• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PAI DI SDN DANDANG-1 KECAMATAN PANDIH BATU KABUPATEN PULANG PISAU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PAI DI SDN DANDANG-1 KECAMATAN PANDIH BATU KABUPATEN PULANG PISAU"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1975

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PAI DI

SDN DANDANG-1 KECAMATAN PANDIH BATU KABUPATEN PULANG PISAU

Rahman Hadi1

Email [email protected]

ABSTRAK

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah penerapan model pembelajaran problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam di SDN Dandang 1? Tujuan penelitian ini yaitu untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam di SDN Dandang 1 melalui penerapan model pembelajaran problem based learning.

Adapun jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan subyek penelitian ini adalah peserta didik di kelas IV SDN Dandang 1 yang berjumlah 11 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan rumus rata-rata nilai, presentase ketuntasan belajar dan data observasi.

Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan model problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam di SDN Dandang 1. Hal ini dapat dibuktikan dari nilai rata-rata siswa sebelum diterapkan model pembelajaran problem based learning adalah 66,36, siswa yang mendapat nilai di atas 70 adalah 45,45%. Dari hasil siklus 1 nilai rata-rata memperoleh 73,63, peserta didik yang mendapat nilai diatas 70 adalah 63,63%. Setelah siklus II diperoleh rata-rata nilai 84,54 , siswa yang mendapat nilai diatas 70 adalah 90,9% menunjukkan bahwa adanya peningkatan hasil belajar Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning.

Kata Kunci: Model Pembelajaran, Problem Based Learning, Hasil Belajar.

(2)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1976 PENDAHULUAN

Pada umumnya pendidikan diterapkan dalam diri manusia sejak manusia itu lahir, berawal dari pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya, kejenjang pendidikan oleh guru sekolah sampai pada pendidikan yang diberikan oleh dosen di jenjang Universitas. Pendidikan wajib belajar 12 tahun di Indonesia, dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 17 ayat (2) mencakup pendidikan dasar dalam bentuk Sekolah Dasar dengan masa belajar 6 tahun, serta jenjang menengah dengan istilah Sekolah Menengah Pertama dalam masa belajar 3 tahun, dan Pasal 18 ayat (3) pendidikan menengah dalam bentuk Sekolah Menengah Atas dengan masa belajar 3 tahun. Adanya wajib belajar 12 tahun yang diterapkan di Indonesia merupakan tanda bahwa begitu pentingnya pendidikan di negara ini.

Pendidikan yang paling penting adalah Pendidikan Agama Islam dalam sebuah lembaga. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah sebuah proses untuk mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna (Muslimah: 2020) dan berbahagia, mencintai tanah air, sehat jasmaninya, sempurna budi pekertinya (akhlaknya), teratur fikirannya, mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya baik lisan maupun tulisan.

Kurikulum Pendidikan Islam dirancang agar kehidupan duniawi dan ukhrawi menjadi milik umat-Nya dengan modal iman, amal dan takwa kepadanya-Nya (Muslimah: 2016). Di sinilah perbedaan prinsipil kurikulum Pendidikan Islam dengan kurikulum lain yang mempunyai kecendrungan mengutamakan aspek material dengan hasil sehingga proses belajar mengajar tidak berjalan dengan baik dan tujuan pembelajaran belum tercapai (Arliansyah: 2020)

Dalam proses belajar-mengajar terjadi interaksi antara berbagai komponen yaitu guru, siswa, tujuan, bahan, alat, metode dan lain-lain. Masing- masing komponen saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Siswa adalah komponen yang paling utama dalam kegiatan belajar-mengajar, karena yang harus mencapai tujuan penting dalam pembelajaran adalah siswa yang belajar. Maka pemahaman terhadap siswa adalah penting bagi guru agar

(3)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1977

dapat menciptakan situasi yang tepat serta memberi pengaruh yang optimal bagi siswa untuk dapat belajar dan mendapatkan hasil belajar yang maksimal.

Hasil belajar pada dasarnya adalah suatu kemampuan yang berupa keterampilan dan perilaku baru sebagai akibat dari latihan atau pengalaman yang diperoleh. Pendidikan Agama Islam merupakan pelajaran yang ada di semua lembaga sekolah baik lembaga yang negeri maupun swasta yang memberikan pengetahuan kognitif dan afektif. Untuk Pendidikan Agama Islam di SD hanya sedikit sekali waktunya, tidak seperti pelajaran-pelajaran umum seperti Matematika, Bahasa Indonesia dan lain-lain. Walaupun waktu hanya sedikit guru PAI tidak hanya dituntut untuk menyampaikan materi, tetapi memiliki tanggung jawab besar dalam mencapai tujuan pembelajaran. Selain memiliki banyak kelebihan dalam belajar Pendidikan Agama Islam, tetap saja ada kendala pembelajaran PAI yang dihadapi, seperti penguasaan kelas, menerapkan model pembelajaran yang tepat, dengan adanya hal tersebut penulis melakukan pengamatan di SDN Dandang 1 Kecamatan Pandih Batu Kabupaten Pulang Pisau.

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan penulis di SDN Dandang 1 Kecamatan Pandih Batu Kabupaten Pulang Pisau, terungkap masih banyak peserta didik yang kurang memperhatikan penjelasan guru ketika proses penjelasan. Peserta didik cenderung pasif ketika proses pembelajaran berlangsung, siswa mengantuk dan bosan saat guru menjelaskan materi, serta hasil ulangan semester genap masih banyak yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang diharapkan yaitu 70 keatas, 45,45% siswa hasil ulangannya masih dibawah kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Berdasarkan kondisi tersebut peserta didik membutuhkan inovasi model pembelajaran baru (Sudarmo: 2020), untuk merangsang daya tarik peserta didik untuk meningkatkan hasil belajar PAI. Dalam konstek maka digunakan model pembelajaran Problem Based Learning. Problem Based Learning merupakan suatu model pengajaran dengan pendekatan pembelajaran peserta didik pada masalah autentik. Masalah autentik dapat diartikan sebagai suatu masalah yang sering ditemukan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan deskripsi diatas peneliti akan melakukan sebuah penelitian mengenai kegiatan belajar-mengajar yang diselenggarakan di SDN Dandang 1 Kecamatan Pandih Batu Kabupaten Pulang Pisau dengan

(4)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1978

mengangkat judul:“Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam di SDN Dandang 1 Kabupaten Pulang Pisau.”.

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK).

Penelitian tindakan kelas yaitu penelitian tindakan (action research) yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran dikelasnya.

PTK berfokus pada kelas atau berfokus pada proses belajar mengajar yang terjadi di kelas.

Penelitian dilakukan di SDN Dandang 1 Kecamatan Pandih Batu Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian dilakukan di SDN Dandang 1 karena 54,54 % siswa kelas IV pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam hasil belajarnya belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 70.

Subjek penelitian ini adalah peserta didik di kelas IV SDN Dandang 1, jumlah peserta didik tahun pelajaran 2021/2022 sebanyak 11 peserta didik yang tediri dari laki-laki 4 orang dan perempuan 7 orang.

Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian adalah sebagai berikut :

1. Observasi merupakan suatu proses kompleks, suatu yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis, dua diantara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan, tekhnik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar dan dalam situasi tertentu, untuk mendapatkan informasi tentang fenomena yang diinginkan.

2. Tes merupakan rangkaian pertanyaan yang memerlukan jawaban testi sebagai alat ukur dalam proses penilaian maupun evaluasi dan mempunyai peran penting untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, kecerdasan bakat atau kemampuan yang dimiliki individu atau kelompok. Dalam proses belajar tes digunakan untuk mengukur tingkat pencapaian keberhasilan siswa setelah melakukan kegiatan belajar.

3. Dokumentasi ditunjukan untuk memperoleh data langsung dari tempat

(5)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1979

penelitian, meliputi foto-foto, data yang relevan, guru-guru, peserta didik serta benda-benda atau alat-alat yang dapat menjadi penunjang penelitian.

Secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui dalam penelitian tindakan kelas sebagai berikut ini:

Adapun teknik analisis data yang dilakukan sebagai berikut:

1. Data Tes

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) bidang studi Pendidikan Agama Islam kelas IV SDN Dandang 1 adalah 70. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pada siklus I dan siklus II, serta peningkatan presentasi belajar maka digunakan rumus sebagai berikut:

Perencanaan

Pelaksanaan Pengamatan

Refleksi Siklus II

Perencanaan

Pelaksanaan Pengamatan

Refleksi

Siklus 1

Dst

(6)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1980 a. Rata-rata Nilai

Ket:

X = Nilai rata-rata

∑x = Nilai siswa.

N = Jumlah siswa b. Persentase Ketuntasan Belajar

Ket:

KB = Persentase Ketuntasan Belajar.

F = Jumlah Siswa yang mendapat nilai diatas 70 N = Jumlah Seluruh Peserta Didik

2. Data Observasi

Data observasi yang diperoleh digunakan untuk merefleksi tindakan yang telah dilakukan dan diolah secara deskriptif dengan menghitung skor observasi guru dan peserta didik:

N = R

x 100 %

SM Keterangan:

N : nilai persentase capaian R : skor yang diperoleh SM : skor maksimum ideal 100 : bilangan tetap

Tabel. 3.2

Skor Pengamatan Setiap Aspek Yang Diamati pada lembar observasi guru dan peserta didik:

No Kriteria Skor

1 Baik(B) 3

2 Cukup(C) 2

(7)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1981

3 Kurang(K) 1

Keterangan penilaian:

1. Baik bila mendapatkan nilai 81 sampai dengan 100 2. Cukup bila mendapatkan nilai 61 sampai dengan 80 3. Kurang baik bila mendapatkan nilai kurang dari 61.

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan hasil yang diperoleh peneliti selama penelitian dapat dilihat pada tabel tentang hasil pengamatan aktifitas siswa pada penelitian tindakan kelas sebagai berikut:

Tabel 4.12 Perbandingan Hasil Nilai Belajar

No Nama Perbandingan Siklus

Pra Siklus Siklus I Siklus II

1 Ahmad Riski 70 80 80

2 Muhammad Fahri 80 90 100

3 Akhmad Ilham 90 90 100

4 Ahmad Paisal 50 70 80

5 Aulia Rahmah 50 60 60

6 Mutma’inah 90 90 100

7 Arminah 70 80 80

8 Tiara Olivia 60 70 90

9 Sifa 60 60 80

10 Safira 60 60 80

11 Silvia 50 60 80

Persentase Ketuntasan 45,45% 63,63% 90,9%

Dari tabel perbandingan hasil nilai belajar di atas, untuk lebih bisa dilihat pada diagram sebagai berikut:

Grafik 4.13

Perbandingan Hasil Belajar Siswa Pra Siklus, Siklus Idan Siklus II

(8)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1982

Pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus I menggunakan model pembelajaran problem based learning masih belum optimal, hal tersebut ditunjukkan masih kurangnya partisipasi siswa untuk mendengarkan dan mencari pertanyaan karena masih banyak peserta didik yang sibuk dan asyik mengobrol dengan teman lainnya, ada beberapa peserta didik yang belum mampu menjawab pertanyaan yang diberikan temannya karena kurangnya membaca materi yang telah disediakan sehingga kurangnya pemahaman terhadap materi yang sedang dipelajari dan masih ada beberapa siswa yang ragu-ragu dalam menyampaikan dan menjawab pertanyaan karena masih kurangnya percaya diri dan takut salah. Karena masih adanya beberapa kekurangan dalam proses pembelajaran pada siklus I, maka berdampak pada kurangnya tingkat pemahaman siswa, hal tersebut bisa dilihat dari hasil data belajar pada siklus I yang baru mencapai 63,63% yang artinya baru 7 orang yang mendapatkan nilai tuntas dari 11 peserta didik yang ada, namun data sudah ada peningkatan prestasi siswa pada siklus I dibandingkan sebelum perbaikan/pra siklus.

Pada siklus II peserta didik sudah aktif dalam kegiatan pembelajaran dan bisa mengikuti model pembelajaran problem based learning secara keseluruhan baik dari pertanyaan dan jawaban yang diberikan serta mampu memberikan tambahan informasi terhadap pertanyaan maupun jawaban. Guru dalam hal ini hanya memberikan dan mengawasi terhadap jalannya proses diskusi yang dilakukan oleh peserta didik.

Ada peningkatan keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran, semua peserta didik berusaha memahami materi yang diberikan oleh guru,

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Prasiklus Siklus I Siklus II

Nilai rata-rata Persentase tuntas Persentase belum tuntas

(9)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1983

peserta didik juga sangat antusias sehingga menyimak jalannya tanya jawab yang dilakukan oleh teman yang lainnya. Setelah dilakukan tes atau penilain diakhir pembelajaran pada siklus II, ternyata hasil belajar peserta didik sudah mengalami peningkatan dalam proses pembelajaran, hal tersebut bisa dilihat dengan adanya perolehan niali yang lebih baik bila dibandingkan siklus I jumlah siswa yang tuntas 7 peserta didik mencapai ketuntasan 63,63%. Pada siklus II jumlah peserta didik yang tuntas 10 siswa sehingga ketuntasan belajar meningkat menjadi 90,9% dan hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran akhlak dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik sesuai dengan yang diharapkan.

Temuan penelitian ini mengungkap bahwa penggunaan model pembelajaran problem based learning terbukti dapat meningkatkan hasil belajar PAI aspek akhlak pada materi Berperilaku Terpuji Sub Materi Hemat . Hal ini dibuktikan dengan perolehan hasil belajar PAI dengan nilai rata-rata mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) setelah dilakukan siklus II yaitu 84,54. Jika temuan penelitian dianalisis sejalan dengan pendapat Abuddin Nata yang menyatakan bahwa model pembelajaran problem based learning adalah pembelajaran yang bertumpu pada kreativitas, inovasi dan motifasi para peserta didik. Dengan problem based learning, proses belajar lebih banyak bertumpu pada kegiatan para siswa secara mandiri, sementara guru bertindak sebagai perancang, fasilitator, motivator atas terjadinya kegiatan belajar mengajar tersebut, melalui PBL seorang peserta didik akan memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah yang selanjutnya dapat ia terapkan pada saat menghadapi masalah yang sesungguhnya dimasyarakat.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data dan pembelajaran pada bab sebelumya, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas IV pada bidang studi PAI di SDN Dandang 1 Kabupaten Pulang Pisau. Hasil belajar peserta didik yang sebelum diterapkannya model problem based learning belum memenuhi kriteria standar ketuntasan minimal (KKM) namun setelah diterapkan model Pembelajaran problem based learning hasil belajar siswa meningkat, terlihat pada peningkatan ketuntasan belajar pada setiap siklus

(10)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1984

yang dilalui. Penggunaan model pembelajaran berdasarkan masalah dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI. Hal tersebut dapat dilihat dari rata-rata nilai sebelum sebelum diterapkannya model pembelajaran problem based learning adalah 66,36, banyaknya peserta didik yang mendapat nilai diatas 70 (KKM) adalah 45,45%. Dari hasil siklus I rata-rata nilai memperoleh 73,63, banyaknya siswa yang mendapat nilai diatas 70 adalah 63,63%, hasil observasi aktifitas peserta didik adalah 73 (cukup) dan hasil observasi aktifitas guru 72 (cukup). Setelah siklus II diperoleh rata-rata nilai 84,54, siswa yang mendapat diatas 70 adalah 90,9%, hasil observasi aktifitas peserta didik adalah 90 (Baik) dan hasil observasi aktifitas guru 91,67 (Baik).

Dengan demikian, hasil belajar peserta didik dan hasil analisis lembar observasi pengamatan meningkat kearah yang lebih baik dengan penerapan model Pembelajaran problem based learning dengan menggunakan metode ceramah, diskusi kelompok dan penggunaan video pembelajaran dalam penyampaian materi.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktek (Jakarta:Rajawali Pers,2014), h. 46

Abuddin Nata, Perspektif Strategi Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2011), h. 250- 255.

Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan (Yogyakarta: Rajawali Pers, 1995), h.93-99

Arliansyah dan Muslimah. 2020. Free School Policy Versus Favorite School of Parents' Choice. International Journal of Humanities Social Sciences and Education (IJHSSE). Volume 7, Issue 6, June 2020, PP 1-6. ISSN 2349-0373 (Print) & ISSN 2349-0381 (Online). http://dx.doi.org/10.20431/2349- 0381.0706001. www.arcjournals.org

Baharuddin Dan Esa Nur Wahyunu, “Teori Belajar Dan Pembelajaran”

(Jogjakarta:Ar-ruzz media, 2008), h. 13-15

Eka Sastrawati dkk, “Problem Based Learning, Strategi Metakognisi, Dan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa” Jurnal Tekno-Pedagogi Vol. 1 No. 2 September 2011 : 1-14, Jambi, h. 3

https://bdkdenpasar.kemenag.go.id/berita/model-problem-based-learning

(11)

Vol. 2 Juli 2022| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam

Tema: Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk Merealisasikan guru Profesional di Era Sosiety 5.0

1985

Kasmadi dan Nia Siti Sunariah, Panduan Modern Penelitian Kuantitatif (Bandung:Alfabeta, 2014) , h. 69-72

Muhammad Muntahibun Nafis, Ilmu Pendidikan Islam Yogyakarta: Sukses Offset,2011), h. 23.

Muslimah. 2016. Nilai Religious Culture di Lembaga Pendidikan. Yogyakarta:

Aswaja Pressindo.

Muslimah. 2020. Strategi Memanfaatkan Rasa Senang Anak Bersekolah (Studi Berdasarkan Tingkat Pendidikan Orang Tua DI Pangkalan Bun Kalimantan Tengah). Al-Mudarris: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam.Vol.

3, No. 1, Mei 2020, pp. 1-20.p-ISSN: 2622-1993.https://e-journal.iain- palangkaraya.ac.id/index.php/mdr/article/view/2106/1352

M. Quraish shihab, Tafsir AL-Mishbah (Jakarta: Lentara Hati, 2002) h. 149-155 Nana Sudjana, “Penilaian Proses Belajar Mengajar” (Bandung, Remaja

Rosdakarya,2006), h. 22-23

Nana Syaodih Sukmadinata dan Erliana Syaodih, Kurikulum Dan Pembelajaran Kompetensi(Bandung: Refika Aditama, 2012), h. 112-151

Richard I. Arends, Learning To Teach/Belajar Untuk Mengajar( Yogyakarta:

PustakaBelajar, 2007), h. 41-42

Rusman, Model-Model Pembelajaran ( Jakarta: Rajawali Pers, 2012) h. 132-133 Sudarmo, Muslimah. 2020. Teacher’S Leadership Competency In Managing

Online Instruction During The Pandemic Disruption In Indonesi. Nidhomul Haq: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam. Vol 5 No 3. Tahun 2020. E-ISSN:

2503-148. Hal: 430-445. https://e-

journal.ikhac.ac.id/index.php/nidhomulhaq/article/view/1018/552

Suharsimi Arikunto Dkk, Penelitian Tindakan Kelas (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 58

Referensi

Dokumen terkait

Dalam mengemukakan arti strafbaarfeit sendiri, dijumpai adanya 2 pandangan yaitu pandangan monistis dan pandangan dualistis. 9 Pandangan Monistis, melihat dari keseluruhan

Pada tahap ini anak sudah mampu mengucapkan dua kata (ucapan dua kata). Tahap ini juga ditandai dengan pembendaharaan kata anak sampai dengan rentang 50-100 kosa

: Pembelajaran dengan model Problem Based Learning tidak efektif ditinjau dari kemandirian belajar matematika siswa. : Pembelajaran dengan model Problem Based Learning efektif

Penerapan model pembelajaran problem based learning berbantuan media audio visual dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa karena model problem based learning

Berdasarkan hasil observasi dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada siklus I hasil ketelitian dan keterampilan menulis siswa belum optimal

1. Penerapan model pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif pada saat proses pembelajaran, yaitu model pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan proses

Penelitian ini memberikan hasil bahwa pembelajaran matematika dengan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan kemandirian belajar matematika

Dengan demikian, secara teori dan konsep, penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan keaktifan belajar mahasiswa. Dalam pelaksanaan siklus I,