• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2.1 Jeruk Purut (Citrus hystrix DC)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2.1 Jeruk Purut (Citrus hystrix DC)"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

5 BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jeruk Purut (Citrus hystrix DC)

2.1.1 Taksonomi

Gambar 2.1 Jeruk Purut (Citrus hystrix DC) Kerajaan : Plantae

Sub Kerajaan : Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Sub Kelas : Rosidae Bangsa : Sapindales Suku : Rutaceae Marga : Citrus

Jenis : Citrus hystrix D. C.

(Miftahendarwati, 2015) 2.1.2 Morfologi Tanaman

Jeruk purut (Citrus hystrix) adalah tanaman yang tumbuh pada daerah tropis, yang tersebar luas di Asia bagian selatan. Daun dan buah digunakan sebagai makanan. Buahnya berkerut, berbentuk pir dan berwarna hijau tua dan akan menjadi kuning apabila sudah matang. Daunya berwarna hijau tua, mengkilap, dan permukaan bawah hijau muda atau kekuningan, buram, jika diremas baunya harum.

Biasanya daunnya tumbuh berpasangan dan seperti angka delapan. Tangkai daun

(2)

sebagian melebar menyerupai anak daun. Helaian anak daun berbentuk bulat sampai lonjong, pangkal membundar atau tumpul, ujung tumpul sampai meruncing.

Panjang daun jeruk purut adalah 8-15cm dan lebarnya 2-6cm. Kedua permukaannya licin dengan bintik-bintik kecil berwarna jernih (Miftahendarwati, 2015).

Bunganya berbentuk bintang, berwarna putih kemerah-merahan atau putih kekuning-kuningan. Bentuk buahnya bulat, kulitnya hijau berkerut, rasanya asam agak pahit. Tanaman ini perdu, setinggi 3-5 meter. Dalam kemasan dan ruang penyimpanan yang baik, daun jeruk purut bisa bertahan selama sekitar satu minggu.

Sementara buah dalam keadaan utuh, bisa bertahan untuk jangka waktu sekitar dua minggu (Miftahendarwati, 2015).

2.1.3 Kandungan Kimia Jeruk Purut

Jeruk purut memiliki rasa agak asin dan pahit. Beberapa bahan kimia yang terkandung dalam jeruk purut diantaranya daun minyak atsiri 1,0-1,5%, minyak atsiri dengan kandungan sitrat 2,0-2,5%, dan senyawa metabolit sekunder yaitu β- pinene, limonene, sabenene dan Citronellol. Senyawa metabolit sekunder merupakan senyawa kimia yang umumnya mempunyai kemampuan bioaktivitas (Rahmawati, 2015). Berikut ini adalah tabel perbandingan antara kandungan kulit jeruk purut dan daun jeruk purut :

Tabel 2.1 perbandingan antara kandungan kulit jeruk purut dan daun jeruk purut

Kandungan Kulit Daun

Sabenene 45% 11,58%

Limonene 19,8% 21,08%

Citronellol 7,8% 4,6%

(3)

Kandungan Kulit Daun

Linalool 1% 3,7%

Myrcene 1,8% 0,54%

b - Pinene 3,1% 4,78%

(Wulandari, 2017 , Dilla Dertyasasa 2017, Kasuan 2013)

Berikut adalah tabel perbandingan kandungan kulit jeruk purut dengan jeruk lain : Tabel 2.2 perbandingan kandungan jeruk purut dengan jeruk lain

Kandungan Citrus aurantifolia (jeruk nipis)

Citrus

grandis (jeruk bali)

Citrus hystrix (jeruk purut),

Citrus microcarpa (jeruk kalamansi)

Sabenene 0,1% 0,1% 45% -

Limonene 16% 0,8% 19,8% 14%

Citronellol 0,6% 0% 7,8% -

Linalool - 23% 1% -

Myrcene 1% 1,6% 1,8% 0,9%

b - Pinene 0,9% 4,9% 3,1% 13%

(Md Othman et al., 2016) Berikut adalah tabel perbandingan kandungan infus kulit jeruk purut dengan ekstrak kulit jeruk purut :

Kandungan Infus kulit jeruk purut Ekstrak kulit jeruk purut

Sabenene 45% 20%

Limonene 19,8% 10,3%

(4)

Kandungan Infus kulit jeruk purut Ekstrak kulit jeruk purut

Citronellol 7,8% 10,8%

Linalool 1% -

Myrcene 1,8% 9,7%

b - Pinene 3,1% 1,6%

(Warsito et al., 2017)

2.1.3.1 Β - pinene

Pinene (C10H16) adalah hidrokarbon terpenoid, bislik, ikatan rangkap. α- dan β-pinene adalah dua isomer yang ditemukan di alam. β-pinene juga merupakan cairan organik tidak berwarna yang larut dalam minyak tetapi tidak larut dalam air dan etanol. Memiliki titik didih mulai dari 163–166 ° C. Ini diperoleh secara komersial dengan distilasi atau dengan konversi α-pinene (Salehi et al., 2019).

Β- pinene diketahui mempunyai efek sebagai antimikroba, antifungi dan melindungi tanaman dari serangan serangga. Β- pinene mempunyai tingkat toksisitas yang tinggi melawan fungi. Aktivitas fungisida terhadap Trichoderma viride telah digunakan sebagai metode untuk mengindetifikasikan β- pinene.

Mekanisme kerja β- pinene sebagai antifungi berhubungan dengan interaksi β- pinene dengan membran sterol sehingga menyebabkan pembentukan pori-pori di lipid bilayer yang dapat menghilangkan integritas membran dan meningkatkan permeabilitas seluler (Khafidhoh, Dewi, & Iswara, 2015).

(5)

2.1.3.2 Limonene

Limonene (= 1,8-p-menthadiene = 1-methyl-4- (1- methylethenyl-cyclohexene) adalah salah satu konstituen minyak atsiri yang paling umum dari tanaman aromatik. Banyak ditemukan di beberapa genera tanaman, yang dapat dikaitkan dengan peran pendahulunya dari mana beberapa monoterpenoid monosiklik diturunkan .Kebanyakan dari kerangka 1-p-menthene yang mengandung monoterpen, seperti carveol, carvone, α-terpineol, pulegone dan 1,8-cineole, berasal dari limonene. Limonene adalah senyawa aktif secara optik, dan ada dalam dua bentuk enansiomer: R dan S. R - (+) - enansiomer, juga dikenal sebagai d- limonene, adalah senyawa utama dalam minyak atsiri dari kulit Citrus spp. dan (+) - limonene adalah produk sampingan yang murah dari jeruk. Ini juga berlimpah di beberapa spesies Lippia dan Artemisia (Erasto & Viljoen, 2016).

Mekanisme kerja limonene yaitu dengan merusak sel dengan membentuk pori- pori dinding sel sehingga merubah struktur dan fungsi membran plasma yang menyebabkan meningkatkannya transmembran dan kebocoran asam amino dan isi sitoplasma lainnya sehingga sel-sel pun menyusut dan hancur (Khafidhoh, Dewi, &

Iswara, 2015).

2.1.3.3 Citronellol

Citronellol adalah unsur utama dari beberapa tanaman, seperti jeruk, serai, dan lain-lain, bertanggung jawab atas sifat aromatik dan biologis, termasuk aktivitas antifungi (Tozoni, Zacaria, Vanderlinde, Delamare, & Echeverrigaray, 2015) Citronellol akan mendenaturasi protein sel dan mengerutkan dinding sel sehingga dapat melisiskan dinding sel jamur karena Citronellol akan membentuk

(6)

kompleks dengan protein membran sel. Pembentukan kompleks menyebabkan rusaknya membran sel karena terjadi perubahan permeabilitas sel dan hilangnya kandungan isi sel di dalam sitoplasma yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau matinya sel (Khafidhoh, Dewi, & Iswara, 2015).

2.1.3.4 Sabenene

Terpenoid adalah senyawa yang hanya mengandung karbon dan hidrogen, atau karbon, hidrogen dan oksigen yang bersifat aromatis, sebagian terpenoid mengandung atom karbon yang jumlahnya merupakan kelipatan lima. Penyelidikan kimia selanjutnya menunjukan pula bahwa sebagian terpenoid mempunyai kerangka karbon yang di bangun oleh dua atom atau lebih unit C5 yang disebut isopren, unit - unit isopren biasanya saling berkaitan dengan teratur, dimana

“kepala” dari unit satu berkaitan dengan “ekor” unit yang lain, kepala adalah merupakan ujung terdekat kecabang metil dan ekor merupakan ujung yang lain Susunan kepala ke ekor ini disebut kaidah isopren. Kaidah ini merupakan ciri khas dari sebagian terpenoid sehingga dapat dijadikan dasar penetapan terpenoid, sehingga dapat digunakan sebagai dasar penetapan struktur terpenoid (De Oliveira Pereira et al., 2015) Terpenoid umumnya larut dalam lemak dan terdapat dalam sitoplasma sel tumbuhan. Kebanyakan terpenoid alam mempunyai struktur siklik dan mempunyai satu gugus pungsi atau lebih. Salah satu senyawa terpenoid adalah taksodon dan vernomenin yang merupakan jenis terpenoid yang mempunyai efek fisiologis terhadap manusia yaitu dapat menahan pembelahan sel sehingga dapat menghalangi pertumbuhan tumor (Haque et al., 2016).

2.2 Malassezia furfur 2.2.1 Taksonomi

Kingdom : Fungi

(7)

Divisio : Basidiomycota Class : Hymenomycetes Ordo : Tremellales Family : Filobasidiaceae Genus : Malassezia

Spesies : Malassezia furfur (NCBI, 2015)

2.2.2 Morfologi dan Identifikasi

Malassezia furfur merupakan flora normal yang sering ditemukan pada permukaan kulit atau tubuh manusia dan hewan . Pertama kali pada tahun 1853, Robin menemukan jamur penyebab Pityriasis versicolor yang dinamakan Microsporum furfur. Lalu pada tahun 1889, Baillon mengganti nama jamur tersebut menjadi Malassezia furfur. Pada awalnya, genus Malassezia hanya diketahui terdiri dari dua spesies yaitu Malassezia furfur dan Malassezia pachydermatis. Saat ini telah dikenal tujuh spesies Malassezia yaitu Malassezia furfur, Malassezia pachydermatis, Malassezia sympodialis, Malassezia globosa, Malassezia obtuse, Malassezia restrica, dan Malassezia slooffiae (Novita, 2015).

Bentuk Malassezia furfur berupa hifa-hifa pendek, lurus atau bengkok berkelompok, spora bulat berkelompok dan berukuran 3-8 μm (Prianto, 2008;

Kumala, 2009). Koloni Malassezia furfur akan tumbuh dengan baik pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) yang diinkubasi selama 36-48 jam pada suhu 30 ̊C (Kumala, 2015).

Malassezia furfur termasuk salah satu organisme eukariotik lipofilik yang komponen dinding selnya terdiri dari mannan, glukan, dan khitin. Mannan merupakan polimer manose yang berikatan dengan protein dan membentuk mannoprotein yang terletak pada lapisan paling luar dari dinding sel jamur. Glukan

(8)

merupakan polimer glukosil yang berfungsi menguatkan dinding sel. Khitin adalah polimer dari N-acetyl-D-glucosamin (GlcNac) yang tidak mudah larut dan membuat dinding sel jamur menjadi kaku. Khitin ini analog seperti khitin pada kerang atau selulosa pada tanaman. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Nobuyaki (2009) bahwa dinding sel dari Malassezia furfur terdiri dari rangkaian peptida yang disebut dengan Mannan. Peptida ini terikat dengan protein binding sebagai penyusun terluar dari dinding sel jamur. Mannan melapisi struktur hidrofobik yang tebal di bawahnya, sehingga fungsi dari Mannan sangat penting sebagai pertahanan dan mekanisme transport dalam mengambil zat makanan (nutrisi) dan mengeluarkan sisa hasil metabolisme (Novita, 2015).

2.2.3 Uji Kepekaan Jamur terhadap Antimikroba (in vitro) 2.2.3.1 Metode Dilusi

Cara ini digunakan untuk menentukan Kadar Hambat Minimal (KHM) dan Kadar Bunuh Minimal (KBM) dari obat antimikroba. Prinsip dari metode dilusi adalah menggunakan satu seri tabung reaksi yang diisi media cair dan sejumlah tertentu sel mikroba yang diuji. Kemudian masing-masing tabung diisi dengan antimikroba yang telah diencerkan secara serial. Selanjutnya, seri tabung diinkubasikan pada suhu 30oC selama 36-48 jam dan diamati terjadinya kekeruhan pada tabung. Konsentrasi terendah antimikroba pada tabung yang ditunjukkan dengan hasil biakan yang mulai tampak jernih (tidak ada pertumbuhan mikroba) adalah KHM dari antimikroba. Selanjutnya biakan dari semua tabung yang jernih diinokulasikan pada media agar padat, diinkubasikan dan keesokan harinya diamati ada tidaknya koloni mikroba yang tumbuh. Konsentrasi terendah antimikroba pada

(9)

biakan padat yang ditunjukkan dengan tidak adanya pertumbuhan koloni mikroba adalah KBM dari antimikroba terhadap mikroba uji (Dzen, 2015).

2.2.3.2 Metode Difusi

Tes ini dikerjakan dengan menggunaakan cakram kertas saring yang mengandung bahan antimikroba yang telah ditentukan konstrasinya. ditanam pada media perbenihan agar padat yang telah dicampur dengan mikroba yang diuji, kemudian diinkubasikan 30oC selama 36-48 jam. Selanjutnya diamati adanya area jernih di sekitar cakram kertas yang menunjukkan tidak adanya pertumbuhan mikroba (Dzen, 2003). Untuk mengevaluasi hasil uji kepekaan tersebut (apakah isolat mikroba sensitif atau resisten terhadap antimikroba), dapat dilakukan dua cara seperti berikut:

1. Cara Kirby Bauer, yaitu dengan cara membandingkan diameter dari area jernih di sekitar cakram dengan tabel standar yang dibuat oleh National Committee for Clinical Laboratory Standards (NCCLS).

Dengan tabel NCCLS ini dapat diketahui kriteria sensitif, sensitif intermediet, dan resisten (Dzen, 2015).

2. Cara Joan-Stokes, yaitu dengan cara membandingkan radius zona hambatan yang terjadi antara mikroba kontrol yang sudah diketahui kepekaannya terhadap obat tersebut dengan isolat mikroba yang diuji. Pada cara Joan- Stokes, prosedur uji kepekaan untuk mikroba kontrol dan mikroba uji dilakukan bersama-sama dalam satu piring agar (Dzen, 2015).

(10)

2.3 Pityriasis versicolor 2.3.1 Definisi

Pityriasis versicolor adalah penyakit jamur superfisial yang kronik, biasanya tidak memberikan keluhan subyektif, berupa bercak berskuama halus yang berwarna putih sampai coklat hitam, Pityriasis versicolor terutama menyerang pada area badan dan kadang-kadang dapat menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka, dan kulit kepala yang berambut (Budimulja, 2015).

2.3.2 Etiologi

Etiologi penyakit ini adalah jamur Malassezia furfur (Amiri et al, 2015).

2.3.3 Epidemiologi

Epidemiologi Pityriasis versicolor tersebar di seluruh dunia. Prevalensi yang dilaporkan sebanyak 50% di lingkungan yang panas dan lembab di kepulauan Samoa Barat dan hanya 1,1% di temperatur yang lebih dingin di Swedia (Burkhart, 2015). Di Indonesia, penyakit ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara yang beriklim subtropis. Di negara berkembang prevalensinya juga lebih tinggi dibandingkan negara maju. Penyakit ini terutama mengenai para remaja dan dewasa muda, terbanyak pada usia 16-40 tahun. Perbedaan prevalensi antara pria dan wanita tidak ada, walaupun demikian di Amerika Serikat dilaporkan pada penderita berusia 20-30 tahun terdapat perbandingan yaitu 1,09% pria dan 0,6% wanita (Kumala, 2015).

2.3.4 Patogenesis

Malassezia furfur merupakan bagian dari flora normal, tetapi dapat juga menjadi patogen. Perubahan dari flora normal kulit menjadi patogen dapat terjadi jika berada dibawah kondisi tertentu. Beberapa kondisi dan faktor yang berperan pada

(11)

patogenesis antara lain genetik, lingkungan dengan suhu dan kelembaban tinggi, imunodefisiensi, sindroma chusing, dan malnutrisi (Burkhart, 2015).

Pityriasis versicolor merupakan penyakit kulit yang tidak berbahaya (Benign skin disease) yang menyebabkan papular atau makular bersisik pada kulit. Kondisi ini dapat memicu terjadinya perubahan warna (discoloration) pada kulit, berkisar dari putih menjadi merah lalu cokelat. Kulit penderita Pityriasis versicolor dapat mengalami hipopigmentasi atau hiperpigmentasi. Pityriasis versicolor tidak menular karena patogen jamur kausatif (causative tunggal patogen) merupakan flora normal pada kulit. (Janik, 2015).

Pada kondisi hipopigmentasi, asam dikarbosilat yang dibentuk oleh oksidasi enzimatis asam lemak pada lemak di permukaan kulit menghambat tyrosinase pada melanosit epidermis dan dengan demikian memicu hipomelanosis. Pada kondisi hiperpigmentasi, organisme memicu pembesaran melanosom yang dibuat oleh melanosit di lapisan basal epidermis (Janik, 2015).

2.3.5 Manifestasi Klinis

Lesi Pityriasis versicolor terutama ditemukan di bagian atas dada dan meluas ke lengan atas, leher, dan perut atau tungkai atas/bawah. Dilaporkan adanya kasus- kasus yang khusus dimana lesi hanya dijumpai pada bagian tubuh yang tertutup atau mendapat tekanan pakaian, misalnya pada bagian pakaian yang tertutup pakaian bagian dalam. Dapat pula dijumpai lesi pada lipatan aksial, lingual atau pada kulit muka dan kelapa (Budimulja, 2015).

Penderita pada umumnya hanya mengeluh adanya bercak-bercak berwarna- warni, bentuk tidak teratur sampai teratur, batas jelas sampai difus. Bercak-bercak tersebut berfluoresensi bila dilihat dengan lampu Wood. Kelainan ini biasanya

(12)

asimtomatik sehingga adakalanya penderita tidak mengetahui bahwa dia memiliki penyakit tersebut (Budimulja, 2015). Bercak-bercak biasanya berwarna putih atau kecoklatan dengan rasa gatal yang umumnya muncul saat berkeringat. Ukuran dan bentuk lesi sangat bervariasi tergantung lama sakit dan luasnya lesi. Lesi kulit pada umumnya berupa makular atau papular. Pada kulit hitam atau cokelat umumnya berwarna putih sedangkan pada kulit yang putih atau terang cenderung berwarna cokelat atau kemerahan (Janik, 2015).

Pada kasus tanpa pengobatan, lesi dapat bergabung membentuk gambaran seperti pulau luas berbentuk polisiklik. Pada sebagian besar kasus dengan pengobatan akan menyebabkan lesi berubah menjadi hipopigmentasi dan menetap hingga beberapa bulan tanpa adanya skuama (Budimulja, 2015).

2.3.6 Pemeriksaan Penunjang 2.3.6.1 Pemeriksaan Fluoresensi

Pemeriksaan fluoresensi merupakan pemeriksaan dengan lampu Wood yang akan menunjukkan adanya pendaran (fluoresensi) berwarna kuning keemasan pada lesi yang berskuama (Janik, 2015).

2.3.6.2 Pemeriksaan Mikroskopis

Pada pemeriksaan mikroskopis sediaan skuama yang ditetesi dengan kalium hidroksida (KOH) 20% akan memperlihatkan campuran hifa pendek dan spora- spora bulat yang berkelompok. (Budimulja, 2015)

2.3.6.3 Pemeriksaan Histopatologis

Area kulit organisme yang menyebabkan Pityriasis versicolor berdiam atau berlokasi di stratum korneum. Malassezia furfur dapat dideteksi hanya dengan hematoxylin-eosin (HE) saja, meskipun pewarnaan periodic Acid-schiff (PAS) atau

(13)

methenamine silver lebih dapat menegakkan diagnosis. Pada kasus yang jarang, organisme dapat mencapai stratum granulosum dan bahkan ditemukan di dalam keratinocytes. Epidermis akan terlihat akantosis dan hiperkeratosis ringan. Satu perubahan epidermis yang menyerupai acanthosis nigricans teramati pada keanekaragaman papula, dengan pembuluh darah yang berdilatasi yang dapat pada lesi eritematosa. pada dermis akan terlihat suatu mild perivascular infiltrate tampak nyata di dermis (Janik, 2015).

2.3.7 Diagnosis

Diagnosis Pityriasis versicolor ditegakkan atas dasar gambaran klinis, pemeriksaan fluoresensi (lesi kulit dengan lampu Wood), dan sediaan langsung (Budimulja, 2015).

Gambaran klinis dapat dilihat pada subbab “manifestasi klinis”. Pemeriksaan dengan lampu Wood akan menunjukkan adanya pendaran (fluoresensi) berwarna kuning keemasan pada lesi yang berskuama (Janik, 2015). Pemeriksaan mikroskopis sediaan skuama dengan KOH 20% memperlihatkan campuran hifa pendek dan spora-spora bulat yang dapat berkelompok. Bentuk ini dikenal sebagai spaghetti dan meatball, yang akan lebih mudah dilihat dengan penambahan zat warna tinta Parker Blue Black (Janik, 2015). Pengambilan skuama dapat dilakukan dengan kerokan menggunakan skalpel tumpul atau menggunakan selotip (cellotape) yang diletakkan pada lesi. Koloni Malassezia furfur akan tumbuh pada perbenihan khusus jamur seperti Sabouraud Dextrose Agar (SDA) yang diinkubasi selama 36-48 jam pada suhu 30 ̊C (Sutanto, Ismid, Sjarifuddin et al, 2015).

(14)

2.3.8 Diagnosis Banding

Penyakit ini harus dibedakan dengan dermatitis seboroika, eritrasma, sifilis II, Achromia parasitic dari Pardo-Castello dan Dominiquez, morbus hansen, pitiriasis alba, serta vitiligo (Budimulja, 2015).

Vitiligo dapat dibedakan dengan Pityriasis versicolor karena pada vitiligo tidak dijumpainya skuama. dermatitis seboroik, pitiriasis Rosea, sifilis sekunder, pinta dan tinea korporis umumnya menunjukkan adanya tingkat inflamasi yang lebih hebat. Eritrasma umumnya menyerupai Pityriasis versicolor dari bentuk hiperpigmentasinya, namun pada eritrasma jarang dijumpai adanya lesi satelit, serta pada pemeriksaan fluoresensi memberikan warna kemerahan (Budimulja, 2015).

2.3.9 Pengobatan

Pengobatan dapat dilakukan dengan cara topikal atau sistemik. Pengobatan topikal terutama ditujukan untuk penderita dengan lesi minimal. Obat-obat topikal antara lain preparat salisilat (tinktur salisil spiritus), preparat derivate imidazole (salep mikonazol, isokonazol, salep klotrimazol, ekonazol), krem terbinafin 1%, solusio siklopiroks 0,1% (Sutanto, Ismid, Sjarifuddin et al., 2015). Selain itu menurut (Budimulja,2015), obat-obatan yang dapat dipakai adalah suspense selenium sulfide (selsun) dapat dipakai sebagai sampo sebanyak 2-3 kali seminggu.

Obat digosokkan pada lesi dan didiamkan 15-30 menit sebelum mandi. Jika sulit disembuhkan, ketokonazol dapat dipertimbangkan (Budimulja, 2015).

Pengobatan sistematik menggunakan ketokonazol atau itrakonazol juga sangat efektif untuk Pityriasis versicolor. Dosis untuk ketokonazol adalah 200 mg/hari selama 10 hari. Sedangkan dosis untuk Itrakonazol adalah 200 mg/hari selama 5-7 hari (Budimulja, 2015).

(15)

2.3.10 Pencegahan

Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung untuk mencegah terjadinya Pityriasis versicolor, namun dapat disarankan pemakaian 50% propilena glikol dalam air untuk mencegah kekambuhan. Pada daerah endemik dapat disarankan pemakaian ketokonazol 200 mg/hari selama 3 hari setiap bulan atau itrakonazol 200 mg sekali sebulan untuk pencegahan kekambuhan penyakit atau pemakaian sampo selenium sulfida sekali seminggu (Budimulja, 2015).

2.3.11 Prognosis

Prognosis baik bila pengobatan dilakukan menyeluruh, tekun, dan konsisten serta dapat mengeliminasi faktor-faktor predisposisi dengan baik. Pengobatan harus diteruskan 2 minggu setelah hasil pemeriksaan fluoresensi dan sediaan langsung adalah negatif (Budimulja, 2015).

2.4 Resistensi Antifungi 2.4.1 Definisi

Resistensi antifungi didefinisikan sebagai adaptasi atau penyesuaian sel jamur yang stabil, didapat akibat obat-obat antifungi , sehingga mengakibatkan sensitivitas terhadap antifungi tersebut berkurang dibandingkan dengan keadaan normal (Apsari & Adiguna, 2015). Secara umum, jamur dapat mengalami resistensi secara intrinsik terhadap obat-obat antifungi (resistensi primer) atau resistensi dapat terjadi sebagai respons terhadap pajanan obat antifungi selama pengobatan (resistensi sekunder). Kegagalan respons klinis merupakan kegagalan terapi yang sesuai untuk indikasi tertentu dalam menghasilkan respons klinis. amun penyebab lain misalnya gangguan fungsi imunitas, bioavailabilitas yang buruk dari obat yang

(16)

diberikan atau peningkatan metabolisme obat dapat menjadi penyebab dari kegagalan terapi (Apsari & Adiguna, 2015).

2.4.2 Faktor yang mempengaruhi resistensi obat Antifungi

Komponen resistensi obat antifungi secara klinis dihubungkan dengan faktor- faktor dari pejamu, obat dan jamur (Tabel 2.1). Faktor dari pejamu yang paling penting untuk melawan infeksi adalah status imunitas pejamu, lokasi infeksi, keparahan penyakit, dan adanya alat yang terpasang dalam tubuh pejamu (kateter, gigi palsu atau katup jantung buatan) serta ketidakpatuhan pasien (Apsari &

Adiguna, 2015).

Tabel 2.2 Faktor yang berperan terhadap resistensi antifungi

Faktor pejamu Faktor Obat Faktor jamur

· Status imun

· Lokasi infeksi

· Derajat keparahan infeksi

· Adanya material benda asing

· Buruknya ikatan dengan regimen pengobatan

· Sifat fungistatik obat

· Dosis :

- Frekuensi

- Kuantitas

- Dosis kumulatif

· Farmakokinetik

- Absorbsi

- Distribusi

- Metabolisme

· Interaksi antar obat

· Tipe sel

- Morfologi

- Kondisi sel

- Serotipe

- Biofilm

· Stabilitas genomik strain

· Besarnya populasi

· Populasi bottleneck

· MIC strain

(Apsari & Adiguna, 2015) 2.4.3 Mekanisme resistensi terhadap golongan azol

Terdapat mekanisme yang berbeda-beda untuk resistensi terhadap antifungi golongan azol. Beberapa mekanisme ini serupa dengan resistensi antibakteri.

Kadang-kadang kejadian resistensi terhadap sebuah obat golongan azol

(17)

menyebabkan resistensi silang terhadap obat-obat golongan azol lainnya, namun kadang-kadang resistensi ini bersifat spesifik untuk satu obat saja.

Tabel 2.3 Dasar biokimia dari resistensi azol

Mekanisme Penyebab Keterangan

Perubahan target obat (14α- demethylase)

Mutasi yang mengubah ikatan obat namun tidak berikatan dengan

substrat endogen

Targetnya aktif (misalnya dapat mengkatalisa

demethylation) namun afinitasnya berkurang terhadap azol

Perubahan biosintesis sterol

Lesi pada delta desaturase

Akibat akumulasi 14α- methyl fecosterol, tidak ergosterol Berkurangnya

konsentrasi enzim target di intraselular

Perubahan pada lipid dan sterol membran;

overekspresi efflux pump obat spesifik (CDR1, PDR5, dan BENr)

Buruknya penetrasi melewati membran jamur; efflux obat aktif

Overekspresi target obat antifungi

Peningkatan jumlah enzim target

Akibat peningkatan sintesis ergosterol;

berakibat pada resistensi silang antara flukonazol dan

itrakonazol

(Apsari & Adiguna, 2015) 2.5 Hasil Penelitian Terdahulu

Berdasarkan hasil penelitian berjudul “Efektivitas Infus Kulit Jeruk Purut (Citrus Hystrix DC) terhadap Pertumbuhan Candida albicans Penyebab Sariawan secara in vitro” oleh Zakiyatul Khafidhoh pada tahun 2015, menggunakan 3 konsentrasi Infus kulit jeruk purut yaitu: (10%), (15%), (20%) , dimana konsentrasi 20% yang paling mampu menghambat pertumbuhan Candida albicans dengan rata- rata jumlah koloni 3×104 CFU/100 μL.

Gambar

Gambar 2.1 Jeruk Purut (Citrus hystrix DC)  Kerajaan : Plantae
Tabel 2.1 perbandingan antara kandungan kulit jeruk purut dan daun jeruk purut
Tabel 2.2 Faktor yang berperan terhadap resistensi antifungi
Tabel 2.3 Dasar biokimia dari resistensi azol

Referensi

Dokumen terkait

Abstrak: Masalah umum dalam penelitian ini adalah Apakah dengan menggunakan metode inquiry pada pembelajaran sifat-sifat cahaya dapat menigkatkan hasil belajar siswa

Langkah- langkah dalam bimbingan terstruktur yang terkonsep dengan baik yaitu dengan perencanaan, pelaksanaan yang menggunakan teknik berkelompok sesuai dengan tingkat kemampuan

Penelitian ini ditekankan pada pengaruh motif belanja hedonis dan motif belanja utilitarian terhadap keputusan pembelian pakaian bekas dengan jumlah responden sebanyak

The government and Bank Indonesia (BI) targets regional inflation control teams (TPID) to be formed across Indonesia’s regions in 2018. Only 21 regions out of 541 districts,

Mempertegas tujuan Pendidikan Kewarganegaraan tersebut, Cholisin (Samsuri, 2011) berpandangan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan merupakan pendidikan politik yang yang

Kegiatan pengadaan dan pemasangan fasilitas keselamatan lalu lintas jalan yang di usulkan dalam Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2015 akan ditempat pada jalan perkotaan di wilayah

d. Melakukan evaluasi selama dan setelah proses pembelajaran berlangsung. Evaluasi selama proses pembelajaran untuk mengetahui aktivitas belajar siswa yang dilakukan melalui

Adapun orisinalitas penelitian ini, adalah mencoba menelusuri faktor-faktor penyebab tingginya perkara dispensasi kawin di Pengadilan Agama Kabupaten Malang pada tahun 2015