89
FENOMENA TEATER TRADISI,
ANTARA MEMBERI DAN MENERIMA VAKSIN Deny Tri Aryanti
Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya [email protected]
ABSTRAK
Kajian ini menganalisis bagaimana dunia pertunjukan kesenian teater tradisional mampu menjadi vaksin bagi masyarakat di masa sebelum pandemi dan berbalik arah menjadi kesenian yang membutuhkan vaksin di masa pandemi. Tujuan tulisan ini, yang pertama adalah untuk menjelaskan bagaimana posisi kesenian teater tradisi di tengah masyarakat Jawa Tengah khususnya Kabupaten Pati, yang berfungsi sebagai hiburan sekaligus kebutuhan ritual rohani warga sekitar. Yang kedua menjelaskan bagaimana kondisi kethoprak saat ini sebagai salah satu seni pertunjukan yang membutuhkan vaksin.Diharapkan dari penelitian ini, masyarakat bisa mempertahankan keberadaan teater tradisi, meski dengan banyak penyesuaian yang bertolak belakang dari tradisi sebelumnya.Di sinilah akan muncul segala bentuk saling memberi dan menerima dari dan untuk teater tradisi di Indonesia, khususnya kesenian ketoprak di kabupaten Pati.
Kata kunci: Vaksin, Seni pertunjukan, Teater Tradisi, Ketoprak Pati
PENDAHULUAN
Kethoprak di Kabupaten Pati justru mengalami perkembangan yang sangat pesat.Praktik-praktik sosial masyarakat yang berkaitan dengan dunia Kethoprak sangat terasa ketika kita sudah mulai memasuki wilayah pesisir utara Pulau Jawa ini.Seolah-olah aktivitas kesenian kethoprak di Pati menolak anggapan bahwa industri kesenian di seluruh pelosok Indonesia telah sekarat bahkan mati. Hal ini
membuat tandatanya besar bagi sebagian besar masyarakat diluar Kabupaten Pati yang juga menginginkan aktivitas kesenian di daerahnya berkembang pesat
Di Pati, selain untuk hajatan khitanan, pernikahan, dan “ngluwari ujar” atau memenuhi nadzar, kethoprak juga tergolong kesenian yang paling diminati untuk kepentingan peringatan Kemerdekan Republik Indonesia 17 Agustus dan Kabumi atau Kalaut. Kabumi
90 (sedekah bumi) dan Kalaut (sedekah
laut) adalah ritual yang lazim diselenggarakan oleh warga pada setiap tahunnya setelah masa panen padi dan panen ikan tiba. Ini merupakan momen untuk memanjatkan rasa syukur atas masa panen yang telah terlewati sekaligus permohonan agar seluruh warga desa diberi keselamatan seraya berharap agar pada musim berikutnya, panen yang dihasilkan akan lebih baik.
Kondisi ini secara otomatis jelas sudah menjadi vaksin yang sangat menyehatkan bagi keberlangsungan roda perekonomian dan tumbuh kembangnya kesenian di Kabupaten Pati.Karena setiap musim disepanjang tahun, ketoprak adalah pertunjukan utama yang harus ada di seluruh pelosok desa, di kabupaten Pati.
Fenomena industrialisasi yang berakibat pada pergeseran nilai hidup seni dan budaya memang telah menyeret seni pertunjukan tradisional di Indonesia kepada permasalahan yang memprihatinkan, yaitu seni pertunjukan tradisional berada di antara hidup dan mati.Satu demi satu menghadapi kepunahan, sedangkan yang masih hidup
keadaannya terengah-engah (Jazuli, 2001:201-202).Pendapat ini seolah- olah ditolak oleh realita yang terjadi di masyarakat seni Kabupaten Pati.Kethoprak adalah seni tradisi yang masih tetap bertahan di wilayah Kabupaten Pati, meskipun banyak sekali bentuk-bentuk kesenian modern yang mulai tumbuh. Salah satunya karena para pelaku seni dan para pekerja yang terlibat di dalam dunia kethoprak menganggap bahwa segala kegiatan yang ada kaitannya dengan kethoprak, adalah pekerjaan utama. Karena dari adanya kethoprak, mereka bisa mendapat penghasilan.Penghasilan inilah yang menjadi vaksin utama bagi masyarakat sekitar.
Itu semua terjadi sebelum pandemic.Namun mau tidak mau harus diakui, bahwa saat ini pandemic benar-benar menjadi virus yang menyurutkan bahkan membunuh berbagai lini kehidupan masyarakat.Baik dari segi perekonomian, sosial, seni dan budaya bahkan dianggap mampu menjadi penyebab meninggalnya ratusan bahkan ribuan orang di dunia.Pada posisi inilah, kesenian tradisional ketoprak membutuhkan
91 vaksin dari para pelaku seninya
untuk membuat kesenian tersebut terus bertahan.Memang kebudayaan akan terus berjalan, namun tradisi dari kebudayaan itu sendiri yang harus menyesuaikan dengan keadaaan. Pada posisi ini, fungsi memberi dan menerima sangat berperan penting.
Menurut Brandon(2003), teater tradisi merupakan seni pertunjukan tradisional di Asia Tenggara yang terikat olehfaktor - faktor di luar kesenian, diantaranya perubahan sosial, ekonomi, dan politik. Faktor eksternal ini mempengaruhi adaptasi dan perubahan kesenian. Soedarsono (2003: 12) menyatakan bahwa perkembangan seni pertunjukan dipengaruhi oleh faktor-faktor nonkesenian.
Vaksin, di dunia kesehatan telah menjadi perbincangan hangat saat ini.Seiring semakin merebaknya kasus penderita positif virus corona atau covid 19. Hal ini sangat berdampak bagi kelangsungan hidup seluruh lapisan masyarakat, baik dari segi gaya hidup maupun siklus perekonomian. Vaksin diharapkan mampu menjadi senjata ampuh bagi
masyarakat, untuk menanggulangi bahkan menyembuhkan virus yang dianggap mematikan tersebut.
Begitupun yang terjadi pada dunia kesenian kita.Dengan merebaknya virus covid 19, berdampak pada seni pertunjukan ketoprak yang selama ini menjadi vaksin perekonomian masyarakat kabupaten Pati.Vaksin dalam dunia seni pertunjukan boleh dibilang sebuah dorongan yang mampu memberikan semangat untuk terus berkarya.Dan saat ini, seni pertunjukan teater tradisional ketoprak sedang membutuhkan vaksin untuk bertahan hidup.
Namun pada kenyataannya, vaksin yang diharapkan mampu membuat ketoprak bangkit dan sehat kembali, belum diketemukan.Lalu bagaimana usaha masyarakat yang selama ini mendapatkan penghasilan dari ketoprak, memberikan sesuatu pada teater tradisi ini agar terus hidup?
METODE
Pada penelitian kualitatif kali ini ada beberapa metode yang saya lakukan, yaitu wawancara dengan para praktisi atau pelaku seni,
92 pemilik ketoprak, pedagang kaki
lima yang berjualan disekitar lokasi pertunjukan, dan pemilik hajat.
Selain itu saya juga melakukan observasi partisipan, dimana saya terjun langsung sebagai pelaku dalam dunia seni pertunjukan ketoprak di kabupaten Pati ini.
Observasi partisipan ini bermula dari penelitian-penelitian Antropologi Sosial.Observasi partisipan kemudian berkembang luas di berbagai ilmu sosial terutama ilmu sosiologi.Pengumpulan data melalui observasi terhadap objek pengamatan dengan langsung hidup bersama, merasakan serta berada dalam aktivitas kehidupan objek pengamatan.Dengan demikian, pengamat betul-betul menyelami kehidupan objek pengamatan dan bahkan tidak jarang pengamat kemudian mengambil bagian dalam kehidupan budaya mereka.(Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), h. 68- 69.)
Kemudian yang ketiga, metode dokumentasi.Saya mengumpulkan dokumen dokumen yang berhubungan dengan segala aktifitas seni pertunjukan ketoprak
Pati yang saya ikuti. Baik berupa foto, kumpulan cerita sejarah catatan managemen dan lain lain.
HASIL DAN PEMBAHASAN Vaksin Pertunjukan Ketoprak Pati
di Masa Pandemi
Bentuk adalah wujud fisik yang bisa diamati, media untuk menuangkan isi, nilai-nilai yang dapat memberi pengalaman tersendiri (Humardani, 1979:49- 50).Terbentuknya kesenian tidak bisa terlepas dari adaptasi di mana kesenian tersebut diciptakan.Nilai- nilai sosial dan lingkungan daerah setempat berperan penting dalam mempengaruhi terbentuknya kesenian tersebut.
Adanya musibah pandemi covid-19 ini memang telah membuat hampir semua aktivitas menjadi lumpuh.Seniman yang terbiasa berkegiatan di luar rumah terpaksa harus berdiam diri di rumah karena mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan social
distancing (menjaga jarak).Situasi ini
tentu membuat kondisi mereka menjadi sulit.Mereka harus memutar otak agar bisa tetap berkesenian dan bisa mencari nafkah untuk
93 memenuhi kebutuhan sehari-
hari.Tidak terkecuali para seniman ketoprak di Kabupaten Pati.Mereka yang terbiasa hidup dan mendapatkan vaksin berlimpah dari ketoprak, akhirnya mereka harus memutar otak, harus kreatif dan inovatif sehingga ketoprak yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka tidak punah.Sambil tetap berharap pandemic ini segera berakhir.
Keadaan berbalik seratus enampuluh derajat, kini para seniman teater tradisi di Kabupaten Pati itu yang harus mencarikan vaksin untuk seni pertunjukan ketoprak, agar dalam kondisi ini ketoprak tidak punah begitu saja.Disinilah konsep saling memberi dan saling menerima, antara pelaku seni dengan seni pertunjukan itu sendiri berlangsung.Tentu saja usaha yang dilakukan juga tidak lepas dari bantuan dan campur tangan pemerintah setempat.Karena memang bencana wabah penyakit atau pageblug ini adalah bencana nasional bahkan internasional.
Jika selama ini pelaku seni menerima vaksin berupa materi, kesenangan, hiburan, pemenuhan
kebutuhan ritual dari pertunjukan ketoprak, maka dimasa pandemi ini, seni pertunjukanmembutuhkan vaksin berupa teknis teknis dan metode metode agar pertunjukan ini tetap berjalan, hidup dan bernafas, meski tak lagi semeriah sebelum ada pandemic. Vaksin pertunjukan yang dimaksud disini bukan berupa materi atau kebendaan yang lain. Namun berupa usaha-usaha yang dilakukan, yang tentu saja membutuhkan kerjasama antara pemerintah, pelaku seni, pemangku hajat dan warga sekitar.
A. Media digital sebagai alternatif pertunjukan Seni pertunjukan Ketoprak pada masa Pandemi Covid 19 ditemukan sejumlah kebaharuan mulai dari cara menampilkan pertunjukan yang sudah mempengaruhi tampilan bentuk pertunjukan.
Sebagaimana pertunjukan ketoprakdengan lakon lakon sejarah kerajaan, sunan ataupun asal usul daerah memuat sejumlah penokohan baru, bahasa
94 baru, kostum baru,
properti pertunjukan baru dan mempergunakan multimedia dalam struktur
pertunjukannya.Kompone n-komponen dalam pertunjukan ketoprak tersebut tampak berbeda dari pertunjukan ketoprak sebelumnya.Hal tersebut dilakukan agar tetap menjaga kesehatan dari masing masing pemain dan juga menjaga tetap eksisnya kesenian ketoprak meski dengan media yang berbeda.
Selain itu, beberapa seniman mulai banyak yang mengunggah pertunjukan pertunjukan ketoprak lewat chanel youtube, sehingga interaksi antar personal secara langsung dapat berkurang, karena pertunjukan ketoprak bisa disaksikan di layar kaca, dan dilakukan dirumah masing masing.
B. Menerapkan 3Msesuai protokol kesehatan
Selama pementasan ketorak berlangsung, para pemain diwajibkan menggunakan kaos tangan dan face shield atau pelindung wajah,
untuk lebih
meminimalisir
menyebarnya virus dari orang satu ke orang yang lain lewat udara. Memang terasa aneh saat menggunakan properti yang tidak biasa itu.Seperti face shield yang harus dikenakan saat bermain diatas panggung.
Namun itu adalah salah satu usaha agar pertunjukan tetap bisa berlangsung, dan kesenian ketoprak bisa kembali dinikmati khalayak luas.
C. Membatasi jumlah undangan pada sebuah
hajatan yang
menampilkan hiburan ketoprak. Pemangku hajat harus membatasi
95 undangan yang hadir pada
saat hajatan berlangsung dan selama pertunjukan kethoprak berlangsung.
Jika selama sebelum pandemic pertunjukan ketoprak dilaksanakan siang malam, maka dimasa pandemic ini, pertunjukan cukup dilaksanakan satu waktu, siang saja atau malam saja. Dan durasinya harus dikurangi.
D. Mengurangi jumlah pemain atau pelaku seni dalam sebuah grup pertunjukan ketoprak.
Pembatasan berskala besar memang harus dilakukan dari segala lini.
Baik pembatasan jarak, pembatasan jumlah orang bergerombol, pembatasan aktifitas maupun waktu kegiatan. Begitu juga hal ini harus dilakukan dalam kegiatan pertunjukan kesenian jika ingin aktifitas berkesenian bisa berlangsung dengan aman. Salah satunya
dengan mengurangi jumlah anggota grup yang bermain di sebuah acara.
Meskipun tentu saja ini akan berpengaruh juga pada struktur pertunjukan yang selama ini sudah dilaksanakan. Dan hal ini juga merupakan salah satu vaksin yang bisa dilakukan para pelaku seni agar seni pertunjukan teater tradisi ini terus berlangsung dan bisa berjalan dengan segala kondisinya.
SIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa para pelaku seni menyajikan Seni Pertunjukan Ketoprak pada era pandemi covid 19 sesuai dengan protokol kesehatan, berbasis teknologi, dengan struktur pertunjukan yang berbeda dengan sebelumnya. Hal itu dapat dilihat dari cara penyajian, tata rias busana, narasi, dan iringan musik
pertunjukannya. Atas
dikembangkannya seni pertunjukan Ketoprak ini di tengah-tengah
96 pandemi covid 19 secara tidak
langsung berimplikasi pada pengayaan budaya yaitu munculnya model seni pertunjukan baru, pelestarian budaya, dan penguatan karakter bagi yang bersangkutan.
TEMUAN BARU
Penelitian ini memiliki temuan baru berupa strategi pengembangan model seni pertunjukan bagi generasi millenial berbasis kerifan lokal (seni pertunjukan Ketoprak).Strategi dimaksud adalah membangun seni pertunjukan millenial sesuai selera mereka dengan menggunakan unsur- unsur budaya lokal berupa lakon, tata rias busana dengan komoisisi kontemporer dilatari multimedia LED, setting, dan property.
Penerusan nilai-nilai budaya lokal pada era digital kepada para generasi covid 19 dapat dilakukan dengan mengganti cara penyajian pertunjukan sesuai dengan selera mereka yang dinamis berbasis teknologi.
DAFTAR PUSTAKA
Brandon, J. R. (2003). Jejak- jejak seni pertunjukan di Asia Tenggara. Bandung: P4ST
Soedarsono, R. M. (2003).
Seni pertunjukan dari perspektif politik, sosial, dan ekonomi.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Jazuli, M. (2001) Paradigma
Seni Pertunjukan.
Yogyakarta:Yayasan Lentera Budaya.