• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI. Pusat Pertunjukan Teater Sulap di Badung i

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI. Pusat Pertunjukan Teater Sulap di Badung i"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Pusat Pertunjukan Teater Sulap di Badung | i

DAFTAR ISI

(2)
(3)
(4)
(5)

Pusat Pertunjukan Teater Sulap di Badung | v

ABSTRACT

The word theater or drama comes from the Greek "theatrom" which means motion. Drama itself accentuated the conversation (dialog) and the movements of the players (active) on stage. The conversation and gestures demonstrate the story that had been written in the manuscript. Thus, the audience can directly follow and enjoy the story without having to imagine. (Hermawati, et al, 2006). Theater has a specific specification of space that is specific enough to be adapted to the show that will be displayed on the stage theater. Thus spatial arrangement becomes very important to consider in terms of designing theater space. No other way with the design of a theater space to accommodate a magic show in it. The magic show that will be shown in the theater concept will bring up functional, architectural, and performance demands. Proper planning for a magic theater space will determine how much performances will be displayed on the stage. Frequently the success of a magician in performing an action is strongly influenced by the condition of the place where the show was held, because it can not be separated from the provision of facilities that can support the effects raised from a magic trick. In this paper, the concept of theater space arrangement to accommodate a magic show in it will be explained.

Key words: Design Concept, Theatre, Show, Magic ABSTRAK

Kata teater atau drama berasal dari bahasa Yunani ”theatrom” yang berarti gerak. Tontonan drama memang menonjolkan percakapan (dialog) dan gerak-gerik para pemain (aktif) di panggung. Percakapan dan gerak-gerik itu memperagakan cerita yang tertulis dalam naskah. Dengan demikian, penonton dapat langsung mengikuti dan menikmati cerita tanpa harus membayangkan. (Hermawati, dkk, 2006). Teater memiliki sebuah spesifikasi ruang yang cukup spesifik untuk disesuaikan dengan pertunjukan yang akan ditampilkan diatas panggung terater tesebut. Dengan demikian penataan ruang menjadi sangat penting untuk dipertimbangkan dalam hal merancang ruang teater. Tidak lain halnya dengan perancangan sebuah ruang teater untuk mewadahi sebuah pertunjukan sulap didalamnya. Sulap yang disajikan dalam konsep pertunjukan teater akan memunculkan tuntutan ruang secara fungsional, arsitektural, dan performansi. Perencanaan yang tepat untuk sebuah ruang teater sulap akan menentukan seberapa besar pertunjukan yang akan dapat ditampilkan diatas panggung tersebut. Tidak jarang keberhasilan seorang pesulap dalam melakukan aksinya sangat dipengaruhi dengan kondisi wadah dimana pertunjukan itu dilangsungkan, karena hal tersebut tidak dapat lepas dari penyediaan fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung efek yang dimunculkan dari sebuah trik sulap. Pada karya tulis ini akan djelaskan bagaimana konsep penataan ruang teater untuk mewadahi sebuah pertunjukan sulap di dalamnya.

(6)

Pusat Pertunjukan Teater Sulap di Badung | vi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dunia seni di Indonesia memang sangat kaya, terlebih dengan adanya keterlibatan budaya dan tradisi yang membuat seni di Indonesia semakin menarik dan memiliki ciri. Namun seni yang bersifat mendunia memang terkadang memiliki kesulitan untuk menembus pasar di Indonesia. Salah satunya adalah seni sulap yang sempat menjadi trend di Indonesia dengan munculnya banyak pesulap-pesulap dari Indonesia dengan kemampuan yang terbilang mampu menyaingi pesulap-psulap internasional. Adapun pesulap-pesulap tersebut antara lain seperti Deddy Corbuzier, Romy Rafael, Bow Vernon, Oge Arthemus, Denny Darko, Rhomedal, Demian Aditya, Rynku Viceroy, Joe Sandy, dan masih banyak lagi.

Kemunduran seni sulap di Indonesia bukanlah soal praktisinya yang tidak dapat bersaing dalam hal kemampuan, namun soal peminat seni sulap sebagai hiburan di berbagai acara di Indonesia yang masih kurang. Kurangnya peminat ini juga disebabkan oleh kurangnya kepercayaan akibat awamnya masyarakat akan kemampuan pesulap-pesulap di Indonesia, hal ini karena pesulap-pesulap tersebut hanya akan terlihat kemampuannya ketika menjadi pengisi acara dalam acara-acara yang menggunakan jasanya. Hal itulah yang menjadikan kurangnya jam penampilan sulap yang dilihat oleh masyarakat dan menjadi sulit untuk dipercaya dan diyakini akan memberikan hal terbaik dalam acara tersebut.

Sangat berbeda halnya dengan seni yang mendunia lainnya seperti seni musik, seni musik tetap dapat dinikmati dengan banyaknya media pengantarnya ke telinga masyarakat dan itu dapat berdampak pada kepercayaan masyarakat atas industri musik tersebut. Musik dapat diputar melalui banyak media yang dapat menjadi media promosi bagi musisi tersebut. Dengan demikian, seni musik memiliki banyak peminat karena adanya kepercayaan dan pengetahuan dari masyarakat tentang industri musik di Indonesia.

Sebagai contoh, seorang pesulap ternama Deddy Corbuzier merupakan pesulap dengan jam terbang yang sudah tidak diragukan lagi di Indonesia. Sulap-sulapnya yang luar biasa memberikan nuansa baru di dunia sulap Indonesia. Dengan

(7)

Pusat Pertunjukan Teater Sulap di Badung | vii

pembawaan yang berkarakter dan filosofi disetiap permainan yang dibawakan, Deddy Corbuzier telah berhasil menarik perhatian masarakat Indonesia hingga berpengaruh terhadap kemajuan industri sulap di Indonesia. Namun keterbatasan pengetahuan masyarakat tentang sulap di Indonesia membuat tidak banyak orang yang tahu bahwa pesulap tersebut penah menjadi Mentalis terbaik di dunia dengan dua kali berturut-turut memenangkan Merlin Award ditahun 2010 dan 2011. Dibalik nama itu, masih banyak nama-nama pesulap di Indonesia yang memang memiliki kemampuan untuk bersaing di kelas Internasional.

Di Bali sendiri memiliki banyak nama-nama pesulap yang memiliki kemampuan yang dapat bersaing dengan nama-nama pesulap di Indonesia seperti Giri Decato, Rheza Elfuego, Tito Febriano, Aryo Angelo, Josh Novendra, Van Diamond, Juan Wonk, dan beberapa nama lainnya yang juga memiliki jam terbang cukup tinggi hingga salah satu diantara mereka sempat mengikuti ajang perlombaan sulap tingkat Internasional yang diadakan di Indonesia yaitu

MagicCastleCompetition. Beberapa nama komunitas sulap juga bermunculan di Bali

seperti DMC (Dewata MagicClub), JackKing, MaestroArtMagic, BMC (Bayu

MagicManagement), dan Kuta TheatreManagement.

Kuta Theatre merupakan salah satu theatre sulap yang ada di Bali tepatnya di

jalan Kaetika Plaza, Kuta, Badung, Bali. Kuta Theatre ini memiliki konsep pertunjukan sulap dengan konsep teatrikal namun tanpa mengadopsi unsur-unsur kearifan lokal yang ada di Bali. Dengan lokasi yang berada di lantai 2 sebuah pertokoan, Kuta Theatre ini terbilang kuraang memadai dalam hal pertunjukan sulap besar. Pertunjukan yang disuguhkan hanya pertunjukan ilusi yang diaomodasi dengan panggung sebesar 8m x 6m yang terbilang kurang memadai untuk permainan alat ilusi besar. Ditambah dengan modul bangunan yang memaksakan ruangan teater memiliki dimensi terbatas sehingga memiliki kelemahan di bagian backstage,

understage, ketinggian selling, dan propertyloadingarea.

Penggunaan unsur IT yang minim juga membuat kurangnya daya tarik Kuta

Theatre ini bagi penilaian sebuah pertunjukan sulap di era modern ini. Banyak

permaian sulap yang sebenarnya dapat diakomodasi dengan menggunakan IT dengan efek pertunjukan teatrikal ilusi yang menarik seperti VirtualMagic dan LaserAct. Saat ini IT menjadi permainan yang diminati oleh para pelaku seni sulap di Indonesia bahkan di Dunia dengan munculnya Marco Tempes sebagai pesulap virtual kelas Dunia. Dengan adanya beberapa perbandingan dan kekurangan yang tertulis diatas

(8)

Pusat Pertunjukan Teater Sulap di Badung | viii

maka dirasa perlu untuk memberikan prasarana yang lebih memadai untuk dijadikan sebuah bangunan Pusat Pertunjukan MagicThetare di Bali khususnya daerah Badung yang meenggunakan sentuhan kearifan lokal didalamnya dan perpaduan dengan konsep IT pada bangunan untuk mendukung pertunjukan yang ada.

Menurut hasil wawancara dengan Reza Elfuego, yaitu seorang pesulap Bali yang juga merupakan founder dari Bali Magic Tournament dikatakan bahwa peminatsulap di Bali meningkat. Peningkatan industri sulap di Bali terlihat dari jumlah peserta yang turut serta dalam sebuah kompetisi sulap yang diadakan di Bali di tahun 2011 dan 2012. Bali Magic Tournament yang diselenggarakan pada tahun 2011 diikuti oleh 38 peserta yang berasal dari seluruh Indonesia yang dimana didalamnya terdapat sekitar 20 orang pesulap dari Bali yang menjadi peserta. Sedangkan pada tahun berikutnya yaitu Bali Magic Tournament 2012, jumlah pesulap yang menjadi peserta meningkat hingga 30% yaitu 51 peserta yang juga berasal dari seluruh Indonesia yang didalamnya terdapat sekitar 30 orang pesulap dari Bali. (Reza Elfuego, wawancara, 12 Oktober 2016)

Isu dan data inilah yang menjadi latar belakang pengangkatan judul ini sebagai proyek dalam mata kuliah seminar tugas akhir di jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana. Pengadaan prasarana berupa bangunan sebagai Pusat Pertunjukan Teater Sulapdi Badung ini adalah salah satu langkah untuk memberikan wadah terhadap para pelaku seni sulap di Indonesia untuk tampil dan unjuk kemampuan tanpa menunggu undangan dari suatu acara dan tanpa menunggu ketertarikan dari masyarakat untuk menggantungkan kemajuan industrinya di Indonesia khususnya di Bali. Layakya seorang musisi yang mengadakan konser tunggal untuk mempromosikan sebuah lagu ataupun album yang belum banyak dikenal untuk nantinya menarik peminat atas lagu atau albumnya tersebut, begitu juga wadah seni sulap ini akan memberikan fasilitas kepada pesulap di Bali untuk menunjukkan kemampuannya sebagai jembatan guna membangun ketertarikan masyarakat dengan industrinya maupun perseorangan pelakunya.

Dengan memberikan wadah ini, para pelaku seni sulap tidak harus menunggu panggilan jasa atau undangan acara untuk dapat tampil dan unjuk kemampuannya. Para pelaku seni sulap ini dapat menunjukkan kemampuannya melalui pertunjukkan melalui wadahnya sendiri. Dengan menggunakan konsep teater yang didukung dengan beberapa unsur Virtual Magic yang akan memberikan sajian seni sulap

(9)

Pusat Pertunjukan Teater Sulap di Badung | ix

dengan kemasan cerita dan teatrikal. Hal ini akan menjadi nilai jual terhadap bangunan ini dan industri sulap itu sendiri.

Tidak hanya penampilan panggung, prasarana ini juga akan memberikan fasilitas bagi pesulap untuk memberikan penampilan sulap dengan aliran-aliran yang relevan untuk dimainkan dan dengan level pertunjukan yang berbeda-beda seperti pertunjukan Close Up Magic dan Virtual Magic.Dengan memberikan fasilitas lebih kepada pesulap dan pengunjung berupa pertunjukan dari berbagai aliran dan berbagai tipe diharapkan akan memberikan kesempatan bagi pesulap-pesulap yang memiliki aliran dan tipe permainan yang tidak bisa dimainkan diatas panggung.

Pengadaan prasarana ini diharapkan dapat membantu masyarakat untuk lebih tahu dan lebih mengenal seni sulap di Indonesia sebagai hiburan dengan praktisi-praktisi yang mumpuni dan tidak kalah dengan pesulap kelas Internasional. Begitu juga kepada pelakunya yang pada akhirnya mendapatkan wadah sebagai sarana marketing diri dan kemampuannya yang kemudian akan berdampak kepada kemajuan industri sulap di Indonesia khususnya di Badung, Bali.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas terkait dengan pengadaan prasarana bagi pelaku seni sulap dan penikmat sulap untuk bisa menikmati seni sulap di Bali, didapatkan beberapa rumusan masalah dalam proyek ini, antara lain :

(10)

Pusat Pertunjukan Teater Sulap di Badung | x

1.2.1 Bagaimana spesifikasi khusus yang dibutuhkan dalam ruang teater pertunjukan sulap?

1.2.2 Bagaimana program ruang yang baik untuk dapat mengakomodasi seluruh jenis pertunjukan sulap?

1.2.3 Bagaimana performansi ruang yang dibutuhkan dalam sebuah ruang teater?

1.2.4 Siapa yang dijadikan sasaran dan keterkaitannya terhadap lokasi bangunan dan kapasitas bangunan?

1.2.5 Bagaimana mempertahankan tampilan Arsitektur Bali khususnya dalam bentuk atap dalam bangunan teater terutama pada bagian bentang lebar bangunan?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan data-data yang nantinya akan digunakan untuk menentukan spesifikasi dari perancangan Pusat Pertunjukan Teater Sulap di Badung. Selain itu, yang juga menjadi tujuan dari penelitian ini adalah menentukan bagaimana program rancangan dari sebuah gedung teater dan bagaimana konsep perancangan dari sebuah gedung pertunjukan teater dengan nuansa magic didalamnya. Hal ini nantinya akan digunakan pada saat tahap perancangan Pusat Pertunjukan Teater Sulap tersebut di studio perancangan tugas akhir.

1.4 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penyusunan laporan dan penelitian ini antara lain :

1.4.1 Teknik pegumpulan data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah : a. Metode wawancara dan diskusi

Metode ini adalah metode pengumpulan data dengan cara diskusi dan wawancara dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan permasalahan yang ada dengan individu maupun kelompok yang berkompeten dibidang seni sulap di Indonesia khususnya di Bali

(11)

Pusat Pertunjukan Teater Sulap di Badung | xi

Metode ini adalah metode observasi langsung ke lapangan dengan tujuan mendapatkan data selengkap-lengkapnya terkait studi proyek sejenis terkait setiap fungsi yang nantinya ada di dalam Teater Sulap.

c. Metode studi literatur

Metode ini adalah metode penelitian dengan cara mengumpulkan sumber-sumber literatur terpercaya dengan sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan kelayakan datanya seperti sumber buku, e-book, jurnal, majalah, artikel, website, dll.

1.4.2 Teknik Pembahasan

a. Metode Deskriptif

Metode yang dapat menjelaskan dan mendeskripsikan proses perancangan Pusat Pertunjukan Teater Sulapyang akan menjadi proyek yang dituju.

b. Metode Komparatif

Metode yang mengkomparasi berbagai literatur yang didapat terkait judul yang diangkat maupun dari teori-teori yang didapatkan dari materi-materi perkuliahan yang terkait dengan perancangan bangunan komersil sesuai proyek yang dibahas. c. Metode Visualisasi

Metode yang dapat menjelaskan maksud yang dituju dengan penggunaan gambar secara visual melalui sketsa-sketsa dan keterangan pada gambar sebagai pendukung penjelasan gambar.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil: Berdasarkan hasil penelitian menggunakan metode observasi dan wawancara secara mendalam menunjukkan bahwa perencanaan pelayanan gizi sudah dilaksanakan dengan baik

Untuk melihat kemampuan tersebut digunakan beberapa indikator yaitu (1) menyajikan pernyataan matematika melalui gambar, (2) menemukan pola atau sifat dari gejala

Berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan dengan masukan berupa video rekaman pada Multimedia Understanding Lab 1237 dan Stasiun UI, baik metode jarak

Namun guna mendukung nilai pemanfaatan dari system yang telah dibangun, dilakukanlah penelitian yang lebih menyeluruh terutama berkaitan dengan kemampuan dalam adopsi

Wujud Tanda Kebahasaan yang berupa Ikon, Indeks, dan Simbol serta maknanya dalam Roman Une Fille Dans La Ville Karya Flore Vasseur. Peirce membedakan hubungan antartanda

Derajat financial leverage (Degree of Financial Leverage / DFL) akibat adanya perubahan pada EBIT perusahaan dapat digunakan untuk menilai laba per lembar saham

Konsep – konsep ilmu seperti misalnya masyarakat akan mengambarkan bagaimana suatu individu atau kelompok – kelompok dalam masyarakat untuk membentuk suatu sistem dalam membangun

Penyakit yang timbul karena hubungan kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja. Terdapat jaminan seperti