• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proposal Skripsi Hukum A. PERKEMBANGAN M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Proposal Skripsi Hukum A. PERKEMBANGAN M"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Proposal Skripsi Hukum

A. PERKEMBANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM SISTEM KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA PASCA TERBITNYA UNDANG NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI.

B. Latar Belakang Masalah

Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) telah melahirkan lembaga baru yang menjadi bagian dari kekuasaan kehakiman. Dengan kewenangan khusus yang merupakan salah satu bentuk judicial control dalam kerangka sistem checks and balances diantara cabang-cabang kekuasaan pemerintahan. Pasal 24 ayat (2) UUD 1945 mengatakan bahwa: “kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi”. [1] Mahkamah Konstitusi adalah bagian dari kekuasaan kehakiman, merupakan kekuasaan yang merdeka guna menegakkan hukum dan keadilan, Mahkamah Konstitusi bukan bagian dari Mahkamah Agung dalam makna perkaitan struktur unity of jurisdiction, seperti halnya dalam sistem hukum Anglo Saxon, tetapi berdiri sendiri serta terpisah dari Mahkamah Agung secara duality of jurisdiction. Mahkamah Konstitusi berkedudukan setara dengan Mahkamah Agung. Keduanya adalah penyelenggara tertinggi dari kekuasaan kehakiman. Keberadaan dan kewenangan Mahkamah Konstitusi kemudian dipertegas kembali dengan lahirnya Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan oleh presiden pada tanggal 25 Agustus Tahun 2003 yaitu Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi yang kemudian dalam perkembangannya diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011. Mahkamah Konstitusi merupakan salah satu pelaku kekuasaan kehakiman yang berfungsi menangani perkara tertentu dibidang ketatanegaraan dalam rangka menjaga ( to guard ) konstitusi agar dilaksanakan secara bertanggung jawab sesuai dengan kehendak rakyat

dan cita-cita demokrasi.

Dalam menjalankan fungsinya Mahkamah Konstitusi digariskan kewenanganya oleh Undang-undang Dasar 1945, Pasal 24C ayat (1) dan ayat (2) :

1. Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusanya bersifat final untuk menguji Undang-undang terhadap Undang-undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenanganya diberikan oleh Undang-undang Dasar, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil Pemilu.

(2)

Dari perspektif demokrasi, keempat kewenangan dan satu kewajiban konstitusional tersebut memiliki peran strategis dalam pengembangan dan penguatan demokrasi di Indonesia. Mekanisme pengujian undang-undang terhadap UUD 1945 merupakan upaya paling absah untuk menjamin dan memastikan bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan yang menjadi penuntun penyelenggaraan negara selaras dan tidak bertentangan dengan UUD 1945. Judicial review merupakan hak uji (toetsingrechts) baik secara materiil maupun formil yang diberikan kepada hakim atau lembaga peradilan untuk menguji kesahihan dan daya laku produk-produk hukum yang dihasilkan oleh eksekutif, legislatif, maupun yudikatif di hadapan peraturan perundangan yang lebih tinggi derajat dan hierarkinya. Dengan begitu, judicial review bekerja atas dasar adanya peraturan perundang-undangan yang tersusun hierarkis. Pengujian biasanya dilakukan terhadap norma hukum secara a posteriori, kalau dilakukan secara a priori disebut judicial preview sebagaimana misalnya dipraktekkan oleh Counseil Constitusional (Dewan Konstitusi) di Prancis. Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 menyatakan bahwa MK menguji undang terhadap UUD, artinya yang diuji bukan rancangan undang melainkan undang-undang yang sudah berlaku karena secara formil sudah diundang-undangkan (promulgated).[2] Walaupun lembaga ini masih bisa dibilang baru, Mahkamah Konstitusi mampu memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam memberikan warna bagi kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya menjaga kemurnian konstitusi. Banyak putusan Mahkamah Konstitusi sering mengagetkan banyak orang. Keputusan Mahkamah Konstitusi dapat dikatakan sangat berani dan menimbulkan perdebatan bagi kalangan ahli hukum serta politisi. Beberapa putusannya yang menimbulkan perdebatan pro dan kontra antara lain mengenai surat Ketua Mahkamah Konstitusi kepada Presiden yang berisi “mengingatkan” Presiden bahwa dalam penerbitan Kepres 55 Tahun 2005 tentang Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak Dalam Negeri, seharusnya memperhatikan Putusan Mahkamah Konstitusi RI tanggal 21 Desember 2004 (Tambahan Berita Negara Republik Indonesia No. 1 tahun 2005 tanggal 4 Januari 2005), yang telah menyatakan beberapa pasal undang-undang tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.[3]

Perkembangan terakhir ini telah menimbulkan perdebatan tentang posisi MK dalam format ketatanegaraan RI. Bagaimana mungkin sembilan hakim konstitusi dapat menggugurkan putusan berupa produk undang-undang yang telah diputuskan oleh 550 orang anggota DPR bersama Presiden. Persoalan yang lebih jauh lagi, dengan suratnya kepada Presiden tersebut, MK seakan-akan hendak mengawasi dan “mengeksekusi” sendiri pelaksanaan putusannya agar dihormati. Mahfud MD, menjelaskan dalam makalahnya bahwa alasan terbesar yang mendasari diakomodirnya Mahkamah Konstitusi dalam sistem ketatanegaraan Indonesia ialah hukum atau peraturan perundang-undangan yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga politik meskipun dibentuk secara demokratis, berpotensi menyimpan muatan kepentingan yang tidak sejalan dengan ketentuan konstitusi. Alasannya sederhana. sebagai produk dari lembaga politik boleh dipastikan di dalamnya bukan lain merupakan manifestasi dari kepentingan politik. Hal demikian wajar, namun masalahnya adalah ketika kepentingan-kepentingan dalam peraturan perundang-undangan itu bertentangan dengan

prinsip-prinsip dalam konstitusi.[4]

(3)

huruf b dikarenakan UU Nomor 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi sebagian sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan hukum dan kehidupan ketatanegaraan. Dr. Maruarar Siahaan juga menambahkan bahwa pengaturan hukum acara dalam Undang-undang Mahkamah Konstitusi sangat sumir, sehingga terdapat begitu banyak kekosongan. Akan tetapi, sejak awal pembuat undang-undang telah menyadari hal tersebut, baik karena keterbatasan waktu maupun kurangnya sumber acuan yang dapat digunakan sebagai bahan dalam menyusun hukum acara di Mahkamah Konstitusi, sehingga pengembangan lebih lanjut aturan hukum acara yang dibutuhkan diserahkan kepada Mahkamah Konstitusi untuk mengatur hal-hal yang diperlukan bagi kelancaran pelaksanaan tugas dan wewenangya (Pasal 86 UU

Nomor 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi).[5]

Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof. Dr. Mahfud MD, memperkirakan pasca terbitnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tugas Mahkamah Konstitusi akan semakin sulit dan kompleks permasalahan yang harus dihadapi MK dalam mengawal konstitusi kedepan, ditambah lagi dengan upaya pihak-pihak yang ingin menghancurkan kredibilitas Mahkamah Konstitusi melalui cara mengintervensi hakim konstitusi membuat rintangan semakin keras dan pelik.[6] Para akademisi menilai bahwa terbitnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 Tentang Perubahan Terhadap Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi, sejumlah pasal yang dirubah bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 karena berpotensi merusak dan melemahkan Mahkamah Konstitusi.sehingga mereka pada akhirnya berbondong-bondong menuju Mahkamah Konstitusi untuk melakukan Uji Materil dengan Perkara Sidang Nomor 49/PHPU.D-IX/2011 Perihal Permohonan Pengujian Undang-undang Nomor 8 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 Tentang

Mahkamah Konstitusi.[7]

Sampai saat ini, terbitnya Undang-undang Nomor 8 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 24 Tahun 2004 Tentang Mahkamah Konstitusi masih menjadi perdebatan disana-sini. Dari permasalahan tersebut penulis tertarik untuk mengambil judul mengenai PERKEMBANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM SISTEM KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA PASCA TERBITNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG-UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI.

C. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah diatas, penulis akan mengemukakan beberapa masalah, antara lain :

1. Apakah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi sudah senafas dengan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 ?

2. Apakah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi berpotensi merusak dan melemahkan Mahkamah Konstitusi ?

(4)

D. Maksud dan Tujuan Penelitian Adapun tujuan penulisan ilmiah ini yaitu :

1. Sebagai sumbang pikir bagi Mahkamah Konstitusi dalam menganalisa Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi.

2. Memberikan masukan dalam rangka penyempurnaan Undang-Undang Mahkamah Konstitusi agar lebih progresif dimasa yang akan datang.

E. Kerangka Pemikiran

1. Kerangka Teoritis

Fenomena keberadaan lembaga Mahkamah Konstitusi dalam dunia ketatanegaraan dewasa ini, secara umum memang dapat dikatakan merupakan sesuatu yang baru. Diseluruh negara didunia ini, Mahkamah Konstitusi dikenal di 78 negara. Sebagian besar Negara-negara demokrasi yang sudah mapan, kecuali Jerman, tidak mengenal Mahkamah Konstitusi yang berdiri sendiri. Fungsinya bisa dicakup dalam fungsi supreme court yang ada disetiap Negara. Salah satu contohnya ialah Amerika Serikat. Fungsi-fungsi yang dapat dibayangkan sebagai fungsi Mahkamah Konstitusi seoerti judicial review dalam rangka menguji konstitusionalitas materi suatu undang-undang dikaitkan dengan kewenangan Mahkamah Agung (supreme court). [8]

Paham Konstitusionalisme memberi dasar atas susunan ketatanegaraan Negara hukum. Didalam konstitusi ditentukan lembaga-lembaga Negara serta kewenanganya, baik wewenang antar lembaga Negara secara horizontal, maupun secara vertical, yaitu yang berkaitan dengan penggunaan wewenang tersebut kepada rakyat. Sesuai dengan asas Negara hukum, maka setiap

penggunaan wewenang harus mempunyai dasar legalitasnya.[9]

Sejarah berdirinya lembaga Mahkamah Konstitusi (MK) diawali dengan diadopsinya ide Mahkamah Konstitusi (Constitutional Court) dalam amandemen konstitusi yang dilakukan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada tahun 2001 sebagaimana dirumuskan dalam ketentuan Pasal 24 ayat (2), Pasal 24C, dan Pasal 7B Undang-Undang Dasar 1945 hasil Perubahan Ketiga yang disahkan pada tanggal 9 Nopember 2001. Ide Pembentukan Mahkamah Konstitusi merupakan perkembangan pemikiran hukum dan kenegaraan modern yang muncul di

abad ke-20.[10]

(5)

sebuah kondisi yang tidak lengkap dalam struktur ketatanegaraan Indonesia, kekosongan atau ketidaklengkapan kewenangan lembaga yudikatif dalam struktur kelembagaan Negara Indonesia. Sampai saat ini masih terjadi perdebatan mengenai legitimasi sebuah Mahkamah Konstitusi. Paling tidak ada 2 (dua) kelompok paham yang berkembang. Pertama, Negara-negara yang menganut ultra vires dan Negara-negara yang mengatur paham konstitusi sebagai dasar hukum pokok Negara. Paham pertama dianut oleh Negara-negara seperti Inggris, Swedia, dan Prancis, sedangkan paham kedua dianut oleh Negara seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Australia.

Negara-negara penganut paham kedua, legitimasi Mahkamah Konstitusi beranjak dari asumsi perlunya jaminan perlindungan pembagian kekuasaan yang demokratis (baik secara vertical maupun horizontal). Hal ini mensyaratkan sebuah konstitusi yang tertulis sebagai hukum dasar (hukum tertinggi) Negara dan pembagian kekuasaan klasik antara legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Legitimasi Mahkamah Konstitusi terletak pada kesesuaian antara undang-undang yang dihasilkan parlemen dengan konstirusi Negara dan pada keseimbangan kekuasaan antar organ tinggi Negara lainya. Maka Mahkamah Konstitusi bertujuan menjamin perlindungan hak-hak dasar rakyat yang ditetapkan konstitusi serta hubungan harmonis antar lembaga Negara dalam kerangka Negara demokratis.[12]

1. Kerangka Konseptual

Dalam Kerangka Konseptual penulis memberikan beberapa definisi operasional sebagai berikut :

1. Perkembangan merupakan serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman dan terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif ( E.B. Harlock ).

2. Konstitusi adalah konstitusi adalah keseluruhan sistem ketaatanegaraaan suatu negara yang berupa kumpulan peraturan yang membentuk mengatur/memerintah dalam pemerintahan suatu negara.( K. C. Wheare )

3. Mahkamah Konstutusi adalah pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.[13]

4. Sistem ketatanegaraan adalah seperangkat prinsip dasar yg mencakupi peraturan susunan pemerintah, bentuk negara, dan sebagainya yg menjadi dasar pengaturan suatu negara. [14]

5. Undang-Undang adalah Peraturan Perundang undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden.[15]

F. Metode Penelitian

Metode Penelitian yang digunakan dalam penulisan hukum ini adalah sebagai berikut:

1. Sifat Penelitian

(6)

hukm.

2. Metode Pendekatan

Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif ( penelitian normatif ), yaitu menguji dan engkaji data penelitian yang diperoleh dengan bertitik tolak pada aspek hukum ( yuridis ).

3. Metode Pengumpulan Data

Penelitian Kepustakaan ( Library Research ) dipilih oleh penulis untu memperoleh data sekunder yang terdiri dari:

1. Bahan hukum primer meliputi : peraturan perundang-undangan yang terkait.

2. Bahan hukum sekunder meliputi : buku-buku literatur, karya-karya ilmiah, artikel-artikel, dan dokumen-dokumen tertulis lainya.

4. Metode AnalisisData-data penelitian yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara kualitatif, yang berarti menjabarkan dengan kata-kata sehingga menjadi kalimat yang mudah dimengerti,

sistematis, dan dapat dipertanggung-jawabkan.

G. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan hukum ini, penulis membagi pembahasan masalah kedalam 5 (lima) bab. Adapun sistematika penulisan hukum ini adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Merupakan bagian pendahuluan yang berisikan pemaparan latar belakang, perumusan pokok permasalahan, tujuan penelitian, kerangka teoritis, dan kerangka kenseptual, metode penelitian,

dan sestematika penulisan.

BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI KEKUASAAN KEHAKIMAN DALAM

SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA

Dalam bab ini memaparkan tinjauan tentang Negara hukum, fungsi dan asas kekuasaan kehakiman di Indonesia, Lembaga-lembaga pelaku kekuasaan kehakiman di Indonesia, dan

independensi peradilan dan independensi hakim.

BAB III TINJAUAN UMUM MENGENAI MAHKAMAH KONSTITUSI Didalamnya akan diulas mengenai keberadaan Mahkamah Konstitusi dalam system ketatanegaraan Indonesia, sejarah berdirinya Mahkamah Konstitusi, kedudukan, fungsi, dan

kewenangan Mahkamah Konstitusi.

BAB IV ANALISIS PERKEMBANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM SISTEM KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA PASCA TERBITNYA UNDANG NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI Pembahasan dalam bab ini berisikan analisa Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi kemudian mendeskripsikan pengaruh perubahan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003

(7)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Dalam bab ini penulis akan mengemukakan beberapa kesimpulan sekaligus memberikan jawaban atas identifikasi masalah. Selanjutnya penulis akan mengetengahkan saran-saran yang kiranya dapat memberikan masukan dan pemikiran sebagai solusi terhadap

kelemahan-kelemahan yang ditemukan.

Referensi

Dokumen terkait

Married by Accident, Anak Zina dalam Hukum Islam, dan Dampak Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang Anak Luar Nikah .... Married by Accident dan Status Anak Sah

negative legislator pasca Lahirnya Undang- Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi: “Tidak terjadi

Dalam Undang-Undang No 8 Tahun 2011 tentang Mahkamah Konstitusi tidak diatur dengan jelas tentang konsep pihak terkait dalam persidangan konstitusi, maka

d. Tidak membuat rekam medik. Bahwa Pertanggungjawaban Malpraktek menurut Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi, yaitu bahwa

Untuk pertama kalinya, kepercayaan terhadap Mahkamah Konstitusi berada pada titik nadir. Pasca penangkapan ketuanya, kepercayaan publik terhadap MK merosot dibawah 30 %. Publik

Berdasarkan uraian putusan mahkamah konstitusi terhadap Judicial Review Undang Undang Nomor 22 Tahun 2001 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 dan Undang-undang Nomor

dalam Pasal 36 huruf b Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 06/PMK/2005 tentang Pedoman Beracara dalam Perkara Pengujian Undang-Undang yang menyatakan bahwa hanya

1 TAHUN 1974 DAN KITAB UNDANG- UNDANG HUKUM PERDATA TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERJANJIAN PERKAWINAN PASCA PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69/PUU-