1 UPAYA MENINGKATKAN AKTIFITAS DAN HASIL BELAJAR PESERTA
DIDIK MATA PELAJARAN IPA MELALUI PENDEKATAN SAINTIFIK
MODEL DISCOVERY OF LEARNING METODE DISKUSI KELOMPOK PADA TOPIK PEMANASAN GLOBAL DI KELAS VII.1 SMP N 6
PAYAKUMBUH SEMESTER GENAP 2019/2020
Oleh:
FITLYDA, S.Pd
(Guru IPA SMPN 6 Payakumbuh)
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan informasi dan membahas tentang Upaya Meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar Peserta Didik Mata Pelajaran IPA Melalui Pendekatan Saintifik Model Discovery of Learning Metode Diskusi Kelompok Pada Topik Pemanasan Global di Kelas VII.1 SMP N 6 Payakumbuh Semester Genap T.P. 2019/2020.
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian tindakan kelas (PTK).
Penelitian ini dilaksanakan di SMP N 6 Payakumbuh. Waktu penelitian ini dilaksanakan semester genap tahun pelajaran 2019/2020, dimulai pada bulan Januari-Maret 2020. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII/1 SMP N 6 Payakumbuh yang berjumlah 32 orang. Prosedur penelitian terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri atas empat tahap penelitian yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik catatan lapangan, lembar kerja siswa, tes tertulis, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan rumus persentase dan reduksi data.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa melalui Pendekatan Saintifik Model Discovery of Learning Metode Diskusi Kelompok memiliki dampak positif dalam meningkatkan aktifitas dan hasil Belajar Peserta Didik. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan aktifitas belajar peserta didik pra siklus 28,3%, siklus I 61,7%
dan siklus II 81,6%. Untuk aktifitas guru pra siklus 53%, siklus I 78% dan siklus II 94%. Ketuntasan belajar pengetahuan meningkat dari pra siklus 62,96 = 53,13%, siklus I 68,9 = 68,75%, dan siklus II 76,09 = 84,38%. Untuk ketuntasan belajar keterampilan yaitu pra siklus 65,47 = 62,50%, siklus I 71,09 = 78,13%, dan siklus II 76,25 = 84,38%.
Kata Kunci : Aktifitas dan Hasil Belajar, Pendekatan Saintific Model Discovery of Learning, Diskusi Kelompok
2 PENDAHULUAN
Ilmu Pengetahuan Alam pada hakikatnya meliputi empat unsur utama yaitu: (1) sikap: rasa ingin tahu tentang benda; (2) proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; (3) produk: berupa fakta, konsep, teori, dan hukum; dan (4) aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran IPA di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dalam kurikulum 2013 dikembangkan sebagai mata pelajaran Integrative Science atau IPA Terpadu. Konsep keterpaduan ditunjukkan dalam Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang didalamnya sudah memadukan konsep-konsep IPA dari bidang ilmu biologi, fisika, dan ilmu pengetahuan bumi antariksa yang dimaksudkan agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, efektif, dan efisien.
Pembelajaran IPA dengan menggunakan kurikulum 2013 harus menumbuhkan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, mengemukakan gagasan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri. Proses pembelajaran aktif sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah yang menyebutkan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Berdasarkan pengamatan penulis sebagai guru IPA Di SMP Negeri 6 Payakumbuh dari proses pembelajaran yang dilakukan pada awal semester Genap tahun pelajaran 2019/2020 ditemukan fenomena sebagai berikut: kurangnya aktifitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Peserta didik lebih banyak mendengar, mencatat penjelasan-penjelasan materi pelajaran oleh guru dan kurangnya motivasi peserta didik dalam pembelajaran IPA, sehingga proses pembelajaran cenderung terpusat pada guru (Teacher Centered).
Kenyataan diatas berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik di kelas VII.1 pada mata pelajaran IPA, masih banyak yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah, yaitu 65. Sedangkan nilai rata-rata ulangan harian pada KI pengetahuan hanya mencapai 62,96 dan KI keterampilan hanya mencapai 65,47.
Nilai pengetahuan dan keterampilan pada Kelas VII.1 adalah yang paling rendah yaitu 55 untuk nilai pengetahuan dan 60 untuk nilai keterampilan. Jika situasi pembelajaran seperti ini dibiarkan dan tidak segera penulis mencari solusi, maka akan berdampak negatif terhadap hasil belajar IPA peserta didik secara keseluruhan di SMP Negeri 6 Payakumbuh. Untuk mengatasi kondisi ini perlu dilakukan pemilihan metode dan model pembelajaran yang tepat agar aktifitas dan hasil belajar peserta didik Kelas VII.1 pada mata pelajaran IPA meningkat. Salah satu solusi atau tindakan yang dapat dilakukan adalah menggunakan Pendekatan Saintifik Model Discovery of Learning Metode Diskusi Kelompok untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar peserta didik.
Bertolak dari semua hal di atas peneliti ingin melakukan suatu penelitian tindakan kelas dengan judul “Upaya Meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar
3 Peserta Didik Mata Pelajaran IPA Topik Pemanasan Global Melalui Pendekatan Saintifik Model Discovery of Learning Metode Diskusi Kelompok Di Kelas VII.1 SMP N 6 Payakumbuh Semester Genap Tahun Pelajaran 2019/2020”.
KAJIAN PUSTAKA
Aktifitas belajar adalah Serangkaian kegiatan fisik atau jasmani maupun mental atau rohani yang saling berkaiatan sehinggga tercipta belajar yang optimal.
Aktifitas merupakan faktor yang sangat penting di dalam interaksi belajar mengajar. Dalam aktifitas belajar ada beberapa prinsip yang berorientasi pada pandangan ilmu jiwa, yakni menurut pandangan ilmu jiwa lama dan ilmu jiwa modern. Menurut pandangan ilmu jiwa lama aktifitas didominasi oleh guru.
sedang menurut padangan ilmu jiwa modern, aktifitas didominasi oleh peserta didik. Menurut Anton M. Mulyono (2001:26), Aktifitas artinya “kegiatan atau keaktifan”. Jadi segalasesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non-fisik, merupakan suatu aktifitas. Menurut Sriyono aktifitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani atau rohani.
Aktifitas peserta didik selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan peserta didik untuk belajar.
Aktifitas belajar merupakan hal yang sangat penting bagi peserta didik, karena memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bersentuhan dengan obyek yang sedang dipelajari seluas mungkin, karena dengan demikian proses pembentukan pengetahuan yang terjadi akan lebih baik.
Dari uraian di atas dapat diambil pengertian aktifitas belajar adalah keterlibatan peserta didik dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian dalam proses pembelajaran yang dapat meningkatkan keberhasilan dalam proses belajar mengajar.
Proses pembelajaran merupakan keterlibatan diri siswa dalam bentuk sikap, pikiran dan perhatian. Aktifitas tersebut berguna untuk menunjang proses pembelajaran dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Menurut Suprijono (2012:3) Learning is any relatively permanent change in behavior that is a result of past experience. (Belajar adalah perubahan perilaku yang bersifat permanen sebagai hasil dari pengalaman). Menurut Suryono (2014:9) Belajar adalah suatu aktifitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan memperbaiki perilaku sikap dan mengkokohkan kepribadian.
Senada dengan Slameto (2010:2) Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sediri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Menurut Oemar Hamalik (2012:27) Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Thursan Hakim (2000:1) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut yang ditampakkan dalam bentuk kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman keterampilan, daya pikir, dan lain-lain.
4 Menurut Bahruddin dan Esa Nur Wahyuni (2015:13), belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan, dan sikap. Belajar dimulai sejak manusia lahir sampai akhir hayat. Kemampuan manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya.
Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat disimpulkan belajar adalah suatu proses dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan serta perubahan tingkah laku dalam diri secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman dari interaksi dengan lingkungannya.
Hasil belajar merupakan salah satu hal yang digunakan dalam melihat ketercapaian pembelajaran. Ada beberapa pengertian mengenai hasil belajar yang dikemukan oleh para ahli anatara lain sebagai berikut. Menurut Sudjana (2009:22) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya yakni keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, sikap dan cita-cita. Sedangkan Kunandar (2013:62) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah kompetensi atau kemampuan tertentu baik kognitif, afektif maupun psikomotorik yang dicapai atau dikuasai peserta didik setelah mengikuti proses belajar mengajar. Hal ini sejalan dengan Syaodih (2011:102) bahwa hasil belajar merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki oleh seseorang.
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa pada dasarnya hasil belajar merupakan kecakapan yang dimiliki oleh siswa melalui proses pembelajaran.
Maka dalam hal ini hasil belajar memilki bentuk-bentuk dalam pencapaiannya.
Menurut Gagne (dalam Suprijono, 2012:6) hasil belajar dapat berupa informasi verbal yang kapabilitas yang mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis, kemampuan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Kemampuan intelektual terdiri dari kemampuan mengkategorisasikan, kemampuan analitis sintesis fakta konsep dan mengembangkan prnsip-prinsip keilmuan, strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktifitas kognitifnya sendiri, kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah, keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani, dan sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.
Sedangkan Sudjana (2009:22) bahwa ada tiga macam hasil belajar yakni:
Keterampilan kebiasaan, Pengetahuan dan pengertian serta sikap dan cita-cita.
Kemudian ditambahkan lebih lengkap oleh Bloom bahwa hasil belajar dibagi menjadi: Pertama; Ranah Kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi. Kedua; Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiir dari lima aspek yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaain, organisasi, dan internalisasi. Dan yang ketiga:
Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam ranah aspek psikomotorik yakni; gerakan refleks,
5 keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan dan ketepatan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif.
Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya bentuk dari hasil belajar dapat dikelompokkan kedalam 3 (tiga) ranah yaitu bentuk hasil belajar pada kemampuan kognitif yaitu hasil belajar yang lebih menitikberatkan pada pengetahuan, kemudian yang kedua ranah afektif yaitu hasil belajar yang lebih menitikberatkan pada sikap, dan yang terakhir yaitu hasil belajar berupa kemampuan psikomotorik, yaitu hasil belajar yang lebih menitikberatkan pada kemampuan keterampilan siswa.
Secara umum IPA meliputi 3 bidang ilmu dasar yaitu biologi, fisika dan kimia, yang muncul dan berkembang melalui langkah-langkah observasi, perumusan masalah, penyusunan hipotesis, pengujian hipotesis melalui eksperimen, penarikan kesimpulan serta penemuan teori dan konsep.
Hakekat IPA adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala melalui serangkaian proses yang dikenal dengan proses ilmiah dibangun atas dasar sikap ilmiah dan hasilnya berupa produk ilmiah yang tersusun atas tiga komponen terpenting berupa konsep, prinsip dan teori yang berlaku secara universal. Secara khusus fungsi dan tujuan IPA berdasarkan kurikulum 2013 yang berdasar kompetensi adalah sebagai berikut: (1) menanamkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa; (2) mengembangkan ketrampilan, sikap dan nilai ilmiah;
(3) mempersiapkan siswa menjadi warga Negara yang melek sains dan teknologi;
dan (4) menguasai konsep sains untuk bekal hidup di masyarakat dan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Fungsi dan tujuan tersebut jelas bahwa hakikat IPA tidak hanya dari dimensi pengetahuan (keilmuan), tetapi juga dimensi keilahian, dimana alam semesta dalam keteraturan dan keimbangan inilah yang akan meningkatkan keyakinan akan kekuatan diluar manusia atau boleh dikatakan kekuatan Tuhan Yang Maha Kuasa. IPA pada hakikatnya mengaitkan antara aspek logika material dengan aspek jiwa spiritual, yang pada umumnya dianggap cakrawala kosong, dikarenakan anggapan bahwa antara IPA dan agama merupakan dua sisi yang berbeda dan tidak mungkin dipersatukan satu sama lain dan satu bidang kajian.
Dalam kamus bahasa Indonesia (2009), IPA adalah ilmu yang mengkaji hukum-hukum yang mengkaji hukum-hukum yang menentukan struktur semesta dengan rujukan pada bahan dan energi penyusunnya atau ilmu tentang zat dan energi.
Dari pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pelajaran IPA adalah pembelajaran yang merupakan bagian dari IPA menyangkut benda-benda mati dan gejala-gejala alam yang dinyatakan dalam zat dan energy serta mengkaji hukum-hukum penyusunnya.
Pemanasan global adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan peningkatan suhu rata-rata atmosfer Bumi dan lautan secara bertahap, serta sebuah perubahan yang diyakini secara permanen mengubah iklim Bumi.
Aktifitas manusia selalu menghasilkan berbagai zat sisa buangan yang salah satunya berupa gas. Sebagian besar orang berpikir bahwa atmosfer dapat menyerap gas-gas buangan tersebut secara tidak terbatas dan tidak menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan. Akan tetapi, saat ini diketahui bahwa banyaknya
6 gas-gas buangan tersebut dapat menyebabkan perubahan mendasar di atmosfer dan juga kondisi kehidupan di Bumi.
Berbagai aktifitas manusia seperti penggunaan bahan bakar fosil, penebangan dan pembakaran hutan untuk pengalihfungsian menjadi lahan pertanian, pemukiman dan industri akan menyumbangkan CO2 ke atmosfer dalam jumlah yang banyak. Lebih dari beberapa periode, CO2 di atmosfer meningkat sekitar 20%. Meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca seperti CO2 akan memengaruhi kadar panas di Bumi. Banyak dari radiasi Matahari yang menyinari permukaan Bumi, kemudian direfleksikan kembali ke angkasa.
Meningkatnya kadar CO2 di atmosfer selama 150 tahun terakhir membuat para ilmuwan prihatin karena hal tersebut berkaitan erat dengan meningkatnya suhu global. Lebih dari satu abad, ilmuwan telah mempelajari bagaimana gas-gas rumah kaca menghangatkan Bumi dan bagaimana pembakaran bahan bakar fosil berkontribusi terhadap pemanasan suhu Bumi. Sebagian besar ilmuwan meyakini bahwa pemanasan global telah dimulai dan akan meningkat cepat di abad ini.
Lebih dari 100 tahun yang lalu, temperatur rata-rata suhu di permukaan Bumi meningkat sekitar 0,6oC. Peningkatan temperatur inilah yang disebut dengan pemanasan global. Pemanasan global adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan peningkatan suhu rata-rata atmosfer Bumi dan lautan secara bertahap, serta sebuah perubahan yang diyakini secara permanen mengubah iklim Bumi.
Pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati, menanya, mengeksperimen, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung informasi searah dari guru. Oleh karena itu, kondisi pembelajaran yang diharapkan tercipta diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber melalui observasi, dan bukan hanya diberi tahu. Pendekatan saintifik dinyatakan pada peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia No. 103 tahun 2014 tentang pembelajaran pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah pasal 3 ayat 8 bahwa “Pendekatan saintifik/pendekatan berbasis proses keilmuan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) merupakan pengorganisasian pengalaman belajar dengan urutan logis meliputi proses pembelajaran: 1) Mengamati 2) Menanya 3) Mengumpulkan formasi/mencoba 4) Menalar/mengasosiasi dan 5) Mengomunikasikan”.12 Berdasarkan Undang-undang di atas, Pendekatan saintifik adalah pendekatan pembelajaran yang dilakukan melalui proses mengamati (observing), menanya (questioning), mencoba (experimenting), menalar (associating), dan mengkomunikasikan (communicating). Jadi Kegiatan pembelajaran yang menggunakan pendekatan ini dapat membentuk sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik secara maksimal.
Mills (dalam Suprijono, 2012: 45) berpendapat bahwa “Model adalah bentuk representasi akurat sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu”. Model
7 merupakan interpretasi terhadap hasil observasi dan pengukuran yang diperoleh dari beberapa sistem. Sedangkan Joyce dan Weil (dalam Rusman, 2013:133) berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang) merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain.
Suprijono (2012:45-46) model pembelajaran merupakan landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi kueikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di kelas. Model pembelajaran dapat di artikan pula sebagai pola yang digunakan untuk penyusunan kurikulum, mengatur materi, dan memberi petunjuk kepada guru di kelas. Rusman (2013:133) mengatakan model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya
Jadi model pembelajaran adalah cara guru dalam penyampain materi, guru hanya sebagai fasilitator dan siswa lah yang aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Sehingga dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia, dan kondisi guru itu sendiri.
Discovery adalah model pengajaran di mana guru memberikan kebebasan siswa untuk menemukan sesuatu sendiri karena dengan menemukan sendiri siswa dapat lebih mengerti secara dalam. Dengan menemukan sendiri siswa akan sampai pada pengalaman gembira “AHA! Aku menemukan!”, siswa akan menjadi senang menurut Paul Suparno (2007:72). Menurut Cahyo, metode pembelajaran Discovery of Learning merupakan metode yang mengatur segala pengajaran sehingga siswa mendapatkan pengetahuan baru melalui metode penemuan yang ditemukan sendiri. Seorang guru memberikan ruang kepada siswanya untuk dapat berdiri sendiri mendorong siswa untuk mandiri guna memperoleh pengetahuan baru. Selain itu, Menurut Johar, Discovery of Learning terjadi ketika siswa bukan sebagai target informasi atau pemahaman konseptual melainkan siswa yang menemukannya secara independen dengan menggunakan material yang disediakan. Penggunaan Discovery of Learning ingin merubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif. Mengubah pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented. Merubah modus ekspository yang siswa hanya menerima informasi secara keseluruhan dari guru ke modus discovery yang siswa menemukan informasi sendiri. Terlibat secara langsung merupakan bagian dari keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar-mengajar di kelas. Selain itu, pembelajaran dengan penemuan membantu siswa membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling membagi informasi, serta mendengar dan menggunakan ide- ide orang lain. Berdasarkan keluasan pengetahuan yang diperolehnya siswa lebih lanjut akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi selama mengikuti proses pembelajaran. Rasa percaya diri merupakan hal penting dimiliki siswa agar mereka berani melakukan berbagai aktifitas belajar dan terbiasa dengan menanggung resiko pembelajaran. Jadi, dalam pembelajaran discovery yang menjadi faktor yang paling penting adalah siswa sungguh terlibat pada proses
8 pembelajarannya, siswa dapat menemukan prinsip-prinsip atau jawaban lewat suatu percobaan dengan sendiri. Dengan begitu, siswa akan menjadi aktif dan tidak terpaku dengan guru saja.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang dilaksanakan sesuai dengan permasalahan yang diteliti adalah Penelitian Tindakan kelas (Classroom Action Research). Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 6 Payakumbuh, Jalan Raflesia Kelurahan Subarang Batuang, Kecamatan Payakumbuh Barat. Sebagai subjek penelitian adalah siswa kelas VII.1 SMP Negeri 6 Payakumbuh yang berjumlah 32 orang terdiri atas 14 orang laki-laki dan 18 orang perempuan. Penelitian ini lakukan pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2019/2020, yaitu selama tiga bulan mulai bulan Januari sampai dengan Maret 2020. Prosedur Penelitian terdiri dari dua siklus dengan empat tahap penelitian mulai dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi aktifitas belajar siswa, tes hasil belajar, dokumentasi dan catatan lapangan. Data yang diperoleh selama penelitian dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif data yang diperoleh berupa tes hasil belajar peserta didik, nilai yang diperoleh dianalisis untuk melihat perkembanganya. Demikian juga dengan data kualitatif, yang diperoleh dari hasil observasi aktifitas belajar dianalisis setiap kali proses pembelajaran yang digunakan sebagai bahan untuk menentukan tindakkan berikutnya.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Paparan Data Pra Siklus
Kegiatan pengambilan data pra siklus dilakukan di kelas VII.1 dengan jumlah Peserta Didik sebanyak 32 orang. Proses pembelajaran terlihat monoton dan berpusat pada guru, tingkat partisipasi Peserta Didik dalam belajar rendah, kurang termotivasi dalam belajar, banyak Peserta Didik yang tidak memperhatikan ketika guru menerangkan pelajaran di depan kelas, dan mengobrol bersama temannya, mengantuk dan ada juga yang mengganggu temannya yang lain saat pembelajaran berlangsung serta kurang pahamnya Peserta Didik saat melakukan tugas yang diberikan oleh guru, sehingga saat mempresentasikan tugas Peserta Didik banyak yang tidak siap atau belum tuntas.
9 1. Aktifitas Peserta Didik dan Aktifitas Guru
Tabel 1. Data Pengamatan Aktifitas Peserta Didik pada Kondisi Awal
No Indikator Kegiatan
Pilihan Jawaban
Ket terlihat Tidak
terlihat
F % F %
1 Aktifitas Oral
a. Peserta didik mengacungkan
tangan/memanggil guru untuk mengajukan pertanyaan.
8 25 24 75
Jumlah perserta didik 32 orang b. Peserta didik menjawab
pertanyaan yang diajukan guru
8 25 24 75
c. Peserta didik aktif mengajukan ide dari masalah yang dihadapi
9 28 23 72
d. Peserta didik bekerjasama dalam kelompok (diskusi) dan mempresentasikan hasil diskusi
10 31 22 69
2 Aktifitas Visual
a. Peserta didik mencari keterangan dalam buku sumber untuk memecahkan masalah
10 31 22 69
b. Peserta didik membaca
materi pada buku sumber 8 25 24 75
3 Aktifitas Motorik
a. Peserta didik mengerjakan LK tepat waktu
10 31 22 69
b. Peserta didik
mengerjakan semua tugas 10 31 22 69 c. Peserta didik membuat
kesimpulan dari materi yang dibahas
8 25 24 75
d. Peserta didik mencatat ringkasan materi yang disimpulkan
10 31 22 69
9,1 28,3 22,9 71,7
10 Dari tabel 1 di atas terlihat bahwa persentase Aktifitas peserta didik dalam Aktifitas Oral yaitu : a) Peserta didik mengacungkan tangan/memanggil guru untuk mengajukan pertanyaan 25%, b) Peserta didik menjawab pertanyaan yang diajukan guru 25%, c) Peserta didik aktif mengajukan ide dari masalah yang dihadapi 28%, d) Peserta didik bekerjasama dalam kelompok (diskusi) dan mempresentasikan hasil diskusi 31%.
Dalam Aktifitas Visual yaitu : a) Peserta didik mencari keterangan dalam buku sumber untuk memecahkan masalah 31%, b) Peserta didik membaca materi pada buku sumber 25%. Dalam Aktifitas Motorik yaitu : a) Peserta didik mengerjakan LK tepat waktu 31%, b) Peserta didik mengerjakan semua tugas 31%, c) Peserta didik membuat kesimpulan dari materi yang dibahas 25%, d) Peserta didik mencatat ringkasan materi yang disimpulkan 31%. Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya aktifitas belajar peserta didik pada pra siklus, dimana rata-rata siswa yang aktif hanya mencapai 28,3% dari keseluruhan kegiatan pembelajaran. Aktifitas Guru dalam proses pembelajaran kurang dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini:
Tabel 2. Data Pengamatan Aktifitas Guru pada Kondisi Awal
No Indikator Score
1 2 3
1 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran √ 2 Guru memotivasi peserta didik agar aktif dalam
pembelajaran √
3 Guru menyampaikan materi pembelajaran secara garis
besar √
4 Guru mengarahkan dan membagi peserta didik
menjadi kelompok √
5 Guru mengawasi pelaksanaan kelompok √
6 Guru mendorong peserta didik untuk berani bertanya
dan menjawab pertanyaan √
7 Guru mendorong peserta didik agar berkontribusi dan
menyelesaikan tugas kelompok √
8 Guru mengawasi dan membimbing peserta didik agar
tercipta kelancaran dalam diskusi √
9 Guru mendorong peserta didik agar berani
mengemungkakan pendapat √
10 Guru mendorong peserta didik agar saling mengajari
teman dalam diskusi kelompok √
11 Guru memberikan umpan balik dan penghargaan
terhadap prestasi peserta didik √
12 Guru mengarahkan peserta didik merangkum materi
pelajaran √
Jumlah 18
Rata-Rata 19/36 = 0,53
Persentase(%) 53%
11 Dari tabel 2 di atas terlihat bahwa persentase Aktifitas guru dalam kegiatan pembelajaran adalah guru hanya menyampaikan kegiatan pembelajaran secara garis besar dan sebahagian dari aktifitas saja yang terlaksana atau hanya 53% dari keseluruhan aktifitas guru dalam kegiatan pembelajaran, hal ini tentunya mempengaruhi dalam keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran.
2. Hasil Belajar Pengetahuan dan Keterampilan
Hasil Belajar Pengetahuan Peserta Didik Rendah dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini:
Tabel 3: Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Pengetahuan Peserta Didik Pra Siklus Hasil Belajar Nilai/jumlah Persentase Jumlah Peserta Didik Yang Tuntas 17 Orang 53, 13%
Jumlah Peserta Didik Yang Belum Tuntas 15 Orang 46,88%
Jumlah Nilai 2015
Rata-rata 62,96
KKM 70
Dari tabel 3 di atas dapat dijelaskan bahwa sebelum menerapkan model Discovery of Learning Metode Diskusi Kelompok di peroleh rata–rata hasil belajar Pengetahuan Peserta Didik yaitu 55 dengan jumlah Peserta Didik yang tuntas sebesar 53, 13% (17 orang Peserta Didik) dan selebihnya 46,88% belum tuntas (15 orang Peserta Didik). Dengan demikian, berdasarkan tabel hasil belajar Peserta Didik diatas serta penjelasannya dapat disimpulkan bahwa masih banyak Peserta Didik yang belum tuntas dalam belajar.
Sehingga, masih terdapat 15 dari 32 Peserta Didik yang belum tuntas belajar atau sebesar 46,88%. Hasil tersebut lebih kecil dari presentase ketuntasan klasikal dalam proses pembelajaran IPA yang dikehendaki sebesar 80% Peserta Didik yang tuntas dalam belajar dengan KKM sebesar 70. Hasil belajar keterampilan Peserta Didik pada Pra Siklus dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4: Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Keterampilan Peserta Didik Pra Siklus Hasil Belajar Nilai/jumlah Persentase Jumlah Peserta Didik Yang Tuntas 20 Orang 62,5%
Jumlah Peserta Didik Yang Belum Tuntas 12 Orang 37,5%
Jumlah Nilai 2095
Rata-rata 65,47
KKM 70
Dari tabel 4 di atas dapat dijelaskan bahwa sebelum menerapkan model Discovery of Learning Metode Diskusi Kelompok di peroleh rata–rata hasil belajar Keterampilan Peserta Didik yaitu 70 dengan jumlah Peserta Didik yang tuntas sebesar 62,5% (20 orang Peserta Didik) dan selebihnya 37,5% belum tuntas (12 orang Peserta Didik). Dengan demikian, berdasarkan tabel hasil
12 belajar Peserta Didik diatas serta penjelasannya dapat disimpulkan bahwa masih banyak Peserta Didik yang belum tuntas dalam belajar.
Sehingga, masih terdapat 12 dari 32 Peserta Didik yang belum tuntas belajar atau sebesar 37,5%. Hasil tersebut lebih kecil dari presentase ketuntasan klasikal dalam proses pembelajaran IPA yang dikehendaki sebesar 85% Peserta Didik yang tuntas dalam belajar dengan KKM sebesar 70.
Berdasarkan kenyataan di atas, peneliti dibantu oleh teman sejawat (Marselia Andika, S.Pd) melakukan kajian yang akan dipergunakan sebagai dasar pertimbangan memilih strategi/model pembelajaran yang tepat, dalam upaya melakukan tindakan perbaikan pembelajaran IPA. Setelah mempertimbangkan berbagai alasan tersebut, peneliti memilih model Discovery Learning Metode Diskusi Kelompok. Model ini dipergunakan dalam PTK yang akan dilaksanakan pada saat berlangsungnya proses pembelajaran di Kelas VII.1 SMP Negeri 6 Payakumbuh, yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar IPA Peserta Didik.
B. Hasil Penelitian 1. Siklus I
a. Tahap Perencanaan
Pembelajaran pada penelitian ini menggunakan model Discovery of Learning Metode Diskusi Kelompok. Pada penelitian siklus I dilaksanakan pembelajaran dengan rencana tindakan sebagai berikut: Menyiapkan Peserta Didik, Melaksanakan rencana pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan materi pembelajaran, membagikan LKPD sesuai materi pembelajaran yang diajarkan, membagikan hand out sesuai dengan materi pembelajaran, menyiapkan media pembelajaran.
b. Tahap Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk pertemuan pertama siklus I dilaksanakan pada hari selasa tanggal 11 Februari 2020 pada jam pelajaran 4-6 di Kelas VII.1 jumlah Peserta Didik 32 orang dengan materi pokok pembelajaran Pencemaran Lingkungan. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan.
Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pertemuan pertama ini diawali dengan kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan akhir.
Pada pertemuan kedua ini dilakukan sebagai upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran yang belum maksimal pada pertemuan pertama. Pertemuan kedua dalam siklus I ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 12 Februari 2020 jam pelajaran 1-2 dengan materi pokok Pencemaran Udara. Jumlah Peserta Didik hadir semuanya 32 orang. Pertemuan kedua ini kembali diawali dengan kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan akhir.
13 c. Observasi
Aktifitas Peseta Didik
Aktifitas peserta didik selama kegiatan pembelajaran berlangsung pada siklus I dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini:
Tabel 5. Data Pengamatan Aktifitas Peserta Didik pada Siklus I
No Indikator Kegiatan
Pilihan Jawaban terlihat Tidak Ket
terlihat
F % F %
1 Aktifitas Oral
a. Peserta didik mengacungkan
tangan/memanggil guru untuk mengajukan pertanyaan.
18 56 14 44
Jumlah perserta didik 32 orang b. Peserta didik menjawab
pertanyaan yang diajukan guru
20 63 12 34 c. Peserta didik aktif
mengajukan ide dari masalah yang dihadapi
21 66 11 34 d. Peserta didik
bekerjasama dalam kelompok (diskusi) dan mempresentasikan hasil diskusi
20 63 12 34
2 Aktifitas Visual
b. Peserta didik mencari keterangan dalam buku sumber untuk
memecahkan masalah
21 66 11 34
c. Peserta didik membaca
materi pada buku sumber 19 59 13 41
3 Aktifitas Motorik
a. Peserta didik mengerjakan LK tepat waktu
20 63 12 34 b. Peserta didik
mengerjakan semua tugas 19 59 13 41 c. Peserta didik membuat
kesimpulan dari materi yang dibahas
19 59 13 41 d. Peserta didik mencatat
ringkasan materi yang disimpulkan
20 63 12 34
19,7 61,7 12,3 37,1
14 Dari tabel 5 di atas terlihat bahwa persentase Aktifitas peserta didik dalam Aktifitas Oral yaitu : a) Peserta didik mengacungkan tangan/memanggil guru untuk mengajukan pertanyaan 56%, b) Peserta didik menjawab pertanyaan yang diajukan guru 63%, c) Peserta didik aktif mengajukan ide dari masalah yang dihadapi 66%, d) Peserta didik bekerjasama dalam kelompok (diskusi) dan mempresentasikan hasil diskusi 63%.
Dalam Aktifitas Visual yaitu : a) Peserta didik mencari keterangan dalam buku sumber untuk memecahkan masalah 66%, b) Peserta didik membaca materi pada buku sumber 59%. Dalam Aktifitas Motorik yaitu : a) Peserta didik mengerjakan LK tepat waktu 63%, b) Peserta didik mengerjakan semua tugas 59%, c) Peserta didik membuat kesimpulan dari materi yang dibahas 59%, d) Peserta didik mencatat ringkasan materi yang disimpulkan 63%. Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya aktifitas belajar peserta didik pada pra siklus, dimana rata-rata siswa yang aktif sudah mencapai 61,7% dari keseluruhan kegiatan pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa aktifitas belajar Peserta Didik pada siklus I sudah meningkat.
AktifitasGuru
Aktifitas Guru dalam proses pembelajaran kurang dapat dilihat pada tabel 6 di bawah ini:
Tabel 6: Data Pengamatan Aktifitas Guru pada Siklus I
No Indikator Score
1 2 3
1 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran √
2 Guru memotivasi peserta didik agar aktif dalam pembelajaran √ 3 Guru menyampaikan materi pembelajaran secara garis besar √ 4 Guru mengarahkan dan membagi peserta didik menjadi
kelompok √
5 Guru mengawasi pelaksanaan kelompok √
6 Guru mendorong peserta didik untuk berani bertanya dan
menjawab pertanyaan √
7 Guru mendorong peserta didik agar berkontribusi dan
menyelesaikan tugas kelompok √
8 Guru mengawasi dan membimbing peserta didik agar tercipta
kelancaran dalam diskusi √
9 Guru mendorong peserta didik agar berani mengemungkakan
pendapat √
10 Guru mendorong peserta didik agar saling mengajari teman
dalam diskusi kelompok √
11 Guru memberikan umpan balik dan penghargaan terhadap
prestasi peserta didik √
12 Guru mengarahkan peserta didik merangkum materi pelajaran √
Jumlah 28
Rata-Rata 28/36=0,78
Persentase(%) 78%
Dari tabel 6 di atas terlihat bahwa persentase Aktifitas guru dalam kegiatan pembelajaran adalah guru sudah menyampaikan kegiatan
15 pembelajaran secara garis besar dan sebahagian dari aktifitas guru sudah terlaksanaa dengan baik hal ini dilihat dari persentase aktifitas guru sudah mencapai 78% dari keseluruhan aktifitas guru dalam kegiatan pembelajaran, hal ini tentunya mempengaruhi dalam keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran.
1. Hasi Belajar Pengetahuan
Hasil belajar diperoleh dari lembar kerja Peserta Didik yang dilakukan pada setiap akhir siklus. Data yang diperoleh berupa angka mengenai hasil belajar yang diperoleh masing-masing Peserta Didik pada setiap siklus. Untuk lebih jelasnya hasil belajar Pengetahuan Peserta Didik dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 7: Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Pengetahuan Peserta Didik Siklus I Hasil Belajar Nilai/jumlah Persentase Jumlah Peserta Didik Yang Tuntas 22 Orang 68,75 % Jumlah Peserta Didik Yang Belum Tuntas 10 Orang 31,25 %
Jumlah Nilai 2205
Rata-rata 68, 90
KKM 70
Dari tabel 7 di atas dapat dijelaskan bahwa setelah menerapkan model pembelajaran Discovery of Learning pada siklus I ini di peroleh rata – rata hasil belajar Pengetahuan Peserta Didik yaitu 66,94 dengan jumlah Peserta Didik yang tuntas sebesar 68,75 % (22 orang Peserta Didik) dan selebihnya 31,25 % belum tuntas (10 orang Peserta Didik).
Dengan demikian, berdasarkan tabel hasil belajar Peserta Didik diatas serta penjelasannya dapat disimpulkan bahwa masih banyak Peserta Didik yang belum tuntas dalam belajar. Sehingga, masih terdapat 10 dari 32 Peserta Didik yang belum tuntas belajar atau sebesar 31,25 %. Hasil tersebut lebih kecil dari presentase ketuntasan klasikal dalam proses pembelajaran IPA yang dikehendaki sebesar 85% Peserta Didik yang aktif dalam belajar dengan KKM sebesar 70. Berdasarkan tabel lembar hasil belajar Pengetahuan Peserta Didik dan penjelasan siklus I diatas dapat dilihat lebih jelas pada diagram dibawah ini:
2. Hasil Belajar Keterampilan
Hasil belajar keterampilan Peserta Didik pada siklus I dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 8: Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Keterampilan Peserta Didik Siklus I Hasil Belajar Nilai/jumlah Persentase Jumlah Peserta Didik Yang Tuntas 25 Orang 78,13%
Jumlah Peserta Didik Yang Belum Tuntas 7 Orang 21,88%
Jumlah Nilai 2275
Rata-rata 71,09
KKM 70
16 Dari tabel 8 di atas dapat dijelaskan bahwa setelah menerapkan model Discovery of Learning Metode Diskusi Kelompok pada siklus I ini di peroleh rata–rata hasil belajar keterampilan Peserta Didik yaitu 78,13% dengan jumlah Peserta Didik yang tuntas sebesar 69% (25 orang Peserta Didik) dan selebihnya 21,88% belum tuntas (7 orang Peserta Didik).
Dengan demikian, berdasarkan tabel hasil belajar Keterampilan Peserta Didik diatas serta penjelasannya dapat disimpulkan bahwa masih banyak Peserta Didik yang belum tuntas dalam belajar, terdapat 7 dari 32 Peserta Didik yang belum tuntas belajar atau sebesar 33%. Hasil tersebut lebih kecil dari presentase ketuntasan klasikal dalam proses pembelajaran IPA yang dikehendaki sebesar 85% Peserta Didik yang aktif dalam belajar dengan KKM sebesar 70.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan atau observasi, maka dilakukan refleksi terhadap aktifitas Peserta Didik dan guru, hasil belajar Pengetahuan dan Keterampilan Peserta Didik setiap pertemuan pada siklus I. Pertemuan dilaksanakan di ruang majelis guru dengan observer (Marselia Andika, S.Pd) pada hari jumat tanggal 21 Februari 2020. Adapun hasil diskusi yang dilakukan dengan observer adalah dimana perolehan hasilnya belum mencapai KKM yang ditentukan, karena proses pembelajaran belum maksimal. Hasil refleksi hasil belajar Peserta Didik adalah sebagai berikut.
1. Dalam proses pembelajaran, Peserta Didik yang memperoleh nilai sangat baik sudah terlihat dapat melakukan aktifitas belajar. Namun disini guru harus dituntut kreatif dalam menyampaikan pembelajaran, baik itu menggunakan media atau bahan pendukung lainnya supaya Peserta Didik tidak bosan, dan pembagian kelompok yang heterogen berdasarkan hasil belajar pada Siklus I.
2. Dalam proses pembelajaran pada kegiatan ini, setelah Peserta Didik melakukan presentasi laporan kerjanya, seharusnya guru memperjelas kembali materi yang dibahas oleh Peserta Didik, tetapi tidak maksimal karena: a) Guru kurang maksimal mengatur setting latihan, menyebabkan Peserta Didik kurang bekerja, b) Guru kurang efektif mengelola kelas, karena Peserta Didik meribut saat mengemukakan pendapat, menulis laporan, dan Peserta Didik belum terbiasa dengan Model Discovery of Learning Metode Diskusi Kelompok.
Hasil refleksi diatas menjadi pedoman untuk dilakukan perbaikan pada siklus II, sehingga terjadi peningkatan dan hasil belajar Peserta Didik.
17 2. Siklus II
a. Tahap Perencanaan
Pembelajaran pada penelitian ini menggunakan model Discovery of Learning Metode Diskusi Kelompok. Pada penelitian siklus II dilaksanakan pembelajaran dengan rencana tindakan sebagai berikut: Menyiapkan Peserta Didik, Melaksanakan rencana pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan materi pembelajaran , Membagikan LKPD sesuai materi pembelajaran yang diajarkan, Membagikan hand out sesuai dengan materi pembelajaran, Menyiapkan media pembelajaran, Menyiapkan hadiah.
b. Tahap Pelaksanaan
Pertemuan Pertama Siklus II
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk pertemuan pertama siklus II dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 25 Februari 2020 jam pelajaran 4-6 di Kelas VII.1 dengan jumlah Peserta Didik 32 orang. Pada pertemuan ini adapun materi pokok pembelajaran adalah efek rumah kaca. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengaja yang terdiri dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk pertemuan pertama siklus II dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 26 Februari 2020 jam pelajaran 1-2 di Kelas VII.1 dengan jumlah Peserta Didik 32 orang. Pada pertemuan ini adapun materi pokok pembelajaran adalah Pemanasan Global. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengaja yang terdiri dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.
Pertemuan ketiga ini merupakan upaya untuk lebih memaksimalkan peningkatan proses pembelajaran agar hasil belajar Peserta Didik lebih meningkat dari KKM yang ditentukan. Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 02 Maret 2020 jam pelajaran 4-6 dengan jumlah Peserta Didik 32 orang. Pertemuan ketiga diawali dengan kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan akhir.
c. Observasi
Selama proses pembelajaran berlangsung, observer mengamati aktifitas peserta didik dan aktifitas guru serta mencatat pada tabel data aktivtas belajar Pesert Didik dan aktifitas guru.
Aktifitas Peserta Didik
Aktifitas peserta didik selama kegiatan pembelajaran berlangsung pada siklus II dapat dilihat pada tabel 9 di bawah ini:
18 Tabel 9: Data Pengamatan Aktifitas Peserta Didik Pada Siklus II
No Indikator Kegiatan
Pilihan Jawaban
Ket terlihat Tidak
terlihat
F % F %
1 Aktifitas Oral
a. Peserta didik mengacungkan
tangan/memanggil guru untuk mengajukan pertanyaan.
25 78 7 16
Jumlah perserta didik
32 orang b. Peserta didik
menjawab pertanyaan yang diajukan guru
26 81 6 19
c. Peserta didik aktif mengajukan ide dari masalah yang dihadapi
25 78 7 16
d. Peserta didik bekerjasama dalam kelompok (diskusi) dan mempresentasikan hasil diskusi
27 84 5 16
2 Aktifitas Visual
a. Peserta didik mencari keterangan dalam buku sumber untuk
memecahkan masalah
25 84 7 16
b. Peserta didik membaca materi pada buku sumber
26 81 6 19
3 Aktifitas Motorik
a. Peserta didik mengerjakan LK tepat waktu
27 84 5 16
b. Peserta didik mengerjakan semua tugas
26 81 6 19
c. Peserta didik membuat kesimpulan dari materi yang dibahas
26 81 6 19
d. Peserta didik mencatat ringkasan materi yang
disimpulkan
25 84 7 16
25,8 81,6 6,2 17,2
19 Dari tabel 9 di atas terlihat bahwa persentase Aktifitas peserta didik dalam Aktifitas Oral yaitu : a) Peserta didik mengacungkan tangan/memanggil guru untuk mengajukan pertanyaan 78%, b) Peserta didik menjawab pertanyaan yang diajukan guru 81%, c) Peserta didik aktif mengajukan ide dari masalah yang dihadapi 78%, d) Peserta didik bekerjasama dalam kelompok (diskusi) dan mempresentasikan hasil diskusi 84%.
Dalam Aktifitas Visual yaitu : a) Peserta didik mencari keterangan dalam buku sumber untuk memecahkan masalah 84%, b) Peserta didik membaca materi pada buku sumber 81%. Dalam Aktifitas Motorik yaitu : a) Peserta didik mengerjakan LK tepat waktu 84%, b) Peserta didik mengerjakan semua tugas 81%, c) Peserta didik membuat kesimpulan dari materi yang dibahas 81%, d) Peserta didik mencatat ringkasan materi yang disimpulkan 84%. Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya aktifitas belajar peserta didik pada pra siklus, dimana rata-rata siswa yang aktif sudah mencapai 82,8% dari keseluruhan kegiatan pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa aktifitas belajar peserta didik pada siklus I sudah meningkat.
Aktifitas Guru
Aktifitas guru selama kegiatan pembelajaran berlangsung pada siklus II dapat dilihat pada tabel 10 di bawah ini:
Tabel 10: Data Pengamatan Aktifitas Guru pada Siklus II N
o Indikator Score
1 2 3
1 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran √
2 Guru memotivasi peserta didik agar aktif dalam pembelajaran √ 3 Guru menyampaikan materi pembelajaran secara garis besar √ 4 Guru mengarahkan dan membagi peserta didik menjadi
kelompok √
5 Guru mengawasi pelaksanaan kelompok √
6 Guru mendorong peserta didik untuk berani bertanya dan
menjawab pertanyaan √
7 Guru mendorong peserta didik agar berkontribusi dan
menyelesaikan tugas kelompok √
8 Guru mengawasi dan membimbing peserta didik agar tercipta
kelancaran dalam diskusi √
9 Guru mendorong peserta didik agar berani mengemungkakan
pendapat √
10 Guru mendorong peserta didik agar saling mengajari teman
dalam diskusi kelompok √
11 Guru memberikan umpan balik dan penghargaan terhadap
prestasi peserta didik √
12 Guru mengarahkan peserta didik merangkum materi pelajaran √
Jumlah 34
Rata-Rata 34/36=0,94
Persentase(%) 94%
20 Dari tabel 10 di atas terlihat bahwa persentase Aktifitas guru dalam kegiatan pembelajaran adalah guru sudah menyampaikan kegiatan pembelajaran sudah sangat baik, dimana aktifitas guru sudah terlaksanaa dengan baik hal ini dilihat dari persentase aktifitas guru sudah mencapai 94%
dari keseluruhan aktifitas guru dalam kegiatan pembelajaran, hal ini tentunya menenandakan keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran.
3. Hasil Belajar Pengetahuan dan Keterampilan
Pada akhir proses belajar mengajar Peserta Didik diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan Peserta Didik selama proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Hasil belajar diperoleh dari lembar kerja Peserta Didik yang dilakukan pada setiap akhir siklus. Data yang diperoleh berupa angka mengenai hasil yang diperoleh masing-masing Peserta Didik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat hasil belajar Pengetahuan Peserta Didik pada siklus II sebagai dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 11: Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Pengetahuan Peserta Didik Siklus II Hasil Belajar Nilai/jumlah Persentase
Jumlah Peserta Didik Yang Tuntas 28 Orang 84,38%
Jumlah Peserta Didik Yang Belum Tuntas
5 Orang 15,63%
Jumlah Nilai 2435
Rata-rata 76,09
KKM 70
Dari tabel 11 di atas dapat dijelaskan bahwa pada siklus II ini dengan menerapkan model pembelajaran Discovery of Learning Metode Diskusi Kelompok di peroleh rata–rata hasil belajar Pengetahuan Peserta Didik yaitu 76,06 dengan jumlah Peserta Didik yang tuntas sebesar 84,38% (27 orang Peserta Didik) dan selebihnya 15,63% belum tuntas (5 orang Peserta Didik).
Dengan demikian, berdasarkan tabel hasil belajar serta penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa sudah banyak Peserta Didik yang berhasil dalam belajar. Hanya saja sebagian kecil dari jumlah Peserta Didik ada yang belum berhasil dalam belajar. Hasil tersebut sudah baik dan memuaskan dibandingkan siklus II, sehingga target ketuntasan 70% sudah tercapai, oleh sebab itu maka siklus ini diberhentikan dan tidak perlu dilanjutkan kesiklus berikutnya.
Hasil belajar keterampilan Peserta Didik pada siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 12: Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Keterampilan Peserta Didik Siklus II Hasil Belajar Nilai/jumlah Persentase Jumlah Peserta Didik Yang Tuntas 27 Orang 84,38%
Jumlah Peserta Didik Yang Belum Tuntas 5 Orang 15,63%
Jumlah Nilai 2440
Rata-rata 76,25
KKM 70
Dari tabel 12 di atas dapat dijelaskan bahwa pada siklus II ini dengan menerapkan model pembelajaran Discovery of Learningdi peroleh rata – rata
21 hasil belajar Keterampilan Peserta Didik yaitu 76,06 dengan jumlah Peserta Didik yang tuntas sebesar 81,25% (26 orang Peserta Didik) dan selebihnya 18,75% belum tuntas (6 orang Peserta Didik).
Dengan demikian, berdasarkan tabel hasil belajar serta penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa sudah banyak Peserta Didik yang berhasil dalam belajar. Hanya saja sebagian kecil dari jumlah Peserta Didik ada yang belum berhasil dalam belajar. Hasil tersebut sudah baik dan memuaskan dibandingkan siklus II, sehingga target ketuntasan 80% sudah tercapai, oleh sebab itu maka siklus ini diberhentikan dan tidak perlu dilanjutkan kesiklus berikutnya.
Dengan demikian, berdasarkan tabel dan diagram hasil belajar Peserta Didik diatas serta penjelasannya dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran Discovery of Learningdapat meningkatkan hasil belajar Peserta Didik, karena hanya 6 dari 32 orang Peserta Didik saja yang belum mencapai KKM. Sehingga model ini sangat cocok digunakan.
Oleh sebab itu karena dalam penelitian ini sudah mencapai target maka siklus ini dihentikan.
Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan yang lebih baik dari siklus I.
Adanya peningkatan hasil belajar Peserta Didik ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya Peserta Didik lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu Peserta Didik juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dengan menggunakan model Discovery of Learning Metode Diskusi Kelompok.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan (observasi) peneliti dengan observer dapat didiskripsikan bahwa pelaksanaan pembelajaran IPA dengan menggunakan model Discovery of Learning Metode Diskusi Kelompok pada siklus II dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar Peserta Didik.
Sedangkan masalah-masalah yang ditemukan pada siklus I sudah teratasi baik itu dari guru maupun Peserta Didik itu sendiri, oleh sebab itu karena target dan ketuntasan sudah tercapai dan model yang diterapkan sudah berhasil dilaksanakan maka siklus ini dihentikan dan tidak perlu lagi dilanjutkan ke siklus berikutnya.
C. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian pada siklus I dan siklus II dengan menggunakan model Discovery of Learning Metode Diskusi Kelompok memiliki dampak positif dalam meningkatkan Aktifitas dan hasil belajar Peserta Didik. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman Peserta Didik terhadap materi yang disampaikan guru dimana persentase aktifitas dan hasil belajar Peserta Didik meningkat mulai dari pra siklus, siklus I, dan II secara klasikal.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat persentase peningkatan aktifitas dan hasil belajar (Pengetahuan dan Keterampilan) Peserta Didik pada tabel 16 berikut:
22 Tabel 13. Persentase Peningkatan Aktifitas Dan Hasil Belajar (Pengetahuan Dan
Keterampilan) Peserta Didik
% Aktifitas % Hasil Belajar Pengetahuan
% Hasil Belajar Keterampilan Pra
Siklus
Siklus
I Siklus II
Pra Siklus
Siklus I Siklus II
Pra Siklus
Siklus I Siklus II 28,3% 61,7% 81,6% 53,13% 68,75% 84,38% 62,50% 78,13% 84,38%
Data yang tertera pada Tabel 16 dapat divisualisasikan dalam bentuk diagram batang terlihat pada Diagram 7. Visualisasi Diagram 7 menunjukkan persentase aktifitas pada pra siklus 30%, siklus I 60%, siklus II 81,6%.
Persentase hasil belajar pengetahuan pada pra siklus 53,13%, siklus I 68,75%
dan siklus II 84, 38% sedangkan untuk persentase hasil belajar keterampilan pada pra siklus 62,50%, siklus I 78,13 dan siklus II 84,38%.
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Dari hasil kegiatan penelitian yang telah dilakuka selama dua siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Peningkatan aktifitas IPA melalui pendekatan saintifik model Discovery of Learning Metode Diskusi Kelompok ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar peserta didik dalam setiap siklus, aktifitas belajar peserta didik pra siklus adalah 28,3%, pada siklus I 61,7% dan siklus II 81,6%. Untuk aktifitas guru pra siklus 53%, siklus I 78% dan meningkat pada siklus II menjadi 94%.
2. Peningkatan hasil belajar IPA melalui pendekatan saintifik model Discovery of Learning dengan Metode Diskusi Kelompok ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar peserta didik dalam setiap siklus, hal ini dapat dilihat dari ketuntasan belajar pengetahuan meningkat dari pra siklus 62,96=53,13%, siklus I 68,94=68,75%, dan siklus II 76,09=84,38%. Untuk ketuntasan belajar keterampilan yaitu pra siklus 65,47=62,50%, siklus I 71,09 =78,13%, dan siklus II 76,25 =84,38%
B. Saran
Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses Pembelajaran IPA lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi peserta didik, maka disampaikan saran sebagai berikut:
1. Bagi guru sebaiknya menggunakan model pembelajaran Discovery of Learning dalam proses pembelajaran.
2. Diharapkan kepada guru agar menggunakan tes awal (pre-tes) pada kegiatan belajar mengajar sebelum menetapkan model pembelajaran yang akan dilakukan di dalam kelas untuk melihat kemampuan awal peserta didik.
3. Bagi peneliti lanjut, karena penelitian ini baru sampai mengangkat sejauh mana penerapan model Discovery of Learning Metode Diskusi Kelompok dapat
23 meningkatkan hasil belajar Peserta Didik, maka peneliti merekomendasi atau menyarankan kiranya para peneliti tersebut dapat melanjutkan penelitian pasca penelitian ini. Hal ini penting agar hasil penelitian ini bermanfaat sebagai penyeimbang teori maupun sebagai reformasi terhadap dunia pendidikan khususnya kompetensi mengajar guru.
4.
DAFTAR PUSTAKA
Baharuddin, dan Esa Nur Wahyuni. (2015). Teori Belajar & Pembelajaran.
Yogyakarta: Ar-ruzz Media
Hakim Thursan, 2000. Belajar Secara efektif. Jakarta: Pupsa Swara.
Hamalik, Oemar. 2006. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Hosnan, M., Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21, Bogor: Ghalia Indonesia, 2014.
https://id.wikipedia.org/wiki/Hakikat Pembelajaran IPA
http://eprint.stainkudus.ac.id Metode Pembelajaran Diskusi dan Kerja Kelompok terhadap Hasil Belajar pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak.
Jumanta Hamdayama, Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter, Ghalia Indonesia, Bogor, 2015, hlm. 131
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 58 tahun 2014 tentang Kurkulum 2013 Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah.
Kunandar. 2013. Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didikberdasarkan Kurikulum 2013).Raja GrafindoPersada. Jakarta.
Lilis, Rodiawati. 2015. Perbandingan Koneksi Matematika Siswa Antara Yang Menggunakan Model Pembelajaran Discovery Learning Dengan Model Pembelajaran Knisley. dalam Jurnal Euclid, ISSN 2355-1712, vol.3, No.2, pp. 549
Majid, Abdul, Pembelajaran Tematik Terpadu, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014
Nana Syaodih Sukmadinata. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.
Bandung : Remaja Rosdakarya.
Paul Suparno, Metode Penelitian Pendidikan Fisika, Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2010.
24 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 103
Tahun 2014, Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Pasal 3, ayat (8).
Rusman, 2012. Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru, Raja Grafindo Persada, Jakarta
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana, Nana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algesindo,2009.
Suprijono, Agus. 2012. Cooperative Learning: Teori & Aplikasi Paikem.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Trianto, Model Pembelajaran Terpadu (Konsep, Strategi, dan Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011.
Vicky Azimatul Husna (2015) Penggunaan Model Discovery Learning Dengan Pendekatan Saintifik Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V Pada Materi Pokok Pesawat Sederhana Di Mi Walisongo Kebonrowopucang Karangdadap Pekalongan Tahun 2014/2015
Yeni Astuti, S.Pd (2018) Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Inggris Siswa Melalui Pendekatan Saintifik Model Discovery Of Learning Di Kelas Viii.1 Smp Negeri 6 Payakumbuh Semester Genap Tp. 2017 / 2018 Zulfitri, S.Pd (2019) Penggunaan Pendekatan Saintifik Model Discovery
Learning Metode Demontrasi Untuk Meningkatkan Aktifitas Dan Hasil Belajar Pjok Pada Permainan Sepak Bola Di Kelas Viii.Fsmpn 9 Payakumbuh Semester Genap Tp 2018/2019