• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 TEMUAN LAPANGAN DAN PEMBAHASAN. Pekerja Anak dan Kegiatannya Sehari-hari

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 4 TEMUAN LAPANGAN DAN PEMBAHASAN. Pekerja Anak dan Kegiatannya Sehari-hari"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 4

TEMUAN LAPANGAN DAN PEMBAHASAN

Pekerja Anak dan Kegiatannya Sehari-hari

Adapun di Pasar Inpres Matawai aktivitas pekerja anak tersebar pada semua lokasi Pasar dan di jalanan utama menuju arah Pasar Inpres Matawai dengan menyediakan berbagai aneka sayuran seperti sawi putih, sawi hijau, kangkung, lombok, tomat, bawang, ikan dan yang lainnya. Berbagai aktivitas tersebut dilakukannya setiap hari yaitu dari pagi hari sampai malam hari dengan menawarkan dagangannya pada setiap orang yang melintas baik yang menggunakan kendaraan maupun yang berjalan kaki. Hasil wawancara dengan informan LA (12) menyatakan kegiatannya setiap hari dimulai dari jam 06.00 WITA sudah berada di Pasar untuk menyiapkan dan memilah berbagai sayuran yang akan dijual, bahan jualannya sangat tergantung dengan keberadaan sayuran yang tersedia. Setelah menyiapkan dagangannya langsung menuju ke suatu titik yang sudah menjadi tempat sehari-hari berjualan. Sekitar jam 12.00 WITA mereka bergegas untuk masuk ke dalam pasar atau lapak penjualan orang tua mereka masing-masing untuk beristirahat dan makan siang, terkadang ketika orang tua mereka tidak menyediakan makanan maka mereka akan membeli nasi bungkus dengan harga Rp. 5.000 - Rp. 10.000/ bungkus. Mereka berisitirahat kurang lebih 1 sampai 2 jam dan ada juga pekerja anak yang tidak istirahat, jadi setelah makan langsung mereka keluar kembali untuk menjajakan dagangan mereka dengan menawarkan dagangannya kembali.

Aktivitas tersebut berlangsung sampai dengan malam hari sekitar jam 21.00 WITA, bagi pekerja anak yang masih bersekolah, disela berjualan pekerja anak tersebut juga menggunakan waktu untuk searching diinternet tugas yang diperoleh dari Sekolahnya masing- masing. Selain itu, sebagai bahan penghibur mereka menonton berbagai video yang dapat diakses diHandphone mereka. Adapun informan TI (15) menyatakan, aktivitasnya didalam pasar berbeda dengan informan

(2)

LA (12) karena dia sudah putus sekolah, sehingga aktivitas hanya menjajakan sayuran sepanjang hari yang tentunya pada siang hari istirahat sejenak untuk makan siang dan tidur didalam pasar, setelah itu melanjutkan kembali berdagang sampai dengan malam hari. aktivitas berjualanpun dilakukannya setiap hari. Selama pandemi Covid-19 penulis menemukan jumlah jam kerja pekerja anak rata-rata bekerja berkisar 10-12 jam per hari, dengan bekerja dalam 7 hari selama satu minggu. Sehingga seluruh waktu yang ada dihabiskan untuk bekerja demi memperoleh uang yang digunakan untuk kebutuhan keluarga dan juga untuk diri sendiri.

Pekerja anak memperoleh barang dagangannya dari penjual pertama atau dari pihak petani sayur, yang membawa berbagai aneka sayuran tersebut untuk dijual dipasar, baik orang tua atau pekerja anak membeli dari mereka, dan mengatur nya kembali untuk dijual pada pembeli. Hal yang menarik yang nampak yaitu ketika beberapa anak- anak berusia 14-17 tahun mereka tidak perlu menunggu orang tua mereka untuk membeli sayur untuk dijual tetapi mereka membelinya sendiri sehingga mereka mengetahui secara jelas jumlah uang yang dikeluarkan untuk membelanjakan bahan dagangan dan jumlah keuntungan yang diperoleh.

Kondisi Sosial Ekonomi Pekerja Anak

Adapun pekerja anak yang bekerja di Pasar Inpres Matawai sebenarnya tidak berasal dari wilayah Sumba Timur, tetapi pada umumnya berasal dari daerah Sumba Barat, Sumba Barat Daya dan Sumba Tengah meskipun demikian orang tua mereka sudah berdomisili di Kabupaten Sumba Timur, karena adanya tuntutan ekonomi keluarga dengan biaya hidup yang semakin hari semakin meningkat menyebabkan adanya dorongan bagi anak-anak untuk bekerja. secara umum, pekerja anak di Pasar Inpres Matawai merupakan anak-anak yang sedang bersekolah dan sampai saat ini masih menempuh pendidikan. hanya beberapa anak yang sudah putus sekolah yang disebabkan oleh adanya ketidakmampuan orang tua pekerja anak dalam memenuhi kebutuhan sekolah.

(3)

Secara umum pekerjaan orang tua pekerja anak yaitu bekerja sebagai pedagang di Pasar Inpres Matawai, menyebabkan anak mereka juga ikut terlibat sebagai pedagang, hal ini disebabkan karena keseharian mereka berada di pasar, sehingga mereka tidak hanya bermain maka lebih baik untuk berdagang, hal ini merupakan pandangan orang tua pekerja yang melihat bahwa anak-anak merupakan sumber daya yang ada saat ini, sehingga harus perlu digunakan untuk mengatasi masalah ekonomi keluarga. Berdasarkan pernyataan dari pekerja anak yang menyatakan bahwa latar belakang utama pekerja anak terlibat sebagai pekerja yaitu dengan alasan bermacam-macam seperti dipengaruhi oleh orang tua atau disuruh orang tua untuk bekerja, adanya kemauan sendiri dari anak karena melihat kondisi ekonomi keluarga, diajak teman sebayanya untuk bergabung dan pengaruh faktor lingkungan karena keseharian pekerja anak tersebut berada di pasar, dan sudah putus sekolah sehingga tidak ada pilihan lain untuk melakukan aktivitas apapun.

Adapun pada pengamatan penulis dengan mereka bekerja atau berjualan nampak hal-hal yang melanggar hak-hak anak dan dapat digolongkan sebagai pekerja anak yang dieksploitasi, terdapat beberapa dampak negatif yang dialami seperti tingkat keamanan yang rendah, beresiko terhadap kesehatan terlebih dimasa pandemi, perkembangan kepribadian anak yang tidak terkontrol dan prospek kedepannya. Selain itu, hilangnya peluang untuk bermain bersama teman sebayanya atau belajar bersama sebagaimana anak-anak yang lainnya.

Karakteristik pekerja anak di Pasar Inpres Matawai

Pekerja anak merupakan anak-anak yang sedang berusia di bawah 18 tahun dengan melakukan berbagai pekerjaan yang berdampak pada perkembangan fisik, mental dan sosial anak, yang tentunya berpengaruh pada perilaku anak serta terganggunya kegiatan sekolah dan bahkan sampai pada anak yang tidak mengenyam pendidikan sehingga menyebabkan kehilangan hak-haknya sebagai generasi penerus dan modal sumber daya manusia dimasa depan yang seharusnya memperoleh perlindungan baik dari orang tua, maupun

(4)

pemerintah dan pihak yang terkait. Fenomena pekerja anak bukanlah suatu kejadian yang baru terjadi ditengah masyarakat, tetapi sudah nampak pada beberapa dekade sebelumnya, terlebih saat ini ditengah pandemi Covid-19 jumlah pekerja anak cukup meningkat, terlihat di Pasar Inpres Matawai . Adapun mengenai karakteristik pekerja anak yang bekerja sebagai pedagang/ penjual sayur-sayuran di Pasar Inpres Matawai, Kelurahan Matawai, Kabupaten Sumba Timur, yang termasuk yaitu umur dan jenis kelamin, status pendidikan, jumlah jam kerja, jumlah pendapatan.

Pertama, umur dan jenis kelamin, berdasarkan pada hasil observasi menunjukkan bahwa terdapat 36 pekerja anak yang terbagi atas 21 orang laki-laki atau sekitar 58,33% dan 15 orang perempuan atau sekitar 41,67%. Sedangkan jika dilihat menurut kelompok umur dengan rentang usia 16-17 tahun berjumlah 4 orang atau 11,11 % dan usia 13- 15 tahun berjumlah 10 orang atau 27,78 % sedangkan usia 8-12 tahun berjumlah 22 orang atau 61,11 %. Berdasarkan pada kondisi tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar pekerja anak berstatus sebagai remaja yaitu dalam kategori umur 13-17 tahun, yang tentunya masih pada batasan umur anak-anak.

Kedua, status pendidikan, jika dilihat berdasarkan status pendidikan, maka hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagai besar pekerja anak berstatus sekolah dengan jumlah 29 orang atau 80,56% dan yang berstatus tidak sekolah sebanyak 7 orang atau 19,44 %. Adapun jika dianalisa berdasarkan jenis kelamin maka pekerja anak laki-laki cenderung pada status tidak sekolah dibandingkan dengan pekerja anak perempuan. Fenomena tersebut menggambarkan bahwa dengan berstatus sebagai pekerja anak yang tidak bersekolah dan termasuk dalam kategori remaja dapat dipahami bahwa pekerja anak tersebut masih dalam proses mencari jati diri, dimana hal tersebut akan berpengaruh pada perilaku anak dalam kesehariannya dan seringkali menimbulkan masalah sosial seperti tindakan kriminal.

Ketiga, jumlah jam kerja, berdasarkan hasil observasi pada pekerja anak di Pasar Inpres Matawai menunjukkan salah satu faktor yang menyebabkan pekerja anak bekerja yaitu jumlah jam kerja yang

(5)

berlebihan atau tidak berlebihan. Berdasarkan pada peraturan Undang- Undang No. 27 tentang Ketenagakerjaan Pasal 63 butir A menjelaskan larangan tidak mempekerjakan anak lebih dari empat jam dalam sehari.

Sehingga pada penelitian ini digunakan batasan jam kerja pekerja anak dengan dengan jumlah 24 jam per minggu. Hasil penelitian pekerja anak di Pasar Inpres Matawai menggambarkan secara keseluruhan pekerja anak bekerja dengan jumlah jam yang berlebihan nampak dari jumlah jam kerja yang lebih dari 4 jam per harinya. Jumlah pendapatan, Jika berasumsi pada besarnya Upah Minimum Regional (UMR Provinsi Nusa Tenggara Timur) sebesar Rp. 1.900.000,- per bulan, maka dalam penelitian ini besarnya pendapatan dibedakan menjadi dua, yaitu < Rp.

100.000,- dan > Rp. 100.000,- per hari. Berdasarkan pada kategori tersebut, fakta empiris menunjukkan sebagian besar pekerja anak yakni sebanyak 22 orang atau 61,11% berpendapatan < Rp. 100.000,- dan 14 orang lainnya atau 38,89% berpendapatan > Rp. 100.000,- per hari.

Pekerja anak yang memperoleh pendapatan < Rp. 100.000,- masih dikategorikan anak-anak yang mungkin belum mempunyai kemampuan dalam membuat keputusan secara dewasa.

Faktor faktor yang mempengaruhi adanya pekerja anak

Berdasarkan pada hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat dua faktor penyebab adanya pekerja anak di Pasar Inpres Matawai yaitu faktor internal dan faktor eksternal, faktor internal berasal dari dalam diri anak seperti adanya kemauan sendiri untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan adanya keinginan untuk membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, sedangkan faktor eksternal berasal dari luar yaitu faktor ekonomi keluarga yang terpuruk, faktor lingkungan sosial, faktor pandemi Covid-19.

Beberapa faktor tersebut dapat diuraikan berikut ini:

Faktor internal:

kemauan diri sendiri, berdasarkan hasil penelitian adapun faktor yang mendorong seorang anak untuk bekerja yaitu adanya keinginan dari dalam diri pekerja anak untuk dapat memperoleh pendapatan,

(6)

sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan pribadinya.

Nampaknya pekerja anak di Pasar Inpres Matawai cenderung bekerja untuk memenuhi kebutuhan dasar misalnya sandang, pangan dan pendidikan. Pada umumnya pekerja anak menyukai jajan, berpakaian yang bagus seperti anak yang lainnya, dan adanya kesadaran akan pendidikan sehingga untuk memperoleh semua itu maka perlu bekerja.

seperti pernyataan dari salah satu pekerja anak AR (14) berikut ini :

“saya kan suka beli-beli dikios biasanya minta uang di bapa atau mama, daripada minta, saya jualan saja saya dapat uang sendiri, beli jajan sendiri, dengan beli baju yang bagus, saya setiap hari dipasarkan saya lihat banyak baju yang bagus, jadi saya usaha sudah jualan buat beli biar sama dengan teman dorang, tambah lagi sekarang tugas banyak dari sekolah harus beli data untuk pake belajar, begitu..”

Selain itu, yang termasuk faktor internal yakni untukmemenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Tujuan mengapa seorang anak bekerja adalah untuk dapat membantu orang tua mereka dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga, karena biaya hidup yang semakin meningkat maka perlu adanya sumber pendapatan lain dalam keluarga. Hal ini disebabkan karena minimnya pendapatan orang tua, dan pekerja anak cenderung merasa kasihan melihat orang tua mereka karena jika hanya mengandalkan orang tua maka tentunya tidak dapat mencukup semua kebutuhan yang diperlukan. Seperti yang disampaikan oleh salah satu pekerja anak BR (16) sebagai berikut :

“ saya jualan ini karena saya kasian saya punya mama, hanya duduk jualan didalam pasar, dia dapat tidak seberapa, jadi saya rasa tidak cukup untuk pake belanja makan minum, belum lagi ada utang sana sini, dari pada saya hanya duduk-duduk saja.. saya jualan sudah didepan pasar untuk bisa bantu-bantu orang tua, ada lah bisa tambah-tambah sedikit”.

Faktor eksternal

Faktor ekonomi keluarga, pekerja anak yang bekerja di Pasar Inpres Matawai sebagai penjual berbagai aneka sayuran sebagian besar disebabkan oleh faktor ekonomi keluarga yang menurun sehingga memacu mereka bekerja dan memperoleh pendapatan untuk dapat membantu kebutuhan hidup keluarganya. Fenomena tersebut memang

(7)

sangat memprihatinkan karena anak-anak yang seharusnya sebagai generasi penerus bangsa harus memperoleh pendidikan yang baik dan berkualitas, bermain bebas dengan teman sebayanya malah dihadapkan dengan beban kondisi kehidupan keluarga. Hal ini tentunya akan berpengaruh pada kesehatan dan mental pekerja anak tersebut kedepannya.

Hasil wawancara dengan beberapa pekerja anak di Pasar Inpres Matawai menyatakan bahwa karena kondisi ekomoni keluargalah yang membuat mereka harus bekerja, seperti yang disampaikan oleh SA (16) pada petikan wawancara berikut ini :

yaa saya jualan ini karna kondisi orang tuanya saya petani semua, saya punya mama jualan dipasar sini, didalam sana..., kalo saya punya bapak tukang bangunan, tidak menentu penghasilanya, belum lagi kami banyak bersaudara, kadang tidak cukup juga kalo hanya harap bapak dengan mama, kadang makan dengan garam saja, untuk itu kami dia punya ana ana, kan sering datang dipasar sini, lihat lihat yg jualan, jadi kami jualan sudah

Hal serupa juga diungkapkan oleh pekerja anak yang lainnya yaitu RN (13) menyatakan bahwa :

“kalo saya kan tinggal saya punya mama, sam bapak sudah meninggal, jadi kalo hanya harap mama saja yang cari uang itu tidak cukup, belum ada sam adi adi yang masih kecil, supaya bisa cukup yaaa saya jualan, kasian juga sam mama kadang, utang koperasi, belum untuk beli susu kasi adi..”

Faktor lingkungan sosial, salah satu faktor yang menyebabkan anak-anak memilih bekerja sebagai penjual di Pasar Inpres Matawai yaitu faktor lingkungan sosial, selain karena lokasi pasar dekat dengan tempat tinggal mereka, juga disebabkan kebiasaan pekerja anak yang setiap harinya mengikuti orang mereka yang sedang berjualan dipasar.

Setiap hari pekerja anak berinteraksi dengan teman-teman mereka yang berjualan dan berbagai penjual yang lainnya. fenomena tersebut tentunya membentuk kebiasaan anak secara tidak langsung.

Pekerja anak yang bekerja terlebih dahulu di Pasar Inpres Matawai mengajak atau mendorong teman mereka yang lainnya untuk

(8)

ikut berjualan. Karena waktu yang lebih banyak berada dilokasi atau di Pasar daripada dirumah sehingga pengaruh lingkungan sosial tersebut lebih kuat daripada keluarga. Setiap aktivitas pekerja anak di Pasar Inpres Matawai memperoleh kepuasan tersendiri dalam memperoleh penghasilan sehingga jenis pekerjaan dilakukan secara rutin. Seperti yang disampaikan oleh BT (12) pada saat wawancara menyatakan sebagai berikut :

“awalnya saya ikut jualan disini karna ada saya punya teman, jadi sa ikut ikut dorang sudah untuk bajua l, memang tiap hari sa sering ikut sa punya mama dipasar, lama lama jadi biasa, apalagi dapat uangkan kalo bajual, senang lah bisa beli baju atau apa”.

Hal senada juga disampaikan oleh pekerja anak yang lain LN (9) dengan menyatakan bahwa :

“ikut-ikut teman saja yang bajual lebih dulu, sebenarnya sa hanya bermain saja didalam pasar dekat tempat jualannya mama, sa lihat dorang saya punya teman pigi bajual tiap hari, maka sa ikut sudah, asik juga sambil bermain dengan teman, sambil bajual, dapat uang”.

Uraian pernyataan di atas menggambarkan suatu tindakan yang rasional karena alasan lingkungan sosial dan teman sepergaualan mereka memutuskan untuk bekerja sebagai penjual sayuran dan bernegosiasi dengan lingkungan dan kelompok bermain mereka. Untuk masyarakat dan orang tua juga demikian adanya latar belakang pendapat mereka masing-masing sehingga pekerja anak masih tetap eksis.

Faktor pandemi Covid-19, dampak pandemi Covid-19 membuat semua kebiasaan masyarakat berubah termasuk anak-anak di Kabupaten Sumba Timur. Adapun yang selama ini anak-anak belajar di Sekolah terpaksa harus belajar dari rumah dengan menggunakan teknologi seadanya. Sehingga memunculkan persoalan pada anak-anak seperti pernyataan salah satu pekerja anak di Pasar Inpres Matawai menyatakan akibat dari pandemi Covid-19 kegiatan belajarpun harus beralih pada sistem online sehingga memunculkan persoalan baru seperti terkendala pada masalah jaringan internet yang tidak stabil serta tidak memiliki handphone.

(9)

Hasil wawancara dengan JN (17) menyatakan sebagai berikut :

“mulai ada ini covid kami sekolahnya dari rumah, semua tugas kami kerjakan dirumah, padahal kami tidak punya hp sendiri, saya kadang pinjam hp teman atau hp nya bapak untuk pake kerja tugas, apalagi sekarang jaringan agak bermasalah, tidak lancar ...jadi kalo ada kelas begitu kadang dengar jelas kadang juga tidak, inti nya kita isi absen saja, tidak ada ilmu yg didapat”.

Fenomena lain juga disampaikan oleh pekerja anak lainnya dengan menyatakan bahwa dampak kebijakan Belajar Dari Rumah (BDR) selama masa pandemi membuat banyak anak-anak justru turun ke jalan menjual berbagai aneka sayuran dan yang lainnya, sehingga rentan mengalami kekerasan fisik maupun psikis. Serta mengabaikan tugas utamanya sebagai pelajar yang memang pada umumnya pekerja anak di Pasar Inpres Matawai merupakan anak yang sedang bersekolah diberbagai sekolah di Kota Waingapu dan sekitarnya. Berdasarkan cara mereka berjualan atau bekerja nampaknya dijumpai beberapa hal yang melanggar hak anak dan dapat digolongkan sebagai anak yang yag dieksploitasi dengan mengalami beberapa dampak negatif seperti perkembangan kepribadian, keamanan, kesehatan dan prospek masa depan. Hal lain juga yang nampak seperti hilangnya kesempatan dalam menikmati masa bermain dan bersekolah seperti yang terjadi pada anak-anak yang lain.

Dampak yang dialami pekerja anak selama bekerja

Seiring dengan perkembangan pekerja anak di Pasar Inpres Matawai, berbagai dampak dialami oleh mereka, seperti perkembangan dan gangguan fisik anak, perkembangan emosi anak dan perkembangan sosial anak. beberapa dampak tersebut dapat dijelaskan berikut ini :

Pertama, dampak perkembangan dan gangguan fisik anak, secara fisik pekerja anak lebih rentan terjadi kecelakaan atau penyakit dari berbagai jenis pekerjaan yang dilakukan. Bekerja sebagai pekerja anak dapat memengaruhi gangguan fisik pada anak. Hal ini nampak di Pasar Inpres Matawai pada saat penulis melakukan observasi dimana beberapa

(10)

pekerja anak mengalami gangguan kesehatan seperti deman, batuk, pilek, sakit kepala dan yang lainnya yang dialami selama berhari-hari.

Kedua, dampak perkembangan emosi anak, pekerja anak sering bekerja pada area yang berbahaya, terjadinya eksploitasi, direndahka.

Mereka sering menerima pelecehan, kekerasan oleh pekerja dewasa lainnya. sehingga akan sangat berdampak pada bentuk pekerja anak yang menjadi pemarah, pendendam, kasar terhadap teman sebayanya dan kurangnya rasa empati pada orang lain.

Ketiga, dampak perkembangan sosial anak, pekerja anak yang tidak memiliki kesempatan untuk melaksanakan kegiatan seperti bermain, bersekolah dan bersosialisasi dengan teman yang lain, tidak mendapatkan pendidikan dasar, tidak berinteraksi dengan orang lain secara aktif, baik dalam masyarakat maupun dalam keluarga. Secara alami akan tumbuh menjadi anak yang pasif, egois, mengalami masalah dalam berinteraksi dan kurang percaya diri.

Gambar 4. Pekerja Anak sedang berjualan sayur di Pasar Matawai, 8 Januari 2022

Referensi

Dokumen terkait

Metode analisis untuk mengetahui variabel independen yang mempengaruhi secara signifikan terhadap Struktur Modal pada perusahaan manufaktur yaitu Profitabilitas, Firm Size,

Selanjutnya, berbagai peubah ekonomi yang digunakan dalam model menunjukkan bahwa peubah investasi (INV), pengeluaran pemerintah (GOV), dan ekspor (EXPR) secara

[r]

undang tersebut akan memunculkan suatu diskresi ikutan berupa kebijaksanaan karena apabila pihak keluarga atau penasehat hukum atau pihak lain dari seseorang yang

Masalah utama dalam pembelajaran pada pendidikan formal (sekolah) dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik sebab orientasi pembelajaran hanya terkait dengan

Sesuai dengan hasil penelitian, maka rumusan masalah yang diajukan pada bab sebelumnya telah terjawab, yaitu terdapat beberapa faktor yang menyebabkan maraknya perjudian di

mudah, untuk mengidentifikasi bentuk gending ini dapat dilakukan dengan memperhatikan jumlah tabuhan kethuk pada setiap kenongan, tabuhan kempul (pada gatra 3, 5, dan

title &#34; The Effect of Regional Balance Sheet Disclosure and Accessibility Financial Statements on the Accountability of Regional Financial Management in