Topik Utama
DAFTAR PUSTAKADeloitte, Oil Prices in Crisis, 2015
Curtis, Trisha, US Shale Oil Dynamics in a Low Price Environment, Oxford institute for En-ergy Studies, November 2015
Dale, Spencer, The New economics of Oil, Ox-ford institute for Energy Studies, October 2015
international Energy agency (iEa), Oil Market Report, January 2016
Lubiantara, Benny, Ekonomi Migas, Penerbit Grasindo, 2012
Lubiantara, Benny, Dinamika industri Migas – Catatan analis OPEC, Penerbit Petromin-do, 2014
OPEC Secretariat, Monthly Oil Market Report, January 2015
OPEC Secretariat, Materi Economic Commis-sion Board Meeting, November 2015 dunia, termasuk paling menderita dengan
har-ga minyak rendah ini, harhar-ga BBM domestik naik 6000%, Di arab Saudi, negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar nomor dua di dunia, BBM dinaikkan 40%, belum lagi ada wacana iPO Saudi aramco, sesuatu yang tidak pernah terbayang sebelumnya.
Sejarah harga minyak mengikuti “boom & bust
cycles”, Pemerintah dan Parlemen harus
memi-lih model tata kelola yang menjamin ketahanan energi nasional, mendorong investasi sektor hulu nasional sehingga terhindar dari terjadi-nya crash ketika siklus harga miterjadi-nyak booming lagi, sementara pada saat tersebut (tanpa tero-bosan kebijakan dan kesalahan memilih model tata kelola) produksi diperkirakan berada pada titik nadir.
Kegiatan eksplorasi yang berisiko tinggi perlu didorong secara masif, beri karpet merah un-tuk investor nasional maupun asing. Mengun-dang investor asing tidak berarti mengecilkan peran perusahaan migas milik negara/NOC. Pada masa yang akan datang, hampir semua perusahaan minyak internasional/iOC akan berbisnis melalui pola kemitraan dengan NOC untuk berbagi dan meminimalisasi risiko.
Topik Utama
yang disertai pula dengan jatuhnya harga mi-nyak mentah di pasar internasional.
Pada proyeksi pertumbuhan ekonomi nasio-nal tahun 2016, faktor penerimaan negara dari migas masih tetap diperhitungkan dengan mempertimbangkan asumsi Indonesian Crude
Price (iCP) dan indikator makro lainnya seperti lifting minyak, nilai tukar -- sesuatu yang tidak
berbeda dengan periode-periode sebelumnya. asumsi naik atau turunnya harga migas akan berimplikasi terhadap berbagai indikator ma-kro. Dengan kondisi yang ada saat ini di mana harga minyak turun cukup drastis yaitu pada kisaran US$30 per barel dibandingkan dengan puncak harga minyak yang mencapai US$140 dollar pada tahun 2012, pertanyaannya, se-berapa jauh kondisi tersebut akan berdampak terhadap aspek fiskal dan moneter. Tulisan ini secara deskriptif mencoba untuk mene lusuri perkembangan penerimaan Negara dalam
1. PENDAhULUAN
Sejarah perekonomian indonesia khusus nya dilihat dari aspek penerimaan negara sejak awal orde baru hingga memasuki kuartal i ta-hun anggaran 2016 sangat diwarnai de ngan peranan sektor minyak dan gas bumi (migas). Jika perhatian diberikan pada enam periode Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repe-lita) Pertama (1969/70–1973/74) hingga akhir Pelita Vi (1998/99), peranan migas terhadap penerimaan negara mengalami pasang surut dan dinamika yang juga memberikan gambar-an tentgambar-ang produksi migas, harga dgambar-an nilai tu-kar rupiah terhadap US$. Pada Nota Keuang-an Tahun 2016, perKeuang-anKeuang-an migas terhadap pendapatan negara masih tetap menjadi an-dalan walaupun dengan nuansa yang berbeda yaitu resiko menurunnya penerimaan negara dari migas menyusul turunnya lifting minyak
DAMPAK PENURUNAN hARgA MIgAS
TERhADAP KEBIJAKAN FISKAL DAN MoNETER
Nuzul Achjar
Anggota Scientific Board Badan Litbang ESDM, dan
Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia
[email protected]
SARI
Sejak Repelita i sampai dengan Vi dan pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Me-nengah (RPJM) tahun anggaran 2016, estimasi penerimaan negara dalam R-aPBN memegang peranan penting, terutama pada asumsi lifting minyak dan gas bumi serta harga dan nilai tukar rupiah terhadap dolar aS. Tulisan ini menggunakan analisis deskriptif untuk memberikan gamba-ran tentang pengaruh perubahan harga minyak pada indikator makro-ekonomi terutama aspek moneter dan fiskal. Setelah penerimaan negara dari migas mengalami booming pada tahun an-ggaran 1979-1980, kontribusi minyak dan gas pada pendapatan anan-ggaran nasional cenderung menurun. Di masa depan, eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas harus dilakukan dalam konteks keamanan energi bukan sebagai sumber utama penerimaan negara.
Topik Utama
Nega ra meningkat drastis karena memperoleh pendapatan besar (windfall gain) dari minyak yang kemudian digunakan untuk membiayai berbagai proyek infrastruktur, pembangunan sosial, pembangunan daerah, termasuk juga pembangunan industri dasar dan industri substitusi impor. Produksi tertinggi migas dica-pai pada tahun 1996 sebesar 1,6 juta barel per hari (bph) dan terendah pada tahun 2015 de-ngan produksi dibawah 800.000 bph. Konsum-si migas terus meningkat yang diperkirakan akan mencapai 1,8 juta bph pada tahun 2020, sementara dalam lima belas tahun terakhir
lift-ing migas cenderung merosot (Rosdiana et al.
(2015).
Tabel 1 dan Tabel 2 memperlihatkan gambaran mengenai perkembangan penerimaan dalam negeri sejak awal orde baru tahun 1968 hing-ga akhir Repelita Vi (1998/99) (lihat Gambar 1). Pada awal Repelita i (1969/70), kontribusi migas terhadap penerimaan dalam negeri ter-catat 27% dan terus meningkat sehingga men-capai 39,5% pada akhir Repelita i (1973/74), dan pada akhir Repelita ii (1978/79) sudah mencapai 54,1%. Pada april 1980 terdapat indikasi lonjakan harga minyak dunia yang mencapai US$29,5 per barel yang menandai
oil boom kedua. Kenaikan harga minyak terus
berlanjut pada dua tahun berikutnya 1981 dan 1982. Harga mi nyak masing-masing tercatat US$35 per barel. Seperti terlihat pada Tabel 3, pada pe riode sebelumnya, selama 1969-1979, harga minyak dunia berkisar antara US$1,69 – 15,65 per barel. Berikutnya, pada april 1983, harga minyak terlihat merosot yaitu US29,3 per barel dari US$35 pada april 1982.
Untuk mengurangi risiko menurunnya pene-rimaan karena jatuhnya harga migas maka pemerintah melakukan berbagai langkah kebi-jakan antara lain deregulasi di bidang keuang-an dkeuang-an perbkeuang-ankkeuang-an pada 1 Juni 1983 dengkeuang-an mengurangi intervensi bank sentral dalam hal penentuan suku bunga deposito oleh bank pemerintah maupun swasta. Pada pokok-nya deregulasi tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan investasi agar tidak terlalu ber-gantung pada ekspor migas. Dampak dari re-gulasi tersebut antara lain tercermin dari makin kaitannya dengan naik turunnya produksi dan
harga migas serta implikasinya terhadap sek-tor lain.
2. PERANAN MIgAS PADA ENAM REPE-LITA
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, sejarah perekonomian nasional khususnya pada pemerintahan orde baru sangat diwarnai dengan besarnya peranan sektor migas. Enam Repelita selama Periode 1970-1999 merupa-kan penggalan sejarah dan representasi dari kondisi perekonomian nasional masa lalu yang sekaligus juga menandai masa kejayaan dan pasang surut perekonomian yang penerimaan-nya bertumpu pada ekpor migas.
Hamilton (2013) mengidentifikasi lima perio-de utama terjadinya perubahan harga mi-nyak secara signifikan yaitu: Periode Pertama (1859–1899), Periode Kedua (1900–1945), Periode Ketiga (1946–1972), Periode Keem-pat (1973–1996), dan periode Kelima (1997– sekarang). Menurut Hamilton, dua periode terakhir tersebut masing-masing disebut se-bagai abad OPEC – Organisasi Negara-ne-gara Pengeks por Minyak (The age of OPEC) dan abad industri Baru (A new Industrial Age). Hamilton mengaitkan The age of OPEC de-ngan kondisi di mana rata-rata harga riil naik cepat, dan fokus pasar global minyak berge-ser dari ameri ka Utara ke Teluk Persia sela-ma 1973 hingga 1996, dan kebijakan OPEC sa ngat berpengaruh terhadap harga minyak. abad industri Baru sejak 1997 hingga seka-rang dimaknai oleh Hamilton sebagai pasar migas yang lebih kompetitif.
Pandangan Hamilton khususnya pada dua periode terakhir yaitu periode keempat dan kelima kurang lebih memberikan gambar-an tentgambar-ang kondisi perekonomigambar-an nasional khususnya ketika indonesia menjadi anggo-ta OPEC, yang mengandalkan penerimaan Nega ra dari ekspor migas. indonesia meng-alami dua periode boom minyak yaitu perta-ma tahun 1973/74 dan kedua pada 1979/80. Dengan harga mi nyak yang tinggi pendapatan
Topik Utama
Nega ra meningkat drastis karena memperoleh pendapatan besar (windfall gain) dari minyak yang kemudian digunakan untuk membiayai berbagai proyek infrastruktur, pembangunan sosial, pembangunan daerah, termasuk juga pembangunan industri dasar dan industri substitusi impor. Produksi tertinggi migas dica-pai pada tahun 1996 sebesar 1,6 juta barel per hari (bph) dan terendah pada tahun 2015 de-ngan produksi dibawah 800.000 bph. Konsum-si migas terus meningkat yang diperkirakan akan mencapai 1,8 juta bph pada tahun 2020, sementara dalam lima belas tahun terakhir
lift-ing migas cenderung merosot (Rosdiana et al.
(2015).
Tabel 1 dan Tabel 2 memperlihatkan gambaran mengenai perkembangan penerimaan dalam negeri sejak awal orde baru tahun 1968 hing-ga akhir Repelita Vi (1998/99) (lihat Gambar 1). Pada awal Repelita i (1969/70), kontribusi migas terhadap penerimaan dalam negeri ter-catat 27% dan terus meningkat sehingga men-capai 39,5% pada akhir Repelita i (1973/74), dan pada akhir Repelita ii (1978/79) sudah mencapai 54,1%. Pada april 1980 terdapat indikasi lonjakan harga minyak dunia yang mencapai US$29,5 per barel yang menandai
oil boom kedua. Kenaikan harga minyak terus
berlanjut pada dua tahun berikutnya 1981 dan 1982. Harga mi nyak masing-masing tercatat US$35 per barel. Seperti terlihat pada Tabel 3, pada pe riode sebelumnya, selama 1969-1979, harga minyak dunia berkisar antara US$1,69 – 15,65 per barel. Berikutnya, pada april 1983, harga minyak terlihat merosot yaitu US29,3 per barel dari US$35 pada april 1982.
Untuk mengurangi risiko menurunnya pene-rimaan karena jatuhnya harga migas maka pemerintah melakukan berbagai langkah kebi-jakan antara lain deregulasi di bidang keuang-an dkeuang-an perbkeuang-ankkeuang-an pada 1 Juni 1983 dengkeuang-an mengurangi intervensi bank sentral dalam hal penentuan suku bunga deposito oleh bank pemerintah maupun swasta. Pada pokok-nya deregulasi tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan investasi agar tidak terlalu ber-gantung pada ekspor migas. Dampak dari re-gulasi tersebut antara lain tercermin dari makin kaitannya dengan naik turunnya produksi dan
harga migas serta implikasinya terhadap sek-tor lain.
2. PERANAN MIgAS PADA ENAM REPE-LITA
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, sejarah perekonomian nasional khususnya pada pemerintahan orde baru sangat diwarnai dengan besarnya peranan sektor migas. Enam Repelita selama Periode 1970-1999 merupa-kan penggalan sejarah dan representasi dari kondisi perekonomian nasional masa lalu yang sekaligus juga menandai masa kejayaan dan pasang surut perekonomian yang penerimaan-nya bertumpu pada ekpor migas.
Hamilton (2013) mengidentifikasi lima perio-de utama terjadinya perubahan harga mi-nyak secara signifikan yaitu: Periode Pertama (1859–1899), Periode Kedua (1900–1945), Periode Ketiga (1946–1972), Periode Keem-pat (1973–1996), dan periode Kelima (1997– sekarang). Menurut Hamilton, dua periode terakhir tersebut masing-masing disebut se-bagai abad OPEC – Organisasi Negara-ne-gara Pengeks por Minyak (The age of OPEC) dan abad industri Baru (A new Industrial Age). Hamilton mengaitkan The age of OPEC de-ngan kondisi di mana rata-rata harga riil naik cepat, dan fokus pasar global minyak berge-ser dari ameri ka Utara ke Teluk Persia sela-ma 1973 hingga 1996, dan kebijakan OPEC sa ngat berpengaruh terhadap harga minyak. abad industri Baru sejak 1997 hingga seka-rang dimaknai oleh Hamilton sebagai pasar migas yang lebih kompetitif.
Pandangan Hamilton khususnya pada dua periode terakhir yaitu periode keempat dan kelima kurang lebih memberikan gambar-an tentgambar-ang kondisi perekonomigambar-an nasional khususnya ketika indonesia menjadi anggo-ta OPEC, yang mengandalkan penerimaan Nega ra dari ekspor migas. indonesia meng-alami dua periode boom minyak yaitu perta-ma tahun 1973/74 dan kedua pada 1979/80. Dengan harga mi nyak yang tinggi pendapatan
Topik Utama
3. RESIKo TERhADAP PENERIMAANNEgARA
Berdasarkan Nota Keuangan 2016, lifting mi-nyak dan gas bumi pada tahun 2016 diperkira-kan tidak adiperkira-kan terlalu jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Sumur-sumur baru yang telah diidentifikasi seperti Lapangan Banyu Urip (Jawa Timur), Lapangan Bukit Tua (le-pas pantai Jawa Timur), Lapangan YY (le(le-pas pantai utara Jawa Barat) dan Lapangan Bunyu (Kalimantan Timur) belum akan berproduksi secara besar-besaran pada tahun 2016. Pro-duksi migas masih akan tetap mengandalkan sumur-sumur tua yang sudah dikenal selama ini. Berdasarkan Nota Keuangan dan anggar-an Pendapatanggar-an danggar-an Belanggar-anja Negara 2016,
lift-ing minyak pada 2016 ditargetkan mencapai
830 ribu barel per hari (bph) sedangkan pro-duksi gas alam ditargetkan 1.155 ribu barel se-tara minyak per hari.
Mengingat masih besarnya ketergantungan pada pendapatan yang bersumber dari gas, maka penurunan produksi dan harga mi-gas akan sangat berisiko terhadap penurunan penerimaan negara dari migas khususnya pendapatan pajak dan bukan pajak walaupun dapat dikompensasikan dari apresiasi dollar aS terhadap rupiah.
implikasi paling besar dampak menurunnya harga minyak tidak hanya terhadap penerimaan dari Sumber Daya alam khususnya migas teta-pi juga terhadap penurunan Bagi Hasil Sumber Daya alam (BHSDa) khususnya untuk daerah penghasil migas. Hal ini dapat dimaklumi kare-na komponen terbesar dari Peneri maan Negara Bukan Pajak (PNBP) berasal penerimaan Sum-ber Daya alam (SDa). Selama periode 2010-2014 kontribusi migas dan non-migas rata-rata mencapai 63,1% PNBP dengan pertumbuhan rata-rata 9,3% per tahun. Kontribusi terbesar dari penerimaan SDa berasal dari migas. Tabel 5 memperlihatkan kontribusi SDa migas ter-hadap penerimaan dalam negeri yang merosot sejak tahun 2013, sedemikian rupa sehingga pada tahun 2015 kontribusinya diperkirakan 4,6% sementara non-migas naik dari 1,6% pada 2014 menjadi 2,1% pada 2015.
meningkatnya tabungan masyarakat. Setahun kemudian pada 1 Januari 1984, pemerintah melakukan deregulasi di bidang perpajakan dengan tujuan agar pendapatan Negara dari pajak dapat ditingkatkan menyusul turunnya penerimaan negara dari migas.
Pengamatan selama periode Repelita i hing-ga Vi menunjukkan bahwa kontribusi terbe-sar migas terhadap penerimaan dalam negeri tercatat 70,6% yang terjadi pada tahun ketiga Repelita iii (1981/1982) setahun setelah oil
boom kedua. Harga minyak ketika itu (april
1981) mencapai US$35 per barel, tertinggi dibandingkan dengan harga pada bulan april tahun-tahun sebelumnya.
Selama Repelita iV (1984/85-1988/89) ter-dapat catatan yang perlu dicermati bahwa kon-tribusi migas menurun tajam dari 65,6% pada awal Repelita iV hingga menjadi 39,3% pada tahun ketiga Repelita iV (1986/87). Pada ta-hun 1986, harga minyak terendah terjadi pada bulan agustus yaitu US$9,83 per barel. Hal ini membuat pemerintah indonesia makin me-nyadari agar tidak terlalu tergantung peneri-maan migas.
Harga minyak terus merosot sejak Januari 1986 (US$25,13 per barel) yang berlangsung sepan-jang tahun. Hal tersebut memberikan dampak signifikan terhadap menurun nya penerimaan Negara dari migas yang ha nya mencapai 39,3% pada tahun anggaran 1986/87.
Jika pengamatan dilakukan selama periode 2010 hingga 2015, kontribusi penerimaan dari PPh Migas tak dapat dilepaskan dari perkem-bangan lifting dan harga migas serta nilai tu-kar Rp terhadap US$ (Tabel 4 dan Gambar 2). Penerimaan dari PPh Migas sejak tahun 2011 hingga 2015 (aPBN-P) cenderung turun dari 6,1% penerimaan dalam negeri menjadi seki-tar 2,8%. Sebagaimana terlihat pada Tabel 5, menyusutnya kontribusi PPh Migas sejalan dengan turunnya lifting migas serta iCP (Gam-bar 3). Demikian juga halnya dengan Peneri-maan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang be-rasal dari Sumber Daya alam (SDa) seperti terlihat pada Tabel 6.
Topik Utama
TAhAPAN Penerimaan Migas PenerimaanNon-migas Dalam negeriPenerimaan
PELiTa i 1969/1970 65,8 177,9 243,7 1970/1971 99,2 245,4 344,6 1971/1972 140,7 287,3 428,0 1972/1973 230,5 360,1 590,6 1973/1974 382,2 585,5 967,7 PELiTa ii 1974/1975 957,2 796,5 1.753,7 1975/1976 1.248,0 993,9 2.241,9 1976/1977* 1.635,3 1.270,7 2.906,0 1977/1978 1.948,7 1.586,7 3.535,4 1978/1979 2.308,7 1.957,4 4.266,1
PEL iTa iii
1979/1980 4.259,6 2.437,2 6.696,8 1980/1981 7.019,6 3.207,4 10.227,0 1982/1983 8.627,8 3.584,8 12.212,6 1982/1983 8.170,4 4.247,9 12.418,3 1983/1984 9.520,2 4.912,5 14.432,7 PELiTa iV 1984/1985 10.429,9 5.475,6 15.905,5 1985/1986 11.144,4 8.108,4 19.252,8 1986/1987 6.337,6 9.803,0 16.140,6 1987/1988 10.047,2 10.756,1 20.803,3 1988/1989 9.527,0 13.477,3 23.004,3 REPELiTa V 1989/1990 13.381,3 18.122,9 31.504,2 1990/1991 17.740,0 24.453,0 42.193,0 1991/1992 15.069,6 27.512,4 42.582,0 1992/1993 15.330,8 33.531,8 48.862,6 1993/1994 12.503,4 43.609,7 56.113,1 REPELiTa Vi 1994/1995 13.537,4 52.880,6 66.418,0 1995/1996 16.054,7 56.959,2 73.013,9 1996/1997 20.137,1 67.493,2 87.630,3 1997/1998 **) 35.357,0 72.826,8 108.183,8 1998/1999 ***) 49.711,4 99.591,1 149.302,5 *) Sampai dengan 1976/77 termasuk penerimaan minyak lainnya
**) RaPBN-P ***) aPBN
Sumber: Kementerian Keuangan (Tahun 1980-2016). Nota Keuangan dan RaPBN Berbagai Tahun
Tabel 1. Penerimaan Migas dan Non-migas Repelita i-Vi (Rp Miliar)
Selama periode 2010-2014 pendapatan SDa migas memberikan kontribusi yang sangat sig-nifikan terhadap total PNBP yakni rata-rata se-besar 57,1%. Dengan demikian, jumlah PNBP secara keseluruhan sangat dipengaruhi oleh pendapatan dari SDa migas.
Pada aPBNP tahun 2015, penerimaan SDa ditargetkan mencapai sebesar Rp118.919,1 miliar, lebih rendah 50,6 persen dari realisasi pada tahun 2014. Rendahnya target peneri-maan SDa pada tahun 2015 dipengaruhi oleh asumsi iCP yang lebih rendah. Sementara itu,
Topik Utama
TAhAPAN Penerimaan Migas PenerimaanNon-migas Dalam negeriPenerimaan
PELiTa i 1969/1970 65,8 177,9 243,7 1970/1971 99,2 245,4 344,6 1971/1972 140,7 287,3 428,0 1972/1973 230,5 360,1 590,6 1973/1974 382,2 585,5 967,7 PELiTa ii 1974/1975 957,2 796,5 1.753,7 1975/1976 1.248,0 993,9 2.241,9 1976/1977* 1.635,3 1.270,7 2.906,0 1977/1978 1.948,7 1.586,7 3.535,4 1978/1979 2.308,7 1.957,4 4.266,1
PEL iTa iii
1979/1980 4.259,6 2.437,2 6.696,8 1980/1981 7.019,6 3.207,4 10.227,0 1982/1983 8.627,8 3.584,8 12.212,6 1982/1983 8.170,4 4.247,9 12.418,3 1983/1984 9.520,2 4.912,5 14.432,7 PELiTa iV 1984/1985 10.429,9 5.475,6 15.905,5 1985/1986 11.144,4 8.108,4 19.252,8 1986/1987 6.337,6 9.803,0 16.140,6 1987/1988 10.047,2 10.756,1 20.803,3 1988/1989 9.527,0 13.477,3 23.004,3 REPELiTa V 1989/1990 13.381,3 18.122,9 31.504,2 1990/1991 17.740,0 24.453,0 42.193,0 1991/1992 15.069,6 27.512,4 42.582,0 1992/1993 15.330,8 33.531,8 48.862,6 1993/1994 12.503,4 43.609,7 56.113,1 REPELiTa Vi 1994/1995 13.537,4 52.880,6 66.418,0 1995/1996 16.054,7 56.959,2 73.013,9 1996/1997 20.137,1 67.493,2 87.630,3 1997/1998 **) 35.357,0 72.826,8 108.183,8 1998/1999 ***) 49.711,4 99.591,1 149.302,5 *) Sampai dengan 1976/77 termasuk penerimaan minyak lainnya
**) RaPBN-P ***) aPBN
Sumber: Kementerian Keuangan (Tahun 1980-2016). Nota Keuangan dan RaPBN Berbagai Tahun
Tabel 1. Penerimaan Migas dan Non-migas Repelita i-Vi (Rp Miliar)
Selama periode 2010-2014 pendapatan SDa migas memberikan kontribusi yang sangat sig-nifikan terhadap total PNBP yakni rata-rata se-besar 57,1%. Dengan demikian, jumlah PNBP secara keseluruhan sangat dipengaruhi oleh pendapatan dari SDa migas.
Pada aPBNP tahun 2015, penerimaan SDa ditargetkan mencapai sebesar Rp118.919,1 miliar, lebih rendah 50,6 persen dari realisasi pada tahun 2014. Rendahnya target peneri-maan SDa pada tahun 2015 dipengaruhi oleh asumsi iCP yang lebih rendah. Sementara itu,
Topik Utama
Tabel 2. Penerimaan Migas dan Non-migas Repelita i-Vi (dalam Persen) gambar 1. Penerimaan Dalam Negeri dari Migas dan Non-Migas
TAhAPAN Penerimaan Migas PenerimaanNon-migas Dalam negeriPenerimaan
PELiTa i 27,0 73,0 100,0 1969/1970 28,8 71,2 100,0 1970/1971 32,9 67,1 100,0 1971/1972 39,0 61,0 100,0 1972/1973 39,5 60,5 100,0 1973/1974 27,0 73,0 100,0 PELiTa ii 1974/1975 54,6 45,4 100,0 1975/1976 55,7 44,3 100,0 1976/1977* 56,3 43,7 100,0 1977/1978 55,1 44,9 100,0 1978/1979 54,1 45,9 100,0
PEL iTa iii
1979/1980 63,6 36,4 100,0 1980/1981 68,6 31,4 100,0 1982/1983 70,6 29,4 100,0 1982/1983 65,8 34,2 100,0 1983/1984 66,0 34,0 100,0 PELiTa iV 1984/1985 65,6 34,4 100,0 1985/1986 57,9 42,1 100,0 1986/1987 39,3 60,7 100,0 1987/1988 48,3 51,7 100,0 1988/1989 41,4 58,6 100,0 REPELiTa V 1989/1990 42,5 57,5 100,0 1990/1991 42,0 58,0 100,0 1991/1992 35,4 64,6 100,0 1992/1993 31,4 68,6 100,0 1993/1994 22,3 77,7 100,0 REPELiTa Vi 1994/1995 20,4 79,6 100,0 1995/1996 22,0 78,0 100,0 1996/1997 23,0 77,0 100,0 1997/1998 32,7 67,3 100,0 1998/1999 33,3 66,7 100,0
Topik Utama
Tahun harga 1969 april 1,67 1970 april 1971 april 2,21 1972 april 2,96 1973 april 3,73 1974 april 11,7 1975 april 12,6 1976 april 12,8 1977 april 13,55 1978 april 13,55 1979 april 15,65 1980 april 29,5 1981 april 35 1982 april 35 1983 april 29,53 1984 april 29,53 1985 april 28,53 1986 Januari 25,13 Februari 21 Maret 14,45 april 10,66 Mei 10,38 Juni 12,11 Juli 10,25 agustus 9,83 September 12,2 Oktober 12,27 November 12,31 Desember 13,07 1987 Januari 15,39 april 17,57 agustus 18,76 Desember 16,93 1988 Januari 17,22 Maret 15,45 april 17,56 Oktober 13,2 Desember 12,5 1989 Januari 15 april 17,93 Mei 18,36 September 16,7 Desember 17,8 1990 Januari 18,96 april 17,23 Juli 14,47 Oktober 34,88 Desember 28,64 Tahun harga 1991 Januari 25,1 Februari 21,45 Maret 17,41 april 17,05 Mei 17,67 Juni 17,96 Juli 18,21 agustus 18,64 September 19,1 Oktober 20,04 November 20,67 Desember 20,06 1992 Januari 18,1 Februari 17,64 Maret 17,13 april 17,23 Mei 17,96 Juni 19,29 Juli 20,59 agustus 20,18 September 19,62 Oktober 19,7 November 19,44 Desember 18,71 1993 Januari 17,88 Februari 17,46 Maret 18,36 april 18,8 Mei 18,61 Juni 18,26 Juli 17,19 agustus 17,23 September 16,64 Oktober 16,75 November 15,69 Desember 14,14 1994 Januari 14,7 Februari 14,91 Maret 14,18 april 14,75 Mei 15,52 Juni 16,39 Juli 17,48 agustus 17,61 September 16,31 Oktober 16,18 November 16,27 Desember 16,05 Tahun harga 1995 Januari 16,96 Februari 17,84 Maret 17,79 april 15,05 Mei i5,23 Juni 17,24 Juli 16,02 agustus 16,22 September 16,31 Oktober 16,05 November 16,65 Desember 15,02 1996 Januari 15,95 Februari i5,56 Maret 15,97 april 19,21 Mei 15,56 Juni 19,05 Juli 19,45 agustus 19,33 September 20,92 Oktober 23,04 November 22,47 Desember 22,75 1997 Januari 23,9 Februari 21,21 Maret 19,37 april 18,35 Mei 15,75 Juni 17,56 Juli 17,51 agustus 15,00 September 17,75 Oktober 19,5 November 19,19 Desember 17,24 1998 Januari 14,52 Februari 13,47 Maret 12,14 april 13,2 Mei 12,91 Juni 12,09 Juli 12,51 agustus 12,06 September 12,09 Oktober 12,94 November 11,82 Sumber: Nota Keuangan dan aPBN Tahun 1995/1996Sebelum april 1989 harga adalah berdasarkan minyak jenis Minas (SLC), dan angka sejak april 1989 adalah harga rata-rata minyak indonesia (iCP).
minyak jenis Minas (SLC), dan angka sejak april 1989 adalah harga rata-rata minyak indonesia (iCP). Sumber: Kementerian Keuangan (Berbagai Tahun 1980-2014)
Topik Utama
Tahun harga 1969 april 1,67 1970 april 1971 april 2,21 1972 april 2,96 1973 april 3,73 1974 april 11,7 1975 april 12,6 1976 april 12,8 1977 april 13,55 1978 april 13,55 1979 april 15,65 1980 april 29,5 1981 april 35 1982 april 35 1983 april 29,53 1984 april 29,53 1985 april 28,53 1986 Januari 25,13 Februari 21 Maret 14,45 april 10,66 Mei 10,38 Juni 12,11 Juli 10,25 agustus 9,83 September 12,2 Oktober 12,27 November 12,31 Desember 13,07 1987 Januari 15,39 april 17,57 agustus 18,76 Desember 16,93 1988 Januari 17,22 Maret 15,45 april 17,56 Oktober 13,2 Desember 12,5 1989 Januari 15 april 17,93 Mei 18,36 September 16,7 Desember 17,8 1990 Januari 18,96 april 17,23 Juli 14,47 Oktober 34,88 Desember 28,64 Tahun harga 1991 Januari 25,1 Februari 21,45 Maret 17,41 april 17,05 Mei 17,67 Juni 17,96 Juli 18,21 agustus 18,64 September 19,1 Oktober 20,04 November 20,67 Desember 20,06 1992 Januari 18,1 Februari 17,64 Maret 17,13 april 17,23 Mei 17,96 Juni 19,29 Juli 20,59 agustus 20,18 September 19,62 Oktober 19,7 November 19,44 Desember 18,71 1993 Januari 17,88 Februari 17,46 Maret 18,36 april 18,8 Mei 18,61 Juni 18,26 Juli 17,19 agustus 17,23 September 16,64 Oktober 16,75 November 15,69 Desember 14,14 1994 Januari 14,7 Februari 14,91 Maret 14,18 april 14,75 Mei 15,52 Juni 16,39 Juli 17,48 agustus 17,61 September 16,31 Oktober 16,18 November 16,27 Desember 16,05 Tahun harga 1995 Januari 16,96 Februari 17,84 Maret 17,79 april 15,05 Mei i5,23 Juni 17,24 Juli 16,02 agustus 16,22 September 16,31 Oktober 16,05 November 16,65 Desember 15,02 1996 Januari 15,95 Februari i5,56 Maret 15,97 april 19,21 Mei 15,56 Juni 19,05 Juli 19,45 agustus 19,33 September 20,92 Oktober 23,04 November 22,47 Desember 22,75 1997 Januari 23,9 Februari 21,21 Maret 19,37 april 18,35 Mei 15,75 Juni 17,56 Juli 17,51 agustus 15,00 September 17,75 Oktober 19,5 November 19,19 Desember 17,24 1998 Januari 14,52 Februari 13,47 Maret 12,14 april 13,2 Mei 12,91 Juni 12,09 Juli 12,51 agustus 12,06 September 12,09 Oktober 12,94 November 11,82 Sumber: Nota Keuangan dan aPBN Tahun 1995/1996Sebelum april 1989 harga adalah berdasarkan minyak jenis Minas (SLC), dan angka sejak april 1989 adalah harga rata-rata minyak indonesia (iCP).
minyak jenis Minas (SLC), dan angka sejak april 1989 adalah harga rata-rata minyak indonesia (iCP). Sumber: Kementerian Keuangan (Berbagai Tahun 1980-2014)
Tabel 3. Harga Ekspor Minyak Mentah indonesia Selama Repelita i-Vi (US$ per barel)
Topik Utama
4. IMPLIKASI TERhADAP INDIKAToR MAKRo
Laporan Bank dunia pada Maret 2016 (The World Bank, 2016) memperkirakan pertumbuh-an ekonomi nasional pada 2016 akpertumbuh-an menca-pai 5,1%, lebih tinggi dari tahun 2015 yang realisasi pendapatan dari pertambangan
mine-ral dan batubara tahun 2014 yang bersumber dari penerimaan iuran tetap dan penerimaan royalti meningkat 3,7% dibandingkan tahun 2013. Peningkatan pendapatan pertambangan mineral dan batubara terutama didukung oleh tren peningkatan harga batubara.
Tahun Nilai Tukar(US$/Rp) (US$/barel)ICP Lifting Minyak(ribu bph)
2010 9,085.0 79.4 954.0 2011 8,779.0 111.5 898.0 2012 9,380.0 112.7 861.0 2013 10,451.0 106.0 825.0 2014 11,878.0 97.0 794.0 2015 12,500.0 60.0 825.0
Tabel 4 Nilai Tukar, iCP dan Lifting Minyak Tahun 2010-2015
Sumber: Kementerian Keuangan, 2015
gambar 2. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar dan Lifting Minyak
Topik Utama
Tahun PPh Migas Non migasPPh Migas + Non-migasPajak Penghasilan
2010 5.9 30.1 36.0 2011 6.1 29.7 35.8 2012 6.3 28.6 34.9 2013 6.2 29.2 35.4 2014 5.7 29.7 35.3 aPBN-P 2015 2.8 35.8 38.6
Sumber: Kementrian Keuangan, 2015 (diolah)
gambar 3. Perkembangan iCP periode 2010-2015
(Sumber: Kementerian Kementerian Keuangan, 2015)
Tabel 5 Penerimaan PPh Migas & Non-migas 2010-2015 (% Penerimaan Dalam Negeri)
Tabel 6 Penerimaan PNBP dari SDa Tahun 2010-2015 (% Penerimaan Dalam Negeri)
Tahun SDA MigasPendapatan Sumber Daya Alam (SDA)SDA non-migas Total PendapatanPNBP dari SDA
2010 15.4 1.6 17.0 2011 16.1 1.7 17.7 2012 15.4 1.5 17.0 2013 14.2 1.6 15.8 2014 14.0 1.6 15.6 aPBN-P 2015 4.6 2.1 6.8
Topik Utama
Tahun PPh Migas Non migasPPh Migas + Non-migasPajak Penghasilan
2010 5.9 30.1 36.0 2011 6.1 29.7 35.8 2012 6.3 28.6 34.9 2013 6.2 29.2 35.4 2014 5.7 29.7 35.3 aPBN-P 2015 2.8 35.8 38.6
Sumber: Kementrian Keuangan, 2015 (diolah)
gambar 3. Perkembangan iCP periode 2010-2015
(Sumber: Kementerian Kementerian Keuangan, 2015)
Tabel 5 Penerimaan PPh Migas & Non-migas 2010-2015 (% Penerimaan Dalam Negeri)
Tabel 6 Penerimaan PNBP dari SDa Tahun 2010-2015 (% Penerimaan Dalam Negeri)
Tahun SDA MigasPendapatan Sumber Daya Alam (SDA)SDA non-migas Total PendapatanPNBP dari SDA
2010 15.4 1.6 17.0 2011 16.1 1.7 17.7 2012 15.4 1.5 17.0 2013 14.2 1.6 15.8 2014 14.0 1.6 15.6 aPBN-P 2015 4.6 2.1 6.8
Sumber: Kementerian Keuangan, 2015 (diolah)
Topik Utama
pada 2016 harga komoditas non-energi akan turun 3,7%, harga logam akan merosot 10% di mana pada 2015 harga komoditas tersebut mengalami penurunan 21%.
Turunnya harga minyak dunia akan sangat berpengaruh terhadap penerimaan Negara dari ekspor, ditambah lagi dengan harga ko-moditas ekspor non-migas dunia yang masih lesu. Gambar 4 memperlihatkan kecenderung-an defisit neraca berjalkecenderung-an (current account) dari penurunan ekspor migas indonesia sejak Desember 2014 hingga Desember 2015. Pada kuartal ke tiga tahun 2015, penerimaan ekspor migas turun 42,1% dibandingkan kuartal ketiga tahun 2014.
Bank Dunia memperkirakan harga minyak du-nia pada 2016 akan mencapai US$ 37 per ba-rel, jauh lebih rendah dari perkiraan pada bu-lan Oktober 2015 lalu, yaitu US$ 51 per barel. hanya mencapai 4,8%. Pertumbuhan ekonomi
5,1% pada 2016 merupakan koreksi 0,2% dari perkiraan sebelumnya yaitu 5,3%. Hal tersebut dilakukan atas pertimbangan bahwa harga mi-gas masih cenderung melemah atau stagnan, sementara lifting minyak belum dapat diharap-kan naik secara signifidiharap-kan, ditambah lagi den-gan nilai tukar rupiah terhadap US$ yang be-lum menunjukkan tanda-tanda menguat cepat. Kondisi ekonomi global yang masih lemah ikut menjadi pertimbangan dilakukannya koreksi terhadap pertumbuhan ekonomi. Pada Maret 2016, harga minyak sempat melorot ke posi-si US$28 per barel, terendah sejak 2003 lalu. Perekonomian global diperkirakan akan ber-tumbuh 2,9%. Menurut Bank Dunia, salah satu penyebab tertekannya minyak antara lain kare-na dipicu oleh ekspektasi bahwa pasar minyak akan dibanjiri oleh suplai baru dari iran setelah sanksi internasional atas negara tersebut di-cabut. Bank Dunia juga memprediksi bahwa
gambar 4. Neraca Berjalan dari Ekspor Migas dan Komoditas Lain,
Topik Utama
Vi serta kondisi lima tahun terakhir 2010-2015 telah memberikan gambaran tentang pasang surut penerimaan negara yang berasal dari migas serta implikasinya. Menurunnya harga migas akan berdampak terhadap penurunan pendapatan dalam negeri yang pada giliran-nya berpengaruh terhadap meningkatgiliran-nya
fis-cal gap yang harus ditutupi dengan pinjaman
luar negeri. Pada era otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, menurunnya penerimaan negara dari migas memberikan pengaruh be-sar terhadap penerimaan daerah penghasil melalui BH-SDa dan sekaligus pertumbuhan ekonomi makro regional.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa me nu-runnya pendapatan dari migas pada tahun 1984 telah direspons dengan kebijakan untuk mendiversifikasi perekonomian untuk tidak ter-lalu bergantung pada migas antara lain meter-lalui berbagai paket deregulasi di bidang perpajak-an dperpajak-an diversifikasi ekspor. Pada tahun 2015, penurunan pendapatan dari migas terbantu oleh berkurangnya subsidi energi sehingga dapat dimanfaatkan untuk pembiayaan pem-bangunan infrastruktur walaupun defisit fiskal tidak dapat dihindarkan.
Dengan memperhatikan kondisi kekinian kondisi perekonomian tahun 2016 tidak akan terlalu jauh dibandingkan 2015 walaupun ter-dapat indikasi capital inflow yang akan lebih deras serta penguatan nilai tukar rupiah ter-hadap dollar aS. Pemerintah perlu merespons perubahan yang ada agar tidak menjadikan
lifting migas sebagai motor utama
peneri-maan negara, tetapi menempatkan produksi migas sebagai bagian dari kebijakan keaman-an energi (energy security), pembkeaman-angunkeaman-an ki-lang migas untuk meningkatkan nilai tambah serta mengembangkan sumber energi alter-natif seperti Underground Coal Gasification (UCG). Menurunnya penerimaan dari migas seyogyanya secara bertahap dapat diganti-kan melalui peningkatan investasi di berbagai bidang, menjaring lebih banyak wajib pajak dan sumber penerimaan non-migas lainnya. Harga minyak dunia merosot 47% pada 2015
dan diperkirakan akan terus tertekan dengan penurunan rata-rata 27% pada 2016.
Menurut Bank Dunia, pendapatan migas menurun tajam dari 3,4% dari PDB pada 2012 menjadi 1,1% pada 2015. Hal tersebut akan berdampak terhadap menurunnya rasio pendapatan pajak terhadap PDB menjadi 13% pada 2015. Pada 2014 dan 2015, sejumlah kebijakan jangka pendek, telah diambil pe-merintah seperti penurunan tarif pajak untuk mendorong revaluasi aset dan meningkatkan penerimaan pajak.
Melihat kondisi perekonomian nasional dewa-sa ini, Bank Dunia menyarankan agar dilaku-kan pembenahan di sektor logistik dalam rang-ka pengembangan daerah terpencil serang-kaligus untuk menciptakan diversifikasi ekonomi. Pe-satnya perkembangan ekonomi indonesia se-jak tahun 2000 belum mampu diikuti dengan perbaikan sistem logistik yang lebih baik. Dari aspek pertumbuhan ekonomi regional, penurunan harga minyak memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi dae rah penghasil migas khususnya Provinsi Kaliman-tan Timur (Kaltim). Harga rata-rata harga mi-nyak mentah indonesia (iCP) pada Desember 2013 masih mencapai US$ 107,2 per ba rel yang kemudian turun drastis menjadi US$ 43,6 per barel pada Oktober 2015. Merosot nya har-ga minyak mentah tersebut ternyata ikut me-ngerek turun harga-harga komoditas lainnya, termasuk batubara. Tidaklah mengheran kan jika pada Triwulan iii tahun 2015, Kaltim meng-alami pertumbuhan negatif masing-ma sing -3,49% dibandingkan periode yang sama ta-hun 2014 (year on year). Bahkan pada Triwu-lan i dan ii sebelumnya, Kaltim sudah meng-alami pertumbuhan negatif masing-masing -0,56% dan -0,89%.
5. PENUTUP
Deskripsi mengenai perkembangan produksi dan harga minyak mentah dalam perekono-mian indonesia sejak awal Repelita i sampai
Topik Utama
Vi serta kondisi lima tahun terakhir 2010-2015 telah memberikan gambaran tentang pasang surut penerimaan negara yang berasal dari migas serta implikasinya. Menurunnya harga migas akan berdampak terhadap penurunan pendapatan dalam negeri yang pada giliran-nya berpengaruh terhadap meningkatgiliran-nya
fis-cal gap yang harus ditutupi dengan pinjaman
luar negeri. Pada era otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, menurunnya penerimaan negara dari migas memberikan pengaruh be-sar terhadap penerimaan daerah penghasil melalui BH-SDa dan sekaligus pertumbuhan ekonomi makro regional.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa me nu-runnya pendapatan dari migas pada tahun 1984 telah direspons dengan kebijakan untuk mendiversifikasi perekonomian untuk tidak ter-lalu bergantung pada migas antara lain meter-lalui berbagai paket deregulasi di bidang perpajak-an dperpajak-an diversifikasi ekspor. Pada tahun 2015, penurunan pendapatan dari migas terbantu oleh berkurangnya subsidi energi sehingga dapat dimanfaatkan untuk pembiayaan pem-bangunan infrastruktur walaupun defisit fiskal tidak dapat dihindarkan.
Dengan memperhatikan kondisi kekinian kondisi perekonomian tahun 2016 tidak akan terlalu jauh dibandingkan 2015 walaupun ter-dapat indikasi capital inflow yang akan lebih deras serta penguatan nilai tukar rupiah ter-hadap dollar aS. Pemerintah perlu merespons perubahan yang ada agar tidak menjadikan
lifting migas sebagai motor utama
peneri-maan negara, tetapi menempatkan produksi migas sebagai bagian dari kebijakan keaman-an energi (energy security), pembkeaman-angunkeaman-an ki-lang migas untuk meningkatkan nilai tambah serta mengembangkan sumber energi alter-natif seperti Underground Coal Gasification (UCG). Menurunnya penerimaan dari migas seyogyanya secara bertahap dapat diganti-kan melalui peningkatan investasi di berbagai bidang, menjaring lebih banyak wajib pajak dan sumber penerimaan non-migas lainnya. Harga minyak dunia merosot 47% pada 2015
dan diperkirakan akan terus tertekan dengan penurunan rata-rata 27% pada 2016.
Menurut Bank Dunia, pendapatan migas menurun tajam dari 3,4% dari PDB pada 2012 menjadi 1,1% pada 2015. Hal tersebut akan berdampak terhadap menurunnya rasio pendapatan pajak terhadap PDB menjadi 13% pada 2015. Pada 2014 dan 2015, sejumlah kebijakan jangka pendek, telah diambil pe-merintah seperti penurunan tarif pajak untuk mendorong revaluasi aset dan meningkatkan penerimaan pajak.
Melihat kondisi perekonomian nasional dewa-sa ini, Bank Dunia menyarankan agar dilaku-kan pembenahan di sektor logistik dalam rang-ka pengembangan daerah terpencil serang-kaligus untuk menciptakan diversifikasi ekonomi. Pe-satnya perkembangan ekonomi indonesia se-jak tahun 2000 belum mampu diikuti dengan perbaikan sistem logistik yang lebih baik. Dari aspek pertumbuhan ekonomi regional, penurunan harga minyak memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi dae rah penghasil migas khususnya Provinsi Kaliman-tan Timur (Kaltim). Harga rata-rata harga mi-nyak mentah indonesia (iCP) pada Desember 2013 masih mencapai US$ 107,2 per ba rel yang kemudian turun drastis menjadi US$ 43,6 per barel pada Oktober 2015. Merosot nya har-ga minyak mentah tersebut ternyata ikut me-ngerek turun harga-harga komoditas lainnya, termasuk batubara. Tidaklah mengheran kan jika pada Triwulan iii tahun 2015, Kaltim meng-alami pertumbuhan negatif masing-ma sing -3,49% dibandingkan periode yang sama ta-hun 2014 (year on year). Bahkan pada Triwu-lan i dan ii sebelumnya, Kaltim sudah meng-alami pertumbuhan negatif masing-masing -0,56% dan -0,89%.
5. PENUTUP
Deskripsi mengenai perkembangan produksi dan harga minyak mentah dalam perekono-mian indonesia sejak awal Repelita i sampai
Topik Utama
DAFTAR PUSTAKAHamilton, J. D. (2013). Historical Oil Shocks. in Parker, R.E., Whaples, R. M. (eds.), The
Routledge Handbook of Major Events in Economic History. Routledge Taylor and
Francis group, New York, pp. 239–265. Kementerian Keuangan (2015). Buku II Nota
Keuangan Beserta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2016.
Kementerian Keuangan (berbagai tahun, 1980-2014). Nota Keuangan dan Rencana anggaran Pendapatan dan Belanja Nega-ra Berbagai Tahun 1980-2016.
Rosdiana, Haula; inayati; dan M. Sidik (2015). indonesia property tax policy on oil and gas upstream business activities to pro-mote national energy security: quo vadis?.
Procedia Environmental Sciences 28:341
– 35.
The World Bank (2016). Indonesia Economic
Quarterly, March 2016: Private Investment is Essential.