• Tidak ada hasil yang ditemukan

Economic Education Analysis Journal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Economic Education Analysis Journal"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/eeaj

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENGETIK 10 JARI DENGAN METODE PEMBELAJARAN DRILL MELALUI TYPING MASTER DAN MS.

WORD BERBANTUAN MEDIA JOB SHEET PADA KELAS X PROGRAM KEAHLIAN ADMINISTRASI PERKANTORAN 1 SMK NEGERI 2 SEMARANG

Anis Susanti, Hengky Pramusinto

Jurusan Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Info Artikel ________________

Sejarah Artikel:

Diterima Oktober 2015 Disetujui Oktober 2015 Dipublikasikan November 2015 ________________

Keywords:

Typing Skills; Drill Learning Method; Typing Master; Ms. Word; Job Sheet

___________________

Abstrak

___________________________________________________________________

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan keterampilan mengetik 10 jari siswa kelas X AP 1 SMKN 2 Semarang dengan penerapan metode pembelajaran drill melalui Typing Master dan Ms. Word berbantuan media job sheet. Faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah keterampilan mengetik 10 jari siswa yang meliputi aspek kecepatan, ketepatan dan kerapihan. Rancangan penelitian terdiri dari tiga siklus, setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Metode pengumpulan data pada penelitian ini yaitu dokumentasi, observasi dan tes. Instrumen yang digunakan adalah instrumen tes dan instrumen non tes (observasi). Analisis data pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif persentase. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan keterampilan mengetik 10 jari dengan penerapan metode pembelajaran drill melalui typing master dan Ms. Word berbantuan media job sheet pada kelas X AP 1. Tingkat keterampilan mengetik 10 jari siswa pada siklus I berada pada rata-rata skor 15,44 (kurang terampil) dengan ketuntasan hasil belajar 61%, pada siklus II skor rata-ratanya meningkat menjadi 17,75 (cukup terampil) dengan ketuntasan hasil belajar 72% kemudian pada siklus III skor rata-ratanya meningkat lagi menjadi 20,78 (terampil) dengan ketuntasan hasil belajar 89%.

Abstract

___________________________________________________________________

The purpose of this study was to determine the ten-finger typing skills improvement of class X AP 1 SMKN 2 Semarang in application of drill learning methods through Typing Master and Ms. Word media-aided job sheet. The examined factor in this study is a ten-finger typing skills of students which include aspects of net speed, accuracy and neatness. The study’s design consisted of three cycles each cycle includes planning, implementation, observation, and reflection. Data collection method in this study is documentation, observation and tests. The instrument used was the instrument test and non-test instrument (observation). The data analysis in this study was using descriptive method percentage. The results showed there is ten-finger typing skills improvement with drill learning methods through Typing Master and Ms. Word media-aided job sheet on the class X AP 1. Level of ten fingers typing skills of students in the first cycle is at an average score of 15.44 (less skilled) with mastery learning outcomes 61%, in the second cycle the average score increased to 17.75 (quite skilled) with 72% mastery learning outcomes later in the third cycle the average score increased to 20.78 (skilled) with mastery learning outcomes 89%..

© 2015 Universitas Negeri Semarang

Alamat korespondensi:

Gedung C6 Lantai 1 FE Unnes

Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229 E-mail: [email protected]

ISSN 2252-6544

(2)

PENDAHULUAN

Perkembangan pendidikan merupakan salah satu hal yang akan terus terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan sebagai bentuk antisipasi dalam menghadapi masa depan dan tuntutan masyarakat modern.

Seiring derasnya tantangan global, tantangan dunia pendidikan suatu bangsa pun menjadi semakin besar. Paradigma pendidikan di Indonesia senantiasa mengalami perubahan dari waktu ke waktu, hal ini dapat diamati dengan adanya perubahan kurikulum yang diterapkan. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum 2013 yang telah diberlakukan diharapkan mampu memenuhi dua dimensi, dimensi yang pertama meliputi rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan dimensi yang kedua adalah cara yang digunakan untuk proses kegiatan pembelajaran.

Proses pembelajaran pada paradigma pendidikan yang lama hanya terjadi transfer ilmu dari guru ke peserta didik. Penekanan proses hanya dalam aspek kognitif sedangkan aspek psikomotorik dan afektif kurang dikembangkan, sedangkan dalam paradigma pendidikan kurikulum 2013 tidak hanya kognitif saja yang dikembangkan namun juga aspek psikomotorik dan afektif turut diperhatikan. Paradigma kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan faktor-faktor tantangan internal, tantangan eksternal dan penyempurnaan pola pikir.Semula dari pola pembelajaran pasif menjadi pola pembelajaran aktif-mencari (pembelajaran siswa aktif mencari semakin diperkuat dengan model pembelajaran pendekatan saintifik) dan dari pola pembelajaran alat tunggal menjadi pembelajaran berbasis alat multimedia.

Penerapan metode pembelajaran yang berbasis multimedia memerlukan kreativitas guru dalam proses pembelajaran.

Mulyasa (2008: 51) menyatakan bahwa kreativitas merupakan hal yang penting dalam pembelajaran, guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukkan proses kreativitas tersebut. Guru yang bersangkutan dapat menciptakan suatu strategi mengajar yang benar-benar baru dan orisinil (asli ciptaan sendiri), atau dapat saja merupakan modifikasi dari berbagai strategi yang ada sehingga menghasilkan bentuk strategi mengajar baru.

Berkaitan dengan pernyataan tersebut di atas, pengembangan pola pembelajaran juga diharapkan dapat berpengaruh pada hasil dari proses pembelajaran sesuai dengan tujuan kurikulum baru. Hasil belajar ditandai dengan adanya evaluasi yang nantinya akan dijadikan sebagai tolak ukur maksimal yang telah dicapai siswa setelah melakukan kegiatan belajar selama waktu yang telah ditentukan. Menurut Gagne dalam Sudjana (2009:22), “terdapat lima tipe hasil belajar yaitu informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, keterampilan motorik, dan sikap”.

Keterampilan yang dikembangkan dalam proses kegiatan belajar mengajar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) khususnya program keahlian administrasi perkantoran salah satunya adalah keterampilan mengetik.

Berkaitan dengan kurikulum 2013 yang tetap diterapkan oleh sekolah yang sekiranya sudah siap, mata pelajaran mengetik manual sudah tidak ada lagi sehingga pembelajaran mengetik yang tadinya menggunakan mesin ketik manual kini sudah menggunakan komputer pada mata pelajaran otomatisasi perkantoran. “Mengetik adalah pekerjaan yang terdapat pada semua bidang, baik itu dalam organisasi swasta, organisasi pemerintah ataupun organisasi kepertaian maupun organisasi yang lain”

(Marimin, dkk., 2012: 1). Mengetik tetap menjadi kemampuan utama dalam bekerja khususnya untuk pekerjaan kantor sehingga keterampilan mengetik juga harus dikuasai oleh lulusan SMK program keahlian administrasi perkantoran. Hal tersebut merupakan salah satu upaya untuk mempersiapkan lulusan SMK memasuki dunia usaha dan dunia industri.

Perubahan fasilitas mengetik senantiasa berubah dan semakin maju, yang tidak berubah

(3)

adalah cara mengetik (keyboarding). Susunan tuts pada keyboard pada dasarnya sama dengan susunan tuts pada mesin ketik manual, oleh karena itu sudah sewajarnya jika hal tersebut tidak menjadi hambatan bagi siswa dalam menguasai keterampilan mengetik 10 jari saat proses pembelajaran. Keterampilan mengetik 10 jari harus selalu ditingkatkan oleh siswa meskipun pembelajaran sudah berbasis komputer.

Salah satu upaya untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam mengetik 10 jari adalah dengan adanya inovasi pengembangan strategi pembelajaran yang tepat dan berorientasi pada tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Menurut Uno (2011:3), “Strategi pembelajaran adalah cara-cara yang akan digunakan oleh pengajar untuk memilih kegiatan belajar yang akan digunakan selama proses pembelajaran”. Pemilihan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi, sumber belajar, kebutuhan dan karakteristik peserta yang dihadapi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran tertentu.

Salah satu strategi yang dipilih adalah metode drill melalui typing master berbantuan media job sheet. Penggunaan metode berbantuan media yang berbasis komputer ini merupakan strategi yang mengintegrasikan keterampilan mengetik secara eksplisit sesuai dengan kurikulum 2013 yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa secara mandiri.

Metode latihan (drill) merupakan suatu cara yang baik untuk menanamkan kebiasaan- kebiasaan tertentu, juga sebagai sarana untuk memperoleh ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan (Djamarah, 2010:

95). Metode drill mendukung siswa lebih banyak melakukan latihan mengetik dalam mengikuti pembelajaran otomatisasi perkantoran melalui program typing master yang digunakan. Ketertarikan dan antusiasme terhadap penggunaan media job sheet merupakan indikasi termotivasinya siswa sehingga akan meningkatkan hasil belajar terutama aspek kecepatan, ketepatan, dan kerapihan hasil ketikan.

Jadi strategi pembelajaran metode drill melalui typing master berbantuan media job sheet

benar-benar memberdayakan potensi siswa untuk mengaktualisasikan pengetahuan yang telah didapatkan dan juga keterampilannya.

Selain itu strategi tersebut dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan karena jam pelajaran diisi dengan mengerjakan job sheet, sehingga secara tidak langsung guru telah memberikan peran yaitu sebagai pengelola pembelajaran yang mampu mengembangkan nilai, sikap moral dan keterampilan siswa.

Pernyataan tersebut di atas sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lina Hartini Setyaningsih (2014) dalam tiga siklus menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis komputer berbantu media typing master dapat meningkatkan keterampilan mengetik sistem 10 jari buta dan hasil belajar mengetik siswa. Rata-rata keterampilan mengetik sistem 10 jari buta siswa secara klasikal mengalami peningkatan dari siklus ke siklus. Pengamatan pada siklus I menunjukkan bahwa keterampilan mengetik sistem 10 jari buta siswa kelas X Administrasi Perkantoran SMK Muhammadiyah 01 Pati termasuk dalam kategori cukup terampil (54,9%). Hal tersebut mengalami peningkatan menjadi terampil (70,2%) pada siklus II dan pada siklus III meningkat kembali menjadi sangat terampil (84,5%). Hal senada dapat dilihat dari hasil penelitian dari M. Aris Abdillah (2013) yang menunjukkan bahwa kelengkapan job sheet mengambil peranan sangat penting dalam meningkatkan hasil belajar kompetensi sistem starter kelas X TKR SMK Negeri 3 Kudus.

Siswa juga mampu dan paham terhadap apa yang akan dilakukan hanya dengan melihat job sheet yang lengkap selama proses pembelajaran.

Dilihat dari karakteristiknya, mata pelajaran otomatisasi perkantoran memuat unsur materi mengetik, menggunakan peralatan kantor dan simulasi digital. Pembelajaran mengetik, bertujuan untuk melatih keterampilan mengetik 10 jari siswa.

Pembelajaran mengetik (keyboarding) merupakan bagian dari mata pelajaran otomatisasi perkantoran. Keterampilan mengetik 10 jari membutuhkan latihan secara kontinyu sehingga dapat melatih kecepatan dan ketepatan penggunaan jari dalam menghentak

(4)

tuts keyboard untuk mencapai tingkatan terampil. Kebutuhan dan karakteristik mengetik 10 jari yang mengutamakan kecepatan dan ketepatan harus diimbangi dengan kemampuan siswa yang sesuai dengan karakteristik cara belajar terampil mengetik 10 jari.

Melihat pernyataan tentang kebutuhan dan karakteristik mata pelajaran otomatisasi perkantoran khususnya mengetik 10 jari, sangat memprihatinkan ketika keadaan di lapangan tidak sesuai dengan keterampilan yang seharusnya dikuasai oleh siswa padahal fasilitas belajar sudah memadai. Hasil survei menemukan bahwa masih banyak siswa kelas X program keahlian administrasi perkantoran SMK Negeri 2 Semarang yang tidak dapat

mencapai target ketuntasan keterampilan mengetik dengan standar kecepatan mengetik 100 kpm (keystrokes per minutes) dan ketepatan (accuracy) 95%. Kecepatan mengetik diukur dari seberapa banyak karakter yang dapat diketik selama satu menit, sedangkan ketepatan mengetik merupakan persentase banyaknya karakter yang diketik dengan benar. Data keterampilan mengetik siswa berdasarkan hasil tes mengetik naskah kecepatan melalui typing master menggunakan teks bahasa Indonesia dan berdurasi 5 menit yang dilaksanakan peneliti pada tanggal 20 Januari 2015 sampai dengan 22 Januari 2015 ditunjukkan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 1 Daftar Kecepatan Mengetik Siswa Kelas X Administrasi Perkantoran SMK Negeri 2 Semarang Tahun 2015

Kelas Kecepatan Persentase

≥100kpm <100kpm Tuntas Tidak Tuntas

X AP 1 14 22 39% 61%

X AP 2 18 18 50% 50%

X AP 3 15 20 43% 57%

Sumber: Data primer diolah tahun 2015

Data kecepatan mengetik melalui typing master pada tabel di atas dapat diketahui secara otomatis dari test results. Kecepatan (net speed) diperoleh dari jumlah karakter yang diketik (gross strokes) dibagi dengan waktu (duration) dikurangi jumlah karakter yang salah (error).

Ukuran dari kecepatan mengetik yang digunakan adalah kpm atau keystrokes per minute. Ukuran ini sama dengan epm atau entakan per menit jika mengetik menggunakan mesin ketik manual. Tabel di atas menunjukkan hasil tes kecepatan mengetik dari 107 siswa kelas X program keahlian administrasi perkantoran. Pada kelas X AP 1 yang

berjumlah 36 siswa, sebanyak 22 siswa belum mencapai target ketuntasan kecepatan mengetik dengan standar 100 kpm. Pada kelas X AP 2 yang berjumlah 36 siswa, sebanyak 18 siswa belum mencapai target ketuntasan kecepatan mengetik sedangkan pada kelas X AP 3 yang berjumlah 35 siswa secara klasikal sebanyak 20 siswa belum memenuhi target ketuntasan kecepatan mengetik.

Selain kecepatan mengetik, persentase ketepatan mengetik (accuracy) juga dapat diketahui secara otomatis dari program aplikasi typing master yang digunakan. Data ketepatan mengetik siswa ditunjukkan dalam tabel sebagai berikut:

(5)

Tabel 2 Daftar Ketepatan Mengetik Siswa Kelas X Administrasi Perkantoran SMK Negeri 2 Semarang Tahun 2015

Kelas Ketepatan Persentase

≥95% <95% Tuntas Tidak Tuntas

X AP 1 17 19 47% 53%

X AP 2 23 13 64% 36%

X AP 3 21 14 60% 40%

Sumber: Data primer diolah tahun 2015

Tabel di atas menunjukkan data ketepatan (accuracy) mengetik siswa kelas X AP 1, X AP 2 dan X AP 3. Pada kelas X AP 1 yang berjumlah 36 siswa, sebanyak 19 siswa ketepatan mengetiknya belum mencapai target ketuntasan dengan standar ketepatan mengetik 95%. Pada kelas X AP 2 yang berjumlah 36 siswa, sebanyak 13 siswa ketepatan mengetiknya belum mencapai target ketuntasan sedangkan pada kelas X AP 3 yang berjumlah 35 siswa sebanyak 14 siswa belum mencapai target ketuntasan ketepatan mengetik

.

Berdasarkan hasil observasi dapat disimpulkan bahwa keterampilan mengetik siswa kelas X AP 1 masih rendah jika dibandingkan dengan kelas X AP 2 dan X AP 3. Selama proses pembelajaran otomatisasi perkantoran, di kelas X AP 1 juga ditemukan 9 siswa masih belum menerapkan posisi jari pada

tuts basis saat mengetik. Sebanyak 12 siswa lebih sering menggunakan jari telunjuk atau jari manis untuk menghentak tuts enter dan backspace yang ada pada keyboard. Selain itu sebanyak 7 siswa pandangan matanya masih tertuju pada keyboard pada saat mengetik.

Pembelajaran yang berlangsung selama 6 jam pelajaran setiap minggu masih belum menggunakan variasi model atau penggunaan media secara optimal sehingga pembelajaran menjadi membosankan dan siswa tidak termotivasi untuk terus berlatih mengetik dikarenakan adanya rasa jenuh.

Wawancara juga dilakukan dengan guru mata pelajaran otomatisasi perkantoran Sulistyawati, S. Pd. pada hari Selasa tanggal 3 Februari 2015 pukul 09.15 WIB berkaitan dengan keterampilan mengetik dari seluruh siswa selama ini, ia mengungkapkan bahwa:

(6)

Sebenarnya kelas X AP 1 siswa-siswanya lebih unggul dibandingkan dengan kelas X AP 2 dan X AP 3 karena sejak masuk nilai mereka sudah bagus-bagus. Tetapi kenyataannya dilihat selama pembelajaran yang paling bagus keterampilan mengetiknya adalah kelas X AP 2 dan X AP 3. Siswa itu menerapkan 10 jari jika merasa diawasi Bu Lis saja, jika tidak diawasi ya mereka pasti tidak disiplin. Mereka pasti lebih mengutamakan kecepatan, kebanyakan mereka terlena untuk mendapatkan kpm yang tinggi sedangkan mereka tidak memperhatikan ketepatan mereka dalam menghentak tuts keyboard. (Sulistyawati, wawancara, 3 Februari 2015)

Hasil wawancara saat observasi awal menunjukkan bahwa rendahnya keterampilan mengetik 10 jari siswa selama ini salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya disiplin

saat latihan secara rutin dari masing-masing siswa dan penerapannya secara langsung.

Selain itu pemilihan model pembelajaran yang digunakan oleh guru selama ini sudah baik, namun kurang sesuai dengan kebutuhan belajar mengetik siswa karena siswa belum optimal menerapkan kemampuan mengetik dalam proses penugasan seperti membuat surat.

Pemilihan metode pembelajaran yang tepat diharapkan mampu memaksimalkan proses pembelajaran siswa sehingga peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Peningkatan Keterampilan Mengetik 10 Jari dengan Metode Pembelajaran Drill Melalui Typing Master dan Ms. Word Berbantuan Media Job Sheet Pada Kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran 1 SMK Negeri 2 Semarang”.

METODE

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kolaborasi yang dilakukan dengan guru mata pelajaran otomatisasi perkantoran SMK Negeri 2 Semarang. Kedudukan penulis disini adalah sebagai peneliti yang mempersiapkan penelitian dari awal sampai akhir dengan dibantu guru yang berkedudukan sebagai pelaksana tindakan atau mengajar. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMK Negeri 2 Semarang Jalan Dr. Cipto 121 A Semarang. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X AP 1 Semester II Tahun 2014/2015 dengan jumlah 36 siswa yang seluruhnya adalah siswa putri.

Penelitian ini mengukur keterampilan mengetik 10 jari siswa sebagai faktor yang diharapkan terjadi peningkatan setelah adanya tindakan. Tindakan dalam penelitian ini yaitu pelaksanaan pembelajaran keyboarding dalam mata pelajaran otomatisasi perkantoran menggunakan metode drill melalui typing master berbantuan media job sheet. Indikator untuk mengukur keterampilan mengetik 10 jari siswa ini mengacu pada saat proses pembelajaran menggunakan metode drill melalui Typing Master dan Ms. Word berbantuan media job sheet.

Indikator keterampilan mengetik 10 jari sesuai dengan tujuan pengajaran mengetik yang

diungkapkan oleh Djanewar (1999: 69) yaitu kecepatan, ketepatan dan kerapihan. Prosedur penelitian ini ada 3 siklus, yang masing-masing siklusnya terdapat perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Perencanaan dalam siklus yang dimaksud adalah persiapan dalam menyediakan RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran), sumber belajar, lembar observasi, serta alat evaluasi. Tindakan dalam siklus yang dimaksud adalah kolaborasi antara guru dan peneliti dengan menggunakan metode pembelajaran drill melalui typing master berbantuan media job sheet. Pengamatan merupakan proses pengumpulan data menggunakan lembar observasi yang telah diisi oleh peneliti untuk mengukur keterampilan mengetik 10 jari siswa. Refleksi merupakan perolehan hasil dari tahap sebelumnya yang dikumpulkan dan dianalisis untuk mencari solusi sebagai pemecahan masalah yang timbul.

Hasil pada tahap ini akan digunakan untuk memperbaiki perencanaan ulang pada siklus selanjutnya.

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi dan tes. Metode observasi dalam penelitian ini digunakan untuk melihat dan mengamati aspek-aspek yang menjadi dasar penelitian ini.

Metode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan daftar nama siswa serta data-

(7)

data lain yang dibutuhkan dalam penelitian.

Adapun metode tes dalam penelitian ini adalah tes praktik mengetik naskah kecepatan dan naskah surat yang dilaksanakan pada akhir pembelajaran di setiap siklusnya. Instrumen tes telah dikonsultasikan kepada pakar ahli (expert judgment) dimaksudkan untuk mengetahui validitas instrumen sehingga dapat diketahui layak atau tidaknya instrumen tersebut digunakan dalam pengambilan data penelitian.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif persentase dengan skala pengukuran yang sudah ditentukan. Indikator keberhasilan yang diukur dalam penelitian ini adalah seberapa besar peningkatan keterampilan mengetik 10 jari siswa yang meliputi kecepatan, ketepatan dan kerapihan. Ketuntasan klasikal yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu 75%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Siklus I dilaksanakan dalam satu kali pertemuan yang terdiri dari tiga jam pelajaran, masing-masing satu jam pelajaran berlangsung selama 45 menit. Tahap perencanaan dilakukan dengan persiapan yang berhubungan dengan pelaksanaan pembelajaran otomatisasi perkantoran dengan metode pembelajaran drill melalui typing master dan Ms. Word berbantuan media job sheet. Persiapan yang dilakukan berupa rencana kegiatan menentukan langkah- langkah yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah. Langkah ini merupakan upaya penerapan tindakan untuk memperbaiki kelemahan dalam kegiatan pembelajaran otomatisasi perkantoran yang telah berlangsung

selama ini di kelas X AP 1 SMK Negeri 2 Semarang. Pelaksanaan tindakan merupakan suatu kegiatan dilaksanakannya skenario pembelajaran yang telah direncanakan.

Tindakan pada pembelajaran siklus I ini adalah melaksanakan pembelajaran sebagaimana telah direncanakan pada tahap perencanaan. Hasil penelitian berdasarkan pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan pedoman observasi keterampilan mengetik 10 jari menunjukkan sejauhmana tingkat keterampilan mengetik 10 jari otomatisasi perkantoran menggunakan metode drill melalui typing master dan Ms. Word berbantuan media job sheet.

Tingkat keterampilan mengetik 10 jari setiap siswa serta keseluruhan siswa dapat dilihat dari hasil observasi pada tabel berikut:

Tabel 3 Hasil Observasi Keterampilan Mengetik 10 Jari Siklus I

No. Interval Frekuensi Persentase Kriteria

1 Skor 25,3 – 30 0 0 Sangat Terampil

2 Skor 20,4 – 25,2 0 0 Terampil

3 Skor 15,6 – 20,3 19 52,7% Cukup Terampil

4 Skor 10,8 – 15,5 15 41,7% Kurang Terampil

5 Skor 6 – 10,7 2 5,6% Tidak Terampil

Sumber: Pengolahan Data Penelitian 2015

Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui bahwa dari 36 siswa, 19 siswa (52,7%) masuk dalam kategori cukup terampil, 15 siswa (41,7%) masuk dalam kategori kurang terampil dan 2 siswa (5,6%) masuk dalam kategori tidak terampil. Dengan kata lain 36 siswa belum mencapai kriteria terampil. Hal tersebut diidentifikasi karena siswa baru pertama kali mengikuti pembelajaran dengan variasi metode dan media yang berbeda dari sebelumnya, siswa juga masih kebingungan ketika membaca job

sheet sehingga pada saat mengetik naskah surat siswa masih sering melihat ke naskah dan ke keyboard sehingga tidak memanfaatkan waktu yang disediakan pada saat latihan mengetik.

Rata-rata kriteria keterampilan mengetik 10 jari siswa pada siklus I memperoleh 15,44 yang mengidentifikasikan bahwa rata-rata keterampilan mengetik 10 jari siswa pada saat pembelajaran otomatisasi perkantoran dengan metode drill melalui typing master dan Ms. Word

(8)

berbantuan media job sheet masuk dalam kategori kurang terampil.

Ketuntasan hasil belajar secara klasikal dalam penelitian ini diperoleh dari nilai akhir

berdasarkan penilaian tiga aspek meliputi kecepatan, ketepatan dan kerapihan yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4 Ketuntasan Klasikal Hasil Belajar Mengetik 10 Jari

No. Nilai Akhir Siklus I Ketuntasan Klasikal 1 Nilai Tertinggi 87,50 =Jumlah siswa tuntas

jumlah siswa x 100%

=22

36 x 100% = 61%

(tidak tuntas karena <75%)

2 Nilai Terendah 58,33

3 Nilai rata-rata 75,31

Sumber: Hasil Pengolahan Data Penelitian 2015

Tabel 4 menunjukkan data ketuntasan klasikal hasil belajar mengetik 10 jari yang masih berada pada kategori tidak tuntas karena secara klasikal hanya 61% siswa dari 36 siswa yang nilainya memenuhi KKM 75, artinya masih kurang dari indikator keberhasilan dalam penelitian ini yaitu 75%. Pada saat mengetik masih banyak siswa yang tidak menerapkan sistem 10 jari baik pada saat mengetik naskah kecepatan maupun naskah surat. Pandangan mata siswa lebih banyak ke keyboard. Posisi tangan semua siswa saat menghentak tuts juga masih terlihat santai dan telapak tangannya menempel sedangkan posisi naskah surat 7 siswa masih meletakkan di bagian kanan.Taraf kesalahan terbanyak pada hasil mengetik naskah surat karena siswa memperhatikan petunjuk kerja pada job sheet seperti perataan teks, jenis dan ukuran huruf, jarak baris, bahkan ada 3 siswa yang mencetak hasil ketikan surat lebih dari satu lembar.

Dilihat dari aspek penerapan 10 jari saat siswa mengetik, hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada siklus I masih ada siswa yang sama sekali belum disiplin dalam

menerapkan 10 jari diantaranya yaitu Krisni Ayuh Prasetyanti dan Ony Amalia Putri Pradita. Selain dua siswa tersebut ada 11 siswa yang masih kurang tepat dalam menghentak tuts saat mengetik diantaranya yaitu Dwi Ratnasari, Hidayah Dwi Rahayu, Intan Kristiani Putri, Ira Rizka Yulianti, Lianna Putri S. M., Mia Dewi Rahmawati, Novi Dwiyana, Nur Mala Zakiyah, Rafika Aprilia, Senja Cahyaningrum, dan Siti Nadhiroh. Sebanyak 15 siswa sudah cukup tepat dalam menghentak tuts menggunakan jari sesuai fungsinya dan 8 siswa sudah tepat menerapkan 10 jari saat mengetik. Berdasarkan dari data rata-rata keterampilan mengetik 10 jari siswa di siklus I adalah 15,44 berada pada kategori kurang terampil dan belum mencapai indikator keberhasilan sebesar skor 20,4-30. Hal tersebut dikarenakan siswa baru diajarkan mengetik 10 jari dengan target kecepatan 100 kpm dan ketepatan 95% dengan mengikutkan kerapihan hasil ketikan naskah surat, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian siklus II untuk meningkatkan keterampilan mengetik 10 jari siswa

.

Hasil Penelitian Siklus II

Siklus II dilaksanakan dalam satu kali pertemuan yang terdiri dari tiga jam pelajaran, masing-masing satu jam pelajaran berlangsung selama 45 menit. Pada tahap perencanaan dilakukan persiapan yang berhubungan dengan pelaksanaan pembelajaran otomatisasi perkantoran dengan metode pembelajaran drill melalui typing master dan Ms. Word berbantuan

media job sheet berupa rencana kegiatan menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan untuk memperbaiki kelemahan proses pembelajaran dalam siklus I dan meningkatkan keterampilan mengetik 10 jari siswa. Pelaksanaan pada siklus II pertemuan kedua dilaksanakan sesuai dengan skenario yang telah dibuat pada rencana pelaksanaan pembelajaran. Hasil pengamatan pada siklus II menunjukkan bahwa keseriusan dan disiplin

(9)

belajar siswa pada saat kegiatan pembelajaran otomatisasi perkantoran tampak lebih terampil daripada siklus I. Hal ini terbukti bahwa tingkat

keterampilan yang diamati menggunakan pedoman observasi terjadi peningkatan yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5 Hasil Observasi Keterampilan Mengetik 10 Jari Siklus II

No. Interval Frekuensi Persentase Kriteria

1 Skor 25,3 – 30 0 0 Sangat Terampil

2 Skor 20,4 – 25,2 7 19,44% Terampil

3 Skor 15,6 – 20,3 21 58,33% Cukup Terampil

4 Skor 10,8 – 15,5 8 22,22% Kurang Terampil

5 Skor 6 – 10,7 0 0 Tidak Terampil

Sumber: Pengolahan Data Penelitian 2015

Berdasarkan tabel 5 dapat diketahui bahwa dari 36 siswa, 7 siswa (19,44%) masuk dalam kategori terampil, 21 siswa (58,33%) masuk dalam kategori cukup terampil dan 8 siswa (22,22%) masuk dalam kategori kurang terampil. Dengan kata lain 29 siswa belum mencapai kriteria terampil. Memang pada siklus II keterampilan mengetik 10 jari siswa meningkat dibanding siklus I khususnya kecepatan mengetik siswa dan kerapihan hasil ketikan siswa, tetapi kenaikan ini belum sesuai

harapan karena justru terjadi tidak disertai kenaikan pada aspek ketepatan mengetik. Siswa cenderung ingin mendapatkan hasil kecepatan mengetik yang tinggi tanpa memperhatikan ketepatan dalam menghentak tuts pada keyboard sehingga ketepatan mengetiknya (accuracy) belum ada peningkatan.

Ketuntasan hasil belajar secara klasikal dalam penelitian siklus II ini diperoleh dari nilai akhir berdasarkan penilaian tiga aspek meliputi kecepatan, ketepatan dan kerapihan yang dapat dilihat pada tabel berikut:

(10)

Tabel 6 Ketuntasan Klasikal Hasil Belajar Mengetik 10 Jari

No. Nilai Akhir Siklus II Ketuntasan Klasikal 1 Nilai Tertinggi 88,33 =Jumlah siswa tuntas

jumlah siswa x 100%

=26

36 x 100% = 72%

(tidak tuntas karena <75%)

2 Nilai Terendah 65,83 3 Nilai rata-rata 77,92

Sumber: Hasil Pengolahan Data Penelitian 2015

Tabel 6 menunjukkan data ketuntasan klasikal hasil belajar mengetik 10 jari yang masih berada pada kategori tidak tuntas karena secara klasikal hanya 26 siswa dari 36 siswa (72%) yang nilainya memenuhi KKM 75, artinya masih kurang dari indikator keberhasilan dalam penelitian ini yaitu 75%.

Saat mengetik surat siswa masih bingung dengan bentuk indented padahal sudah dijelaskan sehingga masih ada yang menengok pekerjaan teman di sebelahnya. Dilihat dari posisi naskah surat hanya 5 siswa yang tidak meletakkannya di sebelah kiri. Sejumlah 20 siswa masih terfokus pada keyboard saat mengetik dan telapak tangan mereka masih menempel. Pada aspek target waktu mengetik naskah surat siswa harus melaporkan saat sudah selesai mengetik naskah surat untuk memastikan anak tidak melanjutkan untuk mengedit hasil ketikan ketika waktunya sudah habis. Hal ini memperbaiki teknik penilaian pada siklus I yang kurang ketat pengamatannya, sehingga semua siswa tidak disiplin dalam waktu penyelesaian pekerjaan.

Dilihat dari aspek penerapan 10 jari saat siswa

mengetik, berdasarkan hasil pengamatan ditemukan bahwa masih ada 6 siswa yang kurang tepat saat menghentak tuts yaitu Hidayah Dwi Rahayu, Intan Kristiani Putri, Ira Rizka Yulianti, Lianna Putri S. M., Novi Dwiyana, dan Nur Mala Zakiyah. Sebanyak 13 siswa sudah cukup disiplin dan tepat saat menerapkan sistem 10 jari saat mengetik, sedangkan 17 siswa lainnya sudah tepat dan disiplin menerapkan sistem 10 jari saat mengetik.

Secara klasikal rata-rata nilai keterampilan siswa yang meliputi ketiga aspek tersebut ketuntasannya 72% sehingga perlu diadakan siklus III guna mencapai indikator keberhasilan dari hasil belajar siswa sebesar 75% dari seluruh siswa dan KKM sebesar 75.

Berdasarkan data rata-rata keterampilan mengetik 10 jari siswa di siklus II sebesar 17,75 berada pada kategori cukup terampil dan belum mencapai indikator keberhasilan sebesar kategori terampil, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian siklus III untuk meningkatkan keterampilan mengetik 10 jari siswa

.

(11)

Hasil Penelitian Siklus III

Siklus III dilaksanakan dalam satu kali pertemuan yang terdiri dari tiga jam pelajaran, masing-masing satu jam pelajaran berlangsung selama 45 menit. Tahap perencanaan ini dilakukan persiapan yang berhubungan dengan pelaksanaan pembelajaran otomatisasi perkantoran dengan metode pembelajaran drill melalui typing master dan Ms. Word berbantuan media job sheet yang berupa rencana kegiatan menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan untuk memperbaiki kelemahan

proses pembelajaran dalam siklus II dan meningkatkan keterampilan mengetik 10 jari otomatisasi perkantoran. Pelaksanaan pada siklus III dilaksanakan sesuai dengan skenario yang telah dibuat pada rencana pelaksanaan pembelajaran. Hasil pengamatan pada siklus III menunjukkan bahwa keterampilan mengetik 10 jari siswa pada saat kegiatan pembelajaran otomatisasi perkantoran tampak lebih terampil daripada siklus II. Hal ini terbukti bahwa tingkat keterampilan yang diamati menggunakan pedoman observasi. Peningkatan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 7 Hasil Observasi Keterampilan Mengetik 10 Jari Siklus III

No. Interval Frekuensi Persentase Kriteria

1 Skor 25,3 – 30 0 0 Sangat Terampil

2 Skor 20,4 – 25,2 22 61% Terampil

3 Skor 15,6 – 20,3 14 39% Cukup Terampil

4 Skor 10,8 – 15,5 0 0 Kurang Terampil

5 Skor 6 – 10,7 0 0 Tidak Terampil

Sumber: Hasil Pengolahan Data Penelitian 2015

Berdasarkan tabel 7 dapat diketahui bahwa dari 36 siswa, 22 siswa (61%) masuk dalam kategori terampil dan 14 siswa (39%) masuk dalam kategori cukup terampil. Jumlah siswa yang terampil mengetik 10 jari mengalami peningkatan karena siswa berlatih terus menerus secara kontinyu sehingga bertambah cekatan dalam menerapkan sistem 10 jari saat mengetik (keyboarding). Pada siklus III keterampilan mengetik 10 jari siswa meningkat dibanding siklus II. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan ketepatan mengetik siswa yang pada siklus sebelumnya masih tetap.

Siswa sudah mulai memperhatikan untuk

mengutamakan ketepatan selain kecepatan mengetik. Pentingnya ketepatan mengetik akan menunjukkan apakah siswa menerapkan 10 jari atau tidak. Selain kecepatan dan ketepatan mengetik yang meningkat, pada siklus III kerapihan hasil ketikan surat bentuk hanging paragraph juga meningkat dibandingkan siklus II dimana siswa mengetik naskah surat bentuk lekuk (indented).

Ketuntasan hasil belajar secara klasikal dalam penelitian siklus III ini diperoleh dari nilai akhir berdasarkan penilaian tiga aspek meliputi kecepatan, ketepatan dan kerapihan yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 8 Ketuntasan Klasikal Hasil Belajar Mengetik 10 Jari

No. Nilai Akhir Siklus III Ketuntasan Klasikal 1 Nilai Tertinggi 94,17 =Jumlah siswa tuntas

jumlah siswa x 100%

=32

36 x 100% = 89%

(tuntas karena >75%)

2 Nilai Terendah 65,83

3 Nilai rata-rata 84,12

Sumber: Hasil Pengolahan Data Penelitian

(12)

Tabel 8 menunjukkan data ketuntasan klasikal hasil belajar mengetik 10 jari yang sudah berada pada kategori tuntas karena secara klasikal hanya 32 siswa dari 36 siswa (89%) yang nilainya memenuhi KKM 75, artinya sudah mencapai indikator keberhasilan dalam penelitian ini yaitu 75%. Dengan demikian penelitian tindakan ini dicukupkan sampai siklus III. Siswa sudah lebih disiplin dalam menerapkan sistem 10 jari saat mengetik naskah kecepatan dan naskah surat, kecepatan mengetiknya sudah dapat diiringi dengan ketepatan mengetik 95% sesuai yang diharapkan. Siswa sudah meletakkan naskah surat pada sebelah kiri dan pandangan mata sejumlah 22 siswa masih melihat keyboard saat mengetik dan melihat naskah bergantian dengan melihat monitor. Telapak tangan 15 siswa juga masih terlihat menempel di keyboard.

Berdasarkan hasil pengamatan, pada aspek ketepatan siswa dalam menghentaks tuts sesuai dengan sistem 10 jari, ditemukan masih ada 3 siswa yang kurang tepat dan kurang

disiplin dalam menghentak tuts diantaranya adalah Novi Dwiyana, Ony Amalia Putri Pradita dan Rafika Aprilia. Sebanyak 9 siswa sudah cukup disiplin dalam menerapkan sistem 10 jari saat mengetik dan menghentak tuts dengan jari sesuai fungsinya, sedangkan 21 siswa lainnya sudah tepat dalam menghentak tuts menggunakan 10 jari sesuai fungsinya. Ada 3 siswa yang sudah sangat disiplin dan tepat dalam menerapkan sistem 10 jari saat mengetik naskah baik naskah kecepatan maupun naskah surat, mereka adalah Vivi Novianingrum, Yolanda Ferina Larasati dan Yuli Tri Astuti.

Secara keseluruhan, hasil pelaksanaan siklus III adalah sebagai berikut:

Skor rata-rata keterampilan mengetik 10 jari siswa sebesar 20,86 termasuk dalam kategori terampil karena berada pada rentang skor 20,4-25,2.

Nilai rata-rata hasil belajar mengetik 10 jari siswa (keyboarding) sebesar 83,93dengan ketuntasan klasikal sebeasar 89%.

PEMBAHASAN

Pengamatan keterampilan mengetik 10 jari serta tes praktik hasil belajar mengetik 10 jari siswa yang dilanjutkan dengan kegiatan refleksi atau kegiatan untuk mengemukakan kembali kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata hasil belajar siswa dengan penerapan metode pembelajaran drill melalui typing master dan Ms. Word berbantuan media job sheet kelas X AP 1 selalu mengalami peningkatan dari siklus ke siklus. Analisis deskriptif persentase digunakan untuk komponen penelitian keterampilan mengetik 10 jari siswa terhadap pembelajaran otomatisasi perkantoran dengan penerapan metode pembelajaran drill melalui typing master dan Ms.

Word berbantuan media job sheet.

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa metode pembelajaran drill melalui typing master dan Ms. Word berbantuan media job sheet mempunyai pengaruh positif terhadap keterampilan mengetik 10 jari siswa dalam mata pelajaran otomatisasi perkantoran kelas X

AP 1 karena dapat meningkatkan keterampilan mengetik 10 jari siswa. Hal ini terbukti bahwa rata-rata keterampilan mengetik 10 jari siswa pada siklus I memperoleh skor sebesar 15,44 kemudian siklus II meningkat menjadi 17,75 dan meningkat lagi di siklus III menjadi 20,78 yang menempati kategori terampil karena berada pada rentang skor 20,4 – 25,2.

Pada aspek keterampilan terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian oleh peneliti yaitu ada beberapa siswa yang keterampilannya menurun dibandingkan dengan siswa yang lainnya. Kristiyanti pada siklus II mengalami penurunan dari cukup terampil menjadi kurang terampil padahal siswa yang lain keterampilannya meningkat. Pada setiap siklus siswa yang keterampilannya memenuhi kategori cukup terampil ada tiga orang yaitu Lianna, Soelita Sari, dan Yuli Triastuti. Ketiga siswa tersebut keterampilannya tidak meningkat atau tetap, meskipun naik kenaikannya hanya berkisar 1 – 2 skor sehingga keterampilan mereka tidak meningkat. Dari segi hasil belajar pada siklus I siswa yang bernama Hidayah mencapai

(13)

kategori tuntas, namun pada siklus II dan III ia tidak tuntas. Penurunan hasil belajar juga terjadi pada Ira dan Kezia yang hanya tuntas pada siklus II, bahkan siswa yang bernama Senja selama 3 siklus ia tidak tuntas hasil belajarnya dan Rafika yang pada akhir siklus III tidak tuntas hasil belajarnya.

Ada beberapa faktor yang diungkapkan oleh siswa tentang apa yang sekiranya memengaruhi keterampilan mengetik 10 jari mereka saat pembelajaran otomatisasi perkantoran khususnya materi pokok keyboarding. Faktor tersebut lebih banyak berasal dari intern siswa sendiri yaitu faktor psikologis dan faktor fisik. Senja menyatakan bahwa mengetik surat sulit karena harus melihat isi surat dan membagi alinea isi surat terutama mengetik surat bentuk hanging paragraph. Senja juga mengungkapkan dengan adanya job sheet dapat melatih pandangan matanya menjadi lebih disiplin melihat teks.

Senja mengungkapkan bahwa ia masih kesulitan mengetik angka karena jari sulit menjangkau. Ia juga masih kesulitan mengentak huruf P, W, Q, X, Z, tanda titik dan tanda petik.

Ira menjelaskan saat pembelajaran menggunakan job sheet dan membuat surat tidak ada kesulita hanya saja pada saat siklus I dan III merasa kurang sehat. Selain itu ia juga mengungkapkan bahwa ia memiliki masalah keluarga sehingga memengaruhi perasaannya saat mengetik. Ira juga memiliki kendala fisik saat mengetik karena matanya yang rabun jauh sehingga ketika melihat komputer terlalu lama ia merasa pusing. Ira merasa kesulitan dalam menghentak huruf I, X, U dan tanda / saat mengetik.

Rafika saat mengikut pembelajaran lebih sering melihat keyboard lebih dulu daripada teks. Ia mengungkapkan bahwa ia merasa kesulitan mengatur pandangan mata dan entakan jari pada tuts khususnya tuts huruf P, X, Y, W dan Q. terkait dengan mengetik naskah surat ia hanya merasa kesulitan saat harus mengetik surat bentuk lekuk (indented).

Hidayah pada akhir siklus juga masih merasa kesulitan ketika harus menghentak tuts dengan menggunakan jari manis dan jari kelingking. Ia

juga merasa kesulitan saat mengetik naskah bentuk hanging paragraph. Pada siklus II ia juga merasa tidak enak badan karena berhalangan sehingga kecepatan dan ketepatan mengetiknya menurun. Saat mengetik juga ia lebih sering melihat teks dulu baru melihat keyboard. Hidayah masih merasa kesulitan saat mengetik huruf Q, P dan Z.

Secara garis besar Hidayah mengungkapkan, alasan yang membuat siswa masih kesulitan mengetik dengan sistem 10 jari adalah karena siswa pada saat awal pembelajaran tidak melatih entakan jari karena pada saat dikenalkan dengan mesin ketik dan materi penguasaan tuts siswa langsung mengetik dengan menggunakan komputer tidak dengan mesin ketik sehingga siswa terbiasa santai mengentak tanpa memperhatikan posisi jari pada tuts basis. Oleh karena itu, ketepatan mengetik siswa masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan kecepatan siswa dalam mengetik sistem 10 jari.

Dari hasil penelitian juga ditemukan bahwa keterampilan mengetik 10 jari siswa pada mata pelajaran otomatisasi perkantoran dengan menggunakan metode pembelajaran drill melalui typing master dan Ms. Word berbantuan media job sheet juga mempunyai pengaruh positif terhadap hasil belajar siswa.

Dilihat dari rata-rata nilai hasil belajar keyboarding yang memuat tiga aspek yaitu kecepatan, ketepatan dan kerapihan mengalami kenaikan dari siklus I sebesar 75,31 menjadi 77,92 pada siklus II dan kemudian menjadi 84,12 pada siklus III yang artinya rata-rata nilai hasil belajar keyboarding siswa mencapai KKM dengan ketuntasan klasikal sebesar 89% dari jumlah seluruh siswa pada akhir siklus yang artinya pada siklus ke III telah mencapai indikator keberhasilan.

Sebanyak 4 siswa yang belum tuntas (11%) sampai siklus III adalah Hidayah Dwi Rahayu, Ira Rizka Yulianti, Rafika Aprilia dan Senja Cahyaningrum. Hidayah dan Ira ketepatan mengetiknya belum mencapai standar ketuntasan 95% dan hasil ketikan naskah surat kedua siswa tersebut masih belum tuntas. Mereka berdua masih sering melihat keyboard saat mengetik dan tidak tertib

(14)

menerapkan 10 jari. Pada aspek kecepatan Ira sudah memenuhi target sedangkan Hidayah kecepatan mengetiknya belum mencapai 100 kpm. Rafika ketepatan mengetiknya 99% dan Senja 98% artinya sudah memenuhi target karena lebih dari 95%. Rafika kecepatan mengetiknya 118 kpm dan Senja 160 kpm artinya sudah lebih dari 100 kpm, tetapi pada aspek kerapihan hasil ketikan naskah surat bentuk hanging paragraph keduanya masih belum tuntas karena nilainya belum memenuhi KKM 75. Hal ini dapat dilihat dari hasil ketikan naskah surat kedua siswa tersebut yang masih belum sesuai dengan petunjuk kerja yang ada pada job sheet seperti ukuran huruf dan jenis huruf, batas pinggir (margin) kertas, bentuk surat dan pengetikan bagian-bagian surat yang tidak lengkap.

Peningkatan keterampilan mayoritas dapat dilihat dari tiga siswa yang bernama Vivi Novianingrum, Wahyu Nur Elise, Yolanda Ferina Larasati, Yuli Triastuti. Vivi dan Yolanda dan pada siklus I keterampilannya sudah memenuhi kategori cukup terampil dan meningkat menjadi terampil pada siklus II dan siklus III, sedangkan Wahyu dan Yuli keterampilannya pada siklus I dan II masuk dalam kategori cukup terampil dan meningkat menjadi terampil pada siklus III. Keempat siswa tersebut hasil belajarnya pun meningkat pada setiap siklus dan memenuhi KKM 75.

Dilihat dari rata-rata keterampilan mengetik 10 jari dan hasil belajar keyboarding siswa yang mengalami kenaikan, artinya keterampilan mengetik 10 jari siswa dan hasil belajar siswa menggunakan metode pembelajaran drill melalui typing master dan Ms.

Word berbantuan media job sheet pada mata pelajaran otomatisasi perkantoran lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa tanpa menggunakan metode pembelajaran drill melalui typing master dan Ms. Word berbantuan media job sheet. Hal ini sesuai dengan pendapat Djamarah (2010:122) bahwa “sebagai alat bantu, media mempunyai fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pengajaran, hal ini dilandasi dengan keyakinan bahwa proses belajar mengajar dengan bantuan media mempertinggi kegiatan belajar anak didik

dalam tenggang waktu yang cukup lama, itu berarti kegiatan belajar anak didik dengan bantuan media akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik daripada tanpa bantuan media”.

Penelitian ini juga menghasilkan kelebihan yang diperoleh dalam mata pelajaran otomatisasi perkantoran yaitu sebagai berikut:

Memperkenalkan kepada siswa tentang pembelajaran mengetik 10 jari yang memuat target kecepatan, ketepatan dan kerapihan hasil ketikan melalui variasi metode dan media yang menarik siswa sehingga siswa lebih semangat, disiplin dan fokus mengikuti pembelajaran keyboarding supaya lebih terampil dalam menerapkan sistem 10 jari saat mengetik naskah.

Guru menjadi lebih kreatif karena menerapkan variasi media dalam pembelajaran.

Tugas guru dikelaspun menjadi ringan dan tidak membosankan karena tidak sepenuhnya pembelajaran mengetik 10 jari disampaikan dengan demonstrasi dan drill. Pembelajaran bisa menggunakan media job sheet sehingga kegiatan pembelajaran tidak sepenuhnya terpusat pada guru tetapi siswa juga bisa aktif dalam kegiatan pembelajaran karena siswa dituntut untuk cermat dalam mengikuti petunjuk kerja yang ada pada job sheet.

SIMPULAN

Berdasarkan pemaparan hasil penelitian serta pembahasan dalam penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat peningkatan keterampilan mengetik 10 jari siswa dengan penerapan metode pembelajaran drill melalui typing master dan Ms. Word berbantuan media job sheet. Persentase keterampilan siswa mengalami peningkatan dari siklus I hingga siklus III sehingga mencapai kategori terampil.

Hal tersebut dikarenakan metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan variasi metode yang belum pernah diterapkan sebelumnya, sehingga siswa merasa tertarik dan termotivasi untuk lebih disiplin dan lebih terampil dalam menerapkan sistem 10 jari saat mengetik. Tanggapan siswa terhadap penggunaan metode pembelajaran drill melalui

(15)

typing master dan Ms. Word berbantuan media job sheet juga sangat positif. Gurudisarankan dapat melanjutkan pembelajaran pada tahun ajaran berikutnya menggunakan metode drill melalui typing master dan Ms. Word berbantuan media job sheet sebagai metode alternatif pembelajaran mengetik 10 jari (keyboarding) di dalam kelas. Siswa disarankan tidak hanya mengutamakan kecepatan saat mengetik tetapi juga memperhatikan posisi jari saat menghentak tuts sebagaimana fungsinya. Siswa juga disarankan untuk berusaha disiplin mengatur pandangan mata agar tetap tertuju pada naskah ketikan pada saat mengetik menggunakan sistem 10 jari sehingga siswa tetap dapat menerapkan sistem 10 jari saat mengetik naskah apapun.

DAFTAR PUSTAKA

Abdillah, M. Aris. 2013. Kelengkapan Jobsheet dalam Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Kelistrikan Otomotif Pada Siswa. Semarang:

IKIP Veteran Semarang.

Djamarah, Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Djanewar dan Sudarmin. 1999. Mengetik SMK Jilid I. Jakarta: Armico.

Marimin. Sularso dan Agung Kuswantoro.

2012. Keyboarding dengan Sistem 10 Jari. Semarang: Unnes Press.

Mulyasa. 2008. Menjadi Guru Profesional, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Setyaningsih, Lina Hartini. 2014.

Peningkatan Keterampilan Mengetik Sistem 10 Jari Buta dengan Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Komputer Berbantu Media Typing Master Pada Siswa Kelas X AP SMK Muhammadiyah 01 Pati.

Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung:

PT Remaja Rosdakarya.

Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Jakarta: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Uno, Hamzah. 2011. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif.

Jakarta: PT Bumi Aksara.

Gambar

Tabel 3 Hasil Observasi Keterampilan Mengetik 10 Jari Siklus I
Tabel 4 Ketuntasan Klasikal Hasil Belajar Mengetik 10 Jari
Tabel 5  Hasil Observasi Keterampilan Mengetik 10 Jari Siklus II
Tabel 6 Ketuntasan Klasikal Hasil Belajar Mengetik 10 Jari
+2

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menjawab kekhawatiran perusahaan terhadap kemungkinan turunnya pendapatan akibat filler yang tidak menguntungkan, dan hubungannya dengan kegiatan panen, peneliti

Pada Tugas Akhir ini, K-nearest Neighbor digunakan untuk mengklasifikasikan hasil ekstraksi fitur suara tangis bayi dengan menggunakan persamaan (2.12), di mana adalah

Bentuk perlindungan terhadap pengetahuan tradisional yang merupakan milik masyarakat bersama yang menyangkut tentang budaya perlu juga mendapatkan perlindungan yang

hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel independensi, kompetensi, akuntabilitas, dan etika profesi berpengaruh positif terhadap kualitas audit, selanjutnya pada

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh secara parsial kompetensi dan independensi auditor terhadap kualitas audit yang dihasilkan serta untuk mengetahui

Tidak terdapat perbedaan kinerja saham syariah di Bursa Efek Indonesia dan Bursa Malaysia di lihat dari Price Earning Ratio (PER) dengan nilai signifikansi

Keberadaan investor institusional juga dianggap mampu menjadi mekanisme monitoring yang efektif dalam setiap keputusan yang diambil oleh manajemen sehingga dengan

8.. Kendala ini dialami oleh penyidik/penyidik pembantu dalam melakukan proses penyidikan tindak pidana pencucian uang. Kurangnya keterampilan, kemampuan dan keuletan