• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH METODE PEMBELAJARAN TERHADAP MI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH METODE PEMBELAJARAN TERHADAP MI"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH METODE PEMBELAJARAN TERHADAP MINAT BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PADA SISWA KELAS V SDN CIREUNDEU, KOTA TANGERANG SELATAN

Oleh: Iswan1

Hasil penelitian Pengaruh Metode Pembelajaran Terhadap minat belajar pendidikan kewarganegaran pada siswa kelas V SDN Cireundeu, Kota Tangerang Selatan. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner yang terdiri dari 35 item pernyataan. Berdasarkan hasil uji hipotesis telah memenuhi syarat. Metode penelitian melalui pendekatan kuantitatif deskriptif. Sampel terdistribusi secara normal dan homogen. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 40 siswa. Hasil penelitian, berdasarkan pengujian hipotesis diperoleh harga t-hitung lebih tinggi dari t-tabel.

Dengan demikian hipotesis nol (Ho) menyatakan bahwa minat siswa belajar

dengan menggunakan pendekatan metode demonstrasi mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan, dan minat siswa yang belajar dengan metode ceramah pembelajaran, yang ditolak. Sedangkan hipotesis penelitian (Hi) yang menyatakan

bahwa minat siswa belajar pendidikan kewarganegaraan melalui pendekatan metode demonstrasi lebih tinggi dari siswa yang diajarkan melalui pendekatan metode ceramah dapat diterima. Maka berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa minat siswa yang diajarkan dengan metode demonstrasi lebih tinggi dari siswa yang belajar pendidikan kewarganegaraan melalui pendekatan metode ceramah.

Kata Kunci: Pengaruh metoda pembelajaran terhadap minat belajar Pendidikan Kewarganegaraan.

[email protected]

ABSTRAK

1

(2)

Pendahuluan

Proses pendidikan pada akhirnya akan mengarah pada suatu tujuan, yang mana pendidikan ini diartikan lebih luas dan lebih kompleks. Secara umum, tujuan pendidikan adalah pembentukan manusia yang bukan hanya dapat menyesuaikan diri hidup dalam masyarakat, melainkan lebih dari itu, yaitu mampu menyumbangkan bagi kesempurnaan masyarakat itu sendiri. Ini berarti bahwa lulusan sekolah bukan hanya menghayati dan menginternalisasi nilai-nilai yang hidup di masyarakat, akan tetapi bila perlu mampu mendeteksi kekurangannya sehingga memungkinkan penyempurnaannya (T.Raka Joni,1977).

Pendidikan merupakan faktor penting yang harus diprioritaskan dalam pembangunan, diharapkan setiap program pendidikan harus senantiasa diintegrasikan dalam program pembangunan, sehingga akan terwujud generasi penerus yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan yang luas dan ketrampilan yang bermanfat yang akan menunjang program pembangunan. Dalam pengertian yang sederhana dan umum, makna pendidikan adalah sebagai usaha sadar untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan2

Tenaga pendidik/Guru mempunyai peranan dalam membimbing siswa agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan dalam proses pembelajaran, dimana semuanya sangat menentukan terhadap keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan dengan adanya perubahan tingkah laku siswa sebagai warganegara, hasil belajar melalui pendekatan model pembelajaran demontrasi dan ceramah khususnya untuk mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan. Dalam interaksi belajar mengajar antara guru dan siswa, diharapkan dapat berjalan dengan seefektif dan seefesien mungkin dalam mencapai tujuan, karena seorang guru selalu ingin agar ia berhasil dalam mengajarnya. Semua ilmu, pengetahuan, kecakapan dan ketrampilan yang diajarkan kepada siswanya diharapkan dapat diterima. dicamkan, diingat dan direproduksikan oleh siswanya. Dalam mengajarkan suatu bahan pelajaran dengan baik, meminta dari guru suatu usaha yang memerlukan pengorganisasian yang matang dari semua komponen dalam situasi mengajar, dalam hal ini guru perlu memikirkan strategi pengajaran yang akan digunakan dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan. Pada konteks belajar mengajar, strategi adalah suatu rencana mengenai pendayagunaan dan pengunaan

.

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang secara potensial memiliki peranan strategis bagi pembinaan generasi muda untuk dapat berpartisiapasi dalam proses pembangunan negara yang sedang berkembang. Diantara sekian banyak lembaga pendidikan, sekolah dipandang sebagai lembaga sosial yang direncanakan dan diawasi prosesnya. Dengan demikian sekolah merupakan lembaga sosial yang diberi tugas untuk menyelenggarakan kegiatan pembelajaran dengan tenaga pengajar khusus, fasilitas fisik dan kurikulum yang digunakannya. Pada proses pelaksanaan pendidikan di sekolah, guru memegang peranan yang menentukan, karena bagaimanapun keadaan anak didik pada akhirnya tergantung pada guru dalam memanfaatkan kemampuan yang ada, khususnya dalam pembelajaran mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan.

(3)

potensi dan sarana yang ada untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengajaran.

Strategi yang diterapkan melalui pendekatan metode pengajaran pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan di SDN Cireundeu, Kota Tangerang Selatan yaitu denagn cara atau jalan mencapai tujuan pembelajaran yang lebih baik untuk masa depan. Selain itu di dalam strategi juga terdapat alat bantu (media) pembelajaran, alat ini digunakan untuk meningkatkan proses pencapaian dengan cara memperjelas dan mempermudah bahan pelajaran yang dipelajari siswa.3

Pendidik/Guru harus dapat mengusahakan agar pelajaran atau proses pengajaran itu lebih menarik, memberikan metode yang sesuai sehingga membangkitkan minat siswa dalam belajar. Minat memudahkan tercapainya konsentrasi dalam pikiran seseorang, karena semankin besar minat seseorang maka akan semakin besar perhatiannya akan sesuatu.

Banyak alternatif metode pengajaran yang dapat dipilih dan digunakan oleh guru, namun pada prinsipnya tidak ada satu pun, metode pengajaran yang dapat dipandang sempurna dan cocok dengan semua pokok bahasan yang ada dalam setiap bidang studi yang diajarkan. Untuk itu sebaiknya pendidik memilih metode pengajaran yang lebih tepat untuk digunakan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan metode pembelajaran yaitu disesuaikan dengan tujuan pengajaran, materi pelajaran, jumlah siswa, kemampuan siswa untuk menerima materi pelajaran pendidikan kewarganegaraan, kemampuan guru dalam penggunakan berbagai jenis metode pengajaran, fasilitas yang ada dan waktu yang disediakan untuk penyajian.

Pemilihan model, metode pembelajaran, tenaga pendidik/guru dapat melihat berdasarkan kelebihan dan kelemahan metode yang akan digunakan. Salah satu metode yang digunakan di sekolah adalah metode demonstrasi, dalam hal ini peneliti mencoba melihat seberapa besar pengaruh minat belajar siswa dalam belajar mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan, jika dibandingkan antara penggunaan metode demonstrasi dengan metode ceramah. Metode demonstrasi merupakan metode pengajaran yang digunakan guru dalam memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang ada relevansinya dengan pendidikan kewarganegaraan di sekolah dasar, yang sedang diberikan. Disamping faktor metode, faktor siswa juga tidak kalah penting dalam menentukan pencapaian keberhasilan siswa. Salah satu faktor yang ada dalam diri siswa yang mempengaruhi hasil belajar adalah minat siswa dalam belajar mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan. Pada umumnya siswa cenderung enggan untuk mengikuti pelajaran dikarenakan cara penyajian yang terkadang terkesan membosankan.Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya variasi dalam pengajaran yang dapat membuat anak tertarik untuk belajar atau dalam hal ini penggunaan metode yang kurang tepat.

4

3Slameto, Proses Belajar Mengajar Dalam Sistem Kredit Semester, ( Jakarta: Bumi

Aksara,1991),hlm.90.

4

(4)

siswa, materi pelajaran pendidikan kewarganegaraan, termasuk dalam sumber-sumber belajar. Untuk itu pemilihan metode pengajaran yang tepat juga menjadi perhatian dalam kawasan Teknologi Pendidikan agar dalam proses pengajaran, guru dapat memberikan pengajaran dengan baik kepada siswa.Pemilihan metode pengajaran yang tepat akan membantu siswa dalam upaya memahami pelajaran tersebut, yang diharapkan dapat membangkitkan minat belajar siswa SDN Cireundeu, Kota Tangerang Selatan.

Metodologi Penelitian

Fokus penelitian ini ialah secara empiris tentang Pengaruh Metode Pembelajaran Terhadap Minat Belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada Siswa Kelas V SDN, Cireundeu, Kota Tangerang Selatan, melalui pendekatan kuantitatif deskriptif. Tempat dan Waktu Penelitian.Tempat pelaksanaan penelitian: di SDN Cireundeu, Kota Tangerang Selatan. Waktu pelaksanaan penelitian: 6 bulan. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan kuisioner atau angket. kuisioner atau angket adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (Responden).5

Berdasarkan pengertian tersebut dapat diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku yang relatif permanen sebagai akibat dari latihan atau pengalaman. Perubahan tingkah laku sebagai warganegara akan sadar bahwa hasil belajar memiliki pengertian yang luas, bisa berupa keterampilan fisik, verbal, intelektual, maupun sikap. Terkait dalam hal belajar, Slameto mendefinisikan belajar yaitu: “Sebagai suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”

Jumlah Sampel Populasi sasaran dalam penelitian ini yaitu siswa-siswi SDN Cireundeu, Kota Tangerang Selatan. Populasi studi siswa-siswi Kelas V SDN Cireundeu berjumlah 40 orang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kelas V, yaitu Kelas VA dan Kelas VB yang secara keseluruhan diambil 40 orang siswa. Variabel Penelitian. Dalam penelitian ini terdapat dua variable, yaitu: Variabel bebas: Metode Pembelajaranm. Kelas A yang diberi pembelajaran dengan metode demontrasi. Kelas B yang diberi pembelajaran dengan metode ceramah. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah kuisioner atau angket.

Kajian Teori

Pengertian Belajar :

Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah aku yang potensial terhadap situasi tertentu yang diperoleh dari pangalaman yang dilakukan secara berulang-ulang. Hilgard, (1981). Menurut Inger (1980), belajar adalah perubahan-perubahan perilaku yang potensial yang tercermin sebagai akibat dari latihan dan pengalaman masa lalu terhadap situasi tugas tertentu. Belajar menurut pendapat para ahli lain adalah perubahan tingkat laku atau perubahan kecakapan yang mampu bertahan dalam waktu tertentu dan bukan berasal dari proses pertumbuhan.

6

5

Ating Somentri, Sambas Ali Muhidin, Aplikasi Statistika Dalam Statistika (Bandung: 2006 Penerbit Pustaka Setia), hlm.78

6

Ibid, hlm.78-79.

(5)

Selanjutnya, Sumadi Suryabrata mengemukakan belajar sebagai proses perkembangan individu yang dipengaruhi oleh faktor dalam atau faktor psiologis dan faktor luar. Faktor dalam adalah minat, bakat dan sifat kepribadian lainnya, sedangkan faktor luar adalah lingkungan.7

Model pembelajaran dalam menyampaikan materi pelajaran bagi siswa, guru memerlukan adanya suatu metode pembelajaran. Menurut Winarno Surakhmad, seperti yang dikutip oleh Suryosubroto, metode adalah cara-cara pelaksanaan dalam proses pembelajaran, atau bagaimana teknisnya Menurut Bloom (1955), perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam 3 ranah, yaitu: a) kognitif, b) afektf, c) psikomotor. Dari ketiga kesadaran gerak dasar tersebut yang harus dicapai melalui pendidikan jasmani di sekolah, maka komponen gerak dasar yang perlu diajarkan oleh guru dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Pengertian Gerak

Dalam proses pembelajaran, bahwa kata gerak banyak digunakan diberbagai disiplin ilmu pengetahuan misalnya, dalam ilmu-ilmu sosial dan eksakta. Namun kata gerak diberbagai disiplin ilmu tersebut mempunyai pengertian yang berbeda, minsalnya adalah gerak dalam kalimat. Dalam ilmu fisika, gerak diartikan sebagai suatu proses perpindahan suatu benda dari suatu posisi keposisi lain yang dapat diamati secara objektif dalam suatu dimensi ruang dan waktu. Pengertian dapat diamati secara objektif adalah bahwa perpindahan benda tersebut dapat diukur dalam suatu satuan waktu dan ruang. Gerak adalah perpindahan suatu benda dari seuatu tempat atau posisi ketempat yang lain yang dapat diamati secara objektif dalam suatu dimensi ruang dan waktu (fisika). Gerak adalah perubahan tempat posisi dan kecepatan tubuh atau bagian manusia yang terjadi dalam suatu dimensi ruang dan waktu serta dapat diamati secara objektif (belajar motorik).

2. Pengertian Motorik

Pengertian motorik dan gerak sering kali menjadi satu. Motorik dapat diartikan sebagai suatu rangkaian peristiwa laten yang tidak dapat diamati dari luar. Pengertian umum ini belum dapat memberikan kejelasan yang lebih tajam, untuk itu diperlukan suatu defenisi yang lebih operasional.”Motorik adalah suatu peristiwa laten yang meliputi keseluruhan proses pengendalian dan pengaturan fungsi-fungsi organ tubuh baik secara fisiologis maupun secara psikis yang menyebabkan terjadinya suatu gerak” peristiwa laten yang tidak dapat diamati tersebut meliputi antara lain: Penerimaan informasi/stimulus; pemberian makna terhadap informasi; pengolahan informasi; proses pengambilan keputusan,dan dorongan untuk melakukan berbagai bentuk aksi-aksi motorik (keseluruhannya merupakan peristiwa psikis) setelah itu dilanjutkan dengan peritiwa fisiologi yang meliputi pemberian. Pengaturan dan pengendalian infus kepada organ tubuh yang terlibat dalam melaksanakan aksi-aksi motorik. Sebagai hasil dari kedua peristiwa laten tersebut adalah gerak yang dapat diamati dalam dimensi ruang dan waktu

3. Pengertian Metode Pembelajaran.

7

(6)

suatu bahan pelajaran diberikan kepada siswa di Sekolah.8 Metode Pembelajaran menurut Muhibbin Syah adalah cara yang berisi prosedur baru untuk melaksanakan kegiatan pendidikan, khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran kepada siswa.9

Beberapa metode mengajar yang biasa digunakan pendidik/guru di sekolah, salah satunya adalah metode demonstrasi. Metode demonstrasi menurut Slameto adalah penyajian bahan pelajaran oleh pendidik/guru kepada siswa dengan menggunakan model atau benda asli, atau dengan menunjukan urutan prosedur perbuatan sesuatu atau proses terjadinya sesuatu untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Proses pembelajaran, pendidik/guru harus benar-benar memperhatikan metode pembelajaran yang digunakan, dengan mengetahui memahami dan dapat menggunakan berbagai metode pembelajaran yang diterapkan pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan, serta dapat memilih metode pembelajaran yang tepat. Kegiatan belajar mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai pendidikan. di dalamnya terjadi interaksi eduktif antara guru dan siswa pada saat guru menyampaikan materi pelajaran kepada siswa di kelas. Mata pelajaran yang diberikan itu sebaiknya dapat mendorong siswa mempunyai minat dalam belajar. Jika guru dalam hal penyampaian materi pelajarannya kurang memberikan dorongan kepada siswa, bisa jadi hal ini disebabkan penggunaan metode pembelajaran yang tidak sesuai dengan materi pelajaran. Untuk itu, peranan metode pembelajaran menempati posisi penting dalam penyampaian materi pelajaran.

4. Pengertian Metode Demonstrasi.

10

Jusuf Djayadisastra, mendefinisikan metode demonstrasi sebagai suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung objeknya, atau caranya melakukan sesuatu atau mempertunjukkan sesuatu.11 Selain itu, Syaeful Bahri dan Aswan Zain, juga berpendapat bahwa metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik sebenarnya maupun tiruan yang disertai dengan penjelasan.12

Penjelasan metode demonstrasi yang dilakukan untuk pembelajaran pendidikan kewarganegaraan, telah disebutkan di atas dapat menyimpulkan bahwa metode demonstrasi adalah metode pembelajaran untuk memperjelas pengertian sesuatu dan memperlihatkan cara melakukan sesuatu atau proses terjadinya sesuatu. Umpan balik ini juga untuk mengarahkan siswa dalam menemukan konsep-konsep dan prinsip yang terlihat dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan melalui pendekatan metode demonstrasi atau melihat apakah tujuan demonstrasi telah tercapai. Jadi metode demonstrasi tidak hanya sekedar memperlihatkan sesuatu akan tetapi juga untuk

8

B. Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997),hlm.148.

9

Muhibbin Syah,Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Cara Baru. ( Bandung : Remaja Rosdakarya,1995).hlm.201

10

Slameto, Proses Belajar Mengajar Dalam Sistem Kredit Semester, ( Jakarta: Bumi Aksara, 1991, hlm.112

11Jusuf Djajadisastr, Metode-metode Mengajar, (Bandung: Angkasa, 1982), hlm.93. 12

(7)

memantapkan suatu pengertian dan memperkuat suatu pengertian. Dalam penggunaan metode demonstrasi ini peranan pendidik/guru sangatlah penting karena menuntut kejelasan dari suatu yang diperagakan dan diterangkan sangat bergantung dari cara pendidik/guru itu memperlihatkannya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Analisis Instrumen Penelitian.

Analisis penggunaan instrumen penelitian meliputi Uji Validitas dan Uji Reliabilitas. Uji coba instrumen penelitian dilakukan yang diambil secara acak. Dari uji validitas maupun uji reliabilitas tersebut ditunjukkan bahwa keseluruhan butir pernyataan dapat digunakan. Data dan perhitungan rinci uji validitas dan uji reliabilitas adalah sebagai berikut: Uji Validitas. Berdasarkan data yang diperoleh untuk uji coba instrumen penelitian seperti yang terlihat berikut: Koefisien validitas dihitung dengan menggunakan ungkapan korelasi product moment, dan diperolehrxy=0,7263. Dimana rxy hasil

perhitungan tersebut dikonsultasikan koefisien korelasi product moment, r-tabel = 0,514. Karena rxy hitung lebih besar dari rxy– tabel maka pernyataan No 3 dari

angket yang diujicobakan itu dinyatakan adalah valid. Sedangkan hasil perhitungan dari No butir lain dari angket, disajikan pada Tabel 12, dan memperlihatkan bahwa keseluruhan butir pernyataan pada angket dapat digunakan. Uji yang sama dilakukan terhadap kelompok yang diajarkan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan Metode Ceramah, diperoleh

L-hitung atau (Lo) yang terbesar adalah 0,040. Sedangkan dari daftar harga kritis L

untuk Uji Lilliefors dengan taraf signifikasi 5% ( α = 0.05) dan sampel berjumlah 40 (n = 40) , didapat harga Ltabel adalah 0,140. Dengan demikian

Lhitung lebih kecil dari Ltabel atau (0,040 < 0,140 ) sehingga kesimpulannya

populasi berdistribusi normal. 2. Uji Homogenitas Data.

Uji normalitas memberikan indikasi data penelitian berdistribusi normal, maka selanjutnya dilakukan uji homogenitas dengan uji-F dari data hasil penelitian yang tercantum pada tabel 13. pada lampiran 2.yang kemudian diolah menjadi tabel 7 dimana X=Skor minat belajar kelompok Demontrasi mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dan X2= Skor minat belajar

kelompok Ceramah. Dari Ftabel pada taraf signifikasi 0,05 dengan dk pembilang

40 - 1=39 dan dk penyebut 40-1 = 39 diperoleh harga F tabel adalah 1,39

Jadi Hasil Pengujian adalah F hitung < F tabel ( 1,36 < 1,39 ), Maka Ho diterima

(8)

Skor Minat Belajar siswa untuk mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan, kelompok siswa yang diajarkan dengan Metode Ceramah. Berdasarkan pengolahan data Hasil Penelitian minat belajar siswa kelompok yang diajarkan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan Metode Ceramah, didapat skor minimum 88, skor maksimum 140, nilai rata-rata 109,95 median 112,78 sedangkan modus 105,6.

E. Pengujian Hipotesis.

Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas yang menyatakan bahwa sampel berdistribusi normal dan bersifat homogen maka untuk mengetahui perbedaan skor rata-rata sampel X1 dan X2 dilakukan uji–t 13

1

Setelah dilakukan pengolahan dan perhitungan dari data penelitian yang ada diperoleh harga t-hitung sebesar 3,93. Sedangkan harga t tabel dengan dk = 78 dan

taraf signifikasi 5% (α = 0,05 ) tidak ada, yang terlihat adalah pada dk = 80 sebesar 1,99 ( tabel 20 ).Dengan demikian harga t - hitunglebih besar dari harga t-tabel ( 3,93 > 1,99 ).

Dari data penelitian uji coba instrument penelitian diperoleh hasil bahwa butir-butir pernyataan dapat dikatakan valid dan realibel, sehingga penelitian dengan instrument penelitian yang berupa angket dan terdiri dari 35 butir pernyataan dapat dilanjutkan. Tetapi untuk menguji hipotesis penelitian harus memenuhi syarat apakah sampel atau respondennya berdistribusi normal dan homogen. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa sampel atau responden berdistribusi normal dan homogen. Dari hasil pengujian hipotesis didapat harga

t-hitung lebih tinggi daripada harga t-tabel. Dengan demikian hipotesis nol (Ho) yang

menyatakan bahwa minat belajar siswa yang diajar dengan metode demonstrasi sama saja dengan minat belajar siswa yang diajar dengan metode belajar ceramah, yaitu ditolak. Sedangkan hipotesis penelitian (Hi) yang menyatakan bahwa minat

belajar siswa yang diajarkan dengan metode demonstrasi lebih tinggi daripada minat belajar siswa yang diajarkan dengan metode ceramah diterima.

Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa minat belajar siswa yang diajarkan dengan metode demonstrasi lebih tinggi daripada minat belajar siswa yang diajarkan dengan metode ceramah. Hal ini berarti pelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi mempunyai pengaruh positif terhadap minat belajar siswa, ada pengaruh positif metode demonstrasi terhadap minat belajar dalam pelajaran

Kesimpulan.

1. Berdasarkan pengujian hipotesis dengan menggunakan rumus uji-t, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh metode demonstrasi terhadap minat siswa untuk belajar pendidikan kewarganegaraan. Hasil analisis menunjukkan bahwa t-hitung adalah 3,93, sedangkan t-tabel adalah 1,99 pada

13

(9)

taraf siginifikasi 5% (α = 0,05) dengan derajat kebebasan (dk -78). Dengan kata lain t- hitung lebih besar daripada t-tabel (3,93 >1,99), sehngga

hipotesa nol (Ho) ditolak dan hipotesa penelitian diterima. Dengan demikian

dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif pada penggunaan metode demonstrasi terhadap minat belajar siswa kelas V belajar mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan.

2. Penelitian yang dilakukan dapat memberikan implikasi bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode demontrasi merupakan salah satu upaya untuk membangkitkan minat siswa, Hal ini terlihat dengan lebih besarnya minat siswa yang diajarkan dengan metode demonstrasi dibandingkan dengan metode ceramah. Penggunaan metode demonstrasi diharapkan dapat menjadi masukan bagi guru dalam meningkatkan minat siswa dalam belajar.

Saran-saran.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut :

1. Hendaknya setiap guru memperhatikan aspek-aspek internal yang ada dalam diri siswa, diantaranya adalah minat. Metode demontrasi sangat cocok untuk mengatasi kebosanan dan menjaga perhatian terhadap mata

pelajaran pendidikan kewarganegaraan yang sedang dihadapinya.

2. Untuk dapat menerapkan metode demonstrasi dengan baik, diperlukan kemampuan guru untuk dapat memperagakan demontrasi dengan tepat dan dapat mengelola waktu dengan baik sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efesien..

(10)

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abror, Abdul Rahman, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta, 1997 Ating Somantri,Drs, Sambas Ali Muhidin, S.Pd, Aplikasi Statistika Dalam Penelitian Bandung, Penerbit Pustaka Setia, 2006..

Arikunto, Suharsimi. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan . Jakarta : Bumi Aksara,1993

Bahri, Syaiful, Zain, Aswan, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Rineka Cipta,1997.

Djajadisastra, Jusuf, Metode-metode Mengajar, Bandung : Angkasa , 1982 Furchan Arief, Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, Surabaya : Usaha Nasional,1982.

Hasbi Ash Shiddieqy, Pedoman Shalat, Jakarta : Bulan Bintang, Cet. XV,1986. Ihsan, Fuad. Dasar- dasar Kependidikan, Jakarta : Rineka Cipta, 1997. Multahim,dkk. Agama Islam I, Jakarta : Yudhitira, 2007.

Purwanto Ngalim, Psikologi Pendidikan, Bandung : Remaja Rosdakarya,1990. Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : Rajawali Pers,1986. Singer, Kurt, Membina Hasrat Belajar di Sekolah, Bandung : Remaja

Rosdakarya,1991

Slameto, Proses Belajar Mengajar dalam Sitem Kredit Semester, Jakarta : Bumi Aksara, 1991

Soemanto, Wasty, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta,1990.

Sriyono, dkk, Teknik Belajar Mengajar Dalam CBSA, Jakarta : Rineka Cipta, 1992.

Staton, Thomas F, Cara Mengajar Dengan Hasil Yang Baik, Bandung : Dipenegoro, 1978.

Sudjana, Metode Statistika , Bandung , Tarsito.1996.

Sujanto, Agus, Psikologi Umum, Jakarta : Bumi Aksara, 1993. Suparno,Dimensi-dimensi Mengajar, Bandung : Sinar Baru,1988

Suryabrata, Sumedi . Psikologi Pendidikan, Jakarta : Raja Garafindo Persada, 1993.

Suryobroto, B. Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Jakarta : Rineka Cipta, 1997. Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung :

Remaja Rosdakarya, 1995.

Referensi

Dokumen terkait

 Lombok Utara : Infrastruktur Pendukung, Efektivitas Promosi dan Penguasaan Bahasa Inggris Masih Perlu Perhatian.  Tana Toraja : Penguasaan Bahasa, Biro

Fase pre-ovulatori merupakan waktu antara hari terakhir menstruasi dengan ovulasi. Di ovarium, folikel sekunder mulai mensekresikan estrogen dan inhibin. Pada hari ke-6,

Ketergantungan warga desa terhadap lingkungan membuat mereka menolak dengan keras pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah, sehingga perlawanan terhadap pembangunan

Rancangan diagram aliran data pada sistem pendukung keputusan dana rekontruksi korban bencana alam prosesnya diawali dari pihak admin yang memasukkan data – data

Skor 3 jika pernyataan tersebut dilakukan oleh tidak kurang dari 41%dan tidak lebih dari 60% seluruh kelompok. Skor 4 jika pernyataan tersebut dilakukan oleh tidak kurang dari 61%

[r]

Kedua, bab teori, yang menampilkan konsep dan pendekatan tentang persaingan politik dan pilihan rasional. Keduanya dibutuhkan sebagai salah satu instrumen

Kondisi ini di manfaatkan oleh para pebisnis Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk menggunakan Instagram sebagai platform s-commerce. Hasil survei Instagram.. kepada 502