Tabel 1 Pembagian kode sampel tanah Kode
sampel Keterangan
A Tanah steril + bakteri T2M B Tanah steril
C Tanah non steril + bakteri T2M
D Tanah non steril
Pembagian kode sampel dapat dilihat pada Tabel 1. Analisis yang dilakukan adalah: pH, kadar air, suhu, TPH, dan perubahan senyawa yang dilakukan setiap 2 minggu.
Analisis pH
Nilai pH masing–masing tanah diukur menggunakan pH meter yang telah sebelumnya dikalibrasi dengan bufer pH 4 dan 7, dengan perbandingan tanah dan air akuades 1:5.
Analisis Kadar Air
Sebanyak 5 gram contoh tanah ditimbang dalam pinggan porselen yang telah diketahui bobotnya. Contoh tersebut dikeringkan dalam oven pada suhu 105 ºC selama 3 jam. Setelah itu pinggan diangkat dan dimasukan dalam desikator. Setelah dingin, bobot pinggan ditimbang dan dimasukan kembali dalam oven sampai bobotnya konstan (Amaliah 2007).
Analisis Suhu
Suhu tanah diukur dengan termometer pada pagi dan siang hari.
Pengukuran TPH
Nilai TPH diukur menggunakan metode gravimetri. Sebanyak 10 gram sampel dioven pada suhu 40 ºC selama 10 menit kemudian dibungkus dengan kertas saring. Timbel yang telah dibuat tersebut dimasukan dalam soxhlet dan diekstrak dengan pelarut n-heksana selama 4 jam. Ekstrak yang diperoleh dihilangkan airnya dengan Na2SO4 anhidrat
sebanyak 10 gram kemudian dihilangkan lemak/grease dengan 10 gram silika gel. Ekstrak yang diperoleh kemudian dipekatkan dengan rotav hingga kering. Labu yang telah kering dipanaskan dalam oven pada suhu 70 ºC selama 10 menit kemudian didinginkan dalam desikator dan ditimbang (Amaliah 2007).
Preparasi Pengukuran Struktur Dengan GCMS
Preparasi dilakukan dengan metode ekstraksi soxhlet. Sebanyak 10 gram sampel diaduk dengan 10 gram Na2SO4. Campuran
tersebut keudian dibungkus dengan kertas saring dan diekstrak dengan campuran pelarut aseton-n-heksan (1:1) sebanyak 300 ml. Ekstraksi dilakukan sebanyak 4 kali dan dipekatkan dengan roarievaporator. Ekstrak dan labu dicuci kembali dengan pelarut awal kemudian dimasukan dalam tabung kecil. Ekstrak tersebut kemudian diinjek 1 µl dalam alat GCMS (US EPA 1996).
Kondisi alat GCMS yang digunakan ialah sebagai berikut: pada oven suhu awal 35ºC dan suhu maksimum : 325 ºC. Pada fase gerak digunakan mode split dengan suhu awal 250ºC, tekanan 1.30 psi, rasio split 100:1, aliran split 55.5 mL/min, total aliran: 59.1mL/min. Jenis gas yang digunakan ialah helium. Kolom yang digunakan ialah model Agilent nomor 19091S-433 HP-5MS 5% penil metil siloksana dengan Suhu maksimum: 325 º C dengan panjang: 30.0 m, diameter: 250.00 um, ketebalan lapisan 0.25 um. Volume injeksi sebesar 0.20 mikroliter dan ukuran syringe 10.0 mikroliter.
HASIL DAN PEMBAHASAN
pH
Tingkat keasaman (pH) merupakan salah satu faktor penting dalam proses degradasi hidrokarbon. Keberhasilan degradasi dapat dicapai jika pH media degradasi sesuai dengan kondisi optimum mikroorganisme pendegradasi hidrokarbon. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan setiap 2 minggu, pH yang terukur menunjukan kisaran pH antara 5.35-7.91 (Lampiran 2). Penentuan kondisi pH optimum untuk degradasi hidrokarbon oleh bakteri telah diteliti sebelumnya oleh Dibble dan Bartha (1979) yang menunjukan bahwa kondisi optimum yang dibutuhkan berkisar antara 5.0-7.8. Sedangkan untuk kondisi optimum untuk bakteri dengan kode isolat T2M berada pada pH 6.8 (Ni’mah 2005). Gambar 5 menunjukkan nilai pH yang terukur pada setiap tanah selama 4 bulan.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 0 2 4 6 8 10 12 14 m inggu pH Tanah A Tanah B Tanah C Tanah D
Gambar 5 Perbandingan nilai pH tanah A, B, C, dan D.
Penurunan pH yang terjadi selama proses degradasi disebabkan karena adanya produk antara yang dihasilkan. Menurut Morgan dan Watkinson (1994) metabolisme awal dari degradasi n-alkana adalah dengan
mempergunakan enzim hidroksilase (monooksidase) yang mengubah n-alkana menjadi 1-alkanol. Adanya penambahan jumlah senyawa alkohol dan asam karboksilat dapat menurunkan pH tanah. Pada Gambar 5 ditunjukan perubahan pH yang terjadi selama proses degradasi. Penurunan pH akan terus terjadi selama proses degradasi berlangsung karena adanya produk-produk degradasi hidrokarbon yang bersifat asam. Jika pH terlalu asam maka akan menganggu proses degradasi menjadi lebih lambat. Untuk membuat kondisi pH tetap optimum untuk degradasi hidrokarbon maka ditambahkan urea sebagai nutrisi untuk bakteri sekaligus membuat kondisi pH naik kembali. Seperti yang terjadi pada minggu ke-6 semua sampel tanah mengalami kenaikan pH yang dapat dikarenakan oleh penambahan urea. Penambahan urea pada mingu sebelumnya tidak dapat menaikan pH karena hasil degradasi berupa asam-asam organik lebih besar pengaruhnya terhadap pH. Dengan mengkondisikan pH tetap optimum untuk kehidupan bakteri diharapkan degradasi hidrokarbon berlangsung optimal.
Kadar Air
Kelembaban tanah sangat berpengaruh terhadap proses degradasi karena keberadaan air sangat diperlukan oleh aktivitas mikroorganisme. Bakteri yang digunakan ialah bakteri aerob yaitu bakteri yang membutuhkan oksigen. Oksigen yang diperlukan bakteri bisa diperoleh dari udara melalui proses pengadukan juga dari air. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan setiap 2 minggu, kadar air yang terukur berkisar antara 3.11-10.98 % (Lampiran 3).
Kadar air yang terukur bervariasi dikarenakan setiap 2 minggu dilakukan penambahan air secara teratur dan adanya penguapan. Menurut Dibble dan Bartha (1979) kadar air yang dibutuhkan bakteri untuk metabolisme dalam mendegradasi hidrokarbon berkisar antara 30%-90%. Nilai kadar air yang terukur berada pada kisaran 3.11-10.98 % dikarenakan pengukuran dilakukan setelah seminggu ditambahkan air. Penambahan air yang dilakukan cukup mendekati nilai optimum yang dibutuhkan bakteri. Kekurangan air selama proses degradasi dapat menyebabkan terhambatnya proses degradasi. Hal ini dapat disebabkan karena banyaknya bakteri yang mati karena tidak mampu beradaptasi dengan kondisi yang kurang air. Bakteri T2M merupakan bakteri yang membutuhkan air selama proses degradasi. Oleh karena itu kondisi kadar air tetap dijaga dengan penambahan air secara teratur.
Suhu
Nilai suhu tanah sangat berpengaruh terhadap proses degradasi. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan setiap 2 minggu, nilai suhu yang terukur berkisar antara 33ºC-35ºC. (Lampiran 4). Menurut Leahy dan Colwell (1990) suhu yang tepat dapat meningkatkan metabolisme bakteri dalam mendegradasi hidrokarbon, khususnya suhu yang berkisar antara 30ºC-40ºC. Suhu yang lebih tinggi dapat meningkatkan toksisitas hidrokarbon terhadap bakteri. Demikian pula jika suhu terlalu rendah maka volatilitas hidrokarbon menurun dan dapat menghambat proses degradasi. Oleh karena itu, semua sampel ditempatkan dalam rumah kaca agar suhu yang terjadi tetap dalam keadaan optimum untuk kehidupan bakteri.
TPH
Salah satu parameter keberhasilan degradasi hidrokarbon minyak bumi ialah berkurangnya nilai TPH sampai batas aman yang telah ditentukan. Batas aman menurut lembaga lingkungan ialah dibawah 1%. Hasil pengukuran yang dilakukan setiap 2 minggu menunjukkan nilai TPH awal sebesar 4.03, 5.33, 4.20, dan 4.58 % (b/b) berturut-turut untuk tanah A, B, C, dan D. (Lampiran 5). Minyak bumi yang ditambahkan pada setiap sampel sebesar 5% sedangkan nilai TPH yang terukur tidak persis sama dengan kadar minyak bumi yang ditambahkan. Hal ini dapat disebabkan karena proses pencampuran antara
tanah dan minyak bumi dilakukan dengan manual yaitu dengan pengadukan biasa. Pengambilan sampel tanah yang tidak merata juga dapat menyebabkan nilai TPH yang terukur tidak sama dengan jumlah kadar minyak bumi awal.
Tanah A yang ditambahkan bakteri T2M dan disterilkan terlebih dahulu, memiliki penurunan TPH setiap 2 minggu yang cukup berarti dari minggu pertama sampai minggu ke-16. Pada minggu awal proses degdradasi terlihat penurunan yang lebih besar dibandingkan yang terjadi pada minggu berikutnya. Hal ini dapat dikarenakan pada minyak bumi terdapat hidrokarbon yang memiliki rantai karbon yang panjang. Citroreksoko (1996) menungkapkan bahwa hidrokarbon yang memiliki rantai panjang lebih mudah degradasi dibandingkan hidrokarbon rantai pendek. Perubahan nilai TPH pada 2 minggu pertama cukup besar yaitu sebesar 1.4 %. Minggu terakhir pengukuran menunjukkan nilai yang cukup kecil yaitu sebesar 0.37 %. Walaupun tanah A telah disterilkan terlebih dahulu, tetapi bakeri T2M mampu mendegradasi hidrokarbon minyak bumi sampai batas aman. Waktu yang diperoleh untuk sampai batas ini ialah 12 minggu. Gambar 6 di bawah ini menunjukkan nilai TPH yang terukur pada tanah A selama 4 bulan.
Gambar 6 Nilai TPH tanah A selama 4 bulan Tanah B merupakan tanah steril yang tidak ditambahkan bakteri dan berfungsi sebagai kontrol. Nilai TPH untuk tanah B pada minggu pertama terukur sebesar 5.33% kemudian turun pada minggu-minggu berikutnya. Pada minggu ke-2 nilai TPH yang terukur sebesar 4.12 %. Penurunan ini dapat terjadi karena proses penguapan terhadap hidrokarbon yang mudah menguap yang memiliki rantai karbon yang pendek. Penurunan tersebut juga dapat disebabkan oleh bakteri yang masuk kedalam sampel tanah dan medegradasi senyawa hidrokarbon yang ada. Akan tetapi, pada minggu ke-4 sampai minggu ke-10 terlihat penurunan yang kecil. Hal ini dapat disebabkan karena
penguapan tidak terjadi pada hidrokarbon rantai panjang dan juga bakteri yang masuk tidak mampu mendegradsi hidrokarbon rantai panjang. Pada minggu terakhir yaitu minggu ke-16 nilai TPH yang terukur sebesar 1.37. Nilai TPH akhir untuk tanah B belum mencapai batas aman karena sebelumnya tidak ditambahkan bakteri pendegradasi hidrokarbon. Gambar 7 memperlihatkan nilai TPH yang terukur selama 4 bulan.
Gambar 7 Nilai TPH tanah B selama 4 bulan Perbandingan nilai TPH untuk semua tanah dapat dinyatakan dalam persen degradasi. Persen degradasi diperoleh dari nilai TPH akhir dikurangi TPH awal dan dibagi nilai TPH awal. Nilai ini menunjukkan seberapa besar hidrokarbon terurai oleh bakteri. Persen degradasi yang terjadi pada tanah A sebesar 90.17 % sedangkan untuk tanah B sebagi kontrol sebesar 74.54 %. Persen degradasi untuk tanah C sebesar 93.30 % sedangkan untuk tanah D sebagai kontrol sebesar 52.37 %. Berdasarkan data tersebut proses deradasi lebih optimal pada tanah yang tidak steril. Gambar 8 menunjukkan nilai persen degradasi untuk semua tanah.
0 20 40 60 80 100
Tanah A Tanah B Tanah C Tanah D
pe rs e n de g ra d a s i ( % b/ b )
Gambar 8 Nilai perbandingan persen degradasi untuk semua tanah Tanah C merupakan tanah yang tidak disterilkan dan ditambahkan bakteri. Nilai TPH untuk tanah C dapat dilihat penurunannya pada Gambar 9. Nilai TPH awal untuk tanah ini sebesar 4.20 % sedikit lebih besar dibandingkan yang terukur pada tanah A. Seperti yang lainnya pada minggu
ke-2 terjadi penurunan TPH yang cukup besar yaitu sebesar 1.21 %. Hal ini dapat dipengaruhi oleh menguapnya hidrokarbon volatil juga masih banyaknya hidrokarbon rantai panjang. Hasil degrdasi mikroorganisme pada tanah C menunjukan nilai degradasi yang lebih baik dibandingkan tanah A. Pada minggu ke-6 nilai TPH untuk tanah ini sebesar 1.38 % dan mulai mendekati batas aman. Kemudian pada minggu ke-10 nilai TPH tanah tersebut sebesar 0.64 % yang merupakan nilai yang telah memenuhi syarat aman bagi lingkungan. Sedangkan nilai pengukuran TPH terakhir pada minggu ke-16 sebesar 0.28 %. Perubahan nilai TPH pada tanah yang tidak disterilkan dahulu ini paling besar diantara tanah yang lainya. Perubahan ini disebabkan dalam tanah tersebut masih mengandung bakteri secara alami sehingga dapat meningkatkan proses degradasi hidrokarbon.
Gambar 9 Nilai TPH tanah C selama 4 bulan Nilai TPH untuk tanah D dapat dilihat pada Gambar 10. Untuk tanah yang tidak diberi bakteri ini memiliki nilai TPH awal sebesar 4.58 % dan pada minggu ke-16 nilainya turun menjadi 2.11%. Walaupun tanah D tidak disterilkan dahulu akan tetapi nilai TPH akhir lebih besar dibandingkan tanah B yang disterilkan terlebih dahulu. Hal ini dapat dikarenakan bakteri alam yang telah ada pada tanah tersebut bukan merupakan bakteri yang mampu mendegradasi hidrokarbon secara optimal.
Gambar 10 Nilai TPH tanah D selama 4 bulan
Perubahan Senyawa Hidrokarbon
Penentuan perubahan senyawa hidrokarbon selama proses degradasi oleh bakteri, ditentukan dengan membandingkan % area masing-masing senyawa hidrokarbon setiap 2 minggu. Berdasarkan data yang diperoleh dari kromatogram GCMS diketahui bahwa senyawa hidrokarbon yang terdapat pada minyak bumi terdiri dari 3 jenis, yaitu alifatik, alsiklik, dan aromatik. Penentuan senyawa hidrokarbon ini berdasarkan data yang terdapat pada CAS Number yang digunakan sebagai library pengidentifikasi sampel. Data library yang digunakan pada penentuan senyawa ini ialah Wiley7 Nist 05.L, dari hasil identifikasi tersebut dipilih sampel yang memiliki kemiripan ≥ 90.
Berdasarkan data yang diperoleh, senyawa hidrokarbon yang memiliki kemiripan ≥ 90 diketahui lebih banyak hidrokarbon alifatik dibandingkan hidrokarbon siklik dan aromatik. Oleh karena itu perubahan senyawa hidrokarbon ini difokuskan pada hidrokarbon alifatik.
Senyawa hidrokarbon alifatik yang terdeteksi pada awal pengukuran tanah A sebanyak 28 senyawa. Senyawa tersebut memiliki panjang rantai dari C-5 sampai C-30. Pada minggu terakhir hanya terdapat 12 senyawa saja. Sisa senyawa yang tidak terdeteksi diakhir pengukuran merupakan senyawa yang telah didegradasi oleh bakteri.
Data yang diperoleh dari CMS menunjukan senyawa hidrokarbon rantai panjang banyak yang hilang, jika pun ada % area senyawa tersebut telah berkurang jika dibandingkan awal pengukuran. Contohnya pentakosana (C-25) memiliki luas area pada minggu pertama sebesar 0.57. Pada minggu ke-16 senyawa tersebut memiliki % area sebesar 0.19. Perubahan % area senyawa hidrokarbon setiap 2 minggu pada tanah A dapat dilihat pada Lampiran 6. Berdasarkan data tersebut, terlihat perubahan persen area masing-masing senyawa setiap 2 minggu. Beberapa senyawa yang terdeteksi di awal pengukuran pada miggu berikutnya tidak terdeteksi. Hal ini dapat dikarenakan terdegradasinya senyawa tersebut menjadi senyawa yang memiliki rantai karbon lebih pendek. Pada saat bersamaan ada pula senyawa yang menunjukan kenaikan persen area. Hal ini dikarenakan banyaknya senyawa hidrokarbon yang terdapat dalam minyak bumi. Akan tetapi, sebagian besar senyawa berkurang kadarnya pada akhir pengukuran yang dikuatkan pula dengan data total
petroleum hidrokarbon (TPH). Tabel 2 menunjukkan nilai luas area senyawa hidrokarbon yang terdeteksi pada tanah A. Tabel 2 Nilai luas area senyawa hidrokarbon
yang terdeteksi pada tanah A di awal dan akhir pengukuran
Senyawa hidrokarbon Jumlah atom karbon luas area awal (%) luas area akhir (%) Pentana 5 7.9100 Td Heksana 6 13.5506 Td Heptana 7 0.0704 Td Oktana 8 0.0282 Td Nonana 9 0.0159 Td Dekana 10 0.0322 Td Undekana 11 0.0600 Td Dodekana 12 0.0800 Td Tetradekana 14 0.2416 Td Pentadekana 15 0.5484 td Heksadekana 16 0.5107 Td Heptadekana 17 0.6424 Td Oktadekana 18 0.6158 0.0607 Dokosana 22 0.8361 0.2316 Nonadekana 19 1.0714 0.0712 Eikosana 20 0.7000 0.0933 Heneikosana 21 0.0257 0.1240 Trikosana 23 0.7259 Td Heneikosana 21 1.0700 0.1856 Tetrakosana 24 0.8574 0.1967 Pentakosana 25 0.5747 0.1967 Octakosana 28 0.8100 Td Heksakosana 26 1.2441 0.2252 Octakosana 28 0.8149 Td Heptacosana 27 0.9013 0.2512 Nonakosana 29 0.8637 0.2573 Triakontana 30 0.6928 0.1506 Eikosana 20 0.6139 Td Td = tidak terdeteksi
Menurut Atlas dan Bartha (1998) dalam proses biodegradasi rantai alkana dioksidasi membentuk alkohol, aldehida dan asam lemak. Setelah terbentuk asam lemak proses katabolisme terjasi secara sekuen ß oksidasi. Rantai panjang dari asam lemak dikonversi oleh acyl coenzyme A yang merupakan enzim membentuk asetil coenzyme A dan rantai pendek asam lemak yang telah berkurang dua unit gugus karbonnya yang berlangsung secara berulang-ulang. Asetil
coenzyme A diubah membentuk CO2 melalui
siklus tricarboxylic acid. Senyawa
hidrokarbon yang terdeteksi pada tanah B di awal dan akhir pengukuran dapat dilihat pada Tabel 3. Berdasarkan data tersebut terdapat 16 senyawa hidrokarbon yang terdiri dari C-11 sampai C-27. Tanah B ini merupakan kontrol terhadap tanah A karena tidak ditambahkan bakteri.
Tabel 3 Nilai luas area senyawa hidrokarbon yang terdeteksi pada tanah B di awal dan akhir pengukuran
Senyawa hidrokarbon Jumlah atom karbon luas area awal (%) luas area akhir (%) Dodekana 12 0.1560 Td Tridekana 13 0.3866 Td Tetradekana 14 0.6457 Td Pentadekana 15 0.8137 Td Pentadekana 15 0.9360 Td Heksadekana 16 0.9914 0.2588 Heptadekana 17 0.9685 0.5027 Oktadekana 18 1.0582 0.6398 Eikosana 20 1.0771 Td Heneicosana 21 1.1294 1.0336 Tricosana 23 1.1202 0.9502 Heneikosana 21 1.3933 1.0336 Tetrakosana 24 1.2803 1.0221 Dotriacontana 32 1.3707 Td Heptacosana 27 1.3942 1.0414 Eikosana 20 0.6132 Td Td = tidak terdeteksi
Pada Tabel 3 terdapat beberapa senyawa hidrokarbon rantai panjang yang masih ada di akhir pengukuran. Terdapat 12 senyawa hidrokarbon yang terdapat pada tanah tersebut. Hal ini menunjukan tidak terjadinya degradasi. Persen area masing-masing senyawa setiap 2 minggu dapat dilihat pada Lampiran 7. Walaupun tanah B tidak ditambahkan bakteri, perubahan luas area terjadi pada tanah ini. Akan tetapi perubahan luas area ini tidak terlalu signifikan. Sebagai contoh hidrokarbon rantai panjang pada minggu ke-16 masih memiliki persen area yang cukup besar. Sebagai contoh tetrakosana dan oktakosana pada minggu ke-16 memiliki luas area 1.022 dan 0.74 %.
Perubahan senyawa hidrokarbon yang paling besar terjadi pada tanah C. Tanah yang tidak disterikan sebelumnya ini hampir tidak memiliki hidrokarbon rantai panjang pada pengukuran minggu kedelapan. Perubahan senyawa ini diperjelas dengan rendahnya nilai TPH tanah tersebut sebesar 0.28% (Gambar 8). Hal ini menunjukan degradasi yang berhasil terhadap minyak bumi. Perubahan persen area senyawa pada tanah C dapat dilihat pada Lampiran 8. Berdasarkan data tersebut, hampir semua senyawa mumiliki persen area yang berkurang pada minggu berikutnya. Hal ini dapat disebabkan oleh degradasi yang dilakukan oleh bakteri. Terdapat sekitar 27 senyawa hidrokarbon alifatik pada awal pengukuran tetapi tidak ada satupun hidrokarbon tersebut pada akhir pengukuran. Tabel 4 menunjukkan nilai luas area senyawa hidrokarbon yang terdeteksi pada tanah C.
Tabel 4 Nilai luas area senyawa hidrokarbon yang terdeteksi pada tanah C di awal dan akhir pengukuran
Senyawa hidrokarbon Jumlah atom karbon Luas area awal (%) Luas area akhir (%) Undekana 11 0.0268 Td Dodekana 12 0.1238 Td Tetradekana 14 0.3120 Td Pentadekana 15 0.5578 Td Heksadekana 16 0.7352 Td Heptadekana 17 0.8626 Td Oktadekana 18 0.9489 Td Undekana 11 0.0386 Td Dokosana 22 1.1736 Td Nonadekana 19 1.0192 Td Eikosana 20 1.0495 Td Heneikosana 21 1.4020 Td Trikosana 23 1.1736 Td Eikosana 20 1.1141 Td Tetrakosana 24 1.2924 Td Dotriakontana 32 1.4015 Td Pentakosana 25 0.7122 Td Hexakosana 26 1.4015 Td Octakosana 28 1.2661 Td Heptakosana 27 1.4218 Td Nonakosana 29 1.2468 Td Triakontana 30 0.8921 Td Eikosana 20 0.7201 0.092 Td = tidak terdeteksi
Tabel 5 Nilai luas area senyawa hidrokarbon yang terdeteksi pada tanah D di awal dan akhir pengukuran
Senyawa hidrokarbon Jumlah atom karbon Luas area awal (%) Luas area akhir (%) Undekana 11 0.0317 Td Dodekana 12 0.1082 Td Tridekana 13 0.2532 Td Tetradekana 14 0.4659 0.0253 Pentadekana 15 0.5731 0.1061 Hexadekana 16 0.6726 0.2598 Heptadekana 17 0.7524 0.4087 Oktadekana 18 0.7525 0.4725 Eikosana 20 0.8877 0.5679 Trikosana 23 0.9906 0.6108 Nonadekana 19 0.8516 0.6242 Heneikosana 21 0.0298 0.6242 Heneikosana 21 0.9389 0.6242 Dokosana 22 1.2350 0.6008 Tetrakosana 24 1.1494 0.5762 Hexakosana 26 1.2493 0.5460 Heptakosana 27 1.2600 0.4932 Octakosana 28 1.1271 0.4033 Pentakosana 25 0.1026 Td Nonakosana 29 1.1595 Td Triakontana 30 0.8097 0.2225 Eikosana 20 0.6816 Td Td = tidak terdeteksi
Tanah D merupakan kontrol untuk tanah C. Pada awal pengukuran memiliki 23 senyawa hidrokarbon alifatik sedangkan pada akhir pengukuran memiliki 15 senyawa hidrokarbon. Perubahan persen area masing-masing senyawa tersebut setiap 2 minggu
dapat dilihat pada lampiran 9. Tabel 5 menunjukkan nilai luas area senyawa hidrokarbon yang terdeteksi pada tanah D.
Senyawa hidrokarbon yang hilang pada akhir perlakuan dapat dilihat pada Tabel 6. Hilangnya senyawa-senyawa tersebut dapat disebabkan oleh degradasi yang dilakukan oleh bakteri. Pada tanah A ada 16 senyawa yang hilang. Senyawa yang paling banyak merupakan hidrokarbon alifatik. Senyawa yang hilang pada tanah B tidak terlalu banyak. Senyawa tersebut diantaranya tridekana, pentadekana dan eikosana. Pada tanah C yang merupakan tanah paling maksimal dalam degradasi hidrokarbon, ditemukan banyak senyawa hidrokarbon yang hilang. Dimulai dengan hidrokarbon C-11 sampai C-30 hilang diakhir perlakuan. Hal ini dapat dikarenakan tanah C tidak disterilkan dahulu. Oleh karena itu bakteri yang ada sebelumnya pada tanah ikut mendegradasi hidrokarbon. Senyawa yang hilang pada tanah D tidak terlalu banyak diantaranya pentakosana dan nonakosana. Senyawa yang hilang pada akhir perlakuan dapat dikatakan sebagai hidrokarbon yang paling mudah didegradasi oleh bakteri. Senyawa hidrokarbon yang masih ada pada akhir perlakuan dapat dikatakan sebagai hidrokarbon yang paling sulit didegradasi oleh bakteri.
Tabel 6 Daftar senyawa yang tidak terdeteksi pada setiap tanah di akhir pengukuran
Tanah A Tanah B Tanah C Tanah D
Heptana Dodekana Undekana Undekana
Oktana Tridekana Dodekana Dodekana
Nonana Tetradekana Tridekana Tridekana
Dekana Pentadekana Tetradekana Heneikosana
Undekana Eikosana Pentadekana Pentakosana
Dodekana Heneikosana Hexadekana Nonakosana
Tridekana Dotriakontana Heptadekana Eikosana
Tetradekana Oktadekana Pentadekana Dokosana Eikosana Nonadekana Heneikosana Eikosana Dotriakontana Heneikosana Octakosana Trikosana Heksakosana Heneikosana Triakontana Tetrakosana Etilbenzena Dotriakontana Pentakosana Hexakosana Octakosana Heptakosana Nonakosana Triakontana