INDUKSI AKAR EKSPLAN PUCUK TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis) KLON PB 260 SECARA EX VITRO MENGGUNAKAN
INDOLE BUTIRIC ACID (IBA) DAN NAPHTHALENE ACETIC ACID (NAA)
DEWI RIZKIANI
PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 2020 M /1441
INDUKSI AKAR PADA EKSPLAN PUCUK TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis) KLON PB 260 SECARA EX VITRO MENGGUNAKAN
INDOLE BUTIRIC ACID (IBA) DAN NAPTHALENE ACETIC ACID (NAA)
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Pada Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
DEWI RIZKIANI 11150950000072
PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
INDUKSI AKAR PADA EKSPLAN PUCUK TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis) KLON PB 260 SECARA EX VIRTO MENGGUNAKAN INDOLE BUTIRIC ACID (IBA) DAN NAPHTHALENE ACETIC ACID (NAA)
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains pada Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
DEWI RIZKIANI 11150950000072 Menyetujui: Pembimbing I, Dr. Dasumiati, M.Si. NIP. 19730923 199903 2 002 Pembimbing II,
Yusuf SA. Fauzan, S.Hut, M.Si. NIP. 19810408 200910 1 002.
Mengetahui,
Ketua Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Dr. Priyanti, M.Si. NIP. 19750526 200012 2 001
PENGESAHAN UJIAN
Skripsi berjudul “Induksi Akar Pada Eksplan Pucuk Tanaman Karet (Hevea brasiliensis) Klon PB 260 secara Ex Vitro Menggunakan Indole Butiric Acid (IBA) dan Naphthalene Acetic Acid (NAA)” yang ditulis oleh Dewi Rizkiani, NIM 11150950000072 telah diuji dan dinyatakan LULUS dalam sidang Munaqosyah Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 13 Mei 2020. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) Program Studi Biologi.
Menyetujui:
Mengetahui,
Penguji I,
Dr. Agus Salim, M.Si NIP. 19720816 199903 1 003
Penguji II,
Etyn Yunita, M.Si. NIP. 19700628 201411 2 002 Pembimbing I,
Dr. Dasumiati, M.Si. NIP. 19730923 199903 2 002
Pembimbing II,
Yusuf SA Fauzan, S.Hut, M.Si. NIP. 19810408 200910 1 002
Dekan Fakultas Sains dan Teknologi
Prof. Dr. Lily Surayya Eka Putri, M.Env.Stud. NIP. 19690404 200501 2 005
Ketua Program Studi Biologi
Dr. Priyanti, M.Si.
PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA MANAPUN.
Jakarta, Juni 2020
Dewi Rizkiani 111509500072
v ABSTRAK
Dewi Rizkiani, Induksi Akar Eksplan Pucuk Tanaman Karet (Hevea brasiliensis) Klon PB 260 secara Ex Vitro Menggunakan Indole Butiric Acid (IBA) dan Naphthalene Acetic Acid (NAA). Skripsi. Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2020. Dibimbing oleh Dasumiati dan Yusuf Sigit Ahmad Fauzan. Karet (Hevea brasiliensis) merupakan tanaman perkebunan yang berperan penting sebagai sumber devisa non-migas bagi Indonesia. Tanaman karet di Indonesia memiliki tingkat produktivitas yang rendah dibandingkan dengan negara penghasil karet lainnya. Peningkatan produktivitas tanaman karet dapat dilakukan dengan perbanyakan tanaman karet dari klon unggul secara ex vitro. Cara untuk meningkatkan keberhasilan teknik ex vitro adalah dengan menginduksi akar eksplan pucuk tanaman karet menggunakan IBA (Indole Butiric Acid) dan NAA (Naphthalene Acetic Acid). Tujuan penelitian ini adalah memperoleh konsentrasi IBA dan NAA yang optimal untuk induksi akar pada eksplan pucuk tanaman
karet. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap
Faktorial. Faktor pertama adalah konsentrasi IBA dengan 6 taraf (0, 100, 200, 300, 400 dan 500 ppm). Faktor kedua adalah NAA dengan 4 taraf (0, 50, 100 dan
150 ppm). Hasil menunjukkan persentase hidup eksplan setelah diinduksi dengan
IBA dan NAA tidak berpengaruh nyata. Pada akhir pengamatan eksplan yang berhasil berakar adalah eksplan dengan perlakuan IBA 200 ppm dan NAA 0 ppm, IBA 200 ppm dan NAA 50 ppm, IBA 300 ppm dan NAA ppm, dan IBA 400 ppm dan NAA 0 ppm. pemberian IBA dan NAA dengan konsentrasi yang berbeda-beda tidak berpengaruh nyata terhadap pembentukan akar pada eksplan pucuk tanaman karet.
vi ABSTRACT
Dewi Rizkiani, Induction Root on The Shoots of Rubber Plant (Hevea brasiliensis) Klone PB 260 in Ex Vitro Using Indole butyric Acid (IBA) and Naphthalene Acetic Acid (NAA). Undergate Thesis. Departement of Biology. Faculty of Science and Technology. Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta. Advice by Dasumiati and Yusuf Sigit Ahmad Fauzan. Rubber (Hevea brasiliensis) has good prospect and has evolved over time in Indonesia. Rubber plants in Indonesia have a low of productivity compared to other rubber producing countries. For this reason, it is necessary propagation rubber plants from superior clones in ex vitro. The way to increase the success of ex vitro by inducing root shoot explants in rubber plant using IBA and NAA. The purpose of this study was to obtain optimal IBA and NAA concentrations for root induction in explant shoots of rubber plants. The research design used was a Factorial Complete Randomized Design. The first factor is IBA concentration with 6 levels (0, 100, 200, 300, 400 and 500 ppm). The second factor is NAA with 4 levels (0, 50, 100 and 150 ppm). The results showed the percentage of explant life after being induced with IBA and NAA had no significant effect. At the end of the observation the rooted explants were explants treated with IBA 200 ppm and NAA 0 ppm, IBA 200 ppm and NAA 50 ppm, IBA 300 ppm and NAA ppm, and IBA 400 ppm and NAA 0 ppm. Administration of IBA and NAA with varying concentrations did not significantly affect root formation in explant shoots of rubber plants
vii KATA PENGANTAR
Puji dan syukur sebesar-besarnya penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Induksi Akar Eksplan Pucuk Tanaman Karet (Hevea brasiliensis) Klon PB 260 secara Ex Vitro Menggunakan Indole Butiric Acid (IBA) dan Naphthalene Acetic Acid (NAA)”
Pada kesempatan ini tidak ada hal yang dapat penulis sampaikan selain terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala bantuan, bimbingan, nasehat dan do’a yang senantiasa menghampiri penulis. Ucapan ini penulis sampaikan kepada: 1. Prof. Dr. Llily Surayya Eka Putri, Env.Stud selaku Dekan Fakutas Sains dan
Teknologi, Uin Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Priyanti, M.Si sebagai Ketua Program Studi Biologi dan Narti Fitriana, M.Si sebagai Wakil Ketua Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
3. Dr. Dasumiati, M.Si. selaku pembimbing I atas segala kesempatan, ilmu, waktu, bimbingan, dan saran yang bermanfaat kepada penulis.
4. Yusuf Sigit Ahmad Fauzan, S . H u t . , M . S selaku pembimbing II atas segala kesempatan, ilmu, waktu, bimbingan, dan saran yang bermanfaat kepada penulis. 5. Bapak/ibu dosen dan staff pengajar Jurusan Biologi Fakultas Sains dan
Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Bapak/ibu staf tenaga ahli di Pilot Plant Propagasi Tanaman Balai Bioteknologi-Badan Pengkajian dan Teknologi (BPPT), Serpong yang membantu dalam penelitian.
Penulis berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan
seluruh pihak khususnya bidang biologi.
Jakarta, Juni 2020
viii DAFTAR ISI
ABSTRAK ... v
ABSTRACT ………...…vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix DAFTAR TABEL ... x DAFTAR LAMPIRAN ... xi BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2. Rumusan Masalah ... 3 1.3. Hipotesis ... 4 1.4. Tujuan ... 4 1.5. Manfaat ... 4 1.6. Kerangka Berpikir ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6
2.1. Botani Karet ... 6
2.2. Klon Unggul Tanaman Karet ... 8
2.3. Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif ... 8
2.4. Bahan Eksplan ... 9
2.5. Zat Pengatur Tumbuh Auksin ... 10
BAB III METODEOLOGI PENELITIAN ... 12
3.1. Waktu dan Tempat ... 12
3.2. Bahan dan Alat... 12
3.3. Rancangan Percobaan ... 12
3.4. Cara Kerja ... 12
3.5. Parameter Pengamatan... 15
3.6. Analisis Data ... 18
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 19
4.1. Pertumbuhan dan Morfologi Eksplan Pucuk Tanaman Induk Karet ... 19
4.2. Jumlah Kandungan Klorofil dan Auksin pada Eksplan Pucuk pada Tanaman Induk Karet ... 21
4.3. Persentase Hidup Eksplan Pucuk Tanaman Karet ... 23
4.4. Jumlah Daun pada Eksplan Pucuk Tanaman Karet ... 23
4.5. Akar pada Eksplan Tanaman Karet yang Terbentuk Setelah Induksi..28
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 30
5.1. Kesimpulan ... 30
5.2. Saran ... 30
DAFTAR PUSTAKA ... 31
ix DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Kerangka berpikir penelitian .……….…... 5
Gambar 2. Morfologi tanaman karet……….………... 7
Gambar 3. Morfologi eksplan pucuk pada tanaman induk ………... 19
Gambar 4. Jumlah klorofil pada eksplan pucuk tanaman karet ……... 20
Gambar 5. Kandungan auksin pada eksplan pucuk tanaman karet ……... 21
Gambar 6. Pangkal batang pada eksplan karet yang menghasilkan kalus dan akar ……...…………... 29
x DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Rata-rata parameter pertumbuhan eksplan pucuk tanaman
karet pada tanaman induk karet selama 6 minggu …...………….... 18
Tabel 2. Persentase hidup eksplan karet selama 16 minggu………... 22 Tabel 3. Rata-rata jumlah daun pada eksplan tanaman karet
selama 16 minggu..……….. 26
Tabel 4. Hasil akar pada eksplan tanaman karet yang terbentuk
xi DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Denah perlakuan penelitian induksi akar eksplan pucuk
tanaman karet (Hevea brasiliensis) klon PB 260 secara
ex vitro menggunakan Indole Butiric Acid (IBA) dan
Naphthalene Acetic Acid (NAA) ………. 12
Lampiran 2. Hasil analisis ragam persentase hidup eksplan pada
tanaman karet………. 22
Lampiran 3. Hasil Pengamatan kondisi lingkungan di dalam
sungkup... 24
Lampiran 4. Hasil akar yang terbentuk pada induksi akar eksplan
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karet merupakan tanaman perkebunan yang memiliki peran penting sebagai sumber devisa non-migas bagi Indonesia. Delapan puluh persen produksi karet Indonesia diekspor ke berbagai negara sedangkan permintaan karet untuk dalam negeri hanya mencapai 20%. Volume ekspor karet pada tahun 2015 mencapai 2,6 juta ton dan bernilai sebesar 3.69 US$ (Chafid, 2016). Peningkatan permintaan dunia terhadap karet memberikan peluang bagi Indonesia untuk menjadi negara pengekspor karet terbesar di dunia. Namun, dalam hal poduktivitas Indonesia memiliki tingkat produktivitas yang rendah dibandingkan dengan negara penghasil karet lainnya. Negara Thailand dapat memproduksi sebanyak 1.800 Kg/Ha tiap tahun sedangkan Indonesia hanya memproduksi 1.080 Kg/Ha selain itu negara Vietnam memproduksi sebesar 1.720 Kg/Ha dan juga Malaysia memproduksi sebesar 1.510 Kg/Ha (Hidayah & Harahap, 2018). Karet merupakan salah satu komoditas unggulan dan komoditi ekspor, oleh karena itu budidaya karet harus terus dikembangkan dan diremajakan dengan menggunakan klon-klon baik (Marpaung, 2017).
Rendahnya produktivitas perkebunan karet Indonesia disebabkan oleh beberapa hal, antara lain penerapan teknologi dan pengelolaan kebun yang belum tepat, penggunaan bibit yang berkualitas rendah atau bukan klon unggul dan rentannya tanaman karet terkena penyakit (Boerhendhy & Amypalupy, 2011). Penggunaan bibit yang tidak berkualitas salah satunya disebabkan oleh bibit yang digunakan berasal dari biji atau perbanyakan tanaman dengan sistem generatif. Perbanyakan tanaman dengan sistem generatif memiliki kekurangan yaitu sifat genetik tidak sama dengan induknya (Nuroniah, Nuraini, & Bogidarmanti, 2018). Penelitian ini menggunakan klon PB 260 yang merupakan salah satu klon unggul karet. Beberapa kelebihan yang dimiliki klon ini adalah menghasilkan produksi lateks yang tinggi, pertumbuhan cepat dan resisten terhadap Corynospora
collecotricum dan Oidium hevea (Arif, Murniati, & Ardian, 2016). Penggunaan
2
penempelan mata tunas antara batang atas dan bawah yang berasal dari bibit karet unggul (Arif et al., 2016).
Program peremajaan dan pembukaan kebun baru diperkirakan membutuhkan lahan seluas 617 ribu Ha (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2015) dan pada tahun 2013 untuk pembukaan kebun baru diperkirakan membutuhkan lahan seluas 20 ribu Ha. Satu hektar lahan diperkirakan memerlukan sebanyak 600 batang, maka untuk peremajaan dan pembukaan kebun baru memerlukan bibit sebanyak 382.2 juta batang. Program peremajaan dan pembukaan kebun baru untuk perkebunan karet dianjurkan untuk mengunakan bibit unggul agar dapat menghasilkan produktivitas tanaman yang tinggi. Kondisi tersebut akan meningkatkan kebutuhan bibit unggul, baik kuantitas maupun kualitasnya (Boerhendhy & Amypalupy, 2011). Oleh karena itu untuk meningkatkan kapasitas produksi tanaman karet dapat dilakukan dengan pembibitan dengan teknik ex vitro menggunakan eksplan pucuk.
Pembibitan dengan teknik ex vitro adalah perbanyakan tanaman secara vegetatif yang dilakukan dalam kondisi terkendali di luar laboratorium (Karyanti, Fauzan, Tajudin, Erwinda, Minaldi & Haska, 2016). Keunggulan dari teknik ex
vitro adalah sederhana, menghemat biaya dan dapat dilakukan kapan saja tidak
tergantung oleh musim sehingga lebih efisien (Joni, Efendi, Roostika, 2015). Kendala dari pembibitan dengan teknik ex vitro adalah rendahnya persentase hidup. Hal ini diduga disebabkan oleh rendahnya tingkat pembentukan akar pada eksplan. Induksi akar diperlukan untuk pembentukan akar pada eksplan, karena akar berperan dalam pengambilan hara dalam tanah yang sangat diperlukan untuk
pertumbuhan eksplan selanjutnya (Kurniawati, 2009).
Eksplan memiliki pengaruh terhadap keberhasilan induksi pembentukan akar (Sudrajat & Siregar, 2018). Oleh sebab itu perlu dilakukan persiapan eksplan untuk mendapatkan eksplan yang baik untuk induksi pembentukan akar. Pembibitan dengan teknik ex vitro menggunakan eksplan pucuk memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan bahan eksplan lainnya. Menurut Sudrajat & Siregar (2018) Eksplan yang berasal dari bagian pucuk memiliki persentase berakar 65.71% dibandingkan dengan potongan tengah 33.3% dan potongan bagian bawah 33.10%. Induksi akar dipengaruhi oleh hormon endogen dan
3
cadangan makanan yang terdapat pada eksplan untuk pembelahan sel membentuk akar (Pujawati, Susilawati, & Palawati, 2017). Eksplan pucuk didapatkan dengan cara melakukan pemangkasan pada tanaman induk. Pemangkasan merupakan salah satu teknik rejuvenasi hal ini bertujuan untuk mendapatkan eksplan yang secara fisiologis bersifat juvenil (Kurniaty, Putri, & Siregar, 2016).
Peningkatan pembentukan akar dapat dilakukan dengan cara induksi akar tanaman dengan menggunakan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) (Sudrajat & Siregar, 2018). Penggunaan ZPT yang mengandung auksin sangat dibutuhkan untuk pembentukan akar, ZPT yang termasuk kedalam golongan auksin yaitu Indole
Butyric Acid (IBA), Naphthalene Acetic Acid (NAA), dan Indole Acetic Acid
(IAA) (Zhang, Guo, Zhang, & Li, 2015). Konsentrasi ZPT yang diperlukan setiap tanaman berbeda-beda. Perbedaan konsentrasi yang diberikan akan menimbulkan pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pemberian konsentrasi yang tepat diperlukan untuk mendapatkan hasil yang optimal (Alfiansyah, Indra, & Khoiri, 2015). Penelitian sebelumnya menggunakan IBA dengan konsentrasi 0 ppm, 2.000 ppm, 4.000 ppm dan 6.000 ppm sedangkan NAA dengan konsentrasi 0 ppm, 250 ppm dan 500 ppm belum dapat menginduksi akar eksplan pucuk tanaman karet klon PB 260 oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan induksi akar dengan konsentrasi IBA dan NAA di bawah konsentrasi sebelumnya.
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini adalah:
1. Apakah IBA dengan konsentrasi 0, 100, 200, 300, 400 dan 500 ppm dapat
menginduksi pembentukan akar tanaman karet klon PB 260 secara ex vitro?
2. Apakah NAA dengan konsentrasi 0, 50, 100 dan 150 ppm dapat menginduksi
pembentukan akar tanaman karet klon PB 260 secara ex vitro ?
3. Apakah interaksi konsentrasi IBA 0, 100, 200, 300, 400 dan 500 ppm dengan
NAA 0, 50, 100 dan 150 ppm dapat menginduksi pembentukan akar tanaman
4
1.3. Hipotesis
Hipotesis penelitian ini adalah:
1. Diperoleh konsentrasi IBA 0, 100, 200, 300, 400 dan 500 ppm yang dapat
menginduksi pembentukan akar tanaman karet klon PB 260 secara ex vitro.
2. Diperoleh konsentrasi NAA 0, 50, 100 dan 150 ppm yang dapat menginduksi
pembentukan akar tanaman karet klon PB 260 secara ex vitro.
3. Diperoleh interaksi konsentrasi IBA 0, 100, 200, 300, 400 dan 500 ppm dengan
NAA 0, 50, 100 dan 150 ppm yang dapat menginduksi pembentukan akar
tanaman karet klon PB 260 secara ex vitro.
1.4. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Memperoleh konsentrasi IBA yang optimal pada induksi pembentukan akar tanaman karet klon PB 260 secara ex vitro.
2. Memperoleh konsentrasi NAA yang optimal pada induksi pembentukan akar tanaman karet klon PB 260 secara ex vitro.
3. Memperoleh konsentrasi interaksi IBA dan NAA pada induksi pembentukan akar tanaman karet klon PB 260 secara ex vitro.
1.5. Manfaat
Harapan dan manfaat penelitian ini adalah
1. Memperoleh teknologi/metode perbanyakan tanaman karet secara ex vitro melalui induksi akar eksplan tanaman karet
2. Mengatasi permasalahan kekurangan bibit karet unggul untuk rehabilitasi dan pengembangan areal perkebunan karet di Indonesia.
5
1.6. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir dari penetian ini adalah (Gambar 1):
Gambar 1. Kerangka Berpikir penelitian induksi akar eksplan pucuk tanaman
karet (Hevea brasiliensis) klon PB 260 secara ex vitro menggunakan IBA dan NAA
Bibit unggul hasil ex vitro
Teknik ex vitro: - Sederhana - Murah - Efisien
Sifat genetik tidak sama dengan tanaman induk
Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Tingginya permintaan bahan
baku karet dunia
Pembibitan dengan teknik kultur ex vitro dengan menggunakan eksplan pucuk.
Rendahnya persentase hidup Pengelolaan perkebunan
yang belum tepat
Induksi Akar
IBA
- Meningkatkan translokasi karbohidrat - Meningkatkan persentase berakar - Meningkatkan jumlah akar
NAA - Pemanjangan sel
- Meningkatkan persentase berakar
- Meningkatkan panjang akar
Kualitas bibit rendah Penyakit
Bibit berasal dari biji
Rendahnya pasokan dalam negeri dan mutu dalam negeri
Persentase hidup eksplan meningkat
Pembentukan akar belum optimal
6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Botani Karet
Tanaman Karet termasuk dalam family Euphorbiacea, dapat disebut dengan nama lain rambung, getah, gota dan hapea. Perkebunan karet tersebar di berbagai propinsi di Indonesia antara lain Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Jambi, Riau, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur (Dani, Noor, & Mahdalena, 2012).
Karet merupakan tanaman perkebunan yang memiliki peran penting sebagai sumber devisa non-migas bagi Indonesia. Karet dengan hasil utama getah (lateks) digunakan sebagai bahan baku utama dalam pembuatan peralatan transportasi, medis, dan alat-alat rumah tangga (Putri & Sudrajat, 2017). Ada dua tipe karet yang dikenal luas yaitu karet alam dan karet sintesis. Karet alam dibuat dari getah (lateks) dari pohon karet sedangkan karet sintesis dibuat dari minyak mentah (Hidayah & Harahap, 2018). Di dalam Al-Qur’an juga terdapat ayat yang menerangkan bahwa Allah SWT menumbuhkan berbagai macam tumbuhan yang memiliki banyak manfaat. Allah berfirman dalam surat Q.S Asy-Syua’ra ayat 7:
Artinya: Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik? (Q.S Asy-Syua’ra: ayat 7.
7
Tanaman karet memiliki batang yang berbentuk lurus. Tinggi tanaman karet dewasa mencapai 15-25 meter. Batang tanaman karet mengandung getah yang disebut dengan lateks. Daun karet terdiri dari daun utama dan tangkai anak daun. Panjang daun utama sekitar 3-20 cm sedangkan tangkai anak daun sekitar 3-10 cm. Anak daun berbentuk eliptis, memanjang dengan ujung meruncing dan tepinya rata. Buah karet dilapisi oleh kulit tipis berwarna hijau dan di dalamnya terdapat kulit yang keras dan berkotak, tiap kotak berisi sebuah biji yang dilapisi tempurung (Gambar 2). Tanaman karet mulai menghasilkan buah pada umur lima tahun (Budiman, 2012).
Tanaman karet dapat tumbuh dengan optimal pada zone antara 150 LS dan 150 LU. Jika tanaman karet ditanam di luar zona tersebut maka pertumbuhannya akan terhambat. Pada dasarnya tanaman karet tumbuh optimal pada dataran rendah yaitu pada ketinggian 200 m dari permukaan laut dengan suhu optimal
berkisar 25-35oC dan curah hujan antara 2.500 mm sampai 4.000 mm/tahun
dengan curah hujan harian berkisar antara 100 - 150 HH/tahun, curah hujan yang tinggi akan menyebabkan rendahnya produktivitas tanaman karet. Tanah yang baik untuk menunjang pertumbuhan karet adalah tanah yang memiliki aerasi dan drainase cukup, tekstur tanah remah, porus dan dapat menahan air, struktur terdiri dari 35% liat dan 30% pasir, kandungan NPK cukup, pH tanah berkisar antara 4.5 - 6.5 dan kemiringan tanah < 16% (Aidi & Daslin, 2013).
Gambar 2. Morfologi bibit tanaman karet dari okulasi. A. Tanaman induk karet klon PB 260. B. Biji tanaman karet. C. Tanaman karet dewasa. (Sumber: Damanik, Syakir, & Made Tama, 2010)
8
2.2. Klon Unggul Tanaman Karet
Klon unggul tanaman karet memiliki mutu yang berkualitas sehingga dapat menghasilkan tanaman dengan tingkat produktivitas yang tinggi. Pertumbuhan klon unggul dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan dan interaksi antara kedua faktor tersebut. Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi adalah keadaan agroekosistem penanaman, sehingga kondisi lingkungan harus disesuaikan dengan klon yang akan digunakan agar mendapatkan produktivitas yang optimal. Beberapa klon unggul tanaman karet yaitu klon penghasil lateks, klon penghasil lateks-kayu dan klon penghasil kayu. Klon penghasil lateks meliputi BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217 dan PB 260, Klon penghasil lateks-kayu meliputi BPM 1. PB 330, RRIC 100, AVROS 2037, IRR 5, IRR 39, IRR 42, IRR 118 dan klon penghasil kayu meliputi IRR 70, IRR 71, IRR 72, IRR 78 (Anwar, 2006).
Klon PB 260 sebagai salah satu klon unggul karet memiliki beberapa kelebihan antara lain yaitu klon yang menghasilkan produksi lateks yang tinggi, pertumbuhan cepat dan resisten terhadap Corynospora colletotricum dan Oidium (Arif et al., 2016). Kondisi lingkungan yang sesuai untuk klon ini adalah pada pada agroklimat kering dan dataran rendah (Aidi & Daslin, 2013). Tanaman karet yang ditanam pada kondisi lingkungan yang memiliki ketinggian 15 m dpl, pH
tanah 4-6 dengan temperatur 27-330C dan memiliki curah hujan rata-rata
1.200-1.500 mm/th memiliki produksi kumulatif 15 tahun sadap terbaik yaitu sebesar 29.2 ton/ha (Aidi & Daslin, 2013).
2.3. Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif
Perbanyakan tanaman secara vegetatif digunakan pada jenis tanaman yang memiliki kendala dalam perbanyakan bibit secara generatif seperti viabilitas benih yang cepat menurun, penanganan ekstraksi dan skarifikasi benih sulit dilakukan, periode musim berbunga dan berbuah yang tidak teratur dan produksi benih sedikit. Perbanyakan secara vegetatif memiliki beberapa kelebihan yaitu dapat menghasilkan tanaman yang bermutu secara genetik, fisik dan fisiologi dalam jumlah banyak dan tepat waktu (Danu, Purwaka Putri, & Subiakto, 2015).
9
Menurut Mashudi & Adinugraha (2015), perbanyakan tanaman secara vegetatif dapat menhasilkan bibit secara massal dalam waktu yang relatif lebih singkat.
Perbanyakan secara vegetatif salah satunya dapat dilakukan melalui teknik
ex vitro. Teknik ex vitro adalah perbanyakan tanaman secara vegetatif yang
dilakukan dalam kondisi terkendali di luar laboratorium (Karyanti et al.,2016). Keunggulan dari teknik ini adalah pelaksanaanya sederhana, menghemat biaya dan dapat dilakukan pada waktu bersamaan, sehingga lebih efisien. Hal ini menunjukkan bahwa metode ex vitro dapat menjadi alternatif untuk menginduksi perakaran eksplan pucuk tanaman karet.
2.4. Bahan Eksplan
Bahan eksplan berpengaruh terhadap keberhasilan perbanyakan secara vegetatif. Bahan eksplan dari potongan atas bibit (pucuk) menghasilkan persentase hidup tertinggi dibandingkan dengan potongan dari bagian tengah dan bagian bawah bibit. Persentase hidup tanaman trema dari bagian pucuk sebesar 65.71%, sedangkan pada bagian bawah bibit 33.10 % (Sudrajat & Siregar, 2018). Eksplan pucuk berasal dari tunas dari batang muda yang masih dalam pertumbuhan, selanjutnya ditumbuhkan pada media tanam sehingga mampu menghasilkan sistem perakaran yang baik hingga tumbuh dan berkembang menjadi bibit siap tanam di lapangan (Kurniaty et al., 2016). Eksplan pucuk memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan bahan eksplan lainnya. Hal ini dikarenakan kondisi eksplan dari potongan pucuk lebih juvenil dan merismatik dibandingkan dengan potongan tengah dan bawah sehingga lebih cepat melakukan dediferensiasi sedangkan bahan eksplan yang sudah tua akan sulit untuk dediferensiasi. Bahan eksplan yang berasal dari pucuk yang masih juvenil akan lebih cepat menghasilkan akar jika dibandingkan dengan bahan eksplan yang berumur lebih tua (Basheer & Salima, 2007). Bahan eksplan yang berasal dari pucuk memiliki persentase berakar paling tinggi yaitu sebesar 65.71% dibandingkan dengan bahan eksplan yang berasal dari potongan bagian bawah dan tengah pada bibit tanaman (Sudrajat & Siregar, 2018).
Keberhasilan pengakaran eksplan pucuk dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang dapat mempengaruhi keberhasilan eksplan
10
pucuk meliputi kandungan cadangan makanan dalam jaringan eksplan, ketersediaan air, umur eksplan, hormon endogen dan jenis tanaman. Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi keberhasilan eksplan antara lain media perakaran, kelembapan, suhu, intensitas cahaya dan teknik penanaman eksplan (Danu et al., 2011). Penggunaan bahan eksplan dari klon unggul juga berpengaruh dalam pertumbuhan eksplan, beberapa kelebihan dari bahan eksplan yang berasal dari klon unggul adalah tanaman lebih seragam, produktivitas lebih tinggi, tahan terhadap penyakit tertentu (Arif et al., 2016)
2.5. Zat Pengatur Tumbuh Auksin
Pemberian ZPT pada tanaman bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan vegetatif dan reproduktif tanaman, salah satu contoh zat pengatur tumbuh adalah auksin. Auksin merupakan ZPT yang berfungsi untuk pemanjangan sel, pembelahan sel, diferensiasi jaringan pembuluh dan inisiasi akar (Alfiansyah et al., 2015) Penggunaan ZPT yang mengandung auksin sangat dibutuhkan untuk pembentukan akar, seperti IBA, NAA, dan IIA (Zhang et al., 2015). ZPT eksternal dari golongan auksin berguna dalam meningkatkan proses inisiasi pembentukan dan perkembangan akar adventif. Pemberian zat pengatur tumbuh dari golongan auksin secara eksogen sangat berguna untuk meningkatkan persen berakar, jumlah dan kualitas akar pada eksplan (Kurniaty et al., 2016)
Pemberian IBA dapat meningkatkan jumlah akar, hal ini diduga karena IBA memiliki kandungan kimia yang lebih stabil dan dapat meningkatkan translokasi karbohidrat ke dasar eksplan. Karbohidrat sangat berperan saat pembentukan akar. Pemberian NAA dapat meningkatkan pertambahan panjang akar hal ini diduga disebabkan oleh NAA lebih berpengaruh terhadap pemanjangan sel (Apriliani, Noli, & Suwirmen, 2015).
Konsentrasi ZPT yang diperlukan setiap tanaman berbeda beda, efektivitasnya dipengaruhi oleh konsentrasi yang diberikan. Perbedaan konsentrasi yang diberikan akan menimbulkan pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pemberian konsentrasi yang diberikan harus tepat sesuai dengan jenis tanaman agar mendapatkan hasil yang optimal (Alfiansyah et al., 2015). Pemberian IBA dengan konsentrasi 200 ppm pada
11
tanaman damar menghasilkan panjang akar dan jumlah akar tertinggi yaitu sebesar 6.40 cm dan 2.96 buah. Hasil penelitian menunjukkan banhwa pemberian IBA pada eksplan damar yang semakin tinggi akan menyebabkan berkurangnya pertumbuhan dan perkembangan akarnya. Sedangkan persentase hidup tertinggi pada eksplan damar terjadi pada ekplan damar yang diberi perlakuan IBA dengan konsentrasi 100 ppm yaitu sebesar 96.67% (Danu et al., 2011).
Menurut Setyayudi (2018) pemberian IBA dengan konsentrasi 100 ppm dan NAA dengan konsentrasi 100 ppm pada pucuk tanaman Gyrinops versteegi menghasilkan persentase hidup tertinggi yaitu sebesar 85%, sedangkan pemberian IBA dengan konsentrasi 200 ppm dan NAA dengan konsentrasi 200 ppm mengasilkan persentase berakar tertinggi yaitu sebesar 77.08%. Eksplan tanaman bayur yang diberi perlakuan IBA dengan konsentrasi 200 ppm meningkatkan jumlah akar yaitu sebesar 12,33 helai. Hal ini diduga karena IBA memiliki sifat mampu bertahan lama didalam sistem perakaran sehingga dapat meningkatkan jumlah akar. Sedangkan pemberian NAA dengan konsentrasi 100 ppm mampu menghasilkan panjang akar sebesar 32.50 cm hal ini dikarenakan NAA lebih berperan dalam hal pemanjangan sel (Apriliani et al., 2015). Pemberian IBA dengan konsentrasi 500 ppm mampu meningkatkan panjang akar dengan konsentrasi 500 ppm pada eksplan tanaman jabon merah (Danu et al., 2015). Berdasarkan penelitian Amilda & Dimara (2016) tanaman Gyrinops verstegii dengan perlakuan IBA 300 ppm memberikan persentase hidup sebesar 61.33%, Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi tersebut merupakan konsentrasi terbaik jika dibandingkan dengan konsentrasi yang lain. Demikian pula hasil penelitian induksi akar tanaman manggis secara ex vitro, menghasilkan persen berakar sebesar 70-90, Eksplan yang berakar ditandai dengan batang dan daun yang tetap hijau dan segar. Selain itu muncul tunas baru pada eksplan. (Joni et al., 2015).
12 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Mei sampai November 2019 di
screen house pilot plant Propagasi Tanaman Balai Bioteknologi-Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Gedung 630 Kawasan PUSPIPTEK, Serpong, Tangerang Selatan.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah media tanam berupa tanah latosol, polybag berukuran 10 x 10 cm, Larutan stok IBA sintetik 10.000 ppm, Larutan stok NAA sintetik 10.000 ppm, dan ekplan pucuk tanaman karet klon PB 260 berumur 6 minggu yang dikoleksi di kebun Balai Bioteknologi - BPPT.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi keranjang, sprayer, gunting stek, RH meter, klorofil meter SPAD-502, tissue, coolbox, plastik trasnsparan ukuran 30x50 cm, pisau, penggaris dan inkubator.
3.3. Rancangan Percobaan
Penelitian ini dilakukan dengan RALF (Rancangan Acak Lengkap Faktorial) yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah IBA dengan 6 taraf (0, 100, 200, 300, 400 dan 500 ppm) Faktor kedua adalah NAA dengan 4 taraf (0, 50, 100 dan 150 ppm), sehingga terdapat 24 kombinasi perlakuan. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga terdapat 72 unit percobaan dalam setiap perlakuan pada setiap pengulangan terdiri dari 4 tanaman (Lampiran 1).
3.4. Cara Kerja
3.4.1. Persiapan Bahan Eksplan Pucuk
Persiapan bahan eksplan pucuk diawali dengan persiapan tanaman induk klon PB 260. Tanaman induk yang digunakan diperoleh dari bibit hasil stump okulasi umur 3 tahun yang berasal dari Pusat Penelitian Karet Medan, Sumatera
13
Utara. Tanaman induk klon PB 260 dirawat dalam polybag dan dipelihara dengan cara pemberian pupuk kandang, tanah dan pasir dengan perbandingan 3:1:1 dan pemberian pupuk NPK 1 g per polybag tanaman induk. Selanjutnya dilakukan penyiraman setiap hari dengan interval penyiraman 1 kali sehari pada pagi hari dan pengendalian hama, gulma dan penyakit dengan cara membersihkan gulma setiap satu minggu sekali. Tanaman induk klon PB 260 yang diamati sebanyak 25 pohon.
Tanaman induk klon PB 260 yang sudah siap kemudian dilakukan
pemangkasan dengan tujuan agar tumbuh tunas baru. Pertumbuhan tunas diamati dari setiap minggu hingga minggu ke 6. Parameter yang diamati adalah jumlah tunas, tinggi tunas, jumlah ruas, jumlah daun, warna batang, warna tangkai, panjang daun, dan lebar daun.
3.4.2. Analisis Jumlah Klorofil dan Kandungan Auksin pada Tanaman Induk klon PB 260
Kandungan klorofil dan auksin diamati saat eksplan pucuk pada tanaman induk klon PB 260 berumur 3 minggu sampai 8 minggu. Hal ini dikarenakan eksplan pucuk yang berumur 1 dan 2 minggu belum memiliki daun atau daun yang tumbuh berukuran sangat kecil. Tanaman induk yang digunakan untuk menghitung jumlah klorofil dan auksin adalah tanaman induk yang berasal dari biji (kontrol) dan berasal dari stump okulasi. Jumlah daun yang digunakan untuk analisis jumlah klorofil pada tanaman induk klon PB 260 asal stump okulasi dan tanaman induk klon PB 260 asal biji masing-masing 5 helai daun yang dipilih secara acak.
Jumlah klorofil diukur dengan menggunakan alat klorofil meter SPAD – 502, setelah diukur eksplan dipotong untuk analisis kandungan auksin. Analisis kandungan auksin dilakukan di SUA Usaha Jasa dan Industri Biofuture Departemen Biologi, FMIPA, IPB, Kampus IPB Dramaga Bogor. Golongan auksin yang di analisis adalah jenis IAA. Eksplan yang digunakan untuk analisis uji auksin sebanyak 5 g. Kandungan auksin dianalisis dengan metode Unyanyar 1996.
14
3.4.3. Persiapan Zat Pengatur Tumbuh dan Media Tanam
Zat Pengatur Tumbuh yang digunakan adalah ZPT sintetik IBA dan NAA.
Persiapan Zat Pengatur Tumbuh dibuat dalam bentuk larutan. Larutan ZPT dibuat
dengan cara mengencerkan larutan stok IBA dan NAA dengan konsentrasi 10.000 ppm menjadi konsentrasi yang sesuai dengan perlakuan yang digunakan. Larutan ZPT yang digunakan sebanyak 100 ml pada setiap perlakuan. ZPT dimasukan kedalam botol fido kemudian diberi label. Perlakuan ZPT diberikan dengan cara merendam eksplan pucuk selama 15 menit dengan konsentrasi ZPT sesuai rancangan percobaan.
Media tanam yang digunakan adalah tanah latosol 100%. Tanah latosol disaring menggunakan saringan yang berukuran 1x1 cm. Tanah yang sudah disaring dimasukan ke dalam polybag berukuran 10x10 cm hingga terisi penuh. Media tanam ini kemudian di letakkan di dalam inkubator. Media tanam tersebut diberi label dan disusun sesuai dengan rancangan penelitian yang digunakan. Jarak antar tanaman di polybag sebesar 10 cm. Media tanam yang sudah tersusun kemudian disiram mengunakan sprayer.
1.4.4. Pengambilan Eksplan Pucuk dan Induksi Akar
Eksplan didapatkan dari pemotongan tunas dari tanaman induk karet klon PB 260 yang berumur 6 minggu. Bahan eksplan yang digunakan adalah eksplan yang memiliki 3 ruas daun dan 4 helai daun yang sudah mekar sempurna. Pengambilan eksplan dilakukan dengan cara memangkas eksplan pucuk pada tanaman induk yang sudah berumur 6 minggu menggunakan gunting stek. Pemangkasan dilakukan pada ruas ke tiga dari atas eksplan. Bagian pangkal
batang pada setiap eksplan yang sudah dipangkas dipotong miring (450)
Pangkal batang eksplan yang sudah dipotong kemudian direndam di dalam ember dengan air selama 1 jam untuk menghentikan getah yang keluar dari bagian pangkal batang. Setelah direndam eksplan ditiriskan terlebih dahulu. Eksplan yang sudah direndam dengan air selanjutnya diinduksi dengan cara merendam bagian pangkal eksplan dengan larutan ZPT sesuai dengan rancangan percobaan selama
15
disiram dengan sprayer. Setiap polybag ditanam dengan satu bahan eksplan pucuk.
3.4.5. Inkubasi dan Pemeliharaan Eksplan Pucuk
Eksplan yang sudah ditanam dan disusun sesuai dengan rancangan percobaan selanjutnya diinkubasi. Inkubasi dilakukan pada inkubator yang berada di Screen House selama 16 minggu. Selama masa inkubasi eksplan diamati setiap 2 minggu sekali dan dilakukan pengamatan kondisi lingkungan di dalam inkubator setiap 3 hari dalam seminggu.
Pemeliharaan tanaman yang dilakukan meliputi kegiatan penyiraman dan penyiangan gulma selama masa inkubasi. Penyiraman dilakukan setiap hari dengan interval penyiraman 3 kali sehari pada pagi, siang dan sore dengan menggunakan sprayer. Gulma yang berada dalam inkubator dilakukan penyiangan. Penyiangan gulma dilakukan secara rutin setiap satu minggu sekali.
3.5. Parameter Pengamatan
Parameter sumber eksplan pucuk (tanaman induk) yang diamati pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
a) Jumlah Tunas
Jumlah tunas dihitung dengan cara menghitung jumlah tunas yang terbentuk pada setiap tanaman induk. Pengambilan data dilakukan setiap minggu sampai akhir pengamatan yaitu pada minggu ke- 6.
b) Tinggi Tunas
Tinggi tunas pada tanaman induk dihitung menggunakan penggaris. Pengambilan data dilakukan setiap minggu sampai akhir pengamatan yaitu pada minggu ke- 6.
c) Jumlah Ruas Pada Tunas
Jumlah ruas dihitung dengan cara menghitung ruas yang terbentuk pada setiap tunas yang terdapat pada setiap tanaman induk. Pengambilan data dilakukan setiap minggu sampai akhir pengamatan yaitu pada minggu ke- 6.
16
d) Jumlah Daun Pada Tunas
Jumlah daun dihitung dengan cara menghitung daun yang terbentuk pada tunas yang terdapat pada tanaman induk. Pengambilan data dilakukan setiap minggu sampai akhir pengamatan yaitu pada minggu ke- 6.
e) Panjang Daun Pada Tunas
Panjang daun tunas pada tanaman induk dihitung dengan menggunakan perngaris. Pengambilan data dilakukan setiap minggu sampai akhir pengamatan yaitu pada minggu ke- 6.
f) Lebar Daun Pada Tunas
Panjang daun tunas pada tanaman induk dihitung dengan menggunakan perngaris. Pengambilan data dilakukan setiap minggu sampai akhir pengamatan yaitu pada minggu ke- 6.
g) Perubahan Morfologi pada Tunas
Perubahan morfologi pada tunas yang terjadi pada tanaman induk dicatat menggunakan alat tulis. Morfologi yang diamati adalah warna daun, warna tangkai dan daun dalam keadaan kuncup atau mekar. Pengambilan data dilakukan setiap minggu sampai akhir pengamatan yaitu pada minggu ke- 6. h) Jumlah Klorofil
Jumlah Klorofil yang diamati dengan menggunakan alat klorofil meter SPAD- 502 pada daun ekplan pucuk tanaman induk karet yang berumur 3 sampai 8 minggu. Jumlah klorofil dihitung dengan cara mneghitung rata-rata jumlah klorofil pada daun. Pengambilan data dilakukan setiap minggu dimulai dari minggu ke 3 sampai minggu ke 8.
i) Kandungan auksin
Kandungan Auksin dilakukan pada pada eksplan pucuk tanaman induk karet yang berumur 3 sampai 8 minggu yang diukur mengunakan Spektrofotometri UV-Vis dengan panjang gelombang 280 nm. Pengambilan data dilakukan setiap minggu dimulai dari minggu ke 3 sampai minggu ke 8.
17
Parameter eksplan hasil induksi akar yang diamati pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.) Persentase hidup
Persentase hidup eksplan dihitung dengan membandingkan antara jumlah eksplan yang hidup pada akhir penelitian dengan jumlah eksplan yang ditanam pada awal penelitian (Apriani & Suhartanto, 2015). Pengambilan data dilakukan pada dua minggu sekali sampai akhir penelitian yaitu pada minggu ke-16.
Persentase eksplan hidup = Jumlah eksplan yang hidup x 100 Jumlah eksplan yang ditanam
b.) Jumlah Daun
Jumlah daun dihitung dengan cara menghitung jumlah daun pada setiap eksplan. Pengambilan data dilakukan setiap dua minggu sekali sampai akhir penelitian yaitu pada minggu ke 16.
c) Persentase berakar
Persentase berakar eksplan dihitung dengan membandingkan antara jumlah eksplan yang berakar pada akhir penelitian dengan jumlah eksplan yang ditanam pada awal penelitian (Apriani & Suhartanto, 2015). Persentase berakar dihitung pada akhir penelitian yaitu pada minggu ke-16
Persentase berakar = Jumlah eksplan yang berakar x 100 Jumlah eksplan yang ditanam
d) Jumlah akar
Jumlah akar dihitung dengan cara menghitung jumlah akar primer yang terbentuk dari setiap eksplan yang hidup pada akhir penelitian (Apriani & Suhartanto, 2015). Jumlah akar dihitung pada akhir penelitian yaitu pada minggu ke 16.
e) Panjang Akar (cm)
Panjang akar dihitung dengan cara mengukur panjang akar primer yang terbentuk mulai dari pangkal sampai ujung akar (Apriani & Suhartanto, 2015). Panjang akar dihitung pada akhir pengamatan yaitu pada minggu ke-16 mengunakan penggaris.
18
f) Kondisi Lingkungan
Kondisi lingkungan yang diamati adalah suhu dan kelembapan yang diukur dengan alat RH meter. Pengambilan data dilakukan pada pagi, siang dan sore setiap dua hari sekali sampai akhir penelitian pada akhir penelitian yaitu pada minggu ke-16.
3.6. Analisis Data
Analisis data dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap parameter yang diamati dengan Two-way Analysys of Varience (ANOVA) menggunakan SPSS 2.0. Jika terdapat beda nyata maka akan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) taraf uji 5%.
19 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pertumbuhan dan Morfologi Tunas pada Tanaman Induk Karet Klon PB 260
Tanaman induk pada minggu ke- 1 sampai minggu ke- 6 setelah dilakukan pemangkasan mengalami peningkatan pertumbuhan tunas. Pada parameter jumlah tunas, jumlah ruas tunas dan jumlah daun peningkatanya hanya terjadi sampai minggu ke-4 sedangkan, parameter lainnya tetap mengalami peningkatan sampai minggu ke-6 (Tabel 1). Hal ini diduga karena setelah minggu ke-4 Pertambahan jumlah tunas, ruas tunas dan jumlah daun lebih cepat berhenti dibandingkan parameter lainnya. Rahayu & Poerwanto (2014) mengatakan bahwa tunas terbentuk secara serempak pada awal pertumbuhan dan berangsur-angsur berhenti pertambahannya kemudian aktivitas pertumbuhan lebih fokus pada pemanjangan tunas. Hal yang sama terjadi pada jumlah daun, pertambahan jumlah daun lebih cepat berhenti dibandingkan panjang tunas. Pertumbuhan tunas dipengaruhi oleh hormon sitokinin dan auksin yang terdapat pada jaringan tanaman. Menurut Karjadi, A.K, & Buchory (2008) sitokinin berperan dalam mengatur pembelahan sel dan merangsang terbentuknya tunas sedangkan, auksin berperan dalam pemanjangan sel yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tunas.
Tabel 1. Jumlah dan rata-rata parameter pertumbuhan tunas pada tanaman induk karet selama 6 minggu
Parameter Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Minggu 5 Minggu 6 Jumlah tunas 26 28 31 33 33 33 Tinggi tunas (cm) 2.15 8.97 9.32 12.83 13.39 15.2
Jumlah ruas tunas 1 3 4 4 4 4
Jumlah daun tunas 1 5 5 7 7 7 Panjang daun tunas (cm) 0.24 5.98 10.24 14.07 14.99 16.14
Lebar daun tunas (cm)
20
Tunas terbentuk setelah dilakukan pemangkasan pada tanaman induk karet klon PB 260. Setelah dilakukan pemangkasan suplai auksin dari tunas apikal tidak terjadi lagi, selanjutnya akar akan terus memproduksi sitokinin kemudian diangkut menuju tunas sehingga menstimulasi pertumbuhan tunas dengan cara meningkatkan pembelahan sel (Anggarsari, Sumarni, & Islami, 2017). Tujuan dilakukan pemangkasan adalah untuk mendapatkan eksplan pucuk yang secara fisiologis bersifat juvenil (Kurniaty et al., 2016). Sifat juvenil sangat dibutuhkan untuk eksplan untuk menginduksi perakaran pada tanaman karena akar berperan dalam pengambilan nutrisi dalam tanah yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan pada eksplan (Kurniawati, 2009). Eksplan yang bersifat juvenil memiliki kemampuan berakar lebih baik jika dibandingkan dengan eksplan yang berumur tua. Hal ini disebabkan karena eksplan yang bersifat juvenil memiliki kemampuan pemanjangan sel yang tinggi (Darwo & Yeny, 2018). Eksplan yang bersifat juvenil dapat mempengaruhi keberhasilan perakaran dan menentukan kecepatan proses pembentukan dan pertumbuhan akar (Kurniaty et al., 2016). Fase juvenil dicirikan dengan pembentukan daun-daun pertama sampai sebelum pembentukan bunga pertama pada tanaman (Siagian, 2012).
Setiap minggu morfologi eksplan pucuk mengalami perubahan. Morfologi eksplan pucuk pada minggu ke- 1 memiliki batang tunas bewarna hijau, daun bewarna merah tembaga yang masih dalam keadaan kuncup dan tangkai bewarna hijau kemerahan. Pada Minggu ke- 2 dan minggu ke- 3 warna daun berubah menjadi warna hijau kecoklatan dan tangkai bewarna hijau, sedangkan pada minggu ke- 4 dan 5 mengalami perubahan warna daun yaitu daun berubah warna menjadi hijau terang dan daun mulai mekar dan pada minggu ke- 6 mengalami perubahan warna daun menjadi warna hijau tua dan daun dalam keadaan mekar (Gambar 3). Hal ini sesuai dengan pernyataan Junaidi & Atminingsih (2017) yang mengatakan bahwa perkembangan daun dapat dilihat dari pertambahan ukuran dan warna daun.
21
4.2. Jumlah Kandungan Klorofil dan Auksin pada Eksplan Pucuk pada Tanaman Induk Karet
Jumlah klorofil pada tanaman induk asal biji dan asal stump okulasi mengalami peningkatan dari minggu ke-3 sampai dengan minggu ke-8 setelah pemangkasan (Gambar 4). Hal tersebut juga terlihat pada perkembangan warna daun yang menunjukkan perubahan dari warna merah kehijauan menjadi warna hijau seiiring dengan bertambahnya umur daun. Peningkatan jumlah klorofil yang terjadi disetiap minggu disebabkan oleh bertambahnya umur daun dan perkembangan pada daun. Perkembangan pada daun ditandai dengan perubahan warna yang terjadi pada daun semakin tua warna daun maka akan semakin tinggi jumlah klorofilnya (Sumenda, Rampe, & Mantiri, 2011).
Gambar 3. Morfologi eksplan pucuk pada tanaman induk. A. Eksplan pucuk berumur 1 minggu. B. Eksplan pucuk berumur 2 minggu. C. Eksplan pucuk berumur 3 minggu. D. Eksplan pucuk berumur 4 minggu. E. Eksplan pucuk berumur 5 minggu. F. Eksplan pucuk berumur 6 minggu.
A B C
22
Gambar 4. Jumlah klorofil pada eksplan pucuk tanaman induk karet dari tanaman induk karet asal biji dan asal Okulasi pada minggu ke-3 sampai ke-
Klorofil merupakan faktor utama yang mempengaruhi proses fotosintesis. Fotosintesis berfungsi untuk menghasilkan karbohidrat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Song & Banyo, 2011). Kandungan klorofil pada eksplan yang berasal dari biji memiliki jumlah yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan tanaman asal stump okulasi. Hal ini diduga karena eksplan yang berasal dari biji memiliki sifat lebih juvenil jika dibandingkan dengan tanaman induk asal stump okulasi sehingga proses fotosintesis untuk menghasilkan karbohidrat lebih optimal. Kandungan klorofil mempengaruhi proses fotosintesis. Kadar klorofil yang sedikit akan membuat proses fotosintesis tidak optimal sehingga senyawa karbohidrat yang dihasilkan juga tidak optimal (Pratama & Laily, 2019). Menurut penelitian Kurniaty et al (2016) eksplan yang memiliki sifat lebih juvenil memiliki kandungan karbohidrat lebih banyak daripada eksplan yang berumur lebih tua.
Kandungan auksin pada tanaman yang berasal dari biji meningkat dari minggu ke- 3 sampai minggu ke- 4 kemudian menurun dari minggu ke- 5 sampai minggu ke- 7 dan naik kembali pada minggu ke- 8 sedangkan pada tanaman yang berasal dari stump okulasi meningkat pada minggu ke- 3 sampai minggu ke- 5 kemudian menurun pada minggu ke- 6 sampai ke- 7 dan naik kembali pada minggu ke- 8 (Gambar 5). 18.1 23.86 24.28 25.36 36.82 37.3 17.2 18.86 21.84 24.28 30.98 33.58 0 10 20 30 40 3 4 5 6 7 8 Part Per Mi li on (ppm )
Waktu pengamatan (Minggu ke-)
Biji Okulasi
23
Gambar 5. Kandungan auksin pada eksplan pucuk tanaman karet dari tanaman induk karet asal biji dan asal Okulasi pada minggu ke-3 sampai ke- 8 Menurut penelitian Junaidi & Atminingsih (2017) kandungan auksin yang berperan sebagai pendorong pertumbuhan menurun dengan bertambahnya umur pada tanaman. Pernyataan tersebut tidak sesuai dengan penelitian ini, kandungan auksin kembali meningkat pada minggu ke- 8. Hal ini diduga disebabkan oleh penggunaan tanaman induk untuk analisis kandungan auksin berasal dari tanaman induk yang berbeda-beda setiap minggu ini menyebabkan adanya perbedaan pertumbuhan pada pucuk sehingga menyebabkan kandungan auksin pada pucuk tidak sama. Kandungan auksin dipengaruhi oleh perubahan pertumbuhan. Tingkat perubahan pertumbuhan pucuk pada tiap tanaman berbeda-beda (Jiang, Chen, Zhang, Fang, 2012). Apabila hormon endogen memiliki nilai rendah maka perlu pemberian hormon eksogen untuk mendapatkan respon yang maksimal pada eksplan. Pemberian hormon eksogen diperlukan untuk mencukupi kebutuhan hormon pada eksplan selama proses induksi akar (Supriyanto & Prakasa, 2011).
4.3. Persentase Hidup Eksplan Pucuk Tanaman Karet
Persentase hidup eksplan pucuk tanaman karet pada minggu ke- 2 sampai minggu ke 4 sejak penanaman mulai mengalami kematian. Pada akhir pengamatan eksplan memiliki persentase hidup yang rendah (Tabel 2). Hal ini menunjukkan bahwa pemberian IBA dan NAA terhadap persentase hidup eksplan pucuk tidak berpengaruh nyata (P>0.05; Lampiran 2.). Rendahnya persentase hidup pada minggu ke- 2 sampai ke- 4 setelah tanam disebabkan karena kerontokan dan pembusukan pada eksplan, sehingga mengakibatkan kematian.
10.18 55.05 7.21 8.87 8 15.9 11.14 17.48 39.89 9.22 12.14 19.9 0 10 20 30 40 50 60 3 4 5 6 7 8 Part Per Mi ll ion (ppm )
Waktu pegamatan (Minggu ke-
)
Biji Okulasi
24
Tabel 2. Persentase hidup eksplan karet selama 16 minggu.
Perlakuan (ppm)
Waktu Pengamatan (Minggu ke-)
2 4 6 8 10 12 14 16 IBA 0 + NAA 0 50 16.6 16.6 16.6 16.6 1 6.6 16.6 16.6 IBA 0 + NAA 50 58.3 25 0 0 0 0 0 0 IBA 0 + NAA 100 83.3 16.6 0 0 0 0 0 0 IBA 0 + NAA 150 91.6 0 0 0 0 0 0 0 IBA 100 + NAA 0 75 0 0 0 0 0 0 0 IBA 100 + NAA 50 66.6 8.3 8.3 8.3 8.3 8.3 8.3 8.3 IBA 100 + NAA 100 83.3 8.3 8.3 8.3 0 0 0 0 IBA 100 + NAA 150 83.3 33.3 8.3 0 0 0 0 0 IBA 200 + NAA 0 91.6 16.6 16.6 16.6 8.3 8.3 8.3 8.3 IBA 200 + NAA 50 75 16.6 16.6 8.3 8.3 8.3 8.3 8.3 IBA 200 + NAA 100 83.3 16.6 0 0 0 0 0 0 IBA 200 + NAA 150 58.3 0 0 0 0 0 0 0 IBA 300 + NAA 0 41.6 16.6 16.6 8.3 8.3 8.3 8.3 8.3 IBA 300 + NAA 50 75 16.6 16.6 16.6 16.6 16.6 16.6 16.6 IBA 300 + NAA 100 25 0 0 0 0 0 0 0 IBA 300 + NAA 150 50 16.6 16.6 16.6 16.6 16.6 16.6 16.6 IBA 400 + NAA 0 50 8.3 8.3 8.3 8.3 8.3 8.3 8.3 IBA 400 + NAA 50 83.3 8.3 8.3 8.3 8.3 8.3 8.3 8.3 IBA 400 + NAA 100 58.3 8.3 0 0 0 0 0 0 IBA 400 + NAA 150 100 25 0 0 0 0 0 0 IBA 500 + NAA 0 100 16.6 0 0 0 0 0 0 IBA 500 + NAA 50 100 25 0 0 0 0 0 0 IBA 500 + NAA 100 100 0 0 0 0 0 0 0 IBA 500 + NAA 150 100 0 0 0 0 0 0 0
Kematian eksplan ditandai dengan terjadinya kerontokan pada daun dan pembusukan pada batang eksplan. Gejala kerontokan daun diawali dengan perubahan warna pada daun, pada awal penanaman daun berwarna hijau kemudian berubah menjadi kuning kemudian daun layu dan selanjutnya daun rontok
25
sedangkan gejala pembusukan pada pangkal batang ditandai dengan perubahan warna pada pangkal eksplan dari warna hijau menjadi kehitaman dan kemudian menyebar sampai bagian atas batang dan selanjutnya batang mengering sehingga berwarna coklat. Kerontokan dan pembusukan yang terjadi pada minggu ke 2 sampai minggu ke 4 terjadi diduga karena eksplan masih dalam proses adaptasi. Eksplan memerlukan proses adaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan. Pada proses adaptasi ini eksplan mengalami pemulihan luka bekas potongan pada pangkal batang. Pada kondisi ini eksplan pucuk rawan mengalami kematian (Setyayudi, 2018). Eksplan pucuk yang masih hidup sampai akhir pengamatan disebabkan oleh kecukupan karbohidrat yang tersedia pada eksplan. Menurut (Pujawati et al., 2017) karbohidrat yang terdapat pada eksplan berperan dalam pertumbuhan eksplan.
Persentase hidup pada eksplan dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang dapat mempengaruhi keberhasilan hidup eksplan pucuk meliputi kandungan cadangan makanan dalam jaringan eksplan, ketersediaan air dalam jaringan tanaman, umur eksplan, hormon endogen dan jenis tanaman dan faktor eksternal yang mempengaruhi keberhasilan hidup eksplan antara lain media perakaran, kelembapan, suhu, intensitas cahaya dan teknik penanaman (Danu et al., 2018). Cadangan makanan yang cukup pada bahan eksplan dibutuhkan eksplan untuk tetap hidup. Cadangan makanan terbentuk pada daun tempat terjadinya fotosintesis. Namun, pada penelitian ini terjadi kerontokan daun pada eksplan sehingga proses fotosintesis menjadi terhambat dan menyebabkan tidak tersediannya cadangan makanan pada eksplan sehingga eskplan tidak dapat bertahan hidup dan mengalami kematian (Supriyanto & Prakasa, 2011). Rendahnya persentase hidup diduga karena kurangnya ketersediaan air menyebabkan penyerapan unsur hara dari tanah tidak maksimal sehingga menyebabkan eksplan kekurangan cadangan makanan. Air pada eksplan berperan dalam mengangkut unsur hari dari tanah untuk tanaman. Semakin banyak unsur hara yang diserap oleh tanaman makan ketersediaan bahan dasar untuk proses fotosintesis akan semakin banyak. Proses fotosintesis yang berjalan baik akan menghasilkan cadangan makanan yang dibutuhkan oleh tanaman (Rianto, Suwandi, & Sulistiyono, 2016).
26
Eksplan pucuk yang digunakan pada penelitian ini berumur 6 minggu. Umur eksplan berpengaruh terhadap persentase hidup eksplan. Eksplan yang berumur masih muda memiliki kemampuan berakar lebih baik jika dibandingkan dengan eksplan yang berumur tua. Hal ini disebabkan karena eksplan yang bersifat juvenil memiliki kemampuan pemanjangan sel yang tinggi (Darwo & Yeny, 2018). Kandungan hormon endogen juga dapat mempengaruhi persentase hidup pada eksplan, rendahnya persentase hidup pada eksplan pucuk pada tanaman karet diduga karena terputusnya suplai hormon yang ada pada bahan eksplan saat dilakukan pemangkasan. Suplai hormon endogen yang terputus mengakibatkan proses regenerasi yang dibutuhkan untuk menjadi tanaman normal akan terhambat (Supriyanto & Prakasa, 2011). Tanaman karet adalah jenis tanaman bergetah. Eksplan yang memiliki getah diduga menyebabkan distribusi karbohidrat dan hormon kebagian titik tumbuh tidak berjalan secara optimal. Menurut penelitian Saijo (2011) getah pada bagian pangkal batang yang tidak ditiriskan terlebih dahulu memiliki tingkat kematian yang tinggi hal ini dikarenakan adanya halangan getah pada pangkal batang menyebabkan akar pada eksplan tidak dapat tumbuh. Tidak tumbuhnya akar pada eksplan menyebabkan serapan air dan hara untuk pertumbuhan eksplan tidak tersedia sehingga menyebabkan kematian.
Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi keberhasilan eksplan antara lain media perakaran, kelembapan, suhu, intensitas cahaya dan teknik penanaman eksplan (Danu et al., 2018). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa suhu pada pagi
hari berkisar 26.5-31.9 0C sedangkan suhu pada siang hari berkisar 29.6-33.9 0C
dan suhu pada sore hari berkisar 26.6-33.5 0C. Hasil pengamatan kelembapan
menunjukkan bahwa kelembapan pada pagi hari berkisar 74.7-86.5% sedangkan kelembapan pada siang hari berkisar 63-86.5% dan kelembapan pada sore hari berkisar 62.1-85.5% berkisar (Lampiran 3). Hasil ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan pada sungkup tidak selalu optimal ditiap minggunya. Kondisi lingkungan yang tidak optimal dapat menyebabkan kematian pada eksplan
(Pujawati et al., 2017). Tanaman karet memerlukan suhu berkisar antara 26-320C
dan lingkungan yang lembab (Hidayah & Harahap, 2018). Penggunan shading net 65% diduga belum cukup untuk menghalangi banyaknya intensitas cahaya yang masuk ke dalam inkubator. Intensitas cahaya matahari menyebabkan suhu di dalam
27
inkubator menjadi tinggi dan kelembapannya menjadi rendah. Kondisi tersebut menyebabkan eksplan mengalami proses transpirasi yang tinggi sehingga eksplan mengalami kekeringan dan kemudian mati (Sukendro & Putri, 2016).
Media tanam juga berpengaruh terhadap persentase hidup eksplan, hal ini dikarenakan media yang digunakan memiliki kepadatan yang tinggi. Danu et al., (2011) mengatakan semakin padat media tanam yang digunakan maka kemampuan media untuk menyerap air akan semakin sulit dan porositas tanah semakin kecil, hal ini berpengaruh terhadap proses translokasi air dan udara dalam metabolisme eksplan untuk menunjang kebutuhan eksplan untuk tetap hidup. Teknik penanaman yang digunakan pada penelitian ini diduga kurang tepat hal ini berhubungan dengan titik pemangkasan. Pada penelitian ini titik pemangkasan dilakukan setinggi 30 cm dari atas tanah. Teknik pemangkasan tersebut diduga belum tepat sehingga tunas yang dihasilkan belum bersifat juvenil. Menurut penelitian Kurniawati (2009) titik pemangkasan setinggi 30 cm pada tanaman dahu memiliki persentase hidup yang rendah, hal ini berhubungan dengan tingkat juvenilitas tanaman yang disebabkan dengan teknik pemangkasan.
4.4. Jumlah Daun pada Eksplan Pucuk Tanaman Karet
Jumlah daun pada eksplan mengalami penurunan pada minggu ke 2 sampai minggu ke 4, hal ini dikarenakan terjadi kerontokan daun. Pada minggu ke-16 eksplan dengan perakuan IBA 200 ppm dan NAA 50 ppm dan IBA 400 ppm dan 0 ppm mengalami peningkatan jumlah daun (Tabel 3) yang ditandai dengan munculnya tunas baru pada eksplan hal ini diduga disebabkan oleh perlakuan tersebut sudah terbentuk kalus atau akar pada pangkal batangnya. Akar yang sudah terbentuk pada eksplan akan membantu eksplan untuk mendapatkan cadangan makanan lebih banyak. Cadangan makanan yang tinggi mendukung pertumbuhan tunas dan daun baru pada eksplan (Nuroniah et al., 2018). Terbentuknya tunas pada eksplan dipengaruhi oleh cadangan makanan dan kandungan auksin, semakin banyak cadangan makanan dan kandungan auksin akan membantu eksplan dalam menghasilkan tunas (Pujawati et al., 2017).
28
Tabel 3. Rata-rata jumlah daun pada eksplan tanaman karet selama 16 minggu.
Perlakuan (ppm) Waktu Pengamatan (Minggu ke-)
2 4 6 8 10 12 14 16 IBA 0 + NAA 0 0.75 0.58 0.58 0.58 0.58 0.58 0.58 0.58 IBA 0 + NAA 50 1.25 0 0 0 0 0 0 0 IBA 0 + NAA 100 2.67 0 0 0 0 0 0 0 IBA 0 + NAA 150 1 0 0 0 0 0 0 0 IBA 100 + NAA 0 0.33 0 0 0 0 0 0 0 IBA 100 + NAA 50 0.25 0.08 0.08 0.08 0.08 0.08 0.08 0.08 IBA 100 + NAA 100 1.91 0.33 0.33 0.16 0 0 0 0 IBA 100 + NAA 150 2.41 0.33 0.08 0 0 0 0 0 IBA 200 + NAA 0 2.41 0.16 0.16 0.16 0.08 0.08 0.08 0.08 IBA 200 + NAA 50 1.16 0.58 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 IBA 200 + NAA 100 1.75 0 0 0 0 0 0 0 IBA 200 + NAA 150 0.75 0 0 0 0 0 0 0 IBA 300 + NAA 0 0.83 0.67 0.25 0.16 0.16 0.16 0.16 0.16 IBA 300 + NAA 50 1.75 0.75 0.75 0.75 0.75 0.75 0.75 0.75 IBA 300 + NAA 100 0.58 0 0 0 0 0 0 0 IBA 300 + NAA 150 1.83 1.16 0.91 0.91 0.91 0.91 0.91 0.91 IBA 400 + NAA 0 1 0.16 0.08 0.08 0.08 0.08 0.08 0.41 IBA 400 + NAA 50 0.41 0.33 0.33 0.33 0.33 0.25 0.16 0.16 IBA 400 + NAA 100 0.91 0 0 0 0 0 0 0 IBA 400 + NAA 150 0.41 0 0 0 0 0 0 0 IBA 500 + NAA 0 0.33 0 0 0 0 0 0 0 IBA 500 + NAA 50 1.08 0 0 0 0 0 0 0 IBA 500 + NAA 100 0 0 0 0 0 0 0 0 IBA 500 + NAA 150 0.25 0 0 0 0 0 0 0
Rendahnya jumlah daun pada eksplan dipengaruhi oleh kerontokan daun, kematian eksplan dan tidak terbentuknya tunas hal ini disebabkan oleh habisnya cadangan makanan pada bahan eksplan sedangkan daun terus melakukan transpirasi. Hal ini menyebabkan tidak ada asupan air, nutrisi dan mineral, sehingga daun menjadi layu kemudian rontok dan eksplan mengalami kematian. Tidak terbentuknya tunas pada eksplan disebabkan oleh tidak tumbuhnya akar pada pangkal batang eksplan sehingga eksplan kekurangan makanan dan air (Pujawati et al., 2017). Tidak tumbuhnya akar menyebabkan cadangan makanan eksplan hanya bersasal dari karbohidrat yang ada pada batang sehingga menyebabkan pertumbuhan tunas menjadi terhambat (Saijo, 2011).
29
4.5. Akar pada Eksplan Tanaman Karet yang Terbentuk Setelah Induksi Akar pada eksplan tanaman karet yang terbentuk setelah induksi memiliki persentase, jumlah dan panjang akar yang rendah (Lampiran 4). Pemberian IBA dan NAA terhadap induksi akar pada eksplan pucuk karet menunjukkan hasil tidak berpengaruh nyata (P>0.05; Tabel 4).
Tabel 4. Hasil Pembentukan akar pada eksplan tanaman karet yang terbentuk setelah induksi
Rendahnya kemampuan eksplan berakar disebabkan oleh cadangan makanan dan hormon endogen pada bahan eksplan yang tidak mencukupi. Kekurangan cadangan makanan dan hormon pada bahan eksplan membuat pertumbuhan dan perkembangan akar terhambat. Cadangan makanan yang cukup dibutuhkan pada eksplan untuk pembelahan sel untuk membentuk akar (Pujawati et al., 2017). Eksplan yang terbentuk akar pada akhir pengamatan adalah eksplan dengan perlakuan IBA 200 ppm dan NAA 0 ppm, IBA 200 ppm dan NAA 50
Perlakuan Persentase berakar
(%)
Jumlah akar Panjang akar
(cm) IBA 0 + NAA 0 0 0 0 IBA 0 + NAA 50 0 0 0 IBA 0 + NAA 100 0 0 0 IBA 0 + NAA 150 0 0 0 IBA 100 + NAA 0 0 0 0 IBA 100 + NAA 50 0 0 0 IBA 100 + NAA 100 0 0 0 IBA 100 + NAA 150 0 0 0 IBA 200 + NAA 0 8.3 1 2.8 IBA 200 + NAA 50 8.3 3 10.7 IBA 200 + NAA 100 0 0 0 IBA 200 + NAA 150 0 0 0 IBA 300 + NAA 0 0 0 0 IBA 300 + NAA 50 16.6 3 4.2 IBA 300 + NAA 100 0 0 0 IBA 300 + NAA 150 0 0 0 IBA 400 + NAA 0 8.3 1 3.9 IBA 400 + NAA 50 0 0 0 IBA 400 + NAA 100 0 0 0 IBA 400 + NAA 150 0 0 0 IBA 500 + NAA 0 0 0 0 IBA 500 + NAA 50 0 0 0 IBA 500 + NAA 100 0 0 0 IBA 500 + NAA 150 0 0 0
30
ppm, IBA 300 ppm dan NAA 50 ppm, dan IBA 400 ppm dan 0 ppm. Pada beberapa perlakuan eksplan dapat bertahan hidup walaupun tidak dapat menginduksi akar, hal ini disebabkan karena jumlah cadangan makanan pada eksplan hanya cukup untuk eksplan bertahan hidup dan tidak cukup untuk menginduksi terbentuknya akar (Supriyanto & Prakasa, 2011).
Eksplan yang masih bertahan hidup namun tidak berakar adalah eksplan dengan perlakuan IBA 0 ppm dan NAA 0 ppm dan IBA 100 ppm dan NAA 50 ppm. Beberapa eksplan menghasilkan kalus pada pangkal batangnya. Kalus terbentuk pada eksplan dengan perlakuan IBA 300 dan NAA 150 ppm dan IBA 400 dan NAA 50 ppm (Gambar 6). Adanya kalus pada eksplan menandakan bahwa akar akan terbentuk namun karena pemberian IBA dan NAA yang belum tepat menyebabkan kalus pada batang eksplan belum terdediferensiasi (Pujawati et al., 2017).
Gambar 6 Pangkal batang pada eksplan karet yang menghasilkan kalus dan akar. A.
Akar pada perlakuan IBA 200 ppm dan NAA 0 ppm. B. Akar pada perlakuan IBA 200 ppm dan NAA 50 ppm . C. Kalus pada perlakuan IBA 300 ppm. dan NAA 0 ppm. D. Akar pada perlakuan IBA 300 ppm dan NAA 50 ppm. E. Kalus pada perlakuan IBA 300 dan NAA 150 ppm. F. Akar pada perlakuan IBA 400 ppm dan NAA 0 ppm . G. Kalus pada perlakuan IBA 400 ppm dan NAA 50 ppm.
A B C D E F G
31
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian ZPT IBA dan NAA pada eksplan tanaman karet klon PB 260 secara ex vitro belum dapat berpengaruh nyata terhadap induksi pembentukan akar.
5.2. Saran
Berdasarkan penelitian ini belum ada konsentrasi yang optimal untuk induksi akar pada tanaman karet oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan perlakuan konsentrasi yang berbeda (diturunkan) hingga ditemukan konsentrasi yang optimal untuk induksi akar pada eksplan pucuk tanaman karet klon PB 260. Selain itu perlu dilakukan penanganan dan kontrol eksplan serta lingkungan yang baik dalam penanaman dan inkubasi di dalam inkubator.