• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

7 2.1. Pelayanan

2.1.1. Pengertian Pelayanan

Menurut Kasmir (2017:47) pelayanan diartikan sebagai tindakan atau perbuatan seseorang atau organisasi untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan atau sesama karyawan.

Menurut Ginting dalam Supeno (2018) pelayanan prima adalah suatu bentuk pelayanan yang diberikan dengan tatanan yang dibuat sedemikian rupa, sehingga mampu meminimalkan kesalahan serta berorientasi kepada kebutuhan pelanggan.

Menurut Kotler dan Armstrong dalam Wulandari (2015) pelayanan adalah bentuk produk yang terdiri dari aktivitas, manfaat, atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual dan pada dasarnya tak berwujud serta tidak menghasilkan kepemilikan akan sesuatu.

Dari beberapa pengertian di atas yang telah dikemukakan oleh para ahli bahwa dapat ditarik kesimpulan, pelayanan adalah suatu bentuk tindakan atau produk yang terdiri dari aktivitas seseorang atau organisasi untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan.

(2)

2.1.2. Jenis-jenis Pelayanan

Orang awam biasanya hanya mengenal pelayanan kepada pelanggan semata. Artinya pelayanan hanya ditujukan kepada konsumen atau pelanggan, sehingga yang selalu menjadi pokok perhatian adalah keinginan dan kebutuhan pelanggan. Mereka lupa bahwa karyawan sendiri perlu melayani dan dilayani oleh pimpinan dan sesama karyawan. Artinya, disamping pelayanan kepada pelanggan juga harus diperhatikan terlebih dulu pelayanan yang ada di dalam yaitu pelayanan antar karyawan dengan karyawan dan dengan atasan. Mengapa hal ini penting? Karena jika pelayanan antara pimpinan dengan bawahan kurang berjalan lancar maka akan menghambat pelayanan kepada pelanggan. Demikian pula bila pelayanan antar karyawan kurang baik juga akan dapat menghambat kegiatan pelayanan dengan pelanggannya. Artinya terhambatnya pelayanan di dalam akan memengaruhi pelayanan ke luar terhadap pelanggan.

Menurut Kasmir (2017:51) dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa jenis pelayanan di bagi ke dalam 2 (dua) kelompok :

1. Pelayanan Ke Dalam

Pelayanan ke dalam artinya pelayanan antar karyawan dengan karyawan dalam mendukung pelayanan terhadap pelanggan. Atau pelayanan antar karyawan dengan pimpinan atau sebaliknya. Pelayanan dapat dilakukan dalam hal penyediaan dokumen, proses dokumen, informasi, komunikasi atau lainnya.

(3)

2. Pelayanan Ke Luar

Pelayanan ke luar artinya pelayanan yang diberikan kepada pihak luar perusahaan misalnya dengan nasabah atau pelanggan. Pelayanan seperti ini dilakukan dalam rangka melayani proses transaksi sampai pelanggan membeli atau mengonsumsi produk atau jasa yang ditawarkan.

2.1.3. Ciri-ciri Pelayanan yang Baik

Kebanyakan pelanggan selalu menginginkan pelayanan yang diterimanya dapat memberikan kepuasan seperti yang diinginkan. Artinya setiap kebutuhan dan keinginan yang diterima sesuai dengan harapannya, sekalipun adanya pelanggan yang tidak begitu memedulikan kualitas pelayanan. Untuk jenis pelanggan yang kurang memedulikan kualitas pelayanan, pihak karyawan tetap memberikan standar pelayanan yang sama, karena pada akhirnya pelanggan jenis ini pun menginginkan pelayanan yang berkualitas. Oleh karena itu pelayanan yang baik dan berkualitas harus tetap dipertahankan dan ditingkatkan dari waktu ke waktu.

Berikut ini beberapa ciri pelayanan yang baik yang harus diikuti oleh manajemen dalam melayani pelanggan atau nasabah menurut Kasmir (2017:67) yaitu:

1. Tersedia Karyawan yang Baik

Kenyamanan pelanggan atau nasabah sangat tergantung dari karyawan yang melayaninya. Karyawan harus bersikap ramah, sopan dan menarik dalam melayani pelanggan. Di samping itu, karyawan harus cepat tanggap, pandai bicara, menyenangkan serta pintar dalam membaca suasana. Karyawan juga

(4)

harus mampu memikat dan mengambil hati pelanggan sehingga pelanggan semakin tertarik untuk bertransaksi. Demikian juga dengan cara kerja karyawan harus rapi, cepat dan cekatan, sehingga tidak ada yang kurang, atau dapat meminimalkan kesalahan.

2. Tersedia Sarana dan Prasarana yang Baik

Pada dasarnya pelanggan ingin dilayani secara prima. Untuk melayani pelanggan hal yang penting diperhatikan selain kualitas dan kuantitas sumber daya manusia juga sarana dan prasarana yang dimiliki perusahaan. Suasana ruangan yang nyaman harus pula didukung oleh meja dan kursi untuk diduduki. Udara dalam ruangan harus tenang tidak berisik dan sejuk.

Kelengkapan dan kenyaman sarana ini akan mengakibatkan pelanggan betah untuk berurusan dengan perusahaan, sehingga mampu mengusir kebosanan.

3. Bertanggung Jawab Kepada Nasabah Sejak Awal Hingga Selesai

Bertanggung jawab kepada setiap pelanggan sejak awal hingga selasai artinya dalam menjalankan kegiatan pelayanan karyawan harus mampu melayani dari awal sampai tuntas atau selesai. Pelanggan akan merasa puas jika karyawan bertanggung jawab terhadap pelayanan yang diinginkannya.

4. Mampu Melayani Secara Cepat dan Tepat

Mampu melayani secara cepat dan tepat artinya dalam melayani pelanggan diharapkan karyawan harus melakukannya sesuai prosedur yang ada. Layanan yang diberikan sesuai jadwal untuk pekerjaan tertentu dan jangan membuat kesalahan dalam arti pelayanan yang diberikan sesuai dengan standar perusahaan dan keinginan pelanggan. Cepat di sini, artinya dalam batas-batas normal misalnya pelayanan untuk setiap transaksi ada waktu yang sudah

(5)

disediakan untuk pelanggan. Karyawan juga harus pandai mengatur waktu dan jangan membicarakan hal-hal diluar konteks pekerjaan secara berlebihan pada saat melayani pelanggan.

5. Mampu Berkomunikasi

Mampu berkomunikasi artinya karyawan harus mampu berbicara kepada setiap pelanggan atau nasabah. karyawan juga harus mampu dengan cepat memahami keinginan pelanggan. Kemudian karyawan harus dapat berkomunikasi dengan bahasa yang jelas dan mudah dimengerti. Jangan sekali kali menggunakan istilah yang sulit dimengerti, karena akan mengakibatkan kesalahpahaman dengan pelanggan.

6. Memiliki Pengetahuan dan Kemampuan yang Baik

Untuk menjadi karyawan yang khusus melayani pelanggan harus memiliki pengetahuan dan kemampuan tertentu. Karena tugas karyawan selalu berhubungan dengan manusia, maka karyawan perlu dididik khusus mengenai kemampuan dan pengetahuannya untuk menghadapi pelanggan atau nasabah atau kemampuan dalam bekerja. Kemampuan dalam bekerja akan mampu mempercepat proses pekerjaan sesuai dengan waktu yang diinginkan.

Demikian pula dengan ketepatan dan keakuratan pekerjaan juga akan terjamin.

Dalam hal ini guna meningkatkan kualitas manusia tersebut perlu dididik sesuai dengan bidang pengetahuannya.

(6)

2.1.4. Kualitas Pelayanan

Menurut Nasution dalam Rusydi (2017:39) kualitas pelayanan adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan konsumen.

Menurut Tjiptono dalam Surbakti dkk (2017) kualitas pelayanan merupakan sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan.

Menurut Tjiptono dalam Atmaja (2018) kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berpengaruh dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang menemui atau melebihi harapan.

Menurut Lewis & Booms dalam Riyanto (2018) kualitas juga diartikan sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan mampu atau sesuai dengan ekspetasi pelanggan, maksudnya kualitas pelayanan ditentukan oleh kemampuan perusahaan atau lembaga tertentu untuk memenuhi kebutuhan yang sesuai dengan apa yang diharapkan atau diinginkan berdasarkan kebutuhan pelanggan.

Dari beberapa pengertian di atas yang telah dikemukakan oleh para ahli bahwa dapat ditarik kesimpulan, kualitas pelayanan adalah sebagai ukuran seberapa bagus tingkat pelayanan yang diberikan yang berpengaruh dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan untuk memenuhi keinginan dan harapan pelanggan.

(7)

2.1.5. Etiket Pelayanan

Tujuan utama dalam memberikan pelayanan adalah memberikan kepuasan kepada pelanggan. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut diperlukan cara untuk membuat pelanggan merasa senang dan nyaman atau pelayanan yang diterimanya. Perasaan senang dan nyaman ini awal timbulnya dapat dari etiket pelayanan yang diberikan karyawan melalui pelayananya. Lalu pertanyaannya apa yang dimaksud dengan etiket pelayanan?

Etiket pelayanan artinya tata cara berhubungan dengan pelanggan atau nasabah. Artinya dalam memberikan pelayanan perlu dilakukan dengan tata cara tertentu yang diatur sedemikian rupa, sehingga mampu membuat pelanggan merasa senang. Pelayanan yang menyenangkan akan memberikan dampak yang besar untuk menyukseskan transaksi antara pelanggan dengan karyawan sekarang dan di masa yang akan datang.

Agar etiket pelayanan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan yang telah direncanakan, maka perlu ada ketentuan yang mengaturnya. Ketentuan ini dibuat agar komponen yang berhubungan dengan pelayanan dapat menunjang satu sama lain. Artinya, apabila salah satu aspek diabaikan, maka pelayanan dari komponen lainnya jadi tidak berguana. Oleh karena itu, semua komponen etiket pelayanan ini harus dilakukan agar pelayanan yang diberikan benar-benar sempurna.

Menurut Kasmir (2017:114) Ketentuan yang diatur dan dilaksanakan dalam etiket pelayanan secara umum antara lain :

(8)

1. Sikap dan Perilaku

Artinya sikap dan perilaku kesehariaan yang ditunjukan karyawan kepada pelanggan atau nasabah di lokasi atau acara tertentu, atau berhubungan dengan pelanggan/nasabah atau pada saat berada dalam satu ruangan. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan sikap karyawan dalam memerhatikan keinginan dan kebutuhan pelanggan. Pelanggan merasa dihargai jika keinginan dan kebutuhannya diperhatikan oleh karyawan.

2. Penampilan

Arti penampilan yang ada pada karyawan secara keseluruhan adalah mulai dari cara berpakaian, berbicara, gerak-gerik, sikap dan perilaku sehingga dapat membuat pelanggan terkesan. Penampilan karyawan juga harus selalu terlihat senang dan gembira termasuk pada saat berhubungan dengan pelanggannya.

Karyawan yang bekerja dengan penuh semangat dan selalu termotivasi akan membuat pelanggan merasa senang. Penampilan ini harus selalu dijaga selama jam kerja secara prima. Artinya mulai dari masuk kerja sampai dengan pulang kerja. Keuntungan dengan berpenampilan yang baik adalah mampu menarik simpati dari pelanggan. Artinya pelanggan akan merasa senang berhubungan dengan karyawan. Dengan penampilan yang baik maka karyawan akan nampak beribawa di mata pelanggannya.

3. Cara Berpakaian

Cara berpakaian artinya cara menggunakan baju, celana dan sepatu yang digunakan sehari-hari, termasuk dalam hal ini penggunaan aksesori yang melekat dalam pakaian itu. Pakaian yang dikenakan harus serasi antara baju, celana, sepatu, dan aksesori yang digunakan. Serasi dalam arti warna dan

(9)

model yang digunakan, sehingga setiap yang melihat menjadi terkagum- kagum.

4. Cara Berbicara

Cara berbicara artinya cara kita berkomunikasi dengan pelanggan baik langsung empat mata atau melalui telepon. Hal ini penting diperhatikan, jangan sampai membuat pelanggan tersinggung atau tidak senang. Biasanya, agar tidak membuang waktu, karyawan dapat langsung berbicara tentang apa yang pelanggan inginkan. Berbicara kepada pelanggan harus jelas, singkat, dan tidak bertele-tele. Artinya volume suara jangan terlalu kecil tetapi jangan pula terlalu keras buatlah agar volume suara enak didengar, seperti lembut dan merdu, sehingga pelanggan yang mendengarkannya menjadi senang.

5. Gerak-Gerik

Gerak-gerik artinya pergerakan anggota badan yang diperlihatkan di depan pelanggan dan nasabah. Gerak-gerik meliputi mimik wajah, pandangan mata, pergerakan tanggan, anggota badan atau kaki. Jangan sampai gerak-gerik yang kita lakukan dapat mengakibatkan pelanggan atau nasabah tersinggung.

Kemudian gerak-gerik kita juga jangan sampai membuat pelanggan atau nasabah merasa dicurigai dan membuat tidak nyaman. Terutama dalam memandang pelanggan hindari dengan pandangan cemberut, sinis, atau mencibir. Kemudian mimik wajah, wajah yang diperlihatkan kepada pelanggan atau nasabah pada saat melayani dan tidak sedang melayani, tunjukan mimik wajah yang tenang, gembira dan tidak cemberut atau kusut. Pandangan mata saat sedang memandang pelangan atau nasabah harus dengan sopan.

(10)

6. Cara Bertanya

Dalam cara bertanya artinya cara karyawan untuk mengetahui keinginan dan kebutuhan pelanggan atau nasabah. Dalam pratiknya sifat pelanggan atau nasabah berbeda-beda. Artinya terdapat perbedaan antara sekian banyak pelanggan, ada pelanggan yang banyak diam ada pula pelanggan yang banyak tanya. Bagi pelanggan atau nasabah yang pendiam maka karyawanlah yang berinisiatif untuk bertanya atau memulai setiap pembicaraan. Kemudian bagi pelanggan yang banyak tanya, karyawan sebaiknya banyak mendengarkan dengan baik, kemudian jawab dengan baik pula. Seluruh etiket pelayanan di atas harus dilakukan secara berurutan. Artinya tidak boleh melakukan salah satu saja sebagai yang dianggap perlu. Seluruh poin 1 (satu) dan 6 (enam) harus dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga etiket pelayanan dapat dilakukan secara maksimal.

2.1.6. Tata Cara dalam Etiket Pelayanan

Telah kita ketahui bahwa dalam memberikan pelayanan kepada setiap pelanggan atau nasabah, karyawan selalu dituntut agar dapat memuaskan pelanggan tanpa melanggar harga diri atau etika. Dalam memberikan pelayanan juga diperlukan etiket, sehingga kedua belah pihak baik pelanggan atau nasabah maupun karyawan perusahaan dapat saling menghargai.

Menurut Kasmir (2017:117) Secara umum tata cara etiket pelayanan yang dapat diberikan oleh karyawan dalam rangka pelayanan sebagai berikut :

(11)

1. Mengucapkan Salam

Mengucapkan salam pada saat bertemu dengan pelanggan seperti selamat pagi, selamat siang, selamat sore, dan lain-lain. Ucapan salam ini dapat mencairkan suasana kaku antara pelanggan dengan karyawan. Bagi pelanggan, ucapan salam merupakan penghormatan atau perhatian kita terhadapnya. Dengan menyapanya, pelanggan akan merasa dihargai kehadirannya.

2. Mempersilakan Tamu

Setelah mengucapkan salam, segera mempersilakan tamu untuk masuk atau duduk dengan sopan. Jika masih melayani pelanggan atau sedang mengambil atau membereskan sesuatu pekerjaan minta pelanggan menunggu sebentar dengan ramah dan sopan. Baik dalam mengucapkan salam maupun mempersilakan tamu masuk atau duduk selalu dilakukan dengan ramah dan murah senyum. Buatlah kondisi pelanggan senyaman mungkin yang dimulai dari pelanggan datang sampai dilayani. Mempersilakan pelanggan artinya menghormati dan menghargai pelanggan.

3. Bertanya Tentang Keperluan Nasabah

Setelah dipersilakan duduk, barulah karyawan bertanya tentang maksud kedatangan pelanggan atau keperluannya secara ramah, sopan, dan lemah lembut.

4. Pada Saat Urusan Selesai

Ucapkan kata terima kasih kepada pelanggan yang telah selesai dilayani.

Ucapkan terima kasih juga diberikan apabila ada pelanggan yang memberi kritik dan saran-saran. Hal yang sama juga dilakukan jika pelanggan hendak pamit setelah menyelesaikan masalahnya atau urusannya selesai. Ucapan

(12)

terima kasih akan menyenangkan pelanggan karena pelanggan merasa dihargai atas kedatangannya. Dengan perasaan senang atas pelayanan yang diberikan dan ditutup dengan ucapan terima kasih, maka besar kemungkinan pelanggan akan kembali lagi.

2.1.7. Tujuan Etiket Pelayanan

Etiket yang diberlakukan oleh perusahaan terutama terhadap seluruh karyawannya tentu memiliki tujuan-tujuan tertentu. Tujuan ini harus sejalan dengan tujuan perusahaan. Dalam praktiknya memang tujuan etiket harus selaras dengan tujuan perusahaan secara keseluruhan.

Tujuan etiket pelayanan juga memberikan manfaat yang cukup banyak bagi perusahaan apabila dilakukan secara sungguh-sungguh. Manfaatnya juga akan dirasakan oleh pelanggan, sehingga merasa puas atas pelayanan yang diterimanya.

Menurut Kasmir (2017:124) Berikut ini beberapa tujuan etiket pelayanan yang selalu ingin dicapai oleh setiap perusahaan, yaitu :

1. Untuk Persahabatan dan Pergaulan

Tujuan etiket untuk persahabatan dan pergaulan artinya etiket dapat meningkatkan keakraban dengan pelanggan atau nasabah. Dengan begitu akan meningkatkan persahabatan menambah lingkungan pergaulan, baik di dalam perusahaan maupun di luar perusahaan. Jika pelanggan menjadi akrab, segala urusan antara perusahaan dengan pelanggan akan menjadi lebih mudah, sehingga keinginan atau persoalan pelanggan akan cepat dipenuhi. Keakraban ini juga akan menjadi pembicaraan antara pelanggan dengan teman-teman

(13)

lainnya sehingga berpotensi mencoba membeli produk yang dijual oleh perusahaan.

2. Menyenangkan Orang Lain

Etiket juga memiliki tujuan untuk menyenangkan orang lain baik pelanggan atau nasabah. menyenangkan orang lain maksudnya adalah dengan cara memuaskan orang lain. Dengan adanya etiket pelayanan, pelanggan akan merasa senang dan merasa puas dengan pelayanan yang diberikan, sehingga akan mengulang transaksinya kembali suatu waktu.

3. Mempertahankan Pelanggan atau Nasabah

Salah satu perusahaan menjalankan etiket ialah untuk mempertahankan pelanggan lama. Tujuan utama dari etiket pelayanan khusus untuk pelanggan yang lama yaitu agar pelanggan tidak pindah ke perusahaan lain karena sudah merasa puas atas layanan yang diberikan perusahaan. Selain itu, etiket juga bertujuan agar pelanggan menambah konsumsi produk lain yang ditawarkan.

4. Membina dan Menjaga Hubungan

Hubungan dengan pelanggan yang sudah terjalin baik selama ini harus tetap terjaga. Hubungan ini harus terus menerus dibina melalui etiket yang sudah dijalankan lebih baik dari sebelumnya. Semakin lama berhubungan dengan pelanggan, maka seorang karyawan akan tahu tentang perilaku pelanggan, sehingga memudahkan karyawan membina hubungan yang ada.

5. Berusaha Menarik Nasabah

Tujuan etiket disamping untuk mempertahankan pelanggan lama sebagai tujuan utama juga untuk mencari pelanggan baru. Tujuan etiket pelayanan juga berusaha untuk menarik minat pelanggan yang baru untuk membeli, sehingga

(14)

bukan tidak mungkin dengan etiket pelayanan akan menambah jumlah pelanggan. Inti dari etiket pelayanan untuk mempertahankan pelanggan yang sudah ada agar tidak lari kepelanggan lain. Kemudian berusaha untuk menarik pelanggan baru sebanyak-banyaknya melalui cara yang menyenangkan menjadikan sahabat, merayu atau membujuk atau membina hubunggan lebih baik dari pelanggannya.

2.1.8. Manfaat Etiket

Seperti dijelaskan sebelumya bahwa tujuan perusahaan umumnya dan tujuan etiket khususnya harus disesuaikan dengan manfaat yang akan dipetik nantinya. Artinya manfaat yang diterima akan lebih bayak dari sebelumnya.

Manfaat ini juga berguna tidak hanya bagi perusahaan, tetapi juga bagi pelanggan yang langsung berhubungan dengan perusahaan atau dengan masyarakat luas.

Menurut Kasmir (2017:127) Berikut ini manfaat yang akan diperoleh dengan adanya etiket pelayanan antara lain :

1. Percaya Diri

Dengan adanya etiket pelayanan dapat meningkatkan rasa percaya diri bagi seluruh karyawan perusahaan. Dalam hal ini, karena karyawan perusahaan merasa memiliki nilai lebih baik dibandingkan pelanggan. Kelebihan ini seperti dalam hal cara berpenampilan, cara berbicara, kemampuan bekerja maupun perilaku. Kelebihan ini akan membuat karyawan terus menambah pengetahuan dan mengasah keterampilan. Percaya diri yang tinggi perlu dan harus dilakukan, karena alat memotivasi karyawan untuk meningkatkan pelayanan yang sesuai dengan harapan dan tujuan perusahaan.

(15)

2. Dihormati dan Dihargai

Ada istilah anda sopan kami segan, anda hormat kami selalu menghormati anda, artinya jika karyawan berlaku sopan, ramah, murah senyum dan berperilaku yang menyenangkan pelanggan maka pelanggan pun akan berlaku yang sama. Pelanggan akan merasa dihormati dan dihargai sehingga membuat suasana menjadi nyaman.

3. Disegani dan Disenangi

Dengan etiket pelayanan yang dijalankan secara baik maka karyawan akan mengikuti arus yang akan dijalankan, meskipun terkadang ada pelanggan yang meminta pelayanan yang berlebihan, untuk hal semacam ini tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Pada akhirnya manfaat etiket pelayanan yang diberikan karyawan akan berdampak kepada pelanggan. Artinya apa yang dirasakan pelanggan sama seperti yang dirasakan oleh karyawan yang memberikan pelayanan. Jadi ada timbal balik dari etiket pelayanan yang diberikan karyawan kepada pelanggannya, baik sekarang maupun dimasa yang akan datang.

2.2. Desain Interior 2.2.1. Dasar Interior

Desain interior pada dasarnya terkait dengan hal merencanakan, menata, dan merancang ruang-ruang interior di dalam sebuah bangunan agar menjadi sebuah tatanan fisik untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam hal penyediaan sarana bernaung dan berlindung. Desain interior juga akan mempengaruhi pandangan dan pencitraan terkait dengan suasana hati dan

(16)

kepribadiaan manusia. Menurut Wicaksono dan Tisnawati (2014:5) peranan desain interior adalah untuk menciptakan pemahaman yang baik terhadap desain tata ruang dalam.

Pemahaman yang baik merupakan kunci sukses pekerjaan seorang perancanag, dalam hal ini arsitektur atau desainer interior. Perancang interior adalah sebuah ilmu yang tidak dapat dibatasi lingkupnya, sangat terkait dengan ilmu konstruksi, arsitektur, seni rupa, seni kriya/kerajinan. Ilmu ini juga terkait dengan teknologi pengodisian ruangan, pemanas dan pendigin ruangan, pencahayaan, air dan perlengkapan drainase, serta desain produk.

Perancangan interior merupakan bagian yang terintegrasi dengan struktur, yang di dalamnya termasuk struktur bangunan. Hal ini menjelaskan bahwa ilmu interior sangat terkait erat dengan seluruh ilmu arsitektur dan hanya dapat dipelajari berbarengan dengan ilmu arsitektur tersebut.

Perbedaan mendasar antara tata ruang dalam dan luar pada penggunaan plafon/atap. Disebut sebagai tata ruang dalam (interior) apabila pada ruangan tersebut menggunakan atap dan disebut sebagai tata ruang luar (eksterior) apabila seluruh ruangan tidak menggunakan atap. Beberapa contoh eksterior mulai dari cakupan terkecil sampai terbesar, antara lain halaman atau pekarangan (vord), taman (park), dan kolam (pond), lapangan (field), dan alun-alun (square).

(17)

2.2.2. Tujuan Desain Interior

Menurut Wicaksono dan Tisnawati (2014:6) tujuan desain interior adalah untuk memperbaiki fungsi, memperkarya estetika, dan meningkatkan aspek psikologis dari sebuah ruangan. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, diperlukan pengkajian terhadap faktor-faktor yang dapat memengaruhi penilaian sebuah hunian, antara lain sebagai berikut :

1. Luas rumah dan ruang yang memadai

Perbandingan antara luas rumah dan jumlah penghuni harus sesuai sehingga setiap anggota keluarga mendapatkan ruang cukup untuk beraktivitas.

2. Hubungan antar-ruang (kelompok ruang)

Kelompok ruang yang umum dalam rumah tinggal adalah ruang bersama (ruang keluarga, ruang makan) dan ruang pribadi (ruang tidur, ruang tidur anak, ruang kerja). Penentuan standarisasi ruangan mengacu pada ketetapan teknis pemerintah yang disebut KLB (koenfisien luas bangunan). Setelah dikurangi dengan luas runag terbuka hijau, ruangan yang dapat dibangun berjumlah maksimal 75% dari total luas ruang keseluruhan. Sementara ruang teknis (dapur, kamar mandi/WC, garasi) berjumlah 25% dari total luas ruang keseluruhan.

3. Pengaturan ruang

ruang harus ditata sesuai dengan fungsinya.

4. Bentuk denah ruang dengan kemungkinan penyusunannya

denah ruang dengan penataan yang baik dapat dilihat dari penempatan jendela dan pintu yang tepat.

(18)

Desain interior dengan proses merencanakan, menata, dan merancang ruang-ruang interior yang ada di dalam sebuah bangunan, termasuk perabot dan pengaruhya. Penataan fisik interior ini pada prinsipnya harus dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam hal penyediaan sarana untuk bernaung dan berlindung. Ini memperbaiki fungsi, memperkarya nilai estetika, dan meningkatkan aspek psikologis sebuah ruangan. Beberapa hal yang menentukan keberhasilan perancang interior, antara lain tema/konsep desain yang spesifik, keunikan/ciri khas konsep desain, fungsional/dapat digunakan dengan baik, serta kesesuian tema.

2.2.3. Elemen Dasar Interior

Faktor apa saja yang mempengaruhi penataan interior? Desain interior yang sukses membutuhkan penyelesaian problematika ruang yang logis dan kreatif untuk menghasilkan lingkungan buatan yang koheren, fungsional, dan estetis. Menurut Wicaksono dan Tisnawati (2014:8) beberapa elemen dasar interior antara lain :

1. Garis (Line)

Sebuah garis adalah unsur dasar seni, mengacu tanda menerus dibuat sebuah permukaan. Dua titik pada bidang yang berbeda bila dihubungkan akan menjadi sebuah garis. Titik adalah dasar terjadinya bentuk yang menunjukan suatu letak di dalam ruang. Titik tidak mempunyai ukuran panjang, lebar, atau tinggi. Oleh karena itu, garis bersifat statis, tidak mempunyai arah gerak dan terpusat. Sebuah titik dapat digunakan untuk menunjukan :

(19)

a. Ujung-ujung garis

b. Persilangan antara dua garis

c. Pertemuan ujung-ujung garis pada sudut bidang atau ruang, dan d. Titik pusat medan atau lapangan.

Garis memiliki panjang, arah, dan posisi. Perpanjangan sebuah titik membentuk sebuah garis.

2. Bentuk (Form)

Bentuk merupakan unsur seni. Pada dasarnya, bentuk adalah suatu sosok geometris tiga dimensi, seperti bola, kubus, silinder, kerucut, dan lain-lain.

Bentuk memungkinkan pengguna ruang untuk menangkap keberadaan sebuah benda dan memahaminya dengan persepsi.

3. Bidang (Shape)

Bidang adalah bagian dari unsur seni. Secara khusus, bidang adalah sebuah luasan yang tertutup dengan batas-batas yang ditentukan oleh unsur-unsur seni lainnya, yaitu garis, warna, nilai, tekstur, dan lain-lain. Dua garis sejajar yang dihubungkan kedua sisinya akan menghasilkan sebuah bidang. Bidang hanya terbatas pada dua dimensi yaitu panjang dan lebar. Ciri-ciri permukaan suatu bidang adalah warna dan tekstur yang akan mempengaruhi bobot visual dan stabilitasnya. Bidang juga berfungsi untuk menunjukan batasan sebuah ruangan.

4. Ruang (Space)

Ruang adalah sebuah bentuk tiga dimensi tanpa batas karena objek dan peristiwa memiliki posisi dan arah relatif. Ruang juga dapat berdampak pada perilaku manusia dan budaya, menjadi faktor penting dalam arsitektur, dan

(20)

akan berdampak pada desain bangunan dan struktur. Ruang memiliki panjang, lebar, dan tinggi, bentuk, permukaan, orientasi, serta posisi, sebuah bidang yang di kembangkan (menurut arah, selain dari yang telah ada) berubah menjadi ruang.

5. Cahaya (Light)

Cahaya mempengaruhi penataan interior dalam hal : a. Menentukan atmosfer ruangan

b. Memengaruhi mood pengguna, dan mendukung fungsi ruang 6. Warna (Color)

Semua warna dapat menimbulkan efek psikologis tertentu terhadap orang yang melihatnya. Dalam ilmu arsitektur dan interior, setiap warna dapat menimbulkan kesan berbeda-beda terhadap keberadaan sebuah ruang. Seperti kesan gelap dan terang yang dapat memengaruhi keberadaan sebuah ruangan.

7. Pola (Pattern)

Pola adalah desain dekoratif yang digunakan secara berulang. Pola juga dapat disebut sebagai susunan dari sebuah desain yang sering ditemukan pada sebuah objek. Motif garis horizontal akan memperluas kesan ruangan, sedangkan motif garis vertikal akan meninggikan kesan ruangan.

8. Tekstur (Texture)

Tekstur adalah nuansa, penampilan, ataupun konsistensi permukaan atau zat.

Tekstur juga berkaitan dengan material dan bahan yang digunakan. Material kayu akan menghangatkan ruangan, sedangkan material batu akan mendinginkan ruangan.

(21)

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulannya adalah bahwa secara simultan pencapaian kompetensi keterampilan administrasi server jaringan dan pelaksanaan prakerin memberikan konstribusi sebesar 44,1%

(2006), “Analisis faktor psikologis konsumen yang mempengaruhi keputusan pembelian roti merek Citarasa di Surabaya”, skripsi S1 di jurusan Manajemen Perhotelan, Universitas

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, secara umum siswa mengaku bahwa memikirkan konsep tentang momen inersia sangat penting dalam memahami soal yang diberikan,

Kemampuan ice breaking tidak sekedar menjalankan permainan-permainan, namun juga penting untuk memilih kata-kata yang menarik dan tepat untuk menciptakan peserta yang

Penelitian ini bertujuan mengetahui pola konsumsi pangan keluarga karyawan di PT Perkebunan Nusantara lV Unit Usaha Kebun Ajamu sehingga dapat dilihat bagaimana

“informasi adalah data yang telah diolah yang mempunyai nilai guna atau manfaat bagi sipemakai dalam proses pengambilan keputusan atau informasi atau output dari

24 Dalam pendekatan cross sectional ini menghubungkan antara dua faktor atau variable yaitu variabel bebas ( Karakteristik responden, Pengetahuan, Sikap, Kelompok

Tujuan dari kegiatan pemanena yaitu untuk memanen hasil hutan dari investasi tanaman (Acacia mangium) selama 5 tahun berupa kayu sesuai dengan standar yang berlaku dan nanti