WAHANA Volume 21, No. 1, Februari 2018
PENTINGNYA INTEGRITAS UNTUK MENGURANGI
KECURANGAN AKUNTANSI
Rizkika Apriliana
1Dekeng Setyo Budiarto
2Universitas PGRI Yogyakarta
1,2[email protected]
2ABSTRACT
This research aimed to get empirical evidence the influence of internal control, integrity and the compliance of accounting rules on the tendency of accounting fraud at the OPD of Kulon Progo Regency. The population of this study wereall of OPD staffat Kulon Progo regency. The sample used was 83 respondent with purposive sampling method. The data was Collected by using questionnaires. The data were analizedwith multiple linear regression. The results of this research show that the integrity has a negative significant effect on the accounting fraud, while internal controls and the compliance of accounting rules has no significant effect on the accounting fraud.
Keywords: internal control, integrity and the compliance to accounting rules, the tendency of
accounting fraud.
PENDAHULUAN
Laporan keuangan merupakan bentuk pertanggungjawaban pemerintah daerah dalam mewujudkan akuntabilitas serta menunjukkan bahwa pemerintah telah melakukan tata kelola dengan baik (good governance) sehingga aspirasi masyarakat dan tujuan Negara dapat tercapai (Mardiasmo, 2018; Muna & Haris, 2018). Laporan keuangan organisasi harus dibuat oleh pihak yang memiliki kompetensi dan keahlian di bidang akuntansi keuangan daerah untuk menghindarikesalahan pencatatan atau tindakan kecurangan akuntansi (fraud), sehingga laporan keuangan yang dihasilkan akan bermanfaat bagi para pemakai dan pihak yang berkepentingan (Randiza & Anisma, 2016).
Kasus kecenderungan kecurangan akuntansi telah sering terjadi di sektor publik dan di sektor swasta. Membocorkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kepada pihak lain merupakan bentuk kecenderungan kecurangan akuntansi yang dilakukan pada sektor publik, sedangkan pengalokasian sumber dana yang tidak tepat merupakan bentuk kecenderungan kecurangan akuntansi pada sektor swasta (Thoyibatun, 2018). Laporan keuangan yang salah dalam penyajian akan menyebabkan salah dalam pengambilan keputusan di organisasi. Informasi laporan keuangan yang mengandung kecurangan salah saji material seperti menghilangkan data akuntansi akan menyesatkan pengguna sehingga salah dalam mengambil keputusan (Respati, 2011).
Beberapa riset sebelumnya telah berusaha menghubungkan antara kecurangan akuntansi dengan pengendalian internal (Adelin & Fauzihardani, 2013; Jaya, 2017) integritas anggota organisasi (K. Y. K. Dewi & Ratnadi, 2017; Lestari & Supadmi, 2017) dan ketaatan aturan akuntansi (C. K. R. Dewi, Surya, & Hasan, 2016; Zainuddin, 2016). Namun penelitian tentang kecurangan akuntansi ini masih menarik, karena menurut Indonesian Corruption Watch (ICW)kasus korupsi yang terjadi di Indonesia selalu meningkat. Tahun 2017 tercatat sebanyak 576 kasus korupsi dengan berbagai jenis seperti suap, penyalahgunaan dana, penyalahgunaan wewenang dan pemalsuan data. Kerugian negara yang ditaksir mencapai Rp. 6,5 Triliun dengan jumlah sekitar 1.298 orangyang telah di tetapkan tersangka. Kasus korupsi di lembaga Pemerintah Kabupaten menduduki angka korupsi paling tinggi yaitu sebanyak 222 kasus, Pemerintah Desa sebanyak 106 kasus, Pemerintah Kota sebanyak 45 kasus, BUMN sebanyak 23 kasus dan Kementrian sebanyak 19 kasus.Indonesian Corruption Watch (ICW) menyatakan bahwa sektor pemerintahan menduduki peringkat kedua setelah sector stransportasi yaitu terdapat 55 kasus
dengan kerugian negara sebesar Rp. 255 Miliar.
Kecurangan akuntansi terjadi karena adanya kesempatan, kurangnya pengawasan dan lemahnya pengendalian internal.Oleh karena itu, organisasi memerlukan pengendalian internal untuk memastikan bahwa kebijakan manajemen dilaksanakan. Semakin baik pengendalian maka kecurangan akan dapat dikurangi(Animah, 2018). Selain pengendalian internal, integritas dan ketaatan pada aturan akuntansi juga merupakan faktor yang penting dalam mengurangi kecurangan akuntansi.Integritas merupakan sikap etis seseorang untuk mempertahankan ideologisertamemiliki komitmen kuat yang ditampilkan melalui perilakunya (Schlenker, 2008). Seseorang yang memiliki integritas akan bersikap jujur, tanggungjawab dan bijaksana sehingga dapat mengambil keputusan dengan jujur. Individu yang memiliki integritas tinggi akan memiliki potensi yang kecil untuk melakukan kecurangan (Udayani & Sari, 2017). Kecenderungan melakukan kecurangan akuntansi akan semakin rendah, jika di organisasi taat terhadap aturan akuntansi yang berlaku. Tindakan kecurangan akuntansi di instansi pemerintahan dapat dicegah dengan cara meningkatkan ketaatan aturan akuntansinya (Tarigan, Hasan, & Silfi, 2016).
Motivasi penelitian ini adalah karena adanya hasil penelitian sebelumnya yang belum konsisten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian internal, integritas dan ketaatan aturan akuntansi berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi (C. K. R. Dewi et al., 2016; Eliza, 2015) dan (Jaya, 2017; Junia, Rasuli, & Diyanto, 2016; Rasidik, 2018) namun hasil penelitian lain menemukan bahwa pengendalian internal, integritas dan ketaatan aturan akuntansi tidak berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi (Azmi, 2017; Rosliana, 2018). Penelitian ini dilakukan kembali untuk memperoleh bukti empiris faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kecurangan akuntansi pada pegawai pemerintah daerah khususnya pada kabupaten Kulonprogo.
KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS
Pengendalian internal dan kecenderungan kecurangan akuntansi
Korupsi merupakan salah satu bentuk kecurangan akuntansi di organisasi yang didalam Teori Fraud Triangle dipengaruhi oleh tekanan (pressure), peluang (opportunity), dan rasionalisasi (razionalization) (Cressey, 1953). Tekanan dapat diartikan sebagaipaksaan untuk berbuat curang dari pihak manajemen, kesempatan maksudnya adanya kesempatan dari pihak manajemen untuk melakukan tindakan kecurangan di dalam organisasi dan sikap rasionalisasi yaitu sikap dimana suatu organisasi memperbolehkan pegawai untuk melakukan kecurangan (Putri, 2014).
Salah saji overstatement maupun understatement merupakan contoh dari tindakan kecurangan (fraud) ketika sedang menyusun laporan keuangan di organisasi. Ikatan Akuntan Indonesia menjelaskan bahwa kecurangan akuntansi berkaitan dengan salah saji atau menghilangan secara sengaja jumlah atau pengungkapan dalam laporan keuangan.Selain itu kecurangan dapat timbul dari perlakuan yang tidak wajar terhadap aktiva seperti penggelapan atau penyalahgunaan yang berkaitan dengan pencurian aktiva organisasi.Tindakan kecurangan terjadi karena disebabkan oleh 3 faktor yaitu faktor eksternal (organisasi), faktor internal (individu), dan pengendalian internal yang lemah (Eliza, 2015). Pengendalian internal merupakan suatu pedoman yang dimilki organisasi untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi laporan keuangan yang dibuat, dan sikap patuh terhahap hukum yang berlaku yang dipengaruhi oleh pihak manajemen dengan proses komprehensif yang digunakan untuk memberikan keyakinan yang memadai (Randiza & Anisma, 2016).
Menurut Arens, Elder, Beasley, and Amir (2012) terdapat 5 kerangka kerja pengendalian internal yaitu lingkungan pengendalian (control environment), aktivitas pengendalian (control activities), penilaian risiko (risk assesment), informasi & komunikasi (information & communication), dan pemantauan (monitoring) yang harus diimplikasikan oleh manajemen untuk memastikan tujuan pengendaliannya layak dan telah tercapai. Elder, Beasley, Arens, and Jusuf (2011)mendefinisikan sistem pengendalian internal terdiri dari prosedur dan kebijakan yang disusun agar tercapainya tujuan dan sasaran organisasi yang diberikan kepada pihak manajemen agar mendapat suatu kepastian yang pantas dan wajar. Pencapaian tujuan yang dilakukan organisasi membutuhkan kegiatan pengendalian yang terstruktur dengan baik untuk mengurangi risiko yang terjadi, sehingga kecurangan dapat dicegah (Muhammad & Ibrahim, 2017; Setiawan & Helmayunita, 2017).
diperlukan peran auditor yang menjadi bagian dari sistem pengendalian internalnya.Seseorang individu yang memiliki sikap moral yang baik tidak akan melakukan tindakan kecurangan (fraud), walaupun di organisasi meniadakan pengendalian internal yang baik (Hogan, Rezaee, Riley Jr, & Velury, 2008; Muna & Haris, 2018). Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Jaya (2017) dan Rasidik (2018) yang menyatakan bahwa pengendalian internal berpengaruh negatif signifikan pada kecenderungan kecurangan akuntansi. Berdasarkan hasil penelitian diatas maka diajukan hipotesis sebagai berikut:
H1: pengendalian internal berpengaruh negatif signifikan terhadap kecenderungan kecurangan
akuntansi.
Integritas dan kecenderungan kecurangan akuntansi
Integritas pelayanan publik merupakan komitmen pemerintah untuk meningkatkan layanan kepada masyarakat guna mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (Lestari & Supadmi, 2017). Gea (2014)menyatakan bahwa integritas diri diartikan sebagai bentuk ketahanan diri seseorang agar terhindar dari bermacam tekanan supaya tidak mementingkan kepentingan sendiri serta mengabaikan kepentingan orang banyak.Integritas merupakan ukuran kualitas seseorang untuk menguji semua keputusan yang dibuat sebagai landasan kepercayaan publik. Seseorang yang memiliki integritas harus memiliki sikap kejujuran, transparan, berani dan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya (Sukriah & Inapty, 2009). Kasus kecurangan akuntansi telah banyak terjadi di sektor pemerintahan, maka penting diperlukannya seseorang yang memiliki integritas yang tinggi (Singgih, Yuliati, & Amrul, 2018). Tindakan kecurangan akuntansi akanterjadi ketika seseorang memiliki sikap integritas yang rendah. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan olehK. Y. K. Dewi and Ratnadi (2017) dan Lestari and Supadmi (2017) dan yang menyatakan bahwa integritas berpengaruh negatif signifikan terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi. Berdasarkan hasil penelitian diatas maka diajukan hipotesis sebagai berikut:
H2: integritas berpengaruh negatif signifikan terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi.
Ketaatan aturan akuntansi dan kecenderungan kecurangan akuntansi
Ketaatan aturan akuntansi dapat menjadi pedoman dan acuan bagi pihak yang membuat laporan keuangan agar informasi yang dihasilkan bersifat handal untuk mengambil sebuah keputusan bagi pihak yang berkepentingan (K. Y. K. Dewi & Ratnadi, 2017). Ketaatan aturan akuntansi sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku dapat digunakan untuk mencegah tindakan kecurangan akuntansi di organisasi.Banyak kasus yang melakukan tindakan kecurangan di laporan keuangan terjadi karena pihak yang membuat laporan keuangan tidak mengacu atau tidak menjalankan standar akuntansi pemerintahan. Ketaatan aturan akuntansi sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan organisasi dalam kegiatan penyusunan laporan keuangan, sebab jika penyusunan tidak mengikuti standar akuntansi, maka akan memunculkan perilaku menyimpang sehingga kecenderungan melakukan kecurangan akuntansi meningkat (Shintadevi, 2015). Aturan akuntansi yang dijalankan sesuai dengan standar akuntansi yang benar oleh organisasi akan menghasilkan sebuah laporan keuangan yang efektif dan hasil informasinya handal bagi pihak yang membutuhkan (Tarigan et al., 2016).
Ketaatan aturan akuntansi merupakan kewajiban organisasi untuk mematuhi ketentuan atau aturan akuntansi yang berlaku dalam melaksanakan pengelolaan keuangan dan penyusunan laporan keuangan. Ketaatan aturan akuntansi akanmenciptakan transparansi dan sehinggainformasi laporan keuangan yang dihasilkanberguna dalam pengambilan keputusan di organisasi (Novikasari & Silfi, 2016). Penelitian yang dilakukan oleh Zainuddin (2016) dan C. K. R. Dewi et al. (2016) yang menyatakan bahwa ketaatan aturan akuntansi berpengaruh negatif signifikan terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi. Berdasarkan hasil penelitian diatas maka diajukan hipotesis sebagai berikut:
H3: ketaatan aturan akuntansi berpengaruh negatif signifikan terhadap kecenderungan kecurangan
akuntansi.
METODE PENELITIAN
Kabupaten Kulon Progo. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling atau pemilihan sampel berdasarkan kriteria. Kriteria yang digunakan adalah pertama; kepala bagian keuangan dan staf keungan pada OPD.Kedua; telah bekerja di bagian keuangan minimal 1 tahun.Ketiga; jenjang pendidikan terakhir minimal SLTA.Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner yang disebar kepada responden secara langsung. Kuesioner disebarkan pada 31 OPD di daerah Kabupaten Kulon Progo disajikan pada tabel 1.
Tabel 1. Hasil Penyebaran Kuesioner
No Keterangan Jumlah Prosentase
1. Kuesioner yang disebarkan 119 100%
2. Kuesioner yang kembali 90 76%
3. Kuesioner yang tidak mendapat respon 29 24%
4. Kuesoner yang dapat diolah 83 70%
Sumber: data primer diolah tahun 2018 Pengukuran Variabel
Pengukuran kecenderungan kecurangan akuntansi menggunakan indikator penelitian yang dikembangkan oleh Shintadevi (2015) dengan 15 butir pertanyaan. Indikator yang digunakan adalah kecenderungan untuk melakukan manipulasi, pemalsuan dokumen, atau merubah catatan akuntansi atau dokumen pendukungnya, kecenderungan untuk melakukan salah dalam menyajikan atau penghilangan peristiwa, transaksi, atau informasi yang signifikan dari laporan keuangan, kecenderungan untuk melakukan secara sengaja dalam menerapkan prinsip akuntansi, kecenderungan untuk melakukan penyajian laporan keuangan yang salah akibat pencurian terhadap aktiva yang membuat entitas harus memayar barang atau jasa yang tidak diterima, kecenderungan untuk melakukan penyajian laporan keuangan yang salah akibat perlakuan yang tidak semestinya terhadap aktiva dan disertai dengan catatan atau dokumen palsu dan dapat menyangkut satu atau lebih individu di antara manajemen, karyawan, atau pihak ketiga.
Pengukuran pengendalian internal menggunakan indikator penelitian yang dikembangkan oleh Shintadevi (2015)sebanyak 27 butir pertanyaandengan indikator yang digunakan adalah lingkungan pengendalian di organisasi, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi & komunikasi, dan pemantauan. Integritas diukur menggunakan indikator penelitian yang dikembangkan oleh Sukriah and Inapty (2009) sebanyak 14 butir pertanyaan dengan indikator yang digunakan untuk mengukur integritas adalah kejujuran, keberanian, sikap bijaksana dan tanggungjawab. Pengukuran ketaatan aturan akuntansi menggunakan indikator yang dikembangkan oleh Junia et al. (2016) dengan 7 butir pertanyaan. Indikator yang digunakan adalah tanggungjawab penerapan, kepentingan publik, integritas, objektuvitas, kehati-hatian, kerahasiaan, konsistensi, satandar teknis.
HASIL PENELITIAN Pengujian Instrumen
Pengujian instrumen pada penelitian ini menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas. Uji validitas merupakan uji yang digunakan untuk mengetahui apakah pertanyaan dapat digunakan untuk mengukur apa yang akan diukur oleh peneliti (Budiarto, 2019). Pengujian validitas menggunakan korelasi product moment dengan signifikansiα<5%.Hasil pengujian validitas menunjukkan bahwavariabel pengendalian internal, integritas, ketaatan aturan akuntansi, dan kecenderungan kecurangan akuntansi adalah valid.Contoh hasil uji validitas ketaatan aturan akuntansi ditunjukkan pada tabel 2.
Tabel 2. Hasil Uji Validitas Variabel Ketaatan Aturan Akuntansi
No Korelasi Sig (2-Tailed) Keterangan
X1 0,351* 0,003 Valid X2 0,432** 0,000 Valid X3 0,629** 0,000 Valid X4 0,550** 0,000 Valid X5 0,414** 0,000 Valid X6 0,589** 0,000 Valid X7 0,694** 0,000 Valid
Keterangan: * < 5%; ** < 1%, sumber: data primer diolah tahun 2018
Instrumen dikatakan reliabel, jika instrumen yang telah digunakan berulang kali dalam penelitian untuk mengukur objek yang sama dan akan menghasilkan data yang sama. Hasil dari pengujian reliabilitas (Tabel 3) menunjukkan bahwa seluruh variabel penelitian memiliki nilai Cronbach Alpha lebih dari 0,5.
Tabel 3. Hasil Uji Reliabilitas
Variabel Item Cronbach Alpha Keterangan
Pengendalian internal X1-X27 0,952 Reliabel
Integritas X28-X41 0,905 Reliabel
Ketaatan aturan akuntansi X42-X48 0,501 Reliabel
Kecenderungan kecurangan akuntansi Y1-Y15 0,959 Reliabel
Sumber: data primer diolah tahun 2018 Pengujian Hipotesis
Penelitian ini menggunakan uji hipotesis dengan Uji Regesi Linier Berganda. Pengujian hipotesis dilakukan untuk menguji pengaruh pengendalian internal, integritas, dan ketaatan aturan akuntansi terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi (Tabel 4).
Tabel 4. Hasil Uji Hipotesis
Variabel B t Sig. Keterangan
Pengendalian internal -0,014 -0,161 0,873 H1: ditolak
Integritas -0,477 -2,513 0,014* H2: diterima
Ketaatan aturan akuntansi -0,344 -1.204 0,232 H3: ditolak
F hitung = 8,050
Adjusted R Square = 0,205
0,000** Keterangan: * < 5%; ** < 1%, sumber: data primer diolah tahun 2018
Berdasarkan tabel 4 dapat dijelaskan bahwa pengendalian internal tidak berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi dengan p value >0,05 (0,873). Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian Eliza (2015) danMuna and Haris (2018) yang menyatakan bahwa tindakan kecurangan akuntansi di organisasi dapat dicegah dengan menerapkan pengendalian internal yang cukup efektif. Hasil penelitian ini mendukung penelitianAnimah (2018)yang menyatakan bahwa pengendalian internal tidak berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi. Alasan menolak hipotesis karena karena adanya faktor kesempatan. Kesempatan merupakan dasar terjadinya untuk melakukan tindakan kecurangan, jika organisasi mempunyai kesempatan yang tinggi untuk melakukan perbuatan curang, maka peluang pegawai untuk melakukan tindakan kecuranganakan tinggi. Pegawai di organisasi tidak takut melakukan tindakan yang menyimpang dan melanggar aturan akuntansi jika sitem pengendalian internal lemah, karena tindakan kecurangan yang dilakukan tidak diketahui oleh pihak lain (Savitri, Agusti, & Frilia, 2015).
Integritas berpengaruh negatif signifikan terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi dengan p value < 0,05. Sikap integritas yang ditunjukkan oleh pegawai di organisasi berpengaruh negatif pada kecenderungan kecurangan akuntansi. Pegawai yang memiliki sikap integritas tinggi
maka akan semakin rendah kecenderungan kecurangan akuntansi dalam melakukan pengelolaan keuangan di organisasi, sebaliknya jika integritas pegawai semakin rendah yangberhubungan dengan aktivitas penganggaran yang dilakukan di organisasi, maka kecenderungan kecurangan akuntansi akan meningkat (Singgih et al., 2018). Seorang pegawai di organisasi yang melakukan tindakan berprinsip baik, berperilaku etis, sesuai dengan aturan, serta berkomitmen, maka pegawai tidak akan melakukan kecurangan akuntansi (Lestari & Supadmi, 2017).
Ketaatan aturan akuntansi berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi, yang artinya ketaatan aturan akuntansi tidak berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi dengan p value > 0,05. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian C. K. R. Dewi et al. (2016) yang menyatakan bahwa semakin tinggi ketaatan aturan akuntansi yang dilakukan pada organisasi, maka akan semakin rendah tingkat kecenderungan kecurangan di organisasi untuk melakukan tindakan kecurangan akuntansi, namun hasil penelitian mendukung penelitian Azmi (2017) yang menyatakan bahwa ketaatan aturan akuntansi tidak berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi. Alasan menolak hipotesis karena ada faktor tekanan dari dalam organisasi. Tekanan untuk memodifikasi agar hasil laporan keuangan sesuai yang diinginkan organisasi, akan mendorong seseorang untuk malakukan manipulasi atau pemalsuan dokumen, sehingga laporan keuangan akan tetap disusun sesuai dengan aturan akuntansi yang berlakuagar menghasilkan laporan keuangan sesuai dengan tujuannya meskipun terdapat informasi yang tidak tepat (Kusumastuti & Meiranto, 2012).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa integritas berpengaruh negatif signifikan terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi.Namun, pengendalian internal dan ketaatan aturan akuntansi tidak berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan kecuangan akuntansi. Keterbatasan penelitian ini diantaranya: data penelitian hanya dilakukan pada satu wilayah hanya di Kabupaten Kulon Progo, penelitian hanya menggunakan metode kuesioner tidak melakukan metode wawancara dan penelitiaan hanya memasukkan variabel pengendalian internal, integritas, dan ketaatan aturan akuntansi terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah agar memperluas objek dan sampel penelitian agar bisa digeneralisasi dan bagi peneliti selanjutnya, menambah variabel lain yang yang berkaitan dengan faktor pressure dalam fraud triangle theory yaitu tekanan baik dari lingkungan internal maupun eksternal organisasi (Nurhayati & Muniarty, 2018).
REFERENSI
Adelin, V., & Fauzihardani, E. (2013). Pengaruh pengendalian internal, ketaaatan pada aturan akuntansi dan kecenderungan kecurangan terhadap perilaku tidak etis. Wahana Riset Akuntansi, 1(2), 1-15.
Animah. (2018). Pengaruh sistem informasi akuntansi dan efektivitas pengendalian internal terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi. Prosiding Ekonomi Kreatif di Era Digital, 1(1). Arens, A. A., Elder, R. J., Beasley, M. S., & Amir, A. (2012). Jasa Audit dan Assurance: Pendekatan
Terpadu (Adaptasi Indonesia) (Vol. Jilid I). Jakarta: Penerbit Salemba Empat.
Azmi, N. (2017). Pengaruh ketaatan aturan akuntansi, kesesuaian kompensasi dan asimetri informasi terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi (Studi Pada BUMN di Kota Padang). Jurnal Akuntansi, 5(2).
Budiarto, D. S. (2019). Panduan Riset Kuantitatif: Trik Publikasi Bagi Pemula (Vol. Edisi I). Yogyakarta: UPY-Press.
Cressey, D. R. (1953). Other people's money; a study of the social psychology of embezzlement. Dewi, C. K. R., Surya, R. A. S., & Hasan, M. A. (2016). Pengaruh pengendalian internal, kesesuaian
kecurangan akuntansi (Studi Empiris Pada SKPD Kabupaten Bengkalis). Jurnal Online Mahasiswa, 4(1), 1443-1457.
Dewi, K. Y. K., & Ratnadi, N. M. D. (2017). Pengaruh pengendalian internal dan integritas pada kecenderungan kecurangan akuntansi satuan kerja perangkat daerah Kota Denpasar. E-jurnal Akuntansi, 917-941.
Elder, R. J., Beasley, M. S., Arens, A. A., & Jusuf, A. A. (2011). Jasa Audit dan Assurance: Pendekatan Terpadu (Adaptasi Indonesia). Jakarta: Salemba Empat.
Eliza, Y. (2015). Pengaruh moralitas individu dan pengendalian internal terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi (Studi Empiris Pada SKPD di Kota Padang). Jurnal Akuntansi, 4(1), 86-100.
Gea, A. A. (2014). Integritas personal dan kepemimpinan etis. Humaniora, 5(2), 950-959.
Hogan, C. E., Rezaee, Z., Riley Jr, R. A., & Velury, U. K. (2008). Financial statement fraud: Insights from the academic literature. Auditing: A Journal of Practice Theory, 27(2), 231-252.
Jaya, J. (2017). Pengaruh pengendalian internal dan komitmen pimpinan terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi pada Pemerintah Kabupaten Musi Rawas. Jimat: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi, 7(1), 1-14.
Junia, N., Rasuli, M., & Diyanto, V. (2016). Pengaruh moralitas aparat, kesesuaian kompensasi, dan ketaatan aturan akuntansi terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi (Studi Empiris pada SKPD Kabupaten Kampar). Jurnal Online Mahasiswa, 3(1), 1623-1637.
Kusumastuti, N. R., & Meiranto, W. (2012). Analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi dengan perilaku tidak etis sebagai variabel intervening. (Tesis), Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Diponegoro.
Lestari, N. K. L., & Supadmi, N. L. (2017). Pengaruh pengendalian internal, integritas dan asimetri informasi pada kecurangan akuntansi. E-jurnal Akuntansi, 389-417.
Mardiasmo. (2018). Perpajakan (Edisi Revisi ed.). Yogyakarta: Andi.
Muhammad, R., & Ibrahim, R. (2017). Pengaruh kesesuaian kompensasi, penerapan sistem informasi akuntansi dan efektivitas pengendalian internal terhadap kecurangan akuntansi Studi pada BPR di Kota Banda Aceh. Jurnal ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi, 2(4), 136-145. Muna, B. N., & Haris, L. J. (2018). Pengaruh pengendalian internal dan asimetri informasi terhadap
kecenderungan kecurangan akuntansi. Jurnal Akuntansi, Ekonomi dan Manajemen Bisnis, 6(1), 35-44.
Novikasari, Y., & Silfi, A. (2016). Pengaruh moralitas individu, sistem pengendalian intern pemerintah, dan ketaatan aturan akuntansi terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi (Studi Empiris pada SKPD Kab. Kuantan Singingi). Jurnal Online Mahasiswa Bidang Ilmu Ekonomi, 4(1), 1516-1530.
Nurhayati, N., & Muniarty, P. (2018). Pengaruh sistem pengendalian internal dan asimetri informasi terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi serta dampaknya terhadap kualitas laporan keuangan. Valid Jurnal Ilmiah, 15(2), 125-135.
Putri, A. A. P. A. (2014). Pengaruh keefektifan pengendalian internal dan kepuasan kerja terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Aset Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Nominal, Barometer Riset Akuntansi dan Manajemen, 3(1).
Randiza, I., & Anisma, Y. (2016). Pengaruh pengendalian internal, asimetri informasi, moralitas aparat pemerintah dan ketaatan aturan terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi (Studi kasus pada SKPD Kab. Indragiri Hilir). Jurnal Online Mahasiswa, 3(1), 1108-1122.
Rasidik, E. R. (2018). Pengaruh asimetri informasi, moralitas individu, kesesuaian kompensasi, dan pengendalian internal terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi. Ekonomia, 6(3), 001-013.
Respati, N. W. T. (2011). Pengaruh locus of control terhadap hubungan sikap manajer, norma-norma subyektif, kendali perilaku persepsian, dan intensi manajer dalam melakukan kecurangan penyajian laporan keuangan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, 8(2), 123-140. Rosliana, R. (2018). Pengaruh pengendalian internal dan budaya etis organisasi terhadap
kecenderungan kecurangan akuntansi pada perbankan di Pekanbaru. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, 7(1).
Savitri, E., Agusti, R., & Frilia, F. (2015). Pengaruh asimetri informasi, sistem pengendalian intern, dan kesesuaian kompensasi terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi (Studi Empiris pada Bank Swasta di Kota Pekanbaru). Jornal Online Mahasiswa, 2(1).
Schlenker, B. R. (2008). Integrity and character: Implications of principled and expedient ethical ideologies. Journal of Social Clinical Psychology, 27(10), 1078-1125.
Setiawan, M. A., & Helmayunita, N. (2017). Pengaruh pengendalian internal, tekanan finansial, dan moralitas individu terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi: Studi Eksperimen pada Konteks Pemerintahan Daerah. Economac: Jurnal Ilmiah Ilmu Ekonomi, 1(1), 52-67.
Shintadevi, P. F. (2015). Pengaruh keefektifan pengendalian internal, ketaatan aturan akuntansi dan kesesuaian kompensasi terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi dengan perilaku tidak etis sebagai variabel intervening. Nominal; Barometer Riset Akuntansi dan Manajemen, 4(2). Singgih, D. W., Yuliati, N. N., & Amrul, R. (2018). Pengaruh pengendalian internal dan integritas pada kecenderungan kecurangan akuntansi (Studi Kasus Pada Dinas SKPD Kota Mataram). Jurnal Aplikasi Akuntansi, 2(1), 42-42.
Sukriah, I. A., & Inapty, B. A. (2009). Pengaruh pengalaman kerja, independensi, obyektifitas, integritas dan kompetensi terhadap kualitas hasil pemeriksaan. Simposium Nasional Akuntansi XII, Palembang, 3(2), 1-38.
Tarigan, L. B., Hasan, A., & Silfi, A. (2016). Pengaruh moralitas individu, asimetri informasi, efektivitas pengendalian internal dan ketaatan aturan akuntansi terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi (Studi pada BUMD Provinsi Riau). Jurnal Online Mahasiswa, 3(1), 896-909.
Thoyibatun, S. (2018). Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku tidak etis dan kecenderungan kecurangan akuntansi serta akibatnya terhadap kinerja organisasi. Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan, 16(2), 245-260.
Udayani, A. A. K. F., & Sari, M. M. R. (2017). Pengaruh pengendalian internal dan moralitas individu pada kecenderungan kecurangan akuntansi. E-jurnal Akuntansi, 1774-1799.
Zainuddin, Z. (2016). Efektivitas pengendalian internal, Budaya etis organisasi dan ketaatan aturan akuntansi terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi. El Muhasaba: Jurnal Akuntansi, 7(1), 37-50.