1 LAPORAN KAJIAN PERKOTAAN PEKANBARU
LAPORAN
KAJIAN
PERKOTAAN
PEKANBARU
Penulis Wahyu Mulyana Nila Ardhyarini H. PratiwiPenerjemah : Wenny Mustika Sari & Rara Dewayanti
Desain & Tata Letak : Derick Prawira
Editor : Maria Serenade Sinurat
Laporan Kajian Perkotaan Kota Pekanbaru ini
diterjemahkan dari Urban Analysis Report, 2020
PENGANTAR
Mengatasi ancaman perubahan iklim tetap menjadi prioritas utama bagi Uni Eropa (UE). Kesepakatan Hijau Eropa adalah adalah jawaban dari tantangan ini; dengan mentransformasikan UE menjadi masyarakat yang adil dan makmur, dengan ekonomi modern, hemat sumber daya, kompetitif dengan nol emisi gas rumah kaca pada tahun 2050.
Melalui proyek Kota Berketahanan Iklim yang Inklusif (Climate Resilient and Inclusive Cities/CRIC), UE dan Indonesia bekerja sama untuk membantu kota-kota membangun masa depan yang berketahanan iklim dan inklusif. Hal ini kami lakukan dengan membangun kemitraan antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat dan lembaga riset di Eropa, Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Tantangan tentu menghadang, terutama di tengah pandemi
COVID-19. Namun, upaya kita untuk mengatasi pandemi perlu dilakukan secara berkelanjutan, dengan tujuan mengatasi tantangan perubahan iklim sekaligus memulihkan ekonomi. Beberapa bulan lalu di Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, banjir bandang merenggut nyawa dan memaksa ratusan warga meninggalkan rumah mereka. Badan Nasional
Penanggulangan Bencana menyatakan bahwa Indonesia akan mengalami lebih banyak bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim. Laporan Kajian Perkotaan CRIC hadir di saat yang tepat untuk mengingatkan bahwa transisi menuju kota berkelanjutan tidak dapat ditunda.
Duta Besar Uni Eropa untuk
Indonesia dan Brunei
Laporan Kajian Perkotaan tentang sepuluh kota percontohan CRIC di Indonesia ini menawarkan gambaran menyeluruh tentang karakteristik kota, kesenjangan kebijakan dan kebijakan terkait perubahan iklim di Kota
Pangkalpinang, Pekanbaru, Bandar Lampung, Cirebon, Banjarmasin, Samarinda, Mataram, Kupang, Gorontalo dan Ternate.
Laporan ini memberikan bukti empiris yang dapat membantu kota mengembangkan kebijakan dan perangkat untuk memperkuat sektor-sektor yang terdampak perubahan iklim. Saya senang bahwa konsultasi publik yang berlangsung melibatkan berbagai pemangku kepentingan termasuk pejabat pemerintah, akademisi, masyarakat sipil, praktisi
profesional, LSM, dan sektor swasta, guna memastikan inklusivitas.
Kami menantikan aksi kota untuk menggunakan rekomendasi dalam kajian ini dalam penyusunan kebijakan dan program lokal yang berketahanan iklim, sekaligus meneruskan kerja sama untuk membangun kota berketahanan iklim yang inklusif.
Jakarta, Oktober 2020
Vincent Piket
Duta Besar UE untuk Indonesia dan Brunei Darussalam
Pemerintah Indonesia telah
berkomitmen mencapai pembangunan rendah emisi dan berketahanan iklim dengan meratifikasi Persetujuan Paris melalui Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2015 tentang Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim. Komitmen ini
dipertegas melalui dokumen NDC (Nationally Determined Contribution) yang menguraikan target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030 dengan upaya sendiri dan 41 persen melalui kerja sama internasional.
Guna mencapai target NDC ini, dibutuhkan strategi mitigasi dan adaptasi yang menyeluruh mulai dari tingkat tapak hingga nasional. Melalui Kerja sama antara Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan
dan Proyek CRIC (Kota Berketahanan Iklim yang Inklusif) di sepuluh kota di Indonesia, merupakan peluang untuk mengintegrasikan dan mengakselerasi aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dalam perencanaan dan
pembangunan perkotaan.
Karena itu, kami menyambut baik kehadiran Kajian Perkotaan tentang sepuluh kota percontohan CRIC ini. Kajian Perkotaan ini membantu kota untuk memahami karakteristik, indikator kerentanan, risiko, dan dampak perubahan iklim serta kapasitas adaptif yang dimilikinya. Dengan demikian pemerintah kota dapat menentukan arah kebijakan dan perangkat yang tepat untuk meningkatkan ketahanan iklim sekaligus mengidentifikasi sektor dan aksi prioritas di kota yang dapat berkontribusi pada pencapaian NDC.
Direktur Jenderal Pengendalian
Perubahan Iklim KLHK
Secara nasional, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Direktorat Jenderal
Pengendalian Perubahan Iklim telah menyiapkan berbagai pedoman pengarusutamaan perubahan iklim dalam pembangunan, seperti Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.33 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan Aksi Adaptasi Perubahan Iklim, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.7 Tahun 2018 tentang Pedoman Kajian Kerentanan, Risiko dan Dampak Perubahan Iklim. Pemerintah juga telah memiliki Sistem Informasi Data Indeks Kerentanan (SIDIK) yang menyajikan data dan informasi kerentanan perubahan iklim dengan satuan unit desa.
Kami berharap bahwa pedoman dan data yang telah tersedia ini dapat diintegrasikan ke dalam Kajian
Perkotaan untuk menajamkan analisis dan mengeluarkan rekomendasi yang strategis sekaligus aplikatif.
Semoga hasil Kajian Perkotaan ini bermanfaat bagi pihak terkait, terutama pemerintah Kota dalam merencanakan dan menyelenggarakan pembangunan yang berketahanan iklim dan inklusif.
Terima kasih.
Dr.Ir, Ruandha Agung Sugardiman. M.Sc
Pemerintah Kota Pekanbaru menyambut baik penyusunan
Dokumen Kajian Perkotaan yang telah disusun oleh tim ahli dari Proyek CRIC (Climate Resilient and Inclusive
Cities/Kota Berketahanan Iklim yang
Inklusif). Kajian Perkotaan ini akan membantu Pemerintah Kota Pekanbaru menyelaraskan program dan
kebijakan yang telah ada di tingkat Kota dengan kebijakan di tingkat nasional dalam upaya membantu Pemerintah Indonesia mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca. Di konteks lokal, keberadaan Kajian Perkotaan menjadi acuan bagi Pemerintah Kota Pekanbaru untuk mengarusutamakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim ke dalam dokumen perencanaan
pembangunan. Hasil Kajian Perkotaan ini sangat relevan bagi Kota Pekanbaru yang tengah berjibaku dengan
beberapa isu strategis, seperti pengelolaan sampah, pengelolaan air limbah, penyediaan air bersih dan pengendalian polusi udara.
Untuk mengatasi hal-hal tersebut, telah ada kebijakan dan program yang dijalankan. Program Langit Biru yang dicanangkan secara nasional misalnya, telah dilaksanakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Di tahun 2014 dan 2017, Pemerintah Kota Pekanbaru juga telah melakukan inventori emisi gas rumah kaca, di mana sektor berbasis lahan menjadi kontributor utamanya.
Untuk mengatasi masalah-masalah perkotaan yang ada saat ini, perlu upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang menyeluruh, terintegrasi dan multipihak. Rekomendasi dari para ahli yang dituangkan dalam Kajian Perkotaan akan membantu Pemerintah Kota Pekanbaru untuk menentukan
Walikota Pekanbaru
sektor prioritas juga teknologi yang dapat diaplikasikan untuk memperkuat ketahanan iklim Kota Pekanbaru.
Akhir kata, semoga dengan kajian perkotaan ini Pemerintah Kota Pekanbaru dapat menjalankan amanat dan komitmennya untuk menyediakan ruang hidup yang layak, aman dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat. Terima kasih.
Perubahan iklim adalah isu
kemanusiaan, dan bukan sekadar ancaman bagi keberlanjutan
lingkungan. Perubahan iklim adalah salah satu krisis kemanusiaan
paling nyata abad ini. Dalam banyak peristiwa, kita telah menyaksikan bagaimana bencana yang dipicu
perubahan iklim mengganggu ekonomi lokal, sistem pangan dan layanan dasar dan membuat kelompok rentan kian tak berdaya. Sebagai asosiasi yang menghubungkan lebih dari 10.000 pemerintah kota dan daerah di kawasan Asia Pasifik, UCLG ASPAC bertanggung jawab untuk mendukung kota agar berketahanan iklim, sesuatu yang kami lakukan dengan serius dan sepenuh hati.
Kelambanan bertindak mahal harganya. Karena itu, kota harus segera beraksi dan mencari solusi yang berbasis data dan akurasi
ilmiah guna menelurkan keputusan-keputusan berbasis bukti yang dapat mengurangi dampak perubahan iklim. Saya menekankan bahwa penilaian tentang risiko dan perubahan atribut kota penting untuk dilakukan secara berkelanjutan dan berkala untuk meningkatkan ketahanan. Terkait hal ini, saya mengapresiasi tim Climate Resilient and Inclusive Cities (CRIC) dan para ahli perkotaan atas kerja keras mereka untuk menerbitkan Laporan Kajian Perkotaan. Terima kasih banyak kepada sepuluh kota percontohan atas dukungannya dalam memproduksi Laporan ini. Laporan ini memaparkan risiko iklim, program dan kebijakan tingkat kota serta menyediakan rekomendasi dan solusi untuk mengatasi perubahan iklim. Laporan ini juga menekankan
pentingnya koordinasi yang melampaui batas administratif karena iklim
Sekretaris Jenderal
UCLG ASPAC
tak mengenal batas! Upaya-upaya koordinasi adalah salah satu kontribusi UCLG ASPAC, melalui CRIC, dengan menautkan kota-kota di Asia, Pasifik dan selebihnya, guna mendorong integrasi vertikal antara pemerintah nasional dan sub-nasional. Kami berniat untuk menempatkan kota sebagai aktor penting dalam program “Laut Biru” dan “Langit Biru” melalui proposal berbasis aksi dan pendekatan ekonomi sirkuler, pencemaran udara serta isu-isu lintas sektoral. Dan kami berkomitmen untuk memastikan agar praktik-praktik baik penanganan perubahan iklim ditingkatkan dan direplikasi untuk mendapatkan dampak yang berlipat.
Saya menantikan bagaimana rencana-rencana pembangunan dapat
dilaksanakan untuk menciptakan kota yang berketahanan iklim dan inklusif. Masa depan kita bergantung pada aksi yang diambil kota saat ini. Setiap langkah nyata yang diambil akan mewujudkan mimpi kita akan kota dan masyarakat yang inklusif, sejahtera dan berkelanjutan.
Dr. Bernadia Irawati Tjandradewi Sekretaris Jenderal UCLG ASPAC
Sebagai Presiden Pilot4Dev, saya mendapat kehormatan untuk terlibat langsung dalam Proyek CRIC sejak awal. Saya senang dapat menghadiri peluncuran CRIC di bulan Januari 2020 yang memungkinkan kami untuk bertemu dengan mitra kami di Indonesia. Nilai tambah yang luar biasa dari acara ini adalah kesempatan untuk bertemu dengan para walikota dari kota-kota percontohan CRIC. Saat ini, ada banyak sekali kota yang membutuhkan dukungan dalam hal lingkungan perkotaan dan ketahanan terhadap perubahan iklim.
Menggabungkan keahlian dan pengetahuan mitra-mitra Uni Eropa termasuk ACR+, Pilot4Dev, Universitas Gustave Eiffel, ECOLISE dan mitra Asia seperti UCLG ASPAC dan AIILSG, proyek lima tahun yang sangat ambisius ini bertujuan untuk membangun kerja sama
jangka panjang dan unik. Hal tersebut dilakukan melalui kerja sama segitiga antara kota dan pusat penelitian di Eropa, Asia Selatan (India, Nepal, Bangladesh), dan Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand). Proyek CRIC akan berkontribusi pada pembangunan perkotaan terintegrasi yang berkelanjutan, tata kelola yang baik, adaptasi/mitigasi iklim melalui kemitraan jangka panjang, dan perangkat seperti rencana aksi lokal yang berkelanjutan, sistem peringatan dini, kualitas udara dan pengelolaan sampah dengan berkonsultasi dengan panel ahli. Penerima manfaat akhir proyek ini adalah masyarakat lokal kota/provinsi, termasuk perempuan, kelompok marjinal, masyarakat sipil dan sektor swasta.
Memasuki bulan ke-10
pelaksanaannya, proyek ini telah
Presiden Pilot4Dev
manfaat besar dari solusi jangka panjang terkait ketahanan iklim dan inklusivitas.
Proyek CRIC bertujuan untuk
menginformasikan dan memfasilitasi penyediaan perangkat bagi pemerintah daerah, kota, pemangku kepentingan perkotaan yang bekerja untuk
mengupayakan ketahanan, mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim, melalui transfer dan penyesuaian pengetahuan ke kota. Karena
perkotaan menampung sebagian besar populasi yang rentan, serta infrastruktur vital dan sosial, dan pemerintah daerah kian mendapat tekanan untuk mengembangkan layanan, infrastruktur dan lapangan kerja, maka sangatlah mendesak untuk memastikan bahwa kita semua siap menghadapi tantangan perubahan iklim.
Isabelle Milbert
terbukti bermanfaat dan telah dilaksanakan di sepuluh kota di Indonesia. Salah satu pencapaian kunci hingga saat ini adalah 10 Laporan Kajian Perkotaan yang
mengkaji kapasitas dari sepuluh kota. Proyek ini melibatkan secara langsung perangkat pemerintah daerah, yang kemudian membangkitkan keinginan nyata untuk membuat kota yang lebih berketahanan iklim dan inklusif. Langkah selanjutnya dari proyek ini adalah menerbitkan Laporan Kajian Perkotaan bersamaan dengan policy
brief untuk kota-kota yang terlibat.
Setelah itu, para mitra internasional akan mengembangkan perangkat yang dapat digunakan oleh pemerintah kota untuk mengatasi tantangan perubahan iklim yang mereka hadapi.
Dengan tingkat pertumbuhan perkotaan yang tinggi di negara-negara seperti Indonesia, Vietnam dan Filipina, diperkirakan sebagian besar populasi negara-negara tersebut akan tinggal di perkotaan dalam
sepuluh tahun mendatang. Kota-kota di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara telah terdampak perubahan iklim, dan mereka dapat memperoleh
Bagi ACR+ (Asosiasi kota dan wilayah untuk pengelolaan sumber daya berkelanjutan) -jaringan pemerintah lokal dan regional yang terutama berbasis di Uni Eropa dan Area Mediterania- Proyek CRIC menghadirkan sebuah peluang unik untuk bekerja sama dan memperkuat peran kota dalam mewujudkan
ketahanan dan inklusivitas.
Misi inti ACR+ adalah mengembangkan inisiatif pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan yang melibatkan otoritas lokal dan regional; khususnya terkait pengelolaan sampah, salah satu prioritas yang diangkat oleh Laporan Kajian Perkotaan. Karena itu dan selama lebih dari 25 tahun, kami telah merancang dan menerapkan inisiatif tentang ekonomi sirkuler, pencegahan sampah dan pengelolaan sampah yang dibangun melalui basis pengetahuan yang luas. Beberapa anggota ACR+
telah bekerja di wilayah Tenggara, dan pengalaman mereka dapat
dimanfaatkan dan dikembangkan lebih lanjut melalui CRIC.
Proyek ini memberikan kesempatan belajar yang besar bagi anggota ACR+, untuk memahami bagaimana inisiatif lokal dapat membuat perubahan di tingkat global. Laporan ini dibutuhkan untuk memahami konteks lokal
secara efektif serta menjelaskan tantangan dan prioritas kunci. Hal ini menunjukkan bahwa pertukaran metodologi untuk mendukung proses pengambilan keputusan sangat penting untuk mewujudkan proyek yang
berkelanjutan.
Namun, lebih dari sekadar pertukaran pengalaman, CRIC menjadi pengingat bahwa kerja sama adalah kunci, di semua tingkatan dan antar negara. UE tidak dapat bekerja sendirian
Sekretaris Jenderal ACR+
untuk mewujudkan Kesepakatan Hijau Eropa dan mencapai ekonomi yang netral iklim, hemat sumber daya dan sirkuler. Kegiatan yang dikembangkan dalam proyek CRIC (pelatihan, pelibatan pemangku kepentingan, pengembangan perangkat, rencana aksi lokal) dapat memberikan bukti kuat untuk mendukung dialog kebijakan bilateral dan regional yang bertujuan untuk mengimplementasikan Kesepakatan Hijau dan tujuan Agenda 2030 di luar UE. Sayangnya, kita tidak dapat dan tidak boleh melupakan konteks yang lebih luas di mana proyek ini berlangsung: wabah COVID-19 telah menimbulkan tantangan yang luar biasa di tingkat lokal. Berkaca dari
pengalaman yang kami miliki, agenda lokal yang berbasis pada model yang berketahanan lebih dapat beradaptasi dan memitigasi dampak negatif dari pandemi. Mengingat hal ini, ACR+ telah mendukung anggotanya untuk mengatasi situasi tersebut dan berniat melanjutkannya melalui CRIC.
Françoise Bonnet
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL 17 DAFTAR GAMBAR 18
GLOSARIUM 19
PENGANTAR 21
Gambaran Kota Mataram 23
BAB 1
1.1 Deskripsi Umum 23
1.2 Topografi dan Klimatologi 24 1.3 Karakteristik Demografis 25 1.4 Struktur Ekonomi 26 1.4.1 Pertumbuhan Ekonomi Kota 26 1.4.2 PDRB Per Kapita 27 1.4.3 Sektor Perekonomian Kota 28 1.4.4 Ketenagakerjaan 28 1.5 Struktur Sosial 29 1.5.1 Indeks Pembangunan Manusia 29 1.5.2 Kelompok Etnis 29
1.5.3 Kemiskinan 30
1.5.4 Permukiman Kumuh 30 1.6 Kondisi Lingkungan 31 1.6.1 Kualitas Udara 31 1.6.2 Kualitas Air Sungai 32 1.6.3 Gas Rumah Kaca 33
1.6.4 Sampah Padat 34
1.6.5 Air dan Sanitasi 34
1.6.6 Transportasi 35
1.6.7 Penggunaan Energi 36 1.7 Perencanaan Tata Ruang dan Perubahan Guna Lahan 37 1.7.1 Struktur dan Pola Tata Ruang Kota 37 1.7.2 Perubahan Tutupan Lahan 38 1.8 Risiko Bencana 39 1.9 Risiko dan Kerentanan Perubahan Iklim 41
1.10 Tata Kelola Perkotaan 42 1.10.1 Struktur Pemerintahan Kota Pekanbaru 42 1.10.2 Pemangku Kepentingan Lokal di Kota Pekanbaru 43
2.1 Kebijakan Pembangunan Nasional 46 2.2 Kebijakan Sektoral 48 2.3 Kebijakan, Rencana dan Program Daerah
di Kota Pekanbaru 51
3.1 Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan
Risiko Bencana 54
3.2 Akses Air Minum 56
3.3 Sanitasi dan Air Limbah Domestik 58 3.4 Pengelolaan Sampah Padat 59 3.5 Pengendalian Pencemaran Udara 60 3.6 Penggunaan Sumber Daya secara Berkelanjutan:
RTH, Iklim Mikro dan Pertanian Kota 61
4.1. Adaptasi Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana 63 4.2. Akses Air Minum 64 4.3 Sanitasi, Air Limbah dan Kualitas Air Permukaan 64 4.4 Pengendalian Pencemaran Udara,
Transportasi dan Energi 65 4.5 Pengelolaan Sampah Padat 65 4.6 Penggunaan Sumber Daya secara Berkelanjutan 65 4.7 Inventarisasi Gas Rumah Kaca 66
4.8 Pembiayaan 66
Kebijakan dan Strategi untuk Kota
Berketahanan Iklim yang Inklusif 46 BAB 2
Tantangan Utama dan Peluang di Sektor Prioritas 54 BAB 3
Rekomendasi untuk Sektor Prioritas 63 BAB 4
BAB 5
Kesimpulan 69
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Pertumbuhan Penduduk di Kawasan
Metropolitan Pekansikawan 25 Table 2. Distribusi Kependudukan dan Kepadatan
Berdasarkan Kecamatan, 2010-2018 26 Tabel 3. Struktur PDRB Kota Pekanbaru, 2019 28 Tabel 4. Indeks Pembangunan Manusia 2010-2019 29 Tabel 5. Permukiman Kumuh di Pekanbaru 31 Tabel 6. Perubahan Tutupan Lahan, 1989-2012 38 Tabel 7. Keterlibatan Pemangku kepentingan dalam Pembuatan
Kebijakan Kota Berketahanan Iklim yang Inklusif 44 Tabel 8. Kebijakan, Rencana dan Program Sektoral
Terkait Ketahanan Iklim 49 Tabel 9. Kebijakan, Rencana dan Program Daerah
Kota Pekanbaru 52
Tabel 10. Rekomendasi untuk Sektor-Sektor Prioritas
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Masjid Agung An-Nur, Pekanbaru 21 Gambar 2. Peta Kota Pekanbaru 24 Gambar 3. Pertumbuhan PDRB di Provinsi Riau,
2011-2019 27
Gambar 4. Kemiskinan di Pekanbaru, 2010-2019 30 Gambar 5. Hasil Pemantauan Kualitas Udara
Pekanbaru 2013-2017 32 Gambar 6. Emisi Gas Rumah Kaca 33 Gambar 7. Pola Spasial Kota Pekanbaru 37 Gambar 8. Area Rawan Banjir di Pekanbaru 39 Gambar 9. Area Kebakaran Hutan dan Lahan
di Tiga Provinsi di Pulau Sumatra (Ha) 40 Gambar 10. Titik Panas (hotspot) Kebakaran Hutan
dan Lahan di Provinsi Riau 2015 dan 2019 41 Gambar 11. Risiko Iklim Indikatif di Pekanbaru 42 Gambar 12. Struktur Pemerintahan Kota Pekanbaru 43
GLOSARIUM
API PRB Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana AQMS Air Quality Monitoring SystemBAPPEDA Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
BAU Business-as-usual
BOD Biological Oxygen Demand
BPBD Badan Penanggulangan Bencana Daerah
BPDLH Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup
BRT Bus Rapid Transit
BPS Badan Pusat Statistik
COD Chemical Oxygen Demand
CRIC Climate Resilient and Inclusive Cities
DAS Daerah Aliran Sungai
DIKPLHD Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah
DINKES Dinas Kesehatan
DISHUB Dinas Perhubungan
DLHK Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan
DPKP Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman
DPRD Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
DPUPR Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
PDB Produk Domestik Bruto
GRK Gas Rumah Kaca
PDRB Produk Domestik Regional Bruto
IPM Indeks Pembangunan Manusia
IKA Indeks Kualitas Air
INDC Intended Nationally Determined Contributions
ISPA Infeksi Saluran Pernapasan Akut
ISPU Indeks Standar Pencemar Udara
KIT Kawasan Industri Tenayan
KOTAKU Kota Tanpa Kumuh
KPBU Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha LULUCF Land Use, Land Use Change, and Forestry MRT Moda Raya Terpadu (Mass Rapid Transit)
NDC Nationally Determined Contribution
LSM Lembaga Swadaya Masyarakat
PAMSIMAS Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat
PDAM Perusahaan Daerah Air Minum
PROPER Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan
RAD Rencana Aksi Daerah
RAN GRK Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca RAD GRK Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca RAN API Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
REDD Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation RPJMD Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
RPJMN Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
RPPLH Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup RP2KPKP Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman
Kumuh Perkotaan RRR (3R) Reduce, Reuse, Recycle
RTRW Rencana Tata Ruang Wilayah
SANIMAS Sanitasi Berbasis Masyarakat
SIDIK Sistem Informasi Data Indeks Kerentanan SIGN SMART Sistem Inventarisasi GRK Nasional
SLHD Status Lingkungan Hidup Daerah
SPAM Sistem Penyediaan Air Minum
SRF Solid Recovered Fuel
SSK Strategi Sanitasi Kota
SSLTES Sustainable Sanitary Landfill to Energy System Susenas Survei Sosial Ekonomi Nasional
TPA Tempat Pemrosesan Akhir
TPB Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
UN United Nations (Perserikatan Bangsa-Bangsa)
UNFCCC United Nations Framework Convention on Climate Change
USD Dolar Amerika Serikat
PROPER Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan
RAD Rencana Aksi Daerah
RAN GRK Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca RAD GRK Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca RAN API Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
REDD Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation RPJMD Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
RPJMN Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
RPPLH Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup RP2KPKP Rencana Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman
Kumuh Perkotaan RRR (3R) Reduce, Reuse, Recycle
RTRW Rencana Tata Ruang Wilayah
SANIMAS Sanitasi Berbasis Masyarakat
SIDIK Sistem Informasi Data Indeks Kerentanan SIGN SMART Sistem Inventarisasi GRK Nasional
SLHD Status Lingkungan Hidup Daerah
SPAM Sistem Penyediaan Air Minum
SRF Solid Recovered Fuel
SSK Strategi Sanitasi Kota
SSLTES Sustainable Sanitary Landfill to Energy System Susenas Survei Sosial Ekonomi Nasional
TPA Tempat Pemrosesan Akhir
TPB Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
UN United Nations (Perserikatan Bangsa-Bangsa)
UNFCCC United Nations Framework Convention on Climate Change
USD Dolar Amerika Serikat
wwww
PENGANTAR
Indonesia mengalami tingkat
urbanisasi yang tinggi yang akan terus berlanjut dalam beberapa dekade mendatang. Diperkirakan 72,8% penduduk akan tinggal di perkotaan pada tahun 2045 (Bappenas et al., 2018). Urbanisasi yang pesat ditandai dengan aglomerasi perkotaan di kota-kota besar dan wilayah metropolitan serta kota-kota kecil dan menengah yang berkembang pesat. Sebagai negara kepulauan dengan wilayah dataran rendah yang luas, Indonesia sangat rentan terhadap dampak buruk perubahan iklim dan kejadian iklim ekstrem seperti banjir, kekeringan dan kenaikan muka air laut.
Perubahan iklim yang disebabkan oleh bencana alam juga akan memengaruhi lebih banyak orang dan aset mereka di perkotaan. Banyak kota yang terletak di pesisir, tepi sungai dan daerah dataran rendah yang berisiko tinggi mengalami genangan rob, kenaikan muka air laut dan banjir. Kota Pekanbaru merupakan salah satu kota yang terletak di tepian sungai di Pulau Sumatra.
Pekanbaru adalah ibu kota Provinsi Riau dan memiliki peran strategis sebagai pusat ekonomi utama di bagian timur Pulau Sumatra. Seperti kita ketahui, banyak perusahaan-perusahaan besar beroperasi di Provinsi Riau, seperti di sektor pulp Gambar 1. Masjid Agung An-Nur, Pekanbaru
Indonesia mengalami tingkat
urbanisasi yang tinggi yang akan terus berlanjut dalam beberapa dekade mendatang. Diperkirakan 72,8% penduduk akan tinggal di perkotaan pada tahun 2045 (Bappenas et al., 2018). Urbanisasi yang pesat ditandai dengan aglomerasi perkotaan di kota-kota besar dan wilayah metropolitan serta kota-kota kecil dan menengah yang berkembang pesat. Sebagai negara kepulauan dengan wilayah dataran rendah yang luas, Indonesia sangat rentan terhadap dampak buruk perubahan iklim dan kejadian iklim ekstrem seperti banjir, kekeringan dan kenaikan muka air laut.
Perubahan iklim yang disebabkan oleh bencana alam juga akan
memengaruhi lebih banyak orang dan aset mereka di perkotaan. Banyak kota yang terletak di pesisir, tepi sungai dan daerah dataran rendah yang berisiko tinggi mengalami
genangan rob, kenaikan muka air laut dan banjir. Kota Pekanbaru merupakan salah satu kota yang terletak di tepian sungai di Pulau Sumatra.
Pekanbaru adalah ibu kota Provinsi Riau dan memiliki peran strategis sebagai pusat ekonomi utama di bagian timur Pulau Sumatra. Seperti kita ketahui, banyak perusahaan-perusahaan besar beroperasi di Provinsi Riau, seperti di sektor pulp dan kertas, eksplorasi minyak dan gas, perkebunan, penggergajian kayu, minyak sawit mentah dan pengolahan karet. Sebagai pusat perdagangan dan jasa, Kota Pekanbaru mendapatkan banyak sekali keuntungan untuk
mendukung perkembangan industri di sekitarnya dan sering dikatakan sebagai kota dengan peredaran uang tertinggi di Indonesia.
Kota ini dikelilingi oleh kabupaten yang rawan kebakaran hutan dan lahan. Dengan kondisi tersebut, Kota Pekanbaru sangat rentan terhadap kebakaran hutan, lahan dan kabut asap dari kabupaten sekitarnya. Sebagai kota tepi sungai, Pekanbaru juga rentan terhadap banjir dan genangan akibat luapan air sungai. Laporan Kajian Perkotaan Kota Pekanbaru bertujuan untuk
menganalisis situasi, kebijakan dan data dasar tentang kota ini. Laporan ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang menggabungkan pendekatan studi pustaka dan wawancara dengan informan kunci. Studi pustaka sistematis adalah teknik penelitian yang pada dasarnya melibatkan pengumpulan data dari sumber data sekunder yang ada, termasuk jurnal atau artikel yang diterbitkan, laporan statistik pemerintah, dokumen perencanaan kota dan dokumen sektoral. Wawancara dilakukan
dengan informan kunci yang mewakili pemangku kepentingan lokal seperti aparat pemerintah daerah, organisasi non-pemerintah, sektor swasta
dan akademisi. Analisis deskriptif digunakan untuk menilai masalah utama, tantangan dan peluang di sektor terkait. Laporan tersebut terdiri dari pendahuluan, gambaran umum kota, tantangan dan peluang serta rekomendasi.
BAB 1
Gambaran
Kota Pekanbaru
1.1 Deskripsi Umum
Pekanbaru terletak di Jalur Lintas Timur Sumatera, dan terhubung dengan beberapa kota di Pulau
Sumatera seperti Medan, Padang dan Jambi. Kota ini memainkan peran sebagai kota perantara perdagangan strategis dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Pekanbaru adalah ibu kota Provinsi Riau dan menjadi salah satu pusat ekonomi terbesar di Pulau Sumatra, dengan tingkat urbanisasi yang tinggi. Kota ini dikelilingi oleh kabupaten lain seperti Kabupaten Kampar, Kabupaten Siak dan Kabupaten Pelalawan.
Pekanbaru memiliki luas wilayah 632,26 km² yang terdiri dari 12 kelurahan dan 83 desa. Kelurahan-kelurahan ini berada di luar kota dengan luasan yang cukup besar, misalnya Tenayan Raya, Rumbai Pesisir dan Rumbai.
Kelurahan-kelurahan yang berada di dekat pusat kota, termasuk Pekanbaru Kota, Sail, Sukajadi, Senapelan dan Limapuluh memiliki luas area yang lebih kecil
daripada kelurahan lain. Kota ini dibagi oleh Sungai Siak yang mengalir dari barat ke timur dan memiliki beberapa anak sungai termasuk Umban Sari, Sail, Air Hitam, Sibam, Setukul, Kelulut, Pengambang, Ukai, Sago, Senapelan, Limau dan Tampan. Kegiatan ekonomi di Kota Pekanbaru melampaui batas-batas administratif dan mencakup aglomerasi perkotaan yang jauh lebih besar. Konsep wilayah metropolitan telah diperkenalkan untuk mengakomodasi pertumbuhan perkotaan di masa depan. Salah satunya adalah Metropolitan Pekansikawan yang terdiri dari Kota Pekanbaru, Kabupaten Siak, Kabupaten Kampar dan Kabupaten Pelalawan yang meliputi wilayah seluas 32.629 km².
Sejarah Kota Pekanbaru tidak terlepas dari Sungai Siak yang berfungsi
sebagai jalur pengangkutan hasil bumi dari pedalaman dan dataran tinggi Minangkabau, hingga wilayah pesisir Selat Malaka. Pada abad
ke-18, kawasan Senapelan di tepi Sungai Siak menjadi pasar (pekan) bagi para pedagang Minangkabau. Seiring berjalannya waktu, kawasan Senapelan berkembang menjadi kawasan permukiman yang ramai. Pada tahun 1762, Sultan Siak
memindahkan pusat Kesultanan Siak dari Mempura ke Senapelan dan kemudian nama kota tersebut diubah menjadi Pekanbaru pada tanggal 23 Juni 1784. Tanggal tersebut diperingati sebagai hari jadi Kota Pekanbaru.
Setelah kemerdekaan Indonesia, Pekanbaru menjadi daerah otonom kecil di Provinsi Sumatra Tengah. Sejak tahun 1957, Pekanbaru termasuk dalam Provinsi Riau yang baru dibentuk dan kemudian menjadi ibu kota Provinsi Riau pada bulan Januari 1959. Pekanbaru berkembang pesat sebagai pusat perdagangan dan jasa sebagai penunjang industri besar sektor perminyakan, pulp dan kertas serta kelapa sawit di kabupaten sekitarnya. Pekanbaru sangat
diuntungkan berkat lokasinya yang strategis.
1.2 Topografi dan Klimatologi
Kota Pekanbaru terletak di ketinggian di atas 5-50 meter di atas permukaan laut. Area tengah kota cukup datar dengan ketinggian 10-20 meter di atas permukaan laut. Tenayan dan area di sekitarnya berada sekitar 25-50 meter di atas permukaan laut, sementara bagian utara dari kota ini di area perbukitan, terutama di Kelurahan Rumbai dan Rumbai Pesisir dengan ketinggian 50 meter di atas permukaan laut.
Pekanbaru memiliki iklim tropis. Suhu rata-rata pada periode 2011-2015 adalah 28,30°C. Suhu terendah adalah 19,90°C terjadi di bulan Oktober 2011 dan suhu maksimum 35,80°C terjadi di bulan Mei 2011. Pada periode 2012-2016, curah hujan tertinggi terjadi di bulan Desember 2013 sekitar 614 mm dan terendah di Februari 2014 sekitar 13,8 mm.
Gambar 2. Peta Kota Pekanbaru
1.3 Karakteristik Demografis Kota Pekanbaru merupakan daerah
otonom dengan luas wilayah terkecil di Provinsi Riau, namun dihuni oleh jumlah penduduk yang relatif besar. Jumlah penduduk tahun 2019 adalah 1.143.359 jiwa, meningkat 214.320 jiwa dari tahun 2010. 62% penduduk Metropolitan Pekansikawan tinggal di Pekanbaru. Jumlah penduduk di Pekanbaru terus meningkat setiap tahun dan dipengaruhi oleh pertumbuhan alami dan migrasi. Sebagai pusat ekonomi daerah, Pekanbaru menjadi daerah tujuan masyarakat yang mencari lapangan kerja.
Metropolitan Pekansikawan juga mengalami pertumbuhan penduduk yang pesat antara tahun
2000-2010, sebesar 5,16% per tahun, dan
masih terus tumbuh sebesar 3,35% per tahun dari tahun 2010-2019. Pertumbuhan penduduk terkonsentrasi di kabupaten sekitarnya. Kabupaten Pelalawan tumbuh 7,30% per tahun antara tahun 2000 dan 2010 dan 5,27% antara tahun 2010 dan 2019, sedangkan Kabupaten Siak tumbuh 4,74% per tahun dari tahun 2000-2010 dan sebesar 2,89% antara tahun 2010 dan 2019.
Pekanbaru merupakan area yang padat penduduknya dan memiliki kepadatan penduduk tertinggi yaitu 1.808 orang per km². Kabupaten-kabupaten sekitarnya memiliki kepadatan penduduk yang rendah, sebagian besar di bawah 80 orang per km².
Tabel 1. Pertumbuhan Penduduk di Kawasan Metropolitan Pekansikawan
Kota/ Kabupaten Populasi 2019 Pertumbuhan Penduduk Tahunan (%) Area (km²) Kepadatan tahun 2019 (pop/km²) Kecamatan 1990-2000 2000-2010 2010-2019 Kota Pekanbaru 1.143.359 3,92 4,49 2,66 632 1.808 12 Kabupaten Siak 489.996 - 4,74 2,89 8.275 59 14 Kabupaten Kampar 871.117 -2,36 4,13 2,59 10.983 79 21 Kabupaten Pelalawan 483.622 - 7,30 5,27 12.758 38 12 Pekansikawan 2.988.094 3,95 5,16 3,35 32.649 92 69 Sumber: Analisis, 2020
Catatan: Kabupaten Siak dan Pelalawan berdiri tahun 1999 berdasarkan UU No. 53 tahun 1999 berdasarkan UU No. 53 tahun 1999 mengenai pembentukan 8 (delapan) Kabupaten/Kota Provinsi Riau.
Pada tahun 2010 terdapat 4 (empat) kecamatan yang memiliki jumlah penduduk lebih dari 100.000 jiwa yaitu Tampan, Tenayan Raya, Marpoyan Damai dan Bukit Raya. Dalam kurun waktu 2015-2018, Kecamatan Tampan
memiliki pertumbuhan penduduk tertinggi dibandingkan dengan kecamatan lainnya di Kota Pekanbaru. Jumlah penduduk di Tampan mencapai 307.947 jiwa pada tahun 2018. Demikian pula Kecamatan Tenayan Raya memiliki
jumlah penduduk 167.929 jiwa pada tahun 2018, meningkat dari 124.201 jiwa pada tahun 2010. Kedua kecamatan ini mengalami perkembangan kota yang pesat. Kecamatan di bagian kota lama cenderung mengalami pertumbuhan penduduk yang lebih stabil dengan kepadatan penduduk yang tinggi, seperti yang terjadi di Kecamatan Pekanbaru Kota, Sukajadi dan Limapuluh.
Tabel 2. Distribusi Kependudukan dan Kepadatan Berdasarkan Kecamatan, 2010-2018
Kecamatan (km²)Area
Jumlah Populasi Pertumbuhan penduduk Kepadatan Penduduk 2010 2015 2018 2010-2015 2015-2018 2010 2015 2018 Tampan 59,81 171.830 201.182 307.947 3,2% 11,2% 2.873 3.364 5.149 Payung Sekaki 43,24 86.949 101.128 91.255 3,1% -2,5% 2.011 2.339 2.110 Bukit Raya 22,05 92.433 109.381 105.177 3,4% -1,0% 4.192 4.961 4.770 Marpoyan Damai 29,74 126.220 146.221 131.550 3,0% -2,6% 4.244 4.917 4.423 Tenayan Raya 171,27 124.201 148.013 167.929 3,6% 3,2% 725 864 980 Limapuluh 4,04 41.335 44.481 41.466 1,5% -1,7% 10.231 11.010 10.264 Sail 3,26 21.439 23.124 21.492 1,5% -1,8% 6.576 7.093 6.593 Pekanbaru Kota 2,26 25.063 27.224 25.103 1,7% -2,0% 11.090 12.046 11.108 Sukajadi 3,76 47.178 49.650 47.420 1,0% -1,1% 12.547 13.205 12.612 Senapelan 6,65 36.436 38.340 36.581 1,0% -1,2% 5.479 5.765 5.501 Rumbai 128.85 64.893 74.977 67.654 2,9% -2,5% 504 582 525 Rumbai Pesisir 157.33 65.061 74.397 73.784 2,7% -0,2% 414 473 469 PEKANBARU 632.26 903.038 1.038.118 1.117.358 2,8% 1,9% 1.428 1.642 1.767 Sumber: BPS Kota Pekanbaru, 2011-2019
1.4 Struktur Ekonomi 1.4.1 Pertumbuhan Ekonomi Kota
Pertumbuhan ekonomi Pekanbaru cukup fluktuatif dalam sepuluh tahun
terakhir. Antara 2011 dan 2019, pertumbuhan ekonomi kota mencapai 7,54% dan kemudian 6,01%. Meski mengalami penurunan, perekonomian Pekanbaru cenderung stabil karena masih dapat dikendalikan sehingga tetap terjadi
peningkatan dari tahun ke tahun. Kondisi ini juga terlihat dari PDRB Pekanbaru yang mengalami peningkatan.
Dalam kurun waktu 2011-2019, pertumbuhan ekonomi Pekanbaru relatif lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi wilayah Pekansikawan dan Provinsi Riau. Bahkan ketika terjadi guncangan ekonomi pada tahun 2015 akibat jatuhnya harga minyak dan batu bara, pertumbuhan ekonomi kota tersebut tidak mengalami penurunan yang signifikan, seperti yang terjadi di wilayah sekitarnya yang sangat bergantung pada investasi berbasis lahan.
Kondisi ini menunjukkan Pekanbaru memiliki pertumbuhan ekonomi yang kuat. Kontributor utama ekonomi adalah perdagangan grosir dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor yang relatif tidak terpengaruh oleh harga minyak dan batubara
Antara tahun 2011 dan 2019, PDRB Pekanbaru tumbuh sekitar 6,13% dari 2,9 miliar USD (41,8 triliun IDR) menjadi 5,1 miliar USD (72,2 triliun IDR). Kota ini menyumbang 14,6% dari PDRB Provinsi Riau, lebih tinggi dari kabupaten lain. Secara bersama-sama, proporsi Metropolitan Pekansikawan terhadap PDRB Riau mencapai 42,7%. Dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain, PDRB Pekanbaru bertumbuh secara stabil antara 5,4% – 6,1% dan relatif lebih tinggi dari Kabupaten Siak (3,2% – 4,5%), Kabupaten Kampar (1,9% –3,9%) dan Kabupaten Pelalawan (3,8% – 3,9%).
Gambar 3. Pertumbuhan PDRB di Provinsi Riau, 2011-2019
Sumber: BPS Provinsi Riau, 2011-2019
1.4.2 PDRB Per Kapita
Dalam hal PDRB per kapita, Kota Pekanbaru memiliki pendapatan per kapita lebih rendah dibandingkan dengan Provinsi Riau dan kabupaten sekitarnya. Pendapatan per kapita kota ini bertumbuh sebesar 6,1% per tahunnya dengan nilai 3.442 USD (48,2 juta IDR) pada tahun 2011 menjadi 4,507 USD (63,1 juta IDR) pada tahun 2019. Pendapatan per kapita Provinsi Riau mencapai 5,085 USD (71,2 juta IDR) pada tahun 2019. Sementara kabupaten lain
dengan pendapatan per kapita tertinggi adalah Kabupaten Siak yang mencapai 7.792 USD (109,1 juta IDR) pada tahun 2019 sebagai kontribusi dari industri manufaktur yang semakin meningkat.
0 1 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2019 2 3 4 5 6 7 8 9 7,54 7,82 Riau Province 5,59 6,9 5,57 5,95 6,1 5,4 6,01 6,01
1.4.3 Sektor Perekonomian Kota
Struktur ekonomi Pekanbaru tidak bergantung pada investasi berbasis lahan. Sektor ekonomi yang dominan pada tahun 2019 adalah perdagangan grosir dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor (28,87%), konstruksi (28,73%) dan manufaktur (21,78%). Ketiga sektor tersebut mengalami pertumbuhan tinggi di atas 10% pada periode 2010-2019. Pertumbuhan sektoral yang tinggi juga dialami oleh kegiatan pelayanan lainnya, bisnis, kesehatan dan pekerjaan sosial, informasi dan komunikasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa sektor tersier akan mendominasi perekonomian kota di masa depan. Pangsa sektor primer seperti pertanian dan pertambangan mengalami penurunan setiap tahun.
Tabel 3. Struktur PDRB Kota Pekanbaru, 2019
No Sektor Proporsi 2010 Proporsi 2015 Proporsi 2019 Pertumbuhan 2010-2019
1 Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 1,76% 1,56% 1,48% 7,8% 2 Pertambangan dan galian 0,02% 0,02% 0,01% 4,1%
3 Manufaktur 20,86% 21,84% 21,78% 12,6%
4 Listrik dan gas 0,22% 0,20% 0,24% 13,2%
5 Air, air limbah dan pengelolaan limbah 0,03% 0,02% 0,02% 1,3%
6 Konstruksi 28,93% 27,73% 28,73% 11,4%
7 Perdagangan grosir dan retail, perbaikan kendaraan bermotor dan
sepeda motor 28,45% 27,97% 28,87% 11,9%
8 Transportasi dan pergudangan 2,41% 2,57% 2,22% 9,8% 9 Akomodasi dan kegiatan layanan pangan 1,81% 1,74% 1,60% 8,9% 10 Informasi dan komunikasi 2,60% 2,94% 3,07% 15,4% 11 Kegiatan finansial dan keuangan 3,25% 3,80% 3,36% 12,3% 12 Kegiatan real-estate 2,88% 2,97% 2,70% 10,2%
13 Kegiatan bisnis 0,02% 0,02% 0,02% 17,6%
14 Administrasi publik dan ketahanan, jaminan sosial wajib 4,37% 3,99% 3,27% 5,3%
15 Pendidikan 1,16% 1,06% 0,95% 7,3%
16 Kesehatan dan kegiatan sosial 0,41% 0,48% 0,51% 16,4% 17 Kegiatan layanan lainnya 0,84% 1,08% 1,16% 19,1%
Sumber: BPS Kota Pekanbaru
1.4.4 Ketenagakerjaan
Sejalan dengan sektor ekonomi kota, mayoritas penduduk Pekanbaru bekerja di sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan jumlah pekerja sebanyak 400.231 pada tahun 2019. Jumlah orang yang bekerja di sektor manufaktur mencapai 93.244, sedangkan jumlah pekerja di sektor pertanian hanya
20.745. Sebaliknya, sebagian besar masyarakat di Metropolitan Pekansikawan bekerja di sektor pertanian. Tingkat pengangguran mencapai 8,42% atau setara dengan 35.000 angkatan kerja. Tingkat pengangguran ini berada di atas tingkat provinsi dan nasional.
1.5 Struktur Sosial 1.5.1 Indeks Pembangunan Manusia
Kemajuan pembangunan sosial di Pekanbaru tergambar dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang terdiri dari tiga dimensi: (1) hidup yang panjang dan sehat; (2) pendidikan; dan (3) standar hidup layak. Antara tahun 2010 dan 2019, IPM Kota Pekanbaru meningkat dari 77,34 menjadi 81,36, dan termasuk klasifikasi IPM tinggi (70 ≤ IPM < 80). IPM Kota di atas IPM Riau (73,00) dan IPM Indonesia (71,92).
Tabel 4. Indeks Pembangunan Manusia 2010-2019
Indikator 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Angka harapan hidup 71,42 71,46 71,51 71,54 71,55 71,65 71,70 71,75 71,94 72,22 Harapan lama sekolah 13,64 13,74 13,83 13,93 14,07 14,86 14,87 14,93 15,34 15,37 Rata-rata lama sekolah 10,67 10,84 10,88 10,93 10,95 10,97 11,20 11,21 11,22 11,43 Pendapatan per kapita 13,633 13,719 13,805 13,891 14,023 14,126 14,225 14,547 14,778 15,206 IPM Kota Pekanbaru 77,34 77,71 77,94 78,16 78,42 79,32 79,68 80,01 80,66 81,35 IPM Provinsi Riau 68,65 68,90 69,15 69,91 70,33 70,84 71,20 71,79 72,44 73,00 IPM Indonesia 66,53 67,09 67,70 68,31 68,90 69,55 70,18 70,81 71,39 71,92
Sumber: BPS Kota Pekanbaru
1.5.2 Kelompok Etnis
Kota Pekanbaru merupakan kota yang sangat urban, sebagian besar penduduknya datang dari provinsi tetangganya, Sumatra Barat. Sejak berabad-abad lalu, Pekanbaru telah menjadi salah satu daerah tujuan bagi perantau dari Minangkabau. Banyak orang Minang telah tinggal di sana selama beberapa generasi dan telah berasimilasi dengan komunitas Melayu. Mereka adalah kelompok etnis terbesar dengan total 41% populasi dan sebagian besar berprofesi sebagai pekerja profesional dan pedagang. Selain Minangkabau, penduduk asli
Melayu Riau adalah kelompok etnis terbesar kedua di Pekanbaru yang mencapai 26% dari populasi. Suku Jawa, Batak dan Tionghoa adalah kelompok etnis utama lainnya yang mendiami Pekanbaru. Orang keturunan Tionghoa kebanyakan berprofesi sebagai pengusaha dan pedagang. Mereka berasal dari Pekanbaru, pesisir Provinsi Riau dan kota-kota lain seperti Medan dan Padang. Mereka datang ke Pekanbaru karena ekonomi kota yang sedang berkembang pesat. Orang Jawa datang sebagai petani pada masa kolonial untuk bekerja di
proyek pembangunan rel kereta api. Hingga tahun 1950, mereka tinggal di area yang cukup luas di kota. Perkembangan industri perminyakan telah menciptakan banyak lapangan kerja dan menarik minat masyarakat Batak untuk datang ke Kota.
1.5.3 Kemiskinan
Konsep kemiskinan mengacu pada kemampuan memenuhi kebutuhan dasar yang diukur dengan dua
indikator garis kemiskinan. Pertama, Garis Kemiskinan Makanan adalah nilai minimal pengeluaran pangan setara dengan 2.100 kilokalori per kapita per hari. Kedua, Garis Kemiskinan Non-Makanan merupakan kebutuhan minimal akan perumahan,
sandang, pendidikan dan kesehatan. Meskipun tingkat kemiskinan
Pekanbaru menurun secara signifikan, sebagian besar penduduk masih hidup di bawah garis kemiskinan. Antara tahun 2010 dan 2019, jumlah penduduk miskin menurun dari 38.200 menjadi 28.600, serupa dengan angka kemiskinan yang menurun dari 4,2% menjadi 2,52%. Penurunan jumlah penduduk miskin di Pekanbaru dipengaruhi oleh Program Pemberdayaan Masyarakat yang mengintegrasikan pemberdayaan sosial, ekonomi dan lingkungan. Pendekatan tersebut tertuang melalui Peraturan Walikota Nomor 20 Tahun 2018 tentang Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis RW.
1.5.4 Permukiman Kumuh
Urbanisasi yang pesat mengakibatkan tumbuhnya permukiman kumuh yang ditandai dengan penurunan kualitas infrastruktur fisik dan kondisi layanan dasar. Pemerintah Kota Pekanbaru telah mengidentifikasi permukiman kumuh seluas 113,56 hektare di tujuh lokasi. Sebagian besar permukiman kumuh terletak di tanah milik masyarakat, namun infrastruktur dan layanan dasar sangat kurang. Lokasi permukiman kumuh ditetapkan berdasarkan Peraturan Walikota Nomor 15 Tahun 2016.
Gambar 4. Kemiskinan di Pekanbaru, 2010-2019
Sumber: BPS Kota Pekanbaru 2010-2019
-5.000 10.000 15.000 2010 38.20 4,20% 32.34 3,45% 32.66 3,38% 32.46 3,27% 32.29 3,17% 33.76 3,27% 32.49 3,07% 33.09 3,05% 31.62 2,85% 28.60 2,52% Poor People Percentage 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 20.000 25.000 30.000 35.000 Axis Title 40.000 6,01 0,00% 0,50% 1,00% 1,50% 2,00% 2,50% 3,00% 3,50% 4,00% 4,50%
Tabel 5. Permukiman Kumuh di Pekanbaru
No Lokasi Area (Ha) Status lahan Prioritas
1. Sungai Sago 24,23 Masyarakat Tinggi
2. Kota Lama 8,18 Masyarakat Tinggi
3. Pesisir 23,04 Masyarakat Tinggi
4. Meranti 21,32 Masyarakat Tinggi
5. Rumbai Pesisir 28,39 Masyarakat Tinggi
6. Sumahilang 3,10 Masyarakat Tinggi
7. Padang Terubuk 5,30 Masyarakat Tinggi
Total 113,56
Sumber: Peraturan Walikota Pekanbaru No. 15/2016
1.6 Data Lingkungan 1.6.1 Kualitas Udara
Pertumbuhan ekonomi yang pesat ditambah dengan urbanisasi telah menyebabkan masalah pencemaran udara yang parah di Kota Pekanbaru. Sumber utama pencemaran udara berasal dari lalu lintas, pembakaran bahan bakar untuk kebutuhan
rumah tangga dan kegiatan industri. Kota Pekanbaru juga rentan
terhadap kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan kabut asap yang memperburuk kualitas udara. Pemantauan kualitas udara yang sistematis diperlukan untuk mengendalikan dampak pencemaran udara.
Pemerintah Kota Pekanbaru secara rutin memantau kualitas udara
ambien yang diukur oleh tiga pos Air
Quality Monitoring System (AQMS),
yaitu PEF 1 (pos tetap Pekanbaru 1) yang terletak di Jl. Utama Gang Kulim Education, PEF 2 di Jl. Ahmad Yani Sukajadi dan PEF 3 di Jl. H. R. Soebrantas Panam. Pada tahun 2017, PEF 3 tidak lagi berfungsi karena kerusakan teknis. Kualitas
udara ambien dipantau dengan menggunakan parameter SO₂, CO, NO₂, O₃ dan PM₁₀. Hasil pemantauan kualitas udara ditampilkan ke
masyarakat melalui tampilan yang dapat dilihat di depan kantor Walikota Pekanbaru dan di Jalan Tuanku
Tambusai di perempatan Soekarno Hatta. Alat pemantauan ini dapat memberikan peringatan dini bila kualitas udara dalam kondisi yang membahayakan.
Dalam lima tahun terakhir, kondisi kualitas udara terancam akibat kebakaran hutan dan lahan terparah yang cukup intensif terjadi di musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino. Pada tahun 2015, kondisi kualitas udara Pekanbaru mencapai tingkat yang membahayakan karena kabut asap yang sangat pekat yang berpotensi memperburuk kesehatan pernapasan masyarakat.
Seperti kejadian kabut asap tahun 2015, kualitas udara Pekanbaru tahun 2019 juga mencapai tingkat yang membahayakan akibat meluasnya kebakaran hutan dan lahan yang
kembali terjadi pada tahun 2019. Kegiatan sosial ekonomi kota tersebut terhenti, termasuk sekolah yang ditutup sementara. Selain itu, penyakit ISPA yang diderita masyarakat semakin meningkat akibat terpapar debu dan asap. Penyakit ini masih menjadi penyakit dengan prevalensi tertinggi yaitu sebesar 81.738 kasus atau 36,7% dari seluruh jenis penyakit serius di Kota Pekanbaru (DIKPLHD of Pekanbaru, 2017).
Gambar 5. Hasil Pemantauan Kualitas Udara Pekanbaru 2013-2017
Sumber: DIKPLHD Kota Pekanbaru, 2017
1.6.2 Kualitas Air Sungai
Sungai Siak merupakan sumber utama air permukaan dan memiliki berbagai fungsi penting sebagai sumber air bersih dan industri, transportasi, perikanan, rekreasi, konservasi sungai dan lain-lain. Sungai Siak sepanjang 59 km yang merupakan sungai terdalam di Indonesia, melintasi Kota Pekanbaru dan Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Kampar, dan Kabupaten Siak. Selain itu, Sungai Siak memiliki 53 anak sungai.
Pengukuran kualitas air Sungai Siak dilakukan di empat lokasi, yaitu di Jembatan Siak II-Palas, Muara Sei Senapelan, Pelabuhan Sungai Duku (Pelindo), dan muara Sei Sail. Pada tahun 2016 dilakukan pengukuran kualitas air sebanyak empat kali
dalam setahun dan hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa
parameter tidak memenuhi baku mutu air kelas II. Sebagian besar parameter kualitas air di Pekanbaru mengalami penurunan yang cukup buruk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks pencemaran air di Sungai Siak berada pada kisaran pencemaran ringan sampai sedang.
Status kualitas air di tiap lokasi adalah sebagai berikut: memenuhi baku mutu (6,25%), tercemar ringan (87,5%) dan tercemar sedang (6,25%). Kondisi tersebut disebabkan oleh beberapa hal antara lain: sungai melewati kawasan permukiman padat penduduk dengan kegiatan masyarakat yang tinggi, banyaknya kegiatan usaha yang masih membuang limbahnya ke badan air yang akhirnya bermuara ke Sungai Siak.
Kontribusi besar limbah domestik ke Sungai Siak dapat dilihat dari kondisi kualitas air di setiap lokasi pemantauan. Indeks Pencemaran Air Kota Pekanbaru adalah 5,0. Pencemaran air disebabkan oleh air limbah dari kegiatan komersial, bisnis dan industri yang tidak diolah. Industri besar harus mengolah air limbahnya dengan benar sebelum dibuang ke sungai.
1.6.3 Gas Rumah Kaca
Kota Pekanbaru telah melakukan inventarisasi GRK pada tahun 2014 dan 2017. Kecenderungan emisi dan penyerapan gas rumah kaca (ton CO₂ ekuivalen) dari tahun 2012 ke tahun 2016 menurun. Total emisi GRK pada tahun 2012 adalah 0,068 Gg CO₂ ekuivalen. Sumber emisi berasal dari: sektor pengadaan dan penggunaan energi (56.470 Gg CO₂ ekuivalen); peternakan (11,13 Gg CO₂ ekuivalen); kegiatan berbasis lahan (10,887,476 Gg CO₂ ekuivalen); pertanian
(36,64 Gg CO₂ ekuivalen); dan limbah (786,005 Gg CO₂ ekuivalen). Sedangkan sektor pemrosesan dan produk industri tidak dipertimbangkan dalam laporan inventarisasi ini karena keterbatasan data. Kegiatan berbasis lahan masih merupakan kontributor emisi GRK terbesar.
Sistem Inventarisasi GRK Nasional (SIGN SMART) juga mengkonfirmasi bahwa emisi terbesar dihasilkan dari penggunaan lahan (LULUCF). Emisi GRK dari semua sektor cenderung meningkat pada periode 2010 – 2013. Emisi GRK tertinggi terjadi pada
tahun 2010 sekitar 285.947.927 ton CO₂ dengan penghasil emisi terbesar adalah sektor LULUCF sebesar
285.867.141 ton CO₂ (99,97%). Meski demikian, emisi GRK pada tahun 2014 turun menjadi 125.242.889 ton CO₂ dengan penghasil emisi terbesar dari sektor LULUCF sekitar 125.119.144 ton CO₂ (99,90%).
Gambar 6. Emisi Gas Rumah Kaca
1.6.4 Sampah Padat
Peningkatan jumlah penduduk berkontribusi pada peningkatan
jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari. Berdasarkan sumbernya, sampah berasal dari pemukiman, kegiatan komersial, fasilitas umum, tempat pendidikan, fasilitas kesehatan, pasar umum dan industri. Jumlah sampah terbesar dihasilkan dari rumah tangga atau daerah permukiman.
Pada tahun 2019 jumlah penduduk Pekanbaru mencapai 1.143.359 jiwa yang tersebar secara tidak merata di 12 kecamatan dengan perbedaan kategori permukiman yaitu sederhana, menengah dan mewah. Berdasarkan jumlah penduduk di masing-masing kecamatan, terhitung total volume sampah yang dihasilkan di kawasan permukiman adalah 1,48 juta liter per hari atau 1.488 m3/hari, dan total
bobot sampah yang dihasilkan adalah 418,5 ton per hari (Rencana Induk Pengelolaan Limbah Padat, 2014). Kegiatan komersial dan kegiatan lainnya juga berkontribusi signifikan terhadap jumlah limbah yang
dihasilkan. Kegiatan tersebut meliputi hotel, restoran, pusat hiburan, perkantoran, kawasan pariwisata, mal, pusat perbelanjaan, pertokoan, pasar, fasilitas umum, pusat pendidikan, pusat kesehatan dan kegiatan industri. Total sampah yang dihasilkan mencapai 2,43 juta liter per hari atau 2.474 m3 per hari
(Rencana Induk Pengelolaan Limbah Padat, 2014). Secara umum komposisi sampah di Pekanbaru terbagi menjadi 70% sampah organik dan 30%
sampah non-organik.
Berdasarkan Kebijakan dan Strategi Daerah Pengelolaan Sampah
(Jakstrada) yang diterbitkan tahun 2018, total sampah yang dihasilkan di Pekanbaru adalah 403.757 ton/ tahun atau 1.106 ton/hari pada tahun 2018, sedangkan jumlah
sampah yang dikelola adalah 293.517 ton/tahun atau 73% dari jumlah sampah yang dihasilkan (Jakstrada, 2018). Pengurangan sampah pada tahun 2018 adalah 71.627 ton/ tahun atau 18% dari total sampah yang dihasilkan. Pemerintah Kota Pekanbaru menetapkan target pengurangan sampah dari 18% dari total sampah pada 2018 menjadi 30% dari total sampah pada 2024. Begitu pula target sampah yang terangkut ke TPA menurun dari 73% pada 2018 menjadi 70% pada 2024.
1.6.5 Air dan Sanitasi
Meningkatnya jumlah penduduk perkotaan dan aktivitas perkotaan telah meningkatkan kebutuhan air bersih. Penyediaan air bersih dilayani melalui PDAM Tirta Siak. Sumber air PDAM Tirta Siak berasal dari Sungai Siak yang menjangkau seluruh kecamatan di Kota Pekanbaru. Namun, cakupan air minum yang disalurkan melalui perpipaan kurang dari 10% dari total penduduk. Oleh karena itu, Dinas Pekerjaan Umum Kota Pekanbaru berperan membantu masyarakat dalam menyediakan sarana dan prasarana air bersih untuk wilayah yang belum terjangkau PDAM. Penggunaan air tanah masih tinggi untuk keperluan rumah tangga.
Selain kebutuhan air, peningkatan jumlah penduduk dan permukiman yang pesat ini juga membutuhkan dukungan sarana dan prasarana sanitasi. Penyediaan sarana dan prasarana sanitasi yang memadai merupakan prasyarat bagi kesehatan masyarakat dan kesehatan
lingkungan.
Air limbah dibagi menjadi dua
kategori, yaitu limbah domestik dari aktivitas rumah tangga dan limbah non-domestik dari aktivitas industri, rumah sakit dan komersial. Kota Pekanbaru tidak memiliki pengolahan air limbah terpusat untuk melayani seluruh wilayah kota. Hanya ada sistem terpusat untuk melayani kawasan permukiman baru dengan kapasitas terbatas. Air limbah rumah tangga sangat bergantung pada
sistem desentralisasi atau pengolahan air di tempat yang memiliki cakupan 87% (tangki septik individu dan toilet umum). Namun, masih ada rumah tangga yang masih melakukan buang air besar sembarangan meskipun jumlahnya sedikit.
1.6.6 Transportasi
Sektor transportasi dipengaruhi oleh jumlah kendaraan dan panjang jalan. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor di Pekanbaru diikuti dengan pembangunan jaringan jalan raya. Menurut Dinas Pekerjaan Umum dan Perencanaan Tata Ruang Kota Pekanbaru, terdapat penambahan panjang jalan kelas III C di Kota Pekanbaru dari 2.818,54 pada tahun 2015 menjadi 2.872,92 pada tahun 2017. Berdasarkan jenis jalan,
panjang jalan yang ada di Pekanbaru adalah 3.079,61 km dengan rincian jalan kota 2.872,92 km, jalan provinsi 123,24 km dan jalan nasional 83,45 km.
Jumlah kendaraan bermotor terus meningkat setiap tahun. Namun, data lengkap mengenai jumlah penjualan kendaraan bermotor belum tersedia. Saat ini jumlah kendaraan yang menggunakan bahan bakar premium/ bensin termasuk kendaraan roda dua, kendaraan penumpang pribadi dan umum sekitar 1.504.769 unit dengan 31.163 unit kendaraan menggunakan bahan bakar solar. Sedangkan
bahan bakar solar sebagian besar digunakan oleh truk kecil, truk besar, bus kecil serta bus besar. Kebutuhan bahan bakar dari jenis bensin/
premium lebih tinggi dibandingkan dengan kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar solar. Ini akan berkorelasi dengan jumlah bahan bakar premium/bensin yang harus disediakan dan sisanya di alam. Terlebih lagi, hal tersebut berkaitan erat dengan berkurangnya pasokan atau cadangan sumber daya alam dari fosil dan juga akan meningkatkan emisi dari pembakaran bahan bakar dari udara.
Pemerintah Kota Pekanbaru telah melakukan uji emisi kendaraan bermotor yaitu mengukur gas
buang kendaraan untuk mendeteksi performa mesin kendaraan dalam kondisi baik atau tidak. Uji emisi ini dilakukan untuk memantau efektivitas proses pembakaran bahan bakar pada mesin kendaraan bermotor setelah dilakukan analisis kandungan CO₂ dan HC dalam gas buang. Melalui uji emisi
ini diharapkan dapat mengurangi pencemaran udara, mencegah beroperasinya kendaraan bermotor yang tidak ramah lingkungan dan memiliki emisi di luar ambang batas atau pencemaran udara yang tinggi. Uji emisi kendaraan bermotor ini dilakukan pada tahun 2018, namun pada tahun-tahun berikutnya tidak dapat dilanjutkan karena keterbatasan anggaran.
1.6.7 Penggunaan Energi
Listrik memiliki peran yang sangat vital sebagai sumber penerangan dan energi lainnya bagi rumah tangga dan industri. Sumber listrik tersebut berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel dan Gas di Teluk Lembu serta Interkoneksi Sumatra Selatan berkapasitas 114 MW. Untuk mendukung pengembangan kawasan industri tersebut, Pembangkit Listrik Tenaga Uap berbahan bakar batu bara di Tenayan Raya sedang dibangun dengan kapasitas 220 MW dan akan beroperasi pada tahun 2021.
Pada tahun 2019, total produksi listrik adalah 1,8 miliar KWh di mana
46,76% digunakan oleh rumah tangga (46,7%) dan bisnis (30,5%). Jumlah pelanggan listrik di Kota Pekanbaru mencapai 391.000 rumah tangga pada tahun 2016; 45.000 bisnis, sisanya kebutuhan Sosial/Umum, Multiguna, Pemerintahan, Industri, Penerangan Jalan, dan Bisnis. Permintaan yang ada tinggi sedangkan kapasitas pasokan terbatas. Beberapa area mengalami pemadaman bergilir. Penggunaan BBM di tingkat rumah tangga juga dapat menghasilkan emisi yang secara tidak langsung memengaruhi kualitas udara di Kota Pekanbaru. Ketersediaan data konsumsi BBM untuk keperluan
rumah tangga hanya ada untuk enam kecamatan (dari total 12 kecamatan) yaitu Kecamatan Payung Sekaki, Bukit Raya, Sail, Sukajadi, Rumbai dan Pesisir Rumbai. Berdasarkan data tersebut, bahan bakar LPG dan kayu bakar paling banyak digunakan oleh rumah tangga di Kecamatan Bukit Raya, minyak tanah di Kecamatan Payung Sekaki dan briket di
Kecamatan Payung Sekaki (DIKPLHD Pekanbaru 2017).
1.7 Perencanaan Tata Ruang dan Perubahan Guna Lahan 1.7.1 Struktur dan Pola Ruang
Pusat-pusat layanan kota secara spasial ditentukan oleh karakteristik wilayah dan sistem jaringan jalan raya, dan mengikut pertimbangan-pertimbangan berikut: (a)
Memperkuat fungsi pusat kota yang sudah ada selama ini dengan menyelaraskan fungsi jaringan jalan dan kegiatan-kegiatannya; (b) Pusat kota terdiri dari Pusat kota secara luas (hierarki pertama) sepanjang jalan utama, Jalan Sudirman, dan empat sub-pusat kota serta beberapa pusat komunitas; (c) Kriteria
sub-pusat kota adalah: cakupan layanan, percepatan pertumbuhan
di wilayah-wilayah sepanjang jalan lingkar luar (outer ring road) di Tenayan Raya dan Rumbai Pesisir dan keseimbangan fungsi sub-sub pusat kota. Pengembangan sub-sub pusat kota di area utara Sungai Siak diarahkan untuk kegiatan yang mendatangkan dampak rendah untuk lingkungan. Sementara bagian selatan Sungai Siak diarahkan
untuk menjadi area terbangun terutama untuk perdagangan dan jasa, industri, permukiman dan pendidikan. Di bagian timur, prioritas pembangunannya adalah untuk industri, gudang, jasa perdagangan dan transportasi.
Gambar 7. Pola Spasial Kota Pekanbaru
1.7.2 Perubahan Tutupan Lahan
Sejak tahun 2000 hingga sekarang Kota Pekanbaru telah mengalami perubahan tutupan lahan yang cukup signifikan. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya pembangunan permukiman, ruko, gedung
perkantoran dan jalan raya serta semakin berkurangnya area ruang terbuka hijau.
Pekanbaru memiliki luas 632,26 km² atau 63.226 hektare yang didominasi oleh semak dan belukar (39% dari total luas wilayah Pekanbaru). Dinamika penggunaan lahan dalam kurun waktu 1989 - 2012 (23 tahun) terlihat pada penurunan luas hutan dan semak/belukar/padang rumput serta peningkatan lahan terbangun dan lahan kosong akibat pertumbuhan
area perkotaan. Penurunan luas hutan mencapai 12,9 ribu hektare, sedangkan penurunan pada semak/ belukar/padang rumput mencapai 12,8 ribu hektar. Sementara peningkatan luas lahan terbangun mencapai 2,7 ribu hektare dan lahan kosong mencapai 11,9 ribu hektare. Peningkatan luas lahan kosong diperuntukkan sebagai lahan yang dikembangkan seperti permukiman dan perkantoran, serta untuk kegiatan pertanian dan perkebunan kelapa sawit. Saat ini luas kawasan hutan hanya mencakup sekitar 3,9% dari total luas Kota Pekanbaru yang
terdapat dalam kawasan Chevron dan kawasan Universitas Lancang Kuning, serta kawasan hutan konservasi Tahura Sultan Syarif Hasyim. Tabel 6. Perubahan Tutupan Lahan, 1989-2012
No. Tutupan Lahan 1989 2012
Ha % Ha % 1. Hutan (sekunder) 15.337,1 21,6% 2.359,89 3,9% 2. Tanah kosong 5.910,6 8,3% 17.811,30 29,5% 3. Badan air 994,2 1,4% 869,76 1,4% 4. Area terbangun 8.499,9 12,0% 11.202,40 18,6% 5. Rumput 7.697,4 10,8% - -6. Belukar 28.764,0 40,5% 23.595,10 39,1%
7 Tidak ada data 3.770,0 5,3% 4.549,68 7,5% Total 70.973,2 100% 60.388,13 100,0% Sumber: RPJMD Kota Pekanbaru
Perkembangan kota yang pesat di Pekanbaru juga berkontribusi terhadap perubahan lingkungan termasuk peningkatan suhu permukaan di beberapa wilayah perkotaan. Peningkatan suhu permukaan menyebabkan semakin meningkatnya suhu udara dan menurunnya kenyamanan. Kondisi ini
disebabkan oleh bertambahnya luas area terbangun dan berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH).
Ada sebuah penelitian yang bertujuan mengidentifikasi fenomena Heat
Island di Pekanbaru dengan menggunakan data citra satelit untuk mengukur distribusi suhu permukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu
permukaan di kawasan perkotaan seperti permukiman, perkantoran, jalan raya dan lahan gundul lebih tinggi dari suhu permukaan di kawasan RTH. Kondisi ini mengindikasikan fenomena Heat Island terjadi di Pekanbaru. Selain itu, ruang terbuka hijau harus dibangun untuk menurunkan suhu udara dan menciptakan iklim mikro yang nyaman. Agar efisien, ruang terbuka hijau harus dikembangkan pada lokasi-lokasi dengan suhu udara yang tinggi.
Beberapa wilayah di Pekanbaru rawan terhadap banjir dan genangan.
Penyebab utama banjir adalah intensitas curah hujan yang tinggi dan kapasitas drainase yang tidak memadai untuk menampung luapan air. Kapasitas Sungai Siak yang sudah melewati batas juga menyebabkan banjir di bantaran Sungai Siak di Rumbai Pesisir, Tenayan Raya, dan Payung Sekaki.
Pada tahun 2016 terdapat 4 (empat) kecamatan terdampak banjir dan genangan yaitu Kecamatan Tampan seluas 10 hektare, Kecamatan Bukit Raya seluas 31,5 hektare, Kecamatan Rumbai Pesisir seluas 21,5 hektare dan Kecamatan Rumbai seluas 3,45 hektare. Banjir dan genangan disebabkan oleh meluapnya Sungai Siak dan curah hujan yang tinggi. Genangan bervariasi dalam hal ketinggian (0,3-1 meter), luas genangan (0,5 sampai 7 hektare), durasi (1,5-48 jam) dan frekuensi (3-15 kali/tahun).
Banjir terjadi pada tanggal 23 Juni 2017 di pusat kota. Hujan deras dengan durasi yang lama menyebabkan banjir di beberapa jalan utama, area Terminal dan di depan Grand Central Hotel. Banjir di dekat Grand Central Hotel
ketinggiannya lebih dari 50 cm dan membuat air meluap ke rubanah hotel, mengakibatkan 8 mobil dan 20 sepeda motor terendam di rubanah. Total kerugian akibat banjir ini diperkirakan mencapai 571.428 USD (8 miliar IDR).
Gambar 8. Area Rawan Banjir di Pekanbaru
Sumber: Nurdin & Suprayogi, 2015
Kota Pekanbaru dikelilingi oleh kawasan yang rawan kebakaran hutan dan lahan, yang menjadikan kota ini rentan terhadap kabut asap. Selain itu, Provinsi Riau merupakan provinsi dengan wilayah hutan dan lahan terbakar yang luas di Pulau Sumatra. Arah angin yang berdampak pada kabut asap di Pekanbaru tentunya sulit dikendalikan. Kondisi ini semakin memengaruhi peningkatan pencemaran udara dan berdampak pada kesehatan masyarakat, yang menimbulkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kabut asap
menyebar ke wilayah di Pulau Sumatra dan juga mencapai wilayah Malaysia dan Singapura seperti yang terjadi pada tahun 2015 lalu.
Kebakaran hutan dan lahan terjadi di bagian barat Kota Pekanbaru yang berbatasan dengan Kabupaten Kampar yang didominasi lahan gambut. Di musim kemarau, kawasan ini rawan terbakar dan sulit dipadamkan. Oleh karena itu, perlu perhatian khusus untuk membangun sekat kanal dan sumur bor untuk mengantisipasi kebakaran lahan yang menyebabkan pencemaran kabut asap.
Gambar 9. Area Kebakaran Hutan dan Lahan di Tiga Provinsi di Pulau Sumatra (Ha)
Sumber: http://sipongi.menlhk.go.id/hotspot/luas_kebakaran
Dalam lima tahun terakhir, intensitas kebakaran hutan dan lahan tertinggi terjadi pada tahun 2015 yang berdampak pada area seluas 230,25 hektare dan pada tahun 2016 menurun drastis menjadi 49,78 hektare. Areal kebakaran lahan terluas terjadi di Kecamatan Payung Sekaki dan Tampan. Kebakaran hutan dan lahan terakhir terjadi pada tahun 2019 pada area seluas 225,50 hektare. Ada 173 kasus kebakaran hutan dan lahan yang meliputi 42 kasus di Kecamatan Payung Sekaki, 42 kasus di Kecamatan Bukit Raya, 33 kasus di Kecamatan Tampan, 18 kasus di Kecamatan Rumbai, 18 kasus di Kecamatan Marpoyan Damai, dan 14 kasus di Kecamatan Tenayan Raya (Bisnis.com, 2019). 700.000 600.000 500.000 400.000 300.000 300.000 100.000 2015 2016 2017 2018 2019 0
Gambar 10. Titik Panas (hotspot) Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau 2015 dan 2019
Sumber: KLHK, 2016 dan 2019
1.9 Risiko dan Kerentanan Perubahan Iklim Terkait penilaian kerentanan dan
risiko perubahan iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mengembangkan Sistem Informasi Data Indeks Kerentanan (SIDIK) yang menyediakan data dan informasi mengenai kerentanan dan risiko perubahan iklim di tingkat provinsi, kabupaten, kota dan desa. SIDIK menghitung indeks kerentanan berdasarkan indeks keterpaparan sensitivitas dan indeks kapasitas adaptif yang menggunakan data potensi desa oleh CBS. Sistem ini juga menghitung daerah risiko iklim yang terbagi menjadi dua jenis bahaya terkait iklim yaitu banjir dan kekeringan. Risiko iklim dihitung
berdasarkan kelas kerentanan dan peluang terjadinya distorsi iklim (curah hujan).
Berdasarkan laporan SIDIK, terdapat 82 desa di Pekanbaru yang memiliki tingkat kerentanan sedang, dan hanya satu desa dengan tingkat kerentanan sangat rendah yaitu Desa Simpang Empat. Lebih lanjut, hasil perhitungan risiko iklim menunjukkan bahwa terdapat 57 desa pada tingkat risiko banjir sedang dan tingkat risiko kekeringan rendah. Pada musim kemarau, Pekanbaru bagian barat rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan terutama desa-desa di sekitar perbatasan Kabupaten Kampar yang didominasi oleh lahan gambut.
Gambar 11. Risiko Iklim Indikatif di Pekanbaru
(a) Risiko banjir (b) Risiko kekeringan
Sumber: SIDIK KLHK, 2020
Sebagian besar Kota Pekanbaru terindikasi rawan banjir. Hal ini sejalan dengan fakta kejadian banjir yang sering terjadi di Pekanbaru terutama di saat musim hujan dengan intensitas yang tinggi. Hasil penilaian kerentanan dan risiko iklim SIDIK dapat digunakan untuk mendukung perencanaan pembangunan yang dapat menyesuaikan dengan perubahan iklim.
1.10 Tata Kelola Perkotaan 1.10.1 Struktur Pemerintah Kota
Pekanbaru
Pemerintah Kota Pekanbaru terbagi menjadi dua unsur utama. Pertama, unsur eksekutif meliputi Walikota, Wakil Walikota, dan Organisasi
Perangkat Daerah. Walikota dan Wakil Walikota adalah jabatan politik yang dipilih langsung oleh warga setiap lima tahun. Instansi Pemerintah Daerah di Kota Pekanbaru terdiri dari Sekretaris Kota, Inspektorat, 23 Instansi Daerah, 7 Dewan Daerah, 12 Kecamatan
dan 83 Kelurahan. Pemerintah Kota dapat membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk mendukung
pembangunan ekonomi kota, terutama pada jenis-jenis investasi yang belum menarik untuk sektor swasta dan kewajiban pelayanan publik.
Kedua, unsur legislatif yang dikenal dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) adalah lembaga perwakilan rakyat sebagai salah satu unsur penyelenggara pemerintahan daerah di tingkat kota. DPRD terdiri dari anggota partai politik yang dipilih melalui pemilihan umum setiap lima tahun. Dalam kurun waktu 2019-2024, jumlah anggota legislatif (DPRD) di Pekanbaru sebanyak 45 orang yang mewakili 9 (sembilan)