1
PENYULUHAN HUKUM DAN
KONSULTASI BANTUAN HUKUM
1Oleh :
Dr. I Dewa Made Suartha, SH., MH.
I PENDAHULUAN
Bertolak dari tor yang diberikan oleh panitia workshop diatas, maka permasalahan senteral yang menjadi tema workshop ini adalah bagaimana pemahaman hukum atau undang-undang bagi masyarakat dan peningkatan pengetahuan hukum terhadap masyarakat atau bagaimana pemahaman keberadaan hukum bagi masyarakat di Indonesia?. Hal ini dapat dilakukan melalui salah satu cara sebagai berikut :
1. Penyuluhan hukum, yaitu menyampaikan materi (Hukum atau Undang- undang tertentu) secara langsung kepada masyarakat (tertentu) berbentuk ceramah dan diskusi dengan bahasa yang lumrah/sederhana/mudah dingerti serta dengan harapan kepada masyarakat yang sebelumnya tidak tahu/kurang mengetahui hukum, pada akhirnya akan mengetahui materi hukum yang telah disuluhkan.
1 Disampaikan pada “Workshop Penyusunan Pedoman Penyuluhan Hukum dan Konsultasi Bantuan Hukum”, yang diselenggarakan oleh Jurusan Hukum Fakultas Dharma Duta, Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, tanggal 24- 25 Juli 2017.
2
Misalnya : tentang Undang-Undang/Hukum Perkawinan, Undang-undang Kekerasan di dalam Rumah Tangga dan lain-lain.
2. Konsultasi Hukum, yaitu pemberian konsultasi hukum kepada seseorang/masyarakat yang mohon konsultasi hukum dari ahli hukum/konsultan hukum/Advokat/pengacara/penasehat hukum/para legal berupa materi hukum dengan harapan memproleh pendapat hukum (legal opinition) yang dikonsultasikan.
Misalnya : tentang kasus/perkara perceraian, kasus/perkara perselingkuhan dan lain-lain.
3. Bantuan Hukum, yaitu pemberian bantuan hukum kepada seseorang/badan hukum/masyarakat yang memohon/memerlukan bantuan hukum terhadap permasalahan hukum yang sedang dihadapinya dari seorang/lebih ahli hukum/Advokat/pengacara/penasehat hukum, dengan harapan agar memproleh pendapat hukum (legal opinition) dan atau penyelesaian hukum. Misalnya : dalam kasus/perkara perdata, kasus/perkara pidana dan lain-lain.
Pemahaman materi tersebut di atas, dapat dilkukan baik itu di luar maupun di dalam pengadilan kecuali penyuluhan hukum sudah dapat dipastikan hanya dapat dilakukan di luar sidang pengadilan. Namun kegiatan penyuluhan hukum dan konsultasi bantuan hukum dapat dilaksanakan melalui pengabdian kepada
3
masyarakat melalui konteks kebutuhan kegiatan tersebut, seperti lembaga negeri, swasta, LSM, dan pribadi.
Perguruan tinggi di Indonesia telah biasa melakukan pengabdian kepada masyarakat bahkan sebagai suatu keniscayaan di dalam menyeimbangkan antara teori dan praktek di lapangan (masyarakat) dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan dan mempersiapkan kelulusan yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk hal itu, maka dikeluarkanlah Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada Pasal 20 ayat (2) yang menyatakan bahwa “Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Laboratorium Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana, sejauh ini telah menerjemahkan amanat tersebut dengan melakukan kegiatan berupa konsultasi, advokasi, non litigasi, dan litigasi terhadap masyarakat kurang mampu yang membutuhkan keadilan (justitiabelen).
Keberadaan Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum di Perguruan Tinggi Indonesia sangat penting sekali, karena sebagai salah satu Laboratorium Hukumnya Fakultas Hukum yang berfungsi untuk melatih praktek kemahiran dansekaligus memberikan pelayanan hukum bagi masyarakat yang kurang mampu, adalah sangat sesuai sekali dengan Surat Mahkamah Agung Nomor:
MA/SEK/034/II/2003 tentang Ijin Praktek Konsultasi dan Bantuan Hukum bagi
4
Lembaga Bantuan Hukum Fakultas/Sekolah Tinggi Hukum yang diajukan kepada Ketua Pengadilan Tinggi di seluruh Indonesia.
Hal ini telah sesuai pula dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada Pasal 20 ayat (3) menyebutkan:
“Perguruan Tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan vokasi”. Sementara itu pada Pasal 21 ayat (1) menegaskan bahwa ”Perguruan Tinggi yang memenuhi persyaratan pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan tertentu dapat memberikan gelar akademik, profesi, atau vokasi sesuai dengan program pendidikan yang diselenggarakannya”.
Bertolak dari uraian diatas, Perguruan Tinggi dapat melakukan penyuluhan hukum, konsultasi, dan bantuan hukum sebagai salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu melasanakan pengabdian masyarakat. Namun hal ini menjadi terhalang dengan lahirnya Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang
“Advokat” yang dalam Pasal 31 menyebutkan;”Setiap orang yang dengan sengaja menjalankan pekerjaan profesi Advokat dan bertindak seolah-olah sebagai advokat, tetapi bukan Advokat sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)”. Dengan demikian, maka
5
permasalahan penyluhan hukum, konsultasi, dan bantuan hukum sangat penting (urgent) dibahas dalam workshop ini.
II PEMBAHASAN
1. Penyuluhan Hukum
Istilah/pengertian penyuluhan berasal dari kata “suluh” yang artinya lampu penerangan di kala/ waktu tidak ada penerangan lain (seperti listrik sekarang ini), maka untuk menerangi kegelapan ini digunakanlah lampu (sejenis lampu sentir/lilin) yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kata suluh kemudian difersonifikasikan menjadi penyuluhan, karena mendapat awalan” pe” dan akhiran
“an” sehingga menjadi kata kerja penyuluhan. Ini berarti bahwa melakukan penyuluhan adalah suatu pekerjaan (mulia) yang memberikan penerangan (kejelasan) dari kegelapan (dari tidak tahu/tidak mengetahui menjadi tahu/mengetahui).
Adapun dasar hukum bagi Fakultas dalam mengadakan kegiatan penyuluhan hukum adalah dalam rangka mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi khususnya bidang Pengabdian Masyarakat sebagai aktualisasi dari Pasal 20 ayat (2) Undang- undang Nomor 20 Tahun 2003 yang menyatakan, bahwa”Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian
6
masyarakat”. Laboratorium Hukum Fakultas Hukum Universitas Udayana sejauh ini telah menerjemahkan amanat tersebut, dengan membentuk unit-unit kemahiran hukum, seperti: Litigasi, Non Litigasi, dan LKBH.
1. Litigasi, mengkoordinir mata kuliah-mata kuliah praktek yang diimplementasikan dalam peradilan semu (moot court) yang melakukan proses peradilan apa adanya seperti yang sebenarnya dalam penegakan hukum yang dilakukan oleh para penegak hukum dalam proses peradilan.
Hal ini sudah merupakan komunitas pembentukan karakter seorang ahli hukum. Adapun nama komunitasnya adalah UMCC (Udayana Moot Court Community) untuk tingkat Nasional dan ALSA (Asean Law Sociaty Association) untuk tingkat Asia dan Internasional. Kedua komunitas ini telah
berkibar dalam lomba/kompetisi moot-court/peradilan semu dan beberapa kali telah menjadi juara baik pada tingkat Nasional maupun Internasional.
2. Non Litigasi, mengkoordinir mata kuliah-mata kuliah yang berkaitan dengan perancangan perundang-undangan, pembuatan kontrak dan lain-lain.
3. LKBH (Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum), mengkoordinier matakuliah-kuliah, bantuan hukum, ketrampilan litigasi, ADR, dan lain-lain serta memberikan konsultasi hukum pada masyarakat dan bantuan hukum pada masyarakat yang tidak mampu.
7
Adapun kualifikasi seorang penyuluh adalah mempunyai kemampuan dasar (expert) di bidangnya. Tidak ada ketentuan yang membatasi atau menentukan keahliannya, bukan berarti bebas seenaknya melainkan sebaiknya sesuai dengan topik dan kemampuannya terhadap topik yang disuluhkan.
Dan masyarakat sasaranpun sebaiknya telah ditentukan, terutama yang berkaitan dengan suatu institusi/lembaga negeri maupun swasta dengan jumlah juga telah ditentukan/disepakati. Sebaiknya sebelumnya telah dilakukan survey permulaan untuk menentukan peserta/masyarakat sesuai dengan materi yang dibutuhkannya. Sebagai contoh masyarakat yang akan disasar adalah: Dharma Wanita/PKK, Muda-mudi, Remaja, dan lain-lain.
Tujuan dan sasaran penyuluhan hukum adalah :
1. Untuk memberikan pemahaman kepada peserta/masyarakat yang diberikan penyuluhan hukum mengenai materi yang di disuluhkan/diberikan dan mengetahui keadaan peserta/masyarakat terkait dengan materi yang diberikan. (materi yang dibutuhkan, karena terhadap materi tersebut betul-betul belum diketahui oleh masyarakat yang bersa ngkutan).
8
2. Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi peserta/masyarakat dalam materi penyuluhan yang dialaminya sebelum dan sesudah penyuluhan hukum ini.
3. Untuk meningkatkan kedasaran hukum peserta/masyarakat akan arti pentingnya materi yang telah disuluhkan tersebut.
Syarat melaksanakan kegiatan penyuluhan hukum adalah tidak ada ketentuan yang mewajibkan sesuatu, namun secara etika-moral masalah situasi dan kondisi wajib menjadi pertimbangan utama oleh karena itu harus ada data awal (survey awal) yang memberikan diskripsi tentang mengapa penyuluhan hukum harus dilakukan di tempat tersebut.
2. Konsultasi Hukum
Ada dua pihak dalam konsultasi hukum, yaitu pihak yang berkonsultasi dan pihak yang memberikan konsultasi (hukum) yang bertujuan bahwa pihak yang berkonsultasi (menyerahkan dokumen atau tidak/tanpa dokumen) dengan harapan akan mendapat jawaban berupa pendapat hukum (legal opinition) dari pihak yang memberikan konsultasi.
Dasar hukum bagi Fakultas mengadakan konsultasi hukum adalah Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam Pasal 20 ayat (3) yang menyatakan;”Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan vokasi”. Sementara itu pada
9
Pasal 21 ayat (1) menegaskan “Perguruan Tinggi yang memenuhi persysaratan pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan tertentu dapat memeberikan gelar akademik, profesi, atau vokasi sesuai dengan program pendidikan yang diselenggarakannya”. Berdarkan kedua pasal itu, sesungguhnya proses penyelenggaraan pendidikan Fakultas Hukum yang sudah terakreditasi oleh Depertemen Pendidikan Nasional dengan status layak (Status A, B, dan C) secara legal dan sah memiliki otoritas dan kewenangan untuk menyelenggarakan pendidikan profesi hukum, sehingga laya pula untuk membentuk lembaga yang memberikan konsultasi hukum.
Dengan kata lain kualifikasi pemberi konsultasi hukum adalah sebaiknya telah memproleh gelar sarjana hukum untuk menghindari permasalahan dan kerugian bagi yang memimnta konsultasi hukum. Artinya pemberi konsultasi hukum adalah seorang ahli hukum atau sekurang-kurangnya yang telah bergelar sarjana hukum. Bagaimana kalau mahasiswa hukum memberikan konsultasi hukum kepada masyarakat, maka terhadap hal ini tidak ada masalah namun sebaiknya didampingi oleh dosen pendamping/pembimbing.
Mengenai masyarakat yang menjadi sasaran konsultasi hukum tidak ada ketentuan yang mengatur, tergantung kepada yang membutuhkan untuk diberikan konsultasi. Karena yang mohon konsultasi hukum yang bertujuan untuk memproleh pendapat hukum sebagai bahan pertimbangan di dalam menyelesaikan
10
suatu perkara atau untuk pendidikan hukum atau sekedar untuk mengetahui sebagai dokumen hukum.
3. Bantuan Hukum
Bantuan hukum sedikit berbeda dengan penyuluhan hukum dan konsultasi hukum, karena bantuan hukum baru dimulai setelah adanya penyerahan kuasa khusus kepada yang akan dimintai bantuan hukum (seperti: Advokat, Pengacara/Penasehat Hukum). Oleh karena itu bantuan hukum sudah pasti akan ada konsultasi hukum, akan tetapi sebaliknya dalam konsultasi hukum secara yuridis belum tentu ada bantuan hukum. Penyerahan kuasa khusus dapat dilakukan di Kantor Nonaris, Kantor Advokat/Pengacara, dan Pengadilan.
Mengapa harus dengan kuasa khusus, karena penyerahan kuasa hanya terhadap bidang obyek tertentu saja, missal : perkara perceraian, hutang-piutang, pencurian, keputusan tata usaha Negara, dan lain-lain.
Secara teori hukum bentuk-bentuk bantuan hukum adalah a). Bantuan hukum litigasi, yakni bantuan hukum di dalam pengadilan sebalinya b). Bantuan hukum non litigasi yakni bantuan hukum di luar pengadilan. Sedangkan jenis- jenis/macam-macam bantuan hukum, meliputi : 1). Legal aid yaitu hukum secara cuma-cuma/gratis; 2). Legal Asistance yaitu bantuan hukum dengan bantuan
11
horarium; dan 3). Legal service yaitu bantuan hukum yang lebih bersifat pelayanan dan pendidikan.
Dasar hukum bagi Fakultas Hukum untuk memberikan bantuan hukum adalah sebagai salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pengabdian masyarakat sebagaimana telah terungkap pada uraian di dalam paragraf No.1 penyuluhan hukum dan pragraf No.2 konsultasi hukum dengan merujuk pada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam Pasal 20 ayat (2) menyatakan;”Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat”. Pasal 20 ayat (3) menyatakan; “Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan vokasi”. Sedangkan Pasal 21 ayat (1) menegaskan bahwa;”Perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan tertentu dapat memberikan gelar akademik, profesi, atau vokasi sesuai dengan program pendidikan yang diselenggarakannya”.
Selanjutnya dilengkapi lagi dengan keberadaan Bantuan hukum di Perguruan Tinggi sebagai Laboratorium Hukumnya Fakultas Hukum yang berfungsi untuk melatih praktek kemahiran hukum dan sekaligus berfungsi memberikan pelayanan hukum bagi masyarakat yang kurang mampu, adalah sangat sesuai dengan Surat Mahkamah Agung Nomor MA/SEK/034/II/2003
12
tentang Ijin Praktek Bantuan Hukum bagi Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) pada Fakultas/Sekolah Tinggi Hukum yang ditujukan kepada Ketua PengadilanTinggi di seluruh Indonesia. Ini berarti semua dosen diijinkan untuk memberikan penyuluhan hukum, dan konsultasi hukum, kecuali dosen yang berpraktek memberikan konsultasi dan bantuan hukum harus telah mendapat ijin praktek/sebagai pengacara praktek dari Pengadilan Tinggi setempat. Dan Masyarakat yang memproleh bantuan hukum hanyalah masyarakat yang tidak mampu/miskin dengan surat keterangan dari Kepala Desa/Lurah setempat.
Sedangkan honorarium untuk bantuan hukum tersebut diberikan oleh Pengadilan/Menteri Keuangan/bantuan dari Pemerintah daerah, dan lain-lain.
Dengan lahirnya Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang
“Advokat”, maka kegiatan pembelajaran/praktek hukum yang telah biasa dilakukan sebagaimana tersebut diatas menjadi terhenti, seperti kena serangan struk yang mendadak dan semua proses pembelajaran hukum menjadi vacuum.
Karena di dalam Pasal 31 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat tersebut diatas, menyebutkan: ”Setiap orang yang dengan sengaja menjalankan pekerjaan Advokat dan bertindak seolah-olah sebagai advokat, tetapi bukan Advokat sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.
50.000.000,- (lima puluh juta rupiah)”.
13
Sebelum lahirnya Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003, Laboratorium Hukum Fakultas Hukum, di bidang/unit Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum sebagai Institusi nir laba (non profit oriented) telah memainkan peran penting di dalam advokasi hukum kepada masyarakat yang tidak mampu, baik dalam bentuk litigasi maupun non litigasi.
Mengingat Undang-undang advokat tersebut telah mengganggu proses pembelajaran Fakultas Hukum dan bertentangan dengan konstitusi serta sangat diskriminatif, bertentangan dengan isi rumusan Pasal 28C ayat (1); (2), dan Pasal 28D ayat (1);(3) serta Pasal 281 ayat (2) Perubahan UUD 1945. Adapun bunyi Pasal 28C ayat (1) adalah; ”Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memproleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahtraan umat manusia”.
Sedangkan pada ayat (2) berbunyi; ”Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya. Selanjutnya Pasal 28D ayat (1) menegaskan;
”Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di depan hukum”. Sedangkan pada ayat (3),menyebutkan;”Setiap warga negara berhak memproleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan”. Dan Pasal 28I ayat (2) menegaskan;”Setiap orang bebas
14
dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu”.
Bertolak dari uraian diatas, maka dilakukanlah uji materiil atas Pasal 31 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, karena telah bertentangan dengan UUD 1945 tersebut diatas. (dalam Pasal 28C ayat (1);(2);
dan Pasal 28D ayat (1); (3) serta Pasal 281 ayat (2) Perubahan ke-2.
Dalam amar putusan Mahkamah Konstitusi terhadap permohonan uji materiil Pasal 31 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat yang diputus pada Hari Senin, tanggal 13 Desember 2004 (dalam Perkara Nomor 006/PUU-II/2004),menyatakan :
1. Menyatakan Pasal 31 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat bertentangan dengan UUD 1945;
2. Menyatakan Pasal 31 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat; dan
3. Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya.
Dengan putusan tersebut diatas, maka ketentuan Pasal 31 yang melarang selain advokat bertindak seperti advokat sudah tidak mengikat dan mengembalikan proses pembelajaran peradilan dalam mata kuliah praktek dan
15
memberikan penyuluhan, konsultasi serta bantuan hukum dapat dilakukan seperti sebelum berlakunya Undang-undang advokat tersebut.
III PENUTUP
Bertolak dari uraian pendahuluan dan pembahasan diatas, maka dapatlah ditarik simpulan dan saran sebagai berikut :
a. Simpulan
1. Penyuluhan hukum, sebagai media pengabdian masyarakat dari tim penyuluh (ahli hukum/para legal) yang bertujuan untuk memberikan penjelasan (membuat terang) terhadap suatu materi hukum/undang-undang tertentu kepada masyarakat tertentu sesuai dengan kesepatan yang telah disepakati sebelumnya.
2. Konsultasi hukum, sebagai media (ia/tidak pengabdian masyarakat) yang bertujuan memproleh pendapat hukum dari informasi hukum (tentang isu hukum/perkara/kasus hukum) oleh klien/masyarakat sebelumnya kepada ahli hukum/advokat.
3. Bantuan hukum, sebagai media pendampingan dan atau atas nama klien yang sedang menghadapi masalah hukum (perdata, pidana dan lain-lain)
16
baik itu di luar maupun di dalam sidang pengadilan. Dalam bantuan hukum pasti ada surat kuasa khusus dari klien/masyarakat untuk ahli hukum/advokat dan bantuan hukum pasti ada konsultasi, sebaliknya dalam media konsultasi pasti tidak ada bantuan hukum.
b. Saran
Secara yuridis formal penyuluhan hukum dan konsultasi hukum belum diatur, sehingga wajib segera dibentuk perundang-undang yang mengatur kedua media tersebut. Sedangkan mengenai bantuan hukum telah diatur secara tegas, namun masih ada undang-undang secara parsial mengatur tentang bantuan hukum, sehingga sulit di dalam penerapannya. Oleh karena itu sebaiknya ketiga media penyuluhan hukum, konsultasi hukum dan bantuan diatur secara satu-kesatuan karena berkaitan satu dengan yang lainnya.
17
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, 1983, Aspek-aspek Bantuan Hukum di Indonesia, Cendana Press, Jakarta.
Adnan Buyung Nasution, 2007, Sejarah Bantuan Hukum Dalam Bantuan Hukum Akses Masyarakat Marjinal Terhadap Keadilan, LBH,Jakarta.
Bambang Sunggono dan Aries Harianto, 2001, Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia, CV.Mandar Maju, Bandung.
Goldie Cassandra, 2006, ‘Legal Aid and Access to Justice in Australia;The Role of Legal Aid to Promote Access to Justice for Marginalized in The Context of Human Rights”
I Dewa Made Suartha, 2016, Buku Ajar Konsultasi dan Bantuan Hukum, Laboratorium Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Udayana, Denpasar.
18 CONTOH : FORMAT LAPORAN AKHIR
DAFTAR ISI
LEMBAR IDENTITAS PENGESAHAN……….
ABSTRACT………..
KATA PENGANTAR………...
DAFTAR ISI………..
BAB I PENDAHULUAN………..
A. Analisa Situasi………
B. Perumusan Masalah………
BAB II TUJUAN DAN MANFAAT……….
A. Tujuan ………...
B. Manfaat………..
BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN………..
A. Realisasi Pemecahan Masalah……….
B. Khalayak sasaran……….
C. Metode Kegiatan……….
BAB IV HASIL KEGIATAN………...
BAB V SIMPULAN DAN SARAN………
A. Simpulan………...
B. Saran……….
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN