• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada hakikatnya, kajian pluralisme hukum menerangkan relasi antara masyarakat dengan berbagai sistem hukum yang bekerja di dalamnya (Benda-Beckmann, 2005);

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pada hakikatnya, kajian pluralisme hukum menerangkan relasi antara masyarakat dengan berbagai sistem hukum yang bekerja di dalamnya (Benda-Beckmann, 2005);"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

-

Pada hakikatnya, kajian pluralisme

hukum menerangkan relasi antara

masyarakat dengan berbagai sistem

hukum yang bekerja di dalamnya

(Benda-Beckmann, 2005);

-

Sebagai pemikiran kritis atas dominasi

(6)

(Grifths, 2005) mengemukakan

pemikiran ttg sentralisme hukum

(Lidwina, 2011):

pemikiran yang melihat hukum semata

sebagai produk negara dan berlaku

seragam utk semua pribadi yg berada di

wilayah yurisdiksi negara tsb;

hukum merupakan kaidah normatif yang

bersifat memaksa, eksklusif, hirarkis,

sistematis dan berlaku seragam;

hukum bersifat

top down

sekaligus

(7)

Pemikiran positivisme hukum (ibid):

Sangat dipengaruhi oleh pemikiran ilmu alam

shg konsekuensinya perumusan dan praktik hukum tidak dilakukan secara acak namun terstruktur, rasional dan logis berdasarkan asumsi dan asas-asas hukum tertentu;

Masyarakat dilihat sbg entitas yang statis

dan dianggap tidak mampu memproduksi suatu aturan atau melakukan tindakan yang membawa akibat bagi terjadinya perubahan hukum  hukum dilihat sbg suatu sistem

(8)
(9)
(10)

Pada awalnya (Abad 19), keanekaragaman

sistem hukum di masyarakat ditanggapi

sebagai gejala evolusi hukum;

Pada Abad 20, realitas tsb dilihat sebagai

(11)

Para

legal pluralist

pada masa

permulaan (1970-an)mengajukan

konsep pluralisme hukum yang

mengacu pada adanya lebih dari satu

sistem hukum yang secara

bersama-sama berada dalam lapangan sosial

yang sama (Sally E. Merry (1988),

(12)

John Grifths:

Legal pluralism is the fact, legal centralism is

a myth, an ideal, a claim, an illusion. By legal

pluralism I mean the presence in a social feld

of more than one legal order

(13)

Sally F. Moore:

Konsep pluralisme hukum merujuk

kepada situasi normatif yang heterogen

berdasarkan adanya fakta bahwa

tindakan sosial selalu dilakukan dalam

konteks bidang-bidang sosial yang

(14)

a. Pemetaan (mapping)  terdapat beberapa sistem hukum yang berada bersamaan dalam suatu lapangan sosial dan menentukan

batasan di antara sistem hukum tersebut

(sistem hukum negara dan sisem hukum lain di luarnya, seperti hukum adat dan hukum agama);

b. Meneliti adaptasi maupun kompetisi yang dilakukan anggota masyarakat terhadap

beberapa sistem hukum tersebut  melihat apa yang terjadi dalam masyarakat apabila

dalam satu lapangan sosial terdapat beberapa sistem hukum sekaligus yang mengaturnya

(15)

c. Mengkaji pilihan individu anggota masyarakat dalam menentukan sistem hukum dan metode penyelesaian sengketa yang digunakan;

d. Menstudi pengaruh antara sistem hukum dan kebijakan internasional terhadap konteks hukum dan kebijakan nasional dan lokal  dikenal

sebagai kajian pluralisme hukum berperspektif global. Melalui kajian ini dijelaskan banyak hal terkait hubungan antara hukum dan masyarakat yang sedang berubah karena proses globalisasi, seperti proses terbentuknya dan bekerjanya

hukum di masyarakat, interaksi antara sistem

(16)

Kondisi pluralitas di masyarakat menuntut

pemahaman bahwa di dalam kemajemukan tersebut perlu diberikan perhatian kepada persoalan:

“Bagaimanakah segala macam peraturan perundangan beroperasi (bekerja) dalam

(17)

Budaya hukum adalah bagian dari kekuatan

sosial yang ada dalam masyarakat, yang

memberi masukan, menjadi penggerak dan

selanjutnya memberi

output

kepada sistem

hukum (Sulistyowati, 2000);

Kekuatan sosial secara terus menerus

mempengaruhi sistem hukum,

kadang-kadang ia merusak, memperbarui,

memperkuat, atau memilih untuk

(18)

Bagaimana pun hukum berada dalam

masyarakat sehingga untuk mengetahui

beroperasinya hukum maka harus dilihat

bagaimana masyarakat menanggapi,

menyikapi atau memberikan interpretasi

terhadap hukum, yang akan tergantung

pada apakah hukum tersebut aspiratif dan

akomodatif terhadap

(19)

 Maraknya berbagai konfik di sejumlah daerah menunjukkan bahwa selama ini masyarakat kurang memiliki peluang untuk mendapatkan akses kepada hukum dan keadilan sosial;

 Banyak kasus hukum yang berpretensi

memunculkan konfik membutuhkan penjelasan secara sosiologis-antropologis, di antaranya

(20)

 Signifkansi pluralisme hukum dalam konteks ini adalah untuk menjelaskan situasi empirik di

dalam masyarakat di mana terdapat lebih dari satu sistem hukum pada bidang sosial yang sama;

 Yaitu dengan memanfaatkan cara pandang

antropologi hukum yang melihat hukum sebagai bagian dari kebudayaan yang memiliki

kemampuan sebagai alat kontrol sosial sehingga dapat dikatakan bahwa setiap masyarakat

(21)

 Pluralisme hukum pada masa awal (klasik)

diartikan sebagai ko-eksistensi antara berbagai sistem hukum dalam lapangan sosial tertentu yang dikaji dan sangat menonjolkan dikotomi antara hukum negara dan berbagai macam hukum non-negara;

 Pluralisme hukum baru dikaitkan dengan “hukum

yang bergerak” dalam ranah globalisasi, di mana hukum dari berbagai penjuru dunia bergerak

memasuki wilayah yang tanpa batas sehingga terjadi persentuhan, interaksi, kontestasi, dan saling adopsi yang kuat antara hukum int’, nas, dan lokal;

Borderless state dan borderless law menjadi

(22)

 Artinya: globalisasi adalah juga persebaran nilai,

konsep, dan hukum dari berbagai penjuru dunia menuju berbagai penjuru dunia;

 Globalisasi juga diiringi oleh proses glokalisasi di

mana nilai-nilai “lokal” (setting politik dan konteks) di bawa dari satu tempat ke tempat lain;

 Bagaimana hukum dari “luar” ketika masuk ke

dalam wilayah nasional?

a. Bisa jadi hukum int’ akan direproduksi walau

mungkin tetap dianggap sebagai hukum “asing”;

b. Bisa jadi hukum “asing” itu menjadi “hukum

(23)

Bagaimana tanggapan masyarakat di

tingkat lokal?

Dalam situasi seperti ini latar belakang

sosial dan politik pada tingkat lokal

sangat menentukan bagaimana mereka

menanggapi hukum dari “luar”:

a.

Bisa terjadi kontestasi ;

b.

Atau justru nilai-nilai lokal mengalami

reframing, reproduksi

dalam kerangka

(24)

Dalam “globalisasi hukum” dapat

dijumpai adanya mobilitas aktor dan

organisasi yang menjadi media bagi lalu

lintas bergeraknya hukum;

Contoh:

a.

Buruh migran;

b.

Pedagang, ekspatriat;

c.

Diplomat;

d.

NGO;

e.

Multi national corporation;

f.

Mereka yang dapat berhubungan dengan

(25)

Referensi

Dokumen terkait

Judul skripsi : Pengaruh Dynamic Capability Terhadap Hubungan Intellectual Capital Dengan Kinerja Perusahaan Di Bursa Efek Indonesia.. Menyatakan bahwa tugas akhir

Pengobatan TBC yang Gagal di Poli Paru BP4/ Rumah Sakit Paru Surabaya bulan Agustus 2011 ....

Dari informasi di atas, peneliti dapat menjelaskan bahwa peranan pustakawan dalam sistem temu balik informasi di Perpustakaan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Mudah ฀mudahan saja dia mendapatkan sesuatu yang tidak lebih buruk dari aku…” Sekali lagi Dewa Ketawa menjura pada Ratu Duyung lalu dia melangkah mengikuti empat orang anak buah

Pada tahap ini kita dipersilakan memilih versi windows yang akan digunakan, pada worksheet ini saya contohkan menggunakan yang standar saja karena menurut saya itu sudah cukup

sangat penting untuk memperkuat positioning produk ramah lingkungan Pertamax ini. Kedua, hasil penelitian juga menemukan bahwa sikap memediasi pengetahuan lingkungan terhadap

Sampai saat ini, PT Jamsostek (Persero) memberikan perlindungan 4 (empat) program, yang mencakup Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan

Dari pengertian yang telah diuraikan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa giro wadiah yad dhamanah merupakan suatu titipan dimana Muwaddi (penitip) harta