• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proposal PKL Identifikasi morfologi tana

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Proposal PKL Identifikasi morfologi tana"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

spp.) di Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua barat

Nama : Muhammad Prayoga

NIM : J3W412014

Disetujui oleh

Tanggal disetujui :

Prof Dr Ir H M.H. Bintoro Djoefri e, MAgr Dosen Pembimbing I

Ratih Kemala Dewi, SP Dosen Pembimbing II

Prof Dr Ir H M.H. Bintoro Djoefri e, MAgr Koordinator Program Keahlian

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, proposal Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang berjudul identifikasi morfologi tana-man sagu (Metroxylon spp.) di Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua barat dapat diselesaikan.

Proposal Praktik Kerja lapangan (PKL) ini merupakan salah satu syarat se-belum melakukan kegiatan PKL pada Program Keahlian Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian, Program Diploma, Institut Pertanian Bogor. ucapkan terima kasih ditujukan kepada :

1. Prof Dr Ir H M.H. Bintoro Djoefrie, MAgr selaku koordinator Program Keahlian Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian serta sebagai dosen pembimbing yang telah memberi bimbingan dan saran selama proses penulisan proposal praktik kerja lapangan sehingga proposal ini dapat diselesaikan dengan baik.

2. Ratih Kemala Dewi, SP sebagai dosen pembimbing yang telah memberi bimbingan dan saran selama proses penulisan proposal praktik kerja lapangan sehingga proposal ini dapat diselesaikan dengan baik.

3. Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Meranti yang telah memberikan beasiswa untuk menjalani pendidikan di Program Diploma, Institut Pertanian Bogor.

4. Orang tua penulis dan seluruh keluarga yang telah memberikan dukungan selama ini.

5. Teman-teman angkatan 49 yang senantiasa membantu dan mendukung dalam menyelesaikan kegiatan ini dengan baik.

Semoga proposal Praktik Kerja Lapangan (PKL) ini dapat berguna sebagai pedoman dalam pelaksanaan peraktik kerja lapang di lapangan dan bermanfaat bagi para pembaca, khususnya mahasiswa dan masyarakat pada umumnya.

Bogor, Januari 2015

(3)

DAFTAR IS

DAFTAR ISI iv

DAFTAR TABEL iv

DAFTAR GAMBAR v

PENDAHULUAN 1

Latar belakang 1

Tujuan 2

TINJAUAN PUSTAKA 3

Botani Tanaman Sagu 3

Batang 3

Daun 4

METODOLOGI 5

Waktu dan Tempat 5

Bahan dan Alat 5

Metode Pelaksanaan 5

Metode Pengamatan 6

Metode Analisis Data 11

RENCANA KEGIATAN DAN ANGGARAN BIAYA 12

Rencana Kegiatan 12

Rencana Anggaran Biaya 13

DAFTAR PUSTAKA 15

LAMPIRAN 16

DAFTAR TABEL

1 Rencana kegiatan PKL 12

2 Rencana anggaran biaya 13

(4)

DAFTAR GAMBAR

1 Pengukuran panjang batang 6

2 Pengukuran lingkar batang 6

3 Pengamatan warna daun sagu 7

4 Bentuk bunga sagu 7

5 Pengamatan buah sagu 7

6 Pengamatan pelepah sagu 7

7 Pengamatan penampakan kulit batang 8

8 Pengamatan kerapatan duri 8

9 Pengamatan rumpun tanaman sagu 8

(5)

PENDAHULUAN

Latar belakang

Sagu mempunyai peranan sosial, ekonomi, dan budaya yang cukup penting di Propinsi Papua karena sagu merupakan bahan makanan pokok bagi masyarakat, terutama yang bermukim didaerah pesisir. Pertanaman sagu di Papua cukup luas, na-mun luas areal yang pasti belum diketahui. Pada umumnya kondisi perkebunan sagu di daerah Papua masih dalam kondisi hutan. Hutan sagu di Papua merupakan komuni-tas yang terdiri akomuni-tas campuran tanaman sagu dan tanaman non sagu. Proporsi tanaman sagu dalam hutan sagu bervariasi antara kurang dari 30 persen sampai 90 persen (Haryanto dan Pangloli 1992). Hal ini menyulitkan dalam memperoleh data yang pasti mengenai luas daerah penyebaran sagu dan jenis sagu apa saja yang tumbuh di Papua.

Sekitar 40 persen vagetasi sagu di Papua adalah areal produksi yang potensial untuk dipanen. Sorong Selatan memiliki vegetasi sagu yang tesebar di berbagai keca-matan. Vegetasi sagu sekitar 53 000 ha di Inanwatan dan 94 600 ha di Sungai Kais dan Metamani telah siap untuk dipanen(Yumte 2008). Sagu merupakan makanan pokok bagi mayarakat di Distrik Kais, Kokoda, Inanwatan, dan sebagian Seremuk. Masyarakat lokal mengolah sagu untuk konsumsi sehari-hari dan sebagian dijual ke pasar. Pengolahan sagu masih menggunakan teknik tradisional yang diturunkan se-cara turun temurun (Yumte 2008).

Tanaman sagu yang tumbuh di Papua terdiri atas banyak aksesi, dan sampai saat ini telah diidentifikasi 60 aksesi pada empat tempat di Papua (Kanro et al.2000). Dari aksesi-aksesi ini ada yang berpotensi hasil tinggi dan ada pula yang berpotensi hasil rendah dan sedang. Namun dari aksesi yang telah diketahui belum semuanya teridentifikasi baik dari segi morfologinya maupun potensi produksi patinya. Hal tersebut dikarenakan masih minimnya orang yang mau mempelajari dan meneliti tanaman sagu. Identifikasi tanaman sagu menjadi penting karena dengan adanya iden-tifikasi dapat diketahui ciri-ciri serta potensi dari setiap tanaman sagu yang berbeda-beda dari segi morfologinya maupun dari segi potensi lainnya. Identifikasi diperlukan untuk mengidentifikasikan ciri-ciri dari aksesi-aksesi sagu yang telah diklasifikasikan secara morfologi sehingga dapat diketahui perbedaan berdasarkan morfologi dari se-tiap aksesi sagu tersebut.

(6)

Tujuan

Tujuan umum kegiatan Praktik Kerja Lapangan ini adalah untuk mengidenti-fikasi ciri-ciri morfologi sagu yang terdapat ditempat Praktik Kerja Lapangan. Sedan-gkan tujuan khusus PKL ini adalah :

1. Mengetahui peubah yang diamati dalam proses identifikasi tanaman sagu.

2. Mengetahui ciri–ciri morfologi dari setiap aksesi tanaman sagu yang di identi-fikasi.

3. Mengetahui potensi produksi pati dari setiap aksesi tanaman sagu yang di identi-fikasi.

(7)

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman Sagu

Tanaman sagu ( Metroxylon spp.) merupakan tanaman monokotil,secara tak-sonomi dapat dijelaskan berdasarkan klasifikasinya, Ordonya adalah Spadiciflora, ter-masuk kedalam Famili Palmae, Genusnya adalah Metroxylon dan nama Spesiesnya adalah Metroxylon spp

Sagu dari genus metroxylon, secara garis besar digolongkan menjadi dua yaitu, tanaman sagu yang berbunga atau berbuah dua kali (pleonanthic) dengan kandungan pati rendah dan tanaman sagu yang berbunga atau berbuah sekali (Hepaxanthic) yang mempunyai nilai ekonomis penting, karena kandungan patinya lebih banyak ( Bintoro et al. 2010 )

Sagu ( Metroxylon spp) termasuk tumbuhan monokotil dari kelurga palmae. Terdapat lima marga plamae yang kandungan patinya banyak dimanfaatkan, yaitu Metroxylon spp, Arenge sp, Coripha sp,Euqeissona sp, dan cariota sp ( Ruddle et al. 1978).

Batang

Batang sagu merupakan bagian terpenting karena merupakan gudang penyim-panan pati atau karbohidrat yang lingkup penggunaannya dalam industri sangat luas, seperti industri pangan, pakan, alkohol dan bermacam-macam industri lainnya. Batang sagu berbentuk silinder yang tingginya dari permukaaan tanah sampai pangkal bunga berkisar 10 sampai 15 meter, dengan diameter batang pada bagian bawah dapat mencapai 35 sampai 50 cm, bahkan dapat mencapai 80 sampai 90 cm. Umumnya diameter batang bagian bawah agak lebih besar daripada bagian atas, dan batang bagian bawah umumnya mengandung pati lebih tinggi daripada bagian atas. Pada waktu panen bobot batang sagu dapat mencapai lebih dari 1 ton, kandungan patinya berkisar antara 15 sampai 30 persen, sehingga satu pohon sagu mampu menghasilkan 150 sampai 300 kg pati segar (Haryanto dan Pangloli 1992).

Batang merupakan bagian terpenting dari sagu karena sebagai tempat untuk menyimpan cadangan makanan berupa karbohidrat. Batang sagu berbentuk silinder dengan kulit luar yang keras dan bagian dalam berupa empulur yang mengandung serat-serat dan pati. Sagu memiliki daun sirip, menyerupai daun kelapa yang tumbuh pada tangkai daun. Bunga sagu majemuk yang keluar dari ujung batang sagu, berwarna merah kecoklat-coklatan seperti karat (Bintoro et al. 2010).

(8)

Lapisan kulit paling luar berupa lapisan sisa-sisa pelepah daun sagu yang ter-lepas, sehingga yang terlihat hanya lapisan kulit tipis pembungkus kulit dalam yang keras. Pada tanaman sagu yang masih muda , kulit dalam tersebut tipis dan tidak be-gitu keras. Serat dan empulur pada sagu muda dan banyak mengandung air, sedan-gkan pada sagu dewasa sampai umur panen empulur dan serat sudah mulai kering dan keras (Bintoro et al. 2010).

Menurut Haryanto dan Pangloli (1992), kandungan pati dalam empulur batang sagu berbeda-beda tergantung umur, jenis dan lingkungan tumbuh. Penurunan kan-dungan pati dalam batang sagu biasanya ditandai dengan mulai terbentuknya primor-dia bunga.

Daun

Daun sagu berbentuk memanjang (lanceolatus), agak lebar dan berinduk tulang daun di tengah. Tangkai daun sagu mempunyai ruas yang mudah dipatahkan. Ruas tersebut terdapat diantara tangkai daun dengan lebar daun. Daun sagu mirip dengan daun kelapa, mempunyai pelepah yang menyerupai daun pinang. Pada waktu muda, pelepah daun tersusun secara berlapis tetapi setelah dewasa terlepas dan melekat sendiri-sendiri pada ruas batang (Haryanto dan Pangloli 1992).

Menurut Flach (1983) dalam Haryanto dan Pangloli (1992) sagu yang tumbuh pada tanah liat dengan penyinaran yang baik, pada umur dewasa memiliki 18 tangkai yang panjangnya antara 60 cm sampai 180 cm dan lebarnya sekitar 5 cm. Pada kondisi pohon sagu tersebut, setiap tangkai terdapat sekitar 50 pasang daun. Pada waktu muda daun sagu berwarna hijau muda yang berangsur-angsur berubah menjadi hijautua, kemudian berubah lagi menjadi coklat kemerah-merahan apabila sudah tua dan matang. Tangkai daun yang sudah tua akan lepas dari batang

Daun sagu memiliki anak daun dengan panjang 1.5 m bertangkai dan berpelepah. Panjang daun sagu dapat mencapai 7 m. Daun merupakan bagian tana-man sagu yang memilki peranan penting karena merupakan tempat pembentukan pati melalui proses fotosintesis.

(9)

METODOLOGI

Waktu dan Tempat

Kegiatan praktik kerja lapangan akan dilakukan selama 4 bulan, dimulai dari 02 Febuari 2015 sampai 30 Mei 2015. Kegiatan praktik kerja lapangan bertempat di perkebunan sagu di Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong selatan, Provinsi Papua Barat.

Bahan dan Alat

Bahan yang akan dibutuhkan dalam praktik kerja lapangan ini adalah pohon sagu dari berbagai jenis atau varietas. Alat-alat yang digunakan selama praktik kerja lapangan ini yaitu meteran, ring sampel, kamera SLR, GPS, timbangan digital, cool box, pisau cutter, parutan, gelas plastik, dan baskom.

Metode Pelaksanaan

Metode pelaksanaan praktik kerja lapangan akan dilakukan dengan cara bekerja langsung di lapangan, mengambil data melalui observasi, identifikasi, serta partisipasi aktif dalam kegiatan. Data sekunder dikumpulkan dari data yang telah ada di instansi terkait dan literatur.

Metode observasi pada praktik kerja lapang ini dibagi menjadi empat tahapan kegiatan yaitu:

a. Survei Lapang yaitu untuk menentukan lokasi blok tempat tanaman sagu yang akan digunakan sebagai blok contoh pengambilan sampel tanaman. Blok pengamatan tanaman sagu berukuran 50 m x 50 m pada setiap hektar. Terda-pat tiga ulangan pengamatan. Tiap hektar yang terdaTerda-pat blok pengamatan ber-jarak 100 sampai 200 meter dengan blok pengamatan tanaman sagu per hek-tar lainnya.

b. Penandaan sampel yaitu memberikan tanda berupa plang nama dari tanaman sagu yang akan diidentifikasi. Pemberian tanda berguna untuk acuan pengam-bilan sampel pada tahapan selanjutnya.

c. Pengamatan serta Pengidentifikasian sampel tanaman

d. Pencatatan dan pemrosesan data hasil pengamatan di lapangan.

(10)

Metode Pengamatan

Metode pengamatan dilakukan sesuai topik yaitu identifikasi. Identifikasi meliputi kegiatan identifikasi morfologi tanaman sagu. Pengamatan morfologi terse-but diantaranya meliputi, pengukuran panjang batang produksi, lingkar batang, warna daun, bentuk bunga, bentuk buah, bentuk pelepah, penampakan kulit batang, jumlah rumpun, kerapatan duri, dan potensi produksi pati. Pengamatan identifiksi tanaman menggunakan metode observasi dan identifikasi langsung ke masing – masing tana-man sampel,berikut tahapannya:

a. Pengamatan pengukuran panjang batang produksi, pengamatan pengukuran panjang batang produksi dilakukan dengan cara menebang pohon, selanjutnya di ukur dari bekas yang ditebang sampai ke ujung pelepah terbawah.

Gambar 1: Pengukuran panjang batang (a) Penebangan pohon sagu, (b) Pen-gukuran panjang batang produksi (Jayanti 2011 )

b. Pengamatan pengukuran lingkar batang, pengukuran lingkar batang dilakukan dengan cara mengukur lingkar batang menggunakan meteran, pengukuran pada 1 m dari permukaan tanah. Rumus diameter batang adalah d = keliling batang/2µ, dengan µ = 3.14 dan d = diameter batang.

Gambar 2 : Pengukuran lingkar batang (Ngadino 2013)

c. Pengamatan warna daun, pengamatan warna daun dilakukan dengan cara mengamati warna daun secara dominan menggunakan skala bagan warna daun (BWD).

a b

(11)

Gambar 3: Pengamatan warna daun sagu (a) warna daun sagu, (b) bagan warna daun (Dewi 2014 dan http: pupuk-abg/PEMUPUKAN SPESIFIK.htm) d. Pengamatan bentuk bunga, pengamatan bentuk bunga dilakukan dengan cara

melihat langsung bentuk dari bunga sagu yang masih kuncup atau belum mekar, yang sudah mekar dan yang sudah berbuah.

Gambar 4: Bentuk bunga sagu (a) bunga yang belum mekar, (b) bunga yang sudah mekar, (c) bunga yang sudah berbuah (Dewi 2014)

e. Pengamatan buah, pengamatan buah dilakukan dengan cara melihat langsung bentuk buah, warna buah dan bagian dalam buah.

Gambar 5 : Pengamatan buah sagu (a) bentuk dan warna buah, (b) bagian dalam buah (Dewi 2014)

f. Pengamatan bentuk pelepah, pengamatan bentuk pelepah dilakukan dengan cara melihat langsung bentuk dari pelepahnya.

Gambar 6: Pengamatan pelepah sagu (a) bentuk pelepah sagu tidak berduri, (b) bentuk pelepah sagu berduri (Riska et al. 2011)

a b

b

a b

(12)

g. Pengamatan penampakan kulit batang, Penampakan kulit batang diamati lang-sung pada batang, apakah permukaanya licin, berambut (pilosus), berduri (spinosus), dan memperlihatkan bekas-bekas pelepah daun.

Gambar 7 : Pengamatan penampakan kulit batang (a) penampakan kulit batang yang licin, (b) Penampakan kulit batang yang berambut (pilosus), (c) Penampakan kulit batang yang ada bekas – bekas pelepah daun (Riska et al. 2011)

h. Pengamatan kerapatan duri, pengamatan kerapatan duri dilakukan dengan cara melihat dan mengukur jarak antar duri di pelepah. Kerapatan duri akan dia-mati secara visual dengan mengklasifikasikan ke dalam 3 kategori yaitu san-gat padat, padat, dan ja-rang dengan kriteria sebagai berikut:

Sangat rapat : > 70% menutupi permukaan Rapat : 50-70% menutupi permukaan Jarang : < 50% menutupi permukaan

Gambar 8: Pengamatan kerapatan duri (a) kerapatan duri jarang, (b) kerapatan duri lebih rapat (Dewi 2014)

i. Pengamatan jumlah rumpun, pengamatan jumlah rumpun dilakukan dengan cara menghitung jumlah anakan atau tunas yang muncul dan hidup.

Gambar 9 : Pengamatan rumpun tanaman sagu (Dewi 2014)

a b c

(13)

j. Pengamatan produksi pati akan diketahui hasilnya dengan menggunakan per-bandingan volume. Pati diperoleh dari empulur sagu yang akan diambil dari batang sagu yang telah ditebang. Empulur diambil menggunakan ring sampel sebanyak tiga kali ulangan dititik yang berbeda pada batang sagu. Titik per-tama di bagian pangkal batang, kedua di bagian tengah dan yang ketiga di bagian ujung batang. Berikan tanda pada ketiga titik yang akan di buat lubang, lubang dibuat dengan cara mengupas kulit luar sehingga mempermudah proses memasukan ring sampel. Ring sampel dimasukan dengan cara menekan dan memukul bagian atas ring sampel secara bertahap hingga selu-ruh bagian ring sampel terbenam ke dalam empulur. Apabila ring sampel telah terbenam keseluruhannya, sebelum ring sampel dikeluarkan, buat lubang dis-ekitar ring sampel untuk mempermudah proses mengeluarkan ring sampel dari empulur. Empulur yang telah didapatkan dikeluarkan dari ring sampel lalu masing-masing ditimbang lalu empulur yang telah ditimbang dihancurkan dengan cara diparut dan diletakkan dalam wadah gelas plastik yang telah berisi air. Empulur tersebut diremas-remas dan diperas tiga sampai lima kali, sehingga pati terekstrak maksimal. Volume air yang digunakan untuk memeras empulur sama pada setiap ulangan. Air perasan diendapkan untuk mendapatkan pati. Endapan pati tersebut dikeringkan (Gambar 10). Pati ditim-bang dan dihitung bobot basah dan bobot kering dengan rumus kadar air. Pro-duksi pati per pohon dihitung dengan menggunakan rumus berikut :

Produksi pati per batang=volume batang

volume contohx bobot pati kering contoh

Volume batang = π r2 x tinggi, dengan π=¿ 3. 14 dan r = jari-jari batang sagu. Bobot pati kering contoh merupakan hasil rata-rata dari 3 ulan-gan contoh yang diambil. Rendemen pati akan dihitung denulan-gan rumus berikut :

Rendemen = bobot pati kering bobot empulur x100

Kadar air akan dihitung dengan cara menimbang bobot pati basah dan menimbang bobot pati yang telah dikeringkan dan dihitung menggunakan ru-mus berikut :

Kadar air = BB−BKBB x100

(14)

Gambar 10 : Metode pengamatan produksi pati (a) pemberian tanda pada titik yang akan dibuat lubang, (b) pembuatan lubang, (c) proses memasukan ring sam-pel ke dalam empulur batang, (d) ring samsam-pel yang sudah masuk keseluruhan ke dalam empulur batang, (e) proses mengeluarkan ring sampel, (f) proses mer-apikan ring sampel dari sisa empulur, (g) bentuk empulur yang sudah dikeluarkan dari ring sampel, (h) penimbangan empulur, (i) proses pemarutan empulur, (j)

a b c

d f

h i

l k

e

g

j

(15)

empulur dalam wadah gelas siap untuk di ekstraksi, (k) pati hasil ekstraksi di en-dapkan, (l) pati basah, (m) pati kering, (n) ring sampel (Dewi 2014).

Metode Analisis Data

Metode yang digunakan dalam analisis data adalah analisis kualitatif dan kuan-titatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh den-gan studi literatur dan bahan perkuliahan yang relevan. Analisis kuantitatif berupa analisis statistik sederhana untuk memperoleh nilai rataan, nilai maksimum dan nilai minimum dari suatu obyek data.

(16)

RENCANA KEGIATAN DAN ANGGARAN BIAYA

Rencana Kegiatan

Kegiatan praktek kerja lapangan (PKL) yang akan dilakukan di Perkebunan sagu yang berlokasi di Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat akan dilakukan selama empat bulan. Rincian kegiatan selama pelaksanaan PKL dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1 Rencana kegiatan PKL

Bulan Mingguke- Kegiatan Tujuan

Februari 1 Survei lapangan atau pengenalan lahan tempat pelaksanaan PKL. Klasifikasi berdasarkan nama-nama sagu lokal di sekitar lokasi PKL. Membuat catatan dan daftar nama lokal sagu yang sudah

diidentifikasi.

2-4 Identifikasi morfologi tahap 1

Maret 1-4 Identifikasi morfologi tahap 1 Mengetahui ciri-ciri morfologi setiap tanaman sampel

April 1 Evaluasi kegiatan dan pengolahan

data Mengevaluasi kegiatan yang sudah dilakukan dan menginput serta mengolah data hasil pengamatan 2-4 Identifikasi morfologi tahap 2 Mengetahui

ciri-ciri morfologi setiap tanaman sampel

Mei 1-3 Identifikasi morfologi tahap 2

(17)

Rencana Anggaran Biaya

Kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang akan dilaksanakan penulis memerlukan biaya-biaya administratif dengan rencana anggaran biaya yang dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Rencana anggaran biaya No Komponen Biaya Satuan Harga satuan

(Rp)

Jumlah Biaya (Rp) 1 Transportasi bandra Soekarno

hatta – sorong pulang pergi Transportasi bogor – bandara

pulang pergi Hari 1 000 000 2 2 000 000

(18)

- Bagan warna daun Unit 50 000 1 50 000

Tabel 3 Rencana anggaran biaya (lanjutan)

No Komponen biaya Satuan Harga satuan

(Rp)

jumlah Biaya (Rp) 5 Bahan PKL

- Pohon sagu Pohon 1 000 000 20* 20 000 000

6 Biaya tak terduga (10%) 7 073 700

Total 77 810 700

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Bintoro MH. Yanuar M, Amarilis S. 2010. Sagu di Lahan Gambut. Bogor (ID):IPB Pr.

Bintoro MH. 2008. Bercocok Tanam Sagu. Bogor (ID):IPB Pr.

Dewi RK.2015. Karakterisasi dan Aksesi Tanaman Sagu ( Metroxylon Spp) di Kabu-paten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat.[Tesis]. Bogor (ID):Sekolah pasca sarjana Institut Pertanian Bogor.

Haryanto, B dan P. Pangloli. 1992. Potensi dan Pemanfaatan Sagu. Yogyakarta. (ID): Kanisius

Jayanti Y.2011. Pengelolaan Budidaya Sagu (Metroxylon Spp.) di PT National Sago Prima, Selat Panjang, Riau Dengan Aspek Khusus Pemangkasan Dan Aplikasi Hormon Organik Pada Petiol Bibit Sagu di Persemaian.[Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Kanro M. Z, Rouw A, Widjono A, Syamsuddin, Amisnaipa, Atekan.2003. Tanaman Sagu dan Pemanfaatannya di Provinsi Papua. Jayapura (ID): Jurnal Litbang Pertanian 22(3). http://pustaka.litbang.deptan.go.id

Ngadino.2013.Potensi dan Kelembagaan Sagu; Pengembangan Komoditas Unggulan Perkebunan Sagu di Provinsi Papua dan Papua Barat (ID): Bahan Seminar Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Dan Provinsi Papua Barat.

Riska K, Suliansyah I, Syarif A. 2011. Inventarisasi dan Karakterisasi Keragaman Morfologis Tanaman Sagu (Metroxylon Sp.) di Kabupaten Pesisir Selatan. Padang (ID): Universitas Andalas.

(20)

LAMPIRAN

Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang akan dilakukan di Perkebunansagu yang berlokasi di Distrik Kokoda, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua barat, selama empat bulan. Rincian kegiatan selama pelaksanaan PKL dapat dilihat pada Lampiran 1.

Lampiran 1 Rincian kegiatan selama PKL

Kegiatan Februari Maret April Mei

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1.Survei lapangan atau

pengenalan lahan tempat pelaksanaan PKL.

2.Klasifikasi berdasarkan nama-nama sagu lokal di sekitar lokasi PKL. 3.Membuat catatan dan daftar nama lokal sagu yang sudah diidentifikasi. 4.Identifikasi morfologi tahap I,Pengukuran tinggi batang, tinggi batang produksi, diameter batang, panjang duri, kerapatan duri dan potensi pati Pengamatan bunga, bentuk pelepah, warna kulit, dan jumlah anakan.

(21)

Lampiran 1 Rincian kegiatan selama PKL(lanjutan)

Kegiatan Februari Maret April Mei

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 6.Identifikasi

morfologi tahap II, Pengukuran tinggi batang, tinggi batang produksi, diameter batang, panjang duri, kerapatan duri dan potensi pati

Pengamatan bunga, bentuk pelepah, warna kulit, dan jumlah anakan 7.Evaluasi kegiatan dan pengolahan data akhir

Gambar

Gambar 1: Pengukuran panjang batang (a) Penebangan pohon sagu, (b) Pen-
Gambar 6: Pengamatan pelepah sagu (a) bentuk pelepah sagu tidak berduri, (b) bentuk pelepah sagu berduri (Riska et al
Gambar 7 : Pengamatan penampakan kulit batang (a) penampakan kulit
Gambar 10 : Metode pengamatan produksi pati (a) pemberian tanda pada titik yang akan dibuat lubang, (b) pembuatan lubang, (c) proses memasukan ring sam-pel ke dalam empulur batang, (d) ring sampel yang sudah masuk keseluruhan kedalam empulur batang, (e) proses mengeluarkan ring sampel, (f) proses mer-apikan ring sampel dari sisa empulur, (g) bentuk empulur yang sudah dikeluarkandari ring sampel, (h) penimbangan empulur, (i) proses pemarutan empulur, (j)
+4

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pengamatan dan pengukuran terhadap morfologi batang 15 jenis tanaman pisang menunjukkan nilai rata-rata yang bervariasi dari setiap sampel. Hasil

IDENTIFIKASI MORFOLOGI DAN AGROEKOLOGI TUMBUHAN OBAT TEKELAN (Eupatorium riparium Reg.) DI LERENG GUNUNG LAWU.. Bambang Pujiasmanto, MS.,

Hasil penelitian menunjukkan adanya keragaman karakter morfologi tanaman sirsak di Jawa yang meliputi batang, daun, bunga, buah dan biji serta karakter

Berdasarkan morfologi daun, buah, dan warna batang, pohon kawista dari 5 kecamatan di Kabupaten Rembang tidak semuanya mempunyai kemiripan 100% dan cukup

IDENTIFIKASI MORFOLOGI TANAMAN PISANG CAVENDISH (Musa acuminata Colla) DI KEBUN PISANG CAVENDISH KUNJANG KABUPATEN KEDIRI.. SEBAGAI MEDIA BELAJAR

Bahan yang digunakan adalah karakter batang (bentuk batang, warna batang, bentuk percabangan, bentuk tajuk, diameter tajuk, permukaan.. batang) dan karakter daun

IDENTIFIKASI KARAKTER MORFOLOGI DALAM PENYUSUNAN DESKRIPSI JERUK SIAM ( Citrus nobilis ) DI BEBERAPA DAERAH KABUPATEN

Data hasil identifikasi sifat morfologi (perawakan, bunga, daun, batang, buah, dan rimpang) yang telah diperoleh selanjutnya disusun dalam matriks Operational Taxonomy