BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penderita Gagal Ginjal Kronik (GGK) dengan dialisis beresiko terjadi malnutrisi. Malnutrisi dan asupan energi protein yang tidak adekuat berhubungan erat dengan morbiditas dan mortalitas. Penilaian dan pemantauan status gizi, pada penderita perlu dilakukan agar keadaan malnutrisi dapat dicegah. Penilaian tersebut dapat dilakukan dengan mengamati asupan energi dan protein, penilaian dengan Subjective Global Assesment (SGA) serta pengukuran antropometri (Noer, 2005).
Kasus gagal ginjal didunia meningkat lebih dari 50% dan di Indonesia peningkatan penyakit tersebut sudah mencapai 20%. Tanpa pengendalian yang tepat dan cepat, pada tahun 2015 penyakit ginjal diperkirakan bisa menyebabkan kematian hingga 36 juta penduduk dunia. Di Amerika Serikat, negara yang sangat maju dan tingkat gizinya tinggi setiap tahun ada sekitar 20 juta orang dewasa penderita penyakit ginjal kronis, (http://azharoo.com)
Sedangkan berdasarkan hasil penelitian Sheila, penyebab GGK yang paling banyak adalah disebebkan oleh hipertensi sebesar 57% dan disebabkan oleh diabetes mellitus sebanyak 35%
Pusat data dan informasi Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PDPERSI) menyatakan jumlah penderita gagal ginjal kronik diperkirakan sekitar 50 orang per satu juta penduduk. Berdasarkan data dari Indonesia Renal Registry suatu kegiatan registrasi dari Perhimpunan Nefrologi Indonesia, pada tahun 2008 jumlah pasien hemodialisa (cuci darah) mencapai 2260 orang. Pasien hemodialisa baru tahun 2008 naik menjadi 2260 orang dari 2148 orang pada tahun 2007. Hasil penelitian Roderick, Atkins, ddk (2008), menyatakan bahwa hampir dari setengah penduduk yang memiliki penyakit ginjal tidak mengetahui bahwa ada yang salah dengan ginjalnya. Apabila perubahan GFR (Glomerolous Filtrate Rate) pada pasien gagal ginjal kronik yang makin menurun 5-10% dari keadaan normal dan terus mendekati angka nol maka pasien akan mengalami retensi metabolit nitrogen atau yang juga bisa disebut sebagai sindrom uremik. Jumlah pasien penderita ginjal di Indonesia di perkirakan sekitar 150 ribu pasien dan dari jumlah pasien sebanyak ini, yang benar-benar membutuhkan terapi penggati fungsi ginjal (cuci darah atau dialisa, Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) dan transplantasi) tidak kurang dari tiga ribu pasien.
Seperti diketahui terapi pangganti ginjal yang paling ideal adalah transplantasi ginjal karena mangambil alih seluruh fungsi ginjal, namun masalahnya adalah sangat sulit mencari donatur ginjal dan biaya dari pelaksanaan cukup mahal. Pilihan selanjutnya adalah dialisis yang terdiri dari hemodialisis dan peritonial. Dialisis dan CAPD merupakan pilihan yang terbaik diantara terapi pengganti ginjal setelah transplantasi. (http://www.geocities.com/worldkidneyday.2007)
Dari uraian diatas maka peneliti ingin melakukan penelitian tentang penyakit GGK yang dikaitkan dengan penatalaksanaan diet, karena penderita penyakit GGK yang makin bertambah. Pada penelitian ini penulis ingin meneliti Gambaran Asupan Energi, zat gizi makro (protein), zat gizi mikro (natrium,kalium, kalsium, fosfor) dan cairan pada pasien GGK dengan CAPD Di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta dimana asupan zat gizi yang akan diteliti sangat erat hubungannya dengan ketentuan syarat diet GGK dengan CAPD dan akan berdampak buruk terhadap pasien apabila zat gizi tersebut tidak menenuhi standar diet.
B. Perumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Mengetahui asupan energi, zat gizi makro (protein), zat gizi mikro (natrium, kalium, kalsium, fosfor), cairan dan kadar air Tubuh (BIA) pada Pasien GGK dengan CAPD Di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi karakteristik pasien (Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan, Pekerjaan).
b. Menghitung kebutuhan energi, zat gizi makro (protein), zat gizi mikro (natrium,kalium, kalsium, fosfor) dan cairan pada pasien GGK dengan CAPD.
c. Menilai asupan energi, zat gizi makro (protein), zat gizi mikro (natrium, kalium, kalsium, fosfor) dan cairan pada pasien GGK dengan CAPD. d. Menilai Kadar Air dalam Tubuh (BIA) pada pasien GGK dengan CAPD. e. Menilai Status Gizi pasien GGK dengan CAPD berdasarkan IMT.
f. Menilai kaitan antara hasil asupan energi dengan status gizi berdasarkan IMT.
g. Menilai kaitan antara hasil asupan zat gizi makro (protein) dengan status gizi berdasarkan IMT.
i. Menilai kaitan antara hasil asupan zat gizi mikro (kalium) dengan kadar air dalam tubuh (BIA).
D. Manfaat
1. Bagi Rumah Sakit
Penelitian dapat menjadi masukan bagi Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo khususnya tim gizi dalam meningkatkan pelayanan gizi dan
penatalaksanaan diet bagi pasien rawat jalan.
2. Bagi Mahasiswa
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan dalam pelaksanaaan penelitian khususnya pasien penyakit GGK dengan CAPD.
3. Bagi Prodi Gizi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teoritis 1. Definisi
Penyakit Ginjal Kronik (Chronic Kidney Diseases) adalah suatu keadaan dimana ginjal mengalami struktur atau gangguan fungsi yang sudah berlangsung lebih dari 3 bulan. (PERNEFRI dan AsDI, 2009)
Menurunnya fungsi ginjal mengakibatkan berkurangnya kemampuan ginjal untuk menyaring darah, sehingga zat-zat sisa metabolisme yang seharusnya dikeluarkan melalui urin menumpuk didalam darah. Semakin banyak zat sisa yang menumpuk didalam darah, maka akan semakin memperberat kerja ginjal yang masih baik untuk menyaring darah. Disamping itu, penumpukan sisa metabolisme ini tentunya sangat berbahaya bagi tubuh. Sebagai contoh misalnya ureum. Ureum merupakan hasil sisa metabolisme dari protein, apabila menumpuk didalam darah maka akan menimbulkan berbagai gangguan pada tubuh, seperti mual, muntah, letih, bahkan gangguan kesadaran. (PERNEFRI dan AsDI, 2009)
kronik akan bersifat irreversibel (tidak dapat kembali baik). (PERNEFRI dan AsDI, 2009)
2. Penyebab Penyakit Ginjal Kronik : a. Kencing manis (Diabetes Melitus) b. Tekanan darah tinggi (Hipertensi) c. Peradangan di ginjal (Glomerulonefritis) d. Batu ginjal dan infeksi saluran kemih
e. Kelainan autoimun, misalnya lupus eritematosus sistemik f. Kelainan ginjal bawaan, misalnya penyakit ginjal polikistik g. Penggunaan obat-obatan yang bersifat nefrotoksik
3. Gejala Penyakit Ginjal Kronik :
Pada awalnya tidak ada gejala sama sekali, namun pada gangguan fungsi ginjal yang berat terdapat gejala sebagai berikut :
a. Tidak nafsu makan, lemas, lesu, berat badan turun b. Mual-mual dan muntah
c. Gatal-gatal d. Gangguan tidur e. Kram
g. Edema
4. Penyakit Ginjal Kronik dengan Dialisis
Dialisis dilakukan terhadap pasien dengan penurunan fungsi ginjal berat, dimana ginjal tidak mampu lagi mengeluarkan produk-produk sisa metabolisme, mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, serta memproduksi hormon-hormon. Ketidakseimbangan ginjal mengeluarkan produk-produk sisa metabolisme menimbulkan gejala uremia. Dialisis dilakukan bila hasil tes kreatinin <15 ml/menit.
Dialisis dapat dilakukan dengan cara hemodialisis atau dialisis peritoneal. Cara yang paling banyak dilakukan adalah hemodialisis. Pada proses hemodialisis, aliran darah ke ginjal dialihkan melalui membran semipermiabel dari ginjal tiruan (mesin cuci ginjal) sehingga produk-produk sisa metabolisme dapat dikeluarkan oleh tubuh. Pada proses dialisis peritoneal, aliran darah dialihkan melalui dinding semipermiabel dari peritoneum. (Almatsier, 2004).
5. Pengeluran Ureum melalui Ginjal
kemudian membersihkan darah dari amoniak dan mengeluarkannya dari tubuh melalui urine. Bila konsumsi protein berlebihan, produksi ureum meningkat. Untuk mengeluarkannya ureum memerlukan air agar dapat berada dalam keadaan larut dalam air. Oleh karena itu, seseorang yang banyak makan protein harus minum lebih banyak. (Almatsier, 2004).
6. Obat-obatan yang biasa dikonsumsi pasien GGK
Untuk mencukupi kebutuhan zat gizi tambahan vitamin B dan C diberikan jika penderita menjalani diet ketat atau menjalani dialisa. Pada penderita gagal ginjal kronis biasanya kadar trigliserida dalam darah tinggi. Hal ini akan meningkatkan resiko terjadinya komplikasi, seperti stroke dan serangan jantung. Untuk menurunkan kadar trigliserida, dapat diberikan obat dari golongan gemfibrozil.
Makanan kaya kalium harus dihindari. Hiperkalemia (tingginya kadar kalium dalam darah) sangat berbahaya karena meningkatkan resiko terjadinya gangguan irama jantung dan cardiac arrest. Jika kadar kalium terlalu tinggi, maka diberikan natrium polisteren sulfonat untuk mengikat kalium, sehingga kalium dapat dibuang bersama tinja.
mengikat fosfat, seperti kalsium karbonat, kalsium asetat dan alumunium hidroksida.
Anemia terjadi karena ginjal gagal menghasilkan eritropoeitin dalam jumlah yang mencukupi. Eritropoietin adalah hormon yang merangsang pembentukan sel darah merah. Respon terhadap penyuntikan poietin sangat lambat. Transfusi darah hanya diberikan jika anemianya berat atau menimbulkan gejala.
7. Penatalaksanaan Diet GGK dengan Dialisis a) Tujuan diet
a. Mencegah defisiensi gizi serta mempertahankan dan memperbaiki status gizi agar pasien dapat melakukan aktifitas normal.
b. Menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit.
c. Menjaga agar akumulasi produk sisa metabolisme tidak berlebihan b) Syarat Diet
Energi
Rumus perhitungan Standar Diet GGK dengan Dialisis (CAPD) dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan energi yaitu :
Energi = 35 kkal/kg BB ideal /hari Protein
Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh sesudah air. Seperlima bagian tubuh adalah ptotein. Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta memelihara sel – sel jaringan tubuh. Kebutuhan protein menurut FAO/ WHO/UNU (1985) adalah ” konsumsi yang diperlukan untuk mencegah kehilangan protein tubuh dan memungkinkan produksi protein yang diperlukan dalam masa petumbuhan, kehamilan dan menyusui.
Angka Kecukupan Protein (AKP) orang dewasa menurut hasil – hasil penelitian keseimbangan nitrogen adalah 0,75 gram/kg berat badan, berupa protein patokan tinggi yaitu protein telur (mutu cerna/digestibility dan daya manfaat/utility telur adalah 100)
Rumus perhitungan Standar Diet GGK dengan Dialisis (CAPD) dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan protein yaitu :
Protein tinggi, untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen dan mengganti asam amino yang hilang selama dialisis.
Natrium adalah kation utama dalam cairan ekstraselular. 35-40% natrium ada di dalam kerangka tubuh. Cairan saluran cerna, sama seperti cairan empedu dan pankreas, mengandung banyak natrium.
Sumber utama natrium adalah garam dapur atau NaCl. Garam dapur di dalam makanan sehari-hari berperan sebagai bumbu dan sebagai bahan pengawet. Baru pada tahun 1937 peranannya sebagai zat gizi esensial diketahui secara pasti.
Absorpsi dan Metabolisme Natrium
Fungsi Natrium
Sebagai kation utama dalam cairan ekstraselular, natrium menjaga keseimbangan cairan dalam kompartemen tersebut. Natriumlah yang sebagian besar mengatur tekanan osmosis yang menjaga cairan tidak keluar dari darah dan masuk ke dalam sel-sel. Di dalam sel tekanan osmosis diatur oleh kalium guna menjaga cairan tidak keluar dari sel. Secara normal tubuh dapat menjaga keseimbangan antara natrium di luar sel dan kalium di dalam sel. Bila seseorang memakan terlalu banyak garam, kadar natrium dalam darah akan meningkat. Rasa haus yang ditimbulkan akan menyebabkannya minum sedemikian banyak sehingga konsentrasi natrium dalam darah kembali noramal. Ginjal kemudian akan mengeluarakan kelebihan cairan dan natrium tersebut dari tubuh. Hormon aldosteron menjaga agar konsentrasi natrium di dalam darah berada pada nilai normal.
Natrium menjaga keseimbangan asam basa di dalam tubuh dengan mengimbangi zat-zat yang membentuk asam. Natrium berperan dalam tranmisi saraf dan kontraksi otot. Natrium berperan pula dalam absorpsi glukosa dan sebagai alat angkut zat-zat gizi lain melalui membran, terutama melaui dinding usus sebagai pompa natrium.
Anjuran Asupan Natrium pada penderita GGK
Didalam tubuh, natrium dibutuhkan tubuh yang bekerjasama dengan kalium untuk mengatur tekanan darah. Terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi natrium menyebabkan kita menjadi banyak minum, padahal asupan cairan pasien penyakit ginjal kronik kadang perlu dibatasi.
Anjuran asupan garam untuk pasien penyakit ginjal kronik sebelum dialisis berkisar antara 2,5 – 5 gr garam/hari. Jumlah ini tergantung pada tekanan darah, ada tidaknya edema atau asites, serta pengeluaran urin sehari. Natrium banyak terdapat dalam garam, oleh sebab itu penderita GGK harus mengurangi konsumsi makanan tinggi natrium. (PERNEFRI dan AsDI, 2009)
Akibat Kekurangan Natrium
terbatas dalam natrium. Bila kadar natrium darah turun, perlu diberikan natrium dan air untuk mengembalikan keseimbangan. Pemberian tablet garam sesudah latihan berat tidak dianjurakan, karena dapat menyebabkan kebanyakan garam, terutama bila dimakan dengan air terbatas. Hal ini dapat menimbulkan dehidrasi.
Akibat Kelebihan Natrium
Kelebihan natrium dapat menimbulkan keracunan yang dalam keadaan akut menyebabkan edema dan hipertensi. Hal ini dapat diatasi dengan banyak minum. Kelebihan konsumsi natrium secara terus-menerus terutama dalam bentuk garam dapur dapat menimbulkan hipertensi dan komplikasi dengan GGK. (Almatsier, 2004)
Penentuan perhitungan Standar Diet GGK dengan Dialisis (CAPD) anjuran asupan natrium sekitar 1-4 gr/hari, penyesuaian menurut jumlah urin sehari, yaitu 1 gr untuk tiap ½ liter urin.
Kalium (K)
Absorpsi dan Ekresi Kalium
Kalium diabsorpsi dengan mudah dalam usus halus. Sebanyak 80-90% kalium yang dimakan diekskresi melalui urin, selebihnya dikeluarkan melalui feses dan sedikit malaui keringat dan cairan lambung. Taraf kalium normal darah dipelihara oleh ginjal melalui kemampuannya menyaring, mengabsorpsi, kembali dan mengeluarkan kalium dibawah pengaruh aldosteron. Kalium dikeluarkan dalam bentuk ion dengan menggantikan ion natrium melalui mekanisme pertukaran di dalam tubula ginjal.
Fungsi Kalium
Perkiraan Kebutuhan Kalium
Karena merupakan bagian esensial semua sel hidup, kalium banyak terdapat dalam bahan makanan, baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Kekurangan kalium jarang terjadi. Kebutuhan minimum akan kalium di taksir sebanyak 2000 mg sehari.
Anjuran Asupan Kalium pada penderita GGK
Kadar kalium darah harus dipertahankan dalam batas normal. Pada beberapa pasien, kadar kalium darah meningkat disebabkan karena asupan kalium dari makanan yang berlebih atau karena obat-obatan yang diberikan. Anjuran asupan kalium tidak selalu dibatasi, apabila jumlah urin yang sedikit atau Laju Filtrasi Glomerulous (LFG) tersebut kurang atau sama dengan 10 ml/menit atau jika kadar kalium dalam darah > 5,5 meq. Pada kondisi ini sehingga perlu menghindari makanan tinggi kalium.(PERNEFRI dan AsDI, 2009)
Akibat kekurangan Kalium
(obat pencuci perut). Kebanyakan kehilangan melalui ginjal adalah karena penggunaan obat-obat diuretik terutama pengobatan hipertensi. Dokter sering memberikan suplemen kalium bersamaan dengan obat-obatan ini. Kekurangan kalium menyebabkan lemah, lesu, kehilangan nafsu maka, kelumpuhan, mengigau, dan konstipasi. Jantung akan berdebar detaknya, dan menurunkan kemampuannya untuk memompa darah.
Akibat Kelebihan Kalium
Kelebihan kalium akut dapat terjadi bila konsumsi melalui saluran cerna (enteral) atau tidak melalui saluran cerna (parentral) melebihi 12,0 g/m2 permukaan tubuh sehari (18g untuk orang dewasa) tanpa diimbangi oleh kenaikan ekskresi. Hiperkalemia akut dapat menyebabkan gagal jantung yang berakibat kematian. Kelebihan kalium juga dapat terjadi bila ada gangguan fungsi ginjal. (almatsier, 2004)
Penentuan perhitungan Standar Diet GGK dengan Dialisis (CAPD) anjuran asupan kalium 3 gr/hari penyesuaian menurut jumlah urin sehari, yaitu 1 gr untuk tiap 1 liter urin.
Kalsium
nyeri sendi ataupun tulang. Hal ini terjadi karena berkurangnya kadar kalsium dalam tulang. Penyebabnya adalah diet rendah protein yang adekuat, penyerapan di usus yang tidak baik serta Hiperfosfatemia (tingginya kandungan fosfat dalam darah). Oleh karena itu selain dari makanan biasanya asupan kalsium juga ditambah dengan suplemen kalsium yang diberikan dokter dalam bentuk tablet.
Asupan kalsium yang dianjurkan adalah 1000-1500 mg/hari. Suplemen kalsium yang biasa diberikan salah satunya adalah kalsium karbonat, karena selain untuk suplemen juga sebagai fosfat binder (pengikat fosfat). (PERNEFRI dan AsDI, 2009)
Angka kecukupan Kalsium yang dianjurkan
Angka kecukupan rata-rata sehari untuk kalsium bagi orang Indonesia ditetapkan oleh Widyakarya Pangan dan Gizi LIPI (1998) sebagai berikut :
Bayi : 300-400 mg
Anak-anak : 500 mg
Remaja : 600-700 mg
Dewasa : 500-800 mg
Ibu hamil dan menyusui: + 400 mg
Kekurangan kalsium pada masa pertumbuhan dapat menyebabkan gangguann pertumbuhan. Tulang kurang kuat, mudah bengkok dan rapuh. Semua orang dewasa, terutama sesudah usia 50 tahun, kehilangan kalsium dari tulangnya. Tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Hal ini dinamakan osteoporosis yang dapat dipercepat oleh keadaan strees sehari-hari. Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita daripada laki-laki dan lebih banyak pada orang kulit putih daripada kulit berwarna. Disamping itu osteoporosis lebih banyak terjadi pada perokok dan peminum alkohol.
Kekurangan kalsium dapat pula menyebabkan osteomalasia, yang dinamakan juga riketsia pada orang dewasa dan biasanya terjadi karena kekurangan vitamin D dan ketidakseimbangan konsumsi kalsium terhadap fosfor. Mineralisasi matriks tulang terganggu, sehingga kandungan kalsium di dalam tulang menurun.
Akibat kelebihan Kalsium
Konsumsi kalsium hendaknya tidak melebihi 2500 mg sehari. Kelebihan kalsium dapat menimbulkan batu ginjal atau gangguan ginjal. Di samping itu, dapat menyebabkan konstipasi (susah buang air besar). Kelebihan kalsium bisa terjadi bila menggunakan suplemen kalsium berupa tablet atau bentuk lain. (Almatsier, 2004) Penentuan perhitungan Standar Diet GGK dengan Dialisis (CAPD)
anjuran asupan kalsium tinggi yaitu 1000 mg/hari. Bila perlu, diberikan suplemen kalsium.
Fosfor
Ginjal memegang peran yang cukup penting dalam metabolisme fosfor dan kalsium mempunyai hubungan yang sangat erat dan keduanya ini sebagian besar terdapat sebagai garam kalsium-fosfat di dalam tulang dan gigi geligi. Pada pasien penyakit ginjal kronik, dengan semakin menurunya fungsi ginjal maka akan berakibat terjadinya hiperfosfatemia (kelebihan fosfat di dalam darah). Oleh karena itu kurangi makanan yang mengandung tinggi fosfor. Asupan protein juga berhubungan dengan asupan fosfor. Perlu diketahui, agar obat pengikat fosfor bekerja optimal, maka harus diminum bersamaan dengan makan.(Booklet Edukasi, 2009).
Kecukupan fosfor rata-rata sehari untuk Indonesia ditetapkan sebagai berikut (Widyakarya pangan dan Lipi 1993):
Bayi : 200-250 mg
Anak-anak : 250-400 mg
Remaja dan Dewasa : 400-500 mg Ibu hamil dan menyusui: +200-+300 mg Akibat kekurangan Fosfor
Karena banyak terdapat di dalam makanan, jarang terjadi kekurangan. Kekurangan fosfor bisa terjadi bila menggunakan obat antasid untuk menetralkan asam lambung, seperti aluminium hidroksida untuk jangka lama. Aluminium hidroksida mengikat fosfor, sehingga tidak dapat diabsorpsi. Kekurangan fosfor juga bisa terjadi pada penderita yang kehilangan banyak cairan melalui urin. Kekurangan fosfor menyebabkan kerusakan tulang. Gejalanya adalah rasa lelah, kurang nafsu makan dan kerusakan tulang. Bayi premature juga dapat kekurangan fosfor, karena cepatnya pembentukan tulang sehingga kebutuhan fosfor tidak bisa dipenuhi oleh ASI. (Almatsier, 2004)
Kelebihan fosfor karena makanan jarang terjadi. Bila kadar darah terlalu tinggi, ion fosfat akan mengikat kalsium sehingga dapat menimbulkan kejang. (Almatsier, 2004)
Penentuan perhitungan Standar Diet GGK dengan Dialisis (CAPD) anjuran asupan fosfor dibatasi, yaitu < 17 mg/kg BB ideal/hari.
Kandungan Air
Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. Bila dianalisis, komposisi kimianya terdiri dari rata-rata 65% kandunagan air atau sekitar 47 liter per orang (dewasa). Diperkirakan, mulai usia 20-25 minggu, kandungan air didalam tubuh manusia berjumlah 88%; bayi premature 83%; bayi 1 tahun 62%; laki dewasa 60%; bayi kekurangan gizi 74%; dan laki-laki obesitas sebesar 47%.
Kebutuhan air sekitar 2,5 liter per hari berasal dari 1,5 liter air minum dan sekitar 1 liter dari bahan makanan yang dikonsumsi, sementara lemak tubuh tidak mengandung air. Meskipun demikian, kandungan air terdapat pada seluruh jaringan bebas lemak, yang diperkirakan mengandung air rata-rata 73,2% (Pace dan Rathburu, 1945).
Menurut Gilbert (1994) komposisi tubuh yang penting yang berhubungan dengan antropometri dan penutuan penyakit adalah kandungan kalium tubuh, kandungan air, dan kandungan nitrogen. Berbagai teknik untuk mengukur komposisi tubuh antara lain dengan densitometri, bioelektrik impedance dan isotope dilution. Tiap-tiap metode mempunyai keunggulan dan kelemahan. (Supariasa, 2010)
Menurut Gorrow dan James, komposisi tubuh manusia untuk laki-laki dewasa adalah air 60%, protein 17%, lemak 17%, dan lain-lain 6%.
Air : 62,4%
Protein : 16,4%
Mineral : 5,9%
Lemak : 15,3%
Massa bebas lemak : 84,7%
Keseimbangan Air
metabolisme. Air yang keluar dari tubuh termasuk yang dikeluarkan sebagai urine, air didalam feses, dan air yang dikeluarkan melalui kulit dan paru-paru. Keseimbangan air rata-rata berupa masukan dan ekskresi dapat dilihat pada tabel di bawah ini bahwa volume yang diperoleh melalui minuman hampir sama dengan volume urine, dan bahwa jumlahnya hanya merupakan separuh dari jumlah masukan dan keluaran air secara keseluruhan. (Almatsier, 2004)
Kesimbangan Air
Sumber: Whitney, E.N dan S.R. Rolfes, Understanding, Nutrition, 1993, hlm. 372
Asupan Cairan pada penderita GGK
menumpuk didalam tubuh sehingga dapat mengakibatkan edema (pembengkakan). (FERNEFRI dan AsDI, 2009)
Oleh sebab itu agar tidak terjadi penumpukan cairan maka jumlah cairan yang boleh dikonsumsi dalam satu hari yaitu sebanyak :
500 ml + jumlah Urin dalam satu hari.
Perlu diingat juga bahwa makanan berkuah seperti sup, makanan yang mencair seperti ice krim dan minuman seperti susu, sirup, yoghurt juga dihitung sebagai cairan. (PERNEFRI dan AsDI, 2009)
Penentuan perhitungan Standar Diet GGK dengan Dialisis (CAPD) anjuran asupan cairan dibatasi, yaitu jumlah urin/24 jam ditambah 500 – 750 ml.
c) Jenis diet dan indikasi pemberian
Diet pada dialisis bergantung pada frekuensi dialisis, sisa fungsi ginjal, dan ukuran badan pasien. Diet untuk pasien dengan dialisis biasanya harus direncanakan perorangan.
Berdasarkan berat badan dibedakan 3 jenis diet dialisis:
b. Diet Dialisis II, 65 g protein. Diberikan kepada pasien dengan berat badan ± 60kg.
c. Diet Dialisis III, 70 g protein. Diberikan kepada pasien dengan berat badan ± 65kg.(Almatsier, 2005)
d) Bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan untuk pasien GGK
Bahan makanan Dianjurkan Tidak dianjurkan
Sumber protein Telur, daging, ikan, ayam dan susu
Kacang-kacangan dan hasil olahannya, seperti tempe dan tahu.
Sumber lemak Minyak jagung, minyak kacang, minyak kelapa yang mengandung kalium rendah/sedang (lihat pada lampiran)
8. Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD)
Adalah salah satu bentuk tindakan untuk mengeluarkan ureum dan lain-lain lewat selaput perut. Cara ini lebih murah dari pada cuci darah atau Hemodialiasis karena tidak memerlukan membran penyaring (sebagai penyaring digunakan selaput perut). Karena bisa dilakukan secara kontinu tanpa harus tinggal di rumah sakit, maka tindakan ini disebut continuous ambulatory. (Hartono,2008).
Pengertian CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis)
Prinsip Dasar PD
Kateter CAPD (tenchoff catheter) dimasukkan ke dalam rongga peritoneum melalui teknik operasi. Konsentrasi adalah kata-kata yang sering kita dengar di dalam cairan CAPD.
Proses PD
Cairan dialysis 2 L dimasukkan dalam rongga peritoneum melalui catheter tunchoff, didiamkan untuk waktu tertentu (6 – 8 jam) dan peritoneum bekerja sebagai membrane semi permeable untuk mengambil sisa-sisa metabolisme dan kelebihan air dari darah.
• Osmosis, difusi dan konveksi akan terjadi dalam rongga peritoneum. Setelah dwell time selesai cairan akan dikeluarkan dari rongga peritoneum melalui catheter yang sama, proses ini berlangsung 3 – 4 kali dalam sehari selama 7 hari dalam seminggu.
• Difusi
Konsentrasi cairan CAPD lebih rendah dari plasma darah, karena cairan plasma banyak mengandung toksin uremik. Toksin uremik berpindah dari plasma ke cairan CAPD.
Osmosis
Osmosis adalah perpindahan air melewati membrane semi permeable dari daerah solute yang berkonsentrasi rendah (kadar air tinggi) ke daerah solute berkonsentrasi tinggi (kadar air rendah). Osmosis dipengaruhi oleh tekanan osmotic dan hidrostatik antara darah dan cairan dialisat.
Osmosis pada peritoneum terjadi karena glukosa pada cairan CAPD menyebabkan tekanan osmotic cairan CAPD lebih tinggi (hipertonik) dibanding plasma, sehingga air akan berpindah dari kapiler pembuluh darah ke cairan dialisat (ultrafiltrasi) Kandungan glucose yang lebih tinggi akan mengambil air lebih banyak. Cairan melewati membrane lebih cepat dari pada solute. Untuk itu diperlukan dwell time yang lebih panjang untuk menarik solute.
Untuk membantu mengeluarkan kelebihan air dalam darah, maka cairan dialisat menyediakan beberapa jenis konsentrasi yang berbeda :
Baxter : 1,5%, 2,5%, 4,25% Frescenius : 1,3%, 2,3%, 4,25%
• Ukuran & karakteristik larutan • Volume dialisat
Proses dialysis pada CAPD terjadi karena adanya perbedaan : 1. Tekanan osmotic
2. Konsentrasi zat terlarut antara cairan CAPD dengan plasma darah dalam pembuluh kapiler Pada saat cairan dialisat dimasukkan dalam peritoneum, air akan diultrafiltrasi dari plasma ke dialisat, sehingga meningkatkan volume cairan intra peritoneal. Peningkatan volume cairan intraperitoneal berbanding lurus dengan konsentrasi glukosa dari cairan dialisat. Kecepatan transport air dan zat terlarut dapat diestimasi secara periodic melalui PET test (Peritoneal Equilibrum Test).
Standar konsentrasi elektrolit cairan CAPD:
Na (132 meq /lt) Mg (0,5 meq /lt) Cl ( 102 meq /lt) K (0 meq /lt)
Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) = Dialisis Peritoneal Mandiri Berkesinambungan; CAPD tidak membutuhkan mesin khusus seperti pada APD.
a. Pemasangan Kateter untuk Dialisis Peritoneal
dalam rongga perut (peritoneum). Akses ini berupa kateter yang “ditanam” di dalam rongga perut dengan pembedahan. Posisi kateter yaitu sedikit di bawah pusar. Lokasi dimana sebagian kateter muncul dari dalam perut disebut “exit site”.
b. Perawatan Kateter dan Exit site :
1) Mandi setiap hari untuk menjaga kebersihan kulit, khususnya di sekitar exit site. Jangan mandi berendam.
2) Ganti pakaian dalam maupun pakaian luar setiap hari.
3) Jangan gunakan bahan kimia, misalnya alkohol dan bahan yang mengandung klorida untuk membersihkan exit site atau kateter. Anda hanya boleh menggunakan sabun dan air untuk membersihkan exit site dan kateter.
4) Jangan gunakan krim, salep, atau bedak tabur di sekitar exit site 5) Jaga posisi kateter krim agar tetap berada pada tempatnya (tidak
tertarik, tertekuk, terputar, atau tersangkut) dengan menempelkannya pada kulit dengan bantuan plester.
Kontra indikasi
Dialisa peritoneal tidak boleh dilakukan pada penderita yang: a. menderita infeksi dinding perut.
c. baru saja menjalani pencangkokkan pembuluh darah buatan di dalam perut.
d. memiliki luka baru di perut.
Pada peritoneal dialisa, yang bertindak sebagai penyaring adalah peritoneum (selaput yang melapisi perut dan membungkus organ perut). Selaput ini memiliki area permukaan yang luas dan kaya akan pembuluh darah. Zat-zat dari darah dapat dengan mudah tersaring melalui peritoneum ke dalam rongga perut. Cairan dimasukkan melalui sebuah selang kecil yang menembus dinding perut ke dalam rongga perut. Cairan harus dibiarkan selama waktu tertentu sehingga limbah metabolik dari aliran darah secara perlahan masuk ke dalam cairan tersebut. Kemudian cairan dikeluarkan, dibuang dan diganti dengan cairan yang baru. Biasanya digunakan selang karet silikon yang lembut atau selang poliuretan yang berpori-pori, sehingga cairan mengalir secara perlahan dan tidak terjadi kerusakan.
Keuntungan CAPD dibandingkan HD :
1. Dapat dilakukan sendiri di rumah atau tempat kerja.
2. Pasien menjadi mandiri (independen), meningkatkan percaya diri. 3. Simpel, dapat dilatih dalam periode 1-2 minggu.
4. Jadwal fleksibel, tidak tergantung penjadwalan rumah sakit sebagaimana HD.
6. Diit dan intake cairan sedikit lebih bebas.
7. Cocok bagi pasien yang mengalami gangguan jantung.
8. Pemeliharaan residual renal function lebih baik pada 2-3 tahun pertama.
Kelemahan CAPD : 1. Resiko infeksi
• Peritonitis • Exit site • Tunnel
2. BB naik karena glukosa, pada cairan CAPD diabsorbsi
Penilaian HD atau CAPD : 1. Penilaian bersifat individual
2. Adakah faktor kelainan yang menyebabkan CAPD lebih bermanfaat dibanding HD?
• Kesulitan akses vaskular, penyakit cardiovaskular yang berat. • Jarak rumah dengan center HD, pekerjaan.
Teknik
a. Dialisa peritoneal intermiten manual. Merupakan teknik yang paling sederhana. Sebuah kantong berisi cairan dipanaskan sesuai suhu tubuh, lalu cairan dimasukkan ke dalam rongga peritoneum selama 10 menit dan dibiarkan selama 60-90 menit, kemudian dikeluarkan dalam waktu 10-20 menit. Keseluruhan prosedur memerlukan waktu sekitar 12 jam. Teknik ini terutama digunakan untuk mengobati gagal ginjal akut.
b. Dialisa peritoneal intermiten dengan pemutar otomatis. Bisa dilakukan di rumah penderita. Suatu alat dengan pengatur waktu secara ototmatis memompa cairan ke dalam dan keluar dari rongga peritoneum. Biasanya alat pemutar dipasang pada waktu tidur sehingga pengobatan dijalani pada saat penderita tidur. Pengobatan ini harus dilakukan selama 6-7 malam/minggu. Dialisa peritoneal berpindah-pindah yang berkesinambungan. Cairan dibiarkan di dalam perut dalam waktu yang lama, dan dikeluarkan serta dimasukkan lagi sebanyak 4-5 kali/hari. Cairan dikemas dalam kantong polivinil klorida yang dapat dikembang kempiskan. Jika kosong, kantong ini bisa dilipat tanpa harus melepaskannya dari selang. Biasanya cairan harus diganti sebanyak 3 kali, dengan selang waktu 4 jam atau lebih. Setiap pergantian memerlukan waktu 30-45 menit.
singkat selama tidur malam, sedangkan pergantian yang lebih lama dilakukan tanpa pemutar pada siang hari. Teknik ini mengurangi jumlah pergantian di siang hari tetapi pada malam hari penderita tidak dapat bergerak secara leluasa karena alatnya tidak praktis.
9. Metode Food Recall 24 jam
Metode recall 24 jam, dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi selama 24 jam terakhir, baik yang disajikan di RS maupun diluar RS.
Dengan menggunakan metode recall 24 jam data yang diperoleh cenderung bersifat kualitatif.untuk mendapatkan data yang bersifat kuantitatif jumlah makanan yang dikonsumsi dinyatakan dalam ukuran rumah tangga (URT).
Metode recall 24 jam memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. 1. Kelebihan recall 24 jam
a. Mudah dalam pelaksanaannya tidak terlalu mempersulit responden
b. Cepat, sehingga dapat menghemat waktu dan dapat lebih banyak mencakup responden
c. Biaya relative murah
2. Kekurangan recall 24 jam
a. Tidak dapat menggambarkan asupan makanan sehari-hari,bila hanya dilakukan recall 3 hari
b. Tergantung pada daya ingat responden
c. Responden tidak berkata jujur, misal responden yang kurus melaporkan konsumsinya lebih banyak (over estimate) dan bagi yang gemuk melaporkan konsumsinya lebih sedikit (under estimate)
10. Pengukuran Status Gizi dengan IMT
a. Indek Massa Tubuh (IMT)
IMT yaitu metode untuk mengevaluasi hubungan BB dan TB. Rumus yang digunakan untuk menentukan IMT adalah sebagi berikut:
IMT = Berat badan (kg) Tinggi Badan (m)²
Kategori Ambang Batas IMT
Kategori IMT
Kurus Kekurangan berat badan < 18,5
Normal ≥ 18,5 - ≤ 24,9
Gemuk Kelebihan berat badan Obese
≥ 25,0 - < 27,0 ≥ 27,0
(Depkes RI, 2008)
Karateristik pasien: Umur
Jenis kelamin Tingkat pendidikan Pekerjaan
Kebutuhan Gizi
Asupan Energi, Zat Gizi Makro (Protein), Zat Gizi Mikro (Na, K, Ca, P) dan cairan.
Hasil pengukuran BIA
Status Gizi IMT Perawatan penyakit Status kesehatan Biokimia:
Ureum, CCT, Na, K, Tensi Obat-obatan
Varible yang diteliti : Varible yang tidak diteliti :
1. Umur
Lamanya hidup seseorang berdasarkan tanggal, bulan dan tahun dilahirkan atau umur berdasarkan pada saat penelitian.
Skala: Interval. 2. Jenis kelamin
Jenis kelamin pasien yang diketahui berdasarkan pada saat penelitian dan wawancara
Kategori; - Laki – laki -Perempuan Skala: Nominal
3. Pendidikan
Jenis pendidikan formal tertinggi yang dicapai oleh seseorang sampai saat penelitian.
Kategori: - Tamat SD -Tamat SMP -Tamat SLTA
-Tamat Perguruan Tinggi Skala: Ordinal
Jenis pekerjaan pasien yang diketahui berdasarkan pada saat penelitian. Skala: Nominal
5. Asupan energi
Asupan energi adalah benyaknya energi yang berasal dari makanan yang dikonsumsi oleh pasien sehari-hari yang dibandingkan dengan kebutuhan perindividu dengan menggunakan rumus perhitungan Standar Diet GGK dengan Dialisis (CAPD).
Kategori: - Defisit, < 75% dari kebutuhan - Sedang, 75 – 89% dari kebutuhan - Baik, 90 – 109% dari kebutuhan
- Sedang lebih, 110 – 125% dari kebutuhan - Lebih, > 125% dari kebutuhan
(Sumber: Sukardji, 2003) Skala: Ordinal
6. Asupan Protein
Asupan protein = banyaknya protein yang berasal dari makanan yang dikonsumsi oleh pasien sehari-hari yang dibandingkan dengan kebutuhan perindividu dengan menggunakan rumus perhitungan Standar Diet GGK dengan Dialisis (CAPD).
- Sedang, 75 – 89% dari kebutuhan - Baik, 90 – 109% dari kebutuhan
- Sedang lebih, 110 – 125% dari kebutuhan - Lebih, > 125% dari kebutuhan
(Sumber: Sukardji, 2003) Skala: Ordinal
7. Asupan Natrium
Jumlah asupan natrium responden selama sehari yang diperoleh melalui food recall 24 jam yang dianalis dengan alat bantu software Food Processor (FP2). Asupan sesuai dengan kebutuhan
Kurang : < 1gr/hari Baik : 1 – 4 gr/hari Lebih : > 4 gr/hari Sumber: Almatsier, 2005 Skala: Ordinal
8. Asupan Kalium
Kurang : < 2,7 gr/hari Baik : 2,7 – 3,3 gr/hari Lebih : > 3,3 gr/hari Sumber: Almatsier, 2005 Skala: Ordinal
9. Asupan Kalsium
Jumlah asupan Kalsium responden selama sehari yang diperoleh melalui food recall 24 jam yang dianalis dengan alat bantu software Food Processor (FP2). Asupan sesuai dengan kebutuhan
Kurang : < 900 mg/hari Baik : 900 – 1100 mg/hari Lebih : > 1100 mg/hari Sumber: Almatsier, 2005 Skala: Ordinal
10.Asupan Fosfor
Jumlah asupan fosfor responden selama sehari yang diperoleh melalui food recall 24 jam yang dianalis dengan alat bantu software Food Processor (FP2). Asupan sesuai dengan kebutuhan
Tidak Sesuai Kebutuhan (Tidak Baik) : > 17 mg/kg BB ideal/hari Sumber: Almatsier, 2005
Skala: Ordinal
11.Pengukuran BIA (Bio Impedance Analys)
BIA adalah alat untuk mengukur kadar lemak dan air dalam tubuh secara elektronik, pada penelitian yang digunakan khusus untuk mengukur kadar air yang terdapat di dalam tubuh seseorang. Kategori ditentukan dari tabel
51,8 – 37,8% 47,7 – 37,8% Sangat Kurang Diatas 30 tahun
49,1 – 37,8% 44,6 – 37,8% Sangat Kurang Skala: Ordinal
Antropometri
Berhubungan dengan berbagi macam pengukuran dimensi tubuh dan komponen tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis ukuran tubuh antara lain: berat badan dan tinggi badan pasien GGK dengan CAPD
Status Gizi
Status gizi merupakan keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang masa lalu. Untuk mengetahui status gizi pasien, maka dapat dilakukan menghitung dengan rumus IMT.
Kategori IMT
Kurus Kekurangan berat badan < 18,5
Normal ≥ 18,5 - ≤ 24,9
Gemuk Kelebihan berat badan Obese
≥ 25,0 - < 27,0 ≥ 27,0
Skala: Ordinal
BAB III
A. Ruang Lingkup
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran asupan energi zat gizi makro (protein), zat gizi mikro (natrium, kalium, kalsium, fosfor), cairan dan kadar air tubuh (BIA) pada Pasien GGK dengan CAPD (Rawat Jalan) di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Penelitian dilaksanakan Desember 2011 – 10 Agustus 2012.
B. Rancangan Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif. Jenis penelitian yang dilakukan secara cross sectional, karena variabel penelitian dependent dan independent dilakukan pada waktu yang sama dan sifatnya hanya sesaat (berlaku pada saat penelitian tersebut).
C. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah pasien GGK dengan CAPD yang dirawat jalan di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Sampel penelitian yang dilakukan adalah dengan cara “Purposive Sampling”, yaitu pengambilan jumlah sampel berdasarkan kriteria sebagai berikut:
a. Pasien GGK dengan CAPD yang sedang berkunjung ke Poli CAPD pada saat penelitian
b. Bersedia menjadi sampel ( bersedia menandatangani inform consent)
D. Data yang Dikumpulkan
Data yang dikumpulkan pada saat penelitian meliputi:
- Data Karakteristik pasien, meliputi; data identitas pasien (umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan pekerjaan).
- Data antropometri, meliputi: BB, TB
- Data kebutuhan energi zat gizi makro (protein), zat gizi mikro (Na, K, Ca, P) dan Cairan.
- Data asupan energi zat gizi makro (protein), zat gizi mikro (Na, K, Ca, P) dan Cairan.
- Data status gizi, meliputi: IMT dan persentase kadar air tubuh dengan BIA.
E. Cara Pengumpulan Data
1. Data karakteristik pasien, dilihat dari catatan medik dan dilengkapi wawancara dengan pasien.
yang diperoleh dengan cara menimbang BB menggunakan Bath Room Scale dengan tingkat ketelitian 0,1 Kg dan mengukur TB dengan menggunakan Microtoise dengan tingkat ketelitian 0,1 cm.
3. Data kebutuhan energi zat gizi makro (protein), zat gizi mikro (Na, K, Ca, P) diperoleh dengan menggunakan rumus perhitungan Standar Diet GGK dengan Dialisis (CAPD) dan Cairan diperoleh berdasarkan jumlah urin/24 jam ditambah 500 – 750 ml.
Data asupan energi zat gizi makro (protein), zat gizi mikro (Na, K, Ca, P) dan cairan dievaluasi dengan kebutuhan zat gizi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan menggunakan Metode Food Recall 24 jam dan alat bantu food model, yaitu dengan mencatat jenis, jumlah dan frekuensi bahan makanan yang dikonsumsi oleh pasien. Untuk asupan energi ditambah dengan hasil perhitungan energi dari cairan dialisa. Untuk sehari pasien melakukan penggantian cairan dialisa 4x sehari, adapun penambahan energi dari penggantian cairan seharinya adalah 336 kkal. Energi dari Cairan Dialisa Sehari :
4 x 2000 ml (cairan dextrose) x 1,5% (konsentrasi dextrose) = 120 gr x 4 kkal/gr = 480kkal
= 480 x 70% (kalori yang bisa diserap tubuh dari cairan) = 336 kkal
saat pasien berkunjung. Hasil wawancara kemudian dibandingkan dengan kebutuhan gizi pasien.
4. Data penilaian status gizi dengan menggunakan rumus IMT yaitu mengevaluasi hubungan BB dan TB dan pengukuran persentase kadar air tubuh (BIA) dengan alat bantu (Portable Monitor for Body Fat & Hydration) yang berdasarkan jenis kelamin, umur, tinggi badan, dan berat badan.
Rumus IMT = BB(kg) TB2
(m¿ ¿2)¿
Cara pengoperasian Portable Monitor for Body Fat & Hydration
Awal set up :
1. Tekan tombol ‘on/set’ kunci untuk bangun sampai semua segmen LCD menyala sebentar dan cepat untuk pengaturan modus mulai dari pilihan memori. Dengan menekan tombol 'on / set' kembali tombol masih melalui siklus pengaturan semua parameter.
2. Pegang perangkat di depan dada dan tegak lurus lengan tubuh (selalu pastikan menggunakan tangan kering dan bersih untuk memegang perangkat secara langsung). Sejajarkan tangan untuk bantalan BIA konduktif, satu untuk setiap tangan.
3. Segera setelah memegang bantalan, dalam beberapa detik secara otomatis akan mengukur % lemak dan % hidrasi.
antara nilai dari % lemak dan % hidrasi selama 5 kali, dan kemudian secara otomatis berhenti. Sumber: Portable Monitor for Body Fat & Hydration
F. Cara Pengolahan dan Analisis Data 1. Cara Pengolahan dan Analisis Data
- Data karakteristik meliputi; data identitas pasien (umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan pekerjaan), dilakukan seleksi dan penyusunan data, klasifikasi dan diolah dengan teknik analisis kualitatif melalui proses komputerisasi dengan alat bantu Software SPSS release 11.5 - Data kebutuhan energi zat gizi makro (protein), zat gizi mikro (Na, K,
Ca, P), Cairan diolah dengan cara perhitungan secara manual.
- Data asupan energi zat gizi makro (protein), zat gizi mikro (Na, K, Ca, P) dan Cairan diperoleh dengan cara melakukan food recall 24 jam kemudian dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan alat bantu software Food Processor 2 (FP2). Hasil analisa asupan energi zat gizi makro (protein), zat gizi mikro (Na, K, Ca, P) dibandingkan dengan kebutuhan zat gizi per individu berdasarkan rumus perhitungan Standar Diet GGK dengan Dialisis (CAPD). Untuk asupan cairan dibandingkan dengan jumlah urin/24 jam ditambah 500 – 750 ml.
DEPKES, status gizi berdasarkan pengukuran BIA kemudian hasilnya akan dibandingkan dengan tabel BIA (Portable Monitor for Body Fat & Hydration) yang berdasarkan jenis kelamin, umur, tinggi badan, dan berat badan untuk mengetahui intepretasi hasil persentase kadar air tubuh.
2. Penyajian data