SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Manajemen
Diajukan Oleh :
Niar Sarassanti 0712010047/FE/EM
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
Yang diajukan
Niar Sarassanti 0712010047 / FE / EM
Telah disetujui untuk penyusunan skripsi oleh
Pembimbing Utama
Dr. Muhadjir Anwar, MM Tanggal :...
Mengetahui
Ketua Jurusan Manajeman
sehingga penulis dapat menyelesaikan dengan baik skripsi yang berjudul
“PENGARUH TANGIBLE ASSETS, GROWTH OPPORTUNITY, DAN
BUSINESS RISK TERHADAP STRUKTUR MODAL PERUSAHAAN
OTOMOTIF DI BEI”.
Adapun skripsi ini diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam
memperoleh gelar sarjana ekonomi jurusan manajemen di Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Skripsi ini tidak dapat terselesaikan dengan baik tanpa bantuan dari
beberapa pihak, untuk itu penulis dalam kesempatan ini menyampaikan ucapan
terima kasih kepada :
1. Bapak Rektor Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP Selaku Rektor Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Bapak Dr. Dhani Ichsanuddin Nur, MM. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur. Dan selaku Dosen
Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam
penulisan skripsi ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik.
3. Bapak Dr. Muhadjir Anwar, MM. Selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas
Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
4. Segenap staff Dosen Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Universitas
Penulis menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna dan penuh
keterbatasan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang
membangun demi perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini. Sebagai akhir kata,
semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pihak lain yang
membutuhkannya. Dan semoga Allah SWT memberikan balasan kepada semua
pihak yang telah memberi bantuan kepada penulis.
Surabaya, 25 Maret 2011
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
ABSTRAKSI ... viii BAB I PENDAHULUAN 1.1...Latar
BAB II LANDASAN TEORI 2.1...Penel
2.4...Peng
kuruan Struktur Modal ... 20
2.5...Fakto
r – faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal
2.5.1...Tangi
aruh Variabel Terhadap Struktur Modal
2.6.1...Peng
aruh Tangible Assets Terhadap Struktur
Modal ... 23
2.6.2...Peng
aruh Growth Opportunity Terhadap Struktur
Modal ... 24
2.6.3...Peng
aruh Business Risk Terhadap Struktur
Modal ... 25
2.7...Kera
ngkah Konseptual ... 26
2.8...Hipot
3.2.1...Popul
asi ... 30
3.2.2...Samp
el ... 30
3.3...Tekni
k Pengumpulan Data
3.3.1...Jenis
k Analisis Data dan Uji Hipotesis
3.4.1...Tekni
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1...Desk
ripsi Obyek Penelitian
4.1.1...Sejar
4.1.4...Perke
mbangan Perusahaan Otomotif ... 46
4.2...Desk
ripsi Hasil Penelitian
4.2.1...Desk
ripsi Variabel Tangible Assets ... 48
4.2.2...Desk
ripsi Variabel Growth Opportunity ... 50
4.2.3...Desk
ripsi Variabel Business Risk ... 52
4.2.4...Desk
ripsi Variabel Struktur Modal ... 53
4.3...Hasil
Pengujian
4.3.1...Hasil
Uji Normalitas ... 55
4.3.2...Hasil
Pengujian Asumsi Klasik
4.3.2.1...Hasil
4.3.4.2...Hasil
Uji t ... 61
4.4...Pemb
ahasan ... 63
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ... 65
5.2 Saran ... 66
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 4.5 : Hasil Pengujian Normalitas ……….. 55
Tabel 4.6 : Hasil Pengujian Multikolinieritas ………. 56
Tabel 4.7 : Hasil Pengujian Heteroskedastisitas ………. 57
Tabel 4.8 : Hasil Pengujian Autokolaretasi ……… 58
Tabel 4.9 : Hasil Uji Regresi Linier Berganda ……….... 59
Tabel 4.10: Hasil Uji Anova ………. 60
Tabel 4.11: Hasil Uji R2 ……….... 61
Tabel 4.12: Hasil Uji T ………. 61
0leh Niar Sarassanti
Abstraksi
Salah satu fungsi pokok dari manajemen adalah keuangan yang mengatur bagaimana sumber-sumber yang dimiliki perusahaan dapat digunakan secara efektif dan efisien. Salah satu keputusan penting yang harus diambil seorang manajer keuangan dalam mencapai tujuan maksimalisasi nilai perusahaan adalah keputusan pembelanjaan. Tujuan keputusan pembelanjaan adalah untuk menentukan tingkat struktur modal yang optimal, yaitu tingkat bauran hutang dan ekuitas yang dapat memaksimumkan nilai perusahaan. Seperti perusahaan otomotif di Indonesia yang memiliki tingkat struktur modal yang tinggi yang ditandai dengan besarnya tingkat hutang jangka panjang dibanding modal yang dimiliki perusahaan. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor yaitu tangible assets, growth opportunity, dan business risk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah faktor tangible assets, growth opportunity,
dan business risk mempengaruhi struktur modal pada perusahaan otomotif di BEI.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan otomotif yang terdaftar di BEI periode 2007-2009. Sampel dalam penelitian diambil dengan teknik random sampling sehingga dipilih secara acak. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang berupa laporan keuangan dan laporan laba rugi. Model analisis yang diginakan adalah regresi linier berganda. Untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel bebas meliputi assets, growth
opportunity, dan business risk secara parsial di ujikan uji t.
Hasil penelitian menunjukan bahwa ketiga variabel tangible assets, growth
opportunity, dan business risk mempunyai pengaruh negatif tidak signifikan terhadap struktur
modal.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pada umumnya kondisi persaingan menuntut setiap perusahaan dapat
memahami situasi internalnya baik di bidang pemasaran, produksi, sumber daya
manusia. Hal ini dapat membuat perusahaan mampu bertahan dalam berbagai
situasi yang dihadapi. Dalam pengelolaan bidang keuangan, salah satu unsur yang
penting adalah kemampuannya memenuhi kebutuhan dana agar kegiatan usaha
dapat berkembang. Struktur modal mencerminkan imbangan antara hutang jangka
panjang dan modal sendiri di dalam membelanjai aktiva yang ada dan perlu
diperhatikan dengan baik komposisinya.
Dengan semakin berkembangnya teknologi dan semakin banyaknya
perusahaan-perusahaan yang telah berkembang menjadi perusahaan besar, maka
faktor produksi modal mempunyai arti yang lebih menonjol lagi mengingat bahwa
pada mulanya modal diartikan sebagai hasil produksi yang digunakan untuk
produksi lebih lanjut, tetapi dalam perkembangan pada daya beli nilai ataupun
kekuasaan untuk memakai barang-barang
Modal menjadi salah satu elemen penting dalam perusahaan karena baik
dalam pembukaan bisnis maupun dalam pengembangan bisnis modal sangat
diperlukan. Oleh karena itu, perusaan harus menentukan seberapa banyak modal
Dalam manajemen keuangan merupakan manajemen dana, baik yang
berkaitan dengan usaha pengalokasian dana dalam berbagai bentuk investasi
maupun usaha pengumpulan dana untuk pembiayaan investasi. Manajemen
keuangan memegang peran yang sangat penting dalam sebuah perusahaan karena
semua fungsi yang ada dalam perusahaan baik pemasaran, sumber daya manusia,
produksi dan fungsi-fungsi yang lain selalu mempunyai implikasi keuangan
Brigham & Houston (2006 : 6). Oleh sebab itu, semua perusahaan menjalankan
manajemen keuangan secara benar.
Salah satu keputusan penting yang harus diambil oleh seorang manajer
keuangan dalam mencapai tujuan yang memaksimalisasi nilai perusahaan adalah
keputusan pembelanjaan (financing decision) (Damoran, 2001 : 8). Keputusan
pendanaan merupakan keputusan mengenai seberapa besar tingkat penggunaan
utang dengan ekuitas dalam membiayai investasi perusahaan. Tujuan keputusan
dalam pembelanjaan adalah untuk menentukan tingkat struktur modal yang
optimal, yaitu tingkat bauran utang dan ekuitas yang dapat memaksimumkan nilai
perusahaan.
Modal menjadi salah satu elemen penting dalam perusahaan karena baik
dalam pembukaan bisnis modal sangatlah diperlukan. Oleh karena itu, perusahaan
harus menentukan seberapa banyak modal yang diperlukan untuk membiayai
bisnisnya. Sumber dana bagi perusahaan dapat diperoleh dari dalam perusahaan
yang berasal dari laba ditahan dan depresiasi, serta dana dari luar perusahaan yang
berasal dari peserta yang mengambil bagian dalam perusahaan yang akan menjadi
modal sendiri (Theresia. T, 2007).
Pada umumnya perusahaan cenderung untuk menggunakan modal sendiri
sebagai modal permanen, sedangkan modal asing hanya digunakan sebagai
pelengkap saja apabila dana yang dibutuhkan kurang mencukupi maka
penggunaan modal sendiri akan menjadi tanggungan terhadap keseluruhan resiko
perusahaan merupakan jaminan bagi para kreditur. Sedangkan modal asing adalah
modal yang berasal dari kreditur dan merupakan hutang bagi perusahaan yang
bersangkutan, oleh karena itu diperlukan adanya kebijaksanaan dalam
menentukan apakah kebutuhan dana perusahaan akan dibelanjai oleh modal
sendiri atau modal asing dalam hal ini perusahaan harus mengetahui terlebih
dahulu biaya yang diperlukan untuk memperoleh dana tersebut (cost of capital).
Dengan demikian dalam mempertimbangkan kebijakan struktur modal tersebut
ada satu permasalahan yang sering timbul, yakni seberapa besar total hutang
perusahaan dan seberapa besar total aktiva yang telah didapat perusahaan, yang
harus digunakan oleh perusahaan.
Pada kenyataannya, banyak penelitian mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi pemilihan struktur modal perusahaan. Namun, banyak yang belum
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal suatu perusahaan
secara pasti. Berdasarkan penelitian-penelitian yang dilakukan, antara lain Ghost
et al. (2000), Sulistyaningsih (2001) dalam Theresia. T. Menjelaskan bahwa
atribut yang diidentifikasi sebagai penentu pemilihan struktur modal sering kali
yang dapat digunakan sebagai gambaran yang tepat dari setiap atribut sedangkan
dalam penelitian-penelitian yang telah dilakukan tersebut indikator yang
digunakan untuk mengukur atribut yang diidentifikasi sebagai penentu pemilihan
struktur modal dianggap sebagai indikator yang sempurna. Dalam penelitian ini
akan dilakukan analisis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi struktur
modal dengan menggunakan beberapa indikator untuk mengukur setiap atribut
sehingga selain dapat membuktikan faktor-faktor yang diprediksi mempengaruhi
struktur modal juga akan dapat diketahui reliabilitas dan validitas masing-masing
indikator dalam mengukur atribut yang diidentifikasi sebagai penentu struktur
modal.
Sesuai dengan pokok permasalahan yang tercantum dalam jurnal, dalam
penelitian ini dari sekian banyak faktor-faktor yang mempengaruhi struktur
modal, yang digunakan oleh peneliti kali ini hanyalah terdiri dari tiga faktor yang
berpengaruh terhadap struktur modal.
Perusahaan otomotif harus memiliki tangible assets, growth opportunity business risk yang seimbang. Struktur modal perusahaan merupakan perbandingan antara hutang jangka panjang dengan model sendiri, maka seorang
manajer keuangan dalam menentukan sumber modal yang digunakan oleh
perusahaan harus mempertimbangkan biaya yang timbul dari sumber modal yang
digunakan. Masalah struktur modal merupakan masalah yang sangat penting bagi
setiap perusahaan karena naik turunnya struktur modal ditandai dengan besarnya
Penelitian ini mengambil sampel perusahaan otomotif yang go publik di
Bursa Efek Indonesia, karena terdapat suatu permasalahan yang sedang dihadapi
oleh perusahaan otomotif yang go publik di BEI. Permasalahan tersebut adalah
tingginya tingkat hutang yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan otomotif yang
go publik di Bursa Efek Indonesia. Hal ini mencerminkan bahwa ketergantungan
para perusahaan otomotif di Indonesia yang go publik di BEI terhadap pihak luar
sangatlah besar. Jika keadaan ini terus bertahan dan tidak segera dibenahi maka
akan membahayakan bagi kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Dengan
adanya tingginya tingkat hutang yang dimiliki oleh perusahaan tersebut akan
semakin tinggi resiko yang dimiliki, sehingga akan membuat menurunnya nilai
perusahaan di mata para investor. Hal ini dapat dilihat dari data perusahaan
industri otomotif sebagai berikut :
Tabel 1.1 Data struktur modal sample industri otomotif mulai tahun 2007 - 2009
Struktur modal Nama Perusahaan
2007 2008 2009
Dari data diatas dapat diketahui permasalahan yang ada, berdasarkan
rata-rata pertahun jumlah struktur modal mengalami fluktuasi tiap tahunnya dari tahun
2007 sampai dengan tahun 2009 dan adanya kecenderungan menurun. Kondisi ini
menandakan adanya masalah struktur modal yang cenderung menurun juga.
Beberapa variabel yang dianggap mempengaruhi struktur modal adalah
Tangible assets, Growth opportunity, Business Risk dan lain-lain. Menurut peneliti Theresia. T dan Eduardus. T (2007) faktor-faktor yang mempengaruhi
struktur modal adalah Firm Size, Tangible Assets, Growth Opportunity,
Profitability, dan Business Risk. Yang digunakan dalam penelitian kali ini hanyalah tiga faktor yang berpengaruh terhadap struktur modal. Adapun
faktor-faktor tersebut adalah Tangible Assets, Growth Opportunity dan Business Risk. Menurut Riyanto (2001:296), struktur modal adalah pembelanjaan permanent
dimana mencerminkan perimbangan antara hutang jangka panjang dengan modal
sendiri. Sedangkan tangible assets adalah rasio keberwujudan dari asset
perusahaan. Menurut Brigham & Weston (2005 : 457), growth opportunity
adalah kesempatan yang dimiliki perusahaan untuk dapat berkembang dan
mencakup kesempatan untuk melakukan investasi dimasa mendatang. Risiko
bisnis adalah tingkat risiko yang terkandung dalam operasi perusahaan apabila
perusahaan tersebut menggunakan utang. Makin besar atau makin tinggi risiko
perusahaan, maka perusahaan akan cenderung menggunakan utang yang rendah.
Sesuai dengan agency teori menjelaskan tentang adanya konflik yang
sering muncul dalam perusahaan adalah konflik antara pihak manajemen
assets (semakin besar jumlah modal perusahaan dalam melakukan pendanaan eksternal yang berarti berpotensi meningkatkan struktur aktiva tetap), maka
perusahaan akan memiliki jaminan kemampuan yang lebih besar dalam
melakukan pendanaan eksternal yang berarti berpotensi meningkatkan struktur
modal perusahaan. Sedangkan semakin tinggi growth opportunity perusahaan
cenderung menggunakan tingkat utang yang besar dalam struktur modal. Namun
semakin besar atau semakin tinggi risiko perusahaan, maka perusahaan akan
cenderung menggunakan utang yang rendah. Hubungan Business Risk dengan
struktur modal yaitu perusahaan dengan resiko bisnis tinggi menyadari bahwa
penggunaan utang yang penuh resiko akan kurang menguntungkan dibanding
dengan ekuitas, sehingga perusahaan dipaksa untuk menggunakan ekuitas untuk
memenuhi pendanaan perusahaan guna menghindari financial distress.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi struktur modal pada suatu
perusahaan, menurut Weston dan Brigham (2005 : 475) menyatakan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal adalah tingkat pertumbuhan,
penjualan, struktur aktiva, sikap manajemen, sikap kreditur, pajak, profitabilitas,
kondisi pasar dan kondisi internal perusahaan.
Secara ringkas dapat disimpulkan, bagaimana pengaruh Tangible asset,
Growth opportunity , dan Business Risk terhadap struktur modal, dimana akan membantu perusahaan dalam menentukan bagaimana sebaiknya pemenuhan dana
harus dilakukan oleh perusahaan tersebut. Permasalahan dalam penelitian ini
“Pengaruh Tangible assets , Growth opportunity , dan Business Risk terhadap struktur modal perusahaan otomotif di BEI”.
1.2. Perumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas maka perumusan masalah yang
dikemukakan adalah :
1. Apakah Tangible assets berpengaruh terhadap struktur modal pada
perusahaan otomotif di Bursa Efek Indonesia?
2. Apakah Growth opportunity berpengaruh terhadap struktur modal
pada perusahaan otomotif di Bursa Efek Indonesia?
3. Apakah Business Risk berpengaruh terhadap struktur modal pada
perusahaan otomotif di Bursa Efek Indonesia?
1.3. Tujuan Penelitian
1. Untuk menganalisis pengaruh Tangible assets terhadap struktur modal pada
perusahaan otomotif di Bursa Efek Indonesia.
2. Untuk menganalisis pengaruh Growth opportunity terhadap struktur modal
pada perusahaan otomotif di Bursa Efek Indonesia.
3. Untuk menganalisis pengaruh Business Risk terhadap struktur modal pada
perusahaan otomotif di Bursa Efek Indonesia.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan bisa digunakan sebagai bahan pertimbangan
bagi perusahaan dalam menentukan dasar penetapan capital structure
optimal dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang
mempengaruhinya.
2. Bagi Investor
Dapat membantu untuk memberikan informasi sehingga sebelum
menanamkan modal dapat mempertimbangkan faktor-faktor apa saja
yang dapat mempengaruhinya, dalam penelitian ini dengan harapan
dapat memberikan pilihan terbaik jenis investasi yang akan dipilih.
3. Bagi Kreditur
Memberikan gambaran tentang kelayakan pada perusahaan otomotif
sehingga dapat membantu dalam melakukan studi kelayakan dan
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Penelitian Terdahulu
Landasan penelitian terdahulu yang digunakan dalam penelitian ini
sebagai berikut :
1. Theresia T. Harjanti dan Eduardus T. (2007) dengan judul “Pengaruh Firm size, Tangible Assets, Growth Opportunity, Profitability, dan Business Risk
Pada Stuktur Modal Perusahaan Manufaktur di Indonesia”. Hasil penelitian
yang diperoleh adalah firm size berhubungan positif dan signifikan terhadap
leverage perusahaan, tangible assets tidak berpengaruh terhadap leverage
perusahaan namun ada kecenderungan hubungan negatif antara tangible assets
dengan leverage perusahaan, tidak ditemukan bukti bahwa growth opportunity
berpengaruh terhadap leverage perusahaan, profitability berhubungan negatif dan signifikan dengan leverage perusahaan , dan tidak ditemukan pula bukti bahwa business risk berpengaruh terhadap leverage perusahaan. Sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling dengan tipe judgment sampling.
Sedangkan model yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah struktural
equation modeling (SEM), model ini terdiri dari dua bagian, yaitu
meansurement model dan structural model.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Supanvanji, J. (2006) dalam Theresia T. dan E.
Tandelilin bertujuan untuk menunjukkan bahwa ukuran perusahaan
utang jangka pendek, penelitian dilakukan terhadap 292 perusahaan Asia dan
130 perusahaan multinasional yang berinvestasi di Asia selama tahun
1991-1996. Variabel-variabel yang digunakan sebagai variabel bebas dalam
penelitian ini meliputi : profitabilitas, ukuran perusahaan, dan resiko bisnis.
Hasil penelitian menunjukkan profitabilitas berhubungan negatif signifikan
terhadap utang sedangkan resiko bisnis tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap laverage. Untuk perusahaan multinasional yang beroperasi di Asia, dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berhubungan
positif signifikan terhadap laverage, profitabilitas perusahaan berhubungan negatif signifikan terhadap laverage, serta hubungan positif signifikan antara resiko bisnis dan laverage.
Penelitian terdahulu ini akan digunakan sebagai acuan dan masukan untuk
melakukan penelitian ini.
2.2. Landasan Teori 2.2.1. Pengertian Modal
Setiap perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanya pastilah
membutuhkan modal atau dana, tersedianya modal yang memadai bagi
perusahaan akan mendorong kelancaran usahanya. Hal ini berarti bahwa
kebutuhan modal bagi setiap perusahaan sangatlah penting, karena suatu modal
merupakan salah satu faktor dalam produksinya. Dan apabila suatu perusahaan
tidak didukung oleh tersedianya faktor-faktor produksi modal, maka perusahaan
Menurut Munawir (2002), modal merupakan hak atau bagian yang
dimiliki oleh pemilik perusahaan. Yang ditunjukkan pos modal (modal saham),
surplus dan laba ditahan atau kelebihan nilai aktiva yang dimiliki perusahaan
terhadap hutang-hutangnya. Modal adalah dana yang digunakan untuk membiayai
pengadaan aktiva dan operasi perusahaan. Modal terdiri dari dari dua yaitu, modal
aktif adalah modal yang tertera disebelah debet dari neraca yang dapat dibagi
dalam bentuk aktiva lancar dan aktiva tetap serta nilai dari modal aktif ini akan
berubah-ubah dalam jangka waktu pendek maupun panjang. Sedangkan modal
pasif adalah modal yang tertera disebelah kredit dari neraca yang menggambarkan
cara bagaimana perusahaan memperoleh dana yang diperlukan untuk membiayai
modal aktifnya serta nilai dari modal pasif ini dalam jangka waktu tertentu.
Beberapa pengertian modal lainnya seperti yang dikutip Riyanto (2001 :
18) yaitu menurut Schwiedland memberikan pengertian modal dalam artian yang
luas, dimana modal itu meliputi baik modal dalam bentuk uang, maupun dalam
bentuk barang misalnya mesin, barang-barang dagangan dan lain sebagainya. Lain
halnya ditekankan oleh Bekker yang mengartikan modal adalah baik yang berupa
barang-barang konkret yang masih ada dalam rumah tangga perusahaan terdapat
pada neraca sebelah debet, maupun berupa daya beli atau nilai tukar dari
barang-barang tersebut yang tercatat disebelah kredit.
Dari beberapa pengertian modal di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
modal adalah suatu kekayaan yang ditekankan pada nilai, daya beli, atau
diinvestasikan dalam barang-barang modal yang berada di neraca sebelah debet
serta digunakan untuk menghasilkan kekayaan selanjutnya.
2.2.2. Sumber-Sumber Penawaran Modal
Menurut beberapa ahli, sumber-sumber penawaran modal dapat ditinjau
dari berbagai segi, yaitu sebagai berikut :
1. Sumber intern (internal sources)
Modal yang berasal dari sumber intern adalah modal atau dana yang dibentuk
atau dihasilkan sendiri dalam perusahaan. Sumber intern atau sumber dana
yang dibntuk atau dihasilkan sendiri di dalam perusahaan adalah keuntungan
yang ditahan (reintaied net profit) dan penyusutan (depriciations). 2. Sumber ekstern (eksternal sources)
Modal yang berasal dari sumber ekstern adalah modal atau dana yang berasal
dari luar perusahaan. Dana yang berasal sumber ekstern adalah dana yang
berasal dari para kreditur dan pemilik, peserta atau pengambil bagian di dalam
perusahaan.
Ditinjau dari cara terjadinya, sumber penawaran modal dapat dibagi
menjadi tiga, yaitu :
1. Tabungan dari subyek-subyek ekonomi
2. Penciptaan atau kreasi uang atau kredit dari bank-bank
3. Identifikasi penggunaan uang
Jika ditinjau dari jenisnya, maka sumber penawaran modal perusahaan
1. Modal asing
Modal asing dapat diartikan sebagai modal yang berasal dari luar
perusahaan yang sifatnya sementara bekerja di dalam perusahaan, dan bagi
perusahaan yang bersangkutan. Modal tersebut merupakan hutang yang pada
saat jatuh tempo harus dibayar kembali. Modal asing atau hutang dapat
digolongkan menjadi tiga, yaitu :
a. Modal asing atau hutang jangka pendek (short-term debt) merupakan hutang yang jangka waktunya pendek, yaitu kurang dari satu tahun.
Adapun jenis-jenis daripada modal asing (hutang atau kredit) jangka
pendek yang terutama adalah kredit rekening Koran, kredit dari penjual,
kredit dari pembeli dan kredit wesel.
b. Modal asing jangka menengah (intermediate-term debt) merupakan hutang yang jangka waktunya antara satu sampai sepuluh tahun. Bentuk-bentuk
utama dari kredit jangka menengah yaitu term loan dan leasing.
c. Modal asing jangka panjang (long-term debt) merupakan hutang yang jangka waktunya panjang, yaitu pada umumnya lebih dari sepuluh tahun.
Adapun bentuk utama dari hutang jangka panjang antara lain pinjaman
obligasi (mortgage). 2. Modal sendiri
Modal sendiri merupakan modal yang berasal dari pemilik perusahaan
dan tertanam di dalam perusahaan untuk jangka waktu yang tidak tertentu
lamanya. Oleh karena itu, modal sendiri dari segi likuiditas merupakan dana
perusahaan dapat juga berasal dari dalam perusahaan sendiri, yaitu modal
yang dihasilkan atau dibentuk sendiri di dalam perusahaan. Modal sendiri di
dalam suatu perusahaan yang terbentuk Perseoran Terbatas (PT) terdiri atas :
a. Modal saham
Saham merupakan tanda bukti pengambilan bagian atau peserta dalam
suatu Perseroan Terbatas (PT). adapun jenis-jenis saham adalah saham
biasa, saham preferen, dan saham kumulatif.
b. Cadangan
Maksud dari cadangan disini merupakan sebagai cadangan yang dibentuk
dari keuntungan yang diperoleh perusahaan selama beberapa waktu yang
lampau dari tahun yang berjalan (reserve that an surplus). Cadangan yang termasuk dalam modal sendiri adalah cadangan ekspansi, cadangan modal
kerja, cadangan selisih kurs, dan cadangan untuk menampung hal-hal yang
tidak terduga sebelumnya (cadangan umum).
c. Laba ditahan
Laba ditahan merupakan keuntungan yang diperoleh suatu perusahaan
dapat sebagian dibayar sebagian ditahan oleh perusahaan. Perusahaan yang
belum mempunyai tujuan tertentu mengenai penggunaan keuntungan
tersebut, maka keuntungan tersebut merupakan keuntungan yang ditahan
(retained earning), Riyanto (2001).
Jika dilihat dari posisi pemilik modal dalam perusahaan, maka sumber
1. Sumber modal pemilik
Sumber modal pemilik adalah sumber modal yang penyerahannya
dimaksudkan untuk tidak ditarik kembali. Oleh karena itu, investasinya
dinamakan permanent.
2. Sumber modal kreditur
Sumber modal kreditur adalah sumber modal yang penyerahannya untuk
jangka waktu yang terbatas dan untuk periode tertentu saja.
Penyerahannya dinamakan sementara. Dikatakan sementara karena
kreditur akan menarik kembali investasinya bila jangka waktunya sudah
tiba.
2.3. Pengertian dan Teori Struktur Modal
2.3.1. Pengertian Struktur Modal dan Struktur Keuangan
Dalam pembahasan mengenai struktur modal maka yang menjadi
perhatian utama adalah penggunaan modal berdasarkan jenisnya, karena persoalan
struktur modal adalah persoalan penentuan komposisi antara modal asing yang
berupa hutang jangka panjang dan modal sendiri. Akan tetapi struktur modal
mempunyai hubungan denan struktur keuangan atau struktur finansiil. Hal ini
disebabkan struktur modal merupakan bagian dari struktur keuangan.
Sependapat dengan hal tersebut, Margaretha (2005 : 119) bahwa struktur
keuanagan menggambarkan susunan keseluruhan kredit neraca yang terdiri atas
hutang jangka pendek, hutang jangka panjang dan modal sendiri, jika hutang
Dan menurut Theresia H. Harjanti (2007) struktur modal merupakan
pilihan pendanaan perusahaan antara utang dan ekuitas.
Sedangkan menurut Halim (2002 : 63), bahwa struktur modal menunjukan
perimbangan jumlah utang jangka pendek yang bersifat tetap, utang jangka
panjang,saham preferan, dan saham biasa. Dalam teori struktur modal dinyatakan
mengenai apakah perubahan struktur modal berpengaruh atau tidak terhadap nilai
perusahaan, dengan asumsi keputusan investasi dan kebijakan deviden tidah
berubah apabila ada pengaruhnya, berarti ada struktur modal yang terbaik, tetapi
jika tidak ada pengaruhnya, berarti tidak ada struktur modal yang terbaik.
2.3.2. Teori Struktur Modal a. Agency Theory
Menurut Arifin (2005 : 80), Model pertama yang sering disingkat
dengan Trade Off model saja, berasumsi bahwa struktur modal suatu
perusahaan ditentukan dengan mempertimbangkan manfaat pengurangan
pajak ketika hutang meningkat di satu sisi dan meningkatnya agency cost
ketika hutang meningkat pada sisi yang lain. Ketika pengurangan pajak masih
lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan agency cost maka perusahaan masih bisa meningkatkan hutangnya dan peningkatan hutang harus dihentikan
ketika pengurangan pajak atas tambahan hutang tersebut sudah lebih rendah
b. Asymetri Information dan Signaling Theory
Isyarat atau signal menurut Brigham dan Houston (2000 : 36) adalah
suatu tindakan yang di ambil manajemen perusahaan yang memberi petunjuk
bagi investor tentang bagaimana manajemen memandang prospek
perusahaan. Dalam Brigham dan Houston (2000 : 36), perusahaan dengan
prospek yang menguntungkan akan mencoba menghindari penjualan dan
mengusahakan setiap modal baru yang diperlukan dengan cara lain-lain,
termasuk penggunaan hutang yang melebihi target struktur modal yang
normal. Perusahaan dengan prospek yang kurang menguntungkan akan
cenderung untuk menjual sahamnya. Pengumuman emisi saham oleh suatu
perusahaan umumnya merupakan suatu sinyal bahwa manajemen memandang
prospek perusahaan tersebut suram. Apabila suatu perusahaan menawarkan
penjualan saham baru, lebih sering dari biasanya, maka harga sahamnya akan
menurun, karena menerbitkan saham baru berarti memberikan isyarat yang
negative yang kemudian dapat menekan harga saham sekalipun prospek
perusahaan cerah.
Asymetric information atau ketidaksamaan informasi menurut
Brigham dan Houston (2000 : 35) adalah situasi dimana manajer memiliki
informasi yang berbeda (yang lebih baik) mengenai prospek perusahaan dari
pada yang dimiliki investor. Asymetri informasi ini terjadi berdasarkan ide
bahwa manajer yang memilik informasi bagus tentang perusahaan dan akan
berusaha menyampaikan informasi tersebut kepada investor luar agar harga
c. Pecking Order Theory
Teori ini dikenalkan pertama kali oleh Donaldson pada tahun 1961,
pengamatannya terhadap perilaku struktur modal di Amerika Serikat
menunjukkan bahwa perusahaan yang mempunyai keuntungan tinggi adalah
perusahaan yang cenderung menggunakan hutang lebih rendah. Sedangkan
penanaman pecking order theory dilakukan oleh Myers (1984), berdasarkan
asumsi tentang perilaku keuangan perusahaan secara singkat teori ini
menyatakan bahwa :
a. Perusahaan lebih menyukai sumber dana internal dibandingkan dengan
sumber dana eksternal
b. Perusahaan menyesuaikan target pembayaran deviden dengan peluang
investasi
c. Kebijakan dividen bersifat sticky, fluktuasi profitabilitas dan peluang investasi berdampak pada aliran kas internal bisa lebih besar atau lebih
kecil dari pengeluaran investasi.
d. Bila dana eksternal dibutuhkan, perusahaan memilih sumber dana dari
hutang karena dipandang lebih aman dari ekuitas. Ekuitas merupakan
pilihan terakhir sebagai sumber dana untuk memenuhi kebutuhan
investasi.
Mengacu pecking order theory, perusahaan lebih memilih menggunakan dana internalnya sebagai alternative awal untuk memenuhi
kebutuhan investasi, hal ini untuk mereduksi masalah dan biaya yang
kreditor yang dapat membatasi keputusan pendanaan perusahaan di masa
mendatang, serta adanya kecenderungan harga saham lama turun ketika
perusahaan melakukan emisi saham baru.
Kusumawati (2004 : 27) kerangka pemikiran pecking order yang
memandang perusahaan lebih menyukai sumber dana internal dibandingkan
dengan sumber dana eksternal, dan lebih menyukai hutang dibanding ekuitas.
2.4. Pengukuran Struktur Modal
Struktur modal dapat diukur berdasarkan pada pengertian yang
dikemukakan oleh para ahli. Menurut Riyanto (2001), struktur modal adalah
pembelanjaan permanent dimana mencerminkan perimbangan antara hutang
jangka panjang dengan modal sendiri. Sedangkan menurut Weston dan Copeland
(2002 : 3). Struktur modal atau kapitalisasi modal merupakan pembiayaan
permanent yang terdiri dari hutang jangka panjang, saham preferent, dan modal
pemegang saham.
Sesuai dengan definisi yang diuraikan diatas, maka pengukuran struktur
modal pada penelitian ini dapat dihitung dengan menggunakan rasio antara hutang
jangka panjang dengan modal sendiri.
2.5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal
2.5.1. Tangible Assets
keamanan bagi peminjam seandainya terjadi financial distress karena nilai dari
aktiva tetap (tangible assets) lebih tinggi dibanding nilai dari aktiva variable (intangible assets). Aktiva – aktiva yang dapat digunakan lebih dari satu periode seperti tanah, gedung, mesin, dan alat – alat, perabotan, kendaraan, dan lain – lain.
Chen dan Jiang (2001) menyatakan bahwa tangible assets merupakan perbandingan antara aktiva tetap dengan aktiva total perusahaan.
2.5.2. Growth Opportunity
Growth opportunity adalah kesempatan perusahaan untuk melakukan investasi pada hal – hal yang menguntungkan. Pertumbuhan bagi suatu
perusahaan merupakan sesuatu yang harus dimaksimalkan. Bila pertumbuhan
perusahaan meningkat maka pangsa pasar dan keuntungan perusahaan meningkat
pula. Untuk memperluas pangsa pasar atau ekspansi perusahaan selanjutnya maka
memerlukan modal dalam jumlah yang besar. apabila modal atau dana yang
dimiliki perusahaan tidak mencukupi maka perusahaan harus mencari tambahan
dana untuk keperlukan tersebut. Hal ini juga dapat dilihat dari pendapat yang
dikemukakan oleh Weston dan Brigham (2005 : 175) yang menyatakan bahwa
perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang cepat harus lebih banyak
mengandalkan pada modal eksternal. Lebih jauh lagi biaya emisi untuk penjualan
saham biasa lebih besar daripada biaya untuk penerbitan surat hutang. Karena itu
perusahaan yang tumbuh pesat cenderung lebih banyak menggunakan hutang
daripada perusahaan yang tumbuh lambat.
dan investor luar tentang kualitas proyek investasi perusahaan. Adanya
kesenjangan informasi tersebut menyebabkan biaya modal ekuitas saham lebih
besar dibanding biaya modal hutang. Kesenjangan informasi tersebut juga
menyebabkan jika perusahaan melakukan emisi saham baru maka investor luar
akan curiga harga saham sudah overpriced, dan harga saham akan turun.
2.5.3. Business Risk
Berdasarkan pengertian risiko menurut Brigham dan Houston (2000:178),
risiko didefinisikan sebagai peluang atau kemungkinan terjadinya beberapa
peristiwa yang tidak menguntungkan. Risiko bisnis adalah ketidakpastian yang
melekat dalam proyeksi tingkat pengembalian aktiva masa depan yang dihadapi
oleh perusahaan dalam menjalankan kegiatan bisnisnya.
Kebijakan mengenai struktur modal melibatkan trade off antara risiko dan
tingkat pengembalian, penambahan hutang memperbesar risiko perusahaan tetapi
sekaligus juga memperbesar tingkat pengembalian yang diharapkan. Risiko yang
semakin tinggi akibatnya memperbesarnya hutang cenderung menurunkan harga
saham, tetapi meningkatnya tingkat pengembalian yang diharapkan akan
menaikkan harga saham tersebut (Weston dan Brigham).
Menurut pecking order theory, perusahaan dengan cash flow yang sangat fluktuatif akan menyadari bahwa penggunaan hutang yang penuh resiko akan
kurang menguntungkan dibanding dengan ekuitas, sehingga perusahaan dipaksa
untuk menggunakan ekuitas untuk memenuhi pendanaan perusahaan guna
karena itu, menurut pecking order theory, risiko bisnis perusahaan berpengaruh negatif terhadap struktur modal.
2.6. Pengaruh Variabel Terhadap Struktur Modal
2.6.1. Pengaruh Tangible Assets Terhadap Struktur Modal
Kebanyakan perusahaan industri yang sebagian besar modalnya tertanam
dalam aktiva tetap akan mengutamakan pemenuhan modalnya dari modal yang
permanen yaitu modal sendiri, sedangkan hutang bersifat sebagai pelengkap
(Riyanto, 2001). Hal ini bisa dihubungkan dengan adanya aturan struktur financial
konservatif horizontal yang menyatakan bahwa besarnya modal sendiri hendaknya
paling sedikit dapat menutup jumlah aktiva tetap ditambah aktiva lain yang
sifatnya permanen. Sedangkan perusahaan yang sebagian besar aktivanya terdiri
dari aktiva lancar akan cenderung mengutamakan pemenuhan kebutuhan dana
dengan utang. Tangible Assets diukur dengan berdasarkan pada rasio fixed asset
terhadap total aktiva, penggunaan rasio fixed asset terhadap total aktiva dikarenakan fixed assset memberikan gambaran mengenai jaminan kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang. Secara teori terdapat hubungan positif antara
tangible assets dan struktur modal (Chen dan Jiang, 2001). Semakin tinggi rasio
tangible assets (semakin besar jumlah aktiva tetap), maka perusahaan akan memiliki jaminan kemampuan yang lebih besar dalam melakukan pendanaan
eksternal yang berarti berpotensi meningkatkan struktur modal perusahaan
2.6.2. Pengaruh Growth Opportunity terhadap Struktur Modal
Menurut Weston dan Brigham (2005 : 475) mengatakan bahwa perusahaan
dengan tingkat pertumbuhan yang cepat harus lebih banyak mengandalkan pada
modal eksternal. Perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi cenderung
lebih banyak menggunakan hutang (obligasi) dibanding perusahaan yang lambat
pertumbuhannya.
Pertumbuhan bagi suatu perusahaan merupakan sesuatu yang harus
dimaksimalkan. Bila pertumbuhan meningkat maka pangsa pasar dan keuntungan
perusahaan akan meningkat pula. Untuk memperluas pangsa pasar atau ekspansi
perusahaan selanjutnya maka memerlukan modal dalam jumlah yang besar.
apabila modal atau dana yang dimiliki perusahaan tidak mencukupi maka
perusahaan harus mencari tambahan dana untuk keperluan tersebut.
Growth Opportunity mempunyai pengaruh terhadap struktur modal. Dalam hal ini growth opportunity mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap struktur modal. Hal ini berarti semakin tinggi growth opportunity
semakin tinggi tingkat penggunaan utang dalam struktur modal perusahaan.
Perusahaan yang mempunyai growth opportunity tinggi akan menghadapi kesenjangan informasi (asymmetric information) yang tinggi antara manajer dan investor luar antar kualitas proyek investasi perusahaan. Adanya kesenjangan
informasi tersebut menyebabkan biaya modal ekuitas saham lebih besar dibanding
biaya modal utang karena dari sudut pandang investor, modal saham dipandang
lebih berisiko dibanding utang. Kesenjangan informasi tersebut juga
akan curiga bahwa harga saham sudah overpriced, dan dibaca sebagai isyarat negatif tentang prospek perusahaan di masa mendatang, sehingga akan
menyebabkan harga saham akan mengalami penurunan. Implikasinya adalah
perusahaan akan cenderung menggunakan utang terlebih dahulu sebelum
menggunakan ekuitas saham yang baru. Dengan demikian, semakin tinggi growth opportunity semakin tinggi tingkat struktur modal. Perusahaan yang mempunyai
growth opportunity tinggi akan cenderung lebih banyak menggunakan uang. Tang & Jang (2005), Omet & Mashharawe (2003) dalam Rahmat. S.
2.6.3. Pengaruh Business Risk terhadap Struktur Modal
Risiko bisnis merupakan ketidakpastian pada perkiraan pendapatan operasi
perusahaan dimasa mendatang. Risiko bisnis mewakili tingkat risiko dari
operasi-operasi perusahaan yang tidak menggunakan hutang (Atmaja, 2003 : 225).
Perusahaan yang memiliki risiko bisnis (variabilitas keuntungannya) tinggi
cenderung kurang dapat menggunakan hutang yang besar (karena kreditor akan
meminta biaya hutang yang tinggi).
Menurut Theresia T. & Eduardus T. (2007) menunjukkan bahwa risiko
bisnis tidak berpengaruh terhadap leverage perusahaan, disebabkan karena dalam pengukuran indikator risiko bisnis digunakan pengukuran pada variabilitas
pendapatan perusahaan.
Menurut pecking order theory, perusahaan yang mempunyai risiko bisnis tinggi menyadari bahwa tingkat penggunaan utang yang tinggi akan sangat tidak
menguntungkan perusahaan, sehingga risiko bisnis seharusnya berpengaruh
perusahaan mengabaikan tinggi rendahnya risiko bisnis dalam mengambil
kebijakan struktur modal.
Kemungkinan yang menyebabkan tidak signifikannya risiko bisnis adalah
karena perusahaan mempunyai tingkat risiko bisnis yang relatif rendah. Dengan
kondisi perekonomian makro Indonesia menunjukkan kondisi yang kurang baik,
namun dampak yang ditimbulkannya terhadap resiko bisnis perusahaan relatif
kurang berarti. Hal ini menyebabkan risiko bisnis tidak berpengaruh signifikan
terhadap struktur modal. Huang & Song (2006), Zou & Xiao (2006), Deesomsak
et.al. (2004) dalam Rahmat. S.
2.7. Kerangka Konseptual
Tangible Assets
(X1)
Growth opportunity
(X2)
Business Risk
(X3)
2.8. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan mengacu pada landasan teori yang
telah dikemukakan sebelumnya, maka hipotesis penelitian yang diajukan adalah
sebagai berikut :
1. Diduga variabel tangible assets berpengaruh positif terhadap struktur modal perusahaan otomotif di BEI.
2. Diduga variabel growth opportunity bepengaruh positif terhadap struktur modal perusahaan otomotif di BEI.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Untuk membatasi konsep-konsep struktur modal, tangible assets, growth opportunity, dan business risk ke dalam pengertian yang sesuai dengan ruang lingkup penelitian ini, maka dikemukakan definisi operasional dan pengukuran
variabel. Tujuannya adalah agar konsep yang digunakan dapat diukur secara
empiris serta untuk menghindari terjadinya kesalahan penafsiran dan pengertian
yang berbeda. Definisi operasional dan pengukuran variabel yang digunakan
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Struktur Modal (Y)
Struktur modal didefinisikan sebagai pembiayaan permanen yang
terdiri dari hutang jangka panjang, saham preferen dan modal pemegang
saham.
Struktur modal diukur dengan menggunakan Long Term Debt to Equity ratio menunjukkan bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang di jadikan jaminan untuk keseluruhan hutang jangka panjang. Pengukuran
variabel struktur modal dilakukan dengan menggunakan rumus :
b. Tangible Assets (X1)
Tangibility Assets didefinisikan sebagai harta tetap yang berwujud atau
materiil, yang dapat ditangkap dengan panca indera terutama mata. Variabel
tangible assets diukur dengan menggunakan rasio antara fixed assets dengan
total assets. Pengaruh variabel tangible assets, dilakukan dengan
menggunakan rumus:
c. Growth Opportunity (X2)
Growth Opportunity adalah kesempatan perusahaan untuk melakukan
investasi pada hal-hal yang menguntungkan. Pengukuran ini sesuai dengan
pengukuran variabel growth opportunity pada penelitian Setiawan (2006). Pengukuran variabel growth opportunity dilakukan dengan rumus :
Growth Opportunity = 100%
Risiko bisnis adalah besarnya penyimpangan antara yang terjadi
dengan yang seharusnya. Risiko bisnis diukur menggunakan standar deviasi
dari earning before interest and tax (EBIT) selama lima tahun. Skala pengukuran variabel dalam penelitian ini menggunakan skala interval,
interval, pengukuran ini sesuai dengan pengukuran variabel risiko bisnis pada
penelitian Setiawan (2006). Pengukuran variabel risiko bisnis dengan
menggunakan rumus :
Risiko bisnis = Log Natural Standard Deviasi EBIT
Standar Deviasi =
3.2. Teknik Penentuan Sampel 3.2.1. Populasi
Populasi merupakan kelompok subyek atau subyek yang memiliki ciri-ciri
atau karakter tertentu yang berbeda dengan kelompok subyek atau obyek yang
lain dan kelompok tersebut akan dikenal generalisasi dari penelitian. Pada
penelitian ini semua anggota dari populasi diteliti, yang biasa disebut dengan
populasi target. Populasi disini adalah keseluruhan perusahaan yang menjadi
obyek penelitian. Dimana populasi yang ditentukan adalah 19 perusahaan
otomotif yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia sampai saat ini.
3.2.2. Sampel
kesempatan yang sama pada setiap anggota populasi untuk menjadi anggota
sampel dengan kriteria sebagai berikut:
1. Perusahaan otomotif yang go public dan masih terdaftar di Bursa Efek
Indonesia dari tahun 2007 – 2009.
2. Perusahaan otomotif yang memiliki laporan keuangan secara berturut-turut
selama periode penelitian 2007 – 2009.
3. Perusahaan otomotif yang mempublikasikan laporan keuangan auditan
dengan menggunakan tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember.
3.3. Teknik Pengumpulan Data 3.3.1. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan
bersumber dari data sekunder, yaitu data berupa laporan yang diterbitkan setiap
tahun prospectus perusahaan di BEI mulai tahun 2007-2009. Laporan keuangan
yang digunakan terdiri dari laporan neraca konsolidasi serta laporan laba rugi
masing-masing perusahaan otomotif.
3.3.2. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder
yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia.
3.3.3. Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan selama penelitian adalah
1. Dokumenter
Suatu cara yang digunakan dalam pengumpulan data atau informasi yang
digunakan dengan cara mempelajari dokumen-dokumen perusahaan yang telah
ada berkaitan dengan penelitian.
3.4. Teknik Analisis Data dan Uji Hipotesis 3.4.1. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam mencari pemecahan atas
permasalahan yang diangkat pada penelitian ini adalah :
1. Menghitung semua variabel penelitian
2. Melakukan perhitungan regresi linear berganda dengan menggunakan
persamaan (1).
3. Melakukan uji hipotesis (Uji t), dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Merumuskan hipotesis
Ho : 1 = 2 = 0, berarti secara parsial variabel bebas tidak
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
variabel terikat
Ho : 1≠2 ≠ 0, berarti secara parsial variabel bebas berpengaruh
terhadap variabel terikat.
b. Dengan menetapkan tingkat signifikan sebesar 5%, maka :
Ho akan diterima jika angka signifikan lebih besar dari 5%.
4. Melakukan uji hipotesis (Uji F), dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Merumuskan hipotesis
Ho = b1 = b2 = b3 = b4 = 0
b. Menetapkan tingkat signifikan atau tingkat kepercayaan () yaitu sebesar
5%.
Ho diterima jika t tabel t hitung tabel
Ho ditolak jika t hitung > t tabel atau t hitung < t tabel
Teknik analisis ini digunakan untuk mencari pemecahan masalah
penelitian secara serempak atau simultan dan secara individual atau parsial.
Penggunaan analisis ini dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh tangible assets, growth opportunity, dan business risk terhadap struktur modal pada industri otomotif di BEI, digunakan model analisis regresi linier berganda. Model
regresi linier berganda yang digunakan adalah sebagai berikut :
Yit = Y = 0 + 1X1 + 2X2 + 3X3 + 4X4 + ei
Dimana :
Yit = Struktur modal perusahaan i pada periode t
0 = Konstanta
1, 2, 3, 4 = Koefisien regresi dari variabel bebas
X1 = Tangible assets perusahaan
X2 = Growth opportunity perusahaan
X3 = Business risk perusahaan
Berdasarkan model yang terbentuk akan dapat diketahui apakah semua
variabel bebas secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan atau
tidak terhadap struktur modal, sehingga dapat disimpulkan apakah hipotesis
penelitian ini diterima atau ditolak.
3.4.2. Uji Asumsi Klasik
Persamaan regresi tersebut di atas harus bersifat BLUE (Best Linier
Unbiased Estimator), artinya pengambilan keputusan melalui uji t tidak boleh
bias, untuk memastikan bahwa modal yang diperoleh benar-benar memenuhi
asumsi dasar dalam analisis regresi yang meliputi asumsi, tidak terjadi
autokorelasi, tidak terjadi multikolonearitas, dan tidak terjadi heteroskedastisitas.
Apabila salah satu dari tiga asumsi dasar tersebut dilanggar, maka
persamaan regresi yang diperoleh tidak lagi bersifat BLUE sehingga pengambilan
keputusan melalui uji t menjadi bias. (Gujarati, 2000 : 153)
a. Autokorelasi
Autokorelasi merupakan korelasi yang terjadi antara anggota
serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu (seperti dalam data
deretan waktu) atau ruang (seperti data cross-sectional). Adanya gejala
autokorelasi menggambarkan varians populasinya dan hasil regresi tidak
dapat digunakan untuk menaksir nilai variabel dependen pada nilai variabel
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model
regresi linier ada kolerasi antara koefisien pengganggu pada periode t dengan
kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Identifikasi ada tidaknya gejala
autokorelasi dapat dilihat dari tabel Durbin Watson Test dengan jumlah
variabel bebas (k) dan jumlah data (n) sehingga dL dan dU dapat diperoleh
distribusi daerah keputusan ada atau tidaknya korelasi. Keberadaan
autokorelasi dapat dites dengan menghitung nilai Durbin Watson (d tes),
dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Gujarati, 2000 : 201-215) :
d =
et-1 = residual pada waktu ke t-1 (satu periode sebelumnya)
N = banyaknya data
b. Multikolinieritas
Multikolinieritas merupakan adanya hubungan linier yang sempurna
atau pasti diantara beberapa atau semua variabel independen dalam model
regresi. Adanya multikolinieritas menyebabkan standar error cenderung
standar error menjadi sangat sensitif terhadap perubahan data. (Gujarati, 2000
: 157).
Dari diagnosis atau dugaan adanya multikolinieritas tersebut maka
perlu adanya pembuktian atau identifikasi secara statistik ada atau tidaknya
gejala multikolinieritas, ada beberapa metode deteksi :
a. Koefisien determinasi tinggi (R2), misalnya antara 0,7 dan 1. Dan uji
parsial tidak satupun yang signifikan
b. Membandingkan tolerance yang didapat dari perhitungan regresi
berganda, apabila nilai tolerance < maka terjadi multikolinieritas
c. Dengan cara menghitung VIF (Variance Inflation Factor). VIF
menyatakan tingkat “pembengkakan” varians, apabila nilai VIF > 10 hal
ini berarti terdapat multikolinieritas.
Untuk mendeteksi adanya multikolonieritas dapat dilakukan dengan
menghitung VIF (Variance Inflation Factor) dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :
VIF = var ()
2 x
c. Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan
lainnya. Kebanyakan data cross section mengandung situasi
Untuk menguji heteroskedastisitas dapat dilihat dengan nilai koefisien
regresi pada persamaan. Apabila t hitung < t tabel, maka Ho diterima dan Hi
ditolak yang berarti menunjukkan adanya homoskedastisitas. Sebaliknya
apabila t hitung > t tabel, maka Ho ditolak dan Hi diterima yang berarti
menunjukkan adanya heteroskedastisitas. Atau dengan uji Rank Spearman
melihat signifikannya. Apabila variabel tersebut signifikan maka terjadi
heteroskedastisitas, dan apabila tidak signifikan tidak terjadi
heteroskedastisitas.
Adanya gejala heteroskedastisitas mengakibatkan estimator yang
diperoleh tidak efisien, baik dalam sample kecil maupun sample besar,
walaupun estimator yang diperoleh menggambarkan populasi (tidak bias) dan
bertambahnya sample yang digunakan akan mendekati nilai sebenarnya, hal
ini disebabkan oleh variansnya tidak minimum.
Pengujian terhadap adanya fenomena heteroskedastisitas dilakukan
dengan menggunakan Spearman’s Rank Correlation Test. Pengujian ini akan
didasarkan pada hipotesis berikut ini (Gujarati, 2000 : 188).
r
s = 1 – 6di = Perbedaan dalam rank antara residual dengan variabel bebas k 1
N = Banyaknya data
Langkah-langkah yang dilakukan dalam mengolah dan menganalisis data
dengan teknik analisis regresi sederhana ini adalah sebagai berikut :
1. Uji t Hitung
Pada tahapan ini dilakukan pengujian terhadap masing-masing
variabel bebas yang terdapat dalam model mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap variabel terikat, sehingga dapat disimpulkan hipotesis
yang kedua dapat diterima atau ditolak.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam uji t hitung ini adalah :
a. Memformulasikan hipotesis
Formulasi hipotesis yang akan dibuktikan adalah :
Ho = β1 =β2 = 0
Artinya secara parsial variabel bebas tidak mempunyai. pengaruh yang
signifikan terhadap variabel terikat.
Ho = β1 =β2 ≠ 0
Artinya secara parsial variabel bebas ada pengaruh terhadap variabel
terikat
b. Menetapkan tingkat signifikan atau tingkat kepercayaan () yaitu sebesar
5%, dengan derajat bebas = (n-k), dimana n : jumlah data dan k : jumlah
variabel bebas.
c. Menentukan rumus distribusi t hitung
Keterangan :
t hit = t hitung
b1 = Koefisien regresi X1
Se (β1) = Standart error dari koefisien regresi X1
d. Menentukan daerah penerimaan dan penolakan Ho dalam bentuk kurva.
e. Membandingkan t hitung dengan t table
1. Jika t hitung < tabel maka Ho diterima dan Hi ditolak, artinya
variabel bebas mempunyai pengaruh yang tidak signifikan atau
berpengaruh negatif terhadap variabel yang terikat
2. Jika t hitung > t tabel maka Ho ditolak dan Hi diterima, artinya
variabel bebas mempunyai pengaruh yang siginifikan terhadap
variabel terikat.
f. Mengambil kesimpulan berdasarkan kriteria pengujian diatas.
2. Uji F-hitung
Uji F hitung disebut juga uji secara serempak atau secara simultan.
Pada tahapan ini dilakukan pengujian terhadap semua variabel bebas yang
meliputi tangible assets, growth opportunity, dan business risk secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan atau mempunyai
pengaruh yang tidak signifikan terhadap struktur modal.
a. Formulasi hipotesis
Ho : 1 = 2 = 0, berarti secara simultan variabel bebas tidak
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
variabel terikat
Ho : 1≠2 ≠ 0, berarti secara simultan variabel bebas berpengaruh
terhadap variabel terikat.
b. Menetapkan tingkat signifikan atau tingkat kepercayaan () yaitu sebesar
5%, dengan derajat bebas = (n-k), dimana n : jumlah pengamatan dan k :
jumlah variabel.
c. Menentukan rumus distribusi t hitung
F hit =
d. Kriteria pengujian sebagai berikut
a. Jika F hitung < F tabel maka Ho diterima dan Hi ditolak, artinya
secara simultan variabel bebas tidak mempunyai pengaruh terhadap
b. Jika F hitung > F tabel maka Ho ditolak dan Hi diterima, artinya
secara simultan variabel bebas mempunyai pengaruh terhadap
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Obyek Penelitian
4.1.1 Sejarah Singkat PT. Bursa Efek Indonesia (BEI)
Penggabungan PT Bursa Efek Surabaya (BES) ke dalam PT Bursa Efek
Jakarta (BEJ) yang kemudian menjadi PT Bursa Efek Indonesia (BEI), telah
efektif mulai tanggal 30 November 2007. Bursa hasil merger tersebut telah
memulai operasional pertamanya pada tanggal 3 Desember 2007. Bursa saat ini
memfasilitasi perdagangan ekuiti, surat utang, dan perdagangan derivatif. Dengan
penggabungan, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia meningkat menjadi Rp
2.538 triliun yang terdiri dari Rp 1.982 triliun kapitalisasi ekuiti, Rp 79,065 triliun
obligasi korporasi, dan Rp 477 triliun Surat Utang Negara (SUN)*. Hadirnya
Bursa Efek tunggal ini diharapkan akan meningkatkan efisiensi industri Pasar
Modal di Indonesia dan menambah daya tarik masyarakat untuk berinvestasi.
Sinergi merger ini diharapkan akan semakin meningkatkan pertumbuhan Pasar
Modal kita,baik dalam kapitalisasi pasar, jumlah emiten, dan jumlah investor baik
lokal maupun asing. Harapan kedepan Pasar Modal Indonesia akan menjadi salah
satu pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Bursa Efek Indonesia sangat memahami peran Surabaya sebagai salah satu
basis utama penggerak perekonomian di wilayah Indonesia Timur. BEI kemudian
melalui Sentra Informasi dan Edukasi (SIE) di Surabaya akan semakin
investasi bagi masyarakat umum, dan alternatif pendanaan bagi perusahaan.
Harapan BEI, sosialisasi tersebut akan menyumbang peningkatan jumlah investor
dan perusahaan tercatat (emiten) baik dari Jawa Timur maupun dari wilayah
sekitarnya. Bagi daerah sendiri, peningkatan jumlah perusahaan tercatat akan
mampu menyokong pertumbuhan perekonomian daerah, melalui peningkatan
pendapatan daerah, penciptaan lapangan kerja, peningkatan pelaksanaan good
corporate governance di perusahaan, dan sebagainya.
Dengan mempertimbangkan pertumbuhan industri Pasar Modal Indonesia
beberapa tahun terakhir yang sedemikian pesat, Bursa Efek Indonesia (BEI)
berencana melakukan pemutakhiran sistem Jakarta Automated Trading System
(JATS) yang telah beroperasi selama 13 tahun terakhir, dengan sistem baru yang
akan mampu menangani semua produk finansial (saham, obligasi dan derivatif)
dalam satu platform.
Pada Juli 2000, Bursa Efek Indonesia menerapkan perdagangan tanpa
warkat (Scripless Trading) dengan tujuan untuk meningkatkan likuiditas pasar dan
menghindari peristiwa saham hilang dan pemalsuan saham dan juga untuk
mempercepat proses penyelesaian transaksi.
Pada tahun 2002, Bursa Efek Indonesia mulai menerapkan perdagangan
jarak jauh (Remote Trading) sebagai upaya meningkatkan akses pasar, efisiensi
4.1.2 Visi dan Misi PT. Bursa Efek Indonesia (BEI)
Visi Bursa Efek Indonesia adalah menjadikan BEI sebagai sarana yang
efisien untuk menghimpun dana bagi investor dan perdagangan instrumen pasar
modal baik untuk masyarakat Indonesia maupun masyarakat Internasional.
Misi Bursa Efek Indonesia adalah mewujudkan BEI sebagai Bursa Efek
berskala Internasional yang menawarkan kesempatan berinvestasi secara luas,
sejalan dengan perkembangan perekonomian Indonesia. BEI juga mempunyai
tekad untuk mewujudkan sarana perdagangan yang efisien, sistem informasi yang
terpercaya, tanggap dan tepat waktu, serta mempunyai sumber daya manusia yang
profesional dan berintegritas tinggi serta efisien, sehingga dapat membawa Bursa
Efek Indonesia sejajar dengan bursa-bursa efek lain didunia.
Bursa Efek Indonesia berpartisipasi didalam mengembangkan basis
investor lokal yang luas dan kokoh sebagai stabilisator Pasar Modal Indonesia.
Bursa Efek Indonesia juga menawarkan beragam efek berkualitas sejalan dengan
pertumbuhan instrument pasar modal yang semakin meningkat, sehingga Bursa
Efek Indonesia dapat memberikan manfaat yang optimal bagi pemodal lokal
maupun pemodal asing.
4.1.3 Perkembangan Bursa Efek Indonesia
Bursa Efek Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat setelah
resmi beroperasi menjadi bursa swasta pada tanggal 13 Juli 1992. Salah satunya
dengan melihat perkembangan data Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG),
Pada tahun 2004 indeks ditutup pada nilai 1.000,23, kemudian pada tahun 2005
indeks mengalami peningkatan hingga mencapai angka 1.162,64, yang disusul
pada tahun 2006 dan 2007 mengalami peningkatan hingga mencapai angka
sebesar 1.805,52 dan 2.745,83. Tetapi hingga tahun 2008 IHSG mengalami
penurunan akibat adanya krisis global sebesar 1.355,41. (www.idx.co.id)
Sejak terjadinya penggabungan pada tanggal 01 Desember 2007, Bursa
Efek Indonesia sangat memahami peran Surabaya sebagai salah satu basis utama
penggerak perekonomian di wilayah Indonesia Timur. Bursa Efek Indonesia
melalui Sentra Informasi dan Edukasi (SEI) di Surabaya akan semakin
meningkatkan kegiatan sosialisasinya mengeni pasar modal sebagai alternatif
investasi bagi masyarakat umum, dan akan menyumbang peningkatan jumlah
investor serta perusahaan tercatat (emiten), baik dari Jawa Timur maupun wilayah
sekitarnya. Bagi daerah sendiri peningkatan emiten akan mampu menyokong
pertumbuhan perekonomian daerah, melalui penciptaan lapangan kerja,
peningkatan pelaksanaan good corporate governance di perusahaan, serta
peningkatan pendapatan daerah.
Bursa Efek Indonesia dalam perkembangannya berencana melakukan
pemutakhiran sistem JATS (Jakarta Automatic Trading System) yang telah
beroperasi selama 13 tahun terakhir dengan sistem baru yang akan mampu
menangani semua produk financial (saham, obligasi dan derivative) dalam satu
platform. Selain itu, dengan berdirinya Pojok BEI berkonsep 3 in 1 (kerjasama
antara BEI, Universitas dan Perusahaan Sekuritas) yang dimaksudkan untuk
akademika tidak hanya mengenal pasar modal dari sisi teori saja akan tetapi dapat
langsung melakukan prakteknya.
4.1.4 Perkembangan Perusahaan Otomotif
Krisis finansial global sejak tahun 2008 yang masih terasa dampaknya
hingga kini, telah mempengaruhi kinerja sektor otomotif di Indonesia terutama
pada tahun 2009. Menurut laporan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor
Indonesia (Gaikindo) tingkat produksi dan penjualan mobil 2009 mengalami
penurunan dibanding tahun sebelumnya. Tingkat produksi merosot menjadi
hanya 464.815 unit pada 2009 dibandingkan tahun sebelumnya 600.628 unit atau
mengalami penurunan sebesar 22,6%.
Sedangkan tingkat penjualan melemah 19,9% menjadi hanya 483.548 unit
pada 2009. Meski jumlah ini mampu melampaui target yang ditetapkan Gaikindo
sebesar 450.000 unit, namun penjualan tidak secerah tahun 2008 yang tercatat
603.774 unit sebagai penjualan tertinggi dalam lima tahun terakhir. Penurunan
penjualan ini disebabkan oleh melemahnya nilai Rupiah pada waktu itu, yang
menyebabkan kenaikan harga mobil sehingga konsumen menunda untuk membeli
mobil.
Selain itu tingginya tingkat suku bunga dari perbankan dan lembaga
pembiayaan yang terimbas oleh krisis pembiayaan global menyebabkan sumber
pembiayaan untuk pembelian mobil terhambat. Meski demikian sebagian merk
besar ternyata pada tahun 2009 berhasil mendongkrak tingkat penjualan seperti
Selain itu, penurunan penjualan juga disebabkan oleh menurunnya
volume ekspor ke sejumlah negara. Volume ekspor mobil CBU pada 2009 hanya
sekitar 56.669 unit atau merosot 43,8% dibandingkan tahun sebelumnya 100.982
unit. Diantara ATPM yang sukses melakukan ekspor yaitu PT. Astra Daihatsu
Motor (ADM) sebagai ATPM Daihatsu mampu mencatatkan ekspor sebesar
31.450 unit pada 2009 lalu. ADM memiliki produk andalan yaitu Gran Max dan
Terios yang mampu melakukan penetrasi di pasar Jepang, Afrika Selatan dan
Timur Tengah.
Di pasar dalam negeri masih didominasi oleh jenis Multi Purpose Vehicle
(MPV). Di segmen ini merk Toyota dengan varian andalannya Avanza dan Inova
tetap merajai pasar jauh meninggalkan kompetitornya seperti Xenia dari Daihatsu
dan APV dari Suzuki.
Memasuki tahun 2010 pasar mobil mulai bergairah karena ekonomi dunia
mulai pulih, sehingga diharapkan penjualan mobil tahun 2010 akan meningkat
kembali. Namun tahun 2010 juga memberikan tantangan baru bagi industri mobil
nasional yaitu dengan mulai berlakunya perjanjian Asean China Free Trade Area
(ACFTA) per 1 Januari 2010. Diperkirakan industri mobil Cina akan makin
gencar membidik pasar Indonesia baik dengan melakukan impor dalam bentuk
built up, maupun dengan mebangun pabrik perakitan yang mengimpor dalam
4.2 Deskripsi Hasil Penelitian
Perusahaan sebagai obyek penelitian yang diambil pada penelitian ini
adalah 19 perusahaan yang tergabung dalam perusahaan Otomotif di Bursa Efek
Indonesia pada tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 yang menerbitkan laporan
keuangan per 31 Desember 2007 sampai dengan tahun 2009. Data yang diperoleh
dari perusahaan tersebut selama tiga tahun terakhir yang dipergunakan sebagai
data penelitian adalah sebagai berikut :
4.2.1 Deskripsi Variabel Tangible Assets
Hasil penelitian yang dilakukan mengenai Tangible Assets pada
perusahaan otomotif di Bursa Efek Indonesia diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 4.1: Data Tangible Assets Perusahaan pada perusahaan otomotif di Bursa
Tahun
Berdasarkan pada tabel 4.1 diperoleh hasil pada tahun 2007 yang
mempunyai tangible assets tertinggi adalah PT Allbond Makmur Usaha Tbk
sebesar 0,88 dan yang mempunyai tangible assets terendah adalah PT Gajah
Tunggal Tbk sebesar 0,03. Pada tahun 2008 yang mempunyai tangible assets
tertinggi adalah PT Allbond Makmur Usaha Tbk sebesar 0,95 dan yang
mempunyai tangible assets terendah adalah PT Sugi Sama Persada Tbk sebesar
0,03, sedangkan pada tahun 2009 yang mempunyai tangible assets tertinggi
adalah PT Allbond Makmur Usaha Tbk sebesar 0,88 dan yang mempunyai
tangible assets terendah adalah PT Hexindo Adi Perkasa Tbk sebesar 0,15.
lainnya sedangkan tangible assets yang terendah dimiliki oleh PT Gajah Tunggal
Tbk dan PT Sugi Sama Persada Tbk dibandingkan dengan 17 perusahaan sampel
lainnya. Selama tahun 2007 sampai dengan 2009, tangible assets tertinggi yaitu
sebesar 0,95 pada PT Allbond Makmur Usaha Tbk pada tahun 2008, sedangkan
yang terendah selama tahun 2007 sampai dengan 2009 sebesar 0,03 pada PT
Gajah Tunggal Tbk tahun 2007 dan PT Sugi Sama Persada Tbk tahun 2008.
4.2.2 Deskripsi Variabel Growth Opportunity
Hasil penelitian yang dilakukan mengenai Growth Opportunity pada
perusahaan otomotif di Bursa Efek Indonesia diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 4.2: Data Growth Opportunity Perusahaan pada perusahaan otomotif di