763
IMPLEMENTASI HUKUM TERHADAP PELAKU USAHA
TIMBANGAN BUAH SAWIT YANG MELAKUKAN TINDAK
PIDANA TIDAK MELAKUKAN TERA ULANG TERHADAP ALAT UKUR
TIMBANGAN DI WILAYAH KABUPATEN PASER
LEGAL IMPLEMENTATION OF PALM OIL WEIGHING BUSINESS
PERSONS WHO DO CRIMINAL ACTION NOT RECEIVING
A SCALE MEASURING TOOL IN PASER DISTRICT AREA
Haerana1Fakultas Hukum, Universitas Balikpapan
Jalan Pupuk Raya, Gunung Bahagia, Balikapapan Selatan, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, 76114
Email: [email protected] ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya penanggulangan tindak pidana terhadap pelaku usaha timbangan buah sawit yang tidak melakukan tera ulang terhadap alat ukur timbangan di wilayah Kabupaten Paser dan faktor apakah yang menyebabkan pelaku usaha timbangan buah sawit yang tidak melakukan tera ulang terhadap alat ukur timbangan di wilayah Kabupaten Paser. Metode penelitian melalui pendekatan yuridis empiris, yaitu mengkaji dan membahas peristiwa yang diperoleh sesuai dengan fakta yang terjadi kemudian dikaitkan dengan norma hukum yang berlaku dan teori yang ada. Jenis penelitian bersifat deskriptif dengan sumber data terdiri dari data primer yakni wawancara dan data sekunder yaitu sumber hukum primer, sekunder dan tersier. Metode pengumpulan data dengan wawancara dan studi pustaka, kemudian data dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya-upaya yang dilakukan dalam penanggulangan tindak pidana pelaku usaha timbangan buah sawit yang tidak sesuai standar terbagi atas dua, yaitu upaya langsung dan upaya tidak langsung. Upaya langsung yaitu dengan melakukan pengecekan secara berkala dan secara langsung oleh pihak UPTD yang dilakukan secara langsung, penyitaan, reparasi timbangan yang telah diubah, perubahan satuan timbangan yang merupakan produk dari luar negeri, dan pemasangan segel yang resmi. Upaya tidak langsung, yaitu dengan cara pengecekan secara berkala dan secara langsung yang dilakukan di Badan Metrologi Legal, pendaftaran membuka usaha dengan menggunakan timbangan, dan pembuatan surat izin penggunaan timbangan.
Kata Kunci: Tindak Pidana, Pelaku Usaha, Tera Ulang ABSTRACT
This study aims to determine the efforts to deal with criminal acts against oil palm fruit weighing business actors who do not recite the measuring instrument scales in the Paser Regency area and what factors cause oil palm fruit weighing business actors to not re-calibrate the measuring instruments in the area Paser Regency. The research method uses an empirical juridical approach, which studies and discusses the events obtained in accordance with the facts that occur and are then linked to the prevailing legal norms and existing theories. This type of research is descriptive with data sources consisting of primary data, namely interviews and secondary data, namely primary, secondary and tertiary sources of law. Methods of data collection by interview and literature study, then the data were analyzed qualitatively. The results showed that the efforts made in overcoming criminal acts of oil palm fruit weighing business actors that did not comply with the standards were divided into two, namely direct efforts and indirect efforts. Direct efforts include conducting periodic and direct checks by the UPTD, confiscating, repairing the modified scales, changing the weighing
764
units which are products from abroad, installing official seals. Indirect efforts are by means of periodic and direct checks carried out at the Legal Metrology Agency, registration to open a business using scales, making a license to use the scales.
Keywords: Crime, Business Actors, Re-tera
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu produk andalan dari indonesia untuk meningkatkan perekonomian negara. Karena dalam enam tahun terakhir keuntungan rata-rata cenderung mengalami peningkatan. Dalam pengelolan perkebunan sawit di Indonesia ada yang dilakukan oleh rakyat dan perusahaan besar, baik pemerintah maupun swasta, dalam manajemen pengelolaan yang masing-masing perusahaan memiliki cara tersendiri mulai dari penanaman sampai dengan menghasilkan minyak, yang dikelola dengan wadah organisasi yang berbeda-beda.
Kelapa sawit telah menjadi komoditas andalan sebagai sumber devisa negara non migas, penciptaan lapangan kerja dan pelestarian lingkungan hidup. Berdasarkan informasi pusat data dan informasi pertanian, Departemen Pertanian luas area kebun sawit di Indonesia sampai dengan tahun 2006 mencapai 6,07 juta Ha. Dengan rasio penggunaan tenaga kerja yang terserap mencapai 3,5 juta orang.2
Saat ini Indonesia telah menjadi produsen kelapa sawit terbesar di dunia, kemudian Malaysia di urutan kedua. Sebanyak 85% lebih pasar dunia kelapa sawit di kuasai oleh Indonesia dan Malaysia. Produksi minyak sawit (CPO) Indonesia tahun 2018 sebesar 31,10 juta ton dan di posisi kedua di tempati oleh negara Malaysia dengan produksi minyak sawit (CPO) tahun 2018 sebesar 19,2 juta ton, di susul oleh Thailand, Vietnam, Nigeria, Papua Nugini, Ekuador, Honduras, dan Cote Divoire. Dilihat dari perekonomian negara Indonesia saat ini, industri kelapa sawit memiliki peran penting karena komoditas ini punya prospek yang baik bagi pendapatan petani dan negara, sebagai sumber sumber devisa, dan dapat mengurangi pengangguran dalam bentuk penerimaan pekerjaan.
Sejalan dengan kebutuhan kelapa sawit yang terus menerus meningkat menyebabkan pelaku usaha terus berupaya untuk meningkat penghasilannya walaupun harus melakukan pelanggaran etika yang dapat menimbulkan kerugian seketika atau kerugian oleh pihak-pihak yang melakukannya. Tetapi pelanggaran etika bisnis biasanya akan melibatkan sedikit banyaknya kerugian bagi orang lain. Dalam etika bisnis menganjurkan agar nilai etika dijunjung tinggi dalam kehidupan terutama dalam perdagangan. Dengan demikian dalam hukum bisnis ini diselesaikan secara tuntas, guna menghindari terjadinya pertikaian dan kejanggalan dalam kehidupan sosial masyarakat. Oleh karena itu aspek keadilan sangatlah penting bagi kelangsungan hidup sehari-hari. Kejujuran dan kebenaran merupakan nilai yang terpenting sehubungan dengan hal tersebut, kecurangan, sikap eksploitasi orang lain yang tak bersalah dan orang yang jahil atau membuat pernyataan palsu merupakan perbuatan yang dilarang.
Sebagaimana yang di jelaskan dalam Pasal 1 Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 23 Tahun 2018 yang berbunyi: Alat-alat ukur, Takar, Timbang, dan Perlengkapannya yang selanjutnya disingkat UTTP adalah alat ukur, alat takar, alat timbang dan perlengkapanya sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 Tentang Metrologi
2 Febri Yuliani, “IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENGUATAN KELEMBAGAAN PERKEBUNAN SAWIT RAKYAT PADA LAHAN GAMBUT,” Jurnal Kebijakan Publik 10, no. 1 (2019): hlm 6.
765 Legal. Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 pada Bab VII tentang perbuatan dilarang di jelaskan dalam Pasal 27 yang berbunyi:
1. Dilarang memasang alat ukur, alat penunjuk, atau alat lainnya sebagai tambahan pada alat-alat ukur, takar, atau timbang yang sudah ditera atau yang sudah ditera ulang. 2. Alat-alat ukur, takar atau timbang yang di ubah atau di tambah dengan cara
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini diperlakukan sebagai tidak ditera atau tidak ditera ulang.
Di dalam BAB VIII tentang ketentuan pidana dalam Pasal 32 ayat 1 dijelaskan bahwa: “Barang siapa melakukan perbuatan yang tercantum dalam Pasal 25, pasal 26, pasal 27 dan pasal 28 undang-undang ini dipidana penjara selama-lamanya 1 tahun dan atau denda setinggi-tingginya Rp 1.000.000 (1 juta Rupiah).”
Kecurangan bermaksud meletakkan sesuatu perkara di tempat yang bukan sebenarnya, dan sebaliknya. Keadilan bermaksud meletakkan suatu perkara ditempat yang sebenarnya. Defenisi ini yang penting selanjutnya membentuk sifat yang luas dan positif tentang keadilan dalam hukum bisnis. Salah satu kegiatan ekonomi yang dalam hukum bisnis adalah tentang jual beli. Dalam jual beli hendaknya disertai rasa jujur sehingga ada nilai manfaatnya. Apabila penjual dan pembeli saling tipu menipu atau merahasiakan tentang apa yang seharusnya dikatakan maka tidak ada nilai manfaat, dan mengingatkan untuk menjaga haknya tanpa mengurangi hak orang lain. Transaksi jual beli yang ideal adalah hasil panen kelapa sawit petani yang dijual kepada Tengkulak (Toke), kemudian dijual ke pabrik (PT) dikarenakan perusahaan berkepentingan dalam kestabilan manajemen Tengkulak (Toke), agar Tengkulak berjalan dan bisa memenuhi kebutuhan petani. Akan tetapi pada kenyataannya manajemen Tengkulak tidak berjalan dengan semestinya akibat adanya unsur kecurangan dalam manajemennya.3
Perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu produk andalan dari Indonesia untuk meningkatkan perekonomian negara, karena dalam enam tahun terakhir keuntungan rata-rata cenderung terus mengalami peningkatan. Dalam perdagangan, kita mengenal istilah harga, penentuan harga merupakan salah satu aspek terpenting dalam kegiatan perdagangan. Harga menjadi sangat penting diperhatikan, mengingat harga menentukan laku tidaknya suatu produk dalam perdagangan. Jika salah dalam menentukan harga maka akan berakibat fatal dalam produk yang ditawarkan nantinya. Harga merupakan satu-satunya unsur dalam perdagangan yang menghasilkan keuntungan dan pendapatan jualan barang dan jasa. Oleh karena itu, harga yang ditetapkan penjual harus sebanding dengan penawaran nilai kepada konsumen.4
Pada saat sekarang ini usaha perkebunan kelapa sawit sangatlah berperan penting dan menguntungkan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Karena prosesnya berlangsung secara berkelanjutan yang didukung oleh sumber daya alam, kualitas lingkungan dan sumber daya manusianya.
Kecurangan dalam menimbang barang kadang dianggap tidak penting. Padahal jika ukuran timbangan tidak valid hanya beberapa gram saja bisa merugikan banyak pihak. Pihak yang merugi tersebut terutama adalah pembeli. Mungkin jika satu atau dua orang saja bukan masalah besar, namun jika ratusan hingga ribuan orang tentu akan sangat merugikan. Sehingga dalam hal ini pemerintah mengharuskan timbangan ditera oleh badan metrologi.5
3
Celina Tri Siwi Kristiyanti, Hukum Perlindungan Konsumen (Jakarta Selatan: Grafika, 2008), hlm 204.
4 Abdul Muin Bahaf, “KEWIRAUSAHAAN (Entrepreneurship) Membentuk Karakter Wirausaha Mahasiswa,” 2018, hlm 23..
766 Pengecekan timbangan di pabrik penerima sawit masyarakat, diperlukan untuk mengantisipasi kecurangan. Dalam hal ini pemerintah berlaku tegas kepada perusahaan sawit yang tidak mematuhi ketentuan.6 Jika mau menaikkan kredibilitas pasar tradisional dan industri kecil dan menengah, memastikan alat ukur takar timbangan dan perlengkapannya dalam kondisi sah untuk digunakan alias sudah di tera, adalah syarat penting.7 Menggunakan timbangan tanpa tera berpotensi melakukan tindak pidana sebagaimana yang ditetapkan oleh Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal. Apabila terbukti menggunakan timbangan tanpa tera maka dimungkin kan akan dikenakan sanksi yang lebih berat dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Maka masyarakat atau perusahaan yang menggunakan timbangan dalam transaksi di pasar dan perusahaan secara berkala harus ditera sekali dalam setahun.
Sebagai contoh, kasus yang terjadi di Kabupaten Paser Kalimantan Timur pada tahun 2015, dimana dari 4 Ton muatan TBS (Tandan Buah Segar) berkurang 200 Kg ketika ditimbang di Loading Ramp.8 Meskipun sering diprotes, pihak pengelola loading ramp mengatakan bahwa timbangan baik-baik saja dan tidak ada kesalahan. Perbuatan tersebut merugikan pemilik TBS karena muatan yang dibawanya berkurang cukup banyak dari muatan yang ditimbang.
Ketidakakuratan timbangan tersebut disebabkan tidak dilakukannya tera ulang pada timbangan loading ramp. Sehingga menyebabkan terjadi kesalahan dalam proses penimbangan yang berdampak pada berkurangnya muatan TBS. Berdasarkan U ndang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal, mewajibkan pengelola loading
ramp untuk memasang timbangan dengan tera serta melakukan tera ulang setiap setahun
sekali. Namun, berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Paser pada tahun 2015 dan 2016 masih banyak pengelola loading ramp di wilayah Kabupaten Paser yang tidak memasang tanda tera, diketahui bahwa terdapat 56 dari 70 pelaku usaha TBS atau pengelola loading ramp di wilayah Kabupaten Paser tidak bertanda tera, lima diantaranya baru membangun tempat usaha, sehingga belum mendapatkan tanda tera.9.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui upaya penanggulangan tindak pidana terhadap pelaku usaha timbangan buah sawit yang tidak melakukan tera ulang terhadap alat ukur timbangan di wilayah Kabupaten Paser dan untuk mengetahui faktor apakah yang menyebabkan pelaku usaha timbangan buah sawit yang tidak melakukan tera ulang terhadap alat ukur timbangan di wilayah Kabupaten Paser.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya ialah bagaimanakah upaya penanggulangan tindak pidana terhadap pelaku usaha timbangan buah sawit yang tidak melakukan tera ulang terhadap alat ukur timbangan di wilayah Kabupaten Paser?
6 “Https://Www.Cendananews.Com/2019/01/Pemda-Diminta-Mengecek-Timbangan-Pembeli-Sawit-Masyarakat.Html” (n.d.).di akses pada tanggal 8 juni 2020
7 “Https://Www.Rappler.Com/Indonesia/125058-5-Hal-Tera-Timbangan-Penting-Jangan-Curang,” n.d.di akses pada tanggal 8 juni 2020
8
Redaksi, 2015, Desak Timbangan Ditera Ulang, “Http://Balikpapan.Prokal.Co/Read/News/176283-Desak-Timbangan-Ditera-Ulang,” n.d., diakses 8 Juni 2020
9 Wawancara dengan M. Marwan Natsir, Pelaksana pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan
767
C. Metode
Metode penelitian melalui pendekatan yuridis empiris, yaitu mengkaji dan membahas peristiwa yang diperoleh sesuai dengan fakta yang terjadi kemudian dikaitkan dengan norma hukum yang berlaku dan teori yang ada. Jenis penelitian bersifat deskriptif yaitu penelitian dengan prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta yang tampak.10 Lokasi penelitian di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Sumber data terdiri dari data primer yakni wawancara dan data sekunder yaitu sumber hukum primer, sekunder dan tersier. Metode pengumpulan data dengan wawancara dan studi pustaka, kemudian data dianalisis secara kualitatif.
D. Tinjauan Pustaka
1. Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana a. Pengertian Tindak Pidana
Istilah tindak pidana berasal dari istilah yang dikenal dalam hukum pidana Belanda yaitu strafbaar feit atau delict, dalam bahasa Indonesia disamping istilah tindak pidana untuk terjemahan strafbaar feit atau delict sebagaimana yang dipakai oleh R. Tresna dan Utrecht dalam buku C.S.T Kansil dan Christine S.T Kansil dikenal juga beberapa terjemahan yang lain seperti perbuatan pidana, pelanggaran pidana, perbuatan yang boleh dihukum atau perbuatan yang dapat dihukum.11
Menurut Amir Ilyas tindak pidana merupakan suatu istilah yang mengandung suatu pengertian dasar ilmu hukum sebagai istilah yang dibentuk dengan kesadaran dalam memberikan ciri tertentu pada peristiwa hukum pidana. Tindak pidana mempunyai pengertian yang abstrak dari peristiwa-peristiwa yang konkrit dalam lapangan hukum pidana, sehingga tindak pidana haruslah diberikan arti yang bersifat ilmiah dan ditentukan dengan jelas untuk dapat memisahkan dengan istilah yang dipakai sehari-hari dalam kehidupan masyarakat.12
Sedangkan menurut Barda Nawawi Arief dengan tidak adanya batasan yuridis dalam praktik selalu diartikan, bahwa tindak pidana adalah suatu perbuatan yang telah dirumuskan oleh undang-undang. Hal ini didasarkan pada perumusan asas legalitas dalam Pasal 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang mengandung asas “nullum
delictum sine lege” dan sekaligus mengandung asas “sifat melawan hukum yang
formal/positif”. Padahal secara teoritis dan menurut yurisprudensi serta menurut rasa keadilan, diakui adanya asas “tiada tindak pidana dan pemidanaan tanpa sifat melawan hukum (secara materil)” atau asas “sifat melawan hukum yang negatif”.13
b. Unsur-Unsur Tindak Pidana
Dalam menjabarkan suatu rumusan delik kedalam unsur-unsurnya, maka akan dijumpai suatu perbuatan atau tindakan manusia, dengan tindakan itu seseorang telah melakukan suatu tindakan yang dilarang oleh undang-undang. Setiap tindak pidana
10
Soerjono & Abdul Rahman, 2003, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Rineka Cipta, Hal 23, n.d. 11
S. T. Christine and Christina ST Kansil, “Pokok-Pokok Hukum Pidana,” Jakarta: PT Pradya Paramitha, 2007, hlm 37.
12 Amir Ilyas and Maulana Mustamin, Asas-Asas Hukum Pidana: Memahami Tindak Pidana Dan
Pertanggungjawaban Pidana Sebagai Syarat Pemidanaan: Disertai Teori-Teori Pengantar Dan Beberapa Komentar (Kerja sama Rangkang Education Yogyakarta & PuKAP-Indonesia, 2012).
13 S. H. Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakan Hukum Dan Kebijakan Hukum Pidana Dalam
768 yang terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana pada umumnya dapat dijabarkan ke dalam unsur-unsur yang terdiri dari unsur subjektif dan unsur objekti.
Menurut R. Abdoel Djamali, peristiwa pidana yang juga disebut tindak pidana atau delict ialah suatu perbuatan atau rangkaian perbuatanyang dapat dikenakan hukuman pidana. Suatu peristiwa peristiwa hukum dapat dinyatakan sebagai peristiwa pidana kalau memenuhi unsur-unsur pidananya. Unsur-unsur tindak pidana tesebut terdiri dari
1) Objektif, yaitu suatu tindakan (perbuatan) yang bertentangan dengan hukum dan mengindahkan akibat yang oleh hukum dilarang dengan ancaman hukum. Yang dijadikan titik utama dari pengertian objektif disini adalah tindakannya. 2) Subjektif, yaitu perbuatan seseorang yang berakibat tidak dikehendaki oleh
undang-undang. Sifat unsur ini mengutamakan adanya pelaku (seseorang atau beberapa orang).14
c. Jenis-Jenis Tindak Pidana
Dalam membahas hukum pidana, nantinya akan ditemukan beragam tindak pidana yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana telah mengklasifikasikan tindak pidana atau delik ke dalam dua kelompok besar yaitu, dalam Buku Kedua dan Ketiga yang masing-masing menjadi kelompok kejahatan dan pelanggaran. Tindak pidana dapat dibedakan atas dasar-dasar tertentu, yaitu sebagai berikut:
1) Kejahatan (Misdrijft) dan Pelanggaran (Overtreding)
Alasan pembedaan antara kejahatan dan pelanggaran adalah jenis pelanggaran lebih ringan dari pada kejahatan. Hal ini dapat diketahui dari ancaman pidana pada pelanggaran tidak ada yang diancam dengan pidana penjara, tetapi berupa pidana kurungan dan denda, sedangkan kejahatan lebih didominasi dengan ancaman pidana penjara. Dalam Wetboek van Srafrecht (W.v.S) Belanda, terdapat pembagian tindak pidana antara kejahatan dan pelanggaran. Untuk yang pertama biasa disebut dengan rechtdelicten dan untuk yang kedua disebut dengan
wetsdelicten. Disebut dengan rechtdelicten atau tindak pidana hukum yang artinya
yaitu sifat tercelanya itu tidak semata-mata pada dimuatnya dalam undang-undang melainkan dasarnya telah melekat sifat terlarang sebelum memuatnya dalam rumusan tindak pidana dalam undang-undang. Walaupun sebelum dimuat dalam undang-undang ada kejahatan mengandung sifat tercela (melawan hukum), yakni pada masyarakat, jadi melawan hukum materiil, sebaliknya wetsdelicten sifat tercelanya itu suatu perbuatan itu terletak pada setelah dimuatnya sebagai demikian dalam undang. Sumber tercelanya wetsdelicten adalah undang-undang.
2) Delik formil dan Delik materiil
Pada umumnya rumusan delik didalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana merupakan rumusan yang selesai, yaitu perbuatan yang dilakukan oleh pelakunya. Delik formil adalah tindak pidana yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga memberikan arti bahwa inti larangan yang dirumuskan adalah melakukan suatu perbuatan tertentu. Perumusan tindak pidana formil tidak membutuhkan dan memperhatikan timbulnya suatu akibat tertentu dari perbuatan yang sebagai syarat penyelesaian tindak pidana, melainkan semata-mata pada perbuatannya. Misalnya
14 R. Abdoel Djamali, Pengantar Hukum Indonesia Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta, 2010, Hlm.175, n.d., hlm 175.
769 pada pencurian (Pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) untuk selesainya pencurian bergantung pada selesainya perbuatan. Sebaliknya, tindak pidana materiil inti larangan adalah pada timbulnya akibat yang dilarang. Oleh karena itu, siapa yang menimbulkan akibat yang dilarang itulah yang di pertanggung jawabkan dan dipidana.
3) Delik Kesengajaan (Dolus) dan delik Kelalaian (Culpa)
Tindak pidana Kesengajaan adalah tindak pidana yang dalam rumusannya dilakukan dengan kesengajaan atau mengandung unsur kesengajaan. Di samping tindak pidana yang tegas unsur kesengajaan itu dicantumkan dalam Pasal, misalnya Pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (maksud), Pasal 338 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (sengaja), Pasal 480 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (yang diketahui). Sedangkan 29 tindak pidana kelalaian adalah tindak pidana yang dalam rumusannya mengandung unsur culpa (lalai), kurang hati-hati dan bukan karena kesengajaan. Tindak pidana yang mengandung unsur culpa ini, misalnya; Pasal 114, Pasal 359, Pasal 360 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
4) Tindak Pidana Aktif (delik commisionis) dan Tindak Pidana Pasif
Tindak pidana aktif adalah tindak pidana yang perbuatannya berupa perbuatan aktif (positif). Perbuatan aktif adalah perbuatan yang untuk mewujudkannya disyaratkan adanya gerakan dari anggota tubuh orang yang berbuat.
5) Tindak Pidana Terjadi Seketika (Aflopende Delicten) dan Tindak Pidana Berlangsung Terus (Voortdurende Delicten)
Tindak pidana yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga untuk terwujudnya atau terjadinya dalam waktu seketika atau waktu singkat saja disebut juga
aflopende delicten. Misalnya jika perbuatan itu selesai tindak pidana itu menjadi
selesai secara sempurna. Sebaliknya tindak pidana yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga terjadinya tindak pidana itu berlangsung lama, yakni setelah perbuatan itu dilakukan, tindak pidana itu berlangsung terus yang disebut juga dengan voordurende delicten.
6) Tindak Pidana Khusus dan Tindak Pidana Umum.
7) Tindak pidana umum adalah semua tindak pidana yang dimuat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana sebagai kodifikasi hukum pidana materiil (Buku II dan III Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). Sementara tindak pidana khusus adalah semua tindak pidana yang terdapat di luar kodifikasi tersebut.
8) Delik sederhana dan delik yang ada pemberatannya/peringannya (Envoudige
dan Gequalificeerde/Geprevisilierde Delicten)
Delik yang ada pemberatannya, misalnya: penganiayaan yang menyebabkan luka berat atau matinya orang (Pasal 351 ayat 2, 3 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana), pencurian pada waktu malam hari tersebut (Pasal 363 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). Ada delik yang ancaman pidananya diperingan karena dilakukan dalam keadaan tertentu, misalnya : pembunuhan terhadap anak (Pasal 341 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). Delik ini disebut “geprivelegeerd
delict”. Delik sederhana; misal : penganiayaan (Pasal 351 Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana), pencurian (Pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). 9) Tindak Pidana Biasa dan Tindak Pidana Aduan.
Tindak pidana biasa yang dimaksudkan ini adalah tindak pidana yang untuk dilakukannya penuntutan pidana terhadap pembuatnya tidak disyaratkan adanya pengaduan bagi yang berhak. Sebagian besar tindak pidana adalah tindak pidana
770 biasa yang dimaksudkan ini. Tindak pidana aduan adalah tindak pidana yang untuk dapatnya dilakukan penuntutan pidana disyaratkan untuk terlebih dulu adanya pengaduan oleh yang berhak mengajukan pengaduan, yakni korban atau wakilnya dalam perkara perdata (Pasal 72) atau keluarga tertentu dalam hal tertentu (Pasal 73) atau orang yang diberi kuasa khusus untuk pengaduan oleh yang berhak.
2. Tinjauan Umum Tentang Pelaku Usaha a. Pengertian Pelaku Usaha
Menurut pengertian Pasal 1 angka 3 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen, Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun berama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi. Dalam penjelasan Pasal 1 angka 3 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen tersebut, pelaku usaha yang dimaksud adalah perusahaan, korporasi, koperasi, BUMN, importir, pedagang, distributor, dan lain-lain.
Bentuk atau Wujud Pelaku Usaha :15
1) Orang perorangan, yaitu setiap individu yang melakukan kegiatan usahanya secara seorang diri.
2) Badan usaha, yaitu kumpulan individu yang secara bersamasama melakukan kegiatan usaha. Badan usaha dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, antara lain :
a) Badan hukum, adalah badan usaha yang sudah mendaftarkan dirinya di notaris untuk mendapatkan akta pendirian yang sudah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia seperti Perseroan Terbatas (PT). b) Bukan badan hukum, adalah badan usaha yang mendaftarkan dirinnya di
notaris yang hanya memiliki akta otentik dan tidak memiliki akta pendirian yang disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, seperti Firma.
b. Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha
Hak Pelaku Usaha berdasarkan Pasal 6 Undang-Undang Perlindungan Konsumen, adalah :
1) Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan.
2) Hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik.
3) Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa konsumen
4) Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan.
5) Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundangundangan lainnya.
771 Kewajiban pelaku usaha berdasarkan Pasal 7 Undang-Undang Perlindungan
Konsumen, adalah
1) Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya.
2) Memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan.
3) Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.
4) Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku.
5) Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau diperdagangkan.
6) Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan.
7) Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.
c. Tanggung Jawab Pelaku Usaha
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlndungan Konsumen Bab VI mulai dari Pasal 19 sampai dengan Pasal 28, mengatur mengenai tanggung jawab pelaku usaha terhadap konsumen apabila konsumen mengalami kerugian akibat pelaku suaha.
Adapun tanggung jawab pelaku usaha yang dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen yang pada intinya:
(1) Tanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan (Pasal 19 Ayat (1))
(2) Tanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang ditimbulkan iklan tersebut Pasal 20
(3) Tanggung jawab sebagai pembuat barang (importir) dan/atau penyedia jasa yang diimpor apabila importasi barang dan/atau jasa tersebut tidak dilakukan oleh agen atau perwakilan luar negeri( Passal 29 ayat (1) dan (2),
(4) Pelaku suaha 1 yang menjual produk kepada pelaku usaha 2, berkewajiban memenuhi ganti rugi konsumen apabila produk yang diperoleh dari pelaku usaha 2 (tidak merubahan produk) merugikan konsumen (Pasal 24)
(5) Pelaku usaha berkewajiban menyediaakan suku cadang dan/atau fasilitas purna jual apabila pemanfaatan barang lebih dari 1 tahun (Pasal 25).
d. Perbuatan yang dilarang bagi Pelaku Usaha
Perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha berdasarkan Pasal 8 Undang-Undang Perilaku Konsumen adalah larangan bagi pelaku usaha dalam kegiatan produksi, antara lain16 :
1) Tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dalam ketentuan peraturan perundangundangan.
16 Lastini Lastini, “Perbuatan Yang Dilarang Bagi Pelaku USAha Menurut Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen,” Lex Privatum 4, no. 6 (2016): hlm 70..
772 2) Tidak sesuai dengan berat isi bersih atau neto.
3) Tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan, dan jumlah dalam hitungan menurut ukuran yang sebenarnya.
4) Tidak sesuai denga kondisi, jaminan, keistimewaan sebagaimana dinyatakan dalam label, etika , atau keterangan barang atau jasa tersebut.
5) Tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label. 6) Tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, dan
7) Tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang memuat barang, ukuran , berat isi atau neto.
Perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha berdasarkan Pasal 9 Undang-Undang Perlindungan Konsumen adalah larangan dalam menawarkan, mempromosikan suatu barang dan/atau jasa secara tidak benar atau seolah-olah17 :
1) Barang tersebut telah memenuhi atau memiliki potongan harga, harga khusus, standar mutu tertentu.
2) Barang tersebut dalam keadaan baik/baru.
3) Barang atau jasa tersebut telah mendapat atau memiliki sponsor, persetujuan, perlengkapan tertentu.
4) Dibuat oleh perusahaan yang mempunyai sponsor atau persetujuan. 5) Barang atau jasa tersebut tersedia.
6) Tidak mengandung cacat tersembunyi. 7) Kelengkapan dari barang tertentu. 8) Berasal dari daerah tertentu.
9) Secara langsung atau tidak merendahkan barang atau jasa lain.
10) Menggunakan kata-kata yang berlebihan seperti aman, tidak berbahaya, atau efek sampingan tanpa keterangan yang lengkap, dan
11) Menawarkan sesuatu yang mengandung janji yang belum pasti.
Perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha berdasarkan Pasal 10 Undang-Undang Perlindungan Konsumen adalah larangan untuk menawarkan, mempromosikan, mengiklankan atau membuat pernyataan yang tidak benar atau menyesatkan mengenai:
1) Harga suatu barang dan/atau jasa. 2) Kegunaan suatu barang dan/atau jasa.
3) Kondisi, tanggungan, jaminan, hak atau ganti rugi atas suatu barang dan/atau jasa.
4) Tawaran potongan harga atau hadiah. 5) Bahaya penggunaan barang dan/atau jasa.
d. Sansksi Terhadap Pelaku Usaha
Di Indonesia, secara umum, dikenal sekurang-kurangnya tiga jenis sanksi hukum yaitu:
1) Sanksi hukum pidana 2) Sanksi hukum perdata
3) Sanksi administrasi/administratif
Menurut R. Soesilo, Sanksi Pidana adalah Suatu perasaan tidak enak (sengsara) yang dijatuhkan oleh hakim dengan vonis kepada orang yang telah melanggar undang-undang hukum pidana. Sedangkan dalam hukum perdata, bentuk sanksi hukumnya
773 dapat berupa kewajiban untuk memenuhi prestasi (kewajiban), hilangnya suatu keadaan hukum, yang diikuti dengan terciptanya suatu keadaan hukum baru
Sedangkan untuk sanksi administrasi/administratif, adalah sanksi yang dikenakan terhadap pelanggaran administrasi atau ketentuan undang-undang yang bersifat administratif berupa Denda, pembekuan hingga pencabutan sertifikat dan/atau izin, penghentian sementara pelayanan administrasi hingga pengurangan jatah produksi.
Dalam upaya melindungi hak-hak konsumen Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen dan Peraturan Perundang-undangan lainnya menerapkan sanksi Administratif maupun sanksi Pidana kepada pelaku usaha jika dalam menjalankan atau menawarkan produknya, pelaku usaha terbukti melanggar ketentuanketentuan yang telah ditetapkan.
3. Tinjauan Umum Tentang Timbangan a. Pengertian Timbangan
Menurut arti kata timbangan adalah imbangan, timbalan atau bandingan. Secara istilah timbangan sendiri mempunyai pengertian sebagai alat untuk menimbang benda. Menurut pasal 1 huruf m Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal Pengertian alat ukur timbangan adalah alat yang diperuntukkan atau dipakai bagi pengukuran massa atau penimbangan. Timbangan dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori berdasarkan klasifikasinya. Jika dilihat dari cara kerjanya, jenis timbangan dapat dibedakan:18
1) Timbangan Manual, yaitu jenis timbangan yang bekerja secara mekanis dengan sistem pegas. Biasanya jenis timbangan ini menggunakan indikator berupa jarum sebagai penunjuk ukuran massa yang telah terskala.
2) Timbangan Digital, yaitu jenis timbangan yang bekerja secara elektronis dengan tenaga listrik. Umumnya timbangan ini menggunakan arus lemah dan indikatornya berupa angka digital pada layar bacaan.
3) Timbangan Hybrit, yaitu timbangan yang cara kerjanya merupakan perpaduan antara timbangan manual dan digital. Timbangan Hybrid ini biasa digunakan untuk lokasi penimbangan yang tidak ada aliran listrik. Timbangan Hybrid menggunakan display digital tetapi bagian paltform menggunakan plat mekanik.
Sedangkan berdasarkan penggunaannya, timbangan dapat dikelompokkan sebagai berikut:19
1) Timbangan Badan, yaitu timbangan yang digunakan untuk mengukur berat badan. Contoh timbangan ini adalah: timbangan bayi, timbangan badan anak dan dewasa, timbangan badan digital.
2) Timbangan Gantung, yaitu timbangan yang diletakkan menggantung dan bekerja dengan prinsip tuas.
3) Timbangan Lantai, yaitu timbangan yang diletakkan di permukaan lantai. Biasanya digunakan untuk mengukur benda yang bervolume besar.
4) Timbangan Duduk, yaitu timbangan dimana benda yang ditimbang dalam keadaan duduk atau sering kita ketahui Platform Scale.
5) Timbangan Meja, yaitu imbangan yang biasanya digunakan di meja dan rata-rata timbangan meja ini adalah Timbangan Digital.
18 “Http://Www.Timbanganindonesia. Acces,” n.d.pada tanggal 8 Juni 2020 pkl.16.19 WIB 19 Ibid
774 6) Timbangan Counting, yaitu timbangan hitung yang biasa digunakan untuk menimbang barang yang berjumlah, jadi barang bisa timbangan persatuan sebagai contoh timbangan counting ini sering digunakan untuk menimbang baut, mur, Spare part mobil dan sebagainya.
7) Timbangan Platform, yaitu timbangan yang memiliki tingkat kepricisian lebih tinggi dari timbangan lntai, timbangan Platform merupakan solusi dalam penimbangan di berbagai industri baik industri retail maupun manufacturing. 8) Timbangan Hewan/Ternak, yaitu jenis timbangan yang digunakan untuk
menimbang hewan baik sapi, kerbau maupun kambing serta sejenisnya.
9) Timbangan Emas, yaitu jenis timbangan yang memiliki akurasi tinggi untuk mengukur massa emas (logam mulia).
b. Jenis-Jenis Timbangan:20
1) Timbangan manual (pegas)
Timbangan manual yaitu jenis timbangan yang bekerja secara mekanis dengan sistem pegas. Timbangan pegas sering digunakan oleh para pedagang di pasar tradisional untuk mengukur beban seperti ayam, sayur-sayuran dan ikan. karena timbangan seperti ini sekala pengukurannya tidaklah besar dan sederhana dalam penggunaanya.
2) Timbangan digital
Timbangan digital yaitu alat untuk mengukur berat suatu benda atau zat dari ukuran besar hingga kecil. Hasil pengukuran akan lebih konsisten, tepat dan akurat dari pada timbangan jenis lainnya. Namun jenis timbangan ini bekerja secara elektronik dengan menggunakan tenaga listrik. Umumnya timbangan ini menggunakan indikator berupa angka digital pada layar bacaan timbangan. Telah banyak jenis timbangan digital yang beredar di pasar, seperti timbangan digital pos, timbangan makanan, timbangan bayi dan lain-lain.
3) Timbangan hybrid
Timbangan hybrid yaitu timbangan yang cara kerjanya menggunakan perpaduan antara timbangan manual dan digital. Timbangan hybrid ini biasanya digunakan untuk lokasi penimbangan yang tidak ada aliran listrik. Timbangan hybrid 16 menggunakan display digital tetapi bagian paltrom menggunakan plat mekanik.
II. PEMBAHASAN
A. Upaya Penanggulangan Tindak Pidana Terhadap Pelaku Usaha Timbangan Buah Sawit yang Tidak Melakukan Tera Ulang Terhadap Alat Ukur Timbangan di Wilayah Kabupaten Paser
Guna meminimalisir terjadinya kejahatan penipuan dengan menggunakan timbangan yang tidak sesuai standar maka dibutuhkan langkah-langkah penanggulangan. Pak Marwan Natsir (Pelaksana pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Paser) menyatakan bahwa adanya dua bentuk penanggulangan yang dapat ditempuh guna meminimalisir kejahatan penipuan dengan menggunakan timbangan yang tidak sesuai dengan standar di Kabupaten Paser yaitu:21
20 “Sentral Alkes, Mengenal Berbagai Macam Jenis Timbangan Dan Fungsinya, Dalam Https://Sentralalkes.Com/Blog/Jenis-Timbangan/,” n.d.
21 Wawancara dengan M. Marwan Natsir, Pelaksana pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan
775
1. Upaya Langsung
Upaya langsung adalah upaya yang dilakukan oleh pihak UPTD Balai Metrologi Kabupaten Paser secara langsung terhadap pelaku usaha timbangan buah sawit. adapun upaya-upaya langsung secara lebih lanjut sebagai berikut:
a. Pengecekan secara berkala dan secara langsung oleh pihak UPTD yang dilakukan secara Langsung
Pengecekan secara berlaka dan secara langsung ini, dimana pihak dari UPTD melakukan inspeksi secara berkala (tiga sampai enam bulan sekali) dan mendadak ke lokasi-lokasi pelaku usaha timbangan buah sawit. Pengecekan yang dilakukan yaitu pengecekan terhadap adanya surat izin penggunaan timbangan yang sah, surat izin usaha, dan pengecekan langsung keafsahan dari timbangan, apakah timbangan yang digunakan masih normal seperti pengecekan pertama, ataukah telah diubah. Di Kabupaten Paser pengecekan secara langsung dilakukan setiap 3-6 bulan sekali yang dilakukan oleh UPTD Metrologi Legal dan dibantu dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM. Pengecekan secara langsung dan berkala diutamakan kepada pelaku usaha timbangan buah sawit yang memiliki izin.
b. Penyitaan
Penyitaan merupakan tindakan lanjut oleh pihak UPTD, dimana ketika pihak dari pelaku usaha timbangan buah sawit telah mendapatkan surat teguran dan belum melapor ke pihak UPTD maka tindak lanjutnya yaitu diadakannya penarikan atau penyitaan timbangan untuk ditera dan ditera ulang, ataupun diadakan perbaikan terhadap timbangan yang telah diubah oleh pelaku usaha timbangan buah sawit. Di Kabupaten Paser penyitaan terhadap timbangan pelaku usaha buah sawit belum pernah dilakukan, tindakan dari pihak UPTD Metrologi Legal di Kabupaten Paser hanya sebatas memberikan teguran kepada pelaku usaha timbangan buah sawit yang tidak melakukan tera/tera ulang.
c. Reparasi timbangan yang telah diubah
Reparasi timbangan yaitu merupakan proses perbaikan timbangan atau pun pengecekan yang dilakukan pihak UPTD secara langsung, bagi timbangan yang didapat tidak sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh pihak UPTD untuk menentukan berat suatu barang atau timbangan yang baru akan ditera sebelum pemakaiannya. Proses perbaikan timbangan atau pengecekan di Kabupaten Paser dilakukan oleh UPTD Metrologi Legal, setelah melakukan perbaikan atau pengecekan pihak metrologi memberikan tanda atau segel kepada timbangan tersebut yang menandakan timbangan tersebut baik dan layak untuk digunakan.
d. Perubahan satuan timbangan yang merupakan produk dari luar negeri
Perubahan satuan timbangan yaitu perubahan satuan berat pada timbangan yang merupakan produksi dari luar, karena perbedaan penggunaan satuan di tiap negara, ini untuk memberikan standar berat yang yang sama bagi setiap timbangan yang digunakan bagi setiap pelaku usaha timbangan buah sawit di Kabupaten Paser.
e. Pemasangan segel yang resmi
Pemasangan segel yang resmi ini diperuntukkan agar adanya tanda legal penggunaan timbangan bagi pelaku usaha timbangan buah sawit, ini juga dapat menjadi landasan bagi konsumen yang akan menjual sawitnya kepada pelaku usaha timbangan buah sawit, karena adanya segel resmi ini menandakan bahwa timbangan yang digunakan resmi telah melalui tahap pengecekan oleh pihak dari UPTD. Pemasangan segel yang resmi oleh pihak UPTD Metrologi Legal Kabupaten Paser biasanya dilakukan pada waktu melakukan tera/tera ulang terhadap timbangan pelaku
776 usaha buah sawit. Diketahui di Kabupaten Paser terdapat 56 dari 70 pelaku usaha timbangan buah sawit tidak bertanda tera.
2. Upaya Tidak Langsung
Upaya tidak langsung yaitu upaya yang dilakukan oleh pihak pelaku usaha timbangan buah sawit untuk secara langsung melakukan pengecekan terhadap timbangan yang digunakan di Kantor UPTD. Semestinya tindakan ini merupakan tindakan awal yang harus dilakukan oleh pihak dari pelaku usaha timbangan buah sawit. Adapun beberapa hal yang menjadi upaya langsung yang harus dilakukan bagi pemilik timbangan yaitu sebagai berikut:
a. Pengecekan secara berkala dan secara langsung yang dilakukan badan metrologi legal
Pengecekan secara berkala, tindakan ini merupakan tindakan wajib yang harus dilakukan oleh pihak dari pemegang timbangan. Khususnya di Kabupaten Paser pelaku usaha timbangan buah sawit diwajibkan untuk melapor dalam kegiatan usahanya agar terdaftar dan mendapatkan izin, itu dilakukan agar pihak UPTD dapat melakukan pengecekan secara berkala.
b. Pendaftaran membuka usaha dengan menggunakan timbangan
Pendaftaran membuka usaha ini dilakukan untuk melakukan pendataan terhadap pelaku usaha timbangan buah sawit yang akan menggunakan timbangan, in juga merupakan rekomendasi agar mendapatkan surat izin penggunaan timbangan. Pendaftaran ini diperuntukkan untuk mendata agar pihak dari UPTD dapat mudah melakukan pengecekan terhadap pelaku usaha timbangan buah sawit yang telah memenuhi segala perizinan.
c. Pembuatan surat izin penggunaan timbangan
Surat penggunaan timbangan ini, diperuntukkan agar pelaku usaha timbangan buah sawit khususnya di Kabupaten Paser, membuat izin secara tertulis kepada pihak badan Metrologi Legal, dan ini merupakan hal yang terpenting bagi setiap pengguna timbangan baik yang diperuntukkan untuk perdagangan maupun non perdagangan.
B. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Pelaku Usaha Timbangan Buah Sawit Tidak Melakukan Tera Ulang Terhadap Alat Ukur Timbangan di Wilayah Kabupaten Paser
Dalam melaksanakan suatu pekerjaan pasti tidak akan terlaksana dengan baik apabila ada hambatan yang mengganggu. Dalam melakukan suatu penegakan hukum pasti ada saja hambatan-hambatan yang terjadi, seperti halnya dalam penerapan tera ulang alat ukur timbangan terhadap pelaku usaha timbangan buah sawit di Kabupaten Paser. Berdasarkan hasil wawancara dengan M. Marwan Natsir, beliau mengatakan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan pelaku usaha timbangan buah sawit tidak melakukan tera ulang adalah:22
1. Faktor Hukum (Undang-Undang/Aturan Hukum)
Adanya peraturan yang menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten/Kota harus siap untuk melaksanakan pelayanan tera/tera ulang berdasarkan kewenangan yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Mengingat Undang-Undang Pemerintahan Daerah sebelumnya pelaksanaan tera dan tera ulang alat-alat ukur, takar, timbang dan perlengkapannya (UTTP) dilakukan oleh Daerah Provinsi
22 Wawancara dengan M. Marwan Natsir, Pelaksana pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan
777 dan Daerah Kabupaten/Kota serta Pemerintah Pusat hanya melakukan tera dan tera ulang terhadap UTTP penanganan khusus, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Dengan adanya aturan tersebut maka pelaksanaan tera ulang wajib dilakukan oleh pihak kabupaten daerah sendiri. Di Kabupaten Paser telah dibentuk UPTD Metrologi Legal, hanya saja fungsi dari UPTD tersbut belum berjalan dengan maksimal terutama dalam hal tera/tera ulang dikarenakan tidak adanya tenaga ahli/profesional yang dimiliki oleh UPTD Metrologi Legal Kabupaten Paser, sehingga saat ini dalam menjalankan fungsinya UPTD Metrologi Legal di bantu oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Paser.
2. Faktor Penegak Hukum
Fungsi hukum, mentalitas atau kepribadian petugas penegak hukum memainkan peranan penting, kalau peraturan sudah baik, tetapi kualitas petugas kurang baik, ada masalah. Oleh karena itu, salah satu kunci keberhasilan dalam penegakan hukum adalah mentalitas atau kepribadian penegak hukum. Penegak hukum di Kabupaten Paser kurang profesional dalam menjalankan tugasnya, hal ini terihat jelas 56 dari 70 pelaku usaha timbangan buah sawit atau pengelola loading ramp di wilayah Kabupaten Paser tidak bertanda tera, tetapi tidak satupun pelaku usaha timbangan buah sawit yang diproses lebih lanjut ke daam penyidikan.
3. Faktor Sarana dan Fasilitas Pendukung
Sarana dan Fasilitas pendukung dalam penegakan hukum pelaku usaha timbangan buah sawit tidak jauh berbeda dengan penegakan hukum pada umumnya dirasakan masih serba terbatas antara lain:
a. Dukungan anggaran operasional penyelidikan dan penyidikan masih terbatas. b. Tidak adanya transportasi operasional yang digunakan untuk melakukan
pengecekan atau pengawasan terhadap pelaku usaha timbangan buah sawit.
4. Faktor Masyarakat
Penegak hukum berasal dari masyarakat dan bertujuan untuk mencapai kedamaian di dalam masyarakat. Setiap warga masyarakat atau kelompok sedikit banyaknya mempunyai kesadaran hukum, persoalan yang timbul adalah taraf kepatuhan hukum, yaitu kepatuhan hukum yang tinggi, sedang, atau kurang. Di Kabupaten Paser sendiri kepatuhan hukum masyarakat nya masih sangat kurang, ini terbukti 56 dari 70 pelaku usaha timbangan buah sawit atau pengelola loading ramp di wilayah Kabupaten Paser tidak bertanda tera.
5. Faktor Budaya
Faktor kebudayaan sebenarnya bersatu padu dengan faktor masyarakat tapi sengaja dibedakan karena kebudayaan (sistem) hukum pada dasarnya mencakup nilai-nilai yang berlaku. Nilai-nilai yang merupakan konsepsi-konsepsi abstrak mengenai apa yang dianggap baik (sehingga dianuti), dan apa yang dianggap buruk (sehingga dihindari). Di Kabupaten Paser sendiri faktor kebudayaan dan adat istiadatnya masih sangat kental, sehingga masyarakatnya masih menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan, hal inilah yang menyebabkan penegakan hukum di Kabupaten Paser sulit untuk ditegakkan.
778
III. PENUTUP A. Kesimpulan
Pertama, upaya yang dilakukan dalam penanggulangan tindak pidana pelaku usaha timbangan buah sawit yang tidak sesuai standar terbagi atas dua yaitu upaya langsung dan upaya tidak langsung. Upaya langsung yaitu dengan melakukan pengecekan secara berkala dan secara langsung oleh pihak UPTD yang dilakukan secara langsung, penyitaan, reparasi timbangan yang telah diubah, perubahan satuan timbangan yang merupakan produk dari luar negeri, pemasangan segel yang resmi. Upaya tidak langsung yaitu dengan cara pengecekan secara berkala dan secara langsung yang dilakukan di Badan Metrologi Legal, pendaftaran membuka usaha dengan menggunakan timbangan, dan pembuatan surat izin penggunaan timbangan.
Kedua, faktor penyebab pelaku usaha timbangan buah sawit yang tidak melakukan tera ulang di Kabupaten Paser, yaitu faktor hukum, faktor penegak hukum, faktor sarana dan prasarana, faktor masyarakat, dan faktor kebudayaan.
B. Saran
Pertama, lebih ditekankan lagi sosialisasi kepada para pelaku usaha timbangan buah sawit dan masyarakat tentang tindak pidana penipuan timbangan yang tidak sesuai standar ini, karena ini akan merugikan konsumen secara pribadi dan untuk pertumbuhan ekonomi. Dan sebaiknya konsumen lebih cerdas memilih lokasi-lokasi untuk menjual buah sawit, karena banyaknya juga pelaku usaha timbangan buah sawit yang melakukan kegiatannya tanpa izin dari dinas perdagangan. Kedua, diharapkan kepada Pemerintah Kabupaten Paser agar dapat mengoptimalkan fungsi dari UPTD Metrologi Legal yang ada dengan cara merekrut tenaga ahli dan profesional dalam bidang tera/tera ulang agar pelaksanaan tera ulang di Kabupaten Paser dapat berjalan dengan maksimal.
DAFTAR PUSTAKA A. Buku
Barda Nawawi Arief, S. H. Masalah Penegakan Hukum Dan Kebijakan Hukum Pidana Dalam
Penanggulangan Kejahatan. Prenada Media, 2018.
Christine, S. T., and Christina ST Kansil. “Pokok-Pokok Hukum Pidana.” Jakarta: PT Pradya
Paramitha, 2007.
Ilyas, Amir, and Maulana Mustamin. Asas-Asas Hukum Pidana: Memahami Tindak Pidana Dan
Pertanggungjawaban Pidana Sebagai Syarat Pemidanaan: Disertai Teori-Teori Pengantar Dan Beberapa Komentar. Kerja sama Rangkang Education Yogyakarta & PuKAP-Indonesia,
2012.
Kristiyanti, Celina Tri Siwi. Hukum Perlindungan Konsumen. Jakarta Selatan: Grafika, 2008.
R. Abdoel Djamali, Pengantar Hukum Indonesia Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta, 2010, Hlm.175,
n.d.
Soerjono & Abdul Rahman, 2003, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Rineka Cipta, Hal 23, n.d.
B. Peraturan Perundang-undangan
779 Pasal 7 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang pangan menyebutkan kewajiban pelaku
usaha
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan antara Pemerintah
Pasal 8 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen C. Sumber Lain
“Sentral Alkes, Mengenal Berbagai Macam Jenis Timbangan Dan Fungsinya, Dalam Https://Sentralalkes.Com/Blog/Jenis-Timbangan/,” n.d.
Lastini, Lastini. “Perbuatan Yang Dilarang Bagi Pelaku USAha Menurut Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.” Lex Privatum 4, no. 6 (2016).
Muin Bahaf, Abdul. “KEWIRAUSAHAAN (Entrepreneurship) Membentuk Karakter Wirausaha Mahasiswa,” 2018.
http://tokotimbangandigitalmurah.com/pemerintah-mencanangkan-setiap-timbangan-harus-di-tera-oleh-badan-metrologi/di akses pada tanggal 8 juni 2020
https://www.cendananews.com/2019/01/pemda-diminta-mengecek-timbangan-pembeli-sawit-masyarakat.html di akses pada tanggal 8 juni 2020
https://www.rappler.com/indonesia/125058-5-hal-tera-timbangan-penting-jangan-curang di akses pada tanggal 8 juni 2020
Redaksi, 2015, Desak Timbangan Ditera Ulang, http://balikpapan.prokal.co/read/news/176283-desak-timbangan-ditera-ulang, diakses 8 Juni 2020
“Http://Balikpapan.Prokal.Co/Read/News/176283-Desak-Timbangan-Ditera-Ulang,” n.d. “Https://Www.Cendananews.Com/2019/01/Pemda-Diminta-Mengecek-Timbangan-Pembeli-Sawit-Masyarakat.Html,” n.d. “Https://Www.Rappler.Com/Indonesia/125058-5-Hal-Tera-Timbangan-Penting-Jangan-Curang,” n.d. “Http://Tokotimbangandigitalmurah,” n.d. “Http://Www.Jurnalhukum.Com/Pengertian-Pelaku-Usaha/,” n.d. “Http://Www.Timbanganindonesia. Acces,” n.d.
Yuliani, Febri. “IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENGUATAN KELEMBAGAAN PERKEBUNAN SAWIT RAKYAT PADA LAHAN GAMBUT.” Jurnal Kebijakan Publik 10, no. 1 (2019)