• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ika Nurlaela, Evi Tahapari, dan Sularto

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Ika Nurlaela, Evi Tahapari, dan Sularto"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Ikan patin nasutus (Pangasius nasutus) merupakan patin asli Indonesia yang berdaging putih. Sifat biologi, terutama karakter pertumbuhannya belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karagaan pertumbuhan ikan patin nasutus yang dipelihara dengan padat tebar berbeda. Percobaan dilakukan di kolam 6.000 m2 dengan menggunakan jaring ukuran 3 m x 3 m x 1,25 m. Padat tebar yang digunakan

adalah 5, 10, 15, dan 20 ekor/m2.Bobotawal ikan yang digunakan antara 15,70–20,54 g dan panjang

antara 10,43–11,36 cm. Pakan yang digunakan selama pemeliharaan adalah pakan buatan dengan kandungan protein kasar 30%–32% sebanyak 3% dari bobot ikan per hari. Pemeliharaan dilakukan selama 3 bulan (90 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan 5 ekor/m2 mempunyai pertambahan bobot

tertinggi (96 g), diikuti dengan kepadatan 10 ekor/m2 (92,45 g), 15 ekor/m2 (70,74 g), dan 20 ekor/m2 (61,47

g). Pertambahan panjang dan laju pertumbuhan spesifik tertinggi diperoleh pada pemeliharaan dengan kepadatan 10 ekor/m2 (8,75 cm dan 2,06%) yang tidak berbeda nyata dengan kepadatan 5 ekor/m2 dan

terendah pada kepadatan 20 ekor/m2 (7,09 cm dan 1,76%). Nilai sintasan tertinggi pada kepadatan 5 ekor/

m2 (98,5%) dan terendah pada 20 ekor/m2 (91,3%). Nilai konversi pakan antar perlakuan tidak berbeda nyata,

KONVERSI PAKAN tertinggi pada kepadatan 15 ekor/m2 (2,18) dan terendah pada 10 ekor/m2 (1,71).

KATA KUNCI: padat tebar, pertumbuhan, patin nasutus PENDAHULUAN

Ikan patin (Pangasius sp.) termasuk dalam famili Pangasiidae. Ikan ini merupakan salah satu jenis ikan konsumsi air tawar yang bernilai ekonomis penting. Ikan patin banyak diminati oleh masyarakat, terutama di Sumatera dan Kalimantan. Gustiano et al. (2003) menyatakan bahwa terdapat 25 jenis ikan patin di dunia dan 14 jenis di antaranya terdapat di Indonesia.

Ikan patin yang banyak dibudidayakan masyarakat di Indonesia adalah ikan patin siam (Pangasianodon hypopthalmus) dan patin jambal (Pangasius djambal). Ikan patin siam merupakan ikan introduksi yang telah lebih dulu memasyarakat di Indonesia dibandingkan ikan patin jambal yang merupakan ikan patin lokal (Hardjamulia et al., 1981). Ikan patin siam mempunyai keunggulan antara lain daya toleransi yang tinggi terhadap kondisi kualitas air yang jelek, produksi telur (fekunditas) tinggi serta teknik pemijahan buatannya relatif mudah dilakukan. Salah satu kekurangan patin siam adalah memiliki daging berwarna kekuningan sehingga tidak diterima di pasar internasional. Hal ini karena konsumen menghendaki daging ikan patin berwarna putih, yang selama ini sebagian besar disuplai dari Vietnam. Ikan patin daging putih dari Vietnam tersebut berasal dari Pangasius boucourti atau dikenal dengan nama lokal basa. Indonesia memiliki beberapa jenis ikan patin berdaging putih, antara lain ikan patin jambal (Pangasius djambal) dan patin nasutus (Pangasius nasutus).

Patin jambal banyak diminati konsumen karena selain berdaging putih, juga mempunyai laju pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan dengan ikan patin siam, produksi sperma tinggi serta dapat mencapai bobot lebih dari 20 kg. Namun demikin, kekurangan dari patin jambal adalah produksi telur yang relatif rendah, tidak tahan terhadap kadar oksigen terlarut yang rendah serta teknik pemijahannya yang juga masih relatif sulit, sehingga sering mengalami kegagalan dan berakibat pada kematian induk. Alternatif lain dalam upaya menyediakan ikan patin daging putih di pasar internasional adalah mengembangkan ikan patin jenis lain, yaitu ikan patin nasutus. Selain mempunyai daging kualitas ekspor, patin nasutus merupakan jenis ikan patin yang relatif lebih tahan pada kondisi perairan jelek serta produksi telur relatif banyak sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai salah satu komoditas andalan perikanan budidaya (Gustiano et al., 2003).

PERTUMBUHAN IKAN PATIN NASUTUS (

Pangasius nasutus

) PADA PADAT TEBAR

YANG BERBEDA

Ika Nurlaela, Evi Tahapari, dan Sularto

Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar Jl. Raya Sukamandi No. 2, Subang 41256

(2)

Ikan patin nasutus banyak ditemukan di sungai; Kayanan, Palangkaraya; Kapuas, Sanggau; Barito, Muara Tewe; Batanghari, Jambi; Musi, Palembang; dan Indragiri, Rengat (Pouyaud, et al., 1998). Aspek biologi, terutama keragaan pertumbuhan ikan patin nasutus belum banyak diketahui. Evaluasi perkembangan dan pertumbuhan larva ikan patin nasutus yang dipelihara secara indoor sudah dilakukan (Tahapari et al., 2009). Dalam rangka melanjutkan hasil penelitian tersebut perlu dilakukan kegiatan pemeliharaan benih ikan patin nasutus secara outdoor. Salah satu aspek yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan suatu kegiatan budidaya ikan adalah kepadatan ikan yang dipelihara (Bachiel & Le Cren, 1978). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi keragaan pertumbuhan benih ikan patin nasutus yang dipelihara secara outdoor dengan padat tebar yang berbeda.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilakukan di Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar, Sukamandi. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap. Faktor uji yang dicobakan adalah padat tebar dengan 5 level perlakuan, yaitu 0,5; 10; 15; dan 20 ekor/m2. Ikan uji yang digunakan yaitu benih ikan patin nasutus dengan bobot 15,70–20,54 g dan panjang antara 10,43–11,36 cm. Wadah pemeliharaan yang digunakan adalah jaring ukuran 3 m x 3 m x 1,25 m sebanyak 12 buah yang ditempatkan di kolam tanah ukuran 6.000 m2. Selama 3 bulan (90 hari) masa percobaan, ikan diberi pakan buatan berupa pelet tenggelam dengan kandungan protein kasar 30%– -32%. Pakan diberikan sebanyak 3% dari bobot total badan per hari dengan frekuensi pemberian 3 kali sehari. Penyesuaian jumlah pakan yang diberikan dilakukan setiap 1 bulan (30 hari) setelah dilakukan penimbangan (sampling).

Parameter yang diamati meliputi laju pertumbuhan spesifik, pertambahan bobot dan panjang, konversi pakan, dan sintasan. Parameter kualitas air seperti suhu, pH, DO, salinitas, NO2, amoniak, dan konduktivitas dari kolam juga diamati. Parameter-parameter tersebut dihitung berdasarkan persamaan sebagai berikut:

Laju pertumbuhan spesifik (Castell & Tiews, 1980)

di mana :

a = laju pertumbuhan spesifik (%) Konversi pakan (FCR) (NRC, 1977)

di mana:

KP = konversi pakan (FCR)

Wt= Bobot total ikan pada akhir penelitian (g) Wo = Bobot total ikan pada awal penelitian (g)

D = Bobot total ikan yang mati selama penelitian (g) Tingkat sintasan (SR) di mana: SR = tingkat sintasan (%) 100% x (hari) an pemelihara waktu (g) awal bobot ln -(g) akhir bobot ln a =

(

Wt -D

)

- Wo (g) diberikan yang kering) (bobobt pakan Jumlah (FCR) KP = 100% x (ekor) dipelihara yang benih awal Jumlah (ekor) penelitian akhir pada benih Jumlah SR =

(3)

Data yang diperoleh selanjutnya di analisis secara statistik menggunakan program SPSS Ver. 16. HASIL DAN BAHASAN

Hasil

Hasil analisis pertambahan panjang dan bobot benih ikan patin nasutus yang dipelihara selama 3 bulan (90 hari) disajikan pada Gambar 1 dan 2.

Gambar 1 dan 2 menunjukkan bahwa pertambahan panjang dan bobot ikan patin nasutus tertinggi didapat pada kepadatan 5 ekor/m2 yaitu masing-masing sebesar 19,48 cm dan 116,54 g, kemudian diikuti kepadatan 10 ekor/m2 (19,36 cm dan 109,68 g), kepadatan 15 ekor/m2 (18,01 cm dan 88,37 g) dan kepadatan 20 ekor/m2 (17,52 cm dan 77,17 g). Pertambahan panjang dan bobot untuk setiap bulan, tertinggi terdapat pada kepadatan 5 ekor/m2 sedangkan yang terendah terdapat pada kepadatan 20 ekor/m2. Berdasarkan hasil analisis tersebut, terlihat bahwa semakin tinggi tingkat kepadatan maka pertumbuhannya semakin rendah. Hal ini disebabkan karena adanya persaingan gerak dan makanan yang akan berpengaruh pada pertumbuhan.

Gambar 1. Pertambahan panjang ikan patin nasutus selama 3 bulan (90 hari) pemeliharaan

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0 1 2 3

Waktu bulan

ke-Pa nj an g ( cm ) a (5 ekor/m2) b (10 ekor/m2) c (15 ekor/m2) d (20 ekor/m2)

Gambar 2. Pertambahan bobot ikan patin nasutus selama 3 bulan (90 hari) pemeliharaan

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 0 1 2 3

Waktu bulan

ke-Bo bo t ( g) a (5 ekor/m2) b (10 ekor/m2) c (15 ekor/m2) d (20 ekor/m2)

(4)

Tabel 1 memperlihatkan hasil rata-rata dari pertambahan bobot dan panjang, laju pertumbuhan spesifik, sintasan dan konversi pakan ikan patin nasutus yang dipelihara selama 3 bulan (90 hari).

Tabel 1. Rata-rata pertambahan bobot dan panjang, laju pertumbuhan spesifik, sintasan, dan konversi pakan ikan patin nasutus yang dipelihara selama 3 bulan (90 hari)

5 10 15 20

Bobot awal (g) 20,54±0,91 17,23±1,62 17,90±1,64 15,70±0,75 Pertambahan bobot (g) 96±2,72b 92,45±5,04b 70,47±11,74a 61,46±9,92a

Panjang awal (cm) 11,36±0,09 10,60±0,24 10,80±0,37 10,43±0,14 Pertambahan panjang (cm) 8,12±0,63ab 8,75±0,39b 7,26±0,85ab 7,09±0,50a

Laju pertumbuhan spesifik (%) 1,93±0,06ab 2,06±0,11b 1,77±0,13a 1,76±0,10a

Sintasan (%) 98,5±2,6b 93,0±2,8ab 97,5±1,5ab 91,3±3,4a

Konversi pakan 1,95±0,08a 1,71±0,11a 2,18±0,51a 2,13±0,40a

Parameter Kepadatan (ekor/m

2)

Keterangan: Nilai yang diikuti huruf superscript yang sama pada baris yang sama tidak berbeda nyata (P>0,05)

Pertambahan bobot dan tingkat sintasan (SR) yang tertinggi terdapat pada perlakuan dengan kepadatan 5 ekor/m2 dan semakin menurun bobotnya dengan meningkatnya kepadatan, sedangkan pertambahan panjang dan laju pertumbuhan tertinggi terdapat pada perlakuan dengan kepadatan 10 ekor/m2 yang diikuti oleh kepadatan 5, 15, dan 20 ekor/m2. konversi pakan tertinggi pada kepadatan 15 ekor/m2 yang diikuti oleh kepadatan 20 ekor/m2, 5 ekor/m2 dan yang terendah pada 10 ekor/m2. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pertambahan bobot antara perlakuan kepadatan 5 ekor/ m2 dan 10 ekor/m2 tidak berbeda nyata, namun berbeda nyata dengan perlakuan kepadatan 15 ekor/ m2 dan 20 ekor/m2, sedangkan untuk tingkat sintasan (SR) antara kepadatan 5 ekor/m2 tidak berbeda nyata dengan kepadatan 10 ekor/m2 dan 15 ekor/m2, namun berbeda nyata dengan kepadatan 20 ekor/m2. Pertambahan panjang juga tidak berbeda nyata kecuali antara perlakuan kepadatan 10 ekor/m2 dengan 20 ekor/m2. Hal yang sama juga terjadi pada analisis parameter laju pertumbuhan. Konversi pakan (FCR) antar perlakuan kepadatan tidak berbeda nyata.

Bahasan

Pertambahan bobot dan SR memperlihatkan bahwa semakin tinggi padat penebaran yang digunakan semakin rendah nilai pertambahan bobot dan SR yang dihasilkan. Peningkatan bobot rata-rata selama percobaan menunjukkan bahwa energi yang diperoleh dari pakan yang dikonsumsi melebihi kebutuhan energi basal (pemeliharaan). Menurut Lovel (1988), kelebihan energi yang diperoleh terutama akan digunakan untuk pertumbuhan. Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin tinggi padat tebar yang diaplikasikan maka pertumbuhan bobot akan semakin menurun, karena akan terjadi persaingan baik ruang gerak, oksigen terlarut maupun pakan. Menurut Cholik et al. (1990), padat penebaran akan mempengaruhi kompetisi ruang gerak, kebutuhan makanan, dan kondisi lingkungan yang nantinya akan mempengaruhi pertumbuhan dan sintasan yang menciri pada produksi. Padat tebar tinggi juga akan meningkatkan resiko kematian dan menurunnya bobot individu yang dipelihara (Williams et al., 1987).

Pada penelitian ini, padat tebar 10 ekor/m2 memberikan nilai terbaik untuk laju pertumbuhan spesifik, pertambahan panjang individu, dan konversi pakan. Dapat dikatakan bahwa lebih rendahnya laju pertumbuhan ikan dengan bertambahnya padat penebaran karena adanya persaingan, baik dalam memperoleh ruang gerak maupun dalam pengambilan pakan.

Hasil yang diperoleh pada penelitian ini lebih bagus jika dibandingkan dengan penelitian Tahapari et al. (2009) pada pemeliharaan ikan patin nasutus selama 40 hari pemeliharaan, didapatkan bobot akhir sebesar 5,59 g dari bobot awal 1,5 g; panjang akhir 4,66 cm dari panjang awal 3,23 cm; sintasan sebesar 73,35% dan konversi pakan sebesar 1,94–2,79. Peningkatan nilai keragaan ini sudah cukup baik mengingat ikan patin nasutus merupakan ikan yang masih dalam tahap domestikasi

(5)

menjadi ikan budidaya. Pengaruh domestikasi pada beberapa ikan dapat terlihat pada satu hingga dua generasi setelah pemindahan dari lingkungan alamiahnya (Dunham, 1996). Terdapat tiga tahapan domestikasi spesies liar, yaitu mempertahankan agar dapat hidup dalam lingkungan akuakultur, menjaga agar bisa tetap tumbuh, dan mengupayakan agar dapat berkembangbiak dalam lingkungan akuakultur (Effendi, 2004). Menurut Rochdianto (1994), ikan di keramba jaring apung seringkali mengalami pertumbuhan yang sangat lambat bahkan tidak tumbuh, yang disebabkan terjadinya persaingan dalam menguasai ruang gerak dan mengkonsumsi pakan. Untuk tumbuh dengan baik, ikan harus menempati luas habitat yang sesuai dengan padat penebaran suatu populasi (Goddard, 1996).

Pada percobaan ini peningkatan padat penebaran yang diaplikasikan masih memperlihatkan adanya indikasi peningkatan bobot biomassa akan tetapi makin meningkat kepadatan yang digunakan, terlihat adanya penurunan pertambahan bobot dan panjang ikan. Huet (1971) mengatakan bahwa daya dukung maksimal atau produksi sesaat maksimal telah tercapai apabila padat penebaran yang dicobakan telah menghasilkan penurunan pertumbuhan bobot biomassa. Kondisi tersebut dijumpai pada percobaan ini di mana laju pertumbuhan spesifik semakin menurun dengan meningkatnya padat penebaran yang digunakan. Ikan dengan tingkat kepadatan tinggi membutuhkan energi lebih rendah untuk aktivitas dalam memperoleh ruang gerak dan pakan bila dibandingkan dengan padat penebaran yang tinggi, sehingga kelebihan energi yang digunakan untuk pertumbuhan relatif lebih banyak. Hal ini memperjelas adanya kompetisi yang lebih tinggi di antara individu.

NRC (1983) menyatakan, bahwa sintasan ikan terutama dipengaruhi oleh sifat fisika–kimia air media dan kualitas pakan. Nilai peubah fisika–kimia air media selama penelitian masih berada pada kisaran yang baik bagi sintasan ikan dan pertumbuhan benih ikan. Hasil analisis parameter kualitas air selama penelitian menunjukkan bahwa suhu, pH, oksigen terlarut, dan amoniak cukup ideal dan masih dalam batas-batas toleransi untuk mendukung pertumbuhan secara optimal (Tabel 2). Hal ini sesuai dengan berbagai pendapat mengenai dukungan kualitas air untuk lingkungan budidaya terhadap pertumbuhan ikan. Wardoyo (1981) menyatakan bahwa untuk dapat mengelola sumberdaya perikanan dengan baik, maka salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah kualitas airnya.

Tabel 2. Kualitas air selama pemeliharaan

Parameter Nilai / kisaran

Suhu (°C) 29,60–35,50 pH 7,81–9,03 Amoniak (mg/L) 0,0855–0,1254 DO (mg/L) 0,50–6,05 NO2 (mg/L) 0,1039–0,1814 Salinitas (ppt) 0 Konduktivitas (mS/cm) 0,293–0,298 KESIMPULAN

Keragaan pertumbuhan benih ikan patin nasutus dengan kepadatan 10 ekor/m2 merupakan yang terbaik. Padat penebaran ikan yang digunakan mempengaruhi terhadap keragaan pertumbuhan bobot dan panjang, laju pertumbuhan spesifik, konversi pakan, dan tingkat sintasan ikan.

DAFTAR ACUAN

Bachiel, T. & Le Cren, E.D. 1978. Some Density Relationship for Population Parameters. In: Gerking, S.K. (Ed.), The Biological Basis of Freshwater Fish Production. Blackwell Scientific Publication: Oxford, N.Y., p. 261–293.

Boyd, C.E. 1990. Water Quality in Pond for Aquaculture. Birmingham Publishing Co., Alabama, 187 pp.

(6)

Castell, J.D. & Tiews, K. 1980. Report of the EIFAC, IUNS and ICES Working Group on the standardiza-tion of methodology in fish nutristandardiza-tion research. Hamburg, Germany, EIFAC Tech. Paper, 24 pp. Cholik, F., Rachmansyah, & Tonnek, S. 1990. Pengaruh Padat Tebar Terhadap Produksi Nila Merah,

Oreochromis niloticus dalam Keramba Jaring Apung di Laut. J. Pen. Budidaya Pantai, 6(2): 87–96. Dunham, R.A. 1996. Contrybution of Genetically improved aquatic organism toglobal food security.

International Conferenceon Sustuinable Contribution of Fisheriesto Food Security. Government of Japan and FAO, Rome. 150 pp. http://www.fao.org/

Effendi, I. 2004. Pengantar Akuakultur. PT Penebar Swadaya, Jakarta, 198 hlm.

Gustiano, R., Sudarto, & Pouyaud, L. 2003. Bagaimana Mengenali Patin Jambal?. Dalam: Slembrouck, J., Komarudin, O., Maskur, & Legendre, M. (Eds.). Petunjuk Teknis Pembenihan Ikan Patin Indonesia, Pangasius djambal. IRD-DKP, hlm. 3–14.

Hardjamulia, A., Djajadiredja, R., Atmawinata, S., & Idris, D. 1981. Pembenihan Ikan Jambal Siam (Pangasius sutchi) Dengan Suntikan Ekstrak Kelenjar Hipofisa Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) Bul. Pen. Perik. Darat,1(2): 183–190.

Huet, M. 1971. Texbook of fish culture: Breeding and cultivation of fish. Fishing News Book Ltd., London, 436 pp.

Lovel, T. 1992. Nutrition and Feeding of Fish. Van Nostrand Reinhold, 259 pp.

NRC. 1977. Nutrient Requirement of Warmwater Fishes. National Academic Press. Washington D.C., 78 pp.

National Research Council. 1983. Nutrient Recuirement of Warmwater fishes and Shellfishes. National Academy of Sciences. Washington D.C., 102 pp.

Pouyoud, L., Gustiano, R., & Legendre, M. 1998. Phylogenetic relationship among pangasiid catfish species (Siluriformes, Pangasiidae) and new insights on their zoogeography. In : Lagendre, M. & Parisele, A. (Eds.). The Biological Diversity and Aquaculture of Clariid and Pangasiid Catfishes in South-East Asia. Proceeding of The Mid-Term Workshop of The Catfish Asia Project. Cantho–Vietnam, 11–15 Mei 1998.

Rochdianto, A. 1994. Budidaya ikan di Jaring Terapung. Penebar Swadaya, Jakarta, 184 pp.

Tahapari, E., Nurlaela, I., & Sularto, 2009. Keragaan Pertumbuhan Beberapa Spesies Ikan Patin (Pangasius sp.) Yang Dipelihara Secara Indoor. Dalam proses publikasi Pusat Riset Perikanan Budidaya.

Wardoyo, S.T.H. 1981. Kriteria Kualitas Air Untuk Keperluan Pertanian dan Perikanan. Makalah Train-ing Analisa Dampak LTrain-ingkungan, Kerjasama PPLH-UNDP-PSL IPB Bogor, 19–31 Januari 1981. William, K., Schwarts, D.P., Gebhart, G.E., & Maughan, O.E. 1987. Budidaya Ikan Yang Dikerambakan

Gambar

Gambar 2. Pertambahan bobot ikan patin nasutus selama 3 bulan (90 hari) pemeliharaan
Tabel 1 memperlihatkan hasil rata-rata dari pertambahan bobot dan panjang, laju pertumbuhan spesifik, sintasan dan konversi pakan ikan patin nasutus yang dipelihara selama 3 bulan (90 hari).
Tabel 2. Kualitas air selama pemeliharaan

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji kemampuan Pseudomonas aeruginosa dalam mendegradasi LAS yang terdapat pada tiga jenis detergen yang berbeda.. Penelitian ini

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola penyebaran, besaran serta klasifikasi resiko terhadap bahaya eutrofikasi Danau Tondano; Mengetahui daya dukung

Berdasarkan hasil penelitian terungkap bahwa Komite Sekolah telah menunjukkan perannya sebagai mediator dalam mengakses elemen-elemen masyarakat yang berkaitan

4.7 Kajian Hasil Penelitian dalam Perspektif Islam Ekstrak etil asetat daun sirsak menunjukkan adanya potensi dalam menghambat pertumbuhan sel kanker payudara T47D dengan nilai

Setelah paham mengenai keuangan publik, selanjutnya pada Modul 2 Anda akan kami ajak untuk membahas tentang pengertian penerimaan publik, sumber-sumber penerimaan publik

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian keterampilan siswa pada kelas eksperimen dengan penerapan pendekatan saintifik menggunakan strategi pembelajaran

Mereka yang mempunyai pendidikan yang tinggi mempunyai lebih banyak pilihan pekerjaan berbanding dengan mereka yang berpendidikan rendah dan yang lebih penting pendapatan yang

Tahap penelitian meliputi pengumpulan bahan, determinasi, pembuatan simplisia, ekstraksi, identifikasi flavonoid pada ekstrak, pembuatan sediaan masker gel peel Off