• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

25 BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Hasil penelitian akan disajikan dalam bentuk data-data yang telah didapatkan oleh peneliti selama dilakukannya penelitian. Data yang diperoleh tersebut akan digunakan guna menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan oleh peneliti. Data-data tersebut diperoleh melalui studi kepustakaan dengan mempelajari berkas perkara yang diperiksa dan diputus oleh Pengadilan Negeri Jambi Nomor: 61/Pdt.Plw/2017/PN. Jmb.

Berdasarkan hal tersebut, maka data yang telah diperoleh dari berkas perkara sebagai hasil penelitian meliputi:

1. Nomor Perkara 2. Identitas Para Pihak 3. Duduk Perkara 4. Amar Putusan

Adapun data yang disajikan dalam sengketa ini adalah sebagai berikut:

1. Nomor Perkara

Nomor: 61/Pdt.Plw/2017/PN. Jmb

2. Identitas Para Pihak

a) PELAWAN: PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional, Tbk (BTPN) beralamat di Jalan Sultan Thaha Komplek WTC Blok B No. 21-22 Kelurahan Orang Kayo Hitam, Kecamatan Pasar Jambi, Kota Jambi b) TERLAWAN: SUKISNO beralamat di Jalan Abdul Khatab RT.15 No.

20 Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi c) TURUT TERLAWAN I: NURHAIMAH SIRAIT beralamat di Jalan

H. M. Yusuf Nasri RT.07 No. 90, Kelurahan Wijaya Pura, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi

commit to user

(2)

26

d) TURUT TERLAWAN II: SYAHARUDDIN HARAHAP beralamat di Jalan H. M. Yusuf Nasri RT.07 No. 90, Kelurahan Wijaya Pura, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi

3. Duduk Perkara

Pelawan dalam gugatan perlawanannnya tertanggal 22 Mei 2017 yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jambi pada tanggal 8 Juni 2017 dengan Nomor Perkara: 61/Pdt.Plw/2017/PN. Jmb, mengemukakan bahwa TERLAWAN telah mengajukan permohonan sita eksekusi atas objek yang berupa Tanah seluas 665 m2 beserta bangunan dengan Sertifikat Hak Milik No. 78 atas nama Nurhaimah Sirait (Turut Terlawan I) yang terletak di jalan Yusuf Nasri, Kelurahan Wijaya Pura, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi, yang mana terlebih dahulu tanah tersebut telah diikat sebagai jaminan dari perjanjian kredit sebagaimana dalam Akta Perjanjian Kredit No. 09 beserta Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Kredit (SKUPK) antara PT. BTPN (Pelawan) dengan Nurhaimah Sirait (Turut Terlawan). Tanah yang digunakan sebagai jaminan atas perjanjian kredit tersebut juga telah diikat/dibebani dengan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) No. 05/2013 sejak tanggal 7 Januri 2013 dan telah diterbitkan Sertifikat Hak Tanggungan (SHT) No. 656/2013 tanggal 12 Januari 2013, yang mana PT. BTPN (Pelawan) adalah pemegang hak tanggungan peringkat pertama (I) yang kesemuanya hak tanggungan itu memiliki kekuatan eksekutorial dan PT. BTPN memiliki hak untuk menjual tanah tersebut.

Bahwa Nurhaimah Sirait (Turut Terlawan I) telah mendapatkan persetujuan dari suaminya (Turut Terlawan II) untuk melakukan hubungan hukum dengan PT. BTPN dimana Turut Terlawan I sebagai debitur dan PT.

BTPN sebagai kreditur dan telah saling sepakat untuk mengikatkan diri dengan membuat perjanjian kredit sebagaimana Akta Perjanjian Kredit No.

09 beserta Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Kredit (SKUPK) dengan jaminan yang berupa Tanah seluas 665 m2 beserta commit to user

(3)

27

bangunan dengan Sertifikat Hak Milik No. 78 atas nama Nurhaimah Sirait (Turut Terlawan I) yang terletak di jalan Yusuf Nasri, Kelurahan Wijaya Pura, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi, yang dibuat oleh dan di hadapan notaris. Total hutangnya adalah sebesar Rp. 1.348.157.079,- (Satu Milyar Tiga Ratus Empat Puluh Delapan Juta Seratus Lima Puluh Tujuh Ribu Tujuh Puluh Sembilan Rupiah), belum termasuk bunga dan penalti serta biaya-biaya lain yang wajib dibayar oleh Turut Terlawan I selaku debitur.

Bahwa objek jaminan tersebut telah diikat/dibebani dengan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) No. 05/2013 sejak tanggal 7 Januri 2013 dan telah diterbitkan Sertifikat Hak Tanggungan (SHT) No. 656/2013 tanggal 12 Januari 2013, yang memiliki irah irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”, tercantum Hak Tanggungan diberikan untuk menjamin pelunasan piutang hingga sejumlah Rp.

1.293.700.000,- (Satu Milyar Dua Ratus Sembilan Puluh Tiga Tujuh Ratus Ribu Rupiah) dan PT. BTPN (Pelawan) sebaagai pemegang Hak Tanggungan Peringkat Pertama (I). Kesemuanya telah dibuat sah dan mengikat sebagai akta-akta otentik yang dibuat berdasarkan ketentuan Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitaan dengan Tanah (UUHT) yang memiliki kekuatan eksekutorial.

Kemudian dalam perkara lain, objek Tanah tersebut disita oleh pengadilan dalam perkara No. 42/Pdt.G/2016/PN. Jmb tertanggal 27 Juli 2016 terkait gugatan wanprestasi. Dalam perkara tersebut, para turut terlawan diputus karena wanprestasi sehingga tanah milik para turut terlawan disita oleh pengadilan untuk melunasi hutang terhadap Sukisno (terlawan). Namun dalam gugatan awal Sukisno yang baru diajukan pada tanggal 11 April 2016, hutang piutang atau kerugian yang didalilkan terlawan dalam gugatannya juga tidak mendalilkan/tidak ada kaitan objek yang disita eksekusi sekarang ini dijadikan jaminan atau agunan oleh para turut terlawan kepada terlawan. commit to user

(4)

28

Di sisi lain, objek tanah tersebut telah diserahkan oleh para turut terlawan kepada PT. BTPN sebagai jaminan kredit yang telah pula diikat dan dibebani oleh hak tanggungan, dimana PT. BTPN sebagai pemegang hak tanggungan peringkat pertama pada tahun 2013, sedangkan gugatan wanprestasi yang diajukan oleh Sukisno (terlawan) terhadap para turut terlawan baru diajukan pada tahun 2016. Maka sudah seharusnya objek tanah tersebut sudah menjadi hak PT. BTPN untuk mengeksekusi sebagai pemegang hak tanggungan peringkat pertama yang sah.

4. Amar Putusan DALAM PROVISI:

Menolak tuntutan Provisi Pelawan untuk seluruhnya DALAM EKSEPSI

Menolak eksepsi dari Terlawan untuk seluruhnya DALAM POKOK PERKARA:

1) Menerima dan mengabulkan perlawana Pelawan untuk sebagian;

2) Menyatakan secara hukum Pelawan sebagai Pelawan yang baik dan benar;

3) Menyatakan secara hukum Pelawan adalah Kreditur yang beritikad baik;

4) Menyatakan secara hukum batal atau tidak berlaku mengikat Penetapan- Penetapan Pengadilan Negeri Jambi No. 15/PEKS/2016/PN. Jmb tanggal 10 November 2016;

5) Menyatakan secara hukum batal atau tidak berlaku mengikat Berita Acara Penyitaan Eksekusi No. 15/BA.Sit.Eks/2016/PN. Jmb tanggal 23 November 2016 Jo. Putusan Pengadilan Negeri Jambi No.

42/Pdt.G/2016/PN. Jmb tanggal 27 Juli 2016;

6) Menetapkan secara hukum mengangkat sita eksekusi atas objek sita eksekusi;

7) Menyatakan sah secara hukum Akta Perjanjian Kredit No. 09 beserta Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Kredit (SKUPK) yang commit to user

(5)

29

dibuat oleh dan di hadapan HALIJAH, SH., Notaris di Jambi, beserta Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Kredit (SKUPK) sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan Perjanjian Kredit dengan segala perubahan, addendum maupun turunannya;

8) Menyatakan sah secara hukum penjaminan kredit berupa tanah seluas 665 m2 berikut bangunan dan atau tanaman beserta segala sesuatu yang berdiri di atasnya baik yang ada sekarang maupun yang akan ada dengan segala perubahannya di kemudian hari yang terletak di jalan Yusuf Nasri, Kelurahan Wijaya Pura, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi, Sertipikat Hak Milik Nomor 78/Wijaya Pura atas nama Nurhaimah Sirait, Surat Ukur Nomor 00690/Wijaya Pura/2012 Tanggal 11 September 2012 yang diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Kota Jambi Tanggal 03 Desember 2012;

9) Menyatakan sah secara hukum Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) No. 05/2013 Tanggal 07 Januari 2013 yang dibuat oleh dan di hadapan HALIJAH, SH., PPAT di Kota Jambi;

10) Menyatakan sah secara hukum Sertipikat Hak Tanggungan (SHT) No.

656/2013 tanggal 12 Januari 2013 oleh Kantor Pertanahan Kota Jambi;

11) Menghukum Terlawan dan Para Turut Terlawan untuk tunduk dan patuh terhadap isi putusan ini;

12) Menghukum Terlawan untuk membayar biaya yang timbul dalam perlawanan ini yang hingga kini berjumlah Rp. 1.411.000,- (Satu Juta Empat Ratus Sebelas Ribu Rupiah);

13) Menolak perlawanan dari Pelawan untuk selain dan selebihnya.

B. Pembahasan

1. Kedudukan Objek Hak Tanggungan ketika Terjadi Sengketa menurut Hukum Jaminan di Indonesia.

Pengertian Jaminan secara umum telah disebutkan dalam Pasal 1131 KUHPerdata, yang berbunyi, “Segala kebendaan si berutang, baik yang bergerak maupun yang tak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang

commit to user

(6)

30

baru akan ada di kemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan”. Dalam hal ini, jaminan akan lahir apabila terdapat perjanjian hutang-piutang sebelumnya.

Kemudian adanya jaminan sangat penting bagi kreditur untuk menjamin bahwa debitur akan melunasi hutangnya. Dalam Pasal 1 Angka 23 Undang-Undang Republik Indonsia Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan, menjelaskan bahwa, “Agunan adalah jaminan tambahan yang diserahkan Nasabah Debitur kepada bank dalam rangka pemberian fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah”.

Salah satu bentuk jaminan adalah Jaminan Hak Tanggungan.

Menurut Pasal 1 Angka (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah, Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah, yang selanjutnya disebut Hak Tanggungan yaitu hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lainnya.

Objek yang dibebani hak tanggungan sebagaimana tertera dalam Pasal 4 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah adalah Hak Milik, Hak Guna Usaha, dan Hak Guna Bangunan. Kemudian terdapat pula pada Pasal 25 Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria menyatakan bahwa hak milik (atas tanah) dapat dijadikan jaminan utang dengan dibebani hak tanggungan.

Hak atas tanah yang dijadikan jaminan memiliki beberapa syarat- syarat yang harus dipenuhi, yaitu diantaranya (H.S. Salim, 2004: 118): commit to user

(7)

31

a. Didaftarkan secara umum untuk memenuhi syarat publisitas b. Mudah dipindah tangankan

c. Memiliki nilai ekonomis

Selanjutnya dalam Pasal 5 Ayat (1) dan (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah, suatu objek Hak Tanggungan dapat dibebani dengan lebih dari satu Hak Tanggungan untuk menjamin pelunasan lebih dari satu hutang. Apabila pembebanan objek Hak Tanggungan tersebut lebih dari satu Hak Tanggungan, maka peringkat masing-masing pemegang Hak Tanggungan ditentukan menurut tanggal pendaftarannya di Kantor Pertanahan.

Pemberian kedudukan yang diutamakan kepada kreditur pemegang hak tanggungan ini juga berkaitan dengan salah satu asas kebendaan yaitu droit de preference. Dalam praktik perbankan, droit de preference ini berarti bahwa penguasaan hak atas tanah merupakan wewenang untuk menguasai hak atas tanah oleh kreditur bukan secara fisik namun untuk digunakan sebagai objek yang akan dijual untuk pelunasan hutang debitur.

Berkaitan dengan posisi kreditur yang diutamakan, Pasal 20 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan menyebutkan bahwa kreditur pemegang hak tanggungan berhak menjual objek Hak Tanggungan melalui pelelangan umum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Andhyka Muchtar, 2014: 28).

Sebagai bukti adanya hak tanggungan, maka Kantor Pertanahan akan menerbitkan Sertifikat Hak Tanggungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sertifikat Hak Tanggungan ini memuat irah-irah dengan kata-kata, “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”. Hal ini tertulis dalam ketentuan pasal 14 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan.

Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa Sertifikat Hak Tanggungan tersebut memiliki kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan. Artinya apabila debitur cidera janji, kreditur akan dapat commit to user

(8)

32

memintakan eksekusi kepada Pengadilan Negeri atas objek Hak Tanggungan yang disebutkan dalam Sertifikat Hak Tanggungan tersebut.

Cidera janji atau wanprestasi adalah suatu keadaan dimana karena kelalaian atau kesalahannya, debitur tidak dapat memenuhi prestasi seperti yang telah ditentukan di dalam perjanjian. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata pun juga memberikan pengertian mengenai wanpretasi, yaitu dalam pasal 1243 yang berbunyi, “Penggantian biaya, kerugian, dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur, walaupun telah dinyatakan lalai, tetap lalai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dilakukan hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui waktu yang telah ditentukan”, Menurut Subekti dalam bukunya “Hukum Perjanjian”

(Jakarta: 2019), terdapat 4 (empat) bentuk wanprestasi, yaitu:

a. Tidak melakukan apa yang disanggupi untuk dilakukan

b. Melakukan apa yang diperjanjian tetapi tidak sebagaimana yang diperjanjikan

c. Melakukan apa yang sudah diperjanjikan tetapi terlambat d. Melakukan sesuatu yang dilarang dalam perjanjian

Eksekusi objek hak tanggungan dilakukan dengan cara lelang. Lelang adalah penjualan barang secara terbuka untuk umum dengan penawaran harga secara tertulis dan/atau lisan yang semakin meningkat atau menurun untuk mencapai harga tertinggi yang didahului dengan pengumuman lelang. Lelang eksekusi hak tanggungan diatur dalam Penjelasan Pasal 41 Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, terdapat 3 cara untuk melakukan eksekusi hak tanggungan, yaitu:

a. Eksekusi berdasarkan title eksekutorial commit to user

(9)

33

Cara ini terdapat dalam Sertifikat Hak Tanggungan yang memuat irah- irah, “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” sebagaimana terdapat dalam Pasal 14 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan. Eksekusi ini berdasarkan Pasal 224 HIR dan Pasal 258 Rbg yang mengatur mengenai eksekusi terhadap dokumen selain putusan pengadilan yang memiliki title eksekutorial.

b. Eksekusi melalui penjualan di bawah tangan

Cara ini diatur di dalam Pasal 20 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang berbunyi, “Atas kesepakatan pemberi dan pemegang hak tanggungan, penjualan objek hak tanggungan dapat dilaksanakan di bawah tangan jika dengan demikian itu akan diperoleh harga tertinggi yang menguntungkan semua pihak”. Penjualan objek hak tanggungan dilakukan melalui lelang umum dengan harga jual jauh di bawah harga pasar. Cara eksekusi sebelumnya harus ada kesepakatan bersama terlebih dahulu antara pemberi dan penerima hak tanggungan.

c. Parate Eksekusi

Cara ini didasarkan pada Pasal 6 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang berbunyi, “Apabila debitur cidera janji, pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut”.

Dalam penjelasan Pasal tersebut, dijelaskan bahwa hak untuk menjual objek hak tanggungan atas kekuasaan sendiri tersebut merupakan salah satu perwujudan dari kedudukan diutamakan yang dimiliki oleh pemegang hak tanggungan. Hal ini berdasarkan pada perjanjian yang mencantumkan bahwa apabila debitur cidera janji, maka pemegang hak tanggungan berhak untuk menjual objek hak tanggungan melalui pelelangan umum tanpa memerlukan lagi persetujuan dari pemberi hak tanggungan yang kemudian

commit to user

(10)

34

pemegang hak tanggungan dapat mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut terlebih dahulu daripada kreditur-kreditur lainnya.

Asas droit de preference ini juga didukung dengan adanya asas droit de suite. Pasal 7 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah menyatakan bahwa Hak Tanggungan akan tetap mengikuti objeknya dalam tangan siapa pun objek tersebut berada (droit de suite). Dalam penjelasan pasal dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tersebut, sifat tersebut merupakan salah satu jaminan khusus bagi kepentingan pemegang Hak Tanggungan yang dalam hal ini adalah kreditur. Artinya, meskipun objek Hak Tanggungan sudah berpindah tangan dan menjadi milik pihak lain, kreditur akan tetap dapat menggunakan haknya untuk melakukan eksekusi objek hak tanggungan tersebut ketika debitur cidera janji.

Kata Droit de suite berasal dari Bahasa Perancis. Istilah Droit de suite ini merupakan istilah yang dikenal di negara-negara Eropa yang di dalam Black’s Law Dictionary 9th Edition memiliki arti right to follow: The droit de suite literally translated as the right to follow. Mengutip dari salah satu Putusan Pengadilan Negeri yaitu Putusan Pengadilan Negeri Surabaya Nomor 1025/Pdt.G/2012/PN. Sby yang mengatakan bahwa asas droit de suite memberikan kepastian kepada kreditur mengenai haknya untuk memperoleh pelunasan dari hasil penjualan atas tanah penguasaan fisik atau hak atas tanah penguasaan yuridis, yang menjadi objek hak tanggungan bila debitur wanprestasi, sekalipun tanah atau hak atas tanah yang menjadi objek hak tanggungan itu dijual oleh pemiliknya atau pemberi hak tanggungan kepada pihak ketiga.

Droit de suite ini akan memenuhi asas “spesialitas” dan “publisitas”

bagi kreditur karena dapat mengikat pihak ketiga dan akan memberikan kepastian hukum bagi pihak-pihak yang memiliki kepentingan. Asas spesialitas adalah asas yang menghendaki bahwa Hak Tanggungan hanya dapat dibebankan atas tanah yang ditentukan secara spesifik. Kemudian commit to user

(11)

35

mengenai asas publisitas, fungsinya sebagai alat untuk mensosialisasikan kepada masyarakat untuk mengetahui kedudukan atas benda yang dijaminkan. Kedua asas tersebut berkaitan dengan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT). Pengikatan jaminan Hak Tanggungan dalam hal ini hak atas tanah, wajib diikuti dengan pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) yang dilakukan di hadapan notaris/PPAT sesuai dengan Pasal 10 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan. Asas-asas ini khususnya untuk memenuhi Pasal 11 dan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan.

Isi dari Pasal 11 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan ini yaitu:

“(1) Di dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan wajib dicantumkan : a. nama dan identitas pemegang dan pemberi Hak Tanggungan;

b. domisili pihak-pihak sebagaimana dimaksud pada huruf a, dan apabila di antara mereka ada yang berdomisili di luar Indonesia, baginya harus pula dicantumkan suatu domisili pilihan di Indonesia, dan dalam hal domisili pilihan itu tidak dicantumkan, kantor PPAT tempat pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan dianggap sebagai domisili yang dipilih;

c. penunjukan secara jelas utang atau utang-utang yang dijamin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan Pasal 10 ayat (1);

d. nilai tanggungan;

e. uraian yang jelas mengenai objek Hak Tanggungan.

(2) Dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan dapat dicantumkan janji- janji, antara lain:

a. janji yang membatasi kewenangan pemberi Hak Tanggungan untuk menyewakan objek Hak Tanggungan dan/atau menentukan atau mengubah jangka waktu sewa dan/atau menerima uang sewa di muka, kecuali dengan persetujuan tertulis lebih dahulu dari pemegang Hak Tanggungan; commit to user

(12)

36

b. janji yang membatasi kewenangan pemberi Hak Tanggungan untuk mengubah bentuk atau tata susunan objek Hak Tanggungan, kecuali dengan persetujuan tertulis lebih dahulu dari pemegang Hak Tanggungan;

c. janji yang memberikan kewenangan kepada pemegang Hak Tanggungan untuk mengelola objek Hak Tanggungan berdasarkan penetapan Ketua Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi letak objek Hak Tanggungan apabila debitur sungguh-sungguh cidera janji;

d. janji yang memberikan kewenangan kepada pemegang Hak Tanggungan untuk menyelamatkan objek Hak Tanggungan, jika hal itu diperlukan untuk pelaksanaan eksekusi atau untuk mencegah menjadi hapusnya atau dibatalkannya hak yang menjadi objek Hak Tanggungan karena tidak dipenuhi atau dilanggarnya ketentuan undang-undang;

e. janji bahwa pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual atas kekuasaan sendiri objek Hak Tanggungan apabila debitur cidera janji;

f. janji yang diberikan oleh pemegang Hak Tanggungan pertama bahwa objek Hak Tanggungan tidak akan dibersihkan dari Hak Tanggungan;

g. janji bahwa pemberi Hak Tanggungan tidak akan melepaskan haknya atas objek Hak Tanggungan tanpa persetujuan tertulis lebih dahulu dari pemegang Hak Tanggungan;

h. janji bahwa pemegang Hak Tanggungan akan memperoleh seluruh atau sebagian dari ganti rugi yang diterima pemberi Hak Tanggungan untuk pelunasan piutangnya apabila objek Hak Tanggungan dilepaskan haknya oleh pemberi Hak Tanggungan atau dicabut haknya untuk kepentingan umum;

i. janji bahwa pemegang Hak Tanggungan akan memperoleh seluruh atau sebagian dari uang asuransi yang diterima pemberi commit to user

(13)

37

Hak Tanggungan untuk pelunasan piutangnya, jika objek Hak Tanggungan diasuransikan;

j. janji bahwa pemberi Hak Tanggungan akan mengosongkan objek Hak Tanggungan pada waktu eksekusi Hak Tanggungan;

k. janji yang dimaksud dalam Pasal 14 ayat (4).”

Kemudian isi dari Pasal 13 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan tersebut yaitu:

“(1) Pemberian Hak Tanggungan wajib didaftarkan pada Kantor Pertanahan.

(2) Selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah penandatanganan Akta Pemberian Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2), PPAT wajib mengirimkan Akta Pemberian Hak Tanggungan yang bersangkutan dan warkah lain yang diperlukan kepada Kantor Pertanahan.

(3) Pendaftaran Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Kantor Pertanahan dengan membuatkan buku-tanah Hak Tanggungan dan mencatatnya dalam buku-tanah hak atas tanah yang menjadi objek Hak Tanggungan serta menyalin catatan tersebut pada sertipikat hak tas tanah yang bersangkutan.

(4) Tanggal buku-tanah Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tanggal hari ketujuh setelah penerimaan secara lengkap surat-surat yang diperlukan bagi pendaftarannya dan jika hari ketujuh itu jatuh pada hari libur, buku-tanah yang bersangkutan diberi bertanggal hari kerja berikutnya.

(5) Hak Tanggungan lahir pada hari tanggal buku-tanah Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud pada ayat (4).”

Perjanjian Kredit (Perjanjian Hutang-Piutang) antara Bank sebagai kreditur dengan nasabah sebagai debitur biasanya menggunakan jaminan berupa benda tidak bergerak yaitu tanah, karena tanah memiliki nilai commit to user

(14)

38

ekonomi yang tinggi dan nilainya cenderung stabil. Perjanjian Kredit ini dilaksanakan berdasarkan kebebasan dalam membuat perikatan seperti yang tertera dalam Pasal 1329 KUHPerdata yang berbunyi, “setiap orang adalah cakap untuk membuat perikatan-perikatan, jika ia oleh undang- undang tidak dinyatakan tak cakap.”.

Tak cakap untuk membuat suatu perjanjian menurut pasal 1330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yaitu:

1. Orang-orang yang belum dewasa;

2. Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan;

3. Orang-orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan oleh undang- undang, dan pada umumnya semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang membuat perjanjian tertentu.

Berdasarkan perjanjian kredit tersebut, debitur wajib melunasi hutangnya dalam jangka waktu yang telah ditentukan seperti yang sudah diatur dalam Pasal 1 Angka 11 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan. Dalam pemberian kredit ini, bank harus memiliki keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atas itikad dan kesanggupan debitur dalam melunasi hutangnya sesuai dengan yang telah diperjanjikan. Hal ini sesuai dengan prinsip kehati-hatian bank, seperti yang tertera dalam Pasal 29 Ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan yang berbunyi, “Bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai dengan ketentuan kecukupan modal, kualitas aset, kualitas manajemen, likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank, dan wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian”.

Ketika terjadi sengketa atas objek Hak Tanggungan (tanah) tersebut, kreditur sebagai pemegang Hak Tanggungan yang sah akan tetap memiliki hak untuk mengeksekusi objek Hak Tanggungan tersebut apabila debitur cidera janji, sesuai dengan Pasal 6 Undang-Undang Republik Indonesia commit to user

(15)

39

Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah. Pasal tersebut berbunyi, “Apabila debitur cidera janji, pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut”. Pasal ini menjelaskan bahwa sesuai dengan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) yang telah diperjanjikan, pemegang Hak Tanggungan peringkat pertama memiliki hak untuk menjual sendiri objek Hak Tanggungan apabila debitur cidera janji dengan kekuasaan sendiri melalui cara lelang melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). Akta Pemberian Hak Tanggungan adalah Akta PPAT yang berisi pemberian Hak Tanggungan kepada kreditur tertentu sebagai jaminan untuk pelunasan piutangnya. Artinya apabila objek tanah yang telah diikat dan dibebani oleh Hak Tanggungan, berdasarkan APHT, akan dapat dieksekusi sebagai objek Hak Tanggungan oleh pemegang Hak Tanggungan.

Objek hak tanggungan akan tetap dapat dilakukan eksekusi meskipun terjadi sengketa yang melibatkan objek hak tanggungan tersebut.

Sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan dan sesuai dengan prinsip droit de preference, objek hak tanggungan tersebut akan tetap dapat dieksekusi oleh kreditur pemegang hak tanggungan karena kreditur tersebut memiliki kedudukan yang didahulukan dalam pelunasan piutangnya, oleh karena itu meskipun menjadi objek sengketa, status sebagai jaminan hak tanggungan tersebut tidak akan hilang, sehingga ketika debitur wanprestasi, objek hak tanggungan yang diberikan oleh debitur akan tetap dapat dieksekusi oleh kreditur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

commit to user

(16)

40

2. Perlindungan Hukum terhadap Kreditur Pemegang Hak Tanggungan ketika Objek Hak Tanggungan menjadi Objek Sengketa dalam Putusan No. 61/Pdt.Plw/2017/PN. Jmb berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan.

Pada putusan No. 61/Pdt.Plw/2017/PN. Jmb, dijelaskan bahwa terdapat masalah bagi PT. BTPN selaku kreditur dalam eksekusi objek hak tanggungannya. Dalam kasus pada putusan tersebut, objek hak tanggungan yang sedang dilakukan lelang oleh PT. BTPN ternyata sedang dilakukan sita jaminan oleh pengadilan karena adanya gugatan wanprestasi antara debitur dari PT. BTPN dengan pihak ketiga sehingga PT. BPTN selaku kreditur pemegang hak tanggungan peringkat pertama dalam kasus ini memerlukan suatu perlindungan hukum

Bentuk perlindungan hukum eksternal sebagaimana yang dikemukakan oleh Moch. Isnaeni disini dapat diterapkan. perlindungan hukum eksternal dituangkan dalam bentuk regulasi yang dibuat oleh para penguasa untuk melindungi berbagai macam kepentingan. Dalam kasus yang terdapat dalam putusan No. 61/Pdt.Plw/2017/PN. Jmb tersebut, Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan dapat digunakan sebagai dasar perlindungan bagi PT. BTPN selaku kreditur.

Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan menjelaskan bahwa Hak Tanggungan akan memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu (yang diberikan hak sebagai pemegang hak tanggungan) terhadap kreditur-kreditur lainnya (droit de preference). Sehingga dalam hal ini, PT. BTPN memiliki hak sepenuhnya atas objek hak tanggungan tersebut, mengingat sebelumnya juga dalam perjanjian tidak dicantumkan bawa hak tanggungan itu dibagi- bagi dengan pihak lain.

Pada pasal 10 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, menerangkan bahwa pemberian Hak Tanggungan didahului dengan janji untuk memberikan Hak Tanggungan sebagai jaminan pelunasan hutang tertentu, yang dituangkan di dalam dan commit to user

(17)

41

merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perjanjian hutang-piutang yang bersangkutan atau perjanjian lainnya yang menimbulkan hutang tersebut. Hal ini berarti bahwa, jaminan merupakan perjanjian tambahan dari suatu perjanjian pokok yaitu perjanjian hutang-piutang. Perjanjian yang menimbulkan hubungan hutang-piutang ini dapat dibuat dengan akta di bawah tangan atau dapat pula dibuat dengan akta otentik. Perjanjian jaminan disebut dengan perjanjian tambahan (accesoir). Karena sifatnya tidak dapat dipisahkan dari perjanjian pokok, maka jaminan tersebut akan tetap ada sepanjang perjanjian pokok tersebut masih berlaku atau tidak ada alasan-alasan lain yang menyebabkan hapusnya jaminan. Menurut pasal 18 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, terdapat 4 alasan hapusnya suatu jaminan Hak Tanggungan, yaitu;

1. Hapusnya hutang yang dijamin dengan Hak Tanggungan;

2. Dilepaskannya Hak Tanggungan oleh pemegang Hak Tanggungan;

3. Pembersihan Hak Tanggungan berdasarkan penetapan peringkat oleh Ketua Pengadilan Negeri;

4. Hapusnya hak atas tanah yang dibebani Hak Tanggungan.

Kemudian pasal 10 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, menyebutkan bahwa pemberian Hak Tanggungan dilakukan dengan pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan oleh PPAT sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Di dalam Akta tersebut, wajib mencantumkan beberapa hal, yaitu;

1. Nama dan Identitas pemegang dan pemberi Hak Tanggungan;

2. Domisili para pihak yang bersangkutan;

3. Penunjukan jelas hutang atau hutang-hutang yang dijaminkan;

4. Nilai Tanggungan;

5. Uraian yang jelas mengenai objek Hak Tanggungan.

Selanjutnya sebagai bukti adanya Hak Tanggungan tersebut, pemberian Hak Tanggungan wajib didaftarkan ke Kantor Pertanahan selambat-commit to user

(18)

42

lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah penandatangan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) untuk diterbitkan Sertifikat Hak Tanggungan (SHT).

Hal ini diatur dalam Pasal 13 dan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dalam putusan No.

61/pdt.plw/2017/PN. Jmb, antara PT. BTPN selaku kreditur dengan Ibu Nurhaimah Sirait selaku debitur, telah melakukan perjanjian hutang-piutang berupa perjanjian kredit yang telah diikat dengan Akta Perjanjian Kredit (APK) No. 09 beserta Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilitas Kredit (SKUPK) dengan total hutang sebesar Rp. 1.348.157.079,- (Satu Milyar Tiga Ratus Empat Puluh Delapan Juta Seratus Lima Puluh Tujuh Ribu Tujuh Puluh Sembilan Rupiah). Perjanjian hutang-piutang tersebut juga mencantumkan bahwa terdapat jaminan berupa Tanah seluas 665m2 beserta bangunan SHM No. 78 tertanggal 3 Desember 2012 a.n. Nurhaimah Sirait, yang mana merupakan milik debitur sendiri. Jaminan ini telah dinyatakan sah dan mengikat berdasarkan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) No. 05/2013 tertanggal 7 Januari 2013 yang mencantumkan bahwa Hak Tanggungan diberikan oleh debitur untuk menjamin pelunasan piutang hingga sejumlah Rp. 1.293.700.000,- (Satu Milyar Dua Ratus Sembilan Puluh Tiga Juta Tujuh Ratus Ribu Rubiah), serta diikat pula dengan Sertifikat Hak Tanggungan (SHT) No. 656/2013 tertanggal 12 Januari 2013 yang di dalamnya tertera bahwa PT. BTPN merupakan pemegang Hak Tanggungan peringkat pertama atas objek tanah tersebut. Berdasarkan uraian tersebut, proses pemberian Hak Tanggungan yang dilakukan antara debitur dan kreditur telah sesuai dengan peraturan yang ada yaitu Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan.

Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, pihak-pihak yang mengikatkan diri, yaitu;

1. Pemberi Hak Tanggungan (Pasal 8) commit to user

(19)

43

Pemberi Hak Tanggungan adalah orang perseorangan atau badan hukum yang mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap objek Hak Tanggungan yang bersangkutan.

2. Pemegang Hak Tanggungan (Pasal 9)

Pemegang Hak Tanggungan adalah orang atau perseorangan atau badan hukum yang berkedudukan sebagai pihak yang berpiutang.

Dalam putusan No. 61/Pdt.Plw/2017/PN. Jmb dijelaskan bahwa, antara debitur dengan pihak ketiga memang ada perjanjian hutang piutang antara kedua pihak tersebut, namun tidak ada disebutkan dalam perjanjiannya bahwa objek tanah yang telah menjadi objek hak tanggungan dengan PT. BTPN sebagai pemegangnya tersebut, akan dijadikan jaminan untuk diberikan kepada pihak ketiga tersebut. Berdasarkan kedudukannya, tentu PT. BTPN memiliki hak yang lebih kuat atas eksekusi objek tanah tersebut dibandingkan dengan pihak ketiga, mengingat posisi kreditur tersebut adalah sebagai kreditur preferen.

Hal ini memenuhi salah satu ciri jaminan Hak Tanggungan yaitu droit de preference. Droit de preference artinya hak kebendaan yang lebih dahulu terjadi akan lebih diutamakan daripada yang terjadi di kemudian hari. Hal ini dapat menjelaskan pula bahwa jika debitur melakukan wanprestasi maka dalam jaminan kebendaan, kreditur memilki hak preferensi tersebut untuk memenuhi piutangnya di antara kreditur-kreditur lain dari hasil penjualan harta benda milik debitur. Dalam perjanjian hutang piutang, terdapat 3 (tiga) jenis kreditur, yaitu kreditur preferen, kreditur separatis, dan kreditur konkuren. Kreditur preferen merupakan kreditur yang memiliki hak istimewa untuk didahulukan dalam pelunasan piutangnya, sesuai dengan Pasal 1139 jo. 1149 KUHPerdata. Kreditur pemegang hak tanggungan merupakan kreditur yang dikategorikan sebagai kreditur preferen. Kemudian kreditur separatis adalah kreditur yang memegang hak jaminan kebendaan berupa jaminan hipotik dan gadai, sesuai dengan Pasal 1133 jo. 1134 KUHPerdata dan Pasal 55 Ayat (1) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU. commit to user

(20)

44

Sedangkan kreditur konkuren adalah kreditur biasa atau kreditur yang tidak memegang hak jaminan kebendaan sehingga tidak didahulukan dari jenis kreditur lain (Pasal 1131 jo. 1132 KUHPerdata).

Hak preferensi yang dimiliki kreditur tersebut dalam Undang- Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan telah diatur yaitu dalam Pasal 6 yang berbunyi, “Apabila debitur cidera janji, pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut”. Dalam penjelasan di dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan tersebut, dijelaskan bahwa Hak untuk menjual objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri merupakan salah satu perwujudan dari kedudukan yang diutamakan (droit de preference) yang dimiliki oleh pemegang Hak Tanggungan atau pemegang Hak Tanggungan pertama dalam hal teradapat lebih dari satu pemegang Hak Tanggungan. Hak tersebut didasarkan pada janji yang diberikan oleh pemberi Hak Tanggungan bahwa apabila debitur cidera janji, pemegang Hak Tanggungan berhak untuk menjual objek Hak Tanggungan melalui pelelangan umum tanpa memerlukan persetujuan lagi dari pemberi Hak Tanggungan dan selanjutnya mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan itu lebih dahulu daripada kreditur-kreditur yang lain. Sisa hasil penjualan tetap menjadi hak pemberi Hak Tanggungan.

Kemudian pada Pasal 20 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, pemegang hak tanggungan yang mana dalam hal ini adalah kreditur, dapat melakukan eksekusi langsung terhadap objek hak tanggungan. Dalam kasus pada putusan No. 61/Pdt.Plw/2017/PN. Jmb, PT.

BTPN selaku kreditur juga telah melakukan lelang terhadap objek hak tanggungan karena debitur sudah dalam posisi kredit macet (dapat dilihat di halaman 25 putusan No. 61/Pdt.Plw/2017/PN. Jmb) sehingga tidak dapat melunasi hutangnya. Kredit macet merupakan sebuah kondisi dimana peminjam atau debitur tidak dapat melanjutkan pembayaran atau cicilan commit to user

(21)

45

hutang Hak Tanggungan akan tetap membebani seluruh objek Hak Tanggungan untuk berapapun sisa hutang yang dimiliki debitur kepada kreditur. Hal ini sesuai dengan peraturan yang tertera dalam Undang- Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, yaitu pada penjelasan Pasal 2 yang menyatakan bahwa hak tanggungan memiliki sifat tidak dapat dibagi-bagi, artinya Hak Tanggungan membebani secara utuh objek Hak Tanggungan dan setiap bagian daripadanya.

Hal yang dipermasalahkan dalam putusan No. 61/Pdt.Plw/2017/PN.

Jmb adalah tanah yang menjadi objek Hak Tanggungan antara PT. BTPN dengan Nurhaimah Sirait selaku kreditur dan debitur, dilakukan sita eksekusi oleh pengadilan berdasarkan Putusan No. 42/Pdt.G/2016/PN. Jmb tertanggal 27 Juli 2016. Dalam perkara dalam putusan tersebut, dijelaskan bahwa Nurhaimah Sirait bersama dengan suaminya telah melakukan perjanjian pemberian modal dengan Sukisno. Pada saat itu Sukisno memberikan modal ke DO Kelapa Sawit milik Nurhaimah Sirait dengan suaminya sebesar Rp. 500.000.000,- (Lima Ratus Juta Rupiah), kemudian keduanya baru membayar sebesar Rp. 70.000.000,- (Tujuh Puluh Juta Rupiah). Pada saat itu, karena Nurhaimah Sirait dan suaminya tidak dapat membayar sisanya, Sukisno mengajukan gugatan wanprestasi ke pengadilan dan akhirnya pengadilan memutuskan bahwa Nurhaimah Sirait dan suaminya telah dinyatakan melakukan wanprestasi. Selanjutnya Sukisno meminta Nurhaimah Sirait dan suaminya untuk menyerahkan tanah milik mereka untuk dieksekusi guna melunasi sisa hutangnya, dimana tanah tersebut merupakan objek Hak Tanggungan atas perjanjian hutang-piutang antara Nurhaimah Sirait selaku debitur dengan PT. BTPN selaku kreditur. Di samping itu, dalam perjanjian pemberian modal antara Sukisno dengan Nurhaimah Sirait beserta suaminya sebelumnya, sebenarnya tidak disebutkan atau disinggung mengenai tanah tersebut akan dijadikan jaminan hutang mereka atau tidak. Akan tetapi, permohonan eksekusi tanah tersebut dikabulkan oleh pengadilan berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri Jambi No. 15/PEKS/2016/PN. Jmb tertanggal 10 commit to user

(22)

46

November 2016 sehingga PT. BTPN selaku kreditur peringkat pertama yang memiliki hak mutlak atas eksekusi tanah tersebut akhirnya mengajukan gugatan perlawanan atas sita eksekusi tanah tersebut.

Dalam kasus ini, PT. BTPN jelas memiliki hak lebih kuat atas tanah tersebut karena posisi PT. BTPN disini adalah sebagai kreditur preferen.

PT. BTPN dan Nurhaimah Sirait telah terikat dengan perjanjian jaminan hak tanggungan tersebut berdasarkan Akta Pemberian Hak Tanggungan No. 05/2013 tertanggal 7 Januari 2013 dan Sertifikat Hak Tanggungan No.

656/2013 tertanggal 12 Januari 2013. Sedangkan gugatan wanprestasi dan permohonan sita eksekusi yang diajukan oleh Sukisno (dalam putusan No.

61/Pdt.Plw/2017/PN. Jmb merupakan pihak terlawan) baru diajukan pada tahun 2016, tepatnya gugatan awal baru diajukan pada tanggal 11 April 2016. Dalam gugatan tersebut pun tidak didalilkan bahwa objek yang sedang dilakukan sita eksekusi sekarang ini pada saat itu akan dijadikan jaminan atau agunan oleh Nurhaimah Sirait dan suaminya (Turut Terlawan) kepada Sukisno (Terlawan). Sehingga dapat diketahui bahwa tanah yang menjadi objek sengketa antara PT. BTPN (pelawan) dengan Sukisno (terlawan) tersebut telah memiliki hubungan hukum yang sah secara langsung dengan PT. BTPN dan Nurhaimah Sirait karena telah diikat terlebih dahulu dalam perjanjian hak tanggungan antara PT. BTPN (pelawan) dengan Nurhaimah Sirait dan suaminya (turut terlawan I dan turut terlawan 2), yaitu pada tahun 2013. Pada saat perjanjian pemberian hak tanggungan tersebut dilakukan pun sebelumnya telah dilakukan pula pemeriksaan oleh PPAT setempat bahwa tidak terdapat satupun catatan yang dapat dijadikan alasan bahwa tanah tersebut secara hukum sedang bermasalah, bersengketa atau diletakkan sita jaminan dalam suatu perkara.

Selain itu, objek jaminan hak tanggungan tersebut telah dicatatkan di dalam Buku Tanah pada Kantor Pertanahan Kota Jambi, sehingga objek hak tanggungan tersebut telah memenuhi asas publisitas dan telah diketahui oleh khalayak ramai. Kantor Pertanahan adalah unit kerja Badan Pertanahan Nasional di wilayah kabupaten, kotamadya, atau wilayah commit to user

(23)

47

administratif lain yang setingkat, yang melakukan pendaftaran hak atas tanah dan pemeliharaan daftar umum pendaftaran tanah. Maka sudah sepatutnya tanah tersebut tidak dapat dilakukan sita jaminan oleh pihak lain mengingat pengikatan objek hak tanggungan tersebut sudah dilakukan terlebih dahulu secara sah menurut hukum.

Kemudian terdapat hal lain yang menjadikan landasan bahwa PT.

BTPN dalam perkara ini harus mendapatkan perlindungan sebagai kreditur. Hal tersebut terkait dengan asas itikad baik dalam perjanjian.

dalam Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu yang berbunyi, “Suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik”. Itikad baik ini maksudnya adalah menjalankan perjanjian tersebut dengan baik sesuai dengan kepatutan dan keadilan. Selain itu, dalam Pasal 8 Ayat (1) Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan menyebutkan bahwa,

“Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah, Bank Umum wajib mempunyai keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atau itikad baik dan kemampuan serta kesanggupan Nasabah Debitur untuk melunasi hutangnya atau mengembalikan pembiayaan dimaksud sesuai dengan yang diperjanjikan”. Hal ini dilakukan karena kredit atau pembiayaan tersebut akan mengandung risiko, sehingga dalam pelaksanaanya bank harus memperhatikan asas-asas perkreditan atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah yang sehat. Prof. Mr. P. L. Werry memberikan arti itikad baik yaitu bahwa kedua belah pihak harus berlaku terhadap yang lain berdasarkan kepatutan diantara orang-orang yang sopan tanpa tipu daya, tipu muslihat, akal-akalan dan tidak hanya melihat kepentingan diri sendiri, tetapi juga kepentingan orang lain. Simposium Hukum Perdata Nasional yang diselenggarakan Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) mengartikan itikad baik sebagai berikut (Agus Yudha H., 2010: 137-139):

1. Kejujuran pada waktu membuat kontrak;

commit to user

(24)

48

2. Pada tahap pembuatan ditekankan, apabila kontrak dibuat di hadapan pejabat, para pihak dianggap beritikad baik

3. Sebagai kepatutan dalam tahap pelaksanaan, yaitu terkait suatu penilaian baik terhadap perilaku para pihak dalam melaksanakan apa yang telah disepakati kontrak, semata-mata bertujuan untuk mencegah perilaku yang tidak patut dalam pelaksanaan kontrak tersebut.

Suatu perjanjian kredit memiliki dua belah pihak yang terkait yaitu kreditur dan debitur, maka kedua belah pihak tersebut wajib melaksanakan perjanjian berdasarkan asas itikad baik tersebut. Artinya, kreditur harus melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai kreditur dengan baik tanpa menuntut lebih dari apa yang menjadi haknya, begitupun bagi debitur juga harus melaksanakan hak dan kewajibannya dengan baik.

Dalam proses pemberian kredit dari PT. BPTN dengan Nurhaimah Sirait telah sesuai dengan prosedur dan ketentuan hukum yang berlaku.

Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan menjelaskan bahwa,

“Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”. Dalam perkara tersebut, dikatakan bahwa uang kredit sudah diterima dan dinikmati oleh Nurhaimah Sirait sehingga perjanjian kredit telah dapat dikatakan riil dan sah menurut hukum. Hal ini dapat dilihat dalam Akta Perjanjian Kredit (APK) No. 09 beserta Syarat dan Ketentuan Umum Pemberian Fasilutas Kredit (SKUPK) dengan total hutang sebesar Rp. 1.348.157.079,- (Satu Milyar Tiga Ratus Empat Puluh Delapan Juta Seratus Lima Puluh Tujuh Ribu Tujuh Puluh Sembilan Rupiah) dengan jaminan berupa Tanah seluas 665m2 beserta bangunan SHM No. 78 tertanggal 3 Desember 2012 a.n. Nurhaimah Sirait, yang mana merupakan milik debitur sendiri. Jaminan ini telah dinyatakan sah dan mengikat commit to user

(25)

49

berdasarkan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) No. 05/2013 tertanggal 7 Januari 2013 yang mencantumkan bahwa Hak Tanggungan diberikan oleh debitur untuk menjamin pelunasan piutang hingga sejumlah Rp. 1.293.700.000,- (Satu Milyar Dua Ratus Sembilan Puluh Tiga Juta Tujuh Ratus Ribu Rubiah), serta diikat pula dengan Sertifikat Hak Tanggungan (SHT) No. 656/2013 tertanggal 12 Januari 2013 yang di dalamnya tertera bahwa PT. BTPN merupakan pemegang Hak Tanggungan peringkat pertama atas objek tanah tersebut. Selain itu, untuk pertimbangan hakim dalam perkara tersebut, PT. BTPN pun telah mengajukan bukti-bukti yang merujuk kepada pembuktian bahwa PT.

BTPN adalah kreditur yang sah serta memiliki hak atas objek tanah hak tanggungan tersebut. Bukti-bukti tersebut berupa:

1. Fotokopi Salinan Akta Perjanjian Kredit Nomor: 09 tanggal 13 Desember 2012 yang dikeluarkan oleh HALIJAH, SH, Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah di Kota Jambi, yang diberi tanda P.1 (sesuai dengan aslinya);

2. Fotokopi Sertipikat Hak Milik Nomor 2687 yang diterbitkan di Sengeti pada tanggal 10 Maret 2005, yang diberitanda P.2 (fotokopi dari fotokopi)

3. Fotokopi Sertipikat Hak Milk Nomor 812 yang diterbitkan di Muara Bulian pada tanggal 31 Maret 1997, yang diberi tanda P.3 (sesuai dengan aslinya)

4. Fotokopi Sertipikat Hak Milik Nomor 5711 yang diterbitkan di Jambi pada tanggal 01 April 1997, yang diberi tanda P.4 (sesuai dengan aslinya).

5. Fotokopi Salinan Akta Pemberian Hak Tanggungan Nomor:

866/XII/2012 yang dibuat pada tanggal 28 Desember 2012 dihadapan SOBRIYANTO, SH selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah, (sesuai denga aslinya);

commit to user

(26)

50

6. Fotokopi Salinan Akta Pemberian Hak Tanggungan Nomor: 05/2013 yang dibuat pada tanggal 7 Januari 2013 dihadapan HALIJAH, SH selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah, (sesuai denga aslinya);

7. Fotokopi Salinan Akta Pemberian Hak Tanggungan Nomor:

865/XII/2012 yang dibuat pada tanggal 28 Desember 2012 dihadapan SOBRIYANTO, SH selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah, (sesuai denga aslinya);

8. Fotokopi Salinan Akta Pemberian Hak Tanggungan Nomor: 06/2013 yang dibuat pada tanggal 7 Januari 2013 dihadapan HALIJAH, SH selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah, (sesuai denga aslinya);

9. Fotokopi Sertipikat Hak Milik Nomor 78 yang diterbitkan di Jambi pada tanggal 3 Desember 2012, yang diberi tanda P.9 (sesuai denga aslinya);

10. Fotokopi Sertipikat Hak Tanggungan Nomor: 884/HT/2013 yang diterbitkan di Sengeti pada tanggal 20 Mei 2013, yang diberi tanda P.10 (fotokopi dari fotokopi);

11. Fotokopi Sertipikat Hak Tanggungan Nomor: 656/2013 yang diterbitkan di Jambi pada tanggal 12 Februari 2013, yang diberi tanda P.11, (sesuai dengan aslinya);

12. Fotokopi Sertipikat Hak Tanggungan Nomor: 425/HT/2013 yang diterbitkan di Sengeti pada tanggal 13 Maret 2013, yang diberi tanda P.12 (fotokopi dari fotokopi);

13. Fotokopi Sertipikat Hak Tanggungan Nomor: 614/2013 yang diterbitkan di Jambi pada tanggal 12 Februari 2013, yang diberi tanda P.13 (fotokopi dari fotokopi);

14. Fotokopi surat dari pihak PT. BTPN kepada Nurhaimah Sirait tanggal 18 April 2013 perihal Surat Peringatan I, yang diberi tanda P.14 (sesuai dengan aslinya);

15. Fotokopi surat dari pihak PT. BTPN kepada Nurhaimah Sirait tanggal 1 Mei 2013 perihal Surat Peringatan II, yang diberi tanda P.15 (sesuai dengan aslinya); commit to user

(27)

51

16. Fotokopi surat dari pihak PT. BTPN kepada Nurhaimah Sirait tanggal 10 Mei 2013 perihal Surat Peringatan III, yang diberi tanda P.16 (sesuai dengan aslinya);

17. Fotokopi surat pemberitahuan dari Pihak PT. BTPN kepada Nurhaimah Sirait tanggal 12 Maret 2015, Nomor: 010/8947/SPL/0315 perihal Pemberitahuan Penetapan Lelang Hak Tanggungan, yang diberi tanda P.17 (fotokopi dari fotokopi);

18. Fotokopi Pengumuman Lelang Kedua Eksekusi Hak Tanggungan tanggal 27 Maret 2015, yang diberi tanda P.18 (fotokopi dari fotokopi);

19. Fotokopi Surat tanggal 16 Agustus 2015 Nomor:

S1094/WKN.04/KNL.01/2015 dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Jambi, perihal Penetapan tanggal Pelaksanaan lelang, yang diberi tanda P.19 (fotokopi dari fotokopi);

20. Fotokopi surat pemberitahuan dari Pihak PT. BTPN kepada Nurhaimah Sirait tanggal 3 September 2015, Nomor: 007/8947/SPL/0815 perihal Pemberitahuan Penetapan Lelang Hak Tanggungan, yang diberi tanda P.20 (fotokopi dari fotokopi);

21. Fotokopi Pengumuman Lelang Kedua Eksekusi Hak Tanggungan tanggal 15 September 2015, yang diberi tanda P.21 (fotokopi dari fotokopi);

22. Fotokopi Surat tanggal 3 Mei 2016 Nomor: S- 700/WKN.04/KNL.01/2016 dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Jambi, perihal Penetapan tanggal Pelaksanaan lelang, yang diberi tanda P.22 (fotokopi dari fotokopi);

23. Fotokopi surat pemberitahuan dari Pihak PT. BTPN kepada Nurhaimah Sirait tanggal 13 Mei 2016, Nomor: 005/8947/SPL/0416 perihal Pemberitahuan Penetapan Lelang Hak Tanggungan, yang diberi tanda P.23 (fotokopi dari fotokopi);

24. Fotokopi Surat tanggal 26 November 2015 Nomor:

S1646/WKN.04/KNL.01/2015 dari Kantor Pelayanan Kekayaan commit to user

(28)

52

Negara dan Lelang Jambi, perihal Penetapan tanggal Pelaksanaan lelang, yang diberi tanda P.24 (fotokopi dari fotokopi);

25. Fotokopi surat pemberitahuan dari Pihak PT. BTPN kepada Nurhaimah Sirait tanggal 1 Desember 2015, Nomor: 015/8947/SPL/1215 perihal Pemberitahuan Penetapan Lelang Hak Tanggungan, yang diberi tanda P.25 (fotokopi dari fotokopi);

26. Fotokopi Pengumuman Lelang Kedua Eksekusi Hak Tanggungan tanggal 17 Desember 2015, yang diberi tanda P.26 (fotokopi dari fotokopi);

27. Fotokopi Surat tanggal 28 Juni 2016 Nomor: S- 1056/WKN.04/KNL.01/2016 dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Jambi, perihal Penetapan tanggal Pelaksanaan lelang, yang diberi tanda P.27 (fotokopi dari fotokopi);

28. Fotokopi surat pemberitahuan dari Pihak PT. BTPN kepada Nurhaimah Sirait tanggal 30 Juni 2016, Nomor: 009/8947/SPL/0616 perihal Pemberitahuan Penetapan Lelang Hak Tanggungan, yang diberi tanda P.28 (fotokopi dari fotokopi);

29. Fotokopi Pengumuman Lelang Ulang Eksekusi Hak Tanggungan tanggal 12 Juli 2016, yang diberi tanda P.29 (fotokopi dari fotokopi);

30. Fotokopi Surat tanggal 31 Januari 2017 Nomor :S- 178/WKN.04/KNL.01/2017 dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Jambi, perihal Penetapan tanggal Pelaksanaan lelang, yang diberi tanda P.30 (fotokopi dari fotokopi);

31. Fotokopi surat pemberitahuan dari Pihak PT. BTPN kepada Nurhaimah Sirait tanggal 15 Februari 2017, Nomor: 029/8947/SPL/0217 perihal Pemberitahuan Penetapan Lelang Hak Tanggungan, yang diberi tanda P.31 (fotokopi dari fotokopi);

32. Fotokopi Pengumuman Kedua Lelang Eksekusi Hak Tanggungan tanggal 12 Juli 2016, yang diberi tanda P.32 (fotokopi dari fotokopi);

33. Fotokopi tanda terima pengiriman dari Kantor Pos tanggal 7 Mei 2013 dan 13 Mei 2013, yang diberi tanda P.33 (sesuai dengan aslinya); commit to user

(29)

53

Berdasarkan fakta-fakta tersebut serta melihat bukti-bukti yang ada, PT.

BTPN selaku kreditur sudah sepatutnya dianggap sebagai Kreditur yang beritikad baik te goeder throuw yang harus dilindungi oleh hukum.

Kemudian berdasarkan hasil dari pemeriksaan setempat sesuai dengan SEMA No. 7 Tahun 2001 tentang Pemeriksaan Setempat, terdapat fakta bahwa tanah yang bersertifikat hak milik a.n. Nurhaimah Sirait tersebut memang telah dijaminkan oleh Nurhaimah Sirait dengan sepengetahuan suaminya, Syaharuddin Harahap, kepada pihak PT. BTPN, Tbk. pada tanggal 13 Desember 2012 dan untuk itu telah terbit pula Sertifikat Hak Tanggungan Nomor 656/2013 tanggal 12 Januari 2013 dari Kantor Pertanahan Jambi. Kemudian fakta lainnya bahwa objek tanah tersebut telah dilakukan lelang oleh PT. BTPN, tbk. namun belum ada pembeli. Oleh karenanya, tanah tersebut tidak dapat dilakukan sita eksekusi oleh Sukisno (pihak terlawan) karena tanah tersebut sudah diikat oleh hak tanggungan dan telah dilakukan pelelangan sejak tahun 2015 yang dapat dilihat berdasarkan alat bukti yang ada, sedangkan permohonan pengajuan sita eksekusi oleh pihak terlawan baru diajukan tahun 2016.

Maka memang sudah seharusnya Penetapan Pengadilan Negeri Jambi No.

15.PEKS/2016/PN. Jmb tertanggal 10 November 2016 dibatalkan. Hal ini dijelaskan dalam buku milik Prof. Dr. Sutan Remy Sjahdeini, S.H. yang berjudul “Hak Tanggungan: Asas-asas, Ketentuan-ketentuan Pokok dan Masalah yang dihadapi oleh Perbankan (Suatu Kajian Mengenai Undang- Undang Hak Tanggungan)”, dimana ia berpendapat bahwa seharusnya menurut hukum terhadap hak tanggungan tidak dapat diletakkan sita (sita jaminan maupun sita eksekusi). Hal ini dikarenakan tujuan adanya hak tanggungan itu sendiri adalah untuk menjamin kedudukan kreditur yang dianggap kuat yang menjadi pemegang hak tanggungan tersebut untuk didahulukan dari kreditur-kreditur lainnya (Sutan Remy Sjahdeini, 1999:

42).

commit to user

(30)

54

Bentuk perlindungan hukum lain bagi kreditur pemegang hak tanggungan ketika debitur wanprestasi dapat dilihat pula dalam Pasal 14 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang berbunyi, “Sertipikat Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud ayat (2) mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dan berlaku sebagai pengganti grossa akta hipotek sepanjang mengenai hak atas tanah”. Hal ini dikarenakan Sertifikat Hak Tanggungan memuat irah-irah dengan kata-kata, “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” yang merupakan titel eksekutorial dan memiliki kekuatan eksekutorial. Sertifikat Hak Tanggungan merupakan Akta yang mempunyai kekuatan eksekutorial, yang merupakan grosse akta, yaitu suatu turunan atau salinan akta dari notaris. Grosse akta ini memiliki kekuatan yang sama dengan putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap, sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 224 HIR/258 RBG. Pasal tersebut menegaskan bahwa ikatan Grosse akta memiliki nilai kekuatan yang sama dengan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (in kracht van gewrijsde) dan ketika debitur lalai dalam pemenuhan pembayaran hutang yang ditentukan/diperjanjikan, maka ikatan grosse akta dengan sendirinya menurut hukum (van rechtswege) telah mengandung hukum eksekusi, dengan jalan mengajukan permintaan eksekusi penjualan lelang kepada Pengadilan tanpa melalui gugatan putusan biasa.

Eksekusi Hak Tanggungan diatur dalam Pasal 20 Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan. Pasal 20 merupakan perwujudan dari kemudahan yang disedikan oleh Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan bagi para kreditur pemegang Hak Tanggungan dalam hal harus dilakukan eksekusi. Pada prinsipnya, eksekusi tersebut harus dilaksanakan dengan jalan pelelangan umum, karena dengan cara tersebut diharapkan dapat memperoleh harga yang paling tinggi untuk objek Hak Tanggungan tersebut yang digunakan untuk

commit to user

(31)

55

pelunasan piutang. Meskipun pada akhirnya nilainya lebih dari piutangnya, maka dapat dikembalikan sisanya kepada debitur. Lelang tersebut dibagi menjadi 2 kategori, yaitu Lelang Sukarela dan Lelang Eksekusi. Lelang Sukarela adalah lelang yang diajukan sendiri oleh debitur kepada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) terhadap benda-benda yang sudah maupun belum diikat oleh agunan/jaminan. Kemudian Lelang Eksekusi adalah proses lelang yang dilakukan oleh bank terhadap benda yang sudah diikat terlebih dahulu oleh agunan/jaminan. Ketentuan- ketentuan dari pasal tersebut mengenai eksekusi objek Hak Tanggungan dijelaskan dalam setiap ayat demi ayat pasal tersebut, yaitu:

1) Apabila debitur cidera janji, maka:

a. Hak pemegang Hak Tanggungan pertama berhak untuk menjual objek Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan.

b. Objek Hak Tanggungan dapat dilakukan eksekusi berdasarkan titel eksekutorial yang terdapat dalam sertifikat Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2).

2) Objek Hak Tanggungan dijual melalui pelelangan umum menurut tata cara yang ditentukan dalam Peraturan Perundang-Undangan untuk pelunasan piutang pemegang Hak Tanggungan dengan hak mendahului daripada kreditur-kreditur lainnya. Atas kesepakatan pemberi dan pemegang Hak Tanggungan, penjualan objek Hak Tanggungan dapat dilaksanakan dibawah tangan dengan demikian itu akan dapat diperoleh harga tinggi yang menguntungkan semua pihak.

3) Pelaksanaan penjualan sebagaimana dimaksud pada Pasal 20 ayat (2) Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tersebut hanya dapat dilakukan setelah lewat waktu 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara tertulis oleh pemberi dan / pemegang Hak Tanggungan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan diumumkan sedikit- dikitnya dalam 2 (dua) surat kabar yang beredar di daerah yang

commit to user

(32)

56

bersangkutan dan atau media massa setempat, serta tidak ada yang menyatakan keberatan.

4) Setiap janji untuk melakukan eksekusi Hak Tanggungan dengan cara yang bertentangan dengan ketentuan pada Pasal 20 Ayat (1), Ayat (2) dan Ayat (3) Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan akan batal demi hukum.

5) Sampai saat pengumuman untuk lelang dikeluarkan, penjualan sebagaimana dimaksud pada Pasal 20 Ayat (1) Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan dapat dihindarkan dengan pelunasan hutang dijamin dengan Hak Tanggungan itu beserta biaya eksekusinya yang telah dikeluarkan.

Menurut pasal tersebut, kreditur sebagai pemegang hak tanggungan dapat langsung mengeksekusi objek hak tanggungan tanpa harus meminta persetujuan terlebih dahulu dari pemberi hak tanggungan dan eksekusi tersebut disebutkan harus melalui pelelangan umum.

Pengaturan mengenai lelang terdapat dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 300/KMK.01/2002 tanggal 13 Juni 2002 tentang Pengurusan Piutang Negara. Menurut Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 300/KMK.01/2002 tanggal 13 Juni 2002 tentang Pengurusan Piutang Negara, lelang adalah penjualan barang yang dilakukan di depan umum termasuk melalui media elektronik, dengan cara penawaran lisan dengan harga yang semakin meningkat atau dengan penawaran harga yang semakin menurun dan atau dengan penawaran barang secara tertulis yang didahului dengan usaha mengumpulkan peminat. Di dalam eksekusi hak tanggungan, pelaksanaan lelang dibagi menjadi 2 (dua) macam:

1) Lelang Eksekusi PUPN (Panitia Urusan Piutang Negara)

Cara lelang ini dilakukan terhadap jaminan kredit macet bank-bank pemerintah yang bertujuan untuk penyelesaian kredit macet dalam

commit to user

(33)

57

rangka pelunasan piutang maupun bank milik BUMN atau BUMD dan Instansi Pemerintah dalam rangka pencairan piutang Negara.

2) Lelang Eksekusi Pengadilan

Lelang ini dilakukan dalam rangka melaksanakan putusan Hakim Pengadilan dalam perkara perdata, termasuk lelang dalam hal eksekusi grose akta Hak Tanggungan.

Menurut Subekti ditulis kembali oleh Johannes Gunawan, salah satu asas dari hak tanggungan adalah mudah dan pasti pelaksanaan eksekusinya. Asas ini sesuai dengan Pasal 14 dan Pasal 20 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan. Pasal tersebut berisi tentang eksekusi yang dapat langsung dilakukan oleh kreditur apabila debitur melakukan wanprestasi. Kemudian mengenai prosedur eksekusinya, terdapat dalam Pasal 20 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, yaitu dapat melalui penjualan di bawah tangan. Bunyi pasal tersebut yaitu, “Atas kesepakatan pemberi dan pemegang Hak Tanggungan, penjualan objek Hak Tanggungan dapat dilaksanakan di bawah tangan jika dengan demikian itu akan dapat diperoleh harga tertinggi yang menguntungkan semua pihak”. Kemudian eksekusi dilakukan melalui pelelangan umum seperti yang tertera dalam Pasal 20 Ayat (1) b yang berbunyi, “Titel eksekutorial yang terdapat dalam sertipikat Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2), objek Hak Tanggungan dijual melalui pelelangan umum menurut tata cara yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan untuk pelunasan utang pemegang Hak Tanggungan dengan hak mendahului daripada kreditur-kreditur lainnya”. Berdasarkan pasal-pasal tersebut, tertulis jelas bahwa proses eksekusi objek hak tanggungan yang dilakukan oleh kreditur pasti melalui prosedur yang mudah yang tujuannya sudah jelas untuk mempermudah kreditur untuk memperoleh pelunasan piutangnya.

commit to user

(34)

58

Sebelum melaksanakan lelang eksekusi terdapat beberapa persyaratan yang harus dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 13/PMK.06/2018 tentang Lelang Benda Sitaan, Barang Rampasan Negara, atau Benda Sita Eksekusi yang Berasal dari Kejaksaan Republik Indonesia. Dalam pasal 6 disebutkan bahwa:

1. Penjual yang akan melakukan penjualan barang secara Lelang harus mengajukan surat permohonan Lelang kepacla Kepala KPKNL untuk meminta jadwal pelaksanaan Lelang;

2. Surat permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menyebutkan jenis Lelang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, dan dilengkapi dokumen persyaratan Lelang;

3. Dokumen persyaratan Lelang sebagaimana dimaksucl pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Dokumen Persyaratan Lelang yang dimaksud dalam Ayat (3) adalah sebagai berikut:

1) Dokumen Persyaratan Umum:

a. Salinan atau fotokopi Keputusan Penunjukan Pejabat Penjual atau Surat Tugas Pejabat Penjual;

b. Daftar barang yang akan dilelang;

c. Surat persetujuan dari pemegang Hak Pengelolaan, dalam hal objek Lelang berupa tanah dan/ atau bangunan dengan dokumen kepemilikan Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai di atas tanah Hak Pengelolaan;

d. Informasi tertulis yang diperlukan untuk penyerahan/penyetoran hasil bersih Lelang;

e. Surat penetapan nilai limit dari Penjual;

commit to user

(35)

59

f. Surat pernyataan atau surat keterangan dari Penjual bahwa fisik objek Lelang dalam penguasaan Penjual, dalam hal objek Lelang berupa barang bergerak yang berwujud;

g. Gambar / foto objek Lelang clalam hal Lelang melalui internet;

h. Syarat Tambahan dari Penjual yang berupa; jadwal dan jangka waktu peserta lelang untuk melihat, meneliti, dan mendapatkan penjelasan mengenai barang yang akan dilelang (aanwijzing), serta jangka waktu pengambilan barang oleh pembeli. Syarat tambahan ini dilampirkan dalam surat permohonan lelang.

2) Dokumen Persyaratan Khusus:

Dokumen-dokumen tertentu yang secara spesifik harus disertakan seperti Copy Perjanjian Kredit, Copy Bukti Kepemilikan Agunan, Copy Dokumen Pengikatan Agunan, Copy Surat Peringatan, dan lain- lain.

Adapun prosedur yang dilakukan oleh bank ketika hendak melelang objek hak tanggungan telah dipaparkan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia, yaitu bahwa Bank dapat melakukan eksekusi jaminan melalui Pengadilan Negeri. Hal pertama yang dilakukan oleh Bank adalah mengajukan permohonan eksekusi kepada Pengadilan Negeri. Kemudian Ketua Pengadilan Negeri akan memberikan teguran (aanmaning) kepada debitur untuk segera melunasi hutangnya. Apabila Ketua Pengadilan Negeri telah melakukan 2 (dua) kali teguran kepada debitur, namun debitur tetap saja belum melunasi hutangnya, maka Bank dapat mengajukan permohonan penyitaan agunan. Kemudian Ketua Pengadilan Negeri akan mengeluarkan penetapan dan perintah kepada jurusita untuk melakukan penyitaan terhadap agunan. Jika debitur masih belum melunasi hutangnya, lelang akan dilakukan oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang di bawah perintah Pengadilan Negeri, sementara Bank harus memberikan data harga limit ke Pengadilan Negeri.

commit to user

(36)

60

Selain melalui Pengadilan Negeri, Kreditur juga dapat mengajukan sendiri Permohonan untuk melakukan Lelang kepada KPKNL. Kreditur pemegang hak tanggungan peringkat pertama berhak untuk mengambil pelunasan piutangnya dari seluruh atau sebagian hasil pelelangan objek hak tanggungan. Cara tersebut merupakan cara eksekusi paling singkat karena permintaan lelang dapat langsung diajukan kepada Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) tanpa harus didahului dengan perintah dari Ketua Pengadilan Negeri. Hal tersebut merupakan hak yang diberikan kepada kreditur sesuai dengan Pasal 6 Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang berbunyi, “Apabila debitur cidera janji, pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut”. Hal ini dapat dilakukan dengan syarat di dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) wajib mencantumkan janji debitur yang disebutkan dalam Pasal 11 Ayat (2) huruf e Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yaitu janji bahwa pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual atas kekuasaan sendiri objek Hak Tanggungan apabila debitur cidera janji.

Sebelum mengajukan permohonan lelang kepada KPKNL, Bank akan memberikan Surat Peringatan kepada Debitur terlebih dahulu agar segera melaksanakan kewajibannya dalam pembayaran angsuran sesuai dengan yang diperjanjikan. Peringatan tersebut diajukan paling sedikit sebanyak 3 (tiga) kali untuk memenuhi syarat wanprestasinya debitur.

Surat Peringatan ini diberikan kepada debitur harus dalam rentang waktu yang wajar dengan tujuan untuk memberikan waktu kepada debitur untuk memenuhi kewajibannya. Hal ini sesuai dengan Pasal 1339 Kitab Undang- Undang Hukum Perdata yang berbunyi, “Suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan, atau Undang-Undang”. Kemudian setelah Debitur

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

PENGARUH STRES KERJA, KELELAHAN, STRES FISIOLOGIS TERHADAP KINERJA MANAJER PROYEK, Natalia Puteri Rembulan Mayang Betari, NPM 09.02.13401, tahun 2014, Bidang Keahlian

Dari sekian banyak bagian cantik di bangunan tersebut, fasadlah yang sejak awal

Apakah motivasi dan prestasi kerja berpengaruh terhadap kepuasan kerja Pegawai Negeri Sipil Pada Sekretariat Daerah Kabupaten Nganjuk.. KAJIAN PUSTAKA

Selain itu terdapat pusat aktivitas pendidikan baru, Institut Teknologi Sumatera (ITERA), dan aktivitas pemerintahan baru yaitu Kota Baru. Sebagai daerah yang

Sinar matahari yang masuk ke dalam rumah sangat penting bagi kesehatan penghuni rumah karena sinar matahari karena mengandung ultraviolet sehingga dapat berfungsi

Oleh itu, kajian ini dijalankan bertujuan untuk melihat elemen-elemen pengajaran guru berdasarkan Modul Pentaksiran Berasaskan Sekolah(MPBS) dalam sesi amali di

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa organisasi profesi kependidikan adalah sebuah wadah perkumpulan orang – orang yang memiliki suatu keahlian dan keterampilan mendidik yang

Meningkatkan Keterampilan Membuat Box File Melalui Metode Demonstrasi pada Anak Tunagrahita Ringan di Kelas VI SLB Binar Tarusan.. Anur Yetti 1 , Damri 2 , Markis