Berita Resmi Statistik No. 15/09/53/Th. XX, 14 September 2017 1
BERITA RESMI STATISTIK
BPS PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
No. 15/09/53/Th. XX, 14 September 2017
I NDEKS D EMOKRASI I NDONESIA (IDI) 2016
INDEKS DEMOKRASI INDONESIA (IDI) PROVINSI NTTTAHUN 2016MENGALAMIKE NAIKAN 9,66 POIN DIBANDINGKANDENGAN2015.
1. Perkembangan Indeks Demokrasi Indonesia di Nusa Tenggara Timur 2016
Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Nusa Tenggara Timur Tahun 2016 sebesar 82,49 dari skala 0 sampai 100, angka ini naik 4,02 poin dibandingkan dengan IDI NTT 2015 sebesar 78,47 Kenaikan ini menjadikan tingkat demokrasi Indonesia di NTT bergeser dari kategori “sedang” menjadi kategori
“baik”.
Perkembangan IDI di NTT dari 2011 hingga 2016 mengalami fluktuasi (2011 sebesar 72,34;
2012 sebesar 72,67, 2013 sebesar 73,29, 2014 sebesar 68,81, 2015 sebesar 78,47 dan 2016 sebesar 82,49). Dengan demikian, tingkat demokrasi NTT berdasarkan penghitungan Indeks sejak tahun 2011 hingga 2015 masih berada pada kategori sedang dan berubah menjadi kategori baik pada 2016. Hal ini menunjukkan IDI sebagai sebuah alat untuk mengukur perkembangan demokrasi yang khas Indonesia, memang dirancang untuk sensitif terhadap naik-turunnya kondisi demokrasi. Karena IDI disusun berdasarkan evidence based (kejadian) sehingga potret yang dihasilkan IDI merupakan refleksi realitas yang terjadi.
Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) NTT tahun 2016 mencapai angka 82,49 dalam skala 0 sampai 100. Angka ini naik sebesar 4.02 poin dibandingkan dengan angka IDI 2015 yang sebesar 78,47. Capaian kinerja demokrasi NTT tersebut sudah berada pada kategori “baik”.
Klasifikasi tingkat demokrasi dikelompokkan menjadi tiga kategori: yakni “baik” (indeks > 80),
“sedang” (indeks 60 – 80), dan “buruk” (indeks < 60).
Perubahan dari 2015-2016 dipengaruhi tiga aspek demokrasi yakni (1) Kebebasan Sipil naik 3,06 poin (dari 93,19 menjadi 96,25), (2) Hak-Hak Politik yang naik 9,99 poin (dari 71,69 menjadi 81,68), dan (3) Lembaga-lembaga Demokrasi mengalami penurunan sebesar 4,27 poin (dari 70,73 turun menjadi 66,46).
Metodologi penghitungan IDI menggunakan 4 sumber data yaitu : (1) review surat kabar lokal,
(2) review dokumen (Perda, Pergub, dll), (3) Focus Group Discussion (FGD), dan (4)
wawancara mendalam.
2
Grafik 1. Perkembangan IDI Nusa Tenggara Timur, 2011-201672,34 72,67 73,29
68,81
78,47
82,49
2011 2012 2013 2014 2015 2016
100
80
60
BaiksedangBuruk
0
2. Perkembangan Indeks Aspek IDI
Angka IDI NTT Tahun 2016 merupakan indeks komposit yang disusun dari skor beberapa aspek yakni aspek kebebasan sipil sebesar 96,25 aspek hak-hak politik sebesar 81,68 dan aspek lembaga demokrasi sebesar 66,46.
Grafik 2. Perkembangan Indeks Aspek IDI NTT, 2009-2015
95,55 95,55 96,79
91,06 95,59
85,92
93,19 96,25
51,46
55,89
47,56 50,89
58,83
65,13
71,69
81,68 73,63
68,15
80,97 84,15
72,24
53,12
70,73 66,46
2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
100
80
60 Baik
Sedang
Buruk
0
Secara lebih rinci, pada 2016 distribusi indeks dalam ketiga aspek demokrasi yang diukur terlihat aspek kebebasan sipil dan lembaga demokrasi mengalami kenaikan berturut-turut sebesar 3,06 dan 9,99 poin sedangkan pada aspek lembaga demokrasi terlihat mengalami penurunan sebesar 4,27 poin.
Apabila dimaknai secara kategori “baik”, “sedang”, dan “buruk”, pada 2016 tidak ada lagi indeks aspek yang berkategori “buruk”. Indeks aspek Kebebasan Sipil pada awal pengukuran 2009 sudah
Hak-hak Politik Kebebasan Sipil
Lembaga Demokrasi
Berita Resmi Statistik No. 15/09/53/Th. XX, 14 September 2017 3
mencapai kategori “baik”. Sementara pada aspek Hak-hak Politik sejak 2009 hingga 2013 stabil pada kategori “buruk”. Perubahan signifikan terjadi pada 2014 dan 2015, aspek ini menembus kategori
“sedang”. Pada IDI 2016 aspek Hak-hak Politik terus naik hingga menembus kategori “baik”.
Aspek Lembaga Demokrasi merupakan aspek yang sangat berfluktuatif. Sejak pengukuran pada 2009-2010 masih pada kategori “sedang” kemudian pada 2011-2012 beralih ke kategori “baik”
akan tetapi pada periode hingga 2014 aspek Lembaga Demokrasi sempat turun sampai kategori
“buruk” dan kemudian kembali pada kategori “sedang” di tahun 2015 dan 2016.
3. Perkembangan Indeks Variabel IDI
Menurut nilai indeks variabel IDI 2016 terdapat enam variabel yang mengalami peningkatan indeks, tiga variabel yang tidak berubah nilai indeksnya dan dua variabel mengalami penurunan. Dari enam variabel yang mengalami kenaikan, empat diantaranya meningkat cukup bermakna. Kenaikan terbesar terjadi pada indeks variabel Partisipasi Politik Dalam Pengambilan Keputusan dan Pengawasan. Pada Grafik 3 terlihat lebarnya jarak plot tahun 2015 dengan plot tahun 2016, memperlihatkan variabel tersebut meningkat paling besar, dari kategori sedang tembus menjadi kategori baik, dari 69,57 pada 2015 menjadi 89,13 pada 2016.
Variabel lain yang juga meningkat secara bermakna adalah variabel Kebebasan Berpendapat naik dari 86,12 pada tahun 2015 menjadi 100,00 di tahun 2016 disusul variabel Peran Birokrasi Pemerintah Daerah dari nilai 51,49 di tahun 2015 naik menjadi 65,35 di tahun 2016 dan variabel Kebebasan Dari Diskriminasi dari nilai 85,43 di tahun 2015 naik menjadi 96,53 pada 2016. Selebihnya meningkat tidak cukup bermakna, nilai indeks relatif tetap. Angka perkembangan indeks variabel secara rinci dapat dilihat pada Tabel 1.
Grafik 3. Perkembangan Indeks Variabel IDI NTT, 2015-2016
Pada Grafik 3 dapat diketahui variabel Peran Partai Politik menurun sangat tajam sebesar
38,12 poin dari 71,43 pada 2015 menjadi 33,31 pada 2016. Akibat penurunan tersebut, kategori indeks
variabel Peran Partai Politik merosot dari kategori “sedang” menjadi “buruk”.
4 4. Perkembangan Skor Indikator IDI
Pada IDI 2016, dari 28 indikator terdapat 16 yang mencapai kinerja kategori “baik” (skor di atas 80), meliputi:
a. Indikator 1, Ancaman/Penggunaan Kekerasan oleh Aparat Pemerintah yang Menghambat Kebebasan Berkumpul dan Berserikat,
b. Indikator 2, Ancaman/Penggunaan Kekerasan oleh Masyarakat yang Menghambat Kebebasan Berkumpul dan Berserikat,
c. Indikator 3, Ancaman Kekerasan Atau Penggunaan Kekerasan Oleh Aparat Pemerintah Yang Menghambat Kebebasan Berpendapat
d. Indikator 4, Ancaman Kekerasan Atau Penggunaan Kekerasan Oleh Masyarakat Yang Menghambat Kebebasan Berpendapat
e. Indikator 5, Aturan Tertulis yang Membatasi Kebebasan Menjalankan Ibadah Agama, f. Indikator 6, Tindakan/Pernyataan Pejabat yang Membatasi Kebebasan Menjalankan Ibadah
Agama,
g. Indikator 7, Ancaman Kekerasan Atau Penggunaan Kekerasan Dari Satu Kelompok Masyarakat Terhadap Kelompok Masyarakat Lain Terkait Dengan Ajaran Agama
h. Indikator 8, Aturan Tertulis yang Diskriminatif dalam Hal Gender, Etnis, dan Kelompok, i. Indikator 9, Tindakan/Pernyataan Pejabat yang Diskriminatif dalam Hal Gender, Etnis, dan
Kelompok,
j. Indikator 10, Ancaman/Penggunaan Kekerasan oleh Masyarakat Karena Alasan Gender, Etnis, dan Kelompok,
k. Indikator 11, Hak Memilih atau Dipilih Terhambat,
l. Indikator 17, Pengaduan Masyarakat Terkait Penyelenggaraan Pemerintahan m. Indikator 18, Keberpihakan KPUD dalam Penyelenggaraan Pemilu,
n. Indikator 19, Kecurangan dalam Penghitungan Suara, o. Indikator 27, Keputusan Hakim yang Kontroversial, dan
p. Indikator 28, Penghentian Penyidikan yang Kontroversial oleh Jaksa atau Polisi.
Meskipun demikian, masih terdapat juga kinerja indikator demokrasi yang berkategori “buruk” (skor di bawah 60) di tahun 2016. Indikator-indikator yang termasuk dalam kategori tersebut adalah:
a. Indikator 15, Persentase Perempuan Terpilih terhadap Total Anggota DPRD Provinsi, b. Indikator 20, Alokasi Anggaran Untuk Pendidikan
c. Indikator 21, Perda yang Merupakan Inisiatif DPRD, d. Indikator 22, Rekomendasi DPRD Kepada Eksekutif,
e. Indikator 23, Kegiatan Kaderisasi yang Dilakukan Peserta Pemilu, dan f. Indikator 26, Upaya Penyediaan Informasi APBD oleh Pemerintah Daerah.
Indikator-indikator tersebut di atas memerlukan perhatian khusus dari semua pihak agar nilainya dapat membaik.
5. Perkembangan IDI Provinsi
Berita Resmi Statistik No. 15/09/53/Th. XX, 14 September 2017 5
Terdapat empat provinsi yang berkategori “baik”. Posisi pertama ditempati oleh DI Yogyakarta yang naik dari 83,19 pada 2015 menjadi 85,58 pada 2016. Tiga provinsi lainnya adalah Kepulauan Bangka-Belitung naik dari 72,31 pada 2015 menjadi 83,00 pada 2016, Nusa Tenggara Timur naik dari 78,47 pada 2015 menjadi 82,49 pada 2016, dan Sumatera Selatan yang naik dari 79,81 pada 2015 menjadi 80,95 pada 2016 (lihat Tabel 2). Sedangkan sebanyak 29 provinsi lainnya berada dalam kategori “sedang”. Hal ini mengindikasikan kinerja demokrasi yang cukup merata di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Meskipun demikian, dibandingkan tahun 2015, nilai IDI di 15 provinsi mengalami penurunan.
Penurunan IDI terbesar terjadi di Provinsi DKI Jakarta yang turun 14,47 poin dari 85,32 pada 2015 menjadi 70,85 pada 2016. Provinsi lainnya yang juga menurun cukup tajam adalah Provinsi Sumatera Barat yang turun 13,05 poin dari 67,46 pada 2015 menjadi 54,41 pada 2016. Penurunan ini menyebabkan Sumatera Barat menjadi satu-satunya provinsi pada tahun 2016 yang masuk dalam kategori “buruk”.
6. Penjelasan Teknis
Pembangunan demokrasi dan politik merupakan hal yang penting dan terus diupayakan oleh pemerintah. Namun, untuk mengukur pencapaiannya baik di tingkat daerah maupun di tingkat pusat bukan sesuatu hal yang mudah. Pembangunan demokrasi memerlukan data empirik untuk dapat dijadikan landasan pengambilan kebijakan dan perumusan strategi yang spesifik dan akurat. Untuk memberikan gambaran mengenai perkembangan demokrasi politik di Indonesia maka sejak tahun 2009, Badan Pusat Statistik (BPS) bersama stakeholder lain seperti Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (KEMENKOPOLHUKAM), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Kementerian Dalam Negeri (KEMENDAGRI), dan Tim Ahli yaitu Prof. Maswadi Rauf (UI), Prof. Musdah Mulia (UIN Syarif Hidayatullah), Dr. Syarif Hidayat (LIPI), dan Dr. Abdul Malik Gismar (Universitas Paramadina) merumuskan pengukuran Indeks Demokrasi Indonesia (IDI).
IDI adalah indikator komposit yang menunjukkan tingkat perkembangan demokrasi di Indonesia. Tingkat capaiannya diukur berdasarkan pelaksanaan dan perkembangan tiga aspek demokrasi, yaitu Kebebasan Sipil (Civil Liberty), Hak-Hak Politik (Political Rights), dan Lembaga- Lembaga Demokrasi (Institution of Democracy).
IDI bertujuan untuk mengukur secara kuantitatif tingkat perkembangan demokrasi. Dari indeks tersebut akan terlihat perkembangan demokrasi sesuai dengan ketiga aspek yang diukur. Di samping level nasional, IDI juga dapat memberikan gambaran perkembangan demokrasi di provinsi-provinsi seluruh Indonesia. IDI tidak hanya melihat gambaran demokrasi yang berasal dari sisi kinerja pemerintah/birokrasi saja. Namun juga melihat perkembangan demokrasi dari aspek peran masyarakat, lembaga legislatif (DPRD), partai politik, lembaga peradilan dan penegak hukum. Oleh karena itu, perkembangan IDI merupakan tanggung jawab bersama semua stakeholder, tidak hanya pemerintah saja.
Komponen Penghitungan IDI 2009 – 2016
6
Aspek Variabel Indikator *)
1. Kebebasan Sipil 1. Kebebasan Berkumpul dan Berserikat 2 indikator
2. Kebebasan Berpendapat 2 indikator
3. Kebebasan Berkeyakinan 3 indikator
4. Kebebasan dari Diskriminasi 3 indikator 2. Hak-Hak Politik 5. Hak Memilih dan Dipilih 5 indikator
6. Partisipasi Politik dalam Pengambilan
Keputusan dan Pengawasan Pemerintahan 2 indikator 3. Lembaga
Demokrasi
7. Pemilu yang Bebas dan Adil 2 indikator
8.Peran DPRD 3 indikator
9. Peran Partai Politik 2 indikator
10. Peran Birokrasi Pemerintah Daerah 2 indikator 11. Peradilan yang Independen 2 indikator
Catatan: *) = rincian indikator dapat dilihat pada Tabel 2
Pengumpulan data IDI mengkombinasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif sebagai tahapan yang saling melengkapi. Pada tahap pertama data kuantitatif dikumpulkan dari koding surat kabar dan dokumen tertulis seperti Perda atau peraturan dan surat keputusan kepala daerah, yang sesuai dengan indikator-indikator IDI. Temuan-temuan tersebut kemudian diverifikasi dan dielaborasi melalui Focus Group Discussion (FGD) sebagai tahap pengumpulan data kedua, sekaligus menggali kasus- kasus yang tidak tertangkap di koding surat kabar/dokumen. Pada tahap ketiga data-data yang telah terkumpul tersebut diverifikasi melalui wawancara mendalam dengan nara sumber yang kompeten memberikan informasi tentang indikator IDI. Semua tahapan pengumpulan data dilakukan oleh BPS Provinsi, diolah di BPS RI, dan diverifikasi oleh Dewan Ahli beserta mitra kerja lain pada semua tahapannya
Penghitungan IDI melalui tiga tahapan proses yakni pertama, menghitung skor akhir untuk setiap indikator; kedua, menghitung indeks provinsi; dan ketiga, menghitung indeks keseluruhan atau IDI Nasional. Ketiga tahapan ini secara hierarkis terkait satu dengan yang lain. Skor masing-masing indikator IDI (28 indikator) di setiap provinsi memberikan kontribusi dalam penghitungan indeks 11 variabel IDI, selanjutnya indeks 11 variabel memberikan kontribusi terhadap penghitungan indeks tiga aspek IDI. Komposit indeks ketiga aspek IDI inilah yang merefleksikan indeks demokrasi di masing- masing provinsi. Dan pada akhirnya komposit indeks provinsi menentukan IDI Nasional.
Untuk menggambarkan capaian tingkat demokrasi dalam IDI digunakan skala 0 – 100. Skala ini
merupakan skala normatif di mana 0 adalah tingkat terendah dan 100 adalah tingkat tertinggi. Tingkat
terendah (nilai indeks = 0) secara teoretik dapat terjadi bila semua indikator mendapatkan skor yang
paling rendah (skor 0). Sebaliknya, tingkat tertinggi (nilai indeks = 100) secara teoritik dimungkinkan
apabila seluruh indikator memperoleh skor tertinggi. Selanjutnya, untuk memberi makna lebih lanjut
dari variasi indeks yang dihasilkan, skala 0 – 100 tersebut dibagi ke dalam tiga kategori tingkat
demokrasi, yakni “baik” (indeks > 80), “sedang” (indeks 60 – 80), dan “buruk” (indeks < 60).
Berita Resmi Statistik No. 15/09/53/Th. XX, 14 September 2017 7 Tabel 1: Perkembangan Indeks Aspek, Variabel dan Skor Indikator IDI 2015-2016
o ASPEK / VARIABEL / INDIKATOR 2015 2016
A. KEBEBASAN SIPIL (CIVIL LIBERTIES) 93.19 96.25
I. Kebebasan berkumpul dan berserikat 100.00 100.00
1 Ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan oleh aparat pemerintah yang menghambat kebebasan berkumpul dan berserikat
100.00 100.00 2 Ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan oleh masyarakat yang menghambat
kebebasan berkumpul dan berserikat
100.00 100.00
II. Kebebasan berpendapat 86.12 100.00
3 Ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan oleh aparat pemerintah yang menghambat kebebasan berpendapat
83.33 100.00 4 Ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan oleh masyarakat yang menghambat
kebebasan berpendapat
100.00 100.00
III. Kebebasan berkeyakinan 96.52 95.01
5 Aturan tertulis yang membatasi kebebasan atau mengharuskan masyarakat dalam menjalankan agamanya
100.00 100.00 6 Tindakan atau pernyataan pejabat Pemerintah yang membatasi kebebasan atau
mengharuskan masyarakat untuk menjalankan ajaran agamanya
100.00 87.50 7 Ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan dari satu kelompok masyarakat terhadap
kelompok masyarakat lain terkait dengan ajaran agama
80.00 80.00
IV. Kebebasan dari diskriminasi 85.43 96.53
8 Aturan tertulis yang diskriminatif dalam hal gender, etnis atau terhadap kelompok rentan lainnya
100.00 100.00 9 Tindakan atau pernyataan pejabat pemerintah daerah yang diskriminatif dalam hal
gender, etnis atau terhadap kelompok rentan lainnya
87.50 87.50 10 Ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan oleh masyarakat karena alasan gender,
etnis atau terhadap kelompok rentan lainnya
66.67 100.00
B. HAK-HAK POLITIK (POLITICAL RIGHTS) 71.69 81.68
V. Hak memilih dan dipilih 73.82 74.24
11 Hak memilih atau dipilih masyarakat terhambat 96.79 96.79
12 Kejadian yang menunjukkan ketiadaan/kekurangan fasilitas sehingga kelompok dengan keterbatasan akses tidak dapat menggunakan hak memilih
60.00 60.00
13 Kualitas daftar pemilih tetap (DPT) 75.14 75.14
14 Penduduk yang menggunakan hak pilih dibandingkan dengan yang memiliki hak untuk memilih dalam pemilu (voters turnout)
76.56 76.56
15 Persentase Anggota Perempuan DPRD provinsi 30.77 35.90
VI. Partisipasi Politik dalam Pengambilan Keputusan dan Pengawasan 69.57 89.13
16 Demonstrasi/mogok yang bersifat kekerasan 39.13 78.26
17 Pengaduan masyarakat mengenai penyelenggaraan pemerintahan 100.00 100.00
C. LEMBAGA-LEMBAGA DEMOKRASI (DEMOCRATIC INSTITUTIONS) 70.73 66.46
VII. Pemilu yang bebas dan adil 97.47 97.47
18 Kejadian yang menunjukkan keberpihakan KPUD dalam penyelenggaraan Pemilu 100.00 100.00 19 Kejadian atau pelaporan tentang kecurangan dalam penghitungan suara 94.94 94.94
VIII. Peran DPRD 37.87 38.32
20 Skor alokasi anggaran Pendidikan
51.44 15.16
Skor alokasi anggaran Kesehatan 77.49
21 Perda yang berasal dari hak inisiatif DPRD 0.00 50.00
22 Rekomendasi DPRD kepada eksekutif 21.43 0.00
IX. Peran Partai politik 71.43 33.31
23 Kegiatan kaderisasi yang dilakukan parpol peserta pemilu 71.43 28.57
24 Persentase perempuan pengurus partai politik 71.42 75.97
8
ASPEK / VARIABEL / INDIKATOR 2015 2016
X. Peran Birokrasi Pemerintah Daerah 51.49 65.35
25 Kebijakan pejabat pemerintah daerah yang dinyatakan bersalah oleh keputusan PTUN 63.16 73.68 26 Upaya penyediaan informasi APBD oleh pemerintah daerah/ 47.67 58.33
XI. Peran Peradilan yang independen 100.00 100.00
27 Keputusan hakim yang kontroversial 100.00 100.00
28 Penghentian penyidikan yang kontroversial oleh jaksa atau polisi 100.00 100.00
Berita Resmi Statistik No. 15/09/53/Th. XX, 14 September 2017 9 Tabel 2. Perkembangan Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Aspek dan Provinsi, 2015-2016
Provinsi
IDI 2015 IDI 2016
IDI Aspek
Kebebasan Sipil
Aspek Hak-hak Politik
Aspek Lembaga Demokrasi
IDI Aspek
Kebebasan Sipil
Aspek Hak-hak Politik
Aspek Lembaga Demokrasi
Aceh 67,78 74,81 63,98 64,97 72,48 92,92 63,94 60,33
Sumatera Utara 69,01 82,02 62,17 63,52 67,37 82,71 62,29 56,13
Sumatera Barat 67,46 52,99 69,77 82,01 54,41 51,01 54,33 58,82
Riau 65,83 66,46 66,61 63,80 71,89 71,78 77,98 62,34
Jambi 70,68 75,89 62,12 77,72 68,89 84,39 65,63 54,58
Sumatera Selatan 79,81 96,06 78,79 61,00 80,95 91,17 81,94 66,53
Bengkulu 73,60 78,50 68,45 75,61 74,23 85,14 63,84 77,01
Lampung 65,95 71,99 63,19 62,74 61,00 60,49 59,32 64,31
Kep. Bangka Belitung 72,31 81,25 66,95 69,60 83,00 87,65 81,09 80,20
Kepulauan Riau 70,26 80,16 65,01 66,13 72,84 85,43 71,28 59,48
DKI Jakarta 85,32 89,64 83,19 83,26 70,85 81,11 67,54 63,19
Jawa Barat 73,04 79,10 81,89 51,37 66,82 73,37 72,34 49,79
Jawa Tengah 69,75 79,44 67,28 61,48 66,71 66,06 67,24 66,69
D.I.Yogyakarta 83,19 90,41 77,98 82,38 85,58 90,00 81,59 86,37
Jawa Timur 76,90 85,26 67,44 81,39 72,24 73,73 76,49 63,63
Banten 68,46 74,28 63,72 68,66 71,36 83,47 68,30 60,99
Bali 79,83 94,42 77,42 65,31 78,95 96,94 69,60 71,18
Nusa Tenggara Barat 65,08 51,59 61,11 88,36 65,41 65,06 62,08 71,13
Nusa Tenggara Timur 78,47 93,19 71,69 70,73 82,49 96,25 81,68 66,46
Kalimantan Barat 76,40 96,81 65,57 67,95 75,28 83,29 75,70 64,54
Kalimantan Tengah 73,46 85,07 68,31 67,05 74,77 84,98 70,66 68,43
Kalimantan Selatan 74,76 54,15 85,77 83,17 73,43 61,04 83,58 72,89
Kalimantan Timur 81,24 93,07 82,74 63,99 73,64 78,25 78,35 60,36
Kalimantan Utara 80,16 98,10 83,65 52,05 76,98 100,00 66,64 64,48
Sulawesi Utara 79,40 86,71 77,92 72,53 76,34 96,31 70,42 60,62
Sulawesi Tengah 76,67 94,60 68,85 66,53 72,20 80,39 67,89 68,76
Sulawesi Selatan 67,90 69,38 64,25 71,84 68,53 75,54 61,51 70,86
Sulawesi Tenggara 69,44 91,14 56,95 61,99 71,13 88,07 55,51 74,66
Gorontalo 76,77 81,35 69,97 81,81 77,48 82,35 75,54 74,42
Sulawesi Barat 68,25 81,88 61,16 62,37 72,37 82,89 69,02 64,47
Maluku 65,90 76,04 63,20 57,43 78,20 87,17 76,18 70,13
Maluku Utara 61,52 73,53 61,00 47,25 73,27 92,27 61,79 67,59
Papua Barat 59,97 92,33 39,48 51,81 60,35 93,67 38,05 53,85
Papua 57,55 82,72 41,81 50,87 61,02 92,15 41,13 53,45
INDONESIA 72,82 80,30 70,63 66,87 70,09 76,45 70,11 62,05