• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. dilambangkan dengan suatu neraca keadilan. 1 Pernyataan di atas, menjelaskan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. dilambangkan dengan suatu neraca keadilan. 1 Pernyataan di atas, menjelaskan"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang Masalah

Keadilan berjalan beriringan untuk mengantarkan bangsa Indonesia menuju kedamaian, keamanan, dan ketenangan. “Keadilan selalu mengandung unsur penghargaan, penilaian atau pertimbangan dan karena itu lazim dilambangkan dengan suatu neraca keadilan”.1 Pernyataan di atas, menjelaskan bahwa agar tata-tertib dalam masyarakat itu tetap terpelihara, maka haruslah adanya keadilan supaya kaedah-kaedah hukum itu dapat ditaati oleh masyarakat, akan tetapi pada praktiknya tidaklah semua orang mau menaati kaedah-kaedah hukum itu Indonesia secara normatif-konstitusional adalah negara hukum. Sebagai negara hukum, Indonesia wajib melindungi setiap warga negaranya dari setiap perbuatan yang dapat merugikan apalagi perbuatan tersebut dapat merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.2

Penindakan setiap pelanggaran peraturan perundang-undangan melalui proses peradilan pidana yang menyertakan peran aparat penegak hukum yang terdiri atas Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan Lembaga Pemasyaratakatan yang merupakan penegakan hukum.3 Agar sesuatu peraturan

1C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum Dan Tata Hukum Indonesia, Cetakan ketiga, Bandung, PN Balai Pustaka, 1980, hlm. 39.

2Yolla Fitri Amilia, Haryadi, Dheny Wahyudi, “Penyidikan Tindak Pidana Prostitusi secara Online”, Pampas: Journal Of Criminal Law Fakultas Hukum Universitas Jambi, Volume 2 Nomor 1, 2021, hlm. 45.

3Desi Ratnasari, Sahuri Lasmadi, Elly Sudarti, “Kedudukan Hukum Deponeeringdalam Sistem Peradilan Pidana”, Pampas: Journal Of Criminal Law Fakultas Hukum Universitas Jambi, Volume 2 Nomor 1, 2021, hlm. 17.

(2)

hidup dimasyarakat, benar-benar dipatuhi dan ditaati sehingga menjadi kaedah hukum maka peraturan hidup itu harus dilengkapi dengan unsur memaksa, dengan demikian hukum itu mempunyai sifat mengatur dan memaksa.

Prabandaru mengatakan bahwa, “Peraturan-peraturan hidup kemasyarakatan yang dapat memaksa orang supaya mentaati tata-tertib dalam masyarakat serta memberikan sanksi/hukuman yang tegas terhadap siapa yang tidak mau patuh mentaatinya”.4 Hukum Acara Pidana sebagai salah satu instrumen dalam sistem peradilan pidana yang pada pokoknya memiliki fungsi utama, R.

Subekti mengatakan bahwa:

1. Mencari dan menemukan kebenaran.

2. Pengambilan keputusan oleh hakim dan

3. Pelaksanaan daripada putusan yang telah diambil.5

Menurut Moeljanto “Peristiwa pidana itu ialah suatu perbuatan atau rangkaian perbuatan manusia yang bertentangan dengan undang-undang atau peraturan undang-undang lainnya terhadap perbuatan mana diadakan tindakan penghukuman.” Di dalam Hukum Acara Pidana, kita mengenal adanya pidana pokok dan pidana tambahan. Hal ini dapat dilihat di dalam Pasal 10 Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang menyebutkan bahwa pidana yang menyebutkan bahwa:

a. Pidana Pokok:

1. Pidana mati.

2. Pidana penjara.

4Prabandaru, Ilham Syahputra, "Pelaksanaan Lelang Barang Rampasan Berdasarkan Putusan yang Telah Berkekuatan Hukum Tetap (Studi di Kejaksaan Negeri Kota Kediri).”(2018), hlm. 34.

5R. Subekti dan Tjitrosoedibio, kamus hukum, pradnya paramitha, Jakarta, 2003 hlm.

53.

(3)

3. Pidana kurungan.

4. Pidana denda.

5. Pidana penutup.

b. Pidana Tambahan:

1. Pencabutan hak-hak tertentu.

2. Perampasan barang-barang tertentu.

3. Pengumuman putusan hakim.6

Dari Pasal 10 KUHP tersebut terhadap pidana tambahan berupa perampasan barang-barang tertentu pelaksanaannya itu dilakukan oleh pihak jurusita dan pihak kejaksaan bagian eksekutor.7 Teguh Prasetyo dalam Moeljatno mengatakan bahwa, “Barang-barang tertentu yang dilakukan perampasan itu berdasarkan keputusan dari Kejaksaan Agung Republik Indonesia itu dapat dilakukan lelang, dimanfaatkan oleh pemerintah untuk kepentingan Negara atau Sosial atau dimusnahkan.”8

Barang-barang dinyatakan untuk lelang dalam pelaksanaannya membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal ini disebabkan dalam menentukan layak atau tidaknya atau menentukan harga dasar barang-barang yang akan dilakukan lelang itu diserahkan kepada ahlinya. Di dalam peraturan pelaksanaan lelang barang rampasan, pelaksanaan lelang itu harus selesai dalam jangka dalam jangka waktu 4 (empat) bulan.9

Dari pernyataan di atas, jika dikaitkan dengan peraturan hukum, ada hal-hal yang perlu diketahui dan pahami terlebih dahulu dari kaedah-kaedah tersebut. Berarti, tidak ada hukum yang dapat dipahami tanpa mengetahui asas-

6Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 1996 hlm. 5- 6.

7Ibid.

8Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, cetakan kelima, Rajawali Pers, Jakarta, 2014, hlm.

117.

9Kejaksaan Agung RI. Himpunan Peraturan Tentang Pembinaan, Kejaksaan Agung RI. Jakarta, 1988 hlm. 1211.

(4)

asas hukum. Oleh karena itu untuk memahami hukum suatu bangsa dengan sebaik-baiknya tidak hanya dilihat pada peraturan-peraturan hukumnya saja, melainkan harus menggali sampai pada asas-asas hukum dan juga badan atau orang sebagai pelaksana dari peraturan hukum tersebut. Asas hukum inilah yang memberi makna pada peraturan-peraturan hukum serta tata hukum di dalam menjalani hidup berbangsa dan bernegara. Jadi, di dalam upaya melakukan perubahan dalam masyarakat diperlukan adanya persamaan di dalam hukum atau sesuai dengan dikehendaki oleh masyarakat yang antara lain adanya perubahan di bidang sosial-ekonomi dan di bidang lainnya.

Dalam bidang hukum, identifikasi hukum akan menghasilkan kesesuaian atau ketidaksesuaian antara perilaku yang nyata dengan perilaku yang dirumuskan dalam peraturan. Apabila tidak sesuai berdasarkan teori tindakan sosial, maka ini berarti ada referensi lain yang digunakan oleh masyarakat untuk berperilaku.10 Maka penulis memaparkan tentang pelaksanaan lelang dan badan-badan hukum yang menangani lelang tersebut didalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan peraturan- peraturan yang mengatur tentang pelaksanaan lelang barang rampasan yang ada di Indonesia terutama khusus yang terjadinya di kota Jambi. Adapun peraturan-peraturan yang mengatur tentang pelaksanaan lelang barang rampasan ini, antara lain Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang terdapat di dalam Pasal 1 butir 16, Pasal 39, Pasal 45 ayat (1), Pasal 46 ayat (1) dan ayat (2), dan Pasal 273 ayat (3) dan ayat (4) KUHAP.

10Nurdianto, Y. Kendala Jaksa Selaku Eksekutor dalam Melaksanakan Lelang Eksekusi Terdahap Barang Rampasan Negara yang Memiliki Status sebagai Jaminan Fidusia (Studi di Kejaksaan Negeri Malang), Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum, 1(2), (2014).

(5)

Adapun peraturan–peraturan yang mengatur tentang pelaksanaan lelang barang rampasan ini, antara lain:

Pasal 1 butir (16) KUHAP Menyebutkan bahwa, “Penyitaan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mengambil alih dan atau menyimpan di bawah penguasaannya benda bergerak atau tidak bergerak, berwujud dan tidak berwujud untuk kepentingan pembuktian dalam penyidik, penuntutan dan peradilan.”11 Dalam Pasal 6 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana dirumuskan bahwa, "Penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, ini berarti bahwa kepolisian adalah salah satu penyidik di dalam KUHAP." Pasal 39 KUHAP disebutkan bahwa benda-benda yang dapat dilakukan penyitaan antara lain:

1. Benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan delik.

2. Benda yang dipergunakan untuk menghalang-halangi penyidik delik.

3. Benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan delik.

4. Benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan delik yang dilakukan.12

Pasal 45 ayat (1) KUHAP dalam hal benda sitaan terdiri atas benda yang dapat lekas rusak atau yang membahayakan, sehingga tidak mungkin untuk disimpan sampai putusan pengadilan terhadap perkara yang bersangkutan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap atau jika biaya penyimpanan benda tersebut menjadi terlalu tinggi, sejauh mungkin dengan persetujuan tersangka atau kuasanya dapat diambil tindakan sebagai berikut:

11Andi Hamzah. Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 1996, hlm.

144.

12Redaksi Sinar Grafika. KUHP DAN KUHAP, Jakarta, 2002, hlm. 218.

(6)

a. Apabila perkara masih ada di tangan penyidik atau penuntut umum, benda tersebut dapat dijual lelang atau dapat diamankan oleh penyidik umum atau penuntut umum, dengan disaksikan oleh tersangka atau kuasa hukumnya.

b. Apabila perkara sudah di tangan pengadilan, maka benda tersebut dapat diamankan atau dijual lelang oleh penuntut umum atas izin hakim yang menyidangkan perkaranya dan disaksikan oleh tersangka atau kuasa hukumnya.13

Pasal 46 ayat (1) dan ayat (2) KUHAP yang menyebutkan bahwa:

a) Ayat (1)

Benda yang dikenakan penyitaan di kembalikan kepada orang atau kepada mereka dari siapa benda itu disita atau kepada orang atau kepada mereka yang paling berhak apabila:

a. Kepentingan penyidikan dan penuntutan tidak memerlukan lagi.

b. Perkara itu tidak jadi dituntut karena tidak cukup bukti atau ternyata tidak merupakan tindak pidana.

c. Perkara penuntutan dikesampingkan untuk kepentingan umum atau perkara itu ditutup demi hukum, kecuali apabila benda itu diperoleh dari suatu tindak pidana atau yang digunakan untuk melakukan suatu tindak pidana.

b) Ayat (2)

Apabila perkara sudah diputus, maka benda yang dikenakan penyitaan dikembalikan kepada orang atau kepada mereka yang disebut dalam putusan tersebut, kecuali jika menurut putusan hakim benda itu dirampas untuk negara, untuk dimusnahkan atau dirusak sampai tidak dapat dipergunakan lagi atau jika benda tersebut diperlukan sebagai barang bukti perkara lain.14

Pasal 273 ayat (3) dan ayat (4) KUHAP disebutkan bahwa:

Ayat (3)

Jika putusan pengadilan juga menetapkan bahwa barang bukti dirampas untuk negara, selain jaksa mengusahakan benda tersebut pada pasal 46, jaksa mengusahakan benda tersebut ke kantor lelang negara dan dalam waktu tiga bulan untuk dijual lelang, yang hasilnya dimasukkan ke kas negara untuk dan atas nama jaksa.

Ayat (4)

Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (3) dapat diperpanjang paling lama satu bulan.15

Barang sitaan sebagai barang bukti dalam perkara pidana dapat menjadi barang rampasan Negara, jika terdapat unsur yang dipenuhi oleh hakim untuk

13Ibid, hlm. 220.

14Redaksi Sinar Grafika. KUHP DAN KUHAP, Jakarta, 2002, hlm. 220-221.

15Ibid, hlm. 307.

(7)

dapat merampas suatu barang, yaitu barang sitaan itu kepunyaan si terhukum yang diperoleh dengan kejahatan atau yang dengan sengaja dipakai untuk melakukan kejahatan.16 Namun, barang sitaan yang dipergunakan oleh terpidana untuk melakukan tindak pidana atau merupakan hasil dari tindak pidana tetapi barang tersebut bukan milik terpidana, maka barang tersebut tidak dapat dirampas untuk Negara, tetapi barang tersebut hanya sebagai barang bukti dan harus dikembalikan kepada yang berhak. Lamria Sianturi mengatakan bahwa:

Barang sitaan yang dijadikan barang bukti dalam suatu perkara pidana dapat dijual lelang sebelum ataupun sesudah adanya putusan pengadilan terhadap perkara tersebut, apabila barang sitaan sebagai barang bukti itu merupakan barang yang bersifat cepat rusak atau busuk atau memerlukan biaya penyimpanan yang tinggi dan uang hasil lelang digunakan sebagai pengganti barang bukti dalam perkara pidana tersebut.17

.

Dalam peraturan pelaksanaan lelang barang rampasan menurut Surat Edaran Nomor SE-03/B/B.5/8/1988 tentang penyelesaian barang Barang Rampasan, dijelaskan bahwa pelaksanaan lelang harus selesai dalam jangka waktu 4 (empat) bulan namun pada praktiknya dijumpai sering adanya keterlambatan dalam prosesnya, hal tersebut terlihat ketika Kejaksaan Negeri Kota Jambi mengirimkan berkas-berkas atau meminta surat permohonan lelang dengan cara mengirimkan melalui kantor pos atau dengan e-mail tanggapan da begitu lama bahkan bisa sampai 1 (satu) bulan belum juga ada tanggapan sehingga Kejaksaan Negeri Kota Jambi perlu ke KPKNL secara langsung.

16Wibowo, Tika."Pelaksanaan Pengelolaan Benda Sitaan Negara dalam Peradilan Tindak Pidana oleh Kejaksaan." UNISKA LAW REVIEW 1.2 (2020), hlm. 21.

17Lamria Sianturi, “Pelaksanaan Lelang Ekseskusi Kejaksaan Studi Pada Kpknl Medan”

melalui www. researchgate. Net.

(8)

keterlambatan dalam prosesnya, hal tersebut terlihat ketika Kejaksaan Negeri Kota Jambi mengirimkan berkas-berkas atau meminta surat permohonan lelang dengan cara mengirimkan melalui kantor pos atau dengan e-mail tanggapan da begitu lama bahkan bisa sampai 1 (satu) bulan belum juga ada tanggapan sehingga Kejaksaan Negeri Kota Jambi perlu ke KPKNL secara langsung.

Di Kejaksaan Negeri Jambi terdapat beberapa data pelelangan barang rampasan yang ditangani oleh pihak Kejaksaan seperti dalam tabel berikut:

Tabel 1

Data Pelelangan Barang Rampasan Di Kejaksaan Negeri Jambi Tahun 2020

No Berdasarkan Jenis Barang Harga Limit Ket.

1. Putusan Pengadilan Negeri Jambi

Nomor 309/Pid.Sus/2018/P

N.Jmb tanggal 09 Agustus 2018

1 Unit Truck Mitsubishi Canter 125 Th.2017 warna

kuning BG 8923 JC dengan STNK

Rp.

86.601.000,-

Lokasi:

Rupbasan

2. Putusan Pengadilan Negeri Jambi

Nomor 383/Pid/Sus/2018/P

N Jmb tanggal 16 Agustus 2018

1 Paket Truck Mitsubishi PS 125 warna kuning BH 2035 XY Nomor Rangka

MHMFE74P5 HK172587 Nomor Mesin 4034TR60402 beserta kayu sebanyak 9.65

m3.

Rp.

51.641.200,-

Lokasi:

Rupbasan

(9)

3. Putusan Pengadilan Negeri Jambi

Nomor 384/Pid.Sus/2018/P

N Jmb tanggal 16 Agustus 2018

1 Paket Truck Mitsubishi type Center PS

155 warna kuning BH 8507 QU Nomor Rangka

MHMFE74P4 P5HK167720 Nomor Mesin

4D34T- R28698 beserta kayu sebanyak 9.053

m3

Rp.

62.354.000,-

Lokasi:

Rupbasan

4. Putusan Pengadilan Negeri Jambi

Nomor 386/Pid.Sus/2018/P

N Jmb tanggal 16 Agustus 2018

1 Paket Truck Mitsubishi Center PS 125

Tahun 2017 warna kuning BH 8515 QU Nomor Rangka

MHMFE74P5 HK168587 Nomor Mesin 4D34TR3-771 beserta kayu sebanyak 9.44

m3

Rp.

57.244.520,-

Lokasi:

Rupbasan

5. Putusan Pengadilan Negeri Jambi

Nomor 792/Pid.Sus/2018/P

N Jmb tanggal 08 Januari 2019

1 unit KM.

Putri Hawai

Rp.

10.192.000,-

Lokasi:

Kejari Jambi

6. Putusan Pengadilan Negeri Jambi

Nomor 789/Pid.Sus/2018/P

N Jmb tanggal 05 Maret 2019

1 unit mobil Honda CRV warna abu-abu tahun 2009 plat BK 805 SA berserta kunci kontak Nomor

Rangka MHRRE18409

J800198 Nomor Mesin

Rp.

88.957.000,-

Lokasi:

Kejari Jambi

(10)

T8J16492

7. Putusan Pengadilan Negeri Jambi

Nomor 602/Pid.Sus/2018/P

N Jmb tanggal 08 November 2018

- 1 buah tangki besi segi empat yang terbuat dari plat yang

berisikan minyak bumi - Minyak bumi

(crude oil) sebanyak 9.150

(Sembilan ribu serratus lima

puluh) liter.

Rp.

47.575.000,-

Lokasi:

Rupbasan

Sumber: Kejaksaan Negeri Jambi

Pada tabel di atas terdapat data pada tahun 2020 mengenai pelelangan barang rampasan yang ditangani oleh Kejaksaan Negeri Jambi. Berdasarkan Putusan Pengadilan dari tahun 2018-2019 dan dilakukan pelelangan tersebut ditahun 2020. Untuk penentuan harga limit yang dijatuhkan berdasarkan dari pihak KPKNL tergantung dari kondisi barang. Bahwa untuk bisa dilaksanakannya pelelangan tersebut berdasarkan putusan yang telah Inkrah (berkekuatan hukum tetap). Diketahui bahwa eksekusi Kejaksaan yang mengakibatkan lelang adalah berasal dari suatu barang temuan dan sitaan sebagai barang bukti dalam perkara pidana. Barang temuan yang sudah diumumkan tetapi tidak ada pemiliknya maka akan menjadi barang rampasan Negara, dan juga barang sitaan yang cepat busuk atau rusak dapat didahulukan dilelang sebelum adanya putusan perkara yang mana uang hasil lelang digunakan untuk pengganti barang bukti dalam perkara itu.

(11)

Untuk penentuan harga limit dari barang yang dilelang berdasarkan jumlah barang dalam 1 (satu) putusan dan kondisi dari barang yang dilelang mempengaruhi untuk harga limit Dan ada dua tempat yaitu di KEJARI dan RUPBASAN sebagai tugas pemeliharaan dilaksanakan untuk menjaga keutuhan barang bukti guna kepentingan proses peradilan pidana selain itu Pemeliharaan benda sitaan dan rampasan negara sebagai usaha untuk mempertahankan jumlah dan kondisi benda sitaan dan barang rampasan negara agar tetap terjamin keutuhan dan keasliannya.

Pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 13 Tahun 2018 Pasal 8 menyebutkan bahwa:

ketentuan mengenai Pelaksanaan Lelang Eksekusi terhadap Benda Sitaan, Barang Rampasan Negara, atau Benda Sita Eksekusi dari Kejaksaan yang tidak datur dalam Peraturan Menteri ini, berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Lelang yakni Diktorat Jenderal Kekayaan Negara.

Sejak berlakunya PMK No.13/PMK.06/2018 beserta lampirannya jenis lelang eksekusi yang sebelumnya telah ada mengalami penambahan sebanyak sembilan jenis lelang eksekusi baru yaitu:

1. Lelang eksekusi benda sitaan yang pemilik atau yang berhak tidak ditemukan.

2. Lelang eksekusi benda sitaan yang pemilik atau yang berhak menolak menerima.

3. Lelang eksekusi benda sitaan yang tidak diketahui putusan dan berkas perkaranya.

(12)

4. Lelang eksekusi benda sitaan atau barang bukti yang putusannya dikembalikan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) tanpa pernyataan dirampas.

5. Lelang eksekusi barang rampasan negara yang berasal dari benda sitaan atau barang bukti yang putusannya dikembalikan kepada kementerian/lembaga tanpa pernyataan dirampas.

6. Lelang eksekusi barang rampasan negara yang dokumennya tidak lengkap.

7. Lelang eksekusi barang rampasan negara berupa sertifikat atau surat tanah.

8. Lelang eksekusi barang rampasan negara yang berbeda data dalam putusan, surat perintah penyitaan, berita acara penyitaan dan/atau identitas fisik.

9. Lelang eksekusi barang rampasan negara yang berasal dari benda sita eksekusi untuk membayar denda atau uang pengganti.

Adanya ketidaksesuaian menurut Pasal 273 ayat 3 dan 4 KUHAP mengenai batas waktu untuk penyelesaian barang rampasan tersebut di Kejaksaan Negeri Jambi yang melebihi batas waktu maksimal yaitu berkisar 6- 7 bulan. Dilihat dari Benda Sita Eksekusi merupakan aset atau barang milik terpidana atau keluarga terpidana, aset terkait terpidana, termasuk korporasi terkait terpidana, yang disita oleh Jaksa Eksekutor atau Jaksa Pemulihan Aset untuk dijual atau dilelang.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti tentang Pelaksanaan Lelang Terhadap Barang Rampasan, hasil penelitian ini penulis tuangkan dalam sebuah karya ilmiah berbentuk proposal skripsi yang

(13)

penulis beri judul: “Pelaksanaan Lelang Terhadap Barang Rampasan di Kejaksaan Negeri Jambi”.

A. Perumusan Masalah

Berdasarkan pada uraian latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi permasalahan adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pelaksanaan pelelangan barang rampasan yang disita oleh Kejaksaan Negeri Jambi ?

2. Apakah yang menjadi kendala di dalam pelaksanaan pelelangan barang rampasan tersebut dan upaya untuk mengatasinya ?

B. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada perumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui dari prosedur kelayakan pelaksanaan pelelangan barang rampasan yang dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Jambi.

b. Untuk mengetahui yang menghalangi hal kendala di dalam pelaksanaan pelelangan barang rampasan tersebut dan upaya untuk mengatasinya.

2. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberi manfaat teoretis dan praktis, yaitu : a. Manfaat Teoretis

Bahwa hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi penulis serta dapat menjadi sumber pengetahuan bagi para peneliti selanjutnya yang akan membahas materi kajian yang sama.

(14)

b. Manfaat Praktis

Dari segi praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi pihak Kejaksaan dalam pelaksanaan pelelangan barang rampasan.

C. Kerangka Konseptual

Untuk menghindari adanya salah penafsiran terhadap para pembaca, harus diketahui terlebih dahulu pengertian dari judul tersebut terutama kata- kata yang masih kabur pengertiannya untuk mengetahui kata yang ada dalam judul tersebut maka penulis menjelaskan beberapa konsepsi yang berkaitan dengan penulisan ini yaitu sebagai berikut:

1. Pelaksanaan

Secara umum arti pelaksanaan biasanya dilakukan setelah perencanaan sudah dianggap sempurna. Menurut Nurdin Usman, Pelaksanaan adalah bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan atau adanya mekanisme suatu sistem, pelaksanaan bukan sekedar aktivitas, tapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan.18 Menurut,

Rahardjo Adisasmita pengertian Pelaksanaan ialah “Sebagai proses dalam

bentuk rangkaian kegiatan, yaitu berawal dari kebijakan guna mencapai suatu tujuan maka kebijakan itu diturunkan dalam suatu program dan proyek.”19 Pelaksanaan adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah

18Nurdin Usman, Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum, Grasindo, Jakarta, 2002, hlm. 70.

19Rahardjo Adisasmita, Pengelolaan Pendapatan dan Anggaran Daerah, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2011.

(15)

rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci, biasanya dilakukan setelah perencanaan sudah dianggap siap.20

2. Lelang

Menurut kamus hukum disebutkan bahwa “Lelang adalah penjualan barang-barang di muka umum dan diberikan pada penawar yang tertinggi.”21 Sedangkan menurut pendapat Andi Hamzah Lelang adalah

“penjualan yang dilakukan dimuka umum oleh kantor lelang negara atas benda sitaan yang mudah rusak atau benda rampasan, berdasarkan penetapan atau putusan hakim atas perintah jaksa, dan dibuatkan berita acaranya.”22 Dalam peraturan Menteri Keuangan, yang dimaksud dengan

“Lelang adalah penjualan barang yang terbuka untuk umum dengan penawaran harga secara tertulis atau lisan yang semakin meningkat atau menurut untuk mencapai harga tertinggi yang didahului dengan pngumuman lelang.”23

3. Barang

Menurut Simorangkir, J.C.T bahwa “Barang merupakan adanya produk wujud fisik yang menjadikannya bisa dilihat, dirasa, disentuh, dipegang, dan mendapat perlakuan fisik lainnya.”24 Dalam ilmu hukum, pengertian barang lebih luas, yaitu segala sesuatu yang dapat menjadi obyek hukum dan barang-barang yang dapat menjadi milik serta hak setiap orang

20http://id.shvoong.com//social-sciences//sociology/pengertian-pelaksanaanactuating//

Diakses pada 6 Januari 2021

21Simorangkir, J.C.T., dkk. Kamus Hukum, Sinar Grafika Jakarta, 2000 hlm. 126.

22Andi Hamzah, Terminologi Hukukm Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, 2008 hlm. 97.

23http://repositori.unsil.ac.id/ Diakses pada 15 agustus 2021

24Loc. Cit, hlm. 126.

(16)

yang dilindungi oleh hukum.25 Barang merupakan objek milik, hak juga dapat menjadi objek milik, karena pada konsep hukum yang dimaksud barang yang dapat dilekatkan oleh kepemilikan.26

4. Rampasan

Di dalam kamus hukum menyebutkan tentang pengertian rampasan, yaitu hukuman tambahan yang memungkinkan pemilikan suatu barang oleh atas benda-benda yang dimiliki/dikuasai atau yang berasal dari kejahatan yang telah dijatuhi hukuman.27 Jika terbukti barang yang disita tersebut merupakan hasil tindak pidana, maka tindakan selanjutnya terhadap barang itu adalah dirampas untuk negara melalui putusan pengadilan. Jika tidak terbukti, maka barang tersebut dikembalikan kepada pemiliknya.

Sedangkan, perampasan hanya dapat dilakukan berdasarkan putusan pengadilan yang menyatakan bahwa barang tersebut dirampas oleh negara.28

Berdasarkan penguraian di atas yang dimaksud dengan judul penelitian ini adalah pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan di Kejaksaan Negeri Jambi.

D. Landasan Teoretis

1. Teori Kepastian Hukum

Kepastian hukum sebagai salah satu tujuan hukum dapat dikatakan sebagai bagian dari upaya mewujudkan keadilan. “Bentuk nyata dari

25P.N.H. Simanjuntak, Pokok-Pokok Hukum Perdata Indonesia, Jakarta: Djambatan, 2009, hlm. 203.

26Abdulkadir Muhammad, Op.Cit, hlm. 128.

27Ibid, hlm. 126.

28https://www.hukumonline.com/ diakses pada tanggal 15 agustus 2021.

(17)

kepastian hukum adalah pelaksanaan atau penegakan hukum terhadap suatu tindakan tanpa memandang siapa yang melakukan”.29 Dengan adanya kepastian hukum setiap orang dapat memperkirakan apa yang akan dialami jika melakukan tindakan hukum tertentu. Kepastian diperlukan untuk mewujudkan prinsip persamaan dihadapan hukum tanpa diskriminasi.

Kepastian dalam hukum dimaksudkan bahwa setiap norma hukum itu harus dapat dirumuskan dengan kalimat-kalimat di dalamnya tidak mengandung penafsiran yang berbeda-beda. Akibatnya akan membawa perilaku patuh atau tidak patuh terhadap hukum.

Dalam praktek banyak timbul peristiwa-peristiwa hukum, dimana ketika dihadapkan dengan substansi norma hukum yang mengaturnya, kadangkala tidak jelas atau kurang sempurna sehingga timbul penafsiran yang berbeda-beda yang akibatnya akan membawa kepada ketidakpastian hukum.30 Sedangkan kepastian karena hukum dimaksudkan, bahwa karena hukum itu sendirilah adanya kepastian, misalnya hukum menentukan adanya lembaga daluarsa, dengan lewat waktu seseorang akan mendapatkan hak atau kehilangan hak. Dimana ada 3 (tiga) nilai dasar dalam mengoperasikan hukum di Indonesia yaitu nilai kepastian, nilai kemanfaatan, dan nilai keadilan.

29Sidharta Arief, Meuwissen Tentang Pengembanan Hukum, Ilmu Hukum, Teori Hukum dan Filsafat Hukum, PT Refika Aditama, Bandung, 2007, hlm. 8.

30Leo Arwansyah, Andi Najemi, Aga Anum Prayudi, “Batas Waktu Pelaksanaan Pidana Mati dalam Perspektif Kepastian Hukum dan Keadilan di Indonesia”, Pampas: Journal Of Criminal Law Fakultas Hukum Universitas Jambi, Volume 1 nomor 3, 2021, hlm. 12-30.

(18)

a. Nilai Kepastian

Kepastian hukum menurut Soedikno Mertokusumo merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam penegakan hukum. Sehingga kepastian hukum merupakan perlindungan yustisiabel terhadap tindakan sewenang- wenang, yang berarti bahwa seseorang akan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu.31

b. Nilai Kemanfaatan

Dalam pelaksanaan atau penegakan hukum, masyarakat mengharapkan manfaatnya. Hukum adalah untuk manusia, maka pelaksanaan hukum atau penegakan hukum harus memberi manfaat atau kegunaan bagi masyarakat. Jangan sampai pelaksanaan atau penegakan hukum menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.

Proses peninjauan kembali yang dapat dilakukan lebih dari satu kali ditujukan untuk penegakkan keadilan, serta untuk melindungi kepentingan umum atau kepentingan Negara dalam proses penyelesaian perkara pidana. Kepentingan itu sendiri adalah tuntutan perorangan atau kelompok yang diharapkan untuk dipenuhi dan pada hakekatnya mengandung kekuasaan yang dijamin dan dilindungi oleh hukum dalam melaksanakannya. Tidak dapat disangkal bahwa tindakan Negara harus ditujukan kepada pelayanan umum dengan memperhatikan dan melindungi kepentingan orang banyak (kepentingan umum).32

c. Nilai Keadilan

Nilai keadilan dalam peninjauan kembali yang dapat dilakukan lebih dari satu kali yaitu memberikan kebebasan hak dalam mengajukan

31Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty,Yogyakarta, , 2003, hlm. 5.

32M. Jordan Pradana, Syofyan Nur & Erwin, Tinjauan Yuridis Peninjauan Kembali yang Diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum Terhadap Putusan Lepas dari Segala Tuntutan Hukum. PAMPAS: Journal of Criminal Law Fakultas Hukum Universitas Jambi, Volume 1 nomor 2, 2021, hlm. 140-151.

(19)

peninjauan kembali dengan alasan adanya novum terkait dengan perkembangan teknologi dan pengetahuan yang belum pernah diajukan sebelumnya dalam persidangan maupun Perkara awal, dan juga benar- benar merupakan bukti yang memuat fakta baru bukan merupakan perulangan semata. Sebab Perkara awal berulang tersebut dapat juga memperhatikan keadilan korektif, dimana perlu memperbaiki sesuatu yang salah ketika kesalahan dilakukan negara melalui putusan hakim yang sudah berkekuatan hukum tetap.

2. Konsep Lelang

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 13 /PMK.06/2018 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang, dinyatakan Lelang eksekusi adalah lelang untuk melaksanakan putusan/penetapan pengadilan atau dokumen-dokumen lain, yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dipersamakan dengan itu, dalam rangka membantu penegakan hukum, di antaranya adalah Lelang Eksekusi Kejaksaan. Sifat Lex Specialis dimaksud dapat diuraikan lebih rinci sebagaimana tercantum di dalam PMK No.

13/PMK.06/2018 beserta lampirannya yang menyatakan bahwa lelang dari Kejaksanaan tetap dapat dilaksanakan walaupun mempunyai kondisi khusus tertentu yang selama ini oleh orang awam dianggap tidak mungkin untuk dilaksanakan lelangnya karena dalam keadaan strange (odd) conditions, yaitu:

1. Lelang eksekusi benda sitaan tetap dapat dilaksanakan walaupun tidak diketahui putusan dan berkas perkaranya.

(20)

2. Lelang eksekusi barang rampasan negara tetap dapat dilaksanakan walaupun dokumennya tidak lengkap.

3. Lelang eksekusi barang rampasan negara tetap dapat dilaksanakan walaupun terdapat perbedaan data baik data yang tercantum di dalam putusan pengadilan, data yang tercantum di dalam surat perintah penyitaan, maupun data yang tercantum di dalam berita acara penyitaan atau identitas fisik.

4. Lelang eksekusi barang rampasan negara yang berasal dari benda sitaan atau barang bukti yang putusannya dikembalikan kepada kementerian/lembaga tetap dapat dilaksanakan walaupun tidak ada amar yang menyatakan “dirampas”. Sebagian masyarakat lain menyatakan bahwa beberapa jenis lelang tersebut merupakan jenis lelang yang unsecure karena memiliki risiko tinggi (high risk) untuk digugat baik perdata maupun pidananya bahkan berpotensi untuk digugat dalam ranah hukum tata usaha negara.

Menyambung uraian di atas, sejak berlakunya PMK No.

13/PMK.06/2018 beserta lampirannya, maka jenis lelang eksekusi yang sebelumnya telah ada mengalami penambahan sebanyak sembilan jenis lelang eksekusi baru yaitu:

a. Lelang eksekusi benda sitaan yang pemilik atau yang berhak tidak ditemukan.

b. Lelang eksekusi benda sitaan yang pemilik atau yang berhak menolak menerima.

(21)

c. Lelang eksekusi benda sitaan yang tidak diketahui putusan dan berkas perkaranya.

d. Lelang eksekusi benda sitaan atau barang bukti yang putusannya dikembalikan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) tanpa pernyataan dirampas.

e. Lelang eksekusi barang rampasan negara yang berasal dari benda sitaan atau barang bukti yang putusannya dikembalikan kepada kementerian/lembaga tanpa pernyataan dirampas.

f. Lelang eksekusi barang rampasan negara yang dokumennya tidak lengkap.

g. Lelang eksekusi barang rampasan negara berupa sertifikat atau surat tanah.

h. Lelang eksekusi barang rampasan negara yang berbeda data dalam putusan, surat perintah penyitaan, berita acara penyitaan dan/atau identitas fisik.

i. Lelang eksekusi barang rampasan negara yang berasal dari benda sita eksekusi untuk membayar denda atau uang pengganti.

Kesembilan jenis lelang eksekusi tersebut semuanya merupakan lelang eksekusi yang pemohonnya/penjualnya adalah lembaga Kejaksaan.

Di dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 27 / KMK.06/ 2016 tentang jasa dalam Lelang Barang yang dinyatakan tidak dikuasai, barang yang dikuasai negara dan yang menjadi milik negara pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Pada pasal 1 angka 5 menjelaskan

(22)

bahwa lelang adalah penjualan barang yang dilakukan dimuka umum termasuk melalui media eletronik, dengan penawaran lisan dengan harga yang semakin menurun, dan atau dengan penawaran harga secara tertulis yang didahulukan dengan usaha mengumpulkan peminat.33

Hal serupa juga disebutkan dalam kamus hukum juga disebutkan bahwa lelang adalah penjualan barang-barang di muka umum dan diberikan pada penawar yang tertinggi.34 Prosedur pelaksanaan lelang yang dilakukan oleh pihak kejaksaan adalah sebagai berikut:

1. Diterbitkannya Keputusan izin lelang baik yang dikeluarkan oleh Jaksa Agung Muda yang berwenang menyelesaikan barang lelang tersebut.

2. Setelah diterbitkannya keputusan izin lelang tersebut, maka pihak panitia Lelang melakukan Pengumuman Lelang.35

3. Mencari dan mengumpulkan peserta lelang, baik peserta yang bertempat tinggal di wilayah di mana lelang dilaksanakan maupun peserta yang berada di luar wilayah pelaksanaan lelang tersebut.

4. Setelah dilakukannya pengumuman lelang dan adanya peserta lelang yang cukup, maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan pelelangan tersebut oleh pihak kejaksaan.36

33CV. Eka Wijaya. Petunjuk Pelaksanaan Lelang, Jakarta, 2002 hlm. 605.

34Simorangkir, J.C.T., Op.Cit, hlm. 90.

35Dikutip dari Tugas Peraturan Lelang, Kumpulan–Kumpulan Peraturan Lelang, hlm. 3.

36Eka Wijaya. Petunjuk Pelaksanaan Lelang. Jakarta, 2002 hlm. 615.

(23)

3. Barang Rampasan

Barang Rampasan itu adalah barang yang merupakan alat atau barang bukti dan barang bukti tersebut dapat dilelang apabila telah diputuskan oleh Pengadilan dan mempunyai kekuatan hukum yang tetap.37

Barang rampasan ini apabila akan dilakukan pelelangan itu dilaksanakan secara bersama, tidak dapat dilakukan secara terpisah kecuali bila keadaan terdesak seperti dijelaskan di dalam point 9 Surat Edaran Nomor SE-03/B/B.5/8/1988 tentang penyelesaian Barang Rampasan yang menyebutkan bahwa “Terhadap barang rampasan yang termasuk dalam satu putusan pengadilan pada prinsipnya tidak diperkenankan di jual lelang secara terpisah-pisah, kecuali dalam keadaan terdesak.”

Mengenai penyelesaian barang rampasan ini diatur di dalam Surat Edaran Nomor SE-03/B/B.5/8/1988 tentang penyelesaian Barang Rampasan, yang menyebutkan bahwa:

1. Tenggang waktu untuk menyelesaikan barang rampasan dibatasi selambat-lambatnya dalam masa 4 (empat) bulan semenjak putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum yang tetap.

2. Penyelesaian barang rampasan pada umumnya diselesaikan dengan cara dijual lelang melalui Kantor Lelang Negara, kecuali untuk barang-barang rampasan tertentu Jaksa Agung Republik Indonesia dapat menetapkan yaitu digunakan bagi kepentingan Negara, sosial atau dimusnahkan.

37Kejaksaan Agung RI. Himpunan Peraturan Tentang Pembinaan, Kejaksaan Agung RI. Jakarta, 1988 hlm. 1206.

(24)

3. a. Setiap satuan barang rampasan dari suatu perkara yang putusan pengadilannya telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap, dalam tenggang waktu 7 ( tujuh ) hari setelah putusan tersebut di terima sudah harus dilimpahkan penanganannya oleh Bidang yang menangani sebelum menjadi barang rampasan kepada Bidang yang berwenang yang menyebutkan bahwa “menyelesaikannya dengan melampirkan salinan vonis atau extract vonis dan pendapat hukum.”38

4. Sebagaimana yang dimaksud dalam butir 3. a. Untuk dipergunakan bagi kepentingan Negara atau sosial atau barang-barang rampasan terutama yang berasal dari perkara penyelundupan dan pelanggaran wilayah R.I.

dalam penyelesaiannya digunakan INPRES Nomor 9 Tahun 1970 tentang Penjualan dan atau Pemindahtanganan barang–barang yang dimiliki atau dikuasai Negara, dalam rangka pengajuan premi / ganjaran.39

Pihak-Pihak Yang Berwenang Dalam Pelaksanaan Barang Rampasan a. Kejaksaan

Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang 16 tahun 2004 menegaskan bahwa,

“Jaksa adalah pejabat fungsional yang diberi wewenang oleh Undang- undang untuk bertindak sebagai penuntut umum dan pelaksana putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap serta wewenang lain berdasarkan undang-undang.” Dalam Undang- Undang 16 tahun 2004 Pasal satu juga disebutkan tentang Penuntut Umum, penuntutan, dan Jabatan Fungsional Jaksa. Oleh karna itu, kami juga mencantumkannya disini.

38Ibid, hlm. 1210-1212.

39Chaniago, Maya Kartika Sury, Proses Lelang Eksekusi Yang Dilaksanakan Oleh Kejaksaan Terhadap Barang-Barang Rampasan (Studi di Kejaksaan Negeri Medan). Diss. 2019.

(25)

Penuntut Umum adalah Jaksa yang diberi wewenang oleh Undang-Undang ini untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim.

Penuntutan adalah Tindakan penuntutan umum untuk melimpahkan perkara ke Pengadilan Negeri yang berwenang dalam hal dan menuntut cara yang diatur dalam Hukum Acara Pidana dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh Hakim di sidang Pengadilan. Dan Jabatan Fungsional Jaksa adalah Jabatan yang bersifat keahlian teknis dalam organisasi kejaksaan yang karena fungsinya memungkinkan kelancaran pelaksanaan tugas kejaksaan.40

Jaksa berwenang menjadi penuntut umum dan melaksanakan putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (eksekusi). Oleh karena itu jaksa mempunyai dua kewenangan yaitu Sebagai penuntut umum dan Sebagai eksekutor. Jaksa yang menangani perkara dalam tahap penuntutan disebut penuntut umum. Penuntut umumlah yang dapat melaksanakan penetapan hakim sedangkan jaksa lain (bukan penuntut umum) yang oleh undang-undang tidak diberi wewenang sebagai penuntut umum tidak bisa melakukan penuntutan dan melakukan eksekusi. Jaksa yang bertugas di luar penuntutan maka ia tetap disebut jaksa.

b. Jurusita

Di dalam Pengadilan Negeri terdapat susunan pejabat yang berwenang di dalam menyelesaikan suatu perkara baik itu perkara pidana maupun perkara perdata. Susunan pejabat Pengadilan Negeri seperti yang

40https://www.gurupendidikan.co.id/fungsi-kejaksaan.

(26)

disebutkan di dalam Pasal 10 ayat (1) UU No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum yang menyebutkan, “Susunan Pengadilan Negeri terdiri dari Pimpinan, Hakim Anggota, Panitera, Sekretaris dan Jurusita.”

Melihat dari tugas Jurusita dan Seksi Tindak Pidana Umum dan Seksi Tindak Pidana Khusus sub seksi eksekusi terdapat persamaan, yaitu sama – sama sebagai pelaksana dari putusan Pengadilan dan di dalam hal ini yang menjadi dasar bahwa kedua pihak ini yang berwenang dalam melaksanakan lelang barang rampasan berdasarkan atas perintah dari Ketua Sidang.

E. Metode Penelitian

Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:

1. Tipe Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yuridis empiris, “yaitu penelitian yang dilakukan terhadap fakta hukum yang ada dengan melakukan penelitian secara langsung ke lapangan untuk mengetahui pelaksanaan dan masalah-masalah yang timbul.

2. Lokasi Penelitian

Dalam penelitian ini penulis mengambil lokasi penelitian di wilayah Kejaksaan Negeri Jambi.

3. Spesifikasi Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang akan diteliti maka spesifikasi penelitian ini adalah deskriftif analitis yakni dengan menggambarkan dan

(27)

menguraikan secara detail fakta-fakta dalam pelaksanaan lelang terhadap brang rampasan di Kejaksaan Negeri Jambi.

4. Populasi dan sampel Penelitian a. Populasi

Adapun populasi dalam penelitian ini yaitu pihak Kejaksaan selaku pihak yang menangani pelelangan tersebut.

b. Sampel

Adapun sampel dalam penelitian ini diambil dari jumlah populasi dengan menggunakan teknik penarikan sampel Proposive Sampel, sebagaimana dikatakan oleh Bahder Johan Nasution:

Proposive Sample artinya memilih sampel berdasarkan penilaian tertentu karena unsur-unsur yang dipilih dianggap mewakili populasi. Pemilihan terhadap unit-unit yang dijadikan sampel harus berdasarkan pada alasan yang logis artinya dalam pengambilan sampel tersebut benar-benar mencerminkan ciri-ciri populasi yang ditentukan. Ciri-ciri ini dapat berupa pengetahuan, pengalaman, pekerjaan, dan atau jabatan yang sama.41

Berdasarkan pendapat diatas sampel dalam penelitian ini yaitu:

a. 1 (Satu) orang Kepala bagian penyelenggaraan lelang di Kejaksaan Negeri Jambi yaitu Bapak Pison Danu Wijaya, S.H., M.H.

b. 2 (dua) orang Pegawai bagian penyelenggaraan lelang di Kejaksaan Negeri Jambi yaitu Ibu Siti Purwati, S.H., M.H. Selaku Kasubsi Barang Rampasan Kejaksaan Negeri Jambi dan Bapak Dewangga Adhi Pradana, S.H., M.H. Selaku Bagian Pembinaan Kejaksaan Negeri Jambi.

41Bahder Johan Nasution, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Penerbit Mandar Maju, Bandung, 2008, hlm. 159.

(28)

5. Sumber Data

a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh melalui penelitian lapangan dengan cara wawancara dengan para responden yang telah ditentukan.

b. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dari hasil penelitian orang lain yang terkait dalam objek penelitian.

c. Data Tersier, yaitu data yang diperoleh dari kumpulan sumber data primer dan data sekunder.

6. Alat Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melakukan wawancara secara langsung pada responden dengan menyiapkan pokok- pokok pertanyaan selanjutnya dikembangkan sesuai dengan situasi pada wawancara dilakukan dengan tidak menyimpang dari tujuan semula.

7. Analisis Data

Analisis data yang digunakan dala penelitian ini adalah secara kualitatif artinya data-data yang tersedia baik data primer maupun data sekunder kemudian disajikan atau digambarkan secara detail, kemudian diuraikan dan dijelaskan berdasarkan kenyataan yang ada di lapangan tentang pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan di Kejaksaan Negeri Jambi.

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam skripsi ini adalah merupakan uraian tentang keterkaitan bab demi bab, yaitu:

(29)

BAB I: PENDAHULUAN

Memaparkan mengenai latar belakang yang menjadi dasar penulis mengambil topik ini sebagai subjek penelitian, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kerangka konseptual, landasan teoritis, metode penelitian dan sistematika penulisan yang kerangka dari penelitian ini.

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

Menguraikan tentang tujuan pustaka yang berisikan tinjauan umum yang terdiri dari, tinjauan Lelang, tinjauan barang rampasan dan pihak-pihak yang berwenang dalam pelaksanaan lelang barang rampasan.

BAB III: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Merupakan hasil penelitian dan pembahasan yang didapat dari penelitian yang telah dilakukan. Bab ini berisikan dari perumusan masalah yang ada pada bab sebelumnya. Di dalam bab ini diuraikan pelaksanaan lelang terhadap barang rampasan di Kejaksaan Negeri Jambi dan kendala pelaksanaan lelang di Kejaksaan Negeri Jambi.

BAB IV: PENUTUP

Menguraikan tentang kesimpulan dan saran. Kesimpulan menguraikan pokok-pokok pembahasan dari skripsi yang ditulis sekaligus jawaban tentang permasalahan yang diajukan dalam proposal skripsi ini serta kritik dan saran yang diperlukan berkaitan dengan skripsi ini.

Referensi

Dokumen terkait

dapat dimodelkan dengan input lokasi beban relatif terhadap panjang frame (relative distance from end-I) atau lokasi beban berjarak sejauh tertentu dari titik

Berdasarkan tujuan awal penelitian yaitu untuk menganalisis kesalahan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kebakkramat dalam menyelesaikan soal materi SPLDV dan Volume , maka

Perencanaan stratejik merupakan suatu proses yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai selama kurun waktu 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) tahun secara

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa persentase larutan kapur sirih terbaik untuk bahan perendaman pada pembuatan keripik talas ketan adalah 20% dan lama

Dilakukan terhadap Dari pemaparan di atas maka setiap pesawat udara yang melanggar dapat disimpulkan (1)Pada prinsipnya wilayah udara nasional atau jalur

ilmu pengetahuan,  teknologi, seni, dan  budaya 1.4 Menghayati berbagai  fenomena kehidupan  sesesuai proses kerja  hukum tertib kosmis  (niyama)

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengembangkan sebuah pendekatan baru yang dapat mendeteksi serangan DDoS secara efisien, berdasarkan pada karakteristik

Profesi Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP) telah dihadapkan pada tantangan berat untuk ikut andil dalam mengatasi berbagai permasalah pembelajaran yang kian kompleks, meskipun