1 1.1. Latar Belakang
Air merupakan senyawa yang dibutuhkan oleh setiap biota, baik tumbuhan, hewan maupun manusia. Manusia sebagai mahluk hayati dan budaya memerlukan air untuk kehidupan sehari-hari (Linsley, Ray K./Franzini, Josepb B., 1996). Kebutuhan pokok air minum sehari-hari adalah air untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang digunakan untuk keperluan minum, masak, mandi, cuci, peturasan, dan ibadah (Permen PUPR Nomor 27/PRT/M/2016). Swesty Ari Donya, dkk. (2014) menyatakan bahwa, penyediaan air bersih untuk masyarakat di Indonesia masih di hadapkan pada beberapa permasalahan yang cukup kompleks, salah satunya yaitu masih rendahnya tingkat pelayanan air bersih untuk masyarakat. Triatmadja (2008) dalam pembukaan Kursus Singkat Aplikasi Software Waternet untuk Perancangan Air Minum Perpipaan, menyatakan bahwa berkaitan dengan sumberdaya air mestinya bisa dilakukan perancangan serta pengelolaan jaringan pipa untuk Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) agar sumber daya air dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien.
R. Yudi Ramdan Budiman, Kepala Biro Humas dan Kerjasama Internasional BPK menyatakan bahwa, permasalahan yang terkait dengan pengelolaan penyediaan air bersih di antaranya Aspek Perencanaan Penyediaan Air Bersih, antara lain 93,14% pemda belum menetapkan Jakstrada dan 88,24% pemda belum menetapkan Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Aspek dukungan pemda bagi PDAM, antara lain 39,42% PDAM mempunyai tarif yang belum memenuhi full cost recovery. Aspek Pengelolaan Keuangan PDAM, antara lain, 37 PDAM dari 69 PDAM belum memiliki sistem billing yang memadai. Sebagian besar PDAM juga belum memiliki database pelanggan yang akurat dan mutakhir. Aspek Pengelolaan Sumber Daya Manusia dan Kelembagaan PDAM. Serta masalah pengendalian kualitas, kuantitas dan kontinuitas air minum PDAM, antara lain sebagian besar PDAM belum melakukan pengolahan air baku sesuai standar dan
sebagian besar PDAM yang diperiksa mencatat tingkat kehilangan air di atas 20% batas maksimal yang ditetapkan oleh Kementerian PU (suaramerdeka.com).
Salah satu daerah di Indonesia yaitu di Kota Kotamobagu, kebutuhan air minum daerahnya saat ini dilayani oleh UPTD Air Bersih dan Air Limbah serta Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) milik Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow. Kota Kotamobagu merupakan salah satu wilayah yang terletak di Provinsi Sulawesi Utara yang merupakan salah satu daerah hasil pemekaran dari Kabupaten Bolaang Mongondow berdasarkan UU No 4 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Kotamobagu di Provinsi Sulawesi Utara. Kota Kotamobagu terletak antara 030’– 10’ Lintang Utara dan 123–124 Bujur Timur dengan luas wilayah 68,09 km2 dan terbagi menjadi 4 (empat) kecamatan.
Tabel 1.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kotamobagu
Kecamatan Luas (km2) Persentase
Kotamobagu Timur 15,09 22,17
Kotamobagu Selatan 30,05 44,14
Kotamobagu Barat 12,58 18,48
Kotamobagu Utara 10,36 15,22
Kota Kotamobagu 68,09 100,00
Sumber : Kotamobagu dalam Angka 2016, BPS Kotamobagu
Peraturan Pemerintah Nomor 122 Tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 27/PRT/M/2016 tentang Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah seluruh Indonesia bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pengembangan SPAM tersebut, yang mana pengembangan SPAM adalah kegiatan yang dilakukan terkait dengan ketersediaan sarana dan prasarana SPAM dalam rangka memenuhi kuantitas, kualitas, dan kontinuitas air minum yang meliputi pembangunan baru, peningkatan, dan perluasan.
Unit Pelaksana Teknis Dinas Penyelenggara SPAM yang selanjutnya disebut UPTD adalah unit yang dibentuk khusus untuk melakukan sebagian kegiatan Penyelenggaraan SPAM oleh Pemerintah Daerah untuk melaksanakan sebagian
kegiatan teknis operasional dan/atau kegiatan teknis penunjang yang mempunyai wilayah kerja satu atau beberapa daerah kabupaten/kota (PP Nomor 122 Tahun 2015).
Unit Pelaksana Teknis Dinas Air Bersih dan Air Limbah Kota Kotamobagu sebagai penyelenggara SPAM dalam kenyataannya masih menyimpan berbagai permasalahan seperti, sistem jaringan perpipaan air bersih tersebut belum beroperasi secara optimal sejak beroperasi pada Tahun 2012 dengan kapasitas rencana 95 liter/detik yang sudah terpasang dengan 6 sumber seyogyanya terpasangan 7.600 SR namun pelanggan aktif sampai dengan Tahun 2016 ini sebanyak 424 sambungan rumah (SR). Terkait dengan hal tersebut perlu diupayakan pengembangan SPAM Kota Kotamobagu yang sudah terpasang di wilayah Kota Kotamobagu sekaligus menganalisis kelembagaan, SDM dan keuangan sebagai penyelenggara. Data UPTD Air Minum dan Air Limbah tahun 2016 Kota Kotamobagu dapat dilihat sebagai berikut.
Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) menjadi bagian dalam draf rancangan peraturan daerah (ranperda) tentang air minum di Kotamobagu. Aset beberapa Intalasi Pengelolaan Air (IPA) yang ada di Kota Kotamobagu belum diserahkan dari Satker Air Minum kepada Pemerintah Kota Kotamobagu. Kepala Dinas PU Kotamobagu Sande Dondo menyatakan bahwa pemerintah melakukan koordinasi dengan beberapa instansi untuk menyusun draf ranperda air minum, mengingat dalam waktu dekat mempunyai PDAM dan instalasi pengolahan air (IPA) di Desa Kobo Kecil yang akan diserahkan pemerintah provinsi. Namun Kepala Bagian (Kabag) Humas Pemkot Kotamobagu Agung Adati menyatakan bahwa PDAM tersebut masih membutuhkan proses dalam pengalihanya dari Pemkab Bolmong. Berbeda dengan aset-aset lainya, pengalihan PDAM memerlukan penanganan khusus (manado.tribunnews. com, 2012).
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (PR-KP) Imran Amon menyatakan bahwa, beberapa titik Instalasi Pengolahan Air (IPA) belum digunakan. Sebab, pihaknya masih menunggu sertifikat uji kelayakan dari satuan
kerja Kementrian Perumahan Rakyat Agar air yang mengalir ke rumah warga, kualitasnya sudah melalui beberapa kajian teknis kesehatan (manadopostonline.com, 2017).
Menurut data Satker PK PAM dan SNVT Sumber Daya Air Kementerian PU di Provinsi Sulawesi Utara, nilai pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2014, kurang lebih Rp 465 Milyar. Dari hasil pembangunan SPAM tersebut sebagian sudah terbangun, dioperasikan oleh PDAM, diserahkan ke kabupaten/kota, namun belum dicatat sebagai aset PDAM.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BPPD) Kotamobagu Sofyan Mokoginta juga mengatakan bahwa terkait penyusunan rencana induk SPAM pemerintah sebagai penyelenggara untuk mewujudkan SPAM (Sistem Pelayanan Air Minum) yang berkualitas dengan harga yang wajar dan layak, memenuhi kepentingan masyarakat (suarabmr.com, 2016).
Sekretaris Kota (Sekkot) Kota Kotamobagu Tahlis Gallang, menyatakan bahwa banyak kegiatan fisik atau proyek yang dilaksanakan selama ini tidak saling terintegrasi dan tidak terkoordinasi. Akibatnya banyak proyek yang selesai dikerjakan tapi masih menyisakan persoalan. Misalnya, proyek jalan selesai tapi jaringan pipa air masih masih dalam pengerjaan, atau tiang listrik masih ada di badan jalan. Tahlis menambahkan bahwa jaringan air minum, belum semua menjangkau lapisan masyarakat, apalagi yang dikelola UPTD Air Minum. Master plan sistim pelayanan air minum harus disusun dengan baik dan harus mempertimbangkan berbagai aspek yang ada, diantaranya yaitu harus mampu menemukan cadangan sumber air baru (inatonreport.com, 2016).
Sistem penyediaan air minum di Kota Kotamobagu yang dikelola oleh UPTD Air Bersih dan Air Limbah Kota Kotamobagu direncanakan mampu melayani dari total jumlah penduduk Kota Kotamobagu. Namun untuk sekarang ini penyediaan air minum juga dilayani oleh PDAM Kabupaten Bolaang Mongondow yang memiliki
jumlah pelanggan ± 12.000 SR di wilayah Kota Kotamobagu. Sehingga UPTD Air Bersih dan Air Limbah dituntut untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik.
Husen, dkk (2009) menyatakan bahwa ditinjau dari faktor penyebabnya kebocoran pada sistem distribusi, kebocoran dibagi menjadi dua bagian yaitu kebocoran karena faktor teknis dan kebocoran karena faktor non teknis. Rencana perbaikan sistem pelayanan air minum harus diperhitungkan dengan seksama sehingga didapat hasil yang optimal dari kegiatan yang akan dilakukan. Perbaikan dapat dimulai dengan melihat sumber air yang tersedia, lokasi dan topografi wilayah, sistem perpipaan, sosialisasi pada pelanggan, mekanisme pemasangan sambungan rumah, kesiapan sumber daya manusia, masalah pembiayaan, tingkat kebocoran, dan lain-lain. Selain itu UPTD Air Bersih dan Air Limbah Kota Kotamobagu harus bisa menekan angka kebocoran menjadi seminimal mungkin, sekaligus memperhatikan kontinuitas dan kualitas air minum seperti yang disyaratkan oleh PP No 122 tahun 2015 tersebut. Secara teknis, jaringan distribusi air yang dimiliki oleh UPTD Air Bersih dan Air Limbah Kota Kotamobagu masih memenuhi syarat. Berdasarkan permasalahan tersebut maka perlu dilakukan beberapa analisis perbaikan sistem, baik yang bersifat teknis maupun non teknis.
Segi teknis antara lain dengan melihat kondisi eksisting jaringan perpipaan dan jumlah pelanggan SPAM Kota Kotamobagu, yang nantinya dari data kondisi eksisting tersebut akan dilakukan simulasi dengan menggunakan program
WaterNet Versi 2.2 pada jaringan.
Penyelenggaraan SPAM dari segi non teknis dilakukan analisis kelembagaan, SDM, keuangan, peran masyarakat, dan hukum sebagai bahan rekomendasi dalam penyelenggaraan SPAM yang lebih baik di Kota Kotamobagu. Secara non teknis, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kota Kotamobagu juga memiliki berbagai persoalan, mulai bentuk kelembagaan, administrasi, keuangan, serta operasionalnya. Sebagai penyelenggaran SPAM belum bisa memberikan kontribusi besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), dari data yang ada, target PAD
dalam APBD Tahun 2016 sebesar Rp. 600.000.000 tapi target PAD yang dapat dipenuhi setelah APBD-P Tahun 2016 sebesar Rp. 202.055.608,-. Selain itu, dengan struktur organisasi yang ada sekarang mengakibatkan lambatnya penanganan keluhan pelanggan masalah yang timbul di jaringan perpipaan. Unicef menyatakan bahwa beberapa kementerian dan lembaga yang terlibat dalam sektor air bersih dan sanitasi memerlukan koordinasi yang lebih kuat. Misalnya, kontraktor yang membangun sistem perairan perdesaan lebih bertanggung jawab kepada lembaga pemerintah, bukan pada pengguna jasa. Tanggung jawab pemeliharaan sistem ini tidak jelas dan struktur manajemen masyarakat masih lemah. Dalam tahun-tahun terakhir, koordinasi tersebut telah meningkat dengan terbentuknya kelompok kerja yang disebut Pokja AMPL di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten untuk air bersih dan sanitasi lingkungan.
1.2. Rumusan Masalah
UPTD Air Bersih dan Air Limbah dalam pengoperasian sistem jaringan perpipaan air bersih tersebut belum beroperasi secara optimal sejak beroperasi pada Tahun 2012 dengan kapasitas rencana 95 liter/detik dengan 6 sumber seyogyanya terpasangan 7.600 SR namun pelanggan aktif sampai dengan Tahun 2016 ini sebanyak 424 Sambungan Rumah (SR) dapat dilihat pada Tabel 1.2. Disamping itu mengkaji kemungkinan adanya alternatif manajemen penyelenggaraan SPAM di Kota Kotamobagu.
Tabel 1.2 Target dan Realisasi Sambungan Rumah SPAM Kotamobagu No. Lokasi SPAM Tahun
Pembuatan Kapasitas (L/detik) Target SR Realisasi SR Jumlah SR Aktif 1. Sia 2009 5 400 18 12
2. Poyowa Besar I&II 2010 10 800 783 188
3. Kobo Kecil (IPA) 2011 20 1.600 1.341 73
4. Bilalang (IPA) 2012 20 1.600 1.235 0 5. Pontondon (IPA) 2014 20 1.600 233 151 6. Kotamobagu Selatan (IPA) 2015 20 1.600 233 0 Jumlah 95 7.600 3.833 424
Permasalahan yang ada dalam penyediaan air minum oleh UPTD Air Bersih dan Air Limbah Kota Kotamobagu:
1. Aspek Teknis/Operasional
Cakupan pelayanan masih relatif kecil yaitu 5,8%, air tidak mengalir selama 24 jam, sehingga mengakibatkan belum optimalnya kinerja penyediaan air minum 2. Aspek administrasi dan manajemen
Tidak memiliki rencana jangka panjang, struktur organisasi yang kewenangannya terbatas, as built drawing tidak lengkap, prosedur operasi standar belum dijalankan, laporan internal dan eksternal tidak disusun tepat waktu.
Berdasarkan latar belakang di atas maka penting untuk menganalisis dan mendeskripsikan dalam bentuk “Kajian Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM): Studi Kasus SPAM Kota Kotamobagu”.
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang akan dicapai oleh penulis dalam penelitian ini adalah :
1. Mencari akar masalah dari segi sistem jaringan, organisasi, peraturan lokal, dan manajemen SPAM.
2. Memperoleh solusi untuk perbaikan penyediaan air minum di Kota Kotamobagu.
3. Membuat rencana program guna pengembangan sistem penyediaan air minum ke depan di Kota Kotamobagu.
1.4. Batasan Masalah
Dalam pelaksanaan penelitian ini ditetapkan batasan-batasan sebagai berikut: 1. Lokasi penelitian adalah daerah pelayanan SPAM Kota Kotamobagu.
2. Kualitas dan kuantitas air yang dimaksud adalah kualitas dan kuantitas air yang di produksi oleh unit produksi berdasarkan data sekunder dari pengelola SPAM Kota Kotamobagu.
3. Peningkatan kinerja jaringan yang dimaksud adalah peningkatan kinerja unit distribusi dan unit pelayanan dalam pemenuhan pelayanan secara kontinuitas (pengaliran selama 24 jam dan 7 hari).
1.5. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Mengetahui permasalahan yang terjadi dalam sistem penyediaan air minum 2. Mendukung usaha perbaikan sarana dan prasarana air minum sehingga dapat
berfungsi secara optimal dari segi teknis dan non teknis
3. Memberikan sumbangan pemikiran kepada Pemerintah Kota Kotamobagu dalam rangka pengembangan SPAM di Kota Kotamobagu.
1.6. Keaslian Penelitian
Penelitian secara komprehensif sistem penyediaan air minum yang dikelola oleh Dinas Perumahan Rakyat di Kota Kotamobagu belum pernah dilakukan bahkan seberapa besar permasalahan pada jaringan SPAM, belum ada data. Oleh karena itu, penelitian yang dilaksanakan ini merupakan sebuah penelitian baru yang dapat memperkaya informasi ilmiah yang berkaitan dengan kebijakan pengembangan SPAM.
Selain dengan melakukan evaluasi jaringan pipa eksisting yang ditinjau dengan menggunakan software WaterNet Versi 2.2, dilakukan pula berbagai kajian kebijakan terhadap manajemen pengelolaan SPAM untuk memperoleh suatu penjelasan secara lebih mendalam dan komprehensif, diantaranya analisis deskriptif mengenai pengelolaan SPAM di Kota Kotamobagu.