• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAPARAN KEBIJAKAN INDUSTRI PARIWISATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PAPARAN KEBIJAKAN INDUSTRI PARIWISATA"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

ASDEP INDUSTRI PARIWISATA

PAPARAN KEBIJAKAN INDUSTRI

PARIWISATA

Kementerian Pariwisata

1

DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN DESTINASI DAN INDUSTRI PARIWISATA

(2)

DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN PEMASARAN PARIWISATA MANCANEGARA BIRO PERENCANAAN DAN KEUANGAN BIRO HUKUM DAN KOMUNIKASI PUBLIK BIRO UMUM, KEPEGAWAIAN DAN ORGANISASI DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN PEMASARAN PARIWISATA NUSANTARA ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN KOMUNIKASI PEMASARAN PARIWISATA MANCANEGARA ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN PASAR ASIA

PASIFIK ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN PASAR EROPA, TIMTENG,

AMERIKA DAN AFRIKA ASISTEN DEPUTI STRATEGI PEMASARAN PARIWISATA MANCANEGARA

ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN PASAR ASIA

TENGGARA SEKRETARIAT DEPUTI

ASISTEN DEPUTI ANALISIS DATA PASAR PARIWISATA NUSANTARA ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN KOMUNIKASI PEMASARAN PARIWISATA NUSANTARA ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN SEGMEN PASAR

PERSONAL ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN SEGMEN PASAR

BISNIS DAN PEMERINTAH ASISTEN DEPUTI STRATEGI PEMASARAN PARIWISATA NUSANTARA SEKRETARIAT DEPUTI DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN DESTINASI DAN INDUSTRI

PARIWISATA STF AHL I F AHL I STAF AHLI ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN SDM KEPARIWISATAAN ASISTEN DEPUTI HUBUNGAN KELEMBAGAAN KEPARIWISATAAN ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN SDM APARATUR ASISTEN DEPUTI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

KEBIJAKAN KEPARIWISATAAN ASISTEN DEPUTI PENGENDALIAN TRANSFORMASI STP/ AKPAR SEKRETARIAT DEPUTI DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN KEPARIWISATAAN ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN DESTINASI WISATA ALAM DAN BUATAN

ASISTEN DEPUTI INDUSTRI PARIWISATA ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN DESTINASI WISATA BUDAYA ASISTEN DEPUTI TATA KELOLA DESTINASI DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR DAN EKOSISTEM

SEKRETARIAT DEPUTI

MENTERI PARIWISATA

INSPEKTORAT

(ESELON II) SEKRETARIAT KEMENTERIAN

(3)

STRUKTUR ORGANISASI

ASDEP INDUSTRI PARIWISATA

ASDEP INDUSTRI PARIWISATA

KABID KEMITRAAN USAHA

PARIWISATA KABID STANDAR USAHA PARIWISATA

KASUBBID KERJASAMA LINTAS SEKTOR DAN DAERAH

KABID SERTIFIKASI USAHA

PARIWISATA KABID INVESTASI PARIWISATA

KASUBBID KERJASAMA PELAKU USAHA PARIWISATA

KASUBBID STANDAR USAHA JASA PARIWISATA

KASUBBID STANDAR USAHA

SARANA PARIWISATA KASUBBID ERTIFIKASI USAHA SARANA PARIWISATA KASUBBID SERTIFIKASI

USAHA JASA PARIWISATA KASUBBID POTENSI INVESTASI

KASUBBID PROMOSI INVESTASI

(4)

SF

: KONDISI SAAT INI DAN TARGET PARIWISATA

PADA TAHUN 2019

Indeks Daya Saing kepariwisataanKedatangan Wisatawan Mancanegara Perjalanan Wisatawan Nusantara Kontribusi terhadap PDB (WTTC) Devisa

Kontribusi terhadap Kesempatan Kerja

2014

TARGET 2019

15% Rp. 240 triliun 13 juta 9 % (Rp. 946,09 triliun) Rp. 120 triliun 11 juta #30 20 juta 275 juta #70 9 juta 250 juta ma c ro mi c ro

Malaysia : 27,4 juta (million) Singapore : 15,1 juta (million) Thailand : 24,8 juta (million)

*) Source data : UNWTO – United Nation World Tourism Organization **) WEF : World Economic Forum Perbandingan dengan negara ASEAN lainnya (2014):

(5)

5

PRODUCT PORTFOLIO TOURISM & INTERNATIONAL TOURIST

CONTRIBUTION PER PRODUCT PORTFOLIO

Great Bali

MAIN PRODUCTS Nature (35 %) 1. MARINE TOURISM (35%) 2. ECO TOURISM (45%) 3. ADVENTURE TOURISM (20%) Culture (60 %)

1. HERITAGE AND PILGRIM TOURISM (20%) 2. CULINARY AND SHOPPING TOURISM (45%) 3. CITY AND VILLAGE TOURISM (35%)

Man Made (5 %)

1. MICE & EVENTS TOURISM (25%) 2. SPORT TOURISM (60%)

3. INTEGRATED AREA TOURISM (15%)

(6)

4.48 5.16 4.24 4.7 3.73 5.61 3.55 6.11 3.11 3.81 3.27 3.07 4.36 3.12 4.3 4.4 2.9 4.9 2.7 5.4 4.2 5.3 3.9 3.5 3.2 2.1 5.6 3.5 0 1 2 3 4 5 6 7 Business Environment / Policy Rules &

Regulations

Safety and Security

Health and Hygiene

Human Resources and Labour Market

ICT Readiness Prioritization of Travel

and Tourism International Openness /

Affinity for T&T Price Competitiveness

Environmental Sustainability Air Transport

Infrsatructure Ground and Port

Infrastructure Tourist Service

Infrastructure Natural Resources

Cultural Resources and Business Travel

Daya Saing Kepariwisataan Indonesia

TTCI 2015 TTCI 2013

SSA

: INDEKS DAYA SAING

TRAVEL&TOURISM INDONESIA

(INDONESIA TRAVEL AND TOURISM COMPETITIVENESS INDEX IN THE WORLD)

Pada tahun 2015, indeks daya saing pariwisata menduduki peringkat ke-50 dari 141 negara

TIGA TERBAWAH:

3 faktor dengan indeks daya saing pariwisata terendah:

1. Tourism Service Infrastructure 2. Health and Hygiene

3. Environmental Sustainability

TIGA TERATAS:

3 faktor dengan indeks daya saing pariwisata tertinggi:

1. Price Competitiveness

2. Prioritization of Travel &Tourism 3. Natural Resources

(7)

Peringkat Pilar Penentu Daya Saing Pariwisata Indonesia Tahun 2013 dan 2015

PILAR PERINGKAT DUNIA PERINGKAT KENAIKAN International Openness 55 +59 Business Environment 63 +30 Air Transport Infrastructure 39 +15 Cultural Resources and Business

Travel 25 +13

Tourist Service Infrastructure 101 +12

Ground Port and Infrastructure 77 +10

Human Resources and Labour

Market 53 +8

Price Competitiveness 3 +6

Prioritization of Travel and Tourism 15 +4

Health and Hygiene 109 +3

Safety and Security 83 +2

ICT Readiness 85 +2

Environmental Sustainability 134 -9 Natural Resources 19 -13 Tiga Teratas Tiga Terbawah

PILAR 2013 2015

Price Competitiveness 9 3 Prioritization of Travel and Tourism 19 15 Natural Resources 6 19

Cultural Resources and Business Travel 38 25

Air Transport Infrastructure 54 39

Human Resources and Labour Market 61 53

International Openness 114 55

Business Environment 93 63

Ground Port and Infrastructure 87 77

Safety and Security 85 83

ICT Readiness 87 85

Tourist Service Infrastructure 113 101 Health and Hygiene 112 109 Environmental Sustainability 125 134

Kenaikan Peringkat Pilar Penentu Daya Saing Pariwisata Indonesia

(8)

SF:

STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI PARIWISATA

Peningkatan Daya Saing Produk Usaha

Pariwisata

Peningkatan Kemitraan Usaha Pariwisata

Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (ASITA), Gabungan Pengusaha Wisata Bahari Indonesia (GAHAWISRI), Indonesia Congress And

Convention Association (INCCA), Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI), Himpunan Pramuwisata

Indonesia (HPI), Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI), Society of Indonesia Profesional Convention Organization (SIPCO), Himpunan Pendidikan Tinggi Pariwisata (HILDIKTIPARI), Asosiasi Perusahaan Impresariat Indonesia (ASPINDO), Asosiasi Perusahaan Penyelenggara Pameran dan Konvensi Indonesia (ASPERAPI), Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia, Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia (APJI), Asosiasi Spa Indonesia (ASPI)

*Daftar Asosiasi Usaha Pariwisata:

Pengembangan Tanggung Jawab Lingkungan

Peningkatan Investasi Pariwisata

No Bidang Usaha Pariwisata

1 Daya Tarik Wisata; 2 Kawasan Pariwisata; 3 Jasa Transportasi Wisata; 4 Jasa Perjalanan Wisata;

5 Jasa Makanan Dan Minuman; 6 Penyediaan Akomodasi;

7 Penyelenggaraan Kegiatan Hiburan Dan Rekreasi; 8 Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konferensi, dan Pameran (MICE); 9 Jasa Informasi; 10 Jasa Konsultan; 11 Jasa Pramuwisata; 12 Wisata Tirta; 13 Spa 8

(9)

SI:

IMPLEMENTASI STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI

PARIWISATA

Strategi

Implementasi

Peningkatan Daya Saing Produk Usaha Pariwisata  Standarisasi Usaha:

• Pasal 54 UU No.10/2009 tentang Kepariwisataan; PP No.52/2012 tentang Sertifikasi Kompetensi dan Sertifikasi Usaha Pariwisata, pasal 18;

• Tahun 2014: 26 standar usaha; Target tahun 2019: 56 standar usaha

 Sertifikasi Usaha: dilaksanakan oleh LSU Bidang Pariwisata (Tahun 2014: 20 LSU)

• Usaha pariwisata yang disertifikasi tahun 2014: 56 Usaha Hotel, Target tahun 2019: 2000 Usaha Hotel

• Jumlah Auditor: tahun 2014: 600; Target tahun 2019: 7500 auditor

Pengembangan Tanggung Jawab Lingkungan

Pengembangan manajemen usaha pariwisata yang mengacu pada prinsip-prinsip: pembangunan pariwisata berkelanjutan; kode etik pariwisata dunia dan; ekonomi hijau

Sustainable Tourism Development:

 Green Tourism Industry: Pedoman Pengelolaan Hotel Berwawasan Lingkungan; National Green Hotel Award (10 Hotel Terbaik); ASEAN Green Hotel

 Penerapan Kode Etik Pariwisata Global

Peningkatan Investasi pariwisata:

 Profil Investasi

• Wilayah administratif kabupaten/kota (RIPPARDA/RTRW):

• 88 KSPN dan 222 KPPN • Kebutuhan jenis usaha

• Ketersediaan lahan yang clean and clear

• Insentif: PTSP, keringanan bea masuk, kemudahan perijinan

 Promosi investasi

• Terintegrasi dengan BKPM, forum TTI • Fokus pada negara asal investor (5 negara:

Singapura, Korea Selatan, Honkong RRT, Australia dan Jepang)

• Media promosi: digital, advetorial, site visit, dan keikutsertaan pada event promosi luar negeri

(10)

UU No. 10 Thn 2009 tentang Kepariwisataan

Pasal 15 Ayat (1) dan (2):

• Untuk dapat menyelenggarakan usaha

pariwisata, pengusaha pariwisata wajib

mendaftarkan usahanya terlebih dulu

kepada Pemerintah atau Pemerintah Daerah;

• Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara

pendaftaran diatur dengan Peraturan

Menteri.

(11)

Pasal 53

1)

Tenaga kerja di bidang kepariwisataan memiliki

standar kompetensi

.

2)

Standar kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui

sertifikasi kompetensi

3)

Sertifikasi kompetensi dilakukan oleh

Lembaga Sertifikasi Profesi

yang telah

mendapat lisensi sesuai dengan peraturan perundang-undangan

11

Pasal 54

1)

Produk, pelayanan, dan pengelolaan usaha pariwisata memiliki

standar

usaha

,

2)

Standar usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui

sertifikasi usaha

,

3)

Sertifikasi usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh

Lembaga Mandiri

yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang – undangan.

Pasal 55

Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi kompetensi sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 53 dan sertifikasi usaha sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 54 diatur dalam

Peraturan Pemerintah.

(12)
(13)

13

STANDAR USAHA PARIWISATA

1. Kawasan pariwisata, 2. Angkutan jalan wisata, 3. Perjalanan wisata (BPW), 4. Perjalanan wisata (APW), 5. Hotel (bintang), 6. Hotel (non bintang) 7. Villa, 8. Pondok wisata, 9. Restoran, 10. Rumah makan, 11. Rumah minum (bar) 12. Café 13. Jasa boga, 14. Kelab malam, 15. Diskotik, 16. Pub, 17. Taman rekreasi, 18. Karaoke, 19. Jasa impresariat, 20. Mice, 21. Jasa informasi pariwisata 22. Jasa konsultan pariwisata 23. Wisata selam, 24. Arung jeram, 25. Spa, 26. Arena permainan, 27. Usaha lapangan golf, 28. Wisata perahu layar.

(14)

STANDAR USAHA PARIWISATA

1. Pengelolaan pemandian air panas alami 2. Pengelolaan goa 3. Pengelolaan museum 4. Pengelolaan obyek ziarah 5. Rumah bilyar 6. Gelangang renang 7. Panti Pijat 8. Taman Bertema 9. Pramuwisata 10. Memancing 11. Wisata selancar 12. Dermaga Bahari 13. Motel 14. Lapangan Tenis 15. Gelanggang Bowling 16. Sanggar Seni 17. Galeri Seni 18. Gedung Pertunjukan Seni 19. Wisata Dayung 20. Pengelolaan Peninggalan Sejarah

dan purbkala berupa candi, keraton, petilasan, dan bagunan kuno 21. Pengelolaan pemukiman dan/atau lingkungan adat 22. Pusat penjualan makanan 23. Bumi perkemahan 24. Persinggahan karavan 25. Angkutan kereta api

wisata,

26. Angkutan sungai dan danau wisata,

27. Angkutan laut domestik wisata,

28. Angkutan laut internasional wisata.

(15)

SERTIFIKASI USAHA PARIWISATA

FASILITASI LEMBAGA SERTIFIKASI USAHA (LSU) BIDANG

PARIWISATA

a. LSU merupakan lembaga mandiri yang independen

sebagaimana diperintahkan UU 10 – 2009 ps. 55 untuk

melaksanakan sertifikasi Uspar.

b. Sesuai PP 52 – 2012, LSU ditunjuk dan ditetapkan Oleh

Menteri Pariwisata atas rekomendasi Komisi Otorisasi

yang dibentuk oleh Menteri Pariwisata

c. Komisi Otorisasi terdiri dari para pakar dan praktisi yang

diketuai oleh Dirjen PDP.

d. Tahun 2014 sudah ditunjuk dan ditetapkan oleh Menteri

Pariwisata sebanyak 20 LSU Bidang Pariwisata

(16)

HIGHLIGHT

PENGEMBANGAN INDUSTRI PARIWISATA

FASILITASI AUDITOR BIDANG PARIWISATA

a. Auditor Adalah Orang Yang Melakukan Audit Usaha

Pariwisata Untuk Memastikan Bahwa Sistem Manajemen

Dari Suatu Usaha Pariwisata Sesuai Dengan Standar Yang

Ditentukan.

b. Sampai Dengan Tahun 2014 Telah Terbentuk Auditor Bidang

Pariwisata Sebanyak 539 Orang. Dari Jumlah Tersebut Yang

Difasilitasi Oleh Kementerian Pariwisata Sebanyak 337

Orang , Sedangkan Auditor Bidang Pariwisata Yang Dibentuk

Sendiri Oleh LSU Bidang Pariwisata Sebanyak 202 Orang.

Auditor Tersebut Mencakup Bidang Usaha Hotel, Spa,

Diskotik, Kelab Malam, Pub, Karaoke, Restoran, Rumah

Makan, Kafe, Bar, Arena Permainan, Taman Rekreasi, Selam,

Jasa Perjalanan Wisata, Impresariat, dan MICE .

(17)
(18)

GREEN HOTEL AWARD 2015

a. Diselenggarakan Ke 3, pada Tahun Ganjil dan 10 Terbaik Diantaranya

Diusulkan Untuk Mengikuti ASEAN Green Hotel Yang Dilaksanakan

Dua Tahun Sekali Pada Tahun Berikutnya.

b. Pemberian

Penghargaan

Oleh

Menparekraf

Direncanakan

Dilaksanakan Pada Hari Pariwisataa Dunia.

c. Kriteria Penilaian Meliputi Manajemen Hotel Berwawasan Lingkungan,

Operasional Hotel Berwawasan Lingkungan, Efisiensi Lahan, Efisiensi

Penggunaan Material Bangunan Dan Pendukung Operasional Hotel,

Efisiensi Energi Dan Manajemen Pengelolaannya, Kualitas

Pengudaraan Untuk Pengendalian Kesehatan Dan Kenyamanan Dalam

Lingkungan, Air Dan Manajemen Penggunaannya, Dan Pengelolaan

Limbah.

d. Tim Juri terdiri dari: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,

Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Sumber Daya Mineral

(ESDM), Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI), Green

Building Council Indonesia (GBCI), Pakar Lingkungan, Asosiasi Ahli

Teknik Hotel Indonesia (ASATHI), dan TA Lingkungan

(19)

ISU STRATEGIS

PENGEMBANGAN INDUSTRI PARIWISATA

VISA

a. Negara Pesaing Indonesia, Kecuali Vietnam Memberikan Lebih Banyak Kemudahan (BVKS) ke Negara Pasar Wisman.

b. Jangka Waktu Pemberian Visa Oleh Negara Pesaing Tersebut, Kecuali Vietnam Dan Phillippine Lebih Lama.

c. Hasil Dan Tindak Lanjut Rapat Koordinasi Gabungan 5 November 2014

Disepakati Pembentukan Tim/Panitia antar Kementerian Terkait Yang Dipimpin

Dirjen Imigrasi Untuk Menyusun Rancangan Perpres Tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS) bagi Wisatawan Mancanegara (Wisman) yang datang dari Tiongkok, Rusia, Jepang, dan Korea Selatan;

Melalui kebijakan third country visa (wisman yang telah memiliki kunjungan ke

Singapura, Malaysia dan Thailand dapat berkunjung ke Indonesia tanpa harus memiliki visa kunjungan dari pihak Indonesia) akan ditindaklanjuti Oleh Kemlu dengan melakukan Pembicaraan Bilateral Dengan Negara – Negara Tersebut .

(20)

Implikasi Kebijakan Pemberian Bebas Visa

Kunjungan

Tahun 2015 diperkirakan ada tambahan kunjungan

wisman sebanyak 500.000, yang berarti minimal akan

tercapai total kunjungan wisman sebanyak 10,5 juta

wisman

Tahun 2015 minimal ada 3 bulan kunjungan wisman

tercapai 1 juta perbulan salah satunya adalah bulan Juli.

Diharapkan adanya peningkatan investasi di bidang

pariwisata rata-rata sebesar 43,32% setiap tahunnya dari

tahun 2015.

(21)

ISU STRATEGIS

PENGEMBANGAN INDUSTRI PARIWISATA

2.

Liberalisasi Ekonomi

a. Sesuai UU 38 tahun 2008, tahun 2015 sektor pariwisata Indonesia memasuki pasar tunggal ASEAN.

b. Sebagian besar usaha pariwisata Indonesia belum siap untuk memasuki pasar tunggal ASEAN

Usulan:

1) Perlunya peningkatan sosialisasi pemberlakuan pasar tunggal ASEAN akhir tahun 2015.

2) Perlunya percepatan penerapan

standar usaha pariwisata

dan standar kompetensi TK di bidang pariwisata..

3.

Ekosistem Industri Pariwisata

a. Sesuai UU 10 tahun 2009 pasal 50, GIPI adalah mitra kerja pemerintah sekaligus sebagai wadah untuk berkomunikasi bagi para pelaku pariwisata..

b. GIPI belum dapat melaksanakan peran dan fungsinya, sehingga belum bisa mencegah dan mengurangi persaingan usaha yang kurang sehat.

Usulan:

1) Pemerintah c.q Kemen Pariwisata perlu memberikan fasilitasi kepada GIPI agar dapat melaksanakan peran dan fungsinya sebagaimana mestinya.

2) Perlunya penetapan dan pelaksanaan

kode etik

dalam lingkungan usaha pariwisata.

2

(22)

PENGEMBANGAN KEDEPAN

INDUSTRI PARIWISATA INDONESIA

1. Terlaksananya implementasi UU 10 tahun 2009 pasal 29 dan 30, Pemda menyelenggarakan TDUP.

2. Terlaksananya implementasi pasal 53 UU 10 tahun 2009 yang memerintahkan TK bidang pariwisata memiliki standar kompetensi.

3. Terlaksananya implementasi pasal 54 UU 10 tahun 2009 yang menyebutkan aspek produk, pelayanan dan pengelolaan usaha pariwisata sebagai standar usaha Pariwisata.

4. Terbentuknya LSU bidang pariwisata untuk 13 Bidang Usaha Pariwisata melaksanakan sertifikasi usaha pariwisata di berbagai daerah.

5. Tersedianya jumlah auditor usaha pariwisata yang cukup seiring pertumbuhan LSU bidang pariwisata, yang keberadaannya menyebar di 34 Propinsi

6. Terlaksananya implementasi pasal 26 butir n UU 10 tahun 2009, pengusaha pariwisata wajib menerapkan standar kompetensi TK dan standar usaha pariwisata.

7. Terlaksananya pemberlakuan kebijakan pemberian BVKS tidak hanya secara timbal balik (resiprokal) dan manfaat namun juga diberikan kepada wisatawan dari sumber pasar wisman Indonesia hanya berdasarkan azas manfaat.

8. Terlaksananya kebijakan third country visa melalui Singapura, Vietnam, Thailand.

(23)

Referensi

Dokumen terkait

o Mengembangkan pemasaran dan promosi pariwisata dengan meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara sebesar 20 (dua puluh) persen secara bertahap dalam

PDB Bidang Pariwisata INVESTASI • 50 DPN (Destinasi Pariwisata Nasional); • 88 KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional); • 222 KPPN (Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional)

PDB Bidang Pariwisata INVESTASI • 50 DPN (Destinasi Pariwisata Nasional); • 88 KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional); • 222 KPPN (Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional)

Hal ini dapat dimengerti mengingat; (1) aktivitas pemasaran yang dilaksanakan oleh unit-unit bisnis pariwisata yang ada di destinasi pariwisata dimaksud maupun yang

DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN DESTINASI DAN INDUSTRI PARIWISATA (01) Unit Organisasi (427010) Kementerian Negara/Lembaga SEKRETARIAT KEMENTERIAN (01) Kode/Nama Satker (040) : : DKI

DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN PEMASARAN PARIWISATA NUSANTARA (01) Unit Organisasi (427201) Kementerian Negara/Lembaga SEKRETARIAT KEMENTERIAN (01) Kode/Nama Satker (040) : : DKI

Kepala Dinas mempunyai tugas pokok membantu Bupati melaksanakan urusan pemerintahan di bidang pengembangan destinasi, industri pariwisata dan pemasaran pariwisata

Di Mandalika belum terdapat armada yang dapat mengantarkan wisatawan ke destinasi wisata, seperti bus pariwisata, kereta atau sarana transfortasi umum lainnya, pemerintah