• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMODIFIKASI BUDAYA LOKAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KOMODIFIKASI BUDAYA LOKAL"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

i

DISERTASI

KOMODIFIKASI BUDAYA LOKAL

(Studi Seni Lukis Batik Tamansari)

DISUSUN OLEH DWIYONO RUDI SUSANTO

NIM : 922013009

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA S A L A T I G A

2 0 2 0

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi

MOTTO

"Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan selama ada komitmen bersama untuk menyelesaikannya."

***

“Saya datang, saya bimbingan, saya ujian, saya revisi dan saya menang!”

“Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras"

***

"Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan"

***

"Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka; namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak melihat

pintu lain yang telah terbuka"

***

Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh. - Confusius

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah Subhanahuwata’ala atas karunia, rahmat dan hidayahNya serta nikmat iman dan kecerdasan dalam kehidupan ini, sehingga penulis dapat menjalani seluruh proses dan tahapan perkuliahan sebagaimana yang dipersyaratkan kepada seluruh peserta program doktoral di Manajemen pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Penulis telah menyelesaikan disertasi yang berjudul “Komodifikasi Budaya Lokal” (Studi Seni Lukis Batik Tamansari) dengan penuh perjuangan, susah payah dan berbagai rintangan walaupun tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dari pihak institusi.

Disertasi ini tidak akan terwujud apabila tidak didukung dan dibantu oleh sejumlah sejumlah pihak melalui berbagai bentuk kontribusinya. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya penulis sampaikan kepada :

1. Ketua tim Promotor dan selaku motivator, Prof. Christantius Dwiatmadja, SE, M.M, Ph.D, yang dengan penuh kesabaran dan kesungguhan memberikan pengarahan dan bimbingan secara terus menerus tanpa bosan-bosannya.

2. Bapak Hari Sunarto, SE, MBA, Ph.D; dan Dr. Anthony Surjo Abdi, SE, MM, selaku Ko-Promotor yang telah berkenan meluangkan waktunya di sela-sela kesibukan beliau untuk tetap setia memberikan bimbingan, saran dan kritik yang konstruktif pada saat memulai riset disertasi dari awal sampai akhir penyusunan, termasuk mempersiapkan diri untuk mempertahankan disertasi. Perjalanan proses penyusunan desertasi melalui bimbingan para Promotor dan co Promotor ini akhirnya dapat saya lewati semua dengan baik, walaupun dengan jalan yang tertatih-tatih.

3. Rektor Universitas Kristen Satya Wacana Bapak Neil S. Rupidara, SE, M.Sc., Ph.D.

4. Dekan FEB, Program Pascasarjana Universitas Kristen Satya Wacana Ibu Roos Kities Andadari, SE, MBA., Ph.D.

5. Kepala Program Studi Doktor Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana, Ir. Lieli Suharti, MM, Ph.D.

(8)

viii

6. Prof. JOI Ihalauw sebagai motivator yang mendorong semangat dan memberikan bimbingan, pengarahan kepada penulis tiada henti-hentinya untuk tetap menyelesaikan disertasi ini sampai tuntas dan tidak boleh berputus asa.

7. Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo-Yogyakarta, Dr. Suhendroyono, SH, M.M, M.Par, CHE, CGSP, yang telah memberikan kesempatan bantuan moril maupun materil untuk menyelesaikan program doctoral.

8. Dr. Dra. Damiasih, M.M, M.Par, CHE, CGSP, sebagai wakil ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo yang memotivasi dan mendorong semangat penulis untuk menyelesaikan desertasi ini.

9. Rekan-rekan sesama peserta Program Doktor pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, dosen-dosen pada Institusi saya Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo, teman-teman peneliti, handai tolan serta semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, atas semua support, semangat, bantuan, informasi serta dukungan yang telah diberikan, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas disertasi dengan baik.

10. Istri tercinta Titik Safarina dan putri tunggal tersayang Keyla Aura Kanaya Putri Susanto yang senantiasa mendoakan, menemani dan memberikan semangat setiap saat dalam menyelesaikan studi program doktoral.

Penulis menyampaikan permohonan maaf sekiranya dalam proses berinteraksi dengan pihak-pihak terkait terjadi hal-hal yang tidak berkenan di hati. Semoga bantuan yang tulus dan ikhlas dari semua pihak akan dibalas oleh Allah Subhanahuwata’ala, dan semoga disertasi ini bermanfaat bagi masyarakat. Aamiin Ya Robbal Aalamiin.

Salatiga, 10 Nopember 2020

D. Rudi Susanto

(9)

ix ABSTRAKSI

Tamansari merupakan salah satu situs cagar budaya yang pada sejarah awalnya sebuah pesanggrahan hanya untuk keluarga kraton seiring berjalannya waktu diubah menjadi salah satu daya tarik wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Industri pariwisata jelas memberikan dampak pada masyarakat di lingkungan Tamansari. Hal tersebut dapat ditinjau dari terjadinya pergeseran terhadap kualitas komoditas yang dijual. Para produsen membuat karya seni lukis yang berawal dengan menjual kreativitas, namun akhirnya terjadi perubahan pola pikir masyarakat hingga berkembang sebagai komoditas karena adanya permintaan pasar. Hal inilah yang membuat peneliti ingin menelusuri faktor pendorong dan mengetahui tahapan-tahapan komodifikasi di wilayah Kampung Taman, Yogyakarta serta dampak yang akan dialami oleh para produsen seni lukis batik tersebut.

Untuk menjawab persoalan tersebut peneliti melakukan pendekatan Teori Karl Marx yang menyatakan bahwa komodifikasi menggambarkan proses sesuatu yang tidak memiliki nilai ekonomis diberi nilai dan karenanya bagaimana nilai pasar dapat menggantikan nilai- nilai sosial lainnya (Marx, 1996). Teori tersebut dilengkapi dengan teori pendukung Fairclough yang isinya tidak hanya membahas komoditasnya tetapi bagaimana diorganisasikan dan bagaimana dikonseptualisasikan dari segi produksi, distribusi, dan konsumsi komoditas (Fairclough, 2006). Dari kedua teori tersebut didapatkan guideline sebagai pengarah grand theory bagi peneliti.

Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif deskriptif yaitu berupa penelitian dengan metode atau pendekatan dengan studi kasus (case study). Dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, interview, studi literature. Adapun analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis diakronik.

Diakronik yaitu mempelajari suatu gejala/ kejadian yang berhubungan dengan kejadian- kejadian sebelumnya dan tidak timbul secara tiba-tiba Menurut (Pateda, 1988). Diakronik ingin mempersoalkan, menguraikan, atau menyelidiki perkembangan sesuatu dari masa ke masa. Diakronik dapat juga disamakan dengan historis.

Hasil dari ketiga hal tersebut memunculkan komodifikasi terjadi karena adanya suatu proses yang dilatarbelakangi dari sebuah motivasi dan potensi lokasi untuk dapat dijadikan suatu komoditas yang bernilai jual tinggi yang terstruktur dan terkonsep. Konsep tersebut didasarkan pada permintaan konsumsi dan persediaan produksi untuk menghasilkan sebuah komoditas yang dikelola oleh suatu organisasi dan kemudian didistribusikan sehingga muncullah sebuah industri. Komoditas tersebut memperlihatkan kualitas produk, kualitas pasar dan kualitas sumber daya manusia. Sedangkan dalam unsur organisasi memunculkan adanya suatu bentuk struktur organisasi, peran aktif masyarakat, manajemen investor dan pemerintah. Dan pada konseptual dipengaruhi oleh skill dan teknologi, networking dan pemasaran. Hasil dari komodifikasi tersebut memberikan dampak secara langsung di beberapa sektor yaitu sektor komoditas, organisasi dan konseptual itu sendiri.

Kata kunci : Komodifikasi, Tamansari, Seni Lukis Batik

(10)

x

ABSTRACTION

Tamansari is one of the cultural heritage sites which in early history was a guesthouse only for the royal family, by over time it was transformed into one of the tourist attractions in the Special Region of Yogyakarta. The tourism industry clearly has an impact on the people in the Tamansari environment. This can be seen from the shift in the quality of the commodities that has been sold. Producers make paintings that start with selling creativity, but the end of the day there is a change in the mindset of the community so that it develops as a commodity due to market demand. This is what makes researchers want to explore the driving factors and find out the stages of commodification in the Kampung Taman area, Yogyakarta and the impacts that will be experienced by these batik painting producers.

To answer this problem the researcher adopts the Karl Marx Theory approach which states that commodification describes the process of something that has no economic value to be valued and therefore how market value can replace other social values (Marx, 1996). This theory is complemented by the supporting theory of Fairclough, which discusses not only the commodity but how it is organized and how it is conceptualized in terms of commodity production, distribution and consumption (Fairclough, 2006). From the two theories, a guideline is obtained as a guide for the grand theory for researchers.

The research method used is descriptive qualitative research. Descriptive qualitative research is in the form of research with a method or approach with a case study.

With data collection techniques through observation, interviews, literature study. The analysis used in this research is diachronic analysis. Diacronic is studying about a symptom/ event that is related to previous events and does not appear suddenly according by (Pateda, 1988). Diacronik wants to question, describe, or investigate the development of something from time to time. Diacronic can also be equated with historical.

The results of these three things give rise to commodification due to a process that is motivated by a motivation and potential location to be used as a structured and conceptualized high-value commodity. The concept is based on consumption demand and production supply to produce a commodity which is managed by an organization and then distributed so that an industry come up. These commodities show product quality, market quality and quality of human resources. Whereas in the organizational element, there is a form of organizational structure, an active role of the community, investor management and government. And conceptually influenced by skills and technology, networking and marketing. The results of the commodification have a direct impact on several sectors, namely the commodity sector, the organization and the conceptual itself.

Keywords: Commodification, Tamansari, Batik Painting

(11)

xi

DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i

Motto ... ii

Kata Pengantar ... iii

Daftar Isi ... ix

Daftar Tabel ... xiii

Daftar Gambar ... xiv

Daftar Bagan ... xv

Glosarium ... xvi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian ... 1

1.2. Penelitian terdahulu ... 5

1.3. Skema Rerangka Penelitian ... 10

1.4. Rumusan Masalah Penelitian ... 11

1.5. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 11

1.5.1. Manfaat Teoritis ... 12

1.5.2. Manfaat Praktis ... 12

BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Komodifikasi ... 14

2.2. Komodifikasi Budaya ... 18

2.3. Industri Budaya Massa ... 20

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian ... 22

3.2. Lokasi Penelitian ... 23

3.3. Jenis dan Sumber Data ... 23

3.4. Instrumen Penelitian ... 24

3.5. Penentuan Informan ... 24

(12)

xii

3.6. Teknik Pengumpulan Data ... 26

3.6.1. Observasi ... 26

3.6.2. Wawancara ... 26

3.6.3. Studi Dokumen ... 27

3.7. Teknik Analisis Data ... 28

BAB IV PERKEMBANGAN WISATA TAMANSARI DAN BUDAYA SENI LUKIS BATIK TAMANSARI 4.1. Gambaran Umum Tamansari ... 30

4.2. Analisis Faktor Pendorong Komodifikasi Budaya Lokal Seni Lukis Batik Tamansari ... 38

4.3. Analisis Proses Tahapan Komodifikasi Budaya Lokal Seni Lukis Batik Tamansari ... 43

4.4. Analisis Dampak Komodifikasi ... 46

4.5. Analisis Proses Produksi Seni Lukis Batik ... 47

4.6. Analisis Hubungan Kerjasama Pelaku Industri, Pemerintah dan Pengelola ... 49

4.7. Analisis Ciri khas atau Keunikan ... 50

4.8. Sistem Pemasaran Seni Lukis Batik Tamansari ... 51

4.9. Peningkatan Pemasaran Berbasis Teknologi ... 53

4.10. Strategi dan Program Pengembangan Produk Seni Lukis Batik Tamansari ... 54

4.10.1. Strategi Masyarakat sebagai pelaku industri ... 54

4.10.2. Program Masyarakat sebagai pelaku industri ... 54

4.11. Faktor Penghambat Pengembangan Seni Lukis Batik Tamansari ... 55

BAB V PEMBAHASAN 5.1. Definisi Konseptual ... 65

5.1.1. Definisi dari Konsep yang Muncul Dari Pertanyaan Penelitian 1 ... 65

5.1.2. Definisi dari Konsep yang Muncul Dari Pertanyaan Penelitian 2 ... 66

5.1.3. Definisi dari Konsep yang Muncul Dari Pertanyaan Penelitian 3 ... 66

(13)

xiii

5.1.4. Definisi dari Konsep yang Muncul Dari Pertanyaan Penelitian 4 ... 67

5.1.5. Definisi dari Konsep yang Muncul Dari Pertanyaan Penelitian 5 ... 67

5.1.6. Definisi dari Konsep yang Muncul Dari Pertanyaan Penelitian 6 ... 67

5.1.7. Definisi dari Konsep yang Muncul Dari Pertanyaan Penelitian 7 ... 68

5.1.8. Definisi dari Konsep yang Muncul Dari Pertanyaan Penelitian 8 ... 68

5.1.9. Definisi dari Konsep yang Muncul Dari Pertanyaan Penelitian 9 ... 68

5.1.10. Definisi dari Konsep yang Muncul Dari Pertanyaan Penelitian 10 ... 68

5.1.11. Definisi dari Konsep yang Muncul Dari Pertanyaan Penelitian 11 ... 69

5.1.12. Definisi dari Konsep yang Muncul Dari Pertanyaan Penelitian 12 ... 69

5.1.13. Definisi dari Konsep yang Muncul Dari Pertanyaan Penelitian 13 ... 69

5.1.14. Definisi dari Konsep yang Muncul Dari Pertanyaan Penelitian 14 ... 70

5.1.15. Definisi dari Konsep yang Muncul Dari Pertanyaan Penelitian 15 ... 70

5.2. Konsep-konsep Pelestarian Budaya Setelah Terjadi Komodifikasi Budaya ... 70

5.2.1. Konsep Pengembangan Komoditas ... 71

5.2.2. Konsep Pengembangan Organisasi ... 71

5.2.3. Konsep Pengembangan Produksi, Distribusi, dan Konsumsi ... 72

5.2.4. Konsep Pengembangan Sejarah ... 73

5.2.5. Konsep Pengembangan Dampak ... 74

5.3. Simpulan Penelitian Komodifikasi Budaya ... 75

BAB VI PENUTUP 6.1. Simpulan ... 80

6.2. Implikasi Teori ... 82

6.3. Keterbatasan Penelitian ... 83

6.4. Penelitian Mendatang ... 84

DAFTAR PUSTAKA ... 85

(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1. Daya Tarik Wisata Tamansari, Gapura menuju Pemandian, Gapura

Panggung, Umbul Kawitan, Sumur Gumuling ... 30

Gambar 4.2. Analisis Sejarah Perkembangan Tamansari ... 31

Gambar 4.3. Jalan di kampung Tamansari dengan mural “Kampoeng Batik Tamansari” sebagai celah seni dan budaya karya warga setempat ... 32

Gambar 4.4. Analisis Fase Perkembangan Tamansari ... 33

Gambar 4.5. Analisis Sejarah Perkembangan Seni Lukis Batik Tamansari ... 34

Gambar 4.6. Wisatawan yang berkunjung dan menikmati produk-produk seni Batik tulis di Galeri Batik Kampung wisata Tamansari ... 36

Gambar 4.7. Galeri dan Sanggar Kalpika di Kampung Tamansari ... 37

Gambar 4.8. Pelaku Industri dan Komoditas Seni Lukis Batik Tamansari ... 44

Gambar 4.9. Analisis Tahap-tahap Komodifikasi Seni Lukis Batik Tamansari ... 46

Gambar 4.10. Komoditas Seni Lukis Batik Tamansari ... 50

Gambar 4.11. Pelaku Industri Ibu Ditasari dan Komoditas Seni Lukis Batik Tamansari ... 53

Gambar 5.1 Skema Penerapan Teori Karl Max dan Fairclouch tentang Komodifikasi Budaya ... 77

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Topik pembahasan Wawancara dengan informan ... 25

Tabel 4.1. Analisa faktor pendorong komodifikasi budaya seni lukis batik di Tamansari dan seni kerajinan perak di Kotagede ... 40

Tabel 4.2. Analisis Dampak Komodifikasi ... 46

Tabel 5.1. Konsep Persoalan Penelitian ... 57

Tabel 5.2. Pola/ tema yang Terbentuk dari Kategori Persoalan Penelitian ... 62

Tabel 5.3. Konsep Pengembangan Dampak ... 74

(16)

xvi

DAFTAR BAGAN

Bagan 1.1. Alur Komodifikasi Budaya Lokal Tamansari ... 4

Bagan 1.2. Alur Pembahasan Bab-1 Pendahuluan ... 5

Bagan 1.3. Topik Penelitian tentang Komodifikasi ... 9

Bagan 1.4. Skema Rerangka Penelitian ... 10

Bagan 2.1. Skema Rerangka Landasan Teori ... 21

Bagan 4.1. Daya Tarik Wisata Tamansari dan seni Lukis Batik Tamansari ... 38

Bagan 5.1. Konsep Pengembangan Komoditas ... 71

Bagan 5.2. Konsep Pengembangan Organisasi ... 72

Bagan 5.3. Konsep Pengembangan Produksi, Distribusi, dan Konsumsi ... 73

Bagan 5.4. Konsep Pengembangan Sejarah ... 74

Bagan 6.1. Skema Rerangka Penutup ... 80

(17)

xvii GLOSARIUM

Adiluhung : Seni budaya yang bernilai tinggi

Artefak : Benda (barang-barang) hasil kecerdasan manusia Brand : Merek, nama, tanda, istilah, simbol, desain Branding : Segala usaha untuk menciptakan sebuah brand

Canting : Alat yang dipakai untuk memindahkan atau mengambil cairan yang khas digunakan untuk membuat batik tulis, kerajinan khas Indonesia

Counterexample : Contoh spesifik dari kesalahan penghitungan universal (pernyataan "untuk semua")

Cultural Capital : Modal Budaya

Dekonstruksi : Penataan ulang, bentuk struktur bangunan yang tidak lazim Epitimologi : Cabang ilmu filsafat yang membahas tentang ilmu

pengetahuan dari Sesuatu yang ada di dalam pendidikan Diakronik : Berpikir kronologis (urutan) dalam menganalisis sesuatu Diuleni : Proses pencampuran bahan dengan cara mengaduk-aduk dan

menarik-narik Diversifikasi : Penganekaragaman;

e-commerce : Pembelian, penjualan, dan pemasaran barang serta jasa melalui sistem elektronik seperti radio, televisi, dan jaringan komputer atau internet

Eksplorasi : Kegiatan untuk memperoleh pengalaman baru dari situasi yang baru

Emik : Mengacu kepada pandangan warga masyarakat yang dikaji (native's viewpoint)

Equilibrium : Keadaan mantap karena kekuatan-kekuatan yang berlawanan Estetika : Kepekaan terhadap seni dan keindahan

Etik : Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat

Gadget : Piranti elektronik dengan fungsi praktis Globalisasi : Proses masuknya ke ruang lingkup dunia

Grand Teori : Teori Utama

Guideline : Sebuah pernyataan terhdap sebuah tindakan atau kelakuan yang bertujuan untuk menyelesaikan sebuah proses agar bisa dilakukan dengan rutin

Hierarki : Organisasi dengan tingkat wewenang dari yang paling bawah sampai yang paling atas

Hipokrit : Munafik

Indigosol : Salah satu pewarna untuk batik

Inferior : Bermutu rendah

Interpretatif : bersifat adanya kesan, pen-dapat, dan pandangan;

berhubungan dengan adanya tafsiran

Kawung : Kaung; enau

(18)

xviii

Komparatif : Berkenaan atau berdasarkan perbandingan Kondominium : Kepunyaan bersama

Konseptualisasi : Pengonsepan

Konstruksi : Susunan (model, tata letak)

Kontemporer : Pada waktu yang sama; semasa; sewaktu; pada masa kini;

dewasa ini

Konvensional : Berdasarkan konvensi (kesepakatan) umum (seperti adat, kebiasaan, kelaziman

Manifestasi : Perwujudan sebagai suatu pernyataan perasaan atau pendapat Massifikasi : Sebuah keadaan dari orang-orang yang tidak membuat

putusan-putusan sendiri meskipun mereka beranggapan mereka melakukannya

Mega mendhung : Motif batik dengan ciri khas yaitu awan dengan background langit (biasanya berwarna biru) dibelakangnya

Merkantilisme : Sistem ekonomi untuk menyatukan dan meningkatkan kekayaan keuangan suatu bangsa dengan pengaturan seluruh ekonomi nasional oleh pemerintah dengan kebijaksanaan yang bertujuan mengumpulkan cadangan emas, memperoleh neraca perdagangan yang baik, mengembangkan pertanian dan industri, dan memegang monopoli atas perdagangan luar negeri

Modernitas : Kemodernan:

Networking : Membangun hubungan

Nglengreng : Pelekatan malam pada bagian kerangka dari motif batik/ pola menggunakan canting tulis

Nglorod : Proses penghilangan malam dengan merendam kain pada air mendidih.

Otodidak : Orang yang mendapat keahlian dengan belajar sendiri

Pakaryan : Kerajinan tangan

Pande Wesi : Orang yang membuat peralatan dengan besi

Parang : Pisau besar (lebih besar daripada pisau biasa, tetapi lebih pendek daripada pedang

Poskolonialisme : Kajian terhadap karya-karya sastra (dan bidang yang lain) yang berkaitan dengan praktik kolonialisme atau

imperialisme baik secara sinkronik maupun diakronik.

Referensi

Dokumen terkait

Komodifikasi yang dilakukan merupakan strategi pemerintah bersama- sama masyarakat setempat dalam pengembangan tabut menjadi industri pariwisata berbasis budaya yang

Komodifikasi mengindikasikan bahwa program TV publik tidak hanya berorientasi pada kepentingan masyarakat tapi juga kepentingan pasar sehingga masyarakat

Ketiga, seni membuat makanan tradisional lokal di kawasan budaya tersebut juga telah didesain sesuai dengan ajaran Islam.. Yaitu mengandung insur halal dan thoyib

Model Pendidikan Kecakapan Hidup Perempuan Melalui Seni Budaya Lokal merupakan model yang disusun untuk memberikan panduan kepada pendidik untuk memberikan

“Sekilas Perjalanan Seni Lukis Batik di Yogyakarta”, dalam Sambutan Pameran Seni Lukis Batik oleh Taman Budaya Yogyakarta, pada 1-6 Maret 1990.. Sejarah

Batik merupakan budaya lokal Indonesia yang patut dilestarikan. Bermula dari identitas batik yang merupakan warisan budaya leluhur, muncul kreativitas dan inovasi

Ada dua kendaraan yang diharapkan dapat membawa kita kepada pembangunan karakter dan peradaban, yaitu seni budaya lokal dan perdamaian. Kedua bidang ini bisa diterjemahkan

221 – 224 p-ISSN: 1410-9859, e-ISSN: 2580-8524 https://journals.usm.ac.id/index.php/jdsb ■Page 221 Komodifikasi Budaya Populer di Generasi Z Studi Kasus Anak Muda Sidoarjo Popular