• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Paradigma Penelitian

Paradigma merupakan terminologi kunci dalam model pengembangan ilmu pengetahuan yang diperkenalkan Thomas Khun. Sedangkan George Ritzer merumuskan Paradigma adalah pandangan yang mendasar dari ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan pada suatu cabang ilmu menurut ilmuwan tertentu. Paradigma membantu merumuskan apa yang seharusnya dijawab, dan bagaimana menjawabnya serta aturan – aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang dikumpulkan dalam rangka menjawab persoalan tersebut69.

Paradigma yang digunakan didalam penelitian ini adalah paradigma Kontruktivis yakni melihat kebenaran sebagai sesuatu yang subjektif dan diciptakan oleh partisipan. Paradigma Konstruktivis yaitu paradigma yang hampir merupakan antitesis dari paham yang meletakkan pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas atau ilmu pengetahuan. Paradigma ini memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap Socially meaningfull

69 Lono Laskoro Simatupang. Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta : Pustaka

(2)

action melalui pengamatan langsung dan terperinci terhadap pelaku sosial yang

bersangkutan menciptakan dan memelihara/mengelola dunia sosial 70

Teori konstruktivisme adalah pendekatan secara teoritis untuk komunikasi yang dikembangkan tahun 1970-an oleh Jesse Deli dan rekan-rekan sejawatnya. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu melakukan interpretasi dan bertindak menurut berbagai kategori konseptual yang ada dalam pikirannya. Menurut teori ini, realitas tidak menunjukkan dirinya dalam bentuknya yang kasar, tetapi harus disaring terlebih dahulu melalui bagaimana cara seseorang

melihat sesuatu71 (Morissan, 2009:107)

Konstruktivisme menolak pandangan positivisme yang memisahkan subjek dan objek komunikasi. Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan. Konstruktivisme justru menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan komunikasi serta hubungan-hubungan sosialnya. Subjek memiliki kemampuan melakukan kontrol terhadap maksud-maksud tertentu dalam setiap wacana.

Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu menginterpretasikan dan beraksi menurut kategori konseptual dari pikiran. Realitas tidak menggambarkan diri individu namun harus disaring melalui cara pandang orang

70 Dedy Hidayat. Paradigma dan Metodologi Penelitian Sosial, Jakarta : 2003. Hal.3

71 Morissan,M.A.Menejemen Media Penyiaran : Strategi mengelola Radio & Televisi. Jakarta :

(3)

terhadap realitas tersebut. Teori konstruktivisme dibangun berdasarkan teori yang ada sebelumnya, yaitu konstruksi pribadi atau konstruksi personal (personal construct) oleh George Kelly. Ia menyatakan bahwa orang memahami pengalamannya dengan cara mengelompokkan berbagai peristiwa menurut kesamaannya dan membedakan berbagai hal melalui perbedaannya.

Paradigma konstruktivisme ialah paradigma dimana kebenaran suatu realitas sosial dilihat sebagai hasil konstruksi sosial, dan kebenaran suatu realitas sosial bersifat relatif. Paradigma konstruktivisme ini berada dalam perspektif interpretivisme (penafsiran) yang terbagi dalam tiga jenis, yaitu interaksi simbolik, fenomenologis dan hermeneutik. Paradigma konstruktivisme dalam ilmu sosial merupakan kritik terhadap paradigma positivis. Menurut paradigma konstruktivisme realitas sosial yang diamati oleh seseorang tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang, seperti yang biasa dilakukan oleh kaum positivis. Konsep mengenai konstruksionis diperkenalkan oleh sosiolog interpretative, Peter L.Berger bersama Thomas Luckman. Dalam konsep kajian komunikasi, teori konstruksi sosial bisa disebut berada diantara teori fakta sosial dan defenisi sosial 72(Eriyanto 2004:13).

Paradigma konstruktivis dipengaruhi oleh perspektif interaksi simbolis dan perspektif strukturan fungsional. Perspektif interaksi simbolis ini mengatakan bahwa manusia secara aktif dan kreatif mengembangkan respons terhadap stimulus dalam dunia kognitifnya. Dalam proses sosial, individu manusia

72Eriyanto. Analisis Framing: Kontruksi, Ideologi, dan Poitik Media,Yogyakarta : Penerbit LIKS.

(4)

dipandang sebagai pencipta realitas sosial yang relatif bebas di dalam dunia sosialnya. Realitas sosial itu memiliki makna manakala realitas sosial tersebut dikonstruksikan dan memiliki makna secara subjektif oleh individu lain, sehingga memantapkan realitas itu secara objektif.

Peneliti memilih paradigma konstruktivis karena peneliti melihat Glass Ceiling merupakan peristiwa sosial yang layak dan patut dilihat dan kupas lebih dalam tentang makna soal yang sedang terjadi terhadap wanita bekerja.

Peneliti juga melihat bahwa Glass Ceiling merupakan realitas sosial diman subyek yakni seorang wanita yang tidak bisa dipisahkan dari objek nya yakni pekerjaannya serta kesesuaian yang akan peneliti dapatkan mengenai pengelolaan diri yang dilakukan oleh wanita karier dalam mengatasi Glass Ceiling bersifat relatif.

3.2 Tipe penelitian

Tipe penelitian ini adalah tipe penelitian deskriptif. Penelitian Deskriptif adalah berusaha menggambarakan situasi atau kejadian, dan di kumpulkan besifat deskriptif sehingga tidak bermaksud mencari penjelasan, menguji hipotesis atau membuat prediksi, maupun mempelajari implikasi. Penelitian deskriptif pada dasarnya ditujukan untuk:

1. Mengumpukan informasi aktual secara rinci yang melukiskan segal gejala yang ada.

2. Mengidentifikasi masalah atau memeriksa kondisi dan praktek-praktek yang berlaku

(5)

4. Menentukan apa yang dilakukan orang jika menghadapi maslah yang sama

dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkan suatu kesimpulan73

.

Sedangkan Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif, strauss dan Corbin mendeskripsiakan riset kualitatif sebagai berikut:

“ jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak

dapat dicapai dengan menggunakan prosedur statistik atau kuantifikasi lainnya”74

Metode merupakan cara untuk mengungkapkan kebenaran yang objektif.

Kebenaran tersebut merupakan tujuan, sementara metode itu adalah cara. Penggunaan metode dimaksudkan agar kebenaran yang diungkapkan benar-benar berdasarkan bukti ilmiah yang kuat. Oleh karena itu, metode dapat diartikan pula sebagai prosedur atau rangkaian cara yang secara sistematis dalam menggali kebenaran ilmiah. Sedangkan penelitian dapat diartikan sebagai pekerjaan ilmiah yang harus dilakukan secara sistematis, teratur dan tertib, baik mengenai prosedurnya maupun dalam proses berfikir tentang materinya (Nawawi dan Martini dalam Prastowo, 2011).

Furchan (2007) menyatakan bahwa metode penelitian merupakan strategi umum yang dianut dalam pengumpulan dan analisis data yang diperlukan untuk menjawab persoalan yang dihadapi. Dengan kata lain, metode penelitian merupakan suatu cara yang harus dilakukan oleh peneliti melalui serangkaian prosedur dan tahapan dalam melaksanakan kegiatan penelitian dengan tujuan

73Jalaludin Rachmat, metode penelitian komunkasi,PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 1989, hal

222

74 Rosady ruslan, metode penelitian public relations dan komunikasi, PT Raja Grafindo persada,

(6)

memecahkan masalah atau mencari jawaban terhadap suatu masalah. Penelitian pada hakikatnya merupakan penerapan pendekatan ilmiah pada pengkajian suatu masalah.

Metode penelitian deskriptif adalah salah satu metode penelitian yang banyak digunakan pada penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan suatu 37 kejadian. Seperti yang dikemukakan oleh Sugiyono (2011) “penelitian deskriptif adalah sebuah penelitian yang bertujuan untuk memberikan atau menjabarkan suatu keadaan atau fenomena yang terjadi saat ini dengan menggunakan prosedur ilmiah untuk menjawab masalah secara aktual”. Sedangkan, Sukmadinata (2006) menyatakan bahwa metode penelitian deskriptif adalah sebuah metode yang berusaha mendeskripsikan, menginterpretasikan sesuatu, misalnya kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi atau tentang kecenderungan yang sedang berlangsung.

Tipe penelitian Deskriptif dipilih oleh peneliti, karena peneliti ingin menjelaskan kejadian sosial yang ada secara terperinci dan menggambarkannya. Citra diri wanita yang merupakan factor pembentuk Glass Ceiling dianggap cocok untuk digambarkan secara deskriptif.

3.3 Metode Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendeketan kualitatif, dimana penelitian kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam. Pendekatan ini menghasilkan penelitian yang bersifat ucapan atau lisan, dan perilaku berupa hasil pengamatan dari

(7)

orang-orang . Analisa kualitatif menjelaskan mengenai fenomena dengan sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya. Dalam hal ini lebih ditekankan adalah persoalan kedalaman (kualitas) data bukan layaknya (kuantitas data).

Penelitian ini menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif seperti transkrip wawancara, catatan lapangan, gambar, foto, rekaman video dan lain-lain atau mengumpulkan informasi aktual secara rinci dan cermat yang melukiskan gejala yang ada, mengidentifikasikan masalah

dan membuat perbandingan atau evaluasi.75

Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Fenomenologi. Fenomenologi adalah instrumen untuk memahami lebih jauh antara kesadaran individu dan kehidupan sosialnya. Fenomenologi berupaya mengungkapkan bagaimana aksi sosial, situasi sosial, dan masyarakat sebagai produk kesadaran manusia. Yang ditekankan oleh

fenomenologi ialah aspek subjektif dari perilaku seseorang.76

Dalam metode ini, difokuskan dalam penggunaan metode fenomenologi Schutz, yang didalamnya terdapat elemen-elemen pemikiran fenomenologi sosiologi yang merupakan landasan pendekatan fenomenologi sosiologi sebagai sebuah metodologi dalam ilmu sosial. Elemen-elemen tersebut adalah konsep berpikir fenomenologi sosiologi yang relevan dengan

75 Mix Methodology Dalam Penelitian Komunikasi, Sunarto, Adan Husein,, 2011. Hal 140 76 Dr. Elvinaro ardianto, Simbiosa Rekatama Media. Bandung. Hal:65

(8)

in situ perkembangan fenomenologi sebagai sebuah paradigma yang

memegang peranan cukup penting dalam sosiologi.77

Peneliti melihat Bahwa Pengelolaan diri wanita dan Glass Ceiling merupakan kesadaran Wanita dan lingkungan sosialnya. Yang ingin diketahui terbentuknya dari kesadaran manusia yang merupakan hasil subjektif dari perilaku seseorang.

3.4 Subyek Penelitian

Dalam menjalankan penelitian ini, peneliti akan mengadakan observasi dan wawancara mendalam kepada beberapa 3 Wanita Karier yang bekerja di bidang yang berbeda. Tiga Wanita ini dipilih dikarenakan peneliti merasa Wanita yang akan dipilih oleh peneliti ini dirasa cocok untuk mewaili subjek penelitian peneliti.

Untuk mendapatkan informasi atau data yang akurat dalam penelitian , maka diperlukan Key Informan. Key Informan ini merupakan sumber informasi yang memiliki wewenang untuk menyampaikan informasi sehubungan dengan penelitian ini.

Peneliti menimbang Para Narasumber yang akan menjadi subjek penelitian peneliti karena memenuhi persyaratan atau memenuhi kriteria yang diinginkan oleh peneliti yakni mengalami Glass Ceiling baik yang masih ataupun pernah mengalami sebelumnya.

77 Nindito, Fenomena Alfred Schlutz: Studi tentang Konstruksi Makna dan Realitas. Journal Ilmu

(9)

Dalam pemilihan narasumber yang akan dilakukan oleh peneliti adalah harus memenuhi beberapa kriteria yang terdalam telah ditentukan oleh peneliti yaitu

1. Narasumber atau calon narasumber paling tidak harus memiliki pengalaman kerja selama 4 tahun lebih kurun waktu itu untuk membuktikan atau menjadi takaran peneliti sebagai waktu yang dibutuhkan untuk mencapai target atau tujuan dalam bekerja.

2. Narasumber harus mengalami Glass Ceiling. Yaitu keadaan dimana narasumber tidak dapat atau terhalangi karirnya di lingkungan kerjanya contoh terjadi perbedaan antara pekerja wanita dan pria di lingkungan kantor atau terjadinya stereotip mengenai ketidakmampuan wanita untuk dijadikan pemimpin.

3. Narasumber merupakan seorang wanita karier di mana wanita karir yang dimaksud oleh peneliti adalah dia yang berkarya di luar rumah. untuk lebih spesifiknya peneliti perlu melihat atau mendapatkan narasumber seorang wanita karir yang bekerja di Industri perkantoran baik untuk jasa maupun produk.

4. Peneliti juga ingin mendapatkan narasumber baik yang sudah maupun yang sedang mengalami gelas selling itu ditujukan untuk melihat atau mendapatkan pembanding antara seseorang yang berhasil mendobrak konseling dan yang belum berhasil mendobrak Glass Ceiling.

(10)

5. Peneliti tidak membatasi umur dari calon narasumber asalkan telah memenuhi ketiga kriteria yang tersebut di atas maka sudah cukup untuk dijadikan sebagai narasumber penelitian.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standard untuk memperoleh data yang diperlukan. Pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting dalam metode ilmiah, karena data digunakan untuk menguji hipotesa yang telah dirumuskan (kecuali pada penelitian eksploratif). Pengumpulan data selalu memiliki hubungan dengan masalah penelitian yang ingin dipecahkan. Masalah memberi arah dan mempengaruhi metode pengumpulan data. Banyak masalah yang dirumuskan tidak dapat dipecahkan karena metode untuk pengumpulan data tidak memungkinkan atau metode ada tidak dapat menghasilkan data yang diinginkan.

Data yang dikumpulkan haruslah cukup valid untuk digunakan. Validitas data dapat ditingkatkan jika alat pengukur serta kualitas dari pengambilan data cukup valid. Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, berbagai cara. Bila dilihat dari setingnya, data dapat dikumpulkan pada setting alamiah (natural seting), laboratorium untuk eksperimen, di rumah untuk berbagai responden, seminar, diskusi, dan lain-lain.

Jika dilihat dari sumber data, maka pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer dan sumber sekunder. Bila dilihat dari cara atau teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan wawancara (interview), angket

(11)

(questionare), pengamatan (observation), atau gabungan ketiganya. Data yang sudah didapat ini diukur dengan menggunakan skala pengukuran.

3.5.1 Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari objek yang diteliti atau dari sumber pertama baik dari individu atau kelompok. Data Primer diperoleh melalui Wawancara mendalam (Indepth Interview) dan observasi non partisipan.

1. Wawancara adalah salah satu dari sekian banyak teknik pengumpulan data yang pelaksanaannya dapat dilakukan secara langsung dengan diwawancarai, dapat juga secara tidak langsung seperti memberikan daftar pertanyaan untuk dijawab pada kesempatan lain. Salah satu teknik wawancara yang dapat mengupas tajam mengenai data penelitian adalah wawancara mendalam, dimana seorang responden atau kelompok responden mengomunikasikan bahan-bahan dan

mendorong untuk didiskusikan secara bebas.78

2. Observasi Non partisipan Adalah Observasi non partisipan

adalah observasi dimana si penyelidik (observer) tidak ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan oleh yang di observasi. Jadi si penyidik sebagai observer.

78 Metodologi Penelitian untuk Public Relations Kuantitatif dan Kualitatif, Dr. Elvinaro Ardianto,

(12)

Pada penelitian ini peneliti ingin menggunakan cara wawancara dan observasi non partisipan untuk mendapatkan data primer. Penelitian ini melakukan wawancara mendalam dengan 3 Informan yang ada kemudian melakukan Observasi pada 3 Informan yang notabennya wanita.

3.5.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah data primer yang telah diolah lebih lanjut menjadi bentuk seperti table, grafik, diagram, gambar dan sebagainya sehingga menjadi lebih informatif bagi pihak lain. Data sekunder diperoleh melalui studi kepustakaan dan dokumentasi. Studi kepustakaan diperoleh untuk penulis melalui membaca dan mengkaji literatur kepustakaan yang berhubungan dengan permasalahan pada penelitian serta membaca atau mengkaji beberapa sumber informasi yang mendukung lainnya, seperti Koran, majalah, data di internet dan lain sebagainya.

Dokumentasi juga diperoleh penulis berupa foto-foto. Dengan demikian dari hasil dokumentasi foto dapat memberikan hasil deskriptif yang terjadi saat itu. Bukan hanya berupa foto, tetapi dokumentasi juga terlampir berupa dan rekaman suara wawancara serta bukti chat atau percakapan peneliti dengan narasumber melalui media komunikasi antara peneliti dan 3 informan yang di pilih untuk diteliti.

3.6 Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis data secara kualitatif, dimana peneliti kualitatif digunakan untuk mendapatkan data

(13)

yang mendalam. pendekatan ini menghasilkan penelitian yang bersifat ucapan atau lisan, dan perilaku berupa hasil pengamatan dari orang-orang.

Menurut Miles dan Huberman yang dituangkan dalam buku DR. Elvinaro Ardianto, Metodologi Penelitian, ada tiga jenis kegiatan dalam analisis data, antara lain :

1, Mereduksi Data

Data yang diperoleh dalam lapangan ditulis dalam bentuk uraian laporan yang terperinci. Laporan ini akan terus bertambah. Bila tidak segera dianalisis sejak awal, akan menambah kesulitan di berikutnya. Laporan-laporan tersebut perlu direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok dan difokuskan pada hal-hal yang penting. Setelahnya akan menghasilkan gambaran data yang lebih tajam tentang pengamatan, juga mempermudah peneliti untuk mencari kembali data bila diperlukan.

2. Men- display Data

Agar dapat melihat gambaran keseluruhan atau bagian tertentu dari penelitian itu, harus diusahakan membuat berbagai macam matriks, grafik, networks, dan charts. Dengan demikian, peneliti dapat menguasai data dan tidak tenggelam dalam tumbukan detail.

(14)

Dalam hal ini, peneliti berusaha mencari pola, tema, hubungan , persamaan hal-hal yang sering muncul, dan sebagainya. Jadi dari data yang diperoleh peneliti berusaha mengambil kesimpulan. Kesimpulan itu mulanya hanya tentative, kabur dan diragukan, akan tetapi dengan bertambahnya data dan kesimpulan yang semakin banyak, akan ditemukan kesimpulan yang senantiasa harus di verifikasi.

4. Menganalisa data

Menganalisa data sewaktu pengumpulan data antara lain untuk menghasilkan lembar rangkuman dan pembuatan kode pada tingkat rendah, menengah dan tinggi.

5. Membuat lembar rangkuman

Untuk memperoleh inti data, peneliti dapat bertanya siapa, peristiwa atau situasi apa, tema atau masalah apa yang dihadapi di lapangan. Pada kunjungan berikutnya, informasi apa yang harus ditemukan dan hal apa saja yang harus diberi perhatian khusus. Setelah analisa data kualitatif diharapkan akan ditemukan bagaimana citra diri Wanita sehingga menjadi factor pembentuk Glass Ceiling pada wanita bekerja.

3.7 Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

Sebuah proses kerja ilmiah disebut memiliki criteria objektivitas jika persyaratan kesahihan (validitas) dan keterandalan (reliabilitas) terpenuhi.

(15)

Validitas data dalam penelitian ini, maka peneliti akan menggunakan teknik triangulasi. Teknik triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data tersebut

untuk keperluan pengecekan atau sebagai perbandingan data tersebut.79

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik triangulasi dengan sumber yang berarti membandingkan dan akan mengecek kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dengan cara :

1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.

2. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

Jadi, teknik triangulasi merupakan teknik untuk memeriksa keabsahan suatu data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain untuk keperluan pengecekan atau pembanding.

79Lexy J.Moleong. metodologi penelitian kualitatif, Bandung,; PT Remaja Rosdakarya,

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Sugiyono (2011:35), penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih ( independent )

Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk mengetahui kecenderungan cara yang digunakan siswa kelas VIII SMP dalam membuat keputusan untuk menyelesaikan soal-soal

Menurut Sugiyono (2011:35) metode penelitian deskriptif adalah metode penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri atau lebih (independen) tanpa

Dalam penyusunan skripsi ini metode yang akan digunakan adalah metode penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk membuat deskripsi secara sistematis, faktual,

Menurut Sugiyono (2011:124) purposive sampling adalah teknik sampel dengan pertimbangan tertentu. Adapun sampel dalam penelitian ini yaitu sebanyak dua kelas dimana kelas

Jenis penelitian ini bersifat deskriptif, berdasarkan Sugiyono (2003:11), deskriptif adalah yakni penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu

Variabel Independen adalah variabel bebas yang memengaruhi varibel dependen (Sugiyono, 2011:39). Dalam penelitian ini, variabel independen yang digunakan peneliti adalah

Penelitian deskriptif disini bertujuan untuk memperoleh deskripsi atau gambaran mengenai Pengaruh digital marketing terhadap brand awareness dan dampaknya pada keputusan pembelian