• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKTUALISASI BELA NEGARA DALAM MENYONGSON

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "AKTUALISASI BELA NEGARA DALAM MENYONGSON"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

AKTUALISASI BELA NEGARA DALAM MENYONGSONG INDONESIA EMAS

Oleh:

KABADIKLAT KEMHAN

Mayor Jenderal TNI Hartind Asrin, SE, M.I.Kom

Disampaikan pada Kuliah umum Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan, di Universitas PGRI Semarang 22 Mei 2017

A. Latar Belakang

Indonesia Emas 2045 adalah idea besar Presiden Jokowi tentang Indonesia yang unggul, maju bersaing dengan bangsa-bangsa lain, dan telah matang untuk mengatasi isu-isu persoalan klasik bangsa, seperti intoleransi, korupsi, isu disintegrasi, dan kemiskikan. Untuk mewujudkan idea tersebut, kunci utamanya bukan kekuatan ekonomi, politik, atau militer, melainkan manusianya. Generasi emas sendiri merupakan generasi yang mampu bersaing secara global dengan bermodalkan kecerdasan yang komprehensif dengan bercirikan produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan berperadaban unggul. Sintesa diatas merupakan harapan terbesar bangsa Indonesia di tahun 2045. Salah satu argumen yang digunakan dalam mewujudkan generasi emas adalah asumsi bahwa pada kurun 2015-2045 piramida penduduk Indonesia akan sangat ideal dengan penduduk mayoritas berusia 25-45 tahun, yang merupakan usia produktif. Indonesia saat itu akan menikmati apa yang disebut bonus demografi.

(2)

pada bagaimana mempersiapkan segenap warga Negara untuk menghadapi Indonesia emas ini tanpa harus menggadaikan kedaulatan ideology, politik, ekonomi, sosial budaya dan territorial dalam konteks pertahanan keamanan. Kementerian Pertahanan (Kemhan) adalah instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang penyelenggaraan Pertahanan Negara. Oleh karena itu Kemhan bertugas untuk menyiapkan rumusan Kebijakan Umum Pertahanan Negara dan menetapkan Kebijakan Penyelenggaraan Pertahanan Negara. Salah satu tantangan yang dihadapi oleh Kementerian Pertahanan saat ini dan 10 tahun ke depan adalah perlunya meningkatkan kesadaran bela negara bagi setiap warga negara, melalui pendidikan dan latihan bela negara sambil secara pararel mengisi ruang-ruang kosong karakter bela negara pada generasi emas. Kita yakin terwujudnya generasi muda yang berkarakter bela negara hanyalah soal waktu, karena hal bela negara memang telah diamanatkan oleh UUD 1945 pada pasal 27 ayat 3, bahwa setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.

Pada UU Nomor 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, khususnya pada Pasal 1 ayat 1 telah dijelaskan bahwa pertahanan negara adalah segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. Selanjutnya pada ayat 2 dijelaskan bahwa sistem pertahanan negara adalah pertahanan yang bersifat semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah dan sumber daya nasional lainnya, serta disiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut untuk menegakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman. Hal ini sudah cukup jelas bagi kita bahwa penyelenggaraan pertahanan negara bukan hanya menjadi domain Kementerian Pertahanan saja, namun juga menjadi kewajiban bagi seluruh warga negara Indonesia.

(3)

termasuk Kementerian Pertahanan. Orientasi inilah yang dijadikan sebagai acuan oleh Kementerian Pertahanan dalam merumuskan kebijakan dan rencana strategis di bidang pertahanan negara, guna mendukung tercapainya tujuan dan kepentingan nasional. Dalam program prioritas “Nawa Cita” menuju Indonesia Hebat, diantaranya bela negara menjadi bagian dari revolusi karakter bangsa dengan menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta tanah air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Mengalir dari pemahaman tersebut, Kebijakan Kementerian Pertahanan mulai Tahun 2017 antara lain menyebutkan bahwa, Pembinaan Kesadaran Bela Negara (PKBN) dan pembentukan tenaga pendidik dan pelatih bela negara. Pembangunan Karakter Bangsa, diselenggarakan melalui pembinaan kesadaran dan kemampuan bela negara bagi setiap warga negara Indonesia di lingkungan pemukiman, lingkungan pendidikan, dan lingkungan pekerjaan yang berpedoman pada disain induk PKBN dengan membentuk pusat pendidikan dan latihan bela Negara (dengan Permenhan Nomor 02 tahun 2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertahanan, telah berdiri dan diresmikan Pusdiklat Bela Negara di Rumpin Bogor oleh Menteri Pertahanan RI pada tanggal 28 Februari 2017); membentuk kader bela Negara; membantu K/L terkait dalam pengembangan pendidikan kewarganegaraan; mendorong K/L terkait dalam proses nation and character building.

Untuk mewujudkan program bela negara yang sangat strategis bagi kelangsungan NKRI tersebut, Kementerian Pertahanan RI berpedoman pada dasar hukum UUD 1945 (perubahan ke-II) yang menyebutkan pada Pasal 27 ayat (3) Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara sedangkan pada pasal 30 ayat (1) juga mengamanatkan, tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Sementara itu dalam Undang-Undang no 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara pada Pasal. 9 menyebutkan:

(4)

2) keikutsertaan warga negara dalam upaya bela negara, sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 diselenggarakan melalui :

a) pendidikan kewarganegaraan

b) pelatihan dasar kemiliteran secara wajib

c) pengabdian sebagai prajurit TNI secara sukarela atau secara wajib d) pengabdian sesuai profesi

Agar terjadi persamaan pandangan secara nasional terkait definisi bela negara, dalam penjelasan Undang Undang Nomor 3 Tahun 2002 pada pasal. 9 menyebutkan bahwa bela Negara, adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada N K R I yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Dalam upaya lebih mendorong semangat kebangsaan dalam bela negara dalam rangka mempertahankan kehidupan berbangsa dan bernegara yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan, pemerintah menetapkan tanggal 19 Desember sebagai Hari Bela Negara dengan Keputusan Presiden nomor 28 tahun 2006 tanggal 18 Desember 2006 tentang ditetapkannya hari nasional bela negara pada tanggal 19 Desember. Dalam rangka melaksanakan Keppres tersebut, sesuai surat Menteri Sekretaris Negara RI Nomor: B/1730/M.Sesneg/D.I/DK.00.01/12/2011, Kementerian Pertahanan ditunjuk sebagai Penanggung jawab Hari Bela Negara. Sedangkan pada tataran Kementerian Dalam Negeri, payung hukum bela negara dimuat dalam Permendagri nomor 38 tahun 2011 tentang pedoman peningkatan kesadaran bela negara di daerah. Payung hukum bela negara pada Kementerian Pertahanan RI, secara khusus dimuat dalam Rencana Strategis Kemhan 2015-2019 yang menyebutkan, terbentuknya kader bela negara yang tangguh dalam mendukung pertahanan negara dengan Sasaran: 1) Peningkatan Kesadaran Bela Negara, 2) Terwujudnya koordinasi, integrasi, sinergitas antar Kementerian/Lembaga (K/L), Pemda dan komponen bangsa lainnya. Sedangkan Strateginya dilaksanakan melalui: 1) Sosialisasi, 2) Pendidikan dan Pelatihan Bela Negara, dan 3) Kerja Sama.

(5)

Sebagai Ideologi Negara, 4) Rela Berkorban Untuk bangsa dan Negara, 5) Kemampuan Awal Bela Negara Bela Negara. Sedangkan pelaksanaan Diklat Bela Negara merujuk pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 (Buku II Bab 6 Sasaran Bidang Pertahanan dan Keamanan), pendidikan bela negara ditetapkan sebagai salah satu strategi dari kebijakan negara tentang terbangunnya sistem keamanan nasional yang terintegrasi. Untuk merealisasikan RPJMN 2015-2019 diperlukan suatu lembaga pendidikan dibawah Kementerian Pertahanan sebagai penyelenggara pendidikan dan pelatihan bela negara bagi komponen bangsa yang belum terakomodir melalui pendidikan formal yang dikelola oleh Kemenbuddikdasmen dan Kemenristek dan Dikti. Hal ini sejalan dengan salah satu tujuan strategis pertahanan negara yang tertuang dalam Kebijakan Pertahanan Negara Tahun 2017 adalah Kebijakan pertahanan negara diselenggarakan untuk mengelola seluruh sumber daya dan sarana prasarana nasional guna mencapai tujuan pertahanan negara dalam rangka mendukung pembangunan nasional. Membangun pertahanan negara dalam suatu sistem pengelolaan dan penyelenggaraan pertahanan negara, dilaksanakan secara komprehensif, sehingga diperlukan suatu kebijakan terhadap berbagai aspek terkait pertahanan negara. Kebijakan pertahanan negara bersifat fleksibel dan adaptif yang diwujudkan melalui arah dan sasaran kebijakan: Terwujudnya Pembinaan Kesadaran Bela Negara (PKBN) melalui sosialisasi, pendidikan dan latihan serta kerja sama antara Kementerian Pertahanan, K/L, Pemda, dan komponen bangsa lainnya dalam menyelenggarakan program pembentukan kader bela negara di lingkungan pemukiman, pendidikan dan pekerjaan dalam upaya pencapaian target pembentukan kader Bela Negara (Keputusan Menteri Pertahanan Nomor : Kep /435/M/V/2016 Tentang Kebijakan Pertahanan Negara Tahun 2017). Secara konseptual Bela Negara dilatar belakangi oleh:

1) Tekad, sikap dan tindakan warga negara yang teratur, menyeluruh, terpadu dan berlanjut,

2) Dilandasi oleh kecintaan pada tanah air,

3) Kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia,

(6)

5) Kerelaan untuk berkorban guna meniadakan setiap ancaman baik dari luar negeri maupun dari dalam negeri yang membahayakan kemerdekaan dan kedaulatan negara, kesatuan dan persatuan bangsa, keutuhan wilayah dan yurisdiksi nasional, serta nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Lima (5) konsep diatas, merupakan bidang studi inti tataran dasar Bela Negara yang telah digelar oleh Badiklat Kementerian Pertahanan.

B. Mengokohkan Identitas Nasional Dengan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Sebagai Instrumen Revolusi Mental Bela Negara

Dalam masa transformasi seperti saat ini, sejatinya tanpa disadari telah terjadi pergeseran tata nilai kehidupan sebagian masyarakat Indonesia. Pergeseran tersebut terlihat dalam cara pandang mengapresiasi nilai-nilai tradisional ke arah nilai-nilai modern yang cenderung rasional dan pragmatis, dari kebiasaan hidup dalam tata pergaulan masyarakat yang konformistik bergeser ke arah tata pergaulan masyarakat yang dilandasi cara pandang individualistik. Bila arus pergeseran tata nilai tersebut tidak terbendung, maka distorsi nasionalisme akan menjadi keniscayaan. Distorsi nasionalisme, suatu fenomena sosial pada sebagian masyarakat Indonesia yang menggambarkan semakin pudar rasa kesediaan mereka untuk hidup eksis bersama, menipisnya rasa dan kesadaran akan adanya jiwa dan prinsip spiritual yang berakar pada kepahlawanan masa silam yang tumbuh karena kesamaan penderitaan dan kemuliaan di masa lalu. Hilangnya rasa saling percaya (trust) antar sesama baik horizontal maupun vertikal. Fenomena yang kini berkembang adalah rasa saling curiga, dan menjatuhkan sesama. Inilah tanda-tanda melemahnya kohesivitas sosial kemasyarakatan di antara kita sekarang ini.

(7)

terus berkembang, serta menumbuhkan jiwa kemandirian dan rasa kecintaan pada tanah air. Pendidikan Kewarganegaraan menjadi sangat urgen di tengah situasi kehidupan bangsa dan negara Indonesia saat ini. Untuk memenuhi tuntutan perkembangan jaman, perlu dikembangkan substansi kajian dan model pembelajaran serta sistem evaluasi yang memungkinkan pelaksanaan perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di perguruan tinggi berjalan efektif.

Satu hal yang dapat mendukung terwujudnya ketahanan nasional melalui revolusi mental bela Negara dengan menjadikan karakter bangsa Indonesia menjadi unggul itu sendiri adalah berbuat yang terbaik melalui profesi dan kedudukan masing-masing warga Negara apapun keahliannya untuk disumbangkan kepada kepentingan bangsa dan negara baik di bidang keamanan maupun kesejahteraan serta melaksanakan disiplin nasional dengan mematuhi segala peraturan dan perundangan Negara, inilah dimensi esensial dari Bela Negara. Rangkaian terminologi tersebut sesungguhnya sudah terangkum dalam Pancasila sebagai nilai dasar. Namun, melemahnya komitmen masyarakat terhadap nilai-nilai dasar yang telah lama menjadi prinsip dan bahkan sebagai pandangan hidup, mengakibatkan sistem filosofi bangsa Indonesia menjadi rapuh. Lemahnya komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan yang justru merupakan nilai-nilai strategis sebagaimana teridentifikasikan diatas, adalah masalah kebangsaan yang sangat serius karena mengarah pada distorsi nasionalisme. Dalam konteks ini kita dapat melihat ada dua faktor penyebabnya, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal, berupa pengaruh globalisasi yang di semangati liberalisme mendorong lahirnya sistem kapitalisme di bidang ekonomi dan demokrasi liberal di bidang politik. Faktor internal, yaitu bersumber dari internal bangsa Indonesia sendiri. Kenyataan seperti ini muncul dari kesalahan sebagian masyarakat dalam memahami Pancasila (Buku rencana pembelajaran dan metode pembelajaran serta model evaluasi hasil pembelajaran PKN kurikulum perguruan tinggi berbasis kompetensi, Dirjen Dikti Dir Belmawa 2012:4).

(8)

identitas nasional dalam konteks negara tercermin dalam simbol-simbol kenegaraan. Kedua unsur identitas ini secara nyata terangkum dalam Pancasila. Pancasila dengan demikian merupakan identitas nasional kita dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Permasalahan sekarang adalah terletak pada lemahnya komitmen pada nilai-nilai dasar, yang berujung pada tiga masalah pokok bangsa yaitu: 1) merosotnya wibawa Negara, 2) melemahnya segi perekonomian Negara, 3) intoleransi dan krisis kepribadian bangsa. Dalam pembangunan bangsa, saat ini kita cenderung menerapkan prinsip-prinsip liberalisme yang jelas-jelas tidak sesuai dengan nilai, budaya, dan karakter bangsa Indonesia, dan hal tersebut juga menjadi pintu masuk kesalahan. Oleh karenanya, sudah saatnya kita melakukan koreksi, tidak dengan menghentikan proses reformasi yang sudah berjalan, tetapi dengan mencanangkan revolusi mental untuk menciptakan paradigma, budaya politik, dan pendekatan nation building baru yang lebih manusiawi. Dalam pokok bahasan bela Negara dan identitas nasional adalah melalui revolusi mental.

Penggunaan istilah revolusi oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, tidak berlebihan sebab Indonesia memerlukan suatu terobosan budaya untuk memberantas setuntas-tuntasnya segala praktik buruk yang sudah terlalu lama dibiarkan. Dalam melaksanakan revolusi mental, Presiden menggunakan konsep Trisakti yang pernah diutarakan Bung Karno dalam pidatonya tahun 1963: Indonesia yang berdaulat secara politik, Indonesia yang mandiri secara ekonomi, dan Indonesia yang berkepribadian secara kebudayaan. Revolusi mental bung Karno dinarasikan : “Revolusi Mental merupakan satu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala”yang kemudian diadopsi dalam program Revolusi Mental Presiden Joko Widodo yaitu, untuk lebih memperkokoh kedaulatan, meningkatkan daya saing dan mempererat persatuan bangsa, penjabaran program ini adalah melalui 9 (Sembilan) agenda prioritas Nawa Cita yang berupa:

(9)

dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara

2) Membuat Pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola Pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya

3) Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah – daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan

4) Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya

5) Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia

6) Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar Internasional

7) Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakan sektor sektor strategis ekonomi domestik

8) Melakukan revolusi karakter bangsa

9) Memperteguh ke-bhineka-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia

Revolusi mental berbeda dengan revolusi fisik karena ia tidak memerlukan pertumpahan darah. Namun usaha ini tetap memerlukan dukungan moral spiritual serta komitmen seorang pemimpin, dan selayaknya setiap revolusi diperlukan pengorbanan masyarakat. Dalam melaksanakan revolusi mental, kita menggunakan konsep Tri Sakti Bung Karno yaitu, Indonesia yang berdaulat secara politik, Indonesia yang mandiri secara ekonomi, dan Indonesia yang berkepribadian secara budaya.

(10)

mengedepankan kekuatan kekuatan pasar telah menjebak Indonesia sehingga begitu tergantung pada modal asing, sementara sumber daya alam kita dikuras oleh perusahaan multinasional. Sedangkan Indonesia yang berkepribadian secara budaya adalah dengan membangun kepribadian sosial dan budaya Indonesia. Sifat ke-Indonesia-an semakin pudar ditengah derasnya arus globalisasi dan revolusi teknologi komunikasi. Indonesia tidak boleh membiarkan dirinya larut dalam arus budaya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa kita ( Joko Widodo, 2015:7).

Mengalir dari program Tri Sakti dan nawacita, Pemerintah menggelar Gerakan Nasional Revolusi Mental melalui Kementerian-Kementerian:

1) Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara mengemban etos kerja, terwujudnya perilaku sumber daya manusia aparatur sipil negara yang melayani.

2) Kementeria Koordinator bidang Kemaritiman bertanggungjawab atas terwujudnya perilaku masyarakat Indonesia yang bersih.

3) Kemenko Polhukam mengemban amanat mewujudkan perilaku masyarakat Indonesia yang tertib.

4) Kemenko Perekonomian bertanggungjawab atas terwujudnya perilaku masyarakat Indonesia yang mandiri.

5) Kemendagri mencanangkan program terwujudnya perilaku masyarakat Indonesia yang bersatu.

6) Kementerian Pertahanan melaksanakan program pendidikan dan latihan Bela Negara untuk terwujudnya kader Bela Negara yang militan. Dalam perspektif inilah maka semangat mewujudkan Indonesia Emas 2045 harus merupakan cermin generasi emas yang berkarakter bela negara. Dalam konteks nasional, kita bisa mengatakan bahwa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan adalah instrumen Revolusi Mental Bela Negara.

C. Kesimpulan

(11)
(12)

Daftar Pustaka

Bambang Pranowo, Multidimensi Ketahanan Nasional (Jakarta, Pustaka Alvabet : 2010)

Buku rencana pembelajaran dan metode pembelajaran serta model evaluasi hasil pembelajaran PKN kurikulum perguruan tinggi berbasis kompetensi, (Dirjen Dikti Dir Belmawa:2012)

Gunawan Sumodiningrat, Revolusi Mental Pembentukan Karakter Bangsa Indonesia

(Yogyakarta, Media Pressindo :2015)

Joko Widodo, Revolusi Mental (Jakarta, Pustaka Alvabet :2010)

Keputusan Menteri Pertahanan Nomor : Kep /435/M/V/2016 Tentang Kebijakan Pertahanan Negara Tahun 2017

Keputusan Presiden nomor 28 tahun 2006 tanggal 18 Desember 2006 tentang ditetapkannya hari nasional bela negara pada tanggal 19 Desember

Paulus Wirutomo, Mewujudkan Revolusi Mental (Jakarta, Pustaka Alvabet :2010)

Permenhan Nomor 02 tahun 2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertahanan

Referensi

Dokumen terkait

Hasil yang didapatkan setelah perlakuan yaitu peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematik mahasiswa melalui Problem Based Learning lebih baik dari pada siswa

 Menyatakan diri sebagai bagian dari NII Kartosuwiryo  Diselesaikan dengan Musyawarah Kerukukan Rakyat Aceh C..

Pernyataan di bawah yang merupakan persamaan dari gelombang stasioner pada tali ujung bebas adalah .... Cepat rambat gelombang stasioner pada

Dalam percobaan ketiga Radar mendeteksi 1 objek, tetapi dikarnakan objek didepan lebih kecil maka pendeteksian jarak terlihat berbeda pada sudut 129⁰ - 142⁰ radar.. 4)

Kemunculan bakteri disebabkan oleh masuknya tinja, kotoran hewan, sampah, air kencing, dahak, ekskresi luka, dan sebagainya, ke dalam badan air atau adakalanya

Sampai seberapa besar turunnya harga kayu bulat disebabkan oleh kebijakan larangan ekspor kayu bulat, dan oleh terjadinya “kelimpahan” pasokan kayu bulat dari penebangan

(1) Bidang Pengembangan Kelembagaan, Industri Pariwisata dan Pemberdayaan Masyarakatunit kerja Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sebagai unsur lini dalam pelaksanaan