• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAGIAN HUKUM SEKRETARIAT DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAGIAN HUKUM SEKRETARIAT DAERAH"

Copied!
171
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERINTAH KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA

BAGIAN HUKUM SEKRETARIAT DAERAH

2020

(2)

i

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat dan tuntunanya sehingga Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Tentang Naskah Akademik Peraturan Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Tentang Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak dapat terselesaikan.

Diakui bahwa banyak kendala yang ditemui dalam penyusunan naskah akademik ini terutama dalam hal ketersediaan data yang dibutuhkan.

Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah mendukung Tim mulai dari pengumpulan data sampai pada penyelesaian penyusunan Naskah Akademik ini.

Akhir kata, semoga Naskah Akademik ini dapat bermanfaat terutama menjadi jawaban atas urgensi pembuatan Peraturan Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Tentang Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak Melalui penelitian dan pengkajian dalam Naskah Akademik ini diharapkan akan terwujud Peraturan Daerah yang responsif dan dapat diimplementasikan sebagai jawaban dari kebutuhan hukum masyarakat yang ada di Bolaang Mongondow Utara.

Tim penyusun

(3)

ii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang...1

B. Identifikasi Masalah...19

C. Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah akademik...21

D. Metode...22

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS A. Kajian Teoritis...23

B. Kajian Terhadap Asas Yang Terkait Dengan Penyusunan Norma...62

C. Kajian Terhadap Parktek Penyelenggaraan, Kondisi Yang Ada, Serta Permasalahan Yang Dihadapi Masyarakat...68

D. Kajian Terhadap Implikasi Penerapan Sistem Baru Yang Akan Diatur Dalam Peraturan Daerah Terhadap Aspek Kehidupan Masyarakat dan Dampaknya terhadap aspek Beban Keuangan Negara...73

BAB III EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT...76

BAB IV LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN FILOSOFIS A. Landasan Filosofis...138

B. Landasan Sosiologis...140

C. Landasan yuridis...142

BAB V JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN PERATURAN DAERAH A. Jangkauan dan arah pengaturan Peraturan Daerah tentang Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan...145

B. Ruang Lingkup Materi Muatan Peraturan Daerah tentang Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak.………...147

BAB VI PENUTUP A. Simpulan...162

B. Saran... ...163

C. Daftar Pustaka... 165

(4)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Setelah reformasi Indonesia tahun 1998, bermunculan berbagai organisasi masyarakat termasuk organisasi perempuan untuk pendampingan bagi perempuan korban kekerasan. Organisasi- organisasi berbasis masyarakat ini digerakkan dengan kepercayaan bahwa perempuan korban kekerasan merupakan individu yang harus didukung agar berdaya dan mampu menjalani hidup secara bermartabat.1

Organisasi-organisasi ini bergerak dengan sumber daya terbatas yang tersedia di masing-masing wilayahnya. Pada tahun 2000, Komnas Perempuan sebagai lembaga HAM nasional mengembangkan sistem dukungan bagi perempuan korban kekerasan dengan mengumpulkan kurang lebih 20 organisasi perempuan yang melakukan pendampingan bagi perempuan korban kekerasan di seluruh Indonesia. Pertemuan yang dilaksanakan di Malang tersebut bertujuan untuk menggalang dukungan bagi perempuan korban kekerasan dengan membangun jejaring sekaligus menyatukan sumber daya agar kebutuhan korban dapat terfasilitasi dengan maksimal. Jejaring ini dinamakan Forum Belajar (FB) untuk Penanganan Perempuan Korban Kekerasan. Inisiatif ini muncul atas kesadaran bahwa pemulihan perempuan korban kekerasan membutuhkan sumber daya yang besar dan waktu yang kadang tidak singkat.

1 https://www.komnasperempuan.go.id

(5)

2

Upaya inilah yang kemudian melahirkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tertanggal 25 September 2002, antara 3 Menteri, yakni Menteri Pemberdayaan Perempuan (No. 14 / Men.PP / Bep.V / X / 2002), Menteri Sosial (no. 75 / huk / 2002 no. 75 / Huk / 2002), Menteri Kesehatan (no.

1329 / Menkes / SKB / X / 2002) dan Kapolri, tentang “Pelayanan Terpadu Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak” yang berlaku selama 5 tahun. SKB 3 Menteri dan Kapolri ini merupakan awal mula penyusunan konsep dan regulasi tentang layanan terpadu bagi perempuan dan anak korban kekerasan.

Sejak berlakunya kebijakan tersebut, Kementerian/Lembaga tersebut mulai membangun kebijakan penanganan perempuan korban di institusinya masing-masin Konsep pelayanan terpadu ini terus ditingkatkan dan diperkuat dengan terbitnya UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT) dan Peraturan Pemerintah Nomor 4 tahun 2006 tentang Penyelenggaraan Kerjasama Pemulihan Korban KDRT. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) kemudian mengeluarkan berbagai peraturan menteri untuk mendorong pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di semua provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia.

Pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak (P2TP2A) atau nama lainnya yaitu pusat pelayanan terpadu (PPT) sejak tahun 2002 merupakan respon Pemerintah Indonesia terhadap perempuan dan anak yang mengalami kekerasan. Keberadaan Pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak (P2TP2A) sebagai jawaban atas

(6)

3

persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak, pada awalnya adalah gagasan dan komitmen pemerintah bersama masyarakat sipil dalam menghadirkan layanan yang menyeluruh dan terpadu bagi korban, agar korban dapat mengakses keadilan dan kebutuhannya untuk memulihkan diri dan kehidupannya.

Dalam perkembangannya, tidak seluruh Keberadaan Pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak (P2TP2A) dapat menjalankan perannya sebagai mekanisme pemulihan bagi perempuan (dan anak) korban kekerasan. Minimnya dukungan Pemerintah Daerah terutama dalam penyediaan anggaran, merupakan tantangan yang hingga saat ini belum sepenuhnya terselesaikan. Dalam catatan Komnas Perempuan, hanya Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan DKI Jakarta yang memberikan dukungan memadai bagi pelaksanaan mandat P2TP2A, baik dari sisi anggaran maupun infrastruktur, sehingga perannya dalam pendampingan korban dapat berjalan. Selain persoalan anggaran, keterbatasan sumber daya manusia dan ketiadaan sistem tata kelola P2TP2A juga menjadi penyebab P2TP2A tidak dapat menjalankan peran dan fungsinya secara optimal. 2

Saat ini Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) telah terbentuk di 34 Provinsi, 83 kota dan 307 kabupaten, yang di dalam proses implementasinya membutuhkan pengawalan agar dapat berfungsi efektif untuk perempuan korban.3 Masing-masing P2TP2A telah disahkan melalui berbagai kebijakan di daerah. Di tingkat provinsi,

2 https://www.komnasperempuan.go.id/file/pdf_file/2018/Publikasi/p2tp2a.pdf

3 Data Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Tahun 2016

(7)

4

P2TP2A disahkan melalui Peraturan Gubernur dan SK Gubernur. P2TP2A di beberapa daerah, juga telah diperkuat dengan peraturan daerah.

Beragamnya kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan kompleksitas persoalannya, membutuhkan kreatifitas dan inovasi tersendiri agar dapat menjawab kebutuhan korban. Namun kenyataannya, kebutuhan tersebut belum dapat direspon oleh P2TP2A secara tepat dan menyeluruh. Meski tidak seluruh P2TP2A mengalami kondisi sebagaimana tersebut di atas, namun secara keseluruhan menunjukkan bahwa keberadaan P2TP2A sebagai “ujung tombak” layanan terpadu bagi perempuan dan anak korban kekerasan masih membutuhkan pembenahan agar dapat menjalankan mandatnya dalam memberikan layanan bagi perempuan dan anak korban kekerasan yang merupakan wujud dari tanggungjawab pemerintah terhadap pemenuhan hak korban.

Jumlah Korban kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Indonesia terus meningkat dari Tahun ke Tahun, Presiden Joko Widodo menyebutkan dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA), angka kekerasan terhadap anak mencapai 1976 kasus pada 2015. Pada 2016, angka tersebut melonjak hingga 6820 kasus.4

Presiden Joko Widodo memerintahkan adanya reformasi besar- besaran atas manajemen penanganan kasus kekerasan terhadap anak. Bila perlu, dia ingin ada pelayanan satu pintu dalam menangani kekerasan terhadap anak. Hal itu dilakukan agar penanganan kasus kekerasan anak

4 https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-01331057/kekerasan-terhadap-anak-meningkat-jokowi-masih- banyak-korban-yang-enggan-melapor

(8)

5

bisa cepat, terintegrasi, dan komprehensif. Apalagi menurutnya kasus yang menimpa anak-anak dari tahun ke tahun masih mengalami kenaikan signifikan.

Kekerasan terhadap Anak Meningkat, Jokowi: Masih Banyak Korban yang Enggan Melapor

A n n i s a K a r i m a - 1 0 J a n u a r i 2 0 2 0 , 0 7 : 5 3 W I B

Presiden Joko Widodo memimpin rapat terbatas mengenai penanganan kasus kekerasan terhadap anak yang digelar di Kantor Presiden, Jakarta, pada hari Kamis, 9 Januari 2020.5 Jokowi menyebut kekerasan seksual terhadap anak merupakan kejahatan yang paling sering terjadi. Jenis kasus tersebut diikuti dengan kekerasan psikis dan fisik terhadap anak. “Belajar dari data itu, saya yakin fenomena kekerasan kepada anak merupakan fenomena gunung es yang selama ini tidak pernah terlapor,” kata Jokowi. Untuk mencegah kasus berulang terjadi, Jokowi mengatakan ada tiga hal yang harus menjadi prioritas bersama. Pertama

5 https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-01331057/kekerasan-terhadap-anak-meningkat-jokowi-masih- banyak-korban-yang-enggan-melapor

(9)

6

yakni memprioritaskan perlindungan pada anak dengan melibatkan keluarga, sekolah, dan juga masyarakat Menurut Jokowi, aksi pencegahan kekerasan dapat dilakukan dengan berbagai model kampanye, sosialisasi, dan edukasi publik. “Bukan hanya menarik, tapi memunculkan kepedulian sosial pada persoalan kekerasan kepada anak,” kata Presiden. Kepala Negara juga meminta perbaikan terhadap akses layanan pelaporan dan pengaduan atas kekerasan terhadap anak. Menurut Jokowi, nomor telepon layanan tersebut haruslah jelas. Alhasil, masyarakat bisa dengan mudah mengakses layanan tersebut. “Yang paling penting adalah mendapatkan respons secepat-cepatnya,” ujar Jokowi. Lebih lanjut, mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga meminta agar proses penegakan hukum atas kekerasan terhadap anak bisa memberikan efek jera. Terutama terhadap kasus pedofilia dan kekerasan seksual. Para korban harus diberikan bantuan hukum. “Terakhir, rehabilitasi sosial dan reintegrasi sosial kembali,”

ucapnya.6

Sementara itu Kasus kekerasan terhadap Perempuan cenderung meningkat.Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan pada 2018 mencapai 406.178 kasus, meningkat 16,6% dibandingkan 2017 yang sebanyak 348.446 kasus. Data tersebut berasal dari Catahu yang dikompilasi berdasarkan data perkara yang ditangani Pengadilan Agama sebanyak 96% (392.610 kasus) dan 209 lembaga mitra pengada layanan sebanyak 3% (13.568 kasus).

6 https://katadata.co.id/berita/2020/01/09/jokowi-ingin-ada-pelayanan-satu-pintu-tangani-kekerasan-anak

(10)

7

Selama sepuluh tahun terakhir, jumlah pelaporan dari kekerasan terhadap perempuan cenderung meningkat. Hanya pada 2010 dan 2016 angka pelaporan menurun. Pada 2010, laporan menurun 26,8% dari 143.586 kasus menjadi 105.103 kasus. Sementara itu, pada 2016 jumlah laporan menurun 19,5% dari 321.752 menjadi 259.150 kasus. Komnas Perempuan melihat selama sepuluh tahun terakhir ada tren yang menunjukkan semakin banyak korban kekerasan yang berani melapor.

Selain itu, tingkat kepercayaan dan kebutuhan korban terhadap lembaga- lembaga penyedia layanan pendampingan kasus kekerasan juga meningkat.7

Untuk mengatasi persoalan ini Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri, Prof. H.M. Tito Karnavian, Ph.D., akan menggalakkan

7 https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/09/17/angka-kekerasan-terhadap-perempuan- cenderung-meningkat

(11)

8

peranan Pemda di dalam perlindungan anak dan perempuan dari kekerasan. Hal itu dikatakannya di Jakarta, Senin (20/01/2020).8

Mendagri: Pemerintah Daerah Lakukan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

“Perempuan dan anak-anak adalah kelompok masyarakat paling rentan terhadap kekerasan, baik fisik, verbal maupun kekerasan psikologis.

Mereka harus dilindungi. Tugas pemerintah, khususnya pemerintah daerah untuk melindungi kelompok rentan ini agar mereka terbebas dari ancaman kekerasan, baik bersifat domestik maupun dari lingkungannya,” tegas Mendagri Tito yang juga merupakan mantan Kapolri tersebut. Sebagaimana kita ketahui, upaya dan langkah Gubernur, Bupati, Walikota beserta jajarannya di dalam perlindungan anak dan perempuan terhadap kekerasan masih sangat minim. Ini terbukti dari jumlah UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) sebagai lembaga pelaksana hanya berjumlah 98 UPDT atau 17 % dari 548 kabupaten/kota dan provinsi yang ada di seluruh Indonesia.

Artinya, 82% dari total 548 pemerintah daerah kabupaten/kota dan provinsi

8 https://www.radiodelfm.co.id/mendagri-pemerintah-daerah-lakukan-pencegahan-dan-penanganan- kekerasan-terhadap-perempuan-dan-anak/

(12)

9

belum memiliki instrumen kelembagaan, anggaran dan personalia untuk melakukan program pencegahan, penanganan dan perlindungan anak-anak dan perempuan yang merupakan korban kekerasan.

Setidaknya ada 5 poin yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah sebagai upaya pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak, diantaranya:

1) Membentuk unit kerja SKPD dan program yang mendukung hal tersebut.

2) Menyiapkan anggaran yang cukup dalam APBD beserta aparaturnya.

3) Memperbaiki sistem pelaporan dan pelayanan pengaduan

4) Melakukan reformasi manajemen secara menyeluruh yang berorientasi kecepatan penanganan kasus, terintegrasi dan komprehensif.

5) Membentuk layanan rehabilitasi sosial dan reintegrasi sosial.

Mendagri juga menjelaskan bahwa arahan ini juga sudah disampaikan oleh Presiden Jokowi dalam rapat terbatas kabinet sebelumnya. Itu sebabnya mendagri akan membina dan mengawasi Pemda agar benar-benar membentuk dan menjamin unit tersebut operasional,”

lanjut Mendagri secara detail. “Dalam Ratas Kabinet minggu kemarin, Presiden telah menekankan pentingnya program perlindungan ini seiring dengan prioritas visi misi Presiden di dalam pengembangan SDM unggul,”

kata Mendagri.

(13)

10

Untuk diketahui, Kementerian Dalam Negeri yang merupakan pembina dan pengawas jalannya roda penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah merasa berkewajiban mendorong Pemda untuk serius melakukan program ini di daerahnya masing-masing. Perlindungan dan pencegahan anak dan perempuan dari tindak kekerasan merupakan hal yang sangat elementer untuk meningkatkan kualitas SDM yang unggul.

“Bukan saja hanya aspek recovery (pemulihan) yang kita tekankan kepada Pemda di dalam program ini, namun juga aspek pencegahannya, termasuk iklim sosiologis di masyarakat agar masyarakat semakin ramah terhadap kelompok rentan anak dan perempuan,” ujar Mendagri.

(14)

11

Salah satu Pemerintah Daerah yang mendukung Kebijakan Pemerintah Pusat dalam menggalakan Perlindungan Perempuan dan Anak adalah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Provinsi Sulawesi Utara.

Sebagaimana diketahui bahwa Provinsi Sulawesi Utara merupakan salah satu daerah yang paling rawan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sejak 2017 hingga Agustus 2018, tercatat ada 110 kasus kekerasan terhadap perempuan di Provinsi Sulawesi Utara (data LSM Swara Parangpuan). Kekerasan seksual paling dominal (41,81 persen), diikuti penyiksaan psikis (22,71 persen), fisik (21,81 persen) dan 13,63 persen adalah kasus penelantaran.

Di tengah keprihatinan ini, muncul lagi beberapa kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, yang dirangkum sebagai berikut :

(15)

12

BOGANINEWS, BOLMUT – Dugaan kasus pemerkosaan yang terjadi di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), menuai reaksi keras dari sejumlah aktivis perempuan. Kecaman terhadap kasus kekerasan seksual ini dilontarkan oleh Tirta Syafirah Modeong. Menurutnya, kasus dugaan pemerkosaan tersebut sangat tidak berperikemanusiaan. “Ini tidak bisa dibiarkan. Para pelaku harus di hukum seberat- beratnya,” pinta Tirta. Mantan Ketua Kohati HMI Cabang Manado ini meminta, agar aparat kepolisian dapat mengusut tuntas kasus tersebut tanpa pandang bulu karena telah mencederai hati kaum perempuan. “Yang pasti korban akan mengalami trauma panjang. Selain itu, juga akan mempengaruhi psikologi korban, apalagi korban masih duduk di bangku SMA,” jelasnya. Sementara itu, Kapolsek Sangkub IPDA. Agus Sumandik saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya sudah mengamankan empat tersangka. Dan pelaku lainnya masih dalam pengejaran pihak kepolisian. Para pelaku kata Kapolsek, diancam sejumlah pasal berlapis diantaranya pasal 258 KUHP tentang pemerkosaan dengan ancaman pidana penjara paling lama dua belas tahun penjara. Juga diancam dengan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 2014 Pasal 81 dan 82 tentang perlindungan anak, dengan ancam minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara. “Kami juga masih terus melakukan pengembangan kasus, apakah masuk Trafficking atau tidak,” jelas Sumandik. Diketahui, dari hasil pengembangan aparat kepolisian terungkap, pelaku kasus dugaan pemerkosaan terhadap gadis 16 tahun sebut saja Mawar (nama samaran), warga Desa Busisingo Kecamatan Sangkub, yang terjadi pada Kamis (24/8) pekan lalu, tidak hanya dilakukan oleh 8 orang pelaku, tapi sebanyak 15 orang. (WaOne)9

9 https://boganinews.com/bolmut/aktivis-perempuan-kecam-kasus-pemerkosaan-di-bolmut/

(16)

13

Seorang perempuan di Desa Benjeita, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, jadi korban kekerasan. Wajah Tanwin Hungopa (29), ibu rumah tangga diseterika oleh Hasrin Kapiso (34), suaminya. Kasus yang terjadi Sabtu (1/9/2018) ini sudah dilaporkan ke polisi. Yasrin Hongupa, kakak korban, saat dihubungi tribunmanado.co.id menjelaskan, kejadian Sabtu pagi. “Saat itu adik saya (korban) sedang menyeterika pakaian anak untuk pergi sekolah. Tapi saat sedang menyeterika pakaian, tiba-tiba seterika jatuh menimpa dinding kamar tidur yang terbuat dari triplek," ujarnya. Yasrin mengatakan, sontak pelaku yang lagi berbaring terkejut. Ia menuduh korban menendang dinding kamar. Dari situlah terjadi adu mulut dan cekcok dalam rumah. Akhirnya pelaku merampas seterika dan menepelkannya ke wajah korban. Wajah korban mengalami lecet akibat luka bakar. Kata Yasrin, masalah ini sudah dilaporkan langsung ke Polsek Bolangitang. Korban juga sudah divisum dokter bersama pihak kepolisian. "Kalau dari kami keluarga sangat keberatan dengan masalah kekerasan dalam rumah tangga. Selain sudah melakukan berita acara pemeriksaan (BAP) di Polsek, keluarga sudah laporkan ke Komnas Perlindungan Perempuan," ujar Yasrin. Informasi yang dihimpun, pelaku masih berada di tempat kejadian perkara (rumah). Masalah ini sedang diproses pihak kepolisian. Polres Bolaang Mongondow (Bolmong) akan serius menangani setiap kasus kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di Desa Benjeita, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sabtu (01/09/2018). Bolmut masuk wilayah hukum Polres Bolmong.

Kapolres Bolmong, AKBP Gani Siahaan mengatakan, saat ini kasus tersebut sementara diproses. "Sudah ditangani. Sekalipun tersangkanya adalah keluarga korban, tetap ada aturan hukum yang melarang terjadinya kekerasan dalam rumah tangga dan dapat diancam dengan pidana," ujar Kapolres.10

10 https://manado.tribunnews.com/2018/09/03/pria-bolmut-tega-setrika-wajah-istri-sulut-rawan-kekerasan- perempuan

(17)

14

Kronologi, Bolmut – Kasus Kekerasan terhadap anak di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), masih cukup tinggi tiga tahun terakhir ini. Tidak heran kasus ini masih mendominasi di Kejaksaan Negeri (Kejari) Bolmut.

“Kasus kekerasan terhadap anak mencapai angka 40% dari jumlah kasus yang ditangani Kejari Bolmut,” kata Kepala Seksi Intelijen Kejari Bolmut, Roberto Sohilait, kepada Kronologi.id, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (09/07/2019).

Roberto Sohilait mengatakan, kasus ini mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Selain penganiayaan,kekerasan terhadap anak yang paling sering terjadi adalah tindakan Asusila. Ironisnya, kasus asusila tersebut lebih sering terjadi di lingkungan keluarga korban. “Kasus tersebut bahkan lebih banyak terjadi dalam ruang lingkup keluarga sendiri, entah ayah terhadap anaknya, kakek ke cucu nya, atau paman ke ponakannya” jelasnya. Roberto juga mengatakan, selain berada di bawah pengaruh Alkohol, Aksi bejat tersebut juga terjadi karena kurangnya pemahaman masyarakat maupun keluarga korban tentang pentingnya pengawasan terhadap anak.“Di samping itu juga karena pacaran, si gadis ini kan masih di bawah umur, itu tetap terkena hukum perlindungan anak,” katanya.Roberto berharap, peran serta orangtua untuk tetap mengawasi anak anaknya, utamanya yang masih berusia 18 tahun ke bawah atau masih masuk dalam perlindungan anak.Menurutnya, pergaulan bebas menjadi faktor paling rawan terjadinya kasus asusila tersebut. Ia juga mengatakan, pihaknya selalu serius dalam menangani kasus tersebut, dan dalam setiap putusan, vonis dari hakim dipastikan akan memberikan efek jera bagi pelaku aksi bejat tersebut“Dalam penanganan perlindungan anak, kami tidak pernah main main, tuntutan atau vonisnya bisa maksimal,” pungkasnya11

Angka Perceraian di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara cukup tinggi Setahun ini angka cerai gugat di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN)

11 https://kronologi.id/2019/07/10/kasus-kekerasan-anak-masih-dominasi-di-kejari-bolmut/

(18)

15

Kabupaten Bolmut ada 19 dari 110 kasus pada Tahun 2019, selain karena Permasalahan Ekonomi pemicunya adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).12

Ahmad Nurkhalis, Kabag Humas Pengadilan Agama Boroko

Untuk meminimalisir terjadinya korban kekerasan terhadap perempuan dan anak, Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow melaksanakan sosialisasi hukum tentang Hak Asasi Manusia (HAM) dalam perlindungan Perempuan/Anak dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Bupati Bolmut dalam sambutannya menyampaikan keprihatinan terhadap meningkatnya kasus pelanggaran hukum terkait perlindungan anak dan KDRT yang terjadi di tengah-tengah masyarakat saat ini, terlebih kasus tersebut tidak terselesaikan dengan baik.

Kabupaten Bolmut Gelar Sosialisasi HAM Lindungi Perempuan dan Anak

12 https://www.sulutgoonline.com/sulawesi-utara/19-dari-110-kasus-perceraian-di-bolmut-melibatkan-asn- ini-pemicunya/

(19)

16

Bolmut, Pilarsulut.com – Bupati kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Drs. Hi. Depri Pontoh secara resmi membuka kegiatan sosialisasi hukum tentang Hak Asasi Manusia (HAM) dalam perlindungan Perempuan/Anak dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang bertempat di Auditorium Kantor Bupati, Jumat (09/12).

Sosialisasi yang digelar oleh Bagian Hukum Sekretariat Daerah ini dilaksanakan untuk meminimalisir terjadinya korban kekerasan terhadap perempuan dan anak melalui berbagai media serta memberikan pelayanan terhadap korban kekerasan melalui penerapan Standar Pelayanan Minimum (SPM) bidang layanan terpadu bagi perempuan, pencegahan dan penanganan korban atau saksi perdagangan orang. Bupati Bolmut dalam sambutannya menyampaikan keprihatinan terhadap meningkatnya kasus pelanggaran hukum terkait perlindungan anak dan KDRT yang terjadi di tengah-tengah masyarakat saat ini, terlebih kasus tersebut tidak terselesaikan dengan baik.

Ketidakmampuan pemerintah dan instansi terkait lainnya dalam menanggulangi maraknya kedua masalah tersebut tidak saja menyebabkan semakin banyaknya korban, tetapi yang lebih memprihatinkan adalah berkembangnya pandangan masyarakat bahwa pemerintah sudah kehilangan wibawahnya sehingga tidak mampu memberikan jaminan perlindungan dan kesejahteraan kepada warga negaranya. “Untuk itu, melalui sosialisasi ini diharapkan dapat membangun pemikiran yang cemerlang di dalam menata perjalanan hukum di daerah secara transparan dan seadil-adilnya serta bijaksana dalam menegakkan aturan hukum di masyarakat, yang diwujudkan dengan SDM yang handal, dengan jalinan koordinasi harmonis antar pihak mulai dari pemerintah daerah, kepolisian dan kejaksaan,” ujar Bupati. Di akhir sambutannya, Bupati Bolmut menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas keberhasilan Kabupaten Bolmut memperoleh penghargaan sebagai Kabupaten Peduli HAM Tahun 2016 dari Kementerian Hukum dan HAM RI. Berkat kerja sama Pemerintah Daerah, masyarakat serta semua pihak yang berkompoten dalam penegakan Hukum dan HAM di Kabupaten Bolmut. Turut hadir Ketua TP PKK Kabupaten Bolmut Dra. Hj. Ainun Pontoh- Talibo, Kepala Kejaksaan Negeri Bolmut, Dwiyanto Prihartono, SH,MH, Ketua DWP Kabupaten Bolmut, Fitriana Nani Buhang, SE, Asisten Sekda, Staf Ahli Bupati, Pimpinan SKPD dan jajaran Aparatur di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bolmut. (PS)13

Dalam Pasal 12 ayat (2) b Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah menetapkan bahwa Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak merupakan salah satu Urusan “Wajib” Pemerintah

13 https://www.pilarsulut.com/2016/12/kabupaten-bolmut-gelar-sosialisasi-ham-lindungi-perempuan-dan- anak/

(20)

17

Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota yang bersifat Non Pelayanan Dasar.

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) adalah sarana penting untuk memberikan perlindungan dan pendampingan terhadap korban kekerasan yang dialami perempuan dan anak. lembaga ini penting untuk melakukan pendampingan kepada Perempuan dan anak dibawah umur yang mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) maupun korban seksual di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.

Kewajiban pemerintah daerah untuk membentuk Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) terdapat pada pasal 46 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang yang berbunyi” untuk melindungi korban, pada setiap Kabupaten/Kota dapat dibentuk PPT bagi saksi dan/ atau korban TPPO”. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2008 tentang Tata Cara dan Mekanisme Pusat Pelayanan Terpadu Bagi Saksi dan /atau Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang pada Pasal 6 ayat (1) PP tersebut mengamanatkan perlunya dibentuk PPT oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. Selain itu Pasal 6 ayat (3) Peraturan Pemerintah ini juga menyebutkan bahwa PPT dapat menangani korban tindak kekerasan dalam rumah tangga.

Pembentukan P2TP2A secara umum mengacu pada Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2010 tentang Panduan Pembentukan Dan Pengembangan Pusat Pelayanan Pembentukan di tingkat provinsi atau

(21)

18

kabupaten/kota menjadi kewenangan dan sesuai kemampuan pemerintah daerah karena anggaran dan pelaksanaannya berasal dari APBD masing- masing daerah, serta tanggung jawab pelaksanaannya dan pengelolaan dilakukan oleh pemerintah daerah. Dalam hal pemerintah daerah menunjuk Unit Pelayanan Terpadu yang berbasis masyarakat sebagai Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) maka pendanaan pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) termasuk di dalamnya penyediaan sarana prasarana, petugas pelaksana atau petugas fungsional dan masyarakat yang dilibatkan dalam Pusat Pelayanan Terpadu tersebut dibiayai oleh APBN dan APBD maupun bantuan masyarakat dan swasta sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

Dukungan anggaran atau pembiayaan penyelenggaraan disusun sesuai kebutuhan pelayanan masing-masing (prevalensi kasus). Selain dari APBD dan APBN, Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) dapat didukung oleh sumber-sumber lainnya seperti lembaga donor, Corporate SocialResponsibilty/CSR.14

Untuk menangani berbagai permasalahan yang berkaitan dengan Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, maka diperlukan pembiayaan dalam membentuk lembaga pelayanan P2TP2A di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara yang bersumber dari APBD.

14 peraturan menteri PPPA nomor 05 tahun 2010 tentang panduan pembentukan dan pengembangan pusat pelayanan

(22)

19

Atas dasar tersebut Tim Penyusun mengangkat permasalahan yang dirangkum dalam penelitian sebuah karya ilmiah berbentuk naskah Akademik dengan judul: “pembiayaan pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara” yang dapat menjadi pedoman dalam penyusunan Rancangan Peraturan Daerah.

B. IDENTIFIKASI MASALAH

Dalam sebuah penelitian dibutuhkan identifikasi masalah yang akan menentukan kualitas suatu penelitian, bahkan itu juga menentukan apakah sebuah kegiatan bisa disebut penelitian atau tidak. Dari hasil pengumpulan dan inventarisasi permasalahan yang berkaitan dengan Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, maka didapatkan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) sebagai berikut:

1. meningkatnya kasus pelanggaran hukum terkait perlindungan anak dan perempuan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, terlebih kasus tersebut tidak terselesaikan dengan baik..

2. Masih kurangnya upaya Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan anak di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, sehingga menyebabkan semakin banyaknya korban, dan lebih memprihatinkan adalah berkembangnya pandangan masyarakat bahwa pemerintah sudah kehilangan wibawahnya sehingga tidak mampu memberikan jaminan perlindungan dan kesejahteraan kepada warga negaranya.

(23)

20

3. Perlindungan hukum terhadap perempuan korban tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga masih menimbulkan masalah terutama mengenal ketentuan dalam undangundang KDRT mensyaratkan adanya pengaduan untuk suatu tindakan KDRT itu dilakukan proses hukum.

Masalah pengaduan merupakan suatu hal yang amat sulit dilakukan oleh korban kerena dengan melaporkan tindak pidana kekerasan yang terjadi terhadap dirinya akan menimbulkan perasaan malu jika aib dalam keluarganya akan diketahui oleh masyarakat. Di sisi lain aparat penegak hukum tidak dapat memproses kasus tindak pidana kekerasan jika tidak ada pengaduan dari pihak korban

4. Belum dibentuknya Lembaga Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara untuk menurunkan angka kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

5. Dibutuhkan Pembiayaan dalam pelaksanaan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara

6. Mengoptimalkan peran Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dalam Perlindungan anak dan Pemberdayaan Perempuan

7. Belum adanya peraturan daerah yang mengatur tentang Pembiayaan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A).

(24)

21

C. TUJUAN DAN KEGUNAAN KEGIATAN PENYUSUNAN NASKAH AKADEMIK

1. Tujuan.

Tujuan dibentuknya naskah akademik ini adalah sebagai landasan ilmiah bagi penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Pemerintah Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan, yang memberikan arah dan ruang lingkup dari Rancangan Peraturan Daerah yang akan dibentuk.

1. Untuk mengetahui, memahami dan menganalisis efektifitas penerapan sanksi pidana terhadap pelanggaran Perempuan.

2. Pedoman Untuk mengetahui Bagaimana tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara 3. Untuk mengetahui, memahami dan menganalisis terkait penerapan

sanksi terhadap pelanggaran pada Perempuan.

4. Bertujuan untuk memberikan latar belakang, arahan dan dukungan dalam perumusan pengaturan Penyelenggaraan Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.

5. Berguna sebagai acuan atau referensi penyusunan dan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan.

2. Kegunaan.

Kegunaan Naskah Akademik Peraturan Daerah ini ditujukan selain sebagai dokumen resmi yang menyatu dengan konsep Rancangan Peraturan Daerah yang akan diajukan dalam pembahasan Pembentukan

(25)

22

Peraturan Daerah, juga berguna sebagai pertanggung jawaban secara ilmiah mengenai konsepsi dan kemanfaatan dari Pembentukan Peraturan Daerah. Naskah Akademik ini juga bermanfaat sebagai acuan atau sumber data dalam pengelolaan permasalahan dalam Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.

D. METODE.

Naskah Akademik ini disusun dengan menggunakan metode pendekatan yuridis normatifdi mana untuk penyusunannya digunakan data-data berupa:

a. Data sekunder, yang mencakup:

i. bahan hukum primer, yaitu peraturan perundang-undangan, termasuk juga Peraturan Daerah dari daerah-daerah lain sebagai bahan perbandingan antara lain.

ii. hukum sekunder, yaitu berbagai buku-buku literatur hukum, artikel, dictionary, dan sebagainya.

b. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif.

(26)

23 BAB II

KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTEK EMPIRISPUSAT PELAYANAN TERPADU PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN ANAK

A. Kajian Teoritis

1. Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, yang selanjutnya disebut P2TP2A adalah pusat pelayanan yang terintegrasi dalam upaya pemberdayaan perempuan di berbagai bidang pembangunan, serta perlindungan perempuan dan anak dari berbagai jenis diskriminasi dan tindak kekerasan, termasuk perdagangan orang, yang dibentuk oleh pemerintah atau berbasis masyarakat, dan dapat berupa: pusat rujukan, pusat konsultasi usaha, pusat konsultasi kesehatan reproduksi, pusat konsultasi hukum, pusat krisis terpadu (PKT), pusat pelayanan terpadu (PPT), pusat pemulihan trauma (trauma center), pusat penanganan krisis perempuan (women crisis center), pusat pelatihan, pusat informasi ilmu pengetahuan dan teknologi (PIPTEK), rumah aman (shelter), rumah singgah, atau bentuk lainnya.15

Untuk melaksanakan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapuan Kekerasan dalam Rumah Tanggal, pada tanggal 22 Oktober 2009 pemerintah membentuk Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP dan PA). Kementerian PP dan PA mengeluarkan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 5 tahun 2010 tentang Panduan Pembentukan dan

15 https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/glosary/21/P

(27)

24

Pengembangan Pusat Pelayanan Terpadu. Peraturan tersebut mengatur bahwa masing-masing daerah kabupaten/kota mempunyai kewajiban membentuk Lembaga Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan dan Perlindungan Terhadap perempuan dan Anak.

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak adalah lembaga layanan yang melakukan pendampingan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan berperspektif gender. Misalnya kekerasan dalam rumah tangga meliputi kekerasan terhadap anak, kekerasan terhadap istri, pencabulan termasuk juga kasus pelecehan seksual, dan perkosaan.

P2TP2A mendampingi semua perempuan dan anak korban kekerasan berperspektif gender tanpa membedakan agama, golongan, suku ataupun status sosial.

Bentuk layanan yang dilakukan ada 2 macam yaitu litigasi dan non litigasi. Layanan litigasi misalkan perkosaan, pencabulan/pelecehan seksual, dan kekerasan dalam rumah tangga. Sedangkan layanan non- litigasi misalnya konsultasi permasalahan yang tengah dihadapi, mediasi antara suami dan istri, orangtua dan anak yang sedang mempunyai masalah. Apabila korban memerlukan pendampingan hukum maka ada 2 cara yang dilakukan yaitu mendampingi secara langsung dan mendampingi secara tidak langsung. Mendampingi langsung artinya di sepanjang proses peradilan korban akan didampingi langsung oleh pendamping P2TP2A yang bertindak sebagai kuasa hukum. Sedangkan mendampingi secara tidak langsung artinya dalam bentuk konsultasi dalam menghadapi proses peradilan, membuatkan konsep gugatan dan sebagainya.

(28)

25

Kekerasan dalam rumah tangga atau domestic violence adalah rangkaian kata yang terdiri dari dua kata yaitu kekerasan atau violence yang menjadi penekanan utamanya, dan kata rumah tangga atau domestic yang menjelaskan tempat peristiwa violence itu sendiri. Secara sederhana domestic violence dapat diterjemahkan sebagai kekerasan yang terjadi dalam

lingkup rumah tangga.16 Dalam Pasal 1 ayat (1) UU PKDRT, pengertian kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.17 Sedangkan yang termasuk lingkup rumah tangga adalah:18

a. suami istri atau mantan suami istri;

b. orang tua dan anak-anak;

c. orang-orang yang mempunyai hubungan darah;

d. orang yang bekerja membantu kehidupan rumah tangga orang- orang lain yang menetap di sebuah rumah tangga;

e. orang yang hidup bersama dengan korban atau mereka yang masih atau pernah tingal bersama (yang dimaksud dengan orang yang hidup bersama adalah pasangan hidup bersama atau beberapa orang tinggal bersama dalam satu rumah untuk jangka waktu tertentu).

16 Purnianti dan Kalibonso, Menyingkap Tirai Kekerasan Dalam Rumah Tangga, hlm. 27.

17 Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

18 Achie Sudiarti Luhulima, 2000, Pemahaman Bentuk-bentuk Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Alternatif Pemecahannya, PT. Alumni, Bandung, hlm. 109.

(29)

26

Perlakuan kekerasan dalam rumah tangga dapat menyebabkan tauma. Korban kekerasan dalam rumah tangga dapat mengalami trauma fisik, psikologis (mental) dan psikososial antara lain:19

a. fisik berupa luka fisik, kerusakan syaraf, pingsan, cacat permanen, gugur kandungan, kehamilan, gangguan organ reproduksi (infeksi), penyakit kelamin dan kematian.

b. psikologis/mental berupa kehilangan nafsu makan, gangguan tidur (insomnia, mimpi buruk), cemas, takut, tidak percaya diri, hilang inisiatif/tidak berdaya, tidak percaya dengan apa yang terjadi, mudah curiga/paranoid, kehilangan akal sehat, depresi berat.

Seringkali akibat dari tindakan kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya menimpa korban secara langsung, tetapi juga anggota lain dalam rumah tangga secara tidak langsung. Tindakan kekerasan seorang suami terhadap istri atau sebaliknya, misalnya, dapat meninggalkan kesan negatif yang mendalam di hati mereka, anak-anak dan anggota keluarga yang lain.

Kesan negatif ini pada akhirnya dapat pula menimbulkan kebencian dan benih-benih dendam yang tak berkesudahan terhadap pelaku. Bukan itu saja, rumah tangga yang dibangun untuk kepentingan bersama akan berantakan. Tidak jarang pelaku turut menderita karena depresi dan tekanan mental berlebihan yang dialaminya akibat penyesalanyang tiada lagi berguna.20

Pelayanan dilakukan pada hari kerja yaitu Senin-Jumat pukul 08.00- 16.00 WIB. Untuk keperluan darurat layanan konseling dapat diberikan

19Hawari, Penyiksaan Fisik dan Mental dalam Rumah Tangga (Domestic Violence), hlm.

104.

20 Moammad Azzam Manan, Kekerasan dalam Rumah Tangga dalam Perspektif Sosiologis, Jurnal Legislasi Indonesia, Vol 5 No. 3, September 2008, hlm. 18.

(30)

27

selama 24 jam melalui nomor konselor. Adapun yang dimaksud dengan keperluan darurat apabila korban terancam keselamatannya atau membutuhkan pertolongan segera (misalnya baru saja menjadi korban perkosaan, penganiayaan) atau pada kondisi psikologis yang sangat berat seperti depresi dan akan bunuh diri. Segala bentuk layanan yang diberikan oleh Pusat Pelayanan terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak adalah gratis atau tidak dipungut biaya apapun. Pengurus Lembaga ini terdiri dari advokat, psikolog, tokoh agama dan paralegal. Untuk memperlancar kinerja P2TP2A berjejaring dengan Rumah Sakit, Puskemas, Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan.

Proses Pelayanan P2TP2A bagi Perempuan Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga.Dalam hal pelayanan pengaduan, klien melapor ke P2TP2A dengan cara datang secara langsung, melalui telepon atau merupakan rujukan dari lembaga lain.

a. Pelapor melapor secara langsung

Klien diterima oleh P2TP2A, mengisi form pengaduan secara tertulis dan ditandatangani. Biasanya yang melaporkan bisa kliennya, keluarga korban, bisa pendamping yang lain. Jadi tidak harus selalu korban.

b. Penanganan pengaduan melalui telepon

Unit pelayanan penerimaan pengaduan bagi korban kekerasan harus bisa diakses melalui telepon. Nomor telepon pengaduan bisa dibuat khusus (hotline) atau disediakan dengan menggunakan nomor telepon kantor reguler. Pengaduan melalui telepon diperlukan bagi korban yang tidak mampu mengakses layanan dengan datang langsung. Pengaduan melalui

(31)

28

telepon juga diperlukan bagi korban yang merasa belum siap bertemu langsung dengan petugas penerimaan pengaduan.21

c. Penanganan pengaduan melalui rujukan

Seringkali korban juga datang karena dirujuk oleh lembaga-lembaga lain. Dalam kasus ini, maka korban diterima sebagaimana korban yang datang secara langsung. Perbedaannya adalah sebelum mewancarai korban, petugas harus memeriksa terlebih dahulu surat rujukan maupun data-data yang dikirimkan oleh lembaga/individu perujuk. Dalam hal tidak ada surat rujukan ataupun data-data penyerta, maka langkah-langkah penanganannya sama dengan korban yang datang secara langsung.22

Alur pelayanan P2TP2A bagi klien dapat dilihat dalam bagan berikut.

Apabila korban melakukan pengaduan langsung, korban akan diterima selanjutnya diidentifikasi kemudian diregister. Setelah itu, korban mengisi data dan menandatangani formulir pengaduan yang menunjukkan korban setuju kasusnya ditangani oleh pihak P2TP2A. Berikutnya korban diarahkan pada konselor atau divisi yang terkait sehubungan dengan pelayanan yang dibutuhkan. Misalkan pelayanan hukum, medis, psikologis,

21 KPPPA Republik Indonesia, Prosedur Standar Operasional.

22 Ibid.

(32)

29

shelter (rumah aman), atau dirujuk ke lembaga lain yang berkaitan dengan masalah korban.23

Upaya P2TP2A dalam Mengatasi Masalah Kekerasan dalam Rumah Tangga

Upaya yang dilakukan P2TP2A dalam mengatasi masalah KDRT yaitu upaya pencegahan, upaya penanganan dan upaya pemulihan.

a. Upaya Pencegahan

Sebagai pencegahan dilakukan kegiatan sosialisasi dari lembaga P2TP2A yang bertujuan memberikan pelayanan bagi perempuan dan anak yang menjadi korban tindak kekerasan serta berupaya memberikan kontribusi terhadap pemberdayaan dan perlindungan perempuan dan anak dalam rangka terwujudnya kesetaraan gender. Selain memperkenalkan P2TP2A, juga sosialiasi mengenai bentuk-bentuk Kekerasan dalam rumah tangga, hukuman bagi pelaku kekerasan dalam rumah tangga dan lain sebagainya.

Selain sosialisasi pencegahan juga dilakukan penyuluhan.

Penyuluhan bertujuan memberikan informasi kepada masyarakat dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai Kekerasan dalam rumah dan pencegahanya.

b. Upaya Penanganan

Upaya penanganan dilakukan ketika kekerasan tersebut sudah terjadi. Upaya penanganan dilakukan dengan memberikan pelayanan medis, pelayanan psikologis, pelayanan hukum atau hanya sebatas konseling sesuai kebutuhan korban. Untuk mempermudah masyarakat

23 P2TP2A Sidoarjo

(33)

30

menjangkau P2TP2A dibentuk pos-pos pelayanan di setiap kecamatan yang pengurusnya pengurus PKK Desa.

c. Upaya Pemulihan

Pemulihan korban kekerasan dalam rumah tangga diarahkan pada pulihnya kondisi korban seperti semula baik fisik maupun psikis, sehingga korban dapat menjalankan aktifitasnya sehari-hari dan dapat hidup di tengah masyarakat seperti semula. Pemulihan korban dilakukan melalui pemberdayaan dan rehabilitasi sosial. Pemberdayaan dilakukan melalui pelatihan-pelatihan agar korban dapat mandiri dan tidak tergantung secara ekonomi kepada suami. Misalkan korban diberi keterampilan menjahit, memasak kemudian diberi modal usaha agar keterampilan yang diberikan tidak sia-sia.

Zatrow mendifinisikan konsep pemberdayaan (empowerment) sebagai proses menolong individu, keluarga, kelompok dan komunitas untuk meningkatkan kekuatan personal, interpersonal, sosial ekonomi, dan politik dan pengaruhnya terhadap peningkatan kualitas hidupnya .24

2. Definisi Perempuan

Memahami pengertian perempuan tentunya tidak bisa lepas dari persoalan fisik dan psikis. Dari sudut pandang fisik di dasarkan pada struktur biologis komposisi dan perkembangan unsur-unsur kimia tubuh.

Sedangkan Sudut pandang psikis didasarkan pada persifatan, maskulinitas atau feminitas. Perempuan dalam konteks psikis atau gender didefinisikan sebagai sifat yang melekat pada seseorang untuk menjadi feminim.

Sedangkan perempuan dalam pengertian fisik merupakan salah satu jenis

24 Ariefuzzaman dan Fuaida, Op. Cit., hlm. 51.

(34)

31

kelamin yang ditandai oleh alat reproduksi berupa rahim, sel telur dan payudara sehingga perempuan dapat hamil, melahirkan dan menyusui.

Dalam kamus bahasa indonesia disebutkan bahwa perempuan berarti jenis kelamin yakni orang atau manusia yang memiliki rahim, mengalami menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui.25 Sedangkan untuk kata

“wanita” biasanya digunakan untuk menunjukkan perempuan yang sudah dewasa.26

Adapun pengertian perempuan sendiri secara etimologis dalam bukunya Zaitunah Subhan.27 Perempuan berasal dari kata empu yang artinya dihargai. Lebih lanjut Zaitunah menjelaskan pergeseran istilah dari wanita keperempuan. Kata wanita dianggap berasal dari bahasa Sansekerta, dengan dasar kata wan yang berarti nafsu, sehingga kata wanita mempunyai arti yang dinafsui atau merupakan objek nafsu. Jadi secara simbolik mengubah penggunaan kata wanita ke perempuan adalah megubah objek menjadi subjek. Tetapi dalam bahasa Inggris wan ditulis dengan kata want atau men dalam bahasa Belanda, wun dan schen dalam bahasa Jerman.

Kata tersebut mempunyai arti like, wish, desire, aim. Kata want dalam bahasa Inggris bentuk lampaunya wanted. Jadi, wanita adalah who is being wanted (seseorang yang dibutuhkan) yaitu seseorang yang diingini.28

Para ilmuan seperti Plato, mengatakan bahwa perempuan ditinjau dari segi kekuatan fisik maupun spiritual, mental perempuan lebih lemah dari laki-laki, tetapi perbedaan tersebut tidak menyebabkan adanya

25 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, cet.2, ed.3 ,2002), h.856.

26 Ibid.h.1268

27 Zaitunah Subhan, op.cit., h.19 Zaitunah Subhan, Qodrat Permpuan Taqdir atau Mitos,(Yogyakarta:Pustaka Pesantren, 2004), 1.

28 Kamus Besar Bahasa Indonesia, op.cit., h.448

(35)

32

perbedaan29 suaranya lebih halus, perkembangan tubuh perempuan terjadi lebih dini, kekuatan perempuan tidak sekuat laki-laki dan sebagainya.

Perempuan mempunyai sikap pembawaan yang kalem, perasaan perempuan lebih cepat menangis dan bahkan pingsan apabila menghadapi persoalan berat.30 Sementara Kartini Kartono mengatakan, bahwa perbedaan fisiologis yang alami sejak lahir pada umumnya kemudian diperkuat oleh struktur kebudayaan yang ada, khususnya oleh adat istiadat, sistem sosial-ekonomi serta pengaruh pendidikan.31

Wanita, disebut juga perempuan, puteri, istri, ataupun ibu adalah sejenis mahkluk dari bangsa manusia yang halus kulitnya, lemah sendi tulangnya dan agak berlainan bentuk dari susunan bentuk tubuh lelaki.

Tuhan menjadikan Wanita agak berlainan bentuk susunan badannnya dan agak berlainan pula kekuatan, dan akal fikirannya dibandingkan dengan lelaki. Perbedaan itu mengandung kepentingan dan hikmah yang tidak dapat disangkal oleh pria maupun wanita. Secara terminologi, wanita adalah kata yang umum digunakan untuk menggambarkan perempuan dewasa.

Secara etimologi wanita berdasarkan asal bahasanya tidak mengacu pada wanita yang ditata atau diatur oleh lelaki. Arti wanita sama dengan perempuan yaitu bangsa manusia yang halus kulitnya, lemah sendi tulangnya dan agak berlainan bentuk dari susunan bentuk tubuh lelaki.32

Definisi Wanita menurut ahli psikologi ialah perempuan dewasa;

kaum putri (dewasa) yang berada pada rentang umur 20-40 tahun yang

29 Murtadlo Muthahari, Hak-hak Wanita dalam Islam, (Jakarta: Lentera, 1995), cet. Ke-3,h.108

30 Ibid., h.110-111

31 Kartini Kartono, Psikologi Wanita, Mengenal Gadis Remaja dan Wanita Dewasa,(Bandung: Mandar Maju, 1989), cet. Ke-2, h.4

32 Sarwono Sarlito W, Pengantar Psikologi Umum, (Jakarta: Rajawali Press, 2012), 123

(36)

33

notabene dalam penjabarannya yang secara teoritis digolongkan atau tergolong masuk pada area rentang umur di masa dewasa awal atau dewasa muda.33 Istilah adult atau dewasa awal berasal dari bentuk lampau kata adultus yang berarti telah tumbuh menjadi kekuatan atau ukuran yang sempurna atau telah menjadi dewasa.34

3. Perlindungan Perempuan

Perlindungan perempuan adalah segala upaya yang ditujukan untuk melindungi perempuan dan memberikan rasa aman dalam pemenuhan hak- haknya dengan memberikan perhatian yang konsisten dan sistematis yang ditujukan untuk mencapai kesetaraan gender.35 Kata perlindungan dan pelindungan berasal dari kata dasar yang sama, yaitu lindung. Namun, imbuhan dan proses penurunannya berbeda. Kata perlindungan diturunkan dari lindung berlindung perlindungan, sedangkan pelindungan diturunkan dari lindung melindungi pelindungan.

Dalam kerangka perlindungan hak asasi manusia, pada hakikatnya, perlindungan terhadap perempuan dan anak merupakan salah satu perwujudan hak untuk hidup, hak untuk bebas dari perhambaan (servitude) atau perbudakan (slavery). Hak asasi ini bersifat langgeng dan universal, artinya berlaku untuk setiap orang tanpa membeda bedakan asalusul, jenis kelamin, agama, serta usia sehingga, setiap negara berkewajiban untuk menegakkannya tanpa terkecuali. Sedangkan perlindungan Hukum menurut beberapa ahli seperti :

33 Sarwono Sarlito W, Pengantar Psikologi Umum, (Jakarta: Rajawali Press, 2012), 123

34 Sarwono Sarlito W, Pengantar Psikologi Umum….., 125.

35 www.kemenpppa.go.id/index.php/page/view/21

(37)

34

a. Perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman kepada hak asasi manusia yang dirugikan orang lain dan perlindungan tersebut diberikan kepada masyarakat agar mereka dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum atau dengan kata lain perlindungan hukum adalah berbagai upaya hukum yang harus diberikan oleh aparat penegak hukum untuk memberikan rasa aman, baik secara pikiran maupun fisik dari gangguan dan berbagai ancaman dari pihak manapun.36

b. Perlindungan hukum adalah perlindungan akan harkat dan martabat, serta pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia yang dimiliki oleh subyek hukum berdasarkan ketentuan hukum dari kesewenangan atau sebagai kumpulan peraturan atau kaidah yang akan dapat melindungi suatu hal dari hal lainnya. Berkaitan dengan konsumen, berarti hukum memberikan perlindungan terhadap hak-hak pelanggan dari sesuatu yang mengakibatkan tidak terpenuhinya hak-hak tersebut.37

c. Perlindungan hukum adalah penyempitan arti dari perlindungan, dalam hal ini hanya perlindungan oleh hukum saja. Perlindungan yang diberikan oleh hukum, terkait pula dengan adanya hak dan kewajiban, dalam hal ini yang dimiliki oleh manusia sebagai subyek hukum dalam interaksinya dengan sesama manusia serta lingkungannya. Sebagai subyek hukum manusia memiliki hak dan kewajiban untuk melakukan suatu tindakan hukum.38

36 Satjipto Rahardjo. Loc Cit. hlm. 74.

37 Philipus M. Hadjon. Loc Cit. hlm. 25

38 CST Kansil. Loc Cit. hlm. 102

(38)

35

d. Menurut Setiono, perlindungan hukum adalah tindakan atau upaya untuk melindungi masyarakat dari perbuatan sewenang- wenang oleh penguasa yang tidak sesuai dengan aturan hukum, untuk mewujudkan ketertiban dan ketentraman sehingga memungkinkan manusia untuk menikmati martabatnya sebagai manusia.39

e. Menurut Muchsin, perlindungan hukum merupakan kegiatan untuk melindungi individu dengan menyerasikan hubungan nilai- nilai atau kaidah-kaidah yang menjelma dalam sikap dan tindakan dalam menciptakan adanya ketertiban dalam pergaulan hidup antar sesama manusia.40

Menurut Muchsin, perlindungan hukum merupakan suatu hal yang melindungi subyek-subyek hukum melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dipaksakan pelaksanaannya dengan suatu sanksi.

Perlindungan hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

a) Perlindungan Hukum Preventif

Perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan dalam melakukan sutu kewajiban.

b) Perlindungan Hukum Represif

39 Setiono. Rule of Law (Supremasi Hukum). Surakarta. Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret. 2004. hlm. 3

40 Muchsin. Op Cit. hlm. 14

(39)

36

Perlindungan hukum represif merupakan perlindungan akhir berupa sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran.41

Menurut Philipus M. Hadjon, bahwa sarana perlindungan Hukum ada dua macam, yaitu :

1. Sarana Perlindungan Hukum Preventif

Pada perlindungan hukum preventif ini, subyek hukum diberikan kesempatan untuk mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum suatu keputusan pemerintah mendapat bentuk yang definitif. Tujuannya adalah mencegah terjadinya sengketa.

Perlindungan hukum preventif sangat besar artinya bagi tindak pemerintahan yang didasarkan pada kebebasan bertindak karena dengan

adanya perlindungan hukum yang preventif pemerintah terdorong untuk bersifat hati-hati dalam mengambil keputusan yang didasarkan pada diskresi.

2. Sarana Perlindungan Hukum Represif

Perlindungan hukum yang represif bertujuan untuk menyelesaikan sengketa. Penanganan perlindungan hukum oleh Pengadilan Umum dan Pengadilan Administrasi di Indonesia termasuk kategori perlindungan hukum ini. Prinsip perlindungan hukum terhadap tindakan pemerintah bertumpu dan bersumber dari konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi

41 Philipus M. Hadjon. Op Cit. hlm. 30

(40)

37

manusia karena menurut sejarah dari barat, lahirnya konsep-konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia diarahkan kepada pembatasan-pembatasan dan peletakan kewajiban masyarakat dan pemerintah. Prinsip kedua yang mendasari perlindungan hukum terhadap tindak pemerintahan adalah prinsip negara hukum. Dikaitkan dengan pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia, pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia mendapat tempat utama dan dapat dikaitkan dengan tujuan dari negara hukum.42

Pengertian perlindungan menurut ketentuan Pasal 1 butir 6 Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban menentukan bahwa perlindungan adalah segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman kepada Saksi dan/atau Korban yang wajib dilaksanakan oleh LPSK atau lembaga lainnya sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini.

Dalam upaya memberikan perlindungan hukum bagi perempuan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengeluarkan Deklarasi Penghapusan Diskriminasi Terhadap Perempuan, yang memuat hak dan kewajiban berdasarkan persamaan hak dengan laki-laki. Berdasarkan deklarasi ini komisi PBB tentang Kedudukan Perempuan menyusun rancangan Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women – CEDAW). Pada tanggal 18 Desember 1979, di Mexico City, Majelis Umum PBB menyetujui Konvensi Penghapusan

42 Ishaq. Dasar-dasar Ilmu Hukum. Jakarta. Sinar Grafika. 2009. hlm. 43

(41)

38

Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan Secara juridis (de jure) hak-hak perempuan di bidang, ekonomi, sosial,budaya, sipil dan politik yang menjadi substansi dari Konvensi CEDAW, telah diakui dunia internasional termasuk Indonesia yang telah meratifikasi Konvensi tersebut pada tahun 1984 dan sekaligus berkewajiban untuk melaksanakannya.

Karena konvensi tersebut tidak bertentangan dengan Pancasila maupun UUD 1945, maka Pemerintah Republik Indonesai ikut menanda tangani konvensi tersebut dan diratifikasi dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan hal tersebut mengikat Indonesia untuk melaksanakan perlakuan untuk tidak membeda- bedakan hak-hak perempuan dan laki-laki di segala bidang kehidupan.Disini jelas terlihat bahwa negara mempunyai komitmen terhadap perlindungan hak-hak perempuan, ditambah lagi komitmen khusus yakni perlindungan terhadap diskriminasi, dan bahkan penghapusan terhadap diskriminasi itu sendiri.

Setiap perempuan warga negara Indonesia memiliki hak konstitusional yang sama dengan warga negara Indonesia yang laki-laki, yakni hak atas status kewarganegaraan; hak atas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan; hak untuk hidup serta mempertahankan hidup dan kehidupannya; hak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang;

hak untuk mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasar, mendapatkan pendidikan, dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya; hak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia bermartabat; hak

(42)

39

untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosial; hak mendapat pendidikan; hak atas kemerdekaan pikiran dan hati nurani; hak atas kebebasan meyakini kepercayaan; hak untuk bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya; hak untuk bebas memilih pendidikan, pengajaran, pekerjaan, kewarganegaraan, tempat tinggal; hak atas kebebasan berserikat dan berkumpul; hak untuk menyatakan pikiran dan sikap sesuai hati nurani;

hak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia; hak atas penghidupan dan pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan; hak untuk bekerja dan memperoleh imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja; hak untuk tidak diperbudak;

hak untuk mempunyai hak milik pribadi; hak untuk bertempat tinggal; hak untuk hidup sejahtera lahir dan batin; hak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat; hak untuk memperoleh layanan kesehatan; hak untuk membentuk keluarga; hak atas pengakuan, jaminan dan perlindungan dan kepastian hukum yang adil; hak bebas dari ancaman, diskriminasi dan kekerasan; hak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan harta benda yang di bawah kekuasaannya; hak untuk memajukan dirinya dan memperjuangkan haknya secara kolektif dan hak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat.43

43 Achie Sudiarti Luhulima (Ed), Bahan Ajar tentang Hak Perempuan, UU No.7 Tahun 1984

Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita, Jakarta:

Convention Watch UI dan Yayasan Obor Indonesia, 2007), hlm, 94.

(43)

40

Perempuan berhak memperoleh perlindungan hak-hak asasi manusia.

Kekerasan terhadap perempuan merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia, yang dapat berupa pelanggaran terhadap :

1. Hak atas kehidupan 2. Hak atas persamaan

3. Hak atas kemerdekaan dan keamanan pribadi 4. Hak atas perlindungan yang sama di muka umum

5. Hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan fisik maupun mental yang sebaik-baiknya

6. Hak atas pekerjaan yang layak dan kondisi kerja yang baik 7. Hak untuk pendidikan lanjut

8. Hak untuk tidak mengalami penganiayaan atau bentuk kekejaman lain, perlakuan atau penyiksaan secara tidak manusiawi yang sewenang-wenang.

Dapat dikatakan bahwa perempuan berhak untuk menikmati dan memperoleh perlindungan hak asasi manusia dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil, dan bidang-bidang lainya.

Bentuk-bentuk perlindungan hukum bagi perempuan yang ada dalam khasanah Hukum Pidana Indonesia secara umum diatur dalam KUHP dan secara khusus diantaranya diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Namun demikian masih perlu upaya-upaya untuk pelaksanaan undang-undang tersebut baik secara teknis peraturan di bawahnya maupun sarana dan prasarananya.

(44)

41

Lahirnya Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) merupakan upaya negara untuk memberikan perlindungan hukum bagi perempuan korban kekerasan dalam lingkungan rumah tangganya sendiri. Sistem perlindungan bagi perempuan korban kekerasan tersebut termuat dalam Pasal 16 – 20 mengenai peran kepolisian dalam memberikan perlindungan bagi perempuan, sebagai berikut :

a. Dalam waktu 1 X 24 (satu kali dua puluh empat) jam terhitung sejak mengetahui atau menerima laporan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, kepolisian wajib segera memberikan perlindungan sementara pada korban, yang diberikan paling lama 7 (tujuh) hari sejak korban diterima atau ditangani.

b. Dalam waktu 1 X 24 (satu kali dua puluh empat) jam terhitung sejak diberikannya perlindungan sementara terhadap korban, kepolisian wajib meminta surat penetapan perintah perlindungan dari pengadilan.

c. Dalam memberikan perlindungan sementara, kepolisian dapat bekerjasama dengan tenaga kesehatan, pekerja sosial, relawan pendamping, dan / atau pembimbing rohani untuk mendampingi korban.

Referensi

Dokumen terkait

Ketiga berkaitan dengan spiritualitas, wawasan dunia Kris- ten memperluas pemahaman tentang Allah dan Trinitas yang peran, natur dan eksistensinya memben- tuk

Tabel 4.16 Hasil pengujian respon sistem terhadap perubahan

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “apakah ekstrak etanol daun dewa (Gynura pseudochina (L) DC) dapat menurunkan

Kerjasamanya bisa antar pustakawan maupun dengan sesama perpustakaan.” Lebih lanjut Epstein menyatakan bahwa “ide­ide kreatif tidak muncul begitu saja dari dalam otak kita, melainkan

Tabel ini menunjukkan tanggapan responden unsur masyarakat tentang pelaksanaan tugas camat Bukit Raya dalam pengelolaan kebersihan aspek koordinasi dengan dinas

Pada tahap ini pelaksanaan dilakukan oleh peneliti sendiri sebagai guru sekaligus praktis dalam pembelajaran dikelas dalam kolaborasi dengan guru kelas IV SD N citigeu

Ekstrak kasar enzim lipase kemudian diuji aktivitasnya dengan metode Titrimetri dan diukur kadar proteinnya dengan metode Lowry.. Uji aktivitas enzim lipase metode Titrimetri

Penyusunan Renja Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga ini sebagai implementasi Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Perencanaan Pembangunan Nasional dan