SENATEK 2015| Malang, 17 Januari 2015 704
Aplikasi Membran Nata de Chayote sebagai Separator Baterai
Zink Karbon
Firyal Amira Gista1, Fredy Kurniawan2
1) Program Studi Pascasarjana Kimia, Fakultas MIPA, ITS Surabaya
e-mail: 2) [email protected]
ABSTRAK
Perkembangan IPTEK masa kini memicu peningkatan konsumsi energi listrik. Penggunaan energi listrik pada berbagai aktifitas melibatkan alat penyimpan dan konversi listrik. Penelitian mengenai keterbaruan komponen alat penyimpan energi listrik terus dipelajari, diantaranya inovasi dalam bidang material separator baterai. Membran nata de chayote (NDCh) telah diaplikasikan sebagai separator baterai zink karbon. NDCh merupakan selulosa bakteri hasil fermentasi labu siam Sechium edule dengan memanfaatkan aktifitas bakteri Acetobacter xylinum. Lembaran NDCh massa 12 gram dipres dan dikeringkan untuk selanjutnya disisipkan pada baterai zink karbon merk tertentu. Pada penelitian ini ditentukan ketebalan dan karakteristik elektrokimia membran. Metode Linear sweep voltammetry dan
Electrochemical Impedance Spectroscopy digunakan sebagai parameter uji elektrokimia (daya) dan
tahanan membran NDCh. Baterai zink karbon merk tertentu dibuka dan diganti komponen separator dengan membran NDCh. Nilai daya baterai diperoleh 1.14260 VA dengan ketebalan membran 0.060 - 0.067 mm. Sedangkan baterai menggunakan separator komersil memiliki daya 1.13712 VA dengan ketebalan 0.13 mm (selimut tabung), 0.47 mm dan 0.77 mm (tutup dan alas tabung). Tahanan Rs diperoleh 948.78 mΩ dan tahanan Rp 918.53 mΩ. Kedua nilai tahanan tersebut melebihi tahanan baterai asli pabrik yaitu Rs 280.40 mΩ dan Rp 3.1361 Ω. Data ini memberikan kesimpulan bahwa membran NDCh dapat digunakan sebagai separator alternatif baterai zink karbon pengganti separator merk komersil.
Kata kunci: Nata de chayote, selulosa bakterial, separator baterai.
ABSTRACT
Development of science and technology lead to increased consumption of electrical energy. Electrical energy used in many activities involving storage device and electric converters. Research on the renewal of the components of the electric energy storage device continues to be studied, including innovations in the field of battery separator material. Nata de chayote (NDCh) membrane has been applied as a carbon zinc battery separator. NDCh is bacterial cellulose that fermented from Sechium edule substrate by Acetobacter xylinum activity. Mass of NDCh sheet is 12 gram. This NDCh sheet were pressed and dried for subsequent carbon zinc battery inserted at specific brands. In this study, the thickness and electrochemical characteristics of the membrane were determined. Linear sweep voltammetry and Electrochemical Impedance Spectroscopy methods is used as electrochemical test parameters (power) of NDCh membrane. Carbon zinc battery certain brands opened and replaced with NDCh membrane separator. Battery power obtained is 1.14260 VA with membrane thickness 0.060 to 0.067 mm. While the battery using a commercial separator obtained power 1.13712 VA has a thickness 0.13 mm (blanket tube), 0.47 mm and 0.77 mm (lid and the base of the tube). Optimum Rs resistance obtained 948.78 mΩ and Rp resistance 3.1361 Ω. Both the resistance value exceeds the resistance of factory original battery separator 280.40 mΩ for Rs and 3.1361 Ω for Rp. These data lead to conclude that NDCh membranes can be used as alternative for carbon zinc battery separator commercial brands.
Keywords: Nata de chayote, bacterial cellulose, battery separator.
Pendahuluan
Kemajuan teknologi memacu manusia menggunakan lebih banyak energi. Terdapat beragam bentuk energi dan semuanya dapat saling berubah bentuk. Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa jumlah
SENATEK 2015| Malang, 17 Januari 2015 705
total energi di alam selalu konstan sama. Energi dapat diubah dari satu bentuk kebentuk lainnya tetapi energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan (hukum termodinamika pertama) (Chang, 2004). Penggunaan energi sebagai pemenuh kebutuhan manusia harus disikapi dengan baik agar keberlangsungan sumber daya energi terjaga hingga generasi mendatang. Konversi energi dari satu bentuk kebentuk lainnya selayaknya terjadi secara efisien. Berbagai material penyimpan energi dipilih sebagai alat bantu penyimpan energi, salah satunya beterai. Baterai adalah suatu sel listrik yang dapat menghasilkan energi listrik dari reaksi kimia. Sel baterai terdiri dari elektroda negatif, elektrolit untuk menghantarkan ion, pemisah (separator) yang juga berperan sebagai penghantar ion dan elektroda positif. (Riyanto, 2013). Secara singkat susunan komponen dalam sel baterai zink karbon dijelaskan pada Gambar 1. Separator berada diantara elektroda negatif (logam seng) dan elektrolit (mangan dioksida) (Kreysa dkk., 2014).
Berbagai jenis separator telah digunakan dalam baterai selama bertahun-tahun. Separator dapat dibuat dari kertas selulosa dan kertas kaca hingga serat nonwoven, poliolefin (polietilen, polipropilen),
foams, membran penukar ion dan membran lapis tipis mikropori yang disintesis dari material polimer.
Separator memegang peran penting dalam semua baterai yaitu menjaga elektroda positif dan elektroda negatif terpisah guna mencegah terjadi sirkuit pendek listrik dan pada saat yang sama memungkinkan terjadi transportasi ion pembawa muatan yang dibutuhkan untuk terjadinya lintasan arus dalam sel elektrokimia (Linden dan Reddy, 2002).
Perkembangan ilmu membran dan teknologi berperan dalam inovasi material dan struktur separator baterai. Separator berbasis membran selulosa dinilai mampu menjadi solusi atas kebutuhan separator yang bersifat renewable.
Gambar 1. Susunan komponen sel baterai zink-karbon (a) dan baterai zink-karbon dengan
separator membran NDCh (b)
Membran selulosa terbuat dari serat (selulosa) dapat bersumber dari tumbuhan (bubur kayu) atau disintesis oleh bakteri asam asetat, selanjutnya disebut selulosa bakterial (SB). Membran selulosa bakterial adalah membran selulosa yang disintesis dengan bantuan bakteri tertentu. Salah satu bakteri tersebut adalah Acetobacter xylinum. Selulosa bakterial yang diproduksi oleh Acetobacter xylinum pada antarmuka antara udara dan cairan air kelapa dikenal sebagai nata de coco. Proses produksi selulosa bakterial lebih murah. Disamping itu pembiakan selulosa bakterial tidak memerlukan lahan luas dan waktu pembiakan yang singkat (sekitar dua minggu). Selulosa yang berasal dari serbuk kayu memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dipanen. Apabila dieksploitasi dapat mengganggu keseimbangan ekosistem hutan (Wantini, 2012) dan berdampak kepada perubahan cuaca dan iklim. Selain itu terdapat beberapa masalah selama produksi selulosa dari bahan tersebut antara lain polusi yang terjadi selama proses pulping dan bleaching pada waktu pemurnian serat selulosa dan sejumlah besar residu cair serta toksin yang dilepaskan dari selulosa (Chen dkk., 2010) oleh karena itu perlu dicari bahan non-kayu sebagai sumber alternatif sintesis selulosa.
Penyedia selulosa bakterial adalah nata. Selain menggunakan substrat air kelapa (nata de coco), nata dapat dibuat dari berbagai substrat yang memiliki nutrisi menyerupai air kelapa misalnya menggunakan substrat labu siam (Sulistiyana dkk., 2014). Labu siam atau dikenal juga sebagai manisa
SENATEK 2015| Malang, 17 Januari 2015 706
memiliki nama ilmiah Sechium edule. Tumbuhan ini merambat di tanah atau agak memanjat dan biasa dibudidayakan di pekarangan. Buah menggantung dari tangkai (Aung dkk., 1990). Warna buahnya bermacam-macam ada yang putih, hijau tua, atau hijau muda (gambar 2). Buah ini ditutupi rambut pendek halus namun ada yang tidak ditutupi rambut (Saade, 1996). Sulistiyana dan kawan-kawan telah berhasil membuat nata berbahan substrat labu siam menjadi membran nata. Nata bersubstrat labu siam,
nata de chayote (NDCh) memiliki sifat mekanik kuat tarik (tensile strain) dan kuat ulur optimum pada
74.64 MPa dan 6.052%. Selain itu diperoleh pula kapasitas penyerapan air (KPA) NDCh sebesar 836.2265% (Sulistiyana dkk., 2014). Hasil KPA ini memenuhi kualifikasi dasar separator yang ditulis Arora dan Zhang (2004). Karakteristik mekanik tersebut tidak berbeda jauh dengan karakteristik material membran komersil yang diaplikasikan sebagai separator baterai yaitu kuat tarik berkisar antara 42-180 MPa (separator PP/PE/PP) (Chun dkk., 2012), kuat ulur 6% (separator polimetilmetakrilat) (Tanji, 2009) sehingga membran selulosa bakterial NDCh berpeluang diaplikasikan sebagai separator baterai.
Gambar 2. Buah labu siam ketika dipohon dan tampak daging buah setelah dibelah.
Metode Penelitian
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi buah labu siam, gula pasir, bibit nata (starter), urea, asam asetat, NaOH dan akuades. Alat yang digunakan yaitu beker gelas, pipet volum, pengaduk, gelas ukur, kertas pH, neraca timbang, pemanas (hot plate), blender, pisau, kain sebagai penyaring, wadah pencetak nata, alat hydraulic press, mikrometer sekrup, kertas koran, karet, pinset, plat kaca dan oven. Sedangkan instrumen yang digunakan untuk analisa daya baterai yaitu satu set Autolab dengan menggunakan teknik linier sweep voltammetri dan
electrochemical impedance spectroscopy. Metode
A. Pembuatan Nata de chayote
Nata de chayote dibuat dengan metode standar seperti metode yang telah dilakukan oleh
Sulistiyana dkk (2014). Labu siam dibersihkan dan dikupas. Daging buah labu siam ditimbang sebanyak 300 gram dan diblender dengan penambahan akuades 1000 mL. Sari labu siam diambil dengan cara mendidihkan labu siam yang telah diblender diatas hot plate selama 7-10 menit. Rebusan sari labu siam didiamkan beberapa saat untuk selanjutnya disaring menggunakan kain, digunakan filtrat, residu dibuang. Gula pasir 100 gram dan urea 4 gram ditambahkan ke dalam filtrat sari labu siam. Campuran filtrat dengan gula pasir dan urea dipanaskan kembali hingga mendidih. Larutan sari labu siam pasca rebusan kedua ini disebut substrat. Substrat yang telah direbus didinginkan. Apabila suhu substrat telah sama dengan suhu ruangan, ditambahkan asam asetat hingga diperoleh pH substrat 3-4. Derajad keasaman (pH) substrat diukur menggunakan kertas pH. Selanjutnya substrat dituang pada cetakan nata (loyang persegi panjang ukuran 17.5 x 10 cm) yang telah steril. Setiap 300 mL substrat ditambahkan bibit (starter) nata berisi bakteri Acetobacter xylinum sebanyak 30 mL. Substrat yang telah berisi bibit nata diaduk dan ditutup dengan kertas koran steril serta diberi karet dibagian atas agar kertas koran tidak terbuka / bergeser. Bibit nata dibiakkan dalam ruangan terlindung dari cahaya
SENATEK 2015| Malang, 17 Januari 2015 707
matahari langsung selama 10-14 hari. Selama proses pembiakan diusahakan tidak terkontaminasi oleh jamur atau bakteri patogen. Pada massa panen larutan substrat dalam cetakan tampak terbagi dua fasa. Fasa atas adalah lapisan kenyal berwarna putih keruh merupakan nata sedang fasa bawah berupa larutan kental sisa proses fermentasi bakteri
Acetobacter xylinum. Nata dipisahkan dari fasa bawah dan dicuci hingga bersih. B. Penetralan Nata de Chayote
Nata de chayote (NDCh) yang telah dicuci masih belum netral oleh karena itu perlu
dilakukan penentralan. Penetralan dilakukan dengan cara NDCh yang telah dicuci direndam dalam air panas selama 15 menit. Selanjutnya NDCh direndam dalam larutan NaOH 1% selama 24 jam. Kemudian NDCh dibilas dengan air mengalir dan direndam kembali dalam larutan asam asetat 1% selama 24 jam. NDCh diblias kembali menggunakan akuades yang mengalir dan NDCh siap dibuat menjadi membran.
C. Pembuatan Membran NDCh
Lembaran Nata de chayote yang telah netral diserap kandungan airnya meggunakan kertas saring hingga tidak ada air yang keluar dari lembaran NDCh. NDCh dipotong sesuai pola tempat pengepres yaitu persegi ukuran 10 x 5 cm sebagai selimut tabung dan lingkaran diameter 3.4 cm sebagai alas tutup tabung. Satu lembar NDCh dipotong menjadi 3 bagian yaitu satu persegi panjang sebagai selimut dan dua lingkaran sebagai alas dan tutup tabung. Apabila NDCh setelah dipotong mengeluarkan air maka perlu diserap kembali airnya menggunakan kertas saring. Lembaran NDCh yang telah terpotong ditimbang dan dicatat massanya. Massa yang digunakan adalah 12 gram. Ketebalan NDCh untuk alas dan tutup tabung mengikuti ketebalan lembaran selimut tabung yang berasal dari satu lembar NDCh. Setiap satu lembaran NDCh bisa digunakan untuk satu membran NDCh, jika massanya lebih maka lembaran NDCh disayat (dikurangi massa) hingga mencapai massa yang diinginkan. Selanjutnya lembaran NDCh ini diletakkan pada lempeng pengepres dan dipres selama 2 menit dengan tekanan sebesar 2.5 ton. Lembaran yang NCDh telah menjadi lembaran tipis dioven pada suhu 40°C selama ± 20 menit atau sampai kering.
Karakterisasi Membran NDCh A. Uji Ketebalan Membran NDCh
Membran tipis NDCh ditentukan ketebalan menggunakan alat mikrometer sekrup. Setiap lembaran membran NDCh bentuk persegi panjang diukur pada 12 titik berbeda. Sedangkan untuk lembaran NDCh bentuk lingkaran diukur ketebalan pada 8 titik berbeda. Pada masing-masing data ditentukan modus dan digunakan data modus tersebut sebagai ketebalan rata-rata membran NDCh.
B. Uji Daya Baterai dan Tahanan Membran NDCh
Daya (power) baterai ditentukan menggunakan set alat Autolab dari Metroohm®. Teknik yang digunakan adalah linear sweep voltammetri. Teknik ini melibatkan pengukuran arus dan voltase dalam waktu tertentu yang dapat memberikan grafik luasan sebagai fungsi integral daya. Selain fungsi daya dilakukan pula pengukuran tahanan R (resistansi) membran terhadap arus yang dialirkan. Pengukuran hambatan menggunakan teknik FRA impedance galvanostatic dan akan diperoleh grafik nyquist sebagai fungsi impedansi nyata / real (Zr) dan impedansi
imajiner (Zi). Setiap sampel dilakukan pengukuran sebanyak tiga kali pengukuran.
SENATEK 2015| Malang, 17 Januari 2015 708
A. Hasil Pembuatan Nata de Chayote
Substrat nata de chayote dibuat melalui serangkaian tahap yang berurutan. Dimulai dari pemilihan bahan baku buah labu siam yang baik, takaran komposisi masing-masing bahan (daging buah labu siam, gula pasir, urea, akuades) presisi, proses pemanasan untuk mendapatkan sari labu siam hingga pengkondisisan substrat agar pH tepat 3-4. Substrat diperoleh dengan cara merebus labu siam yang telah diblender dan kemudian dipisahkan filtrat dari residunya. Pada filtrat sari labu siam ini dilakukan penambahan gula pasir sebagai sumber glukosa dan diberi penambahan urea sebagai sumber nitrogen. Glukosa dan nitrogen disini merupakan nutrisi penting dibutuhkan bakteri Acetobacter xylinum untuk membuat pita-pita selulosa pada permukaan media. Bakteri Acetobacter xylinum hanya mampu hidup pada pH 3-4 (Warisno, 2004) oleh karena itu dilakukan penambahan asam asetat ± 10 mL atau hingga diperoleh pH 3-4. Penanaman bakteri Acetobacter xylinum (inokulasi bakteri) pada media substrat dilakukan setelah air rebusan substrat telah dingin sesuai dengan temperatur kamar. Hal ini dikarenakan sifat bakteri tersebut hanya mampu tumbuh pada suhu 26-27°C. Perlu diperhatikan bahwa seluruh alat yang dipergunakan harus terbebas dari kuman/bakteri patogen terhadap bakteri nata karena dapat mengkontaminasi tumbuhnya lapisan nata. Lembaran nata
de chayote yang tumbuh dengan baik dan telah dipanen serta dibersihkan tampak pada Gambar
3a. Pada Gambar 3b tampak pertumbuhan lapisan NDCh yang disertai dengan kontaminan jamur.
Nata de chayote yang telah dipanen dibersihkan dari lendir-lendir hingga bersih. Dilakukan pencucian menggunakan air mengalir agar sisa-sisa bakteri yang menempel hilang terbawa aliran air. Namun hal ini belum cukup, oleh karena itu perlu direndam dalam air panas (telah mendidih) selama 15 menit agar bakteri pada nata mati. Bakteri Acetobacter xylinum yang berkembangbiak menghasilkan nata merupakan bakteri asam sehingga perlu dilakukan perendaman dalam larutan NaOH selama 24 jam. Selain itu perendaman dengan NaOH ini berfungsi untuk menghilangkan komponen-komponen non selulosa yang dapat menghalangi ikatan hidrogen yang terjalin antar rantai molekul selulosa yang mengakibatkan penurunan kekuatan sifat mekanis selulosa (Piluharto, 2001). Perendaman tahap kedua ini mengakibatkan sifat basa pada lapisan nata sehingga perlu dinetralkan dengan perendaman dalam larutan asam asetat 1% selama 24 jam (Yuliani, 2005).
Gambar 3. NDCh bersih (a) dan NDCh yang tumbuh bersama kontaminan (b) B. Hasil Pembuatan Membran NDCh
Lembaran NDCh diserap kandungan airnya agar dapat diperoleh massa konstan saat ditimbang. Kemudian lembaran NDCh dipotong-potong sesuai ukuran plat pengepres seperti pada Gambar 4a. Lembaran NDCh yang telah dipres dan dikeringkan oven nampak seperti Gambar 4b. Saat mengoven lembaran membran perlu dilapisi kain dan dijepit agar selama proses pengeringan membran nata tidak keriput dan berubah bentuk.
SENATEK 2015| Malang, 17 Januari 2015 709
Gambar 4. Lembaran NDCh sebelum dipotong (a) dan membran NDCh setelah dioven (b)
C. Hasil Pengukuran Ketebalan Membran NDCh
Hasil pada Tabel 1 merupakan modus dari keseluruhan ulangan pengukuran. Pada Tabel 1 memberikan informasi bahwa ketebalan membran NDCh massa 12 gram memiliki sesilih nilai 0.007 mm. Nilai selisih ini bisa terjadi dikarenakan pada saat pengeringan oven membran nata mengalami pengkerutan. Pengkerutan disebabkan membran NDCh terkena panas namun bidang cetak yaitu kain dan penjepit kurang tepat menarik seluruh sisi tepi membran dengan sama kuat.
Tabel 1. Ketebalan Membran NDCh
massa NDCh Ketebalan (mm) Persegi panjang (selimut) Lingkaran i (alas) Lingkaran ii (atap) 12 gram 0.07 0.06 0.06 0.06 0.08 0.06 0.07 0.06 0.06 rerata 0.067 0.067 0.06
D. Hasil Pengukuran Daya Baterai
Baterai zink-karbon diambil separatornya dan digantikan dengan membran NDCh. Sebagai pembanding digunakan separator asli dari pabrik namun telah dibongkar elektrolitnya dan dimasukkan kembali sehingga kondisi baterai berseparator asli pabrik dianggap sama dengan baterai berseparator membran NDCh. Kurva I (arus) vs V (potensial) sebagai fungsi daya baterai diperoleh seperti pada Gambar 5. Pada Gambar 5 dijelaskan bahwa membran NDCh massa 12 gram memberikan nilai arus dalam amper yang lebih tinggi daripada separator asli pabrik. Pada grafik Gambar 5 memiliki luas area. Luas area ini apabila diintegralkan akan memberikan nilai daya (power) baterai. Daya baterai berseparator membran NDCh massa 12 gram sebesar 1.1426 volt ampere. Nilai daya baterai berseparator komersil (asli pabrik) 1.13712 VA. Nilai daya yang dihasilkan baterai berseparator asli pabrik hampir sama dengan nilai daya baterai yang menggunakan separator membran NDCh, bahkan lebih rendah. Hal ini memberikan informasi bahwa membran NDCh mampu dijadikan separator baterai zink-karbon menggantikan separator komersil.
E. Hasil Tahanan Membran NDCh
Kinerja separator pada sel baterai melibatkan unsur tahanan listrik (R) dalam satuan ohm. Karateristik tahanan pada suatu membran menjadi penting apabila fungsi membran adalah sebagai pembatas antara elektrolit dengan elektroda negatif. Tahanan listrik dinyatakan dalam impedansi (Z) dan dapat ditentukan dengan metode Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS). Impedansi digambarkan oleh grafik nyquist yang berbentuk setengah lingkaran.
Pada grafik nyquist diplot berdasar rangkaian sirkuit set alat dan diperoleh nilai Rs (tahanan elektrolit) dan Rp (tahanan material). Pada Gambar 6. Dijelaskan bahwa nilai hambatan Rspada membran NDCh massa 12 gram 948.78 mΩ sedangkan Rp massa membran
SENATEK 2015| Malang, 17 Januari 2015 710
NDCh 12 gram 918.53 mΩ. Berdasarkan pengukuran nilai Rs dan RP separator asli baterai adalah Rs 280.40 mΩ dan Rp 3.1361 Ω. Nilai tahanan yang didapatkan dengan menggunakan separator membran NDCh jauh lebih besar. Hal ini memberikan makna bahwa dengan menggunakan membran NDCh kinerja baterai akan lebih panjang life time dalam menghantarkan arus disebabkan nilai tahanan yang besar maka arus yang dialirkan relatif kecil. 0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0 1.2 1.4 1.6 0.745 0.750 0.755 0.760 0.765 Arus ( Ampe r) Potensial (Volt) 12 gr asli pabrik
Gambar 5. Grafik daya baterai separator asli pabrik dan separator membran NDCh
Gambar 6. Nilai tahanan membran NDCh pada baterai zink-karbon
Kesimpulan
Lembaran nata de chayote mampu dijadikan membran separator baterai zink karbon. Daya baterai berseparator membran NDCh tidak jauh berbeda dengan daya baterai berseparator komersil dari pabrik. Nilai tahanan membran NDCh sebagai separator lebih tinggi daripada nilai tahanan baterai berseparator komersil.
Acuan Rerefensi
Aung L. H., Ball A. dan Kushad, M., (1990), “Developmental and Nutritional Aspects of Chayote (Sechium edule, Cucurbitaceae)”, Econ. Bot. Vol. 44, hal 157–164.
Chang, R., (2004), Kimia Dasar : Konsep-konsep Inti, Jilid 1 Edisi ke-3, Erlangga, Jakarta Timur. Chen P., Cho S. Y. dan Jin, H.J., (2010), “Modification and Applications of Bacterial Celluloses in
SENATEK 2015| Malang, 17 Januari 2015 711
Chun S.-J., Choi E.-S., Lee E.-H., Kim J. H., Lee S.-Y. dan Lee S.-Y., (2012), “Eco-friendly Cellulose Nanofiber Paper-Derived Separator Membrans Featuring Tunable Nanoporous Network Channels for Litium-ion Batteries”, J. Material Chemistry, Vol 22, hal 16618–16626.
Kreysa G., Ota K. and Savinell R. F. eds. (2014) Encyclopedia of Applied Electrochemistry., Springer New York, New York, NY.
Linden, D. dan Reddy, T.B., (2002), Handbook of Batteries, McGraw-Hill, New York.
Piluharto B. (2001) Studi Awal Penggunaan Nata de Coco sebagai Membran Ultrafiltrasi. Thesis, Institut Teknologi Bandung.
Riyanto, Ph.D, (2013), Elektrokimia dan Aplikasinya, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Saade, Rafael L., (1996), Chayote. Sechium edule (Jacq.) Sw. Promoting the conservation and use
of underutilized and neglected crops. 8. Institute of Plant Genetics and Crop Plant Research, Gatersleben/International Plant Genetic Resources Institute, Italy.
Sulistiyana, Ulfin, I. dan Kurniawan, F., (2014), “Pemanfaatan Rebung Dan Labu siam Sebagai Membran Selulosa”, Pros. Semin. Nas. Pendidikan. Sains, Unesa, Surabaya.
Tanji H. (2009) Separators. Elseiver B V Rights Reserv.
Wantini, W., (2012), “Pemanfaatan Limbah Ampas Tebu untuk Pembuatan Kertas Dekorasi dengan Metode Organosolv”, Jurnal Ekosains, Vol. 4, No. 2, hal1-6.