berpengaruh pada kekayaan bersih entitas yang perlu dibayar kembali dan/atau akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya, yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus anggaran. Penerimaan pembiayaan antara lain dapat berasal dari pinjaman dan hasil divestasi. Pengeluaran pembiayaan antara lain digunakan untuk pembayaran kembali pokok pinjaman, pemberian pinjaman kepada entitas lain, dan penyertaan modal oleh pemerintah.

2.4.1.2 Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (LPSAL)

Dalam Peraturah Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010, Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih adalah :

“Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih menyajikan informasi kenaikan atau penurunan Saldo Anggaran Lebih tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.”

Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih menyajikan secara komparatif dengan periode sebelumnya pos-pos berikut:

1. Saldo Anggaran Lebih awal;

2. Penggunaan Saldo Anggaran Lebih;

3. Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran tahun berjalan;

4. Koreksi Kesalahan Pembukuan tahun Sebelumnya; dan 5. Lain-lain;

(14)

2.4.2 Laporan Finansial 2.4.2.1.Neraca

Menurut James C Van Harne, dalam Kasmir (2008:30) Neraca adalah:

“Ringkasan posisi keuangan perusahaan pada tanggal tertentu yang menunjukkan total aktiva dengan total kewajiban ditambah total ekuitas pemilik”

Menurut Peraturah Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010, Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas dana pada tanggal tertentu.

Setiap entitas pelaporan mengklasifikasikan asetnya dalam aset lancar dan nonlancar serta mengklasifikasikan kewajibannya menjadi kewajiban jangka pendek dan jangka panjang dalam neraca. Setiap entitas pelaporan mengungkapkan setiap pos aset dan kewajiban yang mencakup jumlah-jumlah yang diharapkan akan diterima atau dibayar dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan dan jumlah-jumlah yang diharapkan akan diterima atau dibayar dalam waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan.

Unsur yang dicakup oleh neraca terdiri dari aset, kewajiban, dan ekuitas.

Masing-masing unsur dapat dijelaskan sebagai berikut :

a) Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.

b) Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah.

(15)

c) Ekuitas adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih antara aset dan kewajiban pemerintah.

Neraca mencantumkan sekurang-kurangnya pos-pos berikut:

a) kas dan setara kas;

b) investasi jangka pendek;

c) piutang pajak dan bukan pajak;

d) persediaan;

e) investasi jangka panjang;

f) aset tetap;

g) kewajiban jangka pendek;

h) kewajiban jangka panjang;

i) ekuitas dana.

2.4.2.2.Laporan Operasional (LO)

Tertuang dalam Peraturah Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010 bahwa Laporan Operasional menyediakan informasi mengenai seluruh kegiatan operasional keuangan entitas pelaporan yang tercerminkan dalam pendapatan-LO, beban, dan surplus/defisit operasional dari suatu entitas pelaporan yang penyajiannya disandingkan dengan periode sebelumnya.

Laporan Operasional disusun untuk melengkapi pelaporan dari siklus akuntansi berbasis akrual (full accrual accounting cycle) sehingga penyusunan Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Neraca mempunyai keterkaitan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam Laporan Operasional harus diidentifikasikan secara jelas, dan, jika dianggap perlu, diulang pada setiap halaman laporan, informasi berikut:

a) nama entitas pelaporan atau sarana identifikasi lainnya;

b) cakupan entitas pelaporan;

c) periode yang dicakup;

d) mata uang pelaporan; dan

(16)

e) satuan angka yang digunakan.

Struktur Laporan Operasional mencakup pos-pos sebagai berikut:

a) Pendapatan-LO

Adalah hak pemerintah pusat/daerah yang diakui sebagai penambah ekuitas dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan dan tidak perlu dibayar kembali.

b) Beban

Adalah penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa dalam periode pelaporan yang menurunkan ekuitas, yang dapat berupa pengeluaran atau konsumsi aset atau timbulnya kewajiban.

c) Surplus/ Defisit dari Operasi

Adalah selisih lebih/kurang antara pendapatan-operasional dan beban selama satu periode pelaporan.

d) Kegiatan non operasional

e) Surplus/Defisit sebelum Pos Luar Biasa f) Pos Luar Biasa

Adalah pendapatan luar biasa atau beban luar biasa yang terjadi karena kejadian atau transaksi yang bukan merupakan operasi biasa, tidak diharapkan sering atau rutin terjadi, dan berada di luar kendali atau pengaruh entitas bersangkutan.

g) Surplus/Defisit-LO

Adalah selisih antara pendapatan-LO dan beban selama satu periode pelaporan, setelah diperhitungkan surplus/defisit dari kegiatan non operasional dan pos luar biasa.

2.4.2.3.Laporan Perubahan Ekuitas (LPE)

Disebutkan dalam Peraturah Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010 bahwa Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan informasi

(17)

kenaikan atau penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan sekurang- kurangnya pos:

a) Ekuitas awal

b) Surplus/defisit-LO pada periode bersangkutan;

c) Koreksi-koreksi yang langsung menambah/mengurangi ekuitas, yang antara lain berasal dari dampak kumulatif yang disebabkan oleh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan mendasar, misalnya:

 koreksi kesalahan mendasar dari persediaan yang terjadi pada periode- periode sebelumnya;

 perubahan nilai aset tetap karena revaluasi aset tetap.

d) Ekuitas akhir.

Di samping itu, suatu entitas pelaporan menyajikan rincian lebih lanjut dari unsur-unsur yang terdapat dalam Laporan Perubahan Ekuitas dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

2.4.2.4.Laporan Arus Kas (LAK)

Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual Peryataan No. 03 dalam Peraturah Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010 menyebutkan bahwa:

“Laporan arus kas adalah bagian dari laporan finansial yang menyajikan informasi penerimaan dan pengeluaran kas selama periode tertentu yang diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi, investasi, pendanaan, dan transitoris.”

Arus masuk dan keluar kas diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi, investasi aset nonkeuangan, pembiayaan, dan nonanggaran.

a) Aktivitas operasi adalah aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas yang ditujukan untuk kegiatan operasional pemerintah selama satu periode akuntansi.

b) Aktivitas investasi adalah aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas yang ditujukan untuk perolehan dan pelepasan aset tetap serta investasi lainnya

(18)

yang tidak termasuk dalam setara kas. Arus kas dari aktivitas investasi mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas bruto dalam rangka perolehan dan pelepasan sumber daya ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan dan mendukung pelayanan pemerintah kepada masyarakat di masa yang akan datang.

c) Aktivitas Pendanaan adalah aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas yang yang berhubungan dengan pemberian piutang jangka panjang dan/atau pelunasan utang jangka panjang yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah dan komposisi piutang jangka panjang dan utang jangka panjang.

d) Aktivitas transitoris adalah aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas yang tidak termasuk dalam aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. Arus masuk kas dari aktivitas transitoris meliputi penerimaan PFK dan penerimaan transitoris seperti kiriman uang masuk dan penerimaan kembali uang persediaan dari bendahara pengeluaran.

Arus keluar kas dari aktivitas transitoris meliputi pengeluaran PFK dan pengeluaran transitoris seperti kiriman uang keluar dan pemberian uang persediaan kepada bendahara pengeluaran.

2.4.3 Catatan Atas Laporan Keuangan (CaLK)

Dalam Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual Peryataan No. 04 dalam Peraturah Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010 disebutkan bahwa Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas. Termasuk pula dalam Catatan atas Laporan Keuangan adalah penyajian informasi yang diharuskan dan dianjurkan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan serta pengungkapan- pengungkapan lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar atas laporan keuangan, seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen-komitmen lainnya.

(19)

Catatan atas Laporan Keuangan sekurang-kurangnya disajikan dengan susunan sebagai berikut:

a) Informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro, pencapaian target Undang-undang APBN/Perda APBD, berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target;

b) Ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan;

c) Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan- kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya;

d) Pengungkapan informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka laporan keuangan;

e) Pengungkapan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban yang timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan dan belanja dan rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas;

f) Informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian yang wajar, yang tidak disajikan dalam lembar muka laporan keuangan. daftar dan skedul.

Catatan atas Laporan Keuangan harus menyajikan rincian dan penjelasan atas masing-masing pos dalam Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih, Neraca, Laporan Operasional, Laporan Arus Kas, dan Laporan Perubahan Ekuitas.

a) Penjelasan atas Laporan Realisasi Anggaran disajikan untuk pos pendapatan-LRA, belanja, dan pembiayaan dengan struktur sebagai berikut:

 Anggaran;

 Realisasi;

 Prosentase pencapaian;

 Penjelasan atas perbedaan antara anggaran dan realisasi;

 Perbandingan dengan periode yang lalu;

(20)

 Penjelasan atas perbedaan antara periode berjalan dan periode yang lalu;

 Rincian lebih lanjut pendapatan-LRA menurut sumber pendapatan;

 Rincian lebih lanjut belanja menurut klasifikasi ekonomi, organisasi, dan fungsi;

 Rincian lebih lanjut pembiayaan; dan

 Penjelasan hal-hal penting yang diperlukan.

b) Penjelasan atas Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih disajikan untuk Saldo Anggaran Lebih awal periode, penggunaan Saldo Anggaran Lebih, Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran (SiLPA/SiKPA) tahun berjalan, koreksi kesalahan pembukuan tahun sebelumnya, dan SAL akhir periode dengan struktur sebagai berikut:

 Perbandingan dengan periode yang lalu;

 Penjelasan atas perbedaan antara periode berjalan dan periode yang lalu;

 Rincian yang diperlukan; dan

 Penjelasan hal-hal penting yang diperlukan.

c) Penjelasan atas Laporan Operasional disajikan untuk pos pendapatan-LO dan beban dengan struktur sebagai berikut:

 Perbandingan dengan periode yang lalu;

 Penjelasan atas perbedaan antara periode berjalan dan periode yang lalu;

 Rincian lebih lanjut pendapatan-LO menurut sumber pendapatan;

 Rincian lebih lanjut beban menurut klasifikasi ekonomi, organisasi, dan fungsi; dan

 Penjelasan hal-hal penting yang diperlukan.

d) Penjelasan atas Neraca disajikan untuk pos aset, kewajiban, dan ekuitas dengan struktur sebagai berikut:

 Perbandingan dengan periode yang lalu;

(21)

 Penjelasan atas perbedaan antara periode berjalan dan periode yang lalu;

 Rincian lebih lanjut atas masing-masing akun dalam aset lancar, investasi jangka panjang, aset tetap, aset lainnya, kewajiban jangka pendek, kewajiban jangka panjang, dan ekuitas; dan

 Penjelasan hal-hal penting yang diperlukan.

e) Penjelasan atas Laporan Arus Kas disajikan untuk pos arus kas dari aktivitas operasi, aktivitas investasi aset non keuangan, aktivitas pembiayaan, dan aktivitas nonanggaran dengan struktur sebagai berikut:

 Perbandingan dengan periode yang lalu;

 Penjelasan atas perbedaan antara periode berjalan dan periode yang lalu;

 Rincian lebih lanjut atas atas masing-masing akun dalam masing- masing aktivitas; dan

 Penjelasan hal-hal penting yang diperlukan.

f) Penjelasan atas Laporan Perubahan Ekuitas disajikan untuk ekuitas awal periode, surplus/defisit-LO, dampak kumulatif perubahan kebijakan/

kesalahan mendasar, dan ekuitas akhir periode dengan struktur sebagai berikut:

 Perbandingan dengan periode yang lalu;

 Penjelasan atas perbedaan antara periode berjalan dan periode yang lalu;

 Rincian yang diperlukan; dan

 Penjelasan hal-hal penting yang diperlukan.

(22)

2.5. Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD)

Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) yaitu:

“Perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/ pengguna barang, yang juga melaksanakan pengelolaan keuangan daerah.”

Sedangkan pengertian Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, yaitu :

“Kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah yang selanjutnya disebut dengan. kepala SKPKD yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak sebagai bendahara umum daerah.”

Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Bagian Ketiga tentang Pejabat Pengelola Keuangan Daerah Pasal 7:

1. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPKD) selaku Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) mempunyai tugas:

a. Menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah;

b. Menyusun rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan rancangan perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD);

c. Melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah;

d. Melaksanakan fungsi Bendahara Umum Daerah (BUD);

e. Menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD);

f. Melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah.

(23)

2. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) dalam melaksanakan fungsinya selaku Bendahara Umum Daerah (BUD) berwenang:

a. Menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD);

b. Mengesahkan DPA-SKPD/DPPA-SKPD;

c. Melakukan pengendalian pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD);

d. Memberikan petunju teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran kas daerah;

e. Melaksanakan pemungutan pajak daerah;

f. Menetapkan SPD;

g. Menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian pinjaman atas nama pemerintahan daerah;

h. Melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah;

i. Menyajikan informasi keuangan daera; dan

j. Melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah.

3. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) selaku Bendahara Umum Daerah (BUD) menunjuk pejabat dilingkungan satuan kerja pengelolaan keuangan daerah selaku kuasa Bendahara Umum Daerah (BUD).

4. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah.

(24)

2.6. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)

Menurut Peraturan Walikota Bandung No. 529 tahun 2014 tentang Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah Satuan Kerja perangkat Daerah (SKPD) yaitu:

“Perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/ pengguna barang.”

Menurut Chabib S dan Heru R (2010:161), Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) bertugas dan bertanggungjawab untuk:

1. Mengajukan rencana kebutuhan dan pemeliharaan barang milik daerah bagi satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya kepada pengelola barang.

2. Mengajukan permohonan penetapan status untuk penggunaan dan/atau penguasaan barang milik daerah yang diperoleh dari beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan/atau perolehan lainnya yang sah kepada Kepala Daerah melalui pengelola barang.

3. Melakukan pencatatan dan inventarisasi barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya.

4. Menggunakan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya.

5. Mengamankan dan memelihara barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya.

6. Mengajukan usul pemindahtanganan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan dan selain tanah dan/atau bangunan yang tidak memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

7. Menyerahkan tanah dan/atau bangunan dan selain tanah dan/atau bangunan yang tidak dimanfaatkan untuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang dipimpinnya kepada Kepala Daerah melalui pengelola barang.

8. Melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan barang milik

(25)

daerah yang ada dalam penguasaannya.

9. Menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS) dan Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) serta Laporan Inventarisasi 5 (lima) tahunan (sensus) yang berada dalam penguasaannya kepada pengelola barang.

(26)

2.7. Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan 2.7.1 Penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah

Dikutip dari Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2013 Lampiran II untuk menyusun SAPD tersebut, perlu memperhatikan beberapa tahapan sebagai berikut :

1. Identifikasi prosedur

Tahapan penyusunan sistem akuntansi pemerintah daerah dimulai dari memahami proses bisnis pada pemerintah daerah khususnya terkait siklus pengelolaan keuangan daerah. Berdasarkan siklus itulah tim penyusun SAPD mengidentifikasi prosedur-prosedur apa saja yang harus dibuat.

2. Menentukan pihak-pihak terkait

Setelah prosedur-prosedur teridentifikasi, ditentukan pihak-pihak yang terkait pada masing-masing prosedur. Masing-masing pihak memiliki peran tersendiri agar prosedur dapat menghasilkan output yang diinginkan.

3. Menentukan dokumen terkait

Setelah prosedur dan pihak terkait ditentukan, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi dokumen-dokumen yang mengalir pada prosedur sekaligus menentukan pihak-pihak pengguna dokumen tersebut. Dari semua dokumen tersebut diidentifikasi dokumen mana yang valid untuk dijadikan sebagai dokumen sumber pencatatan jurnal.

4. Menentukan jurnal standar

Pada setiap prosedur yang telah ditetapkan tim penyusun menelaah SAP dan kebijakan akuntansi terkait. Berdasarkan penelaahan tersebut tim penyusun menentukan jurnal debet dan kredit yang akan digunakan untuk mencatat.

5. Menuangkannya dalam langkah teknis

Langkah terakhir dalam penyusunan SAPD ialah menyusun langkah teknis. Langkah teknis merupakan alur pelaksanaan sistem akuntansi yang menjelaskan pihak-pihak yang melaksanakan sistem akuntansi, dokumen

(27)

apa saja yang diperlukan, dan bagaimana pihak-pihak tersebut memperlakukan dokumen-dokumen yang terkait. Selain itu, diberikan ilustrasi atau format pencatatan dalam bentuk penjurnalan akuntansi pada setiap bagan alur atau transaksi yang membutuhkan pencatatan.

Laporan Keuangan yang dihasilkan pada tingkat SKPD dihasilkan melalui proses akuntansi lanjutan yang dilakukan oleh PPK- SKPD. Jurnal dan posting yang telah dilakukan terhadap transaksi keuangan menjadi dasar dalam penyusunan laporan keuangan.

Laporan keuangan pemerintah daerah disusun dengan melakukan proses konsolidasi dari seluruh laporan keuangan entitas akuntansi yang terdapat pada pemerintah daerah. Neraca saldo dari semua entitas akuntansi SKPD dan entitas akuntansi PPKD menjadi dasar dalam penyusunan laporan keuangan.

Pihak-pihak yang melaksanakan penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah adalah sebagai berikut :

a) Fungsi Akuntansi PPKD b) PPKD

Bagan berikut ini menunjukkan proses penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah :

(28)

Gambar. 2.1

Proses Penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah

Menyiapkan Kertas Kerja Konsolidasi

1

Mengisi Neraca Saldo

SKPD dan

PPKD 2

Membuat Jurnal

eliminasi 3 Membuat

Neraca Saldo Pemda

Menyusun Laporan Keuangan Konsolidasi

1

Menyusun LRA, membuat jurnal penutup LRA dan

NS Setelah Penutupan LRA

2

Menyusun LO, membuat jurnal penutup LO dan NS

Setelah Penutupan LO

Menyusun Neraca, membuat 3 jurnal penutup

akhir dan NS akhir

4

Menyusun Laporan Perubahan SAL

Menyusun Laporan Arus Kas 5

Menyusun Laporan Perubahan

Ekuitas

6

7

Menyusun Catatan atas

Laporan Keuangan

(29)

2.7.2. Penyajian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah

Dikutip dari Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2013 Lampiran II, Pemerintah Daerah menyajikan 7 Laporan Keuangan yang dibuat oleh PPKD, yaitu:

a) Laporan Realisasi Anggaran (LRA);

b) Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL);

c) Neraca;

d) Laporan Operasional (LO);

e) Laporan Arus Kas (LAK);

f) Laporan Perubahan Ekuitas (LPE); dan g) Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

Referensi

Dokumen terkait

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui potensi beberapa jenis rumput laut di pantai Bayah, Banten dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli penyebab penyakit

a) Keputusan Tata Usaha Negara Surat Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor: KEP-IV-551/C/08/2015 Tanggal 12 Agustus 2015 yang dijadikan obyek VHQJNHWD

Lebih lanjut Kovenan menetapkan hak setiap orang atas kebebasan berpikir, berkeyakinan dan’beragama serta perlindungan atas hak-hak tersebut (Pasal 18); hak orang

BPR Nusamba Ngunut menunjukan bahwa tingkat kecukupan modal tidak ber- pengaruh signifikan terhadap ROA dengan demikian pihak manajemen harus lebih meningkatkan fungsi

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran role playing dapat meningkatkan motivasi belajar mahasiswa Biologi Fakultas Sains

Indeks pembangunan manusia adalah indeks komposit yang dihitung berdasarkan tiga dimensi, yaitu: umur panjang dan sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Adanya upaya

Keterampilan sosial membawa siswa untuk lebih berani berbicara, mengungkapkan setiap perasaan atau permasalahan yang dihadapi dan sekaligus menemukan penyelesaian

Berdasarkan hasil penelitian pola bakteri pada otitis media supuratif kronik di RSUD Ulin Banjarmasin dengan 33 sampel dapat ditarik simpulan bahwa pola bakteri