1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bimbingan dan Konseling (BK) merupakan upaya pemberian bantuan oleh pembimbing yang ahli kepada individu dalam memecahkan masalah, melakukan adaptasi dengan lingkungan dan atau mengembangkan potensi secara optimal. Sasaran BK adalah pengembangan potensi individu, tetapi dapat pelaksanaannya dapat dilakukan dengan kelompok, yang disebut sebagai bimbingan kelompok atau konseling kelompok. Bimbingan kelompok merupakan proses bantuan terhadap individu dalam situasi kelompok dengan pemberian informasi ataupun aktivitas kelompok membahas masalah-masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi dan social. Bimbingan kelompok ini lebih bersifat preventif dan didasarkan pada dinamika kelompok. Sedangkan konseling kelompok adalah proses bantuan yang diberikan oleh seorang ahli kepada individu secara berkelompok yang membutuhkan baik dalam penyelesaian masalah, pengembangan potensi maupun penyesuaian diri dengan lingkungan.
Proses bantuan konseling kelompok dilakukan dalam situasi yang bersifat preventif dan kuratif. Konseling kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan berarti bahwa individu yang bersangkutan mempunyai kemampuan normal atau berfungsi secara wajar dalam masyarakat, tetapi memiliki beberapa kelemahan dalam kehidupannya sehingga mengganggu kelancaran berkomunikasi dengan orang lain. Setiap individu diberikan kebebasan dalam menyampaikan perasaannya, sehingga tercipta hubungan yang dinamis antarpribadi, saling mempercayai, saling memperlakukan dengan hangat, saling mengerti dan mendukung. Dan pemimpin dalam konseling kelompok adalah konselor.
Agar proses konseling dapat berjalan dengan lancar, konselor harus menguasai teori-teori konseling seperti teori-teori psikoanalisa, behavioral, dan humanistik. Pada kesempatan ini, penulis hanya akan membahas tentang konseling kelompok berdasarkan teori psikoanalisa. Keberadaan teori konseling sangat penting dalam praktek konseling, karena praktek tanpa teori itu gila. Teori dapat digunakan untuk menentukan orientasi, tujuan, dan peran konselor. Dan orang pertama yang berusaha menerapkan prinsip-prinsip psikoanalisis beserta teknik-tekniknya dalam kegiatan kelompok adalah Alexander Wolf, seorang psikiatris dan psikoanalis. Wolf mengembangkan penerapan teknik-teknik dasar psikoanalisis dalam kelompok, seperti transference, asosiasi bebas, analisis mimpi, dan analis tentang determinan historis dari perilaku sekarang.
2 Tujuan proses analisis adalah untuk menata kembali struktur waktu dan kepribadian klien. Tujuan itu dicapai dengan membuat konflik-konflik yang tidak disadari menjadi disadari dan dengan menguji dan menjajaki materi yang bersifat intrapsikis.
B. Rumusan Masalah
Konseling kelompok merupakan bantuan yang diberikan kepada individu secara bersama-sama dengan individu lain yang memiliki masalah dan tujuan sama. Konseling kelompok diarahkan pada pemberian kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhan anggota kelompok. Maksudnya konseling kelompok meberikan kesempatan, dorongan, dan pengarahan kepada individu-individu yang bersangkutan untuk mengubah sikap dan prilaku selaras dengan lingkunganya. Interaksi antar anggota kelompok dapat digunakan individu dalam meningkatkan pemahaman dan penerimaaan terhadap nilai-nilai dan tujuan tertentu untuk mempelajari atau menghilangkan prilakua yang tidak tepat.
Dan dengan teori psikoanalisa sebagai suatu pendekatan dalam memahami prilakua manuasi dapat digunakan dalam konseling kelompok. Oleh karena itu dengan dibahasnya makalah ini diharapkan diketahui hal-hal sebagai berikut:
1. Apa hakikat bimbingan dan konseling kelompok?
2. Unsur-unsur apa yang harus diperhatikan dalam konseling kelompok? 3. Apa konsep dasar dari teori psikoanalisa?
4. Teknik- teknik apa saja yang ada dalam teori psikoanalisa?
5. Bagaimana teknik-teknik tersebut dapat diterapkan dalam konseling kelompok?
C. Tujuan Penulisan
Dalam menyusun makalah “Teknik–Teknik Psikoanalisa Dalam Konseling Kelompok”, penulis memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Dapat memahami hakikat bimbingan dan konseling kelompok.
2. Mengetahui unsur-unsur yang harus diperhatikan dalam konseling kelompok. 3. Memahami konsep dasar dari teori psikoanalisa.
4. Mengerti dan paham teknik- teknik teori psikoanalisa yang dapat digunakan dalam konseling kelompok.
3 Sehingga proses konseling kelompok dapat mencapai tujuannya, yaitu untuk meningkatkan kemampuan individu dalam melakuakn komunikasi dengan orang lain dan mengembangakan potensi yang dimilki secara optimal.
D. Sistematika Penulisan Makalah
Berikut merupakan sistematika penulisan makalah “Teknik–Teknik Psikoanalisa Dalam Konseling Kelompok” :
BAB I: PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah B. Rumusan masalah C. Tujuan penulisan
D. Sistematika penulisan makalah
BAB II: TEKNIK – TEKNIK PSIKOANALISA DALAM KONSELING KELOMPOK A. Konseling kelompok
1. Konsep dasar konseling kelompok 2. Penerapan dan fungsi konselor
B. Teknik-teknik teori psikoanalisa dalam konseling kelompok 1. Konsep dasar
2. Struktur kepribadian
3. Teknik-teknik teori psikoanlisa a. Asosiasi bebas
b. Penafsiran c. Transferensi d. Analisis mimpi
e. Analisis dan penafsiran resistensi f. Analisis dan penafsiran transferensi
g. Wawasan dan penanganan (insight and working trough) C. Penerapan teknik-teknik psikoanalisa dalam bimbingan kelompok
1. Bimbingan kelompok di institusi pendidikan
2. Bimbingan kelompok yang dipegang oleh konselor sekolah 3. Keuntungan kelompok psikoanalitik
BAB III: PENUTUP A. Kesimpulan B. Implikasi
4 BAB II
TEKNIK – TEKNIK PSIKOANALISA DALAM KONSELING KELOMPOK
A. Konseling Kelompok
1. Konsep Dasar Konseling Kelompok
Konseling kelompok adalah proses bantuan yang diberikan oleh seorang ahli kepada individu secara berkelompok yang membutuhkan baik dalam penyelesaian masalah, pengembangan potensi maupun penyesuaian diri dengan lingkungan. Konseling mencakup penggunaan teknik wawancara, tes dan studi mengenai informasi latar belakang klien untuk sampai pada satu perencanaan sistematis dari tujuan-tujuan pendidikan atau pengajaran kejuruan. Prosedur konseling yang mendekati terapi, juga dapat dipakai oleh beberapa konselor.
Kelompok menunjuk pada gabungan dua pribadi atau lebih pribadi untuk maksud-maksud sama atau minat-minat sama, menurut Lewis Loeser, memiliki lima cirri pokok: pertama, interaksi dinamik diantara anggota; kedua, suatu tujuan bersama; ketiga, hubungan antara ukuran (besar) dan fungsi; keempat, adanya kemauan (volition) dan kesetujuan (consent); dan kelima, suatu kapasitas arah diri.
Konseling kelompok adalah bukan suatu himpunan individu-individu yang karena satu atau lain alasan tergabung bersama, melainkan suatu satuan/ unit orang yang mempunyai tujuan yang ingin dicapai bersama, berinteraksi dan berkomunikasi secara intensif satu sama lain pada waktu berkumpul, saling tergantung dalam proses bekerja sama, dan mendapatkan kepuasan pribadi dari interaksi psikologis dengan seluruh anggota yang tergabung dalam satuan itu.
Dibedakan berdasarkan tugas kelompok, dalam rangka meningkatkan kemampuan kelompok dalam berkomunikasi, maka dibedakan ke dalam dua tujuan yang ingin dicapai yaitu sebagai berikut:
a. Tujuan yang ingin dicapai bersama dapat menyangkut sesuatu yang tidak langsung berkaitan dengan kehidupan batin peserta/ anggota kelompok, disebut kelompok tugas b. Tujuan yang ingin dicapai juga dapat menyangkut sesuatu yang langsung berkaitan
dengan kehidupan batin anggota dalam kelompok, disebut kelompok perkembangan. Dilihat dari sudut kegiatan yang dilakukan, kelompok dibedakan di atas :
a. Kelompok aksi (action groups) yang dirancang dengan tugas utama mengerjakan sesuatu b. Kelompok studi (study group) yang dirancang dengan tugas utama mempelajari
5 c. Kelompok diskusi (discussion group), yang dirancang dengan tujuan utama membahas
bersama suatu masalah yang dihadapi.
Mengenai sistematika klasifikasi kelompok yang ada terdapat banyak variasi antara pengarang yang ahli dan kerap tidak jelas atas dasar apa diadakan klasifikasi tertentu. Banyak sistematis bersifat dikotomis seperti yang dikemukakan dalam buku Jane Warters, Group Guidance Principles and Practices (1968), yaitu sebagai berikut:
a. Kelompok primer dan sekunder. Kelompok primer dicirikan oleh kontak akrab yang kontinu, seperti dalam keluarga dan kelompok bermain. Kelompok sekunder dibentuk atas dasar minat yang dikejar bersama, seperti satuan kelas di sekolah.
b. Sociogroup dan psychogroup. Dalam kelompk yang pertama tekanannya terletak pada hal yang harus dikerjakan bersama dala kelompok yang kedua tekanannya terletak pada hubungan antarpribadi. Namun tekanan itu dapat bergeser sehingga suatu sociogroup dapat menjadi psychogroup dan sebaliknya; nahkan dalam kelompok yang sama tekanannya kadang-kadang diberikan pada tugas yang dikerjakan, dan pada lain waktu unsur kebersamaan lebih diutamakan. Dalam kelompok atau goup yang dibentuk untuk kepentingan kegiatan bimbingan, pembedaan antara kedua macam kelompok itu tidak sebegitu tajam karena, disamping mengusahakan sesuatu bersama, pembinaan hubungan antar pribadi juga harus diperhatikan.
c. Kelompok yang terorganisasi dan kelompok yang tidak terorganisasi. Dalam kelompok yang terorganisasi terdapat diferensiasi antara peraturan-peraturan yang dipergunakan oleh anggota kelompok, sehingga terdapat suatu struktur; misalnya salah seorang berperan sebagai pemimpin atau ketua. Struktur itu dapat bersifat sangat formal dan kompleks, dapat pula bersifat informal dan agak sederhana. Dalam kelompok yang tidak terorganisasi setiap anggota bergerak lepas yang satu dari yang lain. Kelompok yang dibentuk untuk kepentingan kegiatan bimbingan adalah kelompok terorganisasi, lebih-lebih karena dibentuk di bawah pengawasan tenaga bimbingan. Namun struktur organisasinya cenderung bersifat informal dan agak sederhana.
d. In group dan out group. Dalam kelompok yang pertama para anggota merasa teknik satu sama lain dan menunjukkan loyalitas satu sama lain. Anggota out group adalah mereka yang buka anggota kelompok tertentu; diantara mereka tidak terdapat rasa loyalitas, rasa simpati, dan rasa ketertarikan, bahkan mungkin terdapat rasa antipasti dan rasa benci. Kelompk yang dietuk untuk kepentingan kegiatan bimbingan tidak mengikuti pola pembedaan inikarena kelompok itu tidak pernah boleh menghaiilkan perbedaan tajam.
6 e. Kelompok yang keanggotaannya bebas seta atas dasar sukarela dan kelompok yang keanggotaannya diwajibka. Dinatar kelompok yang dibentuk untuk kegiatan bimbingan ada yang dibentuk atas dasar sukarela.
f. Kelompok tertutup dan kelompok terbuka. Kelompok tertutup terdiri atas mereka yang mengikuti kegiatan kelompok sejak permulaan dan tidak menerima, anggota baru sampai kegiatan kelompok berhenti. Kelompok terbuka memungkinkan ada orang keluar dan orang lain masuk selama kegiatan kelompok berlangsung. Kelompok atau group kecil yang dibentuk dengan tujuan khusus cenderung bersifat tertutup.
Sejumlah kelompok yang memiliki ciri khusus dan dikenal dengan istilah-istilah tertentu, yaitu sebagai berikut :
a. Kelompok bimbingan (a group for guidance). Istilah ini khusus digunakan dalam institusi pendidikan sekolah dan mennjuk pada sejunlah siswa dan mahasiswa yang dikumpulkan bersama untuk kegiatan bimbingan.
b. Kelompok konseling (counseling group). Istilah ini sebenarnya tidak harus digunakan dalam institusi pendidikan sekolah, tetapi di Indonesia saat sekarang hanya digunakan oleh jajaran tenaga bimbingan pada jenjang pendidikan.
c. Kelompok-T (training group). Dalam kelompok ini diperhatikan difokuskan pada proses kelompok ini sendiri dan mencakup studi tentang dinamika kelompok melalui pengalaman konkret dalam interaksi satu dengan yang lainnya dalam kelompok.
d. Kelompok pertemuan. Kelompok ini dirancang untuk memberikan pengalaman mendalam dalam berkomunikasi dengan orang lain, sehingga para anggota lebih paham pada diri sendiri dan akan keunikan orang lain.
e. Kelompok bantuan diri (self-help group). Kelompok ini terdiri atas orang yang menyadari telah ketagihan obat bius dalkohol. Mereka berkumpul bersama dengan orang lain yang senasib dan saling memberikan dukungan dalam usaha melepaskan diri dari belenggu ketagihan. Dipimpin oleh orang yang lebih berpengaelaman,
f. Kelompok terapi (teraphy group). Kelompok ini terdiri atas orang yang mengalami gangguan serius dalam kesehatan mental dan menunjukkan perilaku neurotic bahkan mungkin psikotik.
2. Peranan dan Fungsi Konselor
Fungsi konselor dalam konseling kelompok yang berorientasi psikoanalisis adalah membantu klien secara berangsur-angsur menemukan factor-faktor penentu yang tidak disadari dari perilakunya pada masa kini. Fungsi itu dilaksanakannya dengan memperhatikan
7 konsep-konsep pokok psikoanalisis dan menggunakan teknik-teknik bantuan yang telah dikemukakan dalam bagian terdahulu.
Fungsi-fungsi lain dari konselor sebagai pemimpin kelompok :
a. Menciptakan iklim yang mendorong anggota-anggota kelompok menyatakan dirinya secara bebas.
b. Menyatakan batas antara perilaku dalam kelompok dan perilaku di luar kelompok. c. Memberikan dukungan terapeutik apabila anggota kelompok tidak memberikannya. d. Membantu para anggota menghadapai dan menangani penolakan dalam diri mereka
sendiri atau dalam kelompok sebagai keseluruhan.
e. Menumbuhkan kemandirian anggota-anggota kelompok dengan cara berangsur-angsur melepaskan fungsi-fungsi kepemimpinannya dan dengan mendorong interaksi di antara para anggota kelompok.
f. Menarik perhatian para anggota kepada aspek-aspek yang samar-samar dalam perilaku para anggota kelompok, dan melalui pertanyaan-pertanyaan kepada mereka, membantu mereka untuk menjajaki dirinya sendiri lebih mendalam.
Wolf (1963) menemukan fungsi-fungsi lain dari konselor sebagai pemimpin kelompok, yaitu :
a. Baerusaha untuk mengakui kesalahan sendiri dan merasa rela memberikan beberapa fungsi kepemimpinan kepada para anggota kelompok, apabila fungsi itu mempunyai manfaat terapeutik bagi kelompoknya.
b. Menghindari sikap dictator dan gaya kepemimpinan yang memojokkan anggota untuk mengikuti pendapat konselor.
c. Menyambut baik pernyataan pengalihan dalam kelompok sebagai kesempatan untuk keberhasilan kerja.
d. Membimbing anggota ke arah kesadaran penuh dan ke arah integrasi social.
e. Melihat kelompok yang dipimpinnya sebagai wahana yang mempunyai potensi yang kuat.
f. Mengakui kemampuan potensial para anggota kelompok dalam menafsirkan dan mengintegrasikan materi yang dihasilkan oleh anggota lain dan mengakui kemampuan mereka untuk mendekati kebenaran yang tidak disadarinya.
g. Waspada terhadap perbedaan individual di dalam kelompoknya.
h. Menggunakan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik di dalam kelompok.
8 j. Member contoh mengenai kesederhanaan, kejujuran dan bertindak langsung.
k. Menciptakan suasana emosional yang bebas dengan membuka perasaannya sendiri. l. Memperhatikan persekongkolan yang bersifat destruktif dalam kelompok.
B. Teknik-Teknik Teori Psikoanalisa Dalam Konseling Kelompok 1. Konsep Dasar
Menurut Syamsu Yusuf & Juntika, (2007:35) ada dua asumsi yang mendasari teori psikoanalisis Frued, yaitu:
1. Asumsi determinisme psikis, meyakini bahwa segala sesuatu yang dilakukan, difikirkan, atau dirasakan individu mempunyai arti dan maksud, dan itu semuanya secara alami sudah ditentukan.
2. Asumsi motifasi tak sadar, yaitu meyakini bahwa sebagian besar tingkah laku indifidu (seperti perbuatan, berfikir dan merasa) ditentukan oleh motif tak sadar
2. Struktur Kepribadian
Dengan system id, ego dan super ego. Pertama id,“id adalah system kepribadian yang risinil; pada waktu dilahirkan seseorang hanya terdiri dari id saja”. (Mulyarto 1995:14). Ini berarti bahwa dalam diri individu yang baru dilahirkan belum terdapat ego ataupun super ego, ini dapat terlihat dari prilaku individu tersebut. Pada saat pertama dilahirkan bayi tidak mengetahui baik dan buruk yang dia tahu hanya bagaimana memuaskan keinginanannya, misalnya dengan prilaku menangis ataupun yang lainnya. Id lebih mengutamakan prinsif kesenangan (pleasure principle) yang bertujuan untuk membebaskan atau mengurangi seseorang dari ketegangan. Sifat id tidak mengenal norma, budaya ataupun social tapi hanya mementingkan kesenangan. Id banyak tidak sadarnya atau ada diluar kesadaran. Kedua Ego, menurut Freud ego terbentuk dengan diferensiasi dari id karena kontaknya dengan dunia luar. Ego berfungsi untuk mengontrol dan memerintah id dan super ego dan memelihara hubungan dengan dunia luar, atau dengan kata lain ego merupakan penengah antara id, super ego dan dunia luar. Ego dikuasai oleh prinsif kenyataan (reality principle). Ego tidak dibawa sejak lahir, tapi merupakan hasil belajar yang berfungsi memelihara organisme secara keseluruhan. Yang terakhir yaitu super ego “super ego merupakan nilai-nilai atau norma tradisional dari masyarakat yang ada dalam ‘dunia dalam’ yang telah diinterpretasikan oleh orang tua”.(Hall&Lindzey, Dahlah, 1985:27). Super ego lebih mewakili alam ideal dari pada alam nyata, mengarah kearah kesempurnaan dari pada
9 kenyataan dan kesenangan. Fungsi dari super ego adalah untuk menghambat dorongan id dan mengejar kesempurnaan. Ia merupakan pemegang keadilan dari kepribadian.
3. Teknik-teknik teori psikoanalisa
Ada lima teknik dasar terapi psikoanalitik yang digunakan, yaitu: a. Asosiasi Bebas
Merupakan teknik utama dari terapi psikoanalitik. Asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lalu dan pelepasan amosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatic di masa lalu, yang dikenal dengan sebutan katarsis. Kat arsis hanta menghasilkan peredaan sementara atas pengalaman-pengalaman menyakitkan yang dialami konseli, tidak memainkan peran utama dalam proses treatment psikoanalitik kontemporer; katarsis mendorong konseli untuk menyalurkan sejumlah perasaannya yang terpendam, dan karenanya meratakan jalan bagi pencapaian pemahaman. Untuk membantu konseli dalam memperoleh pemahaman dan evaluasi diri yang lebih objektif, analis menafsirkan makna-makna utama dari asosiasi bebas. Selama proses asosiasi bebas berlangsung, tugas analis adalah mengenali bahan yang direpres dan dikurung dalam ketidaksadaran. Urutan asosiasi-aosiasi membimbing analis dalam memahami hubungan-hubungan yang dibuat oleh konseli diantara peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Penghalangan-penghalangan atau pengacauan-pengacauan oleh konseli terhadap asosiasi-asosiasi merupakan isyarat bagi adanya bahan yang membangkitkan kecemasan. Analis menafsirkan bahan itu dan menyampaikannya kepada konseli, membimbing konseli ke arah peningkatan pemahaman atas dinamika-dinamika yang mendasarinya, yang tidak disadari oleh klien.
b. Penafsiran
Penafsiran adalah suatu prosedur dasar dalam menganalisis asosiasi-asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-transferensi. Prosedurnya terdiri atas tindakan-tindakan analis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan oleh mimpi-mimpi, asosiasi bebas, resistensi-resistensi, dan oleh hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi penafsiran-penafsiran adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses penyingkapan bahan tak sadar lebih lanjut. Penafsiran-penafsiran analis menyebabkan pemahaman dan tidak terhalanginya bahan tak sadar pada pihak konseli.
10 Penafsiran-penafsiran harus tepat waktu, sebab konseli akan menolak penafsiran-penafsiran yang diberikan pada saat yang tidak tepat. Sebuah aturan umum adalah bahwa penafsiran harus disajikan pada saat gejala yang hendak ditafsirkan itu dekat dengan kesadaran konseli. Dengan perkataan lain, analis harus menafsirkan bahan yang belum terlihat oleh konseli, tetapi yang oleh klien bisa diterima dan diwujudkan sebagai miliknya. Aturan umum yang lainnya adalah bahwa penafsiran harus berawal dari permukaan serta menembus hanya sedalam konseli mampu menjangkaunya, sementara dia mengalami situasi itu secara emosional. Aturan umum yang ketiga adalah bahwa resistensi atau pertahanan paling baik ditunjukkan sebelum dilakukan penafsiran atas emosi atau konflik yang ada dibaliknya.
Untuk melakukan penafsiran itu ada beberapa butir pedoman yang seyogyanya diperhatikan, yaitu sebagai berikut :
a. Konseli akan lebih mempertimbangkan penafsiran yang bersifat hipotesis dan bukan menyatakan fakta.
b. Penafsiran seyogyanya berkenaan dengan materi yang mendekati kesadaran konseli. Artinya hal yang disampaikan sebagai penafsiran itu adalah yang telah mendekati ambang kesadaran klien. Dengan perkataan lain, konselor perlu menafsirkan materi yang belum dilihat oleh klien, tetapi mereka telah bersiap dan mampu menemukan.
c. Penafsiran itu harus dimulai dari permukaan dan menuju ke arah penafsiran yang lebih mendalam, yaitu mengenai yang mempunyai bobot emosinya yang besar. Dengan demikian, penafsiran itu berlangsung berangsur-angsur, sehingga hal-hal yang berbbot emosional yang besar besar itu dapat ditafsirkan pada waktu yang tepat, yaitu pada waktu klien telah siap untuk menerima keadaan yang menyakitkan.
d. Sebaiknya ditunjukkan terlebih dahulu pertahanan diri atau penolakan yang ada pada konseli sebelum menafsirkan perasaan atau konflik yang terdapat di bawah pertahanan diri atau penolakan itu.
c. Transferensi
Transferensi muncul dengan sendirinya dalam proses terapeutik pada saat di mana kegiatan-kegiatan konseli masa lalu yang tak terselesaikan dengan orang lain, menyebabkan dia merubah masa kini dan mereduksi kepada analisis sebagai yang dia lakukan kepada ibunya dan ayahnya. Kini, dalam hubungan dengan konselor mengalami kembali perasaan penolakan atau permusuhan yang pernah dialami terhadap orang tuanya.
11 Jadi transferensi merupakan upaya memproyeksikan emosi yang tidak tepat kepada pemimpin atau anggota yang lain. Transferensi biasanya terjadi ketika anggota kembali mengetahui masing-masing anggota yang lain dengan baik.
d. Analisis Mimpi
Analisis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang tak disadari dan memberikan kepada konseli pemahaman atas bbeberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Selama tidur, pertahanan-pertahanan melemah, dan perasaan-perasaan yang direpresi muncul ke permukaan. Freud memandang mimpi-mimpi sebagai “jalan istimewa menuju ketaksadaran”, sebab melalui mimpi-mimpi itu hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan yang tidak disadari, diungkapkan. Beberapa motivasi sangat tidak bisa diterima oleh orang yang bersangkutan sehingga diungkapkan dalam bentuk yang disamarkan atau disimbolkan alih-alih diungkapkan secara terang-terangan dan langsung.
Mimpi-mimpi memiliki dua taraf isi, yaitu isi laten dan isi manifest. Isi laten terdiri atas motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik, dan tak disadari. Karena begitu menyakitkan dan mengancam, dorongan-dorongan seksual dan agresif tak sadar yang merupakan isi laten ditransformasikan ke dalam isi manifest yang lebih dapat diterima, yakni impian sebagaimana yang tampil pada si pemimpi. Proses transformasi isi laten mimpi ke dalam isi manifest yang kurang mengancam itu disebut kerja mimpi. Tugas analis adalah menyingkap makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari symbol-symbol yang terdapat pada isi manifest mimpi. Selama jam analitik, analis bisa meminta konseli untuk mengasosiasikan secara bebas sejumlah aspek isi manifest impian guna menyingkap makna-makna yang terselubung.
e. Analisis dan Penafsiran Resistensi
Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien konseli mengemukakan bahan yang tak disadari. Selama asosiasi bebas atau asosiasi kepada mimpi-mimpi, pasien bisa menunjukkan ketidaksediaan untuk menghubungkan pemikiran-pemikiran, perasaan-perasaan, dan pengalaman-pengalaman tertentu. Freud memandang resistensi sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh konseli sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika konseli menjadi sadar atas dorongan-dorongan dan perasaan-perasaannya yang direpresi itu.
12 Sebagai pertahanan terhadap kecemasan, resistensi bekerja secara khas dalam terapi psikoanalitik dengan menghambat konseli dan analis dalam melaksanakan usaha bersama untuk memperoleh pemahaman atas dinamika-dinamika ketaksadaran konseli. Karena resistensi ditujukan untuk mencegah bahan yang mengancam memasuki ke kesadaran, analis harus menunjukkannya, dan konseli harus menghadapinya jika dia mengharapkan bisa menangani konflik-konflik secara realistis. Penafsiran analis atas resistensi ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan-alasan yang ada di balik resistensi sehingga dia bisa menanganinya. Analis harus membangkitkan perhatian konseli dan menafsirkan resistensi-resistensi yang paling kentara guna mengurangi kemungkinan konseli menolak penafsiran dan memperbesar kesempatan bagi konseli untuk mulai melihat tingkah laku resistifnya.
Resistensi-resistensi bukanlah hanya sesuatu yang harus diatasi. Karena merupakan perwujudan dari pendekatan-pendekatan defensive konseli yang biasa dalam kehidupan sehari-harinya, resistensi-resistensi harus dilihat sebagai alat bertahan terhadap kecemasan, tetapi menghambat kemampuan konseli untuk mengalami kehidupan yang lebih memuaskan.
f. Analisis dan Penafsiran Transferensi
Analisis transferensi adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis, sebab mendorong konseli untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. Analis memungkinkan konseli mampu memperoleh pemahaman atas sifat dari fiksasi-fiksasi dan deprivasi-deprivasinya, dan menyajikan pemahaman tentang pengaruh masa lampau terhadap kehidupannya sekarang. Penafsiran hubungan transferensi juga memungkinkan klien mampu menembus: konflik-konflik masa lampau yang tetap dipertahankannya hingga sekarang dan yang menghambat pertumbuhan emosionalnya. Atau dengan kata lain, efek-efek psikopatologis dari hubungan masa dini yang tidak diinginkan, dihambat oleh penggarapan atas konflik emosional yang sama yang terdapat dalam hubungan terapeutik dengan analis.
Transferensi mengejawantahkan dirinya dalam proses terapeutik ketika “urusan yang tak selesai” di masa lampau konseli dengan orang-orang yang berpengaruh menyebabkan dia mendistorsi masa sekarang dan bereaksi terhadap analis sebagaimana dia bereaksi terhadap ibu atau ayahnya. Dalam hubungannya dengan analis, konselimengalami kembali perasaan-perasaan menolak dan membenci sebagaimana yang dulu dirasakan terhadap orangtuanya. Sebagian besar terapis psikoanalitik menekankan bahwa pada akhirnya konseliharus mengembangkan “neurosis transferensi”, sebab neurosis yang dialami konseli bersumber pada lima tahun pertama kehidupannya, dan sekarang dia membawa neurosis itu ke masa
13 dewasa sebagai kerangka hidupnya. Analis membangkitkan neurosis transferensi dengan kenetralan, keobjektifan, keanoniman, dan kepasifan yang relative.
g. Wawasan dan Penanganan (Insight and Working Trough)
Wawasan berarti kesadaran akan sebab-sebab dari kesulitan seseorang pada masa kini. Dalam model psikoanalitik wawasan jua berarti kesadaran intelektual dan emosional tentang hubungan antara pengalaman-pengalaman masa lampau dengan masalah masa kini.
Jadi, apabila para anggota kelompok mengharapkan perubahan dalam beberapa aspek kepribadiannya, maka mereka harus mengenai penolakan dan pola perilakunya yang lama. Ini merupakan proses yang lama dan sulit. Penanganan secara tuntas itu merupakan aspek yang sangat kompleks dalam psikoanalisis dan menuntut yang mendalam. Penanganan tuntas ini merupakan suatu proses yang ccok untuk menaggulangi konflik-konfilk yang tidak terpecahkan, sikap dan kebutuhan, penolakan, pengalaihan terhadap pemimpin kelompok dan rekan sekelompoknya dan hal-hal lain yang tidak terpecahkan di masa lampau.
Proses penanganan tuntas merupakan tahap akhir dari kelompok analitik dan hasilnya adalah bertambahnya kesadaran dan integrasi.
C. Penerapan Teknik-Teknik Psikoanalisa Dalam Bimbingan Kelompok 1. Bimbingan Kelompok Di Institusi Pendidikan
Bimbingan kelompok merupakan salah satu pengalaman melalui pembentukan kelompok yang khas untuk keperluan pelayanan bimbingan. Namun disamping kelompok atau group yang dibentuk dalam rangka pengelelolaan kegiatan bimbingan, di sekolah juga dibentuk beraneka kelompok lain yang juga dirancang untuk memberikan suatu pengalaman pendidikan, meskipun mungkin mempunyai sarana lain daripada sasaran pelayanan bimbingan. Kelompok atau group siswa yang dibentuk di luar bidang pengajaran dirancang untuk memberikan pengalaman pendidikan yang sasarannya kerap bertumpang tindih dengan sasaran pelayanan bimbingan, paling sedikit sangat dekat dengan sasaran pelayanan bimbingan.
Pelayanan bimbingan secara kelompok, yang secara khusus dibebankan pada konselor sekolah. Kemudian diuraikan kaitan bimbingan kelompok dengan kegiatan siswa yang kurikuler dan ekstrakurikuler, yang dilakukan secara kelompok, serta sambungan apa yang dapat diberikan oleh tenaga bimbingan professional pada pembinaan kelompok-kelompok itu, terutama jenjang pendidikan.
14 2. Bimbingan Kelompok Yang Dipegang Oleh Konselor Sekolah
Tujuan pelayanan bimbingan secara kelompok tidak berbeda dengan tujuan pelayanan bimbingan, yaitu supaya orang yang dilayani menjadi mampu mengatur kehidupan sendiri, memiliki pandangannya sendiri dan tidak sekedar membebek pendapat orang lain, mengambil sikap sendiri, dan berani menanggung sendiri efek serta konsekuensi dari segala tindakannya.
3. Keuntungan Kelompok Psikoanalitik
Dengan melakukan konseling kelompok memiliki beberapa keuntungan yaitu sebagai berikut :
a. Para anggota kelompok dapat membangun hubungan yang sama dengan hubungan yang terjadi dalam keluarganya sendiri, tetapi kali ini hubungan-hubungan itu terjadi dalam kerangka kelompok yang sama dan menggantungkan bagi tercapainya hasil yang menyenangkan.
b. Peserta dalam kelompok analitik memiliki kesempatan yang banyak untuk mengalami pengalihan (transference) perasaan kepada anggota lain dan kepada pemimpin kelompok, mereka dapat menangani perasaan-perasaan itu dank arena itu mereka dapat mengembangkan pemahaman dirinya secara memadai.
c. Para peserta dapat memperoleh wawasan yang dramatic mengenai bekerjanya pertahanan diri dan penolakan yang terjadi dalam dirinya.
d. Kebergantungan pada kekuasaan terapis tidak sebesar kebergantungannya dalam proses analisis individual, karena para anggota kelompok memeroleh pula balikan dari rekan sekelompoknya.
e. Peserta kelompok analitik menyadari bahwa seseorang wajar dan biasa memiliki dan menyatakan perasaan-perasaan yang kuat, yaitu perasaan-perasaan yang mungkin ditekannya dalam ketaksadaran.
f. Dalam kerangka kelompok, para anggotanya mempunyai banyak kesempatan untuk belajar tentang dirinya sendiri dan tentang orang lain, baik secara nyata maupun secara khayalan, melalui interaksi dengan rekannya dan dengan pemimpin kelompok. Bahan-bahan yang tersedia untuk dianalisis bukan hanya dengan mengingat kembali hal-hal yang lalu melainkan juga berdasarkan intteraksi dengan rekan sekelompoknya.
g. Kerangka kelompok mendorong anggotanya untuk menguji proyeksi-proyeksi yang dilakukannya.
h. Analisis dalam kelompok dapat langsung mengkonfrontasikan klien terhadap harapannya yang idealistic untuk memiliki hubungan yang eksklusif dengan terapis.
15 BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bimbingan dan konseling tidak hanya dilakukan secara individual, tapi juga dengan bimbingan dan konseling kelompok. Bimbingan dan konseling kelompok merupakan proses bantuan yang diberikan oleh orang professional kepada individu secara berkelompok yang membutuhkan baik dalam memecahkan masalah, melakukan adaptasi dengan lingkungan, maupun pengembangan potensi secara optimal.
Kelompok menunjuk pada gabungan dua pribadi atau lebih pribadi untuk maksud-maksud sama atau minat-minat sama. Kelompok memiliki lima cirri pokok: pertama, interaksi dinamik diantara anggota; kedua, suatu tujuan bersama; ketiga, hubungan antara ukuran (besar) dan fungsi; keempat, adanya kemauan (volition) dan kesetujuan (consent); dan kelima, suatu kapasitas arah diri.
Konseling kelompok bukanlah suatu himpunan individu-individu yang karena satu atau lain alasan tergabung bersama, melainkan suatu satuan/ unit orang yang mempunyai tujuan yang ingin dicapai bersama, berinteraksi dan berkomunikasi secara intensif satu sama lain pada waktu berkumpul, saling tergantung dalam proses bekerja sama, dan mendapatkan kepuasan pribadi dari interaksi psikologis dengan seluruh anggota yang tergabung dalam satuan itu.
Adapun yang dimaksud dengan konseling kelompok dengan pendekatan psikoanalisa adalah upaya menata kembali struktur dan kepribadian peserta didik secara kelompok. Psikoanalisa memandang penuntuasan tahapan perkembangan berpengaruh terhadap kepribadian individu. Misalnya seorang anak yang tahap perkembangan oralnya tidak baik, maka dimasa depannya oralnya pun kan tidak baik. Dan struktur kepribadian menurut Freud adalah id, ego, dan superego. Id banyak tidak sadarnya atau ada diluar kesadaran. Ego berfungsi untuk mengontrol dan memerintah id dan super ego dan memelihara hubungan dengan dunia luar, atau dengan kata lain ego merupakan penengah antara id, super ego dan dunia luar, dan super ego lebih mewakili alam ideal dari pada alam nyata, mengarah kearah kesempurnaan dari pada kenyataan dan kesenangan.
Konselor merupakan pemimpin kelompok dalam konseling kelompok. Fungsi konselor sebagai pemimpin dalam konseling kelompok dengan pendekatan psikoanalisa
16 adalah membantu klien secara berangsur-angsur menemukan faktor-faktor penentu yang tidak disadari dari perilakunya pada masa kini.
Konseling kelompok dengan pendekatan psikoanalisa memiliki beberapa teknik yaitu asosiasi bebas, interfretasi, transferensi, analisis mimpi, analisis dan prenafsiran resistensi, analisis dan penafsiran transferensi, dan wawasan dan penanganan (insight and working trough).
B. Implikasi
Penulisan makalah memiliki implikasi pada dua sasaran yaitu: 1. Bagi konselor
Pemahaman terhadap teori konseling sangat membantu dalam kelancaran proses konseling karena dapat memudahkan dalam memecahkan masalah. Tetapi, tidak sedikit konselor yang mengatakan bahwa teori-teori konseling yang telah dipelejari, tidak berguna karena proses konseling berjalan dengan sendirinya. Menurut konselor di lapangan, sangat merepotkan jika harus melakukan konseling dengan teknik tertentu. Misalnya, ada kasus anak membolos dari sekolah, teknik yang digunakan tidak dengan teori ataupun model konseling yang digunakan secara jelas, tapi langsung saja memanggil peserta didik dan lakukan konseling tanpa dilandasasi suatu teori. Padahal dengan memahami teori dapat memudahkan konselor dalam mengangani kasus terjadi pada peserta didik.
Selain itu, tidak jarang konselor mendapat kesulitan dalam memberikan pelayanan kepada setiap peserta didik, padahal setiap peserta didik memilki hak yang sama untuk mendapat pelayanan BK. Terlebih lagi, BK memiliki prinsip yaitu BK untuk semua individu baik peserta didik ataupu bukan, baik yang bermasalah ataupun tidak bermasalah. Oleh karena itu, penting bagi konselor untuk memiliki keterampilan konseling kelompok dengan pendekatan teori konseling, misalnya konseling kelompok dengan pendekatan teori psikoanalisa.
Berikut merupakan manfaat yang dapat diambil dari keberadaan konseling kelompok teori psikoanalisa :
a. Sebagai bukti kemampuan konselor dengan penguasaan teori, sehingga tidak diragukan dalam pelayanan konseling.
b. Memudahkan proses konseling karena telah terdapat pedoman melakukan proses konseling, mulai dari pemahaman latar belakang masalah sampai pada penyelesaian masalah.
17 c. Dengan menguasai konseling kelompok dengan pendekatan psikoanalisa dapat menghemat waktu dan tenaga konselor karena beberapa individu dengan kebutuhan yang sama dapat mendapat pelayanan konseling secara bersamaan.
2. Bagi calon konselor
Dalam membangun kepribadian yang baik, individu harus memahami kepribadian diri sendiri terlebih dahulu. Begitupun calon konselor, dengan adanya materi tentang kepribadian dan teori-teori konseling, dapat membantu calon konselor untuk memahami diri sendiri dan melatih keterampilan konseling.
Selain sebagain syarat untuk mendapat nilai yang baik dan memenuhi tugas mata kuliah, materi konseling kelompok dengan pendekatan teori psikoanalisa juga sebagai modal atau bekal nanti di lapanagan ketika akan menangani kasus. Dengan bekal ini para calon konselor tidak akan kebingungan apa ayng harus dilakukan ketika konseli datang meminta bantuan.