• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERADILAN: PROSES PEMBERIAN KEADILAN DI SUATU LEMBAGA YANG DISEBUT PENGADILAN:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERADILAN: PROSES PEMBERIAN KEADILAN DI SUATU LEMBAGA YANG DISEBUT PENGADILAN:"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

HUKUM YANG HUKUM YANG

DICIPTAKAN MELALUI

DICIPTAKAN MELALUI

PUTUSAN PENGADILAN

PUTUSAN PENGADILAN

(2)

PERADILAN

PERADILAN dan dan PENGADILAN PENGADILAN

PERADILAN:

◦ PROSES PEMBERIAN KEADILAN DI SUATU LEMBAGA YANG DISEBUT PENGADILAN

PENGADILAN:

PENGADILAN:

◦ LEMBAGA ATAU BADAN YANG

BERTUGAS MENERIMA, MEMERIKSA,

MENGADILI DAN MENYELESAIKAN

SETIAP PERKARA YANG DIAJUKAN

KEPADANYA

(3)

(I).PUTUSAN HAKIM / PENGADILAN (I).PUTUSAN HAKIM / PENGADILAN

Putusan hakim/pengadilan meliputi:

Putusan pengadilan (vonis): terjadi sengketa, baik perkara perdata atau pidana.

Perkara perdata: yang bersengketa adalah penggugat dan Perkara perdata: yang bersengketa adalah penggugat dan tergugat. Contoh: wanprestasi dalam transaksi utang.

Perkara pidana: yang bersengketa adalah penuntut

umum dan terdakwa. Contoh: pembunuhan, pencurian

Penetapan pengadilan: tidak terjadi sengketa

Contoh: penetapan pengangkatan anak

(4)

Putusan pengadilan hanya mengikat para pihak, tidak berlaku umum

◦ Pasal 21 AB (Algemane Bepalingen van Wetgeving):

Wetgeving):

“Hakim tidak dapat memberi putusan yang akan berlaku sebagai peraturan umum”

◦ 1917 Kitab Undang-undang Hukum Perdata:

“Kekuatan suatu putusan hakim yang telah

memperoleh kekuatan mutlak tidaklah lebih luas daripada sekedar mengenai soalnya perkara”

(5)

Kesimpulan:

perbedaan antara putusan hakim dengan jenis hukum lain

(peraturan perundangan dan kebiasaan) :

kebiasaan) :

◦ Putusan pengadilan: hanya mengikat pihak yang berperkara

◦ Peraturan perundangan dan kebiasaan:

mengikat umum

(6)

YURISPRUDENSI YURISPRUDENSI

Kansil:

◦ Yurisprudensi adalah putusan hakim terdahulu yang sering diikuti dan dijadikan dasar putusan oleh

hakim kemudian mengenai masalah yang sama atau sejenis. Jadi putusan hakim yang tidak diikuti atau dicontoh oleh hakim yang kemudian, bukan

dicontoh oleh hakim yang kemudian, bukan yurisprudensi

◦ Yurisprudensi dibagi 2:

Yurisprudensi tetap: putusan hakim yang terjadi terjadi karena rangkaian putusan serupa dan menjadi dasar bagi pengadilan untuk mengambil putusan

Yurisprudensi tidak tetap: tidak diikuti oleh hakim berikutnya untuk masalah yang sama

(7)

E. Utrecht:

◦ Yurisprudensi adalah keputusan-keputusan hakim.

◦ Yurisprudensi dibagi 2:

Yurisprudensi tetap: terjadi karena adanya suatu

rangkaian atau rentetan keputusan yang tetap. Atau

beberapa keputusan yang menjadi keputusan yang baku, yaitu keputusan yang menjadi dasar bagi peradilan

(standart arresten) (standart arresten)

Yurisprudensi tidak tetap: putusan pengadilan yang tidak diikuti hakim lainnya

Perbedaan Kansil dengan Utrecht:

◦ Kansil: putusan hakim yang diikuti hakim kemudian

◦ Utrecht: Yurisprudensi adalah keputusan- keputusan hakim.

(8)

(2) PUTUSAN HAKIM/PENGADILAN (2) PUTUSAN HAKIM/PENGADILAN

Putusan hakim/pengadilan:

1. Putusan yang diikuti oleh hakim yang lain dalam masalah yang sejenis

2. Putusan hakim yang tidak diikuti oleh hakim yang lain

2. Putusan hakim yang tidak diikuti oleh hakim yang lain

AZAS THE BINDING OF PRECEDENT

Putusan hakim/pengadilan yang harus diikuti oleh hakim yang lain dalam masalah yang

sejenis

(9)

AZAS THE BINDING OF PRECEDENT:

◦ Diikuti negara Common Law

◦ Amerika, Inggria, Australia

AZAS KODIFIKASI:

◦ Diikuti negara continental

◦ Perancis, Belanda, Indonesia

◦ Perancis, Belanda, Indonesia

(10)

Utrecht :

Putusan hakim (PT, MA) pada umumnya diikuti

oleh hakim berikutnya (walau bukan negara yang menganut azas precedent), karena:

1. Faktor Psikologis: Keputusan hakim memiliki

kekuasaan. Khususnya apabila dibuat oleh pengadilan yang lebih tinggi (PT atau MA), karena lebih

yang lebih tinggi (PT atau MA), karena lebih berpengalaman, lebih dihormati.

2. Faktor Praktis: apabila berbeda dengan putusan

sebelumnya, cenderung akan dibawa kepada hakim yang lebih tinggi

3. Kesesuaian pendapat.Hakim menyetujui isi putusan hakim terdahulu

(11)

ASPEK POSITIF ASPEK POSITIF

Menghindari putusan pengadilan yang saling bertentangan

Menciptakan kepastian hukum

KANSIL:

Sumber hukum formal adalah:

1. UU (statue)

2. KEBIASAAN (castum)

3. KEPUTUSAN HAKIM (yurisprudensi) 4. TRAKTAT (treaty)

5. PENDAPAT SARJANA HUKUM (doktrin)

(12)

HAKIM BERSIFAT PASIF HAKIM BERSIFAT PASIF

&

&

&

&

HAKIM DILARANG

HAKIM DILARANG

MENOLAK PERKARA

MENOLAK PERKARA

(13)

Pengadilan / hakim Bersifat pasif:

◦ Apabila tidak ada tuntutan hak yang

diajukan kepada pengadilan, hakim akan bersifat pasif (menunggu sampai perkara itu oleh yang berkepentingan diajukan ke itu oleh yang berkepentingan diajukan ke pengadilan)

◦ Hakim tidak mencari-cari perkara yang

akan diperiksa

(14)

Hakim

Hakim dilarang dilarang menolak menolak memeriksa memeriksa perkara

perkara::

Pasal 22 AB: “bilamana seorang hakim menolak memeriksa suatu perkara dengan alasan peraturan perundang-undangan yang

bersangkutan tidak menyebutkan, tidak jelas atau tidak lengkap, maka ia dapat dituntut karena menolak mengadili”

maka ia dapat dituntut karena menolak mengadili”

Pasal 14 ayat (1) UU no. 14 Tahun 1970.

Pasal 16 (1) UU 4 Tahun 2004: Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya.

Hakim dapat menciptakan hukum/ Judge

made law

(15)

JUDGE MADE LAW JUDGE MADE LAW

Menggali dari doktrin: ajaran para ahli hukum yang merupakan wadah atau tempat hakim menemukan ilmu

Menciptakan hukum sendiri berdasar nilai-nilai keadilan

keadilan

Menciptakan hukum sendiri berdasar nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat

◦ (Pasal 28 (1) UU 4/2004: Hakim wajib menggali,

mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat)

(16)

Contoh Contoh::

Operasi transeksual yang diikuti dengan permohonan kepada hakim untuk

merubah status hukum

Penetapan hakim atas permohonan Penetapan hakim atas permohonan perubahan status: penciptaan hukum Apabila diikuti oleh hakim yang lain:

penerapan hukum

(17)

(3). PUTUSAN HAKIM/PENGADILAN (3). PUTUSAN HAKIM/PENGADILAN

Putusan hakim/pengadilan

1. Putusan hakim yang mencipta hukum, yaitu putusan hakim terhadap hal-hal yang tidak diatur oleh hukum baik hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis

maupun hukum tidak tertulis

2. Putusan hakim yang menerapkan hukum, yaitu putusan hakim terhadap hal-hal yang diatur oleh hukum

(18)

Putusan hakim dalam penerapan hukum berdasar hukum tertulis

dan kebiasaan

Putusan hakim dalam penciptaan hukum

(19)

BATASAN MATERI PENCIPTAAN HUKUM BATASAN MATERI PENCIPTAAN HUKUM Terbatas pada lingkup hukum perdata

Bagaimana dengan Hukum Pidana?

AZAS LEGALITAS

◦ Azas Hukum Pidana: nullum delictum nulla poena sine preavia lege poenali (Hakim dilarang mencipta hukum preavia lege poenali (Hakim dilarang mencipta hukum apapila ketentuan pidana dalam UU tidak mengaturnya)

Pasal 1 ayat 1 KUHPidana: “Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali ada ketentuan aturan pidana dalam perundang-undangan yang telah ada, sebelum perbuatan dilakukan”

◦ Hukum pidana tidak berlaku surut/mundur

◦ Hukum pidana tidak dapat ditafsir secara analogi

(20)

Analogi: menyamakan perbuatan-perbuatan yang secara tidak tegas diatur dalam UU dengan

perbuatan yang diatur oleh UU karena kedua perbuatan itu mempunyai hakikat yang sama Contoh:

◦ Pasal 1576 KUHPerdata: Jual beli tidak memutuskan hubungan sewa menyewa

◦ Pasal 1576 KUHPerdata: Jual beli tidak memutuskan hubungan sewa menyewa

◦ Qias (hukum Islam):

Sebagai salah satu sumber hukum Islam Tidak terbatas pada hukum perdata

(21)

Hukum pidana dapat ditafsir secara ekstensif:

◦ Adalah memperluas tafsir suku kata dalam UU sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi

◦ Contoh:

◦ Contoh:

Tahun 1921 Hoge Raad memperluas pengertian barang pada aliran listrik.

Sebelum 1921 barang hanya terbatas pada

yang berwujud, sehingga pencurian listrik

tidak dapat dipidana.

(22)

PENAFSIRAN BERDASAR NILAI

PENAFSIRAN BERDASAR NILAI--NILAI YANG HIDUP NILAI YANG HIDUP DALAM MASYARAKAT

DALAM MASYARAKAT

1.

Perbuatan melawan hukum (1365 KUHPerdata):

◦ “Tiap perbuatan pelanggar hukum, yang membawa kerugian pada orang lain, mewajibkan orang yang

karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut”.

kerugian tersebut”.

◦ Pada awalnya, terbatas pada perbuatan melanggar UU saja (aliran legisme: hukum dipandang terbatas pada UU, dan di luar UU tidak ada hukum). Pada 31 Januari 1919 Hoge Raad menambahkan perbuatan yang

melawan kepatutan dan hak orang lain

(23)

2.

Pada 26 mei 1939 Raad van Justitie Jakarta:

menetapkan janda bukan ahli waris dari suaminya.

◦ Perkembangan: Putusan Mahkamah Agung no.

110/K/Sip/1960 menetapkan janda sebagai ahli waris suami yang meninggal dunia.

3.

Jumlah utang yang harus dibayar oleh debitur

3.

Jumlah utang yang harus dibayar oleh debitur sama dengan jumlah uang yang dipinjam.

Walaupun terjadi inflasi.

◦ MA dalam putusan sekitar tahun 1955 membebankan risiko kemerosotan nilai uang dengan ratio 50% :

50%, ditanggung kedua belah pihak dengan berpedoman pada nilai emas atau beras

(24)

KESIMPULAN:

KESIMPULAN:

YURISPRUDENSI SEBAGAI SALAH SATU KOMPONEN DALAM SISTEM HUKUM ADALAH PUTUSAN

HAKIM/PENGADILAN YANG BERSIFAT HAKIM/PENGADILAN YANG BERSIFAT PENCIPTAAN HUKUM DAN TELAH

MEMPUNYAI KEKUATAN TETAP

Referensi

Dokumen terkait

Hakim dalam menentukan pembuktian dan putusan atas perkara wanprestasi dalam perjanjian pembagian harta warisan yaitu Majelis Hakim telah memperoleh fakta-fakta

3) Eksekusi Riil yang dalam praktek banyak dilakukan akan tetapi tidak diatur dalam HIR ( M.. Alur Kerangka Pemikiran. Putusan Majelis Hakim Keputusan Desa.. Suatu

Pengertian ahli waris dalam hukum perdata BW adalah sekumpulan orang atau seseorang atau Individu atau kerabat-kerabat atau keluarga yang ada hubungan keluarga

Dalam ketentuan tersebut diatur bahwa setiap Pengadilan wajib memastikan informasi-informasi yang berhubungan dengan: (i) seluruh putusan baik yang telah berkekuatan hukum

Mewujudkan kepastian Hukum, Keadilan dan kemanfaatan Dalam Putusan Hakim Di Peradilan Perdata, Jurnal Dinamika Hukum, Vol. Asas Kepastian Hukum, Keadilan Dan

Dalam keadaan hakim tidak dapat menemukan hukum dalam peraturan­peraturan tertulis atau yurisprudensi untuk dijadikan dasar putusan, maka hakim membentuk hukum

Pertama, putusan hakim merupakan gambaran proses kehidupan sosial sebagai bagian dari proses kontrol sosial; kedua, putusan hakim merupakan penjelmaan dari hukum yang berlaku dan pada

Pertimbangan hakim merupakan hal penting dalam putusan yang adil dan mengandung kepastian