• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan tanaman yang termasuk dalam famili Palmae. Kelapa sawit merupakan tanaman monokotil dan bersifat monocious, yaitu bunga jantan dan betina terdapat pada satu pohon (Sastrosayono, 2003). Waktu antesis kedua jenis bunga tersebut jarang bersamaan dalam satu pohon, sehingga dalam penyerbukan memerlukan serbuk sari (polen) dari tanaman lainnya. Proses penyerbukan pada kelapa sawit dapat terjadi apabila ada perantara yang mampu memindahkan serbuk sari dari bunga jantan ke bunga betina yang sedang reseptif. Proses penyerbukan pada kelapa sawit sebagian besar berlangsung dengan bantuan serangga dan sebagian kecil oleh angin (Siregar, 2006). Kehadiran serangga pada tanaman kelapa sawit dapat membantu proses penyerbukan silang yang dapat meningkatkan hasil buah dan biji.

2.1 Klasifikasi Kelapa Sawit

Klasifikasi Kelapa Sawit (E. guineensis Jacq.) adalah sebagai berikut : Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Ordo : Palmales Famili : Palmae Subfamili : Cocoideae Genus : Elaeis

Spesies : 1.Elaeis guineensis Jacq (kelapa sawit Afrika) 2.Elaeis oleifera Cortes(kelapa sawit Amerika Latin)

(2)

2.2 Biologi Bunga Kelapa Sawit

Kelapa sawit termasuk kelompok pohon berumah satu, artinya dalam satu pohon terdapat tandan bunga jantan dan tandan bunga betina. Pada umumnya, dalam satu pohon tidak ditemukan tandan bunga jantan yang mekar bersamaan tandan bunga betina. Tetapi primordial bunga terdiri dari organ bunga jantan dan betina. Terkadang berkembang sempurna dan membentuk bunga banci (Susanto dkk, 2007)

Tanaman kelapa sawit dilapangan mulai berbunga pada umur 12-14 bulan, tetapi baru ekonomis untuk dipanen pada umur 2.5 tahun. Dari setiap ketiak pelepah daun akan keluar satu tandan bunga jantan atau betina. Sebagian dari tandan bunga ini akan gugur (aborsi) sebelum anthesis atau sesudah anthesis. Pada tanaman muda sering dijumpai bunga abnormal seperti bunga banci (hermaprodit) yaitu tandan yang memiliki dua jenis kelamin, bunga andromorphic (androgynous) yaitu secara morpologi adalah bunga jantan tetapi pada sebagian spikeletnya dijumpai pula bunga betina yang dapat membentuk buah sawit kecil. Juga akan sering dijumpai partenokarpi yaitu kepala putik (stigma) yang tidak sempurna penyerbukannya sehingga buah yang terbentuk layu dan gugur (Lubis, 2008).

Tiap tandan bunga kelapa sawit mempunyai stalk sepanjang 30-45 cm, yang mendukung banyak spikelet yang tersusun spiral. Tandan bunga sawit awalnya tertutup oleh dua lapis seludang berserat. Enam minggu sebelum mekar, seludang bagian luar akan pecah dan 2 atau 3 minggu kemudian seludang bagian dalam ikut pecah sehingga tandan bunga akan membuka. Jumlah spikelet bunga kelapa sawit meningkat dari 60 pada umur 3 tahun menjadi 150 pada umur 10 tahun (Prasetyo dkk,2012).

2.2.1 Bunga Jantan

Spikelet tanda bunga jantan berukuran panjang 12-20 cm, terdiri dari 400-1500 bulir bunga. Bunga jantan berwarna kuning muda, berukuran kecil yang

(3)

mulai mekar (anthesis) dari bagian pangkal ke bagian ujung tandan bunga jantan. Setiap bunga jantan rata-rata dapat menghasilkan serbuk atau polen sekitar 40 gram/tandan. Tiap tandan memiliki 100-250 spiklet yang panjangnya 10-20 cm dan diameter 1-1.5 cm (Hidayat dkk. 2013)

Masa bunga jantan anthesis dapat berlangsung selama 4-5 hari dengan periode pelepasan serbuk sari berlangsung selama 2-3 hari. Serbuk sari pada bunga jantan bau seperti adas yang sangat kuat, dan jauh lebih kuat dari bau

Gambar 2.1 Bunga jantan yang anthesis Sumber : Koleksi Pribadi

2.2.2 Bunga Betina

Tandan bunga betina berukuran panjang 24-45 cm, mengandung 700-6000 bulir bunga betina tergantung pada lokasi dan umur tanaman, Tendon et al., (2001) dalam Mirah, A (2013). Bunga betina awalnya tertutupi oleh seludang yang akan pecah pada 15-30 hari sebelum bunga reseptif. Satu tanda bunga dapat memiliki sekitar 100-200 spikelet dan setiap spikelet memiliki 15-20 bunga betina (Hidayat dkk, 2013).

Waktu yang diperlukan agar semua bunga betina mekar (reseptif) pada setiap tandan bunga betina sekitar 3 hari yang dimulai dari bagian pangkal tandan, biasanya 15% pada hari pertama, 60% mekar pada hari kedua, dan sisanya 15% lagi mekar pada hari ketiga (Pardede, 1993). Pada waktu bunga-bunga mekar, suhu di dalam pembungaan meningkat 5-10˚C dan bunga

(4)

mengeluarkan bau seperti adas (Foeniculum vulgare) yang kuat. Pada waktu mekar, warna bunga putih kekuningan dengan kepala putik yang terlihat mengeluarkan cairan (Prasetyo dkk, 2012).

Bunga betina mekar atau dalam keadaan reseptif mengalami tingkat perkembangan. Tingkat perkembangan bunga betina dapat dilihat dari perbedaan warnanya. Pada hari pertama sesudah mekar akan berwarna putih, sedangkan hari kedua berubah menjadi kuning gading. Pada hari ketiga warna bunga berubah menjadi merah kehitaman-hitaman. Pada hari keempat tersebut bunga betina mengeluarkan bau harum dan lendir yang menarik serangga sehingga proses penyerbukan dapat terjadi (Fauzi dkk, 2014).

Gambar 2.2 Bunga betina yang reseptif Sumber : Koleksi Pribadi

2.2.3 Bunga Hermaprodit (Bunga Banci)

Bunga banci tergolong bunga abnormal dimana terdapat bunga jantan dan bunga betina dalam satu tandan (Hidayat dkk. 2013). Umumnya, spikelet bunga jantan berada di antara bawah bunga betina dan akan mekar terlebih dahulu. Tandan bunga seperti ini dianggap abnormal meskipun bila

(5)

penyerbukan terjadi dengan baik, beberapa spikelet bunga betina dapat membentuk buah yang bisa dipanen (Prasetyo dkk, 2012).

Perbandingan bunga jantan dan betina pada tanaman muda berbeda dengan tanaman tua. Pada tanaman awal menghasilkan, jumlah bunga betina per pohon lebih banyak dibandingkan dengan bunga jantan sehingga nilai sex ratio bunga kelapa sawit sangat tinggi. Nilai sex ratio bunga akan semakin menurun dengan bertambahnya umur tanaman.

Gambar 2.3 Bunga hermaprodit Sumber : Koleksi Pribadi 2.2.4 Penyerbukan Bunga Kelapa Sawit

Penyerbukan merupakan proses sederhana dimana terjadi transfer serbuk sari dari kepala sari ke putik bunga. Letak bunga betina dan bunga jantan pada satu pohon kelapa sawit letaknya terpisah dan matangnya tidak sama, sehingga tanaman kelapa sawit bisa menyerbuk secara silang. Penyerbukan tanaman kelapa sawit dilakukan oleh angin (animofili) atau oleh serangga(enthofili) (Hidayat dkk, 2013).

a. Penyerbukan Oleh Angin

Penyerbukan oleh angin merupakan penyerbukan yang terjadi karena adanya bantuan angin. Biasanya terjadi pada tanaman yang memiliki perhiasan bunga dan memiliki benang sari (Pollen) yang banyak dan

bergelantungan pada bunga jantan yang jutaan jumlahnya (Hidayat dkk. 2003).

(6)

b. Penyerbukan Oleh Serangga

Penyerbukan kelapa sawit dengan bantuan serangga dilakukan melalui mekanisme pemindahan tepung sari menuju putik melalui bantuan serangga. Bunga kelapa sawit baik jantan maupun betina saat anthesis akan mengeluarkan aroma sehingga penyerbuk tertarik untuk hinggap sekaligus, kumbang E. kamerunicus merupakan serangga penyerbuk kelapa sawit yang efektif karena bersifat spesifik dan beradaptasi baik pada musim basah dan kering (Hidayat dkk, 2013).

c. Penyerbukan Bantuan

Penyerbukan bantuan merupakan penyerbuk yang dilakukan pada areal pertanaman kelapa sawit muda dan pada areal bukaan baru dimana bunga jantan sangat sedikit, sehingga banyak bunga betina yang aborsi karena bunga betina tidak dibuahin (Hidayat dkk, 2013).

Jika buah dalam tandan dibawah optimal, ini menunjukkan bahwa jumlah bunga yang dibuahi tentu dibawah optimal juga. Hal ini sebagai pertanda bahwa penyerbukan secara alamiah tidak cukup. Untuk memperoleh tanda-tanda dengan jumlah yang optimal, penyerbukan harus dibantu dengan memberi serbuk sari secara alami (Wahyuni dan Sinaga, 2014).

(7)

2.2.5 Fase Pembungaan Kelapa Sawit

Pembungaan kelapa sawit memiliki peranan vital dalam menentukan produksi kelapa sawit terhadap 5 fase perkembangan bunga kelapa sawit, antara lain inisiasi bunga, pembentukan perhiasan bunga, difensiasi kelamin, peka aborsi, dan anthesis. Keadaan iklim sangat mempengaruhi proses fisiologi tanaman, seperti proses asimilasi, pembentukan bunga, dan pembuahan.

Sinar matahari dan hujan dapat menstimulasi pementukan bunga kelapa sawit. Bulan kering yang tegas dan berturut-turut selama beberapa bulan bisa mempengaruhi pembentukan bunga untuk 2 tahun berikutnya. Kondisi cekaman lingkungan yang berat akan menyebabkan meningkatkannya produksi tandan bunga jantan dan tandan bunga aborsi.

Fase awal pembungaan kelapa sawit dimulai dari fase inisiasi bunga pada 44 bulan sebelum tandan matang fisiologis. Berikut fase perkembangan bunga kelapa sawit menurut Hidayat (2003) :

1. Inisiasi pembentukan awal bunga terjadi 44 bulan sebelum matang fisiologis

2. Pembentukan perhiasan bunga terjadi 36 bulan sebelum matang fisiologis 3. Difensiasi seks terjadi 17 bulan sebelum matang fisiologis

4. Peka aborsi bunga terjadi 12 bulan sebelum matang fisiologis 5. Anthesis terjadi 6 bulan sebelum matang fisiologis

(8)

2.3 Serangga Penyerbuk Elaeidobius kamerunicus

Proses penyerbukan pada bunga kelapa sawit memerlukan agen penyerbuk. Agen pembawa serbuk sari dari bunga jantan di pohon yang satu ke bunga betina yang sedang mekar di pohon yang lain disebut sebagai polinator. Polinator bunga kelapa sawit dapat berupa angin, air, manusia, hewan vertebrata dan serangga (Susanto dkk, 2007).

Sebelum ditemukannya E. kamerunicus sebagai penyerbuk yang paling efektif untuk tanaman kelapa sawit terdapat serangga yang juga berfungsi sebagai penyerbuk yaitu Thrips hawaiiensis, namun serangga tersebut diduga kurang efektif karena populasinya yang sangat dipengaruhi oleh cuaca bahkan di daerah Kalimantan, Sulawesi dan Irian jaya tidak ada ditemukan (Lubis, 2008).

E. kamerunicus (Coleoptera : Curculionidae) Saat ini menjadi serangga penyerbuk utama kelapa sawit di Indonesia setelah proses introduksi oleh pusat penelitian kelapa sawit pada tahun 1982. Awalnya, introduksi Elaeidobius kamerunicus dikhawatirkan berdampak negatif yakni bertindak sebagai hama ataupun vektor penyakit, tetapi kekhawatiran ini tidak terjadi (Susanto dkk, 2007).

Tingkat adaptasi E. kamerunicus pada tanaman kelapa sawit adalah lebih baik dibandingkan dengan Thrips, dan memiliki kemampuan yang jauh lebih baik untuk menyebarkan tepung sari, dan mengenal atau mencari bunga betina dibandingkan dengan manusia. Disamping itu E. kamerunicus juga memiliki kemampuan untuk membantu penyebaran tepung sari dan kualitas yang sama baik tanaman muda maupun pada tanaman tua (tinggi). Sejalan dengan ini maka pelaksanaan penyerbukan oleh serangga ini akan jauh lebih baik dari pada penyerbukan alamiah maupun dengan bantuan (assested pollination) sebagaimana berlangsung sekarang, Syed (1982) dalam Harumi (2011).

(9)

Serangga penyerbuk kelapa sawit E. kamerunicus ini termasuk dalam ordo Coleoptera yang juga disebut dengan kumbang. Kumbang ini memiliki panjang tubuh sekitar 4 mm, dan dengan lebar tubuh sekitar 1.5 mm, adapun warna tubuh serangga tersebut berwarna coklat kehitam-hitaman (Satyawibawa dan Widyastuti, 1992).

Tubuh serangga E. kamerunicus memiliki bulu-bulu halus pada bagian punggu membentuk seperti jamur, pada bulu tersebut biji serbuk sari dapat melekat dan ketika kumbang berpindah ke bunga betina maka proses penyerbukan dapat terjadi, ukuran tubuh jantan lebih besar daripada betina, moncong pada jantan lebih pendek dari betina, dan serangga tersebut aktif antara jam 09.00 sampai 11.00 pagi, keliatan seperti nyamuk yang berterbangan, Lubis (1989) dalam Lubis (2008).

E.kamerunicus merupakan serangga yanng mengalami metarmofosis sempurna yang berkembang dari telur menjadi larva, kemudian kepompong, dan akhirnya menjadi imago. Serangga ini termasuk kedalaman family Curcolionidae (kumbang moncong). Siklus hidup Elaeidobius kamerunicus berlangsung sekitar satu bulan.

2.3.1 Taksonomi Elaeidobius kamerunicus Kingdom : Animalia Divisio : Avertebrata Class : Insecta Ordo : Coleoptera Famili : Curculionidae Genus : Elaeidobius

(10)

Hasil pengujian menunjukan bahwa tanaman kepala sawit adalah satu-satunya tanaman inang bagi E. kamerunicus, dimana serangga ini dapat bertelur dan berkembangbiak dengan baik (Sitepu, 2008).

2.4 Siklus hidup Elaeidobius kamerunicus

Gambar 2.4 Siklus hidup Elaeidobius kamerunicus (Susanto dkk, 2007) 2.4.1 Telur

Satu ekor E. kamerunicus betina dapat meletakkan telur rata-rata 58 butir yang diletakkan pada bunga jantan kelapa sawit selama 59 hari masa hidupnya. Telur berwarna keputih putihan, berbentuk lonjong dan kulitnya licin. Ukuran panjang telur 0,65 mm dan lebar telur 0.4 mm. Telur diletakkan dengan oviposistor (alat peletak telut pada serangga) kedalam lubang pada bagian luar tangkai sari bunga jantan yang anthesis. Lubang tersebut terjadi karena jaringan tangkai sari sebelumnya dimakan oleh kumbang. Jaringan yang membatasi lubang tersebut kemudian mengeras dan mengerut sehingga memberikan perlindungan bagi telur didalamnya (Susanto dkk, 2007).

2.4.2 Larva

Larva berkembang dalam tiga instar. Larva instar pertama berwarna putih kekuningan berada disekitar tempat peletakan telur. Setelah 1-2 hari, larva menjadi instar kedua yang kemudian pindah ke pangkal bunga jantan yang

(11)

sama. Sebelum semua bagian dari bunga habis dimakan, larva menjadi larva instar ketiga terus memakan pangkal tangkai sari sampai tinggal bagian atasnya saja. Bagian yang tertinggal tersebut mengering, dan selanjutnya larva instar ketiga membuat sebuah lubang melalui pariatium bunga jantan menuju ke tangkai sari bunga disebelahnya. Larva instar ketiga, berwarna kuning terang, dapat memakan 5-6 bunga jantan. Ukuran rata-rata kepala larva berturut-turut mulai larva instar pertama sampai dengan instar ketiga dengan panjang berturut-turut 0.29 mm; 0.64 mm dan 0.72 mm serta lebar 0.31 mm; 0.44 mm dan 0.56 mm (Susanto dkk, 2007).

2.4.3 Kepompong

Kepompong terbentuk di dalam bunga jantan yang terakhir dimakan. Sebelum menjadi kepompong, larva instar ketiga terlebih dahulu menggigit bagian ujung bunga jantan sehingga lepas. Dengan demikian terjadi lubang yang menjadi tempat keluarnya kumbang. Sekitar 1 hari sebelum bentuk kepompong, larva instar ketiga menjadi tidak aktif. Periode pupa berlangsung dalam waktu 2-6 hari. Warna kepompong kuning terang dengan sayap yang mulai terbentuk dan berwarna putih (Susanto dkk, 2007).

2.4.4 Kumbang

Kumbang E. kamerunicus memakan tangkai sari bunga jantan yang sudah mekar. Perkawinan terjadi pada siang hari, antara 2-3 hari sesudah kumbang menjadi dewasa akan tetapi ada juga yang berkopulasi lebih awal. Perbandingan jumlah kumbang jantan dan betina dilapangan 1:2. Lama hidup kumbang betina dapat mencapai 65 hari dan kumbang jantan 46 hari.

Kumbang jantan memiliki moncong lebih pendek, 2 benjolan pada pangkal elitra (sayap) dan bulu yang lebih banyak elitra. Kumbang betina memiliki moncong lebih panjang, tidak ada benjolan pada elitra dan bulu pada elitra lebih sedikit. Ukuran tubuh E. kamerunicus jantan 3-4 mm dan ukuran kumbang betina 2-3 mm. Kumbang jantan dapat membawa polen lebih banyak dibandingkan bunga betina. Hal ini disebabkan ukuran tubuh yang

(12)

lebih besardan banyaknya bulu pada sayap kumbang jantan (Susanto dkk,2007).

2.5 Proses Penyebaran Tepung Sari

Mekanisme proses penyebaran tepung sari oleh serangga dari satu bunga ke bunga lain secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut :

Bunga yang sedang mekar mengeluarkan bau spesifik dan sangat disukai oleh serangga. Bunga jantan (gambar 2.1) dan bunga betina (gambar 2.2) keduanya mengeluarkan bau yang sama namun bunga jantan terasa lebih kuat. Periode pengeluarannya berlangsung lebih lama pada bunga betina yakni ± 5 hari, sedangkan pada bunga jantan berlangsung 2-3 hari.

Tertarik oleh bau tersebut serangga-serangga akan hinggap dan bergerak mengitari bagian-bagian bunga yang mengakibatkan tepung sari melekat dipermukaan badannya. Kemudian serangga tersebut terbang dan hinggap pada bunga lain (bunga jantan atau bunga betina yang mekar). Dengan cara demikian tepung sari disebarkan dari satu bunga ke bunga lain pada saat yang tepat. Ketepatan waktu penyebaran tepung sari adalah sangat penting, karena periode saat dimana bunga betina sesuai untuk proses pembuahan sangat singkat. Dalam hal ini kemampuan serangga jauh lebih baik dibandingkan dengan kemampuan manusia. Selain daripada itu penyebaran tepung sari keatas bakal buah juga jauh lebih sempurna, karena serangga tersebut sangat aktif serta memiliki kecenderungan untuk mengunjungi semua bakal bunga. Dengan demikian bunga terbentuk sempurna (fertilized fruit) kelak akan bertambah banyak, Lubis (1989) dalam Lubis (2008).

Bunga kelapa sawit adalah tipe yang beradaptasi pada penyerbukan dengan angin. Bunga jantan terbuka dan menghasilkan banyak serbuk sari, dan bunga betina tidak mempunyai daun mahkota yang biasanya menjadi perhiasan untuk menarik serangga. Bunga betina mempunyai kepala putik yang terbuka dan menonjol keluar (Pardede, 1993).

(13)

Serangga penyerbuk E. kamerunicus sangat tertarik pada bau bunga jantan, sehingga dilepas pada saat bunga betina sedang represif, keunggulan cara ini adalah tandan buah lebih besar, bentuk buah lebih sempurna, produksi minyak mengingat lebih besar 15% dan produksi inti meningkat sampai 30%, kekurangan cara ini buah sulit rontok dan tandan harus dibelah dua dalam mengolahnya.

2.6 Faktor yang mempengaruhi populasi Elaeidobius kamerunicus 2.6.1 Musuh alami E. kamerunicus

Populasi E. kamerunicus dapat menurun oleh sejumlah musuh alami yang berupa predator maupun parasit. Predator yang telah dilaporkan memakan E. kamerunicus meliputi telur, larva, kepompong, dan imago adalah tikus, semut, dan berbagai jenis laba-laba predator (Wahyuni dan Sinaga, 2014) 2.6.2 Ketersediaan bunga jantan kelapa sawit

Ketersediaan bunga jantan kelapa sawit juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi perkembangan populasi E. kamerunicus. Idealnya, semakin banyak bunga jantan maka akan semakin tinggi populasi E. kamerunicus. Selain sebagai sumber makanan, tandan bunga jantan kelapa sawit juga berfungsi sebagai tempat berkembang biak E. kamerunicus (Wahyuni dan Sinaga, 2014)

2.6.3 Penggunaan Insektisida

Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilaksanakan di laboraturium dan di lapangan oleh Hutauruk dkk (1985), diketahui bahwa pada umumnya semua jenis insektisida yang sudah biasa digunakan untuk pengendalian ulat api (limacodidae) dan ulat kantong (psychidae) melalui penyemprotan atau injeksi batang, beracun terhadap E. kamerunicus.

2.6.4 Curah hujan

Selain adanya musuh alami dan ketersediaan bunga jantan, curah hujan juga

menjadi faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan populasi E. kamerunicus di Indonesia, perkembangan populasi E. kamerunicus lebih

(14)

cepat pada musim penghujan dibandingkan dengan musim kemarau walaupun secara perilaku lebih aktif pada musim kemarau.

2.6.5 Teknik Hatch & Carry

Teknik Hatch & Carry telah diterapkan diberbagai kebun di Indonesia dan telah berhasil meningkatkan fuit set hingga 30 %, bahkan lebih tergantung pada nilai fruit set awal. Hatch & Carry berasal dari kata “hatch” yang artinya menetas dan “carry” yang artinya membawa. Dalam hal ini berarti Hatch & Carry adalah sistem penangkaran E. kamerunicus yang disertai dengan penyemprotan polen pada tubuh serangga tersebut yang bertujuan untuk menambah populasi E. kamerunicus dan nilai fruit set kelapa sawit pada suatu kebun.

Gambar

Gambar 2.1 Bunga jantan yang anthesis  Sumber : Koleksi Pribadi
Gambar 2.2 Bunga betina yang reseptif  Sumber : Koleksi Pribadi
Gambar 2.3 Bunga hermaprodit  Sumber : Koleksi Pribadi  2.2.4 Penyerbukan Bunga Kelapa Sawit
Gambar 2.4 Siklus hidup Elaeidobius kamerunicus (Susanto dkk, 2007)

Referensi

Dokumen terkait

Pityriasis versicolor adalah penyakit jamur superfisial yang kronik, biasanya tidak memberikan keluhan subyektif, berupa bercak berskuama halus yang berwarna

Bahan pengikat adalah bahan tambahan yang berfungsi untuk meningkatkan daya ikatan dari serbuk dalam membentuk granul yang pada proses kompresi dapat membentuk

Moving plate, bagian yang bergerak ini minimal terdiri dari, core side yaitu kebalikan dari cavity side, bagian ini adalah bagian yang membentuk produk bagian

Pitiriasis versikolor adalah penyakit jamur superfisial yang kronik, biasanya tidak memberikan keluhan subjektif, berupa bercak berskuama halus yang berwarna putih

Pemanfaatan serangga penyerbuk kelapa sawit Elaeidobius kamerunicus merupakan hasil spektakuler dari penelitian perlindungan tanaman yang telah membawa era

Menurut Depkes RI (2001), penularan penyakit oleh lalat terjadi secara mekanis, dimana bulu-bulu badannya, kaki-kaki serta bagian tubuh yang lain dari lalat merupakan

Infeksi terjadi bila telur matang tertelan oleh manusia, larva yang keluar dari dinding telur yang sudah dicerna masuk ke dalam usus halus bagian proksimal dan

Tiga belas spesies jamur penghasil enzim keratinase berhasil diisolasi dari limbah bulu ayam oleh Marcondes et al. (2008) dan diketahui bahwa ada 4 spesies yang