5
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pala (Myristica fragrans Houtt)
2.1.1 Taksonomi Pala
Taksonomi dari Pala adalah sebagai berikut:
Kingdom: Plantae Subkingdom: Viridiplantae Infrakingdom: Streptophyta Division: Tracheophyta Subdivision: Spermatophytina Class: Magnoliopsida Superorder: Magnolianae Order: Magnoliales Family: Myristicaceae
Genus: Myristica Gronov
Species: Myristica fragrans Houtt
(Asgarpanah & Kazemivash, 2012) Gambar 2.1 Buah Pala
(Asgarpanah & Kazemivash, 2012) Gambar 2.2 Biji Pala (Nutmeg) 2.1.2 Morfologi Pala
Pala (Myristica fragrans Houtt) merupakan tumbuhan dari famili Myristicaceae dengan tinggi pohon mencapai 5-13 m, memiliki kulit coklat kemerahan yang lunak dan halus. Daun pala memiliki ukuran panjang 5-15 cm dan lebar 2-7 cm, memiliki bentuk bulat seperti telur atau lonjong dan berwarna hijau di sepanjang tahun. Bunga pada tumbuhan ini berukuran kecil yaitu pada bunga jantan 5-7 mm dan bunga betina 1 cm. Buah pala berbentuk bulat dan buah yang sudah matang memiliki kulit berwarna kuning kecoklatan dan kusam (gambar 2.1). Biji pala memiliki bentuk bulat dan berwarna coklat tua hingga hitam dan dilapisi
oleh fuli yang umumnya berwarna merah (gambar 2.2) (Asgarpanah & Kazemivash, 2012).
Di Indonesia terdapat beberapa jenis pala, yaitu:
1. Myristica fragrans Houtt, jenis utama dan mendominasi jenis lainnya dalam segi mutu maupun produktivitas. Tanaman ini berasal dari pulau Banda. 2. M. argenta Warb, berasal pala Papua Barat, asli Papua Barat, khususnya di
daerah kepala burung. Tumbuh di hutan dan mutunya di bawah pala Banda. 3. M. scheffert Warb. terdapat di hutan Papua.
4. M. speciosa, dapat ditemukan di pulau Bacan. Jenis pala ini tidak mempunyai nilai ekonomi.
5. M. succeanea, dapat ditemukan di pulau Halmahera. Jenis pala ini tidak mempunyai nilai ekonomi (ILO, 2013).
2.1.3 Habitat Pala
Myristica fragrans H. merupakan tanaman yang tumbuh di negara tropis. Tanaman ini berasal dari Indonesia yaitu dari kepulauan maluku khususnya pulau Banda, kemudian meluas ke Nangroe Aceh Darusalam, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sumatra Barat, Jawa Barat dan Papua (Pramudita, et al., 2017).
2.1.4 Kandungan Kimia
Tumbuhan umumnya menghasilkan bahan metobolit sekunder yang dapat berperan sebagai pertahanan terhadap patogen. Bahan metabolit sekunder dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu:
a) Terpenens
b) Phenolic compound
Contoh: flavonoid, tannin, dan lignan c) Nitrogen compound
Contoh: alkaloid dan glucosinolate (Freiesleben & Jager, 2014)
2.1.5 Nama Lain Biji Pala
Biji pala memiliki nama lain nutmeg (Asgarpanah & Kazemivash, 2012).
2.1.6 Peran Biji Pala Sebagai Antifungal
Biji pala memiliki kandungan senyawa metabolit yang berperan sebagai antifungal yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, tannin, dan minyak atsiri (Thomas & Krishnakumari, 2015; Valente, et al., 2011). Beberapa senyawa tersebut memiliki mekanisme yang berbeda dalam menghambat pertumbuhan serta membunuh sel jamur, berikut beberapa mekanisme senyawa metabolit biji pala:
a) Alkaloid
Mekanisme aksi anti jamur pada senyawa kimia alkaloid yaitu bekerja dengan cara menginhibisi atau menghambat biosintesis ergosterol yang. dapat mengakibatkan gangguan pada pembentukan membran sel dan kerusakan membran sel jamur (Freiesleben & Jager, 2014). Ergosterol merupakan membran jamur utama yang mengatur fluiditas membran, biogenesis membran plasma dan fungsi (Yang, et al., 2015).
Flavonoid memiliki dua mekanisme berbeda sebagai antifungal. Mekanisme yang pertama yaitu melalui inhibisi biosintesis ergosterol pada sel jamur yang menyebabkan pembentukan membran pada sel jamur menjadi terganggu. Kemudian mekanisme yang kedua yaitu melalui inhibisi pompa proton dalam rantai pernafasan dan mengurangi potensial membran mitokondria yang dapat menurunkan produksi ATP yang berfungsi sebagai kebutuhan energi pada sel jamur. Jika produksi ATP berkurang maka dapat mengakibatkan kematian pada sel jamur (Freiesleben & Jager, 2014).
c) Saponin
Saponin memiliki mekanisme aksi sebagai anti jamur melalui inhibisi biosintesis ergosterol yang berperan penting dalam proses pembentukan membran sel jamur, sehingga terbentuknya membran sel jamur menjadi terganggu. Penurunan jumlah ergosterol dapat menyebabkan kebocoran membran sehingga terjadi kerusakan pada membran sel yang berdampak pada kematian sel jamur (Freiesleben & Jager, 2014).
d) Tannin
Tannin memiliki dua mekanisme berbeda dalam efektivitasnya sebagai antifungal. Mekanisme yang pertama yaitu dengan cara mengganggu proses terbentuknya membran sel jamur melalui inhibisi biosintesis ergosterol, sedangkan mekanisme yang kedua yaitu dengan cara mengganggu integritas dinding sel jamur dan merusak dinding sel jamur melalui inhibisi sintesis khitin (Freiesleben & Jager, 2014).
e) Minyak Atsiri
Minyak atsiri merupakan senyawa lipohilic yang dapat melewati dinding sel dan membran sitoplasma jamur sehingga dapat mengganggu struktur komposisi membran sel jamur secara langsung. Selain itu, minyak atsiri juga memiliki mekanisme antifungal yang sama dengan monoterpenes dan phenylpropanoid yaitu dengan menginhibisi biosintesis ergosterol sehingga berdampak pada kematian sel jamur akibat kebocoran membran sel jamur (Freiesleben & Jager, 2014).
Minyak pala dihasilkan dari biji, fuli dan daun. Kandungan minyak atsiri tiap komponen pala yaitu biji 5-15 %, fuli 4-17%, dan daun 1,7 % (Hidayati, Ilmawati & Sara, 2015). Tanaman pala mengandung senyawa miristisin yang merupakan salah satu komponen dari minyak pala yang bersifat toksik, kandungan miristisin pada fuli lebih banyak dibandingkan biji pala (50% dari jumlah fuli) (Ismiyarto, Ngadiwiyana & Mustika, 2009). Minyak atsiri biji pala memiliki kandungan senyawa monoterpen hydrokarbon 61-88% terdiri atas alfa pinen 1,42%, beta pinen 1,24%, sabinen 29,44% (Rodianawati, Hastuti & Cahyanto, 2015; Hidayati, Ilmawati & Sara, 2015). Terpen atau terpenoids memiliki lipofilik yang tinggi serta berat molekul rendah sehingga dapat merusak membran sel dan menyebakan kematian jamur (Nazzaro, et al, 2017). Minyak atsiri biji pala mengandung senyawa monoterpen hidrokarbon yang terdiri atas alfa pinen, beta pinen dan sabinen yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman lain (Tabel 2.1).
Tabel 2.1 Kandungan α pinen, β pinen dan Sabinen setiap tanaman
No. Nama tanaman Monoterpen Hidrokarbon
α pinen β pinen Sabinen
1 Pala 1,42% 1,24% 29,44% 2 Jintan Hitam 0,2% 0,4% 0,2% 3 Kapulaga 0,6% - 2,5% 4 Lada 0,26% 0,69% 20,9% 5 Mint 1,06% 0,45% 0,13% 6 Jeruk Keprok 1,27% 0,4% -
(Ainane et al, 2018; Hidayati, Ilmawati & Sara, 2015; Kamal et al, 2018; Lim, 2012; Tisserand and Young, 2014).
2.1.7 Manfaat Biji Pala
Kandungan biji pala banyak dimanfaatkan di bidang kesehatan sebagai obat untuk hemorrhoid, mual, muntah kronis, rematik, kolera, kram perut, dan kecemasan. Selain itu, hasil studi menunjukkan ke efektifan kandungan biji pala sebagai antioxidant, antifungal, antibakteri, anti inflamasi, dan sebagai hepatoprotektif. Selain itu kandungan myristicin, elemicin dan isoelemicin di dalam minyak atsiri biji pala berfungsi untuk menghilangkan stress sehingga sering digunakan sebagai aromatherapy (Gupta & Rajpurohit, 2011). Pada penelitian yang dilakukan oleh Rajih, tahun 2015 di Universitas Islam Bandung dengan judul “Aktivitas Antifungi Ekstrak Etanol Biji Pala (Myristica fragrans Houtt.) Terhadap Candida albicans” menggunakan maserasi dengan konsentrasi 1,56 %, 3,125%, 6,25%, 12,5%, 25%, 50% ekstrak etanol 70 % biji pala diperoleh KHM 12,5% pada pertumbuhan Candida albicans dengan zona hambat 0,84 cm.
2.2 Ekstraksi
2.2.1 Definisi Ekstraksi
Ekstraksi adalah proses dari pemisahan antara bahan dan campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai (Mukhriani, 2014).
2.2.2 Metode Ekstraksi
Maserasi merupakan metode ekstraksi yang dapat menghindari kerusakan senyawa metabolit tumbuhan yang memiliki sifat termolabil. Metode ini sangat sederhana yang dapat digunakan dalam skala kecil maupun besar. Metode maserasi dilakukan dengan cara memasukkan serbuk tumbuhan dan pelarut yang sesuai ke wadah inert yang ditutup rapat dan diletakkan pada suhu kamar selama 24 jam, setelah itu pelarut diganti dengan pelarut yang baru. Proses dihentikan apabila telah mencapai kesetimbangan antara konsentrasi senyawa di dalam pelarut dan konsentrasi senyawa di dalam sel tumbuhan. Setelah proses ekstraksi selesai, dilakukan penyaringan untuk memisahkan pelarut dari sampel (Mukhriani, 2014).
Proses ekstraksi dipengaruhi dengan sifat pelarut yang akan digunakan serta pemilihan pelarut ditentukan dari kelarutan bahan volatil dan kemudian pemisahan pelarut. Senyawa akan mudah larut di dalam pelarut yang memiliki polaritas yang sama atau mirip. Pelarut etanol bersifat polar, n-heksana bersifat non polar dan etil asetat bersifat semi polar. Pada penelitian, ekstraksi pada kulit jeruk mandarin menggunakan pelarut etanol 96% dapat menghasilkan konsentrasi minyak atsiri tertinggi dibanding pelarut lainnya karena memiliki kepolaran yang mendekati atau mirip (Adiyasa, Wrasiati & Wartini, 2015). Selain jenis pelarut, didalam pembahasan penelitian Furkan, 2018 yang membandingkan dengan jurnal Arifianti, Oktarina & Kusumawati, 2014, perbedaan konsentrasi pelarut juga dapat mempengaruhi senyawa metabolit sekunder yang dilarutkan. Semakin besar konsentrasi pelarut akan lebih banyak melarutkan senyawa yang polar, sedangkan
semakin kecil konsentrasi pelarut akan lebih banyak melarutkan senyawa yang non polar (Arifianti, Oktarina & Kusumawati, 2014).
2.3 Pityrosporum ovale
2.3.1 Taksonomi Pityrosporum ovale
Taksonomi dari P. ovale adalah sebagai berikut:
Kingdom : Fungi Filum : Basidiomycota Subfilum : Ustilaginomycotina Kelas : Exobasidiomycetes Ordo : Malasseziales Famili : Malasseziaceae Genus : Malassezia
Species : Pityrosporum ovale
(Rudramurthy, Honnavar & Chakrabarti,2014) Gambar 2.3 P. ovale dengan perbesaran 1000x 2.3.2 Nama Lain Pityrosporum ovale
P. ovale memiliki nama lain yaitu Malassezia furfur (Gaitanis, et al., 2012).
2.3.3 Identifikasi dan Morfologi Pityrosporum ovale
P. ovale merupakan jamur lipofilik dari genus Mallasezia. Karakteristik jamur P. ovale yaitu berbentuk oval seperti botol, memiliki panjang 1-2 mm, lebar 2-4 mm, hifa pendek tidak bercabang, dan memiliki blastospora atau tunas untuk memperbanyak diri (gambar 2.5). Blastospora terbentuk melalui proses pertunasan yang sederhana yaitu kumpulan tunas yang menempel pada pseudomiselium tanpa melepaskan diri dari induk sel. Pada koloni berwarna krem kekuningan dan bertekstur lembut (Rahayu, 2011).
Pada kulit manusia umumnya terdapat jamur P. ovale yang merupakan flora normal. Pada keadaan normal, P. ovale memiliki kecepatan tumbuh kurang dari 47%. Kecepatan pertumbuhan P. ovale dapat meningkat hingga 74%, jika terdapat faktor pemicu yang dapat mengakibatkan keseimbangan jamur P. ovale menjadi terganggu (Rahayu, 2011). Peningkatan jumlah P. ovale mengakibatkan penyakit
infeksi kulit seperti Pityriasis versicolor, Seborrheic dermatitis dan Pityrosporum folliculitis (Gaitanis, et al., 2012). Beberapa faktor pemicu yang dapat menyebabkan P. ovale berubah menjadi patogen yaitu suhu, kelembapan, Immunosuppressive, dan keadaan malnutrisi (Bramono & Budimulja, 2016).
P. ovale bersifat lipofilik yaitu dalam pertumbuhannya membutuhkan lipid sehingga banyak ditemukan di daerah kulit yang memiliki kelenjar sebasea (Ningrum, Prasetyo & Kristanti, 2017).
2.4 Pityriasis versicolor
2.4.1 Nama lain Pityriasis versicolor
Pityriasis versicolor atau PV sering dikenal dengan nama lain panu atau Tinea versicolor (Bramono & Budimulja, 2016).
2.4.2 Definisi Pityriasis versicolor
PV merupakan infeksi jamur Malassezia pada kulit dengan karakteristik lesi hiperpigmentasi atau hipopigmentasi berbentuk bulat atau oval, memiliki skuama halus dan banyak ditemukan di daerah leher dan lengan atas dimana area tersebut banyak terdapat kelenjar sebasea (gambar 2.4) (Bramono & Budimulja, 2016).
(Hudson, Sturgeon & Peiris, 2018) Gambar 2.4 Pityriasis versicolor 2.4.3 Etiologi Pityriasis versicolorr
Penyebab penyakit PV yaitu jamur Malassezia furfur atau yang sering dikenal dengan nama lain P. ovale, jamur ini merupakan flora normal di kulit dan bersifat lipofilik (Bramono & Budimulja, 2016).
2.4.4 Epidemiologi Pityriasis versicolor
PV adalah penyakit universal yang banyak ditemukan di daerah tropis dengan angka kejadian mencapai 50% populasi di daerah tropis di dunia. Tidak terdapat perbedaan antara jenis kelamin, akan tetapi berdasarkan usia terdapat perbedaan kerentanan yaitu pada remaja serta dewasa muda lebih banyak ditemukan (Karray & McKinney, 2018).
2.4.5 Patogenesis Pityriasis versicolor
Malassezia sp memiliki bentuk ragi saprofit yang kemudian dapat berubah menjadi bentuk miselia dan mengakibatkan penyakit infeksi kuit PV. Beberapa
faktor dan kondisi yang diduga dapat mengakibatkan perubahan tersebut adalah suhu, kelembapan yang tinggi, malnutrisi, immunosuppresive atau penekanan sistem imun, faktor genetik dan hiperhidrosis (Bramono & Budimulja, 2016).
Asam karboksilat yang diproduksi oleh Malassezia sp berfungsi untuk mengganggu pembentukan pigmen melanin. Metabolit Pityriacitrin yang diproduksi oleh Malassezia sp mampu mengabsorbsi sinar ultra violet sehingga mengakibatkan lesi hipopigmentasi, sedangkan mekanisme lesi hiperpigmentasi masih belum jelas. Akan tetapi terdapat studi yang memperlihatkan gambaran melanosom dengan ukuran yang lebih besar dari normal pada pemeriksaan mikroskop elektron (Bramono & Budimulja, 2016).
2.4.6 Manifestasi Klinis Pityriasis versicolor
Lesi PV menempati daerah kulit yang terdapat banyak kelenjar sebasea sehingga banyak ditemukan pada badan bagian atas, leher dan perut. Selain itu, dapat ditemukan juga pada daerah wajah, skalp, genitalia, lipatan paha serta aksila (Bramono & Budimulja, 2016).
Lesi berupa makula dengan batas yang tegas, terdapat hipopigmentasi atau hiperpigmentasi dan kadang eritematosa, memiliki ukuran yang bervariasi serta memiliki skuama yang halus. Pada umumnya penyakit ini tidak disertai oleh gejala yang subjektif, akan tetapi hanya terdapat keluhan kosmetik dan kadang terdapat gejala pruritus yang ringan (Bramono & Budimulja, 2016).
2.4.7 Diagnosis Pityriasis versicolor
Diagnosis diduga dapat ditegakkan dengan adanya gambaran klinis berupa lesi makula berbatas tegas didaerah predileksi, memiliki warna putih, kemerahan, hingga kehitaman, memiliki skuama halus. Untuk menunjang diagnosis klinis dilakukan pemeriksaan menggunakan lampu wood yang berfungsi untuk melihat fluoresensi berwarna kuning keemasan. Selain itu, pada pemeriksaan yang menggunakan KOH 20% dan diamati dibawah mikroskop didapatkan gambaran spora dan miselium dan sering disebut sebagai spaghetti and meatball appearance (Bramono & Budimulja, 2016).
2.4.7.1 Evoked Scale Sign PV
Evoked Scale Sign merupakan tanda yang hanya dapat ditemukan pada penyakit PV. Ditandai dengan perubahan pada struktural lapisan kulit yang disebabkan oleh kerapuhan stratum korneum yang meningkat, kemungkinan disebabkan oleh gangguan parsial pada fungsi sawar dikulit dan adanya transepidermal waterloss yang meningkat. Keratinase yang dihasilkan saat fase hifa oleh spesies ini dapat menghidrolisis keratin dan memberikan fasilitas untuk pertumbuhan jamur di lapisan stratum korneum. Jika dilakukan regangan, maka stratum korneum akan melonggar, dan skuama dapat terlihat (Tan & Reginata, 2015).
Cara pemeriksaan uji provokasi yaitu meregangkan kulit menggunakan kedua jari tangan atau ibu jari dan telunjuk searah 180 derajat, kemudian lesi yang kering digores menggunakan ujung kuku sehinggaa dapat memunculkan skuama pada daerah lesi. Lapisan sel deskuamasi yang patognomonik pada infeksi
Pityriasis versicolor dibentuk akibat terangsangnya sel-sel yang abnormal (Tan & Reginata, 2015).
2.4.7.2 Sukma’s PV Sign
Sukma’s PV Sign ditandai dengan adanya sisik berwarna putih berbatas tegas akibat dari lesi yang diregangkan. Skuama hanya terbatas pada lesi dengan susunan yang rapih, teratur, serta sejajar dengan garis kulit. Perbedaan penemuan Sukma’s PV Sign dengan Evoked Scale Sign yaitu hanya dapat memberikan gambaran skuama akibat dari regangan tanpa memperhatikan susunan sisik yang rapih, sebaris dengan kulit, serta memiliki batas pada lesi, karena pada kelainan pitiriasis alba dan dry skin juga dapat ditemukan adanya skuama halus (Tan & Reginata, 2015).
2.4.8 Diagnosis Banding Pityriasis versicolor
Beberapa kelainan pada kulit seperti pitiriasis alba, eritrasma, vitiligo, dermatitis seboroik, pitiriasis rosea, morbus hansen tipe tuberkuloid dan tinea memiliki gejala klinis yang mirip dengan PV sehingga harus dibedakan dengan mencermati perbedaan karakteristik klinis. Selain itu, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang yang sesuai untuk membantu menegakkan atau menyingkirkan diagnosis lain (Bramono & Budimulja, 2016).
Pitiriasis alba mempunyai lesi hipopigmentasi, asimtomatik dan etiologinya belum diketahui. Pitiriasis alba banyak ditemui pada anak dan dewasa muda dengan rentang umur 3-16 tahun. Lesi berwujud makula dengan bentuk bulat atau oval, irreguler, pada awalnya berwarna merah mudah dan tertutup oleh skuama halus.
Kemudian dalam beberapa minggu berubah menjadi lesi hipopigementasi dan seiring perjalanan penyakit skuama akan menghilang secara berangsur. Pada kelainan pitiriasis alba, penemuan Sukma’s PV Sign dan Evoked Scale Sign menunjukkan hasil negatif. Hal tersebut dapat dikonfirmasi dari hasil pemeriksaan menggunakan lampu Wood terlihat lesi tidak berpendar seperti pada PV yang berwarna kuning keemasan, serta pada pemeriksaan KOH tidak didapatkan hifa dan spora (Tan & Reginata, 2015).
2.4.9 Tatalaksana Pityriasis versicolor
Pengobatannya dapat menggunakan obat topikal yaitu ketoconazole 2% sediaan sampo, selenium sulfide sediaan sampo atau losio 2,5% yang dioleskan setiap hari selama 15-30 menit dan setelah itu dibilas. Dianjurkan pengolesan dilakukan diseluruh badan kecuali daerah kepala dan genitalia. Terapi alternatif lainnya yaitu solusio natrium hiposulfit 20%, solusio propilen glikol 50%. Pada lesi tebatas dapat menggunakan berbagai krim derivate azol contohnya mikonazol, klotrimazol, isokonazol, dan ekonazol. Sebaiknya pemakaian obat topical dilanjutkan 2 minggu setelah hasil pemeriksaan menggunakan lampu Wood dan pemeriksaan mikologis langsung kerokan kulit negatif. Pada lesi yang luas, kambuhan dan gagal terapi topikal dapat dipertimbangkan pemberian obat sistemik. Contoh obat sistemik yang dapat diberikan yaitu ketoconazole 200 mg/hari selama 5-10 hari atau itrakonazol 200 mg/hari selama 5-7 hari (Bramono & Budimulja, 2016).
2.4.10 Prognosis Pityriasis versicolor
Prognosis PV baik jika pengobatannya dilakukan dengan tekun, konsisten, dan faktor predisposisi bisa dihindari. Lesi hipopigmentasi mampu bertahan hingga beberapa bulan setelah jamur negatif, hal tersebut perlu dijelaskan kepada pasien (Bramono & Budimulja, 2016).
2.5 Uji Kepekaan Terhadap Antimikroba (In Vitro)
Uji kepekaan antimikroba merupakan penentuan yang memungkinkan dapat menunjukkan adanya resistensi mikroba penyebab penyakit terhadap suatu antimikroba atau kemampuan dalam menghambat pertumbuhan mikroba oleh suatu antimikroba secara in vitro, sehingga bisa digunakan sebagai antimikroba yang berpotensi untuk pengobatan (Soleha, 2015).
Pengujian dilaksanakan dibawah standar dengan menggunakan pedoman Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI). Standar yang wajib terpenuhi yaitu konsentrasi inoculum mikroba, media pembenihan (Muller Hinton) dengan memperhatikan PH, suhu inkubasi, lama inkubasi, serta konsentrasi suatu antimikroba (Soleha, 2015).
Metode yang biasa digunakan untuk mengukur keefektivitasan antimikroba dalam menghambat pertumbuhan suatu mikroba adalah metode dilusi dan metode difusi agar (Soleha, 2015).
2.5.1 Metode Dilusi
Teknik dalam pengerjaan metode dilusi dibagi menjadi dua, yaitu teknik dilusi perbenihan cair dan dilusi agar dengan tujuan untuk penentuan secara
kuantitatif aktivitas antimikroba, bahan antimikroba dilarukan didalam media agar atau kaldu, kemudian ditanami mikroba yang akan diuji berupa bakteri atau jamur. Setelah diinkubasi selama 24 jam, hasil dari pengamatan yang dapat diperoleh yaitu tumbuh atau tidaknya mikroba didalam media. Konsentrasi hambat minimum digunakan untuk menentukan aktivitas zat antimikroba dengan melihat konsentrasi terkecil dari zat antimikroba yang masih bisa memberikan efek dalam menghambat pertumbuhan suatu mikroba (Soleha, 2015).
1. Teknik Dilusi Perbenihan Cairan
Dilusi perbenihan cairan menggunakan tabung reaksi yang disusun sederet dan diisi dengan inoculum kuman dan larutan antimikroba dalam berbagai konsentrasi. Teknik ini terdiri dari makrodilusi dan mikrodilusi yang pada dasarnya sama dalam pengerjaannya hanya berbeda pada jumlah volumenya. Pada makrodilusi menggunakan volume lebih dari 1 ml, sedangkan pada mikrodilusi menggunakan volume dengan rentang antara 0,05 ml - 0,1 ml. Antimikroba disediakan dalam berbagai pengenceran biasanya menggunakan satuan μg/ml. Tingkat konsentrasi bervariasi, tergantung dari sifat dan jenis antimikrobanya (Soleha, 2015).
Pada umumnya dalam menentukan kadar hambat minimum dilakukan penurunan konsentrasi setengahnya dalam pengenceran antimikroba, contohnya mulai dari 16, 8, 4, 2, 1 μg/ml dan begitu pula seterusnya. Jika pada konsentrasi terendah dapat menunjukkan terjadinya hambatan pertumbuhan mikroba yang
dapat dilihat dengan jelas oleh visual maka disebut sebagai Kadar Hambat Minimum (KHM) (Soleha, 2015).
2. Teknik Dilusi Agar
Mekanisme teknik dilusi agar yaitu dengan menambahkan konsentrasi yang sesuai pengenceran ke dalam agar, sehingga akan membutuhkan perbenihan agar yang sesuai jumlah pengenceran dan ditambah satu perbenihan agar sebagai kontrol tanpa ditambahkan antimikroba. Konsentrasi antimikroba terendah yang dapat menghambat pertumbuhan suatu mikroba adalah KHM antimikroba yang diujikan. Untuk penentuan KHM pada mikroba yang tidak bisa tumbuh dengan metode dilusi perbenihan cair contohnya Neisseria gonorrhoeae merupakan salah satu kelebihan metode dilusi agar (Soleha, 2015).
Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM) merupakan dasar dari penentuan antimikroba secara in vitro. KHM merupakan konsentrasi antimikroba terendah yang mampu menghambat >90% suatu mikroba dengan mengamati pertumbuhan koloni mikroba bisa jamur atau bakteri pada media agar dan mengamati kejernihan pada pembiakan cair. KBM merupakan konsentrasi antimikroba terendah yang mampu membunuh biakan 99,9% dalam waktu yang ditentukan (Silverio & Lopes, 2012; Soleha, 2015).
2.5.2 Metode Difusi
Mekanisme metode difusi dalam menentukan aktivitas berdasarkan dari kemampuan difusi zat antimikroba didalam lempeng agar yang sudah diinokulasi
dengan mikroba yang diuji. Hasil yang dapat diperoleh yaitu ada atau tidaknya zona hambat yang akan terbentuk disekitar zat antimikroba pada masa inkubasi dengan waktu tertentu. Metode ini bisa dilakukan dengan cara cakram (Soleha, 2015).
Cakram kertas yang telah ditambahkan antimikroba dengan jumlah tertentu, kemudian diletakkan secara merata ke dalam media yang sudah ditanami organisme yang akan diuji. Tinginya tingkat konsentrasi antimikroba dapat ditentukan oleh difusi dari cakram, serta dari pertumbuhan organisme uji yang dihambat perluasannya sepanjang dari difusi antimikroba (terdapat zona jernih disekeliling cakram), sehingga mikroba tersebut termasuk mikroba yang sensitif pada antimikroba (Soleha, 2015).
Dari hasil tes kepekaan, mikroorganisme digolongkan menjadi dua atau lebih kategori. Sistem sederhana yang menentukan dua kategori mikroorganisme, yaitu sensitif dan resisten. Klasifikasi tersebut dapat digunakan sebagai kepentingan statistic dan epidemiologi, akan tetapi bagi klinisi merupakan ukuran yang sangat kasar untuk dipakai. Sehingga hasil dari tiga klasifikasi yang biasanya digunakan adalah sensitif, intermediet, dan resisten merupakan (Soleha, 2015).
Ukuran dari zona jernih sesuai pada kecepatan difusi antimikroba, derajat sensitifitas suatu mikroorganisme, serta kecepatan pertumbuhan suatu mikroba. Pada metode difusi, zona hambat pada cakram antimikroba berbanding terbalik dengan Kadar Hambat Minimum (KHM). Konsentrasi daya hambat minimum akan semakin kecil jika zona hambat semakin luas. Derajat kategori mikroba ditentukan dengan membandingkan diameter zona hambat yang berbeda setiap antimikroba,
sehingga dapat menentukan kategori mikroba sensitif, intermediet atau resisten terhadap antimikroba yang diujikan (Soleha, 2015).
Tujuan melakukan uji kepekaan terhadap antimikroba yaitu untuk memperoleh agen antimikroba yang sesuai untuk terapi penyakit infeksi tertentu. Tidak semua spesimen dilakukan uji kepekaan terhadap antimikroba, akan tetapi hanya dilakukan pada jenis mikroba tertentu yang masih belum diketahui kepekaannya terhadap beberapa jenis antimikroba yang umum dipakai (Soleha, 2015).