Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 13, No. 1 April 2018
POTENSI UJI SARING ANTIBODI SEBAGAI PENGGANTI UJI SILANG SERASI MAYOR PADA PEMERIKSAAN PRA-TRANSFUSI
NRatna Ningrum
Prodi Analis Kesehatan (D-3), Stikes Jenderal Achmad Yani Cimahi [email protected]
ABSTRAK
Uji saring antibodi bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi ireguler terhadap sel darah merah di dalam plasma pasien. Sampai saat ini, kegiatan pelayanan transfusi darah di Indonesia masih bergantung pada uji silang serasi yang masih kemungkinan adanya antibodi ireguler yang tidak terdeteksi. Antibodi tersebut dapat menyebabkan terjadinya reaksi transfusi tipe lambat yang ditandai dengan penurunan hemoglobin dan peningkatan kadar bilirubin. Upaya keamanan pada pasien transfusi perlu ditingkatkan dengan diterapkan uji saring antibodi secara rutin pada pemeriksaan pra-transfusi. Tujuh ratus sampel pasien yang meminta darah ke laboratorium pelayanan pasien di UTD PMI DKI Jakarta dilakukan uji saring antibodi dan uji silang serasi secara otomatis dengan alat Ortho AutoVue® InnovadenganColumn Agglutination Technology.
Semua sampel pasien yang tidak memiliki antibodi 100% kompatibel pada uji silang serasi mayor.
Dari penelitian ini disimpulkan uji saring antibodi lebih mampu mendeteksi antibody pada plasma pasien dana mandigunakandalampemeriksaanpra-transfusi.
Kata kunci : Uji saring antibodi, Uji silang serasi, Uji pr-transfusi.
ABSTRACT
Antibody Screening aims to detect irregular antibody on the blood cell in patient plasma. To date, blood transfusion in Indonesia is still depending on the crossmatch in which there is possibility of undetected irregular antibody. The irregular antibody may cause a delayed hemolytic transfusionas indicated by reduced hemoglobin and increased bilirubin. Blood transfusion's safety is therefore monitored by routine antibody screening on pre-transfusion test.Antibody screening and major crossmatch were performed in 700 samples of patients who requested blood to the patient care laboratory in UTD PMI DKI Jakarta with Ortho tool AutoVue® Innova with Column Agglutination Technology. All samples of patients who did not have antibodies, wascompatible on crossmatch test. This study suggests the antibody screening is capable to detect antibodies in the patient's plasma and safely used in the pre-transfusion test.
Keywords : Antibody Screening, Major crossmatch , Pre-transfusion testing.
A. PENDAHULUAN
Transfusi darah merupakan salah satu bentuk transplantasi dimana seluruh atau sebagiankomponen darah seseorang (donor) diberikan kepada orang lain (resipien). Bila digunakan dengan benar dapat menyelamatkan jiwa pasien dan meningkatkan derajat kesehatan.1 Transfusi darah tidak hanya menyelamatkan nyawa, namun juga berbahaya karena dapat terjadi berbagai reaksi sampingan yang tidak diharapkan bahkan juga menyebabkan kematian.2Namun reaksi transfusi masih saja terjadi, berdasarkan laporan SHOT (Serious Hazards of Transfusion Report) dan FDA (Food and Drug Administration) dengan insiden morbiditas dan mortalitas sekitar 46.5 dan 3.1 per1.000.000 komponen.3
Reaksi transfusi hemolitik terjadi ketika sel darah merah yang ditransfusikan berinteraksi dengan antibodi resipien secara cepat sehingga terjadi hemolisis. Biasanya hal ini disebabkan ABO yang tidak kompatibel, namun antibodi spesifik lainnya juga dapat menyebabkan hemolisis.3 Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan pra-transfusi untuk memastikan bahwa transfusi darah tidak akan menimbulkan reaksi pada resipien.2,4
Pengujian pra-transfusi dilakukan untuk menjamin kompatibilitas ABO dan Rh(D) antara darah donor dan darah pasien, serta mendeteksi adanya antibodi ireguler yang bereaksi dengan antigen sel darah merah donor.5,6 Pendeteksian antibodi pada plasma pasien maupun donor sangat penting, karena berkaitan dengan pemilihan darah donor yang akan ditransfusikan. Antibodi yang bereaksi lemah pun dapat menimbulkan reaksi transfusi bila mempunyai reaksi optimum pada suhu tubuh (37C) dan bila bereaksi dengan antigen sel darah merah donor yang sesuai mengakibatkan sel darah merah donor yang ditransfusikan mengalami kerusakan atau lisis sebelum masa hidupnya.4,7,8
Antibodi ireguler yang ditemukan pada pasien dapat berupa autoantibodi maupun
aloantibodi yang terbentuk akibat paparan terhadap antigen yang tidak dimiliki oleh pasien ketika mendapatkan transfusi darah atau riwayat kehamilan sebelumnya.9 Aloantibodi ini dapat terdeteksi pada pemeriksaan uji saring antibodi pra-transfusi. Uji saring antibodi sudah dilakukan secara rutin di Amerika, Eropa, maupun beberapa negara di Asia seperti Jepang, Malaysia, Thailand dan Singapura. Sedangkan di Indonesia masih menggunakan uji silang serasi mayor dan minor untuk melihat kompatibilitas pra-transfusi.4,10-12
Pada kenyataannya, uji silang serasi tanpa pemeriksaan uji saring antibodi masih berisiko, tidak terdeteksinya antibodi pada pasien. Penyebabnya adalah bila kadar antibodi dalam plasma sangat rendah atau diakibatkan jenis antibodi yang kekuatan reaksinya dipengaruhi oleh dosis antigen. Adapun antigen yang dipengaruhi efek dosis adalah sistem Rhesus, Kidd dan Duffy.Bila fenotip sel darah merah heterozigot direaksikan dengan antibodi yang kadarnya rendah, maka hasil reaksi dapat lebih lemah bahkan negatif.4,13
Selain itu, yang menyebabkan hasil negatif palsu pada uji silang serasi adalah pada tata laksana pemeriksaan yang tidak dilakukan sebagaimana mestinya seperti waktu inkubasi medium bovin albumin diperpendek, pencucian sel darah merah tidak sempurna dan tidak melakukan pemeriksaan validasi reagen yang digunakan.13
Alur pemeriksaan pra-transfusi saat ini di Indonesia adalah uji silang serasi mayor terlebih dahulu.Bila ditemukan inkompatibilitas atau ketidakcocokan akan dilakukan pengulangan uji silang serasi mayor dengan darah donor lain. Apabila setelah tiga kali mengganti donor tetap inkompatibel, maka baru disarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab inkompatibilitas, yaitu uji saring antibodi pasien.
Sebaliknya bila setelah menggunakan donor baru, hasil uji silang serasi menjadi kompatibel maka darah dari donor baru tersebut ditransfusikan ke pasien.14Praktik tersebut memiliki risiko pada keamanan transfusi darah bila ternyata kompatibel palsu yang disebabkan oleh adanya antibodi yang lemah pada pasien namun tidak terlihat hasil reaksinya karena adanya dosage effect.13 Dampaknya dapat terjadi reaksi transfusi tipe lambat yang ditandai dengan penurunan hemoglobin sampai peningkatan kadar bilirubinyang disebabkan reaksi antibodi yang lemah dengan antigen sel darah merah.9
Pelayanan transfusi darah di Indonesia terutama pada pemeriksaan pra-transfusi untuk mendeteksi antibodi masih mengandalkan uji silang serasi, sedangkan uji silang serasi tanpa dilakukan uji saring antibodi masih berisiko kemungkinan adanya antibodi yang tidak terdeteksi. Untuk itu, peneliti ingin memperlihatkan potensi uji saring antibodi sehingga dapat menggantikan uji silang serasi mayor pada pemeriksaan yang selama ini menjadi dasar pemberian transfusi darah bagi pasien.
B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional/potong lintang pada sekelompok pasien sebagai subjek penelitian dengan pemeriksaan atau pengukuran terhadap status karakter atau variabelnya dilakukan pada waktu bersamaan dan tidak memerlukan tindak lanjut.
Alat dan Bahan
Alat Ortho AutoVue® Innova, 0.8%
Affirmagen®yang terdiri dari sel A1 dan sel B untuk serum grouping pemeriksaan golongan darah,0,8% Surgiscreen® yaitu sel panel untuk uji saring antibodi, BioVue® ABO-Rh card untuk pemeriksaan golongan darah, BioVue® AHG Polyspesific Card untuk pemeriksaan uji saring antibodi dan uji silang serasi mayor.
Jalannya Penelitian
Besar sampel penelitian sebanyak 700 pasien yang meminta darah Packed Red Cells (PRC), Whole Blood (WB) dan Washed Erythrocyte (WE) ke UTD PMI DKI Jakarta.
Pemeriksaan golongan darah, uji saring antibodi dan uji silang serasi dilakukan bersamaan secara otomatis dengan alat Ortho Auto Vue® Innova menggunakanColumn Agglutination Technology(CAT)dengan media penyaring atau filternya glass beads dalam ORTHO Biovue® cassette. Analisis data akan dilakukan dengan membandingkan hasil pada uji saring antibodi dan uji silang serasi mayor dengan melihat hasil print out.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Sekitar 700 sampel yang meminta darah ke UTDP PMI DKI Jakarta dilakukan pemeriksaan uji saring antibodi dan uji silang serasi mayor untuk mendeteksi adanya antibodi pada plasma pasien. Hasil skrining antibodi negatif didapat 683 dengan hasil uji silang
serasi kompatibel atau sekitar 97,6% dari total sampel. Tujuh belas (2,4%) sampel menunjukkan hasil skrining antibodi positif dengan hasil uji silang serasi mayor 11 (64,7%) sampel menunjukkan kompatibel dan 6 (35,3%) sampel inkompatibel dapat dilihat pada Tabel 1.
Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 13, No. 1 April 2018
Tabel 1. Hasil uji saring antibodi dan uji silang serasi mayor.
Uji saring antibodi Uji silang serasi Mayor Kompatibel Inkompatibel
Negatif 683 0
Positif 11 6
Pasien menunjukan hasil negatif pada uji saring antibodi sebanyak 97,6% dari 700 sampel dan dengan hasil kompatibel pada uji silang serasi mayor. Hal tersebut bahwa pasien yang tidak memiliki antibodi pada plasmanya akan selalu memberikan hasil cocok / kompatibel pada uji silang serasi mayor dapat dilihat pada Gambar 1.
Hasil ini tidak jauh berbeda dibandingkan dengan hasil penelitian yang dilakukan Boral dan Henry pertama kali di Amerika. Mereka menyatakan bahwa pasien dengan uji saring antibodi negatif dan tidak mempunyai riwayat antibodi terhadap sel darah merah dapat diprediksikan 99,9% kompatibel dengan uji silang serasi mayor.20
Gambar 1. Deteksi antobodi negatif Begitu pula dua penelitian terbaru di
India menyimpulkan bahwa pasien dengan uji saring antibodi negatif 99,9% akan kompatibel dengan uji silang serasi mayor, sedangkan 0,1% menunjukan hasil inkompatibel yang disebabkan adanya antibodi yang frekuensinya sangat kecil pada populasi dimana antigen tersebut tidak terdapat diantara sel panel yang dipergunakan sehingga tidak terdeteksi pada uji saring antibodi. Antibodi seperti ini sangat jarang ditemukan pada serum pasien.
Berdasarkan data terakhir dari UTD PMI Provinsi DKI Jakarta frekuensi antigen golongan darah selain sistem ABO dan Rh(D) pada pendonor darah, yaitu E (22,5%),
c (41%), e (40%), Jka (78%), Jkb (67%), Leb (67%), M (78%) dan N (58%). Di daerah lain di Indonesia belum ada penelitian dan laporan mengenai populasi antigen golongan darah lainnya. Oleh karena itu, sel panel yang digunakan pada uji saring antibodi harus mengandung antigen-antigen tersebut.
Pemeriksaan yang bersifat sebagai deteksi antibodi diperlukan kemampuan mendeteksi yang mumpuni untuk mencegah terjadinya reaksi transfusi. Pada penelitian ini, dari 17 sampel yang terdeteksi terdapat antibodi, hasil uji silang serasi mayor pada 11 sampel kompatibel dan 6 sampel inkompatibel dapat dilihat pada Gambar 2.
0 100 200 300 400 500 600 700
Kompatibel Inkompatibel
Ab neg
Gambar 2. Deteksi antobodi positif
Hasil ini menunjukan bahwa metode uji saring antibodi lebih mampu mendeteksi adanya antibodi ireguler pada plasma pasien dibandingkan uji silang serasi mayor.
Pada uji silang saring mayor plasma pasien direaksikan dengan sel darah merah donor yang tidak diketahui fenotipnya, sedangkan pada uji saring antibodi plasma pasien direaksikan dengan sel panel yang telah diketahui fenotipnya. Sampai saat ini, UTD belum melakukan antigen typing pada sel darah merah donor sehingga tidak diketahui apakah antigen donor homozigot atau heterozigot. Apabila sel darah merah donor heterozigot dan antibodi pada plasma pasien lemah maka hasil uji silang serasi mayor dapat kompatibel (negatif palsu). Hal tersebut dapat dihindari pada uji saring antibodi karena sel panel yang digunakan adalah pilihan yaitu sel yang homozigot untuk antigen tertentu yang memiliki efek dosis. Dengan demikian, uji saring antibodi dapat digunakan sebagai alternatif yang lebih baik untuk deteksi antibodi pada pemeriksaan pra-transfusi.23
Selama 30 tahun terakhir pengujian pra-transfusi telah mengalami modifikasi yang cukup besar terutama uji saring antibodi dan uji silang serasi. Dua pemeriksaan tersebut sama-sama dirancang untuk mendeteksi adanya antibodi pada serum pasien. Modifikasi yang dikembangkan baik itu metode untuk meningkatkan sensitivitas secara otomatis maupun prosedur yang dipersingkat.5 AABB merekomendasikan prosedur uji silang serasi dapat dipersingkat
dengan uji saring antibodi negatif.4,23 Alasan utamanya adalah untuk menghemat biaya reagen, mengurangi beban pekerjaan petugas laboratorium dan waktu pemeriksaan lebih cepat.15,24
Pemeriksaan golongan darah, uji saring antibodi dan uji silang serasi merupakan pemeriksaan laboratorium pra- transfusi. Dibeberapa negara berkembang termasuk Indonesia, uji silang serasi yang dilakukan secara rutin bukanuji saring antibodi. Sampaisaatiniujisaring antibodi belum menjadi standar pemeriksaan yang dibakukan padaPermenkes No. 91 Tahun 2015, hanyadisarankanbagi Bank
DarahRumahSakit yang
sudahmampumelaksanakandan UTD setempattelahmelakukanujisaringantibodi donor.25 Berbeda halnya dengan negara- negara maju, pasien yang akan melakukan transfusi secara rutin dilakukan uji saring antibodi. Sedangkan identifikasi dan uji silang serasi tidak dilakukan secara rutin tetapi dikerjakan bila uji saring antibodi positif.4,10-12
Standarnya pemeriksaan pra- transfusi harus dilakukan pada pasien setiap kali sebelum melakukan transfusi.
Pentingnya pemeriksaan tersebut untuk mencari darah donor yang tepat agar sel-sel darah merah akan bertahan ketika ditransfusikan dan tidak menyebabkan reaksi transfusi yang merugikan pasien.4,26 Pemeriksaan pra-transfusi tidak hanya menjamin kompatibilitas ABO antara darah donor dan darah pasien tetapi juga 0
2 4 6 8 10 12
Kompatibel Inkompatibel
Ab pos
mendeteksi adanya antibodi ireguler yang reaktif terhadap antigen sel darah merah donor.6
Pada kenyataan terkadang ditemukan masalah dalam hasil pemeriksaan uji silang serasi, misalnya terdapat reaksi inkompatibilitas antara darah donor dan darah pasien walaupun golongan darah A, B, AB, O dan Rhesus (D) antara donor dan pasien sama. Inkompatibilitas antara darah donor dan darah pasien dapat terjadi karena banyaknya variasi antigen maupun antibodi dalam darah donor maupun pasien.18 Adanya aloantibodi yang terbentuk akibat paparan terhadap antigen yang tidak dimiliki oleh pasien saat mendapatkan transfusi darah atau riwayat kehamilan sebelumnya paling sering menjadi penyebab inkompatibilitas.9Antibodi tersebut jika reaktif dengan antigen pasangannya yang ada pada sel darah merah donor akan menghasilkan inkompatibilitas pada pemeriksaan pra-transfusi.2.8 Perkembangan aloantibodi ini dapat menyulitkan terapi transfusi dan mengakibatkan kesulitan pada uji kompatibilitas sehingga diperlukan waktu tambahan untuk mendapatkan darah yang kompatibel.6
Tujuh belas dari 700 sampel pasien menunjukkan hasil uji saring antibodi positif,
artinya diduga pada plasma 17 pasien tersebut terdapat aloantibodi terhadap sel darah merah. Namun belum dapat disimpulkan spesifisitas antibodinya. Untuk menentukan spesifisitas antibodi perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan, yaitu pemeriksaan identifikasi antibodi. Pada prinsipnya metode yang digunakan untuk uji saring antibodi dan identifikasi antibodi adalah sama, yang membedakan hanyalah jumlah sel panel yang dipergunakan pada pemeriksaan.26
Uji saring antibodi menggunakan sel panel dengan 2 atau 3 varian sel. Sementara itu sel panel untuk identifikasi antibodi varian selnya lebih banyak sekitar 8 sampai 12 varian sel dengan persyaratan tertentu sehingga dapat mendeteksi spesifisitas antibodi pada plasma pasien. Spesifisitas antibodi yang terdeteksi pada pasien dapat disimpulkan dengan mencocokan hasil pemeriksaan dengan antigram sel panel yang ada.4
Berdasarkan hasil penelitian ini, prosedur pemeriksaan laboratorium sebelum transfusi darah, akan lebih baik bila diawali dengan pemeriksaan uji saring antibodi pada plasma pasien sehingga bila ditemukan adanya antibodi tertentu dapat dengan cepat dicarikan darah yang sesuai (antigen negatif).
C. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwaSerum pasien dengan uji saring antibodi negatif atau tidak memiliki
antibodi akan selalu (100%) kompatibel dengan sel darah merah donor pada pada uji silang serasi mayor.
DAFTAR PUSTAKA
HTA Indonesia. (2003). Transfusi komponen darah: Indikasi dan Skrining..
Depkes & Kesos, WHO, UNFPA. (2001).
Serologi golongan darah. Dalam:
Buku pedoman pelayanan transfusi darah. Modul 3.
Yahalom V, Zeligh O. (2014). Handling a transfusion hemolytic reaction. J compilation International Society of Blood Transfusion. Vox Sanguinis;
107: 1-56.
Brecher ME. (2005). Technical manual. 15th ed. Maryland: American Association of Blood Banks: 2005.
Chaundhary R, Agarwal N. (2011). Safety of type and method compared to conventional antiglobulin crossmatch prosedures for compatibility testing in India setting. Asian J Transfus Sci;
5(2): 157-159.
Raj NM, Akanksha B, Vikas H, et al. (2014).
Antibody screening & Identification in
the general patient population at a tertiar care hospital in New Delhi, Indian. Indian J Med Res 140; pp 401- 405.
Poole J, Daniels G. (2007) Blood group antibodies and their significance in transfusion medicine. Transfus Med Rev; 21: 58–71.
Harmening MD. (2005).Modern blood banking & transfusion practices. 5th ed. Philadelphia.
Schonewille H. (2008).Red blood cell alloimmunization after blood transfusion. Leiden University Press, Utrecht; 176 hlm.
British Commitee for Standards in Haematology Blood Transfusion Task Force.(2004). Guidelines for compatibility procedures in blood transfusion laboratories. In:
Transfusion Medicine. 14, Blackwell Publishing Ltd; 59-73.
SKIM Akreditasi Makmal Malaysia (Samm).
(2011). Specific technical requirements for accreditation of haematology laboratories. Department of Standards Malaysia.
HSA-MOH. (2011). Clinical blood transfusion. Ministry of Health Singapore.
Lange J, Selleng K, Heddle NM, Traote A and Greinacher A. (2010). Coombs’
crossmatch after negative antibody screening – a retrospective observational study comparing the tube test and the microcolumn technology. J compilation International Society of Blood Transfusion. Vox Sanguinis; 98: e269-e275.
Unit Transfusi Darah PMI Pusat.
(2007).Pedoman pelayanan transfusi darah. Kegiatan unit transfusi darah penanganan donor dan kepuasan pelanggan. Buku 4 edisi ketiga.
Pereira A. (2005). Blood inventory management in the type and screen era. Vox Sanguini; 89: 245–50.
Chao YH, Wu KH, Lu JJ, Shih MC, Peng CT, Chang CW. (2013).Red blood cell alloimmunisation among Chinese patients with β-thalassaemia major in Taiwan. Blood Transfus. 11:71–4.
Cheng CK, Lee CK, Lin CK. (2012).
Clinically significant red blood cell antibodies in chronically transfused patients: a survey of Chinese thalassemia major patients and
literature review.
Transfusion;52:2220–4.
Gantini RSE. (2004).Analisis berbagai kasus inkompatibilitas transfusi darah.
Jakarta: FKUI.
Maryunis M, Rini P, Ritchi NK, Salim S.
(2014). The implementation of antibody screening in pre-transfusion testing for patient safety in jakarta blood transffusion unit.J of Vox Sanguinis. Vol.109. ISSN: 0042-9007.
Boral LI, Henry JB. (1977). The type and screen: A safe alternative and supplement in selected surgical procedures. Transfusion; 17:163–8.
Dahlan SM. (2009). Besar sampel dan cara pengambilan sampel dalam penelitian kedokteran dan kesehatan. Salemba Medika. Jakarta.
Unit Transfusi Darah Daerah DKI Jakarta.
(2014). Standar Operasional Prosedur Pemeriksaan Uji Pra Transfusi.
Brecher ME. (1985)Technical manual. 15th ed. Maryland: American Association of Blood Banks.
Chapman JF, Milkins C, Voak D. (2000).
The computer crossmatch: a safe alternative to the serological crossmatch. Transfus Med; 10: 251–
256.
Peraturan menteri kesehatan republik Indonesia. (2015). Standar pelayanan transfusi darah. No 91.
Kaushansky K, Marshall A. Williams.
(2015).Hematology. 9th ed. New York.