• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN OBSERVASI PPS PELABUHAN PERIKANA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN OBSERVASI PPS PELABUHAN PERIKANA"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

wilayah bagian timur Indonesia yang sudah lama berdiri dan berkembang. Dalam operasionalnya perkembangan dan pertumbuhan ekonomi di Pelabuhan Perikanan Samudera ini ditunjang oleh pihak swasta untuk berinvestasi, sehingga dapat memberikan dampak positif berupa kesempatan kerja dan kesempatan berusaha bagi masyarakat perikanan. Pada kawasan PPS Kendari terdapat 25 perusahaan yang terikat kontrak penggunaan kavling industri, dimana sebagian besar perusahaan tersebut sudah operasional dalam bidang usaha yang beraneka ragam. Perkembangan industri pengolahan ikan yang terdapat baik di luar maupun di dalam PPS Kendari .hal ini yang membuat perlu di perhatikanya kondisi pengolahan dalam pps kendari guna melindungi daerah pesisir sekita PPS dari limbah hasil aktivitas PPS Kendari.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang ingin disampaikan pada laporan ini yaitu: 1. Bagaimana sebenarnya pengelolaan limbah di PT. Pelabuhan Perikanan

Samudra?

2. Sudah tepatkah metode yang di lakukan dalam pengolahan limbah PT. Pelabuhan Perikanan Samudra?

(3)

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui bagaimana sebenarnya pengelolaan limbah di PT. Pelabuhan Perikanan Samudra?

2. Untuk mengetahui sudah tepatkah metode yang di lakukan dalam pengolahan limbah PT. Pelabuhan Perikanan Samudra?

3. Untuk mengetahui solusi apa yang dapat diselesaikan pengolahan limbah yang lebih baik?

D.Waktu dan Tempat

(4)

BAB II

TINJAU PUSTAKA

A. Lokasi PPS Kendari

(5)

B.Sejarah PPS Kendari

Pada awalnya rencana pembangunan PPS Kendari akan dibangun di Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan, namun karena tidak adanya lahan yang tersedia di kota tersebut maka pembangunan PPS ini dialihkan ke Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara. Perencanaan pembangunan PPS Kendari dimulai sejak tahun 1984. Pembangunan PPS Kendari diawali dengan pembebasan tanah rakyat yang kemudian dilanjutkan dengan tahap konstruksi atas dasar Studi Kelayakan oleh Tim Asian Development Bank bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perikanan. Sebelum ditetapkan sebagai pelabuhan perikanan samudera, status kelembagaannya adalah Project Manajemen Unit (PMU) (Direktorat Jenderal Perikanan, 2009). Pelabuhan Perikanan Samudera Kendari diresmikan pada tanggal 10 September 1990 oleh Presiden RI Bapak H.M. Soeharto. Adapun tujuan pembangunan PPS Kendari adalah:

C. Keadaan unit penangkapan ikan di PPS Kendari

(6)

unit dan kapal bubu dengan jumlah sebanyak 3 unit. 2) Kapal penampung atau pengumpul ikan yang berfungsi untuk membantu mengangkut hasil tangkapan dari kapal penangkap ke pelabuhan. Jumlah kapal penampung saat ini sebanyak 286 unit. Dari keseluruhan kapal yang berkunjung pada tahun 2008 kapal penangkap yang paling sering berlabuh ke PPS Kendari adalah kapal purse seine yang berukuran <10 GT dengan kunjungan 6.751 kali atau 30,28%, berikutnya adalah kapal pole and line dengan kunjungan 2.656 kali atau 11,01%. Selain kapal Purse seine, kapal penampung atau pengangkut ikan juga banyak yang berlabuh di PPS Kendari, biasanya kapal – kapal tersebut mengumpulkan ikan dari beberapa pulau di Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Selanjutnya PPS Kendari juga disinggahi oleh kapal pengangkut ikan (line/tramper) ke luar negeri (fish carrier) dengan jumlah kunjungan enam kali.

D. Kondisi industri perikanan di PPS Kendari

(7)

dan PT. Sumber Laut Mandiri dan dua perusahaan yang operasionalnya berpusat di Maluku yaitu PT. Nusantara Fishery dan PT. Tofico. Kedua perusahaan tersebut untuk sementara dipindahkan ke Kendari disebabkan karena adanya kerusuhan ambon, namun setelah kondisi keamanan sudah kondusif maka perusahaan tersebut akan beroperasi kembali ke Maluku. Dengan adanya kedua perusahaan tersebut, PPS Kendari memproduksi beberapa macam pengolahan. Melihat jumlah industri yang bertambah hingga tahun ini menunjukkan bahwa terdapat kemajuan terhadap kondisi industri perikanan PPS Kendari saat ini. Kemajuan indusri perikanan di PPS Kendari didukung oleh investasi dari

Industri Pengolahan ikan PT. Kelola Mina Laut memiliki tiga macam produk olahan yaitu ikan beku, ikan fillet beku dan cephalopoda beku. Bahan baku tersebut diperoleh dari supplier dalam keadaan segar (tidak beku) yang kemudian akan diolah langsung tanpa proses penampungan dengan suhu maksimum 5°c. Pada pembekuan, mutu bahan baku sangat diperhatikan sebab bahan baku ini ditujukan untuk ekspor. Bahan kemasan produk yang digunakan ada dua macam yaitu untuk kemasan dalam menggunakan bahan plastik polybag dan untuk kemasan luar menggunakan karton. Pangsa pasar produk ini ditujukan untuk masyarakat umum dengan penggunaannya siap dimasak sebelum disajikan. Masing – masing produk memiliki cara penanganan dan proses pengolahan yang berbeda – berbeda. Deskripsi masing – masing produk tersebut akan dijelaskan di bawah ini:

(8)

Hasil tangkapan yang biasa dibekukan adalah ikan kakap merah, kakap putih, kerapu, tenggiri dan mahi – mahi. Ikan – ikan tersebut ditangkap di sekitar laut Sulawesi dan Banda yang perairannya bebas dari ciguatoxin dengan menggunakan alat tangkap pancing. Ciguatoxin merupakan bahan kimia berbahaya diperairan yang dapat mempengaruhi pangan/makanan pada ikan. Suhu penyimpanan ikan di dalam cold storage maksimum -18°C s/d -22°C dengan umur penyimpanan di dalam cold storage hingga 18 bulan. Berdasarkan pengolahannya ikan beku terbagi menjadi beberapa jenis yaitu:

a. Ikan utuh beku merupakan ikan yang dibekukan ketika masih dalam keadaan utuh. Proses pengolahannya dimulai dari penerimaan ikan dari supplier lalu pencucian pertama ikan, penyortiran menurut ukurannya, penimbangan ikan, pengecekan kualitas, pencucian kedua, pembekuan dan pengemasan menggunakan karton serta pelabelan kemudian penyimpanan ikan ke dalam cold storage.

(9)

c. Ikan utuh beku tanpa isi perut dan sisik merupakan ikan yang dibekukan dengan mengeluarkan isi perut dan sisiknya terlebih dahulu. Proses pengolahannya hampir sama dengan ikan beku tanpa isi perut namun sebelum pengeluaran isi perut, sisiknya terlebih dahulu dikeluarkan. Setelah itu prosesnya sama dengan ikan beku tanpa isi perut.

d. Ikan utuh beku tanpa insang, isi perut dan sisik merupakan ikan yang dibekukan dengan mengeluarkan insang, isi perut dan sisiknya. Proses pengolahannya antara lain, penerimaan, pencucian, pembuangan sisik, pencucian, pembuangan isi perut, pembuangan insang, pencucian, penentuan ukuran, penimbangan, pengecekan kualitas, pencucian, pembungkusan dan penyusunan, pembekuan, pengemasan dan pelabelan,penyimpanan dalam cold storage.

e. Ikan utuh beku tanpa isi perut dan sisik merupakan ikan yang dibekukan dengan mengeluarkan isi perut dan sisiknya terlebih dahulu. Proses pengolahannya hampir sama dengan ikan beku tanpa isi perut namun sebelum pengeluaran isi perut, sisiknya terlebih dahulu dikeluarkan. Setelah itu prosesnya sama dengan ikan beku tanpa isi perut.

(10)

pencucian, pembuangan isi perut, pembuangan insang, pencucian, penentuan ukuran, penimbangan, pengecekan kualitas, pencucian, pembungkusan dan penyusunan, pembekuan, pengemasan dan pelabelan, penyimpanan dalam cold storage.

BAB III

METODOLOGI

A. Metode Pengumpulan Data

pengumpulan data dalam laporan observasi ini dilakukan dengan metode deskriptif (descriptive methode). Metode deskriptif yaitu metode yang menggambarkan atau mendeskripsikan suatu obyek yang diamati dengan menggunakan data sampel atau populasi tanpa melakukan analisis terhadap data tersebut.

seperti dikemukakan bahwa, statistik deskriptif adalah statistik yang berfungsi untuk mendiskripsikan atau memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya, tanpa melakukanan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum (Sugiyono, 2007).

B. Teknik Pengumpulan Data

(11)

mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan (Sugiyono, 2011).

Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, data memiliki peranan yang penting bagi penarikan kesimpulan dalam penelitian, pencarian informasi, dan pengambilan keputusan. Karena itulah, data untuk menunjang pencapaian beberapa tujuan tersebut harus bisa diperoleh. Bagaimana data yang diperlukan tersebut bisa didapatkan, terdapat beberapa cara untuk itu. Beberapa cara yang mungkin ditempuh untuk memperoleh data di antaranya adalah melalui observasi, wawancara, penyebaran kuesioner, serta penelusuran literatur (Santosa dan Hamdani, 2007). Data yang diambil dalam laporan ini meliputi data primer dan data sekunder:

1.Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dengan mengadakan langsung terhadap gejala obyek yang diselidiki, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan yang khusus diadakan (Surakhmad, 1985).

(12)

dokumentasi. Beberapa metode dalam memperoleh data primer adalah (1) observasi (2) wawancara (3) partisipasi aktif (4) dokumentasi dan (5) kuesioner.

(1) Observasi

Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri - ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan kuesioner. Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga obyek – obyek alam yang lain (Sugiyono, 2011). Data observasi pada praktikum pengelolaan pesisir dan laut terpadu dilakukan di kabupaten gresik yang pertama di lakukan di kantor bupati grasik dan yang kedua di lakukan di kecamatan ujung pangkah gresik dengan melihat serta mendengarkan pemaparan mengeni rencana pengelolaan tata ruang..

(2) Wawancara

(13)

(3) Dokumentasi

Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film, dan lain-lainnya. Studi dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif (Sugiyono, 2011).

2. Data Sekunder

(14)

BAB 1V

HASIL DAN PEMBAHASAN

(15)

Dari hasil gambar alur pengolahan STP (Sewage treatment plan) kami simpulkan :

1. Pada tahap Life tank yakni tahap pemisahan pada tahap ini pemisahan di lakukan antara limbah padatan dan limbah cair , sayangnya hasil observasi pengelolaan limbah cair sudah baik dan ter distribusi dengan tepat ,namun untuk limbah padatan pengelolaanya masih belum jelas . limbah padatan dari

WATER TREATED THANK

AERATION TANK

*manajemen distribusi

OXIDATING TANK

(16)

hasil obeservasi yakni ,kantong plastic ,botol aqua gelas dan beberapa kaleng -kalengan .

2. Pada tahap stock tank terjadi penumpukan limbah namun menurut petugas hal ini biasa terjadi mengingat penumpukan limbah atau biasa meraka mengatakan pengendapan diakibatkan limbah cair masih bercampur dengan lumpur .

3. Stock Tank tahap ini sudah terjadi perpisahan limbah namun kekentalan cairan masih boleh dikata cukup kental

4. AERATION TANK dan OXIDATING TANK dengan tahapan menggunakan metode distribusi o2 dan oksidasi guna menurunkan kadar BOD dan COD pada airl limbah .

5. Tahap akhir air limbah di alirkan laut.

B. Efisiensi dan kefektifan sistem pengolahan limbah

Secara kumulatif hasil observasi mengamabrkan dalam proses pengolahan sudah melakukan sesuai procedural yang telah di tetapkan , dimana dalam tahap -tahapnya memang telah menyaring dan memperbaiki kualitas limbah sehingga kalau kita melihat konsentrasi pada limbah cair sudah sangat tersaring dengan baik.

(17)

penyambung telah bocor .tutur salah satu petugas PPS hal ini dapat mengganggu aktifitas dam memproses dalam pengolahan dan di khawatirkan jika hasil pengolah tidak maksimal .

Sistem control seharusnya perlu mengadakan pengecekan BOD dan COD ,guna menilai apakah limbah hasil pengolah layak untuk di kembalikan kelingkungan . dengan adanya penilaian tersebut petugas dapat lebih teliti dan menentukan titik kritis sehingga dapat menjadi patokan dalam pengabilan keputusan untuk di terpakan secara menyeluruh .

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. pengolahan limbah hasil perikanan di PPS menggunakan metode STP

(sewage) treatment plan. Dimana dalam satu hari limbah yang di hasilkan oleh

(18)

2. pengolahan limbah perikanan di PPS hingga saat ini belum memadaai dimana alat -alat banyak yang telah berkarat ,sehingga mengganggu aktivitas

pengolahan limbah perikanan .

3. pembahruan sistem dan penetapan titik kritis dalam standar pngolahan limbah perlu di lakukan .

B. saran

1. Perlunya refitalisasi alat-alat guna mengoptimalkan daya pengolahan sehingga dapat mengolah limbah dengan efektif dan efisien.

2. Hasil pengolahan perlu di adakan pengujian layak tidaknya di alirkan ke lingkungan pesisir .

(19)

Daftar Pustaka

Data Primer Dan Data Sekunder. PPS .2014 . kendari

(20)
(21)

Gambar 1 Meting dengan kepala PPS

Gambar 2

(22)

Gambar 4 : Inilah kolam Stock Tank

Gambar 3 :Penjelasan mengenai

(23)

Gambar

Gambar 1 Meting
Gambar 3 :Penjelasan mengenai
Gambar 5: Berfoto bersama

Referensi

Dokumen terkait

Penyimpanan bahan baku pra-olahan (fillet, daging lumat, dan surimi) pada suhu beku dapat mempertahankan mutu daging ikan dan menghasilkan produk sosis dengan sifat fisik

Jika dari suhu, air sampel yang kami gunakan termasuk layak untuk diminum karena memenuhi baku mutu air minum yang diatur dalam permenkes 492 tahun 2010. Namun kami

Kecamatan Nongsa yang merupakan bagian dari kota Batam memiliki iklim tropis dengan suhu pada tahun 2016 berkisar antara 21,4oC hingga 23,9oC dan suhu maksimum

Mesin Es Balok: Inovasi Pendinginan untuk Industri Modern Mesin es balok adalah salah satu peralatan penting dalam industri yang membutuhkan solusi pendinginan skala besar. Mesin ini berfungsi untuk memproduksi es berbentuk balok yang kuat, tahan lama, dan ideal untuk digunakan dalam berbagai sektor, seperti perikanan, logistik, dan pengolahan makanan. Keunggulan Mesin Es Balok Mesin es balok memiliki banyak keunggulan yang menjadikannya pilihan utama bagi pelaku usaha: Daya Tahan Es yang Lama Es balok memiliki kepadatan tinggi, sehingga mencair lebih lambat dibandingkan bentuk es lainnya. Hal ini menjadikannya sangat efisien untuk menjaga kesegaran bahan seperti ikan atau daging selama transportasi jarak jauh. Kapasitas Produksi Besar Mesin ini tersedia dalam berbagai kapasitas, mulai dari produksi harian 1 ton hingga 100 ton. Kapasitas ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan usaha Anda. Hemat Energi Mesin modern dirancang untuk efisiensi energi, menggunakan teknologi canggih yang mengurangi konsumsi daya tanpa mengurangi kualitas es yang dihasilkan. Material Tahan Lama Sebagian besar mesin es balok dibuat dari stainless steel yang tahan karat dan higienis, memastikan produk es tetap bersih dan aman untuk digunakan. Cara Kerja Mesin Es Balok Mesin es balok bekerja dengan prinsip pembekuan air dalam cetakan khusus. Berikut adalah langkah-langkah utama prosesnya: Pengisian Air Air dimasukkan ke dalam cetakan logam yang sudah disiapkan. Proses Pembekuan Cetakan dimasukkan ke dalam tangki yang berisi larutan garam (brine solution) yang didinginkan oleh sistem pendingin. Suhu larutan ini sangat rendah sehingga dapat membekukan air dalam cetakan dengan cepat. Pelepasan Es Setelah es terbentuk, cetakan dipanaskan menggunakan uap atau air hangat untuk melepaskan balok es dari cetakan. Penyimpanan dan Distribusi Es balok yang dihasilkan dapat langsung digunakan atau disimpan dalam ruang pendingin khusus sebelum didistribusikan. Aplikasi Mesin Es Balok Mesin es balok digunakan dalam berbagai bidang, antara lain: Industri Perikanan Es balok digunakan untuk menjaga kesegaran hasil tangkapan seperti ikan dan udang selama penyimpanan dan transportasi. Pengolahan Makanan Digunakan untuk menjaga bahan baku seperti daging, buah, atau sayuran tetap segar selama proses produksi. Penyelenggaraan Acara dan Festival Es balok sering digunakan untuk pendinginan skala besar, seperti untuk minuman atau menjaga makanan tetap segar di acara