• Tidak ada hasil yang ditemukan

KUMPULAN ABSTRAK - Kumpulan Abstrak ATPW 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KUMPULAN ABSTRAK - Kumpulan Abstrak ATPW 2014"

Copied!
150
0
0

Teks penuh

(1)

KUMPULAN ABSTRAK

SEMINAR NASIONAL

APLIKASI TEKNOLOGI PRASARANA WILAYAH

2014

TEMA:

Inovasi Sistem Manajemen dalam Industri

Konstruksi untuk Menghadapi Masyarakat

Ekonomi ASEAN 2015

18 JUNI 2014

PROGRAM DIPLOMA TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

SURABAYA

(2)

iii

sangat baik yang disediakan untuk mengkoordinasikan dan mengkomunikasikan seluruh proses konstruksi. Peranan Manajemen Konstruksi pada tahapan proyek konstruksi dapat dibagi menjadi: Agency Construction Management (ACM), Extended Service Construction Manajement (ESCM), Owner Construction Management (OCM), dan Guaranted Maximum Price Construction Management (GMPCM). Manajemen Konstruksi memiliki beberapa fungsi sebagai Quality Control untuk menjaga kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan, mengantisipasi terjadinya perubahan kondisi lapangan yang tidak pasti dan mengatasi kendala terbatasnya waktu pelaksanaan, memantau prestasi dan kemajuan proyek yang telah dicapai yang dilakukan dengan opname (laporan) harian, mingguan dan bulanan. Hasil evaluasi dapat dijadikan tindakan pengambilan keputusan terhadap masalah-masalah yang terjadi di lapangan. Fungsi manajerial dari manajemen merupakan sistem informasi yang baik untuk menganalisis performa dilapangan.

Saat ini yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana meningkatkan upaya agar sektor jasa konstruksi dapat berperan lebih besar dalam meningkatkan ekonomi Indonesia. Untuk dapat meningkatkan nilai tambah tersebut maka perlu dilakukan efisiensi disegala sektor kegiatan proyek, dengan jalan meningkatkan kemampuan dan penguasaan terhadap teknologi, manajemen konstruksi, dan informasi. Penguasaan teknologi maupun manajemen bukanlah satu-satunya faktor yang sangat menentukan kualitas manajemen kontraktor Indonesia, masih banyak faktor yang lain seperti etos kerja, kebijaksanaan pemerintah, iklim usaha dan faktor sosial budaya lainnya. Construction Management Association of America (CMAA) menyatakan bahwa ada tujuh kategori utama tanggung jawab seorang manajer konstruksi, yaitu perencanaan proyek manajemen, manajemen harga, manajemen waktu, manajemen kualitas, administrasi kontrak, manajemen keselamatan, dan praktik profesional.

Kebijakan pemerintah ke depan perlu diupayakan lebih kondusif bagi tumbuh dan meningkatkan perannya dalam memberdayakan usaha kecil dan menengah (UKM). Pada sisi lain peran pemerintah juga sangat penting. Aturan dan pembangunan sarana dan prasarana, termasuk SDM pemerintah sendiri juga harus mendukung iklim wirausaha di negeri ini.

(3)

iv

Suraji (Kalitbang. Lembaga Prngembangan Jasa konstruksi Nasional (LPJKN)), Bapak Prof. Dr. Ir. Tri Yogi Yuwono, DEA. (Rektor ITS), Bapak Dr. Ir. Hidayat Soegihardjo M, MS. (Dekan FTSP ITS), Bapak Ir. M. Sigit Darmawan, M. EngSc., Ph.D. (Kaprodi Diploma Teknik Sipil ITS), Dr. Ridho Bayuaji, ST., MT. (Sek Prodi Diploma Teknik Sipil ITS), dan semua pihak yang telah mendukung acara ini.

Semoga dengan adanya pelaksanaan Seminar Nasional ini, kita dapat memberikan masukan pemecahan permasalahan yang dihadapi khususnya dalam bidang teknik sipil.

(4)

v

HALAMAN JUDUL………. i

SUSUNAN PANITIA……… iii

KATA PENGANTAR………...……...…..… v

DAFTAR ISI……….…. vii

A. MANAJEMEN DAN REKAYASA SUMBER DAYA AIR

A.1 PENENTUAN INDEKS KERENTANAN BANJIR

BERINDIKATOR POLA HUJAN DAN POLA MUSIM…………...A­1

A.2 MODEL DISPRIN BERBASIS ALGORITMA

GENETIK UNTUK TRANSFORMASI DATA HUJAN MENJADI DATA ALIRAN SUNGAI …... A­2 A.3 PENINGKATAN MUTU KUALITAS AIR

PADA JARINGAN IRIGASI SUMUR WATU…… A­3 A.4 PERMODELAN HUJAN DEBIT

PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI

BENGAWAN SOLO DENGAN DISTRIBUTED MODEL MENGGUNAKAN INTEGRATED

FLOOD ANALYSIS SYSTEM (IFAS)……… A­4 A.5 ANALISA MULTI KRITERIA UNTUK

MENENTUKAN DAERAH KERENTANAN DAERAH ALIRAN SUNGAI BENGAWAN SOLO DI KABUPATEN LAMONGAN………... A­5 A.6 PENELITIAN LANJUTAN ALAT UKUR DEBIT

AMBANG TIPIS SEGI TIGA DAN PENAMPANG MAJEMUK... A­6 A.7 ANALISIS LAJU EROSI LAHAN DAN

(5)

vi

GUNA WADUK ………..………. A­7 A.8 NERACA SUMBER DAYA LAHAN

DI KAWASAN RAWAN BENCANA

MENGGUNAKAN CITRA MULTITEMPORAL… A­8 A.9 GERUSAN DAN PENGENDAPAN PADA

SUDUT RELATIF DAN SUDUT LENGKUNG MEANDER SUNGAI………..……….…. A­9 A.10 STUDI DAMPAK PEMBANGUNAN JETTY

REJOSO TERHADAP DAERAH PANTAI

DENGAN MODEL NUMERIK……….... A­10 A.11 APLIKASI PENGINDERAAN JAUH UNTUK

ANALISA PERUBAHAN POLA ALIRAN DAN DAERAH GENANGAN DI PESISIR

SURABAYA­SIDOARJO………..…………... A­11 A.12 ANALISA KONSENTRASI KLOROFIL­A

DAN TSS (TOTAL SUSPENDED SEDIMENT) TERHADAP KUALITAS PERAIRAN DI MUARA KALI PORONG………...………….. A­12 A.13 PENERAPAN TEKNOSABO BERUPA OPRIT

UNTUK MENDUKUNG PERTUMBUHAN

EKONOMI DI KALI WORO……… A­13 A.14 PERANAN PEMANTAUAN AIR TANAH

DALAM KONSERVASI SEBAGAI BAHAN BAKU AIR BERSIH SUMBER DAYA

AIR TANAH ………...….. A­14 A.15 ASESMEN BANJIR PROVINSI GORONTALO... A­15 A.16 DETENTION BASIN SEBAGAI ALTERNATIF

PENANGGULANGAN BANJIR DI DAERAH

KETINTANG SURABAYA………….……… A­16 A.17 PENGENDALIAN BANJIR DI DAERAH

(6)

vii

B.2 ROAD MAP KEBISINGAN YANG D

ITIMBULKAN KENDARAAN BERMOTOR

DI KOTA BOGOR………... B­2 B.3 PENENTUAN JUMLAH ARMADA ANGKUTAN

KOTA COMORO DI DILI – TIMOR LESTE…….. B­3 B.4 REVIEW DESIGN JEMBATAN PENDEKAT

PRESTRESSED SLAB ON PILE ………..…….…. B­4 B.5 PENGEMBANGAN MODA ANGKUTAN

JALAN DI JAWA TIMUR... B­5 B.6 PENGARUH PEMBANGUNAN GEDUNG BARU

KPK TERHADAP LALU LINTAS DI RUAS

JALAN SEKITARNYA………. B­6 B.7 EVALUASI RENCANA UMUM NASIONAL

KESELAMATAN (RUNK) JALAN …..………... B­7 B.8 STUDI KERUSAKAN JALAN SECARA VISUAL

PADA RUAS JALAN KM1­KM6 (HUNITETU) KECAMATAN KAIRATU KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT PROVINSI MALUKU

UNTUK MENCARI SOLUSI YANG OPTIMAL… B­8 B.9 TRIP ASSIGNMENT BERDASARKAN WAKTU

TERCEPAT DENGAN ADANYA PERUBAHAN KAPASITAS JALAN………...…... B­9 B.10 ANALISA KEBUTUHAN PRASARANA

TRANSPORTASI DARAT DI KABUPATEN

BOJONEGORO………..………... B­10 B.11 ANALISIS DEMAND TRAYEK ANGKUTAN

UMUM UNTUK DI BATAS KOTA –

KABUPATEN JAYAPURATERMINAL TYPE B .. B­11 B.12 KAJIAN TINGKAT KECELAKAAN LALU

(7)

viii

ANGKUTAN BARANG NON PETIKEMAS

UNTUK PREDIKSI VOLUME PERDAGANGAN DOMESTIK DI PELABUHAN TANJUNG

PERAK SURABAYA ………..…. B­14 B.14 SIMULASI ANTRIAN KENDARAAN AKIBAT

TIDAK EFISIENNYA JALUR PERLAMBATAN PADA ­U­TURN JALAN PERKOTAAN………… B­15 B.15 PROBABILITAS PENGGUNA MOBIL PRIBADI

BERALIH KE TREM SURABAYA

(SUROTRAM)………...… B­16 B.16 STUDI EVALUASI PENGEMBANGAN

PELABUHAN PETIKEMAS TANJUNGWANGI BANYUWANGI………..……….. B­17 B.17 EVALUASI MANFAAT FRONTAGE ROAD DUA

LAJUR ARAH SURABAYA­SIDOARJO TERHADAP PENGURANGAN KEMACETAN LALU­LINTAS DI JL. AHMAD YANI RUAS BUNDARAN DOLOG­BUNDARAN WARU B.19 STUDI OPERASIONAL ANGKUTAN UMUM

DI KOTA SURABAYA BERDASARKAN

KEBUTUHAN DAN OPTIMALISASI ARMADA.. B­20 B.20 PENGARUH PENAMBAHAN CAPPING LAYER

PADA TANAH DASAR /SUBGRADE

TERHADAP BIAYA PERKERASANLENTUR

JALAN RAYA………...………. B­21 B.21 PERILAKU TEKUK TORSI LATERAL

GELAGAR UTAMA DARI JEMBATAN

(8)

ix

B.23 EVALUASI KINERJA ANGKUTAN UMUM

MENUJU EVALUASI KONDISI PERKERASAN SEBAGAI DASAR MANAJEMEN

PEMELIHARAAN PERKERASAN PADA RUAS JALAN WATES KABUPATEN BANTUL

DIY ………..….. B­24 B.24 PERENCANAAN ULANG JEMBATAN

SUNINGRAT DENGAN SISTEM BALOK

MENERUS NON PRISMATIS……….… B­25 B.25 ANALISIS DAMPAK LALU LINTAS

PEMBANGUNAN SPBU DI JALAN PROVINSI RUAS KEJAYAN­PURWOSARI KECAMATAN KEJAYAN KABUPATEN PASURUAN………….. B­26

C. MANAJEMEN DAN REKAYASA STRUKTUR

C.1 STUDI PERBANDINGAN NILAI KUAT TEKAN DAN MODULUS ELASTIS BETON YANG MENGGUNAKAN PASIR MERAPI

DAN PASIR LUMAJANG ………... C­1 C.2 EVALUASI RETAK BETON BERTULANG

ABUTMENT JEMBATAN……….…….. C­2 C.3 PREDIKSI KAPASITAS LENTUR BALOK

BETON BERSERAT PADA BERBAGAI SUHU.... C­3 C.4 DAKTILITAS TIANG PANCANG BETON

PRACETAK BERONGGA DENGAN PENGISI

` BETON COR SETEMPAT………... C­4

C.5 STUDI PERILAKU STRUKTUR BAJA DENGAN SISTEM OUTRIGGER

DAN BELT­TRUSS …………..…………..………. C­5 C.6 APLIKASI SISTEM PERINGATAN DINI

(9)

x

C.7 ANALISA RETAK PADA BETON BERTULANG

AKIBAT KOROSI DAN HUBUNGANNYA

DENGAN DURABILITY A REVIEW………... C­7 C.8 SISTEM SAMBUNGAN HUBUNGAN BALOK­

KOLOM PRECAST MENGGUNAKAN

LEMBARAN GFRP... C­8 C.9 ANALISIS PENGURANGAN TIE­BEAM

SEBAGAI OPTIMALISASI WAKTU

PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR PROYEK TERMINAL BANDARA SEPINGGAN BALIKPAPAN... C­9 C.10 STUDI PERILAKU INELASTIK SISTEM

STAGGERED TRUSS FRAMING PADA

GEDUNG DENGAN VARIASI JUMLAH LANTAI DENGAN ANALISIS NONLINIER BEBAN

DORONG DAN RIWAYAT WAKTU………..….. C­10 C.11 BUCKLING ANALYSIS OF FGM SANDWICH

STRUCTURES UNDER THERMAL LOADING.... C­11 C.12 UJI LENTUR PADA PANEL BALOK

PRACETAK... C­12 C.13 RANCANG BANGUN RANGKA DENGAN

DINDING PENGISI DARI PANEL PRACETAK.... C­13 C.14 KEKUATAN TAHANAN LATERAL

SAMBUNGAN GESER KOMPOSIT BAMBU LAMINASI­BETON DENGAN VARIASI JENIS DAN DIAMETERALAT SAMBUNG (DOWEL).... C­14 C.15 KUAT TARIK BAMBU PETUNG LAMINASI

DENGAN MEMPERHITUNGKAN JUMLAH

DAN POSISI NODIA... C­15 C.16 KUAT TUMPU BAMBU LAMINASI: HALF

HOLE DAN FULL HOLE……… C­16 C.17 ANALYSIS AND STUDY OF MECHANICAL

(10)

xi

(NON PRESS) ASAL BANGSAL MOJOSARI

KABUPATEN MOJOKERTO TERHADAP KUAT TEKAN SPESI CAMPURAN SEMEN, KAPUR DAN PASIR UNTUK

PASANGAN BATA……….………. C­18 C.19 BAK AIR BAWAH TANAH DENGAN BETON

PRACETAK………..…. C­19

D. MANAJEMEN DAN REKAYASA GEOTEKNIK

D.1 MATRAS LEBAH BERBAHAN POLIMER

SEBAGAI PERKUATAN TANAH LUNAK UNTUK MENGATASI KELONGSORAN

PADA PELAKSANAAN REKLAMASI JALAN... D­1

D.2 STUDI EKSPERIMENTAL KUAT GESER TANAH

DI SEKITAR BATAS PLASTIS………..……. D­2 D.3 ANALISIS TINGKAT KEKERUHAN AIR

MENGGUNAKAN ALGORITMA JING LI, BUDIMAN DAN LEMIGAS PADA CITRA TERRA ASTER DI PERAIRAN

SELAT MADURA ……… D­3 D.4 ANALISA KONSENTRASI MUATAN

PADATAN TERSUSPENSI MENGGUNAKAN CITRA SATELIT LANDSAT 7 ETM+

DAN LANDSAT 8………. D­4 D.5 STABILISASI TANAH LEMPUNG EKSPANSIF

DENGAN MENGGUNAKAN ASPAL BUTON SEBAGAI BAHAN PENSTABILISASI…….……. D­5 D.6 KAJIAN NILAI INDEKS VEGETASI PADA

LAHAN PERTANIAN KERING ………... D­6

D.7 STUDI PENGARUH PENAMBAHAN LIMBAH

(11)

xii

DAN MEKANIK TANAH LEMPUNG LUNAK... D­7

D.8 MONITORING PERGERAKAN TANAH

DI SEKITAR SEMBURAN LUMPUR SIDOARJO MENGGUNAKAN DATA SATELIT....…………... D­8 D.9 STUDI KASUS PERKUATAN LERENG

DENGAN PENURUNAN MUKA AIR TANAH…. D­9 D.10 IDENTIFIKASI TUTUPAN LAHAN PESISIR

UTARA KOTA SURABAYA MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH…………. D­10 D.11 PEMETAAN JARINGAN DISTRIBUSI LISTRIK

KAMPUS ITS SURABAYA MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)… …....D­11 D.12 KORELASI ANTARA GRADASI MATERIAL

DENGAN PARAMETRE FISIS­MEKANIS TANAH TIMBUNAN JALAN TOL

(EST­ WEST ALGERIA)………..….... D­12 D.13 EVALUASI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN

DI KOTASURABAYA DENGAN CITRA

LANDSAT... D­13 D.14 PENGGUNAAN CAMPURAN KAPUR Ca(OH)2

DAN FLY ASH SEBAGAI BAHAN STABILISASI PADA TANAH GAMBUT BERSERAT………….. D­14 D.15 KAJIAN PENINGKATAN NILAI CBR TANAH

LEMPUNG PADALARANG YANG DISTABILISASI DENGAN VERMIKULIT

DAN SEMEN………..……... D­15

E. MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI

E.1 KONTRIBUSI PILE CAP TERHADAP DAYA

DUKUNG TANAH PADA PROYEK

APARTEMEN PURI MAS SURABAYA…………. E­1

E.2 FAKTOR KRITIS PENENTU KEBERHASILAN

(12)

xiii

USAHA JASA KONSTRUKSI…………...…….…. E­3 E.4 ANALISIS PEMILIHAN PEMASOK MATERIAL

BETON READY­MIX PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG STAER SQUAR DI MANADO………...……...E­4 E.5 ALOKASI RISIKO PROYEK PEMBANGUNAN

JALAN DENGAN SISTEM PERFORMANCE BASED CONTRACT.………..…. E­5 E.6 PREFERENSI RESPON RISIKO PADA

PENGEMBANGAN KERJASAMA PEMERINTAH SWASTA (KPS) INFRASTRUKTUR BANDAR UDARA DI INDONESIA ……….... E­6 E.7 USULAN GARIS BESAR ACUAN STANDAR

UNTUK PERKERJAAN GALIAN DALAM (DEEP EXCAVATION) DI PERKOTAAN

INDONESIA…... E­7 E.8 ANALISIS RISIKO KESELAMATAN DAN

KESEHATAN KERJA (K3) PADA PROYEK PEMBANGUNAN APARTEMEN EDUCITY

RESIDENCE PAKUWON CITY SURABAYA…... E­8 E.9 TANTANGAN DAN POTENSI JASA

KONSTRUKSI INDONESIA MENYONSONG ERA MASYARAKAT EKONOMI

ASEAN (MEA) 2015………. E­9 E.10 FAKTOR­FAKTOR PENYEBAB

KETERLAMBATAN PROYEK KONSTRUKSI DI MALUKU TENGAH………E­10

F. MANAJEMEN RESIKO BENCANA

F.1 ANALISA RISIKO CNG STORAGE ONSHORE

(13)

xiv

EFFECT ANALYSIS (FMEA)………. F­1

F.2 ANALISA RISIKO PADA MODIFIKASI

FASILITAS FPU (FLOATING PRODUCTION UNIT) DAN PEMBANGUNAN JARINGAN

PIPA BAWAH LAUT ………..………… F­2

F.3 MANAJEMEN RESIKO BENCANA DI RUANG

TERBATAS MENGGUNAKAN METODE FPE, STUDI KASUS PT. HOLCIM INDONESIA

Tbk – TUBAN PROJECT……….. F­3

G. MATERIAL BAHAN BANGUNAN DAN KONSTRUKSI

G.1 PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN VIA­TOP

PADA CAMPURAN SPLIT MASTIK ASPAL UNTUK MENGHINDARI TERJADINYA

BLEEDING……….... G­1

G.2 KELEBIHAN BATU PECAH JAWA DARI BATU

PECAH MADURA SEBAGAI AGREGAT KASAR TERHADAP NILAI KUAT TEKAN

BETON………...……... G­2 G.3 PEMAKAIAN FLY­ASH SEBAGAI

CEMENTITIOUS PADA BETON MUTU TINGGI DENGAN STEAM CURING……… G­3 G.4 PENGGUNAAN SIRTU MALANGO SEBAGAI

BAHAN LAPIS PONDASI BAWAH DITINJAU DARI SPESIFIKASI UMUM 2007

DAN 2010………....….. G­4 G.5 ALTERNATIF PEMAKAIAN LIMBAH LAS

KARBIT SEBAGAI PENGGANTI SEBAGIAN SEMEN DENGAN MENGGUNAKAN FLY ASH PADA CAMPURAN BETON……….. G­5 G.6 PAVING GEOPOLIMER DARI COAL ASH

LIMBAH PABRIK………. G­6 G.7 EFEK SUBTITUSI LIMBAH PADAT INDUSTRI

(14)

xv

PADA INDUSTRI BETON………... G­8 G.9 PENENTUAN CAMPURAN LUMPUR LAPINDO

SEBAGAI SUBSTITUSI PASIR DAN SEMEN DALAM PEMBUATAN PAVING BLOCK

RAMAH LINGKUNGAN...………..….…... G­9

H. MANAJEMEN TATA RUANG DAN WILAYAH KOTA

H.1 ANALISA PENENTUAN LOKASI

PENGEMBANGAN KAWASAN PERUMAHAN MENGGUNAKAN METODE

ANALISIS SPASIAL ……… H­1

H.2 KAJIAN INFRASTRUKTUR VITAL BAGI

KELANGSUNGAN KEGIATAN PEREKONOMIAN DI SURABAYA

METROPOLITAN AREA………..…..…. H­2

H.3 STUDI EKSPLORASI PENGELOLAAN DAN

DAYA LAYAN TEMPAT PENAMPUNGAN SAMPAH SEMENTARA DI KAWASAN PASAR CIROYOM DAN PASAR ANDIR

KOTA BANDUNG……….….. H­3

H.4 PEMODELAN MATEMATIKA ANTARA DATA

KEPENDUDUKAN DENGAN KERAPATAN BANGUNAN MENGGUNAKAN

CITRA QUICKBIRD………. H­4 H.5 KAJIAN FAKTOR­FAKTOR DESAIN

KOMPONEN FASADE YANG PALING MEMPENGARUHI MINAT KONSUMEN PADA REAL ESTATE PERUMAHAN

DI KOTA PROBOLINGGO………. H­5

H.6 KONTEKS LOKAL NEIGHBORHOOD UNIT

(15)

xvi

PERUMAHAN ……….. H­6 H.7 KAJIAN DAMPAK REKLAMASI TERHADAP

PERMUKIMAN NELAYAN TRADISIONAL.….. H­7

H.8 PENGGUNAAN METODE SEGMENTASI

OBYEK DAN PROBABILITAS HOUGH TRANSFORM PADA PROSES EKSTRAKSI

OBYEK BANGUNAN……….….… H.8 H.9 STUDI KAJIAN DAMPAK PEMANFAATAN

LAHAN ILEGAL UNTUK PEMUKIMAN

I.1 PERANAN MANAJEMEN DAN REKAYASA

LINGKUNGAN PADA PERMUKIMAN KUMUH

I.3 MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN DISTORSI

PEMAKNAAN………...I.3

I.4 ANALISA INDEKS VEGETASI UNTUK

EKOSISTEM MANGROVE DENGAN

MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8………… I.4

I.5 REKAYASA PENJERNIHAN AIR UNTUK

(16)

xvii

SEBELUM DIALIRKAN KEBADAN AIR

SUNGAI KEDUNGLARANGAN………….…...… I.6

I.7 EVALUASI BERDASARKAN REGULASI ATAS

PRAKTEK PENGELOLAAN SAMPAH

DI INDONESIA……….………… I.7

I.8 KAJIAN POLA PENANGANAN SAMPAH

RUMAH TANGGA DI KABUPATEN

SUKABUMI………... I.8

I.9 PURIFICATION FILTER DESIGN BIOGAS

(CO2, H2S) USING ABSOBSI (NaOH, CaO)

AND WATER SCRUBBER………...…..… I.9 I.10 ANALISIS POTENSI DAN KELAYAKAN

PENGEMBANGAN EKO­MINAWISATA SECARA TERPADU DAN BERKELANJUTAN PADA KAWASAN KONSERVASI HUTAN MANGROVE DI SINJAI TIMUR,

SULAWESI SELATAN………..….. I.10

J. GREEN BUILDING

J.1 SKYFARMING: KONSEP ALTERNATIF

GREEN BUILDING MENUJU

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN…..……... J.1

J.2 KAJIAN PENGHAMBAT PENERAPAN KONSEP

GREEN DEVELOPMENT PADA PROYEK

(17)

(18)

Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air A - 1 PENENTUAN INDEKS KERENTANAN BANJIR BERINDIKATOR POLA HUJAN DAN POLA MUSIM

Didik Harijanto, Kuntjoro, Saptarita, Pudiastuti, dan Estutie Maulani Program Studi Diploma Teknik Sipil FTSP ITS, Surabaya

E-mail: [email protected]

Abstrak

Kerentanan suatu daerah terhadap banjir tergantung banyak faktor, antara lain bentuk topografi, tutupan lahan dan curah hujan. Faktor curah akan diteliti lebih dalam penelitian ini, karena dalam studi-studi atau dalam perencanaan-perencanaan infrastruktur yang berkenaan dengan hidrologis faktor ini hampir selalu digunakan kondisi-kondisi yang ekstrim. Setiap daerah mempunyai karakter pola hujan dan pola musim. Karakter pola hujan dan pola musim tersebut dalam perencanaan infrastruktur hidrologis tidak bisa disama-ratakan dengan menggunakan kondisi-kondisi ekstrim. Dengan demikian perlu adanya penelitian lebih detail tentang pola hujan dan pola musim sebagai indikator deteksi dini kerentanan banjir. Pola hujan dan pola musim serta topografi DAS (Daerah Aliran Sungai) akan dianalisis dalam penelitian ini untuk mendapatkan angka index yang akan dipakai sebagai indikator kerentanan banjir.

Tingkat kerentanan banjir adalah ketidak selarasan (disynchronization) antara: tinggi dan pola hujan serta pola musim terhadap respon alam di suatu daerah. Ketidak selarasan ini disebabkan oleh adanya perubahan pola hujan dan pergeseran pola musim di berbagai daerah.

Indeks kerentanan banjir ditentukan sebagai IB = fkum/Rkum selama kurun waktu turun hujan. IB > 1, maka lahan dalam kondisi aman; IB = 1, maka lahan dalam kondisi kritis dan IB < 1 maka run off menggenang.

(19)

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah 2014

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang E-mail: [email protected]

Abstrak

Kelemahan mendasar dari penerapan model konseptual deterministik untuk transformasi data hujan menjadi data aliran sungai terletak pada begitu banyaknya parameter yang nilainya harus ditetapkan terlebih dulu secara simultan sebelum model tersebut diaplikasikan. Dalam konsep Model DISPRIN (Dee Investigation Simulation Program for Regulating Network) sebuah daerah aliran sungai (DAS) terbagi menjadi tiga zona hidrologis, yaitu zona uplands, hillslope dan bottomslope. Pada setiap zona terdiri dari tampungan non linier, selanjutnya dihubungkan secara interkoneksi dengan prosedur routing linier yang merepresentasikan proses overland, interflow dan base flow. Sistem aliran air hujan menjadi debit sungai pada sebuah DAS dianalogikan sebagai sistem aliran melalui delapan buah tangki yang terhubung secara interkoneksi dan memiliki 28 parameter. Nilai optimal dari setiap parameter tersebut tentu akan berbeda untuk setiap DAS yang dikaji oleh karena tidak ada satupun DAS yang memiliki karakteristik fisik sama dengan DAS lain. Kondisi ini menjadikan model tersebut dianggap tidak efisien untuk memecahkan masalah-masalah praktis. Karya ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja Model DISPRIN agar dapat diterapkan lebih praktis dan efektif dalam analisis transformasi data hujan menjadi data aliran sungai. Upaya untuk memperoleh nilai optimal dari parameter-parameter Model DISPRIN diselesaikan melalui proses optimasi dengan memanfaatkan Algoritma Genetik (AG). Penelitian pada DAS Konto (236.0 Km2) di Jawa Timur menunjukkan bahwa Model DISPRIN berbasis AG dapat menunjukkan kinerja yang sangat memuaskan. Proses optimasi untuk mendapatkan nilai optimum dari parameter-parameter model menggunakan set data hidroklimatologi historik Tahun 2008 dan 2009, sedangkan pengujian model menggunakan set data Tahun 2010. Dari hasil pengujian diperoleh nilai root mean square error (RMSE) 0.257 m3/detik, atau setara dengan nilai square relative error (RR) sebesar 9.3%. Nilai indikator tersebut lebih baik dibanding hasil yang diperoleh dari penerapan Model Tangki.

(20)

Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air A - 3 PENINGKATAN MUTU KUALITAS AIR PADA JARINGAN

IRIGASI SUMUR WATU

Acep Hidayat

Fakultas Teknik Perencanaan dan Desain, Universitas Mercu Buana, Jakarta E-mail: [email protected]

Abstrak

Peningkatan jumlah penduduk di Indonesia memberikan konsekuensi dampak berupa peningkatan kebutuhan pangan. Kebutuhan padi terus meningkat, akan tetapi tidak diiringi penambahan luas areal tanam padi. Dengan luas areal yang ada dituntut untuk dapat meningkatkan hasil pertanian. Hasil akan meningkat bila didukung dengan kualitas air yang baik.

Dalam beberapa periode musim tanam, terdapat indikasi penurunan kualitas air pada jaringan irigasi Sumur Watu Indramayu Jawa Barat sehingga mengalami penurunan hasil pertanian. Tujuan dari penelitian adalah mengidentifikasi mutu air, melakukan analisis, evaluasi, dan merumuskan arahan pengelolaan kualitas air pada jaringan irigasi. Metode analisis air dilakukan dengan membandingkan hasil observasi terhadap parameter baku mutu air yang ada di jaringan irigasi Sumur Watu.

Lokasi pengamatan dilakukan pada Jaringan Irigasi Sumur Watu. Hasil uji mutu menunjukkan untuk jumlah parameter yang melampaui ambang batas meliputi parameter BOD (Biological Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand) sehingga dapat disimpulkan bahwa mutu air di Jaringan irigasi Sumur Watu mengalami pencemaran dengan status pencemaran ringan. Metode penanganan adalah dengan membuat saluran yang panjang dan diberikan terjunan diakhir saluran sehingga terjadi aliran turbulensi yang dapat menghasilkan oksigen dalam air yang berdampak pada menurunnya tingkat pencemaran BOD dan COD.

(21)

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah 2014

Program Studi Magister Teknik Sipil MRSA FTSP ITS, Surabaya E-mail: [email protected]

Abstrak

Sebuah peramalan banjir melalui data-data curah hujan ataupun debit masih belum bisa diterapkan di seluruh wilayah Indonesia. Sebuah peramalan banjir sendiri sangat perlu dilakukan sebagai tindakan awal mitigasi bencana banjir yang terjadi setiap musim penghujan datang. Sehingga diperlukan sebuah permodelan untuk dapat menentukan besarnya debit pada sebuah daerah aliran sungai (DAS) walaupun ketersediaan data hujan dan debitnya sangat minim. Sebuah program peramalan banjir melalui permodelan hujan debit yaitu Integrated Flood Analysis System (IFAS). Pada studi ini dilakukan permodelan hujan debit pada DAS Bengawan Solo. Tujuan permodelan ini mendapatkan korelasi dan seberapa besar keandalan permodelan IFAS bila dibandingkan dengan hasil pengukuran lapangan.

Rumusan masalah yang diangkat dalam studi ini adalah bagaimana memodelkan DAS Bengawan Solo pada IFAS, perbedaan nilai data hujan satelit dan data hujan hasil pengamatan. Kemudian berapa nilai parameter-parameter antara surface-subsurface, aquifer, dan river course yang berpengaruh siginifikan terhadap model. Setelah itu didapat performa model berdasarkan perbandingan debit AWLR DAS Bengawan Solo menggunakan metode Root Mean Square Error (RMSE).

Berdasarkan perumusan masalah di atas serta tujuan dari studi ini, maka diperlukan langkah atau tahapan penelitian yang dilakukan. Dibutuhkan data-data seperti data hujan hasil pengamatan dari stasiun-stasiun hujan DAS Bengawan Solo, data lahan, data iklim, data topografi, dan data debit AWLR. Langkah selanjutnya adalah pembuatan model DAS Bengawan Solo di IFAS dengan memanfaatkan berbagai data satelit. Selanjutnya adalah tahapan analisa terhadap parameter berpengaruh. Dilakukan trial-error masing-masing parameter untuk mendapatkan nilai error terkecil terhadap angka debit AWLR. Sehingga parameter dengan nilai error terkecil dipakai untuk mendapatkan nilai kalibarasi untuk mengetahui performa model.

Permodelan DAS Bengawan Solo dengan IFAS diambil empat model terbaik. Untuk performa model, pada model 3 didapat nilai RMSE sebesar 3,198% dan Nash sebesar 0,952. Parameter model 3 selanjutnya diuji pada periode yang berbeda tetapi untuk wilayah yang sama.

(22)

Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air A - 5 ANALISA MULTI KRITERIA UNTUK MENENTUKAN

DAERAH KERENTANAN DAERAH ALIRAN SUNGAI BENGAWAN SOLO DI KABUPATEN LAMONGAN

Mitha Asyita R., Muhammad Taufik, dan Bangun M. S. Program Studi Magister Teknik Geomatika FTSP ITS, Surabaya

E-mail: [email protected]

Abstrak

Daerah Aliran Sungai (DAS) saat ini telah dilirik sebagai suatu sistem yang terus ditingkatkan pengembangannya ke dalam suatu sistem yang berkelanjutan, tidak terlepas juga DAS Bengawan Solo yang melewati Propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan luas wilayah sungai sebesar ±12% dari seluruh wilayah Pulau Jawa. DAS Bengawan Solo hampir setiap tahunnya mengalami bencana banjir dan tanah longsor. Banjir dan tanah longsor disebabkan oleh faktor-faktor alam dan kegiatan manusia yang terkait dengan pemanfaatan sumber daya alam yang menyebabkan menurunnya fungsi ekosistem DAS. Faktor alamiah terutama disebabkan karena curah hujan yang sangat tinggi, kondisi topografi, dan kondisi tangkapan air DAS. Sedangkan faktor manusia disebabkan karena perubahan penggunaan lahan, sarana prasarana drainase, pertanian, dan usaha lain yang dilakukan oleh masyarakat.

Penelitian ini mengambil lokasi Kabupaten Lamongan yang terletak di Provinsi Jawa Timur dimana dari segi fisik wilayahnya dilewati oleh Bengawan Solo dan sebagian wilayahnya berada di dataran rendah menyebabkan daerah ini rawan terjadi bencana di wilayah. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya bencana tersebut dikatakan sebagai faktor timbulnya kerentanan pada Daerah Aliran Sungai (DAS). Pada penelitian ini kerentanan DAS Bengawan Solo ditinjau dari aspek fisik dan non fisik.

Dengan menggunakan data eksisting sosial ekonomi di Kabupaten Lamongan dan dikombinasi dengan data geografis yang relevan, maka analisis kerentanan dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi SIG menggunakan metode Multi Criteria Analysis (MCA) yang kemudian akan dihasilkan Peta Kerentanan DAS Bengawan Solo di Kabupaten Lamongan.

(23)

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah 2014

Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air A - 6 PENELITIAN LANJUTAN ALAT UKUR DEBIT AMBANG

TIPIS SEGI TIGA DAN PENAMPANG MAJEMUK Edy Sumirman

Program Studi Diploma Teknik Sipil FTSP ITS, Surabaya E-mail: [email protected]

Abstrak

Pelimpah ambang tipis adalah salah satu alat ukur aliran yang terdiri dari beberapa macam dan dibedakan oleh bentuk penampangnya seperti penampang berbentuk segitiga (V-Notch), segiempat (rectangular), trapezium (Cipoletti) dan bentuk lainnya. Bentuk pelimpah akan berpengaruh pada tinggi air diatas pelimpah. Bentuk segitiga memiliki luas penampang lebih kecil dari pada bentuk segi empat. Alat ukur V-notch didesain dengan bentuk takik yang berbentuk seperti huruf V menghasilkan pengukuran yang akurat untuk pengaliran debit kecil dibandingkan dengan alat ukur yang lain. Sedangkan pada pengaliran debit besar, bentuk segi tiga menghasilkan tinggi air diatas mercu lebih besar dari bentuk yang lain. Pelimpah dengan segi empat untuk tinggi muka air yang sama memiliki kemampuan mengalirkan debit lebih besar dari pada penampang segitiga. Namun ketika mengalir debit kecil pada pelimpah penampang segi empat tinggi muka air di atas pelimpah terlalu kecil sehingga pengukuran menjadi tidak akurat. Penampang majemuk yang merupakan gabungan dari penampang segi tiga dan segi empat diharapkan dapat mengakomodasi kelemahan dari penampang segi empat dan segi tiga saja dalam melakukan pengukuran baik debit kecil maupun debit besar. Oleh sebab itu penulis melakukan penelitian aliran melalui pelimpah ambang tipis penampang segi tiga dan penampang majemuk. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengukuran aliran pada pelimpah ambang tipis berpenampang segitiga dan majemuk yang ditempatkan pada flume di dalam laboratorium. Kecepatan aliran diukur dengan menggunakan micro ADV dan permukaan air di hulu pelimpah dan ditempat pengukuran kecepatan diukur dengan menggunakan alat Ultrasonic Water Level Recorder. Data hasil pengukuran kecepatan aliran dan tinggi muka air dianalisa dengan metode statistik deskriptif untuk mendapatkan nilai rata-rata dan simpangannya. Dari hasil penelitian ini, penulis mendapatkan angka koefisien debit pelimpah tipis penampang segi tiga dan penampang majemuk, rumus dasar untuk pelimpah tipis penampang segi tiga dan penampang majemuk dengan ukuran tertentu.

(24)

Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air A - 8 NERACA SUMBER DAYA LAHAN DI KAWASAN RAWAN

BENCANA MENGGUNAKAN CITRA SATELIT MULTITEMPORAL

(Studi Kasus: DAS Bengawan Solo Di Kabupaten Bojonegoro)

Isniyatus Sholikhah dan Muhammad Taufik Program Studi Magister Teknik Geomatika FTSP ITS, Surabaya

E-mail: [email protected]

Abstrak

Keseimbangan pengolahan Sumber Daya Lahan merupakan faktor penting dalam mewujudkan kelestarian fungsi sumber daya lahan dan lingkungan di masa mendatang. Hal itu dapat dicapai dengan menggunakan neraca sumber daya lahan, yang merupakan salah satu hasil pemicu teknologi inventarisasi sumber daya alam sehingga dapat memprediksi keseimbangan potensi dan penggunaannya.

Pada penelitian ini dalam menentukan keseimbangan potensi sumber daya lahan dalam pengelolaan kawasan bencana banjir di Kabupaten Bojonegoro didapatkan dari hasil perhitungan neraca potensi sumber daya lahan (Aktiva) dan penggunaannya (pengambilan, kerusakan dan kehilangan) atau (Pasiva). Metode yang digunakan dengan teknologi Penginderaan Jauh (Remote Sensing) dari data citra satelit multi temporal, yakni Citra Landsat 7 ETM+ untuk tahun 2002 dan Citra Landsat 8 untuk tahun 2013.

Perhitungan neraca sumber daya lahan ini menghasilkan Peta Zona Arahan Penggunaan Lahan DAS Bengawan Solo Di Kabupaten Bojonegoro Dalam RTRW Bojonegoro.

(25)

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah 2014

Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air A - 7 ANALISIS LAJU EROSI LAHAN DAN PENGARUHNYA

TERHADAP UMUR GUNA WADUK (studi kasus Waduk cirata)

Welstien Herma Tatipata, indratmo Soekarno, dan Sri Legowo Program Studi Doktor Teknik Sipil MRK ITB, Bandung

E-mail: [email protected]

Abstrak

Kondisi hujan yang tidak merata disepanjang tahun menyebabkan persediaan air yang berlebih dimusim penghujan dan kekurangan air dimusin kemarau. Agar persediaan air dapat dimanfaatkan secara optimal baik dimusim penghujan maupun dimusim kemarau dapat dibuat suatu sistim pengoperasian waduk yang dapat menampung air pada musim penghujan yang curah hujannya tinggi agar dapat digunakan dimusim kemarau.

Untuk melestarikan waduk sebagai sarana pemanfaatan sumber air, terdapat masalah yang berat yang dihadapinya dimana salah satunya adalah masalah erosi dan sedimentasi yang dapat mengurangi volume tampungan waduk, sehingga dikhawatikan akan mengurangi umur waduk cirata yang telah direncanakan sebelumnya.

Dimana erosi adalah suatu peristiwa berpindahnya tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami yaitu air dan juga oleh angin. Besarnya laju erosi dipengaruhi oleh koefisien erodibilitas tanah, nilai erosivitas hujan, faktor panjang lahan, faktor kemiringan lahan, faktor vegetasi serta faktor pengolahan lahan.

Didalam makalah ini menguraikan tipe-tipe erosi serta tindakan–tindakan untuk mengendalikan erosi agar proses sedimentasi di waduk cirata dapat berkurang sehingga umur waduk serta volume tampungannya dapat mencapai optimum serta hasil analisis dari penelitian ini menyatakan besarnya erosi potensial rata-rata DAS waduk saguling adalah 21,03 ton/ha/tahun sedangkan erosi aktual rata-rata adalah 18,72 ton/ha/tahun. Walapun laju erosi belum begitu membahayakan tetapi sangat berpengaruh pada volume tampungan dan umur waduk Cirata.

(26)

Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air A - 9 GERUSAN DAN PENGENDAPAN PADA SUDUT RELATIF DAN

SUDUT LENGKUNG MEANDER SUNGAI Kuntjoro, Choirul Anwar, Saptarita, Pudiastuti, dan Didik Harijanto

Program Studi Diploma Teknik Sipil FTSP ITS, Surabaya E-mail: [email protected]

Abstrak

Penggerusan dan pengendapan adalah suatu proses yang selalu terjadi hampir pada setiap aliran sungai, proses ini adalah penyebab perubahan geometri sungai. Pada sungai yang lurus sempurna perubahan geometri yang relatif seimbang antara bagian kanan dan kiri sungai, sedangkan pada lengkung-lengkung sungai perubahan geometri ini tidak seimbang antara bagian lengkung luar dan lengkung luar sungai. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan arah dan kecepatan aliran antara kedua sisi tersebutserta terjadinya arus helik (helical flow) yang mempercepat terjadinya belokan-belokan dan lengkungan-lengkungan sungai. Perbedaan arah dan kecepatan aliran di setiap titik di sudut relatif lengkung meander adalah parameter utama yang berpengaruh pada pengendapan dan penggerusan, disamping parameter-parameter kompleks lainnya seperti: Q, h, n I, A, O, S, D50, rc, , , , dan a; , . Parameter kompleks tersebut tercakup dalam metode KUN-QARSHOV, adalah metode untuk memprediksi pergerakan alur sungai bermenader.

Hasil analisis pergerakan alur dengan menggunakan metode KUN-QARSHOV untuk meander Sungai Brantar di Mojokerto didapat: •Pada awal meander: Pada lengkung R2 dengan sudut relatiff 60o dan sudut lengkung 165o gerusan yang terjadi lebih dominan ke arah dasar sungai, gerusan ke arah lengkung dalam lengkung luar terlihat seimbang. Pada lengkung R3 dengan sudut relatif 41o, pada sudut lengkung 120o, terlihat gerusan dasar sungai sisi lengkung luar lebih besar dari sisi lengkung dalam. •Pada tangah meander: Pada lengkung R4 tepat pada Km 62 dengan sudut relatif 25o dan sudut lengkung 115o gerusan dan pengendapan terlihat seimbang. Pada lengkung R4, Km 61 sudut relatif 115o dan sudut lengkung 115o pengendapan dan gerusan. terlihat seimbang. •Pada akhir meander: Pada lengkung meander R5, sudut relatif 8o dan sudut lengkung 61o, dominan terjadi pengendapan sehingga terjadi gosong yang membagi aliran Sedikit terjadi gerusan yang menyebabkan perpindahan posisi aliran dan perpindahan posisi gosong. Pada lengkung meander R6, Km 59, sudut relatif 47o, sudut lengkung 61oterlihat terjadinya gerusan dan pengendapan yang seimbang.

(27)

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah 2014

Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air A - 8 NERACA SUMBER DAYA LAHAN DI KAWASAN RAWAN

BENCANA MENGGUNAKAN CITRA SATELIT MULTITEMPORAL

(Studi Kasus: DAS Bengawan Solo Di Kabupaten Bojonegoro)

Isniyatus Sholikhah dan Muhammad Taufik Program Studi Magister Teknik Geomatika FTSP ITS, Surabaya

E-mail: [email protected]

Abstrak

Keseimbangan pengolahan Sumber Daya Lahan merupakan faktor penting dalam mewujudkan kelestarian fungsi sumber daya lahan dan lingkungan di masa mendatang. Hal itu dapat dicapai dengan menggunakan neraca sumber daya lahan, yang merupakan salah satu hasil pemicu teknologi inventarisasi sumber daya alam sehingga dapat memprediksi keseimbangan potensi dan penggunaannya.

Pada penelitian ini dalam menentukan keseimbangan potensi sumber daya lahan dalam pengelolaan kawasan bencana banjir di Kabupaten Bojonegoro didapatkan dari hasil perhitungan neraca potensi sumber daya lahan (Aktiva) dan penggunaannya (pengambilan, kerusakan dan kehilangan) atau (Pasiva). Metode yang digunakan dengan teknologi Penginderaan Jauh (Remote Sensing) dari data citra satelit multi temporal, yakni Citra Landsat 7 ETM+ untuk tahun 2002 dan Citra Landsat 8 untuk tahun 2013.

Perhitungan neraca sumber daya lahan ini menghasilkan Peta Zona Arahan Penggunaan Lahan DAS Bengawan Solo Di Kabupaten Bojonegoro Dalam RTRW Bojonegoro.

(28)

Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air A - 10 STUDI DAMPAK PEMBANGUNAN JETTY REJOSO TERHADAP DAERAH PANTAI DENGAN MODEL NUMERIK

Ardiansyah Fauzi1) dan Sutat Weesakul2)

1)Program Studi Magister Teknik Sipil MRT FTSP ITS, Surabaya 1,2)Asian Institute of Technology (AIT), Thailand

E-mail: [email protected]

Abstrak

Kali Rejoso terletak di Kabupaten Pasuruan yang bermuara di selat Madura. Tingginya tingkat sedimentasi di muara Kali Rejoso menyebabkan terbentuknya delta di muara dan berubahnya alur sungai. Selain itu, pendangkalan yang terjadi di muara Kali Rejoso menyebabkan elevasi dasar sungai di hilir menjadi naik, sehingga menyebabkan banjir di daerah hulu Kali Rejoso. Oleh karena itu, pemerintah berinisiatif membangun jetty untuk mencegah kerusakan yang terjadi di muara Kali Rejoso dengan memindahkan proses pengendapan di muara menjadi di laut lepas. Untuk menguji dampak pembangunan jetty Rejoso, maka perlu dibuat model yang menunjukkan pengaruh struktur jetty terhadap pola arus, dan gelombang, sehingga dapat diketahui apakah pembangunan jetty merupakan solusi yang tepat atau bahkan memberikan dampak buruk terhadap kondisi daerah pantai disekitar muara Kali Rejoso. Dari hasil analisis yang dilakukan diperoleh bahwa terjadi penurunan kecepatan maksimum arus akibat konstruksi sebesar 7.61-20.95%pada kedalaman dangkal disekitar jetty, dan penurunan kecepatan maksimum sebesar 20.05-71.62% perairan sekitar garis pantai.

(29)

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah 2014

Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air A - 9 GERUSAN DAN PENGENDAPAN PADA SUDUT RELATIF DAN

SUDUT LENGKUNG MEANDER SUNGAI Kuntjoro, Choirul Anwar, Saptarita, Pudiastuti, dan Didik Harijanto

Program Studi Diploma Teknik Sipil FTSP ITS, Surabaya E-mail: [email protected]

Abstrak

Penggerusan dan pengendapan adalah suatu proses yang selalu terjadi hampir pada setiap aliran sungai, proses ini adalah penyebab perubahan geometri sungai. Pada sungai yang lurus sempurna perubahan geometri yang relatif seimbang antara bagian kanan dan kiri sungai, sedangkan pada lengkung-lengkung sungai perubahan geometri ini tidak seimbang antara bagian lengkung luar dan lengkung luar sungai. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan arah dan kecepatan aliran antara kedua sisi tersebutserta terjadinya arus helik (helical flow) yang mempercepat terjadinya belokan-belokan dan lengkungan-lengkungan sungai. Perbedaan arah dan kecepatan aliran di setiap titik di sudut relatif lengkung meander adalah parameter utama yang berpengaruh pada pengendapan dan penggerusan, disamping parameter-parameter kompleks lainnya seperti: Q, h, n I, A, O, S, D50, rc, , , , dan a; , . Parameter kompleks tersebut tercakup dalam metode KUN-QARSHOV, adalah metode untuk memprediksi pergerakan alur sungai bermenader.

Hasil analisis pergerakan alur dengan menggunakan metode KUN-QARSHOV untuk meander Sungai Brantar di Mojokerto didapat: •Pada awal meander: Pada lengkung R2 dengan sudut relatiff 60o dan sudut lengkung 165o gerusan yang terjadi lebih dominan ke arah dasar sungai, gerusan ke arah lengkung dalam lengkung luar terlihat seimbang. Pada lengkung R3 dengan sudut relatif 41o, pada sudut lengkung 120o, terlihat gerusan dasar sungai sisi lengkung luar lebih besar dari sisi lengkung dalam. •Pada tangah meander: Pada lengkung R4 tepat pada Km 62 dengan sudut relatif 25o dan sudut lengkung 115o gerusan dan pengendapan terlihat seimbang. Pada lengkung R4, Km 61 sudut relatif 115o dan sudut lengkung 115o pengendapan dan gerusan. terlihat seimbang. •Pada akhir meander: Pada lengkung meander R5, sudut relatif 8o dan sudut lengkung 61o, dominan terjadi pengendapan sehingga terjadi gosong yang membagi aliran Sedikit terjadi gerusan yang menyebabkan perpindahan posisi aliran dan perpindahan posisi gosong. Pada lengkung meander R6, Km 59, sudut relatif 47o, sudut lengkung 61oterlihat terjadinya gerusan dan pengendapan yang seimbang.

(30)

Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air A - 10 STUDI DAMPAK PEMBANGUNAN JETTY REJOSO TERHADAP DAERAH PANTAI DENGAN MODEL NUMERIK

Ardiansyah Fauzi1) dan Sutat Weesakul2)

1)Program Studi Magister Teknik Sipil MRT FTSP ITS, Surabaya 1,2)Asian Institute of Technology (AIT), Thailand

E-mail: [email protected]

Abstrak

Kali Rejoso terletak di Kabupaten Pasuruan yang bermuara di selat Madura. Tingginya tingkat sedimentasi di muara Kali Rejoso menyebabkan terbentuknya delta di muara dan berubahnya alur sungai. Selain itu, pendangkalan yang terjadi di muara Kali Rejoso menyebabkan elevasi dasar sungai di hilir menjadi naik, sehingga menyebabkan banjir di daerah hulu Kali Rejoso. Oleh karena itu, pemerintah berinisiatif membangun jetty untuk mencegah kerusakan yang terjadi di muara Kali Rejoso dengan memindahkan proses pengendapan di muara menjadi di laut lepas. Untuk menguji dampak pembangunan jetty Rejoso, maka perlu dibuat model yang menunjukkan pengaruh struktur jetty terhadap pola arus, dan gelombang, sehingga dapat diketahui apakah pembangunan jetty merupakan solusi yang tepat atau bahkan memberikan dampak buruk terhadap kondisi daerah pantai disekitar muara Kali Rejoso. Dari hasil analisis yang dilakukan diperoleh bahwa terjadi penurunan kecepatan maksimum arus akibat konstruksi sebesar 7.61-20.95%pada kedalaman dangkal disekitar jetty, dan penurunan kecepatan maksimum sebesar 20.05-71.62% perairan sekitar garis pantai.

(31)

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah 2014

Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air A - 11 APLIKASI PENGINDERAAN JAUH UNTUK ANALISA PERUBAHAN POLA ALIRAN DAN DAERAH GENANGAN DI

PESISIR SURABAYA-SIDOARJO

Regina Verra Santiara Y.P, Bangun Mulyo Sukojo, dan Erma Suryani Program Studi Magister Teknik Geomatika FTSP ITS, Surabaya

E-mail: [email protected]

Abstrak

Faktor penyebab terjadinya genangan dan banjir adalah intensitas curah hujan lebih besar daripada perhitungan dalam perencanaan drainase dan intensitas hujan sesuai dengan perencanaan akan tetapi limpasan air hujan tidak mampu ditampung oleh sistem drainase yang ada. Analisa spasial dapat digunakan untuk mendapatkan pola aliran sungai dan daerah rawan genangan. Analisa spasial dilakukan dengan menggunakan beberapa tipe data spasial yaitu: citra satelit penginderaan jauh untuk memetakan tutupan lahan dan peta-peta tematik untuk melihat konfigurasi bentang lahan. Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengetahui dan menganalisa perubahan pola aliran sungai dan daerah genangan di Pesisir Surabaya-Sidoarjo. Dengan mengintegrasikan data penginderaan jauh dan berbagai data spasial parameter penyebab genangan maka didapatkan hasil yang nantinya dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk kebijakan penanganan daerah rawan genangan.

(32)

Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air A - 12 ANALISA KONSENTRASI KLOROFIL-A DAN TSS (TOTAL SUSPENDED SEDIMENT) TERHADAP KUALITAS PERAIRAN

DI MUARA KALI PORONG Septi Melinda Pristiyawati dan Bangun Muljo Sukojo Program Studi Magister Teknik Geomatika FTSP ITS, Surabaya

E-mail: [email protected]

Abstrak

Klorofil-a dan TSS (Total Suspended Sediment) merupakan salah satu parameter yang cukup penting untuk mengetahui kualitas perairan di suatu wilayah. Klorofil-a dan TSS juga menjadi suatu parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat pencemaran air dan sedimentasi yang diakibatkan oleh pembuangan material-material tertentu ke dalam air. Metode penginderaan jauh dengan citra satelit dapat menjadi solusi untuk melakukan penelitian masalah Klorofil-a dan TSS, karena metode ini lebih efisien dan efektif dalam penelitian berskala spasial yang luas dan kontinyu. Salah satu citra satelit yang dapat digunakan adalah citra satelit Landsat-8 tahun 2013.

Citra satelit Landsat-8 tahun 2013 mempunyai panjang gelombang yang dapat digunakan untuk meneliti Klorofil-a dan TSS, multi temporal, multi spektral, dan mudah didapat. Proses validasi dilakukan dengan membandingkan nilai Klorofil-a dan TSS yang didapat dari pengolahan Citra Satelit dengan data Klorofil-a dan TSS hasil Ground Truth. Hasil yang diperoleh menunjukkan nilai TSS di daerah penelitian berkisar antara 0-150 mg/L, terdapat beberapa lokasi yang memiliki niali TSS cukup tinggi yaitu >70 mg/L. Menurut Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) kandungan TSS yang normal adalah ≤70 mg/L. Beberapa lokasi diindikasi telah terjadi degradasi kualitas perairan yang jika dibiarkan terus-menerus dapat merusak ekosistem di daerah tersebut. Sedangkan untuk nilai Klorofil-a di daerah penelitian berkisar antara 0-15 mg/m3, kondisi ini masih bagus. Menurut Bohlen dan Boynton, 1966, kandungan ideal Klorofil-a dalam suatu perairan adalah ≤15 mg/m3. Penelitian ini dapat digunakan untuk memberikan informasi mengenai kondisi perairan di muara Kali Porong dan sekitarnya sehingga berguna bagi strategi pengelolaan wilayah pesisir ke depannya.

(33)

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah 2014

Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air A - 13 PENERAPAN TEKNOSABO BERUPA OPRIT UNTUK MENDUKUNG PERTUMBUHAN EKONOMI DI KALI WORO

Dyah Ayu Puspitosari, Ika Prinadiastari, dan F. Tata Yunita Balai Sabo, Puslitbang SDA, Kementerian Pekerjaan Umum, Yogyakarta

E-mail: [email protected]

Abstrak

Pada tahun 2014, terjadi peningkatan jumlah kejadian banjir lahar yang mengarah ke K. Woro dengan potensi membawa material sebanyak 3,9 juta m3. Hal ini dikhawatirkan dapat memutus akses antara daerah di sebelah kanan dengan sebelah kiri alur sungai yang juga berdampak pada kegiatan perekonomian masyarakat. Salah satu penanggulangan secara fisik yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan penerapan teknosabo berupa oprit/jembatan penyeberangan di K. Woro. Hal ini juga mendukung kebijakan peningkatan kualitas infrastruktur infrastruktur berupa sarana dan prasarana di Indonesia untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean 2015.

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah memberikan informasi bahwa sabodam di K. Woro dapat mengendalikan potensi banjir lahar dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah sekitarnya berupa oprit/jembatan penyeberangan. Metode penulisan ini dilakukan dengan studi literatur, pengumpulan data, analisis dengan metode deskriptif kualitatif, dan pengambilan kesimpulan.

Analisis dilakukan dengan membandingkan kapasitas tampung seluruh bangunan sabodam yang ada dengan potensi laju sedimen dalam kejadian 1 (satu) kali banjir di K. Woro. Selain itu, juga mengestimasi penghematan biaya dalam kegiatan ekonomi dengan adanya teknosabo berupa oprit/jembatan penyeberangan. Hasil yang dapat disimpulkan dari makalah ini adalah kapasitas tampung sabodam di K. Woro cukup untuk mengendalikan kejadian banjir lahar dan mendukung pertumbuhan ekonomi di daerah sekitarnya dengan menghemat biaya dalam kegiatan ekonomi.

(34)

Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air A - 14 PERANAN PEMANTAUAN AIR TANAH

DALAM KONSERVASI SUMBERDAYA AIR TANAH SEBAGAI BAHAN BAKU AIR BERSIH

(Studi Kasus Pemanfaatan Air Tanah Dalam di Banjarbaru dan Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan)

Hidir Tresnadi

PTSM-TPSA, BPP Teknologi, Puspiptek, GD Geostech, Tangerang Selatan E-mail: [email protected]

Abstrak

Air tanah merupakan salah satu bahan baku air bersih bagi penduduk di perkotaan. Air tanah dangkal umumnya dipergunakan para penduduk sedang air tanah dalam diperuntukan bagi industri atau perhotelan. Air merupakan sumberdaya alam terbarukan, yang kelestariannya patut dijaga melalui konservasi dengan melakukan pemantauan muka air tanahnya pada akifer tak tertekan dan pisometrik pada air tanah tertekan. Kini Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Kalimantan Selatan memiliki empat sumur pantau air tanah dalam bersistem telemeteri. Daerah Kotamadya Banjarbaru dan Martapura (Kabupaten Banjar) memiliki 3 akifer air tanah dalam yang dieksploitasi oleh berbagai pemangku kepentingan. PDAM Intan Banjar memiliki empat sumur produksi air tanah dalam di Banjarbaru dan 6 unit sumur produksi di Landasan Ulin. Dengan adanya sumur pantau tersebut, maka karakteristik pisometerik yang diperoleh dapat dianalisis untuk mengetahui karakteristik hidrogeologi yang ada di daerah tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa: penurunan pisometrik akifer 1 air tanah dalam di Martapura dan Landasan Ulin diakibatkan eksploitasi yang berlebihan. Oleh karena itu perlu dilakukan pembatasan pengambilan air tanah dalam akifer 1 di Martapura dan Landasan Ulin; potensi air tanah tertinggi di Martapura ada pada Akifer 2 sedang di Landasan Ulin, daerah SP 4, akifer 3 memiliki potensi yang tertinggi. Akifer 1 dan 2 masih dapat dimanfaatkan di daerah Banjarbaru, daerah SP2, dan Guntung Manggis, daerah SP 3; Melihat pada penurunan tersebut, maka neraca air cekungan air tanah di daerah tersebut harus dicegah. Untuk itu maka daerah-daerah imbuhan yang berada di tepi cekungan harus dikonservasi. Diperlukan koordinasi pengelolaan air tanah pada tingkat propinsi dalam mengelola air tanah yang bersifat lintas kabupaten. Selain itu perlu dilakukan pembaruan kembali database sistim informasi sumur produksi air tanah dalam dan dangkal, baik fisik maupun kualitasnya; penambahan jumlah sumur pantau untuk meningkatkan kehandalan dalam pengelolaan air tanah untuk menjaga keberlanjutan potensi sumberdaya air tanah yang dimilikinya.

(35)

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah 2014

Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air A - 15 ASESMEN BANJIR PROVINSI GORONTALO

Bambang Sarwono, Sutikno, Umboro Lasminto, Komang Arya Utama, dan Ahmad Zainuri

Jurusan Teknik Sipil FTSP ITS, Surabaya E-mail: [email protected]

Abstrak

Bencana banjir di Propinsi Gorontalo telah menyebabkan kerugian pada terganggunya tranportasi, tanaman rusak dan gagal panen, hilangnya jiwa dan harta benda penduduk, menurunnya kesehatan lingkungan dan timbulnya penyakit serta mengganggu aktivitas ekonomi, bisnis dan perkantoran.

Kegiatan asesmen banjir di Proponsi Gorontalo diperoleh bahwa banjir disebabkan oleh curah hujan cukup tinggi, kerusakan daerah aliran sungai, sistem drainase belum berfungsi dengan baik, kemiringan lahan terjal daerah aliran sungai di bagian hulu dan landai di bagian hilir, perubahan tata guna lahan yang meningkatkan aliran permukaan dan penurunan area tampungan air, kurangnya penegakan hukum, serta belum optimalnya fungsi dari bangunan sungai dan drainase.

Permasalahan banjir yang terjadi di Provinsi Gorontalo sebaiknya diselesaikan dengan pendekatan pengelolaan banjir secara terintegrasi dengan meningkatkan fungsi dari DAS secara keseluruhan mulai dari hulu sampai hilir.

(36)

Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air A - 16 DETENTION BASIN SEBAGAI ALTERNATIF

PENANGGULANGAN BANJIR DI DAERAH KETINTANG SURABAYA

S. Kamilia Aziz, Ismail Sa’ud, Triaswati M.N., Endang Sri S., Aditya K., dan Wahyu R.

Program Studi Diploma Teknik Sipil FTSP ITS E-mail: [email protected]

Abstrak

Ketintang merupakan daerah pada bagian hulu sistem pematusan Kali Wonorejo. Di daerah ini pada saat musim hujan menjadi langganan banjir akibat saluran sekunder Ketintang tidak mampu menampung debit banjir yang melimpas. Penambahan kapasitas tampungan saluran dengan cara pelebaran saluran tidak memungkinkan karena di kanan kiri saluran merupakan perumahan yang padat penduduk dan jalan raya. Cara lain yang dapat dilakukan adalah menarik aliran dari saluran sekunder Ketintang kemudian di tampung pada Detention Basin yang selanjutnya di pompa menuju Rolak Gunungsari. Kapasitas Detention Basin yang dibutuhkan untuk menampung aliran tersebut sebesar 8000 m3 dan dilengkapi pompa dengan kapasitas 1 m3/dt.

(37)

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah 2014

Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air A - 17 PENGENDALIAN BANJIR DI DAERAH ALIRAN KALI

KANDANGAN SURABAYA

S. Kamilia Aziz, Ismail Sa’ud, Triaswati M.N., Endang Sri S., Saka R., dan Nyoga A.D.P.

Program Studi Diploma Teknik Sipil FTSP ITS E-mail: [email protected]

Abstrak

Kali Kandangan berada pada Sub Sistem Kandangan, yang sistem pematusannya sering terjadi banjir. Hal ini disebabkan oleh perubahan tata guna lahan serta system saluran drainase yang tidak mengalir lancar. Selain itu, juga ada pengaruh back water dari teluk Lamong. Kapasitas eksisting Kali Kandangan sebesar 42,24 m3/dt, sedangkan debit banjir yang mengalir sebesar 75,44 m3/dt. Untuk mengatasi kelebihan debit tersebut dilakukan normalisasi pada beberapa ruas saluran. Sedangkan untuk menanggulangi banjir yang bersamaan dengan pasang air laut direncanakan pembuatan kolam tampungan berkapasitas 20.000 m3 dan dilengkapi dengan pompa.

(38)

Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air A - 18 POLA SEDIMENTASI DI SEKITAR KRIB DARI TATA LETAK

YANG BERBEDA

Suharjoko1), Mohammad Bisri2), Rispiningtati2), dan Muhammad Ruslin Anwar2) 1)Program Studi Diploma Teknik Sipil FTSP ITS, Surabaya

2)Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya, Malang E-mail: [email protected]

Abstrak

Krib adalah bangunan perlindungan tebing yang dibangun untuk memotong arus aliran sungai dengan tujuan untuk melindungai tebing terhadap gangguan erosi, dimana gangguan erosi umumnya terjadi pada belokan luar sungai. Krib berfungsi mempengaruhi arus aliran agar terjadi perubahan kecepatan arus menjadi rendah, akibat arus dengan kecepatan rendah tersebut akan timbul sedimentasi.

Tata letak yang baik akan menimbulkan sedimentasi di sekitar krib dengan baik de-ngan akumulasi lebih banyak dan sebaran lebih luas. Agar mendapatkan pemahaman dalam pemilihan tata letak krib yang baik, maka diperlukan kajian terhadap beberapa ka-sus tata letak krib pada sungai/saluran berbelok.

Pengkajian dilakukan terhadap beberapa kasus tataletak dengan kombinasi 3 alternatif posisi krib dan 3 ukuran krib pada setiap posisi. Dalam setiap pengkajian terhadap ma-sing-masing kasus yang diajukan akan dilakukan simulasi dengan memberikan kecepatan alir dan konsentrasi sedimen yang sama serta pada sungai/saluran berbelok yang sama.

Simulasi mengunakan model numerik Aliran 2-Dimensi Horizontal yang dibangun dari penyelesaian numerik persamaan Kontinuitas dan momentum aliran serta persamaan angkutan sedimen, (Suharjoko 2012).

Hasil simulasi menunjukkan terjadinya sedimentasi disekitar krib dengan pola yang berbeda dari setiap kasus tata letak krib. Pada kasus tata letak tertentu menghasilkan pola sedimentasi yang baik namun pada kasus tata letak krib yang lain justru menghasilkan kondisi terjadinya local scouring di belakang krib.

(39)

B.

Manajemen dan Rekayasa

(40)

Manajemen dan Rekayasa Transportasi B - 1 KAJIAN PENINGKATAN PELAYANAN TERMINAL HAMID

RUSDI MALANG Agung Sedayu

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang E-mail: [email protected]

Abstrak

Terminal Hamid Rusdi merupakan terminal penumpang transportasi jalan tipe B di kota Malang beroperasi pertama pada tahun 2005. Untuk saat ini terminal ini masih cenderung sepi karena lokasinya yang berada pada wilayah pengembangan kota Malang bagian selatan menjadi daerah satelit. Posisinya menggantikan terminal Gadang yang berdekatan dengan pasar induk Gadang. Lokasi terminal yang baru ini berada sejauh ±1,5 km ke arah timur. Paper ini bertujuan untuk melakukan kajian peningkatan pelayanan terminal Hamid Rusdi berdasarkan tingkat kepentingan dan kepuasan pengguna yaitu penumpang angkutan umum. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dan Importance Performance Analysis (IPA). Hasil penelitian memperoleh atribut kemudahan dalam akses ke lokasi terminal menjadi atribut pelayanan yang memiliki skor tertinggi dalam prioritas peningkatan pelayanan terminal. hasil ini dapat dibandingkan dengan kondisi nyata, bahwa terminal hamid Rusdi yang masih jauh dari keramaian masih sangat sepi dari penumpang dan kendaraan angkutan umumnya. Angkutan umum masih melakukan transit di terminal lama yaitu terminal Gadang, sehingga menimbulkan fenomena terminal bayangan. Kondisi fasilitas utama dan penunjang di terminal Hamid Rusdi ini sudah mulai nampak kerusakan secara fisik dan visual, oleh sebab upaya pemeliharaan dan operasinal fungsi terminal dan fasilitasnya tersebut tidak optimal. Rekomendasi dari penelitian ini, untuk kajian mendatang perlu mempertimbangkan aspek tata ruang dan jaringan transportasi yang terintegrasi dengan lokasi dan posisi terminal, sehingga terminal dapat dengan mudah diakses oleh penumpang dan kendaraan angkutan umum.

(41)

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah 2014

Manajemen dan Rekayasa Transportasi B - 2 ROAD MAP KEBISINGAN YANG DITIMBULKAN

KENDARAAN BERMOTOR DI KOTA BOGOR (Kajian Seksi I untuk Kasus Di Rumah Sakit Salak Bogor)

Syaiful dan Rulhendri

Program Studi Teknik Sipil FT UIKA Bogor E-mail: [email protected]

Abstrak

Penyusunan Roadmap penelitian tentang kebisingan yang ditimbulkan kendaraan bermotor di Kota dan Kabupaten Bogor selama berkesinambungan dan periodik adalah untuk mencari serta merumuskan seberapa besar tingkat ketergangguan pengguna jalan raya terhadap arus lalu lintas yang ditimbulkan kendaraan bermotor. Tingkat ketergangguan pengguna fasilitas umum, tempat beribadah maupun sekolah, dengan mengasumsikan bahwa ambang batas dari sumber bising yang diijinkan bagi tempat-tempat objek penelitian. Sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup tahun 1996 bahwa ambang batas tingkat kebisingan yang diperbolehkan sebesar 55 dBA.

Berdasarkan hasil penelitian dan jumlah data yang diperoleh sebesar 72 data dengan mengambil nilai Rsquare yang paling besar yaitu 59,70%. Didapatkan bahwa hasil pengolahan data dengan menggunakan program SPSS versi 17.00 didapatkan persamaan sebagai berikut, y = 52,157-0,241x1+0,571x3-0,373x4. Dari persamaan ini terlihat bahwa tidak ada pengaruh x2 atau kecepatan mobil pribadi adalah 0. Artinya hanya terdapat pengaruh kecepatan sepeda motor, pengaruh kecepatan angkutan umum penumpang dan pengaruh kecepatan mobil angkutan barang sebesar 68,7 % terhadap kebisingan. Artinya berdasarkan tabel korelasi mempunyai pengaruh yang agak rendah pada SLM 3 dengan jarak 15,15 m dari tepi jalan raya. Jika tidak terdapat peningkatan kecepatan sepeda motor, peningkatan kecepatan angkutan umum penumpang dan peningkatan kecepatan mobil angkutan barang maka tingkat kebisingannya sebesar 52,157 dBA. Hal ini sudah sesuai dengan yang disyaratkan oleh peraturan yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia bahwa tingkat kebisingan untuk bangunan rumah sakit sebesar 55 dBA.

(42)

Manajemen dan Rekayasa Transportasi B - 3 PENENTUAN JUMLAH ARMADA ANGKUTAN KOTA

COMORO DI DILI – TIMOR LESTE

Domingos Ximenes, Hera Widyastuti, dan Wahju Herijanto Program Studi Magister Teknik Sipil FTSP ITS, Surabaya

E-mail: dximenes@ymail,com

Abstrak

Kota Comoro merupakan bagian dari kota Dili yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat dengan jumlah penduduk tahun 2010 sebanyak 55.986 jiwa dan tingkat pertumbuhan 5,2 % pertahun. Dan didaerah Comoro saat ini banyak dibangun baik prasarana jalan dan juga bangunan-bangunan besar baik bangunan Pemerintah maupun Swasta.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan permintaan penumpang angkutan umum (Public Transport) pada ruas jalan yang dilayani pada masa sekarang dan diproyeksi pada masa mendatang, dan untuk mendapatkan jumlah pergerakan angkutan kota pada masa sekarang dan diproyeksikan pada masa mendatang (tahun 2019). Pelaksanaan dilakukan di kota Comoro pada rute Terminal Tasi Tolu menunju pusat kota dan kembali ke Terminal Tasi Tolu. Permintaan penumpang yang dirumuskan dengan Matrik Asal Tujuan (MAT) dilakukan dengan metode survey wawancara kepada calon penumpang yang berada disepanjang rute tersebut dan juga diproyeksikan dengan mengunakan Metode tanpa batas atau Uniform method untuk mendapatkan permintaan penumpang dimasa mendatang (tahun 2019).

Dari hasil pengolahan data didapatkan jumlah armada angkutan umum Mikrolet untuk masa sekarang (tahun 2014) sebanyak 21 unit/hari,12 kend/jam dengan load factor 0,7 namun karena angkutan umum Mikrolet ini berkapasitas kecil dan membutuhkan banyak armada sehingga di rencanakan moda transportasi yang ideal. Moda transportasi yang ideal untuk memenuhi tingkat permintaan penumpang maka pada masa mendatang mengunakan moda Bis yang diproyeksikan ke depan (tahun 2019) jumlah amada yang dibutuhkan sebanyak 11 unit/hari dan frekuensinya 6 kend/jam dengan Headway 10 menit, load factor 0,46.

(43)

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah 2014

Manajemen dan Rekayasa Transportasi B - 4 REVIEW DESIGN JEMBATAN PENDEKAT PRESTRESSED

SLAB ON PILE

Studi Kasus: Perencanaan Jembatan Pendekat Sungai Brantas Proyek Jalan Tol Mojokerto – Kertosono

Ibnu Pudji Rahardjo1), Djoko Irawan2), Chomaedhi1), Rachmad Basuki1) 1)Program Studi Diploma Teknik Sipil FTSP ITS, Surabaya

2)Jurusan Teknik Sipil FTSP ITS, Surabaya

E-mail: [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]

Abstrak

Jembatan Brantas terdiri dari 2 bagian yang membujur arah utara – selatan yaitu jembatan sisi timur dan jembatan sisi barat yang menghubungkan desa Blimbing Kecamatan Kesambon Kabupaten Jombang dengan desa Gedeg, kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto adalah merupakan bagian dari proyek jalan Tol Mojokerto – Kertosono. Jembatan tersebut mempunyai panjang bentang utama adalah 299 meter dengan jembatan pendekat sisi utara masing-masing mempunyai panjang 635,7 m (di bagian barat) dan panjang 627,3 m (di bagian timur) , sedangkan jembatan pendekat sisi selatan masing-masing mempunyai panjang 554,1 m (di bagian barat) dan panjang 562,6 m (di bagian timur).

Perencanaan awal dari jembatan pendekat ini berupa badan jalan terbuat dari timbunan tanah. Namun karena terjadi perubahan elevasi jembatan utama untuk memenuhi ketinggian ruang bebas sehubungan dengan rencana menghidupkan kembali angkutan jalan kereta api, maka apabila digunakan timbunan tanah dengan kemiringan 1V : 2H membutuhkan luasan lahan lebih besar khususnya dibagian dasar tanah timbunan. Dengan adanya kendala pembebasan lahan dan faktor stabilitas timbunan tanah, maka dilakukan redesign untuk bangunan jembatan pendekatnya. Dari beberapa alternatif redesign, telah dipilih perencanaan dengan kombinasi sistem struktur, dimana untuk ketinggian oprit 3 m – 4 m digunakan timbunan tanah dengan penutup pasangan batu kali. Ketinggian 4 m – 5 m digunakan timbunan tanah dengan dinding penahan turap beton. Untuk ketinggian 5 m – 6 m digunakan sistem pile slab dengan bentang setiap 6 m. Ketinggian 7 m – 11 m digunakan pile group slab dengan bentang 3 m dan 6 m. Sedangkan untuk ketinggian 11 m – 11.5 m digunakan jembatan I – Girder. Alternatif redesign yang dipilih tersebut masih dirasakan mahal dan membutuhkan waktu cukup lama. Hal ini karena banyaknya sistem struktur yang digunakan dalam redesign tersebut. Oleh karena itu dilakukan review design terhadap hasil redesign untuk mengakomodasi keinginan lapangan agar pelaksanaan menjadi lebih cepat dan murah, khususnya mulai ketinggian 5 m sampai 11.5 m seluruhnya menggunakan struktur pile slab dengan sistem half slab precast pada struktur lantai kendaraan. Bagian bawah dari plat beton lantai kendaraan difabrikasi terlebih dahulu termasuk juga batang pengaku tiang yang dirancang khusus, maka pihak kontraktor dapat melaksanakan konstruksi secara bertahap pada lahan bebas tanpa harus menunggu proses pembebasan lahan selesai seluruhnya.

Dalam tulisan ini diuraikan hasil dari review design jembatan pendekat sungai Brantas dapat menghemat biaya lebih besar dari 20 milyar rupiah dan mempercepat waktu penyelesaian pekerjaan, dengan adanya perbedaan sistem struktur jembatan pendekat antara redesign dengan review design.

(44)

Manajemen dan Rekayasa Transportasi B - 5 PENGEMBANGAN MODA ANGKUTAN JALAN DI JAWA

TIMUR

Priyambodo

Peneliti Madya Bidang Manajemen Transportasi Balitbang Provinsi Jawa Timur E-mail: [email protected]

Abstrak

Pertumbuhan sarana angkutan jalan yang tidak sebanding dengan pertumbuhan prasarana jalan menyebabkan kemacetan dan biaya tinggi. Hal ini disebabkan karena aksesibilitas dan level of service (LOL) yang rendah. Pengembangan moda angkutan jalan di Jawa Timur ini bertujuan untuk mengelola dan menentukan sarana prasarana angkutan jalan apa yang perlu dikembangkan agar supaya aksesibilitas dan LOL menjadi tinggi. Dengan menggunakan metode statistic deskriptif pertumbuhan kendaraan roda empat tumbuh sebesar 7,75 % per tahun, pertumbuhan kendaraan roda dua tumbuh sebesar 12,25 % per tahun. Sementara prasarana jalan tumbuh 0 %, bahkan minus. Aksesibilitas di beberapa ruas jalan di Jawa Timur sudah mendekati angka diatas 0,5 dan LOL kurang dari 3. Akasesibilitas dan LOL terendah terjadi di lintas Surabaya – Malang dan Surabaya – Jombang. Untuk meningkatkan aksesibilitas dan LOL perlu diupayakan peningkatan kinerja pelayanan jalan dengan, mempercepat penyelesaian jalan Tol strategis, penyelesaian jalan Tol antar kota, penyelesaian jalan Tol dalam kota, peningkatan status jalan provinsi menjadi jalan nasional, peningkatan status jalan kabupaten menjadi jalan provinsi, Peningkatan struktur jalan untuk lintasan truk peti kemas, dan peningkatan kapasitas jalan. Kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur direkomendasikan, dalam melakukan perbaikan dan pembangunan jalan agar selalu mensertakan paket pengerjaan drainase, hal ini dilakukan untuk antisipasi kerusakan jalan akibat sistem drainase yang buruk.

(45)

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah 2014

Manajemen dan Rekayasa Transportasi B - 6 PENGARUH PEMBANGUNAN GEDUNG BARU KPK TERHADAP LALU LINTAS DI RUAS JALAN SEKITARNYA

Ardi Pradana dan Djoko Setijowarno

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang E-mail: [email protected], [email protected]

Abstrak

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merencanakan akan membangun gedung baru. Kapasitas Gedung KPK saat ini adalah 450 orang. Dengan jumlah karyawan sebanyak 800 orang, menyebabkan KPK menempati beberapa gedung lain secara terpisah. Masyarakat saat ini sangat menuntut peningkatan kinerja KPK, yang berkonsekuensi pada peningkatan sarana dan prasarana yang mendukung kerja KPK. Dengan dibangunnya gedung baru ini diharapkan akan menunjang kinerja KPK sebagai lembaga negara yang khusus menangani pemberantasan korupsi (pencegahan dan penindakan) di Indonesia. Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, sudah semestinya KPK didukung dengan gedung yang representatif yang mencerminkan semangat pemberantasan korupsi. Pembangunan gedung baru ini mengakibatkan timbulnya bangkitan dan tarikan baru yang tentunya akan mempengaruhi lalu lintas di wilayah Rasuna Said dan sekitarnya. Dalam penelitian ini, yang dilakukan pertama kali adalah mengkaji literature dan pustaka. Setelah itu dilakukan survei primer dan sekunder untuk mengetahui kondisi dan permasalahan ruas jalan di sekitar Gedung Baru KPK. Dari kondisi dan permasalahan yang telah diketahui dilakukan pemetaan yang berfungsi untuk menghasilkan rekomendasi yang dapat mengatasi dampak yang timbul. Hasil yang didapatkan adalah kinerja dan solusi permasalahan di ruas jalan di sekitar Gedung Baru KPK.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan untuk menentukan arah arus purba yang terekam pada batuan karbonat Formasi Wonosari yang terbentuk pada Miosen tengah hingga Miosen akhir

α = deviasi pada kedua sisi dari arah angin, dengan mengggunakan pertambahan 6 0 sampai sudut sebesar 84 0 pada kedua sisi dari arah

Arus adalah gerakan air dengan arah dan kecepatan tertentu, menuju kesuatu tempat tertentu pula dikenal arus tetap dan arus tidak tetap.Rimban yang disebabkan

Dari perolehan data menunjukkan bahwa pada kecepatan arus yang lebih kuat terlihat pola kedatangan arah arus lebih tegas yang ditandai dengan menyempitnya besar arah

dilakukan dengan alat ukur kecepatan aliran yang mengukur dua arah kecepatan secara simultan. •  Nigata, 1964, mengembangkan alat ukur arus magnetis dua

Hal ini disebabkan karena dengan bertambahnya jarak peletakan tube bundle dari sisi keluaran belokan pipa maka pemisahan aliran fluida (separasi) dan vortex yang terbentuk

Kesimpulan yang didapatkan pada tikungan suatu saluran terbuka atau sungai, akan terjadi peningkatan kecepatan aliran ke arah transversal.. Kecepatan tambahan ini disebabkan oleh adanya

Fenomena adanya arus pada netral sisi sekunder trafo distribusi sudah sangat sering terjadi, arus netral itu timbul dikarenakan terjadinya ketidakseimbangan beban yang dapat menimbulkan