• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Undang-Undang Dasar 1945 setelah amandemen didalam Pasal 33 ayat 4 menginstruksikan bahwa perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Mendasarkan pada pijakan tersebut maka Lembaga Perbankan merupakan salah satu sarana guna mewujudkan dan mendukung cita-cita luhur tersebut, hal ini dapat terlihat sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 yang menyatakan bahwa Bank mempunyai fungsi utama sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat yang di dalam melakukan kegiatan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan senantiasa berpegang teguh pada prinsip kehati-hatian, mempunyai peranan yang strategis di dalam menunjang pembangunan nasional, pertumbuhan ekonomi maupun dalam rangka menunjang peningkatan taraf hidup rakyat banyak.

Sebagai salah satu sarana di dalam mendukung program pembangunan tersebut maka sangat dimaklumi bahwa lembaga perbankan mempunyai prinsip sebagai lembaga kepercayaan, hal ini terkait dengan status bank yang unik sebagai “a place of special safety and probity”, (keamanan dan kejujuran) maka sifat hubungan hukum antara bank dengan nasabah adalah hubungan “fiduciary” (kepercayaan)1, disamping mempunyai prinsip-prinsip lainnya yaitu prinsip kerahasiaan, prinsip kehati-hatian, dan prinsip mengenal nasabah2.

Prinsip Bank sebagai lembaga kepercayaan tersebut, secara normatif dapat terlihat pada penjelasan Pasal 29 UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU No.10 Tahun 1998 yang antara lain menyatakan bahwa “mengingat

1 Nindyo Pramono, Materi Kuliah Prinsip atau Azas Hukum Dalam Perbankan, PMH UGM, Jakarta, 2012, hlm.3.

(2)

Bank terutama bekerja dengan dana dari masyarakat yang disimpan pada Bank atas dasar kepercayaan, setiap Bank perlu terus menjaga kesehatannya dan memelihara kepercayaan masyarakat padanya”. Penjelasan dalam ketentuan tersebut dapat dipahami sebagai prinsip fiduciary relation3.

Di dalam lalu lintas kegiatan bisnis perbankan seringkali ditemukan adanya prilaku-prilaku yang mencoreng prinsip kepercayaan tersebut yaitu adanya suatu perbuatan menyimpang dari pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab guna memperoleh keuntungan pribadi atau kelompoknya melalui cara yang tidak dibenarkan oleh hukum, hal tersebut akan sangat mengganggu dan menghambat program pembangunan, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan taraf hidup rakyat banyak sebagaimana yang diamanatkan dalam undang-undang, dan lebih mengerucut lagi tentunya akan mengganggu hak dan kepentingan lembaga perbankan itu sendiri terutama dalam rangka menjalankan operasional bisnisnya.

Bank sebagai lembaga kepercayaan yang menghimpun dana masyarakat merupakan tempat yang relatif aman untuk menyimpan dana dan sebagai sarana yang dapat mempermudah di dalam melakukan transaksi bisnis, namun bersamaan dengan itu pula bagi pihak-pihak tertentu yang beritikad tidak baik Bank juga dipandang merupakan lahan yang empuk sebagai sasaran kejahatan guna memperoleh keuntungan pribadi maupun kelompoknya yang dilakukan melalui berbagai macam modus operandi.

Salah satu tindak kejahatan yang terjadi di lembaga perbankan tersebut, sebagaimana halnya yang terjadi di Bank Mandiri Cabang Jakarta Panglima Polim yaitu dalam transaksi kredit dengan jaminan Negotiable Certificate of Deposit (selanjutnya disingkat “NCD”) milik pihak ketiga. Dimana Perjanjian kredit Cash Collateral disetujui dikarenakan adanya jaminan NCD milik pihak ketiga yang sebelum transaksi Perjanjian Kredit tersebut dilaksanakan terlebih dahulu telah memperoleh persetujuan dan atas sepengetahuan dari pemilik NCD4. Berdasarkan prosedur perkreditan bahwa dalam hal terjadi transaksi kredit dengan agunan kredit milik pihak ketiga maka harus dilengkapi antara lain dengan Surat Kuasa dari pemilik NCD, untuk hal itu kemudian dalam penjaminan NCD tersebut dilengkapi dengan Surat Kuasa yang ditandatangani oleh Pemilik NCD dimana untuk mengecek kebenaran Surat Kuasa tersebut pegawai Bank

3 ____Ibid., hlm. 6.____

(3)

Mandiri telah mengkonfirmasikan mengenai kebenaran Surat Kuasa tersebut kepada pemilik NCD melalui telepon5. Sebelum dilakukan penjaminan NCD, atas permintaan calon debitur warkat NCD dititipkan terlebih dahulu di Bank sehingga diterbitkan Surat Penitipan NCD.

Di dalam perkembangannya ternyata debitur tidak mampu untuk memenuhi kewajiban pembayaran kreditnya sehingga kolektibilitas kredit menjadi macet, dan sebagai konsekuensinya NCD dicairkan guna melunasi hutang debitur dimaksud.

Sehubungan dengan pencairan NCD sebagai jaminan kredit tersebut, pihak Bank memberitahukannya kepada pemilik NCD namun ternyata pemilik NCD menolak pencairan tersebut dengan alasan bahwa pemilik NCD tidak pernah memberikan persetujuan atau memberikan Surat Kuasa kepada para debitur yang bersangkutan untuk menjadikan NCD tersebut sebagai jaminan kredit di Bank Mandiri. Atas peristiwa tersebut, pemilik NCD melaporkan para debitur dan pimpinan cabang kepada kepolisian, dan telah memperoleh putusan pengadilan dengan amar putusan yang pada intinya menyatakan bahwa berdasarkan penelitian laboratorium kriminalistik Surat Kuasa dimaksud dinyatakan non identik dan para debitur dinyatakan bersalah telah menggunakan surat palsu serta pegawai Bank tidak terbukti melakukan tindak pidana perbankan namun dinyatakan bersalah karena telah turut serta menggunakan surat palsu dalam penjaminan kredit dengan NCD tersebut.

Dalam perkara pidana tersebut terdapat fakta hukum lain yang terungkap di pengadilan bahwa sesuai keterangan saksi-saksi dalam persidangan di pengadilan membuktikan bahwa pemilik NCD telah mengetahui dan menyetujui atas penjaminan NCD dimaksud sehingga diduga adanya keterlibatan dalam penjaminan NCD dimaksud6.

Perjanjian Kredit cash collateral diterbitkan atas dasar adanya jaminan NCD dengan Surat Kuasa yang ditandatangani oleh pemilik NCD yang sebelumnya telah dikonfirmasikan kepada pemilik NCD tersebut, dan Perjanjian Kredit dimaksud tidak akan terbit bilamana tidak ada Surat Kuasa untuk menjaminkan NCD dari pemilik NCD guna penjaminan kredit cash collateral tersebut.

5 ____Ibid., hlm.23.___

(4)

Memperhatikan fakta hukum berdasarkan hasil sidang di pengadilan yang terungkap fakta bahwa penjaminan NCD tersebut atas persetujuan dan sepengetahuan pemilik NCD, maka dapat ditarik benang merahnya bahwa dengan mengacu pada ketentuan Pasal 1365 juncto 1366 juncto Pasal 1367 KUHPerdata, semestinya pemilik NCD bertanggung jawab atau paling tidak, turut bertanggung jawab atas perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh para debitur yang menimbulkan kerugian kepada Bank. Namun putusan pengadilan kelihatannya tidak memperhatikan adanya fakta hukum keterlibatan pemilik NCD yang mengetahui dan mengizinkan NCD tersebut dijaminkan kepada Bank untuk Kredit Cash Collateral para debitur dalam studi kasus ini.

Tindak kejahatan pada umumnya dapat dilakukan oleh siapapun, demikian juga tindak kejahatan yang terjadi di lembaga perbankan dapat terjadi karena dilakukan oleh pegawainya sendiri, oleh nasabah, oleh pihak luar maupun dapat terjadi karena adanya kerja sama antara pihak-pihak tersebut. Dalam hal terjadinya tindak kejahatan di lembaga perbankan, maka yang sering terdengar adalah mengenai perlindungan atau keselamatan dana nasabah yang disimpan pada Bank sehingga kadang terlupakan perlunya perlindungan terhadap lembaga perbankan itu sendiri dan hal ini tentunya didasarkan pada kasus posisi ada tidaknya keterlibatan Bank dalam tindak kejahatan tersebut, karena siapapun pelaku kejahatannya akan sangat berpengaruh pada kinerja, risiko hukum dan risiko reputasi dan bahkan bilamana timbul kerugian pada Bank maka pada akhirnya akan berpengaruh juga pada peranan Bank di dalam ikut serta menunjang pelaksanaan pembangunan Nasional.

Dalam kondisi yang demikian, Bank akan mengalami kerugian baik secara fiansial maupun terhadap corporate image atau nama baik Bank yang selama ini telah dibangun dengan susah payah. Bank kadang kala sering dijadikan sebagai sasaran penuntutan pihak-pihak tertentu guna memenuhi kerugian yang timbul akibat adanya tindak kejahatan perbankan yang sebenarnya Bank tidak terlibat dalam kejahatan dimaksud. Untuk itu, menurut hemat penulis kiranya perlu adanya perlindungan terhadap Bank guna menghindari atau paling tidak meminimalisir timbulnya kerugian bagi Bank akibat ulah pegawainya atau pihak lainnya, hal tersebut terkait dengan fakta bahwa Bank dalam menjalankan operasionalnya telah dilingkupi oleh berbagai macam peraturan, baik oleh ketentuan internal yang diterbitkan sendiri dengan pijakan peraturan yang mendasarinya dan juga mengacu pada peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku, dimana

(5)

peraturan-peraturan tersebut harus dipedomani oleh pegawainya dalam melakukan kegiatan operasional sehari-hari untuk menghindari timbulnya hal-hal yang dapat merugikan hak dan kepentingan Bank, sehingga dalam hal pegawainya menyimpang dari prosedur hukum yang telah ditetapkan seharusnya akibat yang ditimbulkannya menjadi tanggung jawabnya secara pribadi sebagaimana hal ini ditentukan dalam Pasal 1365 juncto Pasal 1366 juncto Pasal 1367 KUHPerdata.

Untuk itu, suatu hal yang menarik guna membahas mengenai perlindungan hukum bagi Bank berkaitan dengan terjadinya tindak kejahatan perbankan yang terjadi di Bank Mandiri Cabang Jakarta Panglima Polim sebagai studi kasus dalam penulisan ini yang berkaitan dengan pertanggungjawaban secara perdata dalam perbuatan melawan hukum terhadap pelaku yang bersangkutan, yang sepengetahuan penulis belum ada ketentuan peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur mengenai perlindungan hukum terhadap Bank dari tindakan nasabah atau pihak ketiga yang beritikad tidak baik, sebagaimana halnya perlindungan hukum yang diberikan kepada konsumen yang telah diatur secara tegas dalam ketentuan mengenai perlindungan konsumen sesuai Undang-Undang Nomor : 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, terdapat beberapa permasalahan yang menarik untuk dikaji dan dipecahkan yaitu sebagai berikut:

1. Bagaimanakah kedudukan hukum Bank dalam perjanjian kredit dengan jaminan NCD (Negotiabe Certificate of Deposit) milik pihak ketiga yang dijalankan berdasarkan Surat Kuasa dari pemilik NCD yang belakangan dinyatakan non identik, namun berdasarkan keterangan saksi di pengadilan diketahui bahwa penjaminan NCD dimaksud atas seizin dan sepengetahuan pemilik NCD.

2. Bagaimanakah perlindungan hukum terhadap Bank bilamana terjadi perbuatan melawan hukum dalam penjaminan kredit dengan NCD yang dilakukan oleh debitur yang melibatkan pegawai Bank dikaitkan dengan Pasal 1365 jo. Pasal 1366 jo. Pasal 1367 KUHPerdata jo. UU No.7 Tahun1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU No.10 Tahun 1998.

(6)

3. Bagaimanakah pertanggungjawaban perdata atas adanya perbuatan melawan hukum berdasarkan Pasal 1365 jo. Pasal 1366 jo. Pasal 1367 KUHPerdata berkenaan dengan perkara yang menjadi bahan studi kasus ini yang menimbulkan ganti rugi atas beban Bank.

C. Keaslian Penelitian

Penelitian Tesis mengenai studi kasus ini sebagaimana yang diuraikan dalam perumusan masalah di atas, sepanjang pengetahuan penulis belum pernah dilakukan, hal ini diperkuat dengan putusan yang menjadi referensi penelitian studi kasus ini adalah putusan-putusan sebagai berikut :

1) Putusan Pidana No.537/Pid.B/2004/PN.Jak-Sel tanggal 7 September 2004, inkracht, karena tidak ada upaya hukum Banding.

2) Putusan Pidana No.393/Pid.B/2005/PN.Jak.Sel tanggal 19 Oktober 2005, inkracht, karena tidak ada upaya hukum Banding.

3) Putusan Pidana No.387/Pid.B/2005/PN.Jak.Sel tanggal 28 November 2005, inkracht, karena tidak ada upaya hukum Banding.

4) Putusan Perdata No.487/Pdt.G/2003/PN.Jak.Sel tanggal...., inkracht, karena tidak ada upaya hukum Banding.

5) Putusan Perdata No.1649/Pdt.G/2007/PN.Jkt.Sel tanggal 13 Mei 2008 jo. Putusan PT DKI Jakarta No.65/Pdt/2009/PT.DKI.Jkt tanggal 24 Februari 2009 jo. Putusan MA RI No.1849 K/Pdt/2009 tanggal 30 November 2009 jo. Putusan PK MARI No.399 PK/Pdt/2010 tangga 18 Oktober 2010.

Sepanjang pengetahuan penulis terhadap putusan-putusan tersebut belum pernah ada pengajuan permohonan untuk melakukan penelitian terhadap perkara dimaksud kepada Bank Mandiri Legal Group dimana penulis bekerja selaku pengelola berkas perkara kasus dimaksud.

D. Kegunaan Penelitian

(7)

1. Bagi Lembaga Perbankan pada umumnya merupakan masukan dalam rangka penyusunan ketentuan internal guna melindungi Bank dari adanya tindakan pihak tertentu yang beritikad tidak baik yang dapat merugikan hak dan kepentingan Bank. 2. Diharapkan menjadi referensi yang berguna bagi kemajuan dan keutuhan Bank, baik

bagi praktisi perbankan maupun bagi para praktisi hukum dalam rangka upaya meningkatkan pengetahuan hukum dan penerapannya.

3. Merupakan salah satu karya ilmiah yang berorientasi pada pengembangan peraturan perlindungan hukum bagi Bank dan peningkatan sumber daya manusia serta implementasinya dalam operasional perbankan sebagai wujud nyata terhadap kepedulian perlindungan Bank dan peningkatan produktivitas kerja dalam bidang hukum perbankan.

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan ulasan pada latar belakang dan permasalahan tersebut di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui pola transaksi perbankan dalam perjanjian kredit dengan jaminan Negotiation Certificate Deposit di Bank Mandiri Cabang Jakarta Pangima Polim. 2. Mengetahui pola penerbitan, sifat atau karakter dari Negotiable Certificate

Deposit.

3. Mengetahui sejauh mana pertanggungjawaban perdata terhadap pelaku perbuatan melawan hukum dalam pemberian fasilitas kredit cash collateral dengan jaminan NCD milik pihak ketiga.

4. Mengetahui bagaimana timbulnya perbuatan melawan hukum dalam perjanjian kredit cash collateral dengan jaminan NCD dalam perkara yang menjadi studi kasus ini, sehingga ganti kerugian yang timbul dibebankan kepada Bank.

5. Mengetahui pola pertimbangan hukum atas pengenaan besaran jumlah bunga ganti rugi yang dijatuhkan dan dibebankan kepada Bank terhadap NCD yang sudah dicairkan guna melunasi hutang kredit, sesuai putusan perkara yang menjadi studi kasus ini.

Referensi

Dokumen terkait

 Biaya produksi menjadi lebih efisien jika hanya ada satu produsen tunggal yang membuat produk itu dari pada banyak perusahaan.. Barrier

Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis perbedaan pendapatan dengan menggunakan analisis statistik menguji kesamaan dua rata-rata (uji dua

Profluean atau podoccna (boca • porunalncn) yens Ju - ju r takan aand enia ksrucier) tero tftsa koragXao barupa uimc aabagai akSJb&t barkuren£Ry& barsag yang

Di sini penulis membatasi masalah yang akan di teliti yaitu hanya air minum dalam kemasannya dengan cup saja yang akan diteliti serta faktor – faktor yang telah

Gambar 5. Struktur Model Dinamis Pengembangan Klaster Sapi Potong di Jawa Barat Bagian Barat.. Pada struktur produksi dan konsumsi daging menunjukkan bahwa jumlah pemotongan sapi

pengukuran berat jenis sementasi limbah benton it baik untuk benton it alam ataupun benton it yang diaktitkan, temyata semakin besar perbandingan berat bentonit

Emisi surat utang korporasi di pasar domestik selama Januari 2018 mencapai Rp7,67 triliun atau naik 2,84 kali dibandingkan dengan Januari 2018, berdasarkan data oleh

[r]