12
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Penelitian SebelumnyaBeberapa penelitian terdahulu telah membahas faktor-faktor yang mempengaruhi tanggung jawab sosial perusahaan, yaitu faktor debt-to equity ratio dan firm size. CSR secara signifikan dipengaruhi oleh faktor debt-to equity ratio diantaranya yaitu penelitian dari Sari dan Budiasih (2014), Jang (2013) serta Murekefu dan Ouma (2012). Menurut Jang (2013) faktor ukuran perusahaan (firm size) secara signifikan mempengaruhi CSR, tetapi tidak signifikan menurut Sari dan Budiasih (2014), Kurnianingsih (2013) serta Hirigoyen dan Poulain-rehm (2012).
Beberapa penelitian sebelumnya juga membahas tanggung jawab sosial perusahaan terhadap profitabilitas perusahaan. Penelitian sebelumnya menunjukan ketidakkonsistenan hasil. (Nadeem & Malik, 2014; Candrayanthi & Saputra, 2013; Kurniawansyah & Mutmainah, 2013; Jang, 2013; Arsoy, et al., 2012; dan Ehsan & Kaleem, 2012) menunjukan faktor tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) secara signifikan mempengaruhi profitabilitas, tetapi tidak signifikan menurut Iqbal, et al. (2012).
Penelitian yang dilakukan oleh Sari dan Budiasih (2014) menunjukkan bahwa variabel debt-to equity ratio berpengaruh signifikan pada CSR di perusahaan wholesale and retail trade yang terdaftar di BEI. Penelitian ini juga memperoleh hasil bahwa firm size tidak berpengaruh pada CSR di perusahaan
13 wholesale and retail trade yang terdaftar di BEI. Profitabilitas sangat penting bagi perusahaan, karena menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada. Sari dan Budiasih (2014) menyarankan agar peneliti selanjutnya dapat lebih memperhatikan variabel-variabel lain dalam mempertahankan dan meningkatkan profitabilitas perusahaan melalui faktor yang mempengaruhi CSR, seperti umur perusahaan, receivable turnover, dan current ratio.
Murekefu dan Ouma (2012) menyatakan bahwa pembayaran dividen secara kuat dan postif mempengaruhi profitabilitas melalui CSR. Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa dividen dalam bentuk kas paling umum digunakan dalam perusahaan yang terdaftar di Kenya. Mayoritas perusahaan memilih untuk tidak membayar atau menurunkan dividen mereka ketika tidak terdapat uang tunai. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi kebijakan dividen dari perusahaan yang terdaftar adalah; profitabilitas, pola dividen masa lalu, aturan hukum, leverage keuangan, peluang investasi, tahap pertumbuhan dan struktur modal.
Penelitian yang dilakukan oleh Kurnianingsih (2013) menyatakan bahwa firm size tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI. Hal ini dijelaskan melalui besarnya nilai pengaruh profitabilitas dan size perusahaan yang ditunjukkan oleh Adjust R2 yaitu sebesar 0.008. Persentase pengaruh ROA dan ln of total asset terhadap pengungkapan CSR pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI adalah
14 sebesar 0.8% dan selebihnya 99.2% dijelaskan oleh variabel lain di luar model penelitian ini.
Hirigoyen dan Poulain-rehm (2012) menyatakan bahwa firm size tidak berpengaruh signifikan terhadap CSR. Variabel ukuran perusahaan menunjukkan tingkat "humanisasi" perusahaan. Ini menyangkut pengaruh kedekatan yang diciptakan oleh perusahaan pada perhatian dibayar oleh manajer untuk berbagai masalah manusia yang menjadi ciri tanggung jawab sosial perusahaan. Variabel ukuran dioperasionalkan oleh logaritma dari total angkatan kerja dalam penelitian ini.
Penelitian yang dilakukan oleh Nadeem dan Malik (2014) menunjukkan bahwa CSR secara signifikan dan positif mempengaruhi ROA, ROE dan NPM perusahaan perbankan di Pakistan. Perusahaan menggunakan CSR sebagai strategi untuk menciptakan keunggulan kompetitif dan mendapatkan peningkatan kinerja keuangan. Perusahaan di negara-negara maju sedang mempertimbangkan CSR sebagai perencanaan strategis mereka untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang.
Candrayanthi dan Saputra (2013) menyebutkan bahwa Corporate Social Responsibility berpengaruh terhadap ROA dan ROE perusahaan. Namun Corporate Social Responsibility berpengaruh negatif terhadap NPM perusahaan. Ini berarti dengan mengungkapkan CSR kinerja perusahaan yang di diukur dengan ROA dan ROE akan meningkat. Sementara dengan mengungkapkan CSR kinerja perusahaan yang di diukur dengan NPM akan mengalami penurunan.
15 Pada penelitian yang dilakukan oleh Kurniawansyah dan Mutmainah (2013) secara parsial CSR perbankan tahun 2010 berpengaruh terhadap variabel Return on Asset (ROA). Hal ini dikarenakan dalam penelitian ini menggunakan data primer berupa kuesioner yang memungkinkan terjadinya perbedaan persepsi antara setiap orang dalam menilai pengungkapan CSR perusahaan. Rendahnya nilai Adjusted R Square dalam penelitian ini juga mempengaruhi pengaruh CSR terhadap ROA. Nilai Adjusted R Square berkisar antara 6%-13%, hal ini menunjukan bahwa kemampuan variabel independen untuk menerangkan variabel dependen masih sangat rendah.
Jang (2013) menyebutkan bahwa kinerja CSR yang lebih tinggi akan memiliki profitabilitas yang lebih tinggi, biaya modal yang lebih rendah, dan nilai perusahaan yang lebih tinggi dibandingkan jika CSR yang dilakukan perusahaan rendah. Maka penelitian ini menyebutkan bahwa CSR berpengaruh positif terhadap Return on Asset (ROA). Hasil penelitiannya juga menyebutkan bahwa faktor debt to equity ratio dan firm size secara signifikan mempengaruhi CSR. Hipotesis ini diuji dengan menggunakan 130 perusahaan Korea selama periode delapan tahun (1998-2005). Indeks yang diterbitkan oleh Korea Economic Justice Institute (KEJI) digunakan sebagai ukuran kinerja CSR.
Arsoy, Arabaci, dan Ciftcioglu (2012) menemukan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan memiliki korelasi positif terhadap kinerja keuangan perusahaan. Dengan kata lain, kinerja keuangan perusahaan di Turki menentukan kinerja tanggung jawab sosial perusahaan. Secara umum, analisis menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang luar biasa antara indikator keuangan dan tanggung
16 jawab sosial dalam konteks Turki. Perusahaan-perusahaan yang memiliki indikator kinerja keuangan yang lebih baik, juga memiliki nilai tanggung jawab sosial yang lebih baik. Sedangkan, keterbatasan dalam penelitian ini adalah jumlah sampel yang lebih rendah dari perusahaan yang diamati.
Ehsan dan Kaleem (2012) menyatakan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan memiliki korelasi positif terhadap kinerja keuangan perusahaan di Pakistan. Perusahaan Pakistan berkontribusi dalam kesejahteraan sosial masyarakat, meningkatkan standar hidup dengan mempromosikan pendidikan dan fasilitas kesehatan yang lebih baik, melindungi lingkungan dari perubahan yang berbahaya. Mereka juga merawat karyawan mereka untuk membangun kepercayaan dan keyakinan mereka. Dengan demikian maka tanggung jawab sosial memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap kinerja keuangan.
Sedangkan Iqbal, dkk. (2012) menyatakan bahwa tanggung jawab sosial tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Disimpulkan bahwa ketidaksignifikanan disebabkan oleh beberapa keterbatasan, antara lain keterbatasan jumlah sampel yang relative lebih rendah daripada perusahaan yang ada. Oleh karena itu saya menetapkan jumlah sampel yang tidak terlalu kecil dari jumlah perusahaan pertambangan yang ada di Indonesia.
Penelitian Sari dan Budiasih (2014), Jang (2013) serta Murekefu dan Ouma (2012) memiliki hasil yang sama bahwa variabel debt-to equity ratio berpengaruh signifikan pada CSR. Ketiganya menggunakan teknik analisis data regresi linier berganda. Menurut Jang (2013) debt-to equity ratio menyediakan informasi pada
17 kemampuan perusahaan untuk membayar utang dan mencerminkan risiko perusahaan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa DER terkait dengan CSR serta kinerja keuangan. Waddock dan Grave (1997) menggunakan variabel ini untuk mengendalikan risiko perusahaan dalam penyelidikan mereka pada link antara CSR dan kinerja keuangan. Sedangkan faktor firm size secara signifikan mempengaruhi CSR menurut Jang (2013), namun tidak signifikan mempengaruhi CSR menurut Sari dan Budiasih (2014), Kurnianingsih (2013) serta Hirigoyen dan Poulain-rehm (2012).
Keterbatasan lain adalah bahwa penelitian memiliki keterbatasan pada rasio yang digunakan untuk mengukur profitabilitas perusahaan. Penggunaan Return On Assets (ROA) saja hanya dapat menunjukkan laba yang diperoleh dari besarnya tingkat pengembalian atas penggunaan asset yang dimiliki oleh perusahaan, namun tidak dapat mencerminkan laba yang diperoleh oleh perusahaan secara keseluruhan. Hal ini dapat dikatakan bahwa rasio Return On Assets (ROA) belum cukup untuk menggambarkan profitabilitas perusahaan keseluruhan (Candrayanthi & Saputra, 2013).
Secara umum, untuk mengatasi kelemahan yang telah dijelaskan di atas terdapat beberapa solusi. Sari dan Budiasih (2014), Kurnianingsih (2013) dan Jang (2013) menyebutkan solusi yang bisa disampaikan mengenai ketidakkonsistenan ini yaitu peneliti selanjutnya dapat menggunakan firm size dan debt to equity ratio sebagai variabel independen, serta menggunakan tanggung jawab sosial perusahaan sebagai variabel mediasi. Sedangkan untuk dapat mencerminkan laba yang diperoleh oleh perusahaan secara keseluruhan, peneliti
18 selanjutnya dapat menambahkan rasio dalam pengukuran financial profitability, yaitu Return On Equity (ROE) dan Net Profit Margin (NPM) sebagai rasio profitabilitas perusahaan yang lebih akurat (Kurniawansyah & Mutmainah, 2013; Ehsan & Kaleem, 2012).
Sementara itu, terdapat beberapa teori yang mendasari penelitian mengenai pengaruh tanggung jawab sosial perusahaan terhadap profitabilitas perusahaan. Teori ini meliputi teori stakeholder, teori sinyal, dan teori legitimasi.
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Teori Stakeholder (Stakeholder Theory)
Teori Stakeholder dapat digunakan untuk menjawab keterkaitan antara financial performance dan corporate social responsibility. Dalam teori stakeholder dijelaskan bahwa stakeholder pada dasarnya memiliki power yang dapat mengendalikan pemakaian sumber-sumber ekonomi yang digunakan perusahaan seperti membatasi pemakaian sumber ekonomi (modal dan tenaga kerja) dan kemampuan untuk mempengaruhi konsumsi barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan (Kurniawansyah & Mutmainah, 2013). Oleh karena itu, ketika stakeholder mulai mengendalikan sumber ekonomi yang penting bagi perusahaan, maka perusahaan akan bereaksi dengan memuaskan keinginan stakeholdernya. Salah satu cara reaksi yang dapat dilakukan perusahaan untuk memuaskan stakeholdernya adalah dengan memberikan kinerja keuangan yang baik dari perusahaan (Kurniawansyah & Mutmainah, 2013).
19 Berdasarkan teori stakeholder, dalam melakukan kegiatan operasinya, selain beroperasi untuk kepentinganya sendiri, perusahaan harus memberikan manfaat bagi para stakeholder, misalnya konsumen, pemerintah dan masyarakat. Semua stakeholder mempunyai hak untuk memperoleh informasi mengenai aktivitas perusahaan selama periode tertentu yang mampu mempengaruhi pengambilan keputusan (Sindhudiptha & Yasa, 2013). Kaitannya dengan CSR adalah segala informasi yang diberikan perusahaan mengenai kinerja perusahaan kepada stakeholder tidak hanya didasarkan pada kinerja keuangan saja, tetapi juga memberikan informasi tambahan mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan yang telah dilakukan perusahaan yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan. CSR mengharuskan perusahaan untuk bertanggung jawab kepada stakeholder dan melaporkan pertanggungjawaban yang telah dilakukan oleh perusahaan (Sindhudiptha & Yasa, 2013).
2.2.2 Teori Sinyal (Signalling Theory)
Signalling Theory adalah teori yang menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal (Putri & Christiawan, 2014). Teori ini membahas pengungkapan CSR dianggap sebagai sinyal yang diberikan perusahaan kepada publik bahwa perusahaan telah melakukan tanggung jawab sosial (Rosiana, Juliarsa, & Sari, 2013). Oleh sebab itu, semua informasi perusahaan, baik itu informasi keuangan maupun non keuangan harus diungkapkan oleh perusahaan. Sinyal tersebut diharapkan mampu diterima secara positif oleh pasar sehingga nantinya akan mempengaruhi kinerja perusahaan dalam bentuk keuntungan bagi pemegang
20 saham berupa profitabilitas, perubahan resiko saham, tingkat likuiditas, dan dapat meningkatkan nilai perusahaan.
2.2.3 Teori Legitimasi (Legitimacy Theory)
Legitimacy theory mengungkapkan bahwa perusahaan secara kontinyu berusaha untuk bertindak sesuai dengan batas-batas dan norma-norma dalam masyarakat, atas usahanya tersebut perusahaan berusaha agar aktivitasnya diterima menurut persepsi pihak eksternal (Sindhudiptha & Yasa, 2013). Legitimasi didapatkan jika apa yang dijalankan oleh perusahaan telah selaras dengan apa yang juga diinginkan oleh masyarakat. Kesenjangan harapan antara operasional perusahaan dengan harapan masyarakat dapat menimbulkan kesenjangan legitimasi, yang menyebabkan perusahaan tidak memperoleh legitimasi dan terancamnya kelangsungan hidup perusahaan.
Untuk mengurangi kesenjangan legitimasi tersebut, perusahaan perlu melakukan seperangkat strategi legitimasi, seperti meningkatkan tanggung jawab sosial (social responsibility) dan keterbukaan berupa pengungkapan sosial. Jadi, pengungkapan CSR merupakan hal penting untuk membangun, mempertahankan, dan melegitimasi kontribusi perusahaan dari sisi ekonomi dan politis, sehingga akan menjamin kelangsungan hidup perusahaan (Rosiana, et al., 2013).
2.2.4 Ukuran Perusahaan (Firm Size)
Perusahaan berskala besar akan menikmati kemampuan melaba dari skala ekonomi mereka yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan berskala
21 kecil. Sehingga, perusahaan besar lebih mampu berinvestasi dalam kegiatan CSR. Size perusahaan bisa didasarkan pada total asset (aktiva tetap, tidak berwujud dan lain-lain), jumlah tenaga kerja, volume penjualan dan kapitalisasi pasar (Kurnianingsih, 2013).
2.2.5 Debt to Equity Ratio
Rasio ini sering disebut leverage keuangan (LEV). Debt to equity ratio menunjukkan kemampuan modal sendiri perusahaan untuk membayar utang dan mencerminkan risiko perusahaan. LEV diukur dengan rasio nilai buku total hutang terhadap nilai buku total asset. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa LEV terkait dengan CSR serta kinerja keuangan, variabel ini digunakan untuk mengendalikan risiko perusahaan dalam penyelidikan mereka pada link antara CSR dan kinerja keuangan (Jang, 2013).
2.2.6 Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR)
Menurut The World Bussiness Council for Sustainable Development (WBCSD), CSR adalah suatu komitmen dalam dunia bisnis yang memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan, melalui kerja sama dengan karyawan dan komunitas setempat dalam rangka peningkatan kualitas kehidupan dengan cara yang bermanfaat bagi perusahaan itu sendiri maupun untuk pembangunan.
CSR menurut ISO 26000 yaitu tanggung jawab sebuah organisasi terhadap dampak-dampak dari keputusan-keputusan dan kegiatan-kegiatannya pada
22 masyarakat dan lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk perilaku transparan dan etis yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat mempertimbangkan harapan pemangku kepentingan, sejalan dengan hukum yang ditetapkan dan norma-norma perilaku internasional, serta terintegrasi dengan organisasi secara menyeluruh (draft 3, 2007).
Variabel mediasi dalam penelitian ini adalah tingkat CSR pada Laporan Tahunan perusahaan. Kategori pengungkapan sosial yang digunakan dalam penelitian ini mengadopsi Global Report Initiative (GRI) yang telah disesuaikan dengan pelaksanaan CSR di Indonesia. Indikator pengungkapan tanggung jawab ini antara lain mencakup indikator kinerja ekonomi, kinerja lingkungan, dan indikator kinerja sosial.
2.2.7 Profitabilitas
Kinerja keuangan suatu perusahaan dapat dilihat dari laba atau profitabilitasnya. Profitabilitas adalah kemampuan menghasilkan laba (profit) selama periode tertentu dengan menggunakan aktiva yang produktif atau modal, baik modal secara keseluruhan maupun modal sendiri (Horne & Wachowicz, 1997). Pendapat lain menyebutkan bahwa profitabilitas merupakan salah satu parameter kinerja perusahaan yang mendapat perhatian utama dari investor. Profitabilitas merupakan faktor yang membuat manajemen menjadi bebas dan fleksibel untuk mengungkapkan pertanggungjawaban sosial kepada pemegang saham. Hal ini dilakukan mengingat daya tarik bisnis (business attractiveness) merupakan salah satu indikator penting dalam persaingan usaha. Indikator daya
23 tarik bisnis dapat diukur dari rasio profitabilitas usaha, yaitu Return on Assets (ROA), Return On Equity (ROE) dan Net Profit Margin (NPM) (Candrayanthi & Saputra, 2013).
2.2.7.1 Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas yaitu rasio yang melihat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Rasio profitabilitas merupakan aspek fundamental perusahaan, karena selain memberikan daya tarik yang besar bagi investor yang akan menanamkan dananya pada perusahaan juga sebagai alat ukur terhadap efektivitas dan efisiensi penggunaan semua sumber daya yang ada di dalam proses operasional perusahaan. Rasio profitabilitas dapat diukur dengan beberapa indikator :
1. ROA (Return On Assets)
Return On Assets (ROA) adalah rasio yang membandingkan laba bersih sebelum pajak untuk menganalisis besarnya tingkat pengembalian dari penggunaan asset yang dimiliki oleh perusahaan. ROA merupakan parameter yang baik, dalam hal ini karena akan terlihat kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan total asset yang dimilikinya untuk memperoleh laba selama beroperasi. Semakin besar ROA, semakin baik kinerja keuangan perusahaan. Hal ini menjadi daya tarik investor dalam memiliki saham perusahaan tersebut (Karjaya & Sisdyani, 2014).
24
H1 H3
H2
H5 H4 2. ROE (Return OnEquity)
Return On Equity (rentabilitas modal sendiri) adalah kemampuan modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi para pemegang saham. Pengertian rentabilitas modal sendiri yang digunakan sebagai pengukur efisiensi adalah besarnya laba bersih dari jumlah modal sendiri yang digunakan perusahaan (Candrayanthi & Saputra, 2013).
3. NPM (Net Profit Margin)
Net Profit Margin (NPM) merupakan rasio yang menghitung sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu. Rasio ini diinterpretasikan juga sebagai kemampuan perusahaan menekan biaya-biaya perusahaan pada peiode tertentu (Candrayanthi & Saputra, 2013).
2.2.8 Kerangka Pemikiran Teoritis
Gambar 2.1
Model Penelitian
Sumber: Dikembangkan ditujukan untuk penelitian ini
Variabel Mediasi: Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) Risk Likuiditas Debt-to Equity Variabel Independen Ukuran Perusahaan (Firm Size) Debt-to Equity Ratio (DER) ROE ROA Debt-to Equity NPM Variabel Dependen: Profitabilitas Perusahaan pertambangan Variabel Kontrol:
25 2.3 Hipotesis Penelitian
2.3.1 Pengaruh Debt to Equity Ratio Terhadap CSR
Setiap perusahaan membutuhkan dana untuk menjalankan aktivitas operasionalnya, sehingga dibutuhkan peran manajemen dalam membuat keputusan pendanaan yang tepat untuk perusahaan. Dana yang diperlukan oleh perusahaan bersumber dari pemilik perusahaan maupun dari pinjaman. Penggunaan utang dalam sumber pendanaan mempunyai manfaat, seperti dapat mengurangi jumlah pembayaran pajak karena beban bunga tetap yang ditimbulkan dari utang berbeda dengan pembayaran deviden yang tidak dapat mengurangi pembayaran pajak. Namun, penggunaan utang juga mempunyai kerugian karena timbulnya ancaman akan biaya keagenan dan kebangkrutan. Salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat penggunaan utang di perusahaan adalah debt-to equity ratio. Debt debt-to equity ratio menunjukkan kemampuan modal sendiri dalam membiayai utang yang dimiliki perusahaan.
Berdasarkan Legitimacy Theory, apabila dalam menjalankan kegiatan operasionalnya perusahaan telah menciptakan keseimbangan antara manfaat yang diperoleh dengan pengorbanan yang ditimbulkan dari akibat penggunaan utang, maka aktivitas tersebut dapat diterima oleh pihak eksternal yang berarti legitimasi telah didapatkan perusahaan (Murekefu & Ouma, 2012). Sebaliknya, apabila penggunaan utang menyebabkan adanya ancaman kebangkrutan, maka hal ini akan menimbulkan kesenjangan legitimasi yang akan mengancam kelangsungan hidup perusahaan.
26 Penelitian yang dilakukan oleh Sari dan Budiasih (2014) menunjukkan bahwa Debt to Equity Ratio berpengaruh negatif terhadap CSR. Sedangkan Jang (2013) serta Murekefu dan Ouma (2012) menunjukkan bahwa Debt to Equity Ratio berpengaruh positif terhadap CSR. Berdasarkan uraian di atas, dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H1 : Debt to Equity Ratio berpengaruh positif terhadap CSR
2.3.2 Pengaruh Firm Size Terhadap CSR
Ukuran perusahaan (firm size) merupakan suatu skala yang berfungsi untuk mengklasifikasikan besar kecilnya entitas bisnis. Skala ukuran perusahaan dapat mempengaruhi luas pengungkapan informasi dalam laporan keuangan mereka. Perusahaan besar cenderung akan mengungkapkan informasi lebih banyak daripada perusahaan kecil. Hal ini karena perusahaan besar akan menghadapi resiko politis yang lebih besar dibanding perusahaan kecil. Secara teoritis perusahaan besar tidak akan lepas dari tekanan politis, yaitu tekanan untuk melakukan pertanggungjawaban sosial. Sehingga perusahaan besar cenderung akan mengeluarkan biaya untuk mengungkapkan informasi sosial yang lebih besar dibandingkan perusahaan kecil. Pengungkapan sosial yang lebih besar merupakan pengurangan biaya politis bagi perusahaan. Dengan mengungkapkan kepedulian pada lingkungan melalui pelaporan keuangan, maka perusahaan dalam jangka waktu panjang bisa terhindar dari biaya yang sangat besar akibat dari tuntutan masyarakat.
27 Ukuran perusahaan bisa didasarkan pada total asset (aktiva tetap, tidak berwujud dan lain-lain), jumlah tenaga kerja, volume penjualan dan kapitalisasi pasar (Kurniawansyah & Mutmainah, 2013). Ukuran perusahaan yang diukur dengan total asset akan ditransformasikan dalam logaritma of natural untuk menyamakan dengan variabel lain karena total aset perusahaan nilainya relatif besar dibandingkan variabel-variabel lain (ln of total asset). Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui bahwa semakin besar total aset yang dimiliki maka akan semakin besar pula tanggung jawab sosialyang harus diungkapkan.
Firm size merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan profitabilitas (Ammar, 2003). Semakin besar firm size akan mengakibatkan biaya yang lebih besar, sehingga dapat mengurangi profitabilitas. Perusahaan besar cenderung memiliki skala dan keleluasan ekonomis yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan kecil, sehingga akan lebih mudah untuk mendapatkan pinjaman yang pada akhirnya akan meningkatkan profitabilitas perusahaan (Sari & Budiasih, 2014). Berdasarkan Signalling theory, apabila profitabilitas perusahaan semakin tinggi maka perusahaan akan memiliki dorongan yang lebih besar untuk memberikan informasi laporan keuangannya tersebut kepada pihak eksternal.
Berdasarkan Stakeholder theory, selain untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sebuah perusahaan juga akan memuaskan pihak stakeholder salah satu caranya dengan memberikan kinerja keuangan yang baik (Kurniawansyah & Mutmainah, 2013). Skala ukuran perusahaan dapat mempengaruhi luas pengungkapan informasi dalam laporan keuangan mereka. Perusahaan besar
28 cenderung akan mengungkapkan informasi lebih banyak daripada perusahaan kecil, maka perusahaan berskala besar berpotensi lebih besar untuk mendapatkan profitabilitas yang lebih tinggi daripada perusahaan berskala kecil. Dengan tercapainya profitabilitas yang tinggi, maka kepuasan pihak stakeholder pun akan terjamin.
Penelitian yang dilakukan oleh Sari dan Budiasih (2014), Kurnianingsih (2013) serta Hirigoyen dan Poulain-rehm (2012) menunjukkan bahwa firm size berpengaruh positif terhadap CSR. Berdasarkan uraian di atas, dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H2 : Firm Size berpengaruh positif terhadap CSR
2.3.3 Pengaruh CSR Terhadap Profitabilitas Perusahaan
CSR yang dimaksudkan dalam variabel ini terkait dengan jenis program Socially Responsible Business Practice (SRBP). Menurut Kotler (2005), SRBP adalah: “Praktek bisnis dimana perusahaan melakukan investasi yang mendukung pemecahan suatu masalah sosial untuk meningkatkan kesejahteraan komunitas dan melindungi lingkungan”.
Komunitas yang dimaksud diatas diantaranya adalah pihak stakeholder yang berada di eksternal perusahaan, seperti investor, distributor, organisasi nirlaba dan sektor publik yang menjadi mitra perusahaan, serta masyarakat secara umum. Program (SRBP) terfokus pada Program Kemitraan dan Bina Lingkungan, dimana PKBL adalah istilah CSR untuk BUMN di seluruh Indonesia.
29 Pengaruh pengungkapan CSR terhadap kinerja keuangan dilakukan dengan melalui beberapa rasio profitabilitas. Rasio Profitabilitas dalam variabel ini adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa efektif perusahaan beroperasi sehingga menghasilkan keuntungan pada perusahaan. Semakin besar rasio profitabilitas, semakin baik kinerja keuangan perusahaan.
Berdasarkan Teori Sinyal, semakin baik kinerja keuangan perusahaan yang tercerminkan melalui profitabilitasnya, maka pengungkapan CSR perusahaan akan lebih luas. Pengungkapan yang semakin luas akan memberikan sinyal positif kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan (stakeholder) maupun para pemegang saham perusahaan (shareholder). Semakin luas informasi yang disampaikan kepada stakeholder dan shareholder maka akan semakin memperbanyak informasi yang diterima mengenai perusahaan.
Berdasarkan teori Stakeholder, ketika stakeholder mulai mengendalikan sumber ekonomi yang penting bagi perusahaan, maka perusahaan akan bereaksi dengan memuaskan keinginan stakeholdernya. Dalam meningkatkan eksistensinya, perusahaan memerlukan dukungan stakeholders sehingga aktivitas perusahaan harus mempertimbangkan persetujuan dari stakeholders. Semakin kuat stakeholders, maka perusahaan harus semakin beradaptasi dan memperhatikan stakeholders. Perusahaan berusaha memperhatikan seluruh stakeholders salah satunya dengan melakukan aktivitas CSR sehingga perusahaan memperoleh kredibilitas dan reputasi yang baik dari seluruh stakeholders, dan hal itu diharapkan mampu meningkatkan kredibilitas dan reputasi terhadap perusahaan. Dengan meningkatnya kredibilitas dan reputasi maka akan ada “timbal balik” dari
30 stakeholders ke perusahaan, seperti menambah loyalitas konsumen, memanfaatkan pengetahuan dan tenaga lokal, keamanan usaha yang lebih besar, dan “lisensi untuk beroperasi”, sehingga timbal balik tersebut akan mengurangi resiko jangka panjang dan kemudian mampu meningkatkan profitabilitas perusahaan dimasa depan.
Berdasarkan Legitimacy theory, Legitimasi didapatkan jika apa yang dijalankan oleh perusahaan telah selaras dengan apa yang juga diinginkan oleh masyarakat. Kesenjangan harapan antara operasional perusahaan dengan harapan masyarakat dapat menimbulkan kesenjangan legitimasi, yang menyebabkan perusahaan tidak memperoleh legitimasi dan terancamnya kelangsungan hidup perusahaan. Untuk mengurangi kesenjangan legitimasi tersebut, perusahaan perlu melakukan seperangkat strategi legitimasi, seperti meningkatkan tanggung jawab sosial (social responsibility) dan keterbukaan berupa pengungkapan sosial. Jadi, disamping suatu perusahaan melaporkan operasional dengan kinerja keuangan yang baik, pengungkapan CSR merupakan hal penting untuk membangun, mempertahankan, dan melegitimasi kontribusi perusahaan dari sisi ekonomi dan politis, sehingga akan menjamin kelangsungan hidup perusahaan (Rosiana, Juliarsa, & Sari, 2013). Dengan terjaminnya kelangsungan hidup perusahaan, maka profitabilitas jangka panjang perusahaan juga akan terjamin.
Penelitian yang dilakukan oleh Kurniawansyah dan Mutmainah (2013), Wardhani (2013), serta Candrayanthi dan Saputra (2013) menunjukkan bahwa CSR berpengaruh positif terhadap ROA. Penelitian yang dilakukan oleh Candrayanthi dan Saputra (2013) dan Adhiwardana (2013) menunjukkan bahwa
31 CSR berpengaruh positif terhadap ROE, dan penelitian yang dilakukan oleh Candrayanthi dan Saputra (2013) menunjukkan bahwa CSR berpengaruh negatif terhadap NPM sebagai proksi dari kinerja keuangan. Berdasarkan uraian di atas, dirumuskan hipotesis sebagai berikut: