BAB IV
ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS
4.1 Telaah Kebijakan
4.1.1 Telaah Kebijakan Pembangunan Nasional
A. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.
Sembilan Agenda Prioritas
Untuk menunjukkan prioritas dalam jalan perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan, dirumuskan sembilan agenda prioritas dalam pemerintahan ke depan.
Kesembilan agenda prioritas itu disebut NAWA CITA.
1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara.
2. Membuat Pemerintah selalu hadir dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya.
3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.
4. Memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.
5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia.
6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar Internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.
7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.
8. Melakukan revolusi karakter bangsa.
9. Memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.
Sasaran Pokok Pembangunan Nasional
Sesuai dengan visi pembangunan “Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong”, maka pembangunan nasional 2015-2019 akan diarahkan untuk mencapai sasaran utama yang mencakup:
1. Sasaran Makro;
2. Sasaran Pembangunan Manusia dan Masyarakat:
3. Sasaran Pembangunan Sektor Unggulan;
4. Sasaran Dimensi Pemerataan;
5. Sasaran Pembangunan Wilayah dan Antarwilayah;
6. Sasaran Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan.
1. Sasaran Makro terdiri dari
a) pembangunan manusia dan masyarakat (Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indeks Pembangunan Masyarakat, Indeks Gini, Meningkatnya kepesertaan penduduk dalam SJSN bidang kesehatan dan ketenagakerjaan) b) ekonomi makro (pertumbuhan ekonomi, PDRB perkapita, inflasi, rasio pajak tahun dasar 2010, tingkat kemiskinan, dan tingkat pengangguran terbuka).
2. Sasaran Pembangunan Manusia dan Masyarakat meliputi:
a) Kependudukan dan Keluarga Berencana b) Pendidikan
c) Kesehatan
d) Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan e) Perlindungan Anak
f) Pembangunan Masyarakat
3. Sasaran Pembangunan Sektor Unggulan terdiri dari:
a) Kedaulatan Pangan b) Kedaulatan Energi c) Maritim dan Kelautan
d) Pariwisata dan Industri Manufaktur e) Ketahanan Air
f) Infrastruktur Dasar dan Konektivitas g) Lingkungan
4. Sasaran dimensi pemerataan meliputi:
a) Menurunkan Kesenjangan Antar Kelompok Ekonomi
b) Meningkatkan Cakupan Pelayanan Dasar dan Akses Terhadap Ekonomi Produktif Masyarakat Kurang Mampu.
d) Kepesertaan Program SJSN Ketenagakerjaan e) Meningkatkan Kualitas dan Keterampilan Pekerja
5. Sasaran Pembangunan Wilayah dan Antarwilayah terdiri dari:
a) Pemerataan Pembangunan Antar Wilayah b) Pembangunan Perdesaan
c) Pengembangan Kawasan Perbatasan d) Pembangunan Daerah Tertinggal
e) Pembangunan Pusat-Pusat Pertumbuhan Ekonomi Luar Jawa f) Pembangunan Kawasan Perkotaan
6. Sasaran Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan terdiri dari:
a) Politik Dan Demokrasi b) Penegakan Hukum
c) Tata Kelola dan Reformasi Birokrasi
d) Penguatan Tata Kelola Pemerintahan Daerah e) Pertahanan Dan Keamanan
B. Standar Pelayanan Minimal
Dalam rangka optimalisasi pelayanan publik, perlu didorong percepatan pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal di yang terkait sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan standar Pelayanan Minimal. Adapun pada tahun 2014 telah dilaksanakan 15 (lima belas) SPM (Standar Pelayanan Minimal) yang akan disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan, prioritas dan kemampuan keuangan daerah serta kemampuan kelembagaan personil daerah dalam bidang bersangkutan, dengan rincian Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebagai berikut:
a. Bidang Kesehatan, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 741/MENKES/PER/VII/2008 tentang SPM Bidang Kesehatan.
b. Bidang Pemerintahan Dalam Negeri, berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 62 Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pemerintahan Dalam Negeri Kabupaten/Kota.
c. Bidang Sosial, berdasarkan Peraturan Menteri Sosial Nomor 129/HUK/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Sosial Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota.
d. Bidang Perumahan Rakyat, berdasarkan Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 22/PERMEN/M/2008 tentang standar Pelayanan Minimal Bidang Perumahan Rakyat Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota.
e. Bidang Pendidikan Dasar, berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pendidikan Dasar.
f. Bidang Pekerjaan Umum, berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2010 tanggal 25 Oktober 2010 tentang SPM Bidang Pekerjaan Umum.
4.1.2 Telaah Kebijakan Pembangunan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Kebijakan umum dan program pembangunan daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2012 - 2017, disusun berdasarkan Misi Pembangunan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2012 – 2017 dengan mempedomani Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Nasional Tahun 2010 – 2014 serta dengan mempertimbangkan isu-isu internasional, isu-isu nasional dan isu-isu daerah.
Berdasarkan analisis isu-isu strategis dan memperhatikan visi, misi, tujuan dan sasaran yang disampaikan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih, maka telah dirumuskan 12 (dua belas) program unggulan daerah yang menjadi program prioritas pembangunan daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selama periode tahun 2012 – 2017. Adapun program unggulan tersebut yaitu:
1. Pengembangan One Village One Product (OVOP) dan koperasi komoditi.
2. Pengembangan Pariwisata.
3. Penguatan rural urban linkages.
4. Pengembangan infrastruktur dan peningkatan konektivitas antar wilayah 5. Peningkatan kualitas lingkungan hidup.
7. Peningkatan manajemen pemerintahan dan aparatur.
8. Peningkatan kualitas Pendidikan Wajib Belajar 12 Tahun.
9. Peningkatan Pelayanan Kesehatan.
10. Pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan.
11. Pengendalian pemanfaatan ruang.
12. Program SATAM EMAS.
4.1.3 Telaah Kebijakan Pemerintah Kabupaten/Kota A. Kabupaten Bangka Tengah
1. Pengendalian Potensi Konflik Daerah Perbatasan.
2. Pembangunan Daerah Perbatasan.
3. Peningkatan Kerja Sama Antar Daerah Bidang Pelayanan Kesehatan dan Pendidikan.
4. Peningkatan Koordinasi dan Percepatan Pembangunan Wilayah Perbatasan Melalui Percepatan Penyediaan Infrastruktur Dasar di Wilayah Perbatasan.
5. Peningkatan Kerja Sama Ekonomi Masyarakat Melalui Aktivitas Perdagangan Lintas Batas.
B. Kabupaten Belitung
1. Peningkatan kerjasama ekonomi masyarakat melalui aktivitas perdagangan lintas batas.
2. Peningkatan kerjasama antar daerah bidang transportasi laut.
C. Kabupaten Ogan Komering Ilir
1. Peningkatan kerjasama antar daerah bidang transportasi laut.
4.1.4 Telaah Rencana Tata Ruang Wilayah Kab. Bangka Selatan 4.1.4.1 Rencana Struktur Ruang
Rencana struktur ruang wilayah kabupaten merupakan kerangka tata ruang wilayah kabupaten yang tersusun atas konstelasi pusat-pusat kegiatan yang berhierarki satu sama lain yang dihubungkan oleh sistem jaringan prasarana wilayah kabupaten terutama jaringan transportasi.
Pusat kegiatan di wilayah kabupaten Bangka Selatan merupakan simpul pelayanan sosial, budaya, ekonomi, dan/atau administrasi masyarakat di wilayah kabupaten, yang terdiri atas : a) PKL yang berada di wilayah kabupaten, b) Pusat-pusat lain di dalam wilayah kabupaten yang wewenang penentuannya ada pada pemerintah daerah kabupaten, yaitu Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) merupakan kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa dan Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) merupakan pusat permukiman yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa.
A. Rencana Pusat-Pusat Kegiatan A.1 Pusat Kegiatan Lokal (PKL)
Fungsi kawasan perkotaan di Kabupaten Bangka Selatan ditetapkan dalam rencana tata ruang wilayah kabupaten ini sebagai berikut:
1. Toboali
Ibu Kota Kecamatan Toboali diharapkan menjadi pusat pertumbuhan penting di Kabupaten Bangka Selatan, dengan kekuatan pada perdagangan dan jasa. Ibu Kota Kecamatan Toboali nantinya diarahkan melayani kawasan kecamatan di sekitarnya dan juga kawasan- kawasan yang ada di Kabupaten Bangka Selatan.
2. Payung
Ibu Kota Kecamatan Payung merupakan daerah pusat pengembangan sektor perdagangan, wilayah ini diarahkan untuk melayani beberapa Kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan.
A.2 Pusat Pelayanan Kawasan (PPK)
Pusat Pelayanan Kawasan di Kabupaten Bangka Selatan berada di Air Gegas, Sadai di Kecamatan Tukak Sadai, dan Batu Betumpang di Kecamatan Pulau Besar.
Pengembangan PPK disesuaikan dengan ketersediaan dan daya dukung lahan terhadap kegiatan yang akan dikembangkan dimasa yang akan datang.
a. Pusat pemerintahan, fasilitas pelayanan umum, perdagangan dan jasa, merupakan
tersebut dan dialokasikan di ibukota kecamatan sebagai pengikat lingkungan dan fasilitas bersosialisasi. Untuk merangsang pertumbuhan pusat pelayanan sekunder ini, maka pengalokasiannya diarahkan pada simpul-simpul jalan utama kawasan/kota yang mempunyai aksesibilitas baik, sehingga mudah dijangkau dari seluruh bagian wilayah kotanya. Jenis kelengkapan fasilitas pendukung yang dikembangkan di pusat pelayanan sekunder ini berupa: Kantor Kecamatan, Balai Pertemuan/GSG, Kantor Polsekta, Kantor Pos Pembantu, Bank Cabang Pembantu dan jasa keuangan lainnya, Fasilitas Pemadam Kebakaran dengan skala pelayanan lingkungan, Supermarket, Pertokoan ataupun Ruko, Fasilitas Ibadah, Fasilitas Pendidikan hingga setara SLTA/SMEA, Puskesmas, Balai Pengobatan, Poliklinik, Balai Pertemuan/GSG, Rumah makan/Restoran/Pujasera, Salon kecantikan, Taman bermain, Lapangan olahraga, dan fasilitas pendukung lainnya.
b. Pusat perdagangan dan jasa, serta fasilitas pelayanan umum di luar ibukota kecamatan dan berfungsi sebagai pusat orientasi yang memberikan pelayanan bagi penduduk dan sebagai pengikat lingkungan untuk berinteraksi dan bersosialisasi antarmasyarakat.
A.3 Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL)
Pusat Pelayanan Lingkungan di Kabupaten Bangka Selatan ditetapkan di pusat- pusat desa sebagai pusat pelayanan bagi desa itu sendiri atau beberapa desa di sekitarnya.
Jenis fasilitas yang akan dikembangkan, diantaranya:
a. Balai Pertemuan/GSG;
b. Taman bermain dan Lapangan olahraga;
c. Kantor pos pembantu/Warpostel dan Telepon umum;
d. Fasilitas Pemadam Kebakaran dengan skala pelayanan lingkungan;
e. Pasar, Supermarket, Pertokoan ataupun Ruko, Pujasera dan kegiatan komersial lainnya;
f. Fasilitas ibadah;
g. Fasilitas pendidikan, seperti TK, SD dan SLTP;
h. Balai Pengobatan, Poliklinik ataupun Tempat Praktek Dokter dan Apotik;
i. Fasilitas rekreasi dan olahraga;
j. Taman bermain;
k. Fasilitas pendukung lainnya.
Rencana pusat pelayanan lingkungan (PPL) di Kabupaten Bangka Selatan terletak di penutuk Kecamatan Lepar Pongok dan Kecamatan Simpang Rimba.
4.1.4.1 Rencana Pola Ruang A. Kawasan Lindung A.1 Hutan Lindung
Kawasan hutan lindung yang dikelola negara direncanakan seluas 18.115 Ha.
Penetapan batas dan luasan kawasan Hutan Lindung Kabupaten Bangka Selatan didasarkan pada SK. Menhut No. 357/Menhut-II/2004. Kawasan hutan lindung di Kabupaten Bangka Selatan diarahkan pada kawasan- kawasan diantaranya sebagai berikut :
a) kawasan hutan lindung Gunung Muntai di Kecamatan Toboali dengan luas 1.420 hektar;
b) kawasan hutan lindung Bukit Bebuluh di Kecamatan Air Gegas dengan luas 986 hektar;
c) kawasan hutanlindung Gunung Permisan di Kecamatan Simpang Rimba dengan luas 1.317 hektar;
d) kawasan hutan lindung di Kecamatan Tukak Sadai dengan luas 525 hektar;
dan
e) kawasan hutan lindung di Kecamatan Pulau Besar dengan luas 1.736 hektar;
A.2 Kawasan yang memberikan Perlindungan bagi Kawasan Bawahannya
Kawasan yang memberikan perlindungan bagi kawasan bawahannya diantaranya adalah:
a) Kawasan bergambut terdapat di seluruh Kecamatan di wilayah Kabupaten Bangka Selatan dengan luas sekitar 20.630 Ha.
b) Kawasan resapan air (konservasi) terdapat Kecamatan Payung dengan luas sekitar 1.712.Ha
A.3 Kawasan Perlindungan Setempat A.3.1 Sempadan Sungai
Kawasan sempadan sungai berada pada semua wilayah yang dilewati oleh sungai. Kawasan sempadan sungai terdapat di sisi sungai Bantel, sungai Kepuh, sungai Bangka Kota, sungai Kurau, dan sungai Kepoh, Yang termasuk dalam kawasan sempadan sungai adalah:
1. Daratan sepanjang tepian sungai besar tidak bertanggul diluar kawasan permukiman dengan lebar 100 (seratus) meter dari tepi sungai;
2. Daratan sepanjang tepian anak sungai tidak bertanggul diluar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 50 (lima puluh) meter dari tepi sungai; dan
3. Untuk sungai dikawasan permukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10 – 15 meter.
Luas kawasan sempadan sungai direncanakan 2.167,56 Ha.
A.3.2 Sempadan Pantai
Kawasan sempadan pantai sebagaimana di Kabupaten Bangka Selatan terdapat di Kecamatan Pulau Besar, Toboali, Air Gegas, Tukak Sadai, Simpang Rimba dan Lepar Pongok, dengan ketentuan :
1. Daratan sepanjang tepian laut dengan jarak minimal 100 meter dari titik pasang air laut tertinggi ke arah darat; atau
2. Daratan sepanjang tepian laut yang bentuk dan kondisi fisik pantainya curam atau terjal dengan jarak proporsional terhadap bentuk dan kondisi fisik pantai.
Luas kawasan sempadan pantai direncanakan 3.610,53 Ha.
A.3.3 Sempadan Kolong
Kawasan sempadan kolong terdapat di seluruh kecamatan dengan ketentuan :
1. daratan sepanjang tepian kolong tidak bertanggul diluar kawasan permukiman dengan lebar 100 (seratus) meter dari tepi kolong;
2. daratan sepanjang tepian kolong tidak bertanggul diluar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 50 (lima puluh) meter dari tepi kolong; dan
3. untuk kolong dikawasan permukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10 – 15 meter
A.4 Kawasan Rawan Bencana Alam
A.4.1 Kawasan Rawan Gelombang Pasang
Kawasan rawan gelombang pasang berada di kawasan pantai yang memiliki kemiringan pantai yang landai. Arahan lokasi kawasan rawan bencana gelombang pasang adalah kawasan pesisir pantai terdapat di kawasan pesisir Kecamatan Pulau Besar, Air Gegas, Toboali, Lepar Pongok dan pulau- pulau kecil.
A.4.2 Lokasi Rawan Banjir
Kawasan rawan banjir di Kabupaten Bangka Selatan tersebar di beberapa kawasan diantaranya terdapat di Kecamatan Pulau Besar dan Air Gegas.
A.5 Kawasan Lindung Lainnya
Kawasan lindung lainnya di Kabupaten Bangka Selatan adalah kawasan terumbu karang yang tersebar di beberapa kawasan diantaranya :
1) Pantai Di Pulau Lepar, 2) Pulau Liat,
3) Pulau Kelapan, 4) Pulau Ibul, 5) Pulau Burung, 6) Pulau Tinggi, 7) Pulau Anak Air;
8) Pulau Panjang;
B. Kawasan Budidaya
B.1 Hutan Produksi
Kawasan hutan produksi merupakan kawasan budidaya yang berfungsi lindung, kawasan hutan produksi tetap adalah kawasan hutan produksi yang pengusahaannya milik pemerintah. Rencana penetapan luas kawasan peruntukan hutan produksi di Kabupaten Bangka Selatan adalah sekitar 93.817,94 Ha. Terdapat di Kecamatan Toboali, Air Gegas dan Simpang Rimba.
B.2 Hutan Rakyat
Rencana pengembagan kawasan hutan tanaman rakyat di Kabupaten Bangka Selatan adalah sebesar 46.021,37 Ha. Rencana sebaran untuk lokasi kawasan hutan tanaman rakyat Kabupaten Bangka Selatan tersebar di Kecamatan Simpang Rimba, Payung, Air Gegas, Lepar Pongok.
B.3 Kawasan Peruntukan Pertanian B.3.1 Pertanian Tanaman Pangan
Rencana pengembangan kawasan peruntukan tanaman pangan di Kabupaten Bangk Selatan terletak di kecamatan Toboali, Air Gegas, Payung, dan Pulau Besar dengan luas kurang lebih 45.000 Ha.
B.3.2 Pertanian Hortikultura
Rencana lokasi pengembangan kawasan budidaya tanaman hortikultura berada di Kecamatan Toboali dan Payung dengan luas kurang 20.956,89 Ha. Kawasan budidaya tanaman hortikultura di Kabupaten Bangka Selatan yang sebagian besarnya merupakan pertanian lahan kering.
B.3.3 Sentra Peternakan
Pengembangan sentra peternakan di Kabupaten Bangka Selatan akan direncanakan di Semua Kecamatan yang ada di Bangka Selatan.
B.4 Kawasan Peruntukan Perkebunan
Peruntukan perkebunan di Kabupaten Bangka Selatan mempunyai komoditi karet, lada, dan kelapa sawit. Kawasan perkebunan di Kabupaten Bangka Selatan akan dikembangkan seluas kurang lebih 180.000 Ha.
B.5 Kawasan Peruntukan Perikanan B.5.1 Perikanan Budidaya
Pengembangan kawasan budidaya perikanan akan dikembangkan di perairan laut Kecamatan Lepar Pongok dan Kecamatan Toboali dengan luas 17.374,44 Ha.
B.5.2 Perikanan Tangkap
Dari beberapa penjelasan diatas, pola pemanfaatan ruang budidaya perikanan di Kabupaten Bangka Selatan dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut.
Tabel 4.6 Pemanfaatan Ruang Pengembangan Minapolitan
Pola Pemanfaatan Ruang Lokasi Keterangan
Perikanan Tangkap Sadai, Tukak, Penutuk, Tj Labu, Tj Sangkar,
Pongok, Celagen Perikanan Bagan,
Pancing, Jaring Budidaya Perikanan Sadai, P Tinggi, P Panjang, Tj Labu, Tj
Sangkar, dan Pongok Rumput Laut dan KJA Industri Agropolitan-
Minapolitan Sadai Industri Pengolahan
Hasil Perikanan
Pelabuhan Umum Sadai Pelabuhan Umum
Pelabuhan Rakyat Tukak, Penutuk, Tj Labu, Tj Sangkar, P
Panjang, Pongok, Celagen Dermaga Jetty Pengembangan Sarana
Perikanan Sadai, Tukak, Penutuk, Tj Labu, Tj Sangkar,
P Panjang, Pongok, Celagen TPI, PPI, Coldstorage, Pengolahan, dll Sumber : Hasil Rencana, Tahun 2011
B.6 Kawasan Peruntukan Pertambangan
Kawasan pertambangan mineral tersebar di Kecamatan Payung, Toboali dan Air Gegas dengan luas kawasan 42.054 Ha, termasuk wilayah penambangan laut yang akan dikembangkan di perairan laut Kabupaten Bangka Selatan. sedangkan untuk kawasan pertambangan WPR (Wilayah Penambangan Rakyat) di kembangkan di Kecamatan Payung, Air Gegas dan Toboali dengan luas WPR sekitar 459,81 Ha.
B.7 Kawasan Peruntukan Industri
Proporsi penggunaan lahan untuk Kawasan Industri Sadai dan Sekitarnya yang meliputi areal seluas 3.086 Ha. Jenis-jenis Industri yang akan dikembangkan di Kawasan Industri Sadai dan sekitarnya adalah jenis-jenis Industri maritim dan non Industri baik yang bersifat polutif maupun non polutif. Industri tersebut berupa agro dan non agro.
B.8 Kawasan Peruntukan Pariwisata
Pengembangan kawasan peruntukan pariwisata di Kabupaten Bangka Selatan adalah seluas 1.540,2 Ha. Secara administrasi Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan telah memiliki 17 (tujuh belas) lokasi potensial wisata yang telah diperdakan serta beberapa arahan dari Dinas terkait khususnya Dinas Pariwisata, Seni & Budaya terhadap kawasan wisata yang dimaksudkan serta pulau- pulau kecil. 17 lokasi yang diprioritaskan tersebut adalah sebagai berikut:
No Nama Lokasi Wisata Spesifikasi Wisata Lokasi (Kecamatan) Luas ( Ha )
1. Benteng Toboali Wisata Sejarah Toboali 4,7
2. Pantai Gunung Namak Wisata Bahari Toboali 249
3. Pantai Tanjung Kerasak Wisata Bahari Tukak Sadai 240
4. Pantai Batu Ampar Wisata Bahari Toboali 63,03
5. Pantai Tanjung Kelayang Wisata Bahari Toboali 73,8
6. Air Panas Nyelanding Wisata Tirta Air Gegas 4
7. Air Terjun Bukit Pading Wisata Tirta Air Gegas 10
8. Pantai Batu Betumpang Wisata Bahari Pulau Besar 15
9. Makam Karang Panjang Wisata Sejarah Simpang Rimba 0,35
10. Air Panas Perimis Wisata Tirta Simpang Rimba 3,37
11. Pantai Batu Bedaun Wisata Bahari Simpang Rimba 10
12. Bukit Nenek Wisata Alam Simpang Rimba 234,44
13. Kreo Panting Wisata Sejarah Payung 0,25
14. Pantai Tanjung Labu Wisata Bahari Lepar Pongok 83,3
15. Pantai Batu Tabun Wisata Bahari Lepar Pongok 30,1
16. Pantai Terumbu Wisata Bahari Lepar Pongok 10
17. Benteng Penutuk Wisata Sejarah Lepar Pongok 10
Sedangkan pulau- pulau kecil yang berpotensi dikembangkan sebagai kawasan wisata diantaranya; pantai di Pulau Lepar, Pulau Liat, Pulau Selamar, Pulau Kelapan, Pulau Ibul, Pulau Burung, Pulau Tinggi, Pulau Anak Air; Pulau Panjang; dan pantai timur Kecamatan Toboali.
B.9 Kawasan Peruntukan Permukiman
Kawasan peruntukan permukiman diperuntukan bagi penyediaan hunian dan sejenisnya. Kawasan ini dibedakan atas kawasan permukiman perdesaan dan kawasan permukiman perkotaan.
Pengembangan kawasan permukiman perdesaan dan perkotaan disesuaikan dengan proporsi jumlah penduduk di masing-masing kawasan. Secara keseluruhan, pertambahan permintaan akan kawasan permukiman ke depan meningkat dari luas kawasan permukiman saat ini. Rencana pengembangan kawasan permukiman di Kabupaten Bangka Selatan hingga tahun 2031, yang terdiri dari 3.287,08 hektar peruntukan pengembangan kawasan perkotaan dan 1.393,46 hektar kawasan pedesaan.
a) Kawasan Permukiman Perkotaan
Adapun arahan kawasan permukiman perkotaan diarahkan pada wilayah- wilayah yang secara eksisitng sudah menjadi permukiman (permukiman swadaya) secara linear mengikuti perkembangan jaringan jalan dan tidak mengarah pada wilayah sempadan pantai dan tidak mengekspansi hutan lindung dengan luas 3.287,08 Ha. Rencana pembangunan permukiman perkotaan di Kabupaten Bangka Selatan, diarahkan pada:
1) Kecamatan Toboali
Dikembangkan di ibukota Kabupaten Bangka Selatan dan beberapa kawasan- kawasan yang telah berkembang.
2) Kecamatan Payung
Tersebar di kawasan-kawasan permukiman perkotaan, kawasan Ibukota Kecamatan, kawasan-kawasan agropolitan (Kota Terpadu Mandiri/KTM).
3) Kecamatan Air Gegas
Tersebar di kawasan-kawasan permukiman perkotaan, kawasan Ibukota Kecamatan, dan kawasan sentra pertanian.
b) Kawasan Permukiman Pedesaan
Pengembangan kawasan permukiman perdesaan di Kabupaten Bangka Selatan
keseimbangan kawasan peruntukan lainnya seperti pertanian tanaman pangan dan kawasan lindung.
Rencana kawasan permukiman perdesaan di Kabupaten Bangka Selatan seluas 1.393,46 ha yang terletak di seluruh kecamatan yang tersebar di kawasan- kawasan permukiman perdesaan, kawasan Ibukota Kecamatan, kawasan- kawasan sentra pertanian, dan kawasan-kawasan sentra perikanan laut.
Perluasan areal permukiman tetap diperbolehkan dengan tetap memperhatikan kelestarian kawasan pertanian yang merupakan peruntukan dominan di perdesaan.
B.8 Pending Zone (Usulan Perubahan Fungsi Hutan Menjadi Peruntukan Lainnya) Pending zone merupakan usulan perubahan fungsi kawasan hutan menjadi peruntukan lainnya yang sudah diajukan ke Kementerian Kehutanan, yang dimaksud peruntukan lainnya meliputi kawasan perkantoran pemda, pengembangan kota baru, dan upaya pengembangan percetakan sawah, luas pending zone di Kabupaten Bangka Selatan seluas 8.139,56 Ha.
Untuk lebih jelasnya luas rencana pola ruang Kabupaten Bangka Selatan dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7 Rencana Pola Ruang Kabupaten Bangka Selatan
Rencana Pola Ruang Luas (Ha) %
Budidaya Darat Kawasan Lindung
Kawasan konservasi 1.712 0,81
Hutan lindung 18.155 6,79
Kawasan bergambut 20.630,94 5,72
Sempadan pantai 3.610,53 1,00
Sempadan sungai 2.167,56 0,60
Total Kawasan Lindung 53.800,82 15
Kawasan Budidaya
Rencana Pola Ruang Luas (Ha) %
Hutan produksi 93.817,94 26,01
Hutan rakyat 46.021,37 12,76
Industri 3.086 0,86
Pariwisata 1.540,2 0,43
Perkebunan 180.000 25,79
Permukiman pedesaan 1.393,46 0,39
Permukiman perkotaan 3.287,08 0,91
Pertambangan 19.879,88 5,51
Wilayah Penambangan Rakyat (WPR) 459,81 0,13
Pertanian tanaman pangan 45.000 4,24
Pertanian hortikultura 20.956,89 5,81
Pending zone (usulan perubahan fungsi
hutan menjadi peruntukan lainnya) 8.139,56 2,26
Total Kawasan Budidaya 306.907,13 85
Luas Total Budidaya Darat 360.708,00 100,00
Budidaya Laut
Budidaya Perikanan 17.374,44 14,13
Perikanan Tangkap 126.410,35 76,92
Wilatah tambang laut 20.554 12,51
Luas Total Budidaya Laut 164.338,79 100,00
Sumber : Hasil Rencana, Tahun 2011
4.1.4 Telaah Rencana Jangka Panjang Daerah Kab. Bangka Selatan
Visi pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Bangka Selatan Tahun 2005 - 2025 adalah ”Terwujudnya Bangka Selatan Yang Maju Dan Sejahtera Berbasis Agrokultur Dan Agroindustri Yang Berwawasan Lingkungan Didukung Sumber Daya Manusia Berkualitas Dan Pemerintahan Yang Amanah”. Dalam upaya mewujudkan visi pembangunan jangka panjang daerah, maka dirumuskan misi pembangunan sebagai
1. Mewujudkan sentra pertanian dan kelautan yang maju dan modern berbasis agrokultur dan agroindustri dengan penekanan pada upaya pemanfaatan, pengembangan dan pengelolaan potensi daerah Kabupaten Bangka Selatan sebagai daerah penghasil produk pertanian dan kelautan unggulan seperti lada, cengkeh, karet, ikan dan produk perikanan.
2. Mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, berdaya saing dan mengutamakan moral dan etika melalui peningkatan mutu pendidikan dan kesehatan; pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasis sumber daya lokal; peningkatan kehidupan keagamaan yang damai, penuh toleransi dan harmonis; serta pemantapan Imtaq.
3. Meningkatkan kualitas aparatur yang amanah dan pelayanan publik yang prima melalui penguatan tata kelola pemerintahan yang baik, peningkatan mutu pelayanan publik secara prima, pemantapan kelembagaan demokrasi yang lebih kokoh, penguatan peran masyarakat sipil, pelaksanaan otonomi daerah secara nyata dan bertanggung jawab, pengembangan komunikasi dan media massa yang jujur, bebas dan bertanggung jawab, peningkatan budaya hukum dan penegakkan hukum secara adil.
4. Mewujudkan pemberdayaan ekonomi rakyat dan iklim usaha yang kondusif melalui pengembangan ekonomi kerakyatan dan industry kreatif di bidang perdagangan, jasa dan usaha wisata; penguatan kapasitas lembaga ekonomi dan keuangan masyarakat, daerah dan swasta; serta pengembangan pelayanan terpadu satu pintu yang kondusif dan maju.
5. Mewujudkan infrastruktur yang handal dan berwawasan lingkungan dengan penekanan pada pengembangan prasarana dan sarana transportasi, komunikasi dan informasi yang modern, merata dan terpadu; penataan, pemanfaatan dan pengelolaan tata ruang yang serasi, terpadu dan konsisten; pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang mengutamakan kelestarian dan keberlanjutan pembangunan; serta penguatan kerjasama dan keterkaitan antarwilayah yang saling menguatkan dan saling menguntungkan.
6. Mewujudkan pemerataan pembangunan yang berkeadilan melalui pemenuhan hak-hak dasar rakyat miskin terutama pangan, pendidikan, kesehatan, perumahan,
pekerjaan dan pertanahan; percepatan pembangunan daerah perdesaan, desa-desa yang terpencil dan pulau-pulau kecil; pemberdayaan dan penguatan masyarakat terutama petani, nelayan, pekerja dan pelaku usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi; penyediaan akses yang sama bagi masyarakat terhadap berbagai pelayanan sosial, serta sarana dan prasarana ekonomi; dan perwujudan kesetaraan dan keadilan bagi semua termasuk gender.
4.2 PERMASALAHAN PEMBANGUNAN 4.2.1 Pendidikan
Permasalahan utama bidang Pendidikan adalah (1) belum optimalnya akses pendidikan dan pemerataan layanan pendidikan (2) belum maksimalnya pemanfaatan teknologi informasi dalam penyelenggaraan pendidikan (3) masih kurangnya kuantitas dan kualitas (kompetensi) tenaga pendidik dan tenaga kependidikan (4) masih belum terpenuhinya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai (5) masih rendah angka partisipasi masyarakat untuk pemberantasan buta aksara dan peningkatan kecakapan hidup.
4.2.2 Kesehatan
Permasalahan utama bidang Kesehatan adalah (1) rendahnya indeks pembangunan kesehatan masyarakat (2) belum tersedianya grand design pembangunan kesehatan yang akan menjadi road map kesehatan Kabupaten Bangka Selatan (3) masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan (4) masih rendahnya kuantitas dan kualitas SDM tenaga kesehatan serta sarana dan prasarana pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan rujukan.
4.2.3 Pekerjaan Umum
Permasalahan utama bidang Pekerjaan Umum adalah (1) masih rendahnya optimalisasi rute dalam pembangunan infrastruktur jalan (2) belum adanya sistem irigasi teknis dan belum optimalnya sistem irigasi semi teknis (3) belum memadainya sumber- sumber air primer untuk pengairan sawah.
4.2.4 Perumahan dan Permukiman
Permasalahan utama bidang Perumahan adalah (1) belum optimalnya sistem jaringan drainase (2) belum maksimalnya pelayanan air minum (3) masih rendahnya kualitas pengelolaan air limbah perkotaan.
4.2.5 Penataan Ruang
Permasalahan utama bidang Penataan Ruang adalah (1) terlambatnya adaptasi pemanfaatan lahan/kawasan terhadap peruntukan ruang (2) masih terjadinya inkonsentrasi spasial akibat tumpang tindih pemanfaatan ruang (3) lemahnya citra ibu kota Kabupaten akibat miskin inovasi arsitektural.
4.2.6 Perhubungan
Permasalahan utama bidang Perhubungan adalah (1) belum maksimalnya infrastruktur perhubungan laut sebagai moda transportasi (2) belum maksimalnya peran dan fungsi pelabuhan sadai sebagai pintu gerbang perekonomian dan budaya (3) masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk tertib berlalu lintas (4) belum optimalnya pelayanan angkutan dalam kota bagi masyarakat (5) masih rendahnya kuantitas dan kualitas SDM bidang perhubungan (6) masih kurangnya fasilitas fasilitas rambu-rambu keselamatan jalan (7) belum adanya sarana dan prasarana perhubungan udara.
4.2.7 Lingkungan Hidup
Permasalahan utama bidang lingkungan hidup adalah (1) masih besarnya kerusakan lingkungan hidup akibat pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertambangan (2) belum maksimalnya sistem tata kelola persampahan (3) belum jelasnya penerapan ruang terbuka hijau (RTH) (4) masih lemahnya penegakan hukum bagi perusak lingkungan hidup (5) masih lemahnya sistem tata kelola perizinan serta aksesibilitas data dan keterbukaan informasi publik
4.2.8 Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Permasalahan utama bidang Kependudukan dan Catatan Sipil adalah (1) masih banyaknya masyarakat yang belum memiliki E-KTP (2) masih rendahnya aksesibilitas
masyarakat dalam pencatatan data kependudukan (3) masih rendahnya tingkat pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam pencatatan sipil.
4.2.9 Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Permasalahan utama bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak adalah (1) belum adanya regulasi dan petunjuk teknis tentang pelaksanaan program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (2) masih kurangnya SDM bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (3) belum tersedianya sistem pelayanan dan pencatatan kasus kekerasan dalam rumah tangga (4) masih rendahnya partisipasi perempuan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, budaya, politik dan hukum (5) masih terbatasnya pemahaman masyarakat tentang mengenai hak-hak perempuan, anak serta pemberdayaan gender (6) masih tingginya kuantitas dan kualitas kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
4.2.10 Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana
Permasalahan utama bidang keluarga berencana dan keluarga sejahtera adalah (1) laju pertumbuhan penduduk dan angka kelahiran di Kabupaten Bangka Selatan cenderung naik (2) masih tingginya angka kelahiran pada kelompok umur 15-19 tahun (3) masih rendahnya partisipasi pria untuk ber-KB (4) masih tingginya jumlah wanita yang menikah dini (dibawah usia 20 tahun) (5) masih tingginya jumlah kasus cerai gugat di daerah pedesaan (6) belum optimalnya upaya pembinaan peningkatan partisipasi keluarga terhadap program keluarga berencana (7) masih rendahnya perhatian pemerintah terhadap kualitas peningkatan dan penanggulangan balita gizi buruk.
4.2.11 Sosial
Permasalahan utama bidang Sosial adalah (1) masih rendahnya ketersediaan sarana panti sosial (2) minimnya fasilitas pembinaan penyandang cacat dan trauma (3) akses terhadap lembaga pelayanan dan rehabilitasi kesejahteraan sosial masih sulit (4) belum ada fasilitas untuk rehabilitasi pecandu narkoba (5) belum optimalnya pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial (6) masih rendahnya kualitas dan pemberdayaan PMKS (7) Kurangnya koordinasi lintas sektoral terhadap upaya pencegahan, penyalahgunaan
4.2.12 Ketenagakerjaan
Permasalahan utama bidang Ketenagakerjaan adalah (1) masih rendahnya aksesibilitas informasi ketenagakerjaan bagi masyarakat (2) belum adanya tenaga midisator di bidang ketenagakerjaan (3) terjadi inkonsistensi antara target, sasaran program/kegiatan dalam renstra, RPJMD dengan RKA, DPA dalam SKPD (4) masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap keberfungsian bidang ketenagakerjaan terkait penyelesaian perselisihan.
4.2.13 Ketransmigrasian
Permasalahan utama bidang Ketransmigrasian adalah (1) masih rendahnya kuantitas SDM bidang transmigrasi (2) belum adanya pembinaan/sosialisasi pengembangan usaha bagi warga eks. trans.
4.2.14 Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah
Permasalahan utama bidang Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah adalah (1) masih terkendalanya permodalan jaringan pemasaran produk koperasi dan UMKM dan akses UMKM ke kredit perbankan (2) masih rendahnya pengetahuan, karakter wirausaha dan partisipasi masyarakat dalam bidang koperasi (3) masih rendahnya daya saing produk KUMKM (4) masih rendahnya kualitas dan kuantitas SDM bidang koperasi dan UMKM.
4.2.15 Penanaman Modal
Permasalahan utama bidang Penanaman Modal adalah (1) belum maksimalnya investasi di sektor-sektor industri, perdagangan dan jasa-jasa (2) masih minimnya jumlah investasi masuk sektor energi (3) masih tumpang tindihnya kewenangan dan kepentingan, sehingga peningkatan iklim investasi sulit dicapai (4) minimnya integritas kebijakan penanaman modal yang dapat diamati dari banyaknya peraturan pusat maupun daerah yang tidak sejalan dengan arah pengembangan penanaman modal
4.2.16 Kebudayaan
Permasalahan utama bidang Kebudayaan adalah (1) masih kurangnya database kebudayaan daerah (2) masih rendahnya kuantitas dan kualitas SDM bidang kebudayaan (3) masih kurangnya even-even pariwisata budaya baik tingkat lokal, nasional maupun internasional (4) belum berkembangnya ekonomi kreatif berbasis seni, budaya, media, desain dan iptek (5) masih rendahnya partisipasi masyarakat, terutama generasi muda dalam upaya pelestarian budaya lokal.
4.2.17 Pariwisata
Permasalahan utama bidang Pariwisata adalah (1) masih kurangnya tenaga terampil dan profesional dalam pelayanan wisata (2) minimnya kuantitas dan kualitas SDM bidang pariwisata (3) belum optimalnya pengelolaan potensi wisata daerah (4) belum adanya icon produk pariwisata yang menjadi ciri khas daerah Bangka Selatan (5) menurunnya kualitas daya tarik wisata bahari akibat limbah penambangan timah.
4.2.18 Kepemudaan dan Olahraga
Permasalahan utama bidang Kepemudaan dan Olah raga adalah (1) masih kurangnya sarana dan prasarana olahraga untuk mendukung pemasyarakatan olah raga (2) kurangnya kegiatan kepemudaan yang kreatif, inovatif dan berdaya guna (3) masih kurangnya kuantitas dan kualitas SDM pembinanaan, pelatihan dan peningkatan kompetensi keolahragaan.
4.2.19 Kesatuan Bangsa dan Politik dalam Negeri
Permasalahan utama bidang kesatuan bangsa dan politik dalam negeri adalah (1) munculnya potensi konflik sosial akibat perebutan akses SDA dan sumber perekonomian (2) belum jelasnya penyelesaian sengketa tapal batas antar wilayah dalam kecamatan dan batas wilayah antar kabupaten (3) melemahnya kerja sama masyarakat politik, masyrakat sipil, masyarakat ekonomi, dan media dalam mendorong proses demokratisasi (4) melemahnya wawasan kebangsaan aparatur pemerintah (5) lemahnya penanggulangan terorisme terkait dengan pencegahan berkembangnya ideologi dan gerakan radikal terorisme
4.2.20 Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah,
Permasalahan utama bidang Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian adalah (1) belum optimalnya PAD dalam mendukung kegiatan pembangunan daerah (2) belum optimalnya laporan keuangan dan aset daerah, serta kurangnya SDM di bidang akuntasi yang terampil (3) masih kurangnya Dana Alokasi, Dana Perimbangan dan Transfer dari Pusat (4) belum optimalnya kinerja sumberdaya aparatur di setiap SKPD (5) belum optimalnya pelayanan kepegawaian dikarenakan faktor SDM, infrastruktur dan belum terintegrasinya sistem informasi kepegawaian (6) belum optimalnya pelimpahan kewenangan kepada Kecamatan (7) belum memadainya SDM penyelenggara pelayanan perizinan terpadu (8) belum maksimalnya pemanfaatan sistem informasi perizinan.
4.2.21 Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
Permasalahan utama bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Pemberdayaan Desa adalah (1) belum tersedianya sistem informasi desa yang terintegrasi berbasis teknologi informasi (2) belum tersedianya sarana dan prasarana yang memadai.
4.2.22 Kearsipan
Permasalahan utama bidang Kearsipan adalah (1) sarana dan prasarana kearsipan belum memadai/ belum sesuai standar tempat penyimpanan arsip.
4.2.23 Perpustakaan
Permasalahan utama bidang Perpustakaan adalah (1) letak gedung perpustakaan yang kurang strategis menyebabkan rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap perpustakaan
4.2.24 Komunikasi dan Informatika
Permasalahan utama bidang Komunikasi dan Informatika adalah (1) belum tercapainya target nasional atas pemenuhan standar pelayanan minimal urusan kominfo (2) belum terintegrasinya implementasi e-Government (3) belum meratanya akses telekomunikasi menuju smart city (4) belum optimalnya pengawasan dan pengendalian menara telekomunikasi (5) belum optimalnya kontribusi siaran iklan radio terhadap PAD (6) belum adanya regulasi pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan Pos.
4.2.25 Pertanian
Permasalahan utama bidang Pertanian adalah (1) keterbatasan dana dalam pengembangan lada masyarakat (2) petani masih bersifat “price taker” bukan “price maker” (3) belum adanya pengawasan secara ketat dan bertanggungjawab terhadap peredaran bahan tanaman meliputi benih dan bibit tanaman (4) sistem pertanian yang belum terintegrasi dengan baik dari hulu ke hilir serta pasokan hasil pertanian yang tidak kontinu (tergantung pada musim) yang menyebabkan harga produknya fluktuatif (5) belum banyaknya industri kreatif yang dibangun untuk mendukung bidang pertanian (6) pertanian untuk komoditi tertentu, seperti tanaman buah masih bersifat subsisten dan belum berorientasi pasar berskala bisnis (7) belum kondusifnya iklim usaha (7) belum tersediannya data base yang akurat mngenai kondisi kebun rakyat yang ada dan potensi lahan untuk perkebunan.
4.2.26 Ketahanan Pangan
Permasalahan utama bidang Ketahanan pangan adalah (1) masih rendahnya aksesibilitas pangan dan diversifikasi konsumsi pangan masyarakat (2) produksi beras di Kabupaten Bangka Selatan belum mencukupi kebutuhan pangan penduduk Kabupaten Bangka Selatan (3) Beberapa komoditi pangan yang beredar di masyarakat masih belum memenuhi standar keamanan pangan (4) masih rendahnya kuantitas dan kualitas SDM Penyuluh (5) masih lemahnya koordinasi antar sektor terkait (6) masih minimnya sarana dan prasarana pendukung penyuluhan
4.2.27 Energi dan Sumberdaya Mineral
Permasalahan utama bidang Energi dan Sumberdaya Mineral adalah (1) tidak adanya kewenangan Daerah dalam melakukan kegiatan pengawasan pertambangan pada WIUP yang ada di daerah (2) belum adanya petunjuk teknis mengenai serah terima P3D di Derah.
4.2.28 Kelautan dan Perikanan
Permasalahan utama bidang Kelautan dan Perikanan adalah (1) belum jelasnya peraturan dan petunjuk pembagian urusan kewenangan di bidang kelautan dan perikanan
(minapolitan) di Bangka Selatan serta belum adanya sinergi anatara SKPD dan stakeholder terkait (3) belum terlaksananya perencanaan dan penganggaran pembangunan kelautan dan perikanan yang lebih responsif gender (4) belum tersediannya data potensi kelautan dan perikanan yang update dan akurat (5) masih rendahnya kualitas dan kuantitas SDM bidang kelautan dan perikanan (6) masih rendahnya penguasaan dan penerapan IPTEK serta Transfer Teknologi tepat guna bidang kelautan dan perikanan (7) belum adanya produk unggulan kelautan dan perikanan.
4.2.28 Perdagangan
Permasalahan utama bidang Perdagangan adalah (1) masih lemahnya pengawasan dan pengaturan pasokan barang-barang kebutuhan pokok dan barang strategis lainnya (2) masih lemahnya koordinasi lintas sektor dalam hal pengawasan dan atau monitoring harga-harga peredaran barang/jasa (3) masih kurangnya sumber daya aparatur terutama tenaga fungsional penera dan penguji mutu barang dan PPNS-PK (4) belum tertibnya usaha pedagang kaki lima dan pedagang pasar (5) masih minimnya ketersediaan peraturan daerah yang mengatur tentang perdagangan.
4.2.29 Perindustrian
Permasalahan utama bidang Perindustrian adalah (1) masih lemahnya daya saing produk IKM dan belum optimalnya utilitas kapasitas produksi IKM (2) belum terlindunginya hak kekayaan intelektual industri yang ada di daerah (3) belum mantap dan kokohnya struktur industri daerah (4) belum adanya road map mengenai potensi unggulan daerah (5) minimnya peraturan daerah yang mengatur tentang perindustrian (6) belum optimalnya alokasi sumber daya energi untuk industri-industri skala besar.
1.1 ISU STRATEGIS
Isu strategis adalah permasalahan utama yang disepakati untuk dijadikan prioritas penanganan selama kurun waktu lima tahun mendatang. Isu strategis yang diidentifikasi meliputi:
1. Isu strategis pada urusan pendidikan adalah peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan pemerataan pelayanan pendidikan bagi masyarakat.
2. Isu strategis pada urusan kesehatan adalah peningkatan indeks pembangunan kesehatan masyarakat serta penyusunan grand design pembangunan kesehatan.
3. Isu strategis pada urusan pekerjaan umum adalah optimalisasi sumber-sumber air primer dengan pembangunan infrastruktur keairan yang memadai serta optimalisasi sistem irigasi untuk mendukung sektor pertanian.
4. Isu strategis pada urusan perumahan adalah belum optimalnya pelayanan dan pengelolaan sanitasi pemukiman.
5. Isu strategis pada urusan penataan ruang masih rendahnya kualitas pengelolaan penataan ruang dan masih lemahnya citra ibu kota Kabupaten.
6. Isu strategis pada urusan perhubungan adalah masih perlunya peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur perhubungan laut, masih rendahnya pelayanan angkutan publik dan kurangnya fasilitas rambu-rambu keselamatan jalan.
7. Isu strategis pada urusan lingkungan hidup adalah masih besarnya degradasi lahan dan masih lemahnya penegakan hukum bagi perusak lingkungan hidup.
8. Isu strategis pada urusan kependudukan dan pencatatan sipil adalah masih rendahnya tingkat pemahaman, aksesibilitas dan partisipasi masyarakat dalam pencatatan sipil.
9. Isu strategis pada urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak adalah masih terbatasnya pemahaman masyarakat tentang mengenai hak-hak perempuan, anak serta pemberdayaan gender dan masih tingginya kuantitas dan kualitas kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
10. Isu strategis pada urusan keluarga berencana dan keluarga sejahtera adalah belum optimalnya upaya pembinaan peningkatan partisipasi keluarga terhadap program keluarga berencana.
11. Isu strategis pada urusan sosial adalah belum optimalnya pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial dan masih rendahnya kualitas dan pemberdayaan PMKS.
12. Isu strategis pada urusan ketenagakerjaan adalah masih rendahnya aksesibilitas informasi ketenagakerjaan bagi masyarakat.
13. Isu strategis pada urusan ketransmigrasian adalah belum adanya pembinaan/sosialisasi pengembangan usaha bagi warga eks. Trans, karena masih rendahnya kuantitas SDM bidang transmigrasi.
14. Isu strategis pada urusan koperasi dan usaha kecil dan menengah adalah masih rendahnya pengetahuan, karakter wirausaha dan partisipasi masyarakat dalam bidang koperasi dan masih rendahnya daya saing produk KUMKM.
15. Isu strategis pada urusan penanaman modal adalah belum maksimalnya investasi di sektor-sektor industri, perdagangan dan jasa-jasa dan energi serta masih tumpang tindihnya kewenangan dan kepentingan, sehingga peningkatan iklim investasi sulit dicapai
16. Isu strategis pada urusan kebudayaan adalah masih kurangnya database kebudayaan daerah dan masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian budaya lokal.
17. Isu strategis pada urusan pariwisata adalah belum optimalnya pengelolaan potensi wisata daerah.
18. Isu strategis pada urusan kepemudaan dan olahraga adalah masih kurangnya sarana dan prasarana olahraga untuk mendukung pemasyarakatan olah raga.
19. Isu strategis pada urusan kesatuan bangsa dan politik dalam negeri adalah munculnya potensi konflik sosial akibat perebutan akses SDA dan sumber perekonomian dan belum jelasnya penyelesaian sengketa tapal batas antar wilayah dalam kecamatan serta melemahnya kerja sama masyarakat politik, masyrakat sipil, masyrakat ekonomi, dan media dalam mendorong proses demokratisasi.
20. Isu strategis pada urusan otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian dan persandian adalah belum optimalnya PAD dalam mendukung kegiatan pembangunan daerah dan belum optimalnya laporan keuangan dan aset daerah.
21. Isu strategis pada urusan pemberdayaan masyarakat dan pemberdayaan desa adalah belum tersedianya sistem informasi desa yang terintegrasi berbasis teknologi informasi.
22. Isu strategis pada urusan kearsipan adalah masih diperlukan sarana dan prasarana kearsipan yang memadai/ sesuai standar tempat penyimpanan arsip.
23. Isu strategis pada urusan perpustakaan adalah diperlukan gedung perpustakaan dengan letak yang strategis untuk meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap perpustakaan.
24. Isu strategis pada urusan komunikasi dan informatika adalah belum optimalnya implementasi e-government dan belum meratanya akses telekomunikasi menuju smart city.
25. Isu strategis pada urusan pertanian adalah sistem pertanian yang belum terintegrasi dengan baik dari hulu ke hilir, pasokan hasil pertanian yang tidak kontinu, serta belum banyaknya industri kreatif yang dibangun untuk mendukung bidang pertanian
26. Isu strategis pada urusan ketahanan pangan adalah belum optimalnya peran Pemerintah, Penyuluh dan Petani dalam mendukung peningkatan produksi dan produktivitas pertanian, perikanan, peternakan dan perkebunan.
27. Isu strategis pada urusan energi dan sumberdaya mineral adalah diperlukan kewenangan daerah dalam melakukan kegiatan pengawasan pertambangan pada WIUP yang ada.
28. Isu strategis pada urusan kelautan dan perikanan adalah belum tersusunnya road map pembangunan kawasan strategis kabupaten (minapolitan) dan belum tersediannya data potensi kelautan dan perikanan yang update dan akurat.
29. Isu strategis pada urusan perdagangan adalah perlunya penguatan pengawasan dan pengaturan pasokan barang-barang kebutuhan pokok dan barang strategis lainnya dan belum optimalnya pengelolaan sumber-sumber penerimaan daerah atas jasa usaha pada bidang perdagangan.
30. Isu strategis pada urusan perindustrian adalah perlunya penguatan daya saing produk IKM dan optimalisasi utilitas kapasitas produksi IKM, belum adanya road map mengenai potensi unggulan daerah serta belum optimalnya alokasi sumber daya energi untuk industri-industri skala besar.
Penetapan isu strategis di Kabupaten Bangka Selatan untuk kurun waktu lima tahun mendatang diidentifikasi berdasarkan telaah dari berbagai sumber antara lain:
1. Isu strategis dari dinamika global, nasional, dan regional;
2. Isu strategis dari kebijakan pembangunan daerah yang terdiri dari:
a. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 2012-2017.
b. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Bangka Selatan 2005-2025.
c. Hasil evaluasi capaian kinerja pada masa RPJMD Bangka Selatan periode sebelumnya.
Berdasarkan telaah isu pembangunan daerah, berikut ditampilkan keterkaitan isu RPJMD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 2012-2017 dan RPJPD Kabupaten Bangka Selatan 2005-2025.
Tabel 4.8 Keterkaitan Isu Strategis Pembangunan Daerah RPJMD BABEL 2012 - 2017 RPJPD BASEL 2005 - 2025 KETERKAITAN Ketersediaan Prasarana
dan Sarana Belum Memadai
Tersedianya Jaringan Komunikasi Dan Transportasi Daerah Secara Terpadu Yang Menghubungkan Pusat Pemerintahan Dengan Daerah Perdesaan Dan Daerah Terpencil Serta Wilayah Kepulauan
Konektivitas Antar Wilayah
Perdesaan dan Wilayah Kepulauan
Percepatan Pembangunan
Infrastruktur Percepatan Pembangunan Infrastruktur di Perdesaan Dan Kawasan Strategis Unggulan
Energi Dan Kelistrikan Kedaulatan Energi Kelistrikan
Pengembangan Sumber
Daya Air Ketahanan Air
Belum Optimalnya Pengelolaan Potensi Ekonomi Daerah dan Sumber Daya Alam
Industri Maritim,
Perikanan, Wisata Bahari Pengembangan Pariwisata Bahari dan Agropolitan Peningkatan Peran Sektor
Pertanian Secara Luas Terutama Pertanian Tanaman Pangan
Mendukung Ketahanan Pangan Melalui Produk Produk Pertanian Unggulan
Kelautan dan Perikanan Pengembangan Sumber Daya Sektor Perikanan Dan Kelautan
Masih Rendahnya Kualitas Lingkungan Hidup
Pengelolaan Sumber Daya Alam Dan Mutu
Lingkungan Hidup
Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup Yang Berkelanjutan
Kualitas Perencanaan Tata Ruang Serta Konsistensi Pemanfaatan Ruang
Pengelolaan Tata Ruang, Pertanahan Dan Kehutanan Untuk Peningkatan
Produktivitas Masyarakat Kondisi Pemerintahan dan
Politik Yang Belum Mantap
Meningkatnya Jangkauan Pelayanan Bidang
Pemerintahan
Mendorong Reformasi Birokrasi Menuju Pelayanan
Publik Yang Prima Kualitas Sumber Daya
Manusia dan
Kependudukan Belum Mantap
Menurunnya Kemiskinan Penanggulangan
Kemiskinan Di Perdesaan dan Perkotaan
Berkurangnya Pengangguran
Penyediaan Lapangan Pekerjaan Yang Layak Mengendalikan Jumlah Dan
Laju Pertumbuhan Penduduk
Pengendalian
Kependudukan, Urbanisasi Dan Migrasi
Meningkatnya Derajat
Kesehatan Masyarakat Akses Kesehatan Yang Prima Sebagai Variabel Peningkatan Kualitas IPM Meningkatnya Derajat
Pendidikan Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Tinggi Sebagai
Sosial Budaya Meningkatnya Peran Perempuan Dalam Pembangunan
Pemberdayaan Perempuan Dalam Politik Dan
Pembangunan Berkembangnya
Kehidupan Beragama Dan Kebersamaan Antar Pemeluk Agama
Pengarusutamaan Kearifan Lokal Dalam
Multikulturalisme
Perlindungan Perempuan Dan Anak
Perlindungan Sosial Terhadap Perempuan, Anak Dan Kelompok Marginal
Dalam menentukan isu strategis Kabupaten Bangka Selatan tahun 2016 – 2021, Berdasarkan analisis keterkaitan antara isu daerah dan isu nasional, dapat dijadikan referensi dalam merumuskan isu strategis di Kabupaten Bangka Selatan. Rumusan Isu Strategis Kabupaten Bangka Selatan seperti tercantum dalam tabel 4.10.
Tabel 4.10 Isu Stategis Sebagai RPJMD Bangka Selatan 2016 – 2021 No. ISU – ISU STRATEGIS PEMBANGUNAN 2016 - 2021
1. Pendidikan Dasar Untuk Semua
2. Pelayanan Kesehatan Terjangkau dan Berkualitas
3. Revitalisasi Komoditas Unggulan Perkebunan dan Pertanian Berorientasi Pasar 4. Percepatan Penanggulangan Kemiskinan
5. Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah dan Kawasan Unggulan Strategis
6. Peningkatan Ketahanan Pangan
7. Akses Pekerjaan dan Kualitas Tenaga Kerja 8. Pemerintahan Yang Transparan dan Kompetitif
9. Antisipasi Dampak Laju Pertumbuhan Penduduk, Urbanisasi dan Migrasi 10. Perlindungan Sosial Terhadap Anak, Perempuan Serta Kelompok Marginal 11. Pengelolaan Ekosistem dan Konservasi Sumber Daya Lingkungan Hidup
Pascatimah
12. Peningkatan Partisipasi Perempuan dan Pemuda Dalam Pembangunan 13. Konflik Pemanfaatan Ruang
14. Pengembangan Kepariwisataan Berbasis Industri Agropolitan, Maritim dan Heritage
15. Ketahanan Air dan Sanitasi Yang Memadai