ASDEP INDUSTRI PARIWISATA
PAPARAN KEBIJAKAN INDUSTRI
PARIWISATA
Kementerian Pariwisata
1
DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN DESTINASI DAN INDUSTRI PARIWISATA
DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN PEMASARAN PARIWISATA MANCANEGARA BIRO PERENCANAAN DAN KEUANGAN BIRO HUKUM DAN KOMUNIKASI PUBLIK BIRO UMUM, KEPEGAWAIAN DAN ORGANISASI DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN PEMASARAN PARIWISATA NUSANTARA ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN KOMUNIKASI PEMASARAN PARIWISATA MANCANEGARA ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN PASAR ASIA
PASIFIK ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN PASAR EROPA, TIMTENG,
AMERIKA DAN AFRIKA ASISTEN DEPUTI STRATEGI PEMASARAN PARIWISATA MANCANEGARA
ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN PASAR ASIA
TENGGARA SEKRETARIAT DEPUTI
ASISTEN DEPUTI ANALISIS DATA PASAR PARIWISATA NUSANTARA ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN KOMUNIKASI PEMASARAN PARIWISATA NUSANTARA ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN SEGMEN PASAR
PERSONAL ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN SEGMEN PASAR
BISNIS DAN PEMERINTAH ASISTEN DEPUTI STRATEGI PEMASARAN PARIWISATA NUSANTARA SEKRETARIAT DEPUTI DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN DESTINASI DAN INDUSTRI
PARIWISATA STF AHL I F AHL I STAF AHLI ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN SDM KEPARIWISATAAN ASISTEN DEPUTI HUBUNGAN KELEMBAGAAN KEPARIWISATAAN ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN SDM APARATUR ASISTEN DEPUTI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
KEBIJAKAN KEPARIWISATAAN ASISTEN DEPUTI PENGENDALIAN TRANSFORMASI STP/ AKPAR SEKRETARIAT DEPUTI DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN KEPARIWISATAAN ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN DESTINASI WISATA ALAM DAN BUATAN
ASISTEN DEPUTI INDUSTRI PARIWISATA ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN DESTINASI WISATA BUDAYA ASISTEN DEPUTI TATA KELOLA DESTINASI DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
ASISTEN DEPUTI PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR DAN EKOSISTEM
SEKRETARIAT DEPUTI
MENTERI PARIWISATA
INSPEKTORAT
(ESELON II) SEKRETARIAT KEMENTERIAN
STRUKTUR ORGANISASI
ASDEP INDUSTRI PARIWISATA
ASDEP INDUSTRI PARIWISATA
KABID KEMITRAAN USAHA
PARIWISATA KABID STANDAR USAHA PARIWISATA
KASUBBID KERJASAMA LINTAS SEKTOR DAN DAERAH
KABID SERTIFIKASI USAHA
PARIWISATA KABID INVESTASI PARIWISATA
KASUBBID KERJASAMA PELAKU USAHA PARIWISATA
KASUBBID STANDAR USAHA JASA PARIWISATA
KASUBBID STANDAR USAHA
SARANA PARIWISATA KASUBBID ERTIFIKASI USAHA SARANA PARIWISATA KASUBBID SERTIFIKASI
USAHA JASA PARIWISATA KASUBBID POTENSI INVESTASI
KASUBBID PROMOSI INVESTASI
SF
: KONDISI SAAT INI DAN TARGET PARIWISATA
PADA TAHUN 2019
• Indeks Daya Saing kepariwisataan • Kedatangan Wisatawan Mancanegara • Perjalanan Wisatawan Nusantara • Kontribusi terhadap PDB (WTTC) • Devisa
• Kontribusi terhadap Kesempatan Kerja
2014
TARGET 2019
• 15% • Rp. 240 triliun • 13 juta • 9 % (Rp. 946,09 triliun) • Rp. 120 triliun • 11 juta • #30 • 20 juta • 275 juta • #70 • 9 juta • 250 juta ma c ro mi c roMalaysia : 27,4 juta (million) Singapore : 15,1 juta (million) Thailand : 24,8 juta (million)
*) Source data : UNWTO – United Nation World Tourism Organization **) WEF : World Economic Forum Perbandingan dengan negara ASEAN lainnya (2014):
5
PRODUCT PORTFOLIO TOURISM & INTERNATIONAL TOURIST
CONTRIBUTION PER PRODUCT PORTFOLIO
Great Bali
MAIN PRODUCTS Nature (35 %) 1. MARINE TOURISM (35%) 2. ECO TOURISM (45%) 3. ADVENTURE TOURISM (20%) Culture (60 %)1. HERITAGE AND PILGRIM TOURISM (20%) 2. CULINARY AND SHOPPING TOURISM (45%) 3. CITY AND VILLAGE TOURISM (35%)
Man Made (5 %)
1. MICE & EVENTS TOURISM (25%) 2. SPORT TOURISM (60%)
3. INTEGRATED AREA TOURISM (15%)
4.48 5.16 4.24 4.7 3.73 5.61 3.55 6.11 3.11 3.81 3.27 3.07 4.36 3.12 4.3 4.4 2.9 4.9 2.7 5.4 4.2 5.3 3.9 3.5 3.2 2.1 5.6 3.5 0 1 2 3 4 5 6 7 Business Environment / Policy Rules &
Regulations
Safety and Security
Health and Hygiene
Human Resources and Labour Market
ICT Readiness Prioritization of Travel
and Tourism International Openness /
Affinity for T&T Price Competitiveness
Environmental Sustainability Air Transport
Infrsatructure Ground and Port
Infrastructure Tourist Service
Infrastructure Natural Resources
Cultural Resources and Business Travel
Daya Saing Kepariwisataan Indonesia
TTCI 2015 TTCI 2013
SSA
: INDEKS DAYA SAING
TRAVEL&TOURISM INDONESIA
(INDONESIA TRAVEL AND TOURISM COMPETITIVENESS INDEX IN THE WORLD)
Pada tahun 2015, indeks daya saing pariwisata menduduki peringkat ke-50 dari 141 negara
TIGA TERBAWAH:
3 faktor dengan indeks daya saing pariwisata terendah:
1. Tourism Service Infrastructure 2. Health and Hygiene
3. Environmental Sustainability
TIGA TERATAS:
3 faktor dengan indeks daya saing pariwisata tertinggi:
1. Price Competitiveness
2. Prioritization of Travel &Tourism 3. Natural Resources
Peringkat Pilar Penentu Daya Saing Pariwisata Indonesia Tahun 2013 dan 2015
PILAR PERINGKAT DUNIA PERINGKAT KENAIKAN International Openness 55 +59 Business Environment 63 +30 Air Transport Infrastructure 39 +15 Cultural Resources and Business
Travel 25 +13
Tourist Service Infrastructure 101 +12
Ground Port and Infrastructure 77 +10
Human Resources and Labour
Market 53 +8
Price Competitiveness 3 +6
Prioritization of Travel and Tourism 15 +4
Health and Hygiene 109 +3
Safety and Security 83 +2
ICT Readiness 85 +2
Environmental Sustainability 134 -9 Natural Resources 19 -13 Tiga Teratas Tiga Terbawah
PILAR 2013 2015
Price Competitiveness 9 3 Prioritization of Travel and Tourism 19 15 Natural Resources 6 19
Cultural Resources and Business Travel 38 25
Air Transport Infrastructure 54 39
Human Resources and Labour Market 61 53
International Openness 114 55
Business Environment 93 63
Ground Port and Infrastructure 87 77
Safety and Security 85 83
ICT Readiness 87 85
Tourist Service Infrastructure 113 101 Health and Hygiene 112 109 Environmental Sustainability 125 134
Kenaikan Peringkat Pilar Penentu Daya Saing Pariwisata Indonesia
SF:
STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI PARIWISATA
• Peningkatan Daya Saing Produk Usaha
Pariwisata
• Peningkatan Kemitraan Usaha Pariwisata
Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (ASITA), Gabungan Pengusaha Wisata Bahari Indonesia (GAHAWISRI), Indonesia Congress And
Convention Association (INCCA), Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI), Himpunan Pramuwisata
Indonesia (HPI), Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI), Society of Indonesia Profesional Convention Organization (SIPCO), Himpunan Pendidikan Tinggi Pariwisata (HILDIKTIPARI), Asosiasi Perusahaan Impresariat Indonesia (ASPINDO), Asosiasi Perusahaan Penyelenggara Pameran dan Konvensi Indonesia (ASPERAPI), Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia, Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia (APJI), Asosiasi Spa Indonesia (ASPI)
*Daftar Asosiasi Usaha Pariwisata:
• Pengembangan Tanggung Jawab Lingkungan
• Peningkatan Investasi Pariwisata
No Bidang Usaha Pariwisata
1 Daya Tarik Wisata; 2 Kawasan Pariwisata; 3 Jasa Transportasi Wisata; 4 Jasa Perjalanan Wisata;
5 Jasa Makanan Dan Minuman; 6 Penyediaan Akomodasi;
7 Penyelenggaraan Kegiatan Hiburan Dan Rekreasi; 8 Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konferensi, dan Pameran (MICE); 9 Jasa Informasi; 10 Jasa Konsultan; 11 Jasa Pramuwisata; 12 Wisata Tirta; 13 Spa 8
SI:
IMPLEMENTASI STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI
PARIWISATA
Strategi
Implementasi
Peningkatan Daya Saing Produk Usaha Pariwisata Standarisasi Usaha:• Pasal 54 UU No.10/2009 tentang Kepariwisataan; PP No.52/2012 tentang Sertifikasi Kompetensi dan Sertifikasi Usaha Pariwisata, pasal 18;
• Tahun 2014: 26 standar usaha; Target tahun 2019: 56 standar usaha
Sertifikasi Usaha: dilaksanakan oleh LSU Bidang Pariwisata (Tahun 2014: 20 LSU)
• Usaha pariwisata yang disertifikasi tahun 2014: 56 Usaha Hotel, Target tahun 2019: 2000 Usaha Hotel
• Jumlah Auditor: tahun 2014: 600; Target tahun 2019: 7500 auditor
Pengembangan Tanggung Jawab Lingkungan
Pengembangan manajemen usaha pariwisata yang mengacu pada prinsip-prinsip: pembangunan pariwisata berkelanjutan; kode etik pariwisata dunia dan; ekonomi hijau
Sustainable Tourism Development:
Green Tourism Industry: Pedoman Pengelolaan Hotel Berwawasan Lingkungan; National Green Hotel Award (10 Hotel Terbaik); ASEAN Green Hotel
Penerapan Kode Etik Pariwisata Global
Peningkatan Investasi pariwisata:
Profil Investasi
• Wilayah administratif kabupaten/kota (RIPPARDA/RTRW):
• 88 KSPN dan 222 KPPN • Kebutuhan jenis usaha
• Ketersediaan lahan yang clean and clear
• Insentif: PTSP, keringanan bea masuk, kemudahan perijinan
Promosi investasi
• Terintegrasi dengan BKPM, forum TTI • Fokus pada negara asal investor (5 negara:
Singapura, Korea Selatan, Honkong RRT, Australia dan Jepang)
• Media promosi: digital, advetorial, site visit, dan keikutsertaan pada event promosi luar negeri
UU No. 10 Thn 2009 tentang Kepariwisataan
Pasal 15 Ayat (1) dan (2):
• Untuk dapat menyelenggarakan usaha
pariwisata, pengusaha pariwisata wajib
mendaftarkan usahanya terlebih dulu
kepada Pemerintah atau Pemerintah Daerah;
• Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara
pendaftaran diatur dengan Peraturan
Menteri.
Pasal 53
1)
Tenaga kerja di bidang kepariwisataan memiliki
standar kompetensi
.2)
Standar kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui
sertifikasi kompetensi
3)
Sertifikasi kompetensi dilakukan oleh
Lembaga Sertifikasi Profesi
yang telah
mendapat lisensi sesuai dengan peraturan perundang-undangan
11
Pasal 54
1)
Produk, pelayanan, dan pengelolaan usaha pariwisata memiliki
standar
usaha
,
2)
Standar usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui
sertifikasi usaha
,
3)
Sertifikasi usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh
Lembaga Mandiri
yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang – undangan.
Pasal 55
Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi kompetensi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 53 dan sertifikasi usaha sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 54 diatur dalam
Peraturan Pemerintah.
13
STANDAR USAHA PARIWISATA
1. Kawasan pariwisata, 2. Angkutan jalan wisata, 3. Perjalanan wisata (BPW), 4. Perjalanan wisata (APW), 5. Hotel (bintang), 6. Hotel (non bintang) 7. Villa, 8. Pondok wisata, 9. Restoran, 10. Rumah makan, 11. Rumah minum (bar) 12. Café 13. Jasa boga, 14. Kelab malam, 15. Diskotik, 16. Pub, 17. Taman rekreasi, 18. Karaoke, 19. Jasa impresariat, 20. Mice, 21. Jasa informasi pariwisata 22. Jasa konsultan pariwisata 23. Wisata selam, 24. Arung jeram, 25. Spa, 26. Arena permainan, 27. Usaha lapangan golf, 28. Wisata perahu layar.
STANDAR USAHA PARIWISATA
1. Pengelolaan pemandian air panas alami 2. Pengelolaan goa 3. Pengelolaan museum 4. Pengelolaan obyek ziarah 5. Rumah bilyar 6. Gelangang renang 7. Panti Pijat 8. Taman Bertema 9. Pramuwisata 10. Memancing 11. Wisata selancar 12. Dermaga Bahari 13. Motel 14. Lapangan Tenis 15. Gelanggang Bowling 16. Sanggar Seni 17. Galeri Seni 18. Gedung Pertunjukan Seni 19. Wisata Dayung 20. Pengelolaan Peninggalan Sejarahdan purbkala berupa candi, keraton, petilasan, dan bagunan kuno 21. Pengelolaan pemukiman dan/atau lingkungan adat 22. Pusat penjualan makanan 23. Bumi perkemahan 24. Persinggahan karavan 25. Angkutan kereta api
wisata,
26. Angkutan sungai dan danau wisata,
27. Angkutan laut domestik wisata,
28. Angkutan laut internasional wisata.
SERTIFIKASI USAHA PARIWISATA
FASILITASI LEMBAGA SERTIFIKASI USAHA (LSU) BIDANG
PARIWISATA
a. LSU merupakan lembaga mandiri yang independen
sebagaimana diperintahkan UU 10 – 2009 ps. 55 untuk
melaksanakan sertifikasi Uspar.
b. Sesuai PP 52 – 2012, LSU ditunjuk dan ditetapkan Oleh
Menteri Pariwisata atas rekomendasi Komisi Otorisasi
yang dibentuk oleh Menteri Pariwisata
c. Komisi Otorisasi terdiri dari para pakar dan praktisi yang
diketuai oleh Dirjen PDP.
d. Tahun 2014 sudah ditunjuk dan ditetapkan oleh Menteri
Pariwisata sebanyak 20 LSU Bidang Pariwisata
HIGHLIGHT
PENGEMBANGAN INDUSTRI PARIWISATA
FASILITASI AUDITOR BIDANG PARIWISATA
a. Auditor Adalah Orang Yang Melakukan Audit Usaha
Pariwisata Untuk Memastikan Bahwa Sistem Manajemen
Dari Suatu Usaha Pariwisata Sesuai Dengan Standar Yang
Ditentukan.
b. Sampai Dengan Tahun 2014 Telah Terbentuk Auditor Bidang
Pariwisata Sebanyak 539 Orang. Dari Jumlah Tersebut Yang
Difasilitasi Oleh Kementerian Pariwisata Sebanyak 337
Orang , Sedangkan Auditor Bidang Pariwisata Yang Dibentuk
Sendiri Oleh LSU Bidang Pariwisata Sebanyak 202 Orang.
Auditor Tersebut Mencakup Bidang Usaha Hotel, Spa,
Diskotik, Kelab Malam, Pub, Karaoke, Restoran, Rumah
Makan, Kafe, Bar, Arena Permainan, Taman Rekreasi, Selam,
Jasa Perjalanan Wisata, Impresariat, dan MICE .
GREEN HOTEL AWARD 2015
a. Diselenggarakan Ke 3, pada Tahun Ganjil dan 10 Terbaik Diantaranya
Diusulkan Untuk Mengikuti ASEAN Green Hotel Yang Dilaksanakan
Dua Tahun Sekali Pada Tahun Berikutnya.
b. Pemberian
Penghargaan
Oleh
Menparekraf
Direncanakan
Dilaksanakan Pada Hari Pariwisataa Dunia.
c. Kriteria Penilaian Meliputi Manajemen Hotel Berwawasan Lingkungan,
Operasional Hotel Berwawasan Lingkungan, Efisiensi Lahan, Efisiensi
Penggunaan Material Bangunan Dan Pendukung Operasional Hotel,
Efisiensi Energi Dan Manajemen Pengelolaannya, Kualitas
Pengudaraan Untuk Pengendalian Kesehatan Dan Kenyamanan Dalam
Lingkungan, Air Dan Manajemen Penggunaannya, Dan Pengelolaan
Limbah.
d. Tim Juri terdiri dari: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,
Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Sumber Daya Mineral
(ESDM), Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI), Green
Building Council Indonesia (GBCI), Pakar Lingkungan, Asosiasi Ahli
Teknik Hotel Indonesia (ASATHI), dan TA Lingkungan
ISU STRATEGIS
PENGEMBANGAN INDUSTRI PARIWISATA
VISA
a. Negara Pesaing Indonesia, Kecuali Vietnam Memberikan Lebih Banyak Kemudahan (BVKS) ke Negara Pasar Wisman.
b. Jangka Waktu Pemberian Visa Oleh Negara Pesaing Tersebut, Kecuali Vietnam Dan Phillippine Lebih Lama.
c. Hasil Dan Tindak Lanjut Rapat Koordinasi Gabungan 5 November 2014
• Disepakati Pembentukan Tim/Panitia antar Kementerian Terkait Yang Dipimpin
Dirjen Imigrasi Untuk Menyusun Rancangan Perpres Tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS) bagi Wisatawan Mancanegara (Wisman) yang datang dari Tiongkok, Rusia, Jepang, dan Korea Selatan;
• Melalui kebijakan third country visa (wisman yang telah memiliki kunjungan ke
Singapura, Malaysia dan Thailand dapat berkunjung ke Indonesia tanpa harus memiliki visa kunjungan dari pihak Indonesia) akan ditindaklanjuti Oleh Kemlu dengan melakukan Pembicaraan Bilateral Dengan Negara – Negara Tersebut .
Implikasi Kebijakan Pemberian Bebas Visa
Kunjungan
•
Tahun 2015 diperkirakan ada tambahan kunjungan
wisman sebanyak 500.000, yang berarti minimal akan
tercapai total kunjungan wisman sebanyak 10,5 juta
wisman
•
Tahun 2015 minimal ada 3 bulan kunjungan wisman
tercapai 1 juta perbulan salah satunya adalah bulan Juli.
•
Diharapkan adanya peningkatan investasi di bidang
pariwisata rata-rata sebesar 43,32% setiap tahunnya dari
tahun 2015.
ISU STRATEGIS
PENGEMBANGAN INDUSTRI PARIWISATA
2.
Liberalisasi Ekonomi
a. Sesuai UU 38 tahun 2008, tahun 2015 sektor pariwisata Indonesia memasuki pasar tunggal ASEAN.
b. Sebagian besar usaha pariwisata Indonesia belum siap untuk memasuki pasar tunggal ASEAN
Usulan:
1) Perlunya peningkatan sosialisasi pemberlakuan pasar tunggal ASEAN akhir tahun 2015.
2) Perlunya percepatan penerapan
standar usaha pariwisata
dan standar kompetensi TK di bidang pariwisata..3.
Ekosistem Industri Pariwisata
a. Sesuai UU 10 tahun 2009 pasal 50, GIPI adalah mitra kerja pemerintah sekaligus sebagai wadah untuk berkomunikasi bagi para pelaku pariwisata..
b. GIPI belum dapat melaksanakan peran dan fungsinya, sehingga belum bisa mencegah dan mengurangi persaingan usaha yang kurang sehat.
Usulan:
1) Pemerintah c.q Kemen Pariwisata perlu memberikan fasilitasi kepada GIPI agar dapat melaksanakan peran dan fungsinya sebagaimana mestinya.
2) Perlunya penetapan dan pelaksanaan
kode etik
dalam lingkungan usaha pariwisata.2
PENGEMBANGAN KEDEPAN
INDUSTRI PARIWISATA INDONESIA
1. Terlaksananya implementasi UU 10 tahun 2009 pasal 29 dan 30, Pemda menyelenggarakan TDUP.
2. Terlaksananya implementasi pasal 53 UU 10 tahun 2009 yang memerintahkan TK bidang pariwisata memiliki standar kompetensi.
3. Terlaksananya implementasi pasal 54 UU 10 tahun 2009 yang menyebutkan aspek produk, pelayanan dan pengelolaan usaha pariwisata sebagai standar usaha Pariwisata.
4. Terbentuknya LSU bidang pariwisata untuk 13 Bidang Usaha Pariwisata melaksanakan sertifikasi usaha pariwisata di berbagai daerah.
5. Tersedianya jumlah auditor usaha pariwisata yang cukup seiring pertumbuhan LSU bidang pariwisata, yang keberadaannya menyebar di 34 Propinsi
6. Terlaksananya implementasi pasal 26 butir n UU 10 tahun 2009, pengusaha pariwisata wajib menerapkan standar kompetensi TK dan standar usaha pariwisata.
7. Terlaksananya pemberlakuan kebijakan pemberian BVKS tidak hanya secara timbal balik (resiprokal) dan manfaat namun juga diberikan kepada wisatawan dari sumber pasar wisman Indonesia hanya berdasarkan azas manfaat.
8. Terlaksananya kebijakan third country visa melalui Singapura, Vietnam, Thailand.