• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENJARA TOLEDO & LIRIK-LIRIK MISTIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENJARA TOLEDO & LIRIK-LIRIK MISTIK"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

PENJARA TOLEDO & LIRIK-LIRIK MISTIK (Hidup sebagai Proses Mengalami Allah

Bersama St. Yohanes dari Salib)

Oleh: P. Dr. Chris Surinono, OCD

Biara Novisiat St. Yosep OCD – Bogenga-Bajawa-Flores Email: [email protected]

Pengantar

Hidup itu indah. Bagaikan mawar yang menebarkan aromanya, demikian jugalah seharusnya hidup. Namun keindahan mawar bukan sesuatu yang sekali jadi, melainkan perlu melewati proses panjang dan lama, disertai dengan duri-durinya yang tumbuh kokoh tertancap. Proses yang melelahkan dan duri-duri yang melukai itu akan lenyap dari pandangan ketika kelopak-kelopaknya mulai muncul dan bermekar indah. Itulah hidup.

St. Yohanes dari Salib sudah seperti mawar yang selalu menebarkan aroma wangi bagi Gereja Universal pada umumnya dan Karmel, pada khususnya. Kita bisa belajar darinya, bagaimana hidup dengan cinta sempurna sungguh merupakan kerinduan terdalam relung hati dan gerak batin setiap pribadi.

Yohanes dari Salib: Sebelum dan Sesudah Penjara Toledo

Penjara Toledo bukan hanya diidentikkan dengan St. Yohanes dari Salib melainkan juga menjadi titik rujukan proses kematangan psikologis dan spiritual seorang beriman. St. Yohanes dari Salib bisa memperlihatkan kepada kita bagaimana proses kematangan psikologis dan spiritual yang bisa dicapai dalam hidup yang kontradiktif. Ia berada dalam tahanan biara ini selama 9 bulan, dari Desember 1577-Agustus 1578. Sembilan bulan penuh pergumulan batin antara tidak percaya dan kenyataan yang sedang dialami. Namun apa daya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima dan bergumul dengan kenyataan itu. Demikian juga, St.

Teresa dan teman-teman dari Karmel Tak Berkasut seakan dibuat tak berdaya, meski berbagai upaya diusahakan, termasuk bersurat memohon intervensi dari pihak kerajaan Spanyol. Dalam ketakberdayaan upaya manusiawi itu, Juan de Yepes tidak hilang akal dan patah semangat. Ia beralih kepada Tuhan. Allah menjadi satu-

(2)

satunya tumpuan pengharapan. Berpasrah pada Allah sambil berusaha memetik buah-buahnya bagi pertumbuhan kepribadian dan memperdalam relasinya dengan Allah.

Sambil berlangkah keluar meninggalkan penjara jiwa raganya, ia, dengan penuh sukacita dan damai memadahkan puisi Malam Gelap-nya: “Oh rahmat sukacita! Aku keluar tanpa terlihat, sembari rumahku sudah tenang! Memang ia tenang; seluruh pergumulan hati dan pergulatan batin seakan tertinggal di dalam penjara. Ia pergi dengan lepas bebas, sehingga tak seorang pun dan tak ada apapun yang bisa mengikat dan membuatnya terikat. Penjara menjadi medan menempa diri baik moral maupun spiritual. Penjara justru menjadi momen untuk menjadi manusia baru dan secara baru mengenal diri dan mengenal Allah dan seluruh kerahiman-Nya.

Yohanes dari Salib: Sebelum Dipenjarakan

Yohanes dari Salib sebelum dipenjarakan adalah seorang pribadi dan manusia yang menjalani hidup dan bersesama. Ia bukan malaikat yang sudah menjadi kudus dari kandungan ibu. Kekudusannya diperoleh dari Allah dengan air mata dan keringat. Ia adalah manusia rapuh yang tidak bertumpu pada kerapuhannya itu, melainkan kerapuhan diri menjadi pijakan untuk menyerahkan diri kepada Allah agar kekuatan dan kerahiman-Nya menjadi pendorong dan pemberi orientasi panggilan hatinya. Ia adalah seorang Yohanes yang tetap teguh dengan panggilan hatinya, yakni untuk selalu bersyukur dan membalas kebaikan Allah yang ia terima dan alami dalam hidupnya baik dalam rumah maupun dalam biara Karmel.

Ia sangat beruntung memiliki orang tua yang punya hati baginya. Dari orang tuanya ia belajar bagaimana menjadikan diri hidup yang lebih berarti bagi sesama dan bagi Allah. Keterbatasan ekonomi dan kesulitan sosial yang dialami keluarga tidak menjadi penghalang baginya untuk mengalami kebaikan dan kasih sayang orang tua. Kasih sayang menjadi kekayaan yang melampaui kebutuhan dunia materi.

Kasih sayang orang tua justru menjadi fondasi bagi kesuksesan dalam kerja dan usaha. Juan de Yepes adalah bungsu dari tiga bersaudara: Fransisco dan Luis.

Ayahnya bernama Gonzalo de Yepes, dan Ibunya, Catalina Alvarez (Katarina). Ia lahir di Fontiveros tahun 1542, tanpa tahu pasti tanggalnya. Namun diyakini, ia lahir pada tanggal 24 Juni, pada Hari Raya St. Yohanes Pembaptis. Ayahnya, Gonzalo

(3)

berasal dari keluarga sukses dalam berbisnis dari keturunan Yepes. Sedangkan Catalina Alvarez, dari keturunan sederhana dan tidak sukses. Pernikahan keduanya ditentang oleh keluarga besar Gonzalo. Pertentangan keras ini membuat Gonzalo harus meninggalkan keluarga besarnya dengan seluruh kesuksesan dan warisan keluarga.

Kasih kepada istri dan anak-anaknya lebih mendorongnya untuk bersatu dengan mereka ketimbang berada di garis keturunan. Ia sungguh lebih memilih keluarga kecil meski harus mengalami kesulitan ekonomi dan diabaikan keluarga, dari pada mengabaikan keluarga, untuk lebih memilih nama dan kesuksesan bisnis keluarga. Dalam kasih tulus kepada keluarga inilah, Gonzalo, hidup dan membangun keluarga kecilnya. Kasih itulah yang menjadi kekuatan dan dasar membangun keluarga dalam penderitaan dan keterbatasan materi.

1). Dari Fontiveros sampai Medina del Campo

Penggabungan antara dua wilayah kerajaan, yakni Aragon dan Castilla karena pernikahan Raja Ferdinand dari Aragon dan Isabella dari Castilla membuka ruang yang sangat positif bagi Spanyol untuk menjadi salah satu kerajaan besar di Eropa.

Demikian juga penemuan benua baru, Amerika Latin, menciptakan banyak pergerakan baik di bidang ekonomi, sosial, politik dan keagamaan. Meski demikian, kecerahan secara teritorial dan kekayaan material tidak dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Keluarga Juan de Yepes tidak terkecuali dalam hal ini. Keluarga Yepes-Alvarez juga tidak mengalami kecerahan yang dijanjikan Kerajaan. Pemuda Juan melewati masa kanak-kanak dan masa remaja dalam keterbatasan ekonomi.

Catalina bersama kedua anaknya, Fransisko dan si bungsu Juan harus berpindah daerah untuk mendapatkan hidup yang lebih layak. Mereka berpindah ke Arevalo. Namun tidak diketahui pasti berapa lama mereka tinggal di kota kecil ini.

Harapan keluarga diletakkan pada sang kakak, Fransisko. Fransisko bertumbuh menjadi pemuda pekerja keras demi menafkahi Ibu dan adiknya. Ia kemudian menikah dengan Ana Izquierda, gadis dari wilayah Muriel, sebuah kota kecil dekat Arevalo.

Sebagai akibat situasi ekonomi yang dialami keluarga yang belum stabil, Catalina memutuskan untuk berpindah lagi ke Medina del Campo, sebuah kota yang sudah lebih maju dan menjadi pusat pendidikan dan ekonomi, pada tahun 1551,

(4)

ketika Juan berusia 9 tahun. Rupanya, kepekaan dan kerinduan seorang ibu sungguh diandalkan dalam usaha agar anak-anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Jadi, kota ini dipilih bukan hanya atas pertimbangan ekonomi semata, tapi lebih pada agar anak-anaknya bisa mendapat pendidikan yang lebih baik. Si kecil, Juan menemukan lingkungan yang lebih menjanjikan dari aspek pendidikan dan formasi keagamaan.

Harus diakui bahwa situasi kemiskinan menjadi sekolah yang membentuk dan memberi orientasi hidup bagi Juan dalam mencari Allah dan mengalami kekayaan-Nya. Kekurangan materi merupakan salah satu bagian kecil dari keseluruhan proses yang menuntunnya kepada persatuan dan pengalamannya akan Allah. Situasi eksternal diri menjadi pendorong untuk menemukan jalan mengalami kehadiran Allah.

Oleh karena itu, kita temukan dalam diri Juan bahwa situasi sosial dan kemiskinan material tidak pernah menjadi penghalang dalam jalan pencarian dan pengalaman akan kehadiran Allah yang bekerja dalam diri manusia, melainkan justru lebih sebagai ruang terbaik yang disiapkan Allah untuk membedah dan memberi orientasi hidup dan panggilan, terlebih dalam menemukan dan mengalami Allah yang hadir. Jadi, setelah banyak berdoa dan belajar dari pengalaman bekerja melayani sesama di rumah sakit, Juan tidak lalu memilih hidup membiara dengan para Yesuit, atau menjadi pastor pendamping di rumah sakit itu, tapi justru Karmel yang dipilih untuk menziarahi hidup selanjutnya. Ordo dari Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, menurut keyakinan hatinya, bisa menjadi satu jalan pasti untuk menemukan dan mengalami Allah yang hadir dalam segala situasi hidupnya.

2). Konflik Internal dan Pemisahan Institusional Ordo

a. Pendirian Karmel Tak Berkasut dan Bertemu St. Teresa Avila

Dalam mendirikan Biara Karmel bagi para biarawan dan imam yang mau hidup sesuai cita-citanya, St. Teresa mendapat izin dan restu dari pater general.

Restu dan izinan ini menjadi kekuatan dan hiburan tersendiri bagi Madre Teresa.

Namun tugas berat menanti. Madre Teresa harus mencari rumah untuk biara dan terlebih harus mendapatkan biarawan yang mau bergabung dengan upaya reformasi dan pendiriannya. Dalam penantian penuh harap, Allah justru memberikan jalan keluar. Mari kita kutip apa yang dikatakan oleh Madre Teresa tentang ini: “Beberapa

(5)

saat kemudian, datang seorang pastor berusia muda, yang sedang belajar di Salamanca. Ia datang bersama temannya yang bercerita kepada saya tentang hal luar biasa yang dibuat pastor muda ini. Namanya, Fray Juan de Santo Matias”. St. Teresa terus menceritakan dialog dan wawancara, serta hasil yang didapat. “Saya memuji Tuhan, dan saya bahagia ketika berbicara dengannya; dan saya tahu bagaimana ia ingin bergabung dengan Ordo Kartusian. Saya yakinkan dia tentang apa yang saya rencanakan, dan saya memintanya untuk bersabar sampai Tuhan memberikan kita sebuah biara. Dan akan baik sekali kalau ia tetap dan terus menjadi lebih baik dalam Ordo yang sama; dan akan lebih baik melayani Tuhan. Ia berjanji untuk itu dan berharap untuk tidak menunggu terlalu lama”. Lalu Teresa lanjutkan lagi demikian:

“Ketika saya melihat bahwa sudah ada dua biarawan untuk memulai, saya yakin bahwa urusan ini sudah terlaksana, meskipun saya belum puas dengan Padre Prior, jadi, saya menunda sedikit waktu, dan juga agar saya bisa menemukan di mana harus memulai” (Pendirian 3, 17).

b. Konflik dan Pemisahan Secara Institusional

Usaha St. Teresa bukan tanpa tantangan dan perlawanan. Tantangan bukan saja dari kepala daerah melainkan juga datang dari para biarawan Karmel sendiri.

Meski demikian, pendirian Karmel Tak Berkasut baik untuk para Rubiah maupun bagi para biarawan mulai menyebar di luar wilayah Castilla. Menanggapi situasi itu, Ordo Karmel mengadakan Kapitel Umum yang dilaksanakan pada tanggal 22 Mei 1575 di Piacenza, Italia. Tidak satu orang pun dari anggota Karmel Tak Berkasut hadir pada pertemuan umum ini, karena undangan tiba ketika pertemuan ini sudah hampir selesai. Kapitel Umum Ordo Karmel ini terkenal, karena menjadi awal muncul ke permukaan konflik internal dalam Ordo Karmel.

Menghadapi ketidakhadiran satu orang pun dari anggota Karmel Tak Berkasut (OCD), maka Kapitel memutuskan untuk menghukum dengan memerintahkan agar menutup semua biara Karmel Tak Berkasut yang ada di luar wilayah Castilla, Spanyol. Demikian akta Kapitel ini berbunyi: “Beberapa yang tidak taat, pembangkang, dan yang menamakan diri mereka Tak Berkasut, sudah banyak mendirikan biara di luar wilayah Castilla sudah melanggar izinan dari General Ordo Karmel, yakni di Granada, Sevilla, y La Peñuela. Kepada mereka diperintahkan, di bawah hukum dan otoritas gereja, dan dalam tiga hari, mereka harus meninggalkan

(6)

Ordo, kembali sebagai awam”. Surat Keputusan ini ditandatangani oleh Padre General Ordo Karmel pada saat itu, P. Juan Bautista Rubeo.

Situasi semakin tidak nyaman dan sebaran kebencian kepada para Karmelit Tak Berkasut semakin rumit. Ketika pemilihan priorin Biara Karmel Inkarnasi, bahkan hingga mengekskomunikasikan para suster lainnya yang memilih Sr. Teresa untuk menjadi priorin. Dan para bapa pengakuan, yaitu, Fray Juan de la Cruz dan Fray German de Santo Matias yang dicurigai menjadi pendukung Sr. Teresa, juga diekskomunikasikan dari Ordo. Peristiwa ini bukanlah yang menjadi motif utama dan pertama adanya keputusan melawan dan menentang para Karmelit Tak Berkasut dengan menangkap paksa memenjarakan Fray Juan de la Cruz. Pada tanggal 2 atau 3 Desember 1577, pada malam hari “para pastor Karmel Berkasut dan beberapa awam membawa senjata membuka paksa pintu biara Torrecilla, di mana Fray Juan de la Cruz dan temannya tinggal, dan membawa Fray Juan de la Cruz ke Biara Karmel di Toledo”.

Atas situasi yang semakin tidak kondusif, maka pihak Karmel Tak Berkasut mengadakan Kapitel untuk mengevaluasi keadaan dan mencari jalan. Tahun 1580 di adakanlah Kapitel Karmel Tak Berkasut di Almodovar. Kapitel ini dianggap tidak sah karena OCD belum berdiri sebagai sebuah provinsi yang terpisah dari Ordo Karmel.

Namun pemisahan menjadi alternatif jalan keluar yang bisa menyenangkan semua pihak, meski itu sangat tidak diharapkan oleh St. Teresa sendiri. Pemisahan terjadi setelah banyak diskusi dan pertemuan langsung dengan pihak otoritas tertinggi Gereja Katolik di Roma, dan dengan bantuan besar dari Raja Felipe II. Paus Gregorius, setelah mengetahui rencana Kapitel I OCD, mengirim utusan khusus untuk urusan ini, seorang anggota Ordo Dominikan, Fray Juan de las Cuevas, OP. Ia tiba di Alcala de Henares, tempat dilangsungkan Kapitel yang historis ini, tanggal 3 Maret 1581. Paus Gregorius XIII, dengan Bulla “Pia Consideratione”, tertanggal 22 Juni 1580, merestui pemisahan Karmel Tak Berkasut dari Ordo Karmel (O.Carm), dan pendirian Provinsi independen Ordo Karmel Tak Berkasut (OCD).

Tahun-tahun selanjutnya adalah pembenahan internal Ordo agar dibangun atas dasar spiritualitas yang ditanamkan oleh Ibu Pendiri, Teresa dari Yesus (Avila).

Berturut-turut diadakan Kapitel provinsi sebagai berikut: Kapitel provinsi II, di Almodovar del Campo, Spanyol (1583); Kapitel III, di Lisboa, Portugal (1585), dan dilanjutkan di Pastrana, Spanyol (1585). Kapitel IV di Valladolid, Spanyol (1587).

(7)

Keputusan penting dalam Kapitel Valladolid adalah rencana misi dan perutusan misionaris ke China dan pengajuan ke Vatikan untuk bisa memilih General Ordo, agar bisa ada pemisahan dan pembentukan provinsi baru, baik di wilayah Spanyol, Portugal dan Mexico (Amerika Latin).

Perkembangan Ordo Karmel Teresa ini tak bisa dibendung. Dengan surat keputusan Paus Gregorius dan semangat misionaris yang ditanamkan Ibu Pendiri, para anggota mulai serius memikirkan pengembangan bukan saja ekspansi teritorial, tetapi juga upaya menata cara hidup Karmel yang baru dengan spiritualitas yang ditanamkan oleh Teresa dari Yesus. Sebagai sebuah Institusi religius yang baru dan terus mendapat berbagai tekanan, penataan cara dan pola hidup menjadi pilihan yang harus serius diwujudkan secara baik dan benar. Untuk itu, berbagai kapitel dan pertemuan umum terus dan selalu dibuat untuk sebuah kebaikan bersama dan demi masa depan Ordo dan kepentingan gereja universal.

Pada tahun 1588, untuk pertama kalinya Kapitel General Ordo Karmel Tak Berkasut diadakan atas restu Paus. Pertemuan diadakan pada bulan Juni, di Madrid, Spanyol. Pater N. Doria dipilih menjadi General dan Fray Juan de la Cruz menjadi wakilnya. Meski disibukkan oleh berbagai pertemuan dalam kepemimpinan umum Ordo, Fray Juan tetap sebagai Karmelit yang rendah hati dan pekerja keras. Ia terus membantu Sr. Teresa dari Yesus membuka biara baru di wilayah Kerajaan Spanyol, serta membuka berbagai misi untuk para imam dan biarawan Karmel Teresa ini.

3). Menziarahi Hidup dalam Derita Fisik dan Spiritual

Perjalanan hidup St. Yohanes dari Salib adalah kisah tentang kerahiman Allah yang bekerja dalam dirinya. Hidupnya sungguh menjadi sebuah proses pencarian dan pengalaman akan Allah dan seluruh misteri kerahiman-Nya. Ia tidak menemukan Allah di luar diri dan jauh dari kesehariannya yang penuh kontradiksi, tetapi sebaliknya. Justru dalam keseharian yang penuh pertentangan dalam diri dan dalam bersesama, ia menemukan dan mengalami kerahiman Allah. Allah yang berinkarnasi adalah Allah yang dialami dan dirasakan; Allah yang dialami sebagai Dia yang peduli dengan kerinduan utama setiap insan beriman: merasa dicintai dan diselamatkan oleh Allah sendiri. Inilah panggilan setiap orang beriman. Panggilan yang dikerjakan Allah dalam diri kita dan dalam keseharian hidup kita yang fana dan terbatas menuju kepada keabadian dan persatuan dengan Allah sendiri, yakni keselamatan.

(8)

Di samping semua pengalaman pahitnya dalam tahanan ini, Juan de la Cruz justru bisa membalikkan kepahitan dan kesulitan yang dialami sebagai saat yang tepat untuk mengalami kebaikan dan kerahiman Allah. Dalam waktu sembilan bulan dalam penjara ini, Juan bisa menulis apa yang ia alami dan rasakan dalam puisi- puisinya yang kaya akan pengalaman kerahiman Allah baginya. Ia menulis untuk mengatakan kepada dunia bahwa selalu ada hal baik yang bisa dipetik menjadi pelajaran berharga bagi pertumbuhan diri dan bagi sesama. Ia seakan mengajak siapa saja yang sedang dalam kesulitan hidup untuk fokus bukan pada persoalan itu, tapi pada Dia yang lebih agung dan mulia dari semuanya. Allah, baginya, adalah Allah cinta, yang menciptakan, merawat dan memanggil pulang kepada-Nya karena cinta.

Fray Juan de la Cruz adalah seorang mistikus, seorang yang sungguh sudah dan sedang mengalami Allah. Hidup hariannya dan tulisannya memberikan gambaran yang jelas dan kuat tentang hal ini. Ia teguh dan terus berkembang dengan kerinduan awalnya kala berjumpa dengan Teresa di Medina del Campo, yakni menjadi pencari Allah sejati dan menjadi orang kudus. Proses mencari Allah itu sungguh dinikmatinya. Dalam mengungkapkan pengalamannya dalam puisi dan prosanya, kita akan temukan simbol-simbol yang berhubungan dengan alam semesta: gunung, malam, pohon, udara, air, sungai, yang berhubungan dengan kesehatan, waktu, pergantian musim; juga tentang perjalanan. Tidak sedikit halaman yang berbicara tentang hidup spiritual sebagai satu perjalanan, seorang pejalan, sebagai satu persinggahan untuk menjumpai Allah.

Demikian juga hidup rohani sebagai proses pemurnian menggapai kesehatan lahir dan batin. Rupanya, ia tahu bahwa waktu adalah milik Allah, dan manusia yang berada dalam waktu harus bertanggung jawab kepada Allah atas penggunaannya, maka ia mengembalikan waktu milik Allah ini kepada Allah dengan sungguh menjadikan dirinya berarti bagi sesama. Dan itu benar, karena sesamanya sudah dan akan terus mencari Fray Juan dan menemukan dalam diri dan ajarannya bagaimana hidup ini akan indah dan damai ketika orang sudah sungguh mengalami Allah dan kerahiman-Nya.

Yohanes dari Salib: Sesudah Dipenjarakan

Juan de la Cruz minggat dari penjara biara itu tanggal 16 atau 17 Agustus 1577 saat subuh. Ia lalu berlindung di Biara para Rubiah Karmel OCD di kota itu. St.

(9)

Teresa tidak ingin kalau Fray Juan de la Cruz menetap dan istirahat di Almodovar, Castilla, karena bisa terjadi lagi hal-hal yang tidak diharapkan dari para biarawan Karmel di wilayah itu. Setelah pertemuan Oktober 1578 itu, Juan de la Cruz menuju ke tempat tugas yang baru di wilayah Andalusia.

a. Penjara Toledo: Ruang dan Momen Kematangan Diri

Bisa dikatakan secara singkat bahwa Fray Juan de la Cruz menjadi korban utama. Ia ditangkap dan dipenjarakan. Sejarah hanya mencatat soal keadaannya di penjara biara, yakni dari penjaga penjara, Fray Juan de santa Maria, O.Carm. Ia memberi kesaksian tentang ketidaknyamanan, bahkan situasi dan tempat yang tidak manusiawi yang dialami oleh Fray Juan de la Cruz, OCD (BMC, 14, hal. 289-292).

Meski mendapat banyak simpati dengan apa yang ia alami, tidak membuat Juan de la Cruz merasa berjasa dan menjadi pahlawan Ordo. Demikian juga ia tidak serta merta merasa menjadi korban ketidakadilan dan perlakuan yang tidak manusiawi.

Sebenarnya secara manusiawi ia boleh saja, dan bahkan berhak menganggap diri demikian. Dan bisa saja ia menggunakan kesempatan itu untuk mencari dukungan dan simpati. Namun rupanya itu sudah menjadi cerita masa lalu. Semuanya sudah ia tinggalkan dan tanggalkan dalam penjara di Toledo.

Ia keluar dari penjara sebagai orang bebas dan terbebaskan dari segala ikatan apapun atas dirinya. Seorang suster Karmel OCD yang merasa iba dengan apa yang ia alami katakan: “Kasihan ya Padre, harus mengalami dan melewati situasi yang tidak sepantasnya”. Yohanes dari Salib menjawab: “Saya justru lebih sakit mendengar kata-kata belaskasihanmu itu”. Ini jawaban yang keluar dari seorang yang sudah ditempa dan menempa diri untuk lepas bebas dari ikatan psikologis. Ia adalah pribadi yang sudah ditransformasi oleh Allah sendiri.

Pengalaman penjara adalah sebuah malam yang membimbing; malam yang justru lebih baik dan indah dari fajar merekah. Tidak heran, ia bermadah dalam puisi malam gelap-nya: “Oh malam yang membimbing! Oh malam yang lebih baik dari fajar! Oh malam yang sudah satukan: Kekasih dan kekasih! Kekasih bertransformasi dalam Kekasih! Penggalan puisi ini seakan mau memberikan kesaksian atas kematangan diri baik dari sisi psikologis, afeksi dan emosional yang sudah terolah dengan baik dan benar. Penjara justru menjadi momen dan ruang mengolah rasa dan afeksi secara benar sehingga ia menjadi pribadi yang mampu menerima diri secara benar dan baik; mampu menerima kelebihan dan

(10)

kekurangannya secara sehat. Bangga dengan diri dan apapun yang dialaminya. Tidak itu saja. Penjara justru menjadikannya mampu menerima sesama secara benar dan baik tanpa menganggapnya sebagai santo dan atau sebaliknya, setan; baik dan jahat.

Ia mampu menerima sesama sebagaimana adanya.

Penjara menjadikan dirinya sehat. Artinya, segala dimensi pembentuk diri, yakni akal budi, kehendak, daya ingat, juga nilai-nilai, dorongan, dan ideal hidupnya tidak membuat dirinya kacau dan tak terintegrasi, melainkan semuanya ada dalam satu kesatuan yang harmonis. Ia menjadi mampu mengharmoniskan apa yang ada dalam batin dan apa yang datang dari desakan diri dan lingkungan serta orang lain.

Tidak heran, bahwa Juan de la Cruz sungguh bisa dengan mudah mencintai secara sempurna. Cinta yang lepas bebas dan jauh dari orientasi ke dalam diri dan untuk diri. Cinta yang menjadi pendorong untuk memberi dan memberi, karena disadari dan diakui bahwa diri dan hidupnya adalah hasil pemberian dari Allah. Penjara menjadikan Yohanes mampu menemukan dan memiliki nilai-nilai yang jauh melampaui nilai dan kepentingan diri dan kelompok sendiri yang di dunia ini.

b. Cinta Sempurna Dasar Berpastoral

Sesudah Kapitel Almodovar, Juan de la Cruz atas permintaan St. Teresa ditugaskan di wilayah Andalucia. Di wilayah ini Juan de la Cruz menghabiskan waktu sepuluh tahun (1578-1588): satu tahun di Calvario, tiga tahun di Beas dan enam tahun di Granada, dengan berbagai tugas, baik sebagai prior, pendiri, mengajar dan menulis, mengunjungi biara-biara dan pembangunan. Demikian juga, ia semakin bertumbuh dalam kemanusiaan dan spiritualitas.

Cinta sempurna dalam konteks ini adalah kemampuan membedah diri secara jelas antara saya imajinatif, saya riil dan saya seperti apa yang dipikirkan dan dikatakan oleh pihak lain; antara saya seperti yang saya bayangkan dan pikirkan dan saya yang sebenarnya dan sesungguhnya. Penjara dan segala pengalaman ketidakadilan diterima dan dijadikan momen untuk mengenal diri dan mengenal Allah. Ia tidak saja sanggup menerima itu sebagai kenyataan yang penuh daya transformatif, tetapi juga lebih dari itu, dijadikan sebagai saat mengolah rasa dan menempatkan segala rasa dan perasaan negatif pada jalur yang benar dan baik untuk kesehatan jiwa dan raganya. Yohanes dari Salib menjadi sangat yakin atas apa yang dikerjakan Allah dalam dirinya. Allah bekerja dan ia berusaha membiarkan diri dikerjakan secara sempurna oleh Allah agar ia sungguh menjadi manusia baru;

(11)

dengan cara berpikir, cara mencintai dan cara melihat segalanya dari dan dengan kacamata Allah sendiri.

Penjara Toledo dan Karya Tulis St. Yohanes dari Salib

Perlu kita ingat bahwa menulis bukanlah profesi yang ditekuni St. Yohanes dari Salib. Menulis merupakan ekspresi pengalaman rohani sendiri dan itu menjadi konsumsi pribadi. Itu pun terjadi karena ia mendapatkan kemudahan dari penjaga penjara yang baru yang meminjamkan kepadanya kertas dan pena. Ia mulai menulis puisi-puisi yang sudah terbatinkan dalam dirinya; syair-syair yang sudah tertanam dalam batinnya. Namun kita bersyukur bahwa atas desakan rasa ingin tahu dari para suster Karmel OCD di Granada, yang meminta San Juan untuk menjelaskan isi dan maksud puisi-puisi itu kepada mereka. Jadi, ia menulis karena diminta dan atas dasar ketaatan.

Ajaran Tertulis

St. Yohanes dari Salib tidak menulis satu hal kemudian hal lain atau tentang hal lain lagi secara parsial, tapi suatu rangkaian peristiwa yang menjadi rangkuman kehidupan dan ajarannya. Artinya, ajarannya adalah pengalaman hidupnya, atau apa yang dihidupi dan dialami itulah yang diajarkan dan ditulisnya. Hidup dan ajaran lisan dan tertulis termeterai dalam satu keharmonisan dan kesatuan yang solid dan mencerahkan.

Penjara Toledo adalah awal dari produksi kesusastraannya. Selama sembilan bulan mendekam dalam tahanannya, bukan menjadi tempat dan saat untuk diratapi, melainkan dimanfaatkan Fray Juan de la Cruz untuk mengekspresikan pengalamannya akan Allah dalam puisi-puisi dan prosa-prosa. Dalam usia 35 tahun, ia sudah mampu mengungkapkan apa yang ada dalam batin dan bagaimana intervensi Allah dalam hidup dan keselamatan manusia. Penderitaan dan keterpurukan fisik tidak dilihat sebagai halangan, melainkan justru sebagai media membangun relasi batin dengan realitas dan menjadikannya sebagai sarana istimewa mengalami Allah. Ini setidaknya ditemukan dalam keindahan simbol dan ekspresi simbolis yang digunakan dalam puisi maupun prosanya.

Wilayah Andalusia memberikan kepada Fray Juan atmosfer indah dan tenang untuk karya pewartaan. Ia sungguh merasa diterima di wilayah ini. Ia kenal dan jatuh cinta dengan lingkungan, alam dan penduduknya. Ia mengunjungi banyak

(12)

daerah seperti: Jaen, Granada, Cordoba, Sevilla, Malaga, Caravaca dan juga Lisboa, Portugal. Dalam kesibukan tugas Ordo dan pelayanan pastoral, Fray Juan masih bisa menulis deklarasi atau komentar atas puisi-puisi, yakni Kidung Rohani, Malam Gelap, Pendakian Gunung Karmel dan Nyala Cinta Yang Hidup. Empat karya besarnya ini memang diselesaikan di wilayah Andalusia.

Fray Juan de la Cruz hidup hanya 49 tahun, dan menulis tidak lebih dari lima buku. Meski demikian, tulisannya kemudian justru menjadi karya monumental dalam tradisi Spiritualitas dan Mistik Gereja Katolik. Tulisan yang dihasilkan bukan sebuah uraian tema-tema teologis tertentu, melainkan sebagai kisah pengalamannya akan Allah. Semua tulisan hanya untuk menjawabi permintaan para suster Karmel OCD dan beberapa awam yang serius ingin merawat hidup rohaninya (NC, Prolog), sehingga sebelum dikumpulkan, tulisan-tulisannya itu terdapat di kertas-kertas lepas dan tersebar di berbagai biara. Dengan kemampuan intelek yang dimiliki dan kerendahan hati, pengalamannya itu diolah dalam introspeksi diri melalui perjalanan panjang bimbingan rohani kepada sesama religius ataupun awam. Dan semuanya itu sungguh dibangun di atas dasar pengetahuan yang baik tentang Kitab Suci, filsafat dan teologi, termasuk sastra dan psikologi.

a). Karya-Karya Kecil

Karya-karya kecil atau singkat bisa dibagi dalam lima kategori: (1). Puisi- puisi; (2). Ungkapan tentang Terang dan Cinta; (3). Peringatan dan Nasihat kepada seorang Religius; dan (4). Surat-surat, (5). Dan lain-lain.

1. Roman

2. Tentang Allah Tritunggal Maha Kudus, tentang Ciptaan, Inkarnasi, Kitab Suci:

“In principio erat Verbum - Pada mulanya adalah Sabda”.

3. Tentang Mazmur: “Di tepi Sungai Babel” (Vulgata: Mz 136; Sept. Mz. 137).

4. Puisi

5. Malam Gelap: 8 Stanza

6. Kidung Rohani A: 39 stanza, Kidung Rohani B: 40 stanza 7. Nyala Cinta Yang Hidup: 4 stanza

8. Sang Gembala (Un Pastorcico) 9. Sumber (La Fonte)

10. Koplas dan Glosa

Aku Hidup tapi Bukan Aku yang Hidup

(13)

Tanpa Dukungan dan dengan Dukungan Dalam Seluruh Keindahan

Aku Memasukkan Diriku Di mana Aku tak Paham 11. Catatan Kecil (letrillo)

12. Sabda Ilahi

13. Kesempurnaan Tertinggi 14. Nasihat dan Arahan

15. Ungkapan tentang Terang dan Cinta 16. Surat-surat (32 surat yang tersimpan) 17. Lain-lain

Gambar Gunung Karmel dengan tawaran program orientasinya Lukisan Yesus Tersalib

b). Karya-Karya Besar

Karya-karya besar terdiri dari: Pendakian Gunung Karmel (Subida del Monte Carmelo), Malam Gelap (Noche Oscura), Kidung Rohani (Cantico Espiritual) dan Nyala Cinta yang Hidup (Llama de Amor Viva). Namun demikian, keempat karya besar ini pun merupakan komentar atas ketiga puisinya, yakni: puisi Malam Gelap, yang dijelaskan dalam “Pendakian Gunung Karmel” yang terdiri dari tiga buku, dan

“Malam Gelap” yang terdiri dari dua buku dan puisi Kidung Rohani dan puisi Nyala Cinta yang Hidup. Mari kita lihat sintesis dari buku-bukunya.

Pendakian Gunung Karmel (Subida del Monte Carmelo). Ada dua fokus penting yang ditekankan dalam buku ini, pertama: tujuan akhir ziarah hidup manusia adalah kesatuan dengan Allah, dan kedua: jalan dan upaya mencapai tujuan itu adalah cinta. Buku ini adalah salah satu karya yang panjang dan sangat menarik.

Gaya bahasa sangat kering, dengan nada penjelasan atau pengajaran yang membuat karya ini bernuansa filosofis dan teologis asketik. Ciri dan karakter khusus ini kadang menjauhkan minat para pembaca. Namun para ahli modern justru menekankan aspek penting dan mendasar yang perlu dimiliki jiwa-jiwa yang ingin serius mengalami Allah. Tema-tema sentral yang ditampilkan adalah malam, transendensi Allah, penyangkalan diri, pemurnian, askese, cinta dan kehadiran Allah.

Fokus uraian dalam Buku I pada uraian bait pertama dengan penekanan soal malam aktif indra. Buku II menyangkut pentingnya iman dan pengaruh proses

(14)

pemurnian dalam diri. Dan Buku III, pada pemurnian aktif kehendak dan daya ingat melalui dua kebajikan teologis, yakni cinta kasih dan harapan.

Buku Pendakian memberikan sintesis doktrinal yang sangat menarik dan penting bagi jiwa. Banyak yang katakan bahwa buku ini bicara tentang pemurnian, tentang nada–tak ada apa-apanya, tentang askese dan penyangkalan diri, pemurnian, dan banyak tema lainnya. Namun, di sisi lain para ahli katakan bahwa di balik semuanya yang terlihat, tema sentral yang ingin dibagikan oleh St. Yohanes dari Salib adalah tentang persatuan dengan Allah dalam cinta. Ia menggunakan ekspresi ini untuk mengganti nama: kesempurnaan atau kekudusan yang menurutnya terdengar kering, kaku dan tidak hidup. Ia lebih memilih “Persatuan dengan Allah dalam Cinta” karena diksi yang kaya dan terbuka bagi siapa saja.

Bagi St. Yohanes, cinta adalah dasar dan sasaran akhir pencaharian manusia:

cinta yang datang dari cinta Allah akan mengatur dan merawat segala yang lain, dan otomatis akan membangun relasi kedekatan yang baik dan sejati. Karena semakin orang menyangkal, semakin ia mendapatkan. Penyangkalan diri bukan berarti menghapus daya-daya manusiawi kita, melainkan memberikan fokus pada daya- daya itu atas dasar cinta sebagai objek utamanya (3PGK 16).

Malam Gelap (Noche Oscura). Ada dua buku Malam Gelap, masing- masing terdapat 14 dan 25 bab. St. Yohanes dari Salib menulis puisi dan komentar atasnya. Namun tidak semua stanza dalam puisi ini diberi penjelasannya. Meski tidak semua stanza dijelaskan, bukan berarti buku ini tidak lengkap dan tidak selesai. Tapi sebaliknya. Buku ini adalah satu karya tulis yang lengkap. Namun, perlu diingat bahwa uraian tentang malam ini bukan satu teori yang hanya dialami pada saat berdoa saja, melainkan direalisasikan dalam hidup konkret setiap hari.

Dua buku ini masing-masing berbicara tentang malam pasif indra-indra dan malam pasif roh. Ia jelaskan kapan dan bagaimana masuk ke dalam proses malam pasif roh (Bdk 1MG 14, 6). Pemurnian indra-indra yang dijelaskan dalam dua buku ini dibuat dengan indah, mendalam, dan sungguh terperinci mengupas sisi-sisi dan kekayaan diri manusia: indra eksternal dan internal; pengetahuan dan nafsu, daya- daya jiwa, dll. Boleh dikatakan bahwa buku ini adalah kelanjutan dari buku Pendakian Gunung Karmel dan uraian doktrinalnya, namun bisa juga dilihat sebagai buku yang berdiri sendiri dengan struktur isi dan gayanya sendiri.

(15)

Kidung Rohani (Cántico Espiritual). Buku ini merupakan komentar atas puisinya yang ditulis ketika berada dalam penjara. Dalam puisi, St. Yohanes dari Salib hanya menulisnya sebagai “Kidung-kidung.” Sedangkan dalam komentarnya tertulis “Komentar atas kidung-kidung.” Bisa dipahami mengapa ia hanya menulis demikian karena memang tidak bermaksud untuk dicetak dan disebarluaskan.

Namun ketika pertama kali dicetak, buku ini diberi judul: “Cantico Espiritual” atau

“Kidung Rohani.” Artinya judul ini tidak diberikan oleh St. Yohanes dari Salib sendiri. Pertimbangan mendasarnya atas pilihan judul ini adalah karena nilai sastra dan isi doktrinalnya sungguh merupakan sebuah Kidung yang dimadahkan oleh Jiwa yang sedang jatuh cinta dengan Kekasihnya.

Buku ini dijelaskan dengan sangat hati-hati, teliti dan detail, sehingga menjadikan buku ini sebagai salah satu karya sastra dan doktrin spiritual yang disukai banyak kalangan. St. Yohanes dari Salib membutuhkan 8 tahun untuk memberikan penjelasan dan bahkan ditulis dua kali dengan penambahan satu stanza, yakni stanza ke-11. Sebagai konsekuensinya terjadi perubahan, khususnya soal urutan puisi, penjelasan dan doktrin teologi yang terkandung. Jadi ada KR A (39 stanza) dan KR B (40 stanza). Yang luas beredar dan banyak diterjemahkan ke dalam bahasa lain adalah KR B ini, meskipun bukan berarti KR A tidak terkandung nilai sastra dan doktrinalnya.

Sebagaimana karya-karya lainnya, Kidung Rohani ini juga penuh dengan simbol, metafora, perumpamaan dan ungkapan simbolis. Simbol utama dalam Kidung Rohani adalah perkawinan, meski banyak simbol lain yang menjadikan semuanya satu kesatuan. Sebagaimana proses dalam suatu perkawinan, demikian juga digambarkan Yohanes dari Salib dalam perjalanan dan ziarah rohani jiwa manusia dengan Allah.

St. Yohanes dari Salib menguraikan bagaimana jiwa yang merasa sungguh dicintai, bergerak keluar untuk berburu mencari, menemukan dan bersatu dengan Sang Kekasih. Proses perburuan ini bisa dibagi dalam kelompok stanza demikian:

Kerinduan kasih dan absensia (1-12); Perjumpaan awal dan persatuan (13-21);

Persatuan total dan rahmat mistik (22-36); Kerinduan akan kemuliaan (36-40).

Kidung Rohani adalah kisah pencaharian jiwa akan Sang Kekasih, namun demikian akhir ziarah pencaharian ini bukan lagi jiwa yang menemukan Allah, tapi sebaliknya justru Sang Kekasih, Allah yang menemukan jiwa. Cinta menjadi titik

(16)

simpul seluruh dimensi diri manusia dan diri Allah, karena dalam cinta ada dorongan untuk mencari, baik Allah kepada manusia, dan sebaliknya; dalam cinta ada perkembangan dan pencapaian atas apa yang dicari dan dialami. Jadi, kesempurnaan atau keselamatan hanya diukur dari dan dengan cinta dalam proses menuju cinta sejati dan ilahi. Pada prinsipnya, karya ini berbicara satu hal, yakni:

kisah cinta antara jiwa dan Kekasih, Kristus. Dengan demikian bisa dipahami bahwa ziarah jiwa selalu berpusat pada Kristus. Artinya, sebelum jiwa menjadikan Kristus sebagai pusat segala gerak dirinya, Ia sudah mengambil inisiatif dan membuka jalan kemungkinan untuk persatuan.

Nyala Cinta yang Hidup (Llama de amor viva). Judul buku ini diambil dari baris pertama stanza pertama puisi ini. Baik puisi dan komentar atas puisi ini ditulis atas permintaan anak bimbingan rohaninya, Ny. Ana de Peñalosa, seorang awam yang serius dan rindu mengalami kerahiman Allah dalam hidupnya.

Permintaan ini bisa dipahami karena pada saat itu Gereja Spanyol khususnya dan Gereja pada umumnya sedang dalam proses reformasi baik aspek struktural maupun ajaran dan spiritualitasnya. Gereja membaharui diri dengan berbagai konsili dan pembaruan diri. Doa diyakini sebagai jalan pasti menuju kepada kekudusan hidup, sehingga muncul banyak buku-buku yang mengulas pemahaman tentang doa dan jalan kepada kekudusan dalam kehidupan umat.

Puisi ini begitu lembut, indah, murni dan masuk ke dalam relung batin.

Hanya terdapat empat stanza dengan total 24 baris. Komentar atas puisi ini ditulis dua kali, namun tidak perubahan yang dibuat. Hanya beberapa ungkapan dan kalimat yang diubah struktur dan pengertian teologisnya, sehingga sehingga sampai sekarang dikenal: Nyala Cinta A dan B. Tidak terdapat banyak perubahan atau perbaikan dalam redaksi kedua ini. Umumnya terjemahan yang dipakai adalah Nyala Cinta B. Diperkirakan ditulis ketika Yohanes dari Salib sedang menjadi wakil provinsial Karmel Tak Berkasut di Andalusia antara 17 Oktober 1585 - 18 April 1587.

Simbol nyala dan api digunakan untuk menunjukkan vitalitas dan semangat hidup bersama, sehingga dalam komentar melengkapi gambaran atau simbol ini dengan air yang menyegarkan. Boleh kita katakan bahwa buku Nyala Cinta adalah ulasan pengalaman penulis tentang karya Tritunggal Maha Kudus yang dikerjakan oleh Allah Roh Kudus dalam dirinya. Dalam Kidung Rohani digambarkan tentang proses perjalanan jiwa menuju Allah, sedangkan dalam Nyala, proses ini tidak lagi

(17)

dibicarakan, melainkan pengalaman persatuan jiwa dengan Allah. Allah Tritunggal yang berdiam dan bekerja dalam jiwa, demikian juga sebaliknya, narasi tentang bagaimana jiwa yang sudah berdiam dalam Allah Tritunggal dan diselimuti dengan kemuliaan Allah sendiri.

“Allah Terpenjara dalam Cinta”: Allah yang Dicari oleh San Juan

Allah, bagi St.Yohanes dari Salib adalah Allah yang terpenjara dalam cinta bagi bagi manusia. Hidup dan karya Allah hanya untuk cinta dan mencinta serta menjadikan setiap orang merasa dicintai oleh Allah. Allah inilah yang dicari dan dialami olehnya.

Allah dalam “Malam Gelap”

Malam gelap bisa dirumuskan secara sederhana bahwa malam indrawi dan spiritual menyimbolkan proses transformasi diri secara total dan utuh, dari ujung kaki sampai kepala; dari sisi diri indrawi dan sisi diri spiritual, aktif dan pasif;

semuanya dimurnikan disehatkan dan ditransformasi secara utuh. Artinya dalam refleksi San Juan menyangkut sisi diri indrawi dan spiritual perlu dilihat dalam konsep perjalanan rohani sebagai satu proses yang integral. Proses penyehatan dan transformasi diri manusia.

Pengalaman malam gelap di penjara ini menjadi bagian dari ziarah spiritualnya, baik secara fisik maupun spiritual. Apalagi kebutuhan dasariah sungguh dibatasi: tidak ada air, makanan dibatasi, udara segar menjadi sangat mahal, apalagi sinar matahari, tempat istirahat, dan ruang bebas; demikian juga sebagai seorang imam, ia tidak memiliki kesempatan untuk merayakan Ekaristi, meski di ruang gelap tempat tahanan. Selain kebutuhan dasariah, Yohanes dari Salib juga merasa diabaikan oleh sesama dan ditinggalkan oleh Allah. Pengaruh tekanan fisik dan psikologis ini, kemudian justru lahir konsep teologi spiritual yang terkenal:

Malam Gelap.

Malam Gelap tidak berbicara hanya tentang hal yang berhubungan dengan doa saja. St. Yohanes dari salib menulis demikian: “Jadi, ada tiga upaya yang harus ditanggung mereka yang sampai ketingkat ini yang perlu diketahui: usaha dan tak adanya hiburan; ketakutan dan pencobaan-pencobaan; dan itu dialami dalam berbagai cara: dari sisi diri indrawi: kesukaran, kegelapan, kesusahan,

(18)

terabaikan, pencobaan, dan segala pencobaan, kekeringan dan kesedihan dan berbagai upaya dari sisi diri spiritual, karena dalam cara yang demikian jiwa dimurnikan baik dari sisi diri indrawi maupun dari sisi diri spiritual” (NC 2, 25).

Teks ini menegaskan soal bagaimana rahmat pemurnian yang Allah kerjakan itu berlangsung dalam keseharian dan rutinitas hidup: pencobaan, kegagalan, relasi konfliktual, kerapuhan fisik dan mental, sakit dan penyakit, kesepian, termasuk aneka kesulitan psikologis.

F. Ruiz katakan bahwa dalam proses psikologis pun bisa mengalami pengaruh karya transformasi yang dikerjakan karya rahmat Allah sendiri: kesedihan, merasa diabaikan dan tak disayang, lelah, merasa disepelekan, dll merupakan kondisi diri psikologis yang punya relasi erat dengan hidup harian manusia. Allah sangat mungkin bekerja dalam kondisi psikologis manusia yang demikian, sehingga ia tegaskan bahwa “ada sebagian orang berpikir bahwa doktor mistikus kita ini hanya merujuk kepada satu malam gelap dalam tataran doa saja melainkan sebuah pengalaman yang terdapat dalam rutinitas harian manusia. Pengalaman malam perlu dilihat sebagai satu pengalaman yang berakar dalam keseharian hidup.

Kita cukup mengingat sembilan bulan pengalaman malam gelap St. Yohanes dari Salib dalam penjara Toledo untuk kita yakin bahwa malam gelap bukan sebuah konsep teoritis yang jauh dari hidup dan fakta keseharian manusia. Penjara dan malam gelap menjadi fakta bahwa pengalaman hidup harian manusia bisa menjadi sebuah rahmat sakramen yang transformatif dari Allah. Oleh karena itu penjara dan malam gelap bagi orang kudus kita ini, bukan lagi menjadi satu periode desolasi (kekeringan) dan diabaikan, termasuk oleh Allah sendiri, melainkan ditransformasi menjadi momen kuat mengalami kehadiran Allah di kedalaman jiwanya. Malam gelap menjadi momen perjumpaan dengan Allah di lubuk terdalam batinnya, dan dari sana pun, pancaran cara hidup dan pribadi yang baru bermekar. Di dalam malam jiwanya, pengalaman akan keberadaan Allah yang sungguh tak tampak dan tak terasa itu diubah menjadi satu pengalaman kehadiran yang kuat, pewahyuan diri Allah yang hidup justru semakin terasa. Oleh karena itu, malam gelap menuntun Yohanes dari Salib kepada satu pengalaman terbaik dan kuat akan kehadiran Allah.

Oleh karena itu, ketika Yohanes dari Salib kemudian, berbicara dalam tulisannya tentang malam, malam gelap jiwa, malam pemurnian, tentang nada atau tidak ada apa-apanya, penyangkalan, pemurnian, penderitaan, atau salib, bukanlah

(19)

sebuah teori tentang teologi spiritual dan mistik, melainkan menjelaskan hal yang diketahui dan sungguh dialaminya sendiri. Ia, akhirnya mampu menemukan tangan Allah yang perlahan dan pasti membentuk dan mengarahkan hatinya menuju ke puncak gunung kesempurnaan, yakni Yesus Kristus.

Allah Dalam Kesulitan Hidup

Pengalaman pahit karena pertentangan soal pendirian Karmel Tak Berkasut (OCD) dan penderitaan dalam penjara Toledo tidak membuat Fray Juan menjadi pribadi yang sulit, penuh dendam, tetapi sebaliknya justru menjadi momen transformatif. Suatu saat di mana ia membiarkan Allah berkarya dalam dirinya untuk menjadi pribadi yang lembut, pengertian dan damai dengan kawan dan lawan.

Ia menulis, “di mana tak ada cinta, berikanlah cinta, maka engkau akan menemukan cinta.”

Sebagaimana setiap orang kudus punya masa lalu, dan setiap orang berdosa punya masa depan, demikian juga diyakini dan dialami Yohanes dari Salib. Juan de Yepes tidak dilahirkan kudus, tapi ia mau menjadi kudus dan kuat berusaha untuk itu. Kekudusan itu pemberian Allah dan diupayakan oleh manusia. Tidak seperti St.

Teresa dari Yesus yang mengisahkan pengalaman masa kecil, yang kagum dengan kebajikan orang tuanya; yang melihat masa kecil sebagai dasar dalam mengalami kasih Allah, St. Yohanes dari Salib tidak ceritakan apa-apa. Namun ada benang merah dalam tulisannya yang berbicara tentang cinta dan kebaikan keluarga; ajaran yang diterima dari orang tuanya.

Juan de Yepes beruntung lahir dan tumbuh dalam pendidikan ibu dan bapa yang sungguh tahu membagi kasih dalam keluarga, di tengah kesulitan hidup. Ia berada dalam keluarga yang tahu mengajar memanggul salib dengan kasih dan berpengharapan, yang tahu seni menghadapi dan mengatasi persoalan dan kesulitan hidup, sambil menjadikan Salib Kristus sebagai pegangan untuk memandang penuh yakin ke masa depan. Juan de Yepes punya sikap terbuka dan siap-sedia yang luar biasa. Sikap ini bisa terlihat dari relasi harmonis dengan keluarga, khususnya dengan saudaranya Fransisco. Kesan yang didapat dari relasi dan surat-menyuratnya terlihat bahwa mereka sungguh saling mengasihi. Sikap keterbukaan ini memang menjadi dasar untuk terbuka dan menerima orang lain dan Allah. Masa remajanya juga dipenuhi dengan pelajaran berarti. Ia harus bekerja untuk menyambung hidup dan bisa bersekolah. Juan de Yepes sungguh mengalami kasih dari para pasien dan

(20)

para pekerja lainnya. Para pasien di Rumah Sakit dan realitas yang dijalaninya di tempat itu memberinya pelajaran bagaimana seni membangun relasi dengan Allah yang harus menderita karena mencintai dunia. Di tempat kerja ini, Juan tidak hanya mengenal penderitaan dan dunia yang penuh derita, tapi juga membinanya secara batin untuk mencari dan mengalami kehadiran Allah dalam situasi demikian.

Pengalaman akan kehadiran Allah di tengah penderitaan dan di dalam pergumulan hidup di malam gelap sungguh menjadi salah satu ciri kepribadian.

Pengalaman kasih dalam keluarga sungguh dibatinkan dalam jiwa dan menjadi faktor penentu baginya dalam ziarah hidup dan perjalanan imannya di kemudian hari. Kasih keluarga dan relasi persaudaraan yang sehat dan baik menjadi jalan pasti baginya untuk mengalami Allah dalam hidupnya sendiri dan menemukan persatuan dengan Allah. Pengalaman dikasihi ini sungguh terpatri kuat dalam dirinya, sehingga ia merasa diajari nilai hidup kekal, jalan kekudusan, tapak-tapak pertumbuhan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan pengalaman itu, ia semakin mengenal keindahan hidup dan kejelekan hidup itu sendiri. Oleh karena itu, kita temukan dalam diri Juan, bawa situasi sosial dan kemiskinan material serta penderitaan tidak pernah menjadi penghalang dalam jalan pencarian dan pengalaman akan kehadiran Allah yang bekerja dalam diri manusia, melainkan justru lebih sebagai ruang terbaik yang disiapkan Allah untuk membedah dan memberi orientasi hidup dan panggilan, terlebih dalam menemukan dan mengalami Allah yang hadir.

“Pandangan Allah adalah Kasih”: Kekuatan dalam Kesulitan Hidup

Santo Yohanes dari Salib menulis: “El mirar de Dios es amar - Pandangan Allah adalah kasih.” Menurut San Juan, pandangan Allah membuat jiwa itu mengalami empat keuntungan: “dibersihkan”, “dirahmati”, “diperkaya” dan

“dicerahkan” (KR 33, 1). Untuk Santo kita ini, “Pandangan Allah”, meskipun cuma sekilas, sungguh memperindah apa yang Ia pandang. Ketika Yesus melihat kita, Ia membuat kita sadar bahwa bagi-Nya, kita ini seseorang, kita person, pribadi yang hidup, dan bukan sesuatu. Ini juga penting disadari. Pandangan-Nya adalah satu cara mengenal kita sebagai subyek, mengenal kita sebagai seseorang yang bisa berinteraksi dengan-Nya. Sehingga, saya kira penting juga kita bisa katakan kepada diri kita sendiri bahwa Allah percaya saya; Allah kenal dan tahu saya. Pandangan

(21)

Allah, menurut Bapa Yohanes dari Salib adalah satu cara di mana Allah katakan kepada kita masing-masing: You are important for me; Saya membutuhkanmu!

Banyak orang tidak merasa dan tidak yakin bahwa betapa pentingnya mereka bagi Tuhan; betapa bernilainya mereka bagi Allah.

Jadi, sangat baik dan menyenangkan merasa bahwa kita selalu dipandang oleh Tuhan. Mengapa? Karena: Pertama, pandangan Allah selalu dari dalam:

melihat dari lubuk hati; melihat dari kedalaman jantung keseharian dan kejadian hidup. Ia tidak melihat dahan-dahan dan daun-daun, tetapi akarnya; dasar persoalannya dan mengambil bagian dan merasa menjadi bagian dari dasar itu. Ia naik ke perahu Simon Petrus. Ia masuk dan menyatakan komitmen penyertaan-Nya.

Artinya adalah sikap batin yang muncul sebagai konkretisasi dari peristiwa Inkarnasi; Allah menjadi manusia. Kedua, Yesus melihat dengan pandangan solidaritas dan dengan hati. Cinta itu mengubah cara pandang, melembutkan hati dan menghaluskan rasa; meningkatkan solidaritas dan empati. Ketiga, Ia melihat yang kecil dan tak berdaya (Kisah Janda di Nain). Ia lihat dengan keterlibatan rasa dan hati. Keempat, Ia melihat dengan kedalaman. Ia temukan sikap batin dan pengaruh spiritual bagi keselamatan mereka yang dilihat-Nya; Ia melihat dengan kasih yang membuat orang bertobat (Petrus). Kelima, Ia mengajak kita untuk melihat diri dengan mata Allah.

San Juan de la Cruz katakan bahwa ketika Allah memandang, Ia menghapus segala keburukan, kesalahan dan ketidaksempurnaan; dan Ia mengembalikan rahmat-Nya yang pertama (permandian) agar ia bisa lebih baik melihat dan dipandang, “artinya, sekarang aku benar-benar dapat dilihat, dan aku mendapatkan lebih banyak rahmat lagi melalui tatapan mata-Mu. Untuk kali yang pertama Engkau tidak hanya menghapuskan kegelapan dosa dengan mata-Mu, tetapi juga membuatku berharga untuk dilihat, yaitu sejak Engkau memandangku dengan penuh kasih dan rahmat” (KR 33, 6).

Pandemi sebagai Proses Malam Gelap Bersama

Manusia selalu bertanya di manakah Allah ketika ada dan terjadi penderitaan? Apakah Allah menciptakan, membiarkan dan bahkan tak mampu mencegah penderitaan yang menimpa manusia? Pertanyaan serupa ini bukan hal yang baru. Ia sudah ada setua usia manusia yang percaya pada kebaikan dan kekuatan Allah.

(22)

Bagi St. Yohanes dari salib Allah itu adalah positif murni, maka hanya yang positif yang datang dan lahir dari-Nya. Ia adalah Kebaikan tertinggi, maka dari-Nya hanya datang segala kebaikan dan mengarah kepada kebaikan. Jadi penderitaan bukan diciptakan oleh Allah dan tidak datang karena hukuman dari Allah, tapi atas ketidakcerdasan manusia menggunakan akal sehatnya. Atas pengalamannya sendiri, St. Yohanes dari Salib selalu mengajak agar menjadikan Allah titik tolak segala sesuatu, baik keberadaan, panggilan maupun seluruh karya dan pelayanan yang dijalani. Karena Allahlah yang lebih dahulu mengasihi kita. Ia yang terlebih dahulu mencari dan menemukan kita. Kita tidak mulai dari kerapuhan kemanusiaan kita atau pengalaman-pengalaman buruk tentang diri atau orang lain. Kalau itu dibuat maka akan berakhir pada menghakimi diri sendiri atau menghakimi sesama.

Sebaliknya kalau diawali dari Allah, maka Allah sendiri akan menuntun untuk juga sampai kepada Allah.

St. Yohanes dari salib berbicara banyak dan panjang lebar tentang malam gelap atau proses pemurnian diri agar bisa mengalami kasih sejati dari Allah. Dalam terang ajarannya ini, saya berpikir kita bisa kaitkan dengan situasi pandemi yang dialami bersama sekarang. Pengalaman pandemi bisa menjadi jalan pembaharuan diri bagi setiap pribadi. Jika satu krisis bersama tidak sampai mengubah cara berada dan cara hidup kita, maka, seperti kata Paus Fransiskus, “kita kehilangan momen dan kesempatan untuk suatu transformasi diri dan kemanusiaan agar hidup bisa lebih baik dan bermartabat.” Jika kerinduan untuk keluar dari krisis pandemi dan disertai kedisiplinan yang kuat, pertanda bahwa kita sedang dibimbing Allah untuk menemukan jalan dan cara terbaik mengalami kehadiran-Nya.

Malam gelap adalah suatu proses spiritual. St. Yohanes dari Salib menjelaskan bahwa pemurnian diri dalam malam gelap merupakan proses mendidik diri dengan rahmat Allah sendiri agar bisa menjadi pribadi seperti yang diharapkan Allah dan agar manusia bisa bersatu dengan Allah di sini dan sekarang, di dunia ini. Ini adalah tujuan akhir setiap insan beriman; bahkan satu-satunya tujuan hidup, yakni bersatu dengan Allah. Namun, seperti ditegaskan oleh St. Yohanes dari Salib bahwa proses ilahi dan mulia ini tidak akan pernah terjadi jika seseorang tidak membiarkan dirinya untuk dididik oleh Allah dan jika seseorang tidak ikhlas dan mau masuk ke dalam proses ini. Allah tidak pernah memaksa; Allah sangat menghormati kebebasan setiap pribadi. Allah menawarkan yang terbaik, namun jika jiwa

(23)

menanggapi secara suam-suam kuku saja, Allah juga tidak akan bekerja secara demikian. Allah hanya akan sungguh masuk dan aktif mendidik diri manusia, jika, Ia melihat bahwa jiwa pun punya kerinduan yang teguh untuk mengalami-Nya. Proses ini adalah kerja timbal balik, mutual, resiprokal antara Allah dan jiwa.

Allah memang tidak menginginkan pandemi ini terjadi, sebagaimana juga Ia tidak inginkan agar Yesus harus mati di salib. Namun, dari kondisi kodrati kita yang terbatas dan rapuh ini, krisis ini bisa menjadi kesempatan untuk digunakan agar kita semakin mengenal diri dan mengalami kerahiman Allah; artinya ini kesempatan agar relasi kita dengan Allah semakin sehat, bebas dan dan baik. Kesempatan untuk pertumbuhan dalam hidup spiritual, dalam hidup yang dikendalikan dan dibimbing oleh Allah sendiri.

Allah akan selalu ambil inisiatif; Ia akan mulai tempatkan rahmat-Nya dalam hati manusia, agar manusia sadar dan mengenal tujuan akhir hidupnya. Orang yang tahu tujuan akhir hidup, ia akan mencari jalan untuk mencapai tujuan itu. Ini yang selalu dan terus dikerjakan Allah; Allah menyentuh hati kita; menjamah kehidupan kita agar sadar bahwa diri ini rapuh, terbatas dan akan mati. Ia menjamah hati manusia agar manusia sadar bahwa ia bermartabat luhur dan dipanggil untuk bersatu dengan keluhuran diri-Nya. Ia menuntun kita untuk sampai kepada-Nya.

Jiwa yang rindu akan Allah akan selalu berseru: Di manakah Engkau tersembunyi, Kekasih?

Kesimpulan

Kita sudah melihat secara sangat umum perjalanan hidup baik dari aspek manusiawi maupun spiritual dari seorang tokoh yang pengaruh ajarannya masih terus bergema sampai dewasa ini. Hidupnya adalah tulisannya. Demikian juga sebaliknya, tulisannya adalah lirik-lirik mistik sebagai ekspresi nyata pengalamannya akan kerahiman yang Allah kerjakan dalam dirinya. Allah yang selalu bisa menulis rapi di jalan hidup manusia yang berliku dan penuh kontradiksi.

Tulisan-tulisannya selain penuh dengan simbol, ungkapan simbolis dan metafora serta puisi dan prosanya, juga terdapat kata-kata dan ungkapan yang menakutkan dan terkesan mustahil untuk dijalani, misalnya: malam, pemurnian, ketelanjangan, tidak ada apa-apanya, kosong, menyangkal, dll. Namun, dengan

(24)

mengenal kisah hidup dan pengalamannya kita dibuat semangat dan berani untuk lebih mengenal dan menikmati apa yang ia bagikan.

Hidup selalu harus mengatasi dan melampaui duri yang menyakitkan.

Kesulitan dan penderitaan tidak menjadi penghalang untuk bertumbuh dalam kebaikan dan keindahan hidup. Hidup yang baik dan benar itu adalah dasar dan sekaligus obyek akhir yang perlu dihasilkan dan dinikmati. Menikmati keindahan dan kebaikan hidup akan selalu menjadi sumber yang menghalau dan melenyapkan duri dan penderitaan. Hidup yang baik dan benar adalah kelopak mawar yang perlu dihasilkan. Kelopak mawar itu adalah rasa syukur dan terima kasih kepada pemberi kehidupan dan sumber segala keindahan dan kebaikan hidup.

Pertanyaan Pendalaman:

1. Momen-momen apa sajakah yang bisa membuat Anda sungguh mengalami kehadiran Allah?

2. Bisakah Anda menemukan buah-buah dari korban dan penyerahan diri kepada kehendak Allah?

*****

P. Dr. Chris Surinono, OCD Dibuat di Bajawa, 25 Juli 2021 Diedit di Gadingan-Jogja, 27 Juli 2021

(Editor: Fr. Eky Junedin, OCD)

Referensi

Dokumen terkait

Ketimpangan relasi gender dapat dijumpai dalam salah satu program televisi adalah sinetron, dimana sinetron yang ada di layar kaca Indonesia masih banyak dijumpai

Ami Maryami, M.Si Dorang Luhpuri, SIP, Ph.D Krisna Dewi Setianingsih, M.Si, Ph.D Meiti Subardhini, M.Si, Ph.D Krisna Dewi Setianingsih, M.Si, Ph.D Meiti Subardhini, M.Si, Ph.D Dra..

Sekolah menetapkan serial mata pelajaran sehingga pembelajaran dapat dilaksanakan secara fleksibel dengan pola on/off bagi peserta didik untuk melaksanakan layanan

Karena Kampung Tambak Lorok berada di Kelurahan Tanjung Mas yang memiliki kawasan industri yang dinamakan Kawasan Industri Tanjung Mas, maka perlu

Dalam perancangan iklan layanan masyarakat ini untuk bertujuan untuk mensosialisasikan Posyandu bagi masyarakat kota Semarang dan membantu visi dan misi Dinas Kesehatan

speed related aggressive behaviour, safety violation, control error, external disturbance, traffic violation, prediction error, external human disturbance, braking error and

(Hariastuti, 2008:29). Buku panduan adalah salah satu media bahan cetak, yang berisi sejumlah informasi mengenai pemahaman tentang perilaku seksual menyimpang. Jadi layanan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pemanfaatan media gambar untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi pada siswa kelas II SDN