• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI SISTEM PEMBERIAN NUTRISI DAN MACAM MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SELADA ( Lactuca sativa L ) HODROPONIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UJI SISTEM PEMBERIAN NUTRISI DAN MACAM MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SELADA ( Lactuca sativa L ) HODROPONIK"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

UJI SISTEM PEMBERIAN NUTRISI DAN MACAM MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SELADA ( Lactuca sativa L ) HODROPONIK

Siswadi dan Sarwono

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Slamet Riyadi Surakarta

ABSTRACT

The research abaut test irrigation system and source media on growth and yield hydroponic lettuce (Lactuca sativa L ). The research had been green house agriculture of faculty UNISRI conducted Kadipiro, Banjarsari, Surakarta from April to June 2012. This research was based on a completelety randomized design (CRD) factorial. The first factor was irrigation system consist of three system, those are drip system, floating system and watering system, the second factor was source media consist of four, those are charcoal chaff, rice husk, sand and zeolite. So that the total combination was 12 combination treatment and 3 replication. The parameters measured were height of plant, number of leaves, fresh weight of canopy and harvest index. The result showed that drip irrigation and charcoal chaff is the best combination to growth and yield lettuce (Lactuca sativa L).

Key words : Lecture Hydroponic, irrigation system and media

A. PENDAHULUAN

Selada (lactuca sativa L) merupakan salah satu komoditi sayuran hortikultura yang memiliki prospek dan nilai komersial yang cukup tinggi, semakin bertambahnya jumlah penduduk Indonesia serta meningkatnya kesadaran pemerintah akan kebutuhan gizi menyebabkan bertambahnya permintaan akan sayuran (Mas’ud H, 2009)

Samanhudi dan Harjoko (2006) menyatakan dewasa ini perkembangan industri semakin maju dengan pesat, perkembangan tersebut banyak yang menggeser lahan pertanian lebih-lebih di daerah perkotaan, akibatnya lahan pertanian semakin sempit. Di sisi lain kebutuhan akan hasil pertanian semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Oleh karena itu perlu dipikirkan jalan keluar untuk mengatasi kondisi tersebut. Hidroponik merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktifitas tanaman terutama di lahan sempit. Aspek penting yang perlu juga diperhatikan dalam menentukan keberhasilan budidaya hidroponik adalah pengelolaan tanaman yang meliputi persiapan bahan media, larutan nutrisi, pemeliharaan, aplikasi larutan nutrisi, panen dan pasca panen (Rosikiana R. dan Sumarni N, 2005)

Pemberian nutrisi yang tepat pada sistem hidroponik akan memberikan hasil yang optimal bagi pertumbuhan tanaman selada, selain itu pertumbuhan tanaman tidak lepas dari lingkungan tumbuhan terutama faktor media tanam yang secara langsung akan mempengaruhi hasil tanaman (Mas’ud H, 2009).

Penelitian tentang sistem pemberian nutrisi maupun penelitian tentang macam media tanam hidroponik pada tanaman selada sudah banyak di lakukan, namun demikian hasil penelitian menunjukkan hasil yang berbeda-beda, hal ini terkait dengan waktu dilakukannya penelitian serta kondisi lingkungan yang berbeda-beda. Berdasarkan uraian tersebut di atas dipandang perlu dilakukannya penelitian dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang sistem pemberian nutrisi dan macam media pada tanaman selada secara hidroponik.

B. BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di Green House Fakultas Pertanian Universitas Slamet Riyadi di Jl. Jaya Wijaya Kalurahan Kadipiro Banjarsari Surakarta dengan ketinggian 105 meter dari permukaan laut. Pelaksanaan penelitian dimulai pada bulan April sampai dengan bulan Juni 2012. Bahan yang digunakan yaitu benih selada varietas grand rapids, urea, SP 36, KCl, dan Gandasil D, arang sekam, sekam mentah, pasir, zeolit, polibag, botol aqua, ember, selang, timbangan, dan alat tulis kantor.

Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial. Faktor pertama yaitu sistem pemberian nutrisi yang terdiri dari atas 3 sistem yaitu: sistem tetes, sistem genangan, dan sistem siram, sedangkan faktor yang kedua terdiri dari 4 macam media yaitu: media arang sekam, sekam mentah, pasir dan zeolit. Dengan demikian di dapatkan 12 kombinasi perlakuan yang diulang masing-masing 3 ulangan.

(2)

Variable pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, berat segar tajuk dan indek panen. Data yang diperoleh kemudian di analisis dengan analisis ragam pada taraf á 5 % dan apabila terdapat beda nyata dilakukan uji lanjut Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.

B. HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL

1. Tinggi Tanaman

Hasil analisis Duncan Multiple Ring Test (DMRT) pada taraf 5 % terhadap tinggi tanaman akibat perlakuan sistem pemberian nutrisi dan macam media disajikan pada table 1 sebagai berikut :

Tabel 1 : Purata Tinggi Tanaman Pada Saat Panen (cm)

Perlakuan Jenis Daun

P 1 M 4 19,203 a P 3 M 4 19,650 a P 2 M 4 19,783 ab P 1 M 2 19,900 ab P 2 M 2 20,093 ab P 1 M 3 20,256 ab P 2 M 1 20,426 ab P 3 M 2 20,780 ab P 2 M 3 20,833 ab P 3 M 1 20,906 ab P 3 M 3 21,073 ab P 2 M 1 22,396 b

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata berdasarkan analisis DMRT pada taraf 5 %.

Berdasarkan tabel 1 di atas menunjukkan bahwa tinggi tanaman selada tertinggi dicapai pada perlakuan pemberian nutrisi sistem tetes dan media arang sekam (P1M1) tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan yang lainnya kecuali dengan perlakuan perberian nutrisi sistem tetes dengan media tanam zeolit (P1M4) dan pemberian nutrisi sistem siraman dengan media tanam zeolit (P3M4).

2. Jumlah Daun

Hasil analisis Duncan Multiple Ring Test (DMRT) pada taraf 5 % terhadap jumlah daun akibat perlakuan sistem pemberian nutrisi dan macam media disajikan pada tabel 2 sebagai berikut :

(3)

Tabel 2 : Purata Jumlah Daun Pada Saat Panen

Perlakuan Berat Segar Tajuk (g)

P 2 M 3 16,543 a P 2 M 4 17,156 ab P 2 M 1 17,386 ab P 3 M 1 17,800 ab P 3 M 4 17,993 ab P 1 M 3 18,023 ab P 3 M 2 18,123 ab P 1 M 2 18,123 ab P 1 M 4 18,320 ab P 3 M 3 18.366 ab P 2 M 2 18,596 ab P 1 M 1 19,886 b

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata berdasarkan analisis DMRT pada taraf 5 %.

Berdasarkan tablel 3 di atas menunjukkan bahwa jumlah daun terbanyak dicapai pada perlakuan pemberian nutrisi dengan sistem tetes dan media arang sekam (P1M1), berbeda nyata dengan pemberian nutrisi dengan genangan dan media pasir (P2M3), tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Hasil terendah dicapai pada (P2M3), tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya kecuali (P1M1) .

3. Berat Segar Tajuk

Hasil analisis Duncan Multiple Ring Test (DMRT) pada taraf 5 % terhadap berat segar tajuk akibat perlakuan sistem pemberian nutrisi dan macam media disajikan pada tabel 3 sebagai berikut :

Tabel 3.: Purata Berat Segar Tajuk (g)

Perlakuan Berat Segar Tajuk (g)

P 2 M 2 63,846 a P 1 M 2 65,033 ab P 2 M 3 66,196 abc P 3 M 2 67,966 abcd P 1 M 3 69,266 abcd P 2 M 1 69,480 abcd P 3 M 1 71,706 bcde P 3 M 3 72,700 cde P 3 M 4 73,616 cde P 2 M 4 74,920 de P 1 M 4 77,603 e P 1 M 1 86,036 f

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata berdasarkan analisis DMRT pada taraf 5 %.

(4)

Berdasarkan tabel 3 diatas menunjukkan bahwa berat segar tajuk tertinggi dicapai pada perlakuan pemberian nutrisi dengan sistem tetes dan media arang sekam (P1M1), sedangkan berat segar tajuk terendah dicapai pada perlakuan pemberian nutrisi dengan sistem penanganan dan media sekam segar (P2M2). Perlakuan pemberian nutrisi sistem tetes dan arang sekam (P1M1) memberikan hasil yang berbeda nyata dengan perlakuan yang lainnya.

4.Indek Panen

Hasil analisis Duncan Multiple Ring Test (DMRT) pada taraf 5 % terhadap indek panen akibat perlakuan sistem pemberian nutrisi dan macam media disajikan pada tabel 4 sebagai berikut : Tabel 4 : Purata Indek Panen

Perlakuan Indek Panen

P 1 M 2 0,630 a P 2 M 2 0,656 ab P 1 M 3 0,666 ab P 2 M 3 0,700 abc P 3 M 3 0,703 abc P 3 M 4 0,706 abc P 3 M 2 0,713 abc P 2 M 1 0,720 abc P 3 M 1 0,723 abc P 1 M 4 0,726 abc P 2 M 4` 0,743 bc P 1 M 1 0,800 c

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata berdasarkan analisis DMRT pada taraf 5 %.

Berdasarkan tabel 4 diatas menunjukkan bahwa indek panen tertinggi dicapai pada perlakuan pemberian nutrisi dengan sistem tetes dan arang sekam sedangkan indek panen terendah dihasilkan dari perlakuan penyiraman sistem tetes dengan media sekam mentah (P1M2). Perlakuan (P1M2) menunjukan hasil yang berbeda nyata dengan (P1M2) tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.

B. PEMBAHASAN

Pemberian nutrisi dengan sistem tetes yang dikombinasikan dengan media arang sekam, setelah dianalisis dengan Duncan Multiple Ring Test (DMRT) pada taraf 5 % menunjukkan hasil tertinggi pada tinggi tanaman, jumlah daun, berat segar tajuk, dan indeks panen. Khusus pada berat segar tajuk memberikan pengaruh yang nyata dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Pemberian nutrisi dengan sistem tetes memungkinkan media tanam dalam keadaan kapasitas lapang selama penelitian berlangsung, sehingga bila dibandingkan dengan sistem pemberian nutrisi dengan genangan dan siraman tentu lebih baik karena tidak akan mengakibatkan akar tanaman terendam air. Sebagaimana di katakan oleh Susila dan Kourniawati (2004) yang mengatakan bahwa terendamnya akar tanaman dalam larutan hara akan mengakibatkan rendahnya kadar oksigen di daerah perakaran. Lebih lanjut dikatakan oleh Drew dan Stoley (1991) dalam Susilo dan Koerniawati mengatakan bahwa gangguan akar sebagai akibat kekurangan oksigen adalah pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang tidak sempurna serta menurunnya hasil panen.

Anjaliza dkk (2013), mengatakan bahwa pemberian nutrisi sistem genangan (floaty hydroponic) memberikan hasil terendah dibandingkan dengan sistem tetes dan sistem NFT dikarenakan dengan sistem genangan akar terendam air. Media tanam arang sekam merupakan media tanaman yang ideal dalam hidroponik, hal ini dikarenakan sifat dari arang sekam yang porous dan mampu menyimpan air dengan baik. Di samping itu arang sekam merupakan media

(5)

organik yang banyak mengandung kalium dan carbon yang berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Siswadi dan Teguh Yuwono (2013) mengatakan bahwa media tanam sangat menentukan kemampuannya dalam menyerap air sehingga media yang tidak mampu menyerap air perlu penyiraman yang berulang-ulang agar memberikan kelembaban media yang ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Hasil penelitian Perwitasari dkk (2012) menunjukkan bahwa kombinasi arang sekam dan nutrisi memberikan hasil terbaik pada tanaman pakchoi.

Hasil tertinggi yang ditunjukkan dari berat segar tajuk diperoleh dari kombinasi perlakuan pemberian nutrisi sistem tetes dan media arang sekam. Hal ini disebabkan karena adanya kelebihan dari sistem pemberian nutrisi tetes dan arang sekam sebagaimana dijelaskan di atas. Ditegaskan juga oleh Perwitasari dkk (2012) yang menyatakan bahwa sifat arang sekam yang mudah menyimpan air dan drainase yang baik sangat menguntungkan dalam pencegahan busuk akar.

Kondisi media yang baik dan dengan adanya nutrisi yang selalu tersedia lewat sistem tetes memberikan efek pertumbuhan tanaman dapat optimal. Qardner dkk (1991) menyatakan bahwa untuk pertumbuhan .. tanaman diperlukan unsur-unsur esensial tertentu yang tersedia dalam suatu keseimbangan yang wajar. Pertumbuhan dapat terhambat jika unsur-unsur esensial tidak tersedia atau tersedia dalam jumlah yang berlebihan.

KESIMPULAN

Pemberian nutrisi dengan sistem tetes yang dikombinasikan dengan media tanam arang sekam memberikan pertumbuhan dan hasil selada (Lactuca sativa L) terbaik yang ditunjukkan dengan berat segar tajuk tertinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya.

SARAN

Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan Focus pada seberapa banyak (volume) nutrisi yang diberikan dalam satu kali siklus hidup tanaman selada (Lactuca sativa L).

DAFTAR PUSTAKA

Anjeliza, R.Y., A Masniawati, Baharuddin dan M.A. Salam, 2013. Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Sawi Hijau Brassica juncea L. Pada Berbagai Desain Hidroponik. Universitas Hasanuddin, Makasar.

Gardner, P.F., R.B. Pearce and R.L. Mitohell, 1991, Fisiologi Tanaman Budidaya. UI Press, Jakarta. Indrawati, R., D. Indradewa dan S.N.H. Utami, 2012. Pengaruh Komposisi Media dan Kadar Nutrisi Hidroponik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tomat (Lycopersicon esculentum Mill). UGM, Yogyakarta.

Mas’ud, Hidayati, 2009. Sistem Hidroponik dengan Nutrisi dan Media Tanam Berbeda terhadap Pertumbuhan dan Hasil Selada. Program Studi Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Tadulako. Palu.

Perwitawati, B, M. Tripatmasari dan C. Wasonowati, 2012. Pengaruh Media Tanam dan Nutrisi Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Pakchoi (Brassica juncea L.) dengan Sistem Hidroponik. Jurnal Agrovigar Vol. 5 No. 1 Universitas Trunojoyo Madura.

Rosliana, R dan N. Sumarni, 2005, Budidaya Tanaman Sayuran dengan sistem hidroponik, Jurnal Monografi No. 27.Balai Penelitian Tanaman Sayuran

Samanhudi dan D. Harjoko, 2006, Pengaturan Komposisi Nutrisi dan Media Dalam Budidaya Tanaman Tomat Dengan Sistem Hidroponik. UNS, Surakarta.

Siswadi dan Teguh Yuwono, 2013, Uji Hasil Tanaman Sawi Pada Berbagai Media Tanam Secara Hidroponik. Jurnal Innofarm Vol. II, No. 1, 44-50.

Susilo, A. D. dan Koesniawati, 2004. Pengaruh Volume dan Jenis Media Tanam

pada Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Selada (Lactuca sativa) dalam Teknologi Hidroponik Sistem Terapung, Buletin Agron (32) (3) 16-21.

Gambar

Tabel 3.: Purata Berat Segar Tajuk (g)

Referensi

Dokumen terkait

a. Fungsi kognitif, semakin kuat efikasi diri anak akan memperkuat komitmen individu terhadap tujuan hidupnya misalnya dalam hal cita-cita. Fungsi motivasi, mendorong anak

(2017) titer antibodi yang masih tinggi pada saat vaksinasi nantinya dapat menetralkan antigen yang terdapat dalam vaksin yang digunakan sehingga akan mengakibatkan

Tujuan penelitian ini adalah: (1) memberikan informasi mengenai potensi pengembangan perbankan syariah yang didasarkan pada analisis potensi ekonomi dan pola sikap/preferensi dari

Ada beberapa isitilah yang perlu dijelaskan dalam penelitian ini, agar tidak terjadi kerancuan dalam memahami judul yang diangkat yakni “Pengaruh Keterlibatan Guru dalam

Berdasarkan hasil dari penelitian tersebut, maka mendapatkan beberapa saran yang dapat di jadikan tolak ukur atau pertimbangan untuk memperbaiki konsep diri dalam

Setelah mempelajari teori kognitivistik saya tahu bahwa sebaiknya pembelajaran tidak melepaskan unsur kebudayaan yang di anggap kuno dan mitos oleh sebagian orang padahal

Berdasarkan analisis pengontrolan kualitas produksi biskuit Square Puff dengan menggunakan diagram kendali D 2 dan diagram kendali T 2 Hotelling Individual, dihasilkan