BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Belajar merupakan proses memperoleh pengetahuan, kemampuan berpikir dan penyesuaian tingkah laku seseorang terhadap hal-hal yang dilihat secara visual. Belajar pula dapat dikatakan sebuah proses pengendalian dan perubahan diri dari pengalaman sebelumnya ke arah yang lebih baik. Belajar tidak hanya dilihat dari apa yang dia baca, tetapi belajar juga dapat dilihat dari audio visual.
Pada era modern ini, tidak hanya orang dewasa saja yang dapat menikmati canggihnya teknologi, tetapi anak kecil pun dapat menikmatinya. Semakin canggih teknologi, semakin banyak pula peminatnya, contohnya internet. Internet yang sudah ada sejak tahun 1995 ini tidak hanya dibutuhkan oleh karyawan kantor ataupun pekerja lainnya, karena kini internet bisa juga dibutuhkan dalam pendidikan. Jadi, tidak hanya membaca buku yang dapat mengolah dan mendapatkan informasi, internet pun bisa bahkan lebih meluas dari buku.
Dari tahun ke tahun, internet semakin meluas jaringannya, bahkan sampai ke penjuru negara. Pencarian informasi melalui internet pun lebih cepat dan mudah dilakukan. Oleh karena itu, pelajar dan mahasiswa dapat menggunakannya kapan dan dimana saja. Mereka memiliki caranya sendiri untuk memperoleh pengetahuan, terutama memperoleh pengetahuan di sekolah. Siswa pun memiliki caranya sendiri untuk mendapatkan pengetahuan selain yang diajarkan oleh pendidik di sekolah.
kehidupan.1Menurut Rahardjo (2002) sebagaimana dikutip di situs depdiknas,
bahwa manfaat internet bagi pendidikan adalah dapat menjadi akses kepada sumber informasi, akses kepada nara sumber, dan sebagai media kerjasama (pustekkom.depdiknas.go.id).
Internet memang banyak sekali manfaatnya untuk kita yang membutuhkan perubahan di zaman modern ini. Penyertaan internet dalam pengajaran dan pembelajaran telah mengubah strategi pengajaran di kelas. Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru, sekarang telah bergeser ke arah peningkatan fokus dan peran siswa dan partisipasi aktif mereka dalam proses belajar mengajar. Ini adalah fakta tak terbantahkan bahwa banyak lembaga pembelajaran menemukan metode-metode dan cara baru dalam rangka menjembatani efisiensi dengan teknologi pembelajaran.
Mengingat pentingnya peranan internet dalam meningkatkan pengetahuan dan wawasan siswa tentang materi yang teleh diberikan guru, sudah selayaknya setiap siswa untuk memiliki pengetahuan tentang cara penggunaan internet. Harapannya dengan banyak berinternet yang berhubungan dengan mata pelajaran serta hal-hal lainnya yang masih berkaitan dengan pelajaran, prestasi belajar yang akan dicapai siswa tersebut akan lebih baik. Sebagai konsekwensi keaktifannya berinternet, siswa dapat memenuhi kebutuhan materi pelajaran yang lebih baik disamping menggunakan perpustakaan sekolah maupun perpustakaan di tempat-tempat lainnya. Tetapi pada kenyataannya kini anak-anak remaja SMP malah menyalah artikan pemanfaatan internet yang pendidik arahkan, karena mereka lebih senang bermain dan bersenang-senang di dunia maya dan mengesampingkan kewajibannya untuk mengerjakan tugas.Disini dapat kita lihat, apakah internet selalu bersifat positif untuk pelajar, khususnya anak-anak yang sedang beranjak remaja, ataukah sebaliknya? Apakah internet memiliki dampak negatif bagi pelajar yang membiasakan dirinya tergantung pada internet ketika mendapat tugas dari sekolah?
Ada pepatah mengatakan “kejarlah ilmu walau sampai ke negeri cina” itu membuktikan bahwa pendidikan sangatlah penting, bukan saja untuk diri sendiri, tapi dengan pendidikan kita dapat merealisasikan bakat-bakat yang dimiliki.Di dalam setiap pembelajaran tentu memiliki metode yang beraneka ragam. Seperti dalam penelitian ini. Setiap metode memiliki keunggulan dan kelemahan. Di dalam penelitian ini, penulis akan mengkaji serta membandingkan antara metode dengan menggunakan media internet dengan menggunakan media buku. Tetapi apakah dengan memakai media internet yang mengesampingkan buku pelajaran, siswa akan lebih baik dalam prestasinya di sekolah atau malah sebaliknya?Bagaimana tingkat konsentrasi belajar siswa yang sehari-harinya sudah terbiasa menggunakan internet dengan siswa yang terbiasa menggunakan media buku?
Oleh karena itu, melalui penelitian ini penulis ingin mengetahui perbandingan cara belajar siswa yang sehari-harinya memperoleh pengetahuan dengan membaca buku dengan siswa yang memperoleh pengetahuan dengan mencari di situs web (internet) terhadap tingkat konsentrasi belajar yang diperoleh siswa tersebut di Sekolah Menengah Pertama.
Dalam penelitian ini, penulis mengklasifikasikannya menjadi tiga bab. Bab pertama berisi pendahuluan, bab kedua berisi kajian teori, dan bab ketiga berisi metodologi penelitian.
B. Identifikasi Masalah
C. Pembatasan Masalah
Dari sekian banyak masalah yang telah diidentifikasikan, maka masalah pokok yang menjadi pembahasan dalam penelitian ini ditekankan kepada perbandingan antara cara belajar menggunakan media buku dengan media internet terhadap tingkat konsentrasi belajar siswa SMP.
D. Perumusan Masalah
1. Apakah perbandingan antara media belajar menggunakan buku dengan media belajar internet terhadap tingkat konsentrasi belajar siswa?
2. Apakah ada pengaruh cara belajar antara melalui buku dan pemanfaatan internet terhadap hasil belajar siswa?
3. Apakah internet dapat memberikan banyak dampak positif bagi siswa?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin di capai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Untuk mengetahui pemanfaatan internet bagi siswa SMP.
Untuk mengetahui dampak negatif dari metode belajar melalui media internet bagi siswa SMP.
Untuk mengetahui perbandingan cara belajar siswa yang menggunakan media buku dengan yang menggunakan media internet dalam kesehariannya terhadap tingkat konsentrasi belajar yang berpengaruh pada hasil belajarnya.
F. Manfaat Penelitian
Peneliti dapat mengetahui mengetahui dampak negatif dari metode belajar melalui media internet bagi siswa SMP.
Peneliti dapat mengetahui perbandingan cara belajar siswa yang menggunakan media buku dengan yang menggunakan media internet dalam kesehariannya terhadap tingkat konsentrasi belajar yang berpengaruh pada hasil belajarnya.
Dengan adanya penelitian ini dapat menjadi tambahan masukan bagi orang tua dan pendidik agar lebih mengarahkan anaknya kepada keseimbangan antara prestasi belajar dan bermain.
BAB II KAJIAN TEORI
A. Landasan Teori
Penggunaan media belajar buku dengan media belajar internet dalam kegiatan pembelajaran
Pendidikan merupakan sarana mutlak yang dipergunakan untuk mewujudkan masyarakat madani yang mampu menguasai, mengembangkan, mengendalikan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam arti kata, peserta didik atau lebih sering disebut siswa selain mampu memperoleh ilmu pengetahuan dari buku, ia pun dituntut harus mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan teknologinya. Rata-rata hampir di setiap sekolah baik itu SD, SMP, maupun SMA telah diajarkan pemanfaatan internet. Namun terkadang, banyak siswa yang menyalah artikan pemanfaatan tersebut.
Untuk mencapai keberhasilan dalam kegiatan pengajaran, kita sebagai pendidik pun harus mampu mengajarkan kepada siswanya agar dapat mengatur waktu belajar dan bermain. Langkah-langkah yang diambil termasuk didalamnya adalah menentukan metode dan media belajar yang baik. Agar siswa dapat mengatur pula mana yang seharusnya bermanfaat bagi pembelajaran dan mana yang seharusnya dihindari.
a. Teori Konsentrasi Belajar
lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Sejalan dengan perumusan itu, berarti pula belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Demikian pula dengan Suyono dan Hariyanto (2011:9) menyatakan bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian”.2
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu sebagai hasil dari pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Sebagai contoh, ketika lingkungannya sedang memenuhi zamannya bermain game online bermain dengan dunia maya di internet, maka individu tersebut akan mengikuti pola perilaku yang ada pada sekitarnya.
Konsentrasi belajar menurut Daud (2010) menjelaskan bahwa konsentrasi belajar adalah pemusatan perhatian dalam proses perubahan tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan, dan penilaian terhadap sikap dan nilai-nilai, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai bidang studi.3 Agar
dapat individu berkonsentrasi pada suatu hal, yang pertama harus ia lakukan adalah menyukai suatu hal tersebut. Karena jika tidak, individu tersebut tidak akan dapat berkonsentrasi atau fokus pada suatu hal yang ia kerjakan itu. Sama halnya dengan siswa, untuk mendapatkan pusat perhatian dari siswa, pendidik harus membuatnya suka terlebih dahulu pada pelajaran.
Konsentrasi bukanlah suatu sifat yang selalu dan setiap waktu ada, melainkan suatu kemampuan yang dalam ukuran tertentu bergantung pada situasi. Karena konsentrasi merupakan suatu aspek dalam bekerja yang keberadaannya selalu diperlukan ketika seseorang 2Diakses melalui : http://www.konsistensi.com/2013/01/teori-konsentrasi-belajar.html Pada
tanggal 18 Juni 2013 pukul 14.00 WIB
harus mengolah informasi yang dilakukan secara sadar. Untuk itu, dalam konteks ini informasi yang digunakan bukan sembarang informasi melainkan berupa informasi pilihan yang harus diolah pada kurun waktu tertentu. Ketika seseorang sedang berkonsentrasi, objek yang difokuskan hanya objek yang menjadi target utama konsentrasi, sehingga informasi yang diperoleh hanyalah informasi yang telah dipilih. Fokus yang ditajamkan meningkatkan kemungkinan seseorang dapat menyerap dan memahami informasi yang didapat.
b. Ciri-ciri Siswa yang Dapat Berkonsentrasi Belajar
Ciri-ciri siswa yang dapat berkonsentrasi saat belajar berkaitan dengan perilaku belajar yang meliputi perilaku kognitif, perilaku afektif, dan perilaku psikomotor.4 Karena belajar merupakan aktivitas
yang berbeda-beda pada berbagai bahan pelajaran, maka perilaku konsentrasi belajar tidak sama pada perilaku belajar tersebut. Engkoswara dalam Tabrani (1989:10) menjelaskan klasifikasi perilaku belajar yang dapat digunakan untuk mengetahui ciri-ciri siswa yang dapat berkonsentrasi belajar sebagai berikut.
a. Perilaku kognitif, yaitu perilaku yang menyangkut masalah pengetahuan, informasi, dan masalah kecakapan intelektual. Pada perilaku kognitif ini, siswa yang memiliki konsentrasi belajar dapat ditengarai dengan:
(1)kesiapan pengetahuan yang dapat segera muncul bila diperlukan,
(2) komprehensif dalam penafsiran informasi, (3) mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh,
(4) mampu mengadakan analisis dan sintesis pengetahuan yang diperoleh.
b. Perilaku afektif, yaitu perilaku yang berupa sikap dan apersepsi. Pada perilaku ini, siswa yang memiliki konsentrasi belajar dapat ditengarai:
(1) adanya penerimaan, yaitu tingkat perhatian tertentu,
(2) respon, yaitu keinginan untuk mereaksi bahan yang diajarkan, (3) mengemukakan suatu pandangan atau keputusan sebagai integrasi dari suatu keyakinan, ide dan sikap seseorang.
c. Perilaku psikomotor. Pada perilaku ini, siswa yang memiliki konsentrasi belajar dapat ditengarai:
(1) adanya gerakan anggota badan yang tepat atau sesuai dengan petunjuk guru,
(2) komunikasi non verbal seperti ekspresi muka dan gerakan-gerakan yang penuh arti.
d. Perilaku berbahasa. Pada perilaku ini, siswa yang memiliki konsentrasi belajar dapat ditengarai adanya aktivitas berbahasa yang terkoordinasi dengan baik dan benar.
Selain itu, banyak faktor yang mempengaruhi konsentrasi belajar pada siswa. Menurut (Tonie Nase: 2007) Konsentrasi belajar siswa, dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti di bawah ini:
Lingkungan
1. Suara. Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk reaksi pada suara, ada yang menyukai belajar sambil mendengarkan musik, belajar ditempat ramai, dan bersama teman. Tetapi ada pula yang hanya dapat belajar ditempat yang tenang tanpa suara, atau ada juga yang dapat belajar ditempat dalam keadaan apapun.
2. Pencahayaan. Pencahayaan merupakan salah satu faktor yang pengaruhnya kurang begitu dirasakan dibandingkan pengaruh suara, tetapi terdapat juga seseorang yang senang belajar ditempat terang, atau senang belajar ditempat yang gelap, tetapi kenyamanan visual dapat juga digolongkan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kenyamanan di dalam ruangan maupun bangunan, contohnya seperti rumah.
3. Temperatur. Temperatur sama seperti faktor pencahayaan, merupakan faktor yang pengaruhnya kurang begitu dirasakan dibandingkan pengaruh suara, tetapi terdapat juga seseorang yang senang belajar ditempat dingin, atau senang belajar ditempat yang hangat, dan juga senang belajar ditempat dingin maupun hangat. Tetapi terkadang, temperatur tidak terlalu dipermasalahan dalam konsentrasi belajar siswa.
4. Desain Belajar. Desain belajar pula merupakan salah satu faktor yang memiliki pengaruh juga, yaitu sebagai media atau sarana dalam belajar, seperti halnya terdapat seseorang yang senang belajar ditempat santai sambil duduk di kursi, sofa, tempat tidur, maupun di karpet. Cara tersebut merupakan salah satu cara yang dapat membuat kita lebih dapat berkonsentrasi.
Modalitas Belajar
meningkatkan konsentrasi belajar siswa sehingga hasil belajarnya pun akan meningkat pula.
Semakin banyak informasi yang diterima dan diserap oleh siswa, maka kemampuan berkonsentrasi pun harus semakin baik dan fokus dalam mengikuti setiap proses pembelajaran. Banyak cara yang ditawarkan oleh para ahli dalam meningkatkan konsentrasi belajar siswa, kemudian dapat juga dengan mengatur posisi tubuh pada saat belajar, dan mempelajari materi (informasi) sesuai dengan karakteristik siswa itu sendiri.
Pergaulan
Pergaulan juga dapat mempengaruhi siswa dalam menerima pelajaran, perilaku dan pergaulan mereka, dapat mempengaruhi konsentrasi belajar yang dipengaruhi juga oleh beberapa faktor, seperti faktor teknologi yang berkembang saat ini contohnya televisi, internet, dll. Pergaulan adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada sikap dan perilaku siswa untuk meningkatkan hasil belajarnya di sekolah.
Psikologi
c. Media Belajar menggunakan Buku
Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997).Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa media merupakan wadah atau perantara pesan yang oleh sumber pesan atau pengaruhnya dan ingin diteruskan kepada sasaran atau penerima pesan serta memiliki tujuan yang ingin dicapai agar terdapat terjadinya proses belajar pada penerima pesan.
Buku adalah kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan atau gambar. Setiap sisi dari sebuah lembaran kertas pada buku disebut sebuah halaman.5 Buku merupakan jembatan menuju sukses, karena jika kita
banyak membaca buku, banyak pula pengetahuan yang kita peroleh. Seseorang sudah dikenalkan buku sejak ia telah mampu menghubungkan ranah kognitif dengan psikomotornya, biasanya pada saat ia masuk sekolah TK.
Dengan demikian dapat disimpulkan belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku pada individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan ataupun mengolah informasi yang sudah ada, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa media belajar menggunakan buku adalah suatu perantara yang merupakan sumber pesan belajar yang ingin diteruskan kepada penerima pesan dan memiliki tujuan yang ingin dicapai agar terdapat terjadinya proses belajar. Proses belajar tersebut akan mempengaruhi perubahan tingkah laku seseorang yang lebih baik dalam pengetahuan, sifat, sikap, maupun nilai-nilai positif sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam berinteraksi di sekitar lingkungan dan buku menjadi salah satu media dalam proses pembelajaran individu tersebut. Membaca buku akan melatih otak kita untuk memusatkan pikiran. Otak kita diajak untuk memperhatikan kata demi kata yang ada pada teks tersebut. Karena jika kita kehilangan beberapa kata saja, bisa jadi kita tidak akan bisa menangkap keseluruhan maksud dari kalimat yang ada. Kalimat-kalimat yang menarik akan merangsang saraf otak kita untuk bekerja dan mengamati hal menarik tersebut.
Banyak manfaat membaca buku, yaitu di antaranya sebagai berikut :
Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja.
Dengan sering membaca, orang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.
Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
Dengan membaca, orang mengambil manfaat dari pengalaman orang lain: kearifan orang bijaksana dan pemahaman para sarjana.
Dengan sering membaca, orang mengembangkan kemampuannya; baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam hidup.
d. Media Belajar menggunakan Internet
Pengertian internet menurut segi ilmu pengetahuan, internet adalah sebuah perpustakaan besar yang didalamnya terdapat jutaan (bahkan milyaran) informasi atau data yang dapat berupa teks, grafik, audio maupun animasi dan lain lain dalam bentuk media elektronik. Semua orang bisa berkunjung ke perpustakaan tersebut kapan saja serta dari mana saja, jika dilihat dari segi komunikasi, internet adalah sarana yang sangat efektif dan efesien untuk melakukan pertukaran informasi jarak jauh maupun jarak dekat, seperti di dalam lingkungan perkantoran, tempat pendidikan, atapun instansi terkait.Dapat disimpulkan internet adalah suatu wadah informasi yang didalamnya terdapat banyak informasi yang semua orang mendapatkan ilmu secara mudah dan cepat.
Jadi media belajar menggunakan internet adalah salah satu wadah informasi yang sangat banyak datanya. Dari orang dewasa maupun anak kecil pun dapat menggunakan media belajar internet ini, khususnya pelajar.
Manfaat internet bagi pelajar dalam dunia pendidikan : 1. Menambah wawasan
Internet menyediakan informasi yang hampir tidak terbatas. Beragam artikel yang tersedia di dalamnya akan mudah diserap dan menambah wawasan bagi para siswa yang mengaksesnya.
2. Memicu ide dan gagasan
Internet menawarkan enak informasi yang dapat dicari dengan mudah, cukup mengetikkan kata kunci pada mein pencari, aneka informasi terkait pun muncul dan mampu memicu ide serta gagasan bagi siswa.
3. Sebagai sumber data dan referensi
Ketika dihadapkan pada tugas mencari data maupun informasi, internet menyuguhkan hampir semua data dan informasi yang siswa cari, khususnya dari situs-situs resmi dan kredibel.
4. Melatih kemampuan menulis
Internet memberikan kesempatan bagi para siswa untuk mengembangkan hobi serta kemampuan menulis layaknya jurnalis baik melalui blog, jejaring sosial, maupun forum.
5. Mengakrabkan diri dengan teknologi komputer
Menggeluti internet akan membuat siswa semakin akrab dengan komputer. Kebiasaan mengakses internet secara langsung maupun tidka langsung akan menstimulus siswa untuk melek komputer.
1) Pornografi
Banyak yang menganggap bahwa internet identik dengan pornografi, saya kira hal tersebut emmang tidak salah, mengingat internet dapat digunakan untuk kegiatan yang sifatnya pornografi. Bayangkan saja dengan internet seseorang bias mengakses homepage atau situs yang berisikan content khusus dewasa, artinya bahwa dengan kemudahan ini seseorang akan dengan mudah menemukan hal-hal yang berbau porno. 2) Prestasi Belajar Menurun
Dengan terus menggunakan internet, terkadang para pelajar lupa dengan waktu mereka, termasuk waktu belajar yang menyebabkan nilai dan restasi mereka dapat menurun.
3) Mengganggu Kesehatan
Gangguan kesehatan yang paling dirasakan saat kita terlalu sering menggunakan internet adalah mata, selain itu juga kita dapat lupa waktu makan dan mengerjakan aktivitas yang lain.
4) Mengabaikan kehidupan social.
Adakalanya seseorang yang telah kecanduan internet, bisa saja menghiraukan social disekelilingnya, orang tersebut bisa terpaku seharian di internet tanpa tahu apa yang ada di lingkungannya, hal ini memang cukup berbahaya jika terjadi, untuk itulah jika anda seorang netter, sebisa mungkin luangkan waktu untuk sekedar berbincang masyarakatsekitar.
5) Kecanduan internet
6) Information overload
Karena menemukan informasi yang tak habis-habisnya yang tersedia di internet, sejumlah orang rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengumpulkan dan mengorganisir berbagai informasi yang ada.
7) Cyber-relational addiction
Adalah keterlibatan yang berlebihan pada hubungan yang terjalin melalui internet (seperti melalui chat room dan virtual affairs) sampai kehilangan kontak dengan hubungan-hubungan yang ada dalam dunia nyata.
Jadi, internet menimbulkan manfaat yang tiada batas bagi penggunanya, meskipun dalam kenyataan masih terdapat penyalahgunaan internet yang dapat membawa pengaruh kurang baik bagi mereka.
Solusi untuk mengatasi dampak negatif internet adalah peran orangtua. Peran orang tua sangatlah penting dalam meminimalisir dampak merugikan dari internet. Orangtua diharapkan berperan dalam mengawasi dan mengingatkan para remaja agar tidak melalaikan tugas utama mereka, yaitu belajar. Sehingga tugas perkembangan yang harus mereka peroleh selama masa remaja dapat tercapai dan menjadi bekal dalam menyongsong masa depan. Hal yang dapat dilakukan diantaranya adalah:
- Orang tua harus tetap mendampingi anaknya ketika mereka bereksplorasi dengan Internet rumah
- Definisikan secara jelas dan gamblang Aturan Penggunaan Internet di rumah. Kemudian tulis dan pasang aturan tersebut di tempat yang dapat dibaca oleh semua anggota keluarga.
- Tegaskan untuk tidak mendownload materi yang secara nyata merupakan materi ilegal, bajakan atau melanggar hak cipta. - Tetaplah menjalin komunikasi yang baik dengan anak kita,
berapapun usianya.
- Guru harus senantiasa membimbing siswa didiknya agar dapat menggunakan Internet dengan baik dan benar saat sekolah
Yang tidak kalah pentingnya adalah faktor dari dalam diri sendiri, karena keimanan dari dalam dirilah yang dapat membentengi diri dari semua pengaruh atau dampak negatif suatu apapun.
B. Kajian Pustaka
Menurut penulis sampai hari ini belum banyak penelitian yang membahas mengenai materi ini. Namun ada penelitian yang mendekati pokok bahasan penulis, yakni yang dilakukan oleh Putri Ani Dalimunthe,S.PdI yang mengambil topik ”Perbandingan Hasil Belajar Yang Menggunakan Metode Demonstrasi dan Ceramah”.
fiqih. Untuk mengatasi masalah ini telah dilakukan upaya penanggulangannya. Dalam kaitan ini juga didukung oleh beberapa literatur panduan yang dikemukakan oleh ahli pendidikan yang relevan dengan pokok bahasan penelitian ini.
C. Kerangka Berpikir
Kerangka pikir penelitian ini berangkat dari teori–teori yang telah dikemukakan pada uraian terdahulu, bahwa untuk menentukan berhasil atau tidak proses belajar dan tingkat konsentrasi belajar di sekolah, salah satu hal penting yang harus menjadi perhatian guru adalah penggunaan media belajar yang baik dan benar. Bila media yang digunakan guru sudah baik dan benar, tentu keberhasilan belajar siswapun akan diperoleh secara baik pula. Tentunya dibantu oleh keinginan dari siswa itu sendiri dan pendidikan orang tua di rumah.
Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan teknik acak berkelompok, dimana teknik ini digunakan jika kita memiliki keterbatasan karena ketiadaan kerangka. Berbagai media belajar dapat diterapkan oleh siswa sesuai dengan materi pelajaran. Alangkah baiknya apabila siswa tersebut benar–benar dapat menentukan media apa yang baik untuk dirinya berkonsentrasi belajar, karena tepat atau tidaknya media yang digunakan tentu saja ikut mempengaruhi keberhasilan siswa terhadap materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.
Antara satu media dengan media yang lain berbeda dalam penggunaannya. Adakalanya media dapat digunakan dalam proses belajar pada satu materi pelajaran, namun adakalanya media yang lain, sehingga dapat ditegaskan bahwa satu media tidak mutlak harus digunakan dalam proses belajar pada materi pelajaran. Boleh 2, 3 atau 4 media asalkan tepat dengan materi pelajarannya.
penelitian ini akan di analisa atau dibandingkan hasil belajar yang di peroleh siswa dimana seorang siswa yang cara belajarnya menggunakan media buku dengan siswa yang cara belajarnya menggunakan media internet.
D. Hipotesis Penelitian
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Sasaran, Waktu dan Lokasi Penelitian
Yang menjadi sasaran pada penelitian ini adalah siswa SMP XYZ kota Indramayu, alasan memilih SMP XYZ kota Indramayu dikarenakan faktor lokasi dan keadaan dimana peneliti merasa perlu melakukan penelitian ini.
Metodologi Penelitian
Untuk menemukan pengaruh cara belajar siswa menggunakan media buku atau internet terhadap tingkat konsentrasi belajar siswa yang berakhir pada nilai akhir pelajaran di sekolah dengan unsur pokok yang harus ditemukan sesuai dengan butir-butir rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, maka digunakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode korelasional yaitu dengan mencari hubungan yang ditimbulkan oleh cara belajar siswa yang menggunakan media buku dengan internet terhadap tingkat konsentrasi siswa pada SMP XYZ di kota Indramayu.
Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel 1. Populasi
Populasi menurut Gay (1987:102) merupakan kelompok tertentu dari sesuatu (orang, benda, peristiwa, dan sebagainya) yang dipilih oleh peneliti yang hasil studinya atau penelitiannya dapat digeneralisasikan terhadap kelompok tersebut. Berdasarkan penjelasan di atas, populasi yang akan diteliti oleh penulis berupa:
- Isi : tingkat konsentrasi antara siswa menggunakan media buku dengan siswa yang menggunakan media internet
- Waktu : Juli 2013
- Geografis : daerah Indramayu 2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang masih mempunyai ciri dan karakteristik yang sama dengan populasi dan mampu mewakili keseluruhan populasi penelitian. Sampel dipergunakan ketika jumlah seluruh anggota populasi terlalu banyak sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan penelitian terhadap populasi secara keseluruhan. Penulis akan mengambil sampel siswa SMP 4 Sindang, yang mencakup dari beberapa kelas. Hal ini dilakukan guna memperoleh data yang valid. Teknik pengambilan sampel penelitian dilakukan secara teknik acak berkelompok. Dalam teknik acak berkelompok semua individu dalam populasi diberi kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Karena teknik acak berkelompok ini dilakukan ketika kita memiliki keterbatasan karena ketiadaan kerangka sampel (daftar nama seluruh anggota populasi).
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik penarikan sampel yang digunakan yaitu, probabilita, karena peneliti mengambil beberapa sampel dengan memberikan kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel.
Teknik penarikan sampelnya:
sampling atau lebih dikenalan cluster random sampling) dan banyak tahap (multiple cluster random sampling).6
Namun, sesuai dengan rencana penelitian yang akan penulis buat, maka penulis mengambil teknik penarikan sampel multiple cluster random sampling, yaituteknik penarikan sampel banyak tahap.
Pada SMP 4 Sindang, memiliki/terdiri dari 12 kelas, yaitu: kelas VII A, B, C, D, kelas VIII A, B, C, D, Kelas IX A, B, C, D. Dari beberapa kelas ini penulis akan mengambil beberapa kelas secara acak yang akan dijadikan sampel, yaitu sebagai berikut:
Bagan III.1
Teknik Penarikan Sampel Bertahap
6 Bambang Prasetyo, Lina Miftahul Jannah, 2010, Metode Penelitian Kualitatif, Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada, hlm.132-134
Siswa SMP 4 Sindang
Kelas IX
A
Kelas VII Kelas VII
Dari penjelasan di atas, bahwa penulis akan mengambil teknik penarikan sampel sampel bertahap, yaitu dengan memilih secara acak. Kemudian hasil pemilihan acak tersebut akan didapat seperti gambar di atas.
4. Teknik Analisis Data
Setelah data hasil penelitian di kumpulkan, maka langkah selanjutnya adalah penganalisisan. Di dalam melakukan analisis data kuantitatif ini, terdapat suatu proses dengan beberapa tahap yang sebaiknya dilakukan, yaitu pengumpulan, pengolahan, dan penyajian.7
Bagan III.2
Tahapan dalam Analisis Data Kuantitatif
Data coding
Ada kesalahan tidak ada kesalahan
Data Coding (pengkodean data)
Merupakan suatu proses penyusunan secara sistematis data mentah (yang ada dalam kuesioner) ke dalam bentuk yang mudah dibaca oleh mesin pengolah data seperti komputer.8 Dalam hal ini, penulis membuat kuesioner
dan menyebarkannya kepada beberapa responden sesuai dengan teknik pemilihan sampel di atas. Untuk selanjutnya, kuesioner-kuesioner tersebut (huruf-huruf yang ada dalam pertanyaan) diubah menjadi kode angka. Pemberian kode ini didasarkan pada asumsi bahwa seharusnya pelaksanaan metode pembelajaran dengan menggunakan media buku dan internet baik, sehingga yang memberikan jawaban sangat baik akan mendapatkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang menjawab baik, cukup baik, tidak baik, dan sangat tidak baik. Contoh pemberian kode pada pertanyaan, misalnya:
Pertanyaan di dalam kuesioner Pemberian kode Bagaimana pendapat anda tentang
pembelajaran menggunakan media buku?
8 Ibid, hlm 171
Data cleaning
Data output
1. Numerik 2. Grafik
Data Analyzing
A. Sangat Baik 5. Sangat Baik
B. Baik 4. Baik
C. Cukup Baik 3. Cukup Baik
D. Tidak Baik 2. Tidak Baik
E. Sangat Tidak Baik 1. Sangat Tidak Baik
Data Entering (Pemindahan Data ke Komputer)
Yaitu memindahkan data yang telah diubah menjadi kode ke dalam mesin pengolah data. Caranya dengan membuat coding sheet (lembar kode), direct entry, optical scan sheet (seperti isian lembar computer menggunakan pensil 2B), dan CATI (Computer-Assisted Telephone Interviewing).9
Data Cleaning (Pembersihan Data)
Adalah memastikan bahwa seluruh data telah dimasukkan ke dalam mesin pengolah data sudah sesuai dengan yang sebenarnya. 10 Disini penulis
memerlukan ketelitian sehingga data akurat. Kemudian apabila ada ketidaksesuaian di dalam data, maka peneliti melakukan perbaikan kesalahan pada kode yang jelas tidak mungkin ada, akibat salah memasukkan kode, ini yang disebut dengan possible code cleaning.
5. Hipotesis Statistik
Berdasarkan dari uraian pengertian tingkat konsentrasi belajar, ciri-ciri konsentrasi belajar, pengertian media belajar menggunakan buku, pengertian media belajar menggunakan internet, dan perbandingan media belajar dalam kegiatan pembelajaran diperlukan adanya keterpaduan diantara komponen dalam belajar.
Metode kuesioner adalah salah satu metode belajar yang membantu peserta didik karena mengangkat sebuah masalah dan dituntut bagaimana
cara yang tepat untuk menyelesaiakannya. Sehingga melatih cara berpikir siswa lebih peka terhadap fenomena sosial. Dengan demikian, hasil yang diharapkan akan lebih baik.
Penerapan metode kuesioner dan teknik acak berkelompok pada proses pembelajaran sangat diperlukan karena siswa dituntut menghasilkan solusi dalam suatu fenomena sosial sebelum siswa menganalisis suatu kasus, mereka perlu mengetahui apa saja permasalahan yang tersirat dalam suatu kasus yang diangkat.
6. Validitas dan Reabilitas a. Validitas
Menurut Azwar (1986) validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Menurut Arikunto (1999) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kesahihan suatu tes. Menurut Nursalam (2003) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen.
Berdasarkan beberapa pendapat tentang pengertian validitas di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa validitas adalah suatu standar ukuran yang menunjukkan ketepatan dan kesahihan suatu instrumen.
b. Reliabilitas
Menurut Sugiono (2005) Pengertian Reliabilitas adalah serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur yang memiliki konsistensi bila pengukuran yang dilakukan dengan alat ukur itu dilakukan secara berulang. Reabilitas tes adalah tingkat keajegan (konsitensi) suatu tes, yakni sejauh mana suatu tes dapat dipercaya untuk menghasilkan skor yang ajeg, relatif tidak berubah walaupun diteskan pada situasi yang berbeda-beda. Menurut Sukadji (2000) reliabilitas suatu tes adalah seberapa besar derajat tes mengukur secara konsisten sasaran yang diukur. Reliabilitas dinyatakan dalam bentuk angka, biasanya sebagai koefisien. Koefisien tinggi berarti reliabilitas tinggi. Menurut Nursalam (2003)
Berdasarkan uji keandalan pada skala cara belajar menggunakan media buku dan internet dan tingkat konsentrasi anak yang dapat dinyatakan sebagai alat ukur yang reliabel. Hasil perhitungan memiliki nilai koefisien reliabilitas 0,98 lebih besar dari nilai indeks sebesar 0,89 sehingga dinyatakan reliabel.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber bacaan:
Prasetyo, Bambang,Lina Miftahul Jannah. 2010.Metode Penelitian Kualitatif.
Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Sumber lain:
http://pakjalpidie.blogspot.com/2013/01/pemanfaatan-internet-sebagai-media.html http://www.konsistensi.com/2013/01/teori-konsentrasi-belajar.html
http://abudaud2010.blogspot.com/2010/11/pengertian-dan-ciri-ciri-konsentrasi.html