MAKALAH
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK ( AKDK2201 )
PERKEMBANGAN BAHASA
Dosen Pembimbing :
Drs. Metroyadi, S.H., M.Pd/ Dr. H. Sarbaini, M.Pd
Disusun Oleh : KELOMPOK 6
1. AULIA RAHMAH (A1A213014)
2. HAIRINA WASLIAH (A1A213024)
3. KHAIRIYATI (A1A213033)
4. MUHAMMAD ALVIN (A1A213026)
5. NURUL FAJARIAH (A1A213010)
6. SYAHRANI (A1A213055)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PANCASILA DAN Kn JURUSAN ILMU PENDIDIKAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT dan tak lupa shalawat serta salam kami curahkan kepada nabi besar Muhammad SAW karena atas perjuangannya lah kita dapat merasakan nikmatnya iman dan islam sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah perkembangan peserta didik yang dibimbing oleh Drs. Metroyadi, S. H., M. Pd. dan Dr. H. sarbaini, M. Pd.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu demi kelancaran tugas ini. Makalah yang kami buat tentu jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik serta saran sangat kami harapkan untuk memperbaiki makalah-makalah yang akan dibuat kedepannya.
Tak banyak yang dapat kami sampaikan dalam kesempatan kali ini. Akhir kata kami ucapkan terima kasih dan semoga makalah yang kami buat dapat memberikan manfaat bagi kami khususnya dan bagi siapa saja umumnya.
Wa’alaikumussalam warah matullahi wa barokatuh
Banjarmasin, 24 Februari 2014
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...i
DAFTAR ISI ...ii
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang... 1 B. Rumusan Masalah...2
C. Tujuan Penulisan... 3 D. Manfaat Penulisan...3
BAB II PEMBAHASAN...4
A. Pengertian Perkembangan Bahasa...4
B. Tahap Perkembangan Bahasa...6
C. Karakteristik perkembangan bahasa remaja...9
D. Faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa...10
E. Perbedaan individual dalam kemampuan dan perkembangan bahasa...11
F. Hubungan kemampuan berbahasa terhadap kemampuan berpikir...12
G. Proses perkembangan peserta didik...14
H. Hambatan perkembangan bahasa anak...16
I. Upaya yang harus dilakukan dalam pengembangan kemampuan bahasa dan implikasinya bagi pendidikan...18
BAB III PENUTUP ...19
A. Kesimpulan ...19
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa remaja adalah bahasa yang telah berkembang yang ia telah banyak belajar dari lingkungan, dan dengan demikian bahasa remaja terbentuk dari kondisi lingkungan. Lingkungan remaja mencakup lingkungan keluarga, masyarakat dan khususnya pergaulan teman sebaya, dan lingkungan sekolah. Pola bahasa yang dimiliki adalah bahasa yang berkembang di dalam keluarga atau bahasa itu.
Perkembangan bahasa remaja dilengkapi dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat di mana mereka tinggal. Hal ini berarti pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan masyarakat sekitar akan memberi ciri khusus dalam perilaku bahasa. Bersamaan dengan kehidupannya di dalam masyarakat luas, anak (remaja) mengkutip proses belajar disekolah. Sebagaimana diketahui, dilembaga pendidikan diberikan rangsangan yang terarah sesuai dengan kaidah-kaedah yang benar. Proses pendidikan bukan memperluas dan memperdalam cakrawala ilmu pengetahuan semata, tetapi juga secara berencana merekayasa perkembangan sistem budaya, termasuk perilaku berbahasa. Pengaruh pergaulan di dalam masyarakat (teman sebaya) terkadang cukup menonjol, sehingga bahasa anak (remaja) menjadi lebih diwarnai pola bahasa pergaulan yang berkembang di dalam kelompok sebaya. Dari kelompok itu berkembang bahasa sandi, bahasa kelompok yang bentuknya amat khusus, seperti istilah baceman dikalangan pelajar yang dimaksudkan adalah bocoran soal ulangan atau tes. Bahasa prokem terutama secara khusus untuk kepentingan khusus pula.
pada umumnya memiliki status sosial lebih baik, menggunakan istilah-istilah lebih selektif dan umumnya anak-anak remajanya juga berbahasa lebih baik.
Fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Sejak bayi, manusia telah berkomunikasi dengan dunia lain. “tangis” atau menangis di saat kelahiran, merupakan arti bahwa di samping menunjukan gejala kehidupan juga merupakan cara bayi itu berkomunikasi dengan sekitar. Pengertian sebagai alat komunikasi dapat diartikan sebagai tanda, gerak, dan suara untuk menyampaikan isi pikiran pada orang lain. Dalam berbahasa ada dua pihak yang terlibat, pihak penyampai isi pikiran dan pihak penerima isi pikiran. Dalam percakapan atau berdialog, pihak-pihak itu saling berganti fungsinya, antara penerima dan penyampai isi pikiran.
Dalam perkembangan awal bahasa lisan, bayi menyampaikan isi pikiran atau perasaannya dengan taingis dan atau ocehan. Ia menangis atau mungkin menjerit jika tidak senang atau sakit dan mengoceh atau meraba jika sedang senang. Ocehan-ocehan itu semakin lama akan jelas, dan bayi itu mampu menirukan bunyi-bunyi yang didengarnya. Perkembangan lebih lanjut, seorang bayi (anak) yang telah berusia 6-9 bulan, mulai berkomunikasi satu kata atau dua kata, seperti “maem” dan “bu maem”. Dengan demikian seterusnya anak mulai mampu menyusun kalimat tiga kata untuk menyatakan maksud atau keinginannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari perkembangan bahasa? 2. Bagaimanakah tahap perkembangan bahasa?
3. Bagaimanakah karakteristik perkembangan bahasa remaja? 4. Apa faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa?
5. Apa perbedaan individual dalam kemampuan dan perkembangan bahasa? 6. Bagaimana hubungan kemampuan berbahasa terhadap kemampuan
berpikir?
9. Apa upaya yang harus dilakukan dalam pengembangan kemampuan bahasa dan implikasinya bagi pendidikan?
C. Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan perkembangan bahsa. 2. Mengetahui tahapan-tahapan perkembangan bahsa.
3. Memahami karakteristik perkembangan bahasa pada remaja.
4. Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa. 5. Memahami akan perbedaan individual dalam kemampuan dan
perkembangan bahasa
6. Memahami hubungan kemampuan berbahasa terhadap kemampuan berpikir
7. Mengetahui proses perkembangan bahasa peserta didik 8. Mengetahui hambatan perkembangan bahasa anak
9. Memahami upaya yang harus dilakukan dalam pengembangan bahasa dan implikasinya bagi pendidikan.
D. Manfaat
1. Menambah wawasan bagi penulis dan pembaca, terutama pengetahuan tentang perkembangan bahasa dalam mata kuliah perkembangan peserta didik.
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Perkembangan Bahasa
Berikut ini pendapat para ahli mengenai pengertian bahasa :
1. Bahasa merupakan media komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan (pendapat, perasaan, dll) dengan menggunakan simbol-simbol yang disepakati bersama, kemudian kata dirangkai berdasarkan urutan membentuk kalimat yang bermakna, dan mengikuti aturan atau tata bahasa yang berlaku dalam suatu komunitas atau masyarakat (Sinolungan, 1997; Semiawan, 1998).
2. Bahasa (language) merupakan sebarang bentuk komunikasi diantara orang-orang, baik yang bersifat verbal atau pun gerak isyarat dan sikap, penggunaan lambang-lambang dalam komunikasi (kamus umum psikologi).
3. Bahasa merupakan alat sosialisasi dan merupakan dasar perkembangan intelegensi (Prof. Dr. Utami Munandar, 1995:153).
4. Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Tercakup semua cara berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lambang atau simbol untuk mengungkapkan suatu pikiran, seperti dengan menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan, dan mimik wajah (Syamsu Yusuf, 2004:118)
Seorang ahli psikologi perkembangan dari Illinois State University Laura E. Berk (1989) menyatakan bahwa perkembangan bahasa merupakan kemampuan khas manusia yang paling kompleks dan mengagumkan.
perkembangan bahasa sebagai kemampuan individu dalam menguasai kosa kata, ucapan, gramatikal, dan etika pengucapannya dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan perkembangan umur kronologisnya.
Sesuai dengan fungsinya, bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seseorang dalam pergaulannya atau hubungannya dengan orang lain. Sejak seorang bayi mulai berkomunikasi dengan orang lain, sejak itu pula bahasa diperlukan.
Perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan kognitif, yang berarti faktor intelek/kognisi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Bayi, tingkat intelektualnya belum berkembang dan masih sangat sederhana. Semakin bayi itu tumbuh dan berkembang serta mulai mampu memahami lingkungan, maka bahasa mulai berkembang dari tingkat yang sangat sederhana menuju ke bahasa yang kompleks. Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh lingkungan, karena bahasa merupakan hasil belajar dari lingkungan. Anak (bayi) belajar bahasa seperti halnya belajar hal yang lain, “meniru” dan “mengulang” hasil yang telah didapatkan merupakan cara belajar bahasa awal. Belajar bahasa yang sebenarnya baru dilakukan oleh anak berusia 6-7 tahun, di saat anak mulai bersekolah. Jadi, perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi, baik alat komnikasi dengan cara lisan, tertulis, maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat. Mampu dan menguasai alat komunikasi di sini diartikan sebagai upaya seseorang untuk dapat memahami dan dipahami orang lain.
Beberapa bentuk bahasa yang sering dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain sebagai berikut:
1. Bahasa Lisan
intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan.
2. Bahasa Tulisan
Bahasa tulisan merupakan bahasa sekunder yang digunakan dengan memanfaatkan media tulis. Pengungkapan ide, pikiran dan perasaan dilakukan dengan menyusun huruf-huruf sebagai unsurnya. Huruf-huruf tersebut tersusun menjadi kata dan kalimat, yang merupakan ekspresi dari pikiran atau perasaan yang akan disampaikan. Dalam bahasa tulis, kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata, ataupun sususan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca digunakan untuk mengungkapkan ide yang dapat secara tepat dan benar ditangkap oleh pembaca, yaitu orang yang kita inginkan untuk menerima informasi tersebut. Kesalahan dalam penggunaan ejaan akan menimbulkan salah pengertian dan penafsiran dari maksud yang ingin kita sampaikan.
3. Bahasa Tubuh / Bahasa Isyarat
Bahasa tubuh adalah cara seseorang berkomunikasi dengan mempergunakan bagian-bagian dari tubuh, yaitu melalui gerak isyarat, ekspresi wajah, sikap tubuh, langkah serta gaya tersebut pada umumnya disebut bahasa tubuh. Bahasa tubuh sering kali dilakukan tanpa disadari. Tapi, bahasa tubuh atau bahasa isyarat dipergunakan secara sengaja oleh orang-orang tertentu yang memiliki keterbatasan dalam menggunakan bahasa lisan atau dalam situasi dan kondisi tertentu. Sebagaimana fungsi bahasa lain, bahasa tubuh juga merupakan ungkapan komunikasi yang paling nyata, karena merupakan ekspresi perasaan serta keinginan terhadap orang lain.
B. Tahapan Perkembangan Bahasa
kemampuan berbahasa merupakan hasil belajar individu dalam interaksinya dengan lingkungan. Pengusaan bahasa merupakan hasil dari penyatu paduan peristiwa-peristiwa linguistik yang diamati dan dialami selama masa perkembangannya. Menurut para penganut aliaran behavioristik, penggunana bahasa merupakan asosiasi yang terbentuk melalui proses pengondisian klasik (classical conditioning), pengondisian operan (operant conditioning), dan belajar sosial (social learning).
Secara umum, perkembangan keterampilan berbahasa pada individu menurut Berk (1989) dapat dibagi kedalam empat komponen, yaitu :
1. Fonologi (phonology), berkenaan dengan bagaimana individu memahami dan menghasilkan bunyi bahasa.
2. Semantik (semantics), merujuk kepada makna kata atau cara yang mendasari konsep-konsep yang diekspresikan dalam kata-kata atau kombinasi kata.
3. Tata bahasa (grammar), merujuk pada penguasaan kosa kata dan memodifikasikan cara-cara yang bermakna. Pengetahuan tentang grammar meliputi dua aspek utama, yakni :
a. Sintak (syntax), yaitu aturan-aturan yang mengatur bagaimana kata-kata disusun kedalam kalimat yang dapat dipahami.
b. Morfologi (morphology), yaitu apikasi gramatikal yang meliputi jumlah, tenses, kasus, pribadi, gender, kalimat aktif, kalimat pasif, dan berbagai makna lain dalam bahasa.
4. Prakmatik (pragmatics), merujuk kepada sisi komunikatif dari bahasa. Ini berkenaan dengan bagaimana menggunakan bahasa dengan baik ketika berkomunikasi dengan orang lain.
Dilihat dari perkembangan umur kronologis yang dikaitkan dengan perkembangan kemampuan berbahasa individu, tahapan perkembangan bahasa dapat dibedakan ke dalam tahap-tahap berikut ini :
Pada tahap ini anak mengeluarkan bunyi ujaran dalam bentuk ocehan yang mempunyai fungsi komunikatif. Pada umur ini anak mengeluarkan berbagai bunyi ujaran sebagai reaksi terhadap orang lain yang ada di sekitarnya sebagai upaya mencari kontak verbal.
2. Tahap holofrastik atau kalimat sau kata (1,0-1,8 tahun)
Pada usia sekitar satu tahun anak mulai mengucapkan kata-kata. Satu kata yang diucapkan oleh anak-anak harus dipandang sebgai suatu kalimat penuh mencakup aspek intelektual maupun emosional sebagai cara untuk menyatakan mau tidaknya terhadap sesuatu. Anak yang menyatakan “mobil” dapat berarti “saya mau main mobil-mobilan”, “saya mau ikut naik mobil sama ayah”, atau “saya minta diambilkan mobil mainan”, dan sebagainya.
3. Tahap kalimat dua kata (1,6-2,0 tahun)
Pada tahap ini anak mulai memilki banyak kemungkinan untuk menyatakan kemauannya dan berkomunikasi dengan menggunakan kalimat sederhana yang disebut dengan istilah “kalimat dua kata” yang dirangkai secara tepat. Misalnya, anak mengucapkan “mobil-mobilan siapa?” atau bertanya “itu mobil-mobilan milik siapa?”, dan sebagainya. 4. Tahap pengembangan tata bahasa awal (2,0-5,0 tahun)
Pada tahap ini anak mulai mengembangkan tata bahasa, panjang kalimat mulai bertambah, ucapan-ucapan yang dihasilkan semakin kompleks, dan mulai menggunakan kata jamak. Penambahan dan pengayaan terhadapa sejumlah dan tipe kata secara berangsr-angsur meningkat sejalan dengan kemajuan dalam kematangan perkembangan anak.
5. Tahap pengembangan tata bahasa lanjutan (5,0-10,0 tahun)
6. Tahap kompetensi lengkap (11,0 tahun-dewasa)
Pada akhir masa kanak-kanak, perbendaharaan kata terus meningkat, gaya bahasa mengalami perubahan, dan semakin lancar serta fasih dalam berkomunikasi. Keterampilan dan performansi taat bahasa terus berkembang ke arah tercapainya kompetensi berbahasa secara lengkap sebagai perwujudan dari kompetensi komunikasi.
C. Karakteristik Perkembangan Bahasa Remaja
Pengaruh lingkungan yang berbeda antara keluarga masyarakat, dan sekolah dalam perkembangan bahasa, akan menyebabkan perbedaan antara anak yang satu dengan yang lain. Hal ini ditunjukkan oleh pilihan dan penggunaan kosakata sesuai dengan tingkat sosial keluarganya. Keluarga dari masyarakat lapisan pendidikan rendah atau buta huruf, akan banyak menggunakan bahasa pasar, bahasa sembarangan, dengan istilah-istilah yang kasar. Masyarakat terdidik yang pada umumnya memiliki status sosial lebih baik, menggunakan istilah-istilah lebih selektif dan umumnya anak-anak remajanya juga berbahasa lebih baik.
D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
Berbahasa terkait erat dengan kondisi pergaulan. Oleh karena itu perkembangannya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Umur anak
Manusia bertambah umur akan semakin matang pertumbuhan fisiknya, bertambahnya pengalaman dan meningkatkan kebutuhan. Bahasa seseorang akan berkembang sejalan dengan pertambahan pengalaman dan kebutuhannya. Faktor fisik dan ikut mempengaruhi sehubungan semakin sempurnanya pertumbuhan organ bicara, kerja otot-otot untuk melakukan gerakan-gerakan dan isyarat. Pada masa remaja perkembangan biologis yang menunjang kemampuan berbahasa telah mencapai tingkat kesempurnaan, dengan dibarengi oleh perkembangan tingkat intelektual, anak akan mampu menunjukkan cara berkomunikasi dengan baik.
2. Kondisi lingkungan
Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang memberi andil untuk cukup besar dalam berbahasa. Perkembangan bahasa dilingkungan perkotaan akan berbeda dengan dilingkungan pedesaan. Begitu pula perkembangan bahasa di daerah pantai, pegunungan dan daerah-daerah terpencil menunjukkan perbedaan.
3. Kecerdasan anak
Untuk meniru bunyi atau suara, gerakan dan mengenal tanda-tanda, memerlukan kemampuan motorik yang baik. Kemampuan intelektual atau tingkat berpikir. Ketepatan meniru, memproduksi perbendaharaan kata-kata yang diingat, kemampuan menyusun kalimat dengan baik dan memahami atau menangkap maksud suatu pernyataan fisik lain, amat dipengaruhi oleh kerja pikir atau kecerdasan seseorang anak.
4. Status sosial ekonomi keluarga
Keluarga yang berstatus sosial ekonomi baik, akan mampu menyediakan situasi yang baik bagi perkembangan bahasa anak-anak dengan anggota keluarganya. Rangsangan untuk dapat ditiru oleh anak-anak dari anggota keluarga yang berstatus sosial tinggi berbeda dengan keluarga yang berstatus sosial rendah. Hal ini akan tampak perbedaan perkembangan bahasa bagi anak yang hidup di dalam keluarga terdidik dan tidak terdidik. Dengan kata lain pendidikan keluarga berpengaruh terhadap perkembangan bahasa.
5. Kondisi fisik
Kondisi fisik di sini kesehatan anak. Seseorang yang cacat yang terganggu kemampuannya untuk berkomunikasi, seperti bisu, tuli, gagap, dan organ suara tidak sempurna akan mengganggu perkembangan alam berbahasa.
E. Perbedaan Individual dalam Kemampuan dan Perkembangan Bahasa Menurut Chomsky (Woolfolk, dkk. 1984) anak dilahirkan ke dunia telah memiliki kapasitas berbahasa. Akan tetapi seperti dalam bidang yang lain, faktor lingkungan akan mengambil peranan yang cukup menonjol, mempengaruhi perkembangan bahasa anak tersebut. Mereka belajar makna kata dan bahasa sesuai dengan apa yang mereka dengar, lihat dan mereka hayati dalam hidupnya sehari-hari. Perkembangan bahasa anak terbentuk oleh lingkungan yang berbeda-beda.
adanya perbedaan individual anak, dan dengan demikian kemampuan mereka dalam bahasa juga bervariasi sesuai dengan varasi kemampuan mereka berpikir.
Bahasa berkembang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, karena kekayaan lingkungan akan merupakan pendukung bagi perkembangan peristilahan yang sebagian besar dicapai dengan proses meniru. Dengan demikian remaja yang berasal dari lingkungan yang berbeda juga akan berbeda-beda pula kemampuan dan perkembangan bahasanya.
F. Hubungan Kemampuan Berbahasa dengan Kemampuan Berpikir
Berpikir pada dasarnya merupakan rangkaian proses kognisi yang bersifat pribadi atau memprosesan informasi Yang berlangsung selama munculnya respons. Dalam proses berpikir digunakan simbol-simbol yang memiliki makna atau arti tertentu bagi masing-masing individu. Manifestasi dari proses berpikir manusia adalah bahasa.
Aktifitas berpikir individu sesungguhnya dibantu dengan menggunakan simbol-simbol verbal dan hukum tata bahasa guna menggabungkan kata-kata menjadi suatu kalimat yang bermakna. Betapapun seseorang dalam berpikir tidak mengeluarkan kata-kata secara eksplisit melainkan hanya di dalam hati, sesungguhnya ketika proses berpikir itu terjadi juga menggunakan bantuan bahasa. Hanya saja bahasa yang digunakannya hanya dilafalkannya di dalam hati. Misalnya ketika suatu saat seseorang menyaksikan pertandingan sepak bola kemudian setelah pulang ditanya tentang bagaimanan serunya proses pertandingan sepak bola tersebut. Orang tersebut pasti akan membayangkan setidak-tidaknya bagaimanan permainan sepakbola yang telah disaksikan tadi. Bagaimanan seorang pemain berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan, dan bagaimana bola dioperkan dari satu kaki ke kaki yang lain dari para pemain kemudian orang tersebut dapat menjelaskan dengan bahasa kepada orang yang bertanya tadi.
sangat membantu individu untuk berpikir. Bahasa juga mengekspresikan hasil pemikiran tersebut. Jadi, berpikir dan berbahasa merupakan dua aktivitas yang saling melengkapi dan terjadi dalam waktu yang relatif bersamaan. Seringkali dikatakan oleh banyak orang bahwa kemampuan berpikir seseorang menentukan dan sekaligus dapat memahami dari kemampuan bahasanya. Sebaliknya kemampuan bahasa seseorang merupakan pencerminan dari kemampuan berpikir seseorang.
Meskipun demikian, dalam kasus tertentu ada sejumlah orang yang kemampuan berpikirnya bagus tetapi kemampuan bahasanya kurang. Sebaliknya, ada juga orang pandai berbahasa tetapi kemampuan berpikirnya tidak sebagus kemampuan berbahasanya. Seringkali kita jumpa sejumlah orang yang mampu menulis dengan bagus untuk mengekspresikan pemikirannya, tetapi ketika diminta untuk mempresentasikan hasil tulisannya ternyata bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pikiran-pikirannya idak menarik. Sebaliknya, ada sejumlah orang yang ketika dipresentasikan pikiran-pikirannya sangat menarik bahkan sangat memukau banyak orang. Tetapi ketika diminta menuangkan pikiran-pikirannya dalam bentuk tulisan menjadi tidak menarik.
Secara rinci dapat didefinisikan sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu sebagai berikut.
1. Kognisi
Tinggi-rendahnya kemampuan kognisi individu akan mempengaruhi cepat-lambatnya perkembangan bahasa individu. Ini relevan dengan pembahasan sebelumnya bahwa terdapat korelasiyang signifikan antara pikiran dengan bahasa seseorang.
2. Pola komunikasi dalam keluarga
anggota keluarganya dibanding yang menerapkan pola komunikasi dan interaksi sebaliknya.
3. Jumlah anak atau anggota keluarga
Suatu keluarga yang memiliki banyak anak atau banyak anggota keluarga, perkembangan bahasa anak lebih cepat, karena terjadi komunikasi yang bervariasi dibandingkan keluarga yang hanya memiliki anak tunggal dan tidak ada anggota keluarga lain selain keluarga inti.
4. Posisi urutan kelahiran
Perkembangan bahasa anak yang posisi urutan kelahirannya di tengah akan lebih cepat ketimbang anak sulung atau anak bungsu. Hal ini disebabkan anak tengah memiliki arah komunikasi ke atas maupun ke bawah. Adapun anak sulung hanya memiliki arah komunikasi ke bawah saja dan anak bungsu hanya memiliki arah komunikasi ke atas saja.
5. Kedwibahasaan (bilingualism)
Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menggunakan bahasa lebih dari satu anak lebih bagus dan lebih cepat perkembangan bahasanya ketimbang yang hanya menggunakan satu bahasa saja karena anak terbiasa mengguanakan bahasa secara bervariasi. Misalnya, di dalam rumah dia menggunakan bahasa Sunda dan di luar rumah dia menggunakan bahasa Indonesia.
G. Proses Perkembangan Bahasa Peserta didik
Secara garis besar tahapan perkembangan bahasa pada anak dapat kita bagi menjadi tahap reflexsive vocalization, babling, lalling, echolalia, dan true speech.
1. Reflexsive Vocalization
Pada usia 0-3 minggu bayi akan mengeluarkan suara tangisan yang masih berupa refleks. Jadi, bayi menangis bukan karena ia memang ingin menangis tetapi hal tersebut dilakukan tanpa ia sadari.
2. Babling
Pada usia lebih dari 3 minggu, ketika bayi merasa lapar atau tidak nyaman ia akan mengeluarkan suara tangisan. Berbeda dengan sebelumnya, tangisan yang dikeluarkan telah dapat dibedakan sesuai dengan keinginan atau perasaan si bayi.
3. Lalling
Di usia 3 minggu sampai 2 bulan mulai terdengar suara-suara namun belum jelas. Bayi mulai dapat mendengar pada usia 2 s.d. 6 bulan sehingga ia mulai dapat mengucapkan kata dengan suku kata yang diulang-ulang, seperti: “pa….pa…, ma..ma….”
4. Echolalia
Di tahap ini, yaitu saat bayi menginjak usia 10 bulan ia mulai meniru suara-suara yang didengar dari lingkungannya, serta ia juga akan menggunakan ekspresi wajah atau isyarat tangan ketika ingin meminta sesuatu.
5. True Speech
Bayi mulai dapat berbicara dengan benar. Saat itu usianya sekitar 18 bulan atau biasa disebut batita. Namun, pengucapannya belum sempurna seperti orang dewasa.
Sementara itu, Tarigan (2009: 246-251) menjabarkan perkembangan bahasa menjadi beberapa tahapan.
1. Tahap Meraban (Pralinguistik) Pertama
Tahap ini disebut juga tahap omong-kosong, tahap kata tanpa makna awal tahap meraban kedua ini biasanya pada permulaan kedua, tahun pertama kehidupan. Anak-anak tidak mengahsilkan suatu kata yang dapat dikenal, tetapi mereka berbuat seolah-olah mengatur ucapan mereka sesuai dengan pola suku kata.
3. Tahap 1: Tahap Holofrastik (Tahap Linguistik Pertama)
Ini adalah tahap satu kata, yang dimulai sekitar usia satu tahun. Akan tetapi, justru pada saat inilah tahap-tahap perkembangan linguistik berhenti lalu dihubungkan dengan usia secara terpercaya. Ucapan satu kata pada periode ini disebut holofrase karena anak menyatakan makna keseluruhan frase atau kalimat dalam satu kata yang diucapkannya itu. 4. Tahap II : Ucapan-ucapan Dua-Kata
Tahap linguistik kedua ini biasanya dimulai menjelang hari ulang tahun kedua, tetapi seperti yang telah dikatakan dahulu, terdapat sejumlah variasi perseorangan di antara anak-anak normal. anak-anak memasuki tahap ini dengan pertama kali mengucapkan dua holofrase dalam rangkaian yang cepat. Misalnya, anak yang menggunakan holofrase mata dan mama mungkin menunjuk kepada bola mata dan ikuti oleh jeda sebentar, lalu kepada mama. Maknanya akan terlihat dari urutan “mata mama”,tetapi jelas anak itu telah mempergunakan dua buah holofrase untuk menyatakan makna tersebut. Segera setelah itu, anak mulai memakai ucapan-ucapan dua-kata, seperti saya makan, mau minum, dan sebagainya.
5. Tahap III: Pengembangan Tata Bahasa
6. Tahap IV: Tata Bahasa Menjelang Dewasa
Pada tahap IV, anak-anak memulai dengan struktur tata bahasa yang lebih rumit; banyak di antaranya yang melibatkan gabungan kalimat-kalimat sederhana dengan komplementasi, relativisasi dan konjungsi.
7. Kompetensi Lengkap
H. Hambatan Perkembangan Bahasa Anak
Keterlambatan berbicara tidak hanya mempengaruhi penyesuaian akademis dan pribadi anak, pengaruh yang paling serius adalah terhadap kemampuan membaca pada awal anak masuk sekolah. Banyak penyebab keterlambatan bicara pada anak.Salah satu penyebab tidak diragukan lagi paling umum dan paling serius adalah ketidakmampuan mendorong/memotivasi anak berbicara, bahkan pada saat anak mulai berceloteh. Apabila anak tidak diberikan rangsangan (stimulasi) didorong untuk berceloteh, hal ini akan menghambat penggunaan didalam berbahasa/kosa kata yang baik dan benar.
Kekurangan dorongan tersebut merupakan penyebab serius keterlambatan berbicara anak. Anak-anak dari golongan yang lebih atau menengah yang orang tuanya ingin sekali menyuruh mereka (anak) belajar berbicara lebih awal (cepat) dan lebih baik, sangat kurang kemungkinannya mengalami keterlambatan berbicara pada anak.Sedangkan anak yang berasal dari golongan yang lebih rendah yang orang tuanya tidak mampu memberikan dorongan tersebut bagi mereka, apakah kekurangan waktu/karena mereka tidak menyadari betapa pentingnya suatu perkembangan bicara pada anak didik tersebut.
Gangguan/bahaya didalam perkembangan bicara pada anak yaitu : 1. Kelemahan didalam berbicara (berbahasa) kosa kata,
2. Lamban mengembangkan suatu bahasa/didalam berbicara, 3. Sering kali berbicara yang tidak teratur,
Perkembangan berbicara merupakan suatu proses yang sangat sulit dan rumit. Terdapat beberapa kendala yang sering kali dialami oleh anak, antara lain:
1. Anak cengeng
Anak yang sering kali menangis dengan berlebihan dapat menimbulkan gangguan pada fisik maupun psikis anak. Dari segi fisik, gangguan tersebut dapat berupa kurangnya energi sehingga secara otomatis dapat menyebabkan kondisi anak tidak fit. Sedangkan gangguan psikis yang muncul adalah perasaan ditolak atau tidak dicintai oleh orang tuanya, atau anggota kcluarga lain. Sedangkan reaksi sosial terhadap tangisan anak biasanya bernada negatif. Oleh karena itu peranan orang tua sangat penting untuk menanggulangi hal tersebut, salah satu cara untuk mengajarkan komunikasi yang efektif bagi anak.
2. Anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain
Sering kali anak tidak dapat memahami isi pembicaraan orang tua atau anggota keluarga lain. Hal ini disebabknn kurangnya perbendaharaan kata pada anak. Di samping itu juga dikarenakan orang tua sering kali berbicara sangat cepat dengan mempergunakan kata-kata yang belum dikenal oleh anak. Bagi keluarga yang menggunakan dua bahasa (bilingual) anak akan lebih banyak mengalami kesulitan untuk memahami pembicaraan orang tuanya atau saudaranya yang tinggal dalam satu rumah. Orang tua hendaknya selalu berusaha mencari penyebab kesulitan anak dalam memahami pembicaraan tersebut agar dapat memperbaiki atau membetulkan apabila anak kurang mengerti dan bahkan salah mengintepretasikan suatu pembicaraan.
I. Upaya Pengembangan Bahasa dan Implikasinya bagi Pendidikan
adalah keputusan yang tidak bijaksana karena hasilnya yang kurang memuaskan. Intervensi pendidikan melalui proses belajar dari lingkungan dapat diupayakan dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi berkembangnya bahasa secara optimal. Lingkungan yang dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar dan berlatih mengembangkan kemampuan bahasa perlu dikembangkan secara maksimal, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Agar kemampuan berbahasa remaja dapat berkembang secara optimal, sejak dini anak perlu diperkenalkan dengan lingkungan yang memiliki kemampuan berbahsaa yang variatif. Situasi yang menunjang perkembangan bahasa juga perlu diciptakan dan dikembangkan oleh para guru di sekolah. Di sisi lain, masyarakat perlu memberikan dukungan yang bersifat kondisi psikologi dan sosiokultural bagi perkembangan bahasa remaja. Lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat sangat perlu menciptakan suasana yang dapat membesarkan hati atau mendorong anak atau remaja untuk berani mengomunikasikan pikiran-pikirannya. Cara demikian, akan sangat membantu perkembangan bahasa remaja karena mereka leluasa dan tidak dihantui oleh kecemasan dan ketakutan untuk mengomunikasikan apa saja yang dipikirkannya.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Seorang ahli psikologi perkembangan dari Illinois State University Laura E. Berk (1989) menyatakan bahwa perkembangan bahasa merupakan kemampuan khas manusia yang paling kompleks dan mengagumkan. Dilihat dari perkembangan umur kronologis yang dikaitkan dengan perkembangan kemampuan berbahasa individu, tahapan perkembangan bahasa dapat dibedakan ke dalam tahap-tahap berikut ini :
4. Tahap pengembangan tata bahasa awal (2,0-5,0 tahun) 5. Tahap pengembangan tata bahasa lanjutan (5,0-10,0 tahun) 6. Tahap kompetensi lengkap (11,0 tahun-dewasa)
Bahasa remaja adalah bahasa yang telah berkembang dilingkungan remaja dan dengan demikian bahasa remaja terbentuk dari kondisi lingkungan. Lingkungan remaja mencakup lingkungan keluarga, masyarakat dan khususnya pergaulan teman sebaya, dan lingkungan sekolah. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa adalah umur anak, kondisi lingkungan, kecerdasan anak, status sosial ekonomi keluarga, dan kondisi fisik
Berpikir dan berbahasa mempunyai korelasi tinggi; anak dengan IQ tinggi akan berkemampuan bahasa yang tinggi. Sebaran nilai IQ menggambarkan adanya perbedaan individual anak, dan dengan demikian kemampuan mereka dalam bahasa juga bervariasi sesuai dengan varasi kemampuan mereka berpikir. Berpikir dan berbahasa juga merupakan dua aktivitas yang saling melengkapi dan terjadi dalam waktu yang relatif bersamaan. Seringkali dikatakan oleh banyak orang bahwa kemampuan berpikir seseorang menentukan dan sekaligus dapat memahami dari kemampuan bahasanya. Sebaliknya kemampuan bahasa seseorang merupakan pencerminan dari kemampuan berpikir seseorang.
Tahapan-tahapan umum perkembangan kemampuan berbahasa seorang anak, yaitu:
1. Reflexsive Vocalization 2. Babling
3. Lalling 4. Echolalia 5. True Speech
yang menunjang perkembangan bahasa juga perlu diciptakan dan dikembangkan oleh para guru di sekolah. Di sisi lain, masyarakat perlu memberikan dukungan yang bersifat kondisi psikologi dan sosiokultural bagi perkembangan bahasa remaja. Lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat sangat perlu menciptakan suasana yang dapat membesarkan hati atau mendorong anak atau remaja untuk berani mengomunikasikan pikiran-pikirannya.
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Mohammad Ali dan Mohammad Asrori. 2012. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Sunarto dan Ny. B. Agung Hartono. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.
Muhammad Asyam Farrosi (2013). Makalah Perkembangan Bahasa Peserta Didik (Online). Tersedia di: http://asyamforex.blogspot.com/2013/12/makalah-perkembangan-bahasa
peserta.html. Di akses: 10 Februari 2014.
Fathia Shan (2012). Pertumbuhan dan Perkembangan Bahasa (Online).
Tersedia di :